Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN

A. Deskripsi
Mata kuliah ini merupakan pengantar tentang Teori Kombinatorik yang meliputi
permutasi, kombinasi, fungsi pembangkit, relasi rekursif, fungsi inklusi-eksklusi.
Selain itu, mata kuliah ini juga membahas tentang Teori Graph yang meliputi
konsep dan teorema dalam graph, graph bagian, graph isomorfik, jalan, jejak, dan
lintasan, graph bipartisi, derajat titik, penyajian graph dalam komputer, graph
Euler dan Hamilton, pohon, graph planar dan bidang, pewarnaan, algoritma
Dijkstra, algoritma Prim, algoritma Kruskal, serta pemakaian graph dalam
kehidupan sehari-hari.

B. Prasyarat
Materi prasyarat yang dibutuhkan adalah sebagai berikut.
1. Konsep Fungsi
2. Komputer dan pemrogramannya.
3. Geometri Dasar.

C. Petunjuk Belajar
Mahasiswa pemakai Buku Ajar ini diharapkan melakukan langkah-langkah belajar
sebagai berikut.
(1) Membaca dengan cermat isi Buku Ajar ini.
(2) Mendengarkan dengan seksama penjelasan Dosen.
(3) Bertanya kepada Dosen jika belum jelas.
(4) Mengerjakan semua tugas atau latihan soal yang ada pada Buku Ajar ini.
(5) Mengembangkan sendiri materi Buku Ajar ini dengan jalan membaca dan
mempelajari buku-buku yang terkait dengan Matematika Diskrit.

D. Kompetensi dan Indikator


Kompetensi:

1. Menjelaskan Teori Kombinatorik yang meliputi permutasi, kombinasi, fungsi


pembangkit, relasi rekursif, fungsi inklusi-eksklusi.
2. Menjelaskan Teori Graph yang meliputi konsep dan teorema dalam graph,
graph bagian, graph isomorfik, jalan, jejak, dan lintasan, graph bipartisi,
derajat titik, penyajian graph dalam komputer, graph Euler dan Hamilton,
pohon, graph planar dan bidang, pewarnaan, algoritma Dijkstra, algoritma
Prim, algoritma Kruskal, serta pemakaian graph dalam kehidupan sehari-hari.
3. Memecahkan permasalahan yang terkait dengan Matematika Diskrit.

Indikator:
1. Dapat menjelaskan Teori Kombinatorik yang meliputi permutasi, kombinasi,
fungsi pembangkit, relasi rekursif, fungsi inklusi-eksklusi.
2. Dapat menjelaskan Teori Graph yang meliputi konsep dan teorema dalam
graph, graph bagian, graph Tujuan Penulisan Buku Ajar
4. Agar para mahasiswa memiliki pokok-pokok materi perkuliahan Matematika
Diskrit.
3. Agar para mahasiswa sekurang-kurangnya memiliki materi bahan kuliah siap
pakai yang ditulis berdasarkan kebutuhan riel di kelas dalam mata kuliah
Matematika Diskrit. isomorfik, jalan, jejak, dan lintasan, graph bipartisi,
derajat titik, penyajian graph dalam komputer, graph Euler dan Hamilton,
pohon, graph planar dan bidang, pewarnaan, algoritma Dijkstra, algoritma
Prim, algoritma Kruskal, serta pemakaian graph dalam kehidupan sehari-hari.
4. Dapat memecahkan permasalahan yang terkait dengan Matematika Diskrit.

BAB II
KEGIATAN BELAJAR 1

A. Kompetensi dan Indikator


1. Menjelaskan Teori Kombinatorik yang meliputi permutasi, kombinasi, fungsi
pembangkit, relasi rekursif, fungsi inklusi-eksklusi.
2. Memecahkan permasalahan yang terkait dengan Teori Kombinatorik.

