Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

COMBUSTIO

Pembimbing :
Dr. Rody Kurniawan, Sp.B

DIsusun oleh :
dr.Antonius

INTERNSIP
RSUD BANGKA TENGAH
2016

LAPORAN KASUS

Laporan kasus yang berjudul


Combustio
telah diterima dan disetujui pada tanggal 20 Juli 2016
oleh pembimbing sebagai salah satu syarat menyelesaikan
Program Internsip Dokter Indonesia.

Pemdamping

Pembimbing

Dr. I Made Kharunding

dr. Dora Novriska, MSc, SpA

BERITA ACARA PRESENTASI KASUS


Pada hari ini tanggal 20 Juli 2016 telah dipresentasikan kasus oleh:
Nama presentan

: Antonius

Judul

: Combustio

Nama pembimbing : dr. Dora Novriska, MSc, SpA


Nama pendamping : dr. I Made Kharunding
Tempat wahana

: RSUD Bangka Tengah

No.
Nama Peserta Hadir
Tanda Tangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
Berita acara ini ditulis dan disampaikan dengan sesungguhnya.

Pendamping

(dr. I Made Kharunding)

BAB I
ILUSTRASI KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama
:
Usia
:
Jenis Kelamin :
Alamat
:
Agama
:
Masuk RS
:

An. MS
2 tahun
Laki-laki
Kulur
Islam
11 Mei 2016

B. ANAMNESIS
Dilakukan alloanamnesis pada tanggal 11 Mei 2016 di Bangsal Strawberry.
Keluhan Utama
Demam
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dibawa oleh ibunya dengan keluhan demam sejak 4 hari lalu.
Demam dirasakan sepanjang hari. Sebelum muncul demam, pasien ada tersiram
minyak panas 4 hari lalu. Minyak panas tersebut menyebabkan luka bakar di dada,
perut, tangan kanan, lengan bawah kiri, tangan kiri, dan tungkai bawah kiri. Pasien
sudah dibawa ke bidan dan dibersihkan disana. Kemudian ibu pasien berinisiatif
membawa pasien ke RSUD Bangka Tengah karena demam yang tidak kunjung
hilang.
Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada.
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
a. Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
b. Kesadaran
: Compos mentis
c. Tanda Vital
- Nadi
: 110 x/menit
- Napas
: 22 x/m
- Suhu
: 37,80C
d. Berat Badan
: 10 kg
e. Kepala

Bentuk

: Normocephali, simetris

Mata

: Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor, reflek

cahaya +/+
-

Hidung

: Septum deviasi (-), sekret -/-,mukosa tidak hiperemis

Mulut

: Bibir kering (-),faring tidak hiperemis, tonsil T1/T1

f. Thoraks
- Inspeksi
-

: Bentuk dada normal, pergerakan nafas kanan kiri simetris,

tampak krusta dan kulit yang terkelupas dengan dasar merah muda
Palpasi
: Simetris kanan kiri pada kedua lapang paru
Perkusi
: Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler +/+, wheezing -/-, ronki -/-, bunyi jantung I / II
murni reguler

g. Abdomen
-

Inspeksi

merah muda, luka bekas operasi (-)


Palpasi
: Supel
Perkusi
: Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal

h. Ekstremitas

: Tampak krusta dan kulit yang terkelupas dengan dasar

: Tampak krusta dan kulit yang terkelupas dengan dasar

merah muda di antebrachii sinistra, dorsalis manus dextra dan sinistra, dan
cruris sinistra, edema (-), akral hangat
2. Status Lokalis
Tampak krusta dan kulit yang terkelupas dengan dasar merah muda dengan luas
10,5% yang terletak di regio :
- Dorsalis manus dextra
- Dorsalis manus sinistra
- Antebrachii sinistra
- Thorax dan abdominal
- Cruris sinistra
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Hemoglobin : 12,0 g/dL
- Leukosit
: 10.400 /L
- Eritrosit
: 4,69 jt/L
- Trombosit
: 390.000 mm/L
- Hematokrit : 33 %
- MCV
: 71 fl
- MCH
: 26 pg

