Anda di halaman 1dari 4

BAHAYANYA VAKSINASI ANAK SAAT INI?

2 Mei 2014 pukul 10:03


Wahai ummat Islam waspadalah, inilah sebab dan alasan kenapa bayi dan anak-anak kita
tidak boleh imunisasi..
Qodarulloh, setelah mencari-cari informasi, bukan hanya ilmu tentang baik atau buruk
sebenarnya vaksinasi tersebut, saya justru mendapatkan lebih, tentang indikasi kuat adanya
konspirasi Yahudi lagi-lagi Yahudi Laknatulloh- di balik program vaksinasi ini. Berikut saya
ringkaskan artikel Imunisasi, Siasat Yahudi Lumpuhkan Generasi dalam Tabloid Bekam
pada edisi yang mengangkat Imunisasi sebagai topik utamanya. Semoga bermanfaat.

Apa itu Imunisasi/Vaksinasi?


Bila bibit penyakit penderita TBC, Hepatitis, Meningitis, HIV, Campak, Polio atau penyakit
lainnya yang menyarang di tubuh seseorang diambil lantas diolah sedemikian rupa entah
dengan istilah dilemahkan atau dilumpuhkan, kemudian bibit penyakit tersebut diperbanyak
lalu disuntikkan ke tubuh Anda atau anak Anda! Apakah dengan sukarela Anda
menerimanya? Aksi memasukkan bibit penyakit inilah yang akrab disebut vaksinasi atau
imunisasi.

Vaksin berasal dari kata vaccinia penyebab infeksi cacar pada sapi. Secara umum, vaksin
adalah suatu bahan yang diyakini dapat melindungi orang dari penyakit. Vaksinasi adalah
usaha merangsang daya tahan tubuh dengan memasukkan bibit penyakit yang dilemahkan
dan diproses dengan bahan lain.

Sebenarnya vaksinasi atau imunisasi tidak ada hubungannya dengan peningkatan daya tahan
tubuh mengingat fungsinya hanya sebagai perangsang sejauh mana daya tahan tubuh
seseorang. Padahal daya tahan tubuh/sistem imunitas perlu dilatih berulang-ulang agar selalu
siap bila ada mikroorganisme masuk ke tubuh.

Maka dari itu, yang kita dengar vaksin harus disuntikkan berkali-kali, bila tidak tubuh tidak
membentuk sistem imunitasnya. Namun, pada kenyataannya walaupun telah diimunisasi,
tetap saja masih banyak yang terkena penyakit. Kenapa ini bisa terjadi, kemungkinan karena
kesalahan cara mem-vaksin, penyimpanannya, atau karena vaksin memang tidak efektif.
ungkap dr. Agus Rahmadi, pengasuh Klinik Sehat.

Sebenarnya vaksin diberikan hanya untuk jaga-jaga (preventif)/belum tentu terjadi. Apakah
dengan alasan jaga-jaga, kesehatan justru harus dikorbankan (dipertaruhkan)? Belum lagi
vaksin banyak menggunakan unsur haram. Kenapa tidak dengan tahnik, konsumsi madu, dan
habbatussauda yang telah terbukti meningkatkan sistem imunitas?, lanjutnya.
Sejarah Vaksin
Vaksinasi sesungguhnya adalah salah satu dari sekian banyak perilaku keji Yahudi dalam
usaha mereka untuk menguasai dunia dengan menyebarkan racun/kuman pembunuh kepada
bangsa lain, terutama kaum muslimin.
Diungkapkan dalam Deadly Mist, vaksin dijadikan senjata biologis pemusnah massal
sistematis oleh zionis dan kroninya sejak abad ke-18, diawali oleh Jenderal Jeffrer Amherst
yang menghabisi suku Indian dengan menyebarkan kuman dan penyakit yang disisipkan
dalam selimut dan handuk yang dibagikan ke suku tersebut.
Pada abad ke-19, serum/kuman, virus, dan materi berbahaya lainnya dijadikan senjata senjata
biologi dalam peperangan atau pemusnahan massal serta penyebaran racun yang
menghancurkan otak dan sistem saraf pusat.
Pada abad ke-20, vaksin modern dikelola oleh Flextner Brothers, yang penelitiannya tentang
vaksinasi pada manusia didanai oleh keluarga Rockefeller yang merupakan salah satu
keluarga paling berpengaruh di dunia dan bagian dari Zionis International yang memprakasai
pendirian WHO dan lembaga dunia lainnya.
Singkatnya, dari data historis, vaksinasi merupakan bagian dari strategi dan misi
pengendalian jumlah penduduk oleh Zionisme International dalam rangka menggapai misi
New World OrderI. Mereka meraup dua keuntungan sekaligus, pengendalian jumlah
penduduk dan menuai keuntungan yang besar.
Vaksin dan Kepentingan Bisnis
Boleh jadi pula niat busuk Yahudi dalam program vaksinasi ini senada dengan teori bila
ingin senjata laku, maka ciptakan perang. Dalam hal ini bila ingin obat laku, ciptakan
penyakit! Dengan strategi ini, Yahudi berusaha membuat bangsa lain menderita sekaligus
menguras isi kantongnya dengan alasan kesehatan. Sasaran vaksin adalah negara-negara
berkembang yaitu Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Yang mengambil keuntungan adalah
negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.
Adanya kepentingan bisnis dan siasat merusak kesehatan manusia di balik imunisasi ini
semakin mudah dipahami apalagi bila dicermati bahwa imunisasi/vaksinasi merupakan
perbuatan yang membingungkan dan sulit dipahami dan diterima akal sehat serta
bertentangan dengan aturan Islam.
Permasalahan Vaksin Lainnya
Vaksin yang selama ini dikembangkan adalah salah satu produk farmasi, dimana kehalalan
produk-produk farmasi sendiri dikritisi oleh Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim. Ketus
MUI pun menegaskan bahwa hukum mengkonsumsi obat dan vaksin sama dengan hukum
mengkonsumsi makanan, yakni harus halal. Bahkan boleh jadi, bila dikaji, pemberian vaksin