Indikator:
5. Dapat menjelaskan Teori Kombinatorik yang meliputi permutasi, kombinasi,
fungsi pembangkit, relasi rekursif, fungsi inklusi-eksklusi.
6. Dapat memecahkan permasalahan yang terkait dengan Teori Kombinatorik.

B. Uraian Materi
Pendahuluan
Matematika diskrit merupakan cabang matematika yang banyak mempelajari
tentang teori kombinatorik dan teori graph. Beberapa topik yang akan kita pelajari
dalam teori kombinatorik antara lain Fungsi Pembangkit, Relasi Rekursif, dan
Inklusif-Eksklusif. Sedangkan untuk Teori Graph antara lain adalah Definisi dan
Terminologi Graph, Derajat Titik, Penyajian Graph dalam Komputer,

Mencari

Lintasan Terpendek Sebuah Graph Bobot, Pewarnaan, juga Graph Pohon.

1. Notasi Faktorial
Definisi.
Misalkan n bilangan bulat positif, maka
1. 2 . ... . (n-2).(n-1).n
disebut n faktorial dan dinotasikan dengan n!.

Ditulis, n! = 1.2.3. ... . (n-2).(n-1).n


Dalam hal ini diberlakukan, 0!=1.

Soal latihan
1) 4! = ...

2)

11!
...
9!

6
3) ! ...
2

4)

n 3! ...
n 1!

5)

n 5! ...
n 3!

2. Notasi Sigma :
Pandang, jumlah 10 bilangan asli pertama,
1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 10.
Bentuk di atas dapat ditulis dengan:
10

1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 10 = i
i 1

yang dibaca sigma i, untuk i dari 1 sampai dengan 10.


Teorema

a.

c konstanta

b.
c.

+d

Soal
A. Tulis dengan menggunakan notasi sigma
1) a1 + a 2 + a3 + ... + an = ...
2) 12 + 22 + 32 + ... +(50)2 = ...
3)

1
1
1
1
+
+
+ ... +
= ...
2 . 3 1 2 . 4 1 2 .5 1
2. n 1

4) 2 + 4 + 6 + 8 + 10 + 12 + 14 + 16 + 18 = ...
5) 2 + 5 + 10 +17 + 26 + 37 +50 +65 +82 +101 = ...

B. Hitunglah
6

1)

5 = ...
i 1
5

2)

(i2 + 4i 5) = ...

3)

i 1

i 1

(i2 + 4i 5) =

.....

i 4

..........

3. Permutasi dan Kombinasi


Permutasi
Suatu susunan r n objek yang diambil dari n objek berbeda dalam
suatu himpunan disebut suatu permutasi dari n objek setiap kali diambil r
objek dan dinotasikan dengan nPr.

nPr

, n dan r bilanganbilangan bulat positif

Banyaknya permutasi berbeda dari n objek, apabila n1 di antaranya


berjenis pertama, n2 berjenis kedua, ..., nk berjenis ke-k adalah:

Soal Latihan
1) Misalkan kita mempunyai tiga huruf a, b, dan c. Tentukan banyak permutasi
apabila diambil (a) tiga huruf, (b) dua huruf, dan (c) satu huruf.
2) Diketahui enam buah angka bilangan bulat yaitu 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Berapa
banyaknya susunan angka yang mungkin terjadi jika: (a) keenam angka
disusun sembarang, (b) susunan keenam angka itu dapat dibagi dua.
3) Berapa banyaknya susunan huruf-huruf pada kata SEKOLAH dapat
ditukar- tukar tempatnya, jika penukaran huruf tersebut dengan syarat bahwa
huruf hidup hanya boleh menempati urutan yang ganjil saja.
4) Dengan berapa cara huruf-huruf dalam perkataan SEMARANG dapat
disusun dengan menukar huruf-hurufnya.

