Anda di halaman 1dari 138

CETAK TAHUN 2012

Pemutakhiran Buku oleh : Haryono Kusumosubroto.


Berdasarkan
SPK Nomor

: KU.08.09.Aa.12.06/11.B. Jakarta, tanggal 31 Mei 2012

SPMK Nomor : 01/SPMK/PBS/V/2012.


ISBN : 978-602-96989-4-7
Coverdesign : Danang Sukmana

Jakarta, tanggal 31 Mei 2012

KATA SAMBUTAN

Dengan memanjatkan puji dan syukur atas segala rahmat-Nya, buku


Serial Teknologi Sabo berjudul Implementasi Sabo telah dapat dimutakhirkan
(review) pada Tahun Anggaran 2012 ini.
Materi isi buku banyak membahas berbagai ciri khas dan kekhususan
dalam implementasi Sabo dan bangunannya. Hal tersebut menjadikan buku ini
cukup memadai sebagai referensi bagi para teknisi di lingkungan Direktorat
Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian

Pekerjaan Umum dalam tugasnya

menangani bencana sedimen. Diharapkan penyempurnaan buku ini dapat terus


dilakukan secara berkelanjutan sesuai kebutuhan.
Pada akhirnya, disampaikan terima kasih dan penghargaan kepada semua
pihak yang telah terlibat dalam kegiatan review buku ini. Keterlibatan tenaga ahli
senior bidang Sabo tentu memberikan kontribusi yang tidak kecil.
Jakarta, September 2012
Direktorat Sungai dan Pantai
Direktur
Ir.Pitoyo Subandrio, Dipl. HE.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

KATAPENGANTAR

Meningkatnya bencana sedimen atau sediment-related disaster di Indonesia,


menjadikan semakin pentingnya peranan Sistem Sabo dalam mengendalikan
pergerakan sedimen massa, termasuk aliran debris dan lahar.
Dalam sistem Sabo, bangunan-bangunan pengendali sedimen atau
bangunan Sabo bekerja di alur sungai secara bersinergi antara bangunan yang
satu dengan lainnya. Sebagai bangunan air, sistem dan bentuk bangunan Sabo
memiliki banyak keganjilan yang khas jika dibandingkan dengan bangunan
pengairan pada umumnya. Bahkan jika dipandang dari sisi bangunan pengairan,
kadangkala ditemui hal yang kontradiksi. Oleh sebab itu, buku ini mencoba
memberikan porsi lebih besar pada berbagai kekhusususan Sabo tersebut. Selain
itu, juga dilakukan penyempurnaan redaksional maupun gambar- gambar dari
yang ada sebelumnya.
Pemutakhiran buku ini mengacu pada berbagai sumber asli yang disusun
oleh para Expert JICA di VSTC, yang selama ini telah dipergunakan sebagai
acuan dalam berbagai pelatihan bidang Sabo dan sumber lain yang ada didalam
dan luar Indonesia.
Yogyakarta, September 2012
Tim Penyusun
Ir. Haryono Kusumosubroto, Dipl HE

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

DAFTAR ISI

KATA SAMBUTAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI ....................... ..

DAFTAR TABEL................... .. iii


DAFTAR GAMBAR ............ iv
DAFTAR ISTILAH ............. viii
BAB I

RENCANA IMPLEMENTASI
1.1. Umum

1.2. Survai untuk Implementasi .

1.3. Jadwal Kegiatan Pekerjaan .

1.4. Spesifikasi Dan Gambar .. 10


BAB II RENCANA PELAKSANAAN.
2.1. Umum.. 11
2.2. Interpretasi Dan Konfirmasi Pekerjaan... 11
2.3. Manajemen Pelaksanaan.. 14
2.4. Cara Pelaksanaan..... 17
BAB III KONDISI KHUSUS PEKERJAAN SABO
3.1. Kekhususan Sistem Sabo. 19
3.2. Keganjilan Bagian Bangunan Sabo. 24
BAB IV PEKERJAAN TANAH
4.1. Dam Pelindung Dan Saluran Pengelak ... 31
4.2. Pemadatan Tanggul Dan Perlindungan Lereng .. 33
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

4.3. Longsoran Permukaan Tanggul .. 34


4.4. Counterweight Versus Quick Sand . 37
4.5. Daya Dukung Tanah Pondasi.. 40
BAB V PEKERJAAN PASANGAN BATU
5.1. Stabilitas Pasangan Batu . 43
5.2. Tekanan Tanah dan Isian Belakang Pasangan 50
5.3. Peranan Kerikil Sebagai Backfill 54
5.4. Beberapa Aspek Tekanan Tanah 55
5.5. Pekerjaan Pasangan Batu 58
BAB VI POKOK PENTING IMPLEMENTASI SABO
6.1. Apron Dengan Bantalan Air.... 62
6.2. Garis Endapan Dan Gerusan Hilir .. 65
6.3. Pertimbangan Terhadap Uplift ....... 67
6.4. Desain Penampang Sayap.... 69
6.5. Cara Perkuatan Ambang Pelimpah.. 72
6.6. Perkuatan Abutment 77
6.7. Fungsi Lubang Alir 80
6.8. Embedment Untuk Perlindungan Kaki Tebing... 85
6.9. Pelaksanaan Praktis 91
6.10. Proses Transisi ... 112
DAFTAR PUSTAKA. 122

ii

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

DAFTAR TABEL
Keterkaitan faktor meteorology dan hidrologi .................................................

Tabel 1.1.

Contoh Diagram Jadwal Pekerjaan dam Sabo..........................

Tabel 1.2.

Ilustrasi perbandingan gaya luar dam biasa dan Sabo .. 23

Tabel 6.1.

Perbedaan tekanan uplift pada dam .......................................... 69

Tabel 6.2.

Perhitungan hasil uji beton ....................................................... 96

Tabel 6.3.

Perkiraan pelapisan air di permukaan agregat .......................... 98

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

1.1

Diagram Jadwal Pekerjaan bentuk Net-work ..

Gambar

3.1

Urutan pelaksanaan pembuatan bangunan Sabo .. 21

Gambar

3.2

Tipikal bentuk dam Sabo dibanding dam biasa ... 22

Gambar

3.3

Tiga kondisi tekanan sedimen dan air pada dam Sabo 23

Gambar

3.4

Ambang pelimpah pada dam biasa dan Sabo ... 25

Gambar

3.5

Bentuk dasar segitiga dan trapezium ... 26

Gambar

3.6

Perbedaan fungsional dam biasa dan Sabo .. 27

Gambar

3.7

Bangunan Dam Sabo rendah bersifat sementara .. 28

Gambar

3.8

Pekerjaan bangunan krib sementara . 28

Gambar

3.9

Bronjong ditambah vegetasi sebagai penguat... 29

Gambar

3.10 Contoh batasan lokasi tidak baik untuk digali.. 30

Gambar

4.1

Coffer dam dan Diversion Channel terbuka.. 31

Gambar

4.2

Pengeringan air rembesan dari coffer dam ... 32

Gambar

4.3

Ilustrasi penimbunan tanggul yang salah.. 34

Gambar

4.4

Penimbunan extra untuk antisipasi penurunan tanggul .. 34

Gambar

4.5

Pengaruh rembesan air bawah tanah pada muka lereng . 35

Gambar

4.6

Beban perimbangan untuk mengatasi quicksand . 38

Gambar

5.1

Dinding penahan tipe gravity dan pasangan batu . 43

Gambar

5.2

Perhitungan kontrol stabilitas dinding pasangan batu . 44

Gambar

5.3

Asumsi blok pasangan batu tidak bergerak horisontal 47

Gambar

5.4

Beban tambahan pada dinding pasangan batu .. 49

Gambar

5.5

Ilustrasi pembebanan tambahan ... 49

Gambar

5.6

Diagram tekanan tanah dan isian belakang dinding .. 50

iv

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Gambar

5.7

Peran kerikil sebagai back-fill . 54

Gambar

5.8

Konversi beban tambahan kedalam beban tanah.. 57

Gambar

5.9

Pemasangan batu searah dan tidak searah 59

Gambar

5.10 Pasangan batu yang benar dan yang salah 59

Gambar

5.11 Contoh pemasangan batu penutup ........... 60

Gambar

5.12 Landasan batu dan beton .. 61

Gambar

6.1

Bantalan air, subdam dan lubang circus .. 62

Gambar

6.2

Urutan pelaksanaan per bagian dam Sabo 64

Gambar

6.3

Garis deposit dan gerusan di hilir bangunan 65

Gambar

6.4

Prinsip urutan pelaksanaan pembuatan dam Sabo 66

Gambar

6.5

Gaya uplift yang bekerja pada dasar dam Sabo 67

Gambar

6.6

Penampang pelimpah dan sayap dam Sabo .. 70

Gambar

6.7

Ilustrasi proteksi puncak dam dan dampaknya 74

Gambar

6.8

Kemiringan puncak dam menghindari kerusakan 75

Gambar

6.9

Ilustrasi kesalahan pembuatan bangunan dam Sabo 77

Gambar

6.10 Kedalaman penetrasi yang tidak menguntungkan. 79

Gambar

6.11 Lubang alir pada dam Sabo .. 80

Gambar

6.12 Posisi lubang alir pada dam Sabo.. 82

Gambar

6.13 Lubang alir di bagian sayap dam Sabo.. 83

Gambar

6.14 Lubang alir dilengkapi penutup sederhana 83

Gambar

6.15 Lubang alir besar rawan kerusakan .. 84

Gambar

6.16 Kedalaman embedment dan kemiringan penguat tebing 85

Gambar

6.17 Perlindungan tebing dengan struktur fleksibel . 86

Gambar

6.18 Konstruksi perlindungan tebing . 87

Gambar

6.19 Prinsip penetrasi saluran kanal . 88

Gambar

6.20 Penetrasi riverbed girdle ke dasar saluran kanal .......... 89

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Gambar

6.21 Revetment tambahan dan embedment . 89

Gambar

6.22 Perlindungan tebing kombinasi bronjong 90

Gambar

6.23 Hubungan antara tiga tegangan ... 92

Gambar

6.24 Cara menentukan koefisien untuk tegengan batas ... 93

Gambar

6.25 Pondasi dam Sabo pada lapisan tanah pendukung .. 99

Gambar

6.26 Dua contoh alternatif pemasangan patok . 101

Gambar

6.27 Pondasi sumuran beton bertilang . 102

Gambar

6.28 Saluran terbuka tanpa girdle dan dengan girdle .. 102

Gambar

6.29 Saluran permukaan beton bertulang dan batu kosong .. 103

Gambar

6.30 Penanganan gully erosion dengan bronjong silinder .... 104

Gambar

6.31 Dinding penahan rendah dari pasangan batu .... 105

Gambar

6.32 Letak as jalan yang disarankan .... 106

Gambar

6.33 Sistem penyangga atau trestle .. 107

Gambar

6.34 Detil desain ruang bebas .. 108

Gambar

6.35 Timbunan tanah diatas pipa kecil atau culvert . 109

Gambar

6.36 Cara praktis melewatkan air melintas jalan .. 109

Gambar

6.37 Ilustrasi tipe jembatan pelimpasan 110

Gambar

6.38 Sistem teras bangku dan pengaturan tanaman .. 110

Gambar

6.39 Teras bangku untuk lereng yang terlalu tinggi.. 111

Gambar

6.40 Ilustrasi transisi hidraulik longitudinal dan lateral 112

Gambar

6.41 Tingkatan tipikal potongan melintang revetment . 113

Gambar

6.42 Krib atau spur-dyke dari batang pohon semak ...... 114

Gambar

6.43 Bronjong silinder untuk konstruksi krib . 115

Gambar

6.44 Krib beton untuk aliran sedimen berbatuan ..... 115

Gambar

6.45 Ilustrasi bangunan kantong pasir .. 116

Gambar

6.46 Urutan aplikasi transisi bangunan krib . 117

vi

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Gambar

6.47 Prinsip kebijakan pengaturan sedimen di kipas alluvial 117

Gambar

6.48 Dam Sabo rendah dari bronjong dilapis beton 119

Gambar

6.49 Groundsill dari bronjong, rangka kayu danbeton 119

Gambar

6.50 Girdle dasar sungai dari kayu dan balok kayu . 120

Gambar

6.51 Dam Sabo kecil dari balok kayu, tiang besi dan beton ... 120

Gambar

6.52 Revetment dari kerangka balok kayu diisi batu .. 121

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

vii

DAFTAR ISTILAH

Sabo

: Suatu terminologi teknik dari bahasa Jepang yang


berarti pengendalian erosi dan sedimentasI (Erosion
and sediment movements control)

Sabo Works

: Suatu sistem pengendalian erosi dan pergerakan


sedimen.

Erosi

: Terlepasnya permukaan tanah akibat pergerakan


fragmen-fragmen tanah dan batuan oleh aliran air
atau panyebab lainnya.

Deposisi

: Proses mekanik atau kimia dimana sedimen


terakumulasi pada suatu tempat tertentu.

Agradasi

: Suatu proses geologi, dimana dasar sungai, dataran


banjir dan permukaan dasar aliran air elevasinya
naik akibat deposisi material hasil erosi yang datang
dari tempat lain. Agradasi kebalikan dari peristiwa
degradasi.

Bed load

: Partikel sedimen yang terangkut aliran air dan selalu


bersentuhan dengan dasar sungai.

Aliran debris

: Suatu aliran air yang membawa berbagai ukuran


batuan, tanah dan pasir dalam konsentrasi sangat
tinggi bergerak cepat menuruni lereng bukit dan alur
sungai,

membawa material dasar sungai dan

kadangkala disertai batang-batang pohon.

viii

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Wilayah aliran debris : Wilayah dimana aliran sedimen berupa sedimen


massa (mass movements), seperti aliran debris
(debris flow).
Wilayah drainase
(Drainage area)

: Wilayah lahan yang memberikan run-off ke danau,


alur sungai atau tempat tampungan lainnya.

Apron

: Suatu lantai atau permukaan terbuat dari beton,


pasangan batu kali atau pasangan batu kosong dan
sebagainya yang dipasang di kaki depan (toe) suatu
dam, groundsill, dan lain-lain, untuk melindungi
terhadap erosi atau gerusan lokal yang disebabkan
oleh jatuhan air atau turbulensi aliran.

Ambang pelimpah
(Crest opening)

: pada umumnya berbentuk trapezium di bagian


teratas dam Sabo, berfungsi untuk melewatkan debit
sedimen.

Ambang sayap
( Crest wing )

: Bagian bangunan dam Sabo yang menahan sedimen


atau debris tidak melimpas ke hilir dam Sabo.

Dam mengambang
( Floating dam )

: Bangunan dam yang dibuat dengan tujuan yang


sama dengan dam Sabo, terletak pada dasar pondasi
tanah karena tidak adanya lapisan batuan. Keamanan
terhadap

gaya

geser

dan

rembesan

(piping)

dipertimbangkan.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

ix

Tinggi jagaan

: Suatu batasan tinggi yang dijaga antara puncak


tanggul dan elevasi banjir rencana, untuk menjaga
agar

tidak

terjadi

limpasan

dan

lompatan

gelombang.
Koefisien kekasaran : Koefisien

yang

permukaan

mengindikasikan

sungai

atau

saluran

kekasaran
kanal

yang

bersentuhan dengan aliran air.


Ambang dasar
(Groundsill))

: Suatu struktur bangunan Sabo untuk mengamankan


permukaan dasar sungai atau saluran kanal agar
tidak terjadi degradasi.

Krib (Spurdike)

: Struktur bangunan pengatur sungai yang dibuat


tegak

lurus

mengarahkan

arah

aliran

sungai,

berfungsi

atau mengurangi kecepatan aliran,

mengamankan tebing sungai dari ancaman erosi


dengan membentuk endapan di bagian hilir krib.
Dinding vertikal
(Vertical wall)

: Suatu bangunan dilengkapi sayap dan membentuk


sudut tegak lurus terhadap arah sumbu aliran di
hilirnya.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

BAB I
RENCANA IMPLEMENTASI

1.1

Umum.
Ketika pekerjaan konstruksi telah ditetapkan untuk dilaksanakan sesuai

rencana, maka segera dilakukan survai tentang banyak hal terkait dengan rencana
pelaksanaan. Pemberi pekerjaan harus memberi berbagai informasi lebih rinci
mengenai berbagai aspek kondisi pekerjaan yang dihadapi, sehingga dapat
dilakukan estimasi pembiayaan dan alokasi waktu yang lebih akurat. Aspek ini
menyangkut hal yang sangat luas, oleh sebab itu pembahasan akan lebih
ditujukan pada implementasi pekerjaan Sabo yang bersifat struktural.
Perencana biasanya tidak selalu memahami benar situasi lingkungan wilayah
pekerjaan karena keterbatasan data yang tersedia, sehingga alternatif lokasi sudah
dipersiapkan jika suatu waktu diperlukan. Survai untuk implementasi pekerjaan,
berbeda dengan survai untuk perencanaan maupun untuk desain bangunan.
Didalam bab ini banyak hal penting yang dibahas, spesifikasi secara umum,
gambar penting yang perlu dikemukakan dalam spesifikasi, hal apa yang perlu
disertakan dalam gambar spesifikasi bangunan dan lain sebagainya. Semua
bermuara pada kepentingan untuk memperoleh bangunan berkualitas tinggi,
biaya yang memadai dan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan yang sesuai dan
wajar.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

1.2

Survai Untuk Implementasi


Berbagai tindakan investigasi dan survai

dilakukan guna

implementasi pekerjaan

memperoleh data sebanyak mungkin, sebagai bahan

pertimbangan dalam menetapkan suatu keputusan secara akurat.


1.2.1. Survai topografi.
a.

Diperlukan peta topografi skala 1 : 500 hingga 1 : 2.000 untuk


membuat pekerjaan sementara, seperti pekerjaan galian, pembuatan
gudang, jalan kerja, dan lain-lain.

b.

Pengukuran panampang memanjang dan melintang sepanjang daerah


kerja dan membuat titik referensi yang dikaitkan dengan titik tetap
permanen BM (Bench Marks).

Data pengukuran awal ini sangat penting, tanpa data ini tidak dapat mulai
melaksanakan pekerjaan, karena dalam tahap perencanaan data ini biasanya tidak
dibuat.
1.2.2. Survai geologi.
a.

Kondisi geologi umum sekitar wilayah pekerjaan biasanya sudah


didata sebelumnya.

b.

Jika hasil survai geologi untuk pondasi suatu dam Sabo diperoleh
hasil yang kurang baik, maka tidak disarankan untuk mencari kondisi
geologi yang lebih baik. Tetapi jika didapat pondasi lapisan batuan
yang baik, tentu saja menjadi pilihan untuk lokasi dam Sabo.

c.

Jika tidak diperoleh lapisan keras pondasi hingga kedalaman tertentu,


untuk dam Sabo tidak perlu melakukan survai dengan pengeboran
seperti bangunan dam umumnya.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

1.2.3. Survai meteorologi dan hidrologi.


a.

Kondisi meteorologi di wilayah pekerjaan penting diketahui guna


menghindari terjadinya bencana selama pekerjaan berlangsung.

b.

Data hidrologi dari wilayah berdekatan dapat dimanfaatkan untuk


menetapkan debit saluran pengelak yang diperlukan.

Keterkaitan faktor meteorologi dan hidrologi dalam rencana pelaksanaan


pekerjaan adalah sebagai berikut,
Tabel 1.1 : Keterkaitan faktor meteorologi dan hidrologi dalam perencanaan
Status meteorologi dan
hidrologi

Keterkaitan dalam rencana pekerjaan.

Hari hujan dalam satu


bulan hujan / musim
kering

Jumlah hari kerja, periode untuk galian


sungai, suplai air, banguan pengelak.

Jumlah curah hujan.

Debit dan kapasitas saluran pengelak


selama pelaksanaan pekerjaan.

Temperatur udara.

Pengecoran beton dan pengeringannya.

Hari-hari berkabut.

Angkutan material dam pekerja.

Pemicu intensitas hujan


terhadap terjadinya
mudflow.

Jalur dan jembatan untuk evakuasi dari


lokasi kerja.

Sumber :

Sabo Implementation for practice of erosion and sediment control in

Indonesia, VSTC JICA, March 1986.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

1.2.4. Survai lokasi bahan galian dan tempat buangan.


a.

Survai ini dilakukan untuk menetapkan lokasi pengambilan material


konstruksi bangunan, seperti pasir, batu dan kerikil maupun tempat
buangan kelebihan material bangunan.

b.

Biasanya untuk memperoleh material kualitas tinggi yang memenuhi


syarat sebagai agregat konstruksi beton seringkali mengalami
kesulitan, sehingga perlu mendatangkan dari luar lokasi.

c.

Melibatkan aspek lainnya, yaitu penyediaan sarana dan prasarana


transportasi material.

d.

Untuk lokasi pembuangan, pada era kehidupan saat ini seringkali


mengalami kesulitan memperolehnya, karena banyak dipengaruhi
oleh aspek sosial ekonomi masyarakat setempat

1.2.5. Survai transportasi.


Kebanyakan lokasi pekerjaan Sabo berada di wilayah pegunungan, tidak seperti
pekerjaan lain pada umumnya. Bahkan sering dijumpai lokasi pekerjaan Sabo
yang tidak memiliki akses jalan. Oleh sebab itu, pekerjaan Sabo sering diawali
dengan survai pendahuluan untuk membuat jalan untuk transportasi material.
Beberapa pertimbangan penting perlu diperhatikan dalam melakukan survai
pendahuluan, antara adalah,
a.

Pemilihan rute jalan transpotasi perlu berpegang pada prinsip half-cut


and bank, sehingga lebar jalan seminimal mungkin.

b.

Hindari rute yang memiliki tanjakan dan turunan terlalu curam.

c.

Pada lokasi topografi curam, diusahakan agar pemotongan tanah


sekecil mungkin.

d.

Drainasi untuk aliran permukaan maupun aliran bawah permukaan


dilakukan secara hati-hati.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

e.

Mempertimbangkan pemeliharaan jalan transportasi, meskipun


nantinya pekerjaan telah selesai.

Penggunaan sistem transportasi material lainnya, seperti sistem kabel perlu


pertimbangan yang akurat, terkait dengan berbagai batasan kapasitas, rute kabel
dan sebagainya. Demikian juga penggunaan angkutan menggunakan rel, memiliki
keterbatasan pada kemampuan tanjakan dan sistem bongkar muatnya.
1.2.6. Survai lingkungan.
Hampir

mustahil

mempengaruhi

melakukan

lingkungan.

kegiatan

Meskipun

pembangunan
sistem

Sabo

tanpa

sedikitpun

tujuannya

adalah

memperbaiki kerusakan alur sungai dan sekitarnya, namun untuk hal ini tidak
menjadi pengecualian untuk melakukan survai lingkungan.
Dampak negatif penerapan sistem Sabo yang dapat terjadi terhadap lingkungan
antara lain,
a.

Kekhawatiran terhadap degradasi dasar sungai di hilirnya, yang dapat


mempengaruhi pada,
1) Kerusakan pilar jembatan dan dasar revetnment.
2) Kesulitan pengambilan air pada bangunan intake irigasi akibat
muka air turun.

b. Kekhawatiran akumulasi deposit sementara di bagian hulu, yaitu,


1) Genangan atau banjir areal endapan.
2) Perubahan erosi lateral pada tanggul.
c.

Kekhawatiran terhadap menurunnya kwalitas lingkungan biologi,


seperti,
1) Pengaruh terhadap perikanan darat.
2) Pengaruh terhadap penghutanan kembali atau reforestation.
3) Kerusakan lahan dan panorama pemandangan.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

1.2.7. Survai konpensasi tanah.


Survai keperluan ganti rugi atau kompensasi tanah berdasarkan pekerjaan Sabo
yang direncanakan sangat terkait dengan survai topografi, lokasi bahan galian dan
timbunan tanah, rute transportasi dan lingkungan.

1.3

Jadwal Kegiatan Pekerjaan.


Jadwal kegiatan atau kemajuan pekerjaan merupakan bagian yang sangat

penting, baik bagi pemberi tugas maupun pelaksana pekerjaan atau kontraktor.
Jadwal ini harus disusun dengan akurasi tinggi, karena biaya konstruksi yang
tepat sangat dipengaruhi oleh jadwal kegiatan ini. Jangka waktu pelaksanaan
pekerjaan yang benar-benar diperlukan, jumlah unit kerja, jumlah alat kerja dan
biaya konstruksi yang tepat mempunyai saling keterkaitan yang tinggi antara satu
dengan lainnya.
1.3.1. Jadwal tahunan (annual) dan setiap tahun. (yearly).
Pekerjaan yang berskala cukup besar biasanya memerlukan waktu lebih dari satu
tahun, sehingga wajar jika jadwal pekerjaan akan dipengaruhi oleh perubahan
musim yang dapat mempengaruhi biaya. Adanya pengaturan anggaran tahunan
yang tidak sama setiap tahunnya, maka perlu dibuat jadwal kegiatan pekerjaan
tahunan yang sifatnya menyeluruh

dengan pembagian anggaran per tahun,

maupun jadwal pekerjaan setiap tahun yang menggambarkan detil anggaran


setiap tahun.
Berikut contoh jadwal kegiatan tahunan (annual) dalam bentuk Bar-chart, untuk
pekerjaan dam Sabo berskala cukup besar.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Tabel 1.2 : Contoh Diagram Jadwal Pekerjaan (Time Schedule) dam Sabo
Tahun
Pekerjaan

Jalan kerja

Catatan
Termasuk perbaikan

Pengelak
Coffer dam, dll.

Termasuk pekerjaan sementara

Galian
Beton Dam-utama
Beton Sub-dam

Termasuk apron

Pelapisan
Kelengkapan

Intake air dan peralatan

Diagram kegiatan pekerjaan dalam bentuk Net Work dari jadwal setiap
tahun (yearly) untuk durasi waktu 145 hari dalam 1 tahun sebagai berikut,
Notasi untuk angka dalam lingkaran :
12

: pekerjaan persiapan.

69

: cor beton

2 3 : perbaikan jalan kerja

68

: galian

45

: jembatan darurat

9 11 : cor beton

46

: batcher plant

10 11 : timbunan kembali.

5 6 : perbaikan pondasi

10 12 : cor beton

67

12 13 : plesteran akhir

: pembersihan dan
Penyemprotan

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

13 14 : finishing.

(10)

7
1
(7)

10
3
(3)

17

14
(4)

(3)

5
(13)

(38)

(14)

131

101

68

30

10
(33)

(30)

12

138

145

13

14

(7)

(7)

(2)

Gambar 1.1 : Diagram Jadwal Pekerjaan bentuk Net-work kegiatan pekerjaan

Keterangan,
Angka dalam kurung menunjukkan jangka waktu kegiatan (hari). Angka
disamping atau diatas kegiatan menunjukkan jumlah jangka waktu total
(hari). Aktivitas pararel dan dummy dengan garis titik adalah kegiatan
yang perlu perhatian khusus.
1.3.2. Standar unit kegiatan dan peralatan mesin yang diperlukan.
a. Pihak pertama sebagai pemberi pekerjaan tidak dapat menyediakan
peralatan dan tidak dapat menetukan peralatan yang akan digunakan.
b. Pihak kedua sebagai pelaksana pekerjaan atau kontraktor ketika
mengestimasi anggaran biaya pekerjaan belum menetapkan peralatan
yang akan dipergunakan. Biasanya ketika itu belum diketahui
ketersediaan peralatan yang dibutuhkan.
c. Standar unit kerja beton sangat tergantung pada kapasitas mesin
pengaduk beton (concrete-mixer) yang biasanya disediakan oleh
kontraktor khusus (lokal).
d. Standar unit kerja galian tergantung pada kemampuan atau kapsitas
peralatan yang dipergunakan, bulldozer, escavator, dump-truck,
power-sovel, dan sebagainya.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Perlu dipahami bahwa pekerjaan Sabo umumnya tidak di lokasi dataran, tetapi
lebih banyak berada di lokasi pegunungan yang jauh dari jangkauan. Meskipun
skala pekerjaannya tidak besar, akan tetapi waktu pelaksanaan panjang. Di
Indonesia, sesuai kondisi sosial ekonominya, pemakaian tenaga manusia lebih
menjadi pilihan daripada sistem mekanisasi dengan peralatan berat.
Untuk tujuan perbaikan dan memperbesar kapasitas kegiatan pekerjaan Sabo,
beberapa hal dibawah ini perlu mendapat perhatian,
a.

Menggunakan mesin pengaduk beton berkapasitas cukup besar.

b. Menggunakan mesin pompa pasir (sand pump), diameter 50 mm s/d


80 mm, kuat tekan (total head) sekitar 10 meter.
c.

Menggunakan generator listrik dengan jaringan kabelnya.

d. Menggunakan peralatan berat, seperti power-sovel, bulldozer kecil.


e.

Menggunakan sistem transportasi material yang efektif, misal


menggunakan belt-conveyor, dump-truck, dan sebagainya.

1.3.3. Model jadwal kegiatan pekerjaan (progress schedule).


Terdapat tiga model jadwal kegiatan pekerjaan yang dapat dipergunakan,
a. Tipe bar-chart atau disebut diagram batang.
b. Tipe diagram garis lengkung atau curve-chart.
c. Tipe net-work (PERT, CPM).
Dari ketiga tipe tersebut, diagram batang (bar-chart) yang paling populer dan
mudah.

Tipe

net-work,

sejak

beberapa

puluh

tahun

terakhir

banyak

direkomendasikan untuk dipergunakan. Tipe garis lengkung (curve-chart type)


sangat

direkomendasikan

dipergunakan

dalam

pekerjaan

Sabo,

karena

aplikasinya lebih mudah dan juga karena item pekerjaan Sabo relatif tidak terlalu
banyak, sehingga masih tersedia banyak ruang.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

1.4

Spesifikasi Dan Gambar.


Spesikasi dan gambar pekerjaan merupakan satu-satunya dokumen

terakhir yang akurat dan terpercaya bagi kedua pihak, pemberi kerja dan
pelaksana pekerjaan untuk menyelasaikan bangunan dengan konsekuensi yang
lebih baik di kemudian hari. Tidak hanya spesifikasi umum saja yang dijelaskan,
akan tetapi spesifikasi khusus yang ada perlu dijelaskan kepada kontraktor.
Di Indonesia, beberapa hal dibawah telah lazim diberlakukan, yakni,
a.

Spesikasi umum, menguraikan banyak hal, aturan yang harus diikuti dan
hal yang tidak boleh dilakukan. Termasuk memberikan berbagai instruksi
apa dan bagaimana harus dikerjakan.

b.

Spesifikasi khusus, ditempatkan diatas dari spesifikasi umum dan berisi


berbagai catatan khusus yang perlu dicermati, misalnya perihal quarry,
spoil-banking, perkiraan debit benjir, kapasitas ijin kanalisasi, standar
campuran beton dan lain sebagainya.

c.

Gambar, Selain memuat gambar detil, juga mencantumkan proses


pembangunannya secara detil. Contoh, menjelaskan batas-batas pekerjaan
galian yang boleh dikerjakan alat berat dan tenaga manusia.

10

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

BAB II
RENCANA PELAKSANAAN

2.1

Umum.
Rencana pelaksanaan pekerjaan atau execution plan dimaksudkan sebagai

suatu rencana pelaksanaan yang aktual, diformulasikan oleh pelaksana pekerjaan


atau kontraktor. Jadi berbeda dari bab terdahulu Rencana Implementasi yang
harus diformulasikan oleh pihak pemberi pekerjaan. Semua data yang diberikan
oleh pihak pertama harus diinterpretasikan dan dikonfirmasi oleh kontraktor
sebagai acuan dalam membuat detil pelaksanaan pekerjaan. Uraian berikut ini
adalah sebagai titik pandang dari pihak kontraktor.

2.2

Interpretasi Dan Konfirmasi Pekerjaan.


Ada tiga hal pokok yang harus diinterpretasikan dengan baik dan benar-

benar dikonfirmasikan, yaitu :


1.

Melakukan investigasi lapangan dan lingkungan.

2.

Meneliti lebih jauh berbagai hal yang sebelumnya belum jelas dan pernah
dipersoalkan.

3.

Menanyakan kepada pihak pertama tentang hal-hal yang tidak diketahui.

Menjadi tugas bagi pihak pertama untuk menjelaskan kepada kontrktor tentang
segala hal yang ditanyakan berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan. Berbagai
survai yang perlu dikonfirmasi kembali oleh kontraktor adalah,

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

11

2.2.1. Topografi lingkungan.


Mengkonfirmasi keberadaan patok as, patok batas, patok referensi, bench-mark,
lokasi galian material (quarry), lokasi pembuangan sisa material, ketidak sesuaian
dengan peta topografi, ruang penyimpanan material, sistem drainase dan
sebagainya.
2.2.2. Geofisik lingkungan.
Mengestimasi berbagai aspek geologi, seperti kedalaman akar tanaman,
kedalaman lapisan tanah, keberadaan patahan, rekahan, sesar, ancaman tanah
longsor. Untuk mengontrol data yang tersedia bila perlu melakukan berbagai uji
lapangan, seperti pengeboran inti, uji daya dukung tanah dan sebagainya.
2.2.3. Data meteorologi atau hidrologi.
Mengasumsikan kemungkinan hari hujan selama periode pekerjaan, curah hujan,
intensitas hujan, mengetahui muka air tertinggi dan terendah dari stasiun
pengukur tinggi muka air dan lain sebagainya.
2.2.4. Transportasi.
Melakukan investigasi terhadap kondisi lalu-lintas di jalan umum, lebar jalan,
kepadatan lalu-lintas, rambu lalu lintas, batas aman tinggi kendaraan,
kemungkinan angkutan air dan banyak hal lainnya.
2.2.5. Kondisi material setempat.
Mengetahui ketersediaan material setempat yang memenuhi syarat kualitas dan
kuantitas untuk bangunan, seperti untuk agregat beton, kayu dan sebagainya.

12

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

2.2.6. Pekerjaan sementara.


Mengkonfirmasi ketersediaan areal untuk bangunan sementara, seperti bangunan
gudang, penyimpanan bahan bangunan, tempat merangkai besi konstruksi dan
sebagainya.
2.2.7. Tenaga listrik dan air kerja.
Mengkonfirmasi ketersediaan tegangan listrik, kapasitas tenaga listrik tersedia
atau kemungkinan menggunakan generator listrik sendiri. Sumber air kerja yang
dapat diperoleh, sumur sendiri, instalasi distribusi air yang sudah ada atau suplai
air dari luar lokasi.
2.2.8. Tenaga kerja.
Memastiakan besaran standar upah kerja tenaga (unskilled), banyaknya tenaga
kerja yang dapat diperoleh, ketersediaan sub-kontraktor dan tenaga terlatih
lainnya.
2.2.9. Hambatan.
Mendeteksi kemungkinan hambatan yang dapat terjadi selama pelaksanaan
pekerjaan, seperti bentangan kabel diatas maupun dibawah tanah, masalah
gangguan lingkungan, seperti kebisingan dan bahkan kemungkinan terjadinya
gesekan sosial antar pekerja dengan penduduk setempat.
2.2.10. Pembebasan tanah dan ganti rugi.
Mengkonfirmasikan batas wilayah tanah untuk kegiatan pekerjaan dengan tanah
penduduk. Negosiasi pemakaian tanah lebih oleh kontraktor kepada pemiliknya.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

13

2.3

Manajemen Pelaksanaan.
Dalam sistem kerangka kerja manajemen kontruksi terdapat enam

kategori yang perlu dikemukakan, yaitu :


a. Kontrol teknologi

: pengukuran teristris, desain, konstruksi.

b. Kontrol kemajuan

: hasil pekerjaan, tingkat keberhasilan pekerjaan.

c. Kontrol kualitas

: terutama untuk pekerjaan tanah, beton, dll.

d. Kontrol lingkungan

: air kerja, udara, lalu-lintas dan keselamatan.

e. Kontrol tenaga kerja : sub- kontraktor dan tenaga lainnya.


f. Kontrol anggaran

: penggunaan material dan pengeluaran biaya.

Setiap kegiatan kontrol tersebut tingkat keterkaitannya dengan pihak pemberi


kerja dan kontraktor berbeda. Kontrol teknologi, kemajuan, kualitas dan
lingkungan lebih cenderung menjadi kewajiban pihak pemberi kerja, sedangkan
kontrol tenaga kerja dan anggaran lebih menjadi kewajiban pihak kontraktor.
2.3.1. Kontrol teknologi.
Dari keseluruhan permasalahan teknologi yang timbul di lapangan, umumnya ada
kaitannya dengan survai geodesi, ukuran bangunan yang sedang dibuat, desain
berbagai bangunan sementara, seperti perancah, cetakan, pekerjaan kayu, tiang
penyangga dan sebagainya. Untuk memudahkan kontrol teknis, dibuat patok
pengukuran atau tanda tertentu untuk mempermudah pemantauan selanjutnya.
2.3.2. Kontrol kemajuan pekerjaan.
Dari pengalaman pekerjaan di lapangan, dapat diutarakan beberapa tendensi yang
sering muncul dalam pekerjaan, seperti :
a. Tidak ada yang lebih penting dari suatu jadwal kemajuan pekerjaan
adalah tindak lanjut dari apa yang tertuang didalamnya.

14

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Prosedur itu disebut kontrol kemajuan pekerjaan atau progress


control.
b. Untuk memastikan kemajuan pekerjaan yang lebih baik, sebaiknya
pada tahap awal pekerjaan dapat dilakukan secara merata di semua
bagian, seperti pada grafik dibawah, titik M diusahakan naik ke A.
Progress
100
90
90
S

80
1
S

60

40

20

Waktu(bulan)

Notasi,
Kurva jadwal pelaksanaan rencana

( O-M).

Kurva jadwal tahap pelaksanaan terlambat

(O-M)

Kurva pelaksanaan lebih cepat

(O-A)

Jika berhasil merealisasikan hal tersebut, kontrol kemajuan pekerjaan


selanjutnya dapat dilakukan lebih baik. Sebaliknya jikapekerjaan
terlambat seperti garis O-M karena alasan tertentu, dapat dipastikan
akan mengalami kesulitan besar.
c. Disarankan sebaiknya digunakan kombinasi dengan bar-chart untuk
setiap bagian pekerjaan. Jika hanya menggunakan diagram kurva saja
akan sulit menggambarkan kemajuan pekerjaan dalam prosentase.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

15

2.3.3. Kontrol kualitas pekerjaan.


Di lapangan pekerjaan, sulit mengontrol kualitas material semen dan besi,
sehingga mengandalkan pada standar industri produksi yang berlaku. Untuk
pekerjaan tanah, permasalahan yang timbul dapat dilakukan tes mekanika tanah
di lapangan.
2.3.4. Kontrol lingkungan.
Berdasarkan pada pengalaman dalam melaksanakan pekerjaan sungai, termasuk
pekerjaan pembuatan konstruksi Sabo, banyak hal penting yang terkait dengan
masalah lingkungan, yaitu :
a. Polusi air.
Kandungan lumpur yang terlalu tinggi atau air kotor tidak
diperbolehkan dialirkan keluar lapangan pekerjaan.
b. Polusi biologi.
Vegetasi dan permukiman perlu dilindungi semaksimal mungkin
dengan mengikuti peraturan perundangan yang berlaku.
c. Polusi lalu-lintas dan udara.
Aktivitas harian transportasi kendaraan berat dan polusi udara pasti
mendapat protes masyarakat setempat.
d. Polusi suara.
Suara bising akibat kegiatan pembangunan pada batas tertentu tidak
diperbolehkan.
e. Perlindungan tata guna lahan.
Tata guna lahan dan penataan kawasan masyarakat setempat harus
dilindungi agar tidak dirusakkan olek kegiatan pembangunan.

16

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

f. Kontrol terhadap pekerja dan anggaran.


Kedua masalah ini umumnya menjadi kewenangan sepenuhnya oleh
kontraktor dan majemen lapangan.

2.4

Cara Pelaksanaan.
Tendensi cara pelaksaanaan pekerjaan konstruksi yang berkembang saat

ini nampaknya sudah lebih mengedepankan pengaturan kegiatan pekerjaan oleh


kontraktor sendiri, yakni :
1. Kontraktor dapat menerapkan kedisiplinan pengawasan pekerjaan
dibawah kewenangannya.
2. Kontraktor melaksanakan pekerjaannya melalui cara tertentu dibawah
tanggungjawabnya sendiri, tanpa perlu supervisi atau pengarahan lagi dari
pemberi pekerjaan.
3. Eksploitasi dan perkembangan yang sangat cepat industri konstruksi saat
ini manjadi salah satu alasan terciptanya situasi kerja ini.
4. Kecepatan perkembangan teknologi dalam banyak bidang industri
berlangsung begitu cepat sehingga tidak selaras dengan perkembangan
tenaga professional di pemerintahan.
5. Kenyataan ini tekah disadari secara luas di seluruh dunia, sehingga
banyak negara telah menyesuaikan diri dengan meningkatkan kemampuan
mekanisme pemerintahannya.
Dari sisi kontraktor sebagai penerima pekerjaan konstruksi, mereka memiliki
alasan tersendiri dalam menyikapi perkembangan dunia industri konstruksi ini.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

17

Ketika kontraktor mengalami kesulitan dalam memperoleh tenaga kerja terlatih,


maka

akan kesulitan mengatasi gejolak personil dalam kaitannya dengan

kecenderungan percepatan progresif dari pekerjaan konstruksi.

18

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

BAB III
KONDISI KHUSUS PEKERJAAN SABO

3.1

Kekhususan Sistem Sabo.


Sistem Sabo atau Sabo Works merupakan teknologi sintetis dari

mekanika, teknik sipil dan vegetatif, konstruksi kehutanan dengan aspek


konservasi lahan dan alur sungai di daerah tangkapan sungai. Struktur bangunan
Sabo tidak sulit, tetapi formulasi perencanaan yang komprehansif agak komplek,
menyangkut dua aspek

mekanis dan vegetatif. Perencanaan, desain dan

pelaksanaan dalam sistem Sabo saling terkait. Kekhususan sistem Sabo secara
garis besar adalah sebagai berikut,
1.

Kondisi medan tidak baik.


Pekerjaan Sabo direncanakan untuk dilaksanakan di daerah pegunungan
yang umumnya tidak memiliki akses jalan menuju lokasi. Hal ini
menyebabkan keterbatasan memilih cara pelaksanaan pembangunan.

2.

Sistem Sabo bersifat seri.


Bangunan Sabo umumnya tidak pernah berdiri sendiri tanpa ada
bangunan lainnya, meskipun setiap bangunan Sabo memiliki fungsi
mandiri. Ini merupakan ciri khusus bahwa setiap bangunan Sabo
diharapkan bekerja sama dengan bangunan lainnya dalam sistem secara
seri. Masalah urutan pelaksanaan biasanya muncul dari hal yang terkait
dengan kekhususan ini.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

19

3.

Perlu sistem konstruksi yang murah.


Bersumber dari karakteristik sistem Sabo konservatif, diharapkan dapat
diperoleh manfaat yang besar dengan biaya murah.

4.

Peristiwa alam yang terus menerus.


Dengan kemungkinan kecil mendapatkan lapisan dasar batuan, fluktuasi
dasar sungai berkelanjutan, proses erosi lahan berlangsung dengan kuat,
kedatangan banjir dan aliran debris secara mendadak di lapangan
pekerjaan menjadikan ancaman kerusakan selalu terjadi selama periode
pelaksanaan pekerjaan Sabo.

5.

Pemberdayaan masyarakat setempat.


Sistem Sabo dilaksanakan dengan pendekatan kepada masyarakat
setempat. Kontraktor memperoleh tenaga kerja dari masyarakat setempat
di lokasi pekerjaan. Keterlibatan masyarakat setempat sejak awal proses
perencanaan hingga akhir pembangunan menjadi penting sebagai bagian
dari usaha pemberdayaan masyarakat.

Klarifikasi terhadap pokok uraian perihal kekhususan sistem Sabo atau Sabo
Works dapat diutarakan sebagai berikut ini,
1.

Urutan pelaksanaan perencanaan.


Urutan pelaksanaan pembangunan bangunan Sabo pada model
didasarkan kondisi medan yang tidak baik adalah sebagai berikut,
a.

Dari satu seri bangunan dam Sabo berikut ini, bangunan no 1


lokasinya paling dekat dengan sumber sedimen, sehingga paling
berpengaruh untuk mereduksi produksi sedimen di bagian hulu.

20

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

b.

Jika tidak ada akses jalan ke lokasi Dam no 1, dapat


dipertimbangkan membangun terlebih dahulu bangunan no 1 atau
1.

c.

Dam Sabo no 3 yang terletak di bagian tengah sungai,


diprioritaskan pada

urutan kedua. Dam ini difungsiksn juga

sebagai dam darurat untuk menghadapi aliran sedimen skala besar


yang tidak terduga (unexpected big scale run-off sediment).
d.

Kanalisasi di kipas alluvial tidak beralasan untuk prioritas tinggi,


karena akan sia-sia dibuat jika pengendalian sedimen di hulu
belum memadai.

Urutanasli
1

1
2

1
Damdarurat
1

Aksesjalan
Kanalisasi
3

4
Kanalisasi

Gambar 3.1 : Urutan pelaksanaan pembuatan bangunan Sabo.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

21

2.

Bentuk potongan melintang dan gaya luar yang spesifik.


Hal sangat spesifik dari bangunan dam Sabo adalah bentuk potongan
melintang dam Sabo. Sisi hilir tubuh dam Sabo curam bahkan hampir
tegak, sedangkan bagian hulu sangat landai. Tegaknya sisi hilir
dimaksudkan untuk mrnghindari kerusakan terhadap jatuhan batu besar
yang terbawa aliran. Bentuk ini berbeda bahkan bertentangan dengan
bentuk bangunan air pada umumnya.
Dambiasa

DamSabo

h
R

maks

B
t

maks

Gambar 3.2 : Tipikal bentuk dam Sabo dibanding dam biasa.

Pada gambar diatas, segitiga OAB menunjukkan bentuk umum dam


biasa dan segitiga OAB bentuk dam Sabo yang disederhanakan.
Dengan bentuk seperti ini, dam Sabo sangat menguntungkan terhadap
gaya geser, namun kurang menguntungkan terhadap tekanan dasar
pondasi. Meskipun demikian, dam Sabo dengan sisi hilir yang hampir
tegak akan terhindar dari kerusakan akibat jatuhan batu-batu besar.

22

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Tabel 3.1 : Ilustrasi perbandingan gaya luar pada dam biasa dan dam Sabo
Segitiga OAB

Segitiga OAB

Catatan

( w/w )1/2

W : berat satuan air


W : berat satuan tubuh dam

tan

( w/w)1/2= 0,695

w/(w+w) = 0.303

Diasumsi w = 1,0 ; w = 2,3

maks

w x h = 2,3 h

( w + w ) h =3,3h

--- sda ---

Sumber, Sabo Implementation, For Practice of Erosion Control Works in Indonesia, VSTC-JICA 1986

Gaya luar yang bekerja berupa tekanan air statik dan tekanan tanah berasal
dari akumulasi sedimen yang dapat dibagi kedalam tiga kategori, yaitu :
Kondisi 1 : ( tekanan air ) + (tambahan tekanan sedimen lumpur)
Kondisi 2 : ( tekanan air ) + (tekanan endapan sedimen)
Kondisi 3 : ( tekanan tanah ) + ( tambahan air dan tekanan rembesan)

1
W

p3<p2<p1

p1

P2

P3

Gambar 3.3 : Tiga kondisi tekanan sedimen dan air pada tubuh dam Sabo

Terlepas dari aspek bentuk tubuh dam, untuk setiap kasus diatas dapat
diuraikan sebagai berikut.
Kasus no 1 :

Kondisi tekanan horisontal sama seperti sedimentasi yang


terjadi pada waduk, yang mengendap butiran halus (silt).

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

23

Untuk dam Sabo, proses ini akan berlangsung lama dapat


hingga 10 tahun sehingga tidak mengkawatirkan.
Kasus no 2 :

Kondisi ini merupakan kondisi umum yang terjadi pada


sedimentasi di ruang tampungan dam Sabo. Jika deposit
sedimen tidak mencapai kondisi penuh untuk waktu yang
lama, lapisan endapan paling bawah menjadi lebih padat,
sehingga tidak perlu diperhitungkan sebagai tekanan
sebesar pada kasus satu.

Kasus no 3 :

pada kondisi dimana akumulasi sedimen terjadi begitu


cepat di hulu dam Sabo, untuk bangunan dam konsolidasi
atau groundsill, tidak perlu memperhitungkan tekanan air
statik hingga penuh mencapai pada ketinggian bangunan.
Sering terjadi, ketika pekerjaan pembangunan sedang
berlangsung bagian hulu telah terisi penuh sedimen. Dalam
situasi seperti ini dapat terbentuk daerah tangkapan kecil,
yang mana ini tidak akan terjadi jika yang memenuhi
adalah tekanan air, karena waktu kejadian banjir hanya
berlangsung sangat singkat, lalu menjadi aliran kecil saja
sehingga tidak terjadi genangan.

3.2

Keganjilan Bagian Bangunan Dam Sabo.


Keganjilan struktur yang sangat berbeda dam Sabo, groundsill dan

sebagainya dibanding dengan bangunan lateral lainnya terlihat pada bentuk


bagian bangunan, seperti ambang pelimpah, sayap, apron dan lain-lain.
Perbedaan dengan bentuk dam pada umumnya dapat diuraikan berikut ini,

24

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

3.2.1. Ambang pelimpah.


Ambang pelimpah atau crown spillway merupakan bagian puncak dari potongan
dam, harus memiliki ketebalan bs , sedangkan pada puncak dam biasa secara
teoritis bs = 0.
bs

bs=0

Lengkungo g

Gambar 3.4 : Ambang pelimpah pada dam biasa dan dam Sabo.

Besaran bs minimum 1,50 m, sedangkan untuk kondisi alur sungai curam dan
alirannya kuat dan ganas disarankan ketebalan bs > 2,50 m. Endapan sedimen
yang tampak dalam gambar telah turun, tererosi selama banjir, kedalaman
antara 1,50 hingga 2,0 m.
3.2.2. Gaya luar pada sayap.
Desain dam Sabo selalu berbentuk trapesium, dalam perhitungan desain besaran
nilai m dan bs ditetapkan terdahulu, kemudian stabilitas bangungnan
dikontrol dengan menghitung nilai n.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

25

Metode perhitungan stabilitas sangat berbeda dengan dam berdasar segitiga.


Pada dam Sabo, stabilitas bangunan dikontrol terhadap limpasan, tidak
kondisi non limpasan.
Pada dam biasa, stabilitas bangunan dikontrol terhadap kondisi tidak
melimpas, kondisi limpasan diabaikan (andai dihitung hanya sebagai
referensi).
Perhitungan stabilitas bagian sayap dam Sabo perlu dilakukan, terutama untuk
sayap yang tingginya mencapai beberapa meter. Tinggi jagaan harus
disediakan dengan cukup , sesuai standar bangunan Sabo yang tersedia.
x
bo
x
Sayap
Segitigadasar

Pelimpah
x
bs
1:m

1:n
Trapesium

Gambar 3.5 : Bentuk dasar segitiga dan trapezium pada tubuh dam.

3.2.3. Apron dan bantalan air.


Perbedaan fungsional dari dam biasa dengan dam Sabo, dipandang dari aspek
bagian bangunan apron dan bantalan air dapat dengan mudah ditengarai sebagai
berikut,

26

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

TipeDambiasa

TipeDamSabo

Gambar 3.6 : Perbedaan fungsional dam biasa (A) dan dam Sabo (B).

Penjelasan gambar,
a.

Apron dam Sabo (B) lebih tebal daripada dam biasa (A).

b.

Pada apron A dapat diletakkan pada lapisan batuan, sedangkan apron dam
Sabo pada umumnya terletak pada lapisan pasir.

c.

Pada apron A umumnya lebih panjang daripada apron B, karena apron A


difungsikan untuk meredam energi terjunan air, dengan merubah aliran
super-critical menjadi sub-critical. Sedangkan pada apron dam Sabo,
energi jatuhan diredam oleh bantalan air di kolam apron.

d.

Pada dam Sabo, apron dilengkapi sub-dam untuk membentuk bantalan air.

e.

Tepat di hilir sub-dam pada dam Sabo sangat rawan terhadap gerusan
lokal (local scouring).

3.2.4. Pekerjaan sementara dan vegetasi.


Penerapan sistem Sabo berdasar pertimbangan manfaat, kehususan bangunan dan
kedekatan dengan alam, perlu upaya konstruksi murah memanfaatkan
ketersediaan material alami. Esensi benefiditas pekerjaan
Sabo dari sisi pandang yang sempit memang tidak melebihi fisililitas pekerjaan
umum lainnya, seperti bendung irigasi, jalan raya dan jembatan, fasilitas
pelabuhan dan sebagainya.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

27

Berbagai material vegetasi, seperti kayu semak-semak (brushwood), ranting


pepohonan (fascine) dan lain-lain dapat digunakan sebagai struktur bangunan
atau untuk memperkuat bangunan. Dibawah ini contoh bangunan sementara
dalam pekerjaan di bidang Sabo.

Gambar 3.7 : Bangunan Dam Sabo rendah bersifat sementara

Notasi :
G : bronjong kawat (gabion).
K : Kasten dari batu dan batang kayu.
C : selimut beton, dibuat setelah gabian stabil.
x
F

MAT

L2
H

Potonganxx

M1

L1
M2

Gambar 3.8 : pekerjaan bangunan Krib ( spur-dike) sementara.

28

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Notasi,
P : Krib tahap pertama.

F : Krib tahap kedua.

H : Elevasi muka air tinggi.

M : Bronjong / matras untuk setiap

L : Elevasi setiap tahapan.

tahap.

G2
V
MAR
T

G1

Gambar 3.9 : Bronjong ditambah vegetasi sebagai penguat bangunan

Notasi,
G 1 : Bronjong silinder.

G 2 : Bronjong matras

: Matras dari ranting atau akar pohon.

: Vegetasi.

: Pelindung lereng ( batu kosong ).

3.2.5. Pemeliharaan bangunan.


Sistem Sabo memberikan dampak positif terhadap konservasi tanah dan
penanggulangan bencana. Kebijakan kehutanan dan pertanian dalam hal
konservasi tanah mempunyai keterkaitan yang erat dengan sistem Sabo.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

29

Dibawah ini adalah

contoh

yang tidak baik dilakukan bagi

pemeliharaan

bangunan Sabo.

Dilarangmenggali,
menambang

Dilarangmenambang

MAT
MAR

Dilarangmenggali,
MAT
MAR

Gambar 3.10 : Contoh batasan lokasi yang tidak baik untuk digali.

30

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

BAB IV
PEKERJAAN TANAH

4.1.

Dam Pelindung dan Saluran Pengelak.


Dam pelindung atau coffer-dam dan saluran pengelak atau diversion

channel umumnya dibuat ketika sedang melaksanakan pekerjaan pondasi


bangunan air yang berada dibawah permukaan air.
(a)

(b)
aliran
2

aliran

Dampelindung

Spurs
1

hulu

hilir

Saluran

Dampelindung

pengelak

separoh

terbuka

Dampelindung

Gambar 4.1 : (a) Dam pelindung (coffer-dam) untuk setengah bentang sungai, dan
(b) Pembelokan aliran dengan saluran pengelak terbuka (diversion channel).

Dam pelindung pada gambar (a) disebut sebagai dam pelindung setengah lebar
sungai. Tipe ini paling populer dipergunakan untuk bangunan di sungai.
Pelindung lain pada gambar (b), biasanya disebut sebagai saluran pengelak
terbuka atau diversion channel. Bila saluran pengelak direncanakan untuk
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

31

mengalirkan air keluar tebing sungai maka disebut terowongan pengelak atau
diversion tunnel.
Untuk mengeluarkan air yang masih bocor masuk melalui dam pelindung,
biasanya dibuat saluran kecil sepanjang dam tersebut dan dilengkapi satu atau
dua bak dangkal untuk memudahkan pemompaan keluar.
Aliran

a
Pompa
Bakpengumpulair

Saluran
a

MAR
Potonganaa

Gambar 4.2 : Pengeringan air rembasan keluar dari coffer-dam melalui saliran kecil,
bak pengumpul air dan pompa.

Hal yang perlu diperhatikan adalah,


1. Jika dam pelindung atau coffer-dam dan saluran pengelak hendak
dipergunakan dalam jangka waktu cukup lama, satu tahun atau lebih,
maka elevasi puncak dam pelindung harus diperhitungkan terhadap
kapasitas debit saluran pengelaknya. Di sisi lain, faktor ekonomis saluran
pengelak pada batas tertentu juga tetap diperhatikan.
2. Tinggi muka air untuk mengetahui debit puncak aliran perlu diketahui
melalui alat ukur pada lokasi yang tepat.

32

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

4.2.

Pemadatan Tanggul Dan Perlidungan Lereng.


Spesifikasi bangunan tanggul pada pekerjaan Sabo tidak seberat tanggul

pada pekerjaan sungai di dataran bagian hilir. Dari sudut pandang Teknik Sabo,
pembuatan tanggul tinggi di bagian hulu sungai bukan menjadi pilihan, karena
kapasitas sungai yang terbentuk oleh tanggul dengan cepat akan terisi sedimen.
Di Indonesia, bangunan tanggul yang terbuat dari timbunan pasir telah banyak
diterapkan untuk melengkapi bangunan kantong pasir atau sand pocket.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dapat dikemukakan disini adalah,
1.

Material timbunan.
Sudah menjadi hal yang jamak, bahwa material timbunan tanggul harus
terdiri dari campuran tanah berpasir (clayey earth) dengan porsi
kandungan pasir yang tepat, yaitu antara (40 45) % dari volume tanggul.
Disamping itu, sangat dimungkinkan untuk menggunakan material lain
yang lebih baik dan ekonomis. Perlu dicoba untuk memperoleh pilihan
terbaik lainnya sebagai bahan pembuat tanggul, salah satunya dapat
dipertimbangkan penggunaan konstruksi vegetasi dari berbagai jenis
tanaman.

2.

Penyebaran material dengan pemadatan


Material tanggul harus disebar setiap tebal 20 30 cm, dipadatkan
menggunakan peralatan secukupnya, seperti tamping roller , dll.
Pekerjaan pemadatan biasanya dilakukan searah panjang tanggul, sambil
memperhatikan kepadatan daripada timbunannya. Gambar dibawah ini
contoh salah cara pekerjaan penimbunan tanggul.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

33

Alatberat
h+h

Gambar 4.3 : Ilustrasi penimbunan tanggul yang salah dengan alat berat.

3.

Penimbunan extra.
Penimbunan extra biasa dilakukan guna mengantisipasi penurunan
tanggul setelah selesai dibuat.
Pada gambar, tinggi e biasanya ditetapkan sebesar 10 % dari tinggi
tanggul. Konsekuensinya, kemiringan tanggul awalnya tampak menjadi
sedikit lebih curam dari yang ada pada desain.
e

s
Gambar 4.4 : Penimbunan extra e untuk antisipasi penurunan tanggul s.

Notasi ,
e

: penimbunan extra.

M : tebal lapisan timbunan.

4.3.

S :
t

penurunan.
gebalan rumput.

Longsoran Permukaan Tanggul.


Tanggul yang terbuat dari campuran material pasir tdak beraturan, lereng

tanggul akan sering mengalami longsoran, terutama jika sudut kemiringan lereng
tanggul terlalu curam.

34

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Di Indonesis, kasus lonsoran tanggul dalam bentuk sliding circle jarang terjadi.
Yang banyak terjadi adalah tanggul pasir yang rusak akibat pengaruh erosi cepat
seusai tanggul dibuat. Lereng tanggul yang dibuat curam tanpa diberi tanaman
pelindung akan mudah rusak akibat curah hujan lebat.
Jika

permukaan tanah jenuh akibat rembesan

air bawah tanah bertemu

permukaan lereng tanggul, maka kondisi yang diperlukan agar lereng tetap stabil
dapat diperhitungkan seperti berikut,
Permukaan
tanah
i

Airrembesan

Equipotential

Gambar 4.5 : Pengaruh rembesan air bawah tenah pada permukaan lereng.

tan

Jika,

tan =

dimana ,
t

: berat satuan tanah.

: berat satuan tanah didalam air.

: sudut seperti pada gambar.

: sudut kemiringan tanggul.

: sudut geser dalam tanah.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

35

Secara umum, sudut harus lebih kecil daripada sudut geser dalam tanah .
Besaran t dan t didapat dari persamaan,
dan

Dimana,
Gs

: berat spesifik murni partikel tanah.

: tingkat kejenuhan.

: angka pori (void ratio).

: berat satuan air.

Untuk mengetahui kondisi minimum yang diperlukan untuk menjaga stabilitas


lereng yang jenuh,

faktor-faktor vtersebut dapat diasumsikan secara kasar

sebagai berikut,
= 32o ; S = 1,0 ; G = 2,65 ; n = 35 % (porositas).
,
,

t =

0,54
/

1,07 t/m .

Substitusikan kedalam , maka didapat :


tan
Jadi

,
,

tan 32

0,323

nilai i = 17 54

Dengan cara yang sama, jika diasumsikan nilai-nilai ,


= 35 ; S = 1,0 ; G = 6,25 ; n = 32 ( e = 0,47)

36

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

tan i = 1,12 / 2,07 x tan 35 = 0,370


jadi

i = 20 18

Jadi, secara umum kemiringan tanggul sebaiknya adalah


1 : 2,0 (i = 26 34) hingga

1 : 2,50 ( i = 21 48).

Di Indonesia pada umumnya kemiringan tanggul dibuat 1 ; 1,50 (i = 33 39),


mengakibatkan kebanyakan slope yang longsor bukan disebabkan oleh ketinggian
air, akan tetapi lebih disebabkan oleh curah hujan tinggi.

4.4.

Counterweight Versus Quick Sand.


Pondasi tanggul yang tembus air (pervious foundation), seringkali

mengalami peristiwa yang disebut sebagai quicksand. Phenomena ini biasanya


berkembang menjadi rembesan atau piping yang berkelanjutan dan berpotensi
merusak tanggul.
Untuk meningkatkan faktor keamanan, banyak diterapkan

sistem timbunan

sebagai beban perimbangan atau counterweight.


G

Fs

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

G
.

.D

Fs

37

Semiimpervious

coffer dam
Menyembulkeatas

h1
Pondasiimpervious

Pondasipervious

Saturationline
W1(t/m2)

Pondasipervious

W1(t/m2)

Gambar 4.6 : Beban perimbangan (counterweight) untuk mengatasi quicksand.

iF

Fs

Dimana,
Gs

: berat jenis partikel tanah (pasir).

: angka pori (void ratio).

h1

: tinggi tekanan air ( m ).

: kedalaman penetrasi kedalam tanah.

: berat satuan air.

Fs

: Faktor keamanan terhadap piping.

iF

: kemiringan hidraulik kritis.

Dalam hal diterapkan sistem beban berat perimbangan, faktor keamanan Fs dapat
dihitung dengan rumus berikut ini,
G

F
38

.D W
.

. H

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Dimana,
W1

: berat timbunan material counterweight

( t / m2).

: tinggi timbunan counterweight

( m ).

: berat satuan material counterweight

( t / m).

Berikut ini adalah contoh perhitungan untuk lebih memberikan pemahaman


terhadap konsep counterweight secara umum.
Diasumsikan suatu pondasi pasir,
porositas n = 46 % untuk material lepas.
porositas n = 35 % untuk material yang agak kompak.
Selanjutnya kemiringan hidraulik kritis iF dapat dihitung,
`

n = 46 % ; e = 0,852

n = 35 % ; e = 0,539

Kemudian, dengan rumus iF seperti yang telah disebutkan sebelumnya


(diasumsikan Gs = 2,66), maka dapat dihitung,
iF

iF

,
,

0,896

D = h1 / 0,896.

1,079

D = h1 / 1,079

Pada kenyataan di lapangan, dalam kondisi normal,


nilai Fs diambil antara 8 - 12, atau paling sedikit Fs > 5.
Dalam gambar diatas, saturation line rembesan air melewati tubuh dam dapat
dikontrol dengan efektif oleh timbunan beban perimbangan pada waktu
bersamaan. Timbunan ini disebut sebagai berm.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

39

Namun demikian perlu dicatat bahwa diantara beberapa kasus dapat terjadi hal
yang sangat berbeda, misalnya bangunan pelindung sementara (temporary cofferdam), dam urugan tanah pada waduk, tanggul dan sebagainya.

Untuk dam

pelindung sementara boleh menggunakan faktor keamanan Fs yang lebih kecil.

4.5.

Daya dukung tanah pondasi.

Beberapa nilai daya dukung tanah atau bearing capacity pondasi adalah,
-

Batuan keras / kuat

160 - 270 t / m3.

Batuan agak lapuk

90

200 t / m3.

Pasir / kerikil kompak

70

110 t / m3.

Pasir kasar dan kerikil

30

70

Tanah berpasir, lempung (loamy)

20 t / m3.

t / m3.

Pondasi pada lapisan batuan atau pasir/ kerikil yang kompak biasanya tidak
banyak masalah, terutama untuk pekerjaan yang sifatnya sementara.
Kapasitas daya dukung ultimate atau Ultimate bearing capacity dibawah
pondasi memanjang dapat dihitung dengan rumus Prndtls sebagai berikut,
cot
= 0o (lempung) ;

tan 45

45

qu = ( + 2 ) c = 5,14 c.

Untuk telapak berada pada kedalaman z m dari permukaan tanah,


qu = 5,14 c + t . z
dimana,

40

qu

: kapasitas daya dukung ultimate

( t / m2).

: kohesi

( t / m2).

: sudut geser dalam (internal friction angle ( t / m3).


SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

: berat satuan tanah

( t / m3 )

: kedalaman dari muka tanah

(m)

: 2,71828183

Contoh perhitungan.
Jika b = 4,0 m ; c = 500 kg/m2 ; = 20o ; t = 1,6 t / m2
Maka ultimate bearing capacity dapat dihitung,
0,5

cot 20

1,6

1,6

2 = 59,80 t /m2

tan 55

55

( Rumus Prandtls).

Ultimate bearing capacity merupakan suatu kapasitas daya dukung yang dapat
mengakibatkan keruntuhan geser tanah. Oleh sebab itu, faktor keamanan secara
praktis cukup beralasan jika diambil minimal antara 2 3, meskipun pada
bangunan sementara.
Untuk kasus pondasi tanah berpasir (sandy soil) dimana nilai kohesi dapat
dianggap nol, kedalaman telapak adalah,

. .
2

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

1
1

sin
sin

41

Dimana

: beban

: luas dasar ( m2).

: kedalaman pondasi (penetrasi)

( m ).

: berat satuan tanah

( t / m2 ).

: sudut geser dalam


,

Jika
Maka

42

( t ).

: tegangan geser konjugasi dalam tanah ( t / m2 ).


t = 1,6 t / m2 ; = 35o

P = 52 ton; F = 2 m x 2 m;
,
,

= 0,59 60 cm.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

BAB V
PEKERJAAN PASANGAN BATU

5.1

Stabilitas Pasangan Batu.


Berbeda dari dinding penahan tipe gaya berat atau garvity-type retaining

wall yang mempunyai bentuk pendek gemuk, dinding pasangan batu atau
masonry work (wall) mempunyai bentuk tubuh bangunan yang sedikit ramping.
Tubuh dinding pasangan batu harus dipertimbangkan terbagi dalam beberapa
komponen.
a)

b)
x

Garistekanan
E

R
y

Gambar 5.1 : Dinding penahan tipe gravity (a) dan dinding pasangan batu (b).
Berikut ini suatu cara sederhana yang dapat dipergunakan mengontrol stabilitas
dinding batu.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

43

5.1.1. Rumus garis tekanan.

x
h1

G
1:n

h2

A
Garistekanan

x0
P
R

x
b
y

Gambar 5.2 : Skematik cara perhitungan kontrol stabilitas dinding pasangan batu.

Pada kondisi M = 0 sekitar titik P,


Gx = Ea + Gx0
cot
;
Dimana,

Maka

.C

: tekanan tanah pada tubuh pasangan batu.


w

: berat satuan tanah.

: koefisien tekanan tanah.

Berat tubuh pasangan batu adalah,


Dimana

.y

: berat satuan tubuh pasangan batu


.
. .

.. ( 1 )

adalah rumus untuk garis tekanan

44

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Sepanjang nilai x < jarak A P, tubuh dam akan aman. Demikian halnya untuk
setiap potongan, seperti A B.
Untuk memperoleh rute garis tekanan,
ambil

h1 < 2 b, dan h2 = 2 h1 ; h3 = 3 h1 . dst.

diasumsikan, w = 1,6 t/m3 ; = 2,3 t/m3 dan


b = 0,35 m,

0,331

sin

b = 0,45 m,

0,258

sin

Nilai c biasanya diperoleh dengan menggunakan persamaan dibawah ini,

( 2 )
dimana ,

: sudut geser dalam tanah.

Tekanan tanah diasumsi bekerja bekerja secara horisontal.


b/2
B=35cm
0

10
y
20

30

Diagram berikut ini suatu contoh


garis tekanan persamaan ( 1 )

40
=40o

=20o

b = 0,35 dan b = 0,45.

=30

Diasumsi w = 1,6 t/m3


50m

30m

20

untuk nilai n = 0,4 ( B = 111o48)

10

= 2,3 t/m3

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

45


b/2

B=45cm

Dapat dilihat bahwa berdasarkan

dimensi
10

b, stabilitas dinding

pasangan batu berbeda sedikit


y

20

30

lebih besar,
Ini berarti bahwa tebal dari setiap
blok sebaiknya didesain lebih
besar dan dilaksanakan secara

=40o
40

berhati-hati.

=30
o

=20

50m
30m

20

10

5.1.2. Batas ketinggian dinding pasagan batu.


Pada kondisi dimana garis tekanan harus tetap berada didalam ujung pertemuan,
maka berlaku rumus sebagai berikut,
x - y cot + b/2 . ( 3 ).
Dimana diasumsikan bahwa AB b, karena biasanya n < 0,5.
Batas tinggi dinding pasangan batu didapat dengan menempatkan persamaan (1)
disamakan dengan persamaan (3).
.

. .

( 4 )

Sebagai contoh, dengan asumsi;


b = 0,35,

n = 0,4 ( = 111o 48o ) , = 30o . Y = 4,74 m.

b = 0,45

n = 0,4 ( = 111o 48o ) , = 30o . Y = 6,08 m.

(dalam hal ini w = 1,6 t/m3 ; = 2,3 t/m3).

46

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

5.1.3. Tebal dinding pasangan batu.


Dengan kondisi bahwa setiap blok dinding
pasangan batu tidak akan bergerak
G

f G

horizontal akibat gaya luar yang bekerja,


fG E

(H=0)

dimana,

G= .b.h
E = . w . h2. C
Gambar 5.3 : Asumsi blok dinding pasangan batu tidak bergerak horisontal.

Sehingga, diperoleh rumus seperti dibawah ini,


.
. .

( 5 )

Rumus ini memberikan ketebalan dinding batu yang cukup. Pada rumus tersebut
koefisien geser antara dua blok biasanya secara praktis diambil 0,65 0,70 .
Diagram berikut ini dapat dipergunakan untuk mengetahui hubungan antara
tinggi (h), sudut geser dalam tanah () dan tebal pasangan batu (b) pada kondisi
kemiringan dinding (m) = 1 : 0,4.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

47


0
45m 35m
20
o

=20

40

=40o
=30o
60

80

100m
60m

40

20

0
b

Diagram diatas menunjukkan sudut geser dalam tanah

yang memberikan

pengaruh sangat besar terhadap stabilitas dinding pasangan batu.


5.1.4. Beban tambahan pada pasangan batu.
Jika pada puncak pasangan batu terdapat tambahan beban, biasanya beban
tambahan tersebut dikonversikan sesuai ketinggian tanah.
Dapat diasumsikan pula secara praktis bahwa titik gaya pada tanah tidak berubah
(tidak bekerja pada ketinggian h/3).

48

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

h
y

Gambar 5.4 : Beban tambahan pada dinding pasangan batu.

Dengan asumsi seperti tersebut diatas, rumus no (1) yang telah disebutkan
sebelumnya dapat dijelaskan sebagai berikut,
.

. .

. .

.... ( 1 )

Dengan membandingkan kedua rumus (1) dan (1), didapat suatu terminologi
. .
. .

Rumus (1) merupakan bentuk pergerakan koordinat x pada rumus (1).


Berkenaan dengan ketebalan dinding pasangan batu b, terdapat suatu kenaikan
kedalaman, yaitu,
.

. .

( 5 ).

Kemungkina adanya pembebanan tambahan selalu harus dipertimbangkan akan


dapat terjadi.

Gambar 5.5 : Ilustrasi pembebanan tambahan yang perlu diperhatikan.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

49

Jika bangunan dinding pasangan batu yang telah selesai dibuat kemudian kurang
memperhatikan menculnya beban tambahan, akibatnya dapat terjadi apa yang
dinamakan bulking yang pada akhirnya dapat menyebabkan keruntuhan
dinding pasangan batu tersebut.

5.2

Tekanan Tanah dan Isian Belakang Pasangan.


Untuk keperluan praktis, perlu pengelompokan terhadap hal yang

berkaitan dengan stabilitas pasangan batu. Pengelompokan ini dilakukan


berdasarkan pada hal yang telah diuraikan sebelumnya, seperti garis tekanan,
tinggi dan tebal pasangan batu, pembebanan pada pasangan batu, tambahan beban
yang terjadi pada dinding pasangan batu dan sebagainya.
b
k

o m

h1

h2 I
ho

P
e

II

u
b

Notasi.

N
t

S:lebarbatu.
t:tebalbetonbelakang
u:isiankerikil

Gambar 5.6 : Diagram tekanan tanah dan isian belakang dinding pasangan batu.

Berbagai asumsi yang diberikan gambar diatas dapat diutarakan sebagai berikut,
a. Untuk potongan I, II, N, setiap blok yang ada, seperti blok k,j,m,n
diperhitungkan sebagai bagian yang homogen dari tubuh dinding
pasangan batu.

50

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

b. Setiap gaya P diasumsikan bekerja secara horisontal, sehingga tahanan


geser di belakang dinding secara praktis diabaikan.
c. Permukaan tanah dianggap datar, meskipun beban tambahan diketahui
dapat dikonversikan kedalam tinggi tanah.
d. Distribusi tekanan tanah dipertimbangkan secara theoritis seragam
bervariasi proporsional terhadap ketinggian tanah.
e. Dampak buruk air hujan tidak disinggung samasekali. Artinya bahwa
keberadaan air dalam tanah diabaikan.
Tidak semua asumsi yang telah dibicarakan diatas meskipun bermanfaat selalu
harus diikuti jika memang diyakini tidak sesuai keadaan di lokasi setempat.
Beberapa kunci pokok yang berkaitan dengan tekanan tanah dapat dijelaskan
pada uraian berikut.
5.1.1. Perbandingan sederhana pada tekanan tanah.
Untuk membuat suatu perbandingan tekanan tanah, empat kasus yang sering
dijumpai, termasuk di lokasi pekerjaan sementara diutarakan sebagai berikut.
Kasus I :
Tanah non-kohesi, mendatar dan tidak ada geseran antara dinding dan tanah.
.

Jika

= 30o maka P = 0,167 . h2.

90o

Kasus II :
Tanah non- kohesi, mendatar dan sudut geser sama dengan sudut geser dalam.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

51

P
h

Jika

= 30o maka P = 0,148 . h2

90

Beberapa kenyataan yang perlu menjadi pertimbangan dalam hal dinding


pasangan batu ialah,
a. Jika dibandingkan dengan kasus I, tekanan tanah pada kasus II lebih
kecil.
b. Geseran antara dinding dengan tanah memberikan keuntungan
terhadap stabilitas dinding pasangan batu.
c. Isian batu kerikil di belakang dinding pasangan batu sangat efektif
untuk meningkatkan gaya geser antara dinding dan tanah. Ini tidak
sama dengan dinding penahan biasa dari beton atau beton bertulang.
Ini merupakan suatu kenyataan yang perlu selalu diperhatikan.
d. Keberadaan rembesan air (seepage water) dibelakang dinding
pasangan batu atau beton memberikan pengaruh hampir sama, karena
kelebihan air akan mengurangi geseran.
Kasus III.
Tanah non-kohesi, kemiringan tidak terbatas, kemiringan sama dengan sudut
geser dalam.

P
h

=90o

52

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Jika

= 90o

= 30o maka P = 0,433 . h2


Tekanan tanah pada kasus III besarnya hampir tiga kali lipat dari kasus II. Hal ini
penting

diperhatikan dalam membedakan antara situasi yang satu dengan

lainnya.
Kasus IV.
Tanah non-kohesi, tambahan beban setinggi h1, kemiringan sama dengan sudut
geser dalam.

cot

cot

cot

h1

P
h

=90o

Dimana, = + 2
cot

cot

cot

( = 90o ; cot = 0 ; = 90o + 2 )


Dengan mengasumsikan = 30o , nilai P sesuai nilai h1 / h menjadi sebagai
berikut,
h1 / h = 0,2

maka P = 0,200. . h2

h1 / h = 0,5

maka P = 0,253. . h2

h1 / h = 1,0

maka P = 0,304. . h2

h1 / h = 2,0

maka P = 0,351. . h2

h1 / h = 3,0

maka P = 0,373. . h2

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

53

Dari uraian diatas, kini dapat dengan mudah diketahui berapa bebantambahan
yang dapat terjadi.
Misal, beban tambahan h1 / h = 0,5 didesain untuk dinding batu pada kasus II,
ini berarti tekanan tanah akan meningkat sekitar 70 %. Dalam hal yang sama, jika
h1 / h = 1,0 maka tekanan P akan menjadi dua kali lebih besar dari kasus II.
Jadi jelas, bahwa beban tambahan menjadi berbahaya jika tidak diperhitungkan
sejak awal ketika membuat desain.

5.3

Peranan Kerikil Sebagai Back-fill.


Dalam rumus garis tekanan atau pressure line, pada setiap blok seperti j

k , resultan gaya luar tidak boleh melewati titik ujung depan atau (toe) dari
sambungan blok (j). Ini berarti pada titik ujung belakang (heel) sambungan blok
(n) akan terjadi tekanan negative, yaitu tegangan tarik. Meskipun beton memiliki
daya tahan terhadap gaya tarik hingga batas tertentu ( 2 3 kg/cm2), keberadaan
sambungan blok (j n) yang sebenarnya berasal dari struktur dinding pasangan
batu harus dimanfaatkan. Pada dasarnya pekerjaan pasangan batu jauh berbeda
dengan beton yang homogen. Pentingnya keberadaan kerikil belakang dinding (m
p q n) tidak boleh terlalu menekan.
m p

drain

Gambar 5.7 : Peran kerikil sebagai back-fill pada dinding pasangan batu.

54

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Peranan kerikil sebagai pengisi di belakang dinding pasangan batu dijelaskan


sebagai berikut,
1. Fungsi back-fill adalah menyebarkan tekanan tanah secara merata dan
menstabilkan dinding pasangan batu dalam waktu yang lama. Konsentrasi
tekanan tanah pada dinding terkonsentrasi pada titik-titik lemah, seperti
sambungan blok (j n), yang juga mengalami retakan akibat gaya tarik.
2. Kerikil pengisi belakang dinding berfungsi memperbesar geseran antara
dinding pasangan batu dengan tanah di belakang dinding.
3. Kerikil pengisi belakang dinding cocok sebagai drainasi rembesan air dari
belakang dinding. Sekumpulan kerikil membentuk suatu lapisan filter
bagi tanah dan mengatus air keluar melalui pipa drainasi kecil.
Standar praktis besaran back-fill direkomendasikan sebagai berikut,
Untuk tinggi hingga 2,0 m, tebal back-fill 30 40 cm (m p - n q).
Untuk tinggi hingga 3,5 m, tebal back-fill 30 60 cm. (m p - n q).
Untuk tinggi hingga 5,5 m, tebal back-fill 30 80 cm. (m p - n q).
Untuk tinggi hingga 7,0 m, tebal back-fill 30 85 cm. (m p - n q).

5.4

Beberapa Aspek Tekanan Tanah.


Berdasarkan theory Coulombs, dapat
(a)

diasumsikan suatu garis longsor A-E


pada tanah, seperti gambar berikut ini.

AE : bidang gelincir.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

sudut geser dalam.

(+)

55

Theory Goloumbs menyebutkan bagian ABE sebagai baji tanah atau earth
wedge.
Kasus berikut ini cukup sering terjadi, meskipun agak jauh dari theori Coloumb,s
(b)

E
(S)

(S)

: lapisan keras.

(R)

: batuan

(L)

: tanah lempung (keras)

BEF : baji tanah (esrth wedge) / aktif.


Q

F
<90o

(L)
P

(R)

PQ

: penetrasi kedalam tanah / aktif.

Meskipun sepertinya dua kondisi dinding pasangan batu pada yang pertama dan
yang kedua ini hampir sama, namun perlu dicermati adanya perbedaan yang
mendasar dari keduanya.
Seperti terlihat dalam gambar, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah,
1. Kondisi karakteristik tanah tidak homogen, gambar ( b ).
2. Tidak perlu menggantungkan pada sudut geser dalam garis A-C seperti
tampak pada gambar ( a ), akan tetapi kemiringan E-F pada gambar ( b )
mampu menciptakan stabilitasnya sendiri karena konfigurasi alami
struktur tanah yang keras.
3. Tekanan oleh baji tanah BEF cukup sebagai tekanan tanah yang harus
diperhitungkan.
4. Dinding penahan dengan sudut kemiringan < 90o disebut sebagai dinding
penahan miring atau reclining retaining wall.
5. Tipe dinding penahan miring ini lebih populer dipergunakan daripada tipe
dinding penahan yang berdasarkan theori Coloumbs seperti gambar ( a ).

56

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Pada gambar ( b ), tampak adanya bagian dinding P-Q yang masuk tanah sebagai
embedment atau penetrasi kedalam tanah asli. Tekanan tanah yang terjadi pada
bagian P-Q ini disebut sebagai tahanan tanah atau resistance of earth sebagai
tekanan tanah negatif. Jika diasumsikan besaran = 30o , tekanan tanah pasif
dapat mencapai sembilan kali lebih besar dari tekanan tanah aktif.
Sebagai contoh,
.

.
.

3 .

3. .

(tekanan aktif).
9 .

(tekanan pasif).

Jadi, stabilitas dinding yang ada sudah jauh lebih besar dari yang diperhitungkan,
karena dalam desain biasanya stabilitas tekanan tanah negatif diabaikan. Pada
dinding penahan, hal yang sering diabaikan yaitu beban terkonsentrasi, getaran
atau benturan, terutama dinding penahan pasangan batu.
Contoh berikut ini, tambahan beban q t/m2 dapat dikonversikan kedalam beban
tanah setinggi h = q t / m2, diteruskan rata ke tanah.
h=q/

qt/m2

Gambar 5.8 : Konversi beban tambahan kedalam beben tanah.


Perlu diperhatikan bahwa pasangan batu tidak merupakan satu kesatuan, tetapi
merupakan gabungan dari bagian-bagian. Ini berbeda dengan dinding penahan
yang terbuat dari beton.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

57

Dari uraian diatas, ada beberapa hal terkait dengan beban tambahan yang perlu
diperhatikan pada dinding penahan pasangan batu, yakni,
1. Tambahan beban terpusat tidak terlalu dekat dengan puncak dinding
penahan, karena meningkatnya dorongan lateral terpusat akibat beban
getaran mengakibatkan blok dinding pasangan batu rusak atau terlepas.
2. Dalam mengatasi beban tambahan, selain menjauhkan beban dari dinding
penahan pasangan, cara lain yang ada pada umumnya terlalu mahal.
3. Isian kerikil di belakang dinding penahan atau back-fill mampu berfungsi
sebagai penyaring atau filter rembesan air dalam tanah.
4. Penggunaan pipa kecil sebagai lubang alir atau drains sangat
disarankan. Ini berfungsi menurunkan tekanan air belakang dinding ketika
kondisi tanah telah jenuh air, sehingga tekanan air meningkat.

5.5

Pekerjaan Pasangan Batu.

5.5.1. Penempatan batu.


Pekerjaan pasangan batu, berdasarkan cara penempatan setiap batunya, dapat
dibagi kedalam dua macam, yaitu pasangan batu searah / berlapis atau coursed
dan tidak searah atau uncoursed.
Sistem searah saat ini sudah tidak banyak dilakukan karena alasan tertentu,
diantaranya cara pemasangan lebih sulit dan kualitas batu yang baik sudah sulit
diperoleh. Sedangkan sistem yang tidak searah hingga kini masih banyak
dipergunakan.

58

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Coursedmasonry

Uncoursedmasonry

Gambar 5.9 : Pemasangan batu, coursed masonry dan uncoursed masonry

Saling persentuhan antar ujung permukaan batu berperan penting meneruskan


tekanan dari puncak ke dasar dinding. Tebal lapisan a dan a harus
diperhatikan. Semakin tebal lapisan a pasangan batu semakin aman Ketebalan
a sebaiknya diambil lebih dari 3 cm.
a

Gambar 5.10 : Pasangan batu yang benar (kiri) dan yang salah (kanan).

5.5.2. Penutup atas dan landasan dinding pasangan batu.


Dalam pemasangan batu untuk dinding penahan, batu penutup atas atau coping
stone dan batu landasan atau base stone, kini dalam prateknya sering dilupakan.
Pada waktu lalu, batu penutup atas dan batu landasan selalu dipilih dari batu yang
berukuran paling besar.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

59

Batu yang ditempatkan di puncak pasangan dinding batu disebut batu penutup /
topi atau coping stone, berfungsi untuk memperkuat bagian atas pasangan
terhadap gangguan dari luar, seperti benturan, tekanan lateral baik oleh alam
maupun aktivitas manusia.
Pada gambar berikut, batu c yang terletak persis dibawah batu penutup
biasanya dipilih batu yang berukuran sedikit lebih kecil daripada batu lainnya,
bertujuan agar diperoleh permukaan atas yang mulus.
Ada beberapa contoh pelaksanaan pemasangan yang tidak baik yang dapat
dikemukakan disini, antara lain seperti gambar berikut ini,
Salah

Batupenutup

Batupenutup

(benar)

(benar)

Gambar 5.11 : Contoh pemasangan batu penutup yang benar dan tidak benar.

Gambar paling kiri, penutup atas yang seharusnya dipergunakan batu penutup,
hanya ditutup dengan mortar semen. Batu landasan yang berperan sebagai
pondasi pasangan batu dinding penahan harus lebih besar daripada batu lainnya.
Hal ini tentu mudah difahami berkenaan dengan fungsi pondasi pada suatu
bangunan.
Salah satu yang efektif dan banyak dipergunakan adalah menggunakan landasan
dari beton, terutama jika kondisi tanah dasar tidak baik, daya dukungnya terlalu
kecil.

60

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO


900

Landasanbatu

Landasanbeton

Gambar 5.12 : Landasan batu (kiri) dan landasan beton (kanan).

Bentuk landasan beton sebaiknya mengikuti bentuk stabil seperti pada gambar
diatas.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

61

BAB VI
POKOK PENTING IMPLEMENTASI SABO

6.1.

Apron Dengan Bantalan Air.


Lubang dalam yang terbentuk di titik jatuhan air di depan dam utama

dalam terminologi geomorphologi disebut dengan circus, seperti telihat dalam


gambar berikut ini.
Q0
V0

H
S

T
C
L

Gambar 6.1 : Bantalan air yang dibentuk oleh sub-dam dan lubang circus.

Notasi,
T

: kedalaman bantalan air.

V : lecepatan jatuh air.


L : jarak antara dam utama dan sub-dam.
h : tinggi fore done.
S : sub-dam (pada posisi yang sesuai).
C : lubang circus.

62

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Q : debit aliran ( per satuan lebar).


: tinggi tampalan sub-dam.
F : fore -dune.
Material hasil gerusan oleh jatuhan air dan sedimen terbawa aliran air
membentuk gundukan kecil (low dune) sedimen persis di hilir circus. Akumulasi
sedimen yang membentuk gundukan kecil ini dinamakan fore dune yang
menyebabkan lubang circus semakin dalam. Semakin dalamnya circus menjadi
semakin efektif untuk mengurangi energy air yang jatuh berkat pusaran air yang
bergulung.
Berdasarkan hasil uji model hydraulic, DR.Fushintani mengemukakan rumus
sebagai berikut,
,

102,04

0,0139

dimana,
= berat satuan material dasar;
= berat satuan air.
Jika diasumsikan

= 2,65,
0,095
,

= 1,0

maka rumus tersebut menjadi,

0,000224

Meskipun dalam rumus tersebut terdapat satu pertentangan, namun banyak


manfaatnya.
Dari rumus ini dapat dengan mudah diketahui debit Q dan diameter rata-rata yang
banyak berpengaruh terhadap dalamnya lubang circus T, demikian juga dengan
tinggi jatuhnya air adalah serupa.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

63

Jarak antara sub-dam dan main-dam menurut DR Fushitani dapat diketahui


melalui persamaan berikut,
,

Rumus ini dapat pula untuk,


1. Menunjukkan posisi sub-dam yang benar.
2. Memperlihatkan bahwa fungsi apron hanya sebatas untuk menghindari
terjadinya circus dengan menghubungkan antara main-dam dengan subdam. Apron sepertinya tidak lebih dari sekedar proteksi sementara
terhadap circus.
Tidak jarang terjadi bahwa sub-dam direncanakan dan dilaksanakan pada posisi
S dalam gambar. Hal seperti ini tentu saja tidak akan efektif sesuai fungsinya.

3
6

5
1

4
u

2
j

Gambar 6.2 : Urutan pelaksanaan per bagian dam Sabo.

Meskipun urutan pelaksanaan dalam pembuatan setiap bagian dam Sabo tidak
ada aturan yang pasti, namun berikut adalah urutan pelaksanaan secara umum
dengan mempertimbangkan sistem drainasi yang memadai selama pembangunan.
Urutan (3) dan (4) merupakan alternative yang tergantung pada situasi setempat.
Bagian u, j, k harus diisi dengan batu-batu ukuran cukup besar sebelum ditutup
beton atau bangunan diatasnya. Jika tidak, apron atau bagian tepat di hilir subdam akan cepat mengalami kerusakan serius. Kenyataan ini benar adanya, namun
demikian seringkali kurang diperhatikan.

64

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

6.2.

Garis Endapan Dan Gerusan Hilir.

Seringkali perencana cenderung mengasumsikan kemiringan seimbang (seperti


garis o p) merupakan suatu garis yang tetap, tidak dapat berubah lagi.
A
A1
p
B
OO

B1

B2
f

Gambar 6.3 : Garis deposit dan gerusan di hilir bangunan.

Notasi,
f

: gerusan lokal.

: degradasi.

Garis penuh

: garis endapan rencana / kemiringan statik.

Gasris patah

: garis endapan sementara / kemiringan dinamik.

Garis o p tersebut sebenarnya dapat berubah, tergantung pada,


1. Jumlah aliran atau pasokan sedimen dari hulu,
2. Formasi geologi material dasar sungai.
3. Besaran gelombang banjir, dll.
Garis patah-patah pada gambar disebut garis kemiringan seimbang dinamik.
Kadangkala, ketika terjadi aliran banjir dengan kandungan sedimen tinggi, garis
ini melebihi puncak sub-dam dari dam Sabo diatasnya.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

65

Ini bukan berarti kesalahan perencanaan. Pada beberapa kasus, meskipun garis
kemiringan dasar sungai seimbang telah direncanakan, namun kadangkala dasar
sungai masih turun mencapai batas g yang terarsir, terjadilah degradasi dasar
sungai. Degradasi ini perlu dibedakan dengan kasus gerusan lokal f.
Untuk mengatasi masalah degradasi dasar sungai umumnya bukan hal yang
mudah. Namun kecenderungannya, kasus semacam ini tidak berlangsung lama
dan dapat diatasi dengan jenis pekerjaan yang bersifat sementara sementara.
5
4
3

(5)
(1)

2
(3)
1
(4)
(2)

O3

O2

O1

Gambar 6.4 : Prinsip urutan pelaksanaan pembuatan dam Sabo.

Jadi menjadi lebih jelas bahwa garis o p sangat variable, sehingga tidak raguragu lagi untuk menentukan urutan pelaksanaan.
Dari gambar diatas dapat dijelaskan beberapa hal, yaitu,
1. Pada prinsipnya, urutan pembuatan bangunan dam Sabo dimulai dari hilir
kearah hulu, mulai no 1, no 2, no 3, no 4 dan no 5.
2. Beberapa ruang yang terjadi O1, O2, O3 perlu diperhatikan. Garis titiktitik adalah kemiringan dinamik, sedangkan garis yang utuh menunjukkan
kemiringan statik.
3. Keadaan dimana garis kemiringan keseimbangan dinamik menutup
puncak sub-dam diatasnya tentu dapat dipahami.

66

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

4. Kesalahan menetapkan urutan pelaksanaan seperti (1), (2), (3), (4) dan (5)
pada akhirnya menjadi pemborosan saja.
Perlu dicatat sebagai hal yang penting, bahwa untuk mengatasi masalah gerusan
local atau local scouring tidak perlu dengan membuat tambahan bangunan baru
dibawahnya, tetapi cukup diatasi secara lokal saja.

6.3.

Pertimbangan Terhadap Uplift..

Di satu pihak, kadangkala gaya angkat atau uplift dapat diabaikan, namun pada
saat yang lain gaya angkat ini perlu diperhitungkan. Keterkaitan antara gaya
angkat dengan debit yang datang akan dibahas pada bagian ini.
Pada gambar berikut ini, perbedaan kedua dam Sabo sebelah kiri dan sebelah
kanan diutarakan dalam tabel.

MAB
MAB

W
W
Lubang
alir

diabaikan

Gambar 6.5 : Gaya uplift yang bekerja pada dasar dam Sabo.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

67


Tabel 6.1 : Perbedaan antara dam pada gambar kiri dan kanan terkait uplift.

No
1.
2.

3.

4.

Dam Sabo (kiri)


Daerah tangkapqan besar.
Kapasitas tampung besar, sebelum
terisi penuh sedimen dimanfaatkan
menampung air.
Pada dam Sabo kiri, gaya angkat
(Uplift) diperhitungkan seperti pada
bangunan dam pada umumnya.
Tidak terindikasi seperti dam Sabo
kanan.

Dam Sabo (kanan)


Daerah tangkaspan lebih kecil.
Kapasitas tampung kecil. akan cepat penuh
jika aliran sedimen sering datang.
Uplift diabaikan, tidak diperhitungkan.

Tekanan horizontal efektif dam Sabo lebih


kecil daripada tekanan air statik, terutama di
bagian bawah.

Didalam praktek, ada tiga hal yang membedakan kedua dam tersebut, yaitu
ukuran daerah tangkapan, kecepatan akumulasi sedimen dan keberadaan lubang
alir (drain hole).
Dalam gambar kanan, tekanan horisontal efektif lebih kecil daripada tekanan air
statik. Hal ini dimungkinkan karena daerah tangkapan kecil sehingga waktu tiba
banjir terlalu singkat untuk dapat menjenuhkan sedimen yang ada. Selain itu
lubang alir pada tubuh dam membantu mengurangi tekanan rembesan air.
Koefisien uplift U, merupakan perbandingan antara tekanan gaya angkat atau
uplift pressure dengan total tekanan air statik. Nilai U disarankan diambil
berkisar antara 0,3 0,4. Untuk pondasi mengambang atau floating foundation,
kadangkala nilai U mencapai 0,6.
Berbeda dengan bangunan dam secara umum, pada dam Sabo seperti gambar
diatas terdapat suatu beban perimbangan atau counter weight W, yang
menguntungkan bagi stabilitas tubuh dam Sabo.

68

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Beberapa konsultan memberikan pertimbangan terhadap stabilitas tubuh dam


sebagai berikut,
Kondisi stabilitas tubuh dam
diberikan oleh,
V

MV

V
H

MH

Mv

: momen sekitar titik P

akibat gaya vertikal.


P

MH

: momen sekitar titik P

akibat gaya horisontal.


Penulisan tersebut menurut laporan tersebut samasekali salah (yang benar ialah
bahwa besarnya M = 0 ), sehingga notasi tersebut adalah

Mv = MH.

Dimungkinkan kesalahan penulisan rumus tersebut dimaksudkan untuk


memperoleh suatu faktor keamanan tertentu, karena diabaikannya besaran daya
angkat atau uplift seperti garis terputus gambar diatas.

6.4.

Desain Penampang Sayap.


Desain bangunan dam Sabo biasanya dibuat perhitungannya untuk bagian

sayap dan pelimpah, sedangkan bagian atas bangunan lainnya tidak dihitung
dengan alasan yang kurang jelas. Diperkirakan alasan tersebut karena dam Sabo
umumnya hanya untuk daerah tangkapan (catchment) yang tidak luas. Sehingga
desain penampang sayap hanya merupakan perluasan dari bagian pelimpah.
Pada situasi saat ini, banyak bangunan dam Sabo diterapkan pada wilayah yang
memiliki daerah tangkapan cukup luas. Akibatnya banyak dijumpai tinggi bagian
sayap mencapai hingga beberapa meter. Suatu cara perhitungan stabilitas bagian
sayap yang sederhana dikemukakan disini sebagai berikut,
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

69

b0
x
1:m

bs
o

Gambar 6.6 : Penampang pelimpah dan sayap dam Sabo.

Notasi,
O - O : penampang pelimpah (overflow).

b0 : lebar puncak pelimpah.

xx

: penampang non pelimpah.

bs : lebar puncak sayap.

: kemiringan penampang sayap ( 1 : m ) di sisi hilir.

Dari tekanan air statik dan sayarat sepertiga tengah atau middle third, dapat
diperoleh persamaan berikut ini,
0
Dimana,

= w / s

w : berat satuan air mengalir atau aliran sedimen (1,1 1,2 t / m3)
s : berat satuan sayap ( 2,3 t / m3).
Pada persamaan ini kemiringan sisi sayap bagian hulu diasumsikan vertikal.
Sehingga,

,
,

0,478

atau

0,522

Dengan mengasumsikan m = 0,2 maka persamaan diatas menjadi,

70

w = 1,1

0,478

w = 1,2

0,482

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Jadi

w = 1,1

b0 = 0,427 h ;

h = b0 / 0,427

w = 1,2

bo = 0,456 h ;

h = bo / 0,456

Dari contoh perhitungan diatas, lebar sayap dam Sabo 43 46 % dari perkiraan
tinggi banjir. Secara praktis, lebar sayap dapat diambil > 1,50 meter.
bs
b0
O

OMN

: segitiga dasar perhitungan.

b0

: lebar puncak sayap (nonoverflow).

bs
M
M
M

N
N

: lebar puncak pelimpah.

MMNN : tambahan yang masuk dalam


tanah.
MM

: cut-off.

Jika titik puncak segiitiga O bersentuhan dengan permukaan air, perhitungan


terhadap kemiringan OM dan ON dapat dilakukan dengan mudah.
Tambahan penetrasi kedalam tanah.
Jika penetrasi kedalam tanah tidak cukup, dibuat penetrasi tambahan MN.
Kedalaman penetrasi MN atau NN tersebut tidak lebih dari beberapa meter saja,
sehingga mudah untuk mengamati perbedaan tegangan pada penampang MN dan
MN. Perlu diingat, bahwa pondasi dam Sabo bersifat mengambang (floating
foundation) dan dam Sabo fungsi utamanya bukan untuk menampung air.
Perkuatan sayap.
Gambar berikut menunjukkan bagaimana cara memperkuat bagian sayap suatu
dam Sabo.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

71

Bagian diarsir adalah tambahan lebar untuk perkuatan sayap bangunan.


Meskipun penjelasan sebelumnya dutarakan
b0+
b0

adanya distribusi tekanan horisontal secara


merata, sayap dam Sabo pada kenyataan
menerima beban tekanan dinamik dan
benturan batu-batu besar. Namun data
mengenai hal ini tidak mudah diperoleh,
sehingga kemampuan pasangan batu atau
beton terhadap tekanan perlu diuji.

Kadangkala perlu dicoba menggunakan material peredam tekanan, seperti balok


kayu, perkuatan khusus dengan karet keras, dan sebagainya.

6.5.

Cara Perkuatan Ambang Pelimpah.


Untuk melindungi bagian puncak dam Sabo atau crown of Sabo dam,

berbagai cara perlindungan terhadap ambang pelimpah telah banyak dicoba,


namun hasil yang difinitif hingga kini belum diperoleh. Cara yang biasa
dilakukan untuk proteksi puncak dam dapat diklasifikasikan kedalam tiga macam,
yaitu,
1. Memasang permukaan puncak dam dengan batu keras.
2. Melapis permukaan dengan plat beton dan sebagainya.
3. Menerapkan campuran beton khusus di bagian puncak dam atau dasar
pelimpah sebagai penguat.
Secara sepintas, berbagai cara proteksi puncak dam yang pernah dilakukan dan
dampaknya dapat diutarakan sebagai berikut,

72

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

1)

2)

3)

Gambar 6.7 : Ilustrasi klasifikasi proteksi puncak dam dan dampaknya.

6.5.1. Perkuatan dengan permukaan batu keras.


Penggunaan batu kualitas tinggi untuk perkuatan puncak dam sudah sejak lama
dipergunakan, tetapi sambungan antar batu tidak kuat menahan abrasi, karena
berisi bahan mortar.
6.5.2. Perkuatan dengan plat besi.
Perkuatan puncak dam menggunakan plat besi yang diangkur telah banyak
dilakukan dengan berbagai variasi bentuk dan kualitas bahan. Namun hasilnya
sia-sia belaka tanpa alasan yang jelas.
6.5.3. Perkuatan dengan campuran beton khusus.
Penggunaan kualitas beton khusus untuk perkuatan puncak dam telah
berkembang sejalan dengan banyaknya berbagai jenis bahan tambahan campuran
beton, sebagai pengganti apa yang disebut granolithic pada jaman dahulu.
Ketiga cara tersebut dapat direkomendasikan untuk dipergunakan, namun perlu
dipertimbangkan pengaruh biaya yang lebih tinggi. Bahan-bahan tersebut
dipasarkan dengan berbagai cara komersial nasing-masing, seperti Fero-con,
Master plate, Non-shrink, Ambil-top, Epoxi-plate, dan sebagainya.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

73

Granolithic yang hanya terbuat dari Portland cement dan kerikil bulat kualitas
tinggi tentu lebih murah daripada beton khusus dengan bahan tambahan merk
dagang tertentu. Meskipun bahan granolithic lebih sulit menempatkannya karena
lebih pekat, namun dengan menambahkan sedikit pasir halus akan mempermudah
digunakan sesuai kemauan.
Seperti diketahui, pelimpah dam Sabo

bs

perlu memiliki suatu lebar tertentu

MAT

guna menahan gaya geser aliran air

h0

atau sedimen, karena tepat di hulunya,

deposit sedimen melimpas puncak


dam dan dapat menggerusnya.

Rumus Hauska yang berkaitan dengan hal ini sdalah,

bs

Dimana,
w

: berat satuan aliran air

h0

: tinggi aliran

: kedalaman tekanan dinamik ( 0,50 1,50 m).

: koefisien kekasaran tubuh dan

: angka keamanan

berat satuan tubuh dam

( kg / m3 ).
( kg / m3 ).
( m ).

( n = 2 3 ).

Rumus diatas hanya berlaku untuk kondisi h0 < 2 m dan V < 3 m / dt.

74

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Jika tidak, maka hasil perhitungan dipandang dari sisi praktis terlalu besar.
Lebar bs yang dapat direkomendasikan, adalah,
-

Wilayah torrent yang paling dahsyat

2,5 3,0 m

Wilayah tangkapan (catchment / basin) rusak

2,0 m.

Wilayah basin yang datar

1,5 m.

Wilayah basin yang kerusakannya kecil

1,0 m.

6.5.4. Kemiringan puncak dam.


Pada umumnya puncak dam Sabo dibuat mendatar (horisontal). Pada keadaan
tertentu kadangkala hal ini tidak tepat, misalnya jika karakteristik alur sungainya
dahsyat dengan kemiringan dasar sungai lebih dari 5 %. Setengah atau sepertiga
lebar puncak dam bagian hulu lebih baik dibuat menurun kearah hulu seperti
terlihat pada gambar berikut ini,

IP

C
Id

Gambar 6. 8 : Ilustrasi kemiringan puncak dam untuk menghindari kerusakan akibat


limpasan pasir dan bebatuan.

Untuk mengurangi kerusakan akibat limpasan batu dan kerikil, dapat dilakukan
beberapa tindakan sebagai berikut,
1. Sudut runcing puncak dam bagian hilir C yang merupakan bagian
mudah rusak oleh benturan batu dan kerikil dibuat tumpul dan membulat.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

75

2. Memiringkan puncak dam kearah hulu, sehingga Id lebih curam daripada


kemiringan rencana sungai (kemiringan deposit Ip).
Perkuatan puncak dam menggunakan granolithic atau beton khusus lebih menjadi
pilihan daripada dua cara lainnya, alasannya adalah sebagai berikut,
1. Perbaikan terhadap kerusakan lebih mudah dari pada perbaikan kerusakan
pada plat baja atau pasangan batu kualitas tinggi.
2. Sekali batu penguat rusak terlepas atau plat baja terkelupas, maka
perbaikannya akan sulit karena harus dibuat permukaan baru yang bersih
dan material penambal harus menyatu dengan pasangan lama.
3. Sisa material yang rusak harus dibuang hingga mencapai permukaan yang
dikehendaki A B gambar berikut.
4. Permukaan A-B harus dilapisi pasta semen, mortar dan bahan tambahan
sebelum ditempatkan adukan beton yang baru.
Beberapa perbaikan yang harus
dilakukan kadangkala disebabkan
A

oleh kasalahan desain dan dapat


pula karena kualitas pelaksanaan
pekerjaan yang kurang baik.
Pada dasarnya selama masih

difungsikan, bangunan dam Sabo memerlukan pemeliharaan yang berkelanjutan.


Untuk memperkuat puncak dam Sabo, berbagai pengalaman yang pernah dialami
di lapangan perlu diperhatikan. Pada gambar sebelah kiri dibawah ini, adalah
contoh kesalahan pembuatan bangunan dam Sabo yang banyak dilakukan.

76

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

mc

mp

mc

te
mp

Cp
Cn

Rm

Cn
Rm

Gambar 6.9 : Ilustrasi kesalahan pembuatan bangunan dam Sabo.

Notasi untuk gambar kiri,


mc

: mortar beton yang ketebalannya hanya beberapa centimeter.

mp

: mortar plesteran yang ketebalannya hanya beberapa centimeter.

Rm

: pasangan batu atau beton.

Notasi untuk gambar kanan,


Cr

: lapisan beton kualitas tinggi ( rich mix-proportion).

Cn

: lapisan beton kualitas biasa (ordinary concrete).

: lapisan beton khusus anti abrasi (termasuk beton granololithic).

t0

: tebal lapisan S.

Rm

: pasangan batu atau beton.

: tebal lapisan Cr.

Gambar kanan menunjukkan pendekatan sederhana dalam memperkuat bagian


ouncak dam Sabo, yaitu membuat perkuatan permukaan atas dam benar-benar
homogen. Tebal d paling tidak dibuat 1,0 meter. Perkuatan semacam ini mahal,
akan tetapi dapat bertahan lama.

6.6

Perkuatan Abutment.

Abutment yang dimaksud disini adalah penetrasi tubuh dam kedalam tanah asli.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

77

Notasi,
p

: kedalaman penetrasi.

: pasangan batu muka.

: isian antara galian dan tubuh dam.

Semakin
p

dalam

penetrasi

stabilitas

dam

semakin aman. Direkomendasikan kedalaman


penetrasi p minimum antara 2 3 m.

Perpanjangan bagian sayap dam Sabo disarankan lebih dari 4 meter. Penetrasi
bagian sayap dam Sabo diperlukan untuk mengurangi risiko kerusakan tubuh
dam. Manfaat penetrasi bagian sayap kedalam tanah tebing adalah,
1. Untuk mendukung tubuh dam terhadap tekanan gaya luar yang tidak
terduga, seperti dorongan atau tekanan massa aliran debris.
2. Untuk memperpanjang jalur aliran rembesan (seepage path) sepanjang
tubuh dam.
Tekanan massa aliran debris yang searah alur sungai semestinya sudah
diperhitungkan dapat ditahan oleh berat sendiri tubuh dam. Sedangkan terhadap
kejadian rembesan atau seepage water, sepanjang tidak berkembang menjadi
piping maka bukan masalah bagi dam Sabo. Oleh karenanya, kedua manfaat
diatas tidak selalu berlaku bagi dam Sabo.
Semakin dalam penetrasi, akibat penggalian kemiringan asli lereng semakin
berkurang. Akibatnya, pengisian celah atau gap-filling maupun pekerjaan
pelapisan permukaan atau facing works menjadi lebih mahal karena pengisian
celah tersebut harus dipadatkan dengan baik. Ketidak sempurnaan pengisian

78

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

celah dan pelapisan permukaan yang ceroboh dapat mengakibatkan keruntuhan


mendadak.
Jadi penetapan kedalaman penetrasi harus dipertimbangkan sebaik-baiknya
berdasarkan kondisi lapangan yang sebenarnya. Standar kedalaman penetrasi
tidak selalu menjadi pedoman yang mutlak.
Sebagai

ilustrasi

kasus

dapat

diuraikan

sebagai

berikut

ini,

dimana

direkomendasikan kedalaman penetrasi sebesar p. untuk mencapai kadalaman


penetrasi p diperlukan penggalian besar sperti pada gambar garis s t yang
tidak masuk akal. Yang diperlukan kemudian adalah memperkuat bagian lereng
f, sepanjang didapat lapisan yang kuat.
t

Gambar 6.10 : Kedalaman penetrasi yang tidak menguntungkan.

Pada bagian abutment dibuat bertangga dari pasangan batu atau beton, biasa
disebut fillet. Kondisi geologi dan geomofologi menentukan kedalaman penetrasi.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

79

6.7

Fungsi Lubang Alir.


Tujuan paling penting dibuatnya lubang alir atau drainhole pada

bangunan dam Sabo, adalah untuk mengalirkan aliran air dari bagian hulu selama
pelaksanaan pekerjaan masih berlangsung. Berbeda dengan bangunan dam
pengairan pada umumnya, pada dam Sabo saluran pengelak melalui terowongan
dan coffer dam umumnya tidak dilakukan, andaipun ada debitnya sangat terbatas.
Dapat dikatakan bahwa lubang alir pada dam Sabo merupkan terowongan
pengelak kecil di tubuh dam.

III
q2
II
q1
q0

Gambar 6.11 : Lubang alir (drain hole) pada dam Sabo.

Pada gambar diatas,

80

: tahap penggalian pembangunan.

: tahap kesatu pembangunan.

II

: tahap kedua pembangunan.

III

: tahap ketiga pembangunan.

q0

: debit pada tahap I.

q1

: debit pada tahap II.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

q2

: debit pada tahap III.

: rembesan air dibawah dasar sungai.

Pada tahap O,
1. Tinggi rembesan air penting diperhatikan, karena banyak kasus rembesan
air bawah dasar sungai yang terlalu tinggi tidak diperkirakan sebelumnya,
sehingga menjadi ancaman dalam pelaksanaan pekerjaan.
2. Paling baik adalah dengan mengalirkan air ke hilir melalui galian saluran
terbuka.
3. Disarankan membuat bangunan pelindung galian secepatnya, karena
sekali terjadi banjir, seluruh pekerjaan tanah akan sia-sia.
Pada tahap II atau III.
1. Lubang alir atau drainhole akan sangat efektif mengalirkan air meskipun
kecil saja.
2. Untuk menentukan ukuran atau dimensi yang diperlukan, biasanya perlu
mengestimasi besaran q1 atau q2 meskipun secara kasar saja, demikian
pula dengan kapasitas debit saluran terbuka.
Penting diperhatikan, lubang alir atau drainhole dibuat bukan bertujuan untuk
mengurangi tekanan air di belakang dam. Itu hanya suatu fungsi tambahan dari
lubang alir, tetapi tidak pernah diperhitungakan dalam proses analisa stabilitas
tubuh dam.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

81


Dk

Gambar 6.12 : Posisi lubang alir pada dam Sabo.

Pada gambar diatas mengutarakan berbagai hal tentang lubang alir sebagai
berikut,
1. Elevasi lubang alir berada di bagian atas dam Sabo dan harus cukup jauh
dari ambang pelimpah sedalam d.
2. Jarak d tersebut harus lebih dari 1,50 m.
3. Banyak kasus kerusakan lubang alir akibat aliran sedimen terkonsentrasi
pada setiap kejadian banjir skala menengah.
4. Jika kerusakan lubang alir dibiarkan tanpa dirawat, dapat menyebabkan
dam Sabo tidak berfungsi lagi.
5. Lubang alir Dk kadangkala dibuat khusus untuk keperluan perbaikan
kerusakan bagian ambang pelimpah.
6. Selain untuk tujuan perbaikan, lubang alir semacam Dk juga dibuat untuk
tujuan water intake untuk irigasi atau hydro power.

82

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Pada gambar berikut ini, menunjukkan lubang alir yang terletak di bagian sayap
sub-dam Sabo.

qm3/dt
M

Qm3

Gambar 6.13 : Lubang alir yang terletak pada bagian sayap dam Sabo.

Bagian apron N pada gambar diatas perlu diperiksa untuk perbaikan kerusakan
setelah beberapa tahun. Penggunaan stop-log sederhana S dapat disarankan.
Lubang alir ini juga dapat dimanfaatkan untuk pengambilan air irigasi.
Pada keadaan tertentu, lubang alir atau drainhole dapat pula ditutup rapat
menggunakan fasilitas penutup sederhana seperti gambar berikut ini,

Gambar 6.14 : Lubang alir dilengkapi fasilitas penutup sederhana.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

83

Beberapa hal yang dapat dikemukakan berkenaan dengan lubang alir tertutup ini
adalah sebagai berikut,
1. Semakin besar ukuran lubang alir, perlu semakin hati-hati dalam
mengoperasikan penutup tersebut.
2. Lubang alir berukuran kecil, misal 0,6 x 2,0 meter akan mudah tertutup
secara spontan oleh material sedimen dan batang kayu.
3. Lubang alir berukuran besar, misal 1,5 x 2,0 meter harus ditutup dengan
alat tertentu, biasanya tidak mudah tertutup secara spontan oleh sedimen.
Berkenaan dengan lubang alur berukuran besar, berikut ini dikemukakan kasus
kegagalan yang terjadi pada dam Sabo yang dibangun tahun 1952-1954 di
Jepang. Bangunan tersebut dimaksudkan mengontrol aliran sedimen (debris), dan
melepaskan kembali pada kondisi banjir kecil dan sedang.

MAT

MAT

MARt
4,0x6,0

Gambar 6.15 : Lubang alir besar yang rawan kerusakan di Jepang.

Namun pada kenyataannya, lubang alir besar tersebut tidak tahan terhadap
konsentrasi aliran sedimen. Hanya berselang dua tahun setelah selesai dibuat,
sudah mengalami kerusakan. Pada akhirnya lubang alir besar ditutup, diganti
dengan beberapa lubang lainnya berukuran lebih kecil.

84

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

6.8

Embedment Untuk Perlindungan Kaki Tebing.


Kedalaman embedment atau penetrasi dibawah tanah sebenarnya

merupakan suatu upaya untuk mengatasi ketidak jelasan standar yang pasti untuk
perlindungan bangunan kaki tebing searah alur sungai, seperti revetment, tanggul
atau spur-dyke dan sebagainya.
Pada gambar berikut ini, tinggi H yang disyaratkan untuk muka air tinggi diatas
dasar sungai sebagai formation level diasumsikan sama.
(B)

(A)
S

MAT
b 1:2

1:0,4

2
H

1:1,5

gs

1
e

Gambar 6.16 : Kedalaman Embedment dan kemiringan penguat tebing.

Perbedaan pada kedua kasus (A) dan (B) gambar diatas terkait dengan kedalaman
embedment yang diperlukan adalah,
1. Kedalaman embedment pada kasus gambar (A) yang diperlukan adalah
E yang lebih besar daripada kasus (B) sebesar e.
2. Alasan E lebih besar dari e disebabkan karena kelerengan (A) 1 : 0.4
lebih curam dari kelerengan (B) yang hanya 1 : 1,5 atau 1 : 2,0.
3. Pada kasus (A), tidak banyak pilihan tipe revetment yang hendak dibuat,
karena ketidak jelasan kedalaman embedment atau penetrasi.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

85

4. Pada kasus (B). dengan kemiringan yang lebih landai banyak pilihan tipe
yang sesuai. M adalah matras atau bronjong, sedangkan qs adalah
bronjong silinder.
Perlindungan tebing atau disebut bangunan revetment dan perlindungan kaki
tebing dengan metoda yang fleksibel dapat dilakukan seperti contoh berikut ini
berikut ini.
S

MAT

1:1,8

MAT
b1

gs
1:1,8

MAR

b2
1:1,2

Gambar 6.17 : Perlindungan tebing menggunakan struktur fleksibel.

Notasi,
f

: ikatan batang-batang semak / belukar.

: krib, terbuat dari kayu atau beton bertulang.

: bronjong.

gs

: bronjong silinder / guling.

b1; b2 : berm yang permukaannya diberi pasangan batu.


Yang menjadi masalah sekarang adalah menentukan tipe struktur bangunan yang
paling murah diantara yang ada. Untuk menjawab hal ini tentu tidak mudah,
karena harus sekaligus dipertimbangkan terhadap pemeliharaannya.

86

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Untuk keperluan jangka panjang, cara konstruksi vegetatif menggunakan material


yang fleksibel cukup beralasan menjadi pilihan.
Di Indonesis, sering dijumpai contoh tanggul tanpa kedalaman embedment yang
memadai dan samasekali tidak menggunakan struktur perlindungan kaki tebing.
Gambar berikut menunjukkan bangunan perlindungan tebing yang agak mahal,
tetapi sangat diperlukan untuk pemeliharaan bangunan.
A

MAT

Aliran
510o

R
G
K

Gambar 6.18 : Konstruksi perlindungan tebing mahal tetapi sangat diperlukan.

Notasi,
G

: Krib atau Groyne atau Spur-dyke dari pasangan batu kedap air.

: Matras / bantalan atau Schenk- kasten, dari bronjong ditanam.

: Riprap, terdiri dari tumpukan batu-batu besar.

: dasar alur untuk muka air tinggi.

: Revetment tambahan.

Pada Saluran Kanal atau Channel Works, prinsip penetrasi atau embedment dapat
dijelaskan pada uraian berikut ini,
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

87

C1, C2, C3

: Bangunan groundsill, seringkali juga disebut dam


konsolidasi.

: Dinding vertikal atau dinding cut-off apron.

: girdle atau river bed girdle, disebut juga no-drop


groundsill.

puncak bangunan revetment.

: embedment atau penetrasi revetment ke tanah dasar.

C1

t
C3

C2

i
e

v
e

Gambar 6.19 : Prinsip penetrasi saluran kanal atau channel works.

Pada gambar diatas memperlihatkan bahwa aslinya garis penetrasi harus bertemu
dengan ujung bawah dinding vertikal dan girdle. Namun yang banyak dijumpai
kedalaman penetrasi revetment terlalu dangkal.
Selanjutnya, gambar yang lebih detil dari hal diatas dapat diikuti melalui gambar
dibawah ini,
Perlu dicatat bahwa bangunan river-bed girdle juga masuk kedalam dasar sungai
asli, seperti halnya pada penetrasi dam Sabo. Bentuk tubuh riverbed girdle
dibangun sesuai bentuk 1-2-3-4-5-6-7 dan bangunan satu dengan lainnya
dipisahkan oleh revetment.

88

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Tujuan dibuatnya riverbed girdle yang utama adalah mengontrol profil


memanjang agar tetap stabil sepanjang channel works.
x
Tr
V

Pb

En
x

Potonganx x

T
5

6
T
6

Gambar 6.20 : Penetrasi riverbed girdle ke dasar saluran kanal.

Revetment tambahan yang dibuat seperti gambar dibawah ini sesuai dengan yang
dibicarakan sebelumnya.

S
a

Gambar 6.21 : Revetment tambahan dan embedment.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

89

Embedment revetment harus mencapai kedalaman e, jika terlalu dangkal tidak


akan bertahan lama.
Catatan.
Sepanjang kemiringan tebing tidak terlalu curam, dapat dibuat revetment yang
lebih ringan, hanya dengan menerapkan sistem perkuatan kaki tebing. Dengan
perkuatan kaki revetment tidak akan tergerus lagi oleh pengaruh turbulensi aliran,
dimana arah aliran dapat dijauhkan dari dasar tebing.
Gambar dibawah ini memperlihatkan cara perlindungan kaki tebing memanjang
yang terdiri atas krib pendek yang dihubungkan oleh bronjong pelindung tebing.
Bagian

depan

model

kombonasi

perkuatan tebing berbentuk seperti gigi,

Gs

Notasi,
G

G : bronjong memanjang,
R : Rip-rap batu-batu besar.
Gs : bronjong guling/ silinder.

Perlindungan model ini lebih cocok


R

Gs

diterapkan pada alur sungai yang agak


landai. Selain bronjong, sebenarnya dapat
dimodifikasi menggunakan material lain
yang tersedia.

Gambar 6.22 : perlindungan tebing kombinasi bronjong berbentuk gigi.

90

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

6.9

Pelaksanaan Praktis.

Pada saat pelaksanaan pekerjaan konstruksi, biasanya banyak hal di lapangan


yang muncul secara tak teduga. Dalam pelaksanaan pekerjaan Sabo, ada beberapa
permasalahan lapangan penting yang perlu penanganan secara seksama, yaitu,
Pertama, hal yang terkait dengan pelaksanaan campuran beton atau pasangan
batu, meskipun kedua jenis material tersebut merupakan bahan yang paling kuat
dan banyak dipergunakan dalam pekerjaan Sabo, namun berbagai hal mendasar
terhadap kedua jenis bahan tersebut harus diperhatikan
Kedua, berdasarkan pengalaman lapangan masalah drainasi air perlu dikaitkan
dengan keperluan pemeliharaan bangunan.
Ketiga, sistem transportasi untuk keperluan konstruksi bangunan teknik sipil,
termasuk pekerjaan Sabo selalu terkait dengan teknologi transportasi material
pembangunan. Kenyataan lapangan yang sering dijumpai, bahwa suatu tempat
yang berlimpah pasir, biasanya tidak banyak didapat kerikil atau batu besar.
Sebaliknya jika banyak batunya maka sulit diperoleh pasir.
6.9.1. Pelaksanaan praktis pekerjaan beton dan pasangan batu.
Tegangan tekan ijin, tegangan desain dan tegangan batas. Tegangan tekan beton
merupakan suatu indek yang paling penting untuk kontrol kualitas beton. Konsep
hubungan antara faktor-faktor yang berpengaruh pada kekuatan beton
diperlihatkan pada gambar berikut ini, yang menunjukkan konsep hubungan
antara ketiga faktor tegangan ijin, tegangan desain dan tegangan batas.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

91

Notasi.
r
28

x28

: tegangan batas = x 28

: koefisien ekstra.

28 : tegangan desain dalam


28x0,8

tegangan batas.
cd : tegangan tekan ijin.

cdxv

: faktor keamanan.

c : tegangan tekan dari hasil

cd

perhitungan struktural.

c
Gambar 6.23 : Hubungan antara tiga tegangan, tegangan ijin, desain dan batas.

Gambar diatas memperlihatkan titik-titik dalam yang diperoleh dari hasil rata-rata
compression test tiga buah kubus dengan campuran yang sama.
Berdasarkan Standar Teknis Jepang, dipersyaratkan hal-hal berikut ini,
a. Setiap nilai hasil test tidak diperbolehkan berada dibawah garis (28 x
0,8), dengan probabilitas lebih besar 1/20.
b. Setiap nilai rata-rata dari lima titik berurutan tidak boleh berada dibawah
nilai yang probabilitasnya lebih dari 1/20.
Gambar berikut memperlihatkan cara mengestimasi koefisien untuk
menentukan tegangan batas atau target strength r.
Variasi koefisien pada diagram dapat dipertimbangkan sebagai berikut,
Untuk kontrol ketat

0,14 0,16.

Untuk kontrol biasa

0,16 0,18.

92

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO


2,0
P=1/160
1,9
1,8

P=1/100

1,7
1,6

P=1/50

1,5

P=1/30

1,4

P=1/20

1,3
1,2
1,1
1,0

0,100,150,200,25
Koefisienvariasi

Gambar 6.24 : Cara menentukan koefisien untuk tegangan batas.

Untuk kedua hal diatas, perbandingan volume untuk semen diukur berdasarkan
berat, sedangkan agregat berdasarkan volume.
Notasi p pada diagram menunjukkan probabilitas angka keamanan untuk
berbagai keadaan.
6.9.2. Contoh menetapkan batasan kontrol.
Setiap tiga buah beton uji dicetak dari satu adukan yang sama, sedangkan beton
yang diuji ada dua puluh buah.
Nilai yang diperoleh dari hasil perhitungan uji beton disimpulkan dalam tabel
berikut ini.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

93

Tabel 6.2 : Perhitungan hasil uji beton dari 20 benda uji.


No

Tegangan kg / cm2

Vt

(X-300)2

/5

352
360
351
356
346
325
325
350
349
351
370
372
353
347
350
342

(%)
X1

X2

X3

X ratarata

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

336
350
307
384
364
381
308
356
337
272
362
441
357
339
351
385
319
319
361
307

320
363
339
371
373
371
302
356
310
268
372
416
353
335
361
388
342
319
351
320

325
354
347
389
367
354
308
355
344
253
376
439
342
346
360
367
345
324
358
326

Total
Rerata

327
352
331
381
368
369
306
354
330
264
370
432
351
340
357
389
335
321
357
318

25
21
51
13
1
63
49
25
66
106
62
81
11
17
23
45
14
36
39

16
4
40
18
9
27
6
2
34
19
14
25
15
11
10
21
26
5
10
19

2,9
0,7
7.1
2,8
1,4
4,3
1,2
0,3
6,1
4,2
2,2
3,4
2,5
2,3
1,8
3,3
4,6
0,9
1,6
3,5

729
2.704
961
6.561
4.624
4.761
36
3.025
900
1.296
4.900
17.424
2.601
1.600
3.249
6.400
1.225
441
3.249
324

6.944
X rata2 =
347,2

747
Rrata2=
39,32

331
Rrata2
= 16,50

57,1

67.010

2,85

3.350,5

Notasi,

94

Vt

: koefisien variasi dalam satu adukan yang sama.

Vt

= 0,591

100 %

(dalam hal tiga benda uji).


SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

: perbedaan nilai maksimum dan minimum antara X1, X2, X3.


: nilai rata-rata dari X1, X2. X2.

: standar deviasi.

: angka perkiraan mendekati nilai .

: banyaknya adukan uji untuk coba.

Vm

: koefisien variasi berbagai benda uji

: perbedaan antara berbagai nilai x.

Dari perhitungan tabel diatas,


,

0,591
3.350,5
33,6

2,8 %

47,2

= 33,6

= 34,4
,
,

100

9,9 %

6.9.1. Catatan untuk petugas lapangan.


Hal yang paling banyak terjadi dan menimbulkan masalah di lapangan biasanya
adalah yang berkenaan dengan ukuran butiran dan perlekatan air pada permukaan
agregat.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

95

Saran sederhana terhadap masalah perlekatan air di permukaan agregat berikut ini
bermanfaat bagi petugas lapangan.
Tabel 6.3 : Perkiraan pelapisan air di permukaan agregat.
Keadaan agregat

Air yang meliputi


permukaan agregat

Kerikil timbunan atau batu pecah

1,5 - 2

Pasir sangat basah (jika digenggam, telapak tangan


menjadi basah)

5 -

Biasa ( jika dremas tidak berubah bentuk)

2 - 4

Pasir timbunan ( tidak berbentuk meski diremas


tangan)

0,5 - 2

Tabel diatas akan sangat bermanfaat untuk memperkirakan liputan air pada
permukaan agregat secara kasar, karena jika harus mengukur dengan tepat kadar
liputan air setiap hari tentu sangat sulit. Campuran beton di lapangan perlu
disesuaikan dengan kadar liputan air pada agregat.
Berikut ini beberapa saran yang dapat diikuti agar tidak terjadi kesalahan sama
yang derulang pada pekerjaan di lapangan.

96

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

a.

Batang besi pada sambungan seperti dibawah ini tidak diperlukan.

Begitu juga tambahan fillet f tidak ada gunanya.


Notasi,
1:m

1:m

D : Main dam Sabo.


D

A : Apron.
F : Beton isian (fillet).

b.

Batang besi penghubung antara blok beton tidak diperlukan.

Adanya batang besi tidak sesuai dengan fungsi perletakan blok beton.

c.

Pasangan batu.

Pada pasangan batu, baik yang sistem basah maupun kering tidak boleh
membentuk permukaan cembung keluar slope. Disarankan permukaan slope
dibuat agak cekung kedalam seperti gambar kiri.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

97

Permukaan lengkung pada pasangan batu sesuai dengan hal yang telah
diuraikan pada bab sebelumnya tentang arah garis tekanan (pressure line)
akibat beban luar yang diterima oleh pasangan batu.
d.

Pengecoran beton.

Penggunaan alat pengaduk beton kapasitas kecil kurang dari 0,2 m3 lebih
memungkinkan memperoleh hasil plastisitas maupun cara pengerjaan yang
lebih baik dengan agregat maksimum 40 mm.
Ketika menuangkan campuran beton menggunakan talang pada posisi miring
(gambar B), samasekali tidak boleh melakukan penambahan air atau disebut
sebagai retampering. Lebih direkomendasikan menggunakan talang atau corong
vertical (gambar A). Dengan bantuan dumper yang terbuat dari karet keras, pada
saat bersamaan dilakukan pengadukan kembali atau remixing. Dalam proses
pencampuran dan pencetakan adonan beton diwaspadai terjadinya segregasi.
Beton yang porous akan kehilangan kekuatan sekitar 30 40 % dari kekuatan
normalnya.
6.9.2. Pondasi buatan dan drainase bawah tanah.
Dibandingkan dengan bangunan pada umumnya, struktur bangunan Sabo harus
lebih kuat dan memiliki daya tahan yang lebih tinggi daripada bangunan biasa.
Karena bangunan Sabo seringkali terletak jauh dari permukiman, maka biasanya

98

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

jarang dipelihara. Oleh sebab itu, perlu diperhatikan bahwa lokasi bangunan Sabo
harus mudah dijangkau untuk berbagai keperluan bagi bangunan tersebut.
Pondasi buatan.
Pondasi bangunan Sabo sangat dipengaruhi oleh kondisi topografi dan geologi
setempat.

Aliran

(I)

Aliran

(II)

Gambar 6.25 : Pondasi dam Sabo pada lapisan tanah pendukung.

Notasi,
X X : rencana elevasi pondasi.
Y Y : modifikasi elevasi pondasi pada pelaksanaan.
c

: cut-off .

p : beton penyumbat.

: pondasi buatan.

Keadaan ( I )
Pada gambar kiri diatas memperlihatkan kondisi lapisan pendukung yang kurang
baik, sehingga dasar pondasi diturunkan beberapa meter ( Y Y ). Bentuk
pondasi sama seperti pondasi telapak pada umumnya. Cara ini dapat diterapkan
pada lapisan tanah pondasi pasir dan kerikil.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

99

Keadaan ( II ).
Pada gambar kanan memperlihatkan modifikasi bentuk pondasi untuk kondisi
lapisan tanah pondasi merupakan lapisan batuan lunak, lapisan kompak
terkonsolidasi dan material campuran. Beton penyumbat atau plug concrete p
adalah bagian yang memiliki daya dukung lemah. Bagian cut-off wall c di
bagian depan (toe) dam Sabo dibuat untuk mengantisipasi gerusan lokal yang
tidak diperhitungkan sebelumnya dan memperpanjang jalan rembesan rembesan
air dibawah bangunan.
Pada kedua keadaan I maupun II tidak perlu menghitung kembali stabilitas
bangunan pada kondisi elevasi dasar pondasi Y Y, karena perbedaan elevasi YY dan X-X terbatas tidak terlalu signifikan.
Kasus lain ( III) yang perlu diperhatikan adalah seperti berikut ini,
Notasi,
(III)
b

b
x
y

b : batu di kaki hilir dam.

aliran

b : batu di kaki hulu dam.


x

Pada kasus ini (III), sebaiknya batu b dibuang dan permukaan pondasi
diturunkan hingga elevasi y y, kecuali jika batu tersebut merupakan bagian dari
lapisan dasar batuan (bed crop of bed rock).
Biasanya hampir tidak mungkin memasukkan tiang pancang kedalam dasar
sungai di wilayah Sabo Works, karena lapisan dasar sungainya terdiri dari
campuran berbagai material agak keras temasuk batu dan batu besar (stones and
boulders).

100

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Berikut ini adalah contoh alternatif solusi mengatasi pemancangan tiang di dasar
sungai wilayah pekerjaan Sabo, sebagai berikut,
q

b
S

S
g
c

D
f

Gambar 6.26 : Dua contoh alternatif solusi pemasangan tiang pancang.

Notasi,
b

: batang pohon kelapa atau kayu lokal pengganti besi.

: cor beton untuk menguatkan kedudukan kaki tiang.

: tanah atau pasir sebagai material pengisi.

: kerikil tanpa diayak.

: gaya aksial vertikal dari arah atas.

: gaya horisontal yang diperhitungkan.

: gaya vertikal merata.

: kedalaman pondasi dari atas permukaan tanah.

Pada umumnya kedalaman pondasi D = 1,5 2,0 meter. Meskipun dapat


dilakukan dengan tenaga manusia, tetapi harus dilakukan secara hati-hati, agar
tiang terpasang dengan kuat pada tempatnya.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

101

Ketika kedalaman pondasi D perlu lebih dari 2,0 meter, dapat digunakan cara
tradisional praktis menggunakan cetakan kayu untuk membuat pondasi sumuran
atau well foundation dari beton bertulang.
W
GL

D
D
FL

Gambar 6.27 : Pondasi sumuran beton bertulang.

Drainase bawah permukaan.


Pada saluran terbuka

dangkal, kerusakan yang sering terjadi pada bagian

lerengnya. Hal ini bukan karena penampang terlalu kecil, tetapi akibat adanya
aliran air bawah permukaan saluran terbuka tersebut.
e

Notasi,

e : tanah tererosi aliran permukaan


c : lorong aliran air dibawah
saluran terbuka pada lereng.
p

p : lapisan penutup samping

saluran menggunakan gebalan


rumput, aspal, dsb.
i : girdle dasar dari pasangan batu
i

atau beton setiap jarak tertentu.

Gambar 6.28 : Saluran terbuka tanpa girdle dan dengan girdle.

102

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Jika air dari lereng samping keluar saluran melimpasi tanah, kerusakan dapat
dengan cepat menjalar sepanjang saluran.
Saluran permukaan beton dan pasangan batu.
Kiri, drainase agak besar lereng agak datar W = 0,6 1,5 m, gambar kanan untuk
ukuran kecil. sedangkan b antara 0,4 0,8 meter, tergantung kondisi setempat.
As

W
U

S
m

Gambar 6.29 : Saluran permukaan beton bertulang dan pasangan batu kosong

Notasi,
U

: saluran bentuk U terbuat dari beton bertulang.

: lebar saluran beton.

: bronjong silinder atau bundelan batang-batang kayu semak.

: lebar dasar galian saluran.

: pasangan batu kosong.

: batu dan kerikil.

: box-culvert pasangan batu.

As

: lapisan aspal atau gebalan rumput.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

103

Struktur batang kayu untuk stabilitas lereng.


Berikut ini gambar standar potongan batang kayu dan sasak tanaman, suatu
struktur sederhana yang efektif untuk menstabilkan lereng yang rusak dan mudah
longsor.
Bangunan sederhana dari batang kayu seperti gambar samping ini cukup efektif
menstabilkan lereng. Keberadaan
o

/2

menahan permukaan tanah. Oleh

bo

adanya erosi alur atau rill erosion,

bi
o

muka tanah o o mudah berubah

t
o

semak kayu bo berperan penting

menjadi o o.

Sasak kayu bi

dibuat bersama

sasak kayu bo, jika tidak maka sasak kayu tersebut menggantung. Kedalaman
masuk tanah (t) paling tidak 30 cm. Patok kayu tertanam membuat sudut /2
terhadap garis vertikal.
Bronjong kawat silinder.
Erosi alur atau rill erosion berkembang menjadi erosi galur atau gully erosion
dapat secara perlahan atau cepat.

Gambar berikut contoh penanganan gully

erosion menggunakan bronjong bentuk silinder.

Gambar 6.30 : Penanganan gully erosion dengan bronjong silinder.

104

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Jika kemiringan lereng dibawah 30o, alur gully dapat diisi dengan bebatuan (stone
and cobles). Dilengkapi partisi permeable ( i )pada beberapa tempat.
Dinding penahan rendah.
Dinding penahan rendah dibuat dari pasangan batu (S) dapat ditempatkan di kaki
lereng. Struktur bangunan ini dilengkapi lubang alir untuk drainasi rembesan air
dari tanah dibelakang tembok penahan.
b
S
d

Gambar 6.31 : Dinding penahan rendah dari pasangan batu.

Galian parit ( d ) dan berm ( b ) sebagai faktor signifikan dalam menstabilkan


lereng. Jika tanpa dinding penahan, perawatan galian parit manjadi sangat berat.
6.9.3. Transportasi material konstruksi.
Jalan masuk lokasi pekerjaan Sabo menjadi bagian yang sangat penting bagi
proses pembangunan konstruksi Sabo.
Beberapa hal penting terkait dengan keberadaan jalan masuk atau acces road ini
adalah :
a. As jalan tidak ditempatkan pada tanah asli sepanjang lereng.
b. Memperhatikan detil konstruksi bangunan.
c. Menghindari penempatan pipa drainase terlalu dangkal.
d. Model jembatan pelimpas dengan box culvert atau bridge-overflowtype box culvert.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

105

e. Sistem teras bangku dan pengaturan tanaman.


f. Radius minimum, kemiringan memanjang yang layak.
As jalan tidak ditempatkan pada tanah asli sepanjang lereng. Prinsip suatu jalur
jalan adalah galian dan timbunan atau cut and bank.
(I)

(II)
c
j

u
c

b
S

Gambar 6.32 : Letak as jalan yang disarankan.

Pada gambar (I), b adalah bagian timbunan tanah atau banking, sedangkan c
adalah galian tanah atau cutting
Jika as jalan diletakkan terlalu masuk kedalam bagian tebing (gambar II), maka
ada sebagian lereng yang menjadi tidak stabil (u) dan dapat dipastikan akan
longsor. Pada gambar (II), j adalah batas jalan dengan timbunan tanah bekas
galian. s adalah penahan tebing badan jalan.
Pada kasus tertentu, dijumpai kemiringan tebing yang terlalu curam untuk
mengaplikasikan prinsip galian dan timbunan. Untuk mengatasi hal ini dapat
dipergunakan sistem penyangga atau trestle seperti gambar berikut.

106

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Gambar 6.33 : Sistem penyangga atau trestle pada lereng tebing


yang terlalu curam.

Pemotongan tanah lereng (garis putus-outus) membawa konsekuensi dapat terjadi


longsoran mendadak pada lereng tersebut. Pembuatan sistem penyangga ini tidak
mudah, tetapi dari segi pemeliharaan lebih menguntungkan. Kerangka penyangga
dapat dibuat dari bahan kayu atau kombinasi kayu dan besi. Penggunaan bahan
beton terlalu sulit dilaksanakan karena keadaan topografinya.
Berdasarkan pengalaman, bagian Z merupakan bagian yang paling mudah
rusak, karena kondisi tanahnya selalu dalam keadaan basah. Oleh karenanya,
dalam desain dipertimbangkan adanya drainase penampung aliran air permukaan
dari tebing diatas jalan.
Memperhatikan detil konstruksi bangunan.
Pada gambar detil perlu dipertimbangkan adanya ruang datar f diantara galian
parit tepi jalan atau bahu jalan s dengan kaki lereng di titik b.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

107

GL
U
b
W

Gambar 6.34 : Detil desain ruang bebas untuk menghindari sumbatan saluran.

Ruang bebas datar f diperlukan untuk menghindari penyumbatan saluran


sepanjang kaki tebing akibat longsoran lapukan material, karena perawatan
permukaan lereng terlalu mahal.
Pada gambar sebelah kanan, perlunya perlindungan pada outlet culvert terhadap
ancaman gerusan u. Saluran air w diperlukan untuk menyalurkan air
sepanjang kaki tebing. Pada kasus semacam ini banyak contoh desain yang salah,
sehingga jatuhan air dari outlet culvert jatuh langsung mengenai permukaan
lereng dibawahnya, tidak langsung masuk ke saluran w. Kejadian semacam ini
harus segera diperbaiki meski masih dalam pelaksanaan.
Menghindari penempatan pipa drainase terlalu dangkal.
Urugan tanah untuk melindungi pipa kecil atau culvert yang melintang jalan perlu
dilakukan dengan benar untuk menjaga kerusakan pipa dari tekanan transportasi
berat yang melintas.

108

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

S
p

Gambar 6.35 : Timbunan tanah diatas pipa kecil atau culvert.

Notasi,
a : permukaan bergelombang.

p : pipa drainase. b : box culvert.

S : penurunan. t : urugan tanah.


Untuk perlindungan, tebal t harus > 30 cm, sedangkan material timbunan harus
mampu mengurangi penurunan. Air yang datang dari tebing samping meski kecil,
harus dialirkan ke lembah seberang jalan.
Berikut digambarkan cara praktis dan sederhana mengatasi permasalahan
melindungi pipa atau culvert yang harus memotong jalan, menggunakan ikatan
balok kayu l atau pasangan batu kosong S melintang alur kecil.
l

Gambar 6.36 : Cara praktis melewatkan air melintas jalan.

Model jembatan pelimpas dengan box culvert.


Model jembatan pelimpas atau bridge-overflow-type box culvert ini diaplikasikan
pada alur sungai agak besar yang memotong jalan. Pada keadaan banjir,
transportasi diatas jembatan ini masih dapat difungsikan.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

109

Gambar 6.37 : Ilustrasi tipe jembatan pelimpas dengan box culvert.

Sistem teras bangku dan pangaturan tanaman.


Ketika pemotongan tebing dilakukan imuali dari bagian bawah, maka bentuk
akhir yang diperoleh adalah O d d seperti pada gambar sebelah kiri.
l
d

d
e
d

Gambar 6.38 : Siatem teras bangku dan pengaturan tanaman.

Notasi,
Od : kemiringan tebing rencana.

Odd : lereng yang terbentuk.

: lebar / jarak untuk penataan tanaman.

: patok batas pelaksanaan pekerjaan.

Jika didapat lapisan geologi lunak, terutama ketika kondisi tanah jenuh air maka
perlu diperhatikan, misal dengan menyiapkan struktur penahan lereng, saluran
drainase atau mengalirkan rembesan air.

110

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Pada gambar berikut memperlihatkan jika kondisi lereng terlalu tinggi, misal
lebih dari 10 meter, disarankan membuat teras bangku selebar minimum 0,5
meter pada setiap beberapa meter ketinggian lereng

b
H

b
h

Gambar 6.39 : Teras bangku untuk lereng yang terlalu tinggi.

Notasi,
H : tinggi lereng.
h : tinggi interval teras bangku ( beberapa meter).
b : lebar teras bangku ( biasanya 0,5 1,0 m).
Radius minimum dan kemiringan memanjang.
Radius minimum jalan masuk (access road) lokasi pekerjaan dapat dihitung dari
rumus berikut ini,

Dimana,

r : radius minimum
B : lebar mobil truk.
l : panjang beban.

Menurut pengalaman yang sudah dilaksanakan, radius minimum sekitar 10 meter.


Jika radiusnya dapat dibuat antara 20 hingga 30 meter akan lebih baik.
Kemiringan memanjang jalan berkisar antara 5% hingga 7%. Tergantung kondisi
lapangan, kemiringan ini dapat dibuat antara 10% - 12%.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

111

Hanya untuk jarak panjang beberapa meter saja, kemiringan dapat dibuat berkisar
antara 12% - 15%. Lebar keseluruhan jalan masuk minimum 3,5 meter, namun
biasanya diperlukan lebih dari 4,5 meter. Setiap jarak minimal 200 300 meter
perlu disediakan tempat memutar atau desebut turnout.
Angka-angka yang disebutkan diatas merupakan alternatif saja, karena semuanya
tergantung pada kondisi setempat, kapasitas lalu lintas, frekuensi tarnsportasi, dan
sebagainya. Jadi kapasitas jalan masuk (acces road) sebenarnya ada kaitannya
dengan skala dari pekerjaan Sabo. Desain jalan masuk harus mempertimbangkan
pemanfaatan setelah pekerjaan pembangunan selesai, yaitu

untuk keperluan

pemeliharaan bangunan Sabo. Pada kenyataannya, masih banyak perencana yang


kurang memperhatikan keadaan ini, tanpa memperhatikan lebih seksama resiko
besarnya biaya pemeliharaan bangunan yang harus ditanggung.

6.10 Proses Transisi.


Pengertian proes transisi disini meliputi pelaksanaan pekerjaan sungai
maupun Sabo, yakni peralihan antara kondisi buatan dengan kondisi alami.
1. Transisi kekasaran hidraulik alur sungai dalam arah memanjang.
2. Transisi kekasaran hidraulik alur sungai dalam arah lateral.
3. Transisi tingkatan sungai (river-phase) terkait dengan waktu yang lalu.
3

0
1

2
3

Gambar 6.40 : Ilustrasi transisi hidraulik longitudinal dan lateral.

112

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Ilustrasi pengertian transisi kekasaran hidraulik longitudinal maupun lateral,


Zona 1, merupakan struktur yang solid dan keras.
Zona 2, transisi, struktur semi-keras.
Zona 3, fleksibel, struktur dari semi-keras hingga lunak.

(3)

(2)

(1)

Gambar 6.41 :Tingkatan tipikal potongan melintang revetment.

Wujud bangunan revetment sesuai tingkatannya adalah sebagai berikut,


Zona 1 : pasangan batu dan blok beton pelindung kaki revetment.
Zona 2 : pasangan batu kosong di bagian bawah dan ranting kayu di bagian
atas, dilengkapi pelindung kaki revetment dari bronjong.
Zona 3 : pasangan batu kali dan pelindung bagian kaki secara sederhana,
jaraknya hanya pendek.
Kekasaran hidraulik saluran ini harus diatur mulai dari kecil ke besar, bertahap
mengikuti urutan

dari (0) (1) (2) (3). Ini merupakan cara untuk

melancarkan pergantian kekasaran alur sungai sesuai kondisi alaminya. Jika dari
zona (0) atau (1) langsung disambungkan ke zona (3), kedaan ini tidak
menguntungkan bagi dasar atau tebing sungai. Transisi kekasaran yang bertahap
sangat diperlukan untuk kelancaran aliran, sehingga hal ini tidak boleh diabaikan.
Hal seperti ini juga perlu diterapkan secara berhati-hati pada arah lateral. Pada
dasarnya struktur yang kaku semakin kebawah perlu dirubah menjadi lebih
fleksibel baik arah depan, bawah maupun atas.
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

113

Contoh transisi pada krib (spur-dike atau groyne).


Secara alami alur sungai mempunyai tendensi membentuk kelokan atau meander.
Oleh sebab itu sangat jarang dijumpai sungai yang bentuknya lurus dan beraturan.
Struktur krib atau groyne sudah sejak lama dipergunakan secara praktis untuk
melindungi tebing sungai dari pengaruh ketinggian aliran air. Struktur krib ini
dapat menggantikan fungsi revetment sebagai bangunan pelindung tebing. Krib
dalam sistem bangunan sungai termasuk bangunan memanjang

arah sungai

(longitudinal works).
p
B

p
S

Gambar 6.42 : Krib atau spur-dyke dari batang pohon semak.

Notasi,
B : batang pohon semak.

C : cekungan tebing sungai.

p : patok kayu

T : ranting pohon.

S : batu berbagai ukuran.


Hingga saat ini bentuk pekerjaan praktis semacam ini masih mudah didapatkan,
karena material yang diperlukan mudah diperoleh dan murah. Berikut ini suatu
konstruksi Krib atau spur-dyke yang terbuat dari bronjong kawat silinder. Di
Jepang, konstruksi semacam ini banyak dibuat pada alur sungai yang rusak

114

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

(devastated river) pada sekitar satu setengah abad yang lalu dan pada umumnya
x

xx

Gs

banyak yang berhasil.


Gambar 6.43 : Bromjomg silinder untuk konstruksi Krib atau spur-dyke.

Dalam situasi tertentu dapat difahami, struktur bangunan spur-dyke yang kuat dan
kaku yang terbuat dari pasangan batu atau beton dapat diabaikan. Khususnya
untuk krib panjang dan tinggi tanpa perkuatan bagian kaki dapat menjadi
perkecualian.
Pada alur sungai yang dalam kondisi rusak berat dengan aliran sedimen yang
mengandung material berdiameter besar mengalir ke hilir, struktur krib pasangan
batu tidak akan mampu bertahan terhadap tekanan aliran sedimen tersebut.
Sehingga diperlukan bangunan krib dengan bentuk tertentu, seperti gambar
berikut ini.
MAT
MARt

t
c

MAR

Gambar 6.44 : Krib beton untuk aliran sedimen dengan batuan.

Bangunan krib tersebut dilengkapi dengan perlindungan di bagian kaki (e) dan
diberi tambahan revetment bagian atasnya (t).
SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

115

Secara umum, fungsi dari sebuah krib atau spur-dyke dapat digambarkan seperti
dibawah ini. Secara bertahap, selama nasa perawatan bangunan krib akan
diperkuat, karena sebenarnya desain bangunan krib
Bangunan kantong pasir dibuat di wilayah alluvial fan untuk mengontrol dan
menampung sedimen yang datang dari hulu. Dipandang dari sisi penanggulangan
secara keseluruhan, suatu kantong pasir perlu pemeliharaan yang terus menerus.
Ketika sedimen telah penuh, secara bertahap arah alur sungai akan menyimpang
menyusur sepanjang kaki tanggul.
Ilustrasi (A), memperlihatkan tambahan penanggulangan pada posisi ketinggian
minimal.
C

(A)

S
x

Gambar 6.45 : Ilustrasi bangunan Kantong Pasir

Notasi,
K : Kantong pasir ( sand pocket).
S : Dinding pengarah (guide wall) atau krib (groin).
C : Dam konsolidasi h : kenaikan dasar sungai pada potongan x-x.
116

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Lebih aman jika dibuat tambahan bangunan seperti dinding pengarah, dam Sabo.
Aplikasi transisi bangunan krib atau spur-dyke mempunyai urutan 1, 2, 3 seperti
gambar berikut ini,
C2

C1
h

MAT
MARt
MAR

h
(3)

b
(1)

(2)

Gambar 6.46 : Urutan aplikasi transisi bangunan Krib.

Notasi,
(1) Proteksi kaki krib sebagai bangunan sementara (temporary material).
(2) Krib atau spur-dyke pendek terbuat dari bronjong dan sebagainya.
(3) Krib agak panjang bersifat semi-permiable.
C1 ; muka air tinggi.
H ; tinggi endapan.

C2 ; muka air rendah/ rata-rata.


H ; peninggian tanggul.

b ; berm.

Sebagai kebijakan dalam pengaturan sedimen pada suatu kipas alluvial, Ottokar
Hartel mengutarakan beberapa prinsip sebagai berikut (Wildbach-und
Lawinenverbauung, L.Hauska) sebagai berikut.

(1)
(2)

(3)

(1)

(3)
(2)

Gambar 6.47 : Prinsip Kebijakan pengaturan sedimen dalam kipas alluvial


menurut Ottokar Hartel.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

117

Penjelasan kebijakan tersebut adalah sebagai berikut.


1. Wilayah kipas alluvial dapat dibagi kedalam tiga bagian.
2. Luas setiap bagian sepertiga dari luas keseluruhan.
3. Di puncak kipas alluvial dibuat dinding pangarah atau krib pengarah
(guide-wall or guide-groin).
4. Setiap wilayah saling berurutan.
Kebijakan diatas tampaknya tidak berlaku bagi kondisi di Jepang maupun di
Indonesia,

karena

meskipun

didalam wilayah

kipas

alluvial,

populasi

penduduknya cukup padat dan lahannya diusahakan secara intensif. Sehingga


cara yang lebih sesuai adalah dengan sistem kantong pasir.
Bandingkan gambar (B) berikut ini dengan kantong pasir (A) diatas.
l

: Tanggul terbuka terbuat dari material tanah. bagian ujung dan


lereng bagian dalam diperkuat dengan pasangan batu.

: Tanggul pencegahan atau dinding pengarah terbuat dari material


campuran, tergantung tingkat kemungkinan kejadiannya.

: Dam konsolidasi (dam Sabo).

: Krib pengarah.

Memperhatikan sistem sepertiga luas kipas alluvial seperti di Austria, cara


terakhir ini merupakan cara untuk mengatur sedimen di wilayah kipas alluvial
yang telah dipadati penduduk dan telah berkembang. Di Indonesia, cara (B) ini
lebih menguntungkan dan lebih banyak dipakai daripada cara (A).
Sejauh ini, yang telah dibahas berkaitan dengan pertimbangan cara transisi pada
pekerjaan sungai dan Sabo tertuju pada bangunan krib atau spur-dyke. Di
Indonesia, suatu metode membuat dam Sabo rendah menggunakan bronjong yang
kemudian setelah kedudukannya stabil diselimut dengan pasangan batu
merupakan suatu langkah yang layak mendapat apresiasi.

118

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

Beberapa contoh bangunan terkait konsep transisi pekerjaan sungai dan Sabo.
(1)

Dan-Sabo rendah.
Cs

As

Gambar 6.48 : Dam Sabo rendah dari bronjong yang dilapis beton.

Notasi,
C : beton.

Cs : beton khusus (anti abrasi).

: bronjong

P : papan kayu. R : Rip-rap.


K : Rangka cetakan (batang kelapa)
(2)

Groundsill.
C

P
G

Gambar 6.49 : Groundsill dari bronjong, rangka kayu dan beton.

Notasi,
C : beton.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

G : bronjong.

k : rangka kayu.

R : rip-rap.

119

(3)

Girdle Dasar Sungai (Riverbed girdle).


C

Notasi,
C : beton.
k : rangka kayu (balok kayu).

R : rip-rap.

Gambar 6.50 : Girdle dasar sungai dari beton dan balok kayu.

(4)

Dam Sabo kecil.


d

d
d

d
b

C
k

Gambar 6.51 : Dam Sabo kecil dari balok kayu, tiang besi dan beton.

Notasi, C : isian beton.


l : balok kayu.

d : lubang alir. d : lubang pengatus.


R : besi rel KA bekas

b : bantalan rel KA bekas. k : matras kayu diisi batu.

120

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

(5) Pekerjaan Revetment.


Notasi,
C

f
l

l : balok kayu.

b : sesek bamboo.

C : batang tanaman semak (cangkok)

S : batu-batu.
f : rangka (akar tanaman, dsb.

Gambar 6.52 : Pekerjaan Revetment dari kerangka balok kayu diisi batu.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

121

DAFTAR PUSTAKA.

1. T.YOKOTA, Phosthumous Text on Sabo Works, Mininstry of Public


Works, DGWRD, Directorate of Rivers, Volcanic Sabo Technical Centre
(VSTC), Indonesia, 1988.
2. Anonim, Sabo Implentation, For Practice of Erosion & Sedimentation
Control Works in Indonesia, Volcanic Sabo Technical Centre, JICA 1980.
3. Takahashi.T, Mechanical characteristic of debris flow, Journal of the
Hydraulics Devision, Proceding of the American Society of Cicil
Engineers, 1991.
4. Anonim, Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen, Volcanic Sabo
Technical Centre (VSTC), Direktorat Jenderal Pengairan, Departemen
Pekerjaan Umum.
5. Anonim, Main Report For Review Master Plan Study, Mt.Merapi Project,
Republic of Indonesia, Ministry of Setlement and Regional Infrastructure,
Directorate General of Water Resources, 2001.
6. Anonim, Technical Standard and Guidelines for Planning and Design,
Draft, Japan International Cooperation Agency, 2002.
7. Anonim, Manual for River Works in Japan, River Bureau, Ministry of
Construction, Japan.
8. Nippon Koei Co.Ltd, Detailed Design of Sabo Facilities in Mt.Kelud
Volcanic Area, DGWR-Ministry of Public Works of The Government of
The Republic of Indonesia, 2005.

122

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

9. Haryono,Ir,Dipl HE, Flood and Debris Flow, Program Studi Teknik Sipil,
Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Magister Pengelolaan
Bencana Alam (MPBA), 2009.
10. H Kusumosubroto, Pengenalan Perencanaan Dasar Sabo, bahan referensi
Pelatihan Komprehensif Sabo, 2009.
11. H Kusumosubroto, Aliran Debris dan Lahar, Yogyakarta 2012.

SERIBUKUTEKNOLOGISABO
IMPLEMENTASI SABO

123