juga bertentangan dengan aturan Badan POM RI yang tidak memberikan izin edar produk
yang bersumber dari bahan tertentu.
Penggunaan bahan haram dalam pembuatan vaksin pun diakui oleh produsen vaksin terbesar
di Indonesia, PT. Biofarma, seperti pernah diungkapkan oleh Drs. Iskandar, Apt., MM., ketika
menjabat Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT. Biofarma bahwa enzim tripsin babi
masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV).
Sementara Kepala Divisi Produksi vaksin virus PT. Biofarma, Drs. Dori Ugiyadi
mengatakan, Di Biofarma, kita menggunakan sel ginjal monyet untuk produksi vaksin polio
dan sel embrio ayam untuk produksi vaksin campak.

Logika Vaksin
Bayi yang baru lahir dianugerahi oleh Allah tubuh yang sempurna, lengkap dengan sistem
kekebalan tubuh. Bayi yang belum tahu apa-apa, belum mengenal selain tangis dan tawa,
makan/minum, dan tidur tentu tak mampu menolak apa pun yang duimasukkan ke tubuhnya.
Ayah ibu lah yang memilah dan memilih apa yang terbaik untuk ditelen atau dimasukkan ke
tubuh buah hatinya.
Mungkinkah orang tua membiarkan begitu saja ragam racun ditelan dan bersarang di
pembuluh darah dan organ-organ tubuh anak kesayangannya? Di sisi lain, mungkinkah racun
merupakan media yang tepat untuk menjaga kesehatan? Bayangkan pula bila racun tersebut
berasal dari babi, bangkai, darah dan nanah! Mungkinkah seseorang yang karena hanya ingin
menguji daya tahan tubuhnya harus menelah bahan-bahan haram dan berbahaya?
Bukankah vaksinasi hanya menambah orang yang terinfeksi penyakit dan terjadinya
penyebaran penyakit di daerah/negara tertentu padahal sebelumnya aman-aman saja?
Hentikan Vaksin!
Setelah merenungkan agenda busuk Yahudi serta dampak buruk vaksin, cukup banyak tenaga
medis yang menghentikan dan menentang vaksinasi, baik sembunyi-sembunyi maupun
terang-terangan.
Bidan Emma, menghentikan program imunisasi di kliniknya karena tidak ingin men-dzolimi
bayi dan masyarakat dengan memasukkan barang-barang haram dan membahayakan
kesehatan. Menurutnya, semisal vaksin hepatitis B membuat organ-organ tubuh bayi terutama
liver menjadi sangat terpaksa merespon virus-virus dan zat kimia sehingga memungkinkan
terjadinya kelemahan liver untuk tahap kehidupan berikutnya.
Dr. Fadilah Supari saat menjabat sebagai Menteri Kesehatan secara terang-terangan
mendesak kajian ulang mengenai kebaradaan Namru 2 (Naval Mediacal Research Unit),
proyek riset militer AS dalam masalah vasin. Selain itu, dia juga menentang proyek jual beli
virus flu burung dan bisnis-bisnis kotor Amerika lainnya.
Siti Fadilah, anggota Dewan Penasihat Presiden, mengamati adanya konspirasi AS dan WHO
dalam mengembangkan senjata biologis virus flu burung sehingga ia dinilai membuka

kedok WHO yang telah lebih dari 50 tahun mewajibkan virus sharing yang merugikan
negara-negara miskin.
Bahkan Amerika Serikat sendiri telah mendirikan The Vaccine Adverse Events Reporting
Sistem (VAERS) yang mencatat berbagai reaksi buruk yang disebabkan oleh berbagai
program vaksinasi. Menurut laporan VAERS, tercatat 244.424 kasus, dengan 2.866 kasus
berujung kematian sejak tahun 1999-2002.
Demikan pula masyarakat di AS, Kanada, dan beberapa negara Eropa seperti Inngris,
Perancis, dan Belanda telah membatalkan beberapa program vaksinasi.
***
Demikian tulisan ringkas ini semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Sebenarnya masih
banyak hal-hal penting lainnya yang mungkin terlewat tidak saya tuliskan di sini, seperti
kisah-kisah nyata tentang anak-anak yang justru tumbuh lebih sehat tanpa imunisasi dan
sebaliknya, kisah tentang tragedi yang terjadi akibat imunisasi pada bayi, dsb.
Setelah membaca informasi-informasi tersebut juga informasi dari artikel-artikel di internet,
saya bertekad tidak akan memberikan vaksinsasi kepada anak-anak saya nanti, insyaAllahu
Ta`ala. Semoga Allah melindungi kita semua. Allohu Ta`ala A`lam.

Sumber: http://estehmanishangatnggakpakegula.blogspot.com/

Rujukan:
silakan baca buku:
1. Imunisasi, Dampak & Konspirasi; Solusi Sehat ala Rasulallah SAW, yang ditulis oleh Hj.
Ummu Salamah, SH., Hajjam.
2. Deadly Mist, Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia, oleh Jerry D. Gray.