Anda di halaman 1dari 9

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI 1
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah3


1.3 Tujuan

BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Islam Modern 4
2.2 Beberapa Aliran Pemikiran Modern dalam Islam4-7
2.3 Nahdahtul Ulama (NU)& Muhammadiyah
2.4 Model Amar Maruf dan Nahi Munkar
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan

10

DAFTAR PUSTAKA 10

BAB I

8-9

7-8

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Islam modernis timbul di sejarah islam yang disebut modern dan mempunyai tujuan untuk
membawa umat islam kepada kemajuan. Sebagai halnya di barat, di dunia islam, gerakan
islam modernis timbul dalam rangka menyesuaikan pahan-paham keagamaan islam dengan
perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Dengan jalan demikian pemimpin-pemimpin islam modern mengharapkan akan dapat
melepaskan umat islam dari suasana kemunduran untuk selanjutnya dibawa kepada
kemajuan.
Islam modern yang seringkali dikelompokkan sebagai kebalikan dari islam tradisional
merupakan corak paham keislaman yang mulai intensif penggunaannya pada awal abad ke
20 M. yaitu setelah timbulnya gerakan pembaharuan islam yang terjadi di beberapa Negara
meyoritas berpenduduk islam, seperti Saudi Arabia, Mesir, Turkey, Pakistan, dan Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah yang dimaksud dengan Islam Modern?
Bagaimanakah Perbedaan

1.3 Tujuan
Islam Modern adalah islam yang mempunyai tujuan untuk membawa umat islam
kepada kemajuan dan ajaran yang modernis

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Islam Modern


Kata modern yang berada di belakang kata islam, berasal dari bahasa inggris modernistic
yang berarti model baru. Selanjutnya dalam kamus umum bahasa Indonesia, Kata modern
diartikan sebagai yang terbaru secara baru, mutakhir. Selanjutnya kata modern erat pula
kaitannya dengan kata modernisasi yang berarti pembaharuan atau tajdid dalam bahasa arabnya.
Dalam masyarakat barat modernisasi mengandung arti pikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk
mengubah paham-paham, adat-istiadat lama dan sebagainya untuk disesuaikan dengan suasana
baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Kata tersebut
selanjutnya masuk kedalam literature islam yang berarti upaya yang sungguh-sungguh untuk
melakukan interpretasi terhadap pemahaman, pemikiran, dan pendapat tentang masalah
keislaman yang dilakukan oleh pemikiran terdahulu untuk disesuaikan dengan perkembangan
zaman.
2.2 Beberapa Aliran Pemikiran Modern dalam Islam
Jika diteliti lebih cermat secara global, dikalangan umat islam terdapat empat orientasi
pemikiran idiologis yang dianggap mewakili kelompok-kelompok yang ada: tradisionaliskonservatif, revormis-modernis, radikal puritan, dan sekuler liberal.
Kelompok tradisionalis-konservatif adalah mereka yang menentang kecenderungan pembaratan
(westernizing) yang terjadi pada beberapa abad yang lalu atas nama islam, seperti yang dipahami
dan dipraktikkan dikawasan-kawasan tertentu.
Kelompok reformis-modernis adalah kelompok yang memandang islam sangat relevan untuk
semua lapangan kehidupan, public, dan pribadi.
Pemikiran islam modern ini merupakan pemikiran yang memiliki kecenderungan untuk
mengambil beberapa pemikiran barat yang modern, rasional, bahkan liberal, 1[1] atau
menefsirkan islam melalui pendekatan rasional untuk menyesuaikan dengan perkembangan
zaman.2[2]
Kelompok modernis ingain menjadikan agama sebagai landasan dalam menghadapi
modernitas. Menurutnya, agama tidak bertentangan

dengan perkembangan zaman modern,

sehingga mereka ingin menginterprestasikan ajaran-ajaran agama sesuai dengan kebutuhan


modern.
1[1] Daniel brown, Rethinking, tradition in modern Islamic thought (Cambridge:Cambridge
university press, 1996), 2.
2[2] Ahmad hasan, The doctrine of ijma in islam (Islamabad:Islamic research institute, 1976),
227.