: 1,25%
: 1,25%
: 2%
: 5%
: 1%

MCHC
Limfosit
Mix
Neutrofil

: 36 %
: 18 %
: 12 %
: 70 %

E. DIAGNOSIS KERJA
Combustio grade IIA 10,5% e.c. minyak panas
F. TATALAKSANA
- Diet TKTP
- IVFD D5 NS 14 tpm
- Ceftriaxon 1 x 500 gr IV
- Paracetamol sirup 3 x 1 cth
- Salep Burnazine 2 x sehari
- Kompres NaCl
- Edukasi
G. PROGNOSIS
- Quo ad Vitam
- Quo ad Functionam
- Quo ad Sanactionam
H. FOLLOW UP
12 Mei 2016
S : Demam (+)
O :
- Keadaan Umum
- Kesadaran
- Tanda Vital
Nadi
Napas
Suhu
- Thoraks
Inspeksi

: Bonam
: Bonam
: Bonam

: Tampak sakit ringan


: Compos mentis
: 98 x/menit
: 20 x/m
: 37,60C
: Bentuk dada normal, pergerakan nafas kanan kiri

simetris, tampak krusta dan kulit yang terkelupas dengan dasar

merah muda
Palpasi
: Simetris kanan kiri pada kedua lapang paru
Perkusi
: Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler +/+, wheezing -/-, ronki -/-, bunyi jantung I /
II murni reguler

Abdomen

Inspeksi

dasar merah muda, luka bekas operasi (-)


Palpasi
: Supel
Perkusi
: Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal

Ekstremitas

:Tampak krusta dan kulit yang terkelupas dengan

: Tampak krusta dan kulit yang terkelupas dengan dasar

merah muda di antebrachii sinistra, dorsalis manus dextra dan sinistra, dan
cruris sinistra, edema (-), akral hangat
A : Combustio grade IIA 10,5% e.c. minyak panas
P : -

Diet TKTP
IVFD D5 NS 14 tpm
Ceftriaxon 1 x 500 gr IV
Paracetamol sirup 3 x 1 cth
Salep Burnazine 2 x sehari
Kompres NaCl
Edukasi

13 MEI 2016
S : Demam (-)
O :
- Keadaan Umum
- Kesadaran
- Tanda Vital
Nadi
Napas
Suhu
- Thoraks
Inspeksi

: Tampak sakit ringan


: Compos mentis
: 96 x/menit
: 20 x/m
: 36,60C
: Bentuk dada normal, pergerakan nafas kanan kiri

simetris, tampak krusta dan kulit yang terkelupas dengan dasar

merah muda
Palpasi
: Simetris kanan kiri pada kedua lapang paru
Perkusi
: Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler +/+, wheezing -/-, ronki -/-, bunyi jantung I /
II murni reguler

Abdomen

Inspeksi

dasar merah muda, luka bekas operasi (-)


Palpasi
: Supel
Perkusi
: Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal

Ekstremitas

:Tampak krusta dan kulit yang terkelupas dengan

: Tampak krusta dan kulit yang terkelupas dengan dasar

merah muda di antebrachii sinistra, dorsalis manus dextra dan sinistra, dan
cruris sinistra, edema (-), akral hangat
A : Combustio grade IIA 10,5% e.c. minyak panas
P : -

Diet TKTP
Cefixime sirup 2 x cth
Paracetamol sirup 3 x 1 cth k/p
Salep Burnazine 2 x sehari
Kompres NaCl
Edukasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Luka bakar adalah trauma yang disebabkan oleh termis, elektris, khemis dan
radiasi yang mengenai kulit, mukosa, dan jaringan yang lebih dalam.
Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks, yang dapat meluas
melebihi kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka secara langsung.

Masalah kompleks ini mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa keadaan
yang mengancam kehidupan.
B. ETIOLOGI
Beberapa penyebab luka bakar adalah sebagai berikut :
1. Luka bakar suhu tinggi (thermal burn)
a. Benda panas: padat, cair, udara/uap
b. Api
c. Sengatan matahari/ sinar panas
2. Luka bakar bahan kimia (chemical burn), misalnya asam kuat dan basa kuat.
3. Luka bakar sengatan listrik (electrical burn), misalnya aliran listrik tegangan
tinggi.
4. Luka bakar radiasi (radiasi injury)

