Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyebab kematian terbesar di dunia beberapa dekade terakhir ini adalah penyakit
jantung dan pembuluh darah seperti gagal jantung, aritmia jantung, angina pectoris dan
hipertensi. Sistem sirkulasi tubuh manusia yang terdiri atas jantung dan pembuluh darah
disebut sistem kardiovaskuler.
Sistem kardiovaskuler adalah suatu sistem yang sangat dinamik,yang harusmampu
berdaptasi cepat terhadap perubahan mendadak seperti perubahan terkanan darah,kerja dan
frekuensi jantung serta komponen kardiovaskuler lain yang merupakanresultante dari
berbagai faktor pengatur yang bekerja secara serentak. Banyak obat yangdapat
mempengaruhi fungsi fisiologis dan biokimia kardiovaskuler seperti stimulansiasistem saraf
pusat, depresansia sistem saraf pusat dan obat otonom. Yang dimaksudkan dengan obat
kardiovaskuler ialah obat yang mempunyai efek utama pada jantung dan pembuluh darah.
Penggunaan obat-obat kardiovaskuler dengan terapi kombinasi rentan terhadap salah satu
masalah terkait obat (drug related problem) yaitu interaksi obat.
Interaksi obat diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat yang dapat
mempengaruhi out come klinis pasien. Interaksi obat dapat terjadi jika suatu obat mengubah
efek obat lainnya. Kerja obat yang diubah dapat menjadi lebih atau kurang reaktif. Reaksi
perorangan sangat beragam. Faktor yang dapat mempengaruhi antara lain sifat keturunan,
fungsi hati dan ginjal, usia, ada tidaknya penyakit penyerta, jumlah obat yang digunakan,
lama pengobatan, jarak waktu antara penggunaan lebih dari satu obat,dan obat mana yang
digunakan mula-mula. Karena itu efek yang terjadi mungkin saja tidak berarti apa-apa bagi
seseorang tetapi sangat berbahaya bagi orang lain.
Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan toksisitas
dan atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi terutama bila menyangkut obat
dengan batas keamanan yang sempit. Hal mendasar ini yang diperlu disadari untuk kemudian
menjadi pertimbangan dalam penggunaan terapi kombinasi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan interaksi obat?
2. Apa yang dimaksud dengan obat kardiovaskular?
3. Obat apa saja yang dapat berinteraksi dengan obat kardiovaskular?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian interaksi obat

2. Mengertahui pengertian obat kardiovaskular


3. Mengetahui jenis obat yang dapat berinteraksi dengan obat kardiovaskular

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Interaksi Obat


A. Definisi
Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat(Drug related
problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat yang dapat
mempengaruhi outcome klinis pasien. Sebuah interaksi obat terjadi ketikafarmakokinetika
atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh kehadiran satu atau lebih zat yang
berinteraksi (Piscitelli, 2005).
Dua atau lebih obat yang diberikan pada waktu yang sama dapat berubah efeknya
secara tidak langsung atau dapat berinteraksi. Interaksi bisa bersifat potensiasi atau antagonis
efek satu obat oleh obat lainnya, atau ada kalanya beberapa efek lainnya (BNF 58, 2009).
Suatu interaksi terjadi ketika efek suatu obat diubah oleh kehadiran obat lain,obat herbal,
makanan, minuman atau agen kimia lainnya dalam lingkungannya. Definisi yang lebih
relevan kepada pasien adalah ketika obat bersaing satu dengan yang lainnya, atau apa yang
terjadi ketika obat hadir bersama satu dengan yang lainnya (Stockley, 2008).
Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan toksisitas
dan atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi terutama bila menyangkut obat
dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah),misalnya glikosida jantung,
antikoagulan, dan obat-obat sitostatik (Stockley, 2008).
B. Mekanisme
1. Interaksi Farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik terjadi ketika suatu obat mempengaruhi absorbsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi obat lainnya sehingga meningkatkan atau mengurangi jumlah
obat yang tersedia untuk menghasilkan efek farmakologisnya (BNF 58, 2009).
Menurut Stockley (2008), interaksi farmakokinetik terdiri dari beberapa tipe :
a. Interaksi pada absorbsi obat
-

Efek perubahan pH gastrointestinal


Obat melintasi membran mukosa dengan difusi pasif tergantung padaapakah obat
terdapat dalam bentuk terlarut lemak yang tidak terionkan. Absorpsi ditentukan oleh
nilai pKa obat, kelarutannya dalam lemak, pH isi usus dan sejumlah parameter yang
terkait dengan formulasi obat.

Adsorpsi, khelasi, dan mekanisme pembentukan komplek


Arang aktif dimaksudkan bertindak sebagai agen penyerap di dalam usus untuk
pengobatan overdosis obat atau untuk menghilangkan bahan beracun lainnya, tetapi

dapat mempengaruhi penyerapan obat yang diberikan dalam dosis terapetik. Antasida
juga dapat menyerap sejumlah besar obat-obatan.
-

Perubahan motilitas gastrointestina


Karena kebanyakan obat sebagian besar diserap di bagian atas usus kecil, obat-obatan
yang mengubah laju pengosongan lambung dapatmempengaruhi absorpsi.

Induksi atau inhibisi protein transporter obat


Ketersediaan hayati beberapa obat dibatasi oleh aksi protein transporter obat. Saat ini,
transporter obat yang terkarakteristik paling baik adalah P-glikoprotein. Digoksin
adalah substrat P-glikoprotein, dan obat-obatanyang menginduksi protein ini, seperti
rifampisin, dapat mengurangiketersediaan hayati digoksin.