Kelompok ini menganjurkan penafsiran ulang atas islam secara fleksibel dan
berkelanjutan, sehingga umat islam dapat mengembangkan pemikiran keagamaan yang sesuai
dengan kondisi modern. Kelompok ini ada yang menyebutnya sebagai neomutazilah.
Kecenderungan modernisasi pemikiran islam muncul pada abad ke-19 sebagai tanggapan
atas pembaratan rezim dan pemerintahan Eropa. Kultur elit muslim saat itu terbagi menjadi
kelompok yang terbaratkan dan kelompok tradisional, dan kelompok modernis mencoba untuk
mempersatukannya.
Kaum radikal-puritan adalah kelompok yang juga menafsirkan islam berdasarkan
sumber-sumber asli yang otoritatif, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kontemporer, tapi
mereka sangat keberatan dengan tendensi modernis untuk membaratkan islam. Kelompok ini
melakukakn pendekatan konsevatif dalam melakukakan reformasi keagamaan, bercorak literalis,
dan menekankan pada pemurnian doktrin (purifikasi). Kelompok ini juga bias disebut kelompok
fundamentalis.
Bagi kelompok radikal-puritan ini, syariah memang fleksibel dan bias berkembang untuk
memenuhi kebutuhan yang terus berubah, tetapi penafsiran dan perkembangan harus dilakukan
melalui cara islam yang murni. Maka mereka mengkritik gagasan-gagasan dan praktik-praktik
kaum tradisional, dan menganggapnya sebagai suatu hal yang bitah. Dan yang memperkenalkan
intelektual pemikiran fundamentalis adalah Ibnu Taimiyah yang meninggal pada tahun 1328.
Sebuah gerakan pemikiran bercorak fundamentalis pernah muncul pada abad ke-18, di Najd
(Sekarang Saudi Arabia). Bernama Wahabiyah , dibawah pimpinan Muhammad bin Abd AlWahhab (1703-1787). Tokoh lain dari gerakan fundamentalis adalah Abu Ala Al-Maujudi di
Pakistan (1903-1979). Dan Seyyed Qutb (1906-1966) di Mesir dan K.H. Ahmad Dahlan (18681923) di Indonesia.
Menurut sebuah penelitian, ada beberapa kelompok radikal yang muncul karena jauh dari
kehidupan modern. Sebagai contoh, penganut khawarij dan wahabiyah muncul sebelum
masuknya modernisasi di dunia Arab. Bahkan disebut kelompok yang muncul di suatu wilayah
yang tidak pernah disentuh oleh dunia luar, Najd. Muhammad bin Abdul Wahab sebagai tokoh
yang memperkenalkan faham Wahabiyah. Dan wahabiyah muncul sebagai gerakan yang
merepresentasikan bentuk primitif.
Ikhwanul

Muslimin adalah kelompok fundamentalis di Mesir, kaum ini tidak mampu

menghadapi realitas yang ada di sekitarnya, lalu berdirilah Muhammadiyah yang didirikan K.H.
Ahmad Dahlan. Tokoh ini tidak pernah hidup pada kebudayaan barat dan tidak pernah
mendapatkan pendidikan barat dalam arti yang sebenarnya.

