Anda di halaman 1dari 16

Jurnal Hutan Tropika

VIII
(2), Desember
2013(2), Desember 2013
Jurnal
Hutan
Tropika VIII

21

KETEGUHAN REKAT TIGA JENIS KAYU RAWA GAMBUT


Baihaki 1), Sarinah 2) dan Desy 2)
1

2)

) Mahasiswa Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian


Staf Pengajar Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya
Jl. H. Timang No. Telp. (0536) 3227864
Email : dessynatalia_n@yahoo.com
Abstract

This research was aimed to determine glue firmness of three peat-swamp woods, namely benuas,
rengas and red meranti using PVAc glue, and its optimum time to press. Research
resultsindicated thataverage glue firmness of benuas (Shorea leavis), rengas (Gluta renghas), and
red meranti (Shorea spp) namely 41 kg/cm2, 52 kg/cm2, and 50 kg/cm2 respectively. The glue
firmness of three peat-swamp woods mentioned still under Indonesia National Standar (SNI) no.
06-6049-1999 namely 98 kg/cm2. The optimum time to produce the maximum glue firmness for
benuas, rengas, and red meranti i.e. 30 minutes, 20 minutes, and 20 minutes respectively.
Keywords: Benuas,glue firmness, PVAs, red meranti, rengas.

PENDAHULUAN
Ciri khas hutan rawa gambut adalah hutan ini tumbuh di daerah iklim bertipe A atau
B dengan tanah orgosol atau histosol yang selalu tergenang air tawar secara periodik
dengan keadaan pH berkisar 3,5 4,0. Luas hutan rawa gambut di Provinsi Kalimantan
Tengah 3,6 juta hektar yang di dalamnya tumbuh berbagai jenis-jenis pohon seperti
Jelutung (Dyera lowii), Ramin (Gonystylus bancaus), Kempas (Kompassia malacecensis),
Tumeh (Combretocarpus rotundas), Meranti (Shorea spp.), Gerunggang (Cratoxylum
glancum), Rengas (Gluta renghas), Benuas (Shorea leavis Endert) dan lain sebagainya
(Arif, 2001). Industri mebel di kota Palangka Raya umumnya menggunakan kayu dari
hutan rawa gambut sebagai bahan baku pengolahan kayu setengah jadi maupun barang
jadi.
Permasalahan yang dihadapi saat ini semakin sedikitnya kayu rawa gambut yang
berdiameter besar untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku bagi industri perkayuan.
Ukuran kayu yang berdiameter kecil dapat diubah menjadi luasan bahan baku kayu
tertentu dengan cara proses pengolahan papan lamina atau juga papan sambung.
Pengusaha mebel di kota Palangka Raya sebagian besar banyak menggunakan
perekat Polyvinyl acetate (PVAc) sebagai bahan perekat untuk sambungan hasil pabrikasi
seperti meja, kursi, dan alat-alat rumah tangga lainnya namun di sisi lain kurang
memperhatikan waktu lama pengpresan yang baik dan efisien untuk hasil barang jadi
tersebut. Dari hasil survey penulis, lama waktu pengepresan yang dilakukan pengusaha
mebel berkisar 15 30 menit, bahkan sebagian tidak melakukan proses pengepresan
tersebut dengan alasan memperlambat proses produksi. Keuntungan utama dari perekat

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

22

PVac melebihi perekat urea formaldehid, karena kemampuannya menghasilkan ikatan


rekat yang cepat pada suhu kamar, dapat menghindari kempa panas yang memerlukan
biaya tinggi. Kelebihan lain mudah penanganannya, umur simpan tidak terbatas, tahan
terhadap terhadap mikroorganisme, tidak mengakibatkan bercak pada noda kayu, serta
tekanan kempanya rendah (Pizzi, 1983).
Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian keteguhan
rekat tiga jenis kayu rawa gambut yaitu Benuas, Rengas dan Meranti Merah
menggunakan perekat PVAc, dan lama waktu press yang memberikan keteguhan rekat
maksimal.
METODOLOGI PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan, Jurusan
Kehutanan Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya. Waktu penelitian dilaksanakan
dari tanggal 03 mei 2011 sampai 28 juni 2011 mulai dari persiapan penelitian sampai
dengan pengolahan data.
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan-bahan yang digunakan: papan balok (sortimen) yang dijual di industri mebel
di kota Palangka Raya yaitu jenis kayu Benuas (Shorea leavis Endert), Rengas (Gluta
renghas) dan Meranti Merah (Shorea spp.). Perekat yang digunakan adalah perekat
Polivinil Asetat (PVAc) merk Fox, serbuk kayu ukuran 40 mesh, kantong plastik dan
aquades.
Peralatan yang digunakan adalah : Gergaji mesin dan pisau potong untuk membuat
contoh uji, Penggaris dan pita ukur untuk mengukur contoh uji, Kamera digital untuk
dokumentasi, Oven untuk mengeringkan contoh uji sampai kering tanur, Ampelas untuk
menghaluskan contoh uji, Timbangan analitik untuk menimbang contoh uji selama
penelitian, Desikator untuk mendinginkan contoh uji sebelum ditimbang/tempat
penyimpanan sementara, Universal Testing Machine No. Seri UTM-5000K produksi CV
Cakra Mulya untuk menguji keteguhan rekat kayu, Kawat saring ukuran lolos serbuk 4060 mesh untuk mengayak serbuk kayu, Bond scrup untuk proses pengepresan sampel, Bak
air untuk air suling pengujian keterbasahan,Pipa kaca dan kertas saring, Gelas ukur dan
jarum penekan.

