Anda di halaman 1dari 18

BAB I

STRATEGI PERANCANGAN
1.1Latar Belakang Pendirian Pabrik
Masa keemasan Indonesia sebagai negara pengekspor minyak mentah telah lewat. Jika
produksi minyak mentah terus menurun hingga mencapai titik minimum, maka dampak yang
langsung dirasakan adalah biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk menyediakan BBM
semakin bertambah karena harus mengimpor dari negara lain. Hal tersebut berakibat pada
masyarakat sebagai konsumen harus menanggung biaya yang tinggi untuk memenuhi
kebutuhan energi. Di sisi lain, seharusnya penurunan produksi bisa menjadi pemicu untuk
mendorong pencarian berbagai sumber energi alternatif. Diversifikasi energi memang mutlak
diperlukan untuk mencukupi kebutuhan energi pada masa depan.
Data dari Ditjen Migas Kementrian ESDM menunjukkan bahwa konsumsi avtur
semakin melonjak setiap tahunnya. Pada tahun 2007 konsumsi avtur sebanyak 14.845.000
barel dan kemudian melonjak pada tahun 2011 hingga sebesar 20.945.000 barel atau naik
sebesar 6 % setiap tahunnya. Bahkan PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dan PT.
Lion Mentari Airlines memperkirakan jumlah avtur yang dikonsumsi sepanjang 2012 akan
naik sebanyak 15 %-20 % dibandingkan 2011 [ Finance Today, 2012 ]. Kenaikan konsumsi
avtur tersebut terkait dengan rencana beberapa maskapai penerbangan yang hendak membeli
pesawat baru. Selain itu, mulai masuknya maskapai penerbangan internasional juga berakibat
pada penggunaan avtur dalam negeri meningkat dengan pesat.
Jika pemerintah tidak melakukan kebijkan apapun di dunia penerbangan, maka
konsumsi avtur akan semakin meningkat, sedangkan cadangan minyak mentah semakin
menurun. Pada tahun 1996 Indonesia mampu memproduksi minyak mentah sebanyak
485.573,80 juta barel, sedangkan tahun 2011 hanya mampu memproduksi minyak bumi
sebesar 289.899 juta barel. selama 15 tahun turun 195.674,8 juta barel. Jika kecenderungan ini
berlanjut terus dan tidak ada penambahan titik cadangan minyak baru serta pola konsumsi
tetap sama, maka sekitar 22 tahun lagi minyak bumi Indonesia akan habis. Umumnya avtur
dikonsumsi perusahaan penerbangan sebagai bahan bakar untuk pesawat terbang. PT.
Pertamina (Persero) menyatakan bahwa, sebesar 65 % produksi avtur dikonsumsi armada
pesawat terbang dengan tujuan penerbangan domestik, sementara 35 % merupakan
penerbangan internasional.
1

Indonesia yang memiliki sumber minyak nabati berlimpah di antaranya minyak biji
karet yang berpeluang dikembangkan sebagai sumber energi alternatif. Berdasarkan Energy
Outlook BPPT tahun 2011, konsumsi energi industri menduduki tempat teratas diikuti sektor
transportasi, dan rumah tangga. Perbandingannya adalah 41,49 % untuk industri, 37,76 %
untuk transportasi, 16,26 % untuk rumah tangga, dan 4,49 % untuk sektor lainnya. Selain itu,
program langit biru dan penggunaan energi bersih juga menjadi dasar untuk melakukan
penelitian dan pengembangan Bioavtur. Dalam transportasi udara, penggunaan bio-fuel juga
sudah dimasukaan dalam kebijakan ICAO (International Civil Aviation Organization).
Beberapa Airline Operator telah melakukan uji coba penerbangan dengan menggunakan
bioavtur 5-10 %. Namun demikian, sampai saat ini belum diputuskan batas waktu bagi para
angggota untuk menerapkan kebijakan tersebut. Khusus untuk transportasi udara, pihak ICAO
telah mencanangkan efisiensi bahan bakar dari kemajuan teknologi pesawat sebesar minimal
1,5 % per-tahun, dengan target pada tahun 2030 dapat mencapai zero growth. Oleh karena itu,
diperlukan alternatif bahan bakar yang tidak hanya aman bagi kesehatan dan lingkungan,
namun juga sebagai sumber energi baru yang dapat mengatasi kelangkaan BBM bagi industri
penerbangan di Indonesia, yaitu bioavtur.

