Anda di halaman 1dari 16

Serial Perpres 4/2015 : Pernik Negosiasi

Teknis dan Harga


(221 Views) February 16, 2015 9:00 am | Published by Samsul Ramli | No comment

Salah satu diskusi yang mengemuka terkait Perubahan Perpres 54/2010


dengan Perpres 4/2015 adalah munculnya klausul negosiasi teknis dan harga pada proses
pelelangan. Klausul ini muncul dengan syarat kondisi penawaran yang masuk dalam
pelelangan kurang dari 3.
Pasal 109 ayat 7 huruf c. apabila penawaran yang masuk kurang dari 3 (tiga) peserta,
pemilihan penyedia dilanjutkan dengan dilakukan negosiasi teknis dan harga/biaya.
Dengan hilangnya klausul penawaran wajib 3 maka proses pelelangan diharapkan dapat
mendukung percepatan sebagaimana amanat Inpres 1/2015. Semoga.
Terkait negosiasi beberapa pertanyaan muncul dalam beberapa kelas pengadaan
barang/jasa yang saya ikuti. Untuk itu ada baiknya jika materi diskusi dan pembahasan ini
dipublikasikan untuk memicu diskusi lebih lanjut.
Seperti apakah harga negosiasi yang dihasilkan?
Pertanyaan ini muncul karena masih ada pemahaman bahwa teknis negosiasi yang dilakukan
adalah teknis negosiasi pasar tradisional. Dimana penyedia menawarkan nilai harga,
kemudian pembeli menawar lebih rendah dari itu. Proses berlangsung sampai terjadi
kesepakatan harga, dimana belum tentu hasilnya adalah harga terendah antara harga
penawaran atau pembelian awal.
Negosiasi Pasar
Penawaran Penjual

Penawaran Pembeli

500.000

400.000

Hasil Negosiasi = 450.000

Secara umum negosiasi harga seperti ini tidak masalah. Namun sayangnya dalam pengadaan
barang/jasa pemerintah harus mempertimbangkan prinsip akuntabilitas. Dari sisi akuntabilitas
angka 450.000 akan menjadi pertanyaan sumber dasarnya. Akan membuka kecurigaan
adanya kolusi antara penawar dan pembeli untuk kemudian dilaporkan kepada pengguna.
Dugaannya misalnya bisa saja kesepakatan sebenarnya 480.000 namun dilaporkan 450.000
sehingga 30.000 sebagai fee negosiasi. Tentu ini hanya dugaan namun demikian dari sisi
akuntabilitas harus dihindari semaksimal mungkin terjadinya potensi kolusi ini.
Pada penjelasan Keppres 80/2003 dan seluruh perubahannya, terkait klarifikasi dan negosiasi
diatur cukup detil bahwa :
Klarifikasi dan negosiasi dilaksanakan sebagai berikut:
1. sebelum klarifikasi dan negosiasi dilakukan, panitia/pejabat pengadaan membuat
pedoman klarifikasi dan negosiasi teknis dan harga. Dalam pedoman klarifikasi dan
negosiasi teknis dan harga di-cantumkan hal-hal teknis dan item pekerjaan yang akan
diklarifikasi dan dinegosiasi, tetapi tidak boleh mencantumkan rincian HPS;
2. klarifikasi dan negosiasi dilakukan kepada peserta pemilihan langsung yang
menawarkan harga terendah sampai terjadi kesepakatan. Klarifikasi dan negosiasi
tidak boleh dihadiri oleh peserta pemilihan langsung lainnya;
3. klarifikasi dan negosiasi teknis dilakukan untuk mendapatkan barang/jasa yang sesuai
dengan spesifikasi yang tercantum dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa
atau spesifikasi yang lebih tinggi;
4. bagi pengadaan barang/jasa berdasarkan kontrak harga satuan, panitia/pejabat
pengadaan melakukan klarifikasi dan negosiasi terutama terhadap harga satuan itemitem pekerjaan yang harga satuan penawarannya lebih tinggi dari harga satuan yang
tercantum dalam HPS;
5. bagi pengadaan barang/jasa berdasarkan kontrak lumpsum, Pejabat / Panitia
Pengadaan / Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit) melakukan negosiasi hanya
pada harga total saja;
6. setelah klarifikasi dan negosiasi, Pejabat / Panitia Pengadaan / Unit Layanan
Pengadaan (Procurement Unit) meminta kepada peserta pemilihan langsung yang
akan diusulkan untuk menandatangani berita acara hasil klarifikasi dan negosiasi.
Apabila tidak terjadi kesepakatan dengan urutan pertama, maka klarifikasi dan
negosiasi dilakukan kepada urutan penawar terendah berikutnya;
Namun demikian Perpres 54/2010 sebagaimana diubah dengan Perpres 4/2015 hanya
mengatur pada pasal 66 ayat 5 huruf a bahwa HPS digunakan sebagai untuk menilai
kewajaran penawaran termasuk rinciannya. Kemudian operasional negosiasi diuraikan dalam
Perka 14/2012 pada proses pengadaan langsung disebutkan bahwa Negosiasi harga dilakukan
berdasarkan HPS.
Jika berdasarkan HPS maka yang dinegosiasi adalah Harga Satuan dalam Daftar Kuantitas
dan Harga. Jika demikian, untuk studi kasus diatas dimana item barang yang dibeli hanya 1

