Anda di halaman 1dari 10

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Jurnal

PERBEDAAN KEEFEKTIFAN KOMPRES AIR HANGAT DAN AIR


BIASA TERHADAP PENURUNAN SUHU TUBUH PADA PASIEN
DEMAM TYPHOID ABDOMINALIS DI RUANG MPKP PROF. DR. HI.
ALOEI SABOE KOTA GORONTALO
Oleh
ZEIN ISNANIAH SUMAGA
(NIM. 841410121, Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu
Kesehatan dan Keolahragaan Universitas Negeri Gorontalo)

Telah diperiksa dan disetujui untuk dipublikasikan

SUMMARY
PERBEDAAN KEEFEKTIFAN KOMPRES AIR HANGAT DAN
AIR BIASA TERHADAP PENURUNAN SUHU TUBUH PADA PASIEN
DEMAM TYPHOID ABDOMINALIS DI RUANG MPKP RSUD PROF. DR.
HI. ALOEI SABOE KOTA GORONTALO
Zein Isnaniah Sumaga1, Zuhriana K. Yusuf, Ahmad Aswad
Jurusan Ilmu Keperawatan
Email : zeinisnaniahsumaga@yahoo.com
Zein Isnaniah Sumaga, 2014. Perbedaan keefektifan kompres air hangat
dan air biasa terhadap penurunan suhu tubuh pada pasien demam typhoid
abdominalis DI RUANG mpkp Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo.
Skripsi, Jurusan Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Dan
Keolahragaan, Universitas Negeri Gorontalo. Pembimbing I, dr. Zuhriana K.
Yusuf M.Kes dan Pembimbing II, Ns. Ahmad Aswad S.Kep, MPH. Daftar
Pustaka : 38 (1993-2013)
Typhoid abdominalis adalah salah satu penyakit infeksi yang
menyebabkan sering terjadinya demam. Mengendalikan demam pada pasien
typhoid dapat dilakukan dengan cara dikompres, baik air hangat maupun air biasa.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan keefektifan kompres air hangat
dan kompres air biasa terhadap penurunan suhu tubuh pada pasien Typhoid
Abdominalis.
Metode penelitian yang digunakan adalah pra experimental design dengan
dua kelompok subjek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian
diobservasi lagi setelah diberi intervensi. Populasi penelitian adalah semua pasien
thypoid abdominalis yang berada di Ruang MPKP. Sampel dalam penelitian
menggunakan Accidental Sampling sebanyak 20 responden yang mengalami
demam (>37,20C). hasil uji statistik menggunakan uji Wilcoxon dengan derajat
kemaknaan 0.05.
Hasil penelitian diperoleh perbedaan signifikan antara kompres air biasa
dan kompres air hangat, dimana kompres air hangat lebih efektif untuk
menurunkan suhu tubuh pada pasien demam thypoid dengan nilai p = 0,02 (p
<0,05).
Dari hasil penelitian menunjukkan keefektifan kompres air hangat dalam
menurunkan suhu tubuh pada pasien dengan demam typhoid. Dengan hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan agar perawat dapat
menerapkan tindakan kompres air hangat dalam menurunkan suhu tubuh pada
pasien demam typhoid dengan maksimal.
Kata Kunci

: Kompres, Air Hangat, Air biasa Suhu, typhoid.