1.2 Kapasitas Pabrik


Penentuan kapasitas produksi prarancangan pabrik bioavtur didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan berikut :
1. Proyeksi kebutuhan avtur di Indonesia.
2. Ketersediaan bahan baku
3. Kapasitas produksi minimal

1.2.1 Proyeksi Kebutuhan Avtur di Indonesia


Dikarenakan Bioavtur merupakan bahan bakar alternatif pengganti avtur, maka data
data yang dikumpulkan berdasarkan kebutuhan terhadap bahan bakar avtur di Indonesia.
Data-data tersebut meliputi data produksi, impor, dan konsumsi. Kumpulan data tersebut
digunakan sebagai acuan dalam mengetahui potensi dari bioavtur di Indonesia.
a. Produksi Avtur
Berdasarkan data statistik menunjukkan bahwa produksi avtur di Indonesia semakin
tahun semakin meningkat. Pada tahun 2007 produksi avtur mencapai 10.653.000 barel dan

pada tahun 2011 meningkat menjadi 18.215.000 barel, data ini dapat dilihat pada Tabel 1.1 di
bawah ini.
Tabel 1.1 Produksi Avtur Di Indonesia
Total Produksi Avtur
(Barel)
10.686.000
11.229.000
16.672.000
17.753.000
18.215.000
(Sumber: Ditjen Migas Kementerian ESDM)

Tahun
2007
2008
2009
2010
2011

Dari Tabel 1.1 menunjukan meningkatnya produksi bahan bakar avtur. Selain
Indonesia memproduksi bahan bakar avtur sendiri, Indonesia juga mengimpor avtur dari
negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang juga merupakan negara
produsen bahan bakar avtur. Akan tetapi, bahan-bakunya (minyak mentah) berasal dari negara
lain termasuk Indonesia.
b. Impor Avtur
Dari data Tabel 1.2. dapat dilihat bahwa impor avtur di Indonesia pada tahun 2007
yaitu sebesar 7.396.226 barel dan pada tahun 2011 mencapai 5.132.075 barel, jadi mengalami
peningkatan sebesar 3 % setiap tahunnya.
Tabel 1.2 Impor Avtur Di Indonesia
Tahun
2007
2008
2009
2010
2011

Jumlah Impor Avtur


(Barel)
7.396.226
4.836.478
1.075.472
3.635.220
5.132.075
(Sumber: Ditjen Migas Kemeterian ESDM)

c. Konsumsi Avtur
Tabel 1.3. menunjukkan konsumsi avtur mulai dari tahun 2005 hingga 2011. Dapat
dilihat bahwa konsumsi avtur pada tahun 2005 sebesar 13.682.000 barel dan naik hingga
mencapai 20.945.000 barel pada tahun 2011.
3

Tabel 1.3 Konsumsi Avtur Di Indonesia


Jumlah Konsumsi Avtur
(Barel)
14.845.000
15.526.000
16.262.000
20.180.000
20.945.000
(Sumber: Ditjen Migas Kementerian ESDM)

Tahun
2007
2008
2009
2010
2011

Berdasarkan data-data diatas dapat dilihat bahwa dari tahun 2007 hingga 2011
konsumsi avtur di Indonesia melebihi produksi yang mampu dihasilkan oleh perusahaan
minyak di Indonesia. Akibat dari kenyataan tersebut, impor bahan bakar avtur harus terus
dilakukan setiap tahunnya utntuk menutupi kekurangannya. Kondisi demikian dapat dilihat
pada Gambar 1.1.
25000000
20000000
15000000
Jumlah Avtur, Barrel

Produksi

10000000

Konsumsi
Import

5000000
0

2007 2008 2009 2010 2011


Tahun

Gambar 1.1 Jumlah Avtur di Indonesia

1.2.2 Ketersediaan Bahan Baku


Berdasarkan pertimbangan ketersediaan bahan baku, untuk saat ini pembangunan
pabrik direncanakan hanya memasok bioavtur sesuai produksi minyak biji karet yang masih
terbatas ada di Indonesia. Meskipun demikian, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian
RI jumlah luas areal penanaman karet terus bertambah setiap tahunnya. Bahkan, Indonesia
merupakan penghasil karet terbesar kedua setelah Thailand. Potensi yang besar ini,
4