Dalam sebuah penelitian ditemukan, bahwa untuk menjadi seorang muslim Indonesia
tanpa disertai hubungan organisasi tertentu kurang begitu dinikmati karena kesadaran umat islam
agaknya masih dilihat terlalu umum, sehingga memberi makna sosiologis dalam kehidupan
bermasyarakat secara luas dan kenyataan sosiologis itulah yang terjadi di Indonesia. Sehingga
wajar sekali jika pengelompokkan masyarakat dalam islam di Indonesia terus berkembang
hingga puluhan bahkan ratusan. Perdebatan yang terjadi diantara mereka bukanlah tentang
pokok-pokok agama melainkan bagaimana memanifestasikan ajaran islam pada kehidupan sosial
sebagaimana yang terjadi pada kemunculasn beberapa pemikiran teologi dan filsafat di dunia
islam pada abad klasik. Disamping alasan di atas, ada alasan lain yang menjadi orientasi
ideologis dari pemikiran diatas, yaitu pemahaman yang berbeda, diantara mereka dalam
memahami islam.
Dalam kajian modern tentang sejarah umat islam ditemukan bahwa perbedaan
pemahaman itu memicu persaingan dan konflik sesame agama dalam menghadapi tantangan
modernitas. Seiring dengan perkembangan islam dan munculnya ijtihad-ijtihad baru pahampaham tersebut bukan sekedar pengakuan legalitas politik. Melainkan juga bereksis pada paham
keagamaan.
2.3 Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah
Pemahaman idiologi keagamaan sangat beragam di Indonesia, terutama di dalam
masyarakat jawa, hanya dikenal adanya islam NU dan islam Muhammadiyah, NU sering dilihat
sebagai kelompok tradisionalis, sementara kelompok muhammadiyah sebagai kelompok
modernis, namun pendapat ini kemudian dianggap tidak layak lagi, karena dalam perkembangan
selanjutnya NU bersifat lebih terbuka terhadap modernitas. Bahkan dalam sebuah penelitian
yang dilakukan oleh Arbiyah Lubis, bahwa muhammadiyah termasuk dalam kelompok
tradisionalis-modernis, dimana muhammadiyah tampil sebagai modernis hanya dalam dunia
pendidikan. Akan tetapi dalam memahami teks al-quran dan hadits sebagai sumber ijtihad,
muhammadiyah berada dalam kelompok tradisionalis.
tidak boleh diamalkan, karena akan berdosa dan berimplikasi buruk terhadap akidah. Beberapa
hal yang menjadi perbedaan antara NU dan muhammadiyah adalah bahwa NU tidak menolak
beberapa praktik ritual yang tidak tertulis dalam hadits shahih, atau tidak sesuai dengan
pemikiran modern, karena menurut mereka sesuatu yang tidak tercantum dalam hadits shahih itu
tidak berarti bertentangan muhammadiyah menganggap sesuatu yang tidak tercantum dalam
hadits shahih dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang dari ajaran islam dan