Zein Isnaniah Sumaga, 841410121. Jurusan Ilmu Keperawatan UNG


dr. Zuhriana K. Yusuf, M.Kes, Ahmad Aswad, S.Kep, Ns, MPH

Di dalam dunia medis terdapat beberapa jenis penyebab penyakit yang dapat
mengganggu kelangsungan hidup manusia. Dari beberapa jenis penyebab
penyakit salah satunya adalah disebabkan oleh infeksi Salmonella typhi.
Salmonella typhi dapat menyebabkan penyakit demam tifus (Typhoid
fever), karena invasi bakteri ke dalam pembuluh darah dan gastroenteritis, yang
disebabkan oleh keracunan makanan/intoksikasi (Wikipedia, 2013). Demam
thypoid adalah penyakit sistemik yang akut yang mempunyai karakteristik
demam, sakit kepala dan ketidakenakan abdomen berlangsung lebih kurang 3
minggu yang juga disertai gejala-gejala perut pembesaran limpa dan erupsi kulit
(Smeltzer, 2001).
Berdasarkan data badan kesehatan dunia WHO (World Health
Organization) memperkirakan jumlah kasus demam thypoid di seluruh dunia
mencapai 16-33 juta penderita, dengan 500.000 hingga 600.000 kematian tiap
tahunnya, yaitu sekitar 3,5% dari seluruh kasus yang ada (Cahyono, 2010)
Negara yang paling tinggi terkena demam thypoid adalah negara di
kawasan Asia Tengah (Pakistan, Bangladesh, India) dan Asia Tenggara
(Indonesia dan Vietnam) (Kabar Berita, 2011).
Di Indonesia Demam thypoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu
ada di masyarakat (endemik), mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa.
Insiden thypoid rate di Indonesia masih tinggi yaitu 358 per 100.000 penduduk
pedesaan dan 810 per 100.000 penduduk perkotaan per tahun dengan rata-rata
kasus per tahun 600.000-1.500.000 penderita. Angka kematian demam tifoid di
Indonesia masih tinggi dengan CFR sebesar 10% (Nainggolan, R, 2011).
Berdasarkan data PUSKESMAS se-Provinsi Gorontalo (2013) penderita
typhoid berjumlah 264 orang, dan data yang diperoleh untuk beberapa RS Rawat
Inap dan Rawat Jalan se-Provinsi Gorontalo penderita thypoidditotalkan
sebanyak30 orang yang menjalanai perawatan jalan dan 79 orang rawat inap
sebanyak, sehingga total secara keseluruhan sebanyak 109 orang (DIKESPROV
Gorontalo, 2013)
Berdasarkan data yang diperoleh dari RSUD. Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe
Kota Gorontalo, tentang jumlah pasien dengan kejadiaan demam typhoid yakni
pada tahun 2011 sebanyak 837 orang, pada tahun 2012 sebanyak 1337 orang dan
penderita thypoid tahun 2013 sebanyak 812 orang. Untuk data penderita typhoid 3
bulan terakhir tahun 2013 di ruang MPKP yakni bulan Oktober berjumlah 29
orang, bulan November 16 orang dan pada bulan Desember berjumlah 19 orang.
Pola demam yang khas pada penderita demam tifoid adalah dimulai dari
suhu badan yang meningkat sedikit (subfebril) malam hari, hilang esok harinya.
Demam kembali pada malam hari, makin lama makin tinggi (panas) demamnya.
Minggu kedua, gejala sudah mulai lebih jelas, berupa demam tinggi, lidah
menajdi kotor, pembesaran hati, pembesaran limpa, kembung, dan kesadaran
mulai berkabut (typhos) (Tapan, 2004).
Berbagai cara yang dapat dilakukan sebagai penatalaksanaan demam
diantaranya adalah kompres air hangat dan kompres air dingin. Namun kompres
air dingin sebagai penatalaksanaan demam seharusnya sudah mulai dikurangi, hal
ini pun dituliskan pada penelitian oleh Fatmawati (2012) tentang efektivitas

