Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

PENGARUH ZAT STIMULAN TERHADAP KECEPATAN


TANGGAP SARAF
Pelaksanaan: Senin, 19 September 2016
Dosen:

Kelompok 2
Agung Dwi P

14030204020

Amanda Ivana S

140302040

Nilta Khusnayaini

140302040

Septi Dwi P

14030204097

Pendidikan Biologi B 2014

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2016
A. Tujuan:

1. Praktikan mengetahui pengaruh zat stimulan yang terdapat pada berbagai minuman
kemasan terhadap kecepatan tanggap aktif
B. Dasar teori
Sel saraf dalam sistem saraf berfungsi untuk menjalarkan impuls. Impuls dapat menjalar

pada sebuah sel saraf, juga dapat menjalar pada sel lain dengan melintasi sinapsis. Penjalaran
impuls dapat terjadi dengan cara transmisi elektrik atau transmisi kimiawi yang menggunakan
bantuan neurotransmitter. Proses transmisi sinapsis dapat berlangsung lebih lambat atau
mengalami gangguan. Beberapa bahan yang diketahui sebagai sumber gangguan dalam
transmisisinapsis ini adalah pestisida, racun ular dan obat bius. Proses transmisi sinapsis juga
dapat berlangsung lebih cepat akibat pengaruh dari konsumsi zat-zat yang mengandung zat
stimulan. Stimulan adalah obat-obatan yang menaikkan tingkat kewaspadaan di dalam rentang
waktu singkat. Stimulan biasanya menaikkan efek samping dengan menaikkan efektivitas.
Stimulan menaikkan kegiatan sistem saraf simpatetik, sistem saraf pusat (CNS), atau keduaduanya sekaligus. Beberapa stimulan menghasilkan sensasi kegembiraan yang berlebihan,
khususnya jenis-jenis yang memberikan pengaruh terhadap CNS. Stimulan dipakai di dalam
terapi untuk menaikkan atau memelihara kewaspadaan, untuk menjadi penawar rasa lelah,
untuk menjadi penawar keadaan tidak normal yang mengurangi kewaspadaan atau kesadaran
(seperti di dalam narkolepsi), untuk menurunkan bobot tubuh (phentermine), juga
untuk memperbaiki kemampuan berkonsentrasi bagi orang-orang yang didiagnosis sulit
memusatkan perhatian (terutama ADHD). Stimulan kadang-kadang dipakai untuk memompa
ketahanan dan produktivitas, juga untuk menahan nafsu makan. Stimulan sistem saraf
pusat kegiatannya meningkatkan norepinefrin dan dopamin dalam dua cara yang berbeda.
Pertama, stimulan SSP meningkatkan pelepasan norepinefrin dan dopamin dari
sel-sel otak.
Kedua, stimulan SSP mungkin juga menghambat mekanisme yang biasanya
mengakhiri tindakan neurotransmiter . Sebagai hasil dari kegiatan ganda sistem saraf pusat
stimulan, norepinefrin dan dopamin telah meningkatkan efek di berbagai daerah di otak.
Beberapa area otak yang terlibat dengan mengendalikan terjaga dan orang lain yang terlibat
dengan

mengendalikan

kegiatan

motorik.

Hal

SSP mengembalikan keseimbangan neurotransmiter.

