Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sumber daya alam potensial, terutama

pada sektor pertambangan, pariwisata dan pertanian. Bahkan pada beberapa sektor pertanian sendiri
Indonesia banyak menjadi eksportir besar dunia, seperti kelapa sawit yang bahkan hampir mencapai
60% dari total perdagangan minyak kelapa sawit dunia. Selain komoditas minyak kelapa sawit, ada
beberapa komoditas lainnya seperti kopi, teh, dan coklat.
Melihat beragamnya komoditi ekspor Indonesia, maka peningkatan kualitas dan jaminan mutu
dirasa perlu untuk menghindari kerugian konsumen didalam dan diluar negeri. Dimana kemudian
kesetiaan konsumen untuk mengkonsumsi komoditi Indonesia dapat terwujud sebagai bentuk respon
kepuasan konsumen tersebut. Jaminan mutu tersebut dapat diinformasikan melalui label atau sertifikat
yang menunjukan bahwa satu komoditi tersebut telah lulus Standar Negara Indonesia (SNI).
Penetapan standar negara Indonesia itu sendiri perlu mengacu pada standar yang diterapkan di
pasar internasional, bahkan penetapan standar produk ekspor Indonesia harus pula sesuai dengan
standar yang diterapkan di negara tujuan. Hal ini penting dilakukan oleh Indonesia untuk
meminimalisir kerugian dari kedua belah pihak, dimana dari sisi konsumen, mereka tidak terpuaskan
dengan kualitas dari produk indonesia. Dan dari sisi produsen, eksportir dirugikan apabila produk
yang hendak diekspor ditolak negara tujuan karna tidak sesuai stantard negara tujuan tersebut.
Khusus untuk produk kopi sendiri, yang menjadi salah satu produk unggulan Indonesia, pada
tahun 2012 pernah mengelami penolakan ekspor ke Jepang, salah satu negara tujuan ekspor besar kopi
Indonesia, dimana karantina Jepang menolak 10 peti kemas berisi 130 ton kopi dari Indonesia karena
melebihi batas residu. Kopi Indonesia dianggap mengandung unsur aktif pestisida isocarabon
carbaryl melebihi batas yang ditentukan oleh negara Jepang. Penolakan ini didasarkan pada standar
Jepang yang menetapkan batas maksimal kandungan karbaril sebesar 0,01 milligram per kilogram.
sedangkan pada kopi Indonesia, Jepang menemukan kandungan karbaril sekitar 0,01 milligram per
kilogram bahkan lebih.

1.2.

Rumusan Masalah
Melihat dari masalah tersebut maka terdapat beberapa masalah yang penulis anggap perlu

untuk dibahas mengenai penetuan standar Indonesia terhadap komoditas kopi.


a. Bagaimana sistem regulasi pemerintah Indonesia dalam menentukan standar mutu untuk
komoditas kopi?

b. Apakah standar mutu yang ditetapan oleh Indonesia untuk komoditas kopi tidak sesuai dengan
standar kopi dunia sehingga mengalami penolakan oleh Jepang?
c. Apakah ada factor-faktor lain yang menyebabkan penolakan produk ekspor biji kopi oleh
negara Jepang?

1.3.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian tentang penentuan standar Indonesia terhadap komoditas kopi adaah

sebagai berikut.
a. Untuk memperoleh informasi mengenai regulasi pemerintah Indonesia dalam menentukan
standar mutu komoditas biji kopi.
b. Untuk mengetahui apakah standar mutu yang ditetapkan oleh Indonesia untuk komoditas
kopi tidak sesuai dengan standar kopi dunia.
c. Untuk mengetahui factor-faktor lain yang menyebabkan penolakan produk ekspor biji
kopi oleh negara Jepang.

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1. Landasan Teori


2.1.1. Standardisasi Produk
Standardisasi adalah proses pembentukan standar teknis dari ukuran spesifikasi produk,
standar uji, definisi, dan prosedur standar pelaksanaan produksi. Produk adalah segala sesuatu yang
ditawarkan ke pasar untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan (Kotler, 1997:52). Standardisasi
Produk di sektor industri merupakan salah satu instrumen penting yang berfungsi melindungi
konsumen domestik dari ancaman produk tidak bermutu yang beredar di pasaran, terutama untuk
produk yang mudah rusak (perishable goods), seperti produk makanan (buah-buahan, sayuran,
perikanan) dan minuman. Pentingnya jaminan mutu dan keamanan produk pangan disebabkan oleh
peningkatan peradaban penduduk dunia (Rokhman, 2008 seperti dikutip oleh Yuwono, 2012). Dengan
adanya regulasi teknis yang berbasiskan standardisasi dapat mencegah beredarnya produk-produk
yang tidak bermutu berkaitan dengan isu kesehatan, keamanan, keselamatan, dan pelestarian fungsi
lingkungan hidup. Di sisi lain, bagi produsen standarisasi produk sangat penting agar produsen
memiliki pedoman dalam memproduksi barang yang sesuai dan dapat diterima oleh regulasi standar
produk yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Berkaitan dengan standarisasi produk di Indonesia,
perkembangan standar produk dalam dunia industri telah bertahun-tahun lalu mulai digerakkan oleh
industri nasional bersama-sama pemerintah meningkatkan mutu produk, karena peranan mutu sangat
penting untuk mempertahakan kepercayaan konsumen domestik dan luar negeri terhadap produk yang
diproduksi.

2.1.1.1. Standardisasi Kopi Nasional


Khusus untuk produk kopi, Badan Standardisasi Nasional yang dibentuk berdasarkan
Keputusan Presiden No. 13 Tahun 1997 merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen dengan
tugas pokok mengembangkan dan membina kegiatan standardisasi di Indonesia telah mengeluarkan
SNI 01-2907-2008 yang berisi penggolongan dan persyaratan mutu biji kopi. Standar ini disusun dan
direvisi berdasarkan perkembangan pasar global, seperti sebagian Resolusi ICO 407 serta
mempertimbangkan persyaratan internasional. Adapun ruang lingkup SNI Biji Kopi mencakup
penetapan penggolongan dan persyaratan mutu, cara pengujian, penandaan, dan pengemasan biji kopi
jenis robusta dan arabika. Berikut ini tabelketentuan standar mutu biji kopi Indonesia berdasarkan
dokumen Badan Standardisasi Nasional.

