Anda di halaman 1dari 5

Jawaban Pemicu Perpindahan Kalor

4. Sebuah bola kuarsa - lebur mempunyai difusivitas termal 9,5 x 10 -7 m2/s, diameter 2,5 cm dan
konduktivitas termal 1,52 W/moC. Bola tersebut mula-mula berada pada suhu seragam 25oC dan
secara tiba-tiba diberi lingkungan konveksi dengan suhu 200 oC. Jika koefisien perpindahan kalor
konveksi sebesar 110 W/moC, hitunglah suhu pada pusat bola setalah 4 menit. Dapatkah system
di atas dianggap sebagai kapasitas kalor tergabung? Metode penyelesaian mana yang paling tepat
untuk soal diatas?
Diketahui :

Asumsi :
-

D = 2,5 cm = 0,025 m

h = 110 W/moC

= 9,5 x 10-7 m2/s

Ti = 25oC

r 0 = 0,0125 m

k = 1,52 W/moC

T = 200oC

= 240 sekon

prosesnya dalam keadaan unsteady

Ditanya : suhu pada pusat bola setelah 4 menit atau 240 sekon (T(0,0125 m,240 s))

Jawab:
Untuk melakukan perhitungan perpindahan kalor konduksi dalam keadaan unsteady state kita
bisa melakukan dengan 3 metode yaitu metode kapasitas kalor tergabung , metode aliran kalor
transien dan metode batas kondisi konveksi. Untuk mengetahui apakah sistem tersebut
menggunakan kapasitas kalor tergabung kita terlebih dahulu menentukan bilangan Biotnya
apabila Bi < 0,1 maka bisa kita selesaikan dengan metode kapasitas kalor tergabung, dimana
bilangan Biot (Bi) bisa dicari menggunakan rumus :
Bi =

h. s
k

Dengan h adalah koefisien perpindahan kalor konveksi, k adalah konduktivitas termal dan s
merupakan jarak perpindahan suhunya atau panjang lintasan suhunya. s bisa dicari dengan
membandingkan volume bendanya dengan luasnya karena benda tersebut berbentuk bola maka
4 3
r
V 3
r 0,0125 m
s= =
= =
2
A 4r 3
3

= 0,0041667 m

Setelah mendapatkan nilai s nya maka kita bisa mencari Bi nya dengan menggunakan rumus

Bi =

110

h. s
k

W
.0,00416 6 7 m
o
m C
W
1,52 o
mC

= 0,3 m

Karena 0,3 > 0,1 maka persoalan ini tidak bisa menggunakan metode kapasitas kalor tergabung.
Oleh karena itu, kita perlu mencoba untuk menggunakan metode lain yaitu dengan menggunakan
metode aliran kalor transien pada benda semi-infinit dengan teknik transform-Laplace.
Penyelesaiannya diberikan sebagai

Dimana T (x,

) adalah suhu yang pada x dan

mencari nilai dari

x
2

tertentu. Oleh karena itu kita perlu

dengan x merupakan jari jari dari bola yaitu sebesar 0,0125 m,

difusitasnya bernilai sebesar = 9,5 x 10-7 m2/s, dan waktu yang diperlukan sebesar

= 240

sekon. Sehingga nilai X adalah


x
2

0,0125m

2 9,5 x

107 m2
. 240 s
s

= 0,41392

Dengan menggunakan eror function table dalam buku Heat Transfer. J.P. Holman edisi 10 kita
x
bisa mencari nilai erf 2

Untuk mencari nilai x sebesar 0,41392 kita bisa melakukan interpolasi agar mendapatkan data
yang akurat yaitu

y y 1 x x1
=
y 2 y 1 x 2x 1
Dimana y = 0,41392, y1 = 0,40 ; y2 = 0,42 ; x1 = 0,42839; x2 = 0,44749 maka x didapatkan
0,413920,40
x 0,42839
=
0, 4 20,40
0,447490,42839
x 0,42839= 0,013294
x = 0,441684
sehingga didapatkan erf

x
2

0,441684. Setelah mendapatkan nilai erf

x
2

kita

bisa menggunakan kembali persamaan

T ( x , ) T 0
T iT 0
T ( x , ) 200o C
25o C200o C

= 0,441684

= 0,441684

T ( x , )200o C = -77,295 oC
T ( x , ) = 122,705oC
Jadi suhu pada pusat bola setelah 4 menit menjadi 122,705oC
Kita juga bisa menggunakan bagan Haisler untuk mencari suhu di tengah bola tersebut dengan
menggunakan grafik pada Fig.4-9 pada buku Heat Transfer. J.P. Holman edisi 10. Akan tetapi
kita harus memenuhi syarat agar bisa menggunakan bagan Haisler yaitu Fo > 0,2

Fo =

=
2
r0

107 m 2
.240 s
s
2 2
0,0125 m

9,5 x

= 1,4592

Karena 1,4592 > 0,2 maka kita bisa menggunakan bagan Haisler, akan tetapi kita memerlukan
k
1
nilai dari hr 0 = Bi , didapatkan Bi = 0,3 dari perhitungan yang telah kita lakukan maka

1
Bi

1
=3,33333
0,3

Lalu kita melihat grafik tersebut dan menarik garis dari titik titik Fo dan 1/Bi kearah

Kira kira didapatkan nilai dari


Sehingga didapatkan nilai
T0 = 0,3( T i T + T
= 0,3( 25 200) + 200
= 147,5 oC

T 0T
T iT

= 0,3

T 0T
T iT

Disini terlihat sekali perbedaan dari hasil kedua metode tersebut. Oleh karena itu, menurut kami
untuk mempermudah perhitungan kita bisa menggunakan metode batas kondisi konveksi dengan
grafik.

Daftar Pustaka
Holman, J.P., Heat Transfer, sixth edition, McGraw Hill, Ltd., New York, 1986.

Cengel, Y. 2006. Heat Transfer 2nd Edition. USA: Mc Graw-Hill


Jewett, Serway. 2003.Fisika Untuk Sains dan Teknik .Salemba Teknika:Jakarta
Kern, DQ, Process Heat Transfer, Mc.Graw-Hill, New York, 1965
Kreith,Frank,1997,Prinsip-prinsip Perpindahan Panas,Ed,3,Jakarta ; PT,Gelora Aksara
Pratama