unit, maka harga negosiasi yang terjadi mau tidak mau adalah sama dengan harga penawaran
pembeli (400.000).
Studi kasus sederhana lainnya dengan daftar kuantitas terdiri dari beberapa item sub
pekerjaan:
Penyedia I
HPS
Ite
m

Penawaran

Negosiasi

H.
Satuan

Volum
e

Jumlah

H.
Satuan

Volum
e

Jumlah

H.
Satuan

Volum
e

Jumlah

50.000

10

500.000

40.000

10

400.000

40.000

10

400.000

60.000

10

600.000

50.000

10

500.000

50.000

10

500.000

70.000

10

700.000

75.000

10

750.000

70.000

10

700.000

80.000

10

800.000

85.000

10

850.000

80.000

10

800.000

90.000

10

900.000

85.000

10

850.000

85.000

10

850.000

3.500.0
00

TOTAL

TOTAL

3.350.0
00

TOTAL

3.250.0
00

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa total harga bergeser akibat negosiasi pada Harga Satuan
per item pekerjaan. Negosiasi ini bukan berjalan atas subyektifitas Pokja sebagai pelaksana
negosiasi, namun bergeser berdasarkan bahan baku dari PPK, melalui HPS. Harga satuan
HPS menjadi dasar pembanding dengan alasan merupakan harga pasar sebelum pelelangan.
Jika Harga Satuan setelah pelelangan lebih rendah maka harga satuan HPS (Harga Pasar
HPS) terkoreksi, jika sebaliknya maka harga satuan penawaran (Harga Pasar Penawran)
dikoreksi sesuai dengan Harga Satuan HPS.
Skenario lain ketika ada 2 penyedia yang diperbandingkan kemungkinan terjadi seperti
berikut:
Penyedia II
Ite
m

