Anda di halaman 1dari 25

EMULSI PARAFFIN CAIR

Abstrak

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Emulsi, Emulsiones, adalah sistem dispersi kasar dari dua atau lebih cairan
yang tidak larut satu sama lain. Penandaan emulsi diantaranya dari bahasa latin
(Emulgere= memerah) dan berpedoman pada susu sebagai jenis suatu emulsi
alam.
Sistem emulsi dijumpai banyak penggunaannnya dalam farmasi. Dibedakan
antara emulsi cairan, yang ditentukan untuk kebutuhan dalam (emulsi minyak ikn,
emulsi parafin)dan emulsi untuk penggunaan luar. Yang terakhir dinyatakan
sebagai linimenta (latin linire = menggosok). Dia adalah emulsi kental (dalam
peraturannya dari jenis M/A), juga sediaan obat seperti salap dan suppositoria
dapat menggambarkan emulsi dalam pengertian fisika.
Ahli fisika kimia menentukan emulsi sebagai suatu campuran yang tidak
stabil secara termodinamis, dari dua cairan yang pada dasarnya tidak saling
bercampur
Pada percobaan ini kita akan mempelajari cara pembuatan emulsi dengan
menggunakan emulgator dari golongan surfaktan yaitu Tween 80 dan Span 80.
Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor yang
penting untuk diperlihatkan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak
dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan.
Dalam bidang farmasi, emulsi biasanya terdiri dari minyak

dan air.

Berdasarkan fasa terdispersinya dikenal dua jenis emulsi, yaitu :


a.

Emulsi minyak dalam air, yaitu bila fasa minyak, terdispersi di dalam fasa
air

b.

Emulsi air dalam minyak, yaitu bila fasa air terdispersi di dalam fasa
minyak.
Emulsi sangat bermanfaat dalam bidang farmasi karena memiliki beberapa

keuntungan, satu diantaranya yaitu dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak

dari minyak. Selain itu, dapat digunakan sebagai obat luar misalnya untuk kulit
atau bahan kosmetik maupun untuk penggunaan oral.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan sediaan emulsi?
2. Bagaimana cara pemilihan bahan eksipien dan konsentrasi yang digunakan
terhadap bahan aktif pada pembuatan sediaan emulsi?
3. Bagaimana cara pembuatan sediaan emulsi pada skala laboratorium dan
skala industri?
4. Apa saja parameter evaluasi dari sediaan emulsi yang dihasilkan?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian sediaan emulsi
2. Mengetahui cara pemilihan bahan eksipien dan konsentrasi yang digunakan
terhadap bahan aktif pada pembuatan sediaan emulsi
3. Mengetahui cara pembuatan sediaan emulsi pada skala laboratorium dan
skala industri
4. Mengetahui parameter evaluasi dari sediaan emulsi yang dihasilkan
D. Manfaat
Mahasiswa dapat mengetahui teknologi formulasi sediaan semisolid dan
dapat mengaplikasikan pembuatan sediaan emulsi pada skala laboratorium dan
skala industri. Setelahnya dilakukan evaluasi sediaan emulsi yang terbentuk agar
mahasiswa

dapat

mengetahui

stabilitas

sediaan

membandingkannya dengan sediaan emulsi yang ideal.

emulsi

dan

dapat

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Emulsi
Emulsi adalah sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. ( Farmakope Indonesia edisi IV
tahun 1995 hal 6). Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispers terdiri dari
bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak
bercampur .
(Ansel, 2014)
Dalam batasan emulsi, fase terdispers dianggap sebagai fase dalam dan
medium dispers sebagai fase luar atau fase kontinu. Emulsi yang mempunyai fase
dalam minyak dan fase luar air disebut emulsi minyak-alam-air dan biasanya
diberi tanda sebagai emulsi m/a . Sebaliknya emulsi yang mempunyai fase
dalam air dan fase luar minyak disebut emulsi air-dalam-minyak dan dikenal
sebagai emulsi a/m.
Secara farmasetik, proses emulsifikasi memungkinkan ahli farmasi dapat
membuat suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling
tidak bercampur. Untuk emulsi yang diberikan secara oral, tipe emulsi minyak
dalam air memungkinkan pemberian obat yang harus dimakan tersebut
mempunyai rasa yang lebih enak walaupun yang diberikan sebenarnya minyak
yang rasanya tidak enak, dengan menambahkan pemanis dan memberi rasa pada
pembawa air sehingga mudah dimakan dan ditelan sampai ke lambung.
Berdasarkan konstituen dan maksud pemakaiannya, emulsi cair dapat
digunakan secara bermacam-macam seperti oral, topikal, atau parenteral; emulsi
semisolid digunakan secara topikal.
Teori-teori lazim yang menggambarkan cara umum untuk menguraikan cara
yang mungkin dimana dapat menghasilkan emulsi yang stabil, antara lain :
1. Teori tegangan permukaan
Bila cairan kontak dengan cairan kedua yang tidak larut dan tidak saling
bercampur, kekuatan (tenaga) yang menyebabkan masing-masing cairan menahan
pecahnya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil disebut Tegangan Antarmuka.

