Anda di halaman 1dari 4

Nama : Melsha Zaviera Mahmudia

NIM : J3B215058
Identifikasi Aspek dan Elemen Budaya Non Perkotaan Jayapura

1. Aspek Budaya
Aspek budaya yang terdapat di Kabupaten Jayapura , Desa Babrongko,
Kecamatan Ebungfau yang terdiri dari ide dan gagasan, aktivitas, dan benda
benda hasil budaya.

a) Ide atau Gagasan


Kebudayaan yang biasanya dilakukan setiap tahun di Desa Bangrongko yaitu,
Festival Danau Sentani. Festival Danau Sentani yang menjadi festival tahunan dan
masuk dalam kalendar pariwisata utama. Danau Sentani terletak di Kabupaten
Jayapura, dikelilingi 21 pulau kecil dan 24 desa yang bertengger di sekitarnya.
Danau Sentani terdapat desa yang memiliki adat yang berbeda, tetapi berasal dari
budaya yang sama, sebagaimana terlihat dari kepercayaan dan ritual masyarakat.
Festival Danau Sentani sebagai bukti pemeliharaan persatuan dan kesatuan di
antara sesama suku, ras, dan agama. Festival Danau Sentani yang bertema Satu
dalam Keanekaragaman Meraih Kejayaan yang bertujuan untuk masyarakat
Kabupaten Jayapura yang terdiri dari berbagai suku asli dan paguyuban nusantara,
mampu memelihara persatuan dan kesatuan di antara sesama suku, ras, dan agama,
serta berisi beragam adat istiadat, seni, dan budaya dari puluhan suku asli Papua
yaitu, upacara adat penobatan Ondoafi dan sajian kuliner khas Papua.

Gambar 01. Festival Danau Sentani


Sumber papuaweb.org

b) Aktivitas
Aktivitas yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Desa Babrongko setiap tahun,
yaitu, Upacara Adat Ondoafi. Upacara adat ondoafi dilakukan di dalam festival
danau sentani. Upacara adat ondoafi yang memiliki tujuan untuk menyatukan
perbedaan budaya dari 24 desa di sekitar danau. Kata Ondoafi atau ondofolo adalah
kepala adat, namun bukan sebagai kepala suku di tengah masyarakat asli Sentani
(Phuyakha). Dalam pemerintahan adat masyarakat asli Sentani yang berada di satu
kampung , terdapat satu Ondofolo dan lima Kose (kepala suku). Ondofolo yaitu,
pimpinan tertinggi dalam satu kampung.
Sejarah Upacara Adar Ondoafi
Berawal dari kata Ondowa yang artinya debu tanah. Ondowa adalah sebutan
bagi kelompok orang-orang pertama yang datang mendiami phuyakha bhu (Sentani).
Sebutan Ondowa ini, karena kelompok orang-orang pertama yang datang ke Sentani
sudah meninggal semuanya dan telah menjadi debu tanah (Ondowa) , serta sebagai
sebutan kelompok orang orang pertama yang sudah habis generasinya, mereka
disebut Ondowa. Terdapat beberapa kelompok orang-orang kedua yang datang
ke Sentani. Sekelompok orang orang tersebut, melihat bahwa tidak ada lagi orangorang dari kelompok pertama yang masih hidup. Dalam artian, orang-orang
kelompok pertama yang datang ke Sentani telah punah. Sekelompok orang tersebut
menamakan diri mereka Ondowa Holo na yang memiliki arti orang orang
tersebut masih termasuk dalam keturunan atau kelompok orang-orang pertama yang
datang ke Sentani. Kata Ondofolo terdiri dari dua suku kata yaitu Ondowa dan
Holo. Kata Ondo berarti debu tanah, sedangkan Holo berarti rombongan atau
generasi. Dalam mempermudah penyebutannya, maka Ondoholo disebut On dofolo.
Kelompok kedua ini hidup dalam kutuk, karena banyak melakukan hobatan (phulo),
dan perbuatan-perbuatan curang dan licik (khelai). Pemimpin kelompok kedua
disebut Ondofolo.
Dalam perkembangannya, kelompok kedua menjadi terpecah dan terbagi ke
empat penjuru mata angin. Mereka terpecah karena masing-masing hidup dalam
kejahatan, dan akhirnya orang yang pertama bernama Rali (seorang laki-laki) pergi
ke arah timur. Orang yang kedua bernama Ebung (seorang laki-laki) pergi ke arah
Selatan. Orang yang ketiga bernama Wai (seorang laki-laki) pergi ke arah Barat dan
orang yang keempat bernama Robong (seorang perempuan) pergi ke arah Utara.
Nama Robong tersebut yang kemudian dipakai untuk sebutan Gunung Robongholo
atau Dobonsolo. Dari keempat nama ini akhirnya dipakai sebagai sebutan untuk
keempat arah mata angin dalam bahasa Sentani. Keempat nama ini adalah nama
Walobho atau Dewa, lalu datang kelompok ketiga. Kelompok tiga mengetahui
bahwa, kelompok orang-orang kedua hidup dalam kegelapan dan banyak melakukan
kejahatan, maka kelompok ketiga ini tidak ingin ikut bergabung atau hidup dalam
pengaruh kejahatan kelompok kedua. Kelompok dua melakukan tindakan dengan
menyebut kelompok mereka dengan sebutan Ondowa hi. Kata Ondoafi terdiri dari