HPS

Penawaran

Negosiasi

H.
Satuan

Volum
e

Jumlah

H.
Satuan

Volum
e

Jumlah

H.
Satuan

Volum
e

Jumlah

50.000

10

500.000

30.000

10

300.000

30.000

10

300.000

60.000

10

600.000

65.000

10

650.000

60.000

10

600.000

70.000

10

700.000

60.000

10

600.000

60.000

10

600.000

80.000

10

800.000

95.000

10

950.000

80.000

10

800.000

90.000

10

900.000

90.000

10

900.000

90.000

10

900.000

3.500.0
00

TOTAL

3.400.0
00

TOTAL

3.200.0
00

TOTAL

Jika dilihat dari sisi penawaran Penyedia I memiliki harga penawaran terendah (3.350.000)
dibanding penawaran Penyedia II (3.400.000). Namun setelah dilakukan perhitungan
negosiasi berdasarkan HPS, total penawaran Penyedia II justru lebih rendah. Jika demikian
logikanya kesepakatan negosiasi ditawarkan kepada penyedia II terlebih dahulu untuk
mendapatkan total harga penawaran yang terendah. Jika penyedia II tidak sepakat (3.200.000)
maka baru ditawarkan ke Penyedia I dengan kesepakatan total negosiasi (3.250.000).
Bagaimana jika kemudian item barang yang ditawarkan hanya ada 1 item barang saja
atau bersifat lumpsum? Apa yang harus dinegosiasikan?
Menurut saya yang paling aman dan akuntabel adalah tetap berdasarkan pada HPS dan
KAK/Spesifikasi Teknis. Meskipun hanya item barang tidak berarti tidak terdapat unsur lain
yang mempengaruhi biaya. Faktor penyusun daftar kuantitas dan harga tidak hanya harga
pokok barang tetapi juga biaya pendukung sehingga item-item ini masih dapat
dinegosiasikan. Disinilah pentingnya Rincian HPS yang disusun PPK agar dapat dijadikan
pegangan Pokja dalam menyusun tabel pokok negosiasi.
Misal pengadaan 100 unit laptop dengan kontrak lumpsum. Maka unsur rincian HPS adalah:
HPS

Penawaran

Negosiasi

Item
H.
Satuan

Vol

Jumlah

H.
Satuan

Vol

Jumlah

H.
Satuan

Vol

Jumlah

Laptop

5.000.0
00

10
0

500.000.0
00

4.500.0
00

10
0

450.000.0
00

4.500.0
00

10
0

450.000.0
00

Ongko
s
Angkut

8.500.0
00

8.500.000

8.000.0
00

8.000.000

8.000.0
00

8.000.000

TOTAL

508.500.0
00

TOTAL

458.000.0
00

TOTAL

458.000.0
00

Meski dari sisi total harga tidak terjadi perubahan ongkos angkut misalnya dapat dilakukan
negosiasi teknis. Misal semula penawaran penyedia menggunakan jasa ekspedisi, sementara
spesifikasi PPK menggunakan referensi TIKI JNE dimana disisi kualitas memenuhi
kebutuhan. Maka hasil negosiasi nantinya bersifat negosiasi teknis.
Negosiasi teknis bisa dilakukan terhadap setiap komponen item pekerjaan. Yang perlu diingat
negosiasi teknis hanya berdampak pada perubahan harga penawaran pada bagian Harga
Satuan. Untuk bagian yang lumpsum, negosiasi teknis hanya berdampak pada kualitas teknis
yang lebih baik yang bisa didapatkan dan total harga penawaran tidak berubah.
Untuk itu pada SDP E-Tendering Perpres 4/2015 disebutkan pada pasal 27, bahwa :
1. Klarifikasi dan negosiasi teknis dan harga dilakukan dengan ketentuan :
1. dilakukan terhadap 2 (dua) peserta (jika ada) secara terpisah untuk
mendapatkan harga yang wajar serta dapat dipertanggungjawabkan;
2. klarifikasi dan negosiasi teknis dan harga hanya dilakukan terhadap
pekerjaan yang menggunakan Kontrak Harga Satuan atau Gabungan Lump
Sum
dan
Harga
Satuan
pada bagian harga satuan;
3. klarifikasi dan negosiasi teknis dilakukan terhadap pekerjaan yang
menggunakan Kontrak Lumpsum atau Gabungan Lump Sum dan Harga
Satuan pada bagian lumpsum;
4. [untuk pekerjaan yang menggunakan Kontrak Harga Satuan, penawaran
harga setelah koreksi aritmatik yang melebihi HPS tidak dinyatakan gugur
sepanjang hasil klarifikasi dan negosiasi teknis dan harga tidak melampaui
nilai total HPS.]
[untuk pekerjaan yang menggunakan Kontrak Lump Sum, penawaran yang
melebihi nilai HPS dinyatakan gugur]
[untuk pekerjaan yang menggunakan Kontrak Gabungan Lump Sum dan
Harga Satuan, penawaran harga setelah koreksi aritmatik yang melebihi
nilai
HPS