2. Oriented wedge theory


Menganggap lapisan monomolekuler dari zat pengemulsi melingkari suatu
tetesan dari fase dalam pada emulsi. Dalam suatu system yang mengandung dua
cairan yang tidak saling bercampur, zat pengemulsi akan memilih larut dalam
salah satu fase dan terikat dengan kuat dan terbenam dalam fase tersebut
dibandingkan dengan fase lainnya.
Umumnya suatu zat pengemulsi yang mempunyai karakteristik hidrofilik
lebih besar dari pada sifat hidrofobik akan memajukan suatu emulsi minyakdalam-air dan suatu emulsi air-dalam-minyak sebagai hasil dari penggunaan zat
pengemulsi yang lebih hidrofobik dari pada hidrofilik. Dengan kata lain, fase
dimana zat pengemulsi tersebut lebih larut umumnya akan menjadi fase kontinu
atau fase luar dari emulsi tersebut.
3. Teori plastik atau teori lapisan antarmuka
Menempatkan zat pengemulsi pada antarmuka antara minyak dan air,
mengelilingi tetesan fase dalam sebagai suatu lapisan tipis atau film yang
diadsorbsi pada permukaan dari tetesan tersebut. Lapisan tersebut mencegah
kontak dan bersatunya fase terdispersi; makin kuat dan makin lunak lapisan
tersebut, akan makin besar dan makin stabil emulsinya. Pembentukan emulsi
minyak-dalam-air atau air-dalam-minyak tergantung pada derajat kelarutan dari
zat pengemulsi dalam kedua fase tersebut, zat yang larut dalam air akan
merangsang terbentuknya emulsi minyak-dalam-air dan zat pengemulsi yang larut
minyak sebaliknya.
Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor
yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak
dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator yang aktif
permukaan atau lebih dikenal dengan surfaktan (Ansel, 1998).
Mekanisme kerjanya adalah menurunkan tegangan antarmuka permukaan
air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fasa
terdispersinya. Mekanisme kerja emulgator surfaktan, yaitu :
1. Membentuk lapisan monomolekuler: surfaktan yang dapat menstabilkan emulsi
bekerja dengan membentuk sebuah lapisan tunggal yang diabsorbsi molekul atau

ion pada permukaan antara minyak/air. Menurut hukum Gibbs kehadiran


kelebihan pertemuan penting mengurangi tegangan permukaan. Ini menghasilkan
emulsi yang lebih stabil karena pengurangan sejumlah energi bebas permukaan
secara nyata adalah fakta bahwa tetesan dikelilingi oleh sebuah lapisan tunggal
koheren yang mencegah penggabungan tetesan yang mendekat.
2. Membentuk lapisan multimolekuler: koloid liofolik membentuk lapisan
multimolekuler disekitar tetesan dari dispersi minyak. Sementara koloid hidrofilik
diabsorbsi pada pertemuan, mereka tidak menyebabkan penurunan tegangan
permukaan. Keefektivitasnya tergantung pada kemampuan membentuk lapisan
kuat, lapisan multimolekuler yang koheren.
3. Pembentukan kristal partikel-partikel padat: mereka menunjukkan pembiasan
ganda yang kuat dan dapat dilihat secara mikroskopik polarisasi. Sifat-sifat optis
yang sesuai dengan kristal mengarahkan kepada penandaan Kristal Cair. Jika
lebih banyak dikenal melalui struktur spesialnya mesifase yang khas, yang banyak
dibentuk dalam ketergantungannya dari struktur kimia tensid/air, suhu dan seni
dan cara penyiapan emulsi. Daerah strukturisasi kristal cair yang berbeda dapat
karena pengaruh terhadap distribusi fase emulsi.
4. Emulsi yang digunakan dalam farmasi adalah satu sediaan yang terdiri dari dua
cairan tidak bercampur, dimana yang satu terdispersi seluruhnya sebagai globulaglobula terhadap yang lain. Walaupun umumnya kita berpikir bahwa emulsi
merupakan bahan cair, emulsi dapat dapat diguanakan untuk pemakaian dalam
dan luar serta dapat digunakan untuk sejumlah kepentingan yang berbeda.
(Parrot, 1970)
Dalam pembuatan emulsi, dapat digunakan 2 (dua) macam emulgator yaitu
emulgator alam dan emulgator system HLB. HLB adalah nomor yang diberikan
bagi tiap-tiap surfaktan. Daftar di bawah ini menunjukkan hubungan nilai HLB
dengan bermacam-macam tipe system:
Nilai HLB

Tipe system

36

A/M emulgator

79

Zat pembasah (wetting agent)

8 18

M/A emulgator

13 15

Zat pembersih (detergent)

15 18

Zat penambah pelarutan (solubilizer)