Seperti dalam bentuk praktik ritual di waktu sholat jumat, NU menggunakan dua adzan,
sementara mjuhammadiyah menggunakan satu adzan. Bentuk mimbar yang digunakan juga
berbeda, NU menggunakan mimbar bertongkat, sementara muhammadiyah menggunakan
bentuk mimbar modern. Adapun perbedaan lain yang sangat mencolok adalah dalam penetapan
awal puasa dan hari raya, kelompok NU dalam menetapkan awal bulan puasa dan hari raya (ID)
berpegang pada konsep rukyah, sementara muhammadiyah berpegang pada hisab. Dalam
pelaksanaan shalat tarawih kelompok NU berpegang pada jumlah 20 rakaat, sementara
muhammadiyah berpegang pada jumlah 8 rakaat. Dalam pelaksanaan shalat id kelompok NU
melakukannya di masjid, sedangkan muhammadiyah di lapangan terbuka.
2.4 Model Amar Maruf dan Nahi Munkar
Banyak diantara umat islam yang memiliki pandangan bahwa untuk melakukan suatu
perubahan dalam masyarakat adalah dengan menggunakan kekerasan (Al-unuf). Alasan yang
dijadikan untuk meligimitasi pandangan tersebut adalah konsep jihat. Pemikiran semacam ini
muncul dimana-mana sehingga banyak ditemukan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh umat
islam dengan mengatas namakan agama.
Pemikiran semacam ini, menurut Jawdat Said dalam kitabnya Mafhum al-Taghyir. Di
ibaratkan dengan orang melihat matahari yang kemudian menyimpulkan bahwa matahari yang
kemudian mengelilingi dirinya (bumi), tetapi ia tidak tahu bahwa yang terjadi sebenarnya adalah
sebaliknya. Demikian juga dengan mereka yang melakukan kekerasan dengan mengatas
namakan agama, ia memiliki pandangan bahwa kekerasan akan menyelesaikan masalah, tetapi ia
tidak tahu bahwa yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa kekerasan yang dia lakukan akan
memunculkan kekerasan berikutnya. Banyak factor yang mempengaruhi seseorang untuk
berbuat kekerasan, diantaranya adalah keinginan untuk mempersatukan umat islam dalam satu
bentuk pemikiran, sehingga ia terjebak dalam suatu sikap yang cenderung menyalahkan orang
lain yang tidak sepahaman. Mereka yang terjebak benar, sehingga mudah menyalahkan orang
lain.
Menghindari kekerasan secara fisik bisa diawali dengan menjaga lisan kita untuk tidak
mudah menyalahkan orang lain, menghina orang lain, mengejek orang lain, dan itu harus diawali
dengan membersihkan hati kita dari segala penyakit iri, dengki, benci, dengan menanamkan
cinta kepada orang lain. Muhammad Iqbal pernah mengatakan, hiduplah bersama manusia
dengan bermodalkan cinta, niscaya engkau akan melihat cahaya di setiap tempat.
Jadi pemikiran untuk menginstropeksi diri sendiri dan mengakui kelemahan dan kesalahan
adalah langkah awal yang harus dilakukan dalam upaya untuk mendamaikan umat islam, karena

cara inilah yang telah ditempuh oleh para Nabi sebagaimana yang tertulis dalam al-Quran,
walatajal fi qulubina ghillan li alladzina amanu.
Kelompok fundamentalis, radikal dan sekuler, sama-sama tidak mengikuti cara ini,
karena mereka sama-sama mengedepankan sikap kebencian terhadap kelompok lain dalam
menyelesaikan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan umat Islam. Oleh karena itu setiap
orang memiliki kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya tanpa harus menunggu izin dari
orang lain, karena orang lain tidak berhak untuk melarangnya. Demikian juga dengan beragama
seseorang tidak berhaak di paksa oleh orang lain untuk memeluk suatu agama, karena dalam
ayat al-Quran disebutkan la ikraha fi al-din, tidaka ada paksaan dalam beragama sehingga
seseorang memiliki hak untuk tidak beragama jika itu sudah menjadi keyakinannya. Hal ini
dapat dimaklumi karena Allah sendiri tidak suka dengan orang munafik. Oleh karena itu Islam
tidak melegitimasi bentuk kekerasan dijadikan upaya untuk melakukan perubahan.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Islam modernis adalah upaya yang sungguh-sungguh untuk melakukan interpretasi
terhadap pemahaman, pemikiran, dan pendapat tentang masalah keislaman yang dilakukan oleh
pemikiran terdahulu untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman.

DAFTAR PUSTAKA
Husain Abdullah, Muhammad. Studi dasar-dasar pemikiran islam. Bogor: Pustaka Thariqul
Izzah, 2002
Munir, A. dan Sudarsono. Aliran Modern dalam Islam. Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1994
Nata, Abuddin. Peta Keragaman Pemikiran Islam di Indonesia. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada, 2001
Sani, Abdul. Perkembangan Modern dalam Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998
Supadie, Didiek Ahmad dan Sarjuni. Pengantar Studi Islam. Jakarta : Rajawali Pers, 2011
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pengantar Studi Islam. Surabaya: IAIN
Sunan Ampel Press, 2012

Anda mungkin juga menyukai