Tabel 1. Syarat Mutu Umum Biji Kopi berdasarkan SNI

No.

Kriteria

Satuan

Persyaratan

1.

Serangga Hidup

Tidak ada

2.

Biji berbau busuk dan atau berbau kapang

Tidak ada

3.

Kadar air

% fraksi massa

Maks 12,5

4.

Kadar kotoran

% fraksi massa

Maks 0,5

Sumber : SNI 01-2907-2008

Tabel 2. Syarat Penggolongan Mutu Kopi Robusta dan Arabika berdasarkan SNI

Mutu

Persyaratan

Mutu 1

Jumlah nilai cacat maksimum 11*

Mutu 2

Jumlah nilai cacat 12 sampai dengan 25

Mutu 3

Jumlah nilai cacat 26 sampai dengan 44

Mutu 4a

Jumlah nilai cacat 45 sampai dengan 60

Mutu 4b

Jumlah nilai cacat 61 sampai dengan 80

Mutu 5

Jumlah nilai cacat 81 sampai dengan 150

Mutu 6

Jumlah nilai cacat 151 sampai dengan 225

CATATAN : Untuk kopi arabika, mutu 4 tidak dibagi menjadi sub mutu 4a dan 4b
Penentuan besarnya nilai cacat dari setiap biji cacat dicantumkan dalam table 7.
* untuk kopi peaberry dan polyembrio
Sumber : SNI 01-2907-2008

2.1.1.2. Standar Produk Biji Kopi Internasional

Pada awal tahun 2002, Dewan ICO (International Coffee Organization) mengadakan sidang
yang menghasilkan Resolusi No. 407 yang berisi Program Perbaikan Mutu Kopi yang mulai efektif
diberlakukan per 1 Oktober 2002. Berikut ini tabel tentang syarat umum biji kopi ICO 407.

Tabel 3. Syarat Mutu Umum Biji Kopi berdasarkan ICO No. 407

No.

Jenis Kopi

Standar Minimum

Sampel

1.

Kopi Arabika

Nilai cacat maks 86 per 300 gr

Standar mutu Brazil/New York

2.

Kopi Robusta

Nilai cacat maks 150 per 300 gr

Standar mutu Indonesia/Vietnam

3.

Kandungan Kadar Air biji Kopi maks Metode ISO 6673


12,5 %

Sumber : Resolusi ICO No. 407

Tabel 4. Syarat Penggolongan Mutu Kopi Robusta dan Arabika berdasarkan ICO No. 407

Mutu (Grade)

Persyaratan

Mutu 1

Jumlah nilai cacat maksimum 11*

Mutu 2

Jumlah nilai cacat 12 sampai dengan 25

Mutu 3

Jumlah nilai cacat 26 sampai dengan 44

Mutu 4a

Jumlah nilai cacat 45 sampai dengan 60

Mutu 4b

Jumlah nilai cacat 61 sampai dengan 80

Mutu 5

Jumlah nilai cacat 81 sampai dengan 150

Mutu 6

Jumlah nilai cacat 151 sampai dengan 225

Sumber : Resolusi ICO No. 407

2.2. Teori Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional merupakan perdagangan antar negara yang dapat dilakukan antar
pemerintah maupun individu yang berada di negara yang berbeda. Perdagangan internasional memiliki
manfaat untuk menciptakan efisiensi suatu negara dalam memenuhi kebutuhannya karena adanya
keterbatasan sumber daya di masing-masing negara. Adanya Perdagangan internasional pun turut
mendorong Industrialisasi,

kemajuan transportasi, globalisasi,

dan

kehadiran perusahaan

multinasional.

2.2.1. Teori Keunggulan Absolut (Teori Klasik)


Teori keunggulan Absolut dikemukakan oleh Adam Smith dimana negara akan memperoleh
manfaat perdagangan internasional karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang
jika negara ini memiliki keunggulan mutlak dan akan mengimpor barang bila tidak memiliki
keunggulan

mutlak.

Misalnya,Indonesia memproduksi beras dan

tidak

memproduksi mobil.

Sebaliknya, Jerman memproduksi mobil dan tidak memproduksi beras. Dengan demikian,perdagangan
internasional akan terjadi di antara keduanya bila Indonesia dan Jerman bersedia bertukar mobil dan
beras. Teori keunggulan absolut beranggapan bahwa yang menentukan berhasil atau tidaknya
perdagangan internasional suatu negara yaitu oleh produktivitas tenaga kerjanya, karena berasumsi
tenaga kerja adalah satu-satunya faktor produksi pada suatu Negara. Teori ini juga didasari atas
beberapa asumsi pokok lain sebagai berikut: kualitas produksi yang diproduksi kedua negara sama,
pertukaran dilakukan secara barter atau tanpa uang, biaya yang dikeluarkan pada transportasi
diabaikan.

2.1.2. Teori Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage Theory)


Teori perdagangan internasional tentang Keunggulan komparatif sebuah negara terhadap
negara lain yang saling melakukan perdangangan yang dikemukakan oleh David Ricardo, dimana
suatu negara memiliki opportunity cost yang lebih kecil sehingga suatu negara akan memperoleh
manfaat perdagangan jika berspesialisasi pada pada produksi dan mengekspor barang dimana negara
tersebut dapat berproduksi lebih produktif dan mengimpor barang dimana negara tersebut berproduksi
kurang/tidak produktif. Sebagai contoh keunggulan komparatif keterbatasan tenaga kerja yang dapat
bekerja pada suatu negara dalam memproduksi pakaian atau computer, biaya peluang dalam
memproduksi computer adalah jumlah pakaian yang tidak diproduksi, dan sebaliknya biaya peluang
memproduksi pakaian adalah jumlah computer yang tidak dapat diproduksi, sehingga negara
dihadapkan pada pilihan berapa banyak jumlah pakaian atau computer yang diproduksi. Kemudian