Makin rendah nilai HLB suatu surfaktan maka akan makin lipofil
surfaktan tersebut, sedang makin tinggi nilai HLB surfaktan akan makin hidrofil.
(Anief, 2005)
Pada sistem HLB, umumnya masing-masing zat pengemulsi mempunyai
suatu bagian hidrofilik dan suatu bagian lipofilik dengan salah satu diantaranya
lebih atau kurang dominan dalam mempengaruhi dengan cara yang telah
diuraikan untuk membentuk tipe emulsi. Suatu metode telah dipikirkan dimana
zat pengemulsi dan zat aktif permukaan, dapat digolongkan susunan kimianya
sebagai keseimbangan hidrofil-lipofil atau HLB-nya. Dengan metode ini, tiap zat
mempunyai harga HLB atau angka yang menunjukkan polaritas dari zat tersebut.
Umumnya zat aktif permukaan itu mempunyai harga HLB yang ditetapkan 3
sampai 6, yang menghasilkan emulsi air dalam minyak, sedangkan zat-zat yang
mempunyai harga HLB antara 8 sampai 18 menghasilkan emulsi minyak dalam
air. Dalam suatu sistem HLB, harga HLB juga ditetapkan untuk minyak-minyak
dari zat-zat yang seperti minyak. Dengan menggunakan dasar HLB dalam
penyimpanan suatu emulsi, dapat dipilih zat pengemulsi yang mempunyai harga
HLB sama atau hampir sama sebagai fase minyak dari emulsi yang dimaksud.
(Ansel, 2014 )
Bahan-bahan yang diperlukan ditambahkan dalam pembuatan emulsi, antara
lain:
1. Bahan pengemulsi sebagai emulgator
Untuk mencegah koalesensi sehingga tetesan besar menjadi tetesan kecil.
2. Bahan pengemulsi sebagai surfaktan
Untuk mengurangi tegangan permukaan antara fase eksternal sehingga
proses emulsifikasi dapat ditingkatkan.
3. Pengental
Untuk mempertinggi kestabilan emulsi
4. Pengawet
Ditambahkan untuk semua jenis emulsi terutama emulsi minyak dalam air
karena kontaminan fase minyak dan fase air mudah terjadi.

5. Zat-zat tambahan
Pemanis, pewarna, pewangi.
Ketidakstabilan emulsi yang dapat terjadi, antara lain Flokulasi dan Creaming
yaitu pemisahan emulsi menjadi beberapa lapis cairan, masing-masing lapisan
mengandung fase terdispersi yang berbeda. Cracking dan Breaking merupakan
koalesensi dan pecahnya tipe emulsi dan bersifat irreversible. Inversi fasa yaitu
perubahan yang terjadi tiba-tiba dari tipe emulsi M/A menjadi emulsi A/M atau
sebaliknya. Demulsifikasi yaitu proses pemisahan sempurna dari suatu tipe emulsi
ke dalam masing-masing komponen cair.
Emulsi bisa disiapkan dengan beberapa cara, tergantung pada sifat
komponen emulsi dan perlengkapan yang tersedia untuk digunakan. Dalam
ukuran kecil preparat emulsi yang dibuat baru, dapat dibuat dengan tiga metode
yang umum digunakan oleh ahli farmasi di apotek. Ketiga metode tersebut adalah:
1.

Metode gom kering atau metode kontinental

Zat pengemulsi (biasanya gom) dicampur dengan minyak sebelum penambahan


air.
2.

Metode Inggris atau metode gom basah

Zat pengemulsi ditambahkan ke air (di mana zat pengemulsi tersebut larut) agar
membentuk suatu mucilago, kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk
membentuk emulsi.
3.

Metode botol atau metode botol Forbes

Digunakan untuk minyak menguap dan minyak-minyak yang kurang kental dan
merupakan suatu variasi dari metode gom kering.
Kestabilan

termodinamik

emulsi

berbeda

dari

kestabilan

seperti

didefinisikan oleh pembuat formula atau pemakai berdasarkan pertimbangan


subjektif secara menyeluruh. Kestabilan yang dapat diterima dalam bentuk
sediaan farmasi tidak membutuhkan kestabilan termodinamika. Jika suatu emulsi
membentuk krim ke atas (naik ke atas) atau membentuk krim ke bawah (endapan),
emulsi bisa tetap dapat diterima secara farmasetik selama emulsi tersebut dapat
dibentuk kembali dengan pengocokan biasa.

B. Aspek Biofarmasetika
Biofarmasetika adalah ilmu yang mempelajari hubungan sifat fisikokimia
formulasi obat terhadap bioavailabilitas obat.

Bioavailabilitas menyatakan

kecepatan dan jumlah obat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik. Biofarmasetik
bertujuan untuk mengatur pelepasan obat sedemikian rupa ke sirkulasi sistemik
agar diperoleh pengobatan yang optimal pada kondisi klinik tertentu.
Faktor-faktor dalam bioavailabilitas obat yaitu: Proses absorbsi sistemik
suatu obat meliputi Disintegrasi produk obat yang diikuti pelepasan obat,
Pelarutan obat dalam media aqueous, Absorbsi melewati membran sel menuju
sirkulasi sistemik.
Faktor-faktor fisiologik yang berkaitan dengan absorbsi obat
1. Perjalanan obat melewati membran sel
Faktor utamanya adalah kelarutan molekul dalam lipid. Obat-obat yang
lebih larut dalam lemak lebih mudah melewati membran sel daripada obat yang
kurang larut dalam lemak (larut air). Obat-obat yang mudah ter-ion akan larut
dalam air sehingga sulit melewati membran daripada obat yang dalam bentuk
molekul (tak terion).
2. Difusi Pasif
Merupakan bagian terbesar dari proses transmembran bagi umumnya obatobat. Tenaga pendorong untuk difusi pasif ini adalah perbedaan konsentrasi obat
pada kedua sisi membran sel.
3. Transpor Aktif
Adalah proses transmembran yang diperantarai oleh pembawa (carrier)
yang memainkan peran penting dalam sekresi ginjal dan bilier dari berbagai obat
dan metabolit.

