Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDHULUAN
1.1

Latar Belakang
Subsektor perikanan memegang peran penting dalam penyediaan protein

hewani bagi rakyat indonesia. Produks ikan mencapai kurang lebih 2 juta ton per
tahun, sebagian besar 74 % berasal dari laut dan sisanya 26% dari air tawar
(mariyono dan sunanda 2002). Ikan merupakan bahan pangan yang berprotein
tinggi, murah, dan mudah dicerna oleh tubuh. Ikan merupakan sumber protein
hewani untuk memenuhi gizi masyarakat Indonesia (Rukman 1997). Salah satu
hasil perikanan yang tergolong ikan-ikan ekonomis dan komersial yang banyak
digemari oleh masyarakat adalah ikan mas (Cyprinus carpio L). Ikan ini banyak
dibudidayakan oleh petani ikan seluruh Indonesia (Monalisa 2008). Ikan mas
merupakan ikan konsumsi air tawar. Di Indonesia telah dibudidayakan di kolam
biasa, sawah, waduk, sungai air deras, maupun dalam karamba di peraian umum
sejak tahun 1920. Produksi ikan mas dari tahun ke tahun selalu mengalami
peningkatan seiring dengan meningkatnya permintaan. Ikan mas majalaya
memiliki beberapa keunggulan yaitu pertumbuhanya relatif cepat, frekunditas atau
jumlah telur yang dihasilkan tergolong tinggi. Budidaya ikan mas dan perikanan
pada umumnya tidak telapas dari resiko biologis terutama yang disebabkan oleh
adanya gangguan penyakit.
Dalam budidaya perikanan kewaspadaan terhadap penyakti perlu sekali
mendapat perhatian utama. Penyakit pada ikan dapat disebabkan oleh agen infeksi
seperti parasit, bakteri, dan virus serta agen non infeksi seperti kualitas pakan
yang jelek, maupun kondisi lingkungan yang kurang menunjang bagi kehidupan
ikan. Timbulnya serangan penyakit maerupakan hasil interaksi yang tidak serasi
antara ikan, kondisi lingkungan dan organisme atau agen penyebab penyakit
(Afrianto dan Liviawaty 1992). Interaksi yang tidak serasi ini menyebabkan stres
pada ikan, sehingga mekanisme paterahanan diri yang dimilikinya menjadi lemah,
akhirnya agen penyakit mudah masuk ke dalam tibuh dan menimbulkan penyakit.
Keneradaan oarasit dapat menghambat laju petumbuhan inang dan bahkan secara
langsung maupun tidak langsung dapat membunuh inagnya.

Organisme penyebab penyakit pada ikan sangatlah beragam, salah satunya


ektoparasit (Bahkti dkk 2011). Umumnya, ektoparasit pada ikan adalah golongan
Crustacea, cacing (nematoda, trematoda, dan cestoda) dan protzoa. Ektoparasit
ini menginfeksi sirip, sisik, operkulum dan insang ikan. Beberapa faktor yang
berperan terhadap serangan penyakit pada ikan adalah kepadatan ikan yang
dibudidayakan, budidaya secara monokultur dan stress serta faktor biotik dan
abiotik yaitu faktor fisika dan kimia air berbagai oganisme patogen (Wnaruddin
dan Eliwardi 2007).
Penyediaan benih ikan yang cukup dan berkualitas merupakan salah satu
faktor penting bagi keberhasilan bidang budidaya ikan (Cahayo dkk 2006). Salah
satu faktor yang menetukan tingkat kesehatan ikan adalah kehadiran protozoa
dalam tubuh ikan. Menurut Irianto (2005), protozoa yang sering menyerang atau
menyebabkan kematian pada ikan budidaya antara lain adalah Ichthyophthirius
multifllis, Trichodina sp, Oodinium sp. Adanya infeksi ektoparasit pada bagian
tubuh tertentu dapat menyebabkan berbagai perubahan, baik pada organ, jaringan
tubuh maupun perubahaan perilaku inang secar umum. Tubuh ikan akan
memberikan reaksi terhadap parasit tersebut, sehingga terjadi hipertrofi pada
jaringan tertentu, pembengkakan an terbentuknya zat pertahanan tubuh. Lendit
sebagai pertahanan paling luar dari ikan mengandung zar-zat yang dapat
menghambt pertumbuhan dan kehidupan parasit pada permukaan tubuh ikan.
Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit yang
menyerang ikan peliharaan adalah mendeteksi tanda-tanda serangan dan
mengidentifikasi secepat mungkin penyebabnya. Data mengenai jenis-jenis
protozoa parasit pada ikan air tawar diharapkan nantinya dapat dimanfaatkan
sebagai dasar acuan dalam memperbaiki kulaitas air kolam, intensifikasi
pengelolaan kolam, dan menyucian terhaap bak-bak pembenihan.
1.2

Tujuan
Paktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi parasit baik ektoparsit

(insang, kulit dan sirip) maupun endoparasit (otot danusus)

1.3

Manfaat
Praktikum ini bermanfaat bagi mahasisiwa maupun pembudidaya agar

mengetahui jenis-jenis ektoparasit maupun endoparasit yang menyerang ikan mas


(Cyprins carpio) . Dengan mengetahui jenis penyakit tersebut maka diharpakan
mahasiswa ataupun pembudidaya mampu mncegah maupun menanggulangi
serangan yang terjadi pada ikan pembudidaya