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

23

Metode Penelitian
Rancangan yang digunakan

adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola

tersarang dengan tiga kali ulangan (Sudjana, 1995), sehingga keseluruhan contoh uji
sebanyak 27 buah. Faktor-faktor sebagai perlakuan: Faktor A (jenis kayu), bertaraf 3
(tiga) yaitu: A1 = Kayu Benuas (Shorea leavis Endert), A2 = Kayu Rengas (Gluta
renghas), A3 = Meranti Merah (Shorea leprosula Miq), dan Faktor B (lama pengepresan),
bertaraf 3 (tiga) yaitu: B1 = Lama waktu press 20 menit; B2 = Lama waktu press 25
menit; B3 = Lama waktu press 30 menit.
Prosedur Penelitian
Langkah awal dari penelitian ini melakukan survei ke industri mebel di kota
Palangka Raya yang bertujuan untuk mengetahui permasalahan tentang proses
pengepresan, perekatan, jenis perekat yang dipakai dan mendapatkan balok sebagai bahan
contoh uji. Cara menentukan balok yang akan dipilih sebagai contoh uji adalah balok
yang masih dalam kondisi baik seperti tidak cacat, tidak berjamur dan tidak diserang
hama perusak kayu ataupun pecah-pecah.
Penentuan balok Benuas, Rengas dan Meranti Merah yang akan dipilih sebagai
bahan contoh uji adalah dengan cara acak, memilih 1 dari 10 balok yang sudah diberi
nomor 1 10, selanjutnya membuat nomor 1 10 di kertas kecil, kemudian mengguncang
nomor tersebut hingga keluar 1 nomor pilihan dan balok yang telah diberi nomor tersebut
yang terpilih sebagai pembuatan contoh uji.
Pelaksanaan Penelitian
Kadar Air
Peneltian kadar air kayu dilakukan pada kadar air kering udara, Ukuran sampel
kadar air ini mengikuti British Standart Methods No.373 tahun 1957 dengan ukuran
contoh uji 2 x 2 x 2 cm. Adapun cara kerjanya adalah sebagai berikut :
Contoh uji direndam di dalam air selama 3 hari dan kemudian dikeringkan dalam
suhu ruangan selama 1 hari (24 jam). Contoh uji kemudian ditimbang setiap hari pada jam
yang sama sampai berat konstan, ditimbang dan diketahui berat awalnya (Wb). Contoh
uji dikeringkan di dalam oven dengan suhu awal 50 C, selanjutnya dinaikan suhunya
setiap 2 jam hingga mencapai suhu 103 2 C selama 12 jam, contoh uji selanjutnya
dimasukan kedalam desikator selama 10 - 15 menit, kemudian ditimbang dan dicatat
hasilnya, Pengovenan dilakukan selama 12 jam yang setiap 2 jam ditimbang dan dicatat

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

24

sampai konstan (Wo), Perhitungan kadar air kering udara dihitung menurut rumus
Dumanauw (1984) sebagai berikut:
Kadar Air (KA) Kering Udara

= 100%

Keterangan : Wb = Berat awal contoh uji (gram), Wo = Berat Kering Tanur (gram)
Berat Jenis
Ukuran sampel berat jenis mengikuti British Standard Methods No.373 tahun
1957 dengan ukuran contoh uji 2 x 2 x 2 cm. Penelitian berat jenis kayu dilakukan pada
volume kering udara, dengan cara kerjanya adalah sebagai berikut:
Contoh uji direndam selama 3 hari hingga mencapai kadar air maksimum
kemudian ditiriskan. Contoh uji ditimbang dan hasilnya ditetapkan sebagai berat awal
(Ba). Contoh uji yang sudah diberi kode dibiarkan diudara terbuka dan ditimbang setiap
hari hingga kering (tidak ada penambahan berat lagi). Gelas ukur berisi air ditimbang dan
ditetapkan sebagai A. Contoh uji dimasukkan ke dalam gelas plastik hingga terendam
semuanya menggunakan bantuan jarum, usahakan contoh uji terendam air seluruhnya dan
tidak menyentuh dinding gelas plastik, untuk mendapatkan hasil timbangan yang tidak
berubah-ubah gunakan statif untuk penyangga tangan. Contoh uji dan gelas yang berisi air
ditimbang, hasilnya dinyatakan sebagai B. Volume contoh uji dihitung dengan
mengurangkan B terhadap A dan hasilnya ditetapkan sebagai volume kering udara (Vku).
Berat jenis dihitung menggunakan rumus Dumanauw (1984) sebagai berikut:
Berat Jenis (BJ) Vulome Kering Udara =
Keterangan : Ba = Berat awal, Vku = Volume contoh uji pada volume kering udara
Zat Ekstraktif Kayu
1. Kelarutan Air Dingin (TAPPI T 207 om 88)
2 gram serbuk kayu kering udara dimasukkan ke dalam gelas piala 400 ml dan
tambahkan aquades sebanyak 300 ml, kemudian aduk dengan menggunakan
penngaduk kaca sampai terjadi campuran. Pelarutan dilakukan selama 48 jam selama
48 jam dengan suhu 232C. Setiap 4 jam diaduk kembali selama 5 menit. Setelah 48
jam, serbuk disaring dengan kertas saring pada corong (berat kertas saring telah
diketahui). Oven serbuk tersebut selama 4 jam dengan suhu 1005C lalu didinginkan
dalam desikator selama 15 menit, kemudian dilakukan penimbangan. Pengeringan dan
penimbangan dilakukan beberapa kali sehingga diperoleh berat konstan, kemudian
hitung dengan menggunakan rumus :