Kombinasi
Dalam kehidupan seharihari kita sering dihadapkan pada suatu
masalah memilih r buah objek dari n buah objek yang tersedia (r n) tanpa
memperhatikan urutannya. Pemilihan seperti ini disebut kombinasi dari n
buah objek setiap kali diambil r buah objek dan dinotasikan dengan

Soal Latihan
1) Tentukan banyaknya cara memilih 3 orang calon anggota pengurus sebuah
koperasi dari 4 orang yang memenuhi syarat.
2) Dari 10 orang anggota suatu himpunan akan dipilih 4 orang. (a) Dengan
berapa cara dapat dilakukan pemilihan itu. (b) Dengan berapa cara pula
jika salah seorang selalu terpilih.

FUNGSI PEMBANGKIT
I.1. Deret Kuasa
) Deret Kuasa adalah deret tak hingga berbentuk

a
n 0

xn .

) Deret Kuasa yang hanya menekankan kepada koefisien-koefisien dari xn,


dikenal sebagai Deret Kuasa Formal.

) Rumus-Rumus Dasar
1) ex =

n! x

=1+x +

n 0

2) e x = 1 x +

1 2 1 3
x + x + ..., untuk x <
2!
3!

1 2 1 3
x x +...
2!
3!

3)

1
= 1 x + x2 x3 + x4 x5 +..., untuk x < 1
1 x

4)

1
=
1 x

= 1+ x + x2 + x3 + x4 +..., untuk x < 1

n 0

5)

1
= 1 + x2 + x4 + x6 + x8 +..., untuk -1< x < 1
2
1 x

6)

1
=1+ 2x + 3x2 + 4x3 + 5x4 +..., untuk x < 1
2
(1 x )

x2
x3
x4
x
7) ln ( 1 + x ) =
+

+ ...
2
3
4
1

8) ln ( 1 x ) =

x2
x3
x4
x

...
2
3
4
1

x3
x5
x
9) sin x =

+
...
1!
3!
5!
10) cos x =

x2
x4
x0
x6

+ ...
0!
6!
2!
4!

11)

e x e x
x2
x4
x0
x6
=
+
+
+
+ ...
0!
6!
2
2!
4!

12)

e x e x
x5
x x3
x7
=
+
+
+
+ ...
7!
1! 3!
2
5!

13)

1
=
(1 x ) n

n k 1 k
x = ( 1+ x + x2 + x3 + x4 +...)n
k
k 0

1 xn
14)
1 x x 2 .... x n 1
1 x
15) Teorema Binomial
Untuk bilangan real u, bilangan non negatif k , dan x < 1 berlaku:
( 1 + x )u =

, di mana

Rumus-rumus dasar tersebut dapat diperoleh dengan mengekspansikan


suatu fungsi dengan Deret Taylor. Deret Taylor fungsi f(x) di sekitar x = 0
punya bentuk sebagai berikut.

F (x) =

n!f

(n)

(0) x n

n 0

= f(0) +

1
1
1
f(0) x +
f(0) x2 +
f(0) x3 + ...
1!
2!
3!

I.2. Definisi Fungsi Pembangkit

Pandang (an) = (a0 , a1 , a2,...) suatu barisan.

Fungsi Pembangkit Biasa (FPB) dari barisan (an) didefinisikan sebagai:

= a0 + a1 x + a2 x2 + a3 x3 + a4 x4 +

Fungsi pembangkit eksponensial (FPE) dari barisan ( an) didefinisikan sebagai:

= a0 + a1

+ a2

+ a3

+ a4

+ ...

Contoh :
1) e x = 1 + x +

1 2 1 3
x + x + ..., merupakan
2!
3!

FPB dari barisan (1 , 1,

1 1
, , ...)
2 ! 3!

FBE dari barisan ( 1, 1, 1, 1, ...)


2) Diketahui: barisan
a) ( 0, 0,

1 1 1
, ,
... )
2 ! 3! 4 !

b) ( 0, 2, 4, 6, ..., 2n, ... )


Ditanyakan : Bentuk sederhana Fungsi Pembangkit Biasa.
Jawab:
a) FPB yang dimaksud adalah
P (x) = 0 + 0x +

1 2 1 3 1 4
x + x +
x + ...
2!
3!
4!

