Anda di halaman 1dari 20

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Prinsip-prinsip Dasar Evaluasi Hasil Belajar


Menurut Sudijono (2008: 30) evaluasi terhadap hasil belajar setidaknya
mencakup dua hal, yaitu evaluasi pencapaian peserta didik terhadap tujuan
khusus dan evaluasi pencapaian peserta didik terhadap tujuan umum
pengajaran. Evaluasi hasil belajar dapat terlaksana jika menggunakan tiga
prinsip dasar yakni: (1) prinsip keseluruhan, (2) prinsip kesinambungan, dan (3)
prinsip objektivitas. Seluruh kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dalam rangka
menilai ketercapaian peserta didik terhadap indikator atau kriteria yang telah
ditentukan disebut evaluasi hasil belajar.
Menurut Depdiknas (2007: 4), penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut.
1.
Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan
kemampuan yang diukur.
2.
Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas,
tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
3.
Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik
karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku,
budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4.
Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen
yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
5.
Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar
pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
6.
Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik
mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik
penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta
didik.
7.
Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap
dengan mengikuti langkah-langkah baku.
8.
Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian
kompetensi yang ditetapkan.
9.
Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi
teknik, prosedur, maupun hasilnya

2.2 Ciri-ciri Evaluasi Hasil Belajar


Mengacu dari teori yang dikemukakan oleh Sudijono, ciri-ciri evaluasi hasil
belajar dibedakan atas lima, yaitu sebagai berikut.
1.
Evaluasi dilaksanakan dalam rangka mengukur keberhasilan belajar
peserta didik, pengukuran tidak dapat dilakukan secara langsung, tetapi hanya
didasarkan pada indikator-indikator atau gejala-gejala yang nampak. Oleh karena
itu, masalah ketepatan alat ukur yang digunakan (valid) menjadi masalah
tersendiri.
2.
Pengukuran dalam rangka menilai keberhasilan belajar peserta didik pada
umumnya menggunakan ukuran-ukuran kuantitatif atau angka-angka.
3.
Kegiatan evaluasi hasil belajar pada umumnya digunakan unit-unit atau
satuan-satuan yang tetap.
4.
Prestasi belajar yang dicapai olih peserta didik dari waktu ke waktu setelah
bersifat relatif, tidak akan menunjukkan kesamaan dan tergantung pada faktorfaktor, seperti peserta didik, penilai, dan situasi yang terjadi pada saat penilai
berlangsung.
5.
Kegiatan hasil belajar sulit dihindari terjadinya kekeliruan pengukuran
(error), yang disebabkan oleh (a) alat ukurnya (tidak valid dan realiabel); (b)
penilai (faktor subyektif, kecenderungan nilai murah atau mahal, kesan pribadi
terhadap peserta tes, pengaruh hasil yang lalu, kesalahan menghitung, suasana
hati penilai); (c) kondisi fisik dan psikis peserta tes; dan (d) kesalahan akibat
suasana ujian (suasana gaduh, pengawasan yang tidak baik dan sebagainya).

2.3 Ranah Kognitif, Ranah Afektif, Ranah Psikomotorik sebagai Obyek


Evaluasi Hasil Belajar
Ranah kognitif berhubungan erat dengan kemampuan berfikir, termasuk di
dalamnya kemampuan menghafal, rnemahami, mengaplikasi, menganalisis,
mensintesis dan kemampuan mengevaluasi. Ranah afektif mencakup watak
perilaku seperti sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral. Ranah psikomotor
berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan
manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Ranah psikomotor adalah
ranah yang berhubungan aktivitas fisik, misalnya; menulis, memukul, melompat
dan lain sebagainya.
Dalam paradigma lama, penilaian pembelajaran lebih ditekankan pada hasil
(produk) dan cenderung hanya menilai kemampuan aspek kognitif, yang kadang-

kadang direduksi sedemikian rupa melalui bentuk tes objektif. Sementara,


penilaian dalam aspek afektif dan psikomotorik kerapkali diabaikan.
Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berbentuk
tanggung jawab, kerjasama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai
pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Tujuan aspek kognitif
berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual
yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan
masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan
beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk
memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah
subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering
berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu
evaluasi. Masalah afektif dirasakan penting oleh semua orang, namun
implementasinya masih kurang. Hal ini disebabkan merancang pencapaian
tujuan pembelajaran afektif tidak semudah seperti pembelajaran kognitif dan
psikomotor. Satuan pendidikan harus merancang kegiatan pembelajaran yang
tepat agar tujuan pembelajaran afektif dapat dicapai.

