Anda di halaman 1dari 66

RULA

Perancangan Alat Bantu Aktivitas Bongkar Pupuk Bedasarkan


Kajian Ergonomi

Disusun oleh:
Muhammad Irham Dzikri

1513028

Ivan Ferianto Efendi

1514015

Vincensia Syola Irawan

1514002

Wasingten Muliawan

1514018

Zefanya Tarliman

1514005

Anita Silvia Tanuwijaya

1514021

Evelin Merlians

1514007

Kevin Julian

1514029

Steven lindrasan

1514010

Jeremia Estefan

1514033

Nathan Adi Wirawan

1514014

Muhammad Fikri

1514041

Sumber
Studi Kasus: UD. Karya Tani, Pedan, Klaten (perpustakaan.uns.ac.id)

Skripsi Fitria Mahmudah (I 0307045)


Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta 2011.

Profil Perusahaan
UD. Karya Tani merupakan pengecer resmi pupuk urea bersubsidi merk Pusri
dan Kujang untuk lima kelurahan di Kecamatan Pedan.
Menjual benih dan obat-obatan pertanian
Jumlah pekerja ada 3 orang, tugasnya mengangkat dan mengangkut pupuk
Kegiatan utama: bongkar dan muat pupuk

RULA (Rapid Upper Limb Assessment)


merupakan sebuah metode penilaian postur
kerja yang secara khusus digunakan untuk
meneliti dan menginvestigasi gangguan pada
tubuh bagian atas.

3 TAHAPAN
PENGEMBANGAN RULA

TAHAP 1 : Pengembangan metode untuk merekam


postur kerja
Tubuh dibagi menjadi 2 kelompok besar
1.

GROUP A (Lengan bagian Atas, lengan bagian bawah dan pergelangan tangan)

2.

GROUP B (Leher, punggung dan kaki)

GROUP A : Upper Arm

Pergerakan
Skor
20o ke depan maupun ke
belakang dari tubuh
1
> 20o ke belakang atau 20o 45o
2
45o - 90o

> 90o

Perubahan Skor
+1 jika ada bahu
naik ; +1 jika
lengan berputar
atau bengkok

GROUP A : LOWER ARM

Pergerakan

Skor Perubahan Skor

60o - 100o

< 60o atau > 100o

+1 jika lengan
bawah melewati
garis tengah atau
keluar dari sisi
tubuh

GROUP A : WRIST
Pergerakan

Skor

Posisi netral

0 - 15

> 15o

Perubahan Skor
+1 jika pergelangan
tangan menjauhi
sisi tengah

GROUP B : NECK
Pergerakan

Skor Perubahan Skor

0o - 10o

10o - 20o

> 20o

Ekstensi

Jika leher
berputar atau
bengkok

GROUP B : TRUNK
Pergerakan

Skor Perubahan Skor

Posisi normal 90o

0o - 20o

20o - 60o

> 60o

+1 jika leher
batang tubuh
berputar atau
bengkok

GROUP B : LEGS
Pergerakan

Skor

Posisi normal atau


seimbang

Tidak seimbang

TAHAP 2 : PENGEMBANGAN SISTEM SKOR


UNTUK PENGELOMPOKAN BAGIAN TUBUH.
GROUP A :

Skor Group A = Posture + Muscle use + Force atau Load


Postur = nilai (skor) tiap posisi dalam kategori Group A
Muscle use = +1 jika postur statis (dalam waktu 1 menit)

Force =
a.

0 untuk beban < 2 kg

b.

1 untuk beban 2 10 kg (pembebanan sesekali)

c.

2 untuk beban 2 10 kg (pembebanan statis atau berulang-ulang)

d.

3 untuk beban > 10 kg

GROUP B
Skor Group B = Posture + Muscle Use + Force

PENILAIAN SKOR C

TAHAP 3 : PENENTUAN LEVEL TINDAKAN


Penentuan tindakan dilakukan berdasarkan Skor C yang didapat
Kategori Tindakan
1 -- 2
3 -- 4
5 -- 6
7

Level
Resiko

Perubahan Skor

Minimum Aman
Kecil

Diperlukan beberapa waktu


ke depan

Sedang Tindakan dalam waktu dekat


Kecil

Tindakan sekarang juga

METODOLOGI PENELITIAN

1. Identifikasi Awal
bertujuan untuk mengetahui keluhan-keluhan dan rasa tidak
nyaman dari karyawan yang bertugas membongkar pupuk.
a.

Observasi Lapangan

mengamati sikap kerja operator serta menentukan masalah yang akan dibahas.

b.

Studi Pustaka

diperoleh informasi mengenai teori dan konsep yang akan digunakan dalam menyelesaikan
permasalahan yang diteliti.

c.

Wawancara

informasi mengenai kondisi aktivitas kerja, biodata pekerja, keluhan, keinginan, dan
ketidaknyamanan pekerja pada saat melakukan aktivitas bongkar pupuk.

d.

Dokumentasi Postur Kerja Awal

untuk mengetahui aktivitas yang terjadi pada proses bongkar pupuk.

2. Penilaian Level Resiko Postur Kerja Awal


Tahap ini bertujuan mengetahui level resiko pekerja saat melakukan
aktivitas bongkar pupuk berdasarkan perhitungan skor akhir metode
RULA.
Penilaian postur kerja metode RULA dilakukan melalui lima tahapan yaitu :
1.

Menentukan sudut-sudut posisi kerja pekerja pada foto-foto postur kerja

2.

Melakukan pengkodean postur kerja metode RULA

3.

Melakukan penyusunan skor dengan menggunakan RULA score sheet

4.

Setelah didapatkan skor grup A dan grup B, maka dilakukan penilaian skor C
(skor akhir)

5.

Dilakukan penilaian resiko dan kategori tindakan berdasarkan skor C

3. Penilaian Beban Kerja Fisik Awal


bertujuan untuk mengetahui selisih antara pengeluaran energi waktu melakukan
aktivitas bongkar pupuk dengan pengeluaran energi saat istirahat.
Perhitungan konsumsi energi dilakukan dengan tiga tahap seperti berikut :
a.

Pengukuran Kecepatan Denyut Jantung (menggunakan stopwatch)


dilakukan saat operator sedang membongkar pupuk dengan jeda 1 menit(10 kali bolak balik
mengangkut barang dari truk).
Dan dalam keadaan operator sedang istirahat(10 menit sebelum pekerjaan dimulai).

b. Perhitungan Denyut Jantung


Data ini didapat dari pengumpulan data kecepatan denyut jantung yang nantinya dikonversikan ke jumlah d
enyut jantung per menit dengan perbandingan 2:1.

c. Perhitungan Konsumsi Energi


Hasil perhitungan denyut jantung per menit dikonversikan ke konsumsi energi dengan perbandingan 2:2 dan 2:3.

4. Perancangan Alat Bantu Bongkar Pupuk


Tahap perancangan ini terdiri dari :
1.

Penyusunan konsep rancangan alat bantu bongkar pupuk


dengan tujuan utama untuk memperbaiki postur kerja dan
menurunkan beban kerja fisik pekerja.
(menggunakan prinsip Antropometri)
Pengambilan data diperoleh dari hasil pengukuran
anthropometri seluruh pekerja pada bagian bongkar
pupuk UD. Karya Tani yang berjumlah tiga orang

Variabel yang dibutuhkan dalam perancangan alat bantu


bongkar pupuk, yaitu yaitu tinggi siku berdiri (tsb),
lebar bahu (lb), diameter lingkar genggam (dlg), dan
lebar jari ke-2,3,4,5 (lj).

4. Perancangan Alat Bantu Bongkar Pupuk


Tahap perancangan ini terdiri dari :

2. Perhitungan persentil untuk menentukan ukuran perancangan desain alat bantu


bongkar pupuk.
Persentil yang digunakan adalah 5th, 50th , dan 95th
3. Penentuan spesifikasi rancangan dari segi dimensi dan komponen rancangan serta
dilakukan perhitungan mekanika teknik.
(penjelasan di slide selanjutnya)

4. Perancangan Alat Bantu Bongkar Pupuk


(penentuan spesifikasi perancangan)
1.

Perhitungan dimensi dilakukan untuk menentukan ukuran rancangan yang akan dibuat.
Perhitungan dimensi yang dilakukan meliputi:
a. Ukuran Lebar Pegangan
Data anthropometri yang dibutuhkan untuk menentukan lebar pegangan adalah
lebar bahu (lb) dengan persentil ke-95 agar pekerja dengan lebar bahu
yang lebih besar dapat memegang pegangan dengan leluasa dan nyaman.
b. Diameter Pegangan
Data anthropometri yang dibutuhkan untuk menentukan diameter
pegangan adalah diameter lingkar genggam (dlg) dengan persentil ke-5 agar
pekerja yang memiliki diameter genggam lebih kecil dapat memegang pegangan
dengan nyaman dan pekerja yang memiliki diameter genggam lebih besar
dapat memegang pegangan dengan mudah.

4. Perancangan Alat Bantu Bongkar Pupuk


(penentuan spesifikasi perancangan)
c. Ukuran Ketinggian Pegangan
Data anthropometri yang digunakan adalah tinggi siku berdiri (tsb) dengan
persentil ke-5 agar pekerja yang memiliki tinggi siku berdiri yang lebih
pendek dapat menggunakan alat bantu bongkar pupuk ini dengan nyaman.
d. Panjang Genggaman Pegangan
Data anthropometri yang dibutuhkan adalah lebar jari ke-2,3,4,5 (lj) dengan
persentil ke -95 agar pekerja yang memiliki lebar telapak tangan lebih besar
dapat menggenggam pegangan dengan nyaman.
e. Perhitungan Sudut Kemiringan Pegangan Lift Table

Kontrol kemiringan pegangan tuas pengungkit (lever handle) untuk jenis dua
tangan adalah sebesar 100-190 dari titik acuan.

4. Perancangan Alat Bantu Bongkar Pupuk


(penentuan spesifikasi perancangan)
f. Panjang Papan Landasan
Data yang digunakan adalah disesuaikan dengan dimensi lebar

karung pupuk.

g. Lebar Papan Landasan


Data yang digunakan adalah disesuaikan dengan dimensi lebar k

arung pupuk.

h. Ketinggian Maksimum Papan Landasan


Data yang digunakan adalah disesuaikan dengan dimensi ketinggian bak truk yang
menjadi armada utama proses distribusi pupuk yaitu 103cm

2. Penentuan Komponen
Pada tahap ini akan dilakukan suatu penetapan bahan yang digunakan.

3. Pembuatan Rancangan
Pembuatan rancangan dilakukan melalui pembuatan gambar secara 2D dan 3D.

4. Perancangan Alat Bantu Bongkar Pupuk


(PERHITUNGAN MEKANIKA TEKNIK)
Tahap ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan hasil rancangan
alat bantu terhadap beban maksimal yang diterima
Hal-hal yang diperhitungkan adalah :
1.

Gaya pada rangka

2.

Momen di titik kritis

3.

Kekuatan Komponen

5. Validasi Rancangan Alat Bantu Bongkar Pupuk


untuk mengetahui ada atau tidaknya perubahan terhadap postur kerja dan beban kerja fisik pekerja setelah
menggunakan alat bantu hasil rancangan

Berikut ini adalah langkah-langkah validisasinya :


a. Penilaian Level Resiko Postur Kerja Setelah Perancangan

memiliki tahapan yang sama dengan penilaian level resiko postur kerja kondisi
awal.

semakin kecil nilai RULA yang didapat, semakin layak alat tersebut
untuk digunakan.
b. Penilaian Beban Kerja Fisik Setelah Perancangan
Penilaian beban kerja fisik setelah menggunakan alat hasil rancangan
dilakukan melalui perhitungan konsumsi energi secara tidak langsung.

6. Analisis dan Interpretasi Hasil


Analisa dan interpretasi hasil dilakukan untuk menganalisis kondisi awal,
rancangan alat bantu bongkar pupuk, mekanika teknik, dan kondisi
setelah perancangan.

7. Kesimpulan dan Saran


Pada tahap ini akan dibahas kesimpulan dari hasil pengolahan
data dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian dan
sekaligus memberikan saran perbaikan.

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA


berisi tentang keseluruhan tahapan pengumpulan dan pengolahan
data yang dilakukan dalam penelitian. Penelitian ini terdiri dari
serangkaian aktivitas merumuskan, mengumpulkan, mengolah,
menganalisis, dan menarik suatu kesimpulan.

Identifikasi Awal
Identifikasi awal dilakukan selama bulan Desember 2010 - Januari 2011
dengan tujuan untuk mengetahui informasi awal di tempat penelitian.
Metode untuk mendapatkan data awal dilakukan dengan pengamatan
langsung proses bongkar pupuk, wawancara, dan pendokumentasian
gambar postur kerja.

Data Kualitatif
Data kualitatif mengenai rincian kegiatan bongkar pupuk dan keluhan yang
dialami pekerja saat melakukan aktivitas bongkar pupuk dilakukan melalui teknik
wawancara secara langsung terhadap tiga orang pekerja.
Adapun rincian kegiatan bongkar pupuk di UD. Karya Tani dapat dilihat pada
Tabel dibawah.
Tabel Atribut Kegiatan Manual Material Handling

No

Atribut Manual Material Handling

Cara bongkar pupuk

2
3

Jumlah pekerja pada bidang bongkar pupuk


Beban angkut pupuk
Waktu yang dibutuhkan untuk satu kali
aktivitas pemindahan pupuk

Rata-rata frekuensi pengangkutan beban


dalam sehari yang dilakukan oleh satu
pekerja (khusus kegiatan bongkar)
Total beban pengangkutan pupuk dalam
satu hari yang dilakukan satu pekerja

Jarak antara gudang pupuk dengan armada

Kondisi Awal
Manual tanpa
fasilitas kerja
3
50

Satuan
orang
kg

30

detik

80

kali

ton

meter

Rekapitulasi hasil wawancara mengenai keluhan ketidaknyamanan dan kesulitan


pada aktivitas bongkar pupuk tersebut dapat dilihat pada Tabel berikut ini.

Tabel Rekapitulasi Keluhan Pekerja pada Aktivitas Bongkar Pupuk

No

Jumlah
(orang)

Keluhan Pekerja

Keluhan rasa pegal pada bagian bahu dan


Tabel 4.2 Rekapitulasi Keluhan Pekerja pada Aktivitas Bongkar Pupuk
lengan serta nyeri pada bagian punggung,
3
pergelangan
tangan,
dan leher
setelah
mengangkut pupuk.

Kesulitan
saat
menarik
ditempatkan ke punggung

Kelelahan dan keluhan nafas terengah-engah


saat mengangkut pupuk dari truk menuju
gudang.

Kesulitan saat akan meletakkan pupuk di gudang.

pupuk

untuk

Tabel dibawah menunjukkan hasil rekapitulasi data keinginan pekerja untuk perancangan
alat bantu bongkar pupuk, dimana diperoleh hasil tingkat keinginan terbesar adalah
keinginan pekerja untuk memperbaiki posisi kerja saat melakukan pengangkutan pupuk
dan kemudahan pengoperasian alat bantu bongkar pupuk.

Tabel Rekapitulasi Keinginan Pekerja

No

Keinginan Pekerja
Pekerja menginginkan alat bantu yang memungkinkan
proses pengangkutan pupuk dengan posisi yang
nyaman
dan
meminimalkan
kelelahan
akibat
penggunaan tenaga yang berlebihan saat mengangkut
pupuk.

Jumlah (orang)

Pekerja menginginkan alat bantu yang memudahkan


menempatkan pupuk untuk diangkut.

Kemudahan dalam mengoperasikan alat bantu.

Pekerja menginginkan alat bantu yang memudahkan


proses peletakkan pupuk di gudang.

Pengamatan Terhadap Aktivitas


yang Dilakukan Pekerja

Pengamatan Terhadap Aktivitas yang


Dilakukan Pekerja
1.

Pekerja menempelkan punggungnya kepada beban yang akan diangkut

2.

Pekerja memindahkan tumpuan beban dari bak truk ke punggungnya.

3.

Pekerja mengangkat beban dari truk menuju gudang

4.

Pekerja melepaskan beban dari punggung dengan menjatuhkan beban ke lantai

Pengamplikasian Metode RULA


Penilaian level resiko postur kerja diawali dengan menerjemahkan postur kerja dari hasil
pengambilan gambar sesuai dengan penilaian postur kerja metode RULA. Ada 2 kode postur
kerja metode RULA yaitu meliputi postur kerja grup A dan grup B.
Grup A terdiri dari : 1. Upper arm (lengan atas),
2. Lower arm (lengan bawah),
3. Wrist (pergelangan tangan), dan
4. Wrist Twist (putaran pergelangan tangan).
Grup B terdiri dari : 1. Neck (leher),
2. Trunk (punggung), dan
3. Legs (kaki).
SETELAH DIDAPATKAN HASIL PENGKODEAN DARI TIAP-TIAP FASE
GERAKAN, MAKA DILANJUTKAN DENGAN PENILAIAN POSTUR KERJA

Fase gerakan 1
Hasil kode RULA dari sikap kerja pada gambar adalah sebagai
berikut
a. Postur kerja grup A

- Postur kerja bagian upper arm


Upper arm membentuk sudut > 90 dan bahu naik dengan skor 4+1= 5
- Postur kerja bagian lower arm

Lower arm membentuk sudut 60 100 dengan skor =1


- Postur kerja bagian wrist
Wrist membentuk sudut > 15 dengann skor = 3
- Postur kerja bagian wrist twist
Wrist twist berada di garis tengan dengan skor = 1

* Penilaian postur kerja grup A dapat dilihat pada tabel 4.6 di slide selanjutnya

Skor postur kerja drup A berdasarkan tabel 4.6 dalah = 5


- Skor aktivitas
Aktivitas dilakukan berulang-ulang dengan skor = 1
- Skor beban
Beban > 10 kg dengan skor = 3
- Total score grup A adalah 5 + 3 + 1 = 9

Fase gerakan 1
Hasil kode RULA dari sikap kerja pada gambar adalah sebagai
berikut :
b.

Postur kerja grup B

- Postur kerja bagian neck


Neck membentuk sudut 10 20 dengan skor = 2
- Postur kerja bagian trunk
Trunk membentuk sudut 0 20 dengan skor = 2
- Postur kerja bagian legs
Legs berada posisi normal atau seimbang dengan skor = 1

* Penilaian postur kerja grup B dapat dilihat pada tabel 4.7 di slide
selanjutmya

Skor postur kerja pada grup B berdasarkan tabel 4.7 adalah = 2


- Skor aktivitas
Aktivitas dilakukan berulang-ulang dengan skor = 1
- Skor beban
Beban > 10 kg dengan skor = 3
- Total skor grup B adalah 2 + 1 + 3 = 6

Skor grup c atau skor akhir fase gerakan 1 pada aktivitas bongkar pupukn adalah sebesar
7. berdasarkan skor tersebut maka level resiko aktivitas bongkar pupuk pada fase
gerakan 1 ini berada pada level resiko tinggi dan diperlukan tindakan perbaikan postur
kerja sekarang juga.

Fase gerakan 2
Hasil kode RULA dari sikap kerja pada gambar adalah sebagai berikut :
a.

Postur kerja grup A

- - Postur kerja bagian upper arm


Upper arm membentuk sudut 45 - 90 dengan skor = 3
- Postur kerja bagian lower arm
Lower arm membentuk sudut >100 dengan skor = 2

- Postur kerja bagian wrist


Wrist membentuk sudut > 15 dan pergelangan tangan menjauhi sisi tengah
dengann skor 3 + 1 = 4
- Postur kerja bagian wrist twist

Wrist twist berada dekat dari putaran dengan skor = 2

* Penilaian postur kerja grup A dapat dilihat pada tabel 4.9 di slide selanjutnya

Skor postur kerja grup A berdasarkan tabel 4.9 adalah = 5


- Skor aktivitas
Aktivitas dilakukan berulang-ulang dengan skor = 1
- Skor beban
Beban > 10 kg dengan skor = 3
- Total score grup A adalah 5 + 3 + 1 = 9

Fase gerakan 2
Hasil kode RULA dari sikap kerja pada gambar adalah sebagai berikut :
b.

Postur kerja grup B

- Postur kerja bagian neck

Neck membentuk sudut >20 dengan skor = 3


- Postur kerja bagian trunk
Trunk membentuk sudut 0 20 dengan skor = 2
- Postur kerja bagian legs
Legs berada posisi normal atau seimbang dengan skor = 1

* Penilaian postur kerja grup B dapat dilihat pada tabel 4.10 di slide selanjutmya

Skor postur kerja pada grup B berdasarkan tabel 4.10 adalah = 3


- Skor aktivitas
Aktivitas dilakukan berulang-ulang dengan skor = 1

- Skor beban
Beban > 10 kg dengan skor = 3
- Total skor grup B adalah 3 + 1 + 3 = 7

Skor grup c atau skor akhir fase gerakan 2 pada aktivitas bongkar pupuk adalah sebesar 7.
berdasarkan skor tersebut maka level resiko aktivitas bongkar pupuk pada fase gerakan 2 ini
berada pada level resiko tinggi dan diperlukan tindakan perbaikan postur kerja sekarang juga.

Fase gerakan 3
Hasil kode RULA dari sikap kerja pada gambar adalah sebagai berikut

a. Postur kerja grup A


- Postur kerja bagian upper arm
Upper arm membentuk sudut > 90 dan bahu naik dengan skor 4+1= 5
- Postur kerja bagian lower arm
Lower arm membentuk sudut > 100 dengan skor = 2
- Postur kerja bagian wrist
Wrist pada posisi netral dengann skor = 1

- Postur kerja bagian wrist twist


Wrist twist berada di garis tengah dengan skor = 1

* Penilaian postur kerja grup A dapat dilihat pada tabel 4.12 di slide selanjutnya

Skor postur kerja drup A berdasarkan tabel 4.12 dalah = 5


- Skor aktivitas
Aktivitas dilakukan berulang-ulang dengan skor = 1
- Skor beban
Beban > 10 kg dengan skor = 3
- Total score grup A adalah 5 + 3 + 1 = 9

Fase gerakan 3

Hasil kode RULA dari sikap kerja pada gambar adalah sebagai berikut :
b.
Postur kerja grup B
- Postur kerja bagian neck
Neck membentuk sudut > 20 dengan skor = 3
- Postur kerja bagian trunk
Trunk membentuk sudut 20 60 dengan skor = 3
- Postur kerja bagian legs
Legs berada posisi normal atau seimbang dengan skor = 1

* Penilaian postur kerja grup B dapat dilihat pada tabel 4.13 di slide selanjutmya

Skor postur kerja pada grup B berdasarkan tabel 4.13 adalah = 4


- Skor aktivitas
Aktivitas dilakukan berulang-ulang dengan skor = 1

- Skor beban
Beban > 10 kg dengan skor = 3
- Total skor grup B adalah 4 + 1 + 3 = 8

Skor grup c atau skor akhir fase gerakan 3 pada aktivitas bongkar pupuk adalah sebesar 7.
berdasarkan skor tersebut maka level resiko aktivitas bongkar pupuk pada fase gerakan 3 ini
berada pada level resiko tinggi dan diperlukan tindakan perbaikan postur kerja sekarang juga.

Fase gerakan 4
Hasil kode RULA dari sikap kerja pada gambar adalah sebagai
berikut
a. Postur kerja grup A
- Postur kerja bagian upper arm
Upper arm membentuk sudut > 90 dan bahu naik dengan skor 4+1= 5
- Postur kerja bagian lower arm
Lower arm membentuk sudut > 100 dan bekerja melewati garis tengah
tubuh dengan skor 2 + 1 = 3
- Postur kerja bagian wrist
Wrist membentuk sudut > 15 dengann skor = 3
- Postur kerja bagian wrist twist
Wrist twist berada di garis tengan dengan skor = 1
* Penilaian postur kerja grup A dapat dilihat pada tabel 4.15 di slide
selanjutnya

Skor postur kerja grup A berdasarkan tabel 4.15 adalah = 7


- Skor aktivitas
Aktivitas dilakukan berulang-ulang dengan skor = 1
- Skor beban
Beban > 10 kg dengan skor = 3
- Total score grup A adalah 7 + 3 + 1 = 11

Fase gerakan 4
Hasil kode RULA dari sikap kerja pada gambar adalah sebagai
berikut :
b.
Postur kerja grup B
- Postur kerja bagian neck
Neck membentuk sudut >20 dengan skor = 3
- Postur kerja bagian trunk
Trunk membentuk sudut 20 60 dan batang tubuh bengkok
dengan skor 3 + 1 = 4
- Postur kerja bagian legs
Legs berada posisi normal atau seimbang dengan skor = 1

* Penilaian postur kerja grup B dapat dilihat pada tabel 4.16 di slide
selanjutmya

Skor postur kerja pada grup B berdasarkan tabel 4.16 adalah = 5


- Skor aktivitas
Aktivitas dilakukan berulang-ulang dengan skor = 1
- Skor beban
Beban > 10 kg dengan skor = 3
- Total skor grup B adalah 5 + 1 + 3 = 9

Skor grup c atau skor akhir fase gerakan 4 pada aktivitas bongkar pupuk adalah sebesar 7.
berdasarkan skor tersebut maka level resiko aktivitas bongkar pupuk pada fase gerakan 4 ini berada
pada level resiko tinggi dan diperlukan tindakan perbaikan postur kerja sekarang juga.

Rekapitulasi Hasil Perhitungan


Rekapitulasi hasil perhitungan postur kerja tiap-tiap fase gerakan aktivitas
bongkar pupuk dengan menggunakan RULA dapat dilihat pada tabel 4.18
berikut ini.

Penyusunan Konsep Perancangan


1.

Penjabaran Kebutuhan Perancangan


keluhan pekerja:
No.

Keluhan Pekerja

2
3

penyebab

Keluahan rasa pegal pada bagian bahu


Posisi tangan tertarik ke belakang memegang
dan lengan serta nyeri pada bagian
pupuk dan punggung membungkuk untuk
punggung, pergelangan tangan, dan menopang pupuk sambil berjalan dari truk menuju
leher setelah mengangkut pupuk
gudang
Kesulitan saat menarik pupuk untuk
ditempatkan ke punggung

Kedua tangan tertarik ke belakang dengan bahu


naik untuk meraih pupuk di belakang tubuh

Kelela dan keluhan nafas terengahpupuk yang diangkut cukup berat sehingga posisi
engah saat mengangkut pupuk dari truk
tubuh dalam kondisi tidak stabil
menuju gudang
Posisi punggung menbungkuk sambil
Kesulitan saat akan meletakan pupuk di menyamping dan lengan bawah bekerja melewati
garis tengah tubuh untuk melepaskan pupuk yang
gudang
di topang

Penyusunan Konsep Perancangan


Keluhan pekerja menjadi kebutuhan perancangan yang harus dipenuhi
No.

Keinginan Pekerjan
Penjabaran Kebutuhan
Pekerja mengininkan alat bantu
Alat bantu yang memungkinkan proses
yang memungkinkan proses
pengangkutan pupuk tanpa membungkuk
pengangkutan pupuk dengan
dan tangan tertarik ke belakang
posisi yang nyaman dan
alat bantu dibuat dengan mekanisme
meminimalkan kelelahan atau
sederhana namun dapat memperingan
penggunaan tenaga yang
dalam mengangkut pupuk
berlebihan saat mengangkut pupuk
Pekerja menginginkan alat bantu Adanya landasan untuk menopang pupuk
yang memudahkan menempatkan
Ketinggian landasan sesuai dengan
pupuk untuk diangkut
ketinggian bak truk

Kemudahan dalam
mengoperasikan alat bantu

Alat bantu dapart dioperasikan hanya


dengan satu orang pekerja tanpa
mengurangi aktifitas pengangkutan pupuk
Mobilitas alat cukup
Alat stabil bisa di jalankan

Tujuan Perancangan

Spesifikasi Lift Table


No.
1

2
3
4
5
6

Kriteria

Spesifikasi
Lebar bahu
Tinggi siku berdiri
Sesuai ukuran antropometri pekerja
Lebar jari ke-2,3,4,5
diameter lingkar genggaman
memberi kenyamanan saat
bagian pegangan dilengkapi dengan
mendorong lift table
karet
Posisi ketinggian landasan pupuk
Memposisikan pupuk untuk diangkut
dapat disesuaikan dengan tinggi bak
secara mudah
truk
Operasional akses mobilitas yang
Pemilihan roda secara dinamis pada
mudah
bagian depan
Kuat menopang pupuk atau beban
Penggunaan material yang kuat
100 kg
dalam perancangan
Pemberian roda depan dan belakang
Mempercepat mobilitas
masing-masing dua buah pada lift
pengangkutan pupuk
table

No.
1
2
3
4
5

6
7
8

Bagaian
Lebar pegangan lift table
Dimensi diameter lift table
ketinggian pegangan lift table
Panjang genggaman lift table
Sudut kemiringan pegangan
pegangan lift table
Panjang papan landasan
Lebar papan landasan
Ketinggian maksimum papan
landasan

Ukuran (cm)
55
4
96
9
15

105
68
103

Perbandingan hasil RULA

Tabel 4.29

Level Resiko Tiap Fase Gerakan Bongkar Pupuk Setelah Perancangan

Fase

Skor akhir

Level
Resiko

Kategori Tindakan

Gerakan 1

Kecil

Diperlukan beberapa waktu ke depan

Gerakan 2

Kecil

Diperlukan beberapa waktu ke depan

Gerakan 3

Kecil

Diperlukan beberapa waktu ke depan

Gerakan 4

Kecil

Diperlukan beberapa waktu ke depan

Kesimpulan
1.Penelitian ini menghasilkan lift table sebagai alat bantu aktivitas
bongkar pupuk
2.Lift table hasil rancangan mampu menurunkan level resiko postur
kerja pada aktifitas bongkar pupuk. Hasil skor RULA sebelum
perancangan sebesar 7, skor setelah perancangan RULA sebesar 3
3.Lift table hasil rancangan ditinjau dari aspek fisiologi pekerja
mampu menurunkan beban kerja fisik pekerja