Anda di halaman 1dari 16

Meningkatkan Cakupan Imunisasi

Mencapai Target Universal Child


Immunization

IKA FAJARWATI
1506787600
POLICY
BRIEF
KAJIAN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA

Table of Contents

Contents
Pendahuluan________________________________________________________________1
Analisis Situasi_______________________________________________________________3
Analisis Kebijakan terkait Imunisasi_______________________________________________6
Rekomendasi Kebijakan_______________________________________________________7
Referensi___________________________________________________________________8
References__________________________________________________________________9
Attachments_________________________________________________________________9

Pg. 1

AttachmentsAttachments

Pendahuluan
Peningkatan jumlah kasus penyakit yang bisa dicegah
dengan imunisasi penyakit polio di Sukabumi tahun 2005
ternyata terjadi di daerah yang cakupan imunisasinya 0%. 1 KLB
penyakit difteri di Jawa Timur tahun 2011, KLB campak di
Bandung, Garut, Tasikmalya, Cianjur, serta Bogor (2011), KLB
campak di Kabupaten Aru, Maluku (2014) KLB difteri di Padang
dan Bandung (Januari 2015)2 semuanya berhubungan dengan
penurunan cakupan imunisasi hingga kurang dari 50%. Kejadian
luar biasa hepatitis A terakhir di Kabupaten Bogor yang terjadi
di lingkungan pesantren dan suatu institusi pendidikan ternama
di Indonesia tidak hanya karena buruknya hygiene perorangan
dan sanitasi lingkungan, tetapi juga karena masih rendahnya
kesadaran

masyarakat

untuk

melindungi

dirinya

dengan

vaksinasi terhadap penyakit ini.3


Laporan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menyebutkan
bahwa cakupan imunisasi lengkap masih di angka 59.2%. Yang
dimaksud dengan imunisasi lengkap adalah gabungan dari satu
kali imunisasi HB-0, satu kali BCG, tiga kali DPT, empat kali polio
dan satu kali imunisasi campak. Jumlah balita yang tidak
lengkap imunisasinya masih tinggi yaitu 32.1%, dan yang tidak
pernah diimunisasi sama sekali 8.7%. Papua memiliki cakupan
imunisasi terendah untuk semua jenis imunisasi, sedangkan
Yogyakarta memiliki cakupan imunisasi tertinggi untuk jenis

Pg. 2

AttachmentsAttachments

imunisasi dasar. Tidak semua balita dapat diketahui status


imunisasinya. Hal ini disebabkan beberapa alasan yaitu ibunya
lupa apakah anaknya sudah diimunisasi, lupa sudah melakukan
imunisasi apa saja, catatan tidak terisi lengkap, atau adanya
recall bias, maupun ketidakakuratan pewawancara saat proses
wawancara dan pencatatan.4
Pada tahun 2014, estimasi cakupan DTP 3 adalah 86%
pada bayi usia kurang dari 12 bulan. Secara global, masih
terdapat 18,7 juta anak yang tidak menerima imunisasi DPT
sama sekali pada tahun pertama kehidupannya, 465 ribu anak
yang tidak pernah diimunisasi DPT ini berada di Indonesia.
Cakupan DTP 3 dosis pada usia 12 bulan merupakan indicator
keberhasilan

program

imunisasi

karena

mencerminkan

penyelesaian jadwal imunisasi dasar bayi.5


Penyebab rendahnya cakupan imunisasi di Indonesia
sangat bervariasi. Mulai dari factor orang tua bayi yang belum
sepenuhnya

menyadari

pentingnya

imunisasi,

kendala

geografis, stok vaksin yang belum dapat memenuhi kebutuhan,


kurangnya

tenaga

kesehatan

yang

update

ilmu

tentang

imunisasi, hingga munculnya gerakan antivaksin yang merebak


di media sosial. Pemerintah perlu membuat kebijakan strategis
dalam rangka mengatasi seluruh tantangan ini agar target
cakupan imunisasi dapat tercapai, imunitasi komunitas dapat
terbentuk, sehingga diharapkan angka kejadian penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi dapat menurun.

Pg. 3

AttachmentsAttachments

Pg. 4

AttachmentsAttachments

Analisis Situasi

Cakupan imunisasi yang rendah di Indonesia disebabkan oleh


beberapa hal:
1. Orang tua yang kurang peduli
Berdasarkan hasil penelitian di Bagian Ilmu Kesehatan
Anak

RSCM

pada

tahun

2006,

didapatkan

cakupan

imunisasi dasar lengkap hanya 66,7%. Cakupan jenis


imunisasi yang masih dibawah 90% adalah campak,
hepatitis B 2, DPT 3 dan Hepatitis B 3. Alasan orang tua
tidak melengkapi imunisasi adalah anak sering sakit, ibu
cemas/takut, tidak tahu, sibuk, lupa dan sering pindah
rumah.6
2. Harga vaksin yang mahal

