Anda di halaman 1dari 10

Proses Fertilisasi

Fertilisasi (pembuahan) adalah peristiwa bersatunya antara spermatozoa


dengan sel telur (ovum), dimana spermatozoa berasal dari hewan jantan dan
ovum berasal dari hewan betina. Dikarenakan spermatozoa dan ovum berasal dari
dua selyang berbeda, maka untuk dapat saling bertemu dan bersatu, keduanya tersebut
harusm e l a l u i p e r j a l a n a n p a n j a n g d a n m e n g a l a m i p r o s e s p e r s i a p a n s e r t a t e m
p a t u n t u k bertemu juga harus memenuhi syarat bagi spermatozoa dan ovum (Poernomo,
1999).P r o s e s i n i s e n d i r i d i m u l a i d e n g a n p e m a t a n g a n ( m a t u r a s i ) s e l t
e l u r d a n spermatozoa. Pematangan sel telur dimulai pada waktu proses pembelahan
meiosis

dari profase I menjadi masak selama folikulogenesis. Sedangkan spermato


zoamemerlukan perubahan maturasi yang terjadi selama 10-15 hari ketika
m e l e w a t i epididimis. Perubahan maturasi spermatozoa bergantung pada sekresi epididimis
danwaktu transport yang sangat penting untuk dapat membuahi sel telur. Proses
fertilisasi p a d a m a m a l i a m e m e r l u k a n t i g a k e j a d i a n k r i t i s y a i t u :
sel spermatozoa harusmenembus diantara sel-sel cumulus dengan
b a n t u a n e n z i m h y a l u r o n i d a s e , s e l spermatozoa harus menyentuh dan
menembus lapisan zona pellucid,
dan
penyatuan spermatozoa dengan membran plasma sel telur
(Luqman, 1999)
.
Proses fertilisasi, pertama-tama di mulai dengan transport
spermatozoa ked a l a m s a l u r a n r e p r o d u k s i b e t i n a . P e r t a m a , s p e r m a t o z o a a k a n
m e m a s u k i v a g i n a , dimana akan terjadi seleksi dengan adanya perbedaan pH antara
spermatozoa (pH=7)dan vagina (pH=4). Setelah melewati vagina, spermatozoa yang telah
terseleksi akanmemasuki serviks. Dalam serviks, hanya spermatozoa yang normal yang dapat
lewat,hal ini dikarenakan spermatozoa yang normal dapat bergerak melewati cincincincina n u l i r p a d a s e r v i k s . S a m p a i a k h i r n y a m e n u j u u t e r u s , d i m a n a m e n g a l a
m i p r o s e s kapasitasi yakni proses pendewasaan spermatozoa oleh cairan endometrium
sehinggaspermatozoa dapat menembus lapisan-lapisan sel telur dan mempermudah
terjadinyafertilisasi. Tempat utama terjadinya proses kapasitasi adalah pada AIJ
(AmpullaIsthmus Junction). Selanjutnya yakni, transport sel telur untuk menuju AIJ
dimulai pada saat menjelang ovulasi, pada saat itu estrogen dominan dan bersama
oksitosinakan menyebabkan terjadinya derakan peristaltik yang
aktif. Setelah terjadi ovulasi,sel telur akan mendarat pada permukaan
fimbrae
yang terdapat pada infundibulum,
dengan adana gerak peristaltik tersebut, sel telur akan terdorong masuk hi
n g g a ampulla hingga mencapai AIJ (Anonim, 2009).Pada saat spermatozoa mencapai AIJ
dan bertemu dengan ovum, maka
akant e r j a d i l a h p r o s e s f e r t i l i s a s i . P r o s e s i n i d i m u l a i d e n g a n p e n e m b

u s a n k e p a l a spermatozoa ke dalam ovum, dimana pada akrosome spermatozoa


terdapat
enzimhyaluranidase
y a n g m e m b a n t u p r o s e s p e n e m b u s a n c u m u l u s o o p h o r u s . S e t e l a h spermatozoa
menembus lapisan cumulus oophorus, maka selanjutnya akan terjadi sentuhan kepala
spermatozoa pada
zona pellucid
. Secara normal, setelah spermatozoa pertama masuk, maka tidak akan ada lagi spermatozoa lain
yang dapat masuk hal inidisebabkan oleh adanya
reaksi zona, yakni suatu mekanisme pada zona pellucida u n t u k m e n g a d a k a n
p e r u b a h a n s e t e l a h m a s u k n y a s p e r m a t o z o a p e r t a m a d a n menghalangi
masuknya spermatozoa berikutnya.
S e t e l a h m e n e m b u s l a p i s a n pellucida, spermatozoa kemudian menyentuh perm
ukaan lapisan
vitelline,
dengan b e g i t u a k a n m e r a n g s a n g p e m b e b a s a n z a t y a n g d i h a s i l k a n o l e h g r a n u l
o k o r t i k o sehingga lapisan vitellin akan menebal, hal ini kemudian dinamakan dengan
blokadevitellin
(Luqman, 1999).
C.Kebuntingan, Kelahiran dan
MenyusuiC . 1 . K e b u n t i n g a n

OVULASI

Ovulasi adalah proses terlepasnya sel ovum atau oosit dari ovarium sebagai
akibat pecahnya folikel yang telah masak. Waktu yang dibutuhkan oleh
seluruh proses ovulasi tergantung pada lokasi sel telur dalam folikel. Waktu
ovulasi akan singkat apabila sel telur berada di dasar folikel dan akan lama
apabila sel telur berada dekat pada stigma yang menonjol dipermukaan
ovarium. Proses ini terjadi setelah ternak mencapai dewasa kelamin.
Mekanisme terjadinya ovulasi : a. Hormonal Setelah folikel-folikel tumbuh
karena pengaruh hormon FSH dari pituitari anterior, maka sel-sel folikel
mampu menghasilkan estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini dalam
dosis kecil akan menyebabkan terlepasnya hormon LH. Hormon LH
memegang peranan penting dalam menggertak terjadinya ovulasi. Pecahnya
folikel terjadi adanya tekanan dari dalam folikel yang bertambah besar dan
persobekan pada daerah stigma yang pucat karena daerah ini kurang
memperoleh darah. b. Neural Rangsangan pada luar servik, baik pada saat
kopulasi atau kawin buatan akan diteruskan oleh saraf ke susunan saraf
pusat yang akan diterima oleh hipotalamus. Nantinya akan disekresikan LH
realising hormon dan kadar LH dalam darah akan meningkat sehingga
mengakibatkan ovulasi. Dari sisa-sisa folikel yang telah mengalami ovulasi
akan terbentuk bermacam-macam tenunan yaitu : 1. Korpus haemoragikum
Setelah ovulasi akan diikuti pemberian darah yang lebih pada sisa-sisa
folikel. Terjadi hipertropi dan hiperplasi pada tenunan sehingga tebentuk
benda yang bulat menonjol dipermukaan ovarium,kenyal,dan berwarna
merah

2. Korpus Luteum Sebagai akibat dari proses luteinasi dari korpus


haemoragikum oleh pengaruh hormon LTH, terjadilah pertumbuhan lebih
lanjut dari sel-sel tersebut. Tenenuan baru akan berubah warna menjadi
kuning dan menghasilkan progesteron yang lama-lama akan tinggi pada
puncak siklus birahi. 3. Korpus Albikansia Berhentinya aktivitas korpus
luteum dalam menghasilkan progesteron akan menyebabkan degenerasi dari
sel-selnya karena sudah tidak memperoleh suplai darah maka bentuknya
menjadi sangat kecil dan berwarna pucat. Ovulasi pada sapi terjadi sekitar
10-12 jam setelah estrus berakhir. Adanya gangguan pada saat ovulasi dapat
menyebabkan tidak terjadinya fertilisasi dan atau gangguan perkembangan

embrio. Gangguan ovulasi dapat terjadi karena defisiensi atau


ketidakseimbangan endokrin dan faktor mekanik.

FERTILISASI
Fertilisasi (pembuahan) adalah peristiwa bersatunya antara spermatozoa
dengan sel sperma telur, pembuahan sering kali diartikan sebagai
penyerbukan. Sel spermatozoa atau sel ovum berasal dari dua sel yang
berbeda, maka untuk dapat bertemu dan bersatu kedua unsur tersebut
harus melalui perjalanan panjang dan mengalami proses persiapan serta
tempat pertemuan harus memenuhi syarat bagi sel permatozoa dan sel
ovum.
Syarat untuk terjadinya fertilisasi yaitu :
1. Sel telur harus matang 2. Harus mengalami kapasitasi khusus pada
spermatozoa Pembuahan merupakan pengaktifan sel telur dan sel
spermatozoa. Tanpa ransangan sperma sel telur tidak akan mengalami
pembelahan (Cleavage) dan tidak ada perkembangan embriologi. Dalam
aspek genetik pembuahan meliputi pemasukan faktor-faktor hereditas
pejantan ke dalam sel telur. Disinilah terdapat manfaat perkawinan atau
inseminasi yaitu untuk menyatukan faktor-faktor unggul ke dalam satu
individu. Pada hampir semua mamalia, pembuahan dimulai ketika badan
kutub pertama disingkirkan, sehingga sperma menembus dan masuk ke
dalam sel telur sewaktu pembelahan reduksi ke dua berlangsung. Tahapantahapan yang terjadi pada fertilisasi adalah sebagai berikut :
a. Kapasitasi spermatozoa dan pematangan spermatozoa
Kapasitasi spermatozoa merupakan tahapan awal sebelum fertilisasi.
Sperma yang dikeluarkan dalam tubuh (fresh ejaculate) belum dapat
dikatakan fertil atau dapat membuahi ovum apabila belum terjadi proses
kapasitasi. Proses ini ditandai pula dengan adanya perubahan protein pada
seminal plasma, reorganisasi lipid dan protein membran plasma, Influx Ca,
AMP meningkat, dan pH intrasel menurun.

b. Perlekatan spermatozoa dengan zona pelucida


Zona pelucida merupakan zona terluar dalam ovum. Syarat agar sperma
dapat menempel pada zona pelucida adalah jumlah kromosom harus sama,

baik sperma maupun ovum, karena hal ini menunjukkan salah satu ciri
apabila keduanya adalah individu yang sejenis. Perlekatan sperma dan ovum
dipengaruhi adanya reseptor pada sperma yaitu berupa protein. Sementara
itu suatu glikoprotein pada zona pelucida berfungsi seperti reseptor sperma
yaitu menstimulasi fusi membran plasma dengan membran akrosom (kepala
anterior sperma) luar. Sehingga terjadi interaksi antara reseptor dan ligand.
Hal ini terjadi pada spesies yang spesifik.
c. Reaksi akrosom
Setelah reaksi kapasitasi, sperma mengalami reaksi akrosom, terjadi setelah

sperma dekat dengan oosit. Sel sperma yang telah menjalani kapasitasi akan

terpengaruh oleh zat

zat dari korona radiata ovum, sehingga isi akrosom

dari daerah kepala sperma akan terlepas dan berkontak dengan lapisan

korona radiata. Pada saat ini dilepaskan hialuronidase yang dapat


melarutkan

korona radiata, trypsine

like agent dan lysine

zone yang dapat melarutkan

dan membantu sperma melewati zona pelusida untuk mencapai ovum.


Reaksi tersebut terjadi sebelum sperma masuk ke dalam ovum. Reaksi
akrosom terjadi pada pangkal akrosom, karena pada lisosom anterior kepala
sperma terdapat enzim digesti yang berfungsi penetrasi zona pelucida.
d. Penetrasi zona pelucida
Setelah reaksi akrosom, proses selanjutnya adalah penetrasi zona pelucida
yaitu proses dimana sperma menembus zona pelucida. Hal ini ditandai
dengan adanya jembatan dan membentuk protein actin, kemudian inti
sperma dapat masuk. Hal yang mempengaruhi keberhasilan proses ini
adalah kekuatan ekor sperma (motilitas), dan kombinasi enzim akrosomal.

e. Bertemunya sperma dan oosit


Apabila sperma telah berhasil menembus zona pelucida, sperma akan
menenempel pada membran oosit. Penempelan ini terjadi pada bagian
posterior (post-acrosomal) di kepala sperma yang mnegandung actin.
Molekul sperma yang berperan dalam proses tersebut adalah berupa
glikoprotein, yang terdiri dari protein fertelin. Protein tersebut berfungsi
untuk mengikat membran plasma oosit (membran fitelin), sehingga akan
menginduksi terjadinya fusi
.
Fertilisasi pada berbagai jenis hewan dapat dibedakan berdasarkan tempat
berlangsungnya, yaitu fertilisasi secara eksternal dan fertilisasi secara
internal. Fertilisasi secara eksternal adalah fertilisasi yang berlangsung di
luar tubuh induknya. Jenis fertilisasi ini banyak dijumpai pada hewan-hewan
aquatik, antara lain berbagai jenis ikan, katak, dsb. Fertilisasi secara internal
adalah fertilisasi yang berlangsung di dalam tubuh induknya. Biasanya
hewan yang fertilisasinya berlangsung secara internal menghasilkan telur
yang matang dalam jumlah yang terbatas dalam satu kali siklus reproduksi
dan biasanya berkisar hanya 1 - 15 buah. Pada hewan yang fertilisasinya
berlangsung secara eksternal, jumlah telur matang yang dihasilkan dalam
satu kali pemijahan berkisar antara ratusan hingga ratusan ribu buah.
Kenyataan ini sangat berkaitan dengan berbagai risiko lingkungan yang
dialami oleh gamet setelah dilepaskan dari tubuh induknya antara lain
perubahan lingkungan fisik, kimia, dan berbagai faktor-faktor biologis lain
seperti kemungkinan untuk dimangsa olehpredator. Fertilisasi memiliki
beberapa fungsi, antara lain : 1.

transmisi gendari paternal dan maternal kepada keturunannya

2.

merangsang seltelur untuk berkembang lebih lanjut

3.

menghasilkan terjadinya syngami, yaitu peleburan sifat genetis paternal dan


maternal

4.

mempertahankan kondisi diploiditas suatu species tertentu dari jenisnya

5.

penentuan jenis kelamin secara genetis, pada dasarnya fertilisasi bukan


merupakan proses tunggal,melainkan rangkaian proses yang melibatkan
kedua gamet

KEBUNTINGAN

Kebuntingan adalah keadaan dimana anak sedang berkembang didalam


uterus seekor hewan betina. Suatu interval waktu, yang disebut periode

kebuntingan (gestasi) terentang dari saat pembuahan (fertilisasi) ovum


sampai lahirnya anak. Hal ini mencakup fertilisasi atau persatuan antara
ovum dan sperma. Satu periode kebuntingan adalah periode dari mulai
terjadinya fertilisasi sampai terjadinya kelahiran normal (Soebandi, 1981)
sedangkan menurut Frandson (1992) menyatakan kebuntingan berarti
keadaan anak sedang berkembang didalam uterus seekor hewan. Dalam
penghidupan peternak,periode kebuntingan pada umumnya dihitung mulai
dari perkawinan yang terakhir sampai terjadinya kelahiran anak secara
normal. Periode kebuntingan dimulai dengan pembuahan dan berakhir
dengan kelahiran anak yang hidup. Peleburan spermatozoa dengan ovum
mengawali reaksi kimia dan fisika yang majemuk, bermula dari sebuah sel
tunggal yang mengalami peristwa pembelahan diri yang berantai dan terus
menerus selama hidup individu tersebut. Tetapi berbeda dalam keadaan dan
derajatnya sewaktu hewan itu menjadi dewasa dan menjadi tua. Setelah
pembuahan , yang mengembalikan jumlah kromosom yang sempurna,
pembelahan sel selanjutnya bersifat mitotik sehingga anak-anak sel hasil
pembelahannya mempunyai kromosom yang sama dengan induk selnya.
Peristiwa ini berlangsung sampai hewan menghasilkan sel kelamin
(Salisbury, 1985) Pertumbuhan makhluk baru terbentuk sebagai hasil
pembuahan ovum oleh spermatozoa dapat dibagi menjadi 3 periode, yaitu:
periode ovum,periode embrio dan periode fetus. Periode ovum dimulai dari
terjadinya fertilisasi sampai terjadinya implantasi,sedang periode embrio
dimulai dari implantasi sampai saat dimulainya pembentukan alat alat tubuh
bagian dalam. Periode ini disambung oleh periode fetus. Lamanya periode
kebuntingan untuk tiap spesies berbeda-beda perbedaan tersebut
disebabkan faktor genetik Menurut Frandsion (1992) menyatakan bahwa
Periode kebuntingan pada pada kuda 336 hari atau sekitar sebelas bulan;
sapi 282 hari atau sembilan bulan lebih sedikit; domba 150 hari

atau 5 bulan; babi 114 hari atau 3 bulan 3 minggu dan 3 hari dan anjing 63
hari atau sekitar 2 bulan. Sedangkan menurut Salisbury (1985) periode
kebuntingan pada semua bangsa sapi perah berlangsung 278-284 hari
kecuali brown swiss rata-rata 190 hari. Menurut Partodiharjo (1982) hewan
yang mengalami masa kebuntingan akan menunjukan perubahan bagianbagian tertentu sebagai berikut: 1. Vulva dan vagina Setelah kebuntingan
berumur 6 sampai 7 bualan pada sapi dara akan terlihat adanya edema pada
vulvanya. Semakin tua buntingnya semakin jelas edema vulva ini. Pada sapi
yang telah beranak, edema vulva baru akan terlihat setelah kebuntingan
mencapai 8,5 sampai 9 bulan. 2. Serviks Segera setelah terjadi fertilisasi

perubahan terjadi pada kelenjar-kelenjar serviks. Kripta-kripta menghasilkan


lendir yang kental semalin tua umur kebuntingan maka semakin kental lendir
tersebut. 3. Uterus Perubahan pada uterus yang pertama terjadinya
vaskularisasi pada endomertium, terbentuk lebih banyak kelenjar
endometrium, sedangkan kelenjar yang telah ada tumbuh lebih panjang dan
berkelok-kelok seperti spiral. 4. Cairan Amnion dan Allantois Volume cairan
amnion dan allantois selama kebuntingan juga mengalami perubahan.
Perubahan yang pertama adalah volumenya, dari sedikit menjadi banyak;
kedua dari perbandingannya. Hampir semua spesies, cairan amnion menjadi
lebih banyak dari pada volume cairan allantois, tetapi pada akhir kebuntinan
cairan allantois menjadi lebih banyak. 5. Perubahan pada ovarium Setelah
ovulasi, terjadilah kawah bekas folikel. Kawah ini segera dipenuhi oleh darah
yang dengan cepat membeku yang disebut corpus hemorrhagicum. Pada
hari ke 5 sampai ke-6 korpus luteum telah terbentuk.

Hormon yang Berperan Saat Kebuntingan.


1.

Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) GnRH merupakan suatu


dekadeptida (10 asam amino) dengan berat molekul 1183 dalton. Hormon ini
menstimulasi sekresi follicle stimulating hormon (FSH) dan Lutinizing
Hormone (LH) dari hipofisis anterior (Salisbury dan vandemark, 1985).
Pemberian GnRH meningkatkan FSH dan LH dalam sirkulasi darah selama 2
sampai 4 jam (Chenault dkk., 1990). Hipotalamus akan mensekresi GnRH,
kemudian GnRH akan menstimulasi hipofisis anterior untuk mensekresi FSH
dan LH. FSH bekerja pada tahap awal perkembangan folikel dan dibutuhkan
untuk pembentukan folikel antrum. FSH dan LH merangsang folikel ovarium
untuk mensekresikan estrogen. Menjelang waktu ovulasi konsentrasi hormon
estrohen mencapai suatu tingkatan yang cukup tinggi untuk menekan
produksi FSH dan dengan pelepasan LH menyebabkan terjadinya ovulasi
dengan menggertak pemecahan dinding folikel dan pelepasan ovum. Setelah
ovulasi maka akan terbentuk korpus luteum dan ketika tidak bunting m
aka PGF2 dari uterus akan melisiskan
korpus luteum. Tetapi jika terjadi kebuntingan maka korpus luteum akan
terus dipertahankan supaya konsentrasi progesteron tetap tinggi untuk
menjaga kebuntingan (Adnan dan Ramdja, 1986). 2.

Esterogen Pada awal kebuntingan hormone ini sedikit kemudian kadarnya


mulai naik pada saat umur kebuntintingan mulai tua. Pada usia kebuntingan
4 bulan akhir sapi akan mengekskresikan 10 X lipat hormone esterogon
didalam air seninya dibanding sesudah melahirkan. 3.

Progesterone Hormon ini mempunyai peranan paling penting dan dominan


dalam berperan mempertahankan kebuntingan. Kadar hormon yang
meningkat menyebabkan berhentinya kerja hormon lain serta menyebabkan
berhentinya siklus estrus dengan mencegahnya hormon gonadotrophingonadotrophin. Progesteron dihasilkan di corpus luteum dan plasenta.
Apabila sekresi hormon ini berhenti pada setiap kebuntingan akan berakhir
selama beberapa hari.