C. PATOFISIOLOGI

Gambar 1. Patofisiologi luka bakar

D. FASE LUKA BAKAR


Untuk mempermudah penanganan luka bakar maka dalam perjalanan
penyakitnya dibedakan dalam 3 fase: akut, subakut dan fase lanjut. Namun
demikian pembagian fase menjadi tiga tersebut tidaklah berarti terdapat garis
pembatas yang tegas diantara ketiga fase ini. Dengan demikian kerangka berpikir
dalam penanganan penderita tidak dibatasi oleh kotak fase dan tetap harus
terintegrasi. Langkah penatalaksanaan fase sebelumnya akan berimplikasi klinis
pada fase selanjutnya.
1. Fase akut
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan
mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), breathing (mekanisme
bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi
segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi
saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma.
Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderita pada fase akut.
Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
akibat cedera termal yang berdampak sistemik.
2. Fase sub akut
Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan
atau kehilangan jaringan akibat kontak dengan sumber panas. Luka yang terjadi
menyebabkan :
a. Proses inflamasi dan infeksi
b. Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka yang tidak
berepitel luas atau pada struktur atau organ fungsional
c. Keadaan hipermetabolisme
3. Fase lanjut
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan
pemulihan fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyakit
berupa sikatrik yang hipertrofik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas dan
kontraktur.
E. DIAGNOSIS
Diagnosis luka bakar didasarkan pada :
1.
Luas Luka Bakar

Wallace membagi tubuh atas 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama
rule of nine atau rule of Wallace:
- Kepala dan leher
- Lengan masing-masing 9%
- Badan depan 18%
- Tungkai masing-masing 18%
- Genetalia perineum
Total

: 9%
: 18%
: 36%
: 36%
: 1%
: 100 %

Gambar 2. Luas luka bakar berdasarkan Wallace


Rumus rule of nine dari Wallace tidak digunakan pada anak dan bayi karena luas
relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki
lebih kecil. Oleh karena itu, digunakan rumus Lund and Browder untuk anak.

Gambar 3. Luas luka bakar berdasarkan Lund and browder


2.
Derajat Luka Bakar
Kedalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar tergantung pada derajat
panas, sumber, penyebab dan lamanya kontak dengan tubuh penderita. Dahulu
Dupuytren membagi atas 6 tingkat, sekarang lebih praktis hanya dibagi 3
tingkat/derajat, yaitu sebagai berikut:
a. Luka bakar derajat I:
Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (surperfisial), kulit hiperemik
berupa eritema, tidak dijumpai bullae, terasa nyeri karena ujung-ujung saraf
sensorik teriritasi. Penyembuhan terjadi secara spontan tanpa pengobatan
khusus.
b. Luka bakar derajat II
Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi
disertai proses eksudasi. Terdapat bullae, nyeri karena ujung-ujung saraf
sensorik teriritasi, dibedakan atas 2 (dua) bagian:
1) Derajat II dangkal/superficial (IIA)
Kerusakan

mengenai

bagian

epidermis

dan

lapisan

atas

dari

corium/dermis. Organ organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar


sebecea masih banyak. Semua ini merupakan benih-benih epitel.

Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari tanpa


terbentuk sikatrik.
2) Derajat II dalam/deep (IIB)
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa sisa
jaringan epitel tinggal sedikit. Organ-organ kulit seperti folikel rambut,
kelenjar keringat, kelenjar sebacea tinggal sedikit. Penyembuhan terjadi
lebih lama dan disertai parut hipertrofi. Biasanya penyembuhan terjadi
dalam waktu lebih dari satu bulan.
c. Luka bakar derajat III
Kerusakan meliputi seluruh tebal kulit dan lapisan yang lebih dalam sampai
mencapai jaringan subkutan, otot dan tulang. Organ kulit mengalami
kerusakan, tidak ada lagi sisa elemen epitel. Tidak dijumpai bullae, kulit yang
terbakar berwarna abu-abu dan lebih pucat sampai berwarna hitam kering.
Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai
esker. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi karena ujung-ujung
sensorik rusak. Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi epitelisasi
spontan.
3.