anggap ada dua negara yaitu Amerika dan Indonesia sama-sama dapat memproduksi pakaian dan
computer. Negara Amerika dapat memproduksi 10 juta pakaian dengan sumber daya yang sama
dengan memproduksi 100 ribu computer, sedangkan Indonesia dapa memproduksi 10 juta pakaian
dengan sumber daya yang sama denga memproduksi 30 ribu computer. Berdasarkan penjelasan
sebelumnya, dapat diketahui bahwa pekerja Indonesia kurang produktif dibanding dengan pekerja
Amerika dalam memproduksi computer dan Indonesia dan Amerika memiliki produktivitas yang sama
dalam memproduksi pakaian. Oleh karena itu, Indonesia memiliki biaya peluang yang lebih rendah
dalam memproduksi pakaian karena akan lebih efektif jika sumber daya yang digunakan untuk
memproduksi pakaian dibandingkan memproduksi computer, sedangkan Amerika memiliki
keunggulan komparatif pada produk computer karena sumber daya yang digunakan dalam
memproduki computer lebih efisien dibanding memproduksi pakaian dan juga biaya peluang dalam
memproduksi computer Amerika lebih rendah dari Indonesia. Perbandingan keunggulan komparatif
tersebut dapat digambarkan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 5. Peta Keunggulan Komparatif Amerika dan Indonesia.


Nations
U.S.

Millions of Cloths
-10

Indonesia
Total

Thousands of Computers
+100

+10

-30

+70

Sumber :

Oleh karena itu, dapat disimpulkan Negara Amerika akan lebih memilih memproduksi
computer karena akan lebih menguntungkan dibanding memproduksi pakaian karena Amerika
memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi computer, sedangkan Indonesia akan lebih
memilih memproduksi pakaian dan akan mengimpor computer dari Amerika.

2.2.3. Teori Faktor Endowment (Endowment Factor Theory)

Heckscher-Ohlin megemukakan teori perdagangan internasional bahwa negara-negara akan


cenderung mengekspor barang-barang yang menggunakan sebagain besar factor-faktor produksi yang
berlimpah di negara tersebut dan akan mengimpor barang-barang yang langka pada negara tersebut ke
negara lain. Memproduksi barang-barang yang berasal dari sumber daya yang melimpah akan
memberikan cost yang lebih kecil daripada harus memaksakan memproduksi meski sumber daya yang
ada sedikit. Sebagau contoh negara Cina memiliki tenaga kerja murah dibandingkan Belanda, harus
berkonsentrasi pada produksi barang-barang yang padat tenaga kerja, Belanda dengan modal yang
melimpah lebih baik menspesialisasikan diri pada baraqng padat modal. Sehingga perdagangan antar
kedua negara akan menguntungkan masing-masing negara karea memperoleh barang-barang yang
memerlukan sejumlah besar factor yang relative langka dengan harga lebih murah.

2.3. Klasifikasi Biji Kopi


Kopi (Coffea sp.) merupakan salah satu komoditas ekspor penting dari Indonesia. Data
menunjukkan, Indonesia meng-ekspor kopi ke berbagai negara senilai US$ 588,329,553.00, walaupun
ada catatan impor juga senilai US$ 9,740,453.00 (Pusat Data dan Statistik Pertanian, 2006). Di
Indonesia dikenal kopi khas, contoh kopi tersebut antara lain kopi lintong, kopi toraja dan lainnya.
Secara historis dikenal juga kopi luwak yang sangat terkenal cita rasanya karena cara panen dan
prosesnya yang melalui hewan luwak. Namun pada umumnya di dunia ada umumnya ada 2 jenis kopi
utama yang dipasarkan yaitu Kopi Arabika dan Kopi Robusta, berikut ini merupakan jenis-jenis biji
kopi yang ada di dunia :

2.3.1. Kopi Arabika (Coffea Arabica)


Kopi ini berasal dari Etiopia dan sekarang telah dibudidayakan di berbagai belahan dunia,
mulai dari Amerika Latin, Afrika Tengah, Afrika Timur, India, dan Indonesia. Secara umum, kopi ini
tumbuh di negara-negara beriklim tropis atau subtropis. Kopi arabika tumbuh pada ketinggian 600
2000 m di atas permukaan laut. Tanaman ini dapat tumbuh hingga 3 meter bila kondisi lingkungannya
baik. Suhu tumbuh optimalnya adalah 18-26 oC. Biji kopi yang dihasilkan berukuran cukup kecil dan
berwarna hijau hingga merah gelap.

2.3.2. Kopi Robusta (Coffeea Canephora)


Jenis kopi ini berasal dari hutan equator Afrika, dan didatangkan tahun 1900. Seperti halnya
Liberika, Robusta juga didatangkan untuk mengatasi penyakit karat daun. Rupanya, Robusta memiliki
pertumbuhan yang kuat, pemeliharaannya ringan, juga dengan hasil produksi lebih tinggi. Kini, jenis
kopi Robusta mendominasi sekitar 90% area kopi di Aceh, Tapanuli, Lampung, Jawa Timur, Sulawesi
Selatan, Bali, juga Sumatera Selatan. Kopi jenis robusta yang asli sudah hampir musnah. Saat ini,
beberapa jenis robusta sudah tercampur menjadi klon atau hibrida, seperti klon BP 39, BP 42, SA13,
SA 34 dan SA 56. Sementara itu klon atau hibrida yang dihasilkan oleh Puslitkoka Indonesia

diantaranya BP 42x, BP 234, BP 288, BP 308, BP 358, BP 409, BP 436, BP 534, BP 936, SA 203, SA
234, dan SA 237. Produksi kopi jenis Robusta secara umum dapat mencapai 800 2.000kg/ha/tahun
(Ditjenbun,2002).

2.3.3. Kopi Liberika (Coffea Liberica)


Jenis kopi Liberika berasal dari wilayah Monrevia dan Liberia. Kopi ini dapat tumbuh setinggi
9 meter dari tanah. Pada abad-19, jenis kopi ini didatangkan ke Indonesia untuk menggantikan
kopi Arabika yang terserang oleh hama penyakit. Namun jenis kopi ini kurang disukai konsumen
karena rasanya terlalu asam dan lebih pahit..