ini

diyakini

bahwa

stimulan

Menurut John W. Kimball (1994: 644) menyatakan bahwa Jika neuron ditusuk
dengan mikroelektroda, maka akan kita ketahui bahwa bagian dalam neuron tersebut
bermuatan negatif terhadap bagian luarnya. Besarnya muatan ini (terkadang dinamakan
potensial rehat) kira-kira 70 milivolt (mV). Besaran ini hanya dipertahankan selama neuron
itu melakukan oksidasi glukosa yang perlahan-lahan namun tidak henti-hentinya untuk
menghasilkan ATP. ATP digunakan untuk transpor ion-ion natrium (Na+) secara aktif dari
bagian dalam neuron ke cairan ekstraselula (ECF/CES) dan ion-ion kalium (K +) dari ECF ke
bagian dalam. Hasilnya ialah konsentrasi Na + dalam ECF sepuluh kali sama besarnya seperti
yang terdapat dalam sitoplasma dan konsentrasi K + dalam sitoplasma sepuluh kali lebih besar
daripada yang ada dalam ECF.
Ada berbagai macam stimulus seperti misalnya elektroda bermuatan negatif,
panas, perubahan bentuk mekanis, dan bahan kimia tertentu yang akan meningkatkan
permeabilitas membran terhadap ion-ion natrium dan memungkinkannya untuk berdifusi
kembali ke dalam neuron. Pada gilirannya hal ini menurunkan voltase antara ECF dan
sitoplasma. Perubahan dalam voltase ini disebut potensial generator. Jika stimulusnya lemah,
maka pemasukan ion-ion natrium pun lemah. Potensial generator padam dengan cepat dan
polaritas -70 mV kembali ada. Dalam hal demikian, stimulusnya berada di bawah ambang
(subthreshold).
Akan tetapi, jika stimulus itu cukup kuat, depolarisasi berjalan sampai suatu titik
yang voltasenya menurun sampai kira-kira -50 mV. Pada nilai ini, yang disebut ambang,
permeabilitas membran terhadap pemasukan ion-ion natrium meningkat dengan tajam. Ionion natrium masuk dengan cepat, meniadakan voltasenya sama sekali. Sebenarnya ion-ion itu
menimbulkan tembakan terlalu jauh yang sekejap, sehingga kini bagian dalam membran itu
menjadi bermuatan positif.
Pemasukan ion-ion natrium yang tiba-tiba pada titik membran yang terstimulasi
mempunyai sifat yang menarik dalam hal meningkatkan permeabilitas bagian-bagian
membran yang berdekatan terhadap ion-ion natrium. Akibatnya, proses itu berulang terus
menerus sepanjang neuron, setiap bagian neuron memicu depolarisasi bagian yang dekatnya.
Delombang yang terjadi yang memasuki neuron itu ialah impuls saraf. Ini juga dinamakan
potensial aksi (AP).

Kemudian menurut John W. Kimball (1994: 688) menyatakan bahwa Stimulan


yang paling luas digunakan ialah kafein (pada kopi, teh, dan minuman cola), nikotin (pada
sigaret), amfetamin, dan kokain. Setiap stimulan ini menstimulasi sistem saraf simpatik,
mungkin melalui pengendalian pusat-pusat di hipotalamus. Setiap kegiatan (umpamanya,
percepatan laju jantung, pengecilan pupil, peningkatan gula darah) yang dikemukakan dalam
bahasan tentang medula adrenal dan mengenai sistem saraf simpatik ditingkatkan oleh obatobat ini. Stimulasi simpatik yang disebabkan kafein alah sangat lemah; nikotin lebih lemah
lagi; dan oleh amfetamin, umpamanya deksdedrin dan metilamfetamin (kecepatan) cukup
kuat. Karena peranan medula adrenal dan sisa dari sistem saraf simpatik dalam
mempersiapkan tubuh untuk menghadapi stres, maka tidak mengherankan bahwa banyak atlet
telah meminum amfetamin dalam usaha meningkatkan penampilannya. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa beberapa macam penampilan atletik (misalnya berlari) dapat
ditingkatkan setelah memakai amfetamin boleh jadi terutama dari berkurangnya rasa lelah.
Kegiatan yang memerlukan interaksi kompleks dengan rekan satu tim tidaklah membaik dan,
sebenarnya, menghancurkan, ini setelah menggunakan amfetamin.
Amfetamin juga mempengaruhi fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan
hipotalamus, seperti misalnya bertambahnya rasa haus dan berkurangnya rasa lapar dan rasa
kantuk. Karena efek depresan terhadap selera makan, maka amfetamin secara luas dipakai
untuk membantu orang mengurangi bobot tubuhnya. Sedikitnya keberhasilan berkepanjangan
yang diakibatkannya agaknya lebih banyak daripada kehancuran fisiologis dan fisik yang
dihasilkan oleh stimulasi konstan terhadap sistem saraf simpatik. (John W. Kimball, 1991:
688)
Satu atau dua cangkir teh, kopi atau coklat sudah bisa menyebabkan efek
perangsangan pada sistem tubuh. Tetapi kekuatan efek senyawa kimia tersebut berbeda pada
tiap orang. Ini karena variasi individual pada reseptor sistem-sistem tubuh yang bisa
disebabkan berbagai faktor, seperti luas permukaan tubuh, usia, penyakit, kualitas kerja organorgan tubuh, dsb.
Terhadap susunan saraf pusat, kafein menyebabkan perangsangan yang kuat,
teobromin menyebabkan perangsangan yang ringan, sedangkan teofilin selain kuat juga
efeknya lebih dalam dan lebih membahayakan bila dikonsumsi berlebihan.

