Anda di halaman 1dari 11

CARA PERHITUNGAN BEBAN KERJA

1.
Latihan menghitung beban kerja
Setiap hari Puskesmas Antah Berantah melayani 60 orang pasien. Dari 60 orang pasien tsb 60% diperiksa dan diberi
rujukan dan resep. Setiap pasien membutuhkan waktu 10 menit untuk dilayani. Sedangkan 40% dari total pasien harus
diperiksa di laboratorium dan setiap pemeriksaan membutuhkan waktu 15 menit/pasien.
Pertanyaan:
Hitung beban kerja dari Puskesmas tersebut sebagai dasar untuk menentukan jumlah perawat dan laboran yang dibutuhkan?
Jawab:
Pasien rujukan dan resep (60% x 60) = 36 pasien
Jam kerja/hari = 6 jam x 60 menit = 360 menit
Rujukan dan resep dibutuhkan waktu 10 menit = 360/10 = 36 pasien.
Kesimpulan:
Dengan demikian beban kerja untuk pemeriksaan, pemberian rujukan dan resep pasien perhari adalah 36 pasien/hari.
Laboratorium 40% x 60 = 24 pasien
Waktu yang dibutuhkan 15 menit
360 menit/15 menit= 24 pasien.
Kesimpulan:
Dengan demikian beban kerja untuk pemeriksaan laboratorium adalah 24 pasien/hari
2.
Latihan kaitan antara prioritas masalah dan beban kerja
Puskesmas Antah Berantah mempunyai beberapa masalah yang perlu mendapatkan pemecahan masalah sbb:
a.
Angka kejadian penyakit diare tinggi
b. Angka penyakit kusta, TBC, malaria dan DHF tinggi
c.
Angka Gizi buruk tinggi
Setelah dilakukan perumusan masalah, maka yang dianggap mampu untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan
tersebut adalah kualifikasi tenaga dokter.
Analisis beban kerja sebagai contoh kemudian dirumuskan untuk mengukur kegiatan dokter di Puskesmas Antah Berantah
dalam upaya mengatasi permasalahan yang muncul diwilayah kerja Puskesmas tsb sbb:
a.
Beban kerja tugas Poliklinik:
Terdapat 17.901 kunjungan X 4 menit pemeriksaan = 71.604 menit/tahun 71.604 menit/tahun = 1193.4 jam/tahun = 99,45
jam/bulan
b.
Beban kerja tugas tambahan:
o Pertemuan lintas sektoral:
1 x perbulan X 3 jam = 3 jam
o Rapat koordinasi
1 x perbulan x 5 jam = 5 jam
o Rapat program
1 x perbulan x 3 jam = 3 jam
Total = 11 Jam/bulan
c.
Beban kerja tugas Penyuluhan :
84 x 3 jam = 252 jam/tahun
252/jam/tahun
12
=
21 jam/bulan

4.
Beban kerja tugas Pembinaan UKS:
Jumlah sekolah
= 26 SD
Kunjungan dokter = 98 x/tahun
Dalam satu tahun untuk 1 SD jumlah kunjungan adalah :
98/ 26 SD x 4 x/SD/tahun

waktu kunjungan untuk 1 SD adalah 2 jam.