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013


Zat Ekstraktif (%) =

25

x100%

Keterangan : A = Berat serbuk mula-mula (gram),


B = Berat serbuk setelah ekstraksi (gram)
2. Kelarutan Air Panas (TAPPI T 207 om 88)
2 gram serbuk kayu kering udara dimasukan ke dalam gelas elenmayer 300 ml. Air
panas yang mendidih ditambahkan pada gelas elenmayer yang berisi serbuk sebanyak
100 ml, dan diaduk dengan menggunakan pengaduk kaca sampai terjadi campuran (air
dan serbuk terlarut secara merata). Gelas elenmayer dan serbuk yang sudah larut
dimasukkan ke dalam waterbath yang airnya mencapai titik didih (100C), dengan
menggunakan pendingin tegak selama 3 jam. Air permukaan waterbath harus diatas
permukaan air dalam erlenmayer. Setelah 3 jam, serbuk disaring dengan menggunakan
kertas saring yang telah diketahui beratnya. Kemudian keringkan dalam oven selama 4
jam dengan suhu 100 5C, kemudian dinginkan dalam desikator selama 15 menit dan
timbang beratnya. Pengeringan dan penimbangan dilakukan beberapa kali sampai
diperoleh berat konstan. Perhitungan menggunakan rumus seperti pada zat ekstraktif
kelarutan air dingin.
3. Sifat Keterbasahan (Wettabilitas)
Wettabilitas atau tingkat kemampuan untuk dibasahi diukur dengan cara menghitung
nilai C.W.A.H atau tinggi absorbs air yang terkoreksi. Pengukuran wettabilitas kayu
menggunakan serbuk dari 3 jenis kayu yang berbeda dengan ukuran serbuk 40 mesh.
Pengukuran dilakukan dalam beberapa langkah kerja yaitu :
Pembuatan serbuk kayu dengan menggunakan gergaji lingkar (circular saw).
Pengayakan serbuk, sehingga akan dihasilkan ukuran serbuk 40 mesh. Serbuk kayu
kemudian ditimbang sebanyak 5 gram dan masukan ke dalam pipa kaca yang salah
satu ujungnya diberi kertas saring. Pipa kaca yang berisi serbuk kayu kemudian
dicelupkan kedalam bak yang berisi air sedalam 1 cm. Mengukur ketinggian air
yang naik di dalam pipa setiap 30 menit selama 9 jam dan pengukuran untuk hari
selanjutnya dilakukan 1 kali selama 3 hari. Data pengamatan kemudian digunakan
untuk menghitung nilai C.W.A.H.
Hasil pengamatan dan pengukuran merupakan data untuk mendapatkan besarnya sifat
keterbasahan yang dihitung menggunakan rumus berikut (Bodig, 1962) :

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

26

CWAH = H1b = h1
Keterangan :
CWAH = Tinggi absorbs air terkoreksi (mm), b = Bulk faktor (mm), h1 = Tinggi
absorbsi (mm), h2 = Tinggi serbuk kayu dalam pipa (cm), W = Berat serbuk kayu oven
(g), S = Volume jenis air (cm3/g), d= Diameter dalam dari pipa (cm), = 3,14
4. Keteguhan Rekat (Gluability)
Dalam pengujian keteguhan rekat dikenal ada dua macam bentuk contoh uji yang
sering dipergunakan yaitu contoh uji berupa bahan tipis (venir) dalam pembuatan kayu
lapis dan contoh uji berupa bahan tebal (laminated beams) yang mana contoh uji ini
disebut block shear test. Untuk mengukur nilai keteguhan rekat dalam penelitian ini
dipergunakan contoh uji bahan tebal (block shear test), yang diuji menggunakan alat
Universal Testing Machine No. Seri UTM-5000K produksi CV Cakra Mulya.
Langkah awal pembuatan contoh uji ini adalah membuat rakitan kayu yang akan
direkat. Namun sebelumnya permukaan tangensialnya harus dihaluskan terlebih dahulu
dengan mesin ketam. Ukuran irisan kayu untuk pembuatan contoh uji yaitu 5 x 5 x 1,9
cm3, Sstandar yang digunakan adalah standar JAS (Japanese Agricultural Stadard) No.
234 tahun 2003 IPIC-EW.SEO3-02 (Japan Plywood Inspection Corporation).
Kemudian masing-masing irisan tersebut dilaburi perekat PVac yang telah dihitung
jumlah perekat terlaburnya dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
GPU
Keterangan: GPU = Gram pick up, S = Perekat yang dilaburkan (pound/MSGL),
A = Luas permukaan bahan yang direkat (inchi2)
Setelah semua contoh uji dilaburi perekat kemudian dilakukan proses pengepresan
menggunakan alat bond scrup dengan perbedaan lama waktu 20 menit, 25 menit dan
30 menit. Selanjutnya setelah sampai waktu yang ditentukan contoh uji di uji dengan
alat Universal Testing Machine No. Seri UTM-5000K produksi CV Cakra Mulya.
Pengujian keteguhan rekat mengggunakan rumus sebagai berikut :
Keteguhan Rekat =
Keterangan : B = Beban tarik (kg), L = Luas bidang tarik (cm2)
6. Analisis Data
Data yang dianalisis pada penelitian ini adalah data dari hasil rata-rata perhitungan
keteguhan rekat, kemudian dihitung menggunakan analisis varian (Anova) Rancangan
Acak Lengkap (RAL) pola Tersarang. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh
perlakuan jenis kayu (faktor A) dan lama waktu press (faktor B), data hasil perhitungan
Anova keteguhan rekat dianalisis dengan menggunakan uji F pada taraf 1%.