Kriteria Berat Ringan Luka Bakar

Kriteria berat ringannya luka bakar menurut American Burn Association yakni :
a. Luka Bakar Ringan.
-

Luka bakar derajat II < 15 %

Luka bakar derajat II < 10 % pada anak anak

Luka bakar derajat III < 2 %

b. Luka bakar sedang


-

Luka bakar derajat II 15 - 25 % pada orang dewasa

Luka bakar derajat II 10 - 20% pada anak anak

Luka bakar derajat III < 10 %

c. Luka bakar berat


-

Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang dewasa

Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak anak.

Luka bakar derajat III 10 % atau lebih

Luka

bakar

mengenai

tangan,

wajah,

telinga,

mata,

kaki

dan

genitalia/perineum.
Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain.

F. PENATALAKSANAAN UMUM
Prinsip terapi pada luka bakar dibedakan menjadi dua:
1. Terapi fase akut
a. Hentikan dan hindarkan kontak langsung dengan penyebab luka bakar.
b. Menilai keadaan umum penderita: adanya sumbatan jalan nafas, nadi,
tekanan darah dan kesadaran (ABC)
- Bila terjadi obstruksi jalan nafas : bebaskan jalan nafas
- Bila terjadi syok : segera infus tanpa memperhitungkan luas luka bakar
-

dan kebutuhan cairan.


Bila tidak syok: segera diinfus sesuai dengan perhitungan kebutuhan

cairan.
c. Perawatan luka
- Luka dicuci dan dibersihkan dengan air steril dan antiseptik
- Bersihkan luka dengan kasa atau handuk basah, inspeksi tanda-tanda
infeksi, keringkan dengan handuk bersih dan re-dress pasien dengan
menggunakan medikasi topikal. Luka bakar wajah superfisial dapat
diobati dengan ointment antibacterial. Luka sekitar mata dapat diterapi
dengan ointment antibiotik mata topikal. Luka bakar yang dalam pada
telinga eksternal dapat diterapi dengan mafenide acetat, karena zat
tersebut dapat penetrasi ke dalam eschar dan mencegah infeksi purulen
-

kartilago.
Obat- obat topical yang digunakan untuk terapi luka bakar seperti: silver
sulfadiazine, contoh Silvaden, Burnazine, Dermazine, dll.
Kulit yang terkelupas dibuang, bulae (2-3 cm) dibiarkan
Bula utuh dengan cairan > 5 cc dihisap, < 5 cc dibiarkan
Bula sering terjadi pada jalur skin graft donor yang baru dan pada luka
yang ungraft. Membran basal lapisan epitel baru kurang berikatan
dengan bed dari luka bakar. Struktur ini dapat mengalami rekonstruksi
sendiri dalam waktu beberapa bulan dan menjadi bullae. Bulla ini paling
baik diterapi dengan dihisap dengan jarum yang bersih, memasang lagi
lapisan epitel pada permukaan luka, dan menutup dengan pembalut
adhesif. Pembalut adhesive ini dapat direndam.

Pasien dipindahkan ke tempat steril


Pemberian antibiotic boardspectrum bersifat profilaksis.
Berikan analgetik untuk menghilangkan nyeri dan antacid untuk

menghindari gangguan pada gaster.


- Berikan ATS untuk menghindari terjadinya tetanus
- Pasang catheter folley untuk memantau produksi urine pasien
- Pasang NGT (Nasogastric tube), untuk menghindari ileus paralitik
.
2. Terapi fase pasca akut
a. Perawatan luka
- Eschar escharectom (Eschar : jaringan kulit yang nekrose, kuman
-

yang mati, serum, darah kering)


Gangguan AVN distal karena tegang

escharotomi atau fasciotomi


Kultur dan sensitivity test antibiotika Antibiotika diberikan sesuai

(compartment syndrome)