Karena sifatnya bahwa obat dipindahkan melawan perbedaan

konsentrasi, misal dari konsentrasi rendah ke tinggi, maka sistem ini memerlukan
energi. Molekul pembawa bisa sangat selektif terhadap molekul obat.
4. Difusi yang dipermudah (Fasilitated Diffusion)
Merupakan sistem transport yang diperantarai pembawa, berbeda dengan
transport aktif, obat bergerak oleh karena perbedaan konsentrasi dan tidak
memerlukan energi.
5. Pinositosis (Transpor Vesikular)
Merupakan proses pemecahan partikel atau bahan terlarut oleh sel.
Pinositosis merupakan pemecahan solute kecil atau cair. Selain pinositosis juga

terdapat fagositosi yang merupakan pemecahan partikel besar atau makromolekul


pada umumnya oleh makrofag.
6. Transpor melalui pori (konvektif)
Merupakan proses tranportasi oleh molekul yang sangat kecil(seperti urea,
air dan gula) yang dapat melintasi membran sel dengan cepat, jika membran
memiliki celah atau pori.
(Shargel, 2012)
Faktor-faktor farmasetik yang mempengaruhi bioavailabilitas obat
1. Disintegrasi
Proses disintergasi tidak menggambarkan pelarutan sempurna tablet atau
obat. Disintergasi yang sempurna ditakrifkan oleh USP XX sebagai keadaan
dimana berbagai residu tablet, kecuali fragmen-fragmen penyalut yang tidak larut,
tinggal dalam saringan penguji sebagai massa yang lunak dan jelas tidak
mempunyai inti yang teraba
2. Pelarutan (Disolusi)
Merupakan proses di mana suatu bahan kimia atau obat menjadi terlarut
dalam suatu pelarut. Suhu media dan kecepatan pengadukkan juga mempengaruhi
laju pelarutan obat. Kenaikkan suhu akan meningkatkan energi kinetik molekul
dan meningkatkan tetapan difusi, sebaliknya kenaikan pengadukan dari media
pelarut akan menurunkan tebal stagnant layer, mengakibatkan pelarutan obat
lebih cepat.
3. Sifat fisikokimia obat
Makin besar luas permuakaan obat makin cepat laju pelarutan. Luas
permukaan dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel.

Bentuk

geometrik partikel juga mempengaruhi luas permukaan dan selama pelarutan


permukaan berubah secara konstan. Obat dalam keadaan anhydrous, maka laju
pelarutan biasanya lebih cepat daripada bentuk garam hidrous.

Obat dalam

bentuk amorf menunjukkan laju pelarutan yang lebih cepat daripada obat dalam
bentuk kristal.
4. Faktor formulasi yang mempengaruhi pelarutan obat
Misalnya bahan pensuspensi, bahan pelincir tablet, surfaktan, pembentukan
garam dan kompleks, perubahan pH.
C. Bahan Aktif (Paraffin Liquid)

Pada teknologi formulasi sediaan emulsi, bahan aktif yang digunakan adalah
Paraffin Liquidum (Handbook of Pharmaceutical Excipients Edisi 6 hlm. 445, FI
IV hlm. 652)
1. Sifat Fisikokimia
Pemerian

Transparan,

tidak

berwarna,

cairan

kental,

tidak

berfluoresensi, tidak berasa dan tidak berbau ketika


dingin dan berbau ketika dipanaskan.
Kelarutan

: Praktis tidak larut etanol 95%, gliserin dan air, Larut dalam
jenis minyak lemak hangat.

Stabilitas

: Dapat teroksidasi oleh panas dan cahaya.

HLB Butuh

: 10 12 (M/A). 5 6 (A/M)

Inkompatibilitas

: Dengan oksidator kuat.

Penyimpanan

: Wadah tertutup rapat, hindari dari cahaya, kering dan sejuk.