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

27

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kadar Air
Gambar 1 menunjukkan bahwa kadar air kering udara tertinggi terdapat pada kayu
Meranti Merah dengan rata-rata (11.95%) dan terendah pada kayu Benuas (8.86%).
Perbedaan kadar air pada setiap jenis kayu dipengaruhi oleh berat jenis yang berbeda,
ukuran rongga dan dinding sel, tempat tumbuh dan sifat-sifat kayu setiap jenis. Kadar air
kering udara di Indonesia rata-rata 10 18 %, pada jenis-jenis kayu dengan berat jenis
rendah kadar air 18% sering sudah mencapai kering udara, sedangkan kayu-kayu dengan
berat jenis tinggi kadar air kering udara harus 10% atau kurang (Kasmudjo, 2008).
Menurut Kollmann, Kuenzi dan Stamm (1975), kadar air merupakan satu faktor
yang mempengaruhi kualitas perekatan. Kadar air yang tinggi akan menghalangi
masuknya perekat ke dalam rongga dan dinding sel sehingga keteguhan rekat akan
menurun. Sebaliknya, bila kadar air kayu terlalu rendah maka konsumsi perekat tinggi dan
garis rekat akan tebal, juga akan menurunkan keteguhan rekat. Air dalam kayu
menentukan kadar air garis rekat dan keduanya mempengaruhi kedalaman penetrasi
perekat dan waktu pematangan perekat yang mengandung air. Penggabungan air yang
banyak terdapat dalam kayu akan menghambat ikatan dari cairan perekat. Kadar air kayu
yang ideal untuk ikatan perekat bervariasi sesuai dengan jenis perekat dan proses
perekatan. Perekatan pada suhu lingkungan menggunakan kadar air 15% (Prayitno, 1984).
Menurut Vick (1999), ikatan perekat yang baik terjadi pada tingkat kadar air dari 6%
sampai 14% dan bisa juga terjadi di bawah atau di atas batas ini, apabila perekat di
formulasi untuk proses khusus. Kisaran kadar air optimum untuk perekatan suatu produk
dengan perekat tertentu ditentukan dari pengalaman praktis dan performa produk.
Berat Jenis
Gambar 2 memperlihatkan bahwa berat jenis volume kering udara tertinggi
terdapat pada kayu Benuas dengan nilai rata-rata (1.00), sedangkan terendah pada kayu
Meranti Merah (0.75).
Berat jenis pada setiap kayu berbeda-beda tergantung kandungan zat-zat dalam
kayu, kandungan zat ekstraktif serta kandungan air kayu, disamping ukuran sel kayu
(tebal dinding sel, besar sel dan jumlah sel) dan faktor-faktor yang mempengaruhi berat
jenis adalah umur pohon, tempat tumbuh, posisi kayu dalam batang dan kecepatan
tumbuh. Berat jenis kayu merupakan salah satu sifat fisik kayu yang penting sehubungan
dengan penggunaannya (Kasmudjo, 2008).

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

28

Berat jenis berhubungan erat dengan kekuatan rekat kayu. Freeman dalam
penelitiannya menyebutkan bahwa berat jenis kayu mempunyai korelasi yang positif
terhadap perekatan, artinya dengan kenaikan berat jenis kayu kekuatan rekat kayu
diharapkan naik pula. Titik batas berat jenis dimana terjadi perubahan pengaruh kekuatan
rekat adalah 0.80, yang berarti bahwa kayu-kayu dengan berat jenis lebih dari 0.80 tidak
akan mendapatkan kekuatan rekat yang lebih besar daripada kekuatan rekat kayu-kayu
dengan berat jenis 0.80 (Prayitno, 1984).
Badan Penelitian Hasil Hutan (BPHH-Indonesia) menganalisa tentang kekuatan
rekat kayu-kayu Indonesia dengan perekat urea formaldehyde yang kemudian dianalisa
dengan analisa regresi dan kemudian dapat dibuktikan pula bahwa kayu dengan berat
jenis lebih dari 0.80 menghasilkan kekuatan rekat yang sama, korelasi yang positif hanya
dijumpai pada berat jenis kayu antara 0.80 ke bawah (Prayitno, 1984). Menurut Samad
dkk (2007), tekanan yang lebih kuat dibutuhkan kayu berkerapatan tinggi agar dapat
terjadi kontak antara permukaan kayu dengan perekat. Kayu berkerapatan tinggi
umumnya memiliki konsentrasi ekstraktif yang lebih tinggi yang akan menghalangi
pematangan perekat. Pada kayu berat jenis tinggi yang mengalami perubahan dimensi
karena perubahan kadar air, sulit terjadi ikatan karenanya untuk hasil yang lebih baik
dibutuhkan tekanan yang lebih besar dan lama.
Zat Ekstraktif
Gambar 3 menunjukkan bahwa nilai rata-rata ekstraktif larut air dingin tertinggi
terdapat pada kayu Rengas (18%) dan terendah terdapat pada kayu Meranti Merah (10%).
Zat ekstraktif larut dalam air panas juga menunjukkan nilai tertinggi pada kayu Rengas
dengan nilai rata-rata (18%) dan terendah pada kayu Meranti Merah (7%).
Menurut Sammad dkk (2007), ekstraktif memiliki pengaruh yang besar dalam
menurunkan higroskopisitas dan permeabilitas serta meningkatkan keawetan kayu,
walaupun jumlahnya sedikit, ekstraktif mempunyai pengaruh yang besar dalam proses
perekatan kayu, yaitu mempengaruhi pH, kontaminasi dan penetrasi. Ekstraktif akan
menjadi masalah yang serius dalam perekatan jika terdapat dalam jumlah yang berlebihan.
Kandungan ekstraktif beberapa jenis kayu berkisar antara 10 - 30% membuat kayu
tersebut sulit untuk direkat. Pengaliran ekstraktif bervariasi dari satu bagian kebagian lain,
dari satu titik ke titik lain pada spesies yang sama. Perbedaan kandungan ekstraktif kayu
teras dan kayu gubal adalah penyebab utama variasi distribusi ekstraktif. Di dalam
lingkaran tahun, ada kemungkinan perbedaan kandungan ekstraktif tergantung pada lokasi