hasilnya
- Dimandikan tiap hari atau 2 hari sekali
- Kalau perlu pemberian Human Albumin
b. Keadaan umum penderita
Dilihat keadaan umum penderita dengan menilai beberapa hal seperti
kesadaran, suhu tubuh, dan sirkulasi perifer. Jika didapatkan penurunan
kesadaran, febris dan sirkulasi yang jelek, hal ini menandakan adanya
sepsis.
c. Diet dan cairan
G. PENANGANAN PERNAPASAN
Trauma inhalasi merupakan faktor yang secara nyata memiliki kolerasi dengan
angka kematian. Kematian akibat trauma inhalasi terjadi dalam waktu singkat 8
sampai 24 jam pertama pasca operasi. Pada kebakaran dalam ruangan tertutup
atau bilamana luka bakar mengenai daerah wajah dapat menimbulkan kerusakan
mukosa jalan napas akibat gas, asap atau uap panas yang terhisap. Edema yang
terjadi dapat menyebabkan gangguan berupa hambatan jalan napas karena edema
laring. Trauma panas langsung adalah terhirup sesuatu yang sangat panas, produk
produk yang tidak sempurna dari bahan yang terbakar seperti bahan jelaga dan
bahan khusus yang menyebabkan kerusakan dari mukosa langsung pada
percabangan trakeobronkial.
Keracunan asap yang disebabkan oleh termodegradasi material alamiah dan
materi yang diproduksi. Termodegradasi menyebabkan terbentuknya gas toksik

seperti hydrogen sianida, nitrogen oksida, hydrogen klorida, akreolin dan partikel
partikel tersuspensi. Efek akut dari bahan kimia ini menimbulkan iritasi dan
bronkokonstriksi pada saluran napas. Obstruksi jalan napas akan menjadi lebih
hebat akibat adanya tracheal bronchitis dan edem. Efek intoksikasi karbon
monoksida (CO) mengakibatkan terjadinya hipoksia jaringan. Karbon monoksida
(CO) memiliki afinitas yang cukup kuat terhadap pengikatan hemoglobin dengan
kemampuan 210 240 kali lebih kuat disbanding kemampuan O2. Jadi CO akan
memisahkan O2 dari Hb sehingga mengakibatkan hipoksia jaringan. Kecurigaan
adanya trauma inhalasi bila pada penderita luka bakar mengalami hal sebagai
berikut.
1. Riwayat terjebak dalam ruangan tertutup.
2. Sputum tercampur arang.
3. Luka bakar perioral, termasuk hidung, bibir, mulut atau tenggorokan.
4. Penurunan kesadaran termasuk confusion.
5. Terdapat tanda distress napas, seperti rasa tercekik. Tersedak, malas
bernafas atau adanya wheezing atau rasa tidak nyaman pada mata atau
tenggorokan, menandakan adanya iritasi mukosa.
6. Adanya takipnea atau kelainan pada auskultasi seperti krepitasi atau ronhi.
7. Adanya sesak napas atau hilangnya suara.
Bilamana ada 3 tanda / gejala diatas sudah cukup dicurigai adanya trauma
inhalasi. Penanganan penderita trauma inhalasi bila terjadi distress pernapasan
maka harus dilakukan trakheostomi. Penderita dirawat diruang resusitasi instalasi
gawat darurat sampai kondisi stabil.
H. PENANGANAN SIRKULASI
Pada luka bakar berat / mayor terjadi perubahan permeabilitas kapiler yang akan
diikuti dengan ekstrapasi cairan (plasma protein dan elektrolit) dari intravaskuler ke
jaringan interfisial mengakibatkan terjadinya hipovolemik intra vaskuler dan edema
interstisial. Keseimbangan tekanan hidrostatik dan onkotik terganggu sehingga
sirkulasi

kebagian

distal

terhambat,

menyebabkan

gangguan

perfusi/sel/jaringan/organ. Pada luka bakar yang berat dengan perubahan


permeabilitas kapiler yang hampir menyeluruh, terjadi penimbunan cairan massif di
jaringan interstisial menyebabkan kondisi hipovolemik. Volume cairan intravaskuler

mengalami defisit, timbul ketidakmampuan menyelenggaraan proses transportasi


oksigen ke jaringan. Keadaan ini dikenal dengan sebutan syok. Syok yang timbul
harus diatasi dalam waktu singkat, untuk mencegah kerusakan sel dan organ
bertambah parah, sebab syok secara nyata bermakna memiliki korelasi dengan
angka kematian. Beberapa penelitian membuktikan bahwa penatalaksanaan syok
dengan metode resusutasi cairan konvensional (menggunakan regimen cairan
yang ada) dengan penatalaksanaan syok dalam waktu singkat, menunjukkna
perbaikkan prognosis, derajat kerusakan jaringan diperkecil (pemantauan kadar
asam laktat), hipotermi dipersingkat dan koagulatif diperkecil kemungkinannya,
ketiganya diketahui memiliki nilai prognostic terhadap angka mortalitas.
I. RESUSTASI CAIRAN
Baxter Formula
1. Hari Pertama :
-

Dewasa : RL 4 cc x berat badan x % luas luka bakar per 24 jam

Anak : RL : Dextran = 17 : 3
2 cc x berat badan x % luas luka ditambah kebutuhan faali.
Kebutuhan faali :
< 1 Tahun : berat badan x 100 cc
1 3 Tahun : berat badan x 75 cc
3 5 Tahun : berat badan x 50 cc
jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama.
diberikan 16 jam berikutnya.