Malabsorbsi dikarenakan obat


Neomisin menyebabkan sindrom malabsorpsi dan dapat mengganggu penyerapan
sejumlah obat-obatan termasuk digoksin dan metotreksat.

b. Interaksi pada distribusi obat


-

Interaksi ikatan protein


Setelah absorpsi, obat dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh oleh sirkulasi.
Beberapa obat secara total terlarut dalam cairan plasma, banyak yang lainnya
diangkut oleh beberapa proporsi molekul dalam larutan dansisanya terikat dengan
protein plasma, terutama albumin. Ikatan obat dengan protein plasma bersifat
reversibel, kesetimbangan dibentuk antara molekul-molekul yang terikat dan yang
tidak. Hanya molekul tidak terikat yang tetap bebas dan aktif secara farmakologi.

Induksi dan inhibisi protein transport obat


Distribusi obat ke otak, dan beberapa organ lain seperti testis, dibatasi oleh aksi
protein transporter obat seperti P-glikoprotein. Protein ini secara aktif membawa obat
keluar dari sel-sel ketika obat berdifusi secara pasif. Obat yang termasuk inhibitor
transporter dapat meningkatkan penyerapan substrat obat ke dalam otak, yang dapat
meningkatkan efek samping CNS.

c. Interaksi pada metabolisme obat


-

Perubahan pada metabolisme fase pertama


Beberapa metabolisme obat terjadi di dalam serum, ginjal, kulit dan usus,tetapi
proporsi terbesar dilakukan oleh enzim yang ditemukan di membrane retikulum
endoplasma sel-sel hati. Ada dua jenis reaksi utama metabolism obat. Yang pertama,
reaksi tahap I (melibatkan oksidasi, reduksi atau hidrolisis) obat-obatan menjadi
senyawa yang lebih polar. Sedangkan reaksi tahap II melibatkan terikatnya obat

dengan zat lain (misalnya asam glukuronat, yang dikenal sebagai glukuronidasi)
untuk membuat senyawa yang tidak aktif. Mayoritas reaksi oksidasi fase I dilakukan
oleh enzim sitokrom P450.
-

Induksi Enzim
Ketika barbiturat secara luas digunakan sebagai hipnotik, perlu terus dilakukan
peningkatan dosis seiring waktu untuk mencapai efek hipnotik yang sama, alasannya
bahwa barbiturat meningkatkan aktivitas enzim mikrosom sehingga meningkatkan

laju metabolisme dan ekskresinya.


Inhibisi Enzim
Inhibisi enzim menyebabkan berkurangnya metabolisme obat, sehingga obat
terakumulasi di dalam tubuh. Berbeda dengan induksi enzim, yang mungkin
memerlukan waktu beberapa hari atau bahkan minggu untuk

berkembang

sepenuhnya, inhibisi enzim dapat terjadi dalam waktu 2 sampai 3 hari, sehingga
terjadi perkembangan toksisitas yang cepat. Jalur metabolisme yang paling sering
dihambat adalah fase I oksidasi oleh isoenzim sitokrom P450. Signifikansi klinis dari
banyak interaksi inhibisi enzim tergantung pada sejauh mana tingkat kenaikan serum
obat. Jika serum tetap berada dalam kisaran terapeutik interaksi tidak penting
-

secaravklinis
Faktor genetik dalam metabolisme obat
Peningkatan pemahaman genetika telah menunjukkan bahwa beberapa isoenzim
sitokrom P450 memiliki polimorfisme genetik, yang berarti bahwa beberapa dari
populasi memiliki varian isoenzim yang berbeda aktivitas. Kemampuan yang berbeda
dalam metabolisme obat-obatan tertentu dapat menjelaskan mengapa beberapa pasien
berkembang mengalami toksisitas ketika diberikan obat sementara yang lain bebas

dari gejala.
Interaksi isoenzim sitokrom P450 dan obat yang diprediksi
Siklosporin dimetabolisme oleh CYP3A4, rifampisin menginduksi isoenzim ini,
sedangkan ketokonazol menghambatnya, sehingga tidak mengherankan bahwa
rifampisin mengurangi efek siklosporin sementara ketokonazol meningkatkannya.

d. Interaksi pada ekskresi obat


- Perubahan pH urin
Pada nilai pH tinggi (basa), obat yang bersifat asam lemah (pka 3 7,5) sebagian
besar terdapat sebagai molekul terionisasi larut lipid, yang tidak dapat berdifusi ke
dalam sel tubulus dan karenanya akan tetap dalam urindan dikeluarkan dari tubuh.
Sebaliknya, basa lemah dengan nilai pKa 7,5 sampai 10,5. Dengan demikian,

perubahan pH yang meningkatkan jumlah obat dalam bentuk terionisasi,


-

meningkatkan hilangnya obat.


Perubahan ekskresi aktif tubular renal
Obat yang menggunakan sistem transportasi aktif yang sama di tubulusginjal dapat

bersaing satu sama lain dalam hal ekskresi.


Perubahan aliran darah renal
Aliran darah melalui ginjal dikendalikan oleh produksi vasodilator prostaglandin
ginjal. Jika sintesis prostaglandin ini dihambat, ekskresi beberapa obat dari ginjal
dapat berkurang.
2. Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi yang terjadi antara obat yang memiliki efek
farmakologis, antagonis atau efek samping yang hampir sama. Interaksi ini dapat
terjadi karena kompetisi pada reseptor atau terjadi antara obat-obat yang bekerja pada
sistem fisiologis yang sama. Interaksi ini biasanya dapat diprediksi dari pengetahuan
tentang farmakologi obat-obat yang berinteraksi(BNF 58, 2009).
Menurut Stockley (2008), interaksi farmakodinamik terbagi atas :
a. Interaksi sinergis atau aditif
Jika dua obat yang memiliki efek farmakologis yang sama diberikan bersamaan
efeknya bisa bersifat aditif. Sebagai contoh, alkohol menekan SSP, jika diberikan
dalam jumlah sedang dosis terapi normal sejumlah besar obat (misalnya ansiolitik,
hipnotik, dan lain-lain), dapat menyebabkan mengantuk berlebihan. Kadangkadang

efek

aditif

menyebabkan

toksik

(misalnya

aditif

ototoksisitas,

nefrotoksisitas, depresi sumsum tulang dan perpanjangan interval QT).