2. Dosis

Dosis Emulsi oral : 15 45 ml sehari (DI 88 hlm. 1630). Sedangkan pada


HOPE dikatakan dosisnya 10-30 mL digunakan setelah makan pada malam hari.
3. Farmakodinamik
Paraffin cair berkhasiat sebagai Laksativ (pencahar) dengan mekanisme
pengurangan absorbs air dan elektrolit, meningkatkan osmolaritas dalam lumen
dan meningkatkan tekanan hidrostatik pada usus.
D. Bahan Tambahan (Eksipien)
1. BHT (Butylated Hydroxytoluene)
a. Sifat Fisikokimia dan Mekanika

Titik didih
Bulk Density
Flash Point
Melting Point
Tekanan Uap
Viskositas
Kelarutan

: 265 oC
: 0,48-0,6 g/cm3
: 127 oC
: 70 oC
: 1,33 Pa (0,01 mmHg) 20 oC
: 3,47 mm2/s (3.47 cSt) 80 oC
: Praktis tidak larut dalam air, gliserin,
propilenglikol,
alkalihidroksida

larutan
dan

mencairkan

asam mineral. larut dalam aseton, benzene, alkohol 95%, eter,


metanol, toluen, fixed oil dan mineral oil.
Fungsi utama : Antioksidan (0,0075-0,1 %)
b. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan
Butylated Hydroxytoluene harus disimpan ditempat

yang

tertutup

baik,terlindung dari cahaya. Lebih stabil jika disimpan tempat dingin dan kering.
c. Inkompatibilitas
Butylated Hydroxytoluene merupakan golongan fenol dan sangat
inkompatibel dengan agen pengoksidasi kuat seperti peroksida dan permanganat.
d. Metode Produksi
Butylated Hydroxytoluene dibuat dari reaksi P-cresol dengan Isobutane.
2. Metilselulosa
a. Sifat Fisikokimia dan Mekanika
Bulk Density : 0,276 g/cm3
Tap Density

: 0,464 g/cm3

Melting Point : 190-200 oC


pH

: 5-8

Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam aseton, alkohol


95%, eter, metanol, kloroform, garam,
toluene dan air panas. Larut pada asam
glasial dan dicampur

dengan etanol,

kloroform dengan perbandingan volume


yang sama
Fungsi utama : Emulgator (1-5 %)
b. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan

Serbuk metilselulosa ini stabil, sedikit bisa higroskopis. Penyimpanan


serbuk metilselulosa ini harus disimpan ditempat tertutup , kedap udara dan
tempat kering.
c. Inkompatibilitas
Metilselulosa inkompatibel dengan Aminakrin Hidroksida, Klorocresol,
Merkuri Klorida, Phenol, Resorcinol, Asam Tanic, Silver Nitrat, Cetylpindinium
Klorida, Cetylpyridinium Chloride, P-Hydroxybenzoic Acid, Paminobenzoic Acid;
Methylparaben, Propylparaben dan Butylparaben.
d. Metode Produksi
Diproduksi dari bubur kayu yang diberi dengan alkali diikuti dengan proses
metilasi dari alkali selulosa dengan metil klorida. Sehingga dimurnikan dan
didapat dalam bentuk serbuk metilseslulosa.
3. Sakarin Sodium (Natrium Sakarin)
a. Sifat Fisikokimia dan Mekanika

Bulk Density : 0,8-1,1 g/cm3 (76%)


0,86 g cm3 (84%)
Tap Density

: 0,9-1,2 g/cm3 (76%)


0,96 g/cm3 (84%)

Ph

: 6,6

Kelarutan

: Larut dalam etanol pada 102 bagian, larut dalam 3,5 bagian
propilenglikol, larut dalam 1,2 bagian air, praktis tak larut dalam
propanol.

Fungsi utama : Pemanis (0,075-0,6%)


b. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan
Natrium Sakarin stabil dibawah kisaran normal yaitu pada kondisi dibawah
formulasinya. Hanya saja ketika suhu 125 oC dan pH <2 dalam 1 jam, bisa terjadi
proses penguraian. Natrium Sakarin disimpan oada wadah tertutup dan dtempat
kering.
c. Metode Produksi
Natrium Sakarin dihasilkan dari proses O-touluen Sulfonamida dan
potassium permangant pada cairan dari Natrium Hidroksida.
4. Alkohol 95%
a. Sifat Fisikokimia dan Mekanika

(Struktur alkohol)
Pemerian

: Cairan tak berwarna; jernih; mudah menguap dan mudah


bergerak; bau khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan
memberikan nyala biru yang tak berasap.

Titik didih

: 78,15oC

Kelarutan

: Dapat larut dalam kloroform, eter, gliserin dan air

Fungsi

: Pengawet (>10%)

b. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan

Alkohol akan tetap stabil dan stabil jika diletakkan di autoklaf atau filtrasi
dan penyimpanannya diletakkan ditempat yang tepat yaitu pada tempat yang
dingin.
c. Inkompatibilitas
Pada kondisi asam etanol dapat bereaksi dengan bahan pengoksidasi.
d. Metode Produksi
Etanol dihasilkan dari fermentasi tepung, gula dan karbohidrat lainnya
secara enzimatik.
5. Vanillin
a. Sifat Fisikokimia dan Mekanika
Titik didih
: 284-285 oC
Titik leleh
: 81-83 oC
Bulk Density : 0,6 g/cm3
Kelarutan

: Sukar larut dalam air, larut dalam


air panas, mudah larut dalam
etanol (95%)p, dalam eter p dan
dalam larutan alkali hidroksida,
larut dalam gliserol p.

Fungsi utama : Flavouring Agents


b. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan
Vanillin mengoksidasi secara lambat diudara lembab dan dipengaruhi
vcahaya; larutan akan stabil untuk beberapa bulan jika ditambah sodium
metasulfit 0,2% w/w sebagai antioksidan. Vanillin ditempatkan ditempat yang
tertutup, terlindung dari cahaya, tempat dingin dan tempat kering.
c. Inkompatibilitas
Inkompatibel dengan aseton
d. Metode Produksi
Vanilin diproduksi secara manual pada beberapa minyak-minyak yang
penting terutama pada kulit dari tanaman Vanilla planiforia dan Vanilla tabitensis.
Vanillin bisa disintesis dengan cara kondensasi, pada alkali lemah, guaicol dengan
asam glikosiklik pada suhu kamar. Dihasilkan larutan alkalin, yang mengandung
4-hidroksi-3metoksimandelic acid yang dioksida diudara. Dengan adanya katalis,
diperoleh vanillin dan proses asidifikasi dan dan dekarboksilasi. Selanjutnya
vanillin murni diperoleh dengan cara rekristalisasi.
6. Aquades
a. Sifat Fisikokimia dan Mekanika

Rumus kimia : H2O


Pemerian

: Cairan jernih tak berwarna; tak berbau; tak memiliki rasa

Titik didih

: 100 oC

Melting Point : 0 oC
Viskositas

: 0,89 mPas (0,89 cP) suhu 25 oC

Kelarutan

: Larut hampir pada semua pelarut polar.

Fungsi utama : Pelarut


b. Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan
Dalam wadah tertutup, stabil pada semua bentuk fisik (es, cair dan gas)
c. Inkompatibilitas
Air dapat bereaksi dengan obat dan bahan tambahan yang mudah
terhidrolisis pada kondisi dan suhu tinggi. Air dapat bereaksi dengan alkali metal
secara cepat dan juga pada oksida-oksida seperti kalsium oksida dan Magnesium
oksida. Air juga daoat bereaksi dengan garam anhidrat dirubah menjadi bentuk
hidratnya dan secara pasti pada bahan kimia dan Kalsium Karbida.
d. Metode Produksi
Dengan cara destilasi yang merupakan proses yang melibatkan evaporasi
yang diikuti dengan kondesasi pada hasil terakhir. Panaskan air yang ingin diubah
menjadi aquades pada evaporator, uap akan terpisah jika suhu telah mencapai 107
o

C setelah itu uap akan memasuki proses kondesasi dengan yaitu kondensor yang

makin lama akan terbentul aquades.


(Rowe, 2009)

E. Parameter Evaluasi
1. Organoleptis
Uji organoleptik atau uji indera atau uji sensori merupakan cara pengujian
dengan menggunakan indera manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya
penerimaan terhadap produk. Pengujian organoleptik mempunyai peranan penting
dalam penerapan mutu. Pengujian organoleptik dapat memberikan indikasi
kebusukan, kemunduran mutu dan kerusakan lainnya dari produk
2. pH sediaan
Uji nilai pH, prinsip uji derajat keasaman (pH) yakni berdasarkan
pengukuran aktivitas ion hidrogen secara potensiometri/elektrometri dengan
menggunakan pH meter.
3. Viskositas
Uji viskositas, viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan
untuk mengalir, makin tinggi viskositas, akan makin besar tahanannya.
4. Penentuan Tipe Emulsi
Untuk menentukan tipe emulsi dapat dilakukan dengan beberapa cara :
a. Metode zat warna
1) Sudan III
Merupakan zat warna yang larut dalam minyak, tetapi tidak larut dalam air
jika ke dalam larutan ditambahkan sudan III, setelah diaduk warna merah menjadi
semakin jelas menunjukan bahwa emulsi adalah tipe a/m, tetapi jika warna merah
suram semakin tidak tampak menunjukkan emulsinya adalah m/a.
2) Metilen blue
Merupakan zat warna yang larut dalam air tetapi tidak larut dalam minyak.
Jika zat ini diteteskan pada emulsi berwarna seragam maka air merupakan fase
luar dan emulsi ini bertipe m/a.
b. Metode Electrical Conductivity
Air dapat menghantarkan arus listrik sedangkan minyak tidak. Alatnya
terdiri dari kawat dengan 2 elektrode yang dicelupkan dalam emulsi dan
dihubungkan dengan lampu neon. Jika lampu menyala dalam air maka merupakan
medium pendipers dan emulsinya merupakan tipe m/a. Bila lampu tidak menyala
maka minyak merupakan medium pendispers dan emulsinya adalah tipe a/m.
c. Metode pengenceran fase

Jika ke dalam emulsi ditambahkan sedikit air maka setelah pengocokan dan
pengadukan diperoleh kembali emulsi yang homogen sehingga emulsinya adalah
tipe m/a. jika emulsi dicampur minyak maka akan menyebabkan pecahnya
emulsi. Pada emulsi a/m akan diperoleh sebaliknya.
d. Fluoresensi
Karena minyak berfluoresensi seluruhnya dan emulsinya m/a menunjukkan
pola titik-titik.
5. Penentuan Ukuran Droplet/partikel
Uji analisis ukuran droplet:
a. Dikalibrasi skla okuler
b. Dibuat emulsi encer partikel yang akan diamati di atas Objek glass, tutup
dengan cover glass.
c. Diambil micrometer objektif diganti dengan objek glass yang berisi sampel,
kemudian dimulai pengukuran diameter droplet (>300 droplet)
d. Dilakukan pengelompokkan, ditentukan ukuran droplet terkecil dan terbesar
dari seluruh sampel, dibagi kedalam interval dan kelas
e. Ditentukan diameter droplet