kompres hangat dalam menurunkan demam pada pasien thypoid abdominalis di


RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo.
Kompres air hangat adalah tindakan yang dilakukan dengan memberikan
memberikan rasa hangat, memenuhi kebutuhan rasa nyaman, mengurangi atau
membebaskan nyeri, dan mengurangi terjadinya spasme otot dengan
menggunakan air panas bersuhu (46-510C)/air hangat (Uliyah, 2008). Sedangkan
maksud dari kompres air biasa adalah kompres yang sama prinsipnya dengan
kompres air dingin namun tidak menggunakan es (Asmadi, 2008).
Penatalaksanaan demam sekarang ini ternyata masih ada yang
menggunakan kompres air dingin, hal ini pun didukung penelitian yang dilakukan
oleh Fatmawati Mohammad (2012) tentang efektivitas kompres hangat dalam
menurunkan demam pada pasien thypoid abdominalis di RSUD Prof. Dr. Hi.
Aloei Saboe Kota Gorontalo. Kompres dingin sudah seharusnya tidak dilakukan
lagi dalam penatalaksanaan demam karena berdampak seseorang yang dilakukan
kompres akan mengalami kedinginan dan menggigil hingga kebiruan, oleh karena
itu sangat dianjurkan untuk menggunakan kompres air hangat. Kefektifan
kompres air hangat ini pun didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
Fatmawati (2012) tentang Efektifitas Kompres Hangat Dalam Menurunkan
Demam Pada Pasien Thypoid Abdominalis Di Ruang G1 Lt.2 RSUD Prof. Dr. H.
Aloei Saboe Kota Gorontalo,dan Karina dkk (2013) tentang Perbedaan
Efektivitas Kompres Air Hangat Dan Kompres Air Biasa Terhadap Penurunan
Suhu Tubuh Dengan Demam Di RSUD Tugurejo Semarang.
Dari observasi yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota
Gorontalo kepada 8 orang pasien 5 orang diantaranya mengatakan jika demam
mereka menggunakan kompres air biasa. Kompres air biasa sebenarnya termasuk
air dingin namun yang membedakannya adalah suhu dari air tersebut.
Namun dilihat dari manfaat kompres hangat seharusnya semua
masyarakat menangani demam dengan kompres air hangat yang dapat
menyebabkan vasodilatasi, juga sangat membantu seseorang agar tidak terlalu
tergantung pada obat antipiretik.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut penulis tertarik untuk
mengadakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan
keefektivan kompres air hangat dan air biasa terhadap penurunan suhu tubuh pada
penderita demam thypoid dan agar memberikan solusi yang tepat buat masyarakat
untuk mengatasi demam.
1.
Metode Penelitian
2.1.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian berlokasi di ruang MPKP RSUD Prof. Aloei Saboe Kota
Gorontalo dan waktu penelitian berlangsung dari tanggal 13 Februari 2014 sampai
tanggal 13 Maret 2014.
2.2. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pra experimental dengan dua kelompok
subjek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi
setelah diberi intervensi (Nursalam, 2003). Peneliti ingin melihat sejauh mana
perbandingan keefektifan kompres air hangat dan kompres air biasa dalam
menurunkan demam pada pasien thypoid abdominalis.

Dalam penelitian ini sampel akan dibagi dalam dua kelompok yakni
kelompok a dan kelompok b yang masing-masingnya adalah kelompok intervensi
kompres air hangat dan kompres air biasa. Dimana masing-masing kelompok
akan dilakukan observasi 2 kali yakni pretest dan postest, dengan pretest dalam
tabel ditandai 1 dan postest ditandai 2.
2.3. Variabel Penelitian
Pada penelitian ini variable independen yaitu kompres air hangat dan
kompres air biasa dan variable dependent adalah penurunan suhu tubuh.
2.4. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien thypoid abdominalis
yang berada di Ruangan MPKP RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe, Gorontalo.
Pada penelitian ini digunakan pengambilan sampel dengan accidental sampling.
2.5.
Teknik Analisis Data
2.5.1. Analisis Univariat
Analisis univariat untuk menganalisis karakteristik responden
berdasarkan usia dan jenis kelamin.
2.5.2. Analisis Bivariat
Menganalisis perbedaan efektivitas penurunan suhu tubuh sebelum dan
sesudah intervensi dengan masing-masing jenis kompres dan menggunakan uji
wilcoxon dengan derajat kemaknaan 0.05.
2.
Hasil dan Pembahasan
3.1
Hasil Penelitian
3.1.1 Analisis Univariat
Tabel 3.1 Distribusi karakteristik responden berdasarkan Usia
Jumlah
Usia (Tahun)
n
Persen
<30 Tahun
14
70
>30Tahun
6
30
Total
20
100
Sumber:Data Primer 2014
Berdasarkan tabel di atas, didapatkan bahwa dari 20 responden yang
diteliti di ruang MPKP RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Kota Gorontalo sebagian
besar usia responden adalah kelompok usia <30 tahun (70%) dan untuk kelompok
usia >30 tahun sebanyak 6 responden (30%).