menjadikan minyak biji karet dipandang sangat potensial sebagai bahan baku pembuatan
bioavtur. Selain itu, sikap pemerintah yang menargetkan menjadi negara terbesar dalam
produksi karet pada tahun 2015 menjadikan bahan baku diharapkan tidak akan berkurang
setiap tahunnya (http://dishutbun.kayongutarakab.go.id).
Pada tahun 2007, luas areal perkebunan karet di Indonesia yang terdata Kementerian
Pertanian adalah 3.413.717 Ha. Empat tahun kemudian pertambahan luas perkebunan karet
mengalami kemajuan pesat. Pada tahun 2011 luas areal meningkat menjadi 3.450.144 Ha.
Luas areal perkebunan karet di Indonesia dapat dilihat di Tabel 1.4.
Tabel 1.4 Tabel Luas Areal Perkebunan Karet di Indonesia
Tahun
2007
2008
2009
2010
2011

Luas Areal (Ha)


3.413.717
3.424.217
3.435.270
3.445.121
3.450.144
(Sumber: Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian)

Pemerintah sedang merancang program gerakan nasional (gernas) peningkatan


perkebunan karet rakyat seluas 350.000 hektare dengan anggaran Rp 5 triliun selama 3 tahun
(2013-2015). Oleh karena itu, diperkirakan pada tahun 2015 luas areal perkebunan karet
mencapai 3.500.000 Ha. Jika dalam 1 Ha dapat menghasilkan 300.000 butir biji karet setiap
tahunnya, maka jumlah biji karet yang dapat dihasilkan sebesar 1.050.000.000.000 butir.
Diasumsikan bahwa massa satu biji karet berkisar 2-4 gram. Biji karet juga terdiri dari 40-50
% kulit yang keras berwarna coklat, 50-60 % kernel yang berwarna putih kekuningan. Kernel
biji karet terdiri dari 45,63 % minyak, 2,71 % abu, 3,71 % air, 22,17 % protein dan 24,21 %
karbohidrat. Dari data-data tersebut dapat dihitung potensi minyak biji karet Indonesia pada
tahun 2015. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Massa Biji Karet


1.050.000.000.000 2 gram = 2.314.815 ton/tahun
Massa Kernel
2.314.815 ton/tahun 50 % = 1.157.407 ton/tahun

Massa Minyak Biji Karet


1.157.000 ton/tahun 45 % = 520.833 ton/tahun

Yield jika dilakukan dengan metode ekstraksi = 91,4 %


Potensi minyak biji karet pada tahun 2015 adalah 520.833 ton/tahun 91,4 % =
476.042 ton/tahun.
5

Dengan menggunakan katalis heterogen (CaZrO3) maka Methyl Ester yang dihasilkan dapat
mencapai yield 88 %. Berdasarkan potensi bahan baku minyak biji karet yaitu sebesar
476.042 ton/tahun diharapkan dapat dihasilkan bioavtur sebesar 418.917 ton/tahun.

1.2.3 Kapasitas Produksi Minimal


Penentuan kapasitas pabrik ini berdasarkan perkembangan kebutuhan bahan bakar
jenis avtur yang terus bertambah. Akibat yang timbul adalah konsumsi akan bahan bakar avtur
juga akan bertambah, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dengan memproyeksikan
kebutuhan bahan bakar avtur sesuai perkiraan berdirinya pabrik di Indonesia yaitu pada tahun
2015.
Kapasitas Produksi
Berdasarkan data yang didapat dari Tabel 1.1, rata rata kenaikan produksi setiap
tahunnya adalah sekitar 1.890.500 barrel. Sehingga diperkirakan pada tahun 2015, Avtur yang
dapat diproduksi adalah 25.777.000 barrel
Kapasitas Konsumsi
Berdasarkan data yang didapat dari Tabel 1.2, rata rata kenaikan konsumsi avtur
setiap tahun adalah sekitar 1.525.000 barrel. Sehingga diperkirakan pada tahun 2015,
Konsumsi Avtur dapat mencapai 27.045.000 barrel
Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat dilihat bahwa kapasitas konsumsi lebih besar
dari kapasitas produksi, dengan selisih 1.268.000 barrel, sehingga kami berencana untuk
membangun pabrik Bioavtur yang nantinya mampu menutupi kekurangan tersebut sekaligus
untuk menggantikan kebutuhan impor Avtur
Namun demikian, karena pabrik bioavtur ini pertama kali dibangun di Indonesia dan
dengan mempertimbangkan aspek kemungkinan penurunan kinerja alat, masalah bahan baku,
dan hal-hal lain yang dapat mengganggu proses produksi maka dirancang pabrik bioavtur
dengan kapasitas 200.000 ton/tahun atau setara dengan 1.466.000 barel/tahun.
Sisa Bioavtur hasil produksi dialokasikan untuk ekspor , yaitu sekitar 198.000 barrel

1.3 Lokasi Pabrik


Lokasi pabrik merupakan salah satu faktor yang penting dalam pendirian sebuah
pabrik untuk kelangsungan operasi pabrik. Banyak pertimbangan yang menjadi dasar dalam
6

menentukan lokasi pabrik, antara lain : letak pabrik dengan sumber bahan baku, letak pabrik
dengan pasar penunjang, transportasi, tenaga kerja, kondisi sosial, dan kemungkinan
pengembangan di masa datang. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka lokasi pabrik
bioavtur ini berada di daerah Propinsi Sumatera Selatan tepatnya di Kawasan Industri Tanjung
Api-api. Lokasi Tanjung Api-api dapat dilihat di Gambar 1.2.

Gambar 1.2 Lokasi Tanjung Api-api


Ada beberapa faktor yang menentukan pemilihan lokasi pabrik, yaitu faktor primer dan
faktor sekunder yang menjadi pertimbangan utama dalam menentukan lokasi pabrik.

1.3.1 Faktor Primer


Faktor ini mempengaruhi secara langsung tujuan utama pabrik yang meliputi produksi
dan distribusi produk. Faktor primer ini meliputi :
A. Penyediaan Bahan Baku
Sesuai dengan yang direncanakan bahwa bahan baku bioavtur, biji karet, akan
diperoleh dari hasil perkebunan karet yang banyak berada di Pulau Sumatera. Tujuh Propinsi
di pulau Sumatera merupakan 10 penghasil karet terbesar di Indonesia. Provinsi tersebut
adalah Sumatera Selatan (1), Sumatera Utara (2), Riau (4), Jambi (5), Nanggroe Aceh
Darussalam (8), Sumatera Barat (9), dan Lampung (10). Dari faktor tersebut pemilihan
Sumatera Selatan merupakan daerah yang paling potensial dalam pembangunan pabrik
bioavtur.
B. Letak Pabrik Terhadap Daerah Pemasaran
Kondisi lokasi pemasaran relatif strategis karena dekat dengan Jakarta, Singapura, dan
Malaysia yang merupakan areal penerbangan terpadat di Asia Tenggara. Oleh karena itu,
7

biaya angkutan yang dikeluarkan lebih sedikit, dengan resiko pengangkutan lebih rendah.
Selain itu, apabila memungkinkan pemasaran bahan bakar bioavtur ini akan diperluas ke
seluruh pelosok Indonesia, karena pada dasarnya Industri bioavtur berguna untuk
menggantikan bahan bakar avtur Indonesia yang semakin menipis.
C. Sarana Transportasi
Sarana dan prasarana transportasi sangat diperlukan untuk proses penyediaan bahan
baku dan pemasaran produk. Lokasi pabrik yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Apiapi dan Selat Malaka dapat memudahkan pengadaan bahan baku penunjang, ini
memungkinkan penggunaan kapal laut sebagai sarana transportasi dalam pendistribusian
produk ke dalam maupun keluar negeri. Selain itu pendistribusian lewat darat pun sangat
memungkinkan karena kondisi jalan yang mudah untuk dilewati dan kelancaran lalu lintas
karena pemerintah berencana membuat jalan tol lintas Sumatera pada awal tahun 2013.

