Anda di halaman 1dari 9

PEMBAHASAN

1. Adil
1.1. Pengertian Adil
Adil menurut bahasa Arab disebut dengan kata adilun, yang berarti samadengan
seimbang.Menurut kamus besar bahasa Indonesia, adalah diartikan tidak berat sebelah,tidak
memihak,berpihak pada yang benar,berpegang pada kebenaran, sepatutnya, dan tidak sewenangwenang. Dan menurut ilmu akhlak ialah meletakan sesuatu pada tempatnya, memberikan atau
menerima sesuatu sesuai haknya, dan menghukum yang jahat sesuai haknya, dan
menghukumyang jahat sesuai dan kesalahan dan pelanggaranya.
Hadist Bagi Orang Yang Berbuat Adil Kepada Allah:

Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu Taala anhu berkata: Bersabda Rasulullah
Shalallahualaihi wassalam: Sesungguhnya mereka-mereka yang berbuat adil di sisi Allah
Taala, kelak mereka akan berada di atas mimbar dari cahaya, dari tangan kanan Allah
ArRahman Azza wa Jalla. Dan kedua tangan Allah Taala adalah kanan. Mereka adalah orangorang yang adil dalam menghukumi sesuatu bahkan terhadap keluarga mereka sendiri, juga
terhadap orang-orang yang mereka pimpin. (HR.Imam Muslim Ra)
1.2. Karakteristik Sikap Adil
Islam mengajarkan bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dan sederajat
dalam hukum. Dalam islam , tidak ada diskriminasi hukum karena perbedaan kulit, status social,
ekonomi,atau politik .
Berikut ini beberapa contoh sikap adil dalam Al-Quran :

Adil terhadap diri sendiri.

Adil terhadap istri dan anak

Adil dalam mendamaikan perselisihan

Adil dalam bertuturkata

Adil terhadap musuh sekalipun


1.3. Nilai Positif Sikap Adil
Keadilan merupakan sesuatu yang bernilai tinggi, baik, dan mulia. Apabila keadilan
diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, serta bangsa dan Negara, sudah
tentu ketinggian, kebaikan, dan kemuliaan akan diraih. Jika seseorang mampu mewujudkn
keadilan dalam dirinyasendiri, tentu akan meraih keberhasilan dalam hidupnya, memperoleh

kegembiraan batin, disenangi banyak orang, dapat meningkatkan kualitas diri, dan memperoleh
kesejahteraan hidup duniawi serta ukkhrawi (akhirat).
Jika keadilan dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, akan terwujud masyarakat yang aman,tentra , serta damai sejahtera lahir dan batin.
Hal ini disebabkan masing-masing anggota masyarakat melaksanakan kewajiban terhadap orang
lain dan akan memenuhi hak orang lain dengan seadil-adilnya .
Keuntungan dari bersikap adil adalah :
1. Mereka yang bersikap adil akan mendapat keamanan di dunia dan akhirat
2. Apabila orang adil yang berkuasa, maka keadilan akan memelihara kekuasaannya
3. Mendapat keridhaan dari Allah SWT
4. Mereka yang bersikap adil tidak akan menzalimi sesama manusia
5. Mereka yang bersikap adil akan mendapatkan posisi yang tinggi di dunia maupun akhirat
6. Keadilan merupakan jalan menuju surge
1.4. Membiasakan Sikap Adil
Seorang hendaknya membiasakan diri berlaku adil, baik terhadap dirinya,kedua orang tua
nya,saudara-saudaranya,anak-anaknya, teman-temannya, tetangganya, masyarakatnya, bangsa
dan Negaranya, maupun terhadap sang Khalik(Alloh swt).
Apabila keadilan itu ditegakan dalam setiap aspek kehidupan, tentu keamanan,
ketentraman,kedamaian, serta kesejahteraan lahir dan batin, duniawi dan ukhrawi akan dapat
diraih.
Orang yang adil biasanya memiliki sifat seperti :
1. Mempunyai iman yang kukuh dan bertakwa kepada Allah SWT
2. Menguasai ilmu syariat dan ilmu Aqilah
3. Melakasankan amanah dengan penuh tanggung jawab
4. Ikhlas dan bertakwa kepada Allah SWT
5. Memiliki pribadi yang mulai ( tidak mementingkan diri sendiri, memiliki belas kasihan,
bijak/tegas dan berani mengambil resiko.
2. Ridha
2.1. Pengertian ridha
Perkataan rida berasal dari bahasa arab, radiya yang artinya senang hati (rela). Rida
menurut syariah adalah menerima dengan senang hati atas segala yang diberikan Allah swt, baik
berupa hokum (peraturan-peraturan) maupun ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.
Sikap rida harus ditunjukkan, baik ketika menerima nikmat maupun tatkala ditimpa musibah.
Kebanyakan manusia merasa sukar atau gelisah ketika menerima keadaan yang menimpa
dirinya, seperti kemiskinan, kerugian, kehilangan barang, pangkat, kedudukan, kematian anggota
keluarganya, dan lain-lain, kecuali orang yang mempunyai sifat rida terhadap takdir. Orang yang
memiliki sifat rida tidak mudah bimbang atau kecewa atas pengorbanan yang dilakukannya. Ia
tidak menyesal dengan kehidupan yang diberikan Allah swt dan tidak iri hati atas kelebihan yang
didapat orang lain karena yakin bahwa semua itu berasal dari Allah swt. Sedangkan
kewajibannya adalah berusaha atau berikhtiar dengan kemampuan yang ada.

