Anda di halaman 1dari 18

KEMISKINAN DAN PROGRAM PENGENTASAN SERTA

CARA PENANGGULANGANNYA

Disusun oleh
Faisal Dita N.
041411331231
Ratna Dian Nauvalia
Rizqi Mamluatul M.
Tiara Vindra Prasti
Caesar Ganesha
Mohammad Husen R.
Fadel Kurniawan

041411331244
041411331247
041411331255
041411331261
041411331264
041411333011

DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Kemiskinan merupakan hal yang kompleks karena menyangkut berbagai macam


aspek seperti hak untuk terpenuhinya pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan
sebagainya. penyebab kemiskinan beraneka ragam, mulai dari faktor internal maupun
eksternal dari dalam individu tersebut.
Program pemerintah untuk menangani masalah kemiskinan telah berhasil menurunkan
jumlah penduduk miskin dari 54,2 juta (40,1%) pada tahun 1976 menjadi 22,5 juta (11,3%)
pada tahun 1996. Namun, berbagai hal yang terjadi di Indonesia membawa dampak negatif
bagi kehidupan masyarakat, seperti: krisis ekonomi yang terjadi sejak Juli 1997, bencana
alam gempa bumi, dan tsunami yang terjadi di Aceh dan Sumatra Utara pada akhir Desember
2004. Menurut perhitungan BPS (Biro Pusat Statistik) jumlah penduduk miskin meningkat
menjadi 49,5 juta jiwa (24,2%) pada tahun 1998.
Agar kemiskinan di Indonesia dapat menurun diperlukan dukungan dan kerja sama
dari pihak masyarakat dan keseriusan pemerintah dalam menangani masalah ini. Melihat
kondisi negara Indonesia yang masih memiliki angka kemiskinan tinggi, penulis tertarik
untuk mengangkat masalah kemiskinan di Indonesia dan penanggulangannya. Penulis
berharap dengan karya tulis ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka
mengentaskan kemiskinan dari Negara tercinta ini.
1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka rumusan masalahnya


adalah:
a. Bagaimana kondisi kemiskinan di Indonesia?
b. Faktor apa yang menyebabkan kemiskinan di Indonesia?
c. Bagaimana cara menanggulangi masalah kemiskinan di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ini adalah:


a. Mengetahui kondisi kemiskinan di Indonesia
b. Mengetahui faktor penyebab terjadinya kemiskinan
c. Mengetahui cara menanggulangi kemiskinan
1.4 Metode Penulisan

Penulis menggunakan metode studi pustaka dan browsing internet dalam penulisan
karya tulis.
1.5 Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan karya tulis ini adalah agar masyarakat mengetahui kondisi
kemiskinan di Indonesia dan dapat mencari solusi menanggulanginya. Diharapkan pembaca
dapat membantu pemerintah agar kemiskinan di Indonesia dapat segera teratasi.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan seseorang untuk
memenuhi kebutuhan dasar seperti seperti makanan, pakaian, pendidikan, kesehatan, dll.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun
sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan kadang juga berarti tidak
adnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasimasalah kemiskinan
dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warganegara1
2.2 Kemiskinan di Indonesia
Tabel berikut ini memperlihatkan angka kemiskinan di Indonesia, baik relatif maupun
absolut.
Statistik Kemiskinan dan Ketidaksetaraan di Indonesia

Tabel di atas menunjukkan penurunan kemiskinan nasional secara perlahan. Namun,


pemerintah Indonesia menggunakan persyaratan dan kondisi yang tidak ketat mengenai
definisi garis kemiskinan, sehingga yang tampak adalah gambaran yang lebih positif dari
kenyataannya. Tahun 2014 pemerintah Indonesia mendefinisikan garis kemiskinan dengan
pendapatan perbulannya (perkapita) sebanyak Rp. 312,328. Jumlah tersebut adalah setara
dengan USD $25 yang dengan demikian berarti standar hidup yang sangat rendah, juga untuk
pengertian orang Indonesia sendiri. Namun jika kita menggunakan nilai garis kemiskinan
yang digunakan Bank Dunia, yang mengklasifikasikan persentase penduduk Indonesia yang
hidup dengan penghasilan kurang dari USD $1.25 per hari sebagai mereka yang hidup di
bawah garis kemiskinan, maka persentase tabel di atas akan kelihatan tidak akurat karena
nilainya seperti dinaikkan beberapa persen. Lebih lanjut lagi, menurut Bank Dunia, angka
penduduk Indonesia yang hidup dengan penghasilan kurang dari USD $2 per hari mencapai
1Selengkapnya bisa dilihat di http://id. wikipedia. org/wiki/Kemiskinan