1.3.2 Faktor Sekunder


A. Penyediaan Utilitas
Untuk menjalankan proses produksi pabrik diperlukan sarana pendukung sebagai
pembangkit tenaga listrik dan air. Kawasan Industri Tanjung Api-api sudah memiliki sarana
pendukung tersebut yang memadai untuk proses produksi, selain itu sumber air sungai yang
berasal dari Sungai Lilin dan air laut yang berasal dari Selat Malaka cukup besar dan dapat
dimanfaatkan untuk air proses maupun keperluan air lainnya.
B. Tenaga Kerja
Ketersediaan tenaga kerja terampil cukup banyak tersedia di Sumatera Selatan. Hal ini
terjadi karena terdapat Universitas Sriwijaya yang merupakan universitas terkenal di
Indonesia. Selain itu, terdapat Politeknik Akamigas dan Politeknik Negeri Sriwijaya yang
sudah dipercaya perusahaan minyak dan gas untuk merekrut lulusannya. Penyediaan tenaga
kerja SMK, provinsi Sumatera Selatan mempunyai SMKN 2 Palembang yang sudah terkenal
di provinsi tersebut.
C. Lahan
Lokasi pabrik berada pada kawasan industri yang menyediakan banyak lahan kosong
cukup luas. Berdasarkan Bappeda Kabupaten Banyuasin, areal kosong yang disediakan
Kawasan Industri Tanjung Api-api saat ini mencapai 1.500 hektare dan akan bertambah 600
hektare jika mendapatkan ijin alih fungsi hutan mangrove di sekitar kawasan industri tersebut.

Selain itu harga tanah yang relatif murah memudahkan untuk perluasan dan pengembangan
pabrik.
D. Kebijakan Pemerintah
Seiring dengan otonomi daerah pemerintah propinsi Sumatera Selatan mempunyai
kebijakan untuk mengembangkan dan memajukan daerahnya. Dengan adanya pembangunan
pabrik bioavtur ini diharapkan daerah dan masyarakat sekitarnya akan semakin sejahtera dan
berkembang.
E. Komunitas
Keadaan sosial kemasyarakatan penduduk sekitar sudah terbiasa dengan lingkungan
industri sehingga pendirian pabrik baru akan mudah diterima dan tidak ada kesulitan. Selain
itu, diharapkan daerah dan masyarakat sekitarnya akan semakin sejahtera dan berkembang.
Sehingga dampak pelaksanaan CSR perusahaan ini dapat bermanfaat.

1.4 TINJAUAN PROSES


1.4.1 Avtur (Jet Fuel)
Avtur adalah salah satu jenis bahan bakar pesawat terbang turbin gas berbasis minyak
bumi yang berwarna bening hingga kekuning-kuningan dan memiliki rentang titik didih
antara 145 hingga 300oC. Secara umum, avtur memiliki kualitas yang lebih tinggi
dibandingkan bahan bakar yang digunakan untuk pemakaian yang kurang genting seperti
pemanasan atau transportasi darat. Avtur biasanya mengandung zat aditif tertentu untuk
mengurangi resiko terjadinya pembekuan atau ledakan akibat temperatur tinggi serta sifatsifat lainnya. Bentuk fisik dari avtur dapat dilihat pada Gambar 1.3.

Gambar 1.3 Bentuk Fisik Avtur

Avtur memiliki sifat yang menyerupai kerosin karena memiliki rentang panjang rantai
C yang sama. Komponen-komponen kerosin dan avtur terutama adalah senyawa-senyawa
hidrokarbon parafinik (CnH2n+2) dan monoolefinik (CnH2n) atau naftenik (sikloalkan, CnH2n)
dalam rentang C10 C15. Sifat ini dipilih karena memiliki beberapa keunggulan dibandingkan
bahan bakar jenis lain. Contohnya adalah volatilitas; dibandingkan dengan bensin, avtur
memiliki volatilitas yang lebih kecil sehingga mengurangi kemungkinan kehilangan bahan
bakar dalam jumlah besar akibat penguapan pada ketinggian penerbangan. Hal lain yang
menguntungkan dari avtur adalah kandungan energi per volumnya lebih tinggi dibandingkan
dengan bensin sehingga mampu memberikan energi bagi pesawat untuk penerbangan jarak
yang lebih jauh. Avtur sebagai bahan bakar pesawat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu yang
berbasis bahan mirip kerosin (Jet A dan Jet A1) dan yang berbasis campuran nafta-kerosin (Jet
B). Jet A1 adalah jenis avtur yang paling sering digunakan untuk bahan bakar pesawat di
seluruh dunia karena memenuhi standar ASTM, standar spesifikasi Inggris DEF STAN 91-91,
dan NATO Code F-35. Jet A adalah bahan bakar pesawat yang memiliki sifat yang sangat
mirip dengan kerosin, diproduksi hanya untuk memenuhi standar ASTM sehingga umumnya
hanya dapat ditemukan di kawasan Amerika Serikat. Jet B jarang digunakan karena sulit
untuk ditangani (mudah meledak), dan hanya digunakan pada daerah beriklim sangat dingin.
Di samping sebagai sumber energi penggerak mesin pesawat terbang, bahan bakar
penerbangan juga berfungsi sebagai cairan hidrolik di dalam sistem kontrol mesin dan sebagai
pendingin bagi beberapa komponen sistem pembakaran. Kinerja/kehandalan Avtur ditentukan
oleh karakteristik kebersihan pembakarannya dan performanya pada suhu rendah
sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1.5.
Tabel 1.5 Karakteristik Avtur