Tabel 3.2 Distribusi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin


Jumlah
Jenis Kelamin
N
%
Laki-Laki
6
30
Perempuan
14
70
Total
20
100
Sumber: Data Primer 2014
Berdasarkan tabel di atas, hasil analisis didapatkan bahwa dari 20
responden yang diteliti di ruang MPKP RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Kota

Gorontalo sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu 70% dan sisanya
adalah responden berjenis kelamin sebanyak 30%.
3.1.2 Analisis Bivariat
Tabel 3.4 Distribusi Frekuensi Penurunan Suhu Tubuh Sebelum Dan Sesudah
Kompres Air Biasa Pada Pasien Thypoid
Sebelum
Sesudah
Karkteristik Suhu
n
%
n
%
<36
0
0
0
0
36-37,2
0
0
3
30
>37,2
10
100
7
70
Total
10
100
10
100
Sumbe: Data Primer 2014
Berdasarkan uji wilcoxon menunjukkan bahwa dari 10 responden yang
diberikan kompres air biasa, suhu responden sebelum diberikan kompres air biasa
berkisar pada suhu >370C. Setelah diberikan kompres air biasa dari 10 responden
yang ada 3 orang mengalami penurunan mencapai suhu 36-37,20C dan 7
responden lainnya tidak mengalami penurunan.
Tabel 3.5 Distribusi Frekuensi Penurunan Suhu Tubuh Sebelum Dan Sesudah
Kompres Air Biasa Pada Pasien Thypoid
Sebelum
Sesudah
Karkteristik Suhu
n
%
n
%
<36
0
0
0
0
36-37,2
0
0
10
100
>37,2
10
100
0
0
Total
10
100
10
100
Sumber: Data Primer 2014
Berdasarkan uji wilcoxon menunjukkan bahwa dari 10 responden yang
diberikan kompres air hangat, suhu responden sebelum diberikan kompres air
hangat berkisar pada suhu >370C. Setelah diberikan kompres air biasa dari 10
responden semuanya mengalami penurunan mencapai suhu 36-37,20C.

Tabel 3.6 Perbedaan Efektifitas Kompres Air Hangat Dan Kompres Air Biasa
(Suhu sebelum dicompres 37,20C-38 0C) Terhadap Penurunan Suhu
Tubuh Pada Pasien Thypoid
Air Biasa
Air Hangat
NR Suhu setelah
K
NR
Suhu
K
P
dikompres
setelah
0
( C)
dikompres
(0C)
1
37.6
Hipertermi
1
36.8
Normal o.oo8
2
37.7
Hipertermi
2
37.1
Normal
3
37.6
Hipertermi
3
37.1
Normal
4
36.6
Normal
4
36.6
Normal
5
37.6
Hipertermi
5
37
Normal
6
37.1
Normal
6
36.4
Normal
7
38
Hipertermi
7
36.7
Normal
8
37.4
Hipertermi
8
36.4
Normal
9
37
Normal
9
37.1
Normal
10
37.6
Hipertermi
10
37.1
Normal
Sumber: Data Primer 2014
Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan p-value 0.008. dapat dilihat pula bhawa
suhu responden setelah dikompres menggunakan air hangat semuanya mengalami
penurunan pada kategori normal. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan
efektifitas kompres air biasa dan kompres air hangat terhadap penurunan suhu
tubuh pada pasien typhoid abdominalis. Dimana kompres air hangat lebih efektif
dibandingkan kompres air biasa.
3.2
Pembahasan
3.2.1 Efektifitas Kompres Air Biasa
Berdasarkan data yang ada didapatkan bahwa dari 10 responden yang
dilakukan kompres air biasa, responden yang mengalami penurunan sebanyak 3
orang dan 7 orangnya tidak mengalami penurunan.
Sebagian besar suhu responden yang tidak turun dikarenakan kompres air
biasa tersebut tidak terlalu memberikan rangsangan vasodilatasi sehingga
memperlambat evaporasi dan konduksi yang akhirnya memperlambat penurunan
suhu tubuh (Sodikin, 2012).
Pada penelitian ini pula dilakukan kompres pada bagian dahi yang hanya
terdapat pembuluh darah kecil, sebagaimana teori yang tertuang dalam Smart
Parents Pandai Mengatur Menu dan Tanggap Saat Anak Sakit oleh Ayu (2010)
bahwa kulit di daerah dahi hanya memiliki pembuluh darah yang kecil-kecil
sehingga mengompres dibagian dahi tidak memberikan efek penurunan suhu yang
nyata.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Karina
Indah (2013) bahwa dari 17 responden yang mengalami penurunan hanya ada 3
orang. Hasil penelitian yang sama oleh Axelord (2000), dalam penelitian tersebut
dilakukan tindakan kompres air biasa dan lembab di pada kulit (di dahi), dengan
hasil penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa terjadi penurunan sangat