2.4 Langkah-langkah Pokok dalam Evaluasi Hasil Belajar


Sekalipun tidak selalu sama, namun pada umumnya para pakar dalam bidang
evaluasi pendidikan merinci kegiatan evaluasi ke dalam enam langkah pokok.
1.

Menyusun rencana evaluasi hasil belajar

Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan, harus disusun lebih dahulu


perencanaannya secara baik dan matang. Perencanaan hasil belajar itu
umumnya mencakup enam jenis kegiatan, yaitu sebagai berikut.
a.

Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi

Perumusan tujuan evaluasi hasil belajar itu penting sekali, sebab tanpa tujuan
yang jelas maka evaluasi hasil belajar akan berjalan tanpa arah dan pada
gilirannya dapat mengakibatkan evaluasi menjadi kehilangan arti dan fungsinya.
b.
Menetapkna aspek-aspek yang hendak dievaluasi. Misalnya apakah aspek
kognitif, aspek afektif ataukah aspek psikomotorik.
c.
Memilih dan menentukan teknik yang akan digunakan dalam
melaksanakan evaluasi, misalnya apakah evaluasi itu akan dilaksanakan dengan
menggunakan teknik tes ataukah teknik nontes. Jika teknik yang akan
dipergunakan itu adalah teknik nontes, apakah pelaksanaannya dengan
menggunakan pengamatan (observasi), melakukan wawancara (interview),
menyebarkan angket.

d.
Menyusun alat-alat pengukur yang akan dipergunakan dalam pengukuran
dan penialain hasil belajar peserta didik, seperti butir-butir soal tes hasil belajar
(pada evaluasi hasil belajar yang menggunakan teknik tes). Daftar check (check
list), rating scale, panduan wawancara (interview guide) atau daftar angket
(questionnaire), untuk evaluasi hasil belajar yang menggunakan teknik nontes.
e.
Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan
atau patokan untuk memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi.
Misalnya apakah yang akan dipergunakan Penilaian Beracuan Patokan (PAP)
ataukah akan dipergunakan Penilaian beracuan kelompok atau Norma (PAN).
f.
Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri (kapan
dan seberapa kali evaluasi hasil belajar itu akan dilaksanakan).

2.

Menghimpun data

Dalam evaluasi hasil belajar, wujud nyata dari kegiatan menghimpun data
adalah melaksanakan pengukuran, misalnya dengan menyelenggarakan tes hasil
belajar (apabila evaluasi hasil belajar itu menggunakan teknik tes), atau
melakukan pengamatan, wawancara atau angket dengan menggunakan
instrumen-instrumen tertentu berupa rating scale, check list, interview guide
atau questionnaire (apabila evaluasi hasil belajar itu menggunakan teknik
nontes).

3.

Melakukan verifikasi data

Data yang telah berhasil dihimpun harus disaring lebih dahulu sebelum diolah
lebih lanjut. Proses penyaringan itu dikenal dengan istilah penelitian data atau
verifikasi data. Verifikasi data dimaksudkan untuk dapat memisahkan data yang
baik (yaitu data yang dapat memperjelas gambaran yang akan diperoleh
mengenai diri individu atau sekelompok individu yang sedang dievaluasi) dari
data yang kurang baik (yaitu data yang akan mengaburkan gambaran yang
akan diperoleh apabila data itu ikut serta diolah).

4.

Mengolah dan menganalisis data

Mengolah dan menganilisis hasil evaluasi dilakukan dengan maksud untuk


memberikan makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan
evaluasi. Untuk keperluan itu maka data hasil evaluasi perlu disusun dan diatur
demikian rupa sehingga dapat berbicara. Dalam mengolah dan menganalisis
data hasil evaluasi itu dapat dipergunakan teknik statistik.

5.

Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan

Penafsiran atau interpretasi terhadap data hasil evaluasi belajar pada hakikatnya
adalah merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang
telah mengalami pengolahan dan penganalisisan itu. Atas dasar interpretasi
terhadap data hasil evaluasi itu pada akhirnya dapat dikemukakan kesimpulankesimpulan tertentu. Kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi itu sudah barang
tertentu mengacu kepada tujuan dilakukannya evaluasi itu sendiri.

6.

Tindak lanjut hasil evaluasi

Bertitik tolak dari data hasil evaluasi yang telah disusun, diatur, diolah, dianalisis
dan disimpulkan sehingga dapat diketahui apa makna yang terkandung di
dalamnya maka pada akhirnya evaluator akan dapat mengambil keputusan atau
merumuskan kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu sebagai tindak lanjut
dari kegiatan evaluasi tersebut.

2.5 Teknik-teknik Evaluasi Hasil Belajar


2.5.1 Pengertian Teknik Evaluasi Hasil Belajar
Dalam KBBI, teknik diartikan sebagai sebuah model atau sistem mengerjakan
sesuatu. Akan tetapi, istilah teknik dapat juga diartikan sebagai alat. Jadi
dalam istilah teknik evaluasi hasil belajar terkandung arti alatalat (yang
digunakan dalam rangka melakukan) evaluasi hasil belajar.
Teknik evaluasi adalah cara yang dilakukan dalam mengevaluasi hasil belajar.
Sedangkan yang dimaksud evaluasi hasil belajar adalah cara yang digunakan
oleh guru dalam mengevaluasi proses hasil belajar mengajar.

2.5.2 Macam-macam Teknik Evaluasi Hasil Belajar


Menurut Arikunto (2002: 31) terdapat dua alat evaluasi, yakni teknik tes dan
nontes. Dengan teknik tes, maka evaluasi hasil belajar itu dilakukan dengan jalan
menguji peserta didik. Sebaliknya, dengan teknik nontes maka evaluasi hasil
belajar dilakukan tanpa menguji peserta didik.

2.5.2.1 Teknik Tes


1.

Pengertian Tes

Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas
atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak

sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak
tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain
atau dengan nilai standar yang ditetapkan (Nurkancana dan Sunartana, 1990:
34).
Pendapat yang lain dikemukakan oleh Rasyid dan Mansur (2008: 11), bahwa "tes
merupakan salah satu cara menaksir besarnya tingkat kemampuan manusia
secara tidak langsung, yaitu melalui respon seseorang terhadap sejumlah
stimulus atau pertanyaan." Oleh karena itu, agar diperoleh informasi yang akurat
dibutuhkan tes yang handal.
Teknik tes menurut Indrakusuma dalam (Arikunto, 2002: 32) adalah suatu alat
atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau
keterangan-keterangan yang di inginkan seseorang dengan cara yang boleh
dikatakan cepat dan tepat.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tes adalah
suatu cara, prosedur, atau alat yang sistematis dan objektif untuk mengevaluasi
tingkah laku (kognitif, afektif, dan psikomotor) siswa atau sekelompok siswa
berdasarkan nilai standar yang telah ditetapkan.
Dalam kaitan dengan rumusan tersebut, sebagai alat evaluasi hasil belajar, tes
minimal mempunyai dua fungsi, yaitu:
(1) untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau
tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu; dan
(2) untuk menentukan kedudukan atau perangkat siswa dalam kelompok,
tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.
Fungsi (1) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program
pembelajaran, sedang fungsi (2) lebih dititikberatkan untuk mengukur
keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes.

2.

Bentuk Tes

Menurut Sudjana (2008: 35), tes hasil belajar dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu
sebagai berikut.
1)

Tes Lisan (Oral Test)

Tes lisan adalah suatu bentuk tes yang menuntut jawaban dari peserta didik
dalam bentuk bahasa lisan. Peserta didik akan mengucapkan jawaban dengan
kata-katanya sendiri sesuai dengan pertanyaan ataupun perintah yang diberikan.
Tes lisan dapat digunakan untuk mengetahui taraf peserta didik untuk masalah
yang berkaitan dvengan kognitif, yaitu pengetahuan dan pemahaman. Tes lisan
dapat berupa individual dan kelompok. Tes individual, yaitu suatu tes yang

diberikan kepada seorang siswa, sedangkan tes kelompok, yaitu suatu tes yang
diberikan kepada kepada sekolompok siswa secara bersamaan.

2)

Tes Tertulis (Written Test)

Tes tertulis adalah suatu tes yang menuntut siswa memberikan jawaban secara
tertulis. Tes tertulis dapat dibedakan menjadi tes esai atau uraian dan tes
objektif.
a.

Tes Uraian

Tes uraian adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk
menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan
alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan
menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini
siswa dituntut untuk mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan. Tes
uraian layaknya tes yang lain, memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri.
Adapaun keunggulan pemakaian tes uraian, yaitu:
(1) dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat
tinggi;
(2) dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, dengan baik dan benar
sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa;
(3) dapat melatih kemampuan berpikir teratur atau penalaran, yakni berpikir
logis, analitis, dan sistematis;
(4) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah (problem solving); dan
(5) mudah membuat soalnya sehingga guru dapat secara langsung melihat
proses berpikir siswa.

Adapun kelemahan tes uraian, yaitu:


(1) sampel tes sangat terbatas, karena tidak dapat menguji semua bahan yang
telah diberikan, seperti pada tes objektif yang dapat menanyakan banyak hal
melalui sejumlah pertanyaan;
(2) sifatnya sangat subjektif, baik dalam menanyakan, dalam membuat
pertanyaan, maupun dalam memerikasanya; dan
(3) tes ini biasanya kurang reliabel, mengungkap aspek yang terbatas,
pemeriksanya memerlukan waktu yang lama sehingga tidak praktis bagi kelas
yang jumlah siswanya relatif banyak.

Bentuk tes uraian dibedakan atas (a) uraian bebas (free essay), (b)
uraian terbatas, dan (c) uraian berstruktur.
a)

Uraian Bebas

Dalam uraian bebas, jawaban siswa tidak dibatasi, bergantung pada


pandangan siswa itu sendiri. Contoh pertanyaan bentuk uraian bebas, misalnya
"Manut sameton, punapi sane mawasta basa Bali?"
Melihat karakteristiknya, pertanyaan bentuk uraian bebas ini tepat
digunakan apabila bertujuan untuk:
(1) mengungkap pandangan para siswa terhadap suatu masalah sehingga
dapat diketahui luas dan intensitasnya;
(2) mengupas suatu persoalanyang kemungkinan jawabannya beranekaragam
sehingga tidak ada satu pun jawaban yang pasti.
(3) Mengembangkan daya analisis siswa dalam melihat suatu persoalan dari
berbagai segi atau dimensinya.
Kelemahan dari tes uraian bebas adalah sukar menilainya karena jawaban siswa
bisa bervariasi, sulit menentukan kriteria penilaian, sangat subjektif karena
bergantung pada guru sebagai penilainya.
b)

Uraian Terbatas

Dalam bentuk uraian terbatas, pertanyaan telah diarahkan kepada hal-hal


tertentu atau ada pembatasan tertentu. Pembatasan bisa dari segi (a) ruang
lingkupnya, (b) sudut pandang menjawabnya, dan (c) indikator-indikatornya.
Contoh pertanyaan uraian terbatas, misalnya "Indayang sambatang tiga tetujon
malajahin basa Bali!"
Dilihat dari keterbatasa pertanyaannya, maka tes ini jauh lebih mudah dan tepat
dalam mengevaluasi jawaban siswa, karena kriteria jawaban yang benar telah
diketahui oleh guru.
c)

Uraian Berstruktur

Bentuk tes uraian yang ketiga adalah tes uraian berstruktur. Soal berstruktur
dipandang sebagai bentuk antara soal-soal objektif dan soal-soal esai. Soal
berstruktur merupakan serangkaian soal jawaban singkat sekalipun bersifat
terbuka dan bebas menjawabnya. Soal yang berstruktur berisi unsur-unsur (a)
pengantar soal, (b) seperangkat data, dan (c) serangkaian subsoal. Adapun
contoh uraian berstruktur adalah sebagai berikut.
Indayang uratiang pupuh ring sor!
Eda ngaden awak bisa,
depang anake ngadanin,

geginane buka nyampat,


anak sai tumbuh luu,
ilang luu buke katah,
yadin ririh,
liu enu paplajahan.

Pitaken:
a)

Punapi wastan pupuh ring duur?

b)

Indayang sambatang padalingsa sane ngwangun pupuh ring duur!

b.

Tes Objektif

Tes objektif adalah tes tertulis yang menuntut siswa memilih jawaban yang
telah disediakan atau memberikan jawaban singkat. Tes ini digunakan
untuk mengukur penguasaan siswa pada tingkatan batas tertentu. Ruang
lingkupnya cenderung luas. Tes ini terdiri atas beberapa bentuk soal,
antara lain meliputi (a) jawaban singkat, (b) benar-salah, (c) menjodohkan,
dan (d) pilihan ganda.
a)

Bentuk Soal Jawaban Singkat

Bentuk soal jawaban singkat merupakan soal yang menghendaki jawaban dalam
bentuk kata, bilangan, kalimat, atau simbol dan jawabannya hanya dapat dinilai
benar atau salah. Tes bentuk soal jawaban singkat cocok untuk mengukur
pengetahuan yang berhubungan dengan istilah terminologi, fakta, prinsip,
metode, prosedur, dan penafsiran data yang sederhana. Ada dua bentuk soal
jawaban singkat, yaitu (1) bentuk pertanyaan langsung dan (2) bentuk
pertanyaan tidak lengkap.
Adapun contoh pertanyaan langsung, misalnya "Bebaosan widang resmi sane
unteng bebaosannyane mapaiketan ring kadharman kabaos?" (dharma wecana),
dan contoh pertanyaan tidak lengkap, misalnya "Titiang sampun . . . . . . Ida jinah
dibi semeng (ngaturin).
Melihat karakteristik soal jawaban singkat tersebut, maka keunggulanbentuk soal
ini, yaitu:
(1) menyusun soal relatif mudah;
(2) kecil kemungkinan siswa memberi jawaban dengan cara menebak;
(3) menuntut siswa untuk dapat menjawab dengan singkat dan tepat; dan

(4) hasil penilaiannya cukup objektif.

Adapun kelemahan yang dimiliki soal jawaban singkat, yaitu:


(1) kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi;
(2) memerlukan waktu yang agak lama untuk mengevaluasi meskipun tidak
selama bentuk uraian;
(3) menyulitkan pemeriksaan, apabila jawaban siswa membingungkan
pemeriksa.

b.

Bentuk Soal Benar-Salah (True-False)

Bentuk soal benar-salah adalah bentuk tes yang soal-soalnya berupa pernyataan.
Sebagian pernyataan merupakan pernyataan yang benar dan sebagian lagi
merupakan pernyataan yang salah. Pada umumnya, bentuk soal benar-salah
dapat diapakai untuk mengukur pengetahuan siswa tentang fakta, definisi, dan
prinsip. Jawaban yang diharapkan dapat diarahkan untuk memberi tanda silang
(X), memberikan tanda rumput (), atau menulis salah satu huruf (B atau S)
untuk jawaban yang dianggap tepat.
Adapun contohnya sebagai berikut.
No.
Pernyataan
Jawaban
B*
S*
1.
Panak kambing madan wiwi. (B)

2.
Seket imbuhin buin limolas dadi lebak. (S)

3.
Don biu ane tuh madan kraras. (B)

Keterangan:
B*

: Benar (Beneh/Patut dalam bahasa Bali).

S*

: Salah (Pelih/Iwang dalam bahasa Bali).

Adapun keunggulan dari bentuk soal ini, yaitu:


(1) pemeriksaan dapat dilakukan dengan cepat dan objektif; dan
(2) soal dapat disusun dengan mudah.

Adapun kelemahan dari bentuk soal ini, yaitu:


(1) kemungkinan menebak dengan benar jawaban setiap soal adalah 50%.
(2) Kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi karena hanya
menuntut daya ingat dan pengenalan kembali.
(3) Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua
kemungkinan (benar-salah).

c.

Bentuk Soal Menjodohkan

Bentuk menjodohkan sebenarnya masih merupakan pilihan ganda.


Perbedaannya adalah pilihan ganda terdiri atas stem dan option,
kemudian testee tinggal memilih salah satu option yang diberikan. Sedangkan
bentuk menjodohkan terdiri atas kumpulan soal dan kumpulan
jawaban yang keduanya disusun pada dua kolom yang berbeda. Kolom sebelah
kiri menunjukkan kumpulan soal dan kolom sebelah kanan menunjukkan
kumpulan jawaban. Jumlah alternatif jawaban harus dibuat lebih banyak
dari jumlah soal untuk mengurangi kemungkinan siswa menjawab betul dengan
menebak.

Kelompok A

Kelompok B

1.
Basa alus taluh
(c)
a.
lemlem
2.
Panak jaran
(e)
b.
busung
3.
Don jaka ane nguda
(g)
c.
adeng
4.
Muanne kembang
(a)
d.
rijasa
5.
Isite ngembang
(d)
e.

bebedag

f.
kunyali

g.
ambu

Adapun keunggulan bentuk soal menjodohkan, yaitu:


(1) penilaian dapat dilakukan dengan cepat dan efektif;
(2) tepat digunakan untuk mengukur kemampuan mengidentifikasi; dan
(3) dapat mengukur pokok bahasan yang luas.

