Anda di halaman 1dari 14

SUMBER HUKUM ISLAM

ISTIHSAN

XII IPA 2
Nama Kelompok :
Fahmadini Rozana Prahastiwi (19)
Nurmazidah (28)
Wahyu Eka Prastika (32)

Kementrian Agama RI
MAN 1 JEMBER
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Karena
berkat Rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah Fiqih dengan bab Istihsan ini.
Salawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada suritauladan umat, nabi
Muhammad SAW, dan juga kepada keluarganya, para sahabatnya, para tabiit-tabiin, dan para
pengikut akhir zaman.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh rekan seperjuangan yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini dan memberikan dukungan moral baik secara
langsung dan tidak langsung. Serta kepada guru mata pelajaran Fiqih, yang telah
membimbing dan memberikan pengarahan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Fiqih dalam bab Istihsan. Kami berharap
dengan adanya makalah ini dapat menambah pemahaman pembaca mengenai judul yang
kami angkat dalam makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, baik dari segi teknik penyajian
maupun dari segi materi. Oleh karena itu, demi penyempurnaan makalah ini , kami
mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak agar penyusunan makalah ini dapat lebih
disempurnakan. Penulis berharap, makalah ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja
yang membacanya.
Akhirul kalam, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jember, 27 Oktober 2015

Kelompok 3

Daftar Isi
ISTIHSAN

Kata Pengantar .................................................................... 2


Daftar Isi ............................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1......................................................................................................Lat
ar Belakang .................................................................................. 4
1.2......................................................................................................Ru
musan Masalah ............................................................................ 4
1.3 Tujuan ...................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN
2.1.....................................................................................................Def
nisi Istihsan ................................................................................. 6
2.2.....................................................................................................Mac
am-macam Istihsan ..................................................................... 7
2.3.....................................................................................................Das
ar Hukum Istihsan ....................................................................... 9
2.4.................................................................................... Kek
uatan Istihsan sebagai Hujjah ..................................................... 11
2.5.................................................................................... Alas
an Ulama yang tidak Berhujjah dengan Istihsan ......................... 11
BAB III PENUTUP
3.1................................................................................... Kesi
mpulan ........................................................................................ 12
3.2................................................................................... Sar
an ................................................................................................ 13
Daftar Pustaka...................................................................... 14

ISTIHSAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Ilmu Ushul Fiqih merupakan salah satu intsrumen penting yang harus dipenuhi oleh
siapapun yang ingin melakukan mekanisme ijtihad dan istinbath hukum dalam Islam. Itulah
sebabnya dalam pembahasan kriteria seorang mujtahid, penguasaan akan ilmu ini
dimasukkan sebagai salah satu syarat mutlaknya untuk menjaga agar proses ijtihad dan
istinbath tetap berada pada koridor yang semestinya. Meskipun demikian, ada satu fakta
yang tidak dapat dipungkiri bahwa penguasaan Ushul Fiqih tidaklah serta merta menjamin
kesatuan hasil ijtihad dan istinbath para mujtahid. Disamping faktor eksternal Ushul Fiqih itu
sendiri, seperti penentuan keshahihan suatu hadits misalnya, internal Ushul Fiqih sendiri pada
sebagian masalahnya mengalami perdebatan (ikhtilaf) di kalangan para Ushuliyyin. Inilah
yang kemudian dikenal dengan istilah al-Adillah (sebagian ahli Ushul menyebutnya: alUshul al-Mukhtalaf fiha, atau Dalil-dalil yang diperselisihkan penggunaannya dalam
penggalian dan penyimpulan hukum.
Mashadirul Ahkam (sumber-sumber hukum) ada yang disepakati ada yang tidak. Jelasnya,
ada Mashadir Ashliyah (sumber pokok) yaitu: Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya dan ada
Mashadir Thabiiyah (sumber yang dipautkan kepada sumber-sumber pokok) yang disepakati
oleh jumhur fuqaha yaitu: ijma dan qiyas. Adapula yang di ikhtilafi oleh tokoh-tokoh ahli
ijtihad sendiri yaitu: Istihsan, istishab, Maslahah mursalah, Urf, Saddudzariah, dan
madzhab sahabi.
Makalah ini akan menguraikan tentang hakikat Istihsan, yang mencakup pengertian,
macam-macamnya, kehujjahannya, kaidah-kaidahnya, dan contoh-contoh produk hukumnya.