Sifat

Batasan

Satuan

Kandungan asam

maks

mg KOH/g

Jet A atau Jet


A1

Jet B

0,1

20

20

asam
Kandungan aromatik

maks

% volume

10

Sulfur merkaptan

maks

% berat

0,003

0,003

Kandungan sulfur total

maks

% berat

0,3

0,3

Temperature perolehan 10%

maks

205

Temperature perolehan 20%

maks

145

Temperature perolehan 50%

maks

190

Temperature perolehan 90%

maks

245

Temperature akhir distilasi

maks

300

Residu distilasi

maks

1,5

1,5

Kehilangan akibat distilasi

maks

1,5

1,5

Flash Point

min

38

Kg/m3

775 840

Temperature distilasi:

Densitas pada 150C

C
C
C
C

Tekanan uap pada 380C

maks

kPa

Titik Beku

maks

-40 (jet A)

Viskositas pada -200C

maks

mm2/g

Panas pembakaran

min

MJ/kg

42,8

752 802
21
- 50

42,8

11

Sifat pembakaran:
Luminometer member

Min

Mm

45

45

Titik asap

Min

mm

25

25

Kandungan naftalen

Maks

% volume

Korosi dalam 2 jam pada

Maks

Strip

No. 1

No. 1

1000C
Kandungan gum

tembaga
Maks

Mg/100 ml

Reaksi dengan air:


Rasio pemisahan

Maks

Rasio interfasa

Maks

1b

1b

1.4.2 Bioavtur dan Transesterifikasi


Bioavtur (jet biofuel) adalah nama untuk berbagai bahan bakar berbasis Ester (minyak
ester) biasanya digambarkan sebagai monoalkyl ester yang terbuat dari minyak nabati, seperti
minyak kacang kedelai, minyak karet, atau kadang-kadang dari minyak hewan melalui suatu
proses transesterification sederhana. Sumber yang dapat diperbaharui ini adalah sama
efisiennya seperti avtur untuk industri penerbangan. Pada reaksi pembuatan bioavtur ini,
minyak direaksikan dengan senyawa alkohol yaitu methanol dengan katalis padatan (CaZrO3).
Proses ini menghasilkan produk samping gliserin yang mempunyai nilai ekonomi cukup
tinggi. Persaamaan di bawah ini adalah suatu format yang disederhanakan mengenai reaksi
transesterfiikasi:
12

O
CH2 O C R1
O

Katalis

CH O C R2

+ 3 CH2OH

CH2 OH

3 CH3 O C R1 + CH OH

O
CH2 OH
CH2 O C R3
Trigliserida

Metanol

Methyl Ester

Gliserol

Metanol yang direaksikan merupakan metanol berlebih (excess) dan berguna untuk
memastikan bahwa reaksi dapat diselesaikan. Secara umum, reaksi dapat dapat bergeser ke
arah produk yaitu dengan menambahkan suatu excess dari salah satu reaktan atau dengan
pemindahan salah satu produk. Reaksi juga memerlukan sebuah katalisator yang berfungsi
untuk mempercepat reaksi.
Alkil R1, R2 dan R3 merupakan rantai panjang dari atom karbon dan hydrogen, yang
kadang-kadang disebut rantai asam lemak. Jadi, apabila suatu trigliserida mengandung rantai
asam lemak yang panjang maka methyl ester yang dihasilkan semakin sedikit. Hal ini terjadi
karena kebutuhan energi untuk memutus rantai asam lemak dari trigliserida menjadi methyl
ester cukup besar. Sebagai contoh, reaksi pembentukan methyl ester dari biji kisemir
membutuhkan energy total di reaktor yaitu sebesar 406.141,8106 kJ (Anis, 2009). Oleh
karena itu, dalam pemilihan minyak nabati sebagai bahan baku, perlu dipertimbangkan
kandungan asam lemak bebas yang ada dalam minyak agar proses pembentukan methyl ester
tidak mengonsumsi energy berlebihan. Dalam minyak biji karet, terdapat lima macam jenis
asam lemak yang umum ada. Jenis-jenis asam lemak tersebut disajikan pada Tabel 1.6.
Tabel 1.6 Macam-macam Asam Lemak

No.

