Anda di halaman 1dari 2

Hukuman Tak Biasa Guru SD di Situbondo

Liputan6.com, Situbondo - 2 Siswa SDN 1 Jangkar, Situbondo, Jawa Timur


yang sempat 2 hari absen, kembali masuk sekolah pagi tadi. Awalnya,
mereka enggan bersekolah karena masih malu dengan hukuman yang
dijatuhkan seorang guru pada Senin 12 Oktober 2015.
Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Kamis (15/10/2015), kepala
sekolah sengaja menjemput ke rumah keduanya untuk meyakinkan
mereka kembali belajar bersama teman-temannya di sekolah.
"Sudah diberi nasihat dengan saya, semuanya ini tujuannya untuk
kebaikan dirinya sendiri. Akhirnya (siswa) mau kembali ke sekolah.
Tanggung jawab sama saya semuanya. Jadi kelas 5 ini selalu saya pantau
terus," ucap Kepala Sekolah SDN 1 Jangkar Slamet.
Entah apa yang ada di benak Samini saat menjatuhkan sanksi kepada
anak muridnya itu. Yang pasti, ia hendak mendidik anak-anak lebih disiplin
terutama dalam mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR).
Tetapi sayang pilihan sanksi yang tidak biasa itu justru menyebabkan
trauma bagi para siswa. Samini yang segera memasuki masa pensiun itu
mengaku khilaf. Ia meminta maaf dan mengakui tidak ada maksud lain
kecuali mendidik para siswanya agar lebih disiplin.
"Itu mengerjakan PR belum selesai. Memang saya mengakui saya khilaf,
saya salah, saya minta maaf yang sebesar-besarnya," ucap Samini.

Senin 12 Oktober 2015, 8 siswa yang kedapatan tidak mengerjakan PR


atau tidak rampung mengerjakannya ditelanjangi.
Para siswa diminta menanggalkan celana atau roknya di depan kelas di
hadapan puluhan siswa lainnya. Akibatnya, sebagian siswa enggan masuk
sekolah keesokan harinya karena malu. (Vra/Mvi)

Sumber : http://tv.liputan6.com/read/2340822/hukuman-tak-biasa-gurusd-di-situbondo

Kritik
Sebenarnya hukuman perlu dilakukan apalagi pada anak dalam masa
sekolah dasar, mereka cenderung aktif dan nakal. Hukuman bisa
digunakan untuk mengajarkan anak tentang hal mana yang baik dan hal
mana yang tidak baik untuk dilakukan. Tujuan memberikan hukuman agar
anak bisa menjadi lebih baik, lebih maju, lebih santun dan lebih berguna
bagi teman dan lingkungan di mana anak berada.
Tapi sebagai pendidik harus memperhatikan beberapa poin penting ketika
akan memberikan hukuman kepada siswa. Poin-poin tersebut antara lain
adalah: 1) Hukuman harus bisa memberikan efek jera kepada siswa 2)
Hukuman harus bersifat mendidik atau edukatif 3) Hukuman tidak
digunakan untuk mempermalukan siswa. Sementara hukuman yang
diberikan oleh Ibu Samini tidak bersifat mendidik dan membuat siswa
merasa dipermalukan hingga mereka enggan masuk sekolah lagi.
Pendidik dapat memberikan hukuman yang lebih positif dan mendidik
kepada siswa bukan hukuman yang akan menjadikan siswa semakin
terpuruk, sedih, atau malah depresi. Contoh hukuman yang positif adalah
menyuruh siswa membaca, menulis narasi, atau membersihkan kelas.