sedikit 0,50C dibanding besar penurunan suhu yang diberikan kompres air hangat
>10C.
Dengan memperhatikan hasil penelitian dan teori yang ada, dapat
dikatakan kompres air biasa bukannya tidak bermanfaat untuk penurunan suhu
tubuh, melainkan kompres air biasa hanya kurang efektif. Dikarenakan responden
yang sebagian kecilnya turun tapi dengan jumlah penurunan suhu yang sangat
minim.
3.2.2 Efektifitas Kompres Air Hangat
Berdasarkan data yang ada didapatkan bahwa dari 10 responden yang
dilakukan kompres air hangat, seluruh responden yang ada semuanya mengalami
penurunan.
Keseluruhan suhu responden mengalami penurunan dikarenakan suhu air
dijadikan kompres tersebut hangat (300C). Hal ini pun dijelaskan oleh Sodikin
(2012) bahwa penggunaan air hangat untuk melakukan kompres pada pasien
demam dapat mencegah pasien tidak menggigil, dapat merangsang vasodilatasi
sehingga mempercepat proses evaporasi dan konduksi yang pada akhirnya dapat
menurunkan suhu tubuh.
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Fatmawaty (2012)
tentang efektivitas kompres air hangat dalam menurunkan demam pasien pada
pasien thypoid abdominalis di RSUD. Prov.Aloei Saboe Kota Gorontalo.
Penelitian tersebut mendapatkan p>0.05 sebagai hasil yang menunjukkan
keefektifan kompres air hangat.
Berdasarkan asumsi peneliti yang dilihat dari penelitian dan teori yang
ada, walaupun pada penelitian ini daerah kompres yang berikan adalah bagian
dahi, yang menurut teori merupakan kulit yang pembuluh darahnya kecil-kecil
tapi faktor utama penyebab keseluruhan suhu responden mengalami penurunan
dikarenakan suhu air.
3.2.3 Perbedaan Efektivitas Kompres Air Biasa Terhadap Penurunan Suhu
Tubuh
Dari hasil analisis yang ada didapatkan hasil p-value dari kompres air
biasa sebesar 0,83>0,05. Sedangkan p-value yang didapatkan pada kompres air
hangat sebesar 0,02<0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan efektifitas
kompres air biasa dan kompres air hangat terhadap penurunan suhu tubuh.
Dari nilai p-value yang ada, dapat disimpulkan bahwa kompres air hangat
lebih berpengaruh dalam menurunkan suhu tubuh dibandingkan dengan kompres
air biasa.
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan mengenai pengaruh
kompres air hangat terhadap penurunan suhu tubuh pada pasien anak hipertermia
di ruang rawat inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta oleh Sri Punartidan Winarsih
(2008). Penelitian tersebut mendapatkan hasil p<0,05 yang menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh dari kompres air hangat yang dilakukan selama 10 menit
terhadap penurunan suhu tubuh pada pasien dengan anak hipertermi.
Berdasarkan asumsi peneliti dengan memperhatikan hasil penelitian dan
teori yang ada, bahwa perawat harus memaksimalkan kompres air hangat untuk
menurunkan suhu tubuh. Hal ini pun meminimalisir pasien ketergantungan
terhadap antipiretik.

