Anda di halaman 1dari 6

TUGAS

MATA KULIAH GEOTEKTONIK (GL5211)


Dibuat untuk memenuhi tugas ke-3 mata kuliah
Tema:
OFIOLIT DAN OCEANIC CRUST

Dibuat oleh:
Fathul Mubin (NIM 22016026)

Dosen Pengajar:
Dr. Ir. Chalid Idham Abdullah

PASCASARJANA (S2) TEKNIK GEOLOGI


INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

Perbedaan Ofiolit dengan Oceanic Crust (Kerak samudera)

Dasar Pemahaman Material pada Batas Kerak dan Mantle


Pada bidang geotektonika dan struktur bumi, dikenal adanya Diskontinuitas Mohorovicic,
adalah batas antara Kerak Bumi dan Mantel Bumi. Dalam ilmu geologi, istilah diskontinuitas
digunakan untuk menunjukkan lapisan imaginer yang menjadi batas perubahan cepat rambat
gelombang seismik. Pada Kerak Samudera, lapisan ini berada pada kedalaman sekitar 8 km,
sedangkan pada Kerak Benua pada kedalaman sekitar 32 km. Pada diskontinutas ini, gelombang
seismik berakselerasi. Lapisan imaginer inilah yang disebut Diskotinuitas Mohorovicic.
Cepat rambat gelombang seismik bergantung pada densitas material yang dilaluinya.
Perubahan kecepatan gelombang seismik seiring dengan perubahan komposisi material pembentuk
bumi. Perubahan kecepatan tersebut tentu disebabkan oleh material dengan densitas yang lebih
tinggi pada kedalaman perut bumi.
Material pembentuk bumi yang densitasnya lebih rendah yang berada pada lapisan terluar,
kemudian dikenal sebagai Kerak Bumi. Sedangkan material di bawahnya yang mempunyai
densitas lebih tinggi dikenal sebagai Mantel Bumi. Melalui perhitungan densitas yang teliti
diinterpretasikan bahwa Kerak Samudera Basaltik dan Kerak Benua Granitik ditopang oleh
material yang serupa dengan batuan kaya-olivin, seperti Peridotite yang merupakan salah satu seri
Ofiolit. Seri Ofiolit mungkin singkapan yang paling dapat mewakili batuan penyusun lapisan batas
kerak dan mantel bumi dikarenakan komposisinya.
Apakah Ofiolit itu?
Ofiolit merupakan penggalan kerak samudera dan mantel atas yang telah
terangkat/terpindahkan dan tersingkap ke permukaan pada zona tepi kerak benua. Pada suatu
kompleks ofiolit, basal dan gabro biasanya telah teralterasi, dan peridotit sebagian besar telah
berubah warna menjadi hitam, serta teralterasi menjadi serpentinit.
Ofiolit diperkirakan sebagai suatu lembaran kerak samudera yang terdorong oleh obduksi
kerak benua dalam proses orogeni
Urutan stratigrafi ofiolit sebagai berikut.
Kompleks Ultramafik: Terdiri dari peridotit, dunit, lerzolit, dan harsburgit. Pada kompleks
ini juga terdapat batuan metamorf yang terbentuk akibat tektonik, umumnya serpentinit.
Kompleks Gabro : terdiri atas gabro yang menunjukkan strutur berlapis-lapis. Selain itu
juga terdapat peridotit dan piroksenit dengan struktur yang sama.
Kompleks Dike : terdiri dari dike diabas. Pada bagian bawah dibatasi oleh plagiogranit,
yaitu diorit dan tonalit. Kompleks ini tidak selalu hadir dalam setiap ofiolit.
Kompleks Vulkanik Mafik : Kompleks ini tersusun atas lava basalt yang menunjukkan
struktur bantal (pillow lava).
Kompleks Endapan Laut Dalam: Bagian ini terdiri atas kumpulan batuan sedimen dan
endapan laut dalam, seperti baturijang, serpih, dan batugamping mikrit.

Tugas 3. Geotektonik

Proses suksesi ofiolit dapat dikorelasikan dengan penampang seismik pada kerak samudera
seperti terlihat pada gambar dibawah.

