Anda di halaman 1dari 53

1

LAPORAN
BENGKEL ELEKTRONIKA
LAMPU SENJA IC-555

Disusun Oleh :

Disusun Oleh:

Choiril Luthfi
EK 1C / 03
3.32.15.2.03

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRONIKA


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2015-2016
BAB 1
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

2
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Dengan semakin pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di
bidang kelistrikan, yang mengakibatkan pemakian peralatan yang bekerja secara mekanis
telah banyak digantikan dengan peralatan yang bekerja secara elektronik. Hal ini
dikarenakan kestabilkan serta keandalan dari sistem elektronik lebih unggul dibandingkan
dengan sistem mekanis.
Peralatan-peralatan yang bekerja secara elektronik seperti touch swich (sakelar
sentuh) yang memanfaatkan pemakaian IC linear serta jenis-jenis komponen semi
konduktor lainnya yang dirangkai dan difungsikan penggunaannya sebagai saklar. Di dalam
rangkaian ini terdapat suatu Timer dari IC 555 ,dimana penguatan ini mempunyai dua input
terdiri dari pemicudan reset serta satu keluaran sebagai multivibrator monostabil yang
menggerakkan Relay sehingga berfungsi sebagai saklar sentuh.
Rangkaian saklar sentuh akan bekerja jika plat ON disentuh dengan jari tangan.
Pada saat plat disentuh dengan jari tangan, dimana tegangan pada pin pemicu (input)
yang diterimanya yaitu negative yang terdapat pada tubuh manusia. Sehingga taraf kerja IC
555 akan memberikan sinyal masukan ke relay dan selanjutnya relay akan berfungsi untuk
menghubungkan dan memutuskanbeban pada rangkaian listrik.

TUJUAN

Tujuan dalam praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat :


1

Mengetahui karakter, fungsi, dan cara kerja setiap komponen dalam rangkaian Lampu

2
3
4
5
6

Senja IC 555 .
Membaca dan mengerti gambar skema rangkaian.
Mengatur tata letak setiap komponen sehingga tertata dengan rapi.
Membuat alur ( pengawatan antar komponen ) pada PCB dengan benar.
Mengetahui cara kerja rangkaian Lampu Senja IC 555.
Mengetahui titik kesalahan rangkaian bila alat tidak bekerja normal dan menemukan

7
8

solusinya.
Menganalisa data setiap komponen saat sistem bekerja.
Menyimpulkan data dari analisa cara kerja rangkaian dan data hasil analisa komponen
saat bekerja.

BAB 2
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

3
LANDASAN TEORI
1.1. Multivibrator
Multivibrator adalah suatu rangkaian yang terdiri dari dua buah piranti aktif dengan
keluaran yang saling berhubungan dengan masukan yang lain. Umpan balik positif yang
dihasilkan menyebabkan piranti yang satu harus di cut off, sedangkan piranti yang lain
dipaksa melakukan penghantaran. Multivibrator dikelompokkan kedalam bistabil,
monostabil dan astabil. Rangkaian multivibrator bistabil memiliki ciri-ciri, bahwa rangkaian
ini tetap berada pada tingkatan (level) keluaran yang diberikan apabila tidak dikenakan
sinyal (trigger) dari luar. Penerapan sinyal dari luar akan menyebabkan perubahan keadaan,
dan tingkat keluaran ini akan tetap sampai ada sinyal dari luar berikutnya. Jadi rangkaian
bistabil memerlukan dua sinyal sebelum kembali kekeadaan awal. Multivibrator monostabil
atau one shot, menghasilkan satu pulsa dengan selang waktu tertentu dalam menanggapi
suatu sinyal trigger dari luar. Ini berarti bahwa hanya satu saja keadan stabil. Penerapan
trigger mengakibatkan perubahan keadaan kuasi stabil, yang berarti bahwa rangkaian tetap
berada pada keadaan kuasistabil pada selang waktu yang ditentukan dan kemudian kembali
kekeadaan awal. Akibatnya adalah sinyal trigger internal dibangkitkan yang menghasilkan
transisi keadaan stabil. Multivibrator astabil atau free running adalah multivibrator yang
memiliki dua keadaan kuasi stabil ( bukan keadaan stabil), dan kondisi rangkaian berosilasi
diantaranya. Dalam hal ini tidak diperlukan sinyal trigger luar untuk menghasilkan
perubahan keadaan. Karena sifat osilasi diantara dua keadaan ini, rangkaian astabil
digunakan untuk menghasilkan gelombang segi empat.
Multivibrator merupakan osilator. Sedangkan osilator adalah rangkaian elektronika
yang menghasilkan perubahan keadaan pada sinyal output. Osilator dapat menghasilkan
clock / sinyal pewaktuan untuk sistem digital seperti komputer. Osilator juga bisa
menghasilkan frekuensi dari pemancar dan penerima radio. Multivibrator adalah suatu
rangkaian yang terdiri dari dua buah piranti aktif dengan keluaran yang saling berhubungan
dengan masukan yang lain. Umpan balik positif yang dihasilkan menyebabkan piranti yang
satu harus di cut off, sedangkan piranti yang lain dipaksa melakukan penghantaran.
Multivibrator dikelompokkan kedalam bistabil, monostabil dan astabil. Rangkaian
multivibrator bistabil memiliki ciri-ciri, bahwa rangkaian ini tetap berada pada tingkatan
(level) keluaran yang diberikan apabila tidak dikenakan sinyal (trigger) dari luar. Penerapan
sinyal dari luar akan menyebabkan perubahan keadaan, dan tingkat keluaran ini akan tetap
sampai ada sinyal dari luar berikutnya. Jadi rangkaian bistabil memerlukan dua sinyal
sebelum kembali kekeadaan awal.
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

