Anda di halaman 1dari 3

Bila pengalaman yang berbentuk stressor dalam kehidupan sehari-hari kita

tercatat dalam korteks serebri dan sistem limbik sebagai stresor atau emosi
yang mengganggu, bagian dari otak ini akan mengirim pesan ke tubuh. Tubuh
meningkatkan kewaspadaan untuk mengatasi stressor tersebut. Target adalah
kelenjar

adrenal.

Adrenal

akan

mengeluarkan

hormon

kortisol

untuk

mempertahankan kehidupan. Kortisol memegang peranan penting dalam


mengatur tidur, nafsu makan, fungsi ginjal, sistem imun, dan semua faktor
penting kehidupan. Peningkatan aktivitas glukokortikoid (kortizol) merupakan
respon utama terhadap stressor. Kadar kortisol yang meningkat menyebabkan
umpan balik, yaitu hipotalamus menekan sekresi cortikotropik-releasing
hormone (CRH) , kemudian mengirimkan pesan ini ke hipofisis sehingga
hipofisi juga menurunkan produksi adrenocortictropin hormon

(ACTH).

Akhirnya pesan ini juga diteruskan kembali ke adrenal untuk mengurangi


produksi kortisol.
Pengalaman buruk seperti penganiayaan pada masa anak atau penelantaran
pada awal perkembangan merupakan faktor yang bermakna untuk terjadinya
gangguan mood pada masa dewasa.
Sistem CRH merupakan sistem yang paling terpengaruh oleh stressor
yang dialami seseorang pada awal kehidupannya. Stressor yang berulang
menyebabkan peningkatan sekresi CRH, dan penurunan sensitivitas reseptor
CRH

adenohipofisis.

Stressor

pada

awal

masa

perkembangan

ini

dapat

menyebabkan perubahan yang menetap pada sistem neurobiologik atau dapat


membuat jejak pada sistem syaraf yang berfungsi merespon respon tersebut.
Akibatnya, seseorang menjadi rentan terhadap stressor dan resiko terhadap
penyakit-penyakit yang berkaitan dengan stressor meningkat, seperti terjadinya
depresi setelah dewasa.
Stressor pada awal kehidupan seperti perpisahan dengan ibu, pola
pengasuhan buruk, menyebabkan hiperaktivitas sistem neuron CRH sepanjang
kehidupannya. Selain itu , setelah dewasa, reaktivitas aksis HPA sangat
berlebihan terhadap stressor.
Adanya faktor genetik yang disertai dengan stressor di awal kehidupan,
mengakibatkan hiperaktivitas dan sensitivitas yang menetap pada sistem syaraf.
Keadaan ini menjadi dasar kerentanan seseorang terhadap depresi setelah
dewasa. Depresi dapat dicetuskan hanya oleh stressor yang derajatnya sangat
ringan.

Peneliti lain melaporkan bahwa respons sistem otonom dan hipofisisadrenal terhadap stressor psikososial pada wanita dengan depresi yang
mempunyai riwayat penyiksaan fisik dan seksual ketika masa anak lebih tinggi
dibanding kontrol.
Stressor berat di awal kehidupan menyebabkan kerentanan biologik
seseorang terhadap stressor. Kerentanan ini menyebabkan sekresi CRH sangat
tinngi bila orang tersebut menghadapi stressor. Sekresi tinggi CRH ini akan
berpengaruh pula pada tempat di luar hipotalamus, misalnya di hipokampus.
Akibatnya, mekanisme umpan balik semakin terganggu. Ini menyebabkan
ketidakmampuan kortisol menekan sekresi CRH sehingga pelepasan CRH
semakin tinggi. Hal ini mempermudah seseorang mengalami depresi mayor, bila
berhadapan dengan stressor.
Peningkatan aktivitas aksis HPA meningkatkan kadar kortisol. Bila
peningkatan kadar kortisol berlangsung lama, kerusakan hipokampus dapat
terjadi. Kerusakan ini menjadi prediposisi depresi. Simptom gangguan kognitif
pada depresi dikaitkan dengan gangguan hipokampus.
Hiperaktivitas aksis HPA merupakan penemuan yang hampir selalu
konsisten pada gangguan depresi mayor. Gangguan aksis HPA pada depresi
dapat ditunjukkan dengan adanya hiperkolesterolemia, resistennya sekresi
kortisol terhadap supresi deksametason, tidak adanya respon ACTH terhadap
pemberian CRH, dan peningkatan konsentrasi CRH di cairan serebrospinal.
Gangguan aksis HPA, pada keadaan depresi, terjadi akibat tidak berfungsinya
sistem otoregulasi atau fungsi inhibisi umpan balik. Hal ini dapat diketahui
dengan test DST (dexamethasone supression test).

Hormon kortisol menyediakan energi dan mengendalikan stres

Hormon kortisol berperan pada penggunaan gula atau glukosa dan lemak dalam
metabolisme tubuh untuk menyediakan energi. Selain itu, hormon kortisol berfungsi
mengendalikan stres yang dapat dipengaruhi oleh kondisi infeksi, cedera, aktivitas berat,
serta

stres

fisik

dan

emosional.

Tidak

hanya

itu,

hormon

kortisol

akan

membantu mempertahankan tekanan darah tetap normal, sekaligus mengendalikan


kadar gula darah dengan melepaskan insulin.
Tidur terganggu

Melatonin - Pada siang hari, tubuh Anda berubah dari serotonin menjadi
melatonin.
Tubuh Anda kemudian menyimpan melatonin pada kelenjar pineal di dalam otak
Anda. Ketika tingkat penurunan cahaya pada malam hari, kelenjar pineal
mengeluarkan melatonin, membantu Anda untuk tertidur. Di pagi hari, siang hari
sinyal kelenjar pineal Anda untuk menutup produksi melatonin, membantu Anda
untuk bangun. Jika kadar serotonin Anda rendah, kemungkinan besar,
Anda tidak memproduksi melatonin yang cukup. Dan tanpa melatonin
yang cukup, tubuh Anda tidak dapat secara memadai mengatur tidur
Anda / siklus bangun. Studi menunjukkan bahwa mengambil dalam jumlah
yang tepat dari melatonin dapat mengembalikan tidur pada orang dewasa lebih
dari 50. Ambil 1-3 mg setengah jam sebelum Anda pergi tidur. (Dr. Frank
Shallenberger (www.realcuresletter.com)