1.2Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penulisan dirumuskan sebagai berikut:
ISTIHSAN

1. Bagaimana deskripsi istihsan ?


2. Apa macam istihasan?
3. Apa dasar hukum istihsan?
4. Bagaimana kekuatan Istihsan sebagai Hujjah ?
5. Bagaimana pendapat ulama yang tidak berhujjah dengan istihsan?

1.3Manfaat Penulisan
a. Secara teoritis penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
terhadap khazanah ilmu Pendidikan Islam dalam bidang mata pelajaran ilmu fiqih.
b. Secara praktis penulisan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan penulis dalam
penulisan karya tulis selanjutnya.

ISTIHSAN

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Definisi Istihsan
A. Makna Etimologi
Istihsan menurut Etimologis (lughowi/bahasa) adalah menganggap baik sesuatu.

Memperhitungkan sesuatu lebih baik, atau adanya sesuatu itu lebih baik, atau mengikuti
sesuatu yang lebih baik, atau mencari yang lebih baik untuk di ikuti, karena memang di
suruh untuk itu. Istihsan secara bahasa adalah kata bentukan (musytaq) dari al-hasan
(apapun yang baik dari sesuatu). Istihsan sendiri kemudian berarti kecenderungan seseorang
pada sesuatu karena menganggapnya lebih baik, dan ini bisa bersifat lahiriah (hissiy)
ataupun maknawiah, meskipun hal itu dianggap tidak baik oleh orang lain.
Dari lughawi di atas tergambar adanya seseorang yang menghadapi dua hal yang
keduanya baik. Namun ada hal yang mendorongnya untuk meninggalkan satu di antaranya
dan menetapkan untuk mengambil yang satunya lagi, karena itulah yang di anggapnya lebih
baik untuk diamalkan.
B. Makna Terminologi
Istihsan menurut terminologi/istilah ulama ushul adalah beralihnya pemikiran seorang
mujtahid dari tuntutan qiyas yang nyata kepada qiyas yang samar atau dari hukum umum
kepada perkecualian karena ada kesalahan pemikiran yang kemudian memenangkan
perpindahan itu. Adapun pengertian istihsan menurut istilah, sebagaimana disebutkan oleh
Abdul Wahab Khalaf.

Istihsan adalah berpindahnya seorang mujtahid dari ketentuan qiyas jali (yang jelas)
kepada ketentuan qiyas Khafi (yang samar), atau ketentuan yang kulli (umum) kepada
ketentuan yang sifatnya istisnai (pengecualian), karena menurut pandangan mujtahid itu
adalah dalil (alasan) yang lebih kuat yang menghendaki perpindahan tersebut.
Definisi istihsan Menurut imam Abu Al Hasan al Karkhi ialah penetapan hukum dari
seorang mujtahid terhadap suatu masalah yang menyimpang dari ketetapan hukum yang
diterapkan pada masalah-masalah yang serupa, karena ada alasan yang lebih kuat yang
menghendaki dilakukannya penyimpangan itu.

ISTIHSAN

Definisi istihsan menurut Ibnul Araby ialah memilih meninggalkan dalil, mengambil
ruksah dengan hukum sebaliknya, karena dalil itu berlawanan dengan dalil yang lain
pada sebagian kasus tertentu.
Sementara itu, ibnu anbary, ahli fiqih dari madhab Maliky memberi definisi istihsan
bahwa istihsan adalah memilih menggunakan maslahat juziyyah yang berlawanan
dengan qiyas kully. Istihsan merupakan sumber hukum yang banyak dalam terminology
dan istinbath hukum oleh dua imam madhab, yaitu imam Malik dan imam Abu Hanifah.
Tapi pada dasarnya imam Abu Hanifah masih tetap menggunakan dalil qiyas selama
masih dipandang tepat.
Apabila terjadi sesuatu peristiwa yang tidak dapat nash hukumnya, maka dalam
pembahasannya ada dua pendapat yang berbeda, sudut pandang lahiriyah yang
menghendaki suatu hukum. Dan sudut pandang secara tersembunyi yang menuntut hukum
yang lain. Seorang mujtahid menemukan dalil yang memenangkan pandangan

secara

tersembunyi, lalu pindah ke sudut pandang lahiriyah. Inilah yang menurut syara yang
disebut alistihsan. Demikian juga jika hukum itu bersifat umum, sedangkan dalam diri
mujtahid ada dalil yang menuntut pengecualian atas sebagian hukum umum ini, lalu ia
menghukumi perkecualian itu dengan hukum yang lain. Maka ini juga disebut al ihtisan.