Rida terhadap takdir bukan berarti menyerah atau pasrah tanpa usaha lebih dulu untuk
mencari jalan keluarnya. Menyerah dan berputus asa tidak dibenarkan oleh tatanan hidup dan
tidak dibenarkan pula oleh ajaran Islam. Allah swt. memberikan cobaan atau ujian dalam rangka
menguji keimanan dan ketakwaan hamba-Nya. Firman Allah swt.:

Artinya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yangapabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Sesungguhnya Kami adalah milik Allah
dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali
kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
(Q.S. Al Baqarah:155-156).
Sikap rida dapat ditunjukkan melalui hal-hal sebagai berikut:
1. Sabar dalam melaksanakan kewajiban hingga selesai dengan kesungguhan usaha atau ikhtiar
dan penuh tanggung jawab.
2. Senantiasa mengingat Allah swt. dan tetap melaksanakan shalat dengan kusyuk.
3. Tidak iri hati atas kekurangan atau kelebihan orang lain dan tidak ria untuk dikagumi hasil
usahanya.
4. Senantiasa bersyukur atau berterima kasih kepada Allah swt. atas segala nikmat pemberianNya. Hal itu adalah upaya untuk mencapai tingkat tertinggi dalam perbaikan akhlak.
5. Tetap beramal saleh (berbuat baik) kepada sesama sesuai dengan keadaan dan kemampuan,
seperti aktif dalam kegiatan social, kerja bakti, dan membantu orangtua di rumah dalam
menyelesaikan pekerjaan mereka.
6. Menunjukkan kerelaan atau rida terhadap diri sendiri dan Tuhannya. Juga rida terhadap
kehidupan terhadap takdir yang berbentuk nikmat maupun musibah, dan terhadap perolehan
rezeki atau karunia Allah swt.
Menurut kamus besar Indonesia, rida diartikan rela, suka, dan senang hati.sedangkan
menurut bahasa adalah ketetapan hati untuk menerima segala keputusan yang sudah ditetapkan
dan ridha merupakan akhir dari semua keinginan dan harapan yang baik .
2.2 Karakteristik sikap rida

Apabila sebagian pendapat para ahli hikmah, rida dikelompokan menjadi tiga tingkatan,
yaitu rida kepada Alloh, rido pada apa yang datang dari Alloh, dan rida pada qada Alloh.
Rida kepada Allah adalah fardu ain.Rida pada apa yang datang dari Allah meskipun merupakan
sesuatu yang sangat luhur, hal ini termasuk ubudiah yang sangat mulia.
Sesungguhnya pilihan tuhan untuk hamba-Nya dibagi dua macam yaitu pertama, ikhtiyar
ad-din wa syarI (pilihan keagamaan dan syariat).kedua, ikhtiyar kauni kadari (pilihan yang
berkenaan dengan alam dan takdir).Takdir yang tidak dicintai dan diridai Alloh yaitu perbuatan
aib dan dosa-dosa.
Macam-macam rida :
a. Ridha terhadap perintah dan larangan Allah
Artinya ridha untuk mentaati Allah dan Rasulnya. Pada hakekatnya seseorang yang telah
mengucapkan dua kalimat syahadat, dapat diartikan sebagai pernyataan ridha terhadap semua
nilai dan syariah Islam. Perhatikan firman Allah dalam Q.S. al-Bayyinah ayat 8.

