Anda di halaman 1dari 4

1

Bimbingan di Sekolah Dasar


A. Kedudukan dan Permasalahan Bimibingan di Sekolah Dasar
Secara formal kedudukan bimbingan dalam Sistem Pendidikan di Indonesia telah
digariskan di dalam Undang-undang No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta
perangkat Peraturan Pemerintahnya. Dalam PP No. 2/1989 pasal 25 dikatakan bahwa :
1. Bimbingan merupakan bantuan yang di berikan kepada siswa dalam rangka
menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.
2. Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing.
Pengakuan formal seperti ini mengandung makna bahwa layanan bimbingan di
sekolah dasar perlu dilaksanakan secara terprogram dan ditangani oleh orang yang memiliki
kemampuan untuk itu. Dengan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan siswaserta
penyelenggaraan sistem pendidikan sekolah dasar yang ditangani oleh guru kelas, maka
layanan bimbingan di sekolah dasar dalam banyak hal masih akan lebih efektif. Oleh kaena
itu, guru sekolah dasar dikehendaki memiliki pemahaman dan kemampuan untuk
menyelenggarakan layanan bimbingan.
Keberadaan bimbingan dalam pendidikan di sekolah dasar terkait erat dengan sistem
pendidikan dasar 9 tahun. Dan untuk itu sekolah dasar mempunyai kewajiban menyiapkan
para lulusanya untuk memasuki tingkat lanjutan, jelasnya SLTP.
Kondisi atau tuntutan seperti digambarkan diatas menghendaki sekolah dasar tidak
hanya mengantarkan siswanya untuk tamat belajar, melainkan harus membantu siswa
mengembangkan kesiapan baik dalam segi akademik, sosial, maupun pribadi. Untuk
mencapai kesiapan seperti itu, proses dan interkasi pembelajaran di sekolah dasar tidak
semata-mata merupakan proses instruksional melainkan harus disertai dengan upaya-upaya
non instruksional yang terpadu di dalam kegiatan instruksonal tersebut. Upaya noninstruksional ini merupakan upaya yang lebih banyak terarah kepada layanan bimbingan.
Pada tingkat sekolah dasar bimbingan dapat dikatakan identik dengan mengajar yang
baik terutama jika guru memainkan peran-peran penting dalam mengembangkan lingkungan
kondusif bagi perkembangan siswa.
Temuan lapangan (Sunaryo Kartadinata,1992; Sutaryat Trisnamansyah dkk,1992)
menunjukkan bahwa masalah-masalah perkembangan siswa sekolah dasar menyangkut aspek
perkembangan fisik,kognitif,pribadi, dan sosial. Masalah masalah perkembangan ini
memunculkan kebutuhan akan layanan bimbingan di sekolah dasar. Rentang keragaman
siswa sekolah dasar bergerak dari siswa yang sangat pandai sampai dengan siswa yang sangat
kurang, dari siswa yang sangat mudah menyesuaikan diri terhadap program sampai dengan
siswa yang sangat sulit menyesuaikan diri, dari siswa yang tidak bermasalah, sampai dengan
siswa yang sarat masalah. Kondisi seperti ini akan memunculkan populasi khusus yang
menjadi target layanan bimbingan, antara lain mencakup :