1 2 1 3 1 4
x + x +
x + ...
2!
3!
4!

=(1+x +

1 2 1 3 1 4
x + x +
x + ...) x 1
2!
3!
4!

=exx1

b) FPB yang dimaksud adalah


P (x) = 0 + 2x + 4x2 + 6x3 + ... + 2nxn + ...
= 2x + 4x2 + 6x3 + ... + 2nxn + ...
= 2x (1+ 2x + 3x2 + ... + nxn-1 + ...)
= 2x (

1
), untuk x < 1
(1 x ) 2

2x
(1 x ) 2

Soal latihan
1) Tulis FPB dari barisanbarisan berikut.
a) ( 0, 0, 0, 1, 1, 1, 1,...)
b) ( 0, 0,

1 1 1
, ,
,... )
2 ! 3! 4 !

c) ( 0, 1, 0, 1, 0, 1, ...)
2) Tulis FPE dari barisan berikut.
a) ( 3, 3, 3, 3, ...)
b) ( 0, 1, 0, 1, 0, 1, ...)
3) P(x) adalah FPB dari barisan (an). Carilah barisan (an).
a) P (x) = 1 +

1
1 x

b) P (x) =

2
+ 3x2 + 6x +1
1 x

c) P (x) =

1 x
e e
2

d) P (x) = 2x + e x
4) Tulis barisan ( an), jika FPE adalah sebagai berikut.
a) P (x) = 5 + 5x + 5x2 + 5x3
b) P (x) =

1
1 4x

1.3. Fungsi Pembangkit untuk Kombinasi


Permasalahan
Ada berapa cara, jika ada tiga macam objek a, b, dan c, diambil k objek dengan
ketentuan bahwa a terambil maksimum 1, b terambil maksimum 2, dan c terambil
maksimum 1.
Penyelesaian:
Permasalahan tersebut dapat ditulis menjadi:
[ (ax)0 + (ax)1] [ (bx)0 + (bx)1 + (bx)2] [ (cx)0 + (cx)1]
= (a0x0 + a1x1) (b0x0 + b1x1 + b2x2) (c0x0 + c1x1)
= ( 1 + ax ) ( 1 + bx + b2x2 ) ( 1 + cx )
= 1 + (a + b + c )x + (ab +ac + bc + b2 )x2 + (abc +ab2 + b2 c)x3 + ab2c x4
Misalkan untuk 2 huruf , maka perhatikan koefisien dari x 2, yaitu ab, ac, bc, dan
bb, sehingga terdapat 4 cara.
Ini berarti
(a + b + c ) x menyatakan ada 3 cara untuk 1 huruf
(ab +ac + bc + b2 ) x2 menyatakan ada 4 cara untuk 2 huruf
(abc +ab2 + b2 c) x3 menyatakan ada 3 cara untuk 3 huruf
ab2c x4 menyatakan ada 1 cara untuk 4 huruf
Permasalahan tersebut dapat dicari dengan menggunakan FPB. FPB dari
permasalahan tersebut adalah:
P (x) = (1 + x) ( 1 + x + x2 ) ( 1 + x )
= 1 + 3x + 4x2 + 3x3 + x4
Dari P(x) tersebut, pangkat dari x menyatakan banyaknya huruf sedangkan
koefisien dari masing- masing suku menyatakan banyaknya cara. Misalnya untuk
4x2, maka untuk 2 huruf ada 4 cara.
Contoh
1) Ada berapa cara untuk memilih n objek dari k macam objek sehingga tiap
objek terpilih paling sedikit satu.
Jawab:
FPB dari permasalahan tersebut adalah:
P( x ) = ( x + x2 + ...) ( x + x2 + ...)... ( x + x2 + ...)
sebanyak k faktor
= ( x + x2 + x3 + ...)k
10