2.3.4. Kopi Ekselsa


Kopi Ekselsa merupakan jenis kopi yang tidak begitu peka terhadap penyakit HV dan dapat
ditanam di dataran rendah dan lembap, atau dapat juga disimpulkan bahwa kopi Ekselsa (Excelsa) ini
dapat ditanam di daerah yang tidak sesuai untuk kopi robusta. Kopi Ekselsa (Excelsa) juga dapat
ditanam di atas lahan gambut, kemudian cukup 3,5 tahun, tanaman ini sudah mampu memproduksi
beras kopi sekitar 800-1200 kg per Hektar. Kopi Ekselsa dianggap minim peminat, karena cita rasanya
terlalu asam dan pahit. Ditemukan pada awal abad ke-20 di wilayah Afrika Barat. Pada awalnya
tanaman ini disebut sebagai spesies Coffea excelsa, kadang-kadang disebut spesies Coffea dewevrei.
Harga jenis kopi Ekselsa sebenarnya lebih tinggi dari Robusta. Jenis ini sekarang sedang
dikembangkan kembali di Indonesia sebagai kopi specialty.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif,
dimana penelitian ini berusaha untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi pada kajian mutu
komoditas kopi Indonesia berdasarkan data yang telah dikaji ulang oleh penulis sehingga terjamin ke
validatisannya.

3.2. Sumber Data Penelitian


Penelitian ini menggunakan data yang didapat dari website terkait dan jurnal penelitian
terdahulu yang terkait dengan penelitian ini, dengan batasan kurun waktu data dari tahun 2008 sampai
tahun 2016.

3.3. Teknik Pengumpulan Data


Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan metode study pustaka, yaitu suatu teknik metode
pengumpulan data yang tidak mengharuskan penulis terjun lapangan (observasi langsung). Dengan
kata lain, penulis memanfaatkan data yang telah ada dari penelitian sebelumnya yang sesuai dengan
batasan waktu yang ditentukan, yang kemudian dikaji ulang oleh penulis.

3.5. Teknik Analisa Data


Metode/teknik analisis data yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif
dari berbagai data yang sebelumnya sudah diolah terlebih dahulu.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Sejarah Kopi Indonesia


Kopi pertama kali dibawa ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda pada tahun 1696 dari
jenis kopi Arabika. Kopi ini masuk melalui Batavia (sekarang Jakarta) yang dibawa oeh komandan
pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar - India, yang kemudian di tanam dan
dikembangkan ditempat yang sekarang dikenal dengan Pondok Kopi Jakarta Timur, tetapi kemudian
tersebut mati semua karena banjir, kemudian pada tahun 1699 didatangkan bibit baru, yang kemudian
berkembang dikepulauan Indonesia seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor.
Perkembangannya begitu pesat kopi kemudian menjadi komoditas dagang yang diandalkan
oleh VOC. pada tahun 1706 kopi Jawa diteliti di Belanda, di Kota Amsterdam, yang kemudian pada

tahun 1714 hasil penelitian tersebut diperkenalkan dan ditanam di Jardin des Plantes oleh Raja Louis
XIV. VOC kemudian berhasil memonopoli bursa perdagangan kopi dunia di tahun 1725 sampai 1780.
Pulau jawa sendiri adalah tempat pertama kali kopi dibudidayakan secara luas di luar Arab dan
Ethiopia. Tercatat bahwa di tahun 1725 tersebut Nusantara merupakan kawasan pengekspor kopi
terbesar di dunia yang sebagian besar produksinya berasal dari pulau jawa.
Keberhasilan VOC memonopoli perdagangan kopi dunia tidak lepas dari perjanjian
Koffiestelsel (sistem kopi), yaitu sebuah perjanjian yang dibuat oleh VOC dengan penguasa setempat,
dimana para pribumi diwajibkan menanam kopi dan semua hasil panennya diserahkan ke VOC,
sehingga Biji kopi berkualitas tinggi dari tanah Jawa Barat membanjiri Eropa.
Sistem perdagangan kopi terus berlanjut meskipun kemudian VOC dibubarkan dan Hindia
Belanda diperintah Belanda, hingga pada saat Herman Willem Daendles memerintah (1780 - 1818),
dibangunlah jalan dari ujung barat Jawa yakni Anyer sampai ujung Timur Jawa yakni Penarukan.
Tujuannya adalah untuk memudahkan transportasi prajurit Belanda dan kegiatan surat - menyurat di
tanah Jawa, memepercepat mobilitas biji kopi dari timur Jawa ke pelabuhan Batavia merupakan
maksud lain dari pembuatan jalan tersebut yang selanjutnya dikapalkan ke Belanda untuk dijual ke
wilayah Eropa.
Penderitaan rakyat pribumi ternyata tidak berhenti pada perjanjian tanam paksa kopi
(koffiestelsel).namun berlanjut dengan cultuurstelsel, yaitu sistem tanam paksa yang diciptakan oleh
Johanes van den Bosch (1780-1844), dimana rakyat idwajibkan menanam komoditi ekspor milik
pemerintah, termasuk kopi pada seperlima luas tanah yang digarap, atau bekerja selama 66 hari dalam
setahun di perkebunan-perkebunan milik pemerintah. Akibatnya, terjadi kelaparan ditanah Jawa dan
Sumatera pada tahun 1840-an. Namun, berkat cultuurstelsel tersebut, pulau Jawa menjadi pemasok
biji kopi terbesar di Eropa.
Perdagangan kopi tentu membawa keuntungan yang sangat besar bagi pemerintah kolonial
Belanda, tetapi tidak bagi rakyat pribumi. Secara teori, memproduksi komoditas ekspor menghasilkan
uang bagi para petani pribumi untuk membayar pajak mereka. Cultuurstelsel untuk kopi diterapkan di
daerah praenger Jawa Barat, pada praktiknya harga untuk komditas utama pertanian tersebut di-setting
sangat rendah, sehingga menyebabkan situasi yang berat bagi para petani.
Masa keemasan kopi nusantara mulai jatuh ketika terjadi serangan penyakit karat daun
melanda pada tahun 1878. Setiap perkebunan di seluruh Nusantara terkena penyakit kopi yang
disebabkan oleh Hemileia vasatrix tersebut. Jawa Barat menjadi daerah terparah yang mengalami
kerusakan akibat serangan hama penyakit karat daun tersebut. Serangan karat daun membunuh semua
tanaman kopi arabika yang tumbuh di dataran rendah. kopi arabika yang tersisa hanyalah yang tumbuh