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

29

jaringan tempat ekstraktif itu berada, seperti saluran resin dan sel-sel penyimpanan
(Sammad dkk, 2007).
Zat ekstraktif yang tinggi dapat mengganggu di dalam proses perekatan, terutama
dari kelompok non karbohidrat (minyak-minyak, lemak-lemak, resin, garam-garam dan
sebagainya) (Kasmudjo, 2008).
Sifat Keterbasahan (Wettabilitas)
Nilai rata-rata keterbasahan pada serbuk kayu Benuas, Rengas dan Meranti Merah
ditampilkan gambar 4.
Nilai rata-rata tinggi absorbsi air terkoreksi (CWAH) dalam waktu 9 jam tertinggi
terdapat pada kayu Rengas (1.218.18 mm) sedangkan terendah pada kayu Benuas (116.45
mm), untuk waktu 72 jam (3 hari) nilai rata-rata CWAH tertinggi juga terdapat pada kayu
Rengas (2.119.97 mm) dan terendah pada kayu Benuas (374.71 mm). Nilai CWAH
dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor yang paling mempengaruhi adalah berat jenis
dan zat ekstraktif nonpolar.
Nilai tinggi absorbsi air terkoreksi (CWAH) sangat berpengaruh terhadap proses
perekatan nantinya, jika semakin tinggi nilai CWAH maka semakin baik juga hasil
perekatan yang diperoleh. Hasil penelitian Sulistyawati dan Ruhendi (2008)
menyimpulkan bahwa nilai CWAH yang tinggi akan menghasilkan keterekatan yang
tinggi dan CWAH dapat digunakan sebagai indikasi wettabilitas kayu yang menunjukan
kemampuan keterekatan tanpa perlakuan maupun memakai perlakuan. Menurut Sucipto
(2009), keterbasahan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang berhubungan dengan perekat
(tegangan permukaan, suhu, kekentalan) dan kayu (kerapatan, porositas, ekstraktif).
Kayu-kayu yang berkerapatan rendah (porositasnya tinggi) menjadi lebih baik untuk
dibasahi, sedangkam ekstraktif dalam jumlah yang berlebihan, atau ekstraktif non
karbohidrat seperti terpena dan asam lemak, mempunyai pengaruh yang kurang baik.
Keteguhan Rekat (Gluabillity)
Gambar 5 menunjukkan nilai rata-rata keteguhan rekat tertinggi terdapat pada
kayu Rengas dengan lama waktu press 20 menit dengan nilai rata-rata (53 kg/cm2), dan
terendah pada kayu Meranti Merah (31 kg/cm2) dalam lama press 30 menit.
Hasil penelitian keteguhan rekat ini belum memenuhi Standar Nasional Indonesia
(SNI) nomor 06-6049-199 dengan kisaran keteguhan rekat 98 kg/cm2. Nilai rata-rata
keteguhan rekat dengan lama press 20, 25 dan 30 menit selanjutnya diuji menggunakan
Analisis Sidik Varian (Anova) pada Tabel 1 berikut.