Sehingga, jumlah kunjungan dokter ke 26 SD adalah = 26 X 4 kunjungan X 2 jam = 208 jam/ tahun
208 jam/tahun
12 bulan
=
17 jam/bulan
Total beban kerja dokter puskesmas Antah Berantah adalah :
Poliklinik
=
99,45 jam/bulan
Manajerial tambahan
=
11
jam/bulan
Pembinaan UKS&Penyuluhan
=
38
jam/bulan
Total
148,45 jam/bulan
Dengan asumsi beban kerja normal seorang dokter adalah 75 jam/bulan, sehingga jumlah dokter yang dibutuhkan adalah
148,45/75 =2 tenaga dokter.
Puskesmas Antah Berantah memiliki 2 orang tenaga dokter ternyata sudah cukup dari segi kuantitas dan tidak perlu
penambahan lagi sehingga alternatif pemecahan masalah tsb diatas adalah bukan dengan jalan penambahan tenaga dokter,
akan tetapi diharapkan:
o Kualitas tenaga dokter perlu ditingkatkan.
o Cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat bisa diperbaiki
o Adanya penurunan prevalensi dan insidensi kejadian penyakit di masyarakat melalui peningkatan program baik lintas
program dan lintas sektoral.
Statistika pelayanan kesehatan
17 12 2008
Statistika pelayanan kesehatan ialah semua catatan yang disusun secara sistematis dan terus-menerus tentang hal-hal yang
berhubungan dengan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Yang termasuk dalam statistik pelayanan kesehatan antara lain:
A. Rasio Penduduk terhadap Sarana Pelayanan Kesehatan
Rasio ini menggambarkan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan. Sarana pelayanan kesehatan ialah Rumah Sakit,
Puskesmas, Puskesmas pembantu, Puskesmas Keliling, Pos KIA, balai Pengobatan dan lain-lain. Rasio ini berupa
perbandingan antara jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu dengan jumlah sarana pelayanan kesehatan yang terdapat di
wilayah tersebut.
Rumus:
Jumlah penduduk suatu wilayah tertentu
_______________________________________________________
Jumlah sarana pelayanan kesehatan yang terdapat diwilayah tersebut
Dari rasio ini dapat diketahui banyaknya penduduk yang harus dilayani oleh sebuah sarana pelayanan kesehatan. Angka ini
dapat digunakan sebagai indikator untuk menilai kecukupan penyediaan sarana pelayanan kesehatan. Indikator tersebut harus
disertai dengan kriteria standar dan target yag diinginkan. Kriteria standar untuk kecukupan tidak sama pada setiap wilayah,
tergantung dari kebutuhan masyarakat dan jenis pelayanan. Karena itu sebaiknya kriteria standat ditentukan oleh masingmasing daerah.
Perhitungan rasio ini pada berbagai wilayah akan menghasilkan distribusi sarana kesehatan yang dapat digunakan sebagai
pegangan untuk menyusun rancana pemerataan saran pelayanan kesehatan.
Gambaran sarana kesehatan di Sumbar pada tahun 2006
1. Puskesmas
Pada tahun 2005 jumlah puskesmas di Sumatera Barat sebanyak 216 buah dan meningkat menjadi 230 buah pada tahun 2006,
dengan jumlah puskesmas perawatan sebanyak 65 buah (28,26%). Secara konseptual puskesmas menganut konsep wilayah

dan diharapkan dapat melayani sasaran penduduk rata-rata 30.000 penduduk. Dengan jumlah puskesmas tersebut berarti 1
puskesmas di Sumatera Barat rata-rata melayani sebanyak 34.927 jiwa, puskesmas pembantu pada tahun 2006 berjumlah 819
buah.
Rasio puskesmas pembantu terhadap puskesmas pada tahun 2006 rata-rata 3,7 : 1 artinya setiap puskesmas didukung oleh 3
sampai 4 puskesmas pembantu dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Selain itu dalam menjalankan
tugas operasionalnya didukung oleh puskesmas keliling sebanyak 216 buah.
2. Rumah Sakit
Di provinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 terdapat sebanyak 47 rumah sakit dengan rincian rumah sakit pemerintah
sebanyak 20 rumah sakit dengan rasio 1: 917.199, rumah sakit swasta 13 rumah sakit dengan rasio 1: 596.179 dan rumah
sakit khusus 14 dengan rasio 1: 642.039.
3. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi & Alat Kesehatan
Salah satu indicator penting untuk menggambarkan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan adalah jumlah sarana produksi
dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan. Data yang berhasil dikumpulkan tahun 2006 adalah jumlah apotik di
provinsi Sumatera Barat sebayak 49 apotik, industri obat tradisional 6 dan industri kecil obat tradisional 72, gudang farmasi
kabupaten/kota sebanyak 9 serta took obat 276.
4. Sarana Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan
memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM)
diantaranya adalah posyandu dan polindes.
Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, KB, perbaikan gizi, imunisasi dan
penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangan posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata, yaitu posyandu pratama,
madya, purnama dan posyandu mandiri. Jumlah posyandu di Sumatera Barat menurut profil kesehatan tahun 2006, bahwa
jumlah posyandu yang ada sebanyak 6.680 posyandu, dengan rincian posyandu pratama 1.326 (19,850%), posyandu madya
2.807 (42,02%), poyandu purnama 2.109 (31,57%), dan posyandu mandiri 438 (6,56%).
B. Rasio antara Jumlah Penduduk dengan Jumlah Tenaga Kesehatan
Rasio ini dapat berupa perbandingan antara jumlah penduduk suatu wilayah dengan jumlah petugas kesehatan tertentu atau
sebaliknya.
Rumus:
Jumlah penduduk suatu wilayah tertentu
________________________________________
Jumlah petugas kesehatan tertentu
Atau
Jumlah petugas kesehatan tertentu
________________________________ x 10.000
Jumlah penduduk suatu wilayah tertentu
Rasio ini dihitung untuk setiap jenis petugas kesehatan, misalnya rasio antara jumlah penduduk dan dokter, antara jumlah
penduduk dan dokter gigi, antara jumlah penduduk dan bidan, antara penduduk dan perawat, antara penduduk dan kader
kesehatan dan lain-lain.