Minum kafein sebanyak 1-3 cangkir kopi akan merasa tidak mengantuk, tidak
merasa lelah, dan daya pikirnya lebih cepat dan jernih. Namun kemampuannya akan
berkurang

dalam

menghadapi

pekerjaan

memerlukan

kerapian,

ketepatan berhitung dan waktu.


C. Bahan dan Alat
Bahan
1. Minuman stimulan:
2. Extra Joss
3. Kopi Hitam
4. Coca-cola
5. Hemaviton Jreng
6. M-150
7. Kratingdaeng.
Alat
1. Penggaris plastik 30cm
2. Sendok pengaduk
3. Gelas
4. Stopwatch
D. Langkah kerja
1. Persilahkan subyek uji coba untuk duduk santai
2. Letakkan sebuah penggaris 30 cm secara tegak lurus diantara ibu jari dan telunjuk
tangan kanan.
3. Usahakan posisi titik 0 berada tepat diantara ibu jari dan telunjuk tangan kanan.
4. Tanpa memberi tahu dulu, lepaskan penggaris itu kebawah dan mintalah subyek
uji coba untuk menangkap dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan
kanan. Kemudian lihat tepat pada skala berapa kedua jari tersebut menempel pada
penggaris. Ulangi kegiatan diatas hingga 5 kali.
5. Ulangi langkah 5, namun menggunakan tangan kiri.
6. Membuat minuman zat stimulan sesuai dengan dosis penyajian (baca pada
kemasan)
7. Mintalah subyek uji coba meminumzat stimulan (usahakan semua kelas mencoba
semua jenis stimulan). Tunggu sampai 30 menit (gunakan untuk mengerjakan
praktikum lain).
8. Setelah 30 menit lakukan langkah a-e.
9. Mintalah data dari kelompok lain, agar dapat membandingkan antara hasil
penelitian kelompok anda dengan kelompok lain.
E. Hasil Dan Pembahasan
Data Hasil Pengamatan

a. Dari praktikum yang telah dilakukan diketetahui bahwa zat stimulant akan
mempengaruhi kecepatan saraf
Tebel 6.1 pengaruhzat stimulant terhadap kecepatan tanggap saraf

No
.

Stimulan

1.

Hemaviton

2.

Kopi

3.

Extra joss

4.

Coca-cola

5.

M-150

6.

Kratingdeng

Ulangan
1
2
3
4
5
Rata-rata
1
2
3
4
5
Rata-rata
1
2
3
4
5
Rata-rata
1
2
3
4
5
Rata-rata
1
2
3
4
5
Rata-rata
1
2
3
4

Skala
SudahdiberiStimulan
BelumdiberiStimulan
Kanan
Kiri
Kanan
Kiri
26
26
25
24
15
27
19
24
17
28
26
29
19
23
24
29
19
23
22
28
19.2
25.4
23.2
26.8
19
12
27
8.5
13.5
16
15
15
8
6
25
13
15.5
10
17
10
15
11
15
11
14.2
11
19.8
11.5
2
8
72
20
9
11
16
19
1
6
18
30
6
4
20
24
2
9
22
16
4
7.6
17.6
21.8
8
2
13
14
8
6
22
16
12
10
26
10
17
8
14
8
12
7
8
17
11.4
8.4
16.6
14
17
15
19
18
9
3
16
20
8
10
17
06
6
11
14
15
4
10
18
20
8.8
11.8
16.8
19.8
24
0
20
30
23
21
29
0
20
18
0
0
20
16
28
30

7.

Sprite

Fanta

9.

Green sande

10.