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

30

Tabel 1. Anova Keteguhan Rekat Kayu Benuas, Rengas dan Meranti Merah
KERAGAMAN

Db

JK

KT

Fhitung

F 5%

F 1%

JENIS KAYU
LAMA WAKTU
PRESS
GALAT

262.248

131.124

67.640**

3.555

6.013

1104.328

552.164

284.076**

3.555

6.013

18

34.487

1.944

TOTAL

22

1401.563

Keterangan : ** = Berbeda sangat nyata pada taraf 1%


Berdasarkan hasil Anova keteguhan rekat kayu Benuas, Rengas dan Meranti
Merah di atas, ternyata terdapat perbedaan yang sangat nyata (taraf 1%) pada jenis kayu
(faktor A) dan lama waktu press (faktor B dalam A), sehingga dilakukan uji lanjut Beda
Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1%. Pengaruh setiap jenis kayu (faktor A) ditampilkan
pada tabel 2 berikut.
Tabel 2. Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% untuk Jenis Kayu
(Faktor A)
Jenis Kayu

Nilai Tengah

A2
A3
A1

53
50
44

A2
3**
9**

Selisih
A3

A1

6**

BNT (1%) = 1.891


Keterangan : A1 = Benuas, A2 = Rengas, A3 = Meranti Merah
Tabel 2 memperlihatkan hasil BNT untuk jenis kayu (faktor A) berbeda sangat
nyata pada setiap jenis kayu, artinya setiap jenis kayu mempunyai sifat masing-masing
yang berbeda untuk menghasilkan keteguhan rekat maksimal dengan lama waktu press
yang efisien. Pengaruh perlakuan lama waktu press dalam setiap jenis kayu (faktor B
dalam A) ditampilkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% untuk Jenis Kayu Benuas
dengan Lama Waktu Press 20, 25 dan 30 menit
Lama Waktu Press dalam
Kayu Benuas (B dalam A1)
B3
B2
B1

Nilai Tengah

B3
9**
9**

Selisih
B2

B1

44
35
35
0tn
BNT (1%) = 1.891
Keterangan : B1 = 20 menit, B2 = 25 menit, B3 = 30 menit, tn = Tidak berbeda nyata
(1%)
Uji lanjut BNT untuk lama waktu press dalam jenis kayu Benuas diatas
menunjukan bahwa kayu Benuas pada lama waktu press 30 (B3) menit berbeda sangat
nyata dari lama waktu press 20 (B1) dan 25 (B2) menit dan antara lama waktu press 20

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

31

dan 25 tidak berbeda nyata, ini menunjukkan kayu Benuas semakin lama waktu press
yang diberikan maka semakin baik hasil keteguhan rekat. Kayu Benuas dengan berat jenis
yang tinggi memerlukan waktu press yang lebih lama dan tekanan yang lebih besar untuk
menghasilkan keteguhan rekat maksimal dan hasil peneltian ini didukung oleh
pernyataan dari Samad dkk (2007), yang menyatakan bahwa pada kayu dengan berat jenis
tinggi dan mengalami perubahan dimensi karena perubahan kadar air, sulit terjadi ikatan
perekat, karenanya untuk hasil yang lebih baik dibutuhkan tekanan yang lebih besar dan
waktu yang lama. Samad dkk (2007) menambahkan kayu berkerapatan tinggi sulit untuk
merekat karena dinding sel yang lebih tebal dan lumen yang lebih kecil, menyebabkan
perekat tidak dapat berpenetrasi dengan mudah, sehingga aksi bersikunci terbatas hanya
sampai lapisan sel pertama dan kedua. Tekanan yang lebih kuat dibutuhkan untuk kayu
berkerapatan lebih tinggi agar dapat terjadi kontak antara permukaan kayu dengan
perekat.
Tabel 4. Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% untuk Jenis Kayu Rengas
dengan Lama Waktu Press 20, 25 dan 30 menit.
Lama Waktu Press dalam
Kayu Rengas (B dalam A2)
B1
B2
B3

Nilai Tengah

B1
53
41
12**
41
12**
BNT (1%) = 1.891

Selisih
B2
0tn

B3

Tabel 4 menunjukan penurunan keteguhan rekat pada perlakuan lama waktu press,
semakin lama waktu press untuk kayu Rengas maka semakin rendah keteguhan rekat,
tetapi keteguhan rekat kayu Rengas dalam lama waktu press 20 (B1) menit menunjukan
nilai tertinggi dibandingkan lama waktu press 25 (B2) dan 30 (B3) ataupun dari jenis kayu
Benuas dan Meranti Merah. Hasil pengujian kadar air kering udara dan berat jenis kayu
Rengas tidak terlalu berpengaruh terhadap hasil keteguhan rekat ini karena hasilnya sesuai
dengan teori yang digunakan, yang menjadi permasalahan adalah nilai zat ekstraktif yang
dihasilkan kayu Rengas tinggi tetapi menghasilkan keteguhan rekat yang tinggi juga, tidak
sejalan dengan teori yang diacu. Zat ekstraktif yang tinggi pada kayu Rengas
kemungkinan besar adalah zat ekstraktif dari kelompok karbohidrat (protein dan alkaloid),
monosakarida (pati, senyawa, arabinosa, galaktosa, rafinosa) yang tidak terlalu
mempengaruhi proses perekatan kayu. Indikasi lain adalah kelarutan dalam air dingin dan
air panas lebih dipengaruhi oleh struktur dari bagian batang berupa sel dan kandungan
kimia batang yang terdiri dari pati, zat warna, monosakarida (ekstraktif kelompok