Terlepas dari hal itu, bentuk soal menjodohkan juga memiliki kelemahn, yaitu:
(1) hanya dapat mengukur hal-hal yang berdasarkan fakta dan hafalan; dan
(2) sukar untuk menentukan pokok bahasan yang mengukur hal-hal
berhubungan.

d.

Bentuk Soal Pilihan Ganda

Soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar
dan paling tepat. Dilihat dari strukturnya, bentuk soal pilihan ganda terdiri atas:
yang

stem

: pertanyaan atau pernyataan yang berisi permasalahan


akan ditanyakan;

option

: sejumlah pilihan atau alternatif jawaban;

kunci

: jawaban yang benar dan paling tepat; dan

distractor : jawaban-jawaban lain selain kunci jawaban.

(pengecoh) (Sudjana, 2008: 48).


Adapun contoh soal pilihan ganda sebagai berikut.
Basa Bali sane kanggen mabaos majeng ring anak sane durung kenal
utawi matiang-jero kawastanin . . .
a.

basa andap

b.

basa alus

c.

basa kasar

d.

basa madia

Adapaun keunggulan soal pilihan ganda, yaitu:


(1) materi yang diujikan dapat mencakup sebagian besar dari bahan
pengajaran yang telah diberikan;
(2) jawaban dapat dikoreksi (dievaluasi) dengan mudah dan cepat dengan kunci
jawaban; dan
(3) jawaban untuk setiap pertanyaan sudah pasti benar atau salah sehingga
penilaiannya bersifat objektif.
Terlepas dari itum kelemehan tes ini, yaitu:
(1) kemungkinan untuk melakukan tebakan jawaban sangat besar;
(2) daya nalar siswa kurang;
(3) proses berpikir siswa tidak dapat dilihat secara nyata; dan
(4) cenderung menyusun soal lebih sulit dan lama.

3.

Tes Tindakan atau Perbuatan (Performance Test)

Tes perbuatan adalah bentuk tes yang menuntut jawaban siswa dalam bentuk
perilaku, tindakan, atau perbuatan. Peserta didik bertindak sesuai dengan apa
yang diperintahkan dan ditanyakan. Misalnya, "Indayang tembangang pupuh
Sinom ring ajeng!"
2.5.2.2 Teknik Nontes
Hasil belajar selain dievaluasi melalui teknik tes, dapat juga dievaluasi melalui
teknik nontes. Kenyataan di lapangan adalah guru cenderung lebih banyak
menggunakan teknik tes dalam melakukan evaluasi hasil belajar siswa,
dibandingkan dengan teknik nontes.
Evaluasi dengan menggunakan teknik tes hanya mengacu pada aspek-aspek
kognitif (pengetahuan) berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh siswa setelah
menyelesaikan pengalaman belajarnya. Jika dibandingkan dengan teknik tes,
teknik nontes jauh lebih komprehensif, dalam artian dapat digunakan untuk
mengevaluasi berbagai aspek dari individu atau kelompok siswa sehingga tidak
hanya berorientasi pada aspek kognitif saja, tetapi juga pada aspek yang lain
seperti afektif dan psikomotor. Adapun jenis teknik nontes yang dimaksud, yaitu
wawancara, kuesioner, skala, observasi, studi kasus, dan sosiometri.

1.

Wawancara

Wawancara suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaanpertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. Wawancara
dibagi dibedakan atas dua kategori, yaitu pertama, wawancara berstruktur, yaitu
wewancara yang dilakukan dengan mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan lebih
awal sebelum menanyakannya kepada siswa. Kedua, wawancara bebas (tak
berstruktur), yaitu wawancara yang dilakukan tanpa mempersiapkan pertanyaan
lebih awal, namun pewawancara bebas dan secara langsung bertanya kepada
siswa terkait materi tertentu.

2.

Kuesioner

Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Dari
segi yang memberikan jawaban, kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung
dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang
dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Sedangkan kuesioner
tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan
mengetahui si penjawab seperti contoh, apabila yang hendak dimintai jawaban
adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak, tetangga atau
anggota keluarganya.
Ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner
tertutup dan kuesioner terbuka. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan
yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda

silang (X) atau cek () pada awaban yang ia anggap sesuai. Sedangkan
kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan
memberikan jawaban dan pendapatnya secara terperinci sesuai dengan apa
yang ia ketahui.

3.

Skala

Skala adalah alat untuk mengukur nilai sikap, minat, perhatian, dan sebagainya,
yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan
hasilnya dalam bentung rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukan.
Skala dapat dibedakan menjadi dua, yaitu skala pendidikan (rating scale) dan
skala sikap.
a.

Skala pendidikan

Mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui


pernyataan perilaku individu pada suatu titik kontinuum atau suatu kategori
yang bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang
tertinggi sampai terendah. Rentangan dapat dalam bentuk huru (A, B, C, D, E),
angka (4, 3, 2, 1, 0), atau 10, 9, 8, 7, 6, 5. Sedangkan rentangan kategori bisa
tinggi, sedang, rendah, atau baik, sedang, kurang.
b.

Skala sikap

Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek terlalu.
Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif),
dan netral. Ada tiga komponen sikap yaitu kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi
berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek atau stimulus yang
dihadapinya, afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek
tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap
objek tersebut.
Skala sikap yang sering digunakan yaitu skala Likert. Dalam skala ini,
pernyataan-pernyataan yang diajukan, baik penyataanpositif maupun negatif,
dinilai oleh subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak
setuju, atau sangat tidak setuju.

4.

Observasi

Observasi atau pengamatan digunakan untuk mengukur tingkah laku siswa atau
sekelompok siswa. Melalui pengamatan dapat diketahui bagaimana sikap dan
perilaku siswa, kegiatan yang dilakukannya, tingkat partisipasi dalam suatu
kegiatan, proses kegiatan yang dilakukannya, kemampuan, bahkan hasil yang
diperoleh dari kegiatannya.
Ada tiga jenis observasi, yaitu (a) observasi langsung, (b) observasi dengan alat
(tidak langsung), dan (c) observasi partisipasi. Observasi langsung adalah

pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam
situasi yang sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat. Observasi tidak
langsung adalah pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat
pengamatan. Observasi partisipasi adalah pengamatan yang dilakukan dengan
melibatkan diri dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok
yang diamati.

5.

Studi Kasus

Studi kasus digunakan untuk memperoleh data mengenai pribadi siswa secara
mendalam dalam kurun waktu tertentu. data yang dikumpulkan merupakan
kasus yang dialami oleh siswa. Pada umumnya kasus-kasus yang menjadi
permasalahan, yaitu kegagalan belajar, tidak dapat menyesuaikan diri,
gangguan emosional, frustasi, dan sering membolos serta kelainan-kelainan
perilaku siswa. Data hasil penilaian melalui alat-alat penilaian tersebut sangat
bermanfaat, baik bagi guru maupun bagi siswa, dalam upaya memperbaiki
proses dan hasil belajar-mengajar di sekolah.
6.

Sosiometri

Sosiometri digunakan untuk memperoleh data mengenai hubungan sosial siswa


di kelasnya atau dalam kelompoknya.
Selain teknik tes tesebut di atas, dilihat dari tujuannya, tes dapat dibedakan
menjadi beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut.

1.

Tes Kecepatan (Speed Test)

Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes (testee) dalam hal kecepatan
berpikir atau keterampilan, baik yang bersifat spontanitas (logik) maupun
hafalan dan pemahaman dalam mata pelajaan yang telah dipelajarinya. Waktu
yang disediakan untuk menjawab atau menyelesaikan seluruh materi tes ini
relatif singkat dibandingkan dengan tes lainnya, sebab yang lebih diutamakan
adalah waktu yang minimal dan dapat mengerjakan tes itu sebanyak-banyaknya
dengan baik dan benar, cepat dan tepat penyelesaiannya. Tes yang termasuk
kategori tes kecepatan misalnya tes intelegensi, dan tes ketrampilan bongkar
pasang suatu alat.

2.

Tes Kemampuan (Power Test)

Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes dalam mengungkapkan


kemampuannya (dalam bidang tertentu) dengan tidak dibatasi secara ketat oleh

waktu yang disediakan. Kemampuan yang dievaluasi bisa berupa kognitif


maupun psikomotorik. Soal-soal biasanya relatif sukar menyangkut berbagai
konsep dan pemecahan masalah dan menuntut peserta tes untuk mencurahkan
segala kemampuannya baik analisis, sintesis dan evaluasi.

3.

Tes Hasil Belajar (Achievement Test)

Tes ini dimaksudkan untuk mengevaluasi hal yang telah diperoleh dalam suatu
kegiatan. Tes Hasil Belajar (THB), baik itu tes harian (formatif) maupun tes akhir
semester (sumatif) bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar setelah mengikuti
kegiatan pembelajaran dalam suatu kurun waktu tertentu. Makalah ini akan lebih
banyak memberikan penekanan pada tes hasil belajar ini.