Guineg

5
Rata-rata
1
2
3
4
5
Rata-rata
1
2
3
4
5
Rata-rata
1
2
3
4
5
Rata-rata
1
2
3
4
5
Rata-rata

21
21.6
16
15
16
12
10
13.5
20
13
11
12
24
16
0
18
18.5
11.5
6
10.8
12
13
17
20
25
17.4

18
14.6
17
16
12
15
24
16.8
10
15
17
19
16
15.4
2
15
18
0
10
9
27
12
16
14
15
16.8

0
16.6
24
6
18
3
14
15
9
22
14
14
21
16
0
0
0
0
0
0
26
15
2
28
6
10.6

20
16
13
15
22
16
20
14.6
14
13
13
13
20
14.6
0
0
0
0
3.5
0.7
13
11
5
24
4
11.4

b. Pembahasan
Pada praktikum yang telah dilakukan yaitu tentang pengaruh zat stimulant pada
10 jenis minuman yaitu hemaviton, kopi, extra joss, coca-cola, m-150, kratingdeng,
sprite, fanta, green sande, dan guineg maka didapatkan hasil pada table 6.1.
Menurut Riddle (2005) menyatakan bahwa zat stimulant merupakan obat-obatan
yang dapat menaikkan tingkat kewaspadaan di dalam rentang waktu yang
singkat.Stimulan biasanya menaikkan efek samping dengan menaikkan efektivitas pada
hewan dan manusia.Stimulan menaikkan kegiatan system saraf simpatetik, system saraf
pusat, atau keduanya sekaligus. Perangsangan stimulant oleh obat pada umumnya melalui
dua mekanisme yaitu mengadakan blockade system penghambatan dan meninggikan
perangsangan sinaps. Beberapa stimulant dapat menghasilkan sensasi kegembiraan

berlebih, khusunya jenis stimulan yang memberikan pengaruh terhadap system saraf
pusat.
Dari 10 jenis minuman yaitu hemaviton, kopi, extra joss, coca-cola, m-150,
kratingdeng, sprite, fanta, green sande, dan guineg adalah jenis minuman yang
mengandung

stimulan. Pada penjelasan teori beberapa minuman stimulant dapat

meningkatkan tingkat kewaspadaan saraf dan dapat menambah stamina kepada orang
yang meminum. Minuman berenergi termasuk kedalam minuman suplemen yang
mengandung guarana, gingko biloba, creatine, taurin, kafein, royall jelly, gingseng
(Marlinda, 2001).
Pada minuman kratindeng, extrajoss, hemaviton jrengg, danM-150 yakni
mengandung taurine dan royal jelly. Kandungan pada Royal Jelly yaitu seluruh jenis
asam amino essensial dan non essensial, karbohidratnya berupa fruktosa dan glukosa,
lemaknya terdiri dari asam lemak jenuh dan tak jenuh dan phospholipids. Sedangkan
vitamin yang terkandung didalamnya adalah seluruh jenis vitamin B, vitamin A, C, D, E
dan K (Marieb, dll. 2007). Enzym yang terdapat didalamnya meliputi enzym superoxide
dismutase, catalase, peroxidase dan glutathione peroxidase. Asam nucleid yang ada
meliputi DNA (deoxyribonucleic acid) dan RNA (ribonucleic acid). Dari beragam
manfaat dari royal jelly adalah dapat meningkatkan stamina dengan bantuan saraf,
sehingga terbukti bahwa minuman yang mengandung royal jelly dapat menngkatkan
kecepatan tanggapan saraf. Tetapi apabila royal jelly dikonsumsi dengan jumlah yang
berlebih dapat menyebabkan kerusakan pada saluran pencernaan.
Menurut Syah (2005) taurin merupakan minuman yang mengandung asam
amino.Taurin sering kali ditambahkan ke produk-produk minuman karena banyak yang
percaya dapat meningkatkan kinerja saat melakukan aktivitas fisik. Mengkonsumsi taurin
yang berlebihan dapat membuat memori dan fungsi mental menjadi lebih baik. Tetapi
seiring dengan proses penuaan, tingkat konsentrasi taurin di otak akan menurun secara
perlahan.
Para peneliti di Jepang melakukan sebuah studi pada tahun 2003, meneliti 11 lakilaki berusia 18 sampai 20, yang diperintah kan untuk melakukan latihan sepeda sampai