angka 50.6 persen dari jumlah penduduk pada tahun 2009. Ini menunjukkan bahwa sebagian
besar penduduk Indonesia hidup hampir di bawah garis kemiskinan. Laporan terbaru media
di Indonesia menyatakan bahwa sekitar seperempat jumlah penduduk Indonesia (sekitar 60
juta jiwa) hidup sedikit di atas garis kemiskinan.
Program pemerintah untuk menangani masalah kemiskinan telah berhasil menurunkan
jumlah penduduk miskin dari 54,2 juta (40,1%) pada tahun 1976 menjadi 22,5 juta (11,3%)
pada tahun 1996. Namun, berbagai hal yang terjadi di Indonesia membawa dampak negatif
bagi kehidupan masyarakat, seperti: krisis ekonomi yang terjadi sejak Juli 1997, bencana
alam gempa bumi, dan tsunami yang terjadi di Aceh dan Sumatra Utara pada akhir Desember
2004. Menurut perhitungan BPS (Biro Pusat Statistik) jumlah penduduk miskin meningkat
menjadi 49,5 juta jiwa (24,2%) pada tahun 1998.
2.3 Jenis Kemiskinan
Kemiskinan dapat dipandang dari berbagai indikator, antara lain empat indikator yang
dijelaskan oleh Edi Suharto (2006:17-18), berikut ini : Pertama, adalah kemiskinan absolut
yaitu kemiskinan yang diakibatkan oleh ketidakmampuan seseorang atau sekelompok orang
dalam memenuhi kebutuhan pokoknya, seperti untuk makan, pakaian, pendidikan, kesehatan,
transportasi, dan lain-lain. Penentuan kemiskinan absolut ini biasanya diukur melalui batas
kemiskinan atau garis kemiskinan (poverty line) baik berupa indikator tunggal maupun
komposir, seperti nutrisi, kalori, beras, pendapatan, pengeluaran, kebutuhan dasar, atau
kombinasi beberapa indikator. Indikator tersebut biasanya dikonversikan dalam bentuk uang
(pendapatan atau pengeluaran).
Kedua, kemiskinan relatif adalah keadaan miskin yang dialami individu atau
kelompok dibandingkan dengan kondisi umum suatu masyarakat. Jika batas kemiskinan
misalnya Rp 100.000,00 per kapita per bulan, maka seseorang yang memiliki pendapatan Rp
125.000,00 per bulan secara absolut tidak miskin. Namun jika pendapatan rata-rata
masyarakatnya adalah Rp 200.000,00 per orang per bulan, maka secara relatif orang tersebut
termasuk orang miskin.
Ketiga, kemiskinan kultural mengacu pada sikap, gaya hidup, nilai, orientasi sosial
budaya seseorang atau masyarakat yang tidak sejalan dengan etos kemajuan (masyarakat
modern). Sikap malas, tidak memiliki kebutuhan berprestasi (needs for achievement), fatalis,
berorientasi ke masa lalu, tidak memiliki jiwa wirausaha merupakan beberapa karakteristik
yang umumnya dianggap sebagai ciri-ciri kemiskinan kultural.
Keempat, adalah kemiskinan struktural yaitu kemiskinan yang diakibatkan oleh
ketidakberesan atau ketidakadilan struktur, baik struktur politik, sosial, maupun ekonomi