dua suku kata asli yakni Ondowa dan Hi. Kata Ondo berarti debu tanah.
Sedangkan kata Hi berarti lain. Seiring perkembangan, adanya kemudahan
kemudahan dalam melafalkan kata Onda Hi yang menjadi Ondoafi yang
menjadi sebutan kelompok tiga.

c) Benda Benda Hasil Karya

Desa Babrongko, Kecamatan Ebungfau terletak di sebelah selatan Danau Sentani.


Masyarakat Babrongko membuat benda benda hasi karya yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakatnya tersendiri. Benda benda hasil karya nya yaitu,
bangunan rumah, pondok, dan balai adat.

a. Bangunan Rumah
Masyarakat babrongko memiliki kebiasaan yang unik dengan membangun rumah
diatas danau sentani dan berdiam diri di tepi danau seharian, alasan nya masyarakat
babrongko menjadikan danau sentani menjadi sumber makanan dan minuman.
Rumah masyarakat Babrongko berdiri diatas tiang yang menancap di danau. Bagian
depan rumah menghadap tepi danau dan bagian belakang rumah berada di atas air.
Tiang yang menancap di rumah masyarakat tersebut, menancap pada lubang yang
telah digali oleh kaum laki laki. Rumah masyarakat babrongko memiliki lantai
yang berbahan kayu yang diambil dari pohon matoa dan tangkai sagu yang sudah di
keringkan digunakan untuk tembok. Bangunan rumah masyarakat desa babrongko
beratap seng.
Rumah masyarakat Babrongko memiliki 2 5 kamar dan kamar anak
perempeuan biasanya terletak di dekat kamar orang tuanya. Keunikan dari rumah
tersebut yaitu, dapur dan toilet dibangun terpisah atau di bangun di bagian belakang
rumah.

(A)
(B)
Gambar 01. Bangunan di desa Babrongko. Gambar (A) menunjukkan, bangunan
rumah masyarakat babrongko.Gambar (B), Menunjukkan Kamar mandi masyarakat
babrongko.
Sumber papuaweb.org

DAFTAR PUSTAKA
Media Informasi Pemerintah Kabupaten Jayapura. 2016. Festival Danau Sentani.
http://jayapurakab.go.id/ver3w/potensi-item/festival-danau-sentani/ [Diakses 22
September 2016 20:00].
Rachmawati, Yunita. 2016. Mengenal penobatan Ondoafi & tarian perang khas
Papua di FDS 2016. https://www.merdeka.com/gaya/mengenal-penobatan-ondoafitarian-perang-khas-papua-di-fds-2016.html. [Diakses 22 September 2016 20:05].
Anderson, Lun. 2006. Babrongko Kebudayaan Material di suatu Desa Danau
Sentani. http://papuaweb.org/dlib/lap/andersen/babrongko-id.pdf [Diakses 22
September 2016 21:00].