4
Multivibrator monostabil atau one shot, menghasilkan satu pulsa dengan selang waktu
tertentu dalam menanggapi suatu sinyal trigger dari luar. Ini berarti bahwa hanya satu saja
keadan stabil. Penerapan trigger mengakibatkan perubahan keadaan kuasi stabil, yang
berarti bahwa rangkaian tetap berada pada keadaan kuasistabil pada selang waktu yang
ditentukan dan kemudian kembali kekeadaan awal. Akibatnya adalah sinyal trigger internal
dibangkitkan yang menghasilkan transisi keadaan stabil.
Multivibrator astabil atau free running adalah multivibrator yang memiliki dua keadaan
kuasi stabil ( bukan keadaan stabil), dan kondisi rangkaian berosilasi diantaranya. Dalam hal
ini tidak diperlukan sinyal trigger luar untuk menghasilkan perubahan keadaan. Karena sifat
osilasi diantara dua keadaan ini, rangkaian astabil digunakan untuk menghasilkan
gelombang segi empat.
Pada dasarnya ada 3 jenis dari multivibrator, yaitu :
1. Astable Multivibrator.
2. Monostable Multivibrator
3. Bistable Multivibrator

2.1 Komponen
Untuk pembuatan rangkaian Lampu Senja IC 555 maka dibutuhkan komponen sebagai
kebutuhan pokok dalam rangkaian, komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut :

1 Resistor
Dalam rangkaian elektronika sering menjumpai komponen yang bernama resistor
(tahanan). Resistor adalah komponen pasif elektronika yang memberikan hambatan terhadap
perpindahan elektron (muatan negatif). Yang dimaksud resistor sebagai komponen pasif adalah
komponen yang dapat bekerja tanpa sumber tegangan atau arus tetapi hanya melemahkan atau
mengurangi sinyal tegangan. Resistor disingkat dengan huruf R. Satuan resistor adalah Ohm
(), yang menemukan adalah George Ohm (1787-1854), seorang ahli fisika dari Jerman.
Kemampuan resistor untuk menghambat disebut resistansi atau hambatan listrik. Resistor
terbuat dari bahan karbon.
Suatu resistor dikatakan memiliki hambatan 1 (satu) ohm apabila resistor tersebut
menjembatani beda tegangan sebesar satu volt dan arus listrik yang timbul akibat tegangan
tersebut adalah sebesar 1 (satu) ampere. Ada 4 (empat) fungsi resistor, yaitu:
Menghambat arus listrik
Pembagi Tegangan dan Arus
Pendeteksi Sinyal
Mengatur operasional sistem elektronika
Setiap komponen memiliki karakteristik yang berbeda-beda, begitu juga resistor memiliki 5
(lima) karakteristik, yaitu:
Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

Nilai resistansi
Toleransi
Dissipasi daya
Koefisien temperatur
Koefisien tegangan
Berdasarkan penggunaannya, resistor dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian sebagai berikut:

Resistor Fixed Value adalah resistor yang mempunyai nilai hambatan tetap (konstan) dan
terdapat gelang/cincin warna untuk mengetahui nilai hambatan dan toleransi. Resistor jenis
ini terbuat dari nikelin atau karbon.

Choiril Luthfi
3.32.15.2.03

Resistor NTC dan PTC. Resistor NTC (Negative Temperature Coefficient) adalah resistor yang
nilainya akan bertambah kecil bila suhu sekitar semakin tinggi. Resistor PTC (Positive Temperature
Coefficient) adalah resistor yang nilainya akan bertambah besar bila suhu sekitar semakin tinggi.

LDR (Light Dependent Resistor) adalah resistor yang berubah nilai hambatannya karena
pengaruh cahaya. Bila cahaya semakin gelap, nilai hambatannya semakin besar. Bila cahaya
semakin terang, nilai hambatannya semakin kecil.