yang tidak memungkinkan seseorang atau sekelompok orang menjangkau sumber-sumber


penghidupan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Misalnya proses dan praktik monopoli
dan oligopoli di bidang ekonomi, melahirkan mata rantai pemiskinan yang sulit dipatahkan.
Sekuat apa pun motivasi dan kerja keras seseorang, dalam kondisi struktural demikian, tidak
akan mampu melepaskan diri dari belenggu kemiskinannya, karena aset yang ada serta akses
terhadap sumber-sumber telah sedemikian rupa dikuasai oleh segolongan orang tertentu.
2.4 Penyebab Kemiskinan
Setiap permasalahan timbul pasti karna ada faktor yang mengiringinya yang
menyebabkan timbulnya sebuah permasalahan, begitu juga dengan masalah kemiskinan yang
dihadapi oleh negara indonesia. Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan
menurut Hartomo dan Aziz dalam Dadan Hudyana (2009:28-29) yaitu :
2.4.1 Pendidikan yang Terlampau Rendah
Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang kurang mempunyai
keterampilan

tertentu

yang

diperlukan

dalam

kehidupannya.

Keterbatasan

pendidikan atau keterampilan yang dimiliki seseorang menyebabkan keterbatasan


2.4.2

kemampuan seseorang untuk masuk dalam dunia kerja.


Malas Bekerja
Adanya sikap malas (bersikap pasif atau bersandar pada nasib) menyebabkan
seseorang bersikap acuh tak acuh dan tidak bergairah untuk bekerja.

2.4.3 Keterbatasan Sumber Alam


Suatu masyarakat akan dilanda kemiskinan apabila sumber alamnya tidak lagi
memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka. Hal ini sering dikatakan
masyarakat itu miskin karena sumberdaya alamnya miskin.
2.4.4 Terbatasnya Lapangan Kerja
Keterbatasan lapangan kerja akan membawa konsekuensi kemiskinan bagi
masyarakat. Secara ideal seseorang harus mampu menciptakan lapangan kerja baru
sedangkan secara faktual hal tersebut sangat kecil kemungkinanya bagi masyarakat
miskin karena keterbatasan modal dan keterampilan.
2.4.5 Keterbatasan Modal
Seseorang miskin sebab mereka tidak mempunyai modal untuk melengkapi
alat maupun bahan dalam rangka menerapkan keterampilan yang mereka miliki
dengan suatu tujuan untuk memperoleh penghasilan.
2.4.6 Beban Keluarga
Seseorang yang mempunyai anggota keluarga banyak apabila tidak diimbangi
dengan usaha peningakatan pendapatan akan menimbulkan kemiskinan karena

semakin banyak anggota keluarga akan semakin meningkat tuntutan atau beban
untuk hidup yang harus dipenuhi.
Suryadiningrat dalam Dadan Hudayana (2009:30), juga mengemukakan bahwa
kemiskinan pada hakikatnya disebabkan oleh kurangnya komitmen manusia
terhadap norma dan nilai-nilai kebenaran ajaran agama, kejujuran dan keadilan.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Gambaran Umum Kemiskinan Di Indonesia
Kemiskinan di Indonesia dan Distribusi Geografis
Salah satu karakteristik kemiskinan di Indonesia adalah perbedaan yang begitu besar
antara nilai kemiskinan relatif dan nilai kemiskinan absolut dalam hubungan dengan lokasi
geografis. Jika dalam pengertian absolut lebih dari setengah jumlah total penduduk Indonesia
yang hidup miskin berada di pulau Jawa (yang berlokasi di bagian barat Indonesia dengan
populasi padat), dalam pengertian relatif propinsi-propinsi di Indonesia Timur menunjukkan
nilai kemiskinan yang lebih tinggi. Tabel di bawah ini menunjukkan lima provinsi di
Indonesia dengan angka kemiskinan relatif yang paling tinggi. Semua provinsi ini berlokasi
di luar wilayah Indonesia Barat seperti Jawa, Sumatra dan Bali, yang adalah wilayah-wilayah
yang lebih berkembang.
Provinsi dengan Angka Kemiskinan Relatif Tinggi

Tingkat kemiskinan di propinsi-propinsi di Indonesia Timur ini, di mana sebagian


besar penduduknya adalah petani, kebanyakan ditemukan di wilayah pedesaan. Di daerah
tersebut masyarakat adat sudah lama hidup di pinggir proses dan program pembangunan.
Migrasi ke daerah perkotaan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan pekerjaan dan dengan demikian - menghindari kemiskinan.
Bertentangan dengan angka kemiskinan relatif di Indonesia Timur, tabel di bawah ini
menunjukkan angka kemiskinan absolut di Indonesia yang berkonsentrasi di pulau Jawa dan
Sumatra.
Propinsi dengan Angka Kemiskinan Absolut Tinggi

Stabilitas harga makanan (khususnya beras) adalah masalah penting bagi Indonesia
sebagai negara yang penduduknya menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk
membeli beras. Oleh karena itu, tekanan inflasi harga beras (misalnya karena gagal panen)
dapat memiliki konsekuensi serius bagi mereka yang miskin atau hampir miskin dan secara
signifikan menaikkan persentase angka kemiskinan di negara ini.

Kemiskinan di Indonesia: Kota dan Desa


Indonesia telah mengalami proses urbanisai yang cepat dan pesat. Sejak pertengahan
1990-an jumlah absolut penduduk pedesaan di Indonesia mulai menurun dan saat ini lebih
dari setengah total penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan (20 tahun yang lalu
sekitar sepertiga populasi Indonesia tinggal di kota).
Kecuali beberapa propinsi, wilayah pedesaan di Indonesia relatifnya lebih miskin
dibanding wilayah perkotaan. Angka kemiskinan pedesaan Indonesia (persentase penduduk
pedesaan yang hidup di bawah garis kemiskinan desa tingkat nasional) turun hingga sekitar
20 persen di pertengahan 1990-an tetapi melonjak tinggi ketika Krisis Finansial Asia
(Krismon) terjadi antara tahun 1997 dan 1998, yang mengakibatkan nilainya naik mencapai
26 persen. Setelah tahun 2006, terjadi penurunan angka kemiskinan di pedesaan yang cukup
signifikan seperti apa yang ditunjukkan tabel dibawah ini:

Angka kemiskinan kota adalah persentase penduduk perkotaan yang tinggal di bawah
garis kemiskinan kota tingkat nasional. Tabel di bawah ini, yang memperlihatkan tingkat

kemiskinan perkotaan di Indonesia, menunjukkan pola yang sama dengan tingkat kemiskinan
desa: semakin berkurang mulai dari tahun 2006.

Dalam dua tabel di atas, terlihat bahwa pada tahun 2005 dan 2006 terjadi peningkatan
angka kemiskinan. Ini terjadi terutama karena adanya pemotongan subsidi BBM yang
dilakukan oleh pemerintahan presiden SBY diakhir tahun 2005. Harga minyak yang secara
internasional naik membuat pemerintah terpaksa mengurangi subsidi BBM guna
meringankan defisit anggaran pemerintah. Konsekuensinya adalah inflasi dua digit antara 14
sampai 19 persen (yoy) terjadi sampai oktober 2006.
3.2 Faktor Yang Mempengaruhi Kemiskinan di Indonesia
3.2.1 Tingkat Pendidikan Yang Dituntaskan Penduduk
Indikator bahwa kemiskinan semakin banyak adalah dengan sulitanya mengakses
pendidikan dan berimbas kepada rendahnya kualitas sumber daya manusia. Sebagai contoh,
hasil penelitian Cameron (2000)2 tentang kemiskinan di Jawa Barat yang menyimpulkan
bahwa pengurangan kemiskinan diasosiasikan dengan meningkatnya pencapaian pendidikan
dan peningkatan pendapatan dari tenaga kerja terdidik.
Pendidikan adalah faktor penting dalam upaya pengentasan kemiskinan. Pendidikan
memberikan stimulus daya saing bagi individu untuk bisa menambah nilai jual sehingga bisa
mendapat penghasilan yang lebih dan memenuhi kebutuhan pokok. Dan dari tahun ke tahun,
Indonesia mengalami pengurangan jumlah penduduk yang buta huruf.
Presentase Penduduk yang Buta Huruf berdasarkan Umur
Tahun
2009
2010
2011
2012
2013

15
7,42
7,09
7,56
7,03
6,08

Usia
15-44
1,80
1,71
2,31
2,03
1,61

45+
18,68
18,25
18,15
17,17
15,15

2Cameron, Lisa A. 2000. Journal of Development Economics. Poverty and Inequality in Java: Examining the
Impact of The Changing Age, Educational, and Industrial Structure, Vol. 62 hlm. 175-176

Sumber: Badan Pusat Statistik


Dengan program pendidikan yang dicanangkan pemerintah yaitu wajib belajar 12
tahun, serta digratiskannya biaya sekolah untuk jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah
Menengah Pertama berpengaruh terhadap presentase penduduk buta huruf. Selain itu dengan
pendidikan yang semakin membaik, Indonesia juga tercatat membaik di The Global
Competitiveness Report 2013-2014 (laporan tahunan daya saing global tahun 2013-2014)
yang dibuat oleh World Economic Forum (WEF) menempatkan Indonesia pada posisi ke 38
dari 148 negara di dunia. Pada kawasan ASEAN posisi daya saing Indonesia berada posisi
kelima di bawah Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand.

Peringkat Daya Saing Beberapa Negara ASEAN Tahun 2014


NEGARA
Singapura
Malaysia
Brunei D
Thailand
Indonesia
Filipina
Vietnam
Kamboja

PERINGKAT
2
24
26
37
38
59
70
88

Sumber: WEF (2014)

Namun jika situasi ini tidak dipertahankan, Indonesia akan kembali mundur secara
progress. Kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap pendidikan seperti kurikulum dan hal-hal
teknis lainnya bisa berpengaruh kepada minat masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Hal
ini menjadi krusial karena pendidikan adalah sumber dari daya saing sebuah negara.
3.2.2 Kesempatan Kerja Kurang Memadai
Keadaan atau kondisi kependudukan yang ada sangat mempengaruhi dinamika
pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah. Jumlah penduduk yang besar, jika
diikuti dengan dengan kualitas penduduk yang memadai, akan menjadi pendorong bagi
pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, jumlah penduduk yang besar jika diikuti dengan kualitas
yang rendah, menjadikan penduduk tersebut sebagai beban bagi pembangunan nasional.

Banyaknya tenaga kerja yang terserap oleh suatu sektor perekonomian, dapat
digunakan untuk menggambarkan daya serap sektor perekonomian tersebut terhadap
angkatan kerja. Sepanjang sejarah, pertambahan penduduk merupakan sumber terpenting atas
bertambahnya output yang dinikmati seluruh dunia. Jumlah penduduk yang meningkat
hampir selalu mengarah pada naiknya total output.
Namun ketika jumlah penduduk bertambah dan tidak di imbangi dengan kesempatan
kerja yang rendah maka akan menimbulkan kemerosotan ekonomi karena akan berdampak
kepada bertambahnya jumlah pengangguran. Pengangguran terjadi kepada tidak hanya
mereka yang tidak berpendidikan, namun juga mereka yang terdidik secara formal. Menurut
Sadono Sukirno (2004 : 84)3, pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang yang
tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat
memperolehnya. Seseorang yang tidak bekerja, tetapi tidak secara aktif mencari pekerjaan
tidak tergolong sebagai penganggur. Faktor utama yang menimbulkan pengangguran adalah
kekurangan pengeluaran agregat.
Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi Tahun 2011-2014*
2011
No
.

Pendidikan
Tertinggi Yang
Ditamatkan

Tidak/belum
pernah sekolah

Februari

96 852

2012

Agustus

205 218

Februari

129 258

2013

Agustus

86 397

Februari

113 389

2014*

Agustus

Februari

81 432
134040

566 349

748 742

602 511

513 875

523 936

489 152

Belum/tidak
tamat SD
SD

1 281 605

1 233 475

1 404 892

1 447 454

1 416 155

1 347 555

1374822

SLTP

1 796 178

2 117 407

1 710 992

1 703 326

1 811 920

1 689 643

1693203

SLTA Umum

2 326 651

2 374 469

2 014 074

1 854 362

1 859 727

1 925 660

1893509

SLTA Kejuruan

1 077 462

1 157 813

1 002 867

1 058 412

857 585

1 258 201

Diploma
I,II,III/Akadem
i

455 367

279 921

253 840

198 688

195 427

185 103

Universitas

619 617

542 682

546 294

443 518

421 073

434 185

398298

8 220 081

8 659 727

7 664 728

7 306 032

7 199 212

7 410 931

7147069

Total

610574

847365

195258

Sumber: Badan Pusat Statistik

Sementara dengan rendahnya penyerapan tenaga kerja muncul masalah baru dengan
berubahnya status seseorang menjadi pengangguran. Menurut Gregory Mankiw (2006 :
154)4, pengangguran adalah masalah makroekonomi yang mempengaruhi manusia secara
3Sukirno, Sadono. (2004). Makro Ekonomi. Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
4Mankiw, Gregory. (2006). Makroekonomi Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.

langsung dan merupakan masalah yang paling berat. Bagi kebanyakan orang, kehilangan
pekerjaan berari penurunan standar kehidupan dan tekanan psikologis. Kesempatan kerja
berdampak beruntun, bertahapn, dan luas.
3.2.3 Distribusi Pendapatan Tidak Merata
Distribusi pendapatan nasional merupakan unsur penting untuk mengetahui tinggi
atau rendahnya kesejahteraan atau kemakmuran suatu negara. Distribusi pendapatan yang
merata kepada masyarakat akan mampu menciptakan perubahan dan perbaikan suatu negara
seperti

peningkatan

pertumbuhan

ekonomi,

pengentasan

kemiskinan,

mengurangi

pengangguran, dan sebagainya. Sebaliknya, jika distribusi pendapatan nasional tidak merata,
maka perubahan atau perbaikan suatu negara tidak akan tercapai, hal seperti ini yang akan
menunjukkan adanya ketimpangan distribusi pendapatan.
Isu tidak meratanya distribusi pendapatan adalah salah satu yang hangat dibicarakan
karena membuat kondisi masyarakat seolah-olah dipertanyakan. Maksudnya adalah dengan
tidak meratanya distribusi pendapatan, ada potensi hak yang layak diterima masyarakat tidak
sepenuhnya diterima dan bisa menimbulkan keresahan bahkan konflik. Mungkin banyak
pertanyaan tentang kebijakan pemerintah terkait peningkatan kesejahteraan, contohnya soal
pendidikan atau kesehata ; Apakah keberhasilan pembangunan bidang pendidikan dan
kesehatan, misalnya, dinikamati juga oleh masyarakat kurang mampu?
3.2.4 Ketidakstabilan Politik
Stabilisasi perekonomian dari suatu negara sangat jelas dipengaruhi oleh faktor politik
dan keamanan, yang juga sangat penting ketimbang variabel ekonomi makro lainnya. Tanpa
stabilitas politik dan keamanan yang kondusif dari suatu negara, ekonomi tidak akan bisa
berbuat banyak terutama dalam hubungannya dengan posisi dari suatu negara dalam
memperbaiki variabel-variabel ekonomi.
Apabila situasi politik memanas maka perekonomian Indonesia akan terkena
dampaknya. Jika merujuk kepada sejarah, ketidakstabilan politik terlihat jelas berdampak
kepada perekonomian di tahun 1997-1999. Gagalnya manajemen di zaman pemerintahan
Soeharto membuat hutang luar negeri sulit dibayar. Belum lagi lamanya durasi Soeharto saat
menjabat sebagai presiden yang dianggap sebagai pemimpin yang otoriter memaksa rakyat
menggulingkan Soeharto dari kursi presiden.
Pada saat seorang kepala negara

dijatuhkan

akibat

ketidakmampuannya

menanggulangi masalah yang ada membuat sentiment negatif dari asing. Perekonomian
anjlok, nilai tukar rupiah terhadap dollar melemah, dan investor enggan untuk menanamkan
modal di Indonesia karena melihat kepala negara Indonesia, sebagai seorang yang bertugas

membuat keputusan sekaligus sebagai representasi negara tidak ada untuk menjalankan
kewajibannya sehingga Indonesia menjadi negara yang tidak direkomendasikan untuk di buat
sebagai tempat investasi.
Tidak hanya perekonomian, ketidakstabilan merembet ke hal-hal lain seperti
kriminalitas dan SARA yang jika ditarik benang merahnya, semua konflik bangkit justru
bermuara kepada motif ekonomi. Kriminalitas dimana-mana, penjarahan toko-toko dari
pengusaha keturunan etnis Tionghoa, serta kekerasan lain yang dampaknya memperburuk
situasi perekonomian Indonesia.
Sekarang, percikan-percikan kecil mulai kembali memantik ketika Pilpres kemarin
menyisakan dua kandidat calon presiden. Ibarat babak adu pinalti, satu pihak pasti menang
dan satu harus menerima kekalahan. Persaingan yang terus berlanjut hingga ke ranah-ranah
yang jika dikuasai atas nama kepentingan, maka akan muncul regulasi-regulasi yang kurang
ideal kedepannya. Sangat sulit menjauhkan kemiskinan dengan situasi politik.
3.3 Upaya Pemerintah Menanggulangi Kemiskinan
Jumlah orang miskin di Indonesia senantiasa menunjukkan angka yang tinggi, baik
secara absolut maupun relatif, di pedesaan maupun perkotaan. Meskipun Indonesia pernah
dicatat sebagai salah satu negara berkembang yang sukses dalam mengentaskan kemiskinan,
ternyata masalah kemiskinan kembali menjadi isu sentral di Tanah Air karena bukan saja
jumlahnya yang kembali meningkat, melainkan dimensinya pun semakin kompleks seiring
dengan menurunnya kualitas hidup masyarakaat akibat terpaan krisis ekonomi sejak tahun
1997.
Dari empat jenis kemiskinan yang dijelaskan oleh Edi Suharto (2006:17-18):
kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, kemiskinan kultural, dan kemiskinan struktural maka
terdapat beberapa alternatif kebijakan guna mengatasi permasalahan tersebut, antara lain:
a. Kemiskinan Absolut
1. Program beras untuk rakyat miskin (raskin)
2. Bantuan kesehatan gratis untuk berobat di Puskesmas dan Rumah Sakit
dilaksanakan melalui pemberian Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin
3.

(Askeskin).
Pembangunan perumahan rakyat, atau rumah sederhana dan rumah susun

4.

sederhana.
Bantuan untuk sekolah/pendidikan, termasuk peningkatan kesejahteraan guru dan
guru agama; program Bantuan Operasional Sekolah (BOS); peningkatan
pelayanan pendidikan kesetaraan Paket A dan B untuk penduduk tidak bersekolah

5.

dan putus sekolah.


Program pengadaan air bersih untuk rakyat.

b. Kemiskinan Relatif
1. Bantuan langsung tunai (BLT) pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 dilakukan
program bantuan langsung tunai bersyarat guna memutus rantai kemiskinan
2.
3.

antar-generasi.
Program bantuan untuk petani dan peningkatan produksi pangan.
Peningkatan kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil, termasuk prajurit TNI dan Polri
dilakukan dengan meningkatkan gaji pokok dan tunjangan secara cukup tajam,

4.

termasuk untuk lauk pauk TNI dan Polri, serta pemberian gaji ke tigabelas.
Peningkatan kesejahteraan buruh dilakukan melalui pemberian Jaminan Sosial
Pekerja yang meliputi Jaminan hari tua, jaminan pemeliharaan kesehatan,
jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan PHK dengan sistem
Asuransi. Juga dilakukan pembangunan fasilitas perumahan pekerja dengan

5.

membangun rumah susun sewa.


Bantuan untuk para penyandang cacat diberikan dalam bentuk jaminan
kesejahteraan sosial.

c. Kemiskinan Kultural
1. Program pemberian kredit mikro serta dana bergulir untuk koperasi, usaha kecil,
dan menengah. Pemerintah mengembangkan Program Pembiayaan Produktif
Koperasi dan Usaha Mikro yang dikenal dengan P3KUM dan disalurkan melalui
2.

Lembaga Keuangan Mikro berkualitas.


Program pemberian bantuan untuk nelayan dan sektor perikanan, pemerintah
telah melaksanakan kegiatan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir, dan
pemberian dana penguatan modal usaha budidaya.

d. Kemiskinan Struktural
1. Pembangunan infrastruktur perdesaan yang meliputi jembatan dan jalan desa,
2.

irigasi, tambatan perahu, air bersih dan sanitasi.


Program pembangunan bioenergi untuk rakyat, termasuk pembangunan Desa

3.
4.

Mandiri Energi khususnya pengganti minyak tanah.


Program Reforma Agraria untuk pendistribusian tanah bagi rakyat.
Pelayanan publik yang lebih cepat dan murah untuk rakyat diwujudkan baik
dalam pengurusan Kartu Tanda Penduduk, pengurusan SIM, STNK, BPKP,
Paspor, hingga pelayanan pembayaran Pajak, Kepabeanan dan Cukai. Perbaikan
pelayanan dilakukan baik dengan melakukan penyederhanaan prosedur, kepastian
tarif/harga, serta kecepatan pelayanan dengan melakukan modernisasi dan
penerapan sistem teknologi berbasis elektronik. Pemerintah juga telah memulai

program pemberian akta kelahiran gratis di 100 kabupaten pada 2006, dan akan
5.

ditingkatkan pada 256 kabupaten kota pada tiga tahun selanjutnya.


Minimalisasi terhadap praktek monopoli dan oligopoli di bidang ekonomi, agar

6.

masyarakat dapat berusaha melalui persaingan ekonomi yang wajar dan sehat.
Terciptanya lapangan kerja baru bagi usia produktif kerja yang belum terserap di

7.

dunia kerja sektor formal maupun informal.


Menyediakan berbagai bentuk pelatihan kerja bagi usia kerja produktif yang tidak
tertampung di dunia pendidikan formal agar mereka dapat memiliki jiwa
wirausaha.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasar pembahasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain :
a. Berdasar data tahun 2006-2014 kemiskinan di Indonesia terus mengalami penurunan
dari 17,8% menjadi 11,0% dari populasi penduduk Indonesia
b. Prosentase tertinggi penduduk miskin berada di provinsi - provinsi di Indonesia timur
c. Beberapa faktor yang menyebabkan kemiskinan di Indonesia adalah rendahnya
tingkat pendidikan, kesempatan kerja yang kurang memadai, distribusi pendapatan
yang tidak merata, dan ketidakstabilan politik
d. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam mengurangi angka kemiskinan
seperti peningkatan sarana dan prasarana, pemberian bantuan kredit usaha mikro,
Bantuan Langsung Tunai, dan berbagai program peningkatan kesejahteraan
masyarakat
4.2 Saran
a. Program - program pengentasan kemiskinan harus berkelanjutan walaupun pemegang
kekuasaan berubah - ubah agar tujuan tetap dapat tercapai
b. Setiap program yang dilakukan oleh pemerintah dalam upaya mengentaskan
kemiskinan harus selalu diawasi agar tetap berjalan sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan
c. Program - progam yang diberikan sebaiknya bersifat memberikan kemampuan pada
masyarakat agar dapat memberdayakan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya agar
dapat maju bersama

DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI Direktorat Jenderal Informasi Dan Komunikasi
Publik (2011) Program Pengentasan Kemiskinan Kabinet Indonesia Bersatu II
Mankiw, Gregory. (2006). Makroekonomi Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Nugroho, Iwan dan Dahuri, Rochmin. (2004). Pembangunan Wilayah, Perspektif Ekonomi,
Sosial dan Lingkungan. Jakarta: LP3ES.
[Online]http://id. wikipedia. org/wiki/Kemiskinan
[Online] http://bps. go. id/menutab. php?tabel=1&kat=1&id_subyek=23
Schrool, J. W. (1981). Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara
Sedang Berkembang. Jakarta : PT. Gramedia
Stamboel, K. A. (2012). Panggilan keberpihakan: Strategi Mengakhiri Kemiskinan Di
Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suharto, E. (2008). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung:
Refika Aditama
Sukirno, Sadono. (2004). Makro Ekonomi. Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sukirno, Sadono. (2007). Ekonomi Pembangunan Jakarta: Penerbit Kencana
Suparlan, Parsudi. (1993). Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Yayasan Obor Jakarta
Astika, KS. (2010). Jurnal Ilmiah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Budaya Kemiskinan
Di Masyarakat: Tinjauan Kondisi Kemiskinan Dan Kesadaran Budaya Miskin Di
Masyarakat. , 1 (1), hlm. 20
Multifah. (2011). Jurnal of Indonesian applied Economics. Telaah Kritis Kebijakan
Penanggulan Kemiskinan dalam Tinjauan Konstitusi. Vol. 5 No. 1 Mei 2011, 1-27