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

32

karbohidrat) yang tidak terlalu mempengaruhi dalam proses perekatan kayu. Kertas saring
yang digunakan dalam penelitian zat ekstraktif ini berubah warnanya saat proses
ekstraksi, ini mengindikasikan bahwa salah satu senyawa ekstraktif karbohidrat yaitu zat
warna banyak terdapat pada sortimen kayu Rengas. Penyebab lain adalah ekstraktif dari
kelompok non karbohidrat (minyak-minyak, lemak-lemak, resin, garam-garam)
kemungkinan sedikit jumlahnya dibandingkan ekstraktif dari kelompok karbohidrat
sehingga pada proses perekatan tidak berpengaruh.
Ekstraktif non karbohidrat pada kayu sangat merugikan proses perekatan, sesuai
dengan apa yang disampaikan oleh Kasmudjo (2008) yang menyatakan bahwa adanya
ekstraktif kayu yang besar dapat mengganggu di dalam proses perekatan, terutama zat
ekstraktif dari kelompok non karbohidrat. Sucipto (2009), dalam penelitian yang berjudul
Determinasi Wettabilitas Kayu menambahkan bahwa ekstraktif dalam jumlah yang
berlebihan, atau ekstraktif nonpolar (bukan dari kelompok karbohidrat) seperti terpena
dan asam lemak, mempunyai pengaruh yang kurang baik dalam proses perekatan
dibandingkan dengan zat ekstraktif golongan karbohidrat. Nilai keteguhan rekat kayu
Rengas yang tinggi berhubungan erat dengan nilai keterbasahan (wettabilitas) yang tinggi,
dan ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukan bahwa nilai keterbasahan kayu
Rengas yang tinggi menghasilkan keteguhan rekat yang tinggi.
Persamaan persepsi dinyatakan oleh Sulistyawati dan Ruhendi (2008) dalam
penelitiannya yang berjudul Hubungan Wettabilitas terhadap Keterekatan Tiga Jenis Kayu
Struktural, menyimpulkan bahwa semakin tinggi nilai CWAH maka semakin tinggi
kemampuan keteguhan rekat kayu tersebut. Jourdan dan Wellons (1980) juga meneliti
hubungan nilai wettabilitas terhadap gluabilitas venir famili Dipterocarpaceae yang
menghasilkan nilai keterbasahan yang tinggi cenderung menghasilkan keteguhan rekat
relatif baik/tinggi.
Tabel 5. Uji Lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% untuk Jenis Kayu Meranti
Merah dengan Lama Waktu Press 20, 25 dan 30 menit.
Lama Waktu Press dalam Kayu
Meranti Merah (B dalam A3)
B1
B2
B3

Nilai Tengah
51
34
31
BNT (1%) = 1.891

B1
7**
20**

Selisih
B2
3**

B3

Tabel 5 menunjukan perlakuan lama waktu press untuk menghasilkan keteguhan


rekat maksimal pada kayu Meranti Merah adalah 20 menit dan pada setiap perlakuan lama

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

33

waktu press pada jenis kayu Meranti Merah menunjukan perbedaan yang sangat nyata, ini
artinya lama waktu press sangat mempengaruhi keteguhan rekat Meranti Merah.
Keteguhan rekat (gluabillity) kayu Meranti Merah menunjukan korelasi negatif terhadap
lama waktu press, karena dari data hasil peneltian semakin lama waktu press maka
keteguhan rekat semakin rendah. Kadar air kering udara yang tinggi dan berat jenis yang
rendah kemungkinan besar sangat mempengaruhi hasil keteguhan rekat kayu Meranti
Merah. Berat jenis yang rendah memerlukan perekat yang lebih banyak untuk dilaburkan
karena dengan perekat yang sedikit hanya akan terserap ke dalam kayu sehingga tidak ada
ikatan perekat di permukaan kayu, oleh karena itu semakin lama waktu press maka
semakin meresap perekat, ikatan perekat di permukaan menurun, penetrasi perekat juga
menjadi berkurang dan hasil keteguhan rekat semakin rendah.
Sucipto (2009), dalam penelitiannya menyatakan bahwa kayu yang berkerapatan
rendah (porositas tinggi) menjadi lebih baik untuk dibasahi artinya baik untuk proses
perekatan, tetapi membutuhkan konsumsi perekat yang lebih banyak agar ikatan perekat
dan penetrasi perekat terjadi, kadar air kayu yang tinggi juga penyebab rendahnya
keteguhan rekat pada kayu Meranti Merah. Menurut Kollmann, Kuenzi dan Stamm
(1975), kadar air merupakan satu faktor yang mempengaruhi kualitas perekatan, kadar air
yang tinggi akan menghalangi masuknya perekat ke dalam rongga sel dan dinding sel
sehingga keteguhan rekatnya akan menurun. Sebaliknya jika kadar air terlalu rendah maka
konsumsi perekat tinggi dan garis rekat akan tebal, juga akan menurunkan keteguhan
rekat. Wellons (1983) berpendapat, air di dalam kayu menentukan kadar air garis rekat
dan keduanya mempengaruhi kedalaman penetrasi perekat dan waktu pematangan perekat
yang mengandung air, air yang banyak terdapat di dalam kayu akan menghambat ikatan
dari cairan perekat.

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

34

Gambar 1. Grafik Rata-rata Kadar Air Kering Udara (%) Kayu Benuas, Rengas dan
Meranti Merah

Gambar 2. Grafik Rata-rata Berat Jenis Volume Kering Udara Kayu Benuas, Rengas dan
Meranti Merah

Gambar 3. Grafik rata-rata Zat Ekstraktif (%) Kayu Benuas, Rengas dan Meranti Merah

Gambar 4. Grafik Nilai Rata-rata CWAH (mm) Kayu Benuas, Rengas dan Meranti Merah

Gambar 5. Nilai Rata-rata Keteguhan Rekat Kayu Benuas, Rengas dan Meranti Merah
dengan Lama Waktu Press 20, 25 dan 30 menit.