2.2Macam-macam istihsan
Ditinjau dari segi pengertian istihsan menurut ulama ushul fqh di atas,
maka istihsan itu terbagi atas dua macam, yaitu:
1. Pindah dari qiyas jali kepada qiyas khaf, karena ada dalil yang
mengharuskan pemindahan itu.
2. Pindah dari hukum kulli kepada hukum juz-i, karena ada dalil yang
mengharuskannya. Istihsan macam ini oleh Madzhab Hanaf disebut
istihsan darurat, karena penyimpangan itu dilakukan karena suatu
kepentingan atau karena darurat.
Contoh istihsan macam pertama:
1. Menurut Madzhab Hanaf: bila seorang mewaqafkan sebidang tanah
pertanian, maka termasuk yang diwaqafkannya itu hak pengairan,

ISTIHSAN

hak membuat saluran air di atas tanah itu dan sebagainya. Hal ini
ditetapkan berdasar istihsan. Menurut qiyas jali hak-hak tersebut
tidak mungkin diperoleh, karena mengqiyaskan waqaf itu dengan
jual beli. Pada jual beli yang penting ialah pemindahan hak milik dari
penjual kepada pembeli. Bila waqaf diqiyaskan kepada jual beli,
berarti yang penting ialah hak milik itu. Sedang menurut istihsan
hak tersebut diperoleh dengan mengqiyaskan waqaf itu kepada
sewa-menyewa.

Pada

sewa-menyewa

yang

penting

ialah

pemindahan hak memperoleh manfaat dari pemilik barang kepada


penyewa barang. Demikian pula halnya dengan waqaf. Yang penting
pada

waqaf

ialah

agar

barang

yang

diwaqafkan

itu

dapat

dimanfaatkan. Sebidang sawah hanya dapat dimanfaatkan jika


memperoleh pengairan yang baik. Jika waqaf itu diqiyaskan kepada
jual beli (qiyas jali), maka tujuan waqaf tidak akan tercapai, karena
pada jual beli yang diutamakan pemindahan hak milik. Karena itu
perlu dicari ashalnya yang lain, yaitu sewa-menyewa. Kedua
peristiwa ini ada persamaan 'illatnya yaitu mengutamakan manfaat
barang atau harta, tetapi qiyasnya adalah qiyas khaf. Karena ada
suatu

kepentingan,

yaitu

tercapainya

tujuan

waqaf,

maka

dilakukanlah perpindahan dari qiyas jali kepada qiyas khaf, yang


disebut istihsan.
2. Menurut Madzhab Hanaf: sisa minuman burung buas, seperti sisa
burung elang burung gagak dan sebagainya adalah suci dan halal
diminum. Hal ini ditetapkan dengan istihsan. Menurut qiyas jali sisa
minuman binatang buas, seperti anjing dan burung-burung buas
adalah haram diminum karena sisa minuman yang telah bercampur
dengan air liur binatang itu diqiyaskan kepada dagingnya. Binatang
buas itu langsung minum dengan mulutnya, sehingga air liurnya
masuk ke tempat minumnya. Menurut qiyas khaf bahwa burung
buas itu berbeda mulutnya dengan mulut binatang huas. Mulut
binatang buas terdiri dari daging yang haram dimakan, sedang
mulut burung buas merupakan paruh yang terdiri atas tulang atau
ISTIHSAN

zat tanduk dan tulang atau zat tanduk bukan merupakan najis.
Karena itu sisa minum burung buas itu tidak bertemu dengan
dagingnya yang haram dimakan, sebab diantara oleh paruhnya,
demikian pula air liurnya. Dalam hal ini keadaan yang tertentu yang
ada pada burung buas yang membedakannya dengan binatang
buas. Berdasar keadaan inilah ditetapkan perpindahan dari qiyas jali
kepada qiyas khaf, yang disebut istihsan.
Contoh istihsan macam kedua
1.

