Anda di halaman 1dari 9

TUGAS

MATA KULIAH GEOTEKTONIK (GL5211)


Dibuat untuk memenuhi tugas ke-1 mata kuliah

Dibuat oleh :
Fathul Mubin (NIM 22016026)

Dosen Pengajar:
Dr. Ir. Chalid Idham Abdullah

PASCASARJANA (S2) TEKNIK GEOLOGI


INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

Faham Fixism dan Mobilism


Ilmu geologi lahir sebagai sebuah ilmu yang tersistematis baru 200 an tahun yang lalu, masih
sangat muda bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu science yang lain sperti fisika, kimia dan
biologi. Karena masih muda itulah maka sejak munculnya ilmu geologi muncul pula beberapa
teori-teori yang saling kontroversi dalam pemahaman tentang beberapa fenomena atau kejadian
bumi.
Banyak teori yang berduel adu pemikiran dalam bidang ilmu geologi. Salah satu kontroversi
pemikiran yang membahas mengenai dua teori yang sangat menunjang sejarah perkembangan
geologi. Kedua teori tersebut adalah Fixism dan Mobilism.

Teori Fixism merupakan sebuah teori yang menganggap pembentukan orogenesa dan
geosinklin terjadi di tempat yang tetap dan menyatakan benua dan samudra tidak pernah bergerak
atau berpindah tempat posisinya sejak bumi lahir. Para ahli geologi menyatakan bahwa bumi itu
mengalami pendinginan dan kontraksi seiring berjalannya waktu pada akhir abad ke-19. Seperti
contohnya adalah jalur-jalur pegunungan yang merupakan akibat dari proses kontraksi dimana
merupakan gaya-gaya geologi vertikal di bawah pegunungan.

Teori Mobilism merupakan sebuah teori yang menyatakan benua dan samudra selalu bergerak

atau berpindah tempat posisinya terutama lateral sejak bumi lahir. Teori ini didukung oleh teori
apungan benua, pemekaran dasar samudera, dan tektonik lempeng. Alfred Wegener menyatakan
bahwa pegunungan-pegunungan tersebut terjadi karena pergerakan benua yang terapung
(continental drift) dimana merupakan bentuk gaya lateral. Wegener menantang teori pembentukan
pegunungan yang terjadi akibat pendinginan dan kontraksi bumi. Wegener memang bukan orang
pertama yang mengemukakan bahwa benua-benua kemungkinan bergerak, sebelumnya ada Snyder
di Prancis dan Taylor di Amerika, tetapi Wegener-lah yang mengemukakannya secara sistematik
dan dengan bukti-bukti yang kuat. Kemudian beliau berteori bahwa pada saat Mesozoikum bumi
memiliki superbenua besar yang disebutnya Pangaea, yang kemudian terbagi menjadi beberapa
continent yang saling bergerak menjauh membuka. Gerak antar continent nantinya akan saling
bertubrukan satu sama lain sehingga membentuk jalur-jalur pegunungan.
Wegener menantang teori pembentukan pegunungan melalui pendinginan dan kontraksi
Bumi. Misalnya, mengapa kerutan pegunungan itu tidak tersebar seragam di mana-mana di
permukaan Bumi, tetapi hanya di jalur-jalur tertentu yang sempit memanjang. Teori Bumi
mendingin karena panasnya hilang terpancar ke angkasa luar juga bertentangan dengan penemuan
baru saat itu bahwa produksi panas justru terus terjadi melalui radioaktivitas di batuan-batuan
penyusun Bumi. Wegener bahkan berteori bahwa dulu pada masa Mesozoikum ada superbenua
besar yang disebutnya Pangaea, yang kemudian retak dan pecah lalu fragmen-fragmennya
bergerak menjauh membuka Samudera Atlantik dan Hindia. Gerak fragmen-fragmen benua ini
akhirnya bertubrukan satu sama lain dan membentuk jalur-jalur pegunungan.
1

Tugas I. Geotektonik

Semenjak kelahirannya ilmu geologi, telah ada banyak tokoh pemikir dari waktu ke waktu
yang saling berkontroversi tentang teori Fixism dan Mobilism ini. Timeline tokoh-tokoh tersebut
dapat dilihat dalam bagan sederhana pada gambar 1.