b. Interaksi antagonis atau berlawanan
Berbeda dengan interaksi aditif, ada beberapa pasang obat dengankegiatan yang
bertentangan satu sama lain. Misalnya kumarin dapat memperpanjang waktu
pembekuan darah yang secara kompetitif menghambat efek vitamin K. Jika
asupan vitamin K bertambah, efek dari antikoagulan oraldihambat dan waktu
protrombin dapat kembali normal, sehingga menggagalkan manfaat terapi
pengobatan antikoagulan.
2.2 Obat Kardiovaskuler
A. Definisi
Obat kardiovaskuler merupakan obat yang digunakan untuk kelainan jantung dan
pembuluh darah (Suparyanto, 2010)
B. Penggolongan Obat Jantung

Obat jantung dikelompokkan dalam 6 bagian, yaitu:


1) Obat Angina
Obat angina mengurangi nyeri angina dengan cara memperbaiki pasokan darah dan
oksigen kejantung. Penggolongan dan mekanisme kerja obat anti angina:
a. Golongan nitrat
Senyawa nitrat bekerja langsung merelaksasi otot polos pembuluh vena, tanpa bergantung
pada sistem persarafan miokardium. Dilatasi vena menyebabkan alir balik vena berkurang
sehingga mengurangi beban hulu jantung. Selain itu, senyawa nitrat juga merupakan
vasodilator koroner yang poten.

Gliseril trinitrat
Isosorbid dinitrat
Isosorbid mononitrat
Pentaeritritol tetranitrat

b. Golongan antagonis kalsium


Antagonis kalsium bekerja dengan cara menghambat influks ion kalsium transmembran,
yaitu mengurangi masuknya ion kalsium melalui kanal kalsium lambat ke dalam sel otot
polos, otot jantung dan saraf. Berkurangnya kadar kalsium bebas di dalam sel-sel tersebut
menyebabkan berkurangnya kontraksi otot polos pembuluh darah (vasodilatasi), kontraksi
otot jantung (inotropik negatif), serta pembentukan dan konduksi impuls dalam jantung
(kronotropik dan dromotropik negatif).

Amplidipin besilat
Diltiazem hidroklorida
Nikardipin hidroklorida
Nifedipin
Nimodipin

c. Golongan beta-bloker
Obat-obat penghambat adrenoseptor beta (beta-bloker) menghambat adrenoseptor-beta di
jantung, pembuluh darah perifer, bronkus, pankreas, dan hati. Saat ini banyak tersedia
beta-bloker yang pada umumnya menunjukkan efektifitas yang sama. Namun, terdapat
perbedaan-perbedaan diantara berbagai beta-bloker, yang akan mempengaruhi pilihan
dalam mengobati penyakit atau pasien tertentu. Beta-bloker dapat mencetuskan asma dan
efek ini berbahaya. Karena itu, harus dihindarkan pada pasien dengan riwayat asma atau
penyakit paru obstruktif menahun.

Propranolol hidroklorida
Asebutolol

Atenolol
Betaksolol
Bisoprolol fumarat
Karvedilol
Labetalol hidrklorida
Metoprolol tartrat
Nadolol
Oksprenolol hidroklorida
Pindolol
Sotalol hidroklorida
2) Antiaritmia
Obat ini menormalkan kembali denyut jantung yang tak teratur. Penggolongan dan
mekanisme kerja obat antiaritmia :
a. Aritmia supraventrikel
Adenosin biasanya obat terpilih untuk menghentikan takikardia supraventrikel
paroksismal. Karena masa kerjanya pendek sekali (waktu paruhnya hanya 8-10 detik,
tapi memanjang jika diberikan bersama dipiradamol), kebanyakan efek sampingnya
berlangsung singkat. Berbeda dengan verapamil, adenosin dapat digunakan setelah
beta-bloker. Pada asma, lebih baik dipilih verapamil daripada beta-bloker.
Glikosida jantung oral merupakan obat terpilih untuk memperlambat respon ventrikel
pada kasus fibrilasi dan flutter atrium. Digoksin intravena, yang diinfus pelan-pelan,
kadang-kadang dibutuhkan bila kecepatan ventrikel perlu dikendalikan dengan cepat.
Verapamil biasanya efektif untuk takikardia ventrikel. Dosis intravena awal dapat
diikuti dengan dosis oral, hipotensi dapat terjadi dengan dosis yang lebih besar.
Adenosin
Verapamil
Glikosida jantung
b. Aritmia Supraventrikel dan Ventrikel
Obat-obat untuk aritmia supraventrikel dan ventrikel misalnya amiodaron, betabloker, disopiramid, flekainid, prokainamid, propafenon, dan klinidin.
Amiodaron
Beta-bloker
Disopiramid
Flekainid
Prokainamid
Propafenon
Kinidin
c. Aritmia Ventrikel