Syara' melarang seseorang memperjualbelikan atau mengadakan


perjanjian tentang sesuatu barang yang belum ada wujudnya, pada
saat jual beli dilakukan. Hal ini berlaku untuk seluruh macam jual beli
dan perjanjian yang disebut hukum kuIIi. Tetapi syara' memberikan
rukhshah (keringanan) kepada pembelian barang dengan kontan
tetapi barangnya itu akan dikirim kemudian, sesuai dengan waktu
yang telah dijanjikan, atau dengan pembelian secara pesanan
(salam). Keringanan yang demikian diperlukan untuk memudahkan
lalu-lintas perdagangan dan perjanjian. Pemberian rukhshah kepada
salam itu merupakan pengecualian (istitana) dari hukum kulli dengan
menggunakan hukum juz-i, karena keadaan memerlukan dan telah
merupakan adat kebiasaan dalam masyarakat.

2. Menurut hukum kulli, seorang pemboros yang memiliki harta berada


di bawah perwalian seseorang, karena itu ia tidak dapat melakukan
transaksi hartanya tanpa izin walinya. Dalam hal ini dikecualian
transaksi yang berupa waqaf. Orang pemboros itu dapat melakukan
atas namanya sendiri, karena dengan waqaf itu hartanya terpelihara
dari kehancuran dan sesuai dengan tujuan diadakannya perwalian,
yaitu untuk memelihara hartanya (hukum juz-i).
2.3

Dasar Hukum Istihsan

Para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Quran dan Sunnah yang
menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif (lafal yang seakar dengan istihsan)
seperti Firman Allah Swt dalam surah Al-Zumar: 18
ISTIHSAN

Artinya: Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.
mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang
yang mempunyai akal. (QS. Az-Zumar: 18)
Ayat ini menurut mereka menegaskan bahwa pujian Allah bagi hambaNya yang memilih dan
mengikuti perkataan yang terbaik, dan pujian tentu tidak ditujukan kecuali untuk sesuatu
yang disyariatkan oleh Allah.
Artinya: Dan ikutilah Sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu
sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya . (QS.
Az-Zumar: 18)
Menurut mereka, dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk mengikuti yang
terbaik, dan perintah menunjukkan bahwa ia adalah wajib. Dan di sini tidak ada hal lain yang
memalingkan perintah ini dari hukum wajib. Maka ini menunjukkan bahwa Istihsan adalah
hujjah.
Hadits Nabi saw:

.
Artinya:Apa yang dipandang kaum muslimin sebagai sesuatu yang baik, maka ia di sisi
Allah adalah baik dan apa-apa yang dipandang sesuatu yang buruk, maka disisi Allah
adalah buruk pula.
Hadits ini menunjukkan bahwa apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin dengan akalsehat mereka, maka ia pun demikian di sisi Allah. Ini menunjukkan kehujjahan Istihsan.
Yang berpegang dengan dalil istihsan ialah Madzhab Hanafi, menurut mereka istihsan
sebenarnya semacam qiyas, yaitu memenangkan qiyas khafi atas qiyas jali atau mengubah
hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar
ketentuan umum kepada ketentuan khusus karena ada suatu kepentingan yang
membolehkannya. Menurut mereka jika dibolehkan menetapkan hukum berdasarkan qiyas
jali atau maslahat mursalah, tentulah melakukan istihsan karena kedua hal itu pada
hakekatnya adalah sama, hanya namanya saja yang berlainan. Disamping Madzhab Hanafi,
golongan lain yang menggunakan istihsan ialah sebagian Madzhab Maliki dan sebagian
Madzhab Hambali.
Yang menentang istihsan dan tidak menjadikannya sebagai dasar hujjah ialah
Madzhab Syafii. Istihsan menurut mereka adalah menetapkan hukum syara berdasarkan
keinginan hawa nafsu. Imam Syafii berkata: Siapa yang berhujjah dengan istihsan berarti ia
telah menetapkan sendiri hukum syara berdasarkan keinginan hawa nafsunya, sedang yang
ISTIHSAN