Gambar 1. Timeline tokoh pemikiran Fixism dan Mobilism (sumber: The Continental Drift
Controversy, Volume 1, By Henry R. Frankel)

Tugas I. Geotektonik

Gerak-gerak Vertical dan Horizontal


Tektonisme adalah proses pergerakan, pengangkatan, lipatan, dan patahan pada batuan
sehingga mengalami perubahan bentuk, volume, letak, dan atau posisi lapisan bumi secara
mendatar atau vertikal. Tenaga tektonik yang terjadi merupakan tenaga yang berasal dari
dalam bumi. Dari proses tersebut menghasilakn lipatan dan patahan. Tektonisme dibedakan
menjadi dua yaitu gerak epirogenetik dan orogenetik yang dibagi berdasarkan luas daerah dan
kecepatan geraknya.
Gerak Epirogenetik merupakan gerakan dari dalam bumi yang memiliki arah horizontal
dan vertikal sehingga membentuk turun naiknya lapisan kulit bumi yang sangat lambat dan
terjadi di suatu daerah yang luas. Gerak ini yang membentuk kontinen atau benua. Gerak
epirogenetik dibedakan menjadi dua yaitu:
Epirogenetik positif (penurunan benua), gejala naiknya permukaan air laut, sehingga
menurunnya daratan.
Epirogenesa negative (naiknya benua), gejala turunnya permukaan air laut, sehingga daratan
naik.
Gerak Orogenetik merupakan gerakan lempeng yang lebih cepat pada wilayah yang lebih
sempit. Proses ini yang membentuk pegunungan. Ada dua macam bentuk permukaan bumi akibat
tenaga orogenetik, yaitu:
Lipatan (Fold) merupakan suatu bentuk rupa bumi yang mengalami pengerutan karena tekanan
horizontal pada kulit bumi yang sifatnya elastis. Lipatan yang terlipat ke atas dapat disebut
antiklinal, sedangkan lipatan yang terlipat kebawah dapat disebut sinklinal (gambar 2).

Gambar 2. Macam-macam bentuk lipatan

Patahan atau Sesar (Fault) merupakan suatu bentuk rupa bumi yang patah atau retak karena
tekanan horizontal pada kulit bumi yang melebihi batas elastis, sedangkan untuk tekanan
vertikal sendiri karena akibat pembebanan batuan diatasnya. Pergeseran bidang batuan tersebut
terjadi secara vertikal atau horizontal.
3

Tugas I. Geotektonik

Teori Geosinklin
Secara makna geosinklin (geosynclines; Leet, 1982) adalah suatu cekungan yang
terakumulasi sedimen dengan ketebalan ribuan meter dan disertai penurunan lantai cekungan
secara progresif yang disebabkan oleh pembebanan sedimen. Semua barisan pegunungan yang
terlipat dibangun dari geosinklin, namun tidak semua geosinklin menjadi barisan pegunungan.
Lokasi tipe geosinklin adalah geosinklin Appalachian, penemunya adalah James Hall. Hall (1859)
menyatakan bahwa arah setiap rantai pegunungan berhubungan dengan garis asal akumulasi
sedimen yang sangat besar, atau garis sepanjang sedimen yang sangat melimpah diendapkan.
Pada area Appalachian, lapisan laut/air dangkal diendapkan setebal 40000 kaki, sepuluh lebih tebal
dari seri sedimentasi yang ada di Lembah Mississippi.