= ( x(1 + x + x2 + x3 + ...))k
= x k ( 1 + x + x2 + ...)k
=xk

1
(1 x ) k

=xk

k t 1
x
t
t 0

k t 1
x
=
t
t 0

n 1
x
=
n k n k

tk

,n=t+k

Jadi banyaknya cara untuk memilihnya = koefisien xn


dalam P(x), yaitu {0 n 1 ,n k

n k , n k

2) Tentukan banyaknya solusi bulat dari suatu persamaan linear x1+x2 + x3 = 50,
xi 0, i {1, 2, 3}
Jawab :
FPB dari permasalahan tersebut di atas adalah:
P ( x ) = (1 + x + x2 + ...)3
=

1
(1 x) 3

3 k 1 k
x
=
k
k 0

2 k k
x
k 0 k

Jadi banyaknya solusi bulat yang dimaksud adalah


= koefisien x50 dalam P( x )

2 50 52
1326
=
50 50
Soal
1)

Tentukan banyak cara memilih k huruf dari huruf-huruf C, A, N, T, I,


K sedemikian hingga memuat paling sedikit satu C.

11

2)

Tentukan banyaknya cara solusi bulat dari persamaan x1 + x2 + x3 + x4 =


80, 1 xi 30, i { 1, 2, 3, 4}.

1.4. Fungsi Pembangkit untuk Permutasi


Permasalahan
) Bentuklah kata sandi yang panjangnya 3 huruf dengan syarat : a 2, b 2,
c 1.
) Masalah tersebut bila diselesaikan dengan menggunakan FPB akan diperoleh
koefisien x 3 hanya 5 suku ( mengapa?), padahal ada 18 permutasi.
) 18 permutasi tersebut adalah sebagai berikut.
aab, aac, bba, bbc, abc, bca,
aba, aca, bab, bcb, acb, cab,
bba, baa, abb, cbb, bac, cba.
) Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut digunakan FPE. Kalau banyak
hurufnya 3, maka yang diperhatikan adalah koefisien dari

x3
3!

Fungsi pembangkit untuk permasalahan di atas adalah sebagai berikut.


P( x ) = ( 1 +

x2
x2
x
x
x
+
)(1+
+
)(1+
)
2!
2!
1!
1!
1!

= 1 + 1! (

x2
1 1 1 x
1
1
1 1
1
+ + ) +2!(
+
+ +
+
)
1! 1! 1! 1!
1!1! 1!1! 2! 2! 1!1! 2 !

1
1
1
1
1 x3
+3!(
+
+
+
+
)
2!1! 2!1! 1! 2! 2!1! 1!1!1! 3!

+4!(

x4
1
1
1
+
+
)
1!2!1!
2!2! 2!1!1! 4 !

+5!(

x5
1
)
2!2!1! 5!

Jadi banyaknya kata sandi dengan panjang 3 yang memenuhi syarat


tersebut = koefisien
= 3! (

x3
dalam P(x)
3!

1
1
1
1
+
+
+ + 1 ) = 18
2
2
2
2

12

Barisan Biner
Barisan Biner adalah barisan yang digitnya (angkanya 1 atau 0)
Contoh:

a) ( 0, 0)
b) ( 1, 1, 0 )
c) ( 1, 1, 1, 1)
d) ( 1, 0, 1, 0)

Banyaknya barisan biner yang panjangnya 3 adalah 8 = 23


yaitu ( 0, 0, 0 ), ( 0, 0, 1 ), ( 0, 1, 0 ), ( 1, 0, 0 ), ( 1, 1, 0 ), ( 1, 0, 1 ), ( 0, 1, 1 ),
dan ( 1, 1, 1 )
Banyaknya barisan biner yang 0 genap dan 1 ganjil dengan panjang 3 adalah
( 0, 0, 1 ), ( 0, 1, 0 ), ( 1, 0, 0 ).