Pada resistor fix value ada 2 (dua) macam pembacaan nilai resistansi, yaitu kode angka dan kode warna
(cincin/gelang warna). Kode angka maksudnya nilai hambatannya sudah tertulis pada tubuh resistor,
biasanya jenis resistor ini memiliki dissipasi daya yang besar. Kode warna maksudnya, nilai
hambatannya dengan menerjemahkan warna ke dalam angka sesuai tabel.

2 LED (Light Emitting Diode)


LED adalah komponen yang dapat mengeluarkan emisi cahaya bila mendapatkan
catu daya. LED merupakan produk temuan setelah dioda, oleh karena itu led adalah dioda
yang dapat memancarkan cahaya. Struktur LED juga sama dengan dioda, tetapi pada LED
elektron menerjang sambungan P-N (Positif-Negatif). LED dibuat dari bahan
semikonduktor campuran, seperti galium arsenida fosfida (GaAsP), galium fosfida (GaP),
galium indium fosfida (GalnP), dan galium alumunium arsenida (GaAlAs).
Untuk mendapat emisi cahaya, doping yang dipakai adalah gallium, arsenic dan
phosphorus. Jenis doping menentukan warna cahaya pada LED. Pada dasarnya semua
warna bisa dihasilkan, namun akan menjadi sangat mahal dan tidak efisien. Dalam memilih
LED selain warna, perlu diperhatikan tegangan kerja, arus maksimum dan dissipasi
dayanya.
Berikut adalah bagian-bagian (struktur) LED.

LED memiliki dua kaki yang terbuat dari sejenis kawat yang warnanya putih.
Kawat yang panjang adalah Anoda, sedangkan kawat yang pendek adalah Katoda. Coba
perhatikan bagian dalam LED, akan terlihat berbeda antara kaki kiri dan kanan. Yang
ukuran benderanya lebih besar adalah katoda, sedangkan yang ukuran bendera lebih kecil
adalah anoda.
Anoda adalah elektroda, bisa berupa logam maupun penghantar listrik lainnya pada
sel elektrokimia yang terpolarisasi jika arus mengalir ke dalamnya. Arus listrik mengalir
berlawanan dengan arah pergerakan elektron.
Katoda merupakan kebalikan dari anoda. Katoda adalah elektroda dalam sel
elektrokimia yang terpolarisasi jika arus listrik mengalir keluar darinya.
Untuk lebih jelasnya, berikut bentuk dan simbol LED.

Karakteristik LED, yaitu jika diberi panjaran/tegangan maju, pertemuannya


mengeluarkan cahaya dan warna cahaya bergantung pada jenis dan kadar material
pertemuan. Ketandasan cahaya berbanding lurus dengan arus maju yang mengalirinya.

Karakteristik LED.
Cara Kerja LED:
LED akan menyala bila ada arus listrik mengalir dari Anoda ke Katoda sehingga Anoda
dihubungkan ke sumber tegangan dan Katoda dihubungkan ke ground. Pemasangan kutub LED

tidak boleh terbalik karena menyebabkan LED tidak menyala. LED memiliki karakteristik
berbeda-beda menurut warna yang dihasilkan.
Semakin tinggi arus yang mengalir pada LED maka semakin terang cahaya yang
dihasilkan. Namun besarnya arus yang diperbolehkan adalah 10 mA-20 mA dan pada tegangan 1.6
V 3.5 V menurut karakter warna yang dihasilkan. Apabila arus lebih dari 20 mA maka LED
terbakar, oleh karena itu perlu resistor sebagai pembatas arus.
Di dalam LED terdapat zat kimia yang mengeluarkan cahaya jika elektron-elektron
melewatinya. Dengan mengganti zat kimia (doping) maka mengubah panjang gelombang cahaya
yang dipancarkannya, seperti infra red, hijau/biru/merah, dan ultraviolet.
Keunggulan LED:
1
2
3
4
5
6
7

Efisiensi energi lebih tinggi dibanding lampu lain, hemat energi 80% - 90%.
Waktu penggunaan lebih lama hingga 100 ribu jam.
Tegangan operasi DC nya rendah.
Cahaya keluaran LED bersifat dingin/cool (tidak ada sinar UV/energi panas).
Ukurannya mini dan praktis.
Tersedia dalam berbagai warna.
Harga murah.

Kelemahan LED:
1
2
3

Suhu lingkungan yang tinggi menyebabkan gangguan elektrik pada LED.


Harga LED per lumen lebih tinggi dibandingkan dengan lampu lain.
Intensitas cahaya (Lumen) yang dihasilkan tergolong kecil.