Gambar 1. Stratigrafi Ofiolit

Gambar 2. Korelasi kecepatan gelombang Seismik yang diinterpretasikan dengan unit tipe batuan
secara geologi.
Para ilmuwan geosains secara hati-hati menginterpretasikan batas-batas perubahan
kecepatan seismik dengan batuan sebenarnya meskipun kecepatan seismik lebih dikendalikan oleh
bulk porosity dari kerak dan tidak dari jenis batuan.
2

Tugas 3. Geotektonik

Klasifikasi Petrologi Ofiolit


Ofiolit kemungkinan terbentuk pada Mid-Oceanic Ridges (MOR) atau pada zona supra-subduksi
(SSZ), atau cekungan marginal. Jenis ofiolit ini diidentifikasi berdasarkan komposisi kimia dari
batuan dan mineralnya. Mantel peridotit adalah residu refraktori setelah terjadi ekstraksi basaltik
yang mencair melalui proses pelelehan parsial dalam mantel. Meskipun disini peridotit sebagai
yang utama, namun indikasi harzburgit dan lherzolite dengan clinopyroxene cukup berlimpah
ditemukan. Mantel peridotit dari Mid-Oceanic Ridges kebanyakan merupakan lherzolite,
sedangkan yang dari zona "supra-subduksi" sebagian besar adalah harzburgit.

Gambar 3. Variasi Residual peridotit mantle dengan meningkatkan derajat pelelehan.

Tugas 3. Geotektonik

Gambar 4. Tipe Petrologi Ofiolit.


Akumulasi Ofiolit kebanyakan menunjukkan variasi sistematis dalam urutan kristalisasi
mineral yang sesuai dengan keragaman batuan dari mantel peridotit yang mendasarinya. Dari
kiristalisasi mineral olivin, selanjutnya dari plagioklas melalui klinopiroksen ke ortopiroksen
diartikan sebagai peningkatan derajat pelelehan. Secara umum basal ofiolit bervariasi, dari basal
alkali atau basal yang tinggi alumina seperti mid-ocean ridge basalt (MORB) melalui basal yang
rendah alumina seperti busur kepulauan tholeiite (IAT)) ke boninite (high-magnesian andesite).
Sabuk Ofiolit di Bumi
Ofiolit tersingkap cenderung membentuk sabuk ofiolit tertentu. Pada Proterozoikum akhir (750
Ma) Ofiolit terdistribusikan di sabuk orogenic Pan-Afrika, Paleozoic awal (450 Ma) Ofiolit
muncul di sabuk Appalachian-Caledonian-Uralian, dan Mesozoikum (150 Ma) Ofiolit
mendominasi sabuk pegunungan Alpine-Himalayan. Sedangkan pada sabuk orogenic sirkum
Pasifik, Ofiolit tersingkap secara luas dari berbagai umur, termasuk pada awal Paleozoic dan
Mesozoikum. Hal ini mungkin karena terus menerus, subduksi-induksi, akresi orogeni yang terjadi
di daerah sirkum Pasifik dari awal Paleozoic sampai sekarang. Ofiolit sirkum Pasifik mungkin
menjadi bukti terbaik dari sejarah superplumes.

Tugas 3. Geotektonik

Gambar 4. Sabuk Ofiolit di bumi.


Kesimpulan
Ofiolit merupakan bagian dari kerak samudera hasil lelehan parsial dari upper mantle yang
kaya akan mineral. Sehingga perbedaan mendasar dari ofiolit dengan satuan batuan lain yang
menyusun kerak samudera adalah pada mineral-mineral penyusunnya.
Ofiolit diinterprestasikan sebagai kerak samudera dan batuan tektonik mantel bagian atas
dan akhirnya membentuk daratan (Penrose, 1972; Coleman 1977 dalam Clague dan Straley, 1977)

Referensi
Coleman, R.G., 1977, Ophiolites: Ancient Oceanic Lithosphere? (Minerals and Rocks, vol. 12). Berlin,
Heidelberg, and New York (Springer-Verlag).

Hefferan, Kevin and Obrien John. 2010. Earth Materials. West Sussex: John Wiley & Sons Ltd.
Kempner, W.C. and Gettrust, J.F., 1985, Ophiolites, synthetic seismograms, and oceanic crustal
structure: A comparison of synthetic seismograms of the Samail Ophiolite, Oman, and
the ROSE refraction data from the East Pacific Rise, Journal of Geophysical Research:
Solid Earth (19782012) Volume 87, Issue B10 (http://onlinelibrary.wiley.com).
http://earth.s.kanazawa-u.ac.jp/ishiwata/ophiol_e.htm#part1
http://www.womenoceanographers.org

(diakses 23 September 2016)


(diakses 23 September 2016)

Tugas 3. Geotektonik