di dataran tinggi (1.000m dari permukaan laut), yaitu sekitar 10% dari total tanaman, yang terdapat di
Aceh Tengah, Malang, Jember, Bali, Sumatra Utara dan Sumatra Selatan.
Setelah terjadinya tragedi karat daun tersebut, kemudian didatangkan jenis kopi baru yaitu
Liberika dari wilayah Monrevia dan Liberia pada tahun 1875. Maksud didatangkan jenis kopi baru ini
untuk menggantikan kopi Arabika yang mati diserang wabah karat daun tersebut. Tetapi ternyata jenis
kopi Liberika tidak dapat dikembangakan, kopi Liberika ternyata kurang disukai karena rasanya
terlalu asam dan lebih pahit dibandingkan Arabika.
Setelah percobaan pada kopi jenis Liberika mengalami kegagalan, pemerintah kemudian
mencoba mendatangan kopi jenis lainnya. yaitu kopi jenis Robusta (Coffea canephora) yang ternyata
tahan terhadap penyakit karat daun dan memerlukan syarat tumbuh serta pemeliharaan yang ringan,
selain itu itu produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kopi Arabika. Sehingga kopi Robusta
mulai ditanam secara luas didataran rendah dengan ketinggian kurang dari 1.000m dari permukaan
laut dan sampai sekarang menjadi jenis kopi yang mendominasi perkebunan kopi di Nusantara
Indoensia. produktifitas kopi Indonesia.

4.2. Produksi Komoditas Biji Kopi Indonesia dan Dunia


Komoditas kopi mengalami perkembangan relatif cepat di tanah Nusantara Indonesia, dumulai
dari saat masa penjajahan belanda, dan jenis kopi yang ditanam adalah kopi arabika kopi Nusantara
sudah berhasil mendominasi pasar dunia, dan untuk pulau jawa bahkan menjadi pemasok kopi terbesar
di Eropa, dimana total produksi kopi Arabika Jawa mencapai 26.600 ton pada tahun 1830-1834, dan
selang 30 tahun kemudian produksi kopi Arabika Jawa menjadi 79.600 ton. Hingga saat ini Indonesia
termasuk dari 5 negara terbesar eksportir kopi dunia. Tahun 2014, Indonesia menjadi negara nomor 4
sebagai negara produsen dan eksportir kopi terbesar dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia.

Tabel 6. 5 Negara Produsen Kopi Terbesar di Dunia Tahun Tanaman 2014.


Brasil
Vietnam
Kolombia
Indonesia
Ethiopia
Sumber : International Coffea Organization

45,342,000
27,500,000
12,500,000
9,350,000
6,625,000

Tabel 7. 5 Negara Eksportir Kopi terbesar di Dunia pada Tahun 2014.

Brasil
Vietnam
Kolombia
Indonesia
India
Sumber : International Coffea Organization

36,420,000
25,298,000
10,954,000
5,977,000
5,131,000

Saat ini, luas total perkebunan kopi di indonesia sekitar 1,24 hektar, 933 hektar perkebunan
kopi jenis robusta dan 307 hektar perkebunan kopi jenis arabika. Sektiar 90% dari total perkebunan
dibudidayakan oleh para petani skala kecil, mirip dengan produsen kopi regional terbesar Vietnam.
Sebagian besar hasil produksi biji kopi Indonesia adalah kopi jenis robusta yang kualitasnya lebih
rendah dibandingan kopi jenis Arabika. Oleh karena itu, sebagian besar ekspor kopi Indonesia (sekitar
80%) adalah biji kopi jenis robusta. Sedangkan, ekspor kopi olahan hanya sebagian kecil dari total
Ekspor kopi Indonesia.
Berikut Provinsi-provinsi yang berkontribusi paling besar untuk produksi kopi Indonesia.
Tabel 8. Daerah-daerah penghasil biji kopi terbesar di Indonesia.
Robusta
Arabika
Bengkulu (Sumatra)
Aceh (Sumatra)
Sulawesi Selatan
Sumatra Utara
Lampung
Sumber: Asosiasi eksportir Industri Kopi Indonesia (AEKI)
Dimulai dari tahun 1960an, Indonesia menunjukan peningkatan yang kecil namun stabil dalam
produksi kopi dunia. kendati begitu, menurut data dari badan pusat statistik (BPS) Indonesia, luas
perkebunana-perkebunana kopi di Indonesia menurun, hal ini dikarenakan para petani telah mengubah
fokus produksi mereka kepada komoditas yang dianggap lebih menguntungkan dibanding kopi,
seperti: kelapa sawit, karet dan kakao.
Pada tahun 2012, kira-kira 70% dari total produksi tahunan biji kopi Indonesia diekspor,
terutama kepada para pelanggan di jepang, Afrika Selatan, Eropa Barat, dan Amerika Serikat. Kendati
begitu, karena jumlah konsumsi domestik kopi Indonesia telah tumbuh jaumlah ekspor telah menurun.
Berikut data produksi dan ekspor kopi Indonesia tahun 2008-2016.
Tabel 9. Produksi dan ekspor kopi Indonesia tahun 2008-2016.
Produksi(ton)

2008
698,0

2009
682,69

2010
686,92

2011
633,99

2012
748,10

2013
740,00

2014
711,51

2015
550,00

2016
650,00

Ekspor(ton)

16
491,3

0
518,12

1
440,24

1
353,69

9
520,27

0
460,00

3
382,77

0
350,00

0
400,00

Ekspor(miliy

35
1.08

2
0.89

1
0.86

8
1.09

5
1.53

0
n.a

4
1.03

0
1.19

0
1.36

ar dollar AS)
menunjukan prognosis
Sumber: Asosiasi eksportir Industri Kopi Indonesia (AEKI)
Tabel 10. Konsumsi Domestik Kopi di Indonesia.
konsumsi