Perkembangan teori Hall, sedimentasi yang sangat tebal kemudian menyebabkan adanya
subsidence, dan sumbu palungnya akan menjadi barisan pegunungan. Adanya subsidence tersebut
kemudian menghasilkan adanya lapisan yang terlipatkan, namun perlipatan tersebut bukan
penyebab dari naiknya sedimen tebal tersebut menjadi pegunungan. Selain itu, adanya sedimentasi
yang tebal diatas palung/cekungan terdalam mengakibatkan adanya pergerakan material subcrustal
yang berada dibawah palung. Material tersebut bergerak secara lateral di bawah cekungan sedimen
dan foreland nya, sehingga daerah tersebut naik.
Selama kolapsnya perlipatan besar geosinklin yang didorong oleh tekanan lateral, akan
membentuk rangkaian perlipatan yang besar (sinklinorium). Penurunan geosinklin ke kedalaman
35000 atau 40000 kaki yang berarti suatu massa batuan yang mobile (kental atau plastis), 7 mil
maksimum kedalaman dan lebih dari 100 mil secara lateral, terdorong kesamping. Setelah itu,
pada bagian utamanya bergerak ke timur, dan menyebabkan jejak yang berbatasan dengan laut
pada sisi timur, yang kemudian terangkat sebagai suatu geantiklinal yang paralel dengan palung
yang subsidence. Tingginya busur geantiklinal dapat tergantung kepada seberapa jauh batuan
plastis dapat bergerak ke arah timur. Kemudian lantai geosinklin menjadi lebih lemah yang
disebabkan adanya isogeotherms, dan pelemahan ini menyebabkan perlipatan sedimen geosinklin
dan melahirkan barisan pegunungan.
Teori Dana Hall yang menyatakan bahwa barisan pegunungan merupakan kelahiran geosinklin
berdasarkan dua pendapat utama :
1) Determinasi lokasi barisan pegunungan yang akan terbentuk didasarkan kepada adanya
akumulasi sedimen pada suatu geosinklin,
2) Pegunungan menjadi rentan dalam proses yang relatif singkat, selama perlapisan terlipat dan
tersesarkan.
Dalam perkembangannya, terdapat beberapa penambahan terhadap teori Hall-Dana :
1) Vulkanisme dan intrusi selama pertumbuhan geosinklin induk,
2) Isostatik mengontrol selama perlipatan akibat appression sedimen geosinklinal,
3) Metamorfisme dihasilkan dari kondisi geosinklin dan kejadian yang mengikuti perlipatan,

Tugas I. Geotektonik

4) Intrusi batolit, sintektonik dan epitektonik, dan hubungannya antara intrusi batolitik dan
kejadian suksesi perlipatan yang terdiri dari suatu revolusi orogenesa berskala besar,
5) Endapan bersifat metal sebagai akibat dari successive cycles dari aktifitas gunung api selama
revolusi orogenesa.
Teori Apungan Benua (Continental Drift)
Teori Apungan Benua (Continental Drift) pertama kali diperkenalkan oleh Alfred Wegener,
seorang ahli meteorologi asal Jerman dalam bukunya yang berjudul The Origin of Continents and
Oceans pada tahun 1915. Alfred Wegener beranggapan bahwa benua-benua yang ada saat ini
dahulunya bersatu (benua tunggal) yang dikenal sebagai super-kontinen yang bernama Pangaea.
Nama Pangaea sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti "semua daratan.
Teori ini terus berkembang hingga ditemukannya bukti-bukti tentang keberadaan super-kontinen
Pangaea pada 200 juta tahun yang lalu. Bukti-bukti tersebut diantaranya:

