Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


Pada zaman sekarang, manusia sangat membutuhkan sabun
untuk membersihkan diri agar bersih dari kotoran kotoran
yang menempel di badan mereka.
Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan dan
dari minyak. Gugus induk lemak disebut fatty acid yang terdiri
dari rantai hidrokarbon panjang (C12 sampai C18) yang
berikatan membentuk gugus karboksil. Reaksi saponifikasi tidak
lain adalah hidrolis basa suatu ester dengan alkali (NaOH atau
KOH). Semua minyak atau lemak dasarnya dapat digunakan untuk
membuat sabun. Lemak merupakan campuran ester yang dibuat dari
alkohol dan asam karboksilat seperti asam stearat, asam oleat,
dan asam palmitat. Lemak padat mengandung ester dari gliserol
dan asam palmitat, sedangkan minyak seperti minyak zaitun
mengandung ester dari gliserol asam oleat (Fessendenden,1982)
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat
dari minyak atau lemak alami. Surfaktan mempunyai gugus
bipolar. Karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran
( biasanya lemak) dari badan dan pakaian. Sabun juga
mengandung sekitar 25% gliserin. Gliserin bisa melembabkan dan
melembutkan kulit, menyejukkan dan meminyaki sel-sel kulit.
Oleh karena itu dilakukan percobaan pembuatan sabun dan
pengujian terhadap sifat-sifat sabun, sehingga akan didapat
sabun yang berkualiatas (Levenspiel,1972)

I.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa itu saponifikasi?
2. Apa saja alat dan bahan yang dibutuhkan pada proses
saponifikasi?
3. Bagaimana proses saponifikasi?
4. Apa saja reaksi yang terjadi ketika proses saponifikasi
terjadi?
I.3 TUJUAN PRAKTIKUM
1. Untuk mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam proses
saponifikasi.
2. Untuk mengetahui bagaimana proses saponifikasi terjadi.