10

berhak menetapkan hukum syara hanyalah Allah SWT. Dalam buku Risalah Ushuliyah
karangan beliau, dinyatakan: Perumpamaan orang yang melakukan istihsan adalah seperti
orang yang melakukan shalat yang menghadap ke suatu arah yang menurut istihsan bahwa
arah itu adalah arah Kabah, tanpa ada dalil yang diciptakan pembuat syara untuk
menentukan arah Kabah itu.
Jika diperhatikan alasan-alasan yang dikemukakan kedua pendapat itu serta
pengertian istihsan menurut mereka masing-masing, akan jelas bahwa istihsan menurut
pendapat Madzhab Hanafi berbeda dari istihsan menurut pendapat Madzhab Syafii. Menurut
Madzhab Hanafi istihsan itu semacam qiyas, dilakukan karena ada suatu kepentingan, bukan
berdasarkan hawa nafsu, sedang menurut Madzhab Syafii, istihsan itu timbul karena rasa
kurang enak, kemudian pindah kepada rasa yang lebih enak. Seandainya istihsan itu
diperbincangkan dengan baik, kemudian ditetapkan pengertian yang disepakati, tentulah
perbedaan pendapat itu dapat dikurangi. Karena itu asy-Syathibi dalam kitabnya AlMuwfaqt menyatakan: orang yang menetapkan hukum berdasarkan istihsan tidak boleh
berdasarkan rasa dan keinginannya semata, akan tetapi haruslah berdasarkan hal-hal yang
diketahui bahwa hukum itu sesuai dengan tujuan Allah SWT menciptakan syara dan sesuai
pula dengan kaidah-kaidah syara yang umum.

2.4Kekuatan Istihsan sebagai hujjah


Dari definisi dan penjelasan kedua macam istihsan, jelaslah bahwa pada hakikatnya
istihsan bukanlah sumber hukum yang berdiri sendiri, karena dalil hukum yang berbentuk
istihsan pertama adalah kias yang tersembunyi yang di unggulkan dari pada kias yang nyata,
sebab hal-hal tertentu oleh mujtahid di anggap lebih unggul, dan itu adalah alasan istihsan.
Sedangkan dalil hukum dari bentuk istihsan yang kedua adalah kemaslahatan, yang menuntut
adanya perkecualian bagian tertentu dari hukum umum, dan hal itu juga di anggap alasan
istihsan.
Diantara orang-orang yang berhujjah dengan istihsan adalah mayoritas kelompok
hanafi. Mereka beralasan: Pengambilan dalil dengan istihsan adalah mengambilan dalil
dengan kias yang samar yang mengalahkan kias yang nyata, atau memenagkan kias atas kias
lain yang menentangnya karena kepentingan umum dengan cara mengecualikan sebagian dari
hukum umum. Dan semua itu pengambilan dalil yang benar.

2.5Alasan ulama yang tidak berhujah dengan Istihsan

ISTIHSAN

11

Sebagian kelompok mujtahid menginkari kebenaran istihsan, mereka menganggapnya


sebagai pembentukan hukum berdasarkan hawa nafsu

dan seenaknya sendiri. Diantara

tokohnya adalah Imam Syafii, seperti telah di nukil darinya; Siapa yang menggunakan
istihsan berarti ia membuat syariat. Artinya orang itu membuat syariat sendiri. Ditetapkan
dalam Risalah Ushuliyahnya: perumpamaan orang yang menetapkan hukum dengan istihsan
adalah seperti orang sholat menghadap ke arah yang di anggap baik itu kabah, tanpa
menggunakan dalil-dalil yang di tetapkan oleh syari dalam menetukan arah kabah. Dalam
kitab itu disebutkan bahwa istihsan adalah berenak enak, seandainya melakukan istihsan
dalam agama itu diperbolehkan, niscaya bolehjuga dilkukan orang-orang yang punya akal
meskipun bukan ahli ilmu. Dan niscaya boleh menciptakan Syariat dalam agama di setiap
permasalahan, serta setiap orang boleh membuat syariat untuk dirinya sendiri.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Istihsan adalah mengambil maslahah yang merupakan bagian dalam dalil yang
bersifat kully(menyeluruh) dengan mengutamakan al-istidlal al-mursal daripada qiyas. Dari
Tarif di atas, jelas bahwa al-istihsan lebih mementingkan maslahah juziyyah atau maslahah
tertentu dibandingkan dengan dalil kully atau dalil yang umum atau dalam kata lain sering
dikatakan bahwa al-istihsan adalah beralih dari satu qiyas ke qiyas yang lain yang dianggap
lebih kuat dilihat dari tujuan syariat diturunkan. Tegasnya, al-istihsan selalu melihat dampak
sesuatu ketentuan hukum, jangan sampai membawa dampak merugikan tapi harus
mendatangkan maslahah atau menghindari madarat, namun bukan berarti istihsan adalah
menetapkan hukum atas dasar rayu semata, melainkan berpindah dari satu dalil ke dalil yang
lebih kuat yang kandungannya berbeda.
Dari pengertian al ihtisan secara syara dapat di tarik kesimpulan
bahwa alistihsan ada dua macam:
1. Mengunggulkan kias yang tersembunyi atas kias yang nyata dengan
suatu dalil.
2. Mengecualikan sebagian hukum umum dengan suatu dalil.