tidak dinyatakan gugur sepanjang hasil klarifikasi dan negosiasi teknis dan
harga tidak melampaui nilai total HPS]
5. [Dalam hal seluruh peserta tidak menyepakati klarifikasi dan negosiasi teknis
dan harga maka pelelangan dinyatakan gagal.]
Dari dua panduan K80/2003 dan SDP Perpres 4/2015 diatas dapat disimpulkan beberapa hal
yaitu:
1. Negosiasi pada pelelangan dilakukan jika jumlah penawaran yang masuk dan
memenuhi syarat kurang dari 3 penawaran.
2. Negosiasi dilakukan secara terpisah jika terdapat 2 calon penyedia.
3. Negosiasi terdiri dari Negosiasi Teknis dan Negosiasi Harga.
4. Sebelum acara klarifikasi dan negosiasi dilakukan, pokja telah menyiapkan hal-hal
teknis item pekerjaan yang akan diklarifikasi dan dinegosiasi, tetapi tidak boleh
mencantumkan rincian HPS.
5. Negosiasi teknis dan harga didasarkan pada KAK/Spesifikasi Teknis dan HPS.
6. Negosiasi Teknis dilakukan didasarkan pada KAK/Spesifikasi Teknis pada bagian
kontrak yang bersifat lumpsum.
7. Negosiasi Teknis dan harga didasarkan pada KAK/Spesifikasi Teknis dan HPS
pada bagian kontrak yang bersifat Harga Satuan.
8. Untuk Kontrak yang seluruh bagiannya bersifat lumpsum jika Total Harga
Penawaran setelah koreksi aritmatik melebihi HPS maka penawaran dinyatakan
gugur.
9. Untuk Kontrak yang didalamnya terdapat bagian yang bersifat Harga Satuan jika
Total Harga Penawaran setelah koreksi aritmatik melebihi HPS penawaran tidak
dinyatakan gugur sebelum dilakukan negosiasi.
Demikian hasil diskusi terkait proses klarifikasi dan negosiasi, mengingat sedikit panduan
teknis tentang negosiasi maka menyampaikan yang selama ini dilakukan sebagai ajang uji
coba yang baik, harapannya ada referensi lain yang akan muncul dari diskusi ini.

Serial Perpres 4/2015 : Tabel Bantu


Perbandingan Perubahan Perpres 54/2010

(1771 Views) January 26, 2015 10:01 am | Published by Samsul Ramli | 28 Comments
Dalam rangka membantu pembahasan dan diskusi tentang perubahan Perpres 54/2010 yang
ke-4 (Perpres 35/2011, Perpres 70/2012, Perpres 172/2014 dan Perpres 4/2015) saya coba
menyajikan perbandingan antara perubahan Perpres 70/2012 dan Perpres 4/2015. Kedua
Perpres ini mempunyai perubahan mayor yang banyak mempengaruhi pelaksanaan
pengadaan barang jasa pemerintah di Indonesia. Semoga dengan tabel ini dapat
mempermudah semua pihak dalam memahami apa saja pasal yang berubah serta apa
perubahannya. Kedepan akan dibahas secara mendalam tentang dampak perubahan kemudian
juga diharapkan dari berbagai diskusi dapat disampaikan beberapa usulan perbaikan. Semoga
bermanfaat.

Perpres 4 / 2015

Perpres 70 /2012

Ketentuan angka 4 Pasal 1 diubah


4. Lembaga Kebijakan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya
disebut LKPP adalah lembaga Pemerintah
yang bertugas mengembangkan dan
merumuskan kebijakan Pengadaan
Barang/Jasa sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 2007
tentang Lembaga Kebijakan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana diubah
dengan Peraturan Presiden Nomor 157 Tahun
2014 tentang Perubahan atas Peraturan
Presiden Nomor 106 Tahun 2007 tentang
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.

4. Lembaga Kebijakan Pengada


Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutn
disebut LKPP adalah lembaga Pemerint
yang bertugas mengembangkan d
merumuskan
kebijakan
Pengada
Barang/Jasa sebagaimana dimaksud dala
Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 20
tentang Lembaga Kebijakan Pengada
Barang/Jasa Pemerintah .