2. Hari kedua
-

Dewasa : hari I

Anak : diberi sesuai kebutuhan faali

J. PERAWATAN LUKA BAKAR


Setelah keadaan umum membaik dan telah dilakukan resusitasi cairan dilakukan
perawatan luka. Perawatan tergantung pada karakteristik dan ukuran dari luka.

Tujuan dari semua perawatan luka bakar agar luka segera sembuh rasa sakit yang
minimal.
Setelah luka dibersihkan dan didebridemen, luka ditutup. Penutupan luka ini
memiliki beberapa fungsi: pertama dengan penutupan luka akan melindungi luka
dari kerusakan epitel dan meminimalkan timbulnya koloni bakteri atau jamur.
Kedua, luka harus benar-benar tertutup untuk mencegah evaporasi pasien tidak
hipotermi. Ketiga, penutupan luka diusahakan semaksimal mungkin agar pasien
merasa nyaman dan meminimalkan timbulnya rasa sakit.
Pilihan penutupan luka sesuai dengan derajat luka bakar. Luka bakar derajat I,
merupakan luka ringan dengan sedikit hilangnya barier pertahanan kulit. Luka
seperti ini tidak perlu di balut, cukup dengan pemberian salep antibiotik untuk
mengurangi rasa sakit dan melembabkan kulit. Bila perlu dapat diberi NSAID
(Ibuprofen, Acetaminophen) untuk mengatasi rasa sakit dan pembengkakan. Luka
bakar derajat II (superfisial ), perlu perawatan luka setiap harinya, pertama-tama
luka diolesi dengan salep antibiotik, kemudian dibalut dengan perban katun dan
dibalut lagi dengan perban elastik. Pilihan lain luka dapat ditutup dengan penutup
luka sementara yang terbuat dari bahan alami (Xenograft (pig skin) atau Allograft
(homograft, cadaver skin) atau bahan sintetis (opsite, biobrane, transcyte, integra).
Luka derajat II (dalam) dan luka derajat III, perlu dilakukan eksisi awal dan cangkok
kulit (early exicision and grafting ).
K. NUTRISI
Penderita luka bakar membutuhkan kuantitas dan kualitas yang berbeda dari
orang normal karena umumnya penderita luka bakar mengalami keadaan
hipermetabolik.
Kondisi yang berpengaruh dan dapat memperberat kondisi hipermetabolik yang
ada adalah:
1. Umur, jenis kelamin, status gizi penderita, luas permukaan tubuh, massa
bebas lemak.
2. Riwayat penyakit sebelumnya seperti DM, penyakit hepar berat, penyakit
ginjal dan lain-lain.

3. Luas dan derajat luka bakar


4. Suhu dan kelembaban ruangan ( memepngaruhi kehilangan panas melalui
evaporasi)
5. Aktivitas fisik dan fisioterapi
6. Penggantian balutan
7. Rasa sakit dan kecemasan
8. Penggunaan obat-obat tertentu dan pembedahan.
Penatalaksanaan nutrisi pada luka bakar dapat dilakukan dengan beberapa
metode yaitu : oral, enteral dan parenteral. Untuk menentukan waktu dimulainya
pemberian nutrisi dini pada penderita luka bakar, masih sangat bervariasi, dimulai
sejak 4 jam pascatrauma sampai dengan 48 jam pascatrauma.
L. PERMASALAHAN PASCA LUKA BAKAR
Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah jaringan parut yang dapat
berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat mengganggu fungsi dan
menyebabkan kekakuan sendi atau menimbulkan cacat estetik yang buruk sekali
sehingga diperlukan juga ahli ilmu jiwa untuk mengembalikan kepercayaan diri.
Permasalahan-permasalahan yang ditakuti pada luka bakar :
1.