Artinya : Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan
merekapun ridha kepadanya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut
kepada Tuhannya. (Q.S.al-Bayyinah ayat 8 )
Dari ayat tersebut dapat dihayati, jika kita ridha terhadap perintah Allah maka Allah pun
ridha terhadap kita.
b. Ridha terhadap taqdir Allah.
Mari kita simak, apa yang dikisahkan berikut ; pada suatu hari Ali bin Abi Thalib r.a.
melihat Ady bin Hatim bermuram durja, maka Ali bertanya ; Mengapa engkau tampak
bersedih hati ?. Ady menjawab ; Bagaimana aku tidak bersedih hati, dua orang anakku
terbunuh dan mataku tercongkel dalam pertempuran. Ali terdiam haru, kemudian berkata,
Wahai Ady, barang siapa ridha terhadap taqdir Allah swt. maka taqdir itu tetap berlaku
atasnya dan dia mendapatkan pahalaNya, dan barang siapa tidak ridha terhadap taqdirNya
maka hal itupun tetap berlaku atasnya, dan terhapus amalnya.
Ada dua sikap utama bagi seseorang ketika dia tertimpa sesuatu yang tidak diinginkan yaitu
ridha dan sabar. Ridha merupakan keutamaan yang dianjurkan, sedangkan sabar adalah
keharusan dan kemestian yang perlu dilakukan oleh seorang muslim.
Perbedaan antara sabar dan ridha adalah sabar merupakan perilaku menahan nafsu dan
mengekangnya dari kebencian, sekalipun menyakitkan dan mengharap akan segera berlalunya
musibah. Sedangkan ridha adalah kelapangan jiwa dalam menerima taqdir Allah swt. Dan
menjadikan ridha sendiri sebagai penawarnya. Sebab didalam hatinya selalu tertanam sangkaan
baik (Husnuzan) terhadap sang Khaliq bagi orang yang ridha ujian adalah pembangkit semangat

untuk semakin dekat kepada Allah, dan semakin mengasyikkan dirinya untuk bermusyahadah
kepada Allah.
Dalam suatu kisah Abu Darda, pernah melayat pada sebuah keluarga, yang salah satu
anggota keluarganya meninggal dunia. Keluarga itu ridha dan tabah serta memuji Allah swt.
Maka Abu Darda berkata kepada mereka. Engkau benar, sesungguhnya Allah swt. apabila
memutuskan suatu perkara, maka dia senang jika taqdirnya itu diterima dengan rela atau ridha.
Begitu tingginya keutamaan ridha, hingga ulama salaf mengatakan, tidak akan tampak di
akhirat derajat yang tertinggi daripada orang-orang yang senantiasa ridha kepada Allah swt.
dalam situasi apapun (Hikmah, Republika, Senin 5 Februari 2007, Nomor: 032/Tahun ke 15).
c. Ridha terhadap perintah orang tua.
Ridha terhadap perintah orang tua merupakan salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah
swt. karena keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua, perintah Allah dalam Q.S.
Luqman ayat 14 ;