BAB III
METODE KERJA
A.
1.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
2.
a.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
b.
1)
3.
1)
2)
3)
4)

Bahan dan Alat


Bahan
Aquades
Butil Hidroksi Toluen (BHT)
Etanol 95%
Metilselulosa
Paraffin cair
Sodium Sakarin
Vanillin
Alat Pembuatan
Skala Laboratorium
Batang pengaduk
Botol coklat
Corong
Gelas kimia 50 mL, 100 mL
Gelas Ukur 25 mL
Mixer dan wadah mixer
Spatel logam
Sendok tanduk
Skala Industri
Homogenizer
Alat Evaluasi
Mikroskop electron
Mikroskop eyepiece
pH meter
Viskometer Rhion

B. Metode Kerja
1. Skala Industri
a. Dilakukan penimbangan terhadap semua bahan:
Nama Bahan
Paraffin cair
Vanillin
BHT
Metilselulosa
Etanol 95%
Sodium Sakarin
Aquades

Jumlah
150 mL
30 mg
1,5 g
3g
30 mL
0,025 g
Ad 300 mL

b. Dimasukkan 3 g metilselulosa, paraffin cair 150 mL dan aquades 72,61 mL


ke dalam Homogenizer dengan kecepatan rotar pengadukan 3000 s/min
dengan tekanan 5000 Psi sampai didapat sediaan emulsi yang putih dan
homogeny.
c. Di chamber lain, dilarutkan vanillin 30 mg, 1,5 g BHT dalam 30 mL etanol
95%, aduk ad larut.
d. Ditambahkan 72,6 mL aquades dan 0,225 g Natrium sakarin aduk hingga
homogen dan dimasukkan kedalam Homogenizer aduk ad terbentuk emulsi
menyerupai susu
e. Dialirkan sediaan kedalam mesin filter
f. Dilakukan evaluasi sediaan
g. Diberikan kemasan primer (botol coklat) dan kemasan sekunder.
2. Skala Laboratorium
a. Dilakukan penimbangan terhadap semua bahan:
Nama Bahan
Paraffin cair
Vanillin
BHT
Metilselulosa
Etanol 95%
Sodium Sakarin
Aquades
b. Didispersikan metilselulosa yang

Jumlah
150 mL
30 mg
1,5 g
3g
30 mL
0,025 g
Ad 300 mL
telah ditimbang 3 g ke dalam aquades

72,61 mL.
c. Ditambahkan paraffin cair sebanayak 150 mL
d. Dilakukan pengadukan cepat dengan menggunakan

mixer

hingga

didapatkan emulsi yang putih menyerupai susu (ad korpus emulsi), sisihkan.
e. Dimasukkan vanillin 30 mg kedalam gelas kimia dan larutkan dengan etanol
95% sebanyak 30 mL. Setelah homogen, ditambahkan BHT 1,5 g aduk ad
homogen.
f. Dilarutkan sodium sakarin 0,025g dengan 25 mL aquades menggunakan
gelas kimia.
g. Ditambahkan sisa air 47,6 mL kedalam gelas kimia.
h. Dimasukkan dimasukkan campuran tersebut kedalam mixer, diaduk hingga
semua bahan tercampur dan diperoleh emulsi yang menyerupai susu.
i. Diberikan kemasan primer (botol coklat) dan kemasan sekunder.

BAB IV
4.2 HASIL PENELITIAN
4.2.1 Preformulasi
a. Perhitungan
50
Paraffin cair
= 100 x 100 = 50 mL
0,0 1
x 100=10 mg
100

Vanillin

BHT

0,5
= 100 x 100 = 500 mg

Metilselulosa

1
= 100 x 100 = 1 g

Etanol 95%

= 100

0,075

x 100 = 75 m g

10
Sodium Sakarin = 100 x 100 = 75 mg
b. Tabel Formula
Nama Bahan
Paraffin cair
Vanillin
BHT
Metilselulosa
Etanol 95%
Sodium Sakarin
Aquades
4.2.2 Uji Organoleptis
Warna
Puti susu agak
kekuningan

Jumlah per
kemasan
50 mL
10 mg
500 mg
1000 mg
10 mL
75 mg
100 mL

Jumlah per
Batch
150 mL
30 mg
1,5 g
3g
30 mL
0,025 g
Ad 300 mL

Rasa
Rasa sepet agak manis

Fungsi
Bahan aktif
Flavour
Antioksidan
Emulgator
Pemanis
Pengawet
Pelarut
Bau
Bau vanillin