Ketentuan angka 9 Pasal 1 diubah


Pejabat Pengadaan adalah personil yang
ditunjuk untuk melaksanakan Pengadaan
Langsung, Penunjukan Langsung, dan EPurchasing

Pejabat Pengadaan adalah perso


yang ditunjuk untuk melaksanak
Pengadaan Langsung

Ketentuan ayat (2) huruf h angka 1) Pasal 17 diubah


h. khusus Pejabat Pengadaan:
h. khusus Pejabat Pengadaan:
1) menetapkan Penyedia Barang/Jasa untuk:
1)

menetapkan

Penyedia

Barang/Ja

a) Pengadaan Langsung atau Penunjukan

untuk:

Langsung
untuk
paket
Pengadaan
Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya
yang bernilai paling tinggi Rp200.000.000,00
(dua ratus juta rupiah); dan/atau

a) Pengadaan Langsung untuk paket


Pengadaan
Barang/Pekerjaan
Konstruksi/Jasa Lainnya yang bernilai
paling tinggi Rp200.000.000,00 (dua ratus
juta rupiah);dan/atau

b) Pengadaan Langsung atau Penunjukan


b) Pengadaan Langsung untuk paket
Langsung untuk paket Pengadaan Jasa Pengadaan Jasa Konsultansi yang bernilai
Konsultansi yang bernilai paling tinggi paling tinggi Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah);
Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah);

Ketentuan Pasal 17 Penjelasan ayat (1a) diubah

Pengecualian sebagaimana dimaksud dalam


ayat ini, hanya berlaku dalam hal Kepala ULP
tidak merangkap anggota Kelompok Kerja
ULP/Pejabat Pengadaan

Pengecualian sebagaimana dimaksud


dalam ayat ini, hanya berlaku dalam hal
Kepala ULP tidak merangkap anggota
Kelompok Kerja ULP

1. Ketentuan ayat (1) huruf l Pasal 19

memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)


dan telah memenuhi kewajiban perpajakan
tahun terakhir;

sebagai wajib pajak sudah memiliki


Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan
telah memenuhi kewajiban perpajakan
tahun terakhir (PPTK Tahunan) serta
memiliki laporan bulanan PPh Pasal 21,
PPh Pasal 23 (bila ada transaksi), PPh
Pasal
25/Pasal
29
dan PPN (bagi Pengusaha Kena Pajak)
paling kurang 3 (tiga) bulan terakhir dalam
tahun berjalan

Perubahan Penjelasan Pasal 19 ayat 1 huruf l

Kewajiban Perpajakan Tahunan terakhir


dipenuhi dengan penyerahan SPT Tahunan.

Persyaratan pemenuhan kewajiban pajak


tahun terakhir dengan penyampaian SPT
Tahunan dan SPT Masa dapat diganti oleh
Penyedia
Barang/Jasa
dengan
penyampaian Surat Keterangan Fiskal
(SKF) yang dikeluarkan oleh Kantor
Pelayanan Pajak.

Ketentuan di antara ayat (2) dan ayat (3) disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (2a)
Persyaratan pemenuhan kewajiban
perpajakan tahun terakhir sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf l, dikecualikan
untuk Pengadaan Langsung
dengan menggunakan bukti pembelian atau
kuitansi.

Ketentuan ayat (1a) Pasal 25

PA pada Pemerintah Daerah mengumumkan


Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa
secara terbuka kepada masyarakat luas,
setelah rancangan peraturan daerah tentang
APBD yang merupakan rencana keuangan

PA
pada
Pemerintah
Daerah
mengumumkan
Rencana
Umum
Pengadaan Barang/Jasa secara terbuka
kepada masyarakat luas, setelah APBD
yang merupakan rencana keuangan
tahunan Pemerintah Daerah dibahas dan

tahunan Pemerintah Daerah disetujui bersama


oleh Pemerintah Daerah dan DPRD.
disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah
dan DPRD

Ketentuan ayat (1) Pasal 45

(1) Pengadaan Langsung dapat dilakukan


terhadap Pengadaan Jasa Konsultansi yang
bernilai paling tinggi Rp50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah).

