Anda di halaman 1dari 8

Panduan diskusi II: DR BEKEN

Setelah Anda memahami masing-masing kaidah dasar bioetika melalui daftar tilik
pada sesi yang lalu, maka pada sesi kali ini Anda akan melatihkan pemahaman
Anda pada kasus dr. Beken.
Bacalah kasus di bawah ini, kemudian Anda coba tentukan pada kalimat mana
dapat ditemukan kaidah dasar bioetika (beneficence, nonmaleficence, autonomy,
justice) dan sertakan alasan anda. Anda boleh menggunakan daftar tilik sebagai
panduan.

Bahan diskusi: DR BEKEN

Dokter Beken bekerja di Poliklinik RS sejak 2 tahun yang lalu. Ia adalah dokter
umum yang sangat sibuk, terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Ia bekerja di ruang
poli yang cukup luas. Ada dua bed dalam satu poli dan tiap bed dibatasi dengan
gorden sehingga dr. Beken dapat leluasa memeriksa pasiennya dari satu tempat ke
tempat lainnya. Namun kadang ada kesulitan bila ada pasien yang datang dengan
kelainan kulit dimana ia harus memeriksa pasien dalam keadaan setengah
telanjang.
Pada hari Sabtu lalu, sudah ada pasien yang menunggu saat ia datang. dr. Beken
memeriksa pasien sesuai urutan. Pasien pertama, kedua dan ketiga datang dengan
keluhan demam batuk dan pilek. Dokter Beken pun memberikan resep obat dan
nasihat untuk mereka cukup istirahat dan makan makanan bergizi. Ketika keluarga
hendak menebus obat di apotik Rumah Sakit, ternyata persediaan obat sedang
kosong. Keluarga pasien diminta mencari sendiri obat tersebut di apotik luar.
Ternyata tanpa persetujuan dr. Beken oleh apotik obat

tersebut diganti dengan

obat sejenis namun berbeda merk dagang.


Pasien selanjutnya adalah seorang ibu berusia 60 tahun diantar oleh anak lakilakinya datang dengan keluhan nyeri uluhati yang menjalar ke punggung. Merasa
tidak yakin dengan kemungkinan sakit maag yang diderita ibu ini, maka dr. Beken
melakukan

pemeriksaan

EKG

(elektrokardogram)

karena

kecurigaan

terjadi

penyempitan pembuluh darah jantung. Hasil yang diperoleh tidak ada kelainan.
Melihat usia, kondisi fisik ibu yang cukup gemuk serta tekanan darah 140/90 maka
dr. Beken memberikan surat rujukan beberapa pemeriksaan laboratorium.

Dr.

Beken merujuk ibu tersebut ke LAB KLINIK Titrasi Cepat, langganannya yang
terletak tidak jauh dari Rumah Sakit karena pada hari libur, lab RS hanya melayani
pemeriksaan gawat darurat. Dari Lab Klinik tersebut Dr. Beken mendapat bingkisan
kue yang dia amati ternyata sejajar jumlahnya dengan pasien yang dia kirim kesitu.
Pernah dua bulan yang lalu, dengan 20 pasien yang ia kirim, ia memperoleh
voucher belanja Rp.400.000,- di supermarket terkenal dikotanya.
Pasien pulang dengan membawa obat maag, penenang dan surat permintaan
laboratorium serta diminta datang kembali. Setelah menyelesaikan administrasi ibu
tersebut masuk kembali ke kamar periksa karena merasa ada yang kurang yaitu

belum disuntik seperti yang biasa ia dapatkan bila berobat. Pada saat masuk, tanpa
sengaja ibu tadi melihat pasien laki-laki muda bertato di perut bawah sedang
menaikkan celana dalamnya. Anak muda tadi segera dilayani karena mengaku
kerabat perawat RS, sehingga perawat memasukkan lebih dahulu ke ruang sekat
kiri. Ia sempat sepintas melihat celana dalam tadi bervlek-vlek putih kekuningan.
Anak muda tadi memoloti si ibu, dr. Beken meminta sang ibu keluar menunggu
sebentar. Ibu yang agak cerewet tadi minta maaf, namun tanpa dosa ia nyerocos
menanyakan apa penyakit anak muda tadi. Dr. Beken agak terpana untuk
menjawab pertanyaan awam si ibu ini. Ah, Cuma panas dalam di perut, jawab
Beken kalem. Saya suntiknya sambil berdiri saja dok, kalau tiduran takut ketularan
penyakit kelaminnya anak tadi, cerocos sang pasien.
Pasien yang lain adalah seorang wanita muda dan setengah baya. Sebut saja Mbak
Modis dan Ibu Menor. Mbak Modis mengeluh beberapa hari ini badannya panas
dingin, mual dan beberapa kali muntah. Sedangkan Ibu Menor mengeluh kepala
pusing berputar-putar. Dia sudah beberapa kali datang ke dokter yang berbedabeda dan dikatakan tidak ada apa-apa, hanya pusing biasa. Dokter terakhir yang
dia kunjungi menyarankan dilakukan CT scan kepala. Kemudian ia datang ke dr.
Beken dengan membawa hasil CT scan. Surat keterangan yang terdapat di dalam
amplop CT scan tersebut menyatakan kecurigaan adanya SOL (space occupying
lesion).

Tanpa penjelasan mengenai isi di dalam surat keterangan tersebut, dr.

Beken memberikan surat rujukan ke Rumah Sakit bagian Saraf. Sementara Mbak
Modis, tak sempat dilakukan pengukuran

kadar gula darah, langsung diberikan

resep sakit kencing manis yang sudah langganan ia derita 5 tahun ini. Dr. Beken
hanya memeriksa sekilas dan menyalin resep dari catatan medis yang disodorkan
perawat. Perawat kemudian memberikan penjelasan tentang obat yang diberikan
serta mengingatkan Mbak Modis untuk kembali jika ada keluhan.
Perawat mengingatkan pasien lainnya, Tn. Garputala, 46 tahun dengan muntah
berak belasan kali dan satu lagi seorang pelajar putri, 15 tahun sebut saja Nn. Rani
Omnivora yang ia kenal sebagai anak pertama OKB (orang Kaya Baru) tetangganya,
anggota DPRD salah satu parpol besar.
Garputala adalah hansip setempat yang merasa kurang afdol kalau tidak diperiksa
dr. Beken. Dokter Beken memeriksa pak Garputala, memegang nadinya yang terasa
kecil dan lemah, mencubit kulit perutnya yang ternyata sudah mengendur. Ia pun

menginstruksikan perawat untuk memasang infus dan mencarikan ruang rawat.


Tak lupa ia menitipkan amplop berisi Rp.100.000,- bagi sang hansip.

Untuk

pegangan ya Pak Tala, cepat sembuh deh.


Saat mempersilahkan Nn. Rani masuk ke ruang sekat kanan, dr. Beken terkaget
karena serombongan orang menyela masuk sambil menggendong pasien anak lakilaki 9 tahun, si Amir bin Jufri yang tadi pagi ia khitan, yang datang kembali dalam
keadaan berdarah. Ia menolong Amir dulu selama 45 menit, sementara Rani
terpana sendirian karena perawat juga sibuk membantu dr. Beken mengatasi
perdarahan si Amir di ruang sekat kiri. Beken tak sempat bicara ke Nn. Rani. Para
pengantar Amir justru yang meminta agar Rani sabar menunggu. Tentu sambil
mencuri pandang, karena walaupun bukan bernama Menor, Rani memang menor
malam itu.
Setelah selesai dr. Beken akhirnya mendengarkan keluhan Rani. Ia stress karena
baru saja mengambil uang ayahnya tanpa ijin demi menolong sahabatnya untuk
aborsi di klinik Antah Berantah.

Dr.Beken menawarkan untuk menjadi mediator

menyampaikan kepada ayah Rani. Toh menurutnya dan menurut Rani, sang
anggota DPRD ini cukup mampu menolong sahabat Rani.

Biar uang saku saya

dipotong deh dok asal papi tak nyap-nyap ama saya, kata si manis Rani.
Begitulah keseharian dr. Beken dalam membantu menyelesaikan masalah pasienpasiennya.

Check List Autonomi


Kriteria

1. Menghargai hak menentukan nasib sendiri,


menghargai martabat pasien
2. Tidak mengintervensi pasien dalam membuat
keputusan (pada kondisi elektif)
3. Berterus terang
4. Menghargai privasi
5. Menjaga rahasia pasien
6. Menghargai rasionalitas pasien
7. Melaksanakan informed consent
8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten
mengambil keputusan sendiri
9. Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi
pasien
10.Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam
membuat keputusan, termasuk keluarga pasien
sendiri
11.Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien
pada kasus non emergensi
12.Tidak berbohong ke pasien meskipun demi kebaikan
pasien

Ada

Berte
ntanga
n

Tidak
ada

Check List Justice


Kriteria

1. Memberlakukan segala sesuatu secara universal


2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang
telah ia lakukan
3. Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi
dalam posisi yang sama
4. Menghargai hak sehat pasien (affordability, equality,
accessibility, availability, quality)
5. Menghargai hak hukum pasien
6. Menghargai hak orang lain
7. Menjaga kelompok yang rentan (yang paling dirugikan)
8. Tidak melakukan penyalahgunaan
9. Bijak dalam makro alokasi
10.Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan
kebutuhan pasien
11.Meminta partisipasi pasien sesuai dengan
kemampuannya
12.Kewajiban mendistribusi keuntungan dan kerugian
(biaya, beban, sanksi) secara adil
13.Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang
tepat dan kompeten
14.Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa
alasan sah/tepat
15.Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan
penyakit/gangguan kesehatan
16.Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA,
status sosial, dll

Ada

Berte
ntanga
n

Tida
k
ada

Check List Nonmaleficence


Kriteria

1. Menolong pasien emergensi


2. Kondisi untuk menggambarkan kriteria ini adalah :
pasien dalam keadaan amat berbahaya
(darurat)/beresiko hilangnya sesuatu yang penting
(gawat)
dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan
tersebut
tindakan kedokteran tadi terbukti efektif
- manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya
mengalami resiko minimal)
6. Mengobati pasien yang luka
7. Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia)
8. Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien
9. Tidak memandang pasien hanya sebagai objek
10. Mengobati secara proporsional
11. Mencegah pasien dari bahaya
12. Menghindari misrepresentasi dari pasien
13. Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian
14. Memberikan semangat hidup
15. Melindungi pasien dari serangan
16. Tidak melakukan white collar crime dalam bidang
kesehatan / kerumah-sakitan yang merugikan pihak
pasien/keluarganya

Ada

Berte
ntanga
n

Tidak
ada

Check List Beneficence


Kriteria

1.

Mengutamakan altruisme (menolong tanpa


pamrih, rela berkorban untuk kepentingan orang
lain)
2.
Menjamin nilai pokok harkat dan martabat
manusia
3.
Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya
sejauh menguntungkan dokter
4.
Mengusahakan agar kebaikan/manfaatnya
lebih banyak dibandingkan dengan
keburukannya
5.
Paternalisme bertanggung jawab/berkasih
sayang
6.
Menjamin kehidupan-baik-minimal manusia
7.
Pembatasan goal-based
8.
Maksimalisasi pemuasan
kebahagiaan/preferensi pasien
9.
Minimalisasi akibat buruk
10. Kewajiban menolong pasien gawat-darurat
11. Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan
12. Tidak menarik honorarium diluar kepantasan
13. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara
keseluruhan
14. Mengembangkan profesi secara terus-menerus
15. Memberikan obat berkhasiat namun murah
16. Menerapkan Golden Rule Principle

Ada

Berten
tangan

Tidak
ada