Lidokain (lignokain) ralatif aman bila diberikan sebagai injeksi intravena lambat
dan harus menjadi pilihan utama dalam keadaan darurat.
Meksiletin diberikan sebagai injeksi intravena lambat bila lidokain tidak efektif,
obat ini memiliki kerja yang serupa.Morasilin adalah obat untuk profilaksis dan
pengobatan aritmia ventrikel yang serius dan mengancam jiwa.
Fenitoin dulu dipakai untuk aritmia ventrikel, dengan injeksi intravena lambat
terutama yang disebabkan oleh glikosida jantung, tapi penggunaan ini sekarang sudah
ditinggalkan.
Tokainid dulu digunakan untuk takiaritmia ventrikel yang mengancam jiwa dan
disertai dengan gangguan berat fungsi ventrikel kiri pada pasien yang tidak responsif
dengan terapi lain atau yang terapi lain merupakan kontraindikasi, sekarang obat ini
tidak lagi tersedia.
Bretilium
Lidokain
Meksiletin
Morasilin
Fenitoin
Tokainid
3) Obat Jantung Pemblok Beta
Pemblok beta adalah obat jantung yang banyak fungsinya. Di samping
menghilangkan nyeri angina dan menormalkan kembali denyut jantung, obat ini juga
efektif menurunkan tekanan darah. Pemblok beta juga digunakan untuk maksud lain
seperti mencegah sakit kepala migrain.
Obat golongan inin menekan aktifitas jantung dengan cara menghambat reseptor I
dan mengurangi kerja jantung dengan cara menurunkan denyut, kontraktilitas, dan curah
jantung, serta tekanan darah.
Obat-obat penghambat adrenoseptor beta (beta-bloker) menghambat adrenoseptorbeta di jantung, pembuluh darah perifer, bronkus, pankreas, dan hati. Saat ini banyak
tersedia beta-bloker yang pada umumnya menunjukkan efektifitas yang sama. Namun,
terdapat perbedaan-perbedaan diantara berbagai beta-bloker, yang akan mempengaruhi
pilihan dalam mengobati penyakit atau pasien tertentu. Beta-bloker dapat mencetuskan
asma dan efek ini berbahaya. Karena itu, harus dihindarkan pada pasien dengan riwayat
asma atau penyakit paru obstruktif menahun.

Propranolol hidroklorida
Asebutolol
Atenolol

Betaksolol
Bisoprolol fumarat
Karvedilol
Labetalol hidrklorida
Metoprolol tartrat
Nadolol
Oksprenolol hidroklorida
Pindolol
Sotalol hidroklorida
4) Obat Jantung Pemblok Kalsium
Obat penghambat kanal kalsium akan melindungi jaringan dengan cara menghambat
kalsium memasuki sel-sel otot polos jantung dan pembuluh koroner, serta sistem
anyaman arteri sistemis. Obat pemblok kalsium adalah perkembangan terbaru obat
jantung. Obat ini dapat mengurangi nyeri angina yang tak dapat ditanggulangi dengan
obat lain. Verapamil efektif terhadap jenis aritmia jantung tertentu.
Calan (verapamil)
Cardizem (diltiazem)
Isoptin (verapamil)
Procardia (nifedipin)
5) Obat Jantung Digitalis
Digoxin memperpendek periode refrakter pada sel-sel miokardium atrium dan
ventrikel sambil memperpanjang periode refraktar efektif dan mengurangi kecepatan
konduksi dalam serat purkinje. Obat sejenis digitalis meningkatkan kekuatan dan efisiensi
jantung dan digunakan untuk mengobati layu jantung dan menormalkan kembali denyut
jantung yang tidak teratur. Nama paten obat jantung digitalis (nama generik dalam
kurung):
Crystodigin (digitoksin)
Digifortis (digitalis)
Lanoxin (digoksin)
Purodigin (digitoksin)
6) Diuretika
Diuretika menghilangkan kelebihan cairan tubuh dan sering digunakan untuk
mengobati layu jantung. Diuretika golongan Tiazid digunakan untuk mengurangi edema
akibat gagal jantung dan dengan dosis yang lebih rendah, untuk menurunkan tekanan
darah. Diuretika kuat digunakan untuk edema paru akibat gagal jantung kiri dan pada
pasien dengan gagal jantung yang sudah lama dan kombinasi diuretika mungkin selektif
untuk edema yang resisten terhadap pengobatan dengan satu diuretika, misalnya diuretika
kuat dapat dikombinasi dengan diuretika hemat kalium.

a. Diuretika golongan tiazid


Tiazid dan senyawa-senyawa terkaitnya merupakan diuretika dengan potensi sedang,
yang bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi natrium pada bagian awal tubulus
distal. Mula kerja diuretika golongan ini setelah pemberian peroral lebih kurang 1-2
jam, sedangkan masa kerjanya 12-24 jam. Lazimnya tiazid diberikan pada pagi hari
agar diuretika tidak mengganggu tidur pasien.
Bendrofluazid
Klortalidon
Hidroklortiazid
Indapamid
Metolazon
Xipamid
b. Diuretika kuat
Diuretika kuat digunakan dalam pengobatan edema paru akibat gagal jantung kiri.
Pemberian intravena mengurangi sesak nafas dan prabeban lebih cepat dari mula kerja
diuresisnya. Diuretika ini juga digunakan pada pasien gagal jantung yang telah
berlangsung lama.
Frusemid
Bumetanid
Torasemid
c. Diuretika hemat kalium
Amilorid dan triamteren merupakan diuretika yang lemah. Keduanya menyebabkan
retensi kalium dan karenanya digunakan sebagai alternatif yang lebih efektif daripada
memberikan suplemen kalium pada pangguna tiazid atau diuretika kuat. Suplemen
kalium tidak boleh diberikan bersama diuretika hemat kalium. Juga penting untuk
diingat bahwa pemberian diuretika hemat kalium pada seorang pasien yang menerima
suatu penghambat ACE dapat menyebabkan hiperkalemia yang berat.
Amilorid hidroklorida
Antagonis aldosteron
Sprironolakton
d. Diuretika merkuri
Meskipun efektif, diuretika merkuri sekarang hampir tidak pernah digunakan karena
efek nefrotoksisitasnya. Mersalil harus diberikan lewat injeksi intramuskuler.
Penggunaan intravena dapat menyebabkan hipotensi berat dan kematian mendadak.
Obat ini sudah absolete dan telah diganti dengan loop diuretic yang jauh lebih aman.
Mersalil
e. Diuretika osmotik

Diuretika golongan ini jarang digunakan pada gagal jantung karena mungkin
meningkatkan volume darah secara akut.