1
2
3
4

Jenis Asam
Lemak
Palmitat
Stearat
Oleat
Linoleat

Rumus Molekul

R=(CH2)14-CH3
R=(CH2)16-CH3
R=(CH2)7CH=CH(CH2)7CH3
R=(CH2)7CH=CH-CH2-

Jumlah

Jumlah

Atom

Ikatan

Carbon

Rangkap

16
18
18
18

Dua
0
0
1
2
13

Linolenat

CH=CH(CH2)4CH3
R=(CH2)7CH=CH-CH2-CH=CH-

18

CH2-CH=CH-CH2-CH3

1.4.3 Karet (Hevea brasiliensis)


Karet adalah tanaman perkebunan tahunan berupa pohon berkayu dan batang lurus.
Pohon karet pertama kali hanya tumbuh di Brasil, Amerika Selatan, namun setelah percobaan
berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara.
Sekarang, tanaman ini banyak dikembangkan sehingga sampai sekarang Asia merupakan
sumber karet alami. Di Indonesia, Malaysia dan Singapura tanaman karet mulai dicoba
dibudidayakan pada tahun 1876. Tanaman karet pertama di Indonesia ditanam di Kebun Raya
Bogor. Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia, namun saat ini posisi Indonesia
dapat didekati oleh dua negara tetangga, yaitu Malaysia dan Thailand. Berdasarkan data
International Rubber Study Group (IRSG) sebanyak 11,9 juta ton karet yang digunakan dunia
sekarang ini adalah sintetik. Indonesia sendiri menurut Badan Pusat Statistik (BPS) masih
memproduksi karet alami rata-rata sebesar 550.000 ton setiap tahunnya, dan masih merupakan
bahan penting bagi beberapa industri Indonesia.
Karet merupakan produk dari proses penggumpalan getah tanaman karet (lateks).
Pohon karet pada umumnya disadap pada tahun ke-5. Produk dari penggumpalan lateks
selanjutnya diolah untuk menghasilkan lembaran karet (sheet), bongkahan (kotak), atau karet
remah (crumb rubber) yang merupakan bahan baku industri karet. Karet juga merupakan
pohon hutan hujan tropis. Pohon tersebut mencapai ketinggian 3-10 meter, dengan batang
bertulang belakang dan cabang dahan menyebar. Pohon ini berduri di seluruh tubuh tumbuhan
ini sehingga disebut sebagai monkey pistol. Penyebaran pertumbuhan pohon ini ada di sekitar
Jawa, Sumatera (Celebes), dan Kalimantan. Pohon ini berbunga sepanjang tahun. Pohon karet
ini memiliki 5-20 keping biji per buahnya. Klasifikasi botani tanaman karet adalah sebagai
berikut:
Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Keluarga

: Euphorbiaceae
14

Genus

: Hevea

Spesies

: Hevea brasiliensis

Tanaman karet merupakan tanaman perkebunan yang tumbuh di berbagai wilayah di


Indonesia., seperti Gambar 1.4.

Gambar 1.4 Pohon Karet


Pohon karet selain dimanfaatkan getahnya sebagai bahan baku pembuatan karet alam,
bijinya pun juga mengandung minyak nabati yang cukup potensial. Biji karet berbentuk kotak
tiga atau empat. Setelah berumur enam bulan buah akan masak dan pecah sehingga biji karet
terlepas dari batoknya. Karakteristik biji karet dapat dilihat pada Tabel 1.7.
Tabel 1.7 Karakteristik Biji Karet
Komponen
Berat
Kulit
Kernel
Minyak
Abu
Air
Protein
Karbohidrat

Jumlah
2-4 gram / biji
40-50% / biji
50-60% / biji
45,63% / kernel
2,71% / kernel
3,71% / kernel
22,17% / kernel
24,21% / kenel

Kandungan air yang cukup besar dalam biji karet dapat memicu terjadinya hidrolisa
trigliserida menjadi asam lemak. Oleh sebab itu, biji karet perlu dikeringkan terlebih dahulu
sebelum dipres untuk diambil minyaknya. Bentuk fisik dari biji karet dan minyak biji karet
dapat dilihat pada Gambar 1.5.

15

Gambar 1.5 Biji Karet dan Minyak Hasil Ekstraksi Biji Karet
Kandungan asam lemak pada minyak biji karet dijelaskan pada Tabel 1.8.
Tabel 1.8 Kandungan Asam Lemak
Jenis Asam
Lemak
Palmitat
Stearat
Oleat
Linoleat
Linolenat

Jumlah dalam
Biji Karet
10,2 %
8,7 %
24,6 %
39,6 %
16,3 %

Produksi biji karet ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain klon, jarak tanam,
gangguan penyakit, umur tanaman, perawatan kebun (pemupukan), sifat fertilitas, jumlah
bunga, dan iklim. Bersamaan dengan perkembangan buah dan biji, terjadi pula peningkatan
berat kering biji. Berat kering maksimum terjadi pada umur 5 bulan setelah penyerbukan. Bila
kondisi cuaca memungkinkan, buah akan merekah dan melepaskan bijinya pada minggu ke22 sampai minggu ke-24.

1.4.4 Proses Produksi


Teknologi proses produksi bioavtur terus mengalami perkembangan untuk
mendapatkan efisiensi yang lebih baik terhadap kuantitas dan kualitas bioavtur yang ingin
dihasilkan. Proses pembuatan bioavtur dibagi menjadi dua bagian utama untuk menghasilkan
bioavtur, yaitu pengambilan minyak biji karet dan pembuatan methyl ester.
A. Pengambilan Minyak Biji Karet
Pada tahap pengambilan asam lemak (minyak) dari bahan baku, ada dua cara yang
biasa dilakukan, yaitu dengan cara ekstraksi solvent dan menggunakan cara pressing. Dimana
dari kedua cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perbandingan
dari kedua metode tersebut dapat dilihat pada Tabel. 1.9.
Tabel. 1.9 Perbandingan Proses Pengambilan Minyak Nabati
16

Pressing
Ekstraksi Solvent

Parameter

(sumber: Saxena, et al,


2011)

1
2
3.
4

Waktu Proses
Biaya Pelarut
Yield
Kebutuhan
Energi

(sumber: Luthfi, dkk.2008,


Pengambilan Minyak Biji
Karet dengan Metode
Ekstraksi Solovent dan

60 menit
Tinggi (n-heksana)
91,4 %

Pengepresan)
5 menit
Tidak pakai pelarut
25%

Tinggi

Rendah

Berdasarkan analisa proses diatas, maka digunakan proses ekstraksi solvent untuk
mengambil minyak dari biji karet, hal ini dipilih karena dipandang lebih memberikan yield
yang besar dan ekonomis karena solvent yang digunakan dapat di-recycle.
B. Pembuatan Methyl Ester dengan Proses Transesterifikasi
Tahap reaksi metil ester ini tergantung pada kandungan minyak yang di peroleh
dari proses ekstraksi. Apabila kandungan asam lemak bebasnya di atas 95% maka metode
yang di pakai adalah metode esterifikasi, sedangkan apabila kandungan asam lemak bebasnya
di bawah 95% maka metode yang di pakai adalah metode transesterifikasi. Reaksi ini bisa
dilakukan menggunakan dua jenis reaktor, yaitu PFR (Plug Flow Reactor) atau CSTR
(Continous Stirred Tank Reactor). Perbandingan kedua proses disajikan pada Tabel 1.10.
Tabel. 1.10 Perbandingan Proses Produksi Bioavtur
No
Proses

Transesterifikasi

Transesterifikasi minyak

minyak dengan reaktor

dengan reaktor CSTR

Flug Flow

(sumber: Alamsyah, dkk,

(Sumber : Patent

2008)

Application
Parameter

Publication, no:US

Waktu operasi

2003/0229238 A1)
< 3 menit

20 menit

2
3

Volume reaktor
Konversi

Kecil
Sampai dengan 80%

Besar
Sampai dengan 80%

Produk Samping

Gliserin

Gliserin

Berdasarkan analisa proses diatas, maka dipilih reaktor PFR jenis Fixed Bed dengan
pertimbangan, yaitu memiliki waktu reaksi yang singkat, volume reaktor akan kecil,
17

penggunaan katalis padat sehingga memudahkan dalam penempatan katalis. Selain itu, dari
segi ekonomi, biaya investasi untuk pembuatan reaktor dapat diminimalkan karena volume
reaktor kecil.

18

Anda mungkin juga menyukai