Artinya : Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman :14)
Bahkan Rasulullah bersabda : Keridhaan Allah tergantung keridhaan orang tua, dan murka
Allah tergantung murka orang tua. Begitulah tingginya nilai ridha orang tua dalam kehidupan
kita, sehingga untuk mendapatkan keridhaan dari Allah, mempersyaratkan adanya keridhaan
orang tua. Ingatlah kisah Juraij, walaupun beliau ahli ibadah, ia mendapat murka Allah karena
ibunya tersinggung ketika ia tidak menghiraukan panggilan ibunya.
d. Ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara
Mentaati peraturan yang belaku merupakan bagian dari ajaran Islam dan merupakan salah
satu bentuk ketaatan kepada Allah swt. karena dengan demikian akan menjamin keteraturan dan
ketertiban sosial. Mari kita hayati firman Allah dalam Q.S. an-Nisa ayat 59 berikut :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih
baik akibatnya.( Q.S. an-Nisa :59)
Ulil Amri artinya orang-orang yang diberi kewenangan, seperti ulama dan umara (Ulama
dan pemerintah). Ulama dengan fatwa dan nasehatnya sedangkan umara dengan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku.
Termasuk dalam ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara adalah ridha
terhadap peraturan sekolah, karena dengan sikap demikian, berarti membantu diri sendiri, orang
tua, guru dan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian mempersiapkan diri
menjadi kader bangsa yang tangguh.
2.3. Nilai Positif Sikap Ridha
Ridha merupakan kesadaran diri, perasaan jiwa, dan dorongan hati yang menyebabkan
seseorang berkenaan sepenuh hati untuk menerima apa yang didapat ataupun yang dihadapi
dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.
2.4. Membiasakan Sikap Ridha
Konsekuensi rida kepada Alloh harus mengikuti semua yang diajarkan oleh Rasululloh
saw. (ittiba ar-Rasul). Apabila seorang rida kepada Alloh, tentu dia akan selalu berusaha
melakukan segala sesuatu yang diterima dari-Nya dan meninggalkan segala sesuatu yang
dibenci-Nya.
3. Amal Saleh
3.1. Pengertian Amal Saleh
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, amal diartikan sebagai perbuatan (baik atau
buruk). Secara istilah, amal saleh berarti perbuatan sungguh- sungguh dalam menjalankan ibadah
ataupun menunaikan kewajiban agama yang dilakukan dalam bentuk berbuat kebaikan terhadap
masyarakat atau sesama manusia.contoh mengumpulkan dana untuk membantu korban bencana
alam, penyandang cacat, orang jompo dan anak yatim piatu.
Dalam al-Quran banyak dijumpai perkataan amal dengan berbagai bentuknya yaitu
amila, amala, tamalun, yamalun, amilun, amalus-salihat, dan amalus-syyariat.
3.2. Karakteristik Amal Saleh
Orang yang hidup pada zaman pra-islam mempunyai anggapan bahwa kekayaan,
keturunan, kedudukan, dan bermacam-macam kelebihanduniawi lainnya menjadi factor yang
akan menentukan keadaan seseorang.
Agama islam membawa satu ajaran (dokrin) bahwa keturunan, pangkat, kedudukan yang
tinggi, dan kekayaan yang bayak , semua itu tidak mendatangkan keuntungan, terutama untuk

kehidupan di akhirat kelak. Satu-satunya yang memberikan faedah ialah amal saleh, yakni
perbuatan baik.
Secara umum, pengelompokan amal itu terbagi dua, yaitu amal saleh (amal yang baik) dan
amalus sayyiah (amal yang buruk). Amal saleh ialah segala perbuatan kebbijakan yang
mendatangkan manfaat untuk diri sendiri, keluarga, bangsa, dan manusia seluruhnya, baik berupa
perbuatan, ucapan, maupun sikap.bahkan melakukan suatu perbuatan yang dilarang Alloh, itu
pun termasuk amal saleh.
3.3 Nilai Positif Amal Saleh
Dalam Al-Quran, banyak diuraikan hasil (buah) dari amal saleh, baik didunia maupun
diakhirat, yaitu:
a. Rezeki yang baik (al-Hajj/22:50);
b. Derajat yang tinggi (Taha/20:75);
c. Keberuntungan (al-Qasas/28:67);
d. Keadilan (Yunus/10:4);
e. Keluar dari kegelapan (at-Talaq/65:11);
f. Rahmat dan cinta (al-Jasiyah/45:30);
g. Hilang perasaan takut (Taha/20:112);
h. Pahala yang cukup (Alli Imran/3:57);
i. AmpunanIlahi (Fatir/3:57);
j. Kehidupan di surga (al-Muminun/23:40).
3.4. Membiasakan Amal Saleh
Setiap amal saleh, harus didasari niat yang suci dan ikhlas. Jangan sampai seorang yang
beramal memiliki niat yang salah, ada udang dibalik madu. Misasal, mengharap
kedudukan,pujian, atau keuntungan yang lain-lain.
Berusaha atau beramal, pada umumnya tidak memandang ruang dan waktu serta tidak
hanya pada saat yang lapang. Dalam situasi apa pun, kita tidak menyianyiakan untuk beramal
atau berusaha. Walaupun hasil amal itu belum tampak sekarang, hal itu tidak boleh menjadikan
kita malas beramal.
4.Persatuan dan kerukunan
4.1 Pengertian Persatuan dan kerukunan
Pengertian Persatuan ialah ikatan yang terjadi antara dua orang lebih yang mereka
melakukan tidak yang sama dalam hal terjadinya peristiwa tertentu. Bila seseorang suatu bangsa
maka rakyatnya akan bersatu membela bangsanya.
Dari penjelasan ayat diatas diperoleh kesimpulan bahwa usaha umat Islam terutama para
pemuka (ulama/hakim/pejabat) supaya memperbaiki hubungan antara seseorang dengan
seseorang yang lain atau kelompok, golongan dengan golongan atau dengan seseorang secara
nyata, jangan membiarkan persengkataan atau perselisihan itu berlarut-larut. Para umat tidak
boleh berdiam diri asal badan sendiri selamat, kita mesti berbuat, berusaha menghilangkan
persengketaan, dan menghidupkan tali persaudaraan antara orang-orang yang bersengketa itu.