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

35

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Hasil penelitian keteguhan rekat tiga jenis kayu rawa gambut dapat disimpulkan
sebagai berikut.
1. Nilai rata-rata keteguhan rekat kayu Benuas (41 kg/cm2), kayu Rengas (52 kg/cm2),
dan kayu Meranti Merah (50 kg/cm2). Hasil keteguhan rekat tiga jenis kayu rawa
gambut tersebut belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 06-60491999

98 kg/cm. Lama waktu press dengan perekat PVAc untuk menghasilkan

keteguhan rekat maksimal pada kayu Benuas adalah 30 menit, kayu Rengas 20 menit
dan kayu Meranti Merah 20 menit.
2. Perbedaan keteguhan rekat pada setiap jenis kayu dan lama waktu press dipengaruhi
oleh sifat masing-masing jenis kayu seperti kadar air, berat jenis kayu, zat ekstraktif
dan sifat keterbasahan (wettabilitas).
Saran
Disarankan pada produsen mebel, hendaknya untuk mendapatkan keteguhan rekat
maksimal pada kayu Benuas jika di press dalam waktu 30 menit, kayu Rengas pada lama
waktu press 20 menit dan Meranti Merah 20 menit. Faktor-faktor yang mempengaruhi
keteguhan rekat seperti zat ekstraktif dapat diatasi dengan proses perendaman terlebih
dahulu supaya zat ekstraktif dapat larut dan berkurang khusunya zat ekstraktif dari
kelompok non karbohidrat sebelum dipakai untuk bahan baku mebel.

DAFTAR PUSTAKA
Arif, 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisius. Yogyakarta.
British Standard, 1957. British Standard Methods of Testing Small Clear Specimens of
Timber. British Standard Institution
Departemen Pertanian, 1976. Vademecum Kehutanan Indonesia. Jakarta.
Bodig, J., 1962. Wetability Related to Gluabilities of Five Philipine Mahagonies. Forest
Product Jurnal. Vol 12 (6) : pp 265 270.
Dumanauw, 1984. Mengenal Kayu. Pendidikan Industri Kayu Atas. Kanisius.
Yogyakarta.
Gazpersz Vincent, 1991. Metode Perancangan Percobaan. CV Armico. Bandung.
Haygreen, J.G dan J. L. Bowyer, 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu, Suatu Pengantar.
Diterjemahkan oleh Hadikusumo, S.A. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

Jurnal Hutan Tropika VIII (2), Desember 2013

36

http://www.lookchem.com/Polyvinyl-Acetate-Chloride. (diakses pada tanggal 25 februari


2011).
http://www.plantamor.com. (diakses pada tanggal 2 Maret 2011).
http://en.wikipedia.org/wiki/Polyvinyl_acetate. (diakses pada tanggal 19 Maret 2011).
Jourdan, D.L., dan Wellons, J.O. 1980. Wettability of Dipterocarpus Veneer. Wood 10
(I). p. 2 27.
JAS (Japanese Agricultural Stundurd), 2003. Glued Laniinated Timber. JPIC-E W.SE0302 Japan Plywood Inspection Corporation.
Kollman, F.F.P 1957., EW. Principles of Wood Science anf Technology Voll. II. Wood
Based Materials. Springer Verlag New York Heidel Berg.
Marsoem, S.N., 1996. Sifat Sifat Kayu untuk Bahan Baku Industri. Fakultas Kehutanan
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Martawijaya, A., I. Kertasujana, K. Kadir, S. A. Prawira, 1981. Atlas Kayu Indonesia Jilid
I. Balai Penelitian Hasil Hutan Bogor. Bogor.
Panshin, A. J. Dan Carl de Zeuw., 1980. Texbook of Wood Technology. Fourth Edition.
McGraw-Hill Book Company.
Pizzi, A. 1983. Wood Adhesives, Chemistry and Technology. Marcel Dekker, New
York.
Prayitno, T. A., 1984. Perekatan Kayu. Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan UGM.
Yogyakarta.
Ruhendi, S., Desy, N. K., Firda, A. S., Hikmah, Y., Nurhaida., Sahriyanti, S., dan Tito, S.,
2007. Analisis Perekatan Kayu. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Samad, S., Baharuddin, V., dan Waedani, L., 2005. Buku Ajar Perekat dan Perekat Kayu.
Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Samingan, T., 1982. Dendrologi Bagian Ekologi. Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
SNI 06-6049-1999.
Polyvinil Acetat Untuk Perekat Pengerjaan Kayu.
Standarisasi Nasional. Jakarta.

Badan

Sudjana, 1995. Metode Statistik. Edisi ke 5. Penerbit Tarsito. Bandung.


Sucipto, T., 2009. Determinasi Keterbasahan (Wettability) Kayu. Fakultas Pertanian.
Universitas Sumatera Utara. Sumut.
Sulistyawati, I., dan Ruhendi, S. 2008. Hubungan Wetabilitas Terhadap Keterekatan Tiga
Jenis Kayu Struktural. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Technical Association Of The Pulp and Paper Industri (TAPPI). Lexington Avenol. New
York.
Vick, C. B., 1999. Adhesive Bonding of Wood Material: Wood Handbook: Wood as an
Enginering Material. Forest Product Technology. USDA Forest Service.
Wisconsin.