3 Kapasitor
Kapasitor atau kondensator adalah suatu komponen elektronika yang dapat menyimpan arus
listrik sementara di dalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari
muatan listrik. Kapasitor ini di gunakan untuk penstabil tegangan pada AC/DC power dan Amplifier.
Kondensator juga dikenal sebagai "kapasitor", namun kata "kondensator" masih dipakai hingga saat ini.
Pertama disebut oleh Alessandro Volta seorang ilmuwan Italia pada tahun 1782 (dari bahasa Itali
condensatore), dan komponen ini memiliki satuan yang disebut Farad, nama Farad sendiri di ambil dari
sang penemunya yaitu Michael Faraday.
Struktur sebuah kapasitor terbuat terdiri dari 2 plat logam yang dipisahkan dengan isolator.
Isolator ini terdiri dari bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik,
gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan
mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif
terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju ujung kutub
negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke ujung kutub positif, karena terpisah oleh
bahan dielektrik yang non-konduktif. Muatan elektrik ini tersimpan selama tidak ada konduksi pada
ujung-ujung kakinya. Di alam bebas, phenomena kapasitor ini terjadi pada saat terkumpulnya muatan-

muatan positif dan negatif di awan. Ukuran kapasitor adalah Farad. Semakin besar jumlah Farad atau
kapasitas muatan listrik yang dapat di tampung maka bentuk dari kapasitornya akan semakin besar.
Tetapi di dalam sebuah komponen elektronika nilai yang terdapat dalam sebuah kapasitor nilainya kecil,
biasanya satuan yang di gunakan adalah F, nF dan pF.
1 F = 10-6 F
1 nF = 10-9 F
1 pF = 10-12 F
Sifat kapasitor adalah dapat menerima arus listrik dan menyimpannya dalam waktu yang relatif.
Kapasitor adalah komponen elektronika yang berfungsi menyimpan muatan listrik, selengkapnya
mengenai definisi kapasitor bisa membaca tulisan terdahulu tentang Pengertian Kapasitor. Kapasitor
sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu kapasitor polar dan kapasitor bipolar/ non polar. Pembagian ini
berdasarkan pada adanya polaritas (kutub positif dan negatif) dari masing-masing kapasitor.
1. Kapasitor Polar
Kapasitor polar memiliki dua kutub yang berbeda pada kakinya (-/+), Mengapa kapasitor ini
dapat memiliki polaritas adalah karena proses pembuatannya menggunakan elektrolisa sehingga
terbentuk kutub positif anoda dan kutub negatif katoda. sehingga dalam pemasangannya tidak boleh
terbalik.

Gambar 2.3 Simbol Kapasitor Polaritas

Kapasitor polar biasa disebut juga dengan nama elco, satuan yang digunakan untuk mengetahui
nilai kapasitas sebuah elco adalah F(mikro Farad). Tiap elco memiliki tegangan kerja yang berbedabeda, biasanya batas maksimal tegangan yang diperbolehkan untuk sebuah elco tertulis pada bodynya.
Tegangan kerja pada elco dinyatakan dalam volt. Apabila sebuah elco memiliki nilai 10F/25volt, itu
artinya elco tersebut bernilai 10 mikro Farad dan memiliki batas maksimum tegangan 25 volt. Sifat
kapasitor ini adalah dapat menerima arus listrik dan menyimpannya dalam waktu yang relatif.

Cara membaca nilai kapasitor Non-Polar adalah


Misalnya di badan kapasitor tersebut tertera tulisan 103 artinya :
Angka I

: melambangkan angka

Angka II

: melambangkan angka

Angka III

: melambangkan jumlah nol (dalam piko Farad.)

Jadi nilai kapasitor tersebut adalah 10.000 pF = 10 nF = 0,01uF.

4 IC 555
IC 555 adalah sebuah sirkuit terpadu yang digunakan untuk berbagai pewaktu dan
multivibrator. IC ini didesain dan diciptakan oleh Hans R. Camenzind pada tahun 1970 dan
diperkenalkan pada tahun 1971 oleh Signetics. Nama aslinya adalah SE555/NE555 dan dijuluki
sebagai "The IC Time Machine". 555 mendapatkan namanya dari tiga resistor 5 k yang
digunakan pada sirkuit awal. IC ini sekarang masih digunakan secara luas dikarenakan
kemudahannya, kemurahannya dan stabilitasnya yang baik. Bergantung pada produsen, IC ini
biasanya menggunakan lebih dari 20 transistor, 2 diode dan 15 resistor dalam sekeping
semikonduktor silikon yang dipasang pada kemasan DIP 8 pin.
1. Fungsi masing-masing kaki (pin) IC NE555