Setiap muslim wajib berusaha membangun kukuhnya persatuan dan kesatuan demi
tegaknya agama, masyarakat, bangsa dan negara. Hal itu dilakukan agar dapat meningkatkan
kesejahteraan bersama dengan cara yang bijaksana dan seadil-adilnya menurut ketentuan Allah
SWT. Agama islan adalah agama yang smepurna ajaran-ajarannya, bukan hanya membimnbing
manusia mengenal tuhan dan tata cara beribadah kepadanya, tetapi juga memberi petunjuk
bagaimana menyusun suatu masyarakat agar tiap-tiap anggotanya dapat hidup rukun, aman dan
nyaman, yakni masing-masing hendakalah bertakwa. Allah melarang kita saling membelakangi,
suka mencari kesalahan orang lain, hasud, iri dan dengki lebih-lebih berbuat aniaya yang dapat
menimbulkan perselisihan diantara sesama.
Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan sebuah hadis yang artinya :
Tolonglah saudaramu dalam keadaan menganiaya atau dianiaya. Saya bertanya. Wahai
Rasululah, yang ini saya menolongnya karena teraniaya. Bagaimana caranya menolong yang
zalim, Engkau harus melarangnya dari kezaliman itulah cara menolongnya. (HR Anas r.a)
Hadis tersebut memberi penjelasan bahwa menjaga persatuan dan kesatuan itu mutlak
diperlukan. Terjadinya perbedaan pendapat, baik perorangan maupun kelompok adalah hal yang
wajar, karena setiap pribadi memang dianugrahi oelh Allah kemampuan berkreasi dan penalaran
yang berbeda-beda. Lebih-lebih para anak muda yang sedang mencari jati dirinya, persaingan
anatar individu atau kelompok sulit dihindari sehingga tidak jarang berakhir dengan baku
hantam. Dengan kondisi yang demikian, hendaklah segera dibentuk juru damai, baik dari guru
maupun pemuka masyarakat agar masalah yang timbul tidak berlarut-larut. Perlu disadari bahwa
mereka yang terlibat perselisihan pada umumnya adalah teman kita sendiri, masih sebangsa dan
sering pula malah seiman. Maka penyelesaian dengan jalan kekerasan, jelas hanya akan
merugikan diri dan bangsa kita sendiri.
Selanjutnya dalam usaha memperjuangkan kebajikan dan amal, janganlah merasa bahwa
diri dan kelompoknyalah yang pantas memperoleh bagian dan fasilitas yang lebih dari yang lain.
Sikap demikian amat berbahaya jika bersemayam di dada seorang muslim, karena dapat merusak
keikhlasan beramal. Hal yang demikian pernah menghinggapi sebagian sahabat nabi seusai
perang badar, kemudian oleh Allah dengan firmannya.

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah:


Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah
dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya
jika kamu adalah orang-orang yang beriman. (QS Al Anfal :1)

Ayat diatas memberi dorongan kepada kaum muslimin agar siap memikul tanggung
jawab berat melaksanakan dakwah islamiyah secara terpadu, saling melengkapi sesuai dengan
kemampuan disiplin ilmu yang dikuasainya.
Dengan begitu, hal-hal yang menyebabkan terjadinya persengketaan hendaknya
dihindari. Unsur penting perekat persatuan dan kesatuan umat ialah takwa, memperbaiki
hubungan sesama muslim, tolong menolong, bantu mambantu dengan manaati Allah dan
rasulnya disetiap keadaan.

PENUTUP
1.
Kesimpulan
Setelah memahami dan mempelajari materi aklaq terpuji ,kami dapat mengambil hikmah
yang begitu banyak, bahwa akhlaq terpuji itu dapat mendatangkan kebaikan baik di dunia
maupun di akhirat.
Materi ini bukan hanya untuk di pelajari, namun di aplikasikan dalam kehidupan seharihari, karena dengannya kita akan mampu beribadah dan bermuamalah dengan baik.Di akhirat
kelak pun yang paling berat timbangannya adalah akhlaq terpuji. Jadi akhlaq terpuji dengan
adil,amal shaleh,ridha,persatuan dan kerukunan ini adalah salah satu aspek agar kita mampu
berbuat akhlaq mulia sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasull-Nya.Makalah adil, ridho, amal
shaleh, persatuan dan kesatuan