Anda di halaman 1dari 6

5 September

2016

Name : M. Andi Ali


Ridho
NIM :
160341801398

Metodologi Penelitian Kuantitatif (Analisis Kritis 2)


Diampu: Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D and Dr.
Betty Lukiati, M.S
A. Bibliograf
Handhika, Jeffry., Sardulo Gembong. 2011. Upaya Peningkatan
Keaktifan Mahasiswa dalam Pembelajaran Melalui Metode
Presentasi Kelas. Jurnal Pendidikan MIPA IKIP Madiun (2011),
Volume 3:47-54.
B. Tujuan Kepenulisan
Untuk meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam pembelajaran
mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar, melalui metode presentasi
kelas.
C. Latar Belakang & Masalah, Prosedur, Analisis,

Kesimpulan, dan Tingkat Keilmiahan


Latar Belakang & Masalah
Belajar adalah proses untuk membangun kemampuan dan

pemahaman terhadap suatu konsep. Selama proses


pembelajaran, berbagai aspek ditempa dan dibina agar muncul
kemampuan mengolah informasi dengan baik. Muchith (2008)
menyatakan bahwa proses pembelajaran menitikberatkan pada
pembangunan ingatan, retensi, dan mengolah informasi dan
aspek-aspek yang bersifat intelektual.
Peneliti sebagai pengampu matakuliah Ilmu Alamiah Dasar
(IAD) mengalami kendala ketika mengajar di kelas. Peneliti
mengamati peserta didik selama proses pembelajaran, mereka
terlihat kurang aktif. Indikator keaktifan peserta didik dapat
diamati pada aspek kemampuan menyatakan pendapat,
memberikan solusi, dan bertanya. Selama perkuliahan

berlangsung hanya peserta didik yang aktif dan memiliki


kemampuan verbal yang baik saja yang menyampaikan
pendapat. Hal tersebut berdampak pada rata-rata hasil belajar
kognitif yang tidak memenuhi standar kelulusan.

Prosedur

PTK diawali oleh suatu kajian terhadap masalah secara


sistematis. Hasil pengkajian kemudian dijadikan dasar untuk
mengatasi masalah, dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang
dipakai sebagai masukan untuk melakukan refleksi atas apa yang
terjadi pada tahap pelaksanaan. Hasil dari proses refeksi ini
kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan
rencana tindakan berikutnya. Pengambilan data keaktifan
mahasiswa dalam pembelajaran diperoleh dari check list.
Keaktifan mahasiswa dalam pembelajaran meliputi
Mengevaluasi permasalahan, Menjelaskan permasalahan,

Memberikan solusi permasalahan, Mempertanyakan kembali


solusi, Memberikan alternatif solusi. Check list yang telah dibuat
dikonversi dalam bentuk persentase, masing masing indicator
keaktifan memiliki nilai persentase 20%. Data hasil belajar
mahasiswa ranah kognitif merupakan data pendukung dalam
penelitian ini. Indikator ketercapaian dari penelitian ini adalah
persentase rata-rata keaktifan kelas > 15%.
Hasil penelitian diuraikan dalam tahapan berupa siklussiklus pembelajaran. Dalam penelitian ini kegiatan pembelajaran
dilakukan peneliti yang bertindak sebagai dosen, Penelitian
tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus, setiap siklusnya 2
pertemuan dengan waktu 120 menit tiap pertemuan.

Analisis

Persentase keaktifan mahasiswa dalam pembelajaran


mengalami peningkatan dari 6,97% menjadi 13,02% pada siklus
I, 15,35% pada siklus II. Dengan diterapkannya metode
presentasi kelas, ternyata dapat meningkatkan rata-rata hasil
belajar IAD secara kontinu. Berdasarkan data yang diperoleh dari
data awal (base line), siklus I maupun siklus II.Rata-rata hasil
belajar ranah kognitif awal sebagai base line sebesar 65, pada
siklus I sebesar 66,05 dan pada sikus II sebesar 68,67.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, dapat

disimpulkan sebagai berikut : Penggunaan pembelajaran berbasis


masalah melalui diskusi dapat meningkatkan rata-rata hasil
belajar IAD pada ranah kognitif dari 66,05 menjadi 68,67 dan

persentase keaktifan mahasiswa dalam pembelajaran dari 6,97%


menjadi 15,35% melalui dua siklus.

Tingkat Keilmiahan
Penelitian ini memiliki tingkat keilmiahan yang cukup.