Manitol

f. Diuretika penghambat enzim karbonik anhidrase


Diuretika penghambat enzim karbonik anhidrase (asetazolamid) merupakan diuretika
yang lemah dan jarang digunakan berdasarkan efek diuretikanya. Obat ini digunakan
untuk profilaksis mountain sickness tetapi tidak menggantikan aklimatisasi.
Asetazolamid
Dorzolamid
g. Kombinasi diuretika
Disamping penambahan satu golongan diuretika pada diuretika yang lain,
kekhawatiran terjadinya hipokalemia atau ketidakpatuhan pasien meningkatkan
penggunaan kombinasi dengan diuretika hemat kalium. Bila digunakan untuk
hipertensi, perhatian khusus harus dicurahkan pada dosis tiazidnya, dimana dosis yang
lebih rendah lebih dianjurkan.
C. Interaksi Obat Jantung
1. Interaksi obat angina/antiaritmika
Obat angina / antiaritmika - Pemblok beta
Kombinasi ini dapat menyebabkan tekanan darah turun terlalu rendah. Akibatnya :
hipotensi postural dengan gejala : pusing, lemah, pingsan, penurunan tekanan darah
yang hebat dapat menyebabkan kejang atau syok. Obat pemblok beta diberikan pada
angina, untuk menormalkan kembali denyut jantung dan untuk menurunkan tekanan
darah tinggi.

Obat angina/antiaritmika Diuretika

Kombinasi ini dapat menyebabkan tekanan darah turun terlalu rendah. Akibatnya :
pusing, lemah, pingsan, penurunan tekanan darah yang hebat dapat menyebabkan
kejang atau syok. Diuretika menghilangkan kelebihan cairan dari tubuh dan
digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi danlayu jantung.

Obat angina/antiaritmika Obat tekanan darah tinggi

Kombinasi ini dapat menyebabkan tekanan darah turun terlalu rendah. Akibatnya :
pusing, lemah, pingsan, penurunan tekanan darah yang hebat dapat menyebabkan
kejang atau syok. Obat tekanan darah tinggi digunakan untuk menurunkan tekanan
darah yang tinggi.

Obat angina Alkohol (bir,minuman keras, anggur,dll)

Kombinasi ini dapat menyebabkan tekan darah turun terlalu rendah. Akibatnya :
hipotensi postural dengan gejala yang menyertai : pusing, lemah, pingsan, penurunan
tekanan darah yang hebat dapat menyebabkan kejang atau syok. Interaksi ini dapat
diperkecil dengan mengurangi minum alcohol.

Obat angina Vasodilator

Kombinasi ini dapat menyebabkan tekanan darah turun terlalu rendah. akibatnya ;
hipotensi posturaldengan gejala yang menyertainya : pusing, lemah, pingsan,
penurunan tekanan darah yang hebat dapat menyebabkan kejang atau syok.
Vasodilator melebarkan pembuluh darah dan digunakan untuk mengobati gangguan
peredaran darah, misalnya arteriosklerosis (pengerasan arteri).

Antiaritmika Antidepresan (jenis siklik)

Kombinasi ini dapat menimbulkan efek merugikan pada jantung. Akibatnya :


kemungkinan terjadi aritmia jantung. Anti depresan digunakan untuk mengurangi
depresi mental dan memperbaiki suasana hati.
Catatan : antidepresan trazadon (Desyrel) tidak berinteraksi.

Disopiramida Fenitoin

Efek disopiramida dapat berkurang. Akibatnya : denyut jantung yang tak teratur tak
dapat dikendalikan dengan baik. Fenitoin digunakan untuk mengendalikan kejang
pada kelainan seperti ayan.

Prokainamida Antasida

Efek prokainamida dapat meningkat. Akibatnya : terlalu banyak prokainamida dapat


menurunkan tekanan darah, menyumbat jantung (mengurangi transmisi saraf yang
dibutuhkan untuk denyut jantung yang teratur) atau menyebabkan ketidakteraturan
denyut jantung yang amat berbahaya yang disebut fibrilasi ventricular.

Kinidin Antasida

Efek kinidin dapat msningkat. Akibatnya : terlalu banyak kinidin dapat menurunkan
tekanan darah, menyumbat jantung (megganggu transmisi saraf yang dibutuhkan

untuk denyut jantung yang teratur), atau menyebabkan ketidakteraturan denyut


jantung yang amat berbahaya yang disebut fibrilasi ventricular.

Kinidin Antikoagulan

Efek antikoagulan dapat meningkat. Antikoagulan digunakan untuk mengencerkan


darah dan mencegah pembekuan. Akibatnya : risiko perdarahan meningkat. Gejala
yang dilaporkan antara lain memar atau perdarahan pada bagian tubuh, tinja hitam
pekat.

Kinidin Barbiturat

Efek kinidin dapat meningkat. Akibatnya : denyut jantung yang tak teratur tak dapat
dikendalikan dengan baik. Barbiturat digunakan sebagai sedative atau pil tidur.

Kinidin Digoksin (Lanoxin)

Efek digoksin dapat meningkat. Digoksin digunakan untuk mengobati laju jantung
dan untuk menormalkan kembali denyut jantung yang tak teratur. Akibatnya :
mungkin terjadi efek samping merugikan akibat terlalu banyak digoksin. Gejala yang
dilaporkan antara lain mual, gangguan penglihatan, sakit kepala, tak bertenaga, tak
ada nafsu makan, bingung, bradikardia atau takikardia, aritmia jantung.

Kinidin Fenitoin

Efek kinidin dapat berkurang. Akibatnya : denyut jantung yang tak teratur tak dapat
dikendalikan dengan baik. Fenitoin digunakan untuk mngendalikan kejang pada
kelainan seperti pada ayan.
2. Interaksi obat jantung pemblok beta
Pemblok beta Alkohol
Kombinasi ini dapat menyebabkan tekanan darah turun terlalu rendah. Akibatnya :
hipotensi postural dengan gejala yang menyertainya : pusing, lemah, pingsan;
penurunan tekanan darah yang hebat dapat menyebabkan kejang atau syok. Interaksi
ini dapat diperkecil dengan mengurangi minum alcohol.

Pemblok beta Amfetamin

Efek pemblok beta dilawan. Akibatnya : kelainan yang ditangani dengan pemblok
beta tak dapat dikendalikan dengan baik. Kombinasi ini dapat pula secara paradox
menaikkan tekanan darah yang membahayakan dengan gejala seperti demam, sakit

kepala, gangguan penglihatan,. Amfetam ini digunakan sebagai pil pelangsing (tidak
dianjurkan), untuk mengatasi masalah perilaku pada anak-anak, dan untuk narkolepsi.

Pemblok beta Obat angina/antiaritmika

Kombinasi ini dapat menyebabkan tekanan darah turun terlalu rendah. Akibatnya :
hipotensi postural dengan gejala yang menyertainya : pusing, lemah, pingsan;
penurunan tekanan darah yang hebat dapat menyebabkan kejang atau syok.

Pemblok beta Antasida

Efek pemblok beta dapat berkurang. Akibatnya : kondisi yang ditangani tak dapat
dikendalikan dengan baik.

Pemblok beta Antidepresan (Janis MAO)

Kombinasi ini dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah yang berarti. Gejala yang
dilaporkan antara lain denyut jantung tak teratur, demam, sakit kepala, gangguan
penglihatan. Antidepresan IMAO yang berguna untuk mengurangi depresi mental dan
memperbaiki suasana hati tak banyak digunakan lagi sejak dikembangkan
antidepresan jenis siklik seperti Elavil dan Sinequan.

Pemblok beta Antidepresan (jenis siklik)

Efek pemblok beta dapat berkurang. Akibatnya : kondisi jantung yang ditangani tak
dapat dikendalikan dengan baik. Antidepresan digunakan untuk mengurangi depresi
mental dan memperbaiki suasana hati.

Pemblok beta Antipsikotika

Kombinasi ini dapat menyebabkan tekanan darah turun terlalu rendah dan efek
pemblok beta dapat meningkat. Gejala tekanan darah rendah yang dilaporkan antara
lain pusing, lemah, pingsan. Gejala yang dilaporkan akibat pemblok beta yang terlalu
banyak : bradikardia, lelah, aritmia jantung, napas berdengik seperti pada asma atau
sulit bernapas. Antipsikotika adalah trankulansia mayor yang digunakan untuk
mengobati kelainan mental yang parah seperti skizofrenia. Umumnya antipsikotika
merupakan golongan fenotiazin.

Pemblok beta Obat asma

Efek teofilin terhadap asma akan dilawan. Obat asma digunakan untuk membuka
jalan udara di paru-parudan mempermudah pernapasan pasien asma. Akibatnya :
saluran bronkus tak dapat terbuka cukup lebar untuk menanggulangi serangan asma.

Pemblok beta Barbiturat

Efek pemblok beta dapat berkurang. Akibatnya : kondisi yang ditangani oleh pemblok
beta tak dapat dikendalikan dengan baik.

Pemblok beta Sediaan flu/batuk yang mengandung pelega hidung

Efek pemblok beta mungkin dilawan. Akibatnya : kondisi yang ditangani oleh
pemblok beta tak dapat dikendalikan dengan baik. Sediaan obat hidung yang
mengandung pelega hidung dapat diserap ke dalam aliran darah dan dapat
menyebabkan interaksi.

Pemblok beta Obat diabetes

Kombinasi ini dapat meningkatkan atau mengurangi efek obat diabetes. Akibatnya :
jika efek obat diabetes meningkat, kadar gula dalam darah dapat turun terlalu rendah.
gejala hipoglikemia yang dilaporkan, yang akan lebih nyata pada kegiatan jasmani
atau olahraga : berkeringat, gelisah, pingsan,lelah, bingung, aritmia jantung,
takhikardia, nanar, dan gangguan penglihatan. Jika efek obat diabetes berkurang,
kadar gula darah akan tetap terlalu tinggi. Gejala hiperglikemia yang dilaporkan : haus
yang amat sangat, pengeluaran urin banyak, berat badan berkurang, lapar, letargi,
mengantuk dan nanar. Obat jantung pemblok beta digunakan untuk angina,
menormalkan kembali denyut jantung yang tak teratur,dan membantu menurunkan
tekanan darah.

Pemblok beta Pil pelangsing (obat bebas) yang mengandung fenilpropanolamin

Efek pemblok beta mungkin dilawan. Akibatnya : kondisi yang ditangani oleh
pemblok beta tidak dapat dikendalikan dengan baik. Fenilpropanolamin adalah pelega
hidung yang merupakan komponen utama dalam pil pelangsing yang dijual bebas
karena efek sampingnya yang dapat menekan nafsu makan.

Pemblok beta Vasodilator

Kombinasi ini dapat menyebabkan tekanan darah turun terlalu rendah. Akibatnya :
hipotensi postural dengan gejala yang menyertainya : pusing, lemah, pingsan;
penurunan tekanan darah yang hebat akan menyebabkan kejang atau syok. Vasodilator
melebarkan pembuluh darah dan digunakan untuk mengobati kelainan yang
disebabkan peredaran darah yang buruk, misalnya arterioskerosis.
3. Interaksi Obat Digitalis
Kelompok digitalis Amfetamin

Kombinasi ini dapat menimbulkan aritmia jantung. Amfetamin digunakan sebagai pil
pelangsing (tidak dianjurkan), untuk mengatasi masalah perilaku pada anak-anak, dan
untuk markolepsi.

Kelompok digitalis Obat asma (kelompok epinefrin)

Kombinasi ini dapat menimbulkan aritmia jantung. Obat asma digunakan untuk
membuka saluran udara paru-paru dan mempermudah pernapasan penderita asma
bronchial.