energy mereka habis. Kemudian para responden tersebut diberikan suplemen taurin
selama tujuh hari (setiap kali, sebelum latihan mereka). Hasilnya terdapat peningkatan
signifikan dalam VO2 max (kapasitas maksimum tubuh manusia untuk mengangkut dan
menggunakan oksigen) dan jangka waktu kelelahan latihan semakin berkurang (Ridlle,
2005). Jadi dapat disimpulkan bahwa minuman yang mengandung taurin dapat
meningkatkan kecepatan tanggap saraf, berdasarkan data yang telah diperoleh bahwa
pada minuman kratingdaeng, exstrajoss, hemaviton jrengg, dan m-150 dapat
meningkatkan aktivitas respon saraf.
Kafein adalah salah satu jenis alkaloid yang banyak terdapat dalam biji kopi, daun
teh, dan biji coklat. Kafein memiliki efek farmakologis yang bermanfaat secara klinis,
seperti menstimulasi susunan syaraf pusat, relaksasi otot polos terutama otot polos
bronkus dan stimulasi otot jantung (Coffeefag, 2001). Pada tumbuhan, ia berperan
sebagai pestisida alami yang melumpuhkan dan mematikan serangga-serangga tertentu.
Kafein umumnya dikonsumsi oleh manusia dengan mengekstraksinya dari biji kopi dan
daun teh.
Berdasarkan pernyataan diatas maka terdapat stimulan yang ada dalam kopidan
juga daun teh mengandung kafein dengan gula yang tinggi sehingga dapat menambah
kecepatan tanggap saraf. Sedangkan pada minuman bersoda seperti coca-cola, fanta,
sprite, green sande, dan guineg adalah contoh minuman karbonasi .Karbonasi adalah
fenomena di mana gas karbondioksida tersuspensi dalam air, menciptakan gelembung
kecil yang mana minuman berkarbonasi sudah tidak memiliki kandungan alcohol yang
memiliki fungsi untuk melepa kan dahaga (Guntari, 2012).

Efek samping dari zat stimulant yaitu pada kafein bisa menyebabkan gugup,
gelisah, tremor, insomnia, hipertensi, mual dan kejang (Farmakologi UI, 2002). Reaksi
yang berbahaya pada minuman energi yang bias terjadi antara lain rasa pusing, mual,
sakit maag. Kandungan gula yang tinggi pada minuman energi juga bias menyebabkan
penyerapan air kedalam tubuh terhambat sehingga menimbulkan risiko dehidrasi. Selain
itu, gula yang tinggi pada minuman energy bias memicu peningkatan kadar gula darah,
merusak gigi, dan menyebabkan pertambahan berat badan. Kandungan taurin pada

minuman juga menimbulkan efek buruk pada kesehatan mental. Sedangkan efek samping
pada minuman berkarbonasi adalah mual, muntah, pusing, diare, radang tenggorokan,
alergi, gatal, sesak nafas dan jantung berdebar.

F. Diskusi
a. Samakah kecepatan merespon antara tangan kiri dengan tangan kanan ?
b. Samakah kecepatan merespon antara sebelum minum stimulant dengan setelah
minum stimulant ?
c. Bagaimana respon zat stimulant terhadap respon kecepatan secara umum ?
d. Setelah mendapat data dari kelompok lain, apakah jenis zat stimulant member
pengaruh yang sama terhadap kecepatan merespon ?
Jawab :
a. Beda
b. Beda
c. Meningkatkan kecepatan tanggap saraf praktikan yang dilihat dari

cepat atau

sedikitnya jarak penggaris saat praktikan menangkap penggaris.


d. Tidak, karenaada yang mempercepatdanada yang memperlambat.

G. Simpulan
Stimulant dapat mempercepat maupun memperlambat kecepatan tanggap saraf
praktikan dalam menangkap penggaris.

H. Daftar pustaka
Coffefag. 2001. Frequently Asked Questions about Caffeine. Diakses 24 September 2016.
Farmakologi UI. 2002. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Gaya Baru : Jakarta
Guntari.A, Wahyu.I. 2012. Penetapan Kadar Asam Benzoat Dalam Beberapa Merk
Dagang Minuman Ringan Secara Spektofotometri Ultraviolet. Jurnal
:Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Vol.2.no2: 111-118.
Riddle EL, Fleckenstein AE, Hanson GR (2005). "Role of monoamine transporters in
mediating psychostimulant effects".The AAPS journal 7(4): E84751.
Marieb, Elaine N., danKatja Hoehn. 2007. Human Anatomy and Physiology. San
Fransisco: Pearson Education Inc.
Marlinda I. 2001.Bahaya Minuman Berenergi. http://www.intisari.net diakses pada
tanggal 24 September 2016
Syah D &Utama S. 2005. Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Fakultas
Terknologi Pertanian, IPB, Bogor.
Kimball, John W. 1994. Biologi, jilid 2. Jakarta: Erlangga