4.3 ANALISI HASIL PENELITIAN


Berdasarkan sediaan yang telah kelompok kami buat yaitu Emulsi dengan
bahan aktif yaitu Paraffin cair. Paraffin cair berkhasiat sebagai obat Laksativ
(pencahar) yang bekerja dengan cara mengurangi absorbsi air dan elektrolit,
meningkatkan osmolaritas dalam lumen dan meningkatkan tekanan hidrostatik.
Analisis sediaan terdapat dua yaitu kualitatif dan kuantitatif. Analisis
kualitatif yaitu masukkan ke tabung silinder diameter dalam 25 mm, tutup,
rendam dalam air es setelah 4 jam cairan tetap jernih, diuji menggunakan latar
belakang berupa garis hitam lebar 0,5 mm yang ditempatkan tegak lurus
dibelakang tabung, mudah dilihat. Zat terarangkan masukkan 5 mL zat tersebut
dan 5 mL asam sulfat bebas Nitrogen p kedalam tabung kimia kering yang
tersumbat kaca, panjnag 125 mm, diameter dalam 18 mm skala yang digunakan 5
mL dan 10 mL. Tutup, kocok kuat-kuat pada arah memanjang tabung selama 5
detik, buka, masukkantabung segera dalam tangas air tanpa menyentuh dasar
tangas air, ulangi proses pengocokan selama 5 detik. Warna lapisan asam tidak
lebih tua dari warna larutan pembanding yang dibuat dengan mencampurkan 3 mL
larutan primer kuning, 1,5 mL larutan primer merah, 0,5 mL larutan primer biru
dan 5 mL paraffin cair.
Sedangkan analisis uji kualitatif yaitu dengan menggunakan serapan UV
(Ultraviolet) serapan-1cm larutan 2 % b/v dalam trimetilpentana P pada daerah
panjang gelombang antara 240 nm dan 280 nm tidak lebih dari 0,1.
Sediaan emulsi dengan bahan aktif paraffin cair ini menggunakan bahanbahan tambahan seperti vanillin yang berfungsi untuk memberi aroma Vanila pada
sediaan. Hal ini dikarenakan sediaan yang dibuat ditujukan untuk anak usia
dibawah 3 tahun sehingga diperlukan bahan tambhan berupa Flavouring agent
dan pemanis yaitu Sodium sakarin. Selanjutnya, penggunaan BHT (Butyl
Hidroksil Toluen) bertujuan untuk sebagai antioksidan untuk mencegah reaksi
oksidasi pada sediaan emulsi. Emulgator yang digunakan adalah Metilselulosa
golongan polimer cara kerjanya yaitu dengan membentuk lapisan film
multimolekuler disekeliling globul yang terdispersi (koloid hidrofil). Larutan aqua
destillata juga digunakan pada sediaan ini sebagai pelarut dan ditambahkan zat

pengawet yaitu Etanol 95% untuk menjaga stabilitas sediaan yang dibuat dengan
cara mencegah pertumbuhan mikroorganisme.
Selanjutnya sediaan yang telah jadi dilakukan evaluasi. Tujuan dari evaluasi
sediaan yaitu untuk melihat ketstabilan yang dilihat dari parameter-parameter
yang telah ditentukan dan kemudian dibandingkan dengan teori sediaan emulsi
secara ideal. Uji evaluasi pertama yaitu Uji Organoleptis yang terdiri dari rasa
baud an warna. Hasil dari uji organoleptis adalah berwarna putih susu agak
kekuningan, bau vanillin dan rasanya sepet agak manis. Untuk evaluasi sediaan
hanya bisa hingga uji organoleptis saja. Untuk uji evaluasi viskositas tidak
dilakukan tetapi menurut teori idealnya viskositas 110-230 mPas pada suhu 20oC.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan
Berdasarkan percoban yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Sediaan emulsi sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi dalam
cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.
2. Emulsi paraffin dengan viskositas 110-230 mPas, berwarna putih agak
kekuningan, bau vanillin dan rasanya agak manis tapi sedikit sepet.

5.2

Saran
Lebih diperhatikan dan lebih teliti pada saat proses pembuatan terutama

menggunakan alat-alat seperti mixer, dkk. Praktikan lebih tepat dalam manajemen
waktu agar sediaan yang telah dibuat dapat dievaluasi secara keseluruhan
sehingga data yang diperoleh dapat dibandingkan dengan teori sediaan emulsi.

DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H.C. 1998. Pengantar Bukus Sediaan Farmasi Edisi 4. Diterjemahkan oleh
Farida Ibrahim.UI Press. Jakarta.
Ansel, H.C. 2014. Pengantar Bukus Sediaan Farmasi Edisi 4. UI Press. Jakarta.
Anief, Moh..2005. Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Parrot, L.E. 1970. Pharmaceutical technology. Burgess Publishing Company.
Mineneapolis.
Rowe, R.C., Sheckey, P.J. and Quinn, M.E. 2009. Handbook of Pharmaceutical
Excipients, Sixth Edition. Pharmaceutical Press and American Pharmacists
Association, London..
Shargel, L. and Yu, A. 2012. Applied Biopharmaceutics and Pharmacokinetics. 4th
Edition. Mcgraw-Hill. New York.