4.

Tes Kemajuan Belajar (Gains/Achievement Test)

Tes kemajuan belajar disebut juga dengan tes perolehan adalah tes untuk
mengetahui kondisi awal testee sebelum pembelajaran dan kondisi akhir testee
setelah pembelajaran. Untuk mengetahui kondisi awal testi digunakan pre-tes
dan kondisi akhir testi digunakan post-tes.

5.

Tes Diagnostik

Tes diagnostik adalah evaluasi yang ditujukan untuk menelaah kelemahankelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.
Tes diagnostik dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan belajar yang dialami
peserta didik berdasarkan hasil tes formatif sebelumnya. Tes diagnostik
memerlukan sejumlah soal untuk satu bidang yang diperkirakan merupakan
kesulitan bagi peserta didik. Soal-soal tersebut bervariasi dan difokuskan pada
kesulitan.
Tes diagnostik biasanya dilaksanakan sebelum suatu pelajaran dimulai. Tes
diagnostik diadakan untuk menjajaki pengetahuan dan keterampilan peserta
didik yang telah dikuasai mereka, apakah peserta didik sudah mempunyai
pengetahuan dan keterampilan tertentu yang diperlukan untuk dapat mengikuti
suatu bahan pelajaran lain. Oleh karena itu, tes diagnostik semacam itu disebut
juga test of entering behavior.

6.

Tes Selektif

Tes selektif adalah evaluasi yang digunakan untuk memilih siswa yang paling
tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.

7.

Tes Penempatan

Tes penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa


dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa.
Pada umunya tes penempatan dibuat sebagai prates (pretest). Tujuan utamanya
adalah untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki
keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengikuti suatu program
belajar dan sampai di mana peserta didik telah mencapai tujuan
pembelajaran (kompetensi dasar) sebagaimana yang tercantum dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mereka. Dalam hubungan dengan tujuan
yang pertama masalahnya berkaitan dengan kesiapan siswa menghadapi
program yang baru, sedangkan untuk yang kedua berkaitan dengan
kesesuaian program pembelajaran dengan siswa.

8.

Tes Formatif

Tes formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan


meningkatan proses belajar dan mengajar.
Tes formatif dimaksudkan untuk memantau kemajuan belajar siswa selama
proses belajar berlangsung, untuk memberikan balikan (feed back) bagi
penyempurnaan program belajar-mengajar, serta untuk mengetahui
kelemahan-kelemahan yang memerlukan perbaikan, sehingga hasil belajarmengajar menjadi lebih baik. Soal-soal tes formatif ada yang mudah dan ada
pula yang sukar, bergantung kepada tugas-tugas belajar (learningtasks) dalam
program pengajaran yang akan dinilai. Tujuan utama tesformatif adalah untuk
memperbaiki proses belajar, bukan untuk menentukan tingkat kemampuan anak.
Tes formatif sesungguhnya merupakan criterion-referenced test. Tes formatif
yang diberikan pada akhir satuan pelajaran sesungguhnya bukan sebagai tes
formatif lagi, sebab data-data yang diperoleh akhirnya digunakan untuk
menentukan tingkat hasil belajar siswa. Tes tersebut lebih tepat disebut sebagai
subtes sumatif. Jika dimaksudkan untuk perbaikan proses belajar, maka maksud
itu baru terlaksana pada jangka panjang, yaitu pada saat penyusunan program
tahun berikutnya

9.

Tes Sumatif

Tes sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan
kemajuan belajar siswa. Tes sumatif diberikan saat satuan pengalaman belajar
dianggap telah selesai.
Tes sumatif diberikan dengan maksud untuk menetapkan apakah seorang siswa
berhasil mencapai tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan atau
tidak. Tujuan tes sumatif adalah untuk menentukan angka berdasarkan
tingkatan hasil belajar siswa yang selanjutnya dipakai sebagai angka rapor. Ujian
akhir dan ulangan umum pada akhir semester termasuk ke dalam tes sumatif.
Hasil tes sumatif jga dapat dimanfaatkan untuk perbaikan proses pembelajaran.
Tes sumatif termasuk norm-referencedtest. Cakupan materinya lebih luas dan
soal-soalnya meliputi tingkat mudah, sedang, dan sulit.