Contoh
Tentukan banyaknya barisan biner k angka ( panjangnya k), yang memuat angka nol
sebanyak genap dan angka satu sebanyak ganjil .
Penyelesaian:
Fungsi Pembangkit untuk permasalahan di atas adalah:

x2
x4
x6
x5 x7
x x3
+
+
+ ...) (
+
+
+
+ ...)
1! 3!
2!
4!
6
5!
7

P (x) = ( 1 +

e x e x
ex ex
=

2
2
=

1 2x
e e 2 x
4

1
=
4
1
=
4

k 0

2x k k!

1
4

2k x k 1

k!
4
k 0

2x k

k 0

k!

2k x k

k 0

k!

Jadi banyaknya barisan biner k angka yang diminta adalah:


= koefisien dari

xk
dalam P(x)
k!

13

1 k 1
. 2 - .(-2)k
4
4

Soal
1) Sebuah kata sandi yang panjangnya k, dibentuk dengan menggunakan hurufhuruf a,b,dan c, sedemikian hingga memuat paling sedikit satu a, satu b, dan satu
c. Ada berapa kata sandi yang dapat dibuat.
2) Tentukan banyaknya barisan biner n angka yang memuat angka 1 sebanyak
bilangan genap.

RELASI REKURSIF
Ilustrasi
1. Misal Pn adalah banyaknya permutasi dari n objek yang berbeda. Diperoleh
hubungan:
P1 = 1, Pn = n.Pn-1, n 2 ... (1)
Bentuk (1) disebut relasi rekursif untuk Pn.
P1 = 1 disebut kondisi awal.
Pn = n.Pn-1 disebut bagian rekursif dari relasi rekursif tersebut.
2. Diketahui barisan bilangan fibonacci
(1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, ...)
Fn = suku ke n.
Diperoleh hubungan:
F1 = F2 = 1
Fn = Fn-1 + Fn-2. n 3
F1 = 1 dan F2 = 1 disebut kondisi awal.
II.1 Relasi Rekursif Linear dengan Koefisien Konstanta
Bentuk umum bagian rekursif dari suatu relasi rekursif linear berderajat k
adalah sebagai berikut.
an + h1(n) an-1 + h2 (n) an-2 + ... + hk (n) an-k = f (n)
Di mana h1(n) dan f (n) adalah fungsi dalam n dan hk(n) 0
) Jika f(n) =0 maka relasi rekursifnya disebut homogen, jika tidak demikian
disebut non homogen.

14

) Jika untuk setiap i {1, 2, 3,...k}, hi (n) = konstanta, maka relasi rekursifnya
disebut relasi rekursifnya dengan koefisien konstanta.
) Suatu relasi rekursif berderajat k terdiri dari sebuah bagian rekursif dan k kondisi
awal berurutan.
Contoh
1. a1 = a2 = 0 ; an = an-1 + an-2 + 1, n 3 adalah relasi rekursif linear non homogen
berderajat dua dengan koefisien konstanta.
2. a1 = a2 = 0 ; an = an-1 + an-2 , n 3 adalah relasi rekursif linear homogen berderajat
dua dengan koefisien konstanta.

II.1 Relasi Rekursif Linear Homogen dengan Koefisien Konstanta


Bentuk umum
an + c1 an-1 + c2 an-2 + ... + ck an-k = 0 ; ck 0
dengan k kondisi awal, dan untuk 1 i k , ci = konstanta,

Menyelesaikan Relasi Rekursif dengan Metode Akar Karakteristik


a. Untuk akar-akar berbeda.
Langkah-langkah penyelesaian yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
1) Misalkan an = xn , x 0
2) Jika x1, x2, ..., xk akar akar yang berbeda, maka solusi umumnya:
an = c1
.........(*)
3) Dengan k kondisi awal, diperoleh c1, c2, ..., ck.
4) Masukkan ke persamaan (*), diperoleh solusi dari relasi rekursifnya.