ISTIHSAN

12

para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Quran dan Sunnah yang
menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif (lafal yang seakar dengan istihsan)
seperti Firman Allah Swt dalam surah Al-Zumar: 18
Dari definisi dan penjelasan kedua macam istihsan, jelaslah bahwa pada hakikatnya
istihsan bukanlah sumber hukum yang berdiri sendiri, karena dalil hukum yang berbentuk
istihsan pertama adalah kias yang tersembunyi yang di unggulkan dari pada kias yang nyata,
sebab hal-hal tertentu oleh mujtahid di anggap lebih unggul, dan itu adalah alasan istihsan.
Sedangkan dalil hukum dari bentuk istihsan yang kedua adalah kemaslahatan, yang menuntut
Dari definisi dan penjelasan kedua macam istihsan, jelaslah bahwa pada hakikatnya
istihsan bukanlah sumber hukum yang berdiri sendiri, karena dalil hukum yang berbentuk
istihsan pertama adalah kias yang tersembunyi yang di unggulkan dari pada kias yang nyata,
sebab hal-hal tertentu oleh mujtahid di anggap lebih unggul, dan itu adalah alasan istihsan.
Sedangkan dalil hukum dari bentuk istihsan yang kedua adalah kemaslahatan, adanya
perkecualian bagian tertentu dari hukum umum, dan hal itu juga di anggap alasan istihsan.
kembali mencermati pandangan dan argumentasi ulama yang menolak istihsn, ki ta dapat
melihat bahwa yang mendorong mereka menolaknya adalah karena kehati-hatian dan
kekhawatiran mereka jika seorang mujtahid terjebak dalam penolakan terhadap nash dan
lebih memilih hasil olahan logikanya sendiri. Dan kekhawatiran ini telah terjawab dengan
penjelasan sebelumnya, yaitu bahwa istihsn sendiri mempunyai batasan yang harus diikuti.
Dengan kata lain, para pendukung pendapat kedua ini sebenarnya hanya menolak istihsn
yang hanya dilandasi oleh logika semata, tanpa dikuatkan oleh dalil yang lebih kuat.
3.2 Saran
banyak perbedaan di kalangan para ulama mengenai istihsan . Mengenai
perbedaan ini sudah kami bahas dan kami jelaskan di makalah ini. Kami
menyadari dalam makalah kami ini masih banyak kekurangan dan
kesalahan, dan kami berharap bahwa makalah ini untuk ada yang
melanjutkan dan membahasnya kembali.
4

ISTIHSAN

13

DAFTAR PUSTAKA
file:///D:/Pelajaran/Fiqih/Kumpulan%20Makalah%20%20Makalah%20Al
%20Istihsan.htm
Abu Zahrah Muhammad, Ushul Fiqih, (Pustak Firdaus :Jakarta, 1999)
Khallaf Abdul Wahhab, Ilmu ushul fikih, (Jakarta : Pustaka Amani, 2003)
Syarifuddin Amir, Ushul fiqh jilid II, (Jakarta: Kencana, 2011)
Lih. Lisan al-Arab, 13/117
Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu ushul fikih, (Jakarta : Pustaka Amani, 2003), hal. 104
Amir Syarifuddin, Ushul fiqh jilid II, (Jakarta: Kencana, 2011), hal.324
Lih. Lisan al-Arab, 13/117
Opcit hal. 104
Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul al-fikih (Maktabah Al-Dakwah al-Islamiyah,1991),
hal.79
Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, (Pustak Firdaus :Jakarta, 1999) hlm.402
Ibid hal.401
Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu ushul fikih, (Jakarta : Pustaka Amani, 2003), hal. 104

ISTIHSAN

14

Anda mungkin juga menyukai