Infeksi dan sepsis

2.

Oliguria dan anuria

3.

Oedem paru

4.

ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome )

5.

Anemia

6.

Kontraktur

7.

Kematian

M. KOMPLIKASI
1. Gagal ginjal akut

2. Gagal respirasi akut


3. Syok sirkulasi
4. Sepsis
N. PROGNOSIS
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan
badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan kecepatan
pengobatan medikamentosa. Luka bakar minor dapat sembuh 5-10 hari tanpa
adanya jaringan parut. Luka bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14 hari dan
mungkin menimbulkan luka parut. Luka bakar mayor membutuhkan lebih dari 14
hari untuk sembuh dan akan membentuk jaringan parut. Jaringan parut akan
membatasi gerakan dan fungsi. Dalam beberapa kasus, pembedahan diperlukan
untuk membuang jaringan parut.

BAB III
PEMBAHASAN KASUS
-

Pasien anak laki-laki umur 2 tahun datang dengan demam yang disebabkan infeksi

akibat luka bakar yang diderita 4 hari sebelumnya.


Pada pasien ini tidak diberikan rehidrasi cairan baxter dikarenakan sudah lewat 24

jam dari waktu terpapar luka bakar.


Dari hasil pemeriksaan pada daerah luka bakar tampak krusta dan kulit terkelupas

dengan dasar merah muda yang sesuai dengan luka bakar derajat IIA.
Luas luka bakar pada pasien ini penghitungannya tidak menggunakan cara rule of
nine dikarenakan usianya yang masih anak-anak, jadi pada pasien ini digunakan

cara Lund and Browder yang setelah dihitung jumlah 10,5%.


Untuk saat ini pengobatan ditujukan untuk menyembuhkan infeksi akibat luka

bakarnya karena ditakutkan munculnya komplikasi luka bakar ke arah sepsis.


Orang tua pasien juga perlu diedukasi untuk sering menggerakkan kedua tangan
pasien karena luka bakar pada kedua tangan pasien rawan untuk jadi kontraktur
sehingga sedini mungkin bisa dicegah.

BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Luka bakar adalah trauma yang disebabkan oleh termis, elektris, khemis dan
radiasi yang mengenai kulit, mukosa, dan jaringan yang lebih dalam. Beberapa
penyebab luka bakar adalah suhu tinggi, bahan kimia, sengatan listrik, dan radiasi.
Untuk mempermudah penanganan luka bakar maka dalam perjalanan penyakitnya
dibedakan dalam 3 fase: akut, subakut dan fase lanjut. Diagnosis luka

bakar

didasarkan pada luas luka bakar, derajat (kedalaman) luka bakar, lokalisasi dan
penyebab. Prinsip terapi pada luka bakar dibedakan menjadi dua yaitu terapi fase
akut dan terapi pasca akut. Adapun terapi fase akut meliputi menghindari kontak
dengan faktor penyebab, menilai keadaan umum penderita dan melakukan
perawatan luka. Sedangkan terapi pasca akut yaitu perawatan luka, menilai
keadaan umum pasien, diet dan cairan untuk menghindari timbulnya komplikasi.
Komplikasi yang terjadi misalnya gagal ginjal akut, gagal nafas akut, syok sirkulasi,
dan sepsis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Gallagher JJ, Wolf SE, Herndon DN. Burns. In: Townsend CM, Beauchamp RD,
Evers BM, Mattox KL. Editors. Sabiston Textbook of Surgery. 18 th Ed. Philadelphia:
Saunders Elsevier. 2008.
2. Gibran NS. Burns. In: Mulholland MW, Lillemoe KD, Doherty GM, Gerard M, Ronald
V, Upchurch GR. Editors. Greenfields Surgery: Scientific Principles and Practice. 4 th
Ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins. 2006.
3. Klein MB. Thermal, Chemical and Electrical Injuries. In: Thorne CH, Beasley RW,
Aston SJ, Bartlett SP, Gurtner GC, Spear SL. Editors. Grab and Smiths Plastic
Surgery. 6th Ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins. 2007.
4. Sjamsuhidajat. Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah Penerbit Buku Kedokteran.
EGC. 2007.