Contoh
Selesaikan hubungan rekursif berikut.
a1 = a2 = 1, an = an-1 + an-2 , n 3
Penyelesaian:
Misal an = xn , x 0
Bentuk rekursif an = an-1 + an-2 menjadi:
xn = xn-1 + xn-2

15

xn - xn-1 - xn-2 = 0 ( bagi dengan xn-2 )

x2 - x -1 = 0 ( disebut persamaan karakteristik)

x1 =

1 5
1 5
, x2 =
2
2

Solusi umumnya adalah:


an = c1 (

1 5
2

)n

+ c2 (

)n

1 5
2

Dari kondisi awal : a1 = 1 dan a2 = 1, jika disubstitusikan pada solusi umum,


diperoleh:
1 = c1 (

1 5
2

1 = c1 (

1 5
2

)2

+ c2 (

1 5
2

+ c2 (

1 5
2

)
)2

Selesaikan kedua persamaan tersebut, sehingga diperoleh nilai c1 dan c2. Dari
perhitungan diperoleh c1=
an =

5
5

( 1

)n

5
5
dan c2 =
jadi solusi dari relasi rekursifnya:
5
5

5 1 5
(
5
2

)n

Catatan
an melibatkan bilangan irasional. Tetapi untuk setiap n 1, maka an merupakan
bilangan bulat non negatif.
b) Untuk akar rangkap
Langkah langkah penyelesaian yang dapat dilakukan sama dengan relasi
rekursif yang mempunyai akar yang berbeda.
Misalkan terdapat m akar rangkap, yang nilainya x1, di mana m k. Solusi umumnya
adalah sebagai berikut.
an = c0

Contoh
Carilah formula untuk an yang memenuhi relasi berikut.
an = 3 an-1 + 6 an-2 28 an-3 + 24 an-4
Dengan a0 = 1 ; a1 = 2; a2 = 3 dan a3 = 4

16

Penyelesaian:
Misal an = xn ; x 0.
Bagian rekursi dari relasi rekursinya adalah sebagai berikut.
xn = 3 xn-1+ 6 xn-2 28 xn-3 + 24xn-4
xn - 3 xn-1 - 6 xn-2 + 28 xn-3 - 24xn-4 = 0 ( bagi dengan xn-4)
x4 - 3 x3 - 6 x2 + 28 x 24 = 0 ( disebut persamaan karakteristik)
( x 2 )3 ( x + 3 ) = 0
Akar akar dari persamaan karakteristiknya:
x = 2 ( rangkap 3 ) dan x = -3
Solusi umum dari rekursi di atas :
an = c1 2 n c 2 n 2 n c 3 n 2 2 n c 4 (3) n

............(*)

Untuk a0 = 1 ; a1 = 2 ; a2 = 3 dan a3 = 4, dari (*) diperoleh sistem persamaan berikut.


1 = c1 + c4
2 = 2 c1 + 2 c2 + 2 c3 3 c4
3 = 4 c1 + 8 c2 + 16 c3 + 9 c4
4 = 8 c1 + 24 c2 + 72 c3 27 c4
Sehingga :
C1 = 1

2
7
3
2
; C2 =
; C3 =
; C4 =
125
200
40
125

Substitusikan nilai-nilai tersebut dalam persamaan (*), maka penyelesaiannya:


an = 1

2
7
3 2 n
2
(2)n +
n (2)n
n (2)
( -3 )n
125
200
40
125

Soal latihan
Selesaikan relasi rekursi berikut dengan metode akar karakteristik.
1) a0 = 0 , a1 = -1
an = 7 an-1 12 an-2 , n 2
2) a0 = a1 = 1
an = 2 an-1 + 3 an-2 , n 2

C. Latihan BAB II
Kerjakan soal berikut dengan benar, dengan memakai Lembar Kegiatan seperti
ditulis dalam butir