3. Simpulan dan Saran


4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti berkesimpulan
sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa dari 10 responden yang diberikan
perlakuan kompres air biasa sebagian kecilnya turun yakni 3 orang (30%) dan
sebagian besarnya tidak mengalami penurunan sebanyak 7 orang (70%).
2. Berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa dari 10 responden yang diberikan
perlakuan kompres air hangat keseluruhan responden mengalami penurunan
yang signifikan.
3. Dari kedua hasil antara perlakuan kompres air biasa dan kompres air hangat
dapat disimpulkan bahwa, kompres air hangat lebih efektif untuk menurunkan
suhu tubuh dibanding dengan kompres air biasa.hal ini dibuktikan hasil pvalue yang didapatkan pada kompres air hangat 0,02 < 0,05 dibanding hasil pvalue pada kompres air biasa 0,83 > 0,05.
4.2 Saran
1. Pelayanan Keperawatan
Perawat perlu menerapkan pemberian kompres air hangat pada pasien dengan
hipertermi karena terbukti kompres air hangat lebih efektif untuk menurunkan
suhu tubuh pada pasien demam typhoid.
Hal ini pun mengurangi
ketergantungan pasien terhadap antipiretik saat kondisi suhu tubuh tinggi.
2. Keilmuan Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat menambah sumber informasi bahwa kompres air
hangat membantu penurunan suhu tubuh.
3. Penelitian Selanjutnya
Perlu melakukan penelitian lanjutan yang lebih prospektif, mengingat masih
adanya kekurangan dalam penelitian ini.
Daftar Pustaka
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan : Konsep dan Aplikasi Kebutuhan
Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika.
Barbara, Hegner. 2003. Asisten Keperawatan : Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan. Edisi 6. Jakarta : EGC
Beaglehole, R dan Bonita, R. 1997. Dasar-Dasar Epidemiologi. Yogyakarta :
Gajah Mada University Press
Cahyono, dkk. 2010. Vaksinasi, Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi. Yogyakarta
: Kanisius
Chandra, Budiman. 2006. Ilmu Kedokteran Pencegahan & Komunitas. Jakarta :
EGC
Depkes RI, 2005. Pedoman Pengendalian Demam Tifoid Bagi Tenaga Kesehatan.
Jakarta.
Dorland W. A. N. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi pertama. Jakarta :
EGC

Febri, Ayu, dkk. 2010. Smart Parents : Pandai Mengatur Menu & Tanggap Saat
Anak Sakit. Jakarta : Gagas Media
Handojo, Indro. 2004. Imunoasai Terapan Pada Beberapa Penyakit Infeksi
.Surabaya : Airlangga University Press. 2004
Hartono, Andry. Kamus Saku Perawat. Edisi 22. Jakarta : EGC
Inawati. 2009. Demam Tifoid. Edisi III : 7.
Juwono, 1996. Demam Tifoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I Edisi III.
Jakarta. Balai Penerbit FK-UI.
Kabar berita. 2011. 50.000 Penderita typhus meninggal tiap tahunnya.
http://kabarbisnis.com/read/2821321. Diakses tanggal 13 Desember
2013.
Kania,
Nia,
2010,
Penatalaksanaan
Demam
Pada
Anak.
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/02/penatalaksanaa
n_demam_pada_anak.pdf. Diakses 2 Januari 2014
Kozier, Erb. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier & Erb. Edisi 5.
Jakarta : EGC
Lubis, M.B., 2009. Demam pada Bayi Baru Lahir. Dalam: Tjipta, G.D., Ali, M.,
dan Lubis, M.B., Editor. Ragam Pediatrik Praktis. Medan: USU Press
Mansjoer, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jilid I. Jakarta :Media
Aesculapius
Maryunani, Anik, 2010, Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan, TIM, Jakarta
Nelwan, R.H.H., 2006. Demam: Tipe dan Pendekatan. Dalam: Sudoyo, A.W.,
Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata M., dan Setiati, S., Editor. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Keempat. Jilid Ketiga. Jakarta: Pusat
Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam.