Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH KEWARGANEGARAN

HAK WARGA NEGARA UNTUK MENDAPATKAN KEADILAN

NAMA

: FARIS DHIAULHAQ

NIM

: 2015-043-164

SEKSI

:I

UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA


JAKARTA
2016

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya,
penulis dapat menyelesaikan makalah Hak Warga Negara untuk mendapatkan keadiilan
dengan baik dan lancar .
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Pendidikan Kewarganegaraan serta membantu
mengembangkan kemampuan pemahaman pembaca terhadap Hak dan Kewajiban Warga
Negara . Pemahaman tersebut dapat dipahami melalui pendahuluan , pembahasan masalah ,
serta penarikan garis kesimpulan dalam makalah ini .
Makalah Hak dan Kewajiban Warga Negara ini disajikan dalam konsep dan bahasa yang
sederhana sehingga dapat membantu pembaca dalam memahami makalah ini . Dengan
makalah ini , diharapkan pembaca dapat memahami mengenai hak dan kewajiban sebagai
anggota warga negara .
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Dosen mata kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk berkarya
menyusun makalah Hak dan Kewajiban Warga Negara .
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca . Saran dan kritik sangat penulis
harapkan dari seluruh pihak dalam proses membangun mutu makalah ini .

Jakarta, 27 September 2016

Faris Dhiaulhaq

i
DAFTAR ISI
Kata pengantar

Daftar isi

ii

Bab I
pendahuluan

Bab II
Pengertian keadilan

Keadilan bagi masyarakat

Keadilan sosial

Berbagi macam keadilan

Fenomena keadilan di indonesia

Bukti ketidakadilan hukum

Bab III
Kesimpulan

Bab IV
Daftar pustaka

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

indonesia, adalah Negara Hukum yang berdasarkan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia, itulah cita-cita dasar para founding father bangsa ini. Negara yang tatanan
masyarakatnya sadar hukum, menjadikan hukum sebagai panglima yang mampu menjamah
seluruh rakyat Indonesia tanpa pandang ras, jabatan dan strata sosialnya.
Dalam negara hukum, kekuasaan negara dibatasi oleh Hak Asasi Manusia sehingga aparatur
negara tidak bisa bertindak sewenang-wenang (detournement de pouvoir), menyalahgunakan
kekuasaan (abus de pouvoir), dan diskriminatif dalam penegakan hukum terhadap warga
negaranya. Penegakan hukum dinegara kita ditopang oleh 4 (empat) penegak hukum, yang
kita kenal sebagai catur wangsa, Kehakiman, Kejaksaan, Kepolisian, dan Profesi Advokat.
Penegak hukum ini kemudian bertambah lagi sejak lahirnya Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK), sehingga sekarang tidak lagi catur wangsa, melainkan panca wangsa. Dipundak
merekalah kita topangkan tegak atau runtuhnya penegakan hukum itu.
Selain menjadi tanggung jawab para penegak hukum itu, penegakan hukum juga menjadi
tanggung jawab pemerintah/negara itu sendiri, dengan menyediakan instrumen hukum
(peraturan

perundang-undangan)

yang

berkeadilan,

berkepastian

dan

mampu

diimplementasikan dalam tatanan riil di masyarakat. Sebagaimana kita ketahui bahwa di


Negara kita ini masih terdapat ketidakadilan, di Indonesia dalam menegakkan keadilan masih
lemah.bentuk-bentuk keadilan di Indonesia ini seperti orang yang kuat pasti hidup sedangkan
orang yang lemah pasti akan tertindas dan di Indonesia ini jelas bahwa keadilan belum di
laksanakan atau diterapkan dengan baik yang sesuai dengan aturan-aturan hukum yang ada di
Indonesia. Keadilan di Indonesia belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang
salah. Inilah bukti bahwa dinegara ini keadilan masih memihak kepada yang kuat.
Seandainya di negara kita terjadi pemerataan keadilan maka kita yakin tidak akan terjadi
protes yang disertai kekerasan, kemiskinan yang bekepanjangan, perampokan, kelaparan, gizi
buruk dll. Mengapa hal diatas terjadi karena konsep keadilan yang tidak diterapkan secara
benar, atau bisa kita dikatakan keadilan hanya milik orang kaya dan penguasa. Seolah-olah
orang kecil sangat dipermainkan oleh keadilan
1

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Keadilan

Keadilan adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban.
Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan kewajiban, atau dengan kata lain
keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan
bersama. Berdasarkan kesadaran etis, kita diminta untuk tidak hanya menuntut hak dan lupa
menjelankan kewajiban, maka sikap dan tindakan kita akan mengarah pada pemerasan dan
memperbudak orang lain. Sebaliknya pula jika kita hanya menjalankan kewajiban dan lupa
menuntut hak, maka kita akan mudah diperbudak atau diperas orang lain.
Keadilan itu merupakan suatu perlakuan antara hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan
secara seimbang. Setiap orang ingin merasakan keadilan yang sama antara sesama manusia.
Adil dalam melaksanakan suatu keadaan atau masalah merupakan jiwa seseorang yang
memiliki jiwa social yag tinggi. Setiap warga Negara Indonesia pun wajib memperoleh
keadilan yang merata dengan yang lainnya sesuai dengan HAM dalam bidang hokum, politik,
ekonomi, dan kebudayaan.
Keadilan dan ketidakadilan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia karena dalam
hidupnya manusia menghadapi keadilan atau ketidakadilan setiap hari. oleh sebab itu
keadilan dan ketidakadilan, menimbulkan daya kreativitas manusia. Maka dari itu keadilan
sangat penting untuk kehidupan sehari hari, karena akan mensejahterakan semua umat
manusia. Keadilan terdapat dalam pancasila, terutama dalam sila kelima yang berbunyi
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang artinya seluruh warga Negara Indonesia
berhak mendapatkan keadilan yang merata dari pihak yang berwenang.
Jadi antara hak dan kewajiban perlu diserasikan agar tercipta kehidupan yang harmonis,
karena kehidupan seperti itulah yang diinginkan oleh setiap umat manusia. Setiap manusia
mempunyai hak dan kewajiban yang perlu dikerjakan bersama sama tanpa adannya berat
sebelah yang artinya hak dan kewajiban harus dilaksanakan secara seimbang.

2.2 Keadilan bagi masyarakat


2

Secara teori Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik
menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori keadilan memiliki tingkat
kepentingan yang besar.
JohnRawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke20, menyatakan bahwa Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial,
sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran
Keadilan juga dapat diartikan sebagai makin sempitnya kesenjangan yang terjadi. Maka
keadilan dalam masyarakat adalah terciptanya keseimbangan dan makin sempitnya
kesenjangan yang terjadi dalam kehidupan. Jika makin sempitnya kesenjangan yang terjadi
adalah kesejahteraan bersama. Ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan dalam kehidupan
setiap insan
2.3 Keadilan sosial
Giving to each what he or she is due, memberikan kepada siapa yang memang pantas
mendapatkannya. Kenapa manusia harus berbuat adil? Kenapa harus berusaha juga
menegakkan keadilan di muka bumi ini? Tuhan Maha Adil, manusia sebagai ciptaan Tuhan
dituntut untuk menegakkan keadilan di dunia ini. Dirinya harus mencoba merealisasikan
keadilan sebagaisifat Tuhan, menjadikannya sebagai sifat dirinya.Keadilan sosial
mengandung arti memelihara hak-hak individu dan memberikan hak-hak kepada setiap orang
yang berhak menerimanya. Karena manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa
berdiri

sendiri

dalam

memenuhi

segala

kebutuhannya.Inilah

salah

satu

alasan

Tuhanmenciptakan manusia dalam beragam warna kulit danbahasa, suku dan ras, agar
tercipta sebuah kebersamaan dan keharmonisan di antaramanusia. Dengan manusia saling
memenuhi kebutuhan masing-masing, makakebersamaan dan saling ketergantunganpun
tercipta, dan ini merupakan keadilan Tuhan yang Maha Adil.Ketika manusia sebagai makhluk
sosial, maka secara otomatis pula ada hak dankewajiban di antara mereka. Hak dan
kewajiban adalah dua hal timbal balik, yang tidak mungkin ada salah satunya jika yang
satunya lagi tidak ada. Ketika ada hak yang harusdierima, otomatis juga ada kewajiban yang
harus diberikan.Keadilan merupakan pokok terpenting untuk menciptakan tatanan dunia yang
damaidan makmur, tanpa ada diskriminasi dan pelanggaran HAM di antara sesama.

2.4.Berbagai macam keadilan

Keadilan Legal atau keadilan moral


Plato berpendapat bahwa keadilan legal atau keadilan moral adalah keadilan yangmengikuti
penyesuaian

atau

pemberian

tempat

seseorang

dalam

masyarakat

sesuaidengan

kemampuannya, dan yang dianggap sesuai dengan kemampuan yangbersangkutan. Keadilan


dan hukum merupakan substansi rohani umum darimasyarakat yang membuat dan menjaga
kesatuannya. Dalam suatu masyarakatyang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang
menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (Than man behind the gun). Pendapat Plato itu
disebut keadilanmoral, sedangkan Sunoto menyebutnya keadilan legal.
Keadilan Distributif
Rani saat ini duduk di kelas 1 SMA dan adiknya Leni saat ini duduk di kelas 4 SD. Namun
kedua orang tua mereka memberikan uang jajan yang sama besar. Hal tersebut tidak adil
karena seharusnya uang jajan Rani dan Leni dibedakan karena usia mereka yang terpaut jauh
dan kebutuhan sekolah yang berbeda. Itu adalah contoh dari keadilan distributif seperti
Aristoles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama
diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (justice is done
when equals aretreated equally)
Keadilan komutatif
Keadilan komutatif adalah keadilan yang memberikan kepada setiap orang samabanyaknya,
tanpa mengingat berapa besar jasa-jasa yang telah diberikan (dari katacommute = mengganti,
menukarkan, memindahkan). Keadilan ini bertujuanmemelihara ketertiban masyarakat dan
kesejahteraan umum. Bagi Aristotelespengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan
ketertiban dalammasyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan
ketidak adilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.

2.5

Fenomena Keadilan di Indonesia


4

Setiap manusia berhak memperoleh keadilan, baik itu dari masyarakat maupun dari negara.
Seperti yang tercantum dalam pancasila, sila ke-5 yang berbunyi : keadlian bagi seluruh
rakyat Indonesia. Hal ini sangat jelas bahwa seluruh rakyat indonesia berhak mendapat
keadilan tanpa terkecuali. Tidak pandang bulu, entah itu pejabat, rakyat kecil, orang kaya atau
miskin. Semua berhak mendapat keadilan yang merata, maka dari itu keadilan sangat
berkaitan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Hak asasi manusia dianggap sebagai hak dasar
yang sangat penting untuk dilindungi dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Agar
terwujud dengan baik, maka perlu diberlakukan sanksi bagi siapa saja yang telah melanggar
hak asasi manusia dan di sinilah peran hukum sangat dibutuhkan.
Hukum adalah peraturan yang harus ditaati yang bersifat memaksa dan akan dikenakan
sanksi bagi siapa saja yang melanggarnya. Tujuan hukum adalah memberikan keadilan
kepada setiap orang. Semua manusia itu memiliki martabat yang sama, juga memiliki hak
dan kewajiban yang sama pula. Namun dalam prakteknya hal ini sudah tidak terjadi lagi di
Indonesia. Hukum Indonesia dinilai belum mampu memberikan keadilan kepada masyarakat
yang tertindas. Justru sebaliknya, hukum menjadi alat bagi pemegang kekuasaan untuk
bertindak semena-mena. Saat ini hukum di Indonesia yang menang adalah yang mempunyai
kekuasaan, yang mempunyai uang banyak pasti aman dari gangguan hukum walaupun aturan
Negara dilanggar. Orang biasa yang ketahuan melakukan tindakan kecil langsung ditangkap
dan dijebloskan kepenjara. Sedangkan seorang pejabat Negara yang melakukan korupsi uang
milyaran rupiah milik Negara dapat berkeliaran dengan bebasnya.
Perkembangan penegakan hukum di indonesia masih jauh dari yang diharapkan karena
hukum di indonesia belum dilaksanakan dengan adil. Status social ekonomi dan kedudukan
merupakan faktor utama yang melatarbelakangi ketidakadilan hukum di Indonesia. Karena
hukuman itu cenderung hanya berlaku bagi orang miskin dan tidak berlaku bagi orang kaya,
sehingga tidak sedikit orang yang menilai bahwa hukum di Indonesia dapat dibeli dengan
uang.

2.6 Bukti ketidakadilan hukum

Seperti dalam kasus Artalyta yang menjalani hukuman penjaranya dengan fasilitas yang
sangat mewah, padahal ia tersandung kasus penyuapan terhadap jaksa. Bandingkan dengan
kasus seorang nenek yang di penjara hanya gara-gara ia mengambil sebuah coklat untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya harus menjalani hukuman 6 bulan penjara di hotel prodeonya
dengan sangat tersiksa.
Nasib ibu Minasih, beliau dituntut 7 tahun penjara Cuma gara-gara mencuri buah randu milik
perusahaan. Bandingkan dengan Seorang Mafia Pajak Gayus Tambunan beliau dihukum 7
tahun penjara namun masih bisa keluar masuk penjara dengan bebas bahkan sampai berlibur
ke Bali. Para koruptor dengan bebasnya berkeliaran di Negara ini. Hukum seolah kebal
terhadap mereka yang punya uang.
Itulah fenomena yang terjadi di bangsa ini. Dimana seseorang yang Cuma mencuri buah di
hukum seberat-beratnya, sedangkan mereka para koruptor yang mencuri uang Negara
bermilyar-milyar, dihukum seringan-ringannya. Bahkan tak jarang terjadi dibeberapa kasus
korupsi, para koruptor malah dibebaskan dengan uang jaminan atau hanya menjadi tahanan
rumah. Perkembangan penegakan hukum di indonesia masih jauh dari yang diharapkan
karena hukum di indonesia belum dilaksanakan dengan adil. Hal ini juga terjadi karena tidak
berjalannya prinsip rule of law dan tidak kemampuan Negara melindungi hak-hak social dan
politik dari pelanggaran Warga Negara maupun penguasa.

BAB III
PENUTUP
6

3.1

KESIMPULAN

Keadilan digambarkan sebagai situasi sosial ketika norma-norma tentang hak dan kelayakan
dipenuhi. Keadilan merupakan tujuan untuk mensejahterakan rakyat. Namun dalam
kenyataannya keadilan yang terjadi di Negara ini sangatlah cacat. Hal ini terbukti dengan
banyaknya kasus-kasus ketidakadilan dalam penegakan hukum di indonesia . Dengan
demikian Negara indonesia telah gagal

dalam memberikan keadilan kepada warga

negaranya.
Keadilan di Indonesia saat ini sangatlah dibutuhkan karena pada saat ini keadilan kurang
memihak rakyat kecil. Lebih banyak memihak orang-orang yang ber-uang banyak.
Menegakan keadilan haruslah secara merata tanpa memandang statusnya. Indonesia, adalah
Negara Hukum yang berdasarkan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, itulah citacita dasar para founding father bangsa ini. Negara yang tatanan masyarakatnya sadar hukum,
menjadikan hukum sebagai panglima yang mampu menjamah seluruh rakyat Indonesia tanpa
pandang ras,
Keadilan adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban.
Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan kewajiban, atau dengan kata lain
keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan
bersama. Secara teori Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai
sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Berbagai macam keadilan diantaranya
keadilan legal, Keadilan Distributif,dan keadilan komutatif

Bab IV
DAFTAR PUSTAKA
7

Ahmadi Abu. 1975. Kondisi Keadilan diIndonesia. Semarang: Ramadhani.


Cohen, Bruce J. 1972. Keadilan Tiang Pokok Kehidupan. Jakarta: Rineka Cipta.
H.Khairuddin. 1985. Hakim Bukan Untuk Dihakimi. Yogyakarta: Nurcahaya.
Horton B. paul dan Chester L. hunt. 1990. Keadilan Membawa Kematian. Jakarta: Erlangga.
Huky, Wila. DA. 1982. Pengantar Kehakiman. Surabaya: Usaha Nassional.
Johnson, Paul Doyle. 1990. Teori Keadilan Klasik dan Modern. Jakarta; PT Gramedia
Pustaka Utama.
Khan, Ali Majdjid. 1985. Muhammad Nabi Adilku. Bandung: Penerbit Pustaka.
Koentjaraningrat. 1972. Antropologi Sosial. Jakarta: Penerbit Aksara Baru.
Lawang, M.Z. Robert. 1980. Pengantar Keadilan Dunia. Jakarta: Depdikbud RI Universitas
Terbuka.
Madjid, Nurcholis. 1989. Islam dan Keadilan. Bandung: PT Mizan.
Nasikun. 1992. Sistem Keadilan Nasional. Jakarta: Rajawali Pers.
OC, Puspito Hendro D. 1989. Uang Pembeli Hukum. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.
OK, Chairudin.1991. Hukum dan HAM. Jakarta: Sinar Grafika