Nasional(dalam

Bungkus

kiligram)
Sumber: International Coffea Organization

2011
2012
60 3,333,000 3,584,00
0

2013
4,042,00

2014
4,167,000

Apabila di kaji dengan teori perdangan internasional, maka Indonesia seharusnya memiliki
keunggulan perdagangan di komoditas pertanian (agriculture), dimana menurut Heksher-Ohlin bahwa
sebuah negara akan cenderung mengekspor produk yang menggunakan sebagian besar faktor-faktor
produksi yang melimpah dari negara tersebut dan mengimpor produk yang menggunakan sebagain
besar faktor produksi yang langka atau tidak dimiliki oleh negara tersebut(Endowment Factor Theory).
Kenyataannya pada komoditas kopi, Indonesia memiliki keunggulan untuk memproduksi kopi
dibandingkan dengan beberapa negara lain di dunia. Dimana kopi merupakan produk yang
menggunakan tanah sebagai salah satu faktor produksi secara intensif. Kenyataan bahwa Indonesia
merupakan negara sub tropis, sehingga kultur tanah di Indonesia sangat cocok untuk tanaman yang
satu ini.
Melihat tingkat produktifitas kopi Indonesia yang tinggi, maka dapat dikatakan bahwa
Indonesia mempunyai keunggulan absolut untuk komoditas kopi terhadap beberapa negara di dunia,
bilang saja jepang. Adam Smith mengatakan bahwa sebuah negara akan memiliki keunggulan mutlak
apabila tenaga kerja sebuah negara tersebut lebih produktif pada satu peroduk tersebut dibandingkan
dengan negara lainnya, dan karena petani Indonesia telah lama mengenal tanaman kopi dan telah
menekuni budidaya kopi lebih dari satu abad. Maka petani Indonesia tentu lebih terampil dalam
budidaya kopi dibandingkan dengan petani jepang. Keunggulan Indonesia untuk komoditas kopi
terhadap jepang juga sesuai dengan teori keungguan komparatif, dimana Indonesia dengan segala
faktor pendukungnya Indonesia memiliki keunggulan pada produk kopi, dan Jepang punya
keunggulan pada produk elektronik. Hal ini terbukti dengan jumlah ekspor kopi Indonesia dek
berbagai dunia termasuk Jepang.

4.3. Kajian Kualitas Biji Kopi Indonesia


Melihat pada sejarahnya, kopi Indonesia pernah menjadi primadona di dunia. Dimana saat itu
produksi kopi Indonesia masih fokus dengan kopi jenis Arabika. Namun masa keemasan itu jatuh
setelah semua tanaman kopi Arabika Indonesia terserang wabah karat daun pada tahun 1878, dimana
dari tragedi itu hanya menyisakan 10% dari total tanaman kopi Arabika Indonesia, setelah taragedi
tersebut varietas kopi yang ditanam di Indonesia adalah varietas kopi kelas dua, yakni Robusta.

Meskipun tingkat produksi semakin meningkat, kualiatas kopi Indonesia sudah berkurang
kenyataannya mulai banyak negara yang tertarik dengan komoditas kopi, menjadi tantangan tersendiri
bagi Indonesia untuk memepertahankan pasarnya. Selain peningkatan kuantitas produksi, Indonesia
perlu meningkatakan kualitas sebagai jaminan mutu kepada para pelanggan. Pada tahun 2012 kopi
Indonesia yang berasal dari sentra biji Provinsi Lampung pernah mengalami penolakan ekspor ke
Jepang, sekitar 10 peti kemasan berisi 130 ton ditolak masuk Jepang. Jepang beralasan bahwa kopi
Indonesia melebihi batas residu, dimana kopi Indonesia dianggap mengandung unsur aktif pestisida
isocarabon carbaryl melebihi batas yang ditentukan Jepang, yakni sekitar 0,01 miligram per kilogram,
hal ini tidak sesuai dengan standar Jepang yang memberikan batas residu 0,01 miligram per kilogram.
Hal ini tentunya akan sangat merugikan eksportir dan juga petani dalam negeri, karena dalam
beberapa tahun terakhir produk ekspor kopi sering ditolak oleh negara tujuan ekspor. Beberapa poin
masalah yang perlu diperhatikan berkaitan dengan masalah penolakan ini, diataranya yaitu kesalahan
dari petani kopi yang menggunakan bahan kimia pestisida yang berlebihan dalam proses pemeliharaan
tanaman kopi, kemudian eksportir kopi yang tidak melakukan pengujian kandungan bahan kimia
terlebih dahulu sebelum diekspor ke negara tujuan, dan juga kurangnya pengawasan dari lembaga
pemerintah maupun regulasi yang belum berfungsi dengan efektif untuk menghindari praktek yang
bermasalah dalam kegiatan produksi biji kopi di Indonesia. Namun di sisi lain, penolakan ini
sebaiknya segera direspon dengan cepat dan tepat serta dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh
stakeholder yang berkaitan dengan kegiatan ekspor biji kopi ini. Sebelum meneliti factor-faktor di
atas, terlebih dahulu akan diteliti apakah di dalam SNI biji kopi, dicantumkan persyaratan mengenai
kandungan bahan kimia maksimum pada biji kopi ekspor. Adapun berikut ini standar-standar yang
ditetapkan di dalam SNI, yaitu sebagai berikut.
1. Ruang Lingkup, SNI menetapkan penggolongan dan persyaratan mutu, cara penggunaan,
penandaan, dan pengemasan biji kopi jenis Robusta dan Arabika.
2. Acuan Normatif dan berbagai istilah dan definisi berkaitan dengan mutu biji kopi.
3. Penggolongan yang meliputi jenis kopi (Robusta dan Arabika), cara pengolahan (pengolahan
kering dan pengolahan basah), nilai cacatnya (digolongkan menjadi 6 tingkat mutu, untuk kopi
Robusta mutu 4 terbagi dalam sub tingkat mutu 4a dan 4b), ukuran biji kopi (ukuran kopi
Robusta dan Arabika), jumlah keeping biji (Peaberry dan Polyembrioni).
4. Syarat Mutu, yang terbagi menjadi syarat mutu umum (mencakup kriteria, satuan, dan
persyaratan umum biji kopi) dan syarat mutu khusus (syarat mutu khusus kopi Robusta
pegolahan kering dan pengolahan basah, syarat mutu khusus kopi Arabika), kemudian syarat
berdasarkan jumlah keeping biji (syarat mutu khusus kopi Peaberry dan kopi Polyembrio),
syarat berdasarkan system nilai cacat (syarat penggolongan mutu kopi Robusta dan Arabika,
penentuan besarnya nilai cacat biji kopi)
5. Cara uji, syarat uji lulus, syarat penandaan dan pengemasan.
Berikut ini syarat umum dan khusus SNI yang diklasifikasikan dalam bentuk tabel.