Kelompok digitalis Sediaan flu/batuk yang mengandung pelega hidung

Kombinasi ini dapat menimbulkan aritmia jantung. Sediaan pelega hidung dapat
diserap ke dalam liran darah dan menyebabkan interaksi.

Kelompok digitalis Pil pelangsing (tanpa resep) yang mengandung


fenilpropanolamin

Kombinasi ini dapat menimbulkan aritmia jantung. Fenilpropanolamin adalah pelega


hidung yang merupakan komponen utama dalam pil pelangsing yang dijual bebas,
karena efek sampingnya dapat menekan nafsu makan.

Kelompok digitalis Diuretika

Kombinasi ini dapat merugikan jantung. Diuretika menghilangkan kelebihan cairan


tubuh dan digunakan pada laju jantung dan tekanan darah tinggi. Umumnya diuretika
mengurangi kadar kalium tubuh. Kurangnya kalium menyebabkan jantung menjadi
amat peka terhadap digitalis dan resiko keracunan digitalis meningkat dengan gejala :
mual, bingung, gangguan penglihatan, sakit kepala, kurang tenaga, tidak ada nafsu
makan, bradikardia, takhikardia, dan aritmia jantung.

Kelompok digitalis Pencahar

Kombinasi ini dapat merugikan jantung. Pencahar mengurangi kalium tubuh.


Kurangnya kalium menyebabkan jantung sangat peka terhadap digitalis dan risiko
keracunan digitalis meningkat dengan gejala : mual, bingung, gangguan penglihatan,
sakit kepala, kurang tenaga, tak ada nafsu makan,bradikardai, takhikardia, dan aritmia
jantung.

Digitoksin Barbiturat

Efek digitoksin dapat berkurang. Akibatnya : kondisi jantung yang ditangani dengan
digitoksin tak dapat dikendalikan dengan baik.

Digoksin (Lanoxin) Antasida

Efek digoksin dapat berkurang. Akibatnya : kondisi jantung yang ditangani dengan
digitoksin tak dapat dikendalikan dengan baik.

Digoksin (Lanoxin) Metildopa (Aldomet, Aldoril)

Kombinasi ini dapat merugikan jantung. Metildopa digunakan untuk mengobati


tekanan darah tinggi. Gejala yang dilaporkan antara lain bradikardia, pusing, pingsan,
bingung, dan pelupa.

Digoksin (Lanoxin) Antibiotika tetrasiklin

Efek digoksi dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi efek samping merugikan
akibat terlalu banyak digoksin. Gejala yang dilaporkan antara lain mual, bingung,
gangguan penglihatan, sakit kepala, kurang tenaga, tak ada nafsu makan , bradikardia,
takhikardia, dan aritmia jantung.

Obat jantung pemblok kalsium Pemblok beta

Kombinasi ini dapat merugikan jantung. Jika kedua obat ini diberikan bersama-sama
dokter harus memantau dengan teliti efek yang terjadi pada pasien. Pemblok beta
digunakan untuk mengobati kelainan jantung dan untuk tekanan darah tinggi.

Pemblok kalsium Digoksin

Efek digoksi dapat meningkat. Akibatnya : dapat terjadi efek samping merugikan
akibat terlalu banyak digoksin. Gejala yang dilaporkan antara lain : mual, bingung,
gangguan penglihatan, sakit kepala, kurang tenaga, tak ada nafsu makan, bradikardia,
takhikardia, dan aritmia jantung.

BAB III
STUDI KASUS

3.1 Resep
R/ Captopril 25

XLV

S 3 dd 1
R/ HCT

XV

S 1-0-0
R/ Bisoprolol

XV

S 1 dd 1
R/ ISDN 5

XV

S 1 dd 1 SL bilanyeri dada
R/ B1

XLV

S 3 dd 1
R/ Meloxicam 15 XV
S 2 dd 1
R/ Antasida fls
S 4 dd 1

Pro : Ny. N (61 th)

3.2 Anamnesa
Pasien mengeluh nyeri dada, tekanan darah tinggi, sering tremor, dan pegal-pegal pada
sekujur badan.

3.3 Analisa
Dalam kasus ini pasien menerima 7 item obat dalam sekali waktu konsumsi 7 item obat
tersebut yaitu ;
1. Captopril yang merupakan antihipertensi golongan inhibitor enzim pengkonversi
angiotensin (ACEI).
2. Hidroklorotiazid (HCT) yang merupakan diuretic golongan tiazid.
3. Bisoprolol, suatu agen antihipertensi golongan pemblok yang kardioselektif.
4. Isosorbid dinitrat (ISDN), antiangina golongan nitrat
5. Tiamin (Vitamin B1) , untuk terapi defisiensi Vitamin B1.
6. Meloxicam, obat antiiflamasi nonsteroid, yang memiliki sifat antinyeri.
7. Antasida, untuk menetralkan asam lambung.
Dengan memperhatikan keluhan yang disampaikan oleh pasien dan obat-obat
yang diresepkan oleh dokter dapat diduga pemberian captopril, HCT, bisoprolol, dan
ISDN berhubungan dengan hipertensi dan keluhan nyeri dada. Nyeri dada sering
menjadi indikasi adanya ganguan jantung. Meski tidak semua nyeri dada diakibatkan
oleh kelainan jantung. Meloksikan dan vitamin B1 ditujukan untuk mengatasi keluhan
nyeri badan. Pasien tidak secara langsung mengeluhkan kondisi yang berhubungan
dengan kelebihan asam lambung, namun dokter meresepkan antasida, hal ini mungkin

ditujukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya iritasi lambung yang dapat memicu
peningkatan asam lambung.
Jika benar, keluhan nyeri dada pada kasus ini berhubungan dengan gangguan
sistem jantung seperti halnya angina, maka pemilihan kombinasi antihipertensi berupa
captopril(ACE inhibitor), HCT (diuretik tiazid), dan bisoprolol (-bloker kardioselektif)
relatif merupakan pilihan yang tepat. Kombinasi tersebut sebagaimana disarankan oleh
JNC7. Kecuali pasien tersebut memiliki riwayat infark miokardiak, penggunaan diuretik
tidak disarankan.
Disamping diagnosa penyerta dalam kasus hipertensi ini yang harus menjadi dasar
pemilihan terapi, faktor usia juga harus dipertimbangkan. Dalam hal ini, pasien telah
cukup lanjut usia, yaitu 61 tahun. Faktor usia lanjut sangat memungkinkan terjadinya
pengaruh hipertensi terhadap kerusakan berbagai organ seperti jantung, hati, ginjal, dan
otak. Sehingga pemilihan terapinya harus benar-benar diperhatikan.
Dosis captopril, pasien menerima captopril 75 mg/hr dalam dosis terbagi tiga,
maka dosis tersebut masih dapat diterima sebagai dosis aman. Begitu pun dengan HCT
satu kali sehari pada pagi hari, merupakan dosis yang lazim. Dalam hal ini perlu
diingatkan pada pasien, agar jangan sampai mengkonsumsi HCT ini pada waktu sore
atau malam hari, karena dapat menimbulkan efek diuresis nokturnal, yang akan sangat
mengganggu waktu istirahat pasien pada malam hari. Bisoprolol 5 mg satu kali sehari
juga merupakan dosis aman. Namun pasien harus diingatkan untuk tidak menghentikan
penggunaan obat ini secara mendadak, karena dapat menyebabkan kambuhan hipertensi.
(Dipiro; 221).
Pemberian ISDN yang bersifat insidental, yaitu saat terjadi gejala sesak nafas
secara sublingual cukup tepat. Pemberian secara sublingual dapat memberikan efek yang
lebih cepat dari pada secara oral. ISDN akan dengan cepat mengakhiri serangan angina
akut yang ditandai gejala sesak nafas dan nyeri dada. Terapi captopril akan membantu
mencegah serangan angina yang berulang. Pasien yang menjalani terapi ISDN juga harus
dipantau konsentrasi kreatinin serumnya, terutama pada pasien-pasien yang terindikasi
mengalami kerusakan ginjal.

Peresepan vitamin B1, kemungkinan berhubungan dengan penanganan keluhan


tremor dan salah satu efek obat (bisoprolol).
Meloksikam diberikan untuk mengobati rasa nyeri. Meloksikam merupakan salah
satu antiinflamasi nonsteroid yang relatif selektif pada COX-2. Sehingga obat ini relative
aman terhadap lambung. Namun harus diwaspadai efeknya terhadap ginjal. (Dipiro; 688,
916)
Dosis meloksikam yang diresepkan tampaknya berlebih. Pada kasus nyeri
osteoarthritis meloksikam hanya digunakan untuk terapi jangka pendek, kecuali pada
penanganan rheumatoid arthritis dapat digunakan sebagai terapi jangka panjang. Dosis
yang dianjurkan hanya 7,5 mg/hari, maksimum 15 mg/hari. Apalagi dalam kasus ini
pasien telah lanjut usia,dosis yang disarankan hanya 7,5 mg/hari. Sedangkan pada resep
tersebut dokter menuliskan 2 kali sehari masing-masing 15 mg, atau 30 mg/hari. BNF
maupun Pharmacotherapy-Dipiromenyebutkan bahwa pemberian meloksikam hanya
sekali sehari. (BNF 57; 552, 559)
Pemberian antasida tampaknya kurang signifikan. Pasien tidak mengeluhkan
gejala yang menunjukan adanya kelebihan asam lambung sehingga perlu mengkonsumsi
antasida. Meskipun antasida ini hanya bekerja secara lokal pada lambung, namun tetap
perlu diwaspadai interaksinya. Interaksi mungkin terjadi dengan captopril, dimana
absorpsi captopril dapat terhambat, yang mengakibatkan bioavailabilitasnya rendah, dan
konsentrasi efektif minimumnya dalam darah tak tercapai, sehingga terapi yang optimum
juga tidak tercapai. Disamping itu, akumulasi kation Mg2+ dan Al3+ sangat mungkin
berikatan dengan senyawa-senyawa phosphate, sehingga absorpsi phophat menurun
dan mengakibatkan hipophosphatemia. Terlebih pasien juga mengkonsumsi diuretik,
yang akan meningkatkan aktivitas urinari, yang dapat semakin meningkatkan resiko
hipophosphatemia. (Dipiro; 996).
Penggunaan beberapa item obat secara bersamaan, sangat memungkinkan
terjadinya interaksi. Interaksi yang mungkin terjadi :
1. Captopril dapat berinteraksi dengan antasida. Antasida dapat menurunkan absorpsi captopril,
sehingga antasida dan captopril tidak boleh dikonsumsi bersamaan. Harus ada jarak waktu

yang cukup antara saat konsumsi antasida dan captopril, sehingga interaksi keduanya dapat
dihindarkan.
2. ISDN meningkatkan efek hipotensif dari captopril dan bisoprolol.
3. Efek hipotensif ISDN diantagonis oleh AINS (meloksikam) (BN7 57; Appendix).

BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini, yaitu :
1. Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat (drugrelated problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat yang
dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Sebuah interaksi obat terjadi ketika
farmakokinetika atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh kehadiran satu
atau lebih zat yang berinteraksi.
2. Obat kardiovaskuler merupakan obat yang digunakan untuk kelainan jantung dan
pembuluh darah.
3. Obat-obat yang dapat berinteraksi dengan obat kardiovaskuler yakni obat yang
termasuk sesama golongan obat kardiovaskuler maupun obat-obatan lain, seperti obat
yang bekerja di sistem saraf pusat, obat gastritis, obat pencahar, antibiotik, obat
diabetes mellitus serta obat asma.