Besarnya rasio ini selain dipengaruhi oleh jumlah penduduk, dipengaruhi pula oleh jenis pelayanan kesehatan. Misalnya,
besarnya rasio antara jumlah penduduk dan dokter akan berbeda dengan rasio antara penduduk dan bidan, karena sebagai
penyebut untuk rasio penduduk dan penduduk meliputi seluruh penduduk , sedangkan penyebut untuk rasio penduduk dan
bidan, adalah jumlah penduduk yang mempunyai risiko untuk hamil yaitu wanita usia subur.
Manfaat
Rasio ini dapat digunakan sebagai indikator untuk menyusun rencana dalam penyediaan jumlah dan jenis tenaga kesehatan
yang dibutuhkan, hingga pendidikan, latihan dan penyebaran tenaga kesehatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Dari rasio ini dapat diketahui jumlah penduduk yang harus dilayani oleh seorang tenaga kesehatan tertentu, karena itu rasio
ini dapat digunakan sebagai indikator untuk menilai kecukupan penyediaan tenaga kesehatan untuk suatu jenis pelayanan
kesehatan.
Sumber Data
Untuk jumlah tenaga kesehatan dapat diperoleh dari catatan pegawai dan untuk dukun bayi dapat diperoleh dari catatn di
kantor wilayah. Jumlah penduduk dapat diperoleh dari catatan di kantor wilayah atau dari hasil sensus.
Variasi
Rasio ini bervariasi tergantung dari jenis petugas kesehatan. Misalnya, rasio antara jumlah penduduk dan jumlah dokter
bervariasi antara 1000 : 1 sampai 50.000 : 1, sedangkan variasi antara jumlah penduduk dan dokter gigi antara 100 : 1 sampai
10.000 : 1. Untuk rasio bidan atau dukun bayi dapat diperkirakan dari angka kelahiran. Selain bervariasi antara berbagai jenis
pelayananterdapat pula variasi antara berbagai wilayah. Bila rasio ini akan digunakan untuk mengadakan perbandingan
dengan wilayah lain ketepatan pencatatn jumlah penduduk harus sama agar tidak menimbulkan kesalahan dalam menari
kesimpulan.
Berdasarkan profil kesehatan Sumbar, jumlah dan jenis SDM kesehatan di Provinsi Sumatera Barat terdiri dari, Dokter umum
831 orang, dokter spesialis 185 orang, ass apoteker 120 orang dan gizi 141 orang, dll.
C. Presentase Jumlah Pengunjung dengan Jumlah Penduduk
Proporsi ini merupakan perbandingan antara jumlah pengunjung dalam suatu periode tertentu per 100 penduduk. Presentase
ini juga merupakan presentase penduduk yang menggunakan sarana kesehatan yang tersedia.
Rumus:
Jumlah pengunjung yang dicatat selama periode tertentu
______________________________________ x 100
Jumlah penduduk
Proporsi ini bermacam-macam tergantung dari jenis pelayanan, misalnya pelayanan pemeriksaan ibu hamil, pertolongan
persalinan, pelayanan keluarga berencana, pelayanan balita dan lain-lain. Proporsi ini dapat digunakan sebagai indikator
untuk mengetahui penggunaan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat.
Proporsi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1. Jarak antara rumah penduduk dengan letak sarana pelayanan kesehatan atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai sarana
pelayanan kesehatan. Semakin jauh jarak atau makin banyak waktu yang dibutuhkan penduduk untuk mencapai sarana
pelayanan kesehatan, proporsi ini makin kecil.
2. Kualitas pelayanan
Pelayanan kesehatan yang tersedia harus mempenuyai kualitas yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Kualitas pelayanan
kesehatan yang dapat diterima tergantung dari wilayah, tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan lain-lain.
3. Sosial ekonomi