Tabel 11. Syarat Mutu Umum Biji Kopi berdasarkan SNI


No.

Kriteria

Satuan

Persyaratan

1.

Serangga Hidup

Tidak ada

2.

Biji berbau busuk dan atau berbau kapang

Tidak ada

3.

Kadar air

% fraksi massa

Maks 12,5

4.

Kadar kotoran

% fraksi massa

Maks 0,5

Sumber : SNI 01-2907-2008

Tabel 12. Syarat Penggolongan Mutu Kopi Robusta dan Arabika berdasarkan SNI

Mutu

Persyaratan

Mutu 1

Jumlah nilai cacat maksimum 11*

Mutu 2

Jumlah nilai cacat 12 sampai dengan 25

Mutu 3

Jumlah nilai cacat 26 sampai dengan 44

Mutu 4a

Jumlah nilai cacat 45 sampai dengan 60

Mutu 4b

Jumlah nilai cacat 61 sampai dengan 80

Mutu 5

Jumlah nilai cacat 81 sampai dengan 150

Mutu 6

Jumlah nilai cacat 151 sampai dengan 225

CATATAN : Untuk kopi arabika, mutu 4 tidak dibagi menjadi sub mutu 4a dan 4b
Penentuan besarnya nilai cacat dari setiap biji cacat dicantumkan dalam table 7.
* untuk kopi peaberry dan polyembrio
Sumber : SNI 01-2907-2008
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa SNI hanya menetapkan syarat mutu
berdasarkan nilai cacat, jumlah keping, cara pengolahan, dan lainnya, namun tidak menetapkan syarat
kandungan maksimum bahan kimia dalam produk biji kopi ekspor. Hal ini dapat menjadi salah satu
factor yang mendorong terjadinya proses produksi yang tidak sesuai dengan standar beberapa negara

yang justru menitikberatkan pentingnya syarat penentuan kandungan maksimum bahan kimia pada
produk biji kopi yang diimpor. Kemudian, dalam kaitannya dengan ketetapan/ standar biji kopi dunia
seperti standar biji kopi oleh International Coffeea Organization No. 407, SNI sendiri menegaskan
bahwa standar yang ditetapkan dalam SNI disusun dan direvisi berdasarkan perkembangan pasar
global, salah satunya sebagai acuan SNI pada resolusi ICO 407 dan mempertimbangkan persyaratan
internasional lain. Dapat disimpulkan meskipun SNI telah mengikuti sesuai dengan standar pasar
internasional sebagai acuannya namun tetap saja standar kandungan maksimum bahan kimia tidak
termasuk di dalamnya. Kemungkinan lainnya yang dapat disimpulkan bahwa dengan begitu Jepang
telah menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk produk biji kopi yang diimpornya.
Mengenai beberapa factor sebelumnya yang dapat menjadi penyebab terjadinya penolakan
produk ekspor biji kopi Indonesia oleh jepang, yaitu sebagai berikut :
1. kesalahan dari petani kopi yang menggunakan bahan kimia pestisida yang berlebihan dalam
proses pemeliharaan tanaman kopi,
2. eksportir kopi yang tidak melakukan pengujian kandungan bahan kimia terlebih dahulu
sebelum diekspor ke negara tujuan, dan
3. kurangnya pengawasan dari lembaga pemerintah maupun regulasi yang belum berfungsi
dengan efektif untuk menghindari praktek yang bermasalah dalam kegiatan produksi biji kopi
di Indonesia
Pada poin permasalahan ke-1, 2, dan 3 merupakan hal yang saling berkaitan, dimana persoalan
poin pertama dapat disebabkan oleh kurangnya informasi mengenai standar mutu dan tingkat
pendidikan petani yang sebagian besar masih rendah dapat menjadi penyebab terjadinya kesalahan di
tingkat pra panen, panen, dan pasca panen biji kopi Indonesia. Kurangnya peran aktif dari pemerintah
melalui badan pengawas standar mutu yang belum berfungsi hingga ke tingkat petani menjadi bagian
yang hilang dalam rantai proses produksi dan juga pada tingkat pemasaran kurangnya kesadaran dan
praktek yang salah dari para pemasar dan eksportir biji kopi yang tidak memperhatikan mutu dari biji
kopi sehingga berimbas pada penolakan produk oleh konsumen luar negeri. Padahal peran mutu pada
kondisi persaingan global saat sangat penting untuk menjaga kepercayaan konsumen luar negeri
terhadap produk ekspor Indonesia. Maka dari itu, kesadaran dari semua pihak yang terlibat sangat
dibutuhkan dalam rangka peningkatan mutu dan daya saing produk biji kopi Indonesia. Sistem dan
regulasi yang jelas dan transparan juga penting agar penigkatan mutu dapat terus berlanjut dan akan
semakin baik di kemudian hari