Kecocokan Batas Garis Pantai Benua


Apabila potongan-potongan benua yang ada saat ini digabungkan menjadi satu, akan
terdapat kecocokan bentuk-bentuk benua yang dapat membentuk suatu daratan besar, yaitu superkontinen Pangaea. Salah satu kecocokan tersebut dapat ditemukan pada kemiripan garis pantai
yang ada di benua Amerika Selatan bagian Timur dengan garis pantai benua Afrika bagian Barat.
Kedua garis pantai ini apabila dihimpitkan satu dengan lainnya akan saling berhimpit.
Persebaran Fosil
Persebaran binatang dan tumbuhan di muka bumi ini sangat tersebar luas. Hal ini dapat
dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil binatang dan tumbuhan, seperti :
Fosil Cynognathus, reptil yang hidup sekitar 240 juta tahun yang lalu, dimana fosilnya
ditemukan di benua Amerika Selatan dan benua Afrika.
Fosil Mesosaurus, reptil yang hidup di danau air tawar dan sungai yang hidup sekitar 260 juta
tahun yang lalu, dimana fosilnya ditemukan di benua Amerika Selatan dan benua Afrika.
Fosil Lystrosaurus, reptil yang hidup di daratan sekitar 240 juta tahun yang lalu, dimana
fosilnya ditemukan di benua benua Afrika, India, dan Antartika.
Fosil Clossopteris, tanaman yang hidup 260 juta tahun yang lalu, dimana fosilnya ditemukan di
benua benua Afrika, Amerika Selatan, India, Australia, dan Antartika.
Kesamaan Jenis Batuan
Jika benua dalam satu waktu bergabung, maka batuan dan pegunungan pada waktu yang
sama di lokasi yang berdampingan dan di benua yang berhadapan haruslah cocok. Jalur
pegunungan Appalachian yang berada di Timur benua Amerika Utara dengan sebaran berarah
Timur Laut secara tiba-tiba menghilang di pantai Newfoundland. Pegunungan yang memiliki umur
sama dengan pegunungan Appalachian juga ditemukan di Timur Greenland, Irlandia, Inggris, dan
Norwegia. Kedua pegunungan tersebut apabila diletakkan pada lokasi sebelum terjadinya
pemisahan / pengapungan, kedua pegunungan ini akan membentuk suatu jalur pegunungan yang
menerus. Sehingga, menandakan bahwa dahulu kedua daratan yang terpisah ini adalah satu.
5

Tugas I. Geotektonik

Secara garis besar, teori Apungan Benua (Continental Drift) ini melihat dari unsur-unsur
bentuk, struktur, dan umur yang sama atau identik. Namun teori ini masih memiliki kelemahan,
yaitu tidak dapat menjelaskan sebab terjadinya benua atau super-kontinen Pangaea pecah,
sehingga muncul teori baru Teori Penjalaran Dasar Laut (Sea Floor Spreading).

Teori Pemekaran Lantai Samudera


Konsep pemekaran lantai samudera pertama kali dikemukakan oleh Harry Hess (1960).
Konsep tersebut pada dasarnya merupakan suatu anggapan bahwa bagian kulit bumi yang ada di
dasar samudera Atlantik tepatnya di pematang tengah samudera atau mid oceanic ridge mengalami
pemekaran. Bukti-bukti lain tentang adanya pemekaran lantai samudera adalah data-data yang
dihasilkan dari pengukran kemagnetan purba (paleomagnetism) dan penetuan umur batuan
(dating-rock).
Paleomagnetism merupakan studi tentang polaritas arah magnet bumi yang terekam oleh
mineral batuan saat batuan tersebut membeku (seperti pada gambar diatas). Polaritas arah magnet
bumi yang terkam pada batuan punggung tengah samudera dapat dipakai untuk merekonstruksi
posisi dan pemisahan antara benua Amerika dan Afrika yang semula berhimpit dan data ini
didukung oleh hasil penetuan umur batuan yang menunjukkan umur semakin muda ke arah
punggung tengah samudera. Teori Hess tentang pemekaran lantai samudera diatas juga mendapat
dukungan bukti dari mahasiswa tingkat sarjana di Inggris, yaitu Frederick J. Vine dan D.H.
Mattews. Keduanya menyatakan bahwa saat lava meluap dan memadat di retakan tengah
samudera, lava basal mendapatkan perkutuban magnet sesuai keadaan pada saat lava ini memadat.
Mid-Oceanic Ridge Mid-Oceanic Ridge (MOR) adalah suatu rangkaian pegunungan yang
berada di laut dalam ( sekitar 1500 2000 m dpl ) dengan panjang sekitar 70.000 km. Mid-oceanic
ridge mulai dikenal pada pertengahan abad ke-20 yaitu saat mulai berkembangnya konsep sea
floor spreading yang selanjutnya dijadikan bukti akan kebenaran teori pengapungan benua
(continental drift)MOR terbentuk akibat adanya aktivitas tektonik lempeng yang saling menjauh
( divergen). Pergerakan tersebut akibat adanya gaya ttarikan (tensional force) yang digerakkan
oleh arus konveksi yang berada di mantel bumi (astenosfer). KArena terjadinya rifting
(pemekaran) di sepanjang mid-oceanic ridge, maka maka akan menimbulkan ruang kosong
diantara di daerah pemekaran tersebut. Kemudian kekosongan tersebut akan diisi oleh magma
yang nantinya akan membentuk kerak samudera yang baru. Magma yang terbentuk dari proses
tersebut akan bersifat basa. Arus konveksi sebenarnya berfungsi sebagai penggerak dan litosfer
sebagai ban yang berjalan.
Pada tahun 1955, Marie Tharp menemukan bentuk lahan yang diduga sebagai tempat
berpisahnya kerak yang disebut axial rift. Axial rift merupakan bagian dari mid-oceanic ridge yang
memyerupai palung dan sebagai penanda kemiringannya. Selain itu Tharp juga menemukan
episenter gempa dangkal yang posisinya bertepatan dengan mid-atlantic ridge. Axial rift akan
terpecah menjadi beberapa bagian yang dapat mengalami pergeseran hingga 600 km. Selanjutnya
penemuan hubungan antara gempa dengan axial rift inilah yang dijadikan bukti oleh para scientist
bahwa axial rift merupakan tempat kerak bergeser (crustal faulting) dengan kerak lainnya.
6
Tugas I. Geotektonik