(1) Pengadaan Langsung dapat dilakukan


terhadap Pengadaan Jasa Konsultansi yang
memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. merupakan kebutuhan operasional
K/L/D/I; dan/atau
b. bernilai paling tinggi Rp50.000.000,00
(lima puluh juta rupiah).

ayat (1) Pasal 55


(1) Tanda bukti perjanjian terdiri atas:
a. bukti pembelian;
b. kuitansi;

(1) Tanda bukti perjanjian terdiri atas:


a. bukti pembelian;
b. kuitansi;

c. Surat Perintah Kerja (SPK);

c. Surat Perintah Kerja (SPK); dan

d. surat perjanjian; dan


d. surat perjanjian.
e. surat pesanan.

Ditambah ayat (6) Pasal 55


(6) Surat Pesanan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf e digunakan untuk
Pengadaan Barang/Jasa melalui EPurchasing dan pembelian secara online.
Ketentuan Pasal 70 ayat (2)
(2) Jaminan Pelaksanaan tidak diperlukan
dalam hal:
a.
Pengadaan
Barang/Pekerjaan
Konstruksi/Jasa Lainnya yang dilaksanakan
(2) Jaminan Pelaksanaan dapat diminta
dengan metode Pengadaan Langsung,
PPK kepada Penyedia Jasa Lainnya untuk
Penunjukan Langsung Untuk Penanganan
Kontrak bernilai di atas Rp200.000.000,00
Darurat, Kontes, atau Sayembara;
(dua ratus juta rupiah), kecuali untuk
Pengadaan Jasa Lainnya dimana aset
b. Pengadaan Jasa Lainnya, dimana aset
Penyedia sudah dikuasai oleh Pengguna.
Penyedia sudah dikuasai oleh Pengguna; atau
c. Pengadaan Barang/Jasa dalam Katalog
Elektronik melalui E-Purchasing.

Ketentuan ayat (1) dan ayat (2) Pasal 73


(1) Kelompok Kerja ULP segera
mengumumkan pelaksanaan pemilihan
Penyedia Barang/Jasa secara luas kepada
masyarakat setelah RUP diumumkan.
(2) Untuk Pengadaan Barang/Jasa tertentu,
Kelompok Kerja ULP dapat mengumumkan
pelaksanaan pemilihan Penyedia Barang/Jasa
secara luas kepada masyarakat sebelum RUP
diumumkan.

(1) Dalam rangka percepatan pelaksanaan


Pengadaan Barang/Jasa, Kelompok Kerja
ULP dapat mengumumkan pelaksanaan
Pengadaan Barang/Jasa secara luas kepada
masyarakat dengan syarat:
a. setelah penetapan APBD untuk
Pengadaan Barang/Jasa yang bersumber
dari APBD;
b. setelah rencana kerja dan anggaran
Kementerian/Lembaga/ Institusi disetujui
oleh DPR untuk pengadaan yang

bersumber dari APBN.


(2) Dalam hal DIPA/DPA tidak ditetapkan
atau alokasi anggaran dalam DIPA/DPA
yang ditetapkan kurang dari nilai
Pengadaan Barang/Jasa yang diadakan,
proses Pemilihan dibatalkan.

Pasal 86 disisipkan ayat (2a)


(2a) Dalam hal proses pemilihan Penyedia
Barang/Jasa dilaksanakan mendahului
pengesahan DIPA/DPA dan alokasi anggaran
dalam DIPA/DPA tidak disetujui atau
ditetapkan kurang dari nilai Pengadaan
Barang/Jasa yang diadakan, proses pemilihan
Penyedia Barang/Jasa dilanjutkan ke tahap
penandatanganan kontrak setelah dilakukan
revisi DIPA/DPA atau proses pemilihan
Penyedia Barang/Jasa dibatalkan.
Pasal 86 ayat (3) diubah,

(3) Para pihak menandatangani Kontrak


setelah Penyedia Barang/Jasa menyerahkan
Jaminan Pelaksanaan

(3) Para pihak menandatangani Kontrak


setelah
Penyedia
Barang/Jasa
menyerahkan Jaminan Pelaksanaan paling
lambat 14 (empat belas) hari kerja
terhitung sejak diterbitkannya SPPBJ.

Ketentuan ayat (2) Pasal 89 diubah dan disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (2a)
(2) Pembayaran prestasi pekerjaan diberikan
kepada Penyedia Barang/Jasa senilai prestasi (2) Pembayaran prestasi kerja diberikan
pekerjaan yang diterima setelah dikurangi
kepada Penyedia Barang/Jasa setelah
angsuran pengembalian
dikurangi angsuran pengembalian Uang
Uang Muka dan denda apabila ada, serta
Muka dan denda apabila ada, serta pajak.
pajak.
(2a) Pembayaran untuk pekerjaan konstruksi,
dilakukan senilai pekerjaan yang telah
terpasang.
Ketentuan ayat (4) Pasal 89 diubah serta disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (4a)
(4) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana
diatur pada ayat (2) dan ayat (2a),
(4) Pembayaran bulanan/termin untuk
pembayaran dapat dilakukan sebelum prestasi Pekerjaan Konstruksi, dilakukan senilai
pekerjaan diterima/ terpasang untuk:
pekerjaan yang telah terpasang, termasuk

a. pemberian Uang Muka kepada Penyedia


Barang/Jasa dengan pemberian Jaminan Uang
Muka;
b. Pengadaan Barang/Jasa yang karena
sifatnya dapat dilakukan pembayaran terlebih
dahulu, sebelum Barang/Jasa diterima setelah
Penyedia
Barang/Jasa
menyampaikan peralatan dan/atau bahan yang menjadi
jaminan atas pembayaran yang akan bagian dari hasil pekerjaan yang akan
diserahterimakan, sesuai dengan
dilakukan;
c. pembayaran peralatan dan/atau bahan yang ketentuan yang terdapat dalam Kontrak.
menjadi bagian dari hasil pekerjaan yang
akan diserahterimakan, namun belum
terpasang.
(4a) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) huruf b, termasuk bentuk jaminan diatur
oleh Menteri Keuangan.

Ketentuan ayat (2) Pasal 91 dihapus

(2) Yang dapat digolongkan sebagai


Keadaan Kahar dalam Kontrak Pengadaan
Barang/Jasa meliputi:
a. bencana alam;
b. bencana non alam;
c. bencana sosial;
d. pemogokan;
e. kebakaran; dan/atau
f. gangguan industri lainnya sebagaimana
dinyatakan melalui keputusan bersama
Menteri Keuangan dan menteri teknis
terkait.
11. Penjelasan Pasal 91 ayat (1) diubah
Contoh Keadaan Kahar dalam Kontrak
Cukup jelas
Pengadaan Barang/Jasa antara lain namun

tidak terbatas pada:


bencana alam, bencana non alam, bencana
sosial, pemogokan, kebakaran, gangguan
industri lainnya sebagaimana dinyatakan
melalui keputusan bersama Menteri
Keuangan dan menteri teknis terkait
Di antara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 93 ayat (1a)
(1a) Pemberian kesempatan kepada Penyedia
Barang/Jasa menyelesaikan pekerjaan sampai
dengan 50 (lima puluh) hari kalender, sejak
masa berakhirnya pelaksanaan pekerjaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a.1. dan huruf a.2., dapat melampaui Tahun
Anggaran.
Pasal 93 ditambahkan ayat (3)
(3) Dalam hal dilakukan pemutusan Kontrak
secara sepihak oleh PPK karena kesalahan
Penyedia Barang/Jasa sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Kelompok Kerja ULP dapat
melakukan Penunjukan Langsung kepada
pemenang cadangan berikutnya pada paket
pekerjaan yang sama atau Penyedia
Barang/Jasa yang mampu dan memenuhi
syarat.
Pasal 93 Penjelasan ayat 1 huruf a.2 diubah
Huruf a.2. Masa berakhirnya pelaksanaan
pekerjaan untuk Pekerjaan Konstruksi disebut Cukup jelas
juga Provisional Hand Over.
BAB XIII
PENGADAAN SECARA ELEKTRONIK
Bagian Pertama
Ketentuan Umum Pengadaan Secara Elektronik

Ketentuan Pasal 106 ayat (1) diubah

(1) Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah


dilakukan secara elektronik.

(1) Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah


dapat dilakukan secara elektronik.

Ketentuan Pasal 108 ditambahkan ayat (3) dan ayat (4)


(3) K/L/D/I mempergunakan Sistem
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Secara
Elektronik yang dikembangkan oleh LKPP.
(4) Ketentuan lebih lanjut tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah secara elektronik
ditetapkan oleh LKPP.
Ketentuan Pasal 109 ditambahkan ayat (7) dan ayat (8)
(7) Dalam pelaksanaan E-Tendering
dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. tidak diperlukan Jaminan Penawaran;
b. tidak diperlukan sanggahan kualifikasi;
c. apabila penawaran yang masuk kurang dari
3 (tiga) peserta, pemilihan penyedia
dilanjutkan dengan dilakukan negosiasi teknis
dan harga/biaya;
d. tidak diperlukan sanggahan banding;
e. untuk pemilihan Penyedia Jasa konsultansi:
1) daftar pendek berjumlah 3 (tiga) sampai 5
(lima) penyedia Jasa Konsultansi;
2) seleksi sederhana dilakukan
metode pascakualifikasi.

dengan

(8) Ketentuan lebih lanjut mengenai ETendering ditetapkan oleh LKPP.


Ketentuan Pasal 109 dan Pasal 110 disisipkan 1 (satu) Pasal yakni Pasal 109A
(1) Percepatan pelaksanaan E-Tendering
dilakukan dengan memanfaatkan Informasi
Kinerja Penyedia Barang/ Jasa
(2) Pelaksanaan E-Tendering sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
hanya memasukan penawaran harga untuk
Pengadaan
Barang/Jasa
yang
tidak
memerlukan
penilaian
kualifikasi,
administrasi, dan teknis, serta tidak ada

sanggahan dan sanggahan banding.


(3) Tahapan E-Tendering sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) paling kurang terdiri
atas:
a. undangan;
b. pemasukan penawaran harga;
c. pengumuman pemenang.
Ketentuan Pasal 110 ayat (3) dihapus dan ayat (4) diubah, serta ditambahkan 2 (dua) ayat
yakni ayat (5) dan ayat (6),
(4) K/L/D/I wajib melakukan E-Purchasing
terhadap Barang/Jasa yang sudah dimuat
dalam sistem katalog elektronik sesuai
dengan kebutuhan K/L/D/I.
(4) K/L/D/I melakukan E-Purchasing
(5) E-Purchasing dilaksanakan oleh Pejabat
terhadap barang/jasa yang sudah dimuat
Pengadaan/PPK atau pejabat yang ditetapkan
dalam sistem katalog elektronik
oleh Pimpinan Instansi/ Institusi.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai EPurchasing ditetapkan oleh LKPP.
BAB XV
PENGENDALIAN, PENGAWASAN, PENGADUAN DAN SANKSI
Bagian Pertama
Pengendalian
Pasal 115 ditambahkan ayat (3) dan ayat (4)
(3) Pimpinan K/L/D/I wajib memberikan
pelayanan hukum kepada PA/KPA/PPK/
ULP/Pejabat Pengadaan/PPHP/PPSPM/
Bendahara/APIP dalam menghadapi
permasalahan hukum dalam lingkup
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
(4) Khusus untuk tindak pidana dan
pelanggaran persaingan usaha, pelayanan
hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
hanya diberikan hingga tahap penyelidikan

BAB XVII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 129 ditambahkan 2 (dua) ayat yakni ayat (6) dan ayat (7)
(6) Ketentuan Pengadaan Barang/Jasa di Desa
diatur dengan peraturan Bupati/Walikota yang
mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh
LKPP.
(7) Pimpinan K/L/D/I mendorong konsolidasi
pelaksanaan
Pengadaan
Barang/Jasa
Pemerintah.
Pasal II : Ketentuan Peralihan
Dengan berlakunya Peraturan Presiden ini:
1. Proses pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pemerintah yang sedang dilaksanakan,
dilanjutkan dengan tetap berpedoman pada ketentuan sebelum diubah berdasarkan
Peraturan Presiden ini.
2. Perjanjian/Kontrak yang ditandatangani sebelum berlakunya Peraturan Presiden ini,
tetap berlaku sampai dengan berakhirnya Perjanjian/Kontrak.
3. Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.