Pg. 5

AttachmentsAttachments

Pemerintah Indonesia baru memasukkan 6 jenis vaksinasi


dalam program nasional imunisasi, vaksin lainnya masih
belum

disubsidi

sehingga

orangtua

anak

harus

menyediakan dana sendiri untuk melengkapinya. Hampir


seluruh vaksin yang tidak disubsidi pemerintah harganya
relative mahal. Hal ini karena vaksin masih harus diimpor
dari luar negeri. Biaya penelitian yang sangat tinggi,
ditambah dengan pelatihan bagi tenaga kesehatan dan
juga biaya distribusi vaksin menjadi faktor penentu harga
vaksin.7
3. Hambatan distribusi vaksin
Kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas kepulauan
memberi tantangan tersendiri dalam distribusi vaksin.
Vaksin harus terus berada dalam cold chain. Sementara
kulkas khusus vaksin tidak selalu ada di setiap puskesmas
di seluruh Indonesia. Ditambah lagi dengan pemadaman
listrik di daerah terpencil, menyebabkan suhu dalam
kulkas

vaksin

menjadi

tidak

stabil

dan

dapat

menyebabkan kerusakan vaksin. Sulitnya akses menuju


daerah posyandu juga menjadi tantangan meningkatkan
cakupan imunisasi di daerah terpencil.
4. Munculnya gerakan antivaksin
Isu tentang adanya kandungan

babi

dalam

vaksin,

dimasukkannya bahan berbahaya untuk mencederai anakanak

yang

divaksinasi,

vaksin

MMR

menyebabkan

Pg. 6

AttachmentsAttachments

autisme8, teori konspirasi Yahudi9 memunculkan gerakan


antivaksinasi. Gerakan antivaksin menyarankan kepada
orang tua bahwa cukup ikhtiar dengan ASI, tahnik, madu
dan herbal untuk menghindari penyakit berbahaya tanpa
harus melakukan imunisasi. Gerakan ini meluas di media
sosial dan keterbatasan informasi valid yang mereka
terima, menjadikan faktor inilah sekarang yang menjadi
penentu penolakan orangtua terhadap imunisasi.
5. Tidak adanya kebijakan yang bersifat inforcement
Di Indonesia, imunisasi masih menjadi hak bagi orang tua
untuk menentukan pilihan. Orang tua berhak untuk
memberikan imunisasi bagi anaknya, dan sebaliknya
berhak juga untuk menolak jika tidak sesuai dengan
keyakinannya. Peraturan terkait imunisasi baru ada di PMK
no. 42 tahun 201310 tentang penyelenggaraan imunisasi
dan instruksi kepala dinas pendidikan DKI Jakarta no. 10
tahun 2015 tentang penerimaan murid baru SD.11
6. Kurangnya tenaga kesehatan yang kompeten
Tenaga kesehatan yang berada di daerah terpencil masih
banyak

yang

belum

memperbaharui

ilmu

tentang

imunisasi. Demikian juga sebagian tenaga kesehatan di


daerah yang lebih mudah aksesnya. Adanya artikel
menyesatkan

di

media

internet

membuat

tenaga

kesehatan yang kurang update ilmu terkini memercayai


isu-isu

tidak

benar

tersebut,

sehingga

ikut

mengkampanyekan antivaksinasi, atau karena kurangnya

Pg. 7

AttachmentsAttachments

ilmu yang benar, tidak dapat menjawab keraguan orang


tua akan manfaat imunisasi.

Pg. 8

AttachmentsAttachments

Analisis Kebijakan terkait Imunisasi


K
o ta /K a b
Kota/Kab
IInstruksi
n s tru k s i D
is d ik
Disdik
D
KI n
o . 110
0
DKI
no.
ttahun
a h u n 2015
2015

K e m e n t r ia
Kementria
n
n

N a s io n a l
Nasional

PPMK
M K no.
n o . 42
42
ttahun
a h u n 2013
2013
PPMK
MK
nno.2052/Menke
o .2 0 5 2 /M e n k e
ss/Per/X/2011
/ P e r / X / 2 0 1 1 th
th
22011
011
PPMK
M K no.
no.
2290/Menkes/Per
9 0 /M e n k e s /P e r
//XI/2008
X I/ 2 0 0 8 th
th
22008
008
PPMK
M K no.
no.
11144/Menkes/P
1 4 4 /M e n k e s /P
eer/VIII/2010
r / V I I I/ 2 0 1 0

U
U no
no 4
4 tth
h 1
984
UU
1984
U
U no.
n o . 44 tth
h
UU
1
979
1979
U
U no.
n o . 223
3 tth
h
UU
2
002
2002
U
U no.
n o . 332
2 tth
h
UU
2
004
2004
U
U no.
n o . 333
3 tth
h
UU
2
004
2004
U
U no.
n o . 336
6 tth
h
UU
2
009
2009
PPP
P n
o. 4
0 th
th
no.
40
1
991
1991
PPP
P n
o. 3
2 th
th
no.
32
1
996
1996
PPP
P n
o. 7
2 th
th
no.
72
1
998
1998
PPP
P n
o. 3
8 th
th
no.
38
2
007
2007
PPP
P n
o. 5
1 th
th
no.
51
2
009
2009