Gb. 1: Simbol IC NE555


PI
N
1

KEGUNAAN
Ground (0V), adalah pin input dari sumber tegangan DC paling
negative
Trigger, input negative dari lower komparator (komparator B) yang

menjaga osilasi tegangan terendah kapasitor pada 1/3 Vcc dan

mengatur RS flip-flop
Output, pin keluaran dari IC 555.
Reset, adalah pin yang berfungsi untuk me reset latch didalam IC yang
akan berpengaruh untuk me-reset kerja IC. Pin ini tersambung ke suatu

gate (gerbang) transistor bertipe PNP, jadi transistor akan aktif jika
diberi logika low. Biasanya pin ini langsung dihubungkan ke Vcc agar
tidak terjadi reset
Control voltage, pin ini berfungsi untuk mengatur kestabilan tegangan
referensi input negative (komparator A). pin ini bisa dibiarkan

tergantung (diabaikan), tetapi untuk menjamin kestabilan referensi


komparator A, biasanya dihubungkan dengan kapasitor berorde sekitar

10 nF ke pin ground
Threshold, pin ini terhubung ke input positif (komparator A) yang akan
me-reset RS flip-flop ketika tegangan pada pin ini mulai melebihi 2/3

Vcc
Discharge, pin ini terhubung ke open collector transistor internal (Tr)
7

yang emitternya terhubung ke ground. Switching transistor ini


berfungsi untuk meng-clamp node yang sesuai ke ground pada timing
tertentu
Vcc, pin ini untuk menerima supply DC voltage. Biasanya akan bekerja

optimal jika diberi 5V s/d 15V. Supply arusnya dapat dilihat di


datasheet, yaitu sekitar 10mA s/d 15mA.

2. Skematik Internal

Gb. 2: Skema Internal IC NE555


Pada diagram blok disamping, internal IC NE555 yang kecil ini terdiri dari: 2
buah komparator (Pembanding tegangan), 3 buah Resistor sebagai pembagi tengangan, 2
buah Transistor (dalam praktek dan analisis kerjanya, transistor yang terhubung pada pin
4 biasanya langsung dihubungkan ke Vcc), 1 buah Flip-flop S-R yang akan mengatur
output pada keadaan logika tertentu, dan 1 buah inverter.

Dengan melihat Gambar 2 dan Tabel diatas, secara umum cara kerja internal IC
ini dapat dijelaskan bahwa, ketika pin 4 sebagai reset diberi tegangan 0V atau logika low
(0), maka ouput pada pin 3 pasti akan berlogika low juga. Hanya ketika pin 4 (reset) yang
diberi sinyal atau logika high (1), maka output NE555 ini akan berubah sesuai dengan
tegangan threshold (pin 6) dan tegangan trigger (pin 2) yang diberikan.
Ketika tegangan threshold pada pin 6 melebihi 2/3 dari supply voltage (Vcc) dan
logika output pada pin 3 berlogika high (1), maka transistor internal (Tr) akan turn-on
sehingga akan menurunkan tegangan threshold menjadi kurang dari 1/3 dari supply
voltage. Selama interval waktu ini, output pada pin 3 akan berlogika low (0).

Setelah itu, ketika sinyal input atau trigger pada pin 2 yang berlogika low (0)
mulai berubah dan mencapai 1/3 dari Vcc, maka transistor internal (Tr) akan turn-off.
Switching transistor yang turn-off ini akan menaikkan tegangan threshod sehingga output
IC NE555 ini yang semula berlogika low (0) akan kembali berlogika high (1).
Sebetulnya cara kerja dasar IC NE555 merupakan full kombinasi dan tidak
terlepas dari semua komponen internalnya yang terdiri dari 3 buah resistor, 2 buah
komparator, 2 buah transistor, 1 buah flip-flop dan 1 buah inverter, yang kesemuanya itu
akan di bahas pada kesempatan lain. Sekaligus dengan rangkaian/komponen external
yang mendukungnya.

5 Dioda
Secara etimologis pengertian dioda berasal dari dua buah kata DI (dua) dan ODA
(elektroda), yang artinya dua elektroda.Secara harfiah pengertian dioda adalah sebuah
komponen elektronika yang memiliki dua buah elektroda dimana elektroda
berpolaritas positif disebut Anoda dan elektroda yang berpolaritas negatif disebut
Kathoda.Fungsi dioda sangat berhubungan dengan sistem pengendalian arus tegangan.
Dioda merupakan komponen aktif yang bersaluran dua, tapi khusus untuk dioda
termionik mungkin memiliki saluran ketiga sebagai pemanas.Namun pada umumnya dioda
memiliki dua elektroda aktif dimana isyarat listrik dapat mengalir.Kebanyakan komponen ini
digunakan karena karakteristik satu arah yang dimilikinya, sedangkan dioda varikap
(variable capacitor/kondensator variabel) digunakan sebagai kondensator terkendali
tegangan.

Gambar 2.1 Dioda

Pada gambar 2.1 struktur dioda di atas terlihat jelas adanya sambungan
semikonduktor P-N. Pada bagian sambungan terdapat sebagian area yang ternetralkan
yang disebut lapisan deplesi (depletion layer), dimana terdapat keseimbangan hole dan
elektron artinya elektron pada sisi N melompat sebagian ke sisi P sehingga area
tersebut menjadi area ternetralkan. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, pada sisi
P banyak terbentuk hole-hole yang siap menerima elektron sedangkan di sisi N banyak
terdapat elektron-elektron yang siap untuk bebas.
Jika dioda diberi bias positif (forward bias/bias maju), dengan kata lain memberi
tegangan potensial sisi P lebih besar dari sisi N, maka elektron dari sisi N akan tergerak
untuk mengisi hole di sisi P. Setelah elektron bergerak meninggalkan tempatnya mengisi

hole disisi P, maka akan terbentuk hole pada sisi N. Terbentuknya hole hasil dari
perpindahan elektron ini disebut aliran hole dari P menuju N, Kalau mengunakan
terminologi arus listrik, maka dikatakan terjadi aliran listrik dari sisi P ke sisi N.
Dioda pada umumnya terbuat dari bahan silikon yang mempunyai tegangan pemicu
sebesar 0.7 Volt. Tegangan ini menurut uraian di atas adalah tegangan minimum yang
diperlukan agar elektron bisa melompat mengisi hole melalui area penetralan (depletion
layer). Di dalam dioda tidak akan terjadi atau sulit sekali terjadi perpindahan elektron atau
aliran hole dari P ke N maupun sebaliknya

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Gambar Rangkaian

3.2 Daftar Komponen


1. Resistor 47K (1 buah)
2. Resistor 4k7 (1 buah)
3. Resistor 100K (1 buah)
4. Resistor 1K (1 buah)
5. Resistor 12 K (1 buah)
6. Dioda 1N4002
7. Transistor BD 139 (1 buah)
8. Transistor BC109(1 buah)
9. IC 555 (1 buah)
10. Kapasitor 47 F (1 buah)
11. Kapasitor 4,7 F (1 buah)

3.3 Layout Komponen

Gambar jalur rangkaian Lampu Senja IC 555

Daftar Komponen
Cara kerja rangkaian tersebut adalah:

1. Ketika tegangan diberikan, anggaplah bahwa dalam keadaan tinggi, Q = rendah, = tinggi dan
pada C terjadi pengosongan tegangan, sehingga titik D = tinggi.
2. Jika diberikan pulsa negatif pada, maka Q menjadi tinggi dan = rendah.
3. Tegangan kapasitor akan berubah dengan segera dan titik D akan drop menjadi 0 V.
4. Karena pada titik d = 0 V, maka akan menyebabkan salah satu input pada gerbang 1 menjadi
rendah, meskipun di trigger menjadi tinggi. Oleh karena itu Q tetap dalam keadaan tinggi dan =
rendah.

5. Beberapa lama kemudian akan terjadi pengisian kapasitor terhadap VCC. Ketika tegangan
kapasitor pada titik D menuju level tegangan input (VIH) dari gerbang 1 dalam keadaan tinggi,
maka Q akan menjadi rendah dan menjadi tinggi.
6. Rangkaian kembali pada state yang stabil, sampai munculnya sinyal trigger dari. Dan pada
kapasitor terjadi lagi pengosongan tegangan 0 V.
Bentuk gelombang pada gambar menunjukkan karakteristik input/output dari rangkaian
dan akan digunakan untuk membangun suatu persamaan untuk menentukan tw.Pada kondisi
state stabil( = tinggi), tegangan pada titik D akan sama dengan VCC.

3.5 Pengukuran
Setelah melakukan praktikum pengukuran tegangan dan arus pada rangkaian Lampu Senja
IC 555, langkah selanjutnya menganalisa hasil pengukuran. Menganalisa dapat berupa menghitung
hasil tegangan di beberapa titik berdasar teori dan praktik.
Berikut adalah langkah-langkah pengujian:
1. Rangkaian telah diuji coba awal.
2. Pasang IC 555 dengan soket pada soket rangkaian.
3. Menghubungkan output pada modul lampu.
4. Hubungkan input (kabel-kabel biru) dengan LDR.
5. Hubungkan modul LEDdengan catu 9 volt.
6. Hubungkan rangkaian dengan catu daya 9 volt.
7. Modul LED dengan LDR harus saling berhadapan dengan jarak 15cm.
8. Halangi cahaya LED pelan-pelan.
9. Halangi cahaya LED cepat-cepat.
10. Pada jarak maksimal antara LED dengan LDR berapa lampu masih bisa menyala.

No.

Terpisah

Terhubung

Keterangan

1
2
3
4
5
6
7
8
9

2,5mF
9,05V
-1,88V
9,23V
0,519V
9,20V
9,20V
9,23V
186,8mF

1,3mF
9,11V
-1,073V
9,25V
157,7Mv
9,23V
9,23V
9,25V
9,24V

GND
Trigger
Out
Reset
CV
Threshold
Discharge
VCC
Kolektor BC108

Tabel Hasil Pengukuran Lampu Senja IC 555

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Untuk mendesain layout pcb diperlukan software seperti PCB Express, Eagle, PCB Wizard
dan lain-lain. Dapat pula dilakukan secara manual dengan menggambar langsung pada PCB
tersebut.

2. Monostable multivibrator adalah piranti digital yang akan memberikan keluaran pulsa
dengan lebar tertentu setelah mendapat trigger pada masukannya.
3. Ketika tegangan diberikan, anggaplah bahwa dalam keadaan tinggi, Q = rendah, = tinggi dan
pada C terjadi pengosongan tegangan, sehingga titik D = tinggi. Jika diberikan pulsa negatif
pada, maka Q menjadi tinggi dan = rendah. Tegangan kapasitor akan berubah dengan segera
dan titik D akan drop menjadi 0 V. Karena pada titik d = 0 V, maka akan menyebabkan salah
satu input pada gerbang 1 menjadi rendah, meskipun di trigger menjadi tinggi. Oleh karena
itu Q tetap dalam keadaan tinggi dan = rendah. Beberapa lama kemudian akan terjadi
pengisian kapasitor terhadap VCC. Ketika tegangan kapasitor pada titik D menuju level
tegangan input (VIH) dari gerbang 1 dalam keadaan tinggi, maka Q akan menjadi rendah
dan menjadi tinggi. Rangkaian kembali pada state yang stabil, sampai munculnya sinyal
trigger dari. Dan pada kapasitor terjadi lagi pengosongan tegangan 0 V.
4.2 Saran
1. Menggunakan peralatan dan pakaian yang menunjang kenyamanan dan keselamatan kerja.
2. Diusahakan pengerjaan dalam 1 hari, supaya perencanaannya tidak berantakan.
3. Menggunakan peralatan dengan maksimal.
4. Siapkan alat pengerjaan selengkap dan sebaik mungkin agar hasil pengerjaannya
memuaskan
5. Menyablon PCB menggunakan print laser agar mudah menempel pada PCB

DAFTAR PUSTAKA

Elektronika-dasar.web.id/monostable-multivibrator/
Lovianaikasari.blogspot.co.id/2013/11/multivibrator.html?m=1
Mia-andilolo.blogspot.co.id/2011/04/multivibrator.html?m=1
www.academia.edu/122263339/monostable_multivibrator
https://id.m.wikipedia.org/wiki/multivibrator

LAMPIRAN
Datasheet IC 555

Pin Configuration and Functions

D, P, and DGK Packages

8-Pin PDIP, SOIC, and VSSOP

Top View

8
+VCC

GND

2
COMPAR-

TRIGGER

DISCHARGE

ATOR

FLIP FLOP

3
OUTPUT

R
COMPAR-

6
THRESHOLD

OUTPUT

STAGE

ATOR

VREF (INT)

CONTROL

RESET

VOLTAGE

Pin Functions

PIN
I/O
DESCRIPTION

NO.

NAME

Control

Controls the threshold and trigger levels. It determines the pulse width of the output

Voltage
I
waveform. An external voltage applied to this pin can also be used to modulate the output

waveform

Discharge
I
Open collector output which discharges a capacitor between intervals (in phase with output).

It toggles the output from high to low when voltage reaches 2/3 of the supply voltage

GND
O
Ground reference voltage

Output
O
Output driven waveform

Reset
I
Negative pulse applied to this pin to disable or reset the timer. When not used for reset

purposes, it should be connected to VCC to avoid false triggering

Threshold
I
Compares the voltage applied to the terminal with a reference voltage of 2/3 Vcc. The

amplitude of voltage applied to this terminal is responsible for the set state of the flip-flop

Trigger
I
Responsible for transition of the flip-flop from set to reset. The output of the timer depends

on the amplitude of the external trigger pulse applied to this pin

V+
I
Supply voltage with respect to GND

Copyright 20002015, Texas Instruments Incorporated Submit Documentation Feedback

LM555

SNAS548D FEBRUARY 2000 REVISED JANUARY 2015

www.ti.com

6 Specifications

6.1 Absolute Maximum Ratings

over operating free-air temperature range (unless otherwise noted)

MIN
MAX
UNIT

Power Dissipation

(3)