a. Siswa dengan kecerdasanya dan kemampuan tinggi


b. Siswa yang mengalami kesulitan belajar
c. Siswa dengan perilaku bermasalah

B. Hubungan bimbingan dengan kurikulum


Kiranya para ahli dan praktisi pendidikan sepakat bahwa kurikulum merupakan wahana
untuk mencapai tujuan sekolah. Untuk itu sejumlah mata pelajaran yang tergolong ke dalam
kelompok akademis, seperti matematika, bahasa, IPA, IPS menjadi hal yang
diutamakan,sekalipun mungkin juga ada penekanan pada aspek lain seperti aspek vokasional
yang lebih mengarah kepada pengembangan penguasaan ketrampilan siswa dalam bidang
pekerjaan tertentu. Kurikulum merupakan rancangan belajar bagi siswa untuk mempercepat
pengembangan intelektualnya, pengembangan intelektual sendiri dirancang melalui
pengalaman belajar kurikuler tidak dapat dipisahkan dari pengembangan aspek sosial dan
emosional.
Persoalan yang muncul ialah bagaimana siswa dapat mengambil manfaat yang
maksimal dari pengalaman kulikuler di sekolahnya.
Persoalan diatas menyangkut
permasalahan letak hubungan antara kurikulum dan bimbingan. Apakah kurikulum dan
bimbinan itu merupakan dua hal yang berdiri sendiri atau dua hal yang berkolaborasi?
Permasalahan ini menjadi amat penting terutama di sekolah dasar karena perkembangan
siswa sekolah dasar yang bersifat holistik menghendaki keterpaduan antara layanan
bimbingan dan proses pembelajaran. Kondisi ini mengandung arti bahwa bimbingan di
sekolah dasar menjadi tanggung jawab guru.
Untuk itu, kegitan pembelajaran harus memperhadapkan siswa kepada kemungkinan
situasi untuk :
1. Belajar dalam kelompok besar
2. Belajar dalam kelompok kecil, dan
3. Belajar sendiri
Perencanaan kulikuler sekolah akan merupakan wahana yang kondusif bagi layanan
bimbingan apabila memperhatikan hal-hal berikut :
1. Rancangan kegiatan kulikuler mencakup pengalaman belajar yang dapat
mengembangkan aspek rasa dan kehendak(motivasi).
2. Rancangan kegiatan kulikuler menyediakan pengalaman bagi siswa untuk
melakukan eksplorasi diri, yakni belajar memahami keadaan diri secara realistik
dan belajar merumuskan serta menguji harapan dirinya.
3. Rancangan kegiatan kulikuler menyediakan pengalaman bagi siswa yang
berkenaan dengan pengetahan dan ketrampilan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa hubungan bimbingan dengan kulikuler di
sekolah terletak dua hal pokok yaitu :

1. Bimbingan
merupakan
piranti
untuk
memahami
rentang
kecakapan,prestasi,minat,kesukaan,kelemahan,masalah,dan
karakteristik
perkembangan siswa sebagai segi segi esensial yang mendasar perencanaan
kegiatan ekstrakulikuler.
2. Bimbingan membantu siswa dalam memahami dan memasuki kegiatan belajar
yang disediakan dalam pengalaman itu.

Penutup
Secara formal kedudukan bimbingan dalam Sistem Pendidikan di Indonesia
digariskan dalam Undang-undang No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional beserta perangkat Peraturan Pemerintahnya. Sedangkan Dalam PP No.
2/1989 pasal 25 dikatakan bahwa :
Bimbingan merupakan bantuan yang di berikan kepada siswa dalam
rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan
masa depan.
Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing.
Kiranya para ahli dan praktisi pendidikan sepakat bahwa kurikulum merupakan
wahana untuk mencapai tujuan sekolah dan merupakan rancangan belajar bagi
siswa untuk mempercepat pengembangan intelektualnya, pengembangan
intelektual sendiri dirancang melalui pengalaman belajar kurikuler tidak dapat
dipisahkan dari pengembangan aspek sosial dan emosional. Lalu, Apakah
kurikulum dan bimbinan itu merupakan dua hal yang berdiri sendiri atau dua hal
yang berkolaborasi?
Secara umum dapat dikatakan bahwa hubungan bimbingan dengan kulikuler di
sekolah terletak dua hal pokok yaitu :
Bimbingan merupakan piranti untuk memahami rentang
kecakapan,prestasi,minat,kesukaan,kelemahan,masalah,dan
karakteristik perkembangan siswa sebagai segi segi esensial yang
mendasar perencanaan kegiatan ekstrakulikuler.
Bimbingan membantu siswa dalam memahami dan memasuki kegiatan
belajar yang disediakan dalam pengalaman itu.