Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.1 Latar Belakang

Industri dapat diartikan sebagai suatu lokasi atau tempat dimana aktivitas produksi

akan diselenggarakan. Sedangkan aktivitas produksi dinyatakan sebagai sekumpulan

aktifitas yang diperlukan untuk mengubah satu kumpulan masukan (human resource,

material, energy, informasi, dan lain-lain) menjadi produk keluaran (finish product atau

service) yang memiliki nilai tambah (Wignojosoebroto, 2003)

Dr. William Edwards Deming mengemukakan konsep industri dengan perbaikan

performansi bisnis modern yang harus mencakup keseluruhan sistem industri dari

kedatangan material sampai dengan distribusi kepada konsumen dan desain ulang produk

(barang dan atau jasa) untuk masa mendatang, yang dinamakan dengan konsep roda

Deming (Deming’s wheel) (Gasper, 2002). Material yang nantinya menjadi bahan baku

utama dalam proses produksi akan diolah menjadi output yang diinginkan. Kebutuhan

material sangat penting bagi kelancaran produksi

Permintaan pasar yang semakin tinggi menyebabkan kapasitas produksi yang

dicapai harus bisa mengimbangi dengan permintaan pasar. Dalam hubunganya dengan

lingkungan industri berinteraksi dengan elemen-elemen disekitar yang bersinggungan

dengan proses produksi seperti elemen fisik yang meliputi konsumen, pemerintah,

pemasok, pesaing, teknologi, dan letak (Baroto, 2002).

Pemenuhan pasar industri yang tinggi harus siap bersaing dengan industri lain

ataupun dengan industri yang sejenis, untuk itu diperlukan suatu sistem produksi yang baik
mencakup dari input (human, material, energi dan lain-lain), proses produksi sampai

dengan kualitas produk yang siap dipasarkan. Tentu saja dalam dunia industri tujuan utama

adalah profit yang didatangkan dari konsumsi konsumen, salah satu contoh adalah PT.

Coca-cola bottling indonesia , yang selalu menggunakan trobosan untuk mencapai tingkat

profit yang maksimum yakni menggunakan kemasan retunable bottle glass (RBG) yang

dapat digunakan sampai 10 kali proses produksi. Sistem yang dipakai RGB sendiri adalah

bersifat reverse logistik yakni suatu proses dimana semua kegiatan logistik dari produk

yang sudah tidak dipakai lagi dari konsumen, tetapi masih bisa digunakan lagi dalam proses

produksi sehingga menjadi produk yang bisa dipasarkan kembali (Fleischmann et al,

1997 ).Proses reverse logistik yang diterapkan yaitu botol yang sudah dikonsumsi di

kembalikan lagi ke pabrik melalui gudang di setiap area yang selanjutnya melalui proses

produksi kembali. Akan tetapi ada suatu permasalahan yang timbul yakni tingkat

pengembalian botol tidak sebanding dengan tingkat produksi, sehingga sering

mengakibatkan kekurangan (stock out) bahan baku botol, ketidak seimbangan ini

diakibatkan karena proses pengembalian yang tidak pasti dari segi jumlah dan dalam kurun

waktu yang tetap, sehingga pemenuhan kebutuhan bahan baku botol sering mengalami

keterhambatan.

Karena pentingnya aliran bahan baku ke lantai produksi, perlu adanya suatu

metode untuk mengurangi resiko stock out bahan baku, Material requirements planning

(MRP) adalah salah satu metode yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan bahan baku

yang mempunyai output apa yang harus diproduksi, kapan dan berapa banyaknya (Baroto,

2002). Metode ini dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan persediaan untuk
dapat digunakan pada situasi tersebut yaitu metode MRP dengan mengkombinasikan

ketersediaan material yang bersifat probabilistik.

1.1. Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang diatas maka permasalahan yang dihadapi adalah

bagaimana memenuhi kebutuhan bahan baku dengan kondisi probabilistik berdasarkan

pada keadaan variable demand dan constant lead time.

1.2.Batasan Masalah

Dalam penelitian ini obyek penelitian dibatasi hanya pada produk RGB (returnable

glass bottle) mediun 195 ml.

1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi persediaan bahan baku dengan

sistem RGB sehingga menghasilkan suatu perhitungan yang tepat agar dapat menjadi acuan

dalam melakukan kebijakan persediaan di PT. Coca-cola bottling indonesia.