LM555CM, LM555CN

1180
mW

LM555CMM

613
mW

(4)

(1)(2)

Soldering
PDIP Package
Soldering (10 Seconds)

260
C

Small Outline Packages (SOIC and


Vapor Phase (60 Seconds)

215
C

Information

VSSOP)
Infrared (15 Seconds)

220
C

Storage temperature, Tstg

65
150
C

Stresses beyond those listed under Absolute Maximum Ratings may cause permanent damage to the device. These are stress ratings only,
which do not imply functional operation of the device at these or any other conditions beyond those indicated under Recommended Operating
Conditions. Exposure to absolute-maximum-rated conditions for extended periods may affect device reliability.
If Military/Aerospace specified devices are required, please contact the TI Sales Office/Distributors for availability and specifications.
For operating at elevated temperatures the device must be derated above 25C based on a 150C maximum junction temperature and a
thermal resistance of 106C/W (PDIP), 170C/W (S0IC-8), and 204C/W (VSSOP) junction to ambient.

Refer to RETS555X drawing of military LM555H and LM555J versions for specifications.

6.2
ESD Ratings

VALUE

UNIT
V
Electrostatic discharge
Human-body model (HBM), per ANSI/ESDA/JEDEC JS-001
500

(1)

(2)

V
(ESD)

(1) JEDEC document JEP155 states that 500-V HBM allows safe manufacturing with a standard ESD control process.

(2) The ESD information listed is for the SOIC package.

6.3

Recommended Operating Conditions

over operating free-air temperature range (unless otherwise noted)

MIN
MAX

UNIT
Supply Voltage

18

V
Temperature, TA

0
70

C
Operating junction temperature, TJ

70

6.4
Thermal Information

LM555

THERMAL METRIC

(1)

PDIP
SOIC
VSSOP

UNIT

8 PINS

JA

Junction-to-ambient thermal resistance


106

170
204

C/W

For more information about traditional and new thermal metrics, see the IC Package Thermal Metrics application report, SPRA953.

6.5 Electrical Characteristics

(TA = 25C, VCC = 5 V to 15 V, unless otherwise specified)


PARAMETER
TEST CONDITIONS
MIN
TYP
MAX
UNIT

Supply Voltage

4.5

16
V

Supply Current
VCC = 5 V, RL =

3
6
mA

VCC = 15 V, RL =

10
15

(1)(2)

(Low State)

(3)

Timing Error, Monostable

Initial Accuracy

1%

Drift with Temperature


RA = 1 k to 100 k,

50

ppm/C

C = 0.1 F,

(4)

Accuracy over Temperature

1.5 %

Drift with Supply

0.1 %

Timing Error, Astable

Initial Accuracy

2.25

Drift with Temperature


RA, RB =1 k to 100 k,

150

ppm/C

C = 0.1 F,

(4)

Accuracy over Temperature

3.0%

Drift with Supply

0.30 %

/V

Threshold Voltage

0.667

x VCC

Trigger Voltage
VCC = 15 V

VCC = 5 V

1.67

Trigger Current

0.5
0.9
A

Reset Voltage

0.4
0.5
1
V

Reset Current

0.1
0.4
mA

Threshold Current
(5)

0.1
0.25
A

Control Voltage Level


VCC = 15 V
9
10
11
V

VCC = 5 V
2.6
3.33
4

Pin 7 Leakage Output High

1
100
nA

Pin 7 Sat

(6)

Output Low
VCC = 15 V, I7 = 15 mA

180

mV

Output Low
VCC = 4.5 V, I7 = 4.5 mA

80
200
mV

Output Voltage Drop (Low)

VCC = 15 V

ISINK = 10 mA

0.1
0.25
V

ISINK = 50 mA

0.4
0.75
V

ISINK = 100 mA

2
2.5
V

ISINK = 200 mA

2.5

VCC = 5 V

ISINK = 8 mA

ISINK = 5 mA

0.25
0.35
V

All voltages are measured with respect to the ground pin, unless otherwise specified.

Absolute Maximum Ratings indicate limits beyond which damage to the device may occur. Recommended Operating Conditions indicate
conditions for which the device is functional, but do not ensure specific performance limits. Electrical Characteristics state DC and AC
electrical specifications under particular test conditions which ensures specific performance limits. This assumes that the device is within the
Recommended Operating Conditions. Specifications are not ensured for parameters where no limit is given, however, the typical value is a
good indication of device performance.

Supply current when output high typically 1 mA less at V CC = 5 V.


Tested at VCC = 5 V and VCC = 15 V.
This will determine the maximum value of RA + RB for 15 V operation. The maximum total (R A + RB) is 20 M.

No protection against excessive pin 7 current is necessary providing the package dissipation rating will not be excee