Tektonik Lempeng (Plate Tectonic)


Beberapa tahun setelah Wegener mengajukan teorinya, perkembangan teknologi yang pesat
menyebabkan mampunya dilakukan pemetaan pada lantai samudera, serta ditemukannya data-data
yang banyak tentang aktivitas seismik dan medan magnit bumi. Sampai tahun 1968,
perkembangan teknologi ini sedemikian pesatnya, hingga pada saat itu dikemukakan sebuah teori
yang lebih memuaskan daripada teori pengapungan kontinen. Teori ini kemudian dinamakan Teori
Tektonik Lempeng.
Teori ini menyatakan bahwa bagian luar dari bumi, yaitu pada bagian litosfer, terdapat
sekitar 20 segmen yang padat yang dinamakan lempeng. Dari semua itu, yang terbesar adalah
lempeng Pasifik, yang menempati sebagian besar lautan, kecuali pada sebagian kecil dari Amerika
Utara yang meliputi Kalifornia bagian Baratdaya dan Semenanjung Baja. Semua lempeng besar
lainnya dapat berupa kerak-kerak kontinen maupun kerak samudera. Sedang lempeng-lempeng
yang lebih kecil umumnya hanya sebagai kerak samudera, contohnya lempeng Nazca yang
terdapat di lepas pantai Barat Amerika Selatan.

Gambar 3.
Litosfer terletak di atas zona atau material yang lebih lemah dan lebih panas, yang disebut
astenosfer. Dengan demikian, lempeng-lempeng litosfer yang sifatnya padat dilapisbawahi oleh
material yang lebih plastis. Nampaknya ada hubungan antara ketebalan dari lempeng-lempeng
litosfer dengan sifat dari material kerak yang menutupinya. Lempeng-lempeng samudera sifatnya
lebih tipis, dengan variasi ketebalan antara 80 sampai 100 km atau lempeng atau blok kontinen
mempunyai ketebalan 100 km atau lebih, bahkan pada beberapa daerah dapat mencapai 400 km.
Salah satu prinsip utama dari teori tektonik lempeng adalah bahwa setiap lempeng bergerakgerak sebagai satu unit terhadap unit lempeng lainnya. Jika sebuah lempeng bergerak, maka jarak
antara dua kota yang berada dalam satu lempeng, seperti New York dan Denver, akan tetap sama,
7

Tugas I. Geotektonik

sedangkan jarak antara New York dan London yang berada pada dua lempeng yang berbeda, akan
berubah. Karena setiap lempeng bergerak sebagai satu unit, maka banyak interaksi yang dapat
terjadi antara satu lempeng dengan lempeng lainnya di sepanjang batas-batas dari lempenglempeng tersebut. Berdasarkan hal inilah, maka sebagian besar aktivitas seismik, volkanisma dan
pembentukan pegunungan terjadi di sepanjang batas-batas yang dinamis tersebut.

Tugas I. Geotektonik