Yang termasuk dalam sosial ekonomi ialah kemampuan masyarakat untuk membiayai pelayanan kesehatan yang diterima.
4. Jenis pelayanan kesehatan
Jenis pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan meninggikan proporsi ini, sebaliknya pelayanan
kesehatan yang belum dirasakan kebutuhannya akan menurunkan proporsi. Misalnya, bila suatu wilayah dimana masih belum
dirasakan kebutuhan akan pelayanan kesehatan jiwa, tersedianya jenis pelayanan ini kurang mendapat pengunjung.
Sumber data
Dari hasil sensus atau catatan di kantor wilayah, sedangkan jumlah pengunjung diperoleh dari catatan di sarana kesehatan.
Rate kunjungan
Rate ini menyatakan jumlah kujungan yang dicatat selama periode tertentu per 1000 penduduk yang menggunakan sarana
pelayanan kesehatan. Rate ini bermacam-macam sesuai dengan jenis pelayanan, misalnya rate kunjungan untuk balai
pengobatan, pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan bayi dan anak-anak, dll. Bila rate ini dibagi 1000 akan menghasilkan
frekuensi rata-rata kunjungan per orang per periode tertentu, misalnya 1 tahun.
Rumus:
Jumlah kunjungan yang dicatat selama 1 periode
________________________________________________________
Jumlah penduduk yang menggunakan sarana pelayanan kesehatan dalam periode yang sama
Manfaat
Untuk mengetahui gambaran umum tentang penggunan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat. Rate ini dapat juga
digunakan untuk merencanakan jumlah dan jenis obat-obatan yang dibutuhkan. Bial persentasi penduduk yang menggunakan
sarana pelayanan kesehatan cukup tinggi, rate ini dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat morbiditas wilayah
tersebut. Dari rate ini juga dapat diperhitungkan beban kerjja dari tiap petugas kesehatan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi:
1. Jarak atau waktu yang diperlukan penduduk yang membutuhkan untuk mencapai sarana pelayanan kesehatan. Bila
jaraknya terlalu jauh, penduduk akan segan untuk berobat ke sarana tersebut atau melakukan kunjungan ulang. Faktor jarak
atau waktu ini tergantung pula dari jenis pelayanan.
2. Pengertian sakit oleh masyarakat
Pengertian sakit bervariasi antara berbagai wilayah,, antara kota dan desa,dll. Pengertian sakit penduduk pedesaan pada
umumnya adalah keadaan yang dirasakan badan, misalnya panas, pusing sakit perut, diare, muntah, atau nyeri anggota badan,
hingga mengalami gangguan fungsi.
3. Kualitas pelayanan
Kualitas pelayanan termasuk tenaga yangg melayani, obat-obat yang diberikan. Pada umumnya pengertian kualitas oleh
penduduk pedesaan ialah dengan sekali berobat gejala penyakit yang diderita telah hilang atau berkurang.
4. Biaya yang harus dikeluarkan penduduk yang mebutuhkan sarana pelayanan kesehatan. Biaya ini meliputi biaya perjalanan
dari rumah sampai ke rumah lagi dan biaya pengobatan.
5. Waktu