Menurut saya pribadi, penelitian ini kurang komprehensif dalam


menganalisis data. Untuk kelas PTK dapat juga dianalisis
sebaran datanya, dianalisis tingkat kenaikan datanya dengan
menggunakan N-Gain Score misalnya, atau bisa juga dianalisis
apakah ada perbedaan berarti antara pembelajaran siklus I dan
siklus II dengan menggunakan Uji-t.
D. Fakta Unik
Menurut saya yang unik dari penelitian ini tidak cukup banyak,
pertama hanya mengamati kenaikan nilai kognitif saja. Ketika
dosen atau mahasiswa mengajar dengan menggunakan baru,
akan dimungkinkan terjadi perubahan nilai kognitif. Perubahan
itu bisa positif bisa negatif, peneliti perlu melihat parameter
lain yang meningkat, misalnya motivasi, meta-kognisi, afeksi,

dan lain-lain selama pembelajaran berlangsung.


Analisis data menggunakan analisis deskriptif menurut saya
cukup menarik, tetapi peneliti tidak menyampaikan hasil yang
terperinci, analisis deksriptif yang lengkap perlu
menyampaikan secara lengkap tendensi sentral dan disparitas

dari data.
Terdapat faktor yang membuat hasil penelitian bias. Peneliti
dan objek yang diteliti sempat terlambat datang saat proses
penelitian berlangsung. Hal ini menurut saya berpengaruh
terhadap proses pengambilan data. Peserta didik (objek yang
diteliti) yang terlambat, patut dipertanyakan bagaimana
penguasaan materinya. Kalau ada perbedaan penguasaan
materi yang kemudian memberikan pengaruh terhadap hasil
tes, penelitian ini hasilnya perlu dikaji ulang.

E. Konsep yang Dipelajari

Pelaksanaan PTK yang baik adalah PTK yang memperhatikan

parameter signifikan pada peserta didik.


Idealnya PTK dilaksanakan dengan tidak berfokus pada hasil
belajar kognitif saja. Nilai yang lain, diluar nilai kognitif
harusnya menjadi pertimbangan penting yang memberikan

pengaruh signifikan pada penelitian.


Pada saat melihat nilai hasil belajar kognitif siklus I, II, dst.
perlu dipahami apakah tingkat kesulitan materi pada tiap
siklus sama. Apabila tingkat kesulitannya berbeda, dapat

dipastikan hasil belajar kognitif akan berbeda.


Kajian PTK akan memiliki permasalahan yang berbeda.
Idealnya, sebelum melakukan penelitian PTK dilakukan

penelitian pendahuluan terlebih dahulu.


F. Pertanyaan yang muncul
Bagaimana melakukan PTK yang hasilnya dapat dimanfaatkan

secara luas?
Apakah setiap PTK hanya akan berakhir pada siklus II?
Apakah setiap PTK hanya diperbolehkan menggunakan satu

jenis metode pembelajaran saja?


Bagaimana jika melakukan PTK pada jumlah data besar,
misalnya satu sekolah, digunakan untuk meneliti suatu
permasalahan dengan penelitian awal terlebih dahulu, dan
kemudian penelitian dilakukan pada setiap kelas, apakah hal

tersebut bisa dan boleh dilakukan?


Pada penelitian ini, peneliti sudah mengetahui bahwa
kemampuan verbal setiap peserta didiknya berbeda, apakah
tidak sebaiknya hasil akhir kemampuan verbal peserta didik
juga diukur dalam penelitian?

G. Refleksi
Penelitian tindakan kelas (PTK) sebenarnya merupakan
penelitian di bidang sosial yang menurut saya susah-susah
gampang. Peneliti perlu menentukan parameter awal seteliti
mungkin, disamping itu peneliti juga harus fokus mencari akar
permasalahan pembelajaran di kelas tersebut. peneliti perlu

mengetahui kemampuan awal peserta didik dalam satu kelas,


perlu mengetahui simpangan dan standar deviasi dari kelas
tersebut. Kelas yang memiliki disparitas tinggi akan sangat sulit
untuk dipecahkan permasalahannya hanya dengan
menggunakan dua siklus saja. Seharusnya penelitian PTK yang
baik dilakukan hingga permasalahan selesai, tuntas.
PTK menarik untuk dilakukan, asalkan peneliti mampu
melihat secara jeli, cermat, dan objektif, mengenai permasalahan
individu di kelas. Permasalahan belajar individu yang dapat
dipecahkan oleh PTK akan memberikan hasil yang sangat
bermakna. Penelitian PTK yang baik, menurut saya, juga akan
mampu membimbing peserta didik untuk bisa belajar mandiri
dengan cara yang sudah diberikan oleh dosen,guru, atau peneliti.
Demikian refleksi saya, semoga semakin banyak guru/dosen
yang melakukan PTK untuk memecahkan masalah belajar.