1. Tingkat Provinsi
Baru ada instruksi Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta no. 10
tahun 2015 tentang imunisasi kelas 1 sekolah dasar negeri di
DKI Jakarta
2. Tingkat Kementrian
Peraturan

menteri

128/Menkes/SK/II/2004

Puskesmas
Peraturan

menteri

kesehatan
tentang

Kebijakan

kesehatan

nomor
Dasar
nomor

290/Menkes/Per/XI/2008 tentang Persetujuan Tindakan


Kedokteran

Pg. 9

AttachmentsAttachments

Peraturan menteri kesehatan no 17 tahun 2013 tentang

Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat


Peraturan
menteri
kesehatan

nomor

1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata

Kerja Kementrian Kesehatan


Peraturan
menteri

kesehatan

1464/Menkes/Per/X/2010

tentang

Penyelenggaraan Praktik Bidan


Peraturan
menteri

nomor
Izin

kesehatan

dan
nomor

2052/Menkes/Per/X/2011 tentang Izin dan Pelaksanaan

Praktik Kedokteran
Peraturan menteri kesehatan nomor 42 tahun 2013

tentang Penyelenggaraan Imunisasi


3. Tingkat Nasional
a. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah
Penyakit Menular
b. Undang-Undang
Nomor

Tahun

1979

tentang

Kesejahteraan Anak
c. Undang-Undang Nomor

23

Tahun

2002

tentang

Perlindungan Anak
d. Undang-Undang Nomor

32

Tahun

2004

tentang

Pemerintahan Daerah
e. Undang-Undang Nomor

33

Tahun

2004

tentang

Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan


Pemerintah Daerah
f. Undang-Undang Nomor

36

Tahun

2009

tentang

Kesehatan
g. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan
h. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan

Pg. 10

AttachmentsAttachments
i. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota
j. Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian

Pg. 11

AttachmentsAttachments

Rekomendasi Kebijakan
1. Inforcement

terhadap

orang

tua

yang

menolak

vaksinasi
2. Pembuatan kebijakan pemerintah pusat hingga ke
daerah untuk menetapkan imunisasi sebagai syarat
pendaftaran sekolah
3. Sosialisasi mengenai manfaat imunisasi ke seluruh
lapisan masyarakat
4. Dukungan kepada PT.Biofarma agar dapat membuat
vaksin sendiri untuk kebutuhan dalam negeri
5. Memasukkan

vaksinasi

anjuran

IDAI

program nasional imunisasi di Indonesia

sebagai

Pg. 12

AttachmentsAttachments

Referensi
1.

Target WHO 2018: Polio End Game. Disitasi dari


http://selukbelukvaksin.com/target-who-tahun-2018-polio-

2.

end-game/ Diakses pada tanggal 26 Desember 2015


Waspada Kejadian Luar Biasa di Indonesia.
http://infoimunisasi.com/penyakit/waspada-kejadian-luarbiasa-di-indonesia/. Diakses pada tanggal 26 Desember

3.

2015
Rahman T. KLB Hepatitis A di Bogor Diduga Karena
Kebersihan. Disitasi dari
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabeknasional/15/12/15/nzeiib219-kln-hepatitis-a-di-bogor-diduga-

4.

karena-kebersihan. Diakses pada 26 Desember 2015


Balitbangkes Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar 2013.

5.

Jakarta. 2013
Subaiya S, et al. Global Routine Vaccination Coverage, 2014.

6.

CDC. 2015
Juniatiningsih A, Soedibyo S. Profil Status Imunisasi Dasar
Balita di Poliklinik Umum Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sari Pediatri

7.

2007;9;2: 121-126
Kus Anna Lusia. Mengapa Harga Vaksin Pneumonia Mahal.
Disitasi dari
http://health.kompas.com/read/2015/11/23/162500723/Men
gapa.Harga.Vaksin.Pneumonia.Mahal. Diakses pada tanggal
29 Desember 2015

Pg. 13
8.

AttachmentsAttachments
Wakefield A, Murch S, Anthony A; et al. (1998). "Ileallymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and
pervasive developmental disorder in

9.

children". Lancet 351(9103): 63741.


Artikel. Imunisasi = Tipu Muslihat Yahudi Menghancurkan
Umat Lain. Disitasi dari
http://www.globalmuslim.web.id/2011/06/imunisasi-tipumuslihat-yahudi.html Diakses pada tanggal 30 Desember

10.

2015
Kementrian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan no.
42 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta.

11.

2013
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Instruksi Kepala Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta no. 10 tahun 2015 tentang
Imunisasi Kelas 1 SD Negeri di Jakarta. Jakarta. 2015

Pg. 14

Attachments

AttachmentsAttachments