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah yang ditetapkan dan hasil penelitian yang diperoleh,
dapat diambil beberapa poin kesimpulan sebagai berikut
A. Pemerintah telah menetapkan standar mutu biji kopi melalui penerbitan SNI. Adapun berikut ini
standar-standar yang ditetapkan di dalam SNI, yaitu sebagai berikut.
a. Ruang Lingkup, SNI menetapkan penggolongan dan persyaratan mutu, cara penggunaan,
penandaan, dan pengemasan biji kopi jenis Robusta dan Arabika.
b. Acuan Normatif dan berbagai istilah dan definisi berkaitan dengan mutu biji kopi.
c. Penggolongan yang meliputi jenis kopi (Robusta dan Arabika), cara pengolahan (pengolahan
kering dan pengolahan basah), nilai cacatnya (digolongkan menjadi 6 tingkat mutu, untuk kopi
Robusta mutu 4 terbagi dalam sub tingkat mutu 4a dan 4b), ukuran biji kopi (ukuran kopi
Robusta dan Arabika), jumlah keeping biji (Peaberry dan Polyembrioni).
d. Syarat Mutu, yang terbagi menjadi syarat mutu umum (mencakup kriteria, satuan, dan
persyaratan umum biji kopi) dan syarat mutu khusus (syarat mutu khusus kopi Robusta
pegolahan kering dan pengolahan basah, syarat mutu khusus kopi Arabika), kemudian syarat
berdasarkan jumlah keeping biji (syarat mutu khusus kopi Peaberry dan kopi Polyembrio),
syarat berdasarkan system nilai cacat (syarat penggolongan mutu kopi Robusta dan Arabika,
penentuan besarnya nilai cacat biji kopi)
e. Cara uji, syarat uji lulus, syarat penandaan dan pengemasan.
B. Standar mutu yang ditetapkan oleh pemerintah melalui penerbitan SNI sudah sesuai dengan
standar kopi internasional, namun penetapan standar mutu biji kopi Indonesia masih di bawah
negara Jepang mengenai kandungan maksimal bahan kimia yang berimbas pada penolakan produk
biji kopi Indonesia oleh Jepang.
C. Beberapa factor yang dapat menjadi penyebab terjadinya penolakan produk ekspor biji kopi
Indonesia oleh Jepang, yaitu sebagai berikut.
a. kesalahan dari petani kopi yang menggunakan bahan kimia pestisida yang berlebihan
dalam proses pemeliharaan tanaman kopi,
b. eksportir kopi yang tidak melakukan pengujian kandungan bahan kimia terlebih dahulu
sebelum diekspor ke negara tujuan, dan
c. kurangnya pengawasan dari lembaga pemerintah maupun regulasi yang belum berfungsi
dengan efektif untuk menghindari praktek yang bermasalah dalam kegiatan produksi biji
kopi di Indonesia

5.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang didapat, saran yang dapat peneliti berikan sebagai berikut

A. Bagi Masyarakat

Sebaiknya masyarakat Indoesia mendukung produk dalam negeri seperti produk kopi dalam
negeri sehingga memberikan ruang bagi produsen dalam negeri untuk berdaya saing di domestic dan
di internasional

B. Bagi Produsen dan Eksportir


Untuk menghindari terjadinya penolakan produk biji kopi ekspor oleh negara tujuan,
sebaiknya menjadi dorongan bagi produsen dalam negeri dan eksportir untuk lebih meningkatkan
mutu dan kualitas kopi agar dapat lebih berdaya saing di pasar kopi internasional.

C. Bagi Pemerintah
Bagi pemerintah untuk lebih berperan aktif dalam mendorong dan mengawasi produsen biji
kopi dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas biji kopi.

D. Bagi Peneliti Selanjutnya


Bagi peneliti selanjutnya, untuk dapat meneliti dan mencari solusi bagi peningkatan mutu
produk biji kopi ekspor Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Penentuan Mutu Produk Biji Kopi Ekspor Indonesia

Disusun oleh:
Ach Nadhiful Fuad (1400210012)
Christopher William Wirasetya (1400220020)
Immanuel Christian Wahyu Putra (

Program Study Ekonomi Pembangungan


Fakultas Sosial dan Ekonomi
Universitas Surya Bogor
2016

Abstrak
Di era perdagangan bebas International saat ini, persaingan yang ketat unutuk masigmasing negara tentu tidak bisa dihindarkan, dimana jaminan mutu dan standar kualitas
terbaiklah yang akan menjadi pemenang di hati konsumen. Hal ini tentu juga berlaku untuk
porduk komoditi pertanian, khususnya kopi.bagi Indonesia kopi merupakan salah satu produk
penyubang devisa terbesar, dimana sebagain besar dari total produksinya diekspor ke luar
negri. Pada sejarahnya, Indonesia pernah menjadi eksportir terbesardi dunia, selain itu kopi
Indonesia pernah menjadi primadona dunia. Sayangnya masa-masa itu tidak berlanjutnya,
jatuhnya produk kopi Indonesia dimulai dari terjadinya serangan wabah karat daun yang
membunuh 90% tanaman kopi arabika di Indonesia, dan setelah itu varietas kopi yang
ditanam di Indonesia berubah menjadi varietas kopi kelas dua, yakni robusta. Meski
produktivitasnya lebih cepat tumbuh, tetapi kualitasnya tentu lebih rendah dibandingkan
dengan varietas kopi arabika. Selain itu semakin banyaknya negara yang tertarik dengan
komodotas kopi, menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk memepertahankan
pasarnya dan menjaga kualitasnya untuk menciptakan kepuasan tersendiri bagi konsumennya.
Pada perjalanannya, Badan Standarisasi Nasional telah memberikan panduan untuk kriteria
biji kopi yang layak ekspor. Kendati begitu, kopi Indonesia pernah mengalami penolakan
Ekspor ke Jepang karena pihak karantina Jepang beranggapan bahwa kopi Indonesia tidak
memenuhi standar jepang. Dimana, kopi indonesia mengandung unsur aktif melebihi batas
residu yang ditentukan. Belajar dari kasus ini, maka pada penelitian ini membahas berkenana
sistem standarisasi Indonesia, apakah Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk Kopi
yang telah ditentukan oleh BSN tidak mengacu pada standarisasi kopi Internasional. Dan
bagaimana cara pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan tingkat prosukdtifitas kopi
Indonesia agar tetap bersaing di pasar Internasional.

Beri Nilai