Bila sarana pelayanan kesehatan memberikan pelayanan di waktu penduduk sedang melakukan kegiatan sehari-hari akan
mengurangi jumlah kunjungan. Hal ini disebabkan karena penderita yang sakitnya tidak parah akan tetap melakukan kegiatan
sampai selesai. Demikian pula, bila dibutuhkan pelayanan kesehatan tidak dapat melayani, masyarakat akan menggunakan
sarana lain.
Sumber data
Untuk jumlah kunjungan dan jumlah penduduk yang menggunakan sarana pelayanan kesehatan dapat diperoleh dari catatan
sarana pelayanan kesehatan. Bila sebagai penyebut digunakan jumlah penduduk yang seharusnya menggunakan, maka untuk
memperoleh datanya menjadi sulit karena haerrus disesuaikan dengan pen gertian penduduk tentang sakit dan harus
dilakukan survei atau sensus.
Variasi
Rate ini bervariasi antara berbagai wilayah, antara berbagai jenis pelayanan dan variasi berdasarkan faktor-faktor yang
mempengaruhi kunjungan.
D. Rate Kunjungan dan Frekuensi Kunjungan
Rata-rata frekuensi kunjungan adalah rasio antara jumlah pengunjung atau kunjungan baru ditambah dengan jumlah jumlah
kunjungan atau kunjungan lama dengan jumlah pengunjung dalam satu periode tertentu.
Rumus :
Jumlah kunjungan baru + kunjungan lama yang dicatatselama satu periode tertentu
_________________________________________________
Jumlah kunjungan baru dalam periode yang sama
Atau
B+L
____________
B
B = Kunjungan baru
Yang dimaksud dengan kunjungan baru ialah semua kunjungan untuk pertama kali dalam suatu periode tertentu. Kunjungan
ini dapat berupa kasus baru atau lanjutan dari periode sebelumnya.
L= Kunjungan lama
Yang dimaksud dengan kunjuungan lama ialah semua kunjungan ulang yang dilakukan dalam periode tertentu.
Manfaat
Suatu keuntungan dalam perhitungan rasio ini adalah pembilang dan penyebut dapat diperoleh dari catatan di sarana
kesehatan. Rasio ini dapat digunakan untuk mengetahui frekuensi rata-rata penggunaan sarana pelayanan kesehatan. Bila
semua pendekatan dapat dipenuhi. Frekuensi rata-rata ialah 3-4 kali per tahun per penduduk yang menggunakan.
Variasi
Rasio ini bervariasi tergantung dari jenis pelayanan, jenis penyakit, rate morbiditas dan kualitas pelayanan. Rata-rata
frekuensi kunjungan yang tinggi dapat disebabkan karena banyaknya penderita penyakit kronis atau kualitas pelayanan yang

rendah sehingga seorang penderita harus berkali-kali melakukan kunjungan. Bila kualitas pelayanan telah baik dan tidak
banyak penderita penyakit kronis, maka tingginya rata-rata frekuensi kunjungan dapat menggambarkan tingginya rate
morbiditas dan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang disediakan.
Variasai antara berbagai jenis pelayanan kesehatan dapat disebabkan karena pembilangnya yang berbeda, misalnya,
pembilang untuuk pelayanan pengobatan umum berasal dari seluruh penduduk, sedangkan untuk pelayanan pemeriiksaan ibu
hamil tergantung dari tingginya angka kelahiran.
Gambaran kunjungan neonatus dan kunjungan bayi di sumbar pada tahun 2006 adalah:
1. Kunjungan Neonatus
Gambaran Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 jumlah neonatal 89.204 dengan jumlah neonatal risti yang dirujuk 376
(0,42%).
2. Kunjungan Bayi
Untuk jumlah bayi di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 mencapai 107.526 bayi dengan cakupan kunjungan sebanyak
183.209 bayi (170 %), ini jika dilihat sudah melebihi 100%, disini dapat dikatakan bahwa beberapa bayi yang melakukan
kunjungan beberapa kali, hal ini disebabkan karena telah tinginya kesadaran ibu-ibu untuk membawa bayinya berkunjung ke
pusat pelayanan dasar baik untuk pemeriksaan kesehatan bayi maupun untuk penimbangan berat badan bayi.
E. Proporsi Penduduk yang Tidak Menggunakan Sarana Pelayanan Kesehatan
Proporsi ini adalah persentasi tidak diigunakannya sarana pelayanan kesehatan yang tersedia oleh penduduk yang seharusnya
menggunakannya.
Rumus
Jumlah penduduk yang tidak menggunakan sarana pelayanan kesehatan
________________________________________________________
Jumlah penduduk yang seharusnya menggunakan sarana tersebut
Jumlah penduduk yang tidak menggunakan sarana pelayanan kesehatan dapat dipperoleh dari survai penduduk. Dalam survai
ini dapat diketahui pula sebab-sebab tidak menggunakan. Data ini dapat digunakan untuk menyusun rencana dalam mengatasi
sebab tidak menggunakan. Jumlah penduduk yang tidak menggunakan dapat juga diperoleh secara tidak langsung dari
persentasi pengunjung, tetapi dengan cara ini tidak dapat diperoleh inforasi tentang sebab-sebab tidak menggunakan. Proporsi
ini berlaku untuk semua jenis pelayanan kesehatan yang tersedia.
Contoh :
Dari hasil suatu survai diketahui bahwa jumlah bayi berumur kurang dari 14 bulan adalah 350 sedangkan yang datang ke
sarana kesehatan untuk diimunisai adalah 200 bayi. Ini berarti terdapat sebanyak 150 orang orang yang tidak menggunakan
sarana pelayanan kesehatan ialah 150/350 x 100= 42,86%. Angka ini dapat digunakan untuk mengetahui jangkauan
pelayanan kesehatan.
F. Presentase Ibu Hamil yang Melakukan Pemeriksaan Antenatal
Perhitungan persentasi ini dapat dilakukan dengan beberapa bentuk sebagai berikut :
1. Pemeriksaan antenatal yang dilakukan minimal 1x pada setiap kehamilan. Angka ini menyatakan persentasi wanita hamil
yang melakukan pemeriksaan minimal 1x, terhadap perkiraan persalinan.
Rumus
Jumlah wanita hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal minimal 1x
_____________________________________________________ x 100
Jumlah perkiraan persalinan

Angka ini merupakan salah satu indikator untuk mengukur jangkauan pelayanan kesehatan terhadapibu hamil. Indikator ini
kurang berbobot, karena kriteria yang digunakan terlalu ringan yaitu hanya satu kali pemeriksaan antenatal setiap kehamilan.
Indikator ini akan lebih baik bila digunakan kriteria 3 atau 4 kali pemeriksaan antenatal pada setiap kehamilan.
2. Proporsi wanita hamil yang melakukan minimal 4x pemeriksaan antenatal terhadap jumlah perkiraan persalinan.
Rumus
Jumlah wanita hamil yang melakukan minimal 4x pemeriksaan antenatal setiap kehamilan
____________________________________________________________________________x100
Jumlah perkiraan persalinan
3. Rata-rata frekuensi pemeriksaan antenatal.
Indeks ini merupakan rasio antara jumlah kunjungan baru ditambah dengan kunjungan lama dibagi dengan kunjungan baru.
Rumus
B+L
___________
B
Kelemahan perhitungan ini ialah tidak menggambarkan kohor dari ibu-ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal.
Sebagai kriteria standar untuk menilai jangkauan pelayanan kesehatan terhadap pemeriksaan ibu hamil dapat digunakan ratarata frekuensi 4 kali pemeriksaan. Disamping ketiga ukuran tersebut, lamanya kehamilann pada pemeriksaan antenatal yang
1, dapat juga diperhitungkan. Angka ini selain dappat digunakan untuk mengukur jangkauan pelayanan kesehatan terhadap
ibu hamil, dapat jug adigunakan untuk mengetahui tingkat pengertian ibu tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan.
Rata-rata frekuensi pemeriksaan antenatal dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berrikut :
1. Jarak,ekonomi, budaya dan waktu
2. Kelengkapan laporan
3. Cara pelayanan
4. Pelayanan Antenatal (K4)
Gambaran Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 dari 118.348 ibu hamil cakupan K4 sebanyak 90.016 (76,06 %).
Sedangkan target cakupan kunjungan ibu hamil K4 untuk tahun 2006 sebesar 81%.
G. Presentase Balita yang Mendapat Imunisasi
Persentasi ini menyatakan jumlah balita dalam periode tertentu yang telah mendapat imunisasi lengkap atau imunisasi khusus
per 100 balita. Yang dimaksud dengan imunisasi lengkap untuk balita ialah DTP 1 dan II, BCG Polio dan Cacar.
Rumus
Jumlah balita yang telah mendapat imunisasi
________________________________________ x 100
Jumlah balita
Sumber data

Jumlah balita dapat diperoleh dari hasil sensus atau survai penduduk atau catatan di Kantor Wilayah. Jumlah balita yang telah
mendapat imunisasi dapat diperoleh dari catatan di KIA atau petugas imunisasi. Untuk mengetahui jumlah balita yang akan
mendapatkan imunisasi untuk pertama kali, biasanya tidak banyak mengalami kesuliran, tetapi untuk imunisasi ulang,
ketepatan jumlah balita yang akan mendapatlan imunisasi ulang tergantung dari kelengkapan pencatatan. Bila catatan tidak
lengkap, akan mengalami kesulitan untuk mencari jumlah balita yang akan mendapat imunisasi ulang. Hal ini terutama pada
imunisasi yang tidak meninggalkan bekas. Untuk imunisasi yang meninggalkan bekas seperti BCG atau cacar dapat
dilakukan scar survai.
Manfaat
Angka ini dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat, untuk mengukur
jagkauan pelayanan kesehatan pada masyarakat.
Dengan imunisasi, diharapkan insidensi morbiditas dan mortalitas yamg disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi akan menurun. Bila terdapat persentasi imunisasi yamg rendah, sebaiknya persentasi tersebut
dinyatakan secara negatif yaitu dinyatakan perssentasi balita yang belum mendapat imunisasi, dengan maksud untuk menarik
perhatian para pengambil keputusan untuk segera mengambil tidakan.
Bila terdapat kesulitan dalam mengumpulkan jumlah balita, dapat digunakan persentasi imunisasi terhadap bayi yang
berumur kurang dari 1 tahun atau yang berumur 3-14 bulan. Untuk imunisasi penuh minimal dibutuhkan 3x kontak dengan
petugas imunisasi atau sarana pelayanan kesehatan untuk bayi dan anak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi :
1. Pengertian masyarakat tentang manfaat imunisasi pada bayi dan anak.
2. Faktor jarak dan biaya
3. Faktor pelayanan dan penyediaan vaksin
4. Ketepatan pencatatan dan laporan
Sumatera Barat telah mencapai desa/ kelurahan UCI sebesar 76,55% dari 2.981 desa/ kelurahan yang ada dari 18 kab/ kota.
Ada 3 kab/kota yang telah mencapai UCI 100% adalah kota Solok, kota Padang Panjang dan kota Payakumbuh. Pelayanan
imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG, DPT (3 kali), polio (4 kali), hepatitis B (3 kali) dan imunisasi campak (1 kali), yang
dilakukan melalui pelayanan rutin di posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Cakupan imunisasi BCG sebesar
(97,58%), DPT 1 (94,03%), DPT 3 (82,74%), polio 3 (89,71%), campak (84,73%) dan Hepatitis B 3 (83,29%).
H. Presentase Persalinan oleh Nake
Proporsi ini ialah jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga terlatih per 100 perkiraan persalinan. Tenaga terlatih ialah
dokter, bidan dan dukun bayi yang telah mengikuti kursus.
Rumus
Jumlah pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih
_________________________________________ x 100
Jumlah perkiraan persalinan
Sumber data
Jumlah pertolongan persalinan dapat diperoleh dari catatan di sarana pelayananan kesehatan, laporan dari bidan dan dukun
bayi yang melakukan pertolongan persalinan di luar sarana pelayanan kesehatan. Yang menjadi hambatan ialah kurangnya
laporan dari dukun bayi. Jumlah perkiraan persalinan dapat diperoleh dari hasil sensus.
Faktor-faktor yang mempengaruhi :
1. Kemudahan pendekatan secara fisik
2. Faktor kebiasaan masyarakat untuk melahirkan di rumah ditolong oleh dukun bayi.

Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan di Sumatera Barat berdasarkan hasil
pengumpulan data/ indikator kinerja SPM bidang kesehatan di 19 kabupaten/ kota di Provinsi Sumatera Barat pada tahun
2006 menunjukkan bahwa jumlah persalinan 112.969, jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan 85.404
(75.6%).
I. Presentase Pasangan Usia Subur yang Menjadi Akseptor KB
Proporsi ini menyatakan jumlah akseptor KB atau current user per 100 pasangan usia subur.
Rumus
Jumlah akseptor KB atau current user
__________________________________ x 100
Jumlah pasangan usia subur
Proporsi ini dapat digunakan sebagai indikator untuk mengukur jangkauan pelayanan KB, mengukur tingkat pencapaian
target atau keberhasilan program KB.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proporsi ini adalah :
1. Penerangan atau penyuluhan
2. Cara pelayanan pada masyarakat dan persediaan alat kontrasepsi
3. Hambatan budaya
4. Cara kontrasepsi yang dapat diterima oleh masyarakat
Sumber data
Jumlah pasangan usia subur dapat dipperoleh dari hasil sensus atau survai penduduk atau dari catatan yang terdapat di kantor
wilayah, sedangkan untuk jumlah akseptor dapat diperoleh dari catatan di sarana pelayanan kesehatan atau laporan petugas
lapangan KB.
Untuk cakupan pelayanan KB aktif tahun 2006di Sumbar adalah 487.218 (67,50%) dari 721.757 orang pasangan usia subur,
kalau dilihat dari target 70%, ini dapat dilihat bahwa kesadaran masyarakat untuk ikut ber KB sudah ada.
J. Presentase Penderita Penyakit Kronis yang Berobat
Persentase ini merupakan perbandingan antara jumlah penderita penyakit kronis yang berobat dengan perkiraan jumlah
penderita penyakit tersebut.
Rumus
Jumlah penderita penyakit kronis tertentu yang berobat
___________________________________________ x 100
Jumlah perkiraan jumlah penderita penyakit tersebut
Angka ini dapat digunakan untuk mengukur jangkauan pelayanan kesehatan terhadap penderita penyakit kronis dan pprogram
pemberantasan penyakit.
Sumber data
Untuk pembilang dapat diperoleh dari sarana pelayanan kesehatan, sedangkan penyebut dapat diperoleh dari hasil survai
penyakit.
Faktor-faktor yang mempengaruhi :

1. Kesadaran dan pengertian penderita untuk berobat


2. Tersedianya alat-alat untuk menegakkan diagnosa dan obat-obat yang dibutuhkan
3. Biaya pengobatan yang masih dapat dijangkau oleh masyarakat
4. Kriteria penyakit yang digunakan
5. Ketetapan pencatatan dan laporan
K. Presentase Penderita Penyakit Kronis yang Melakukan Pengobatan Secara Teratur
Persentase ini menyatakan perbandingan antara jumlah penderita penyakit kronis yang berobat secara rutin dengan jumlah
penderita penyakit tersebut.
Rumus
Jumlah penderita penyakit kronis yang berobat secara rutin
________________________________________ x100
Jumlah penderita penyakit tersebut
Angka ini dapat digunakan untuk mengukur jangkauan terhadap pemberantasan penyakit kronis.
Sumber data
Untuk pembilang dapat diperoleh dari catatan penderita yang terdapat di saraa pelayanan kesehatan, sedangkan untuk
penyebut diperoleh dari hasil survai penyakit atau catatan petugas survailan epidemiologi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi:
1. Kesadaran penderita untuk berobat secara teratur sampai sembuh.
2. Penerangan pada penderita tentang bahaya penyakit yang diderita.
3. Persediaan obat yang dibutuhkan dan harga yang masih dapat dijangkau.
4. Kualitas pelayanan.
5. Jarak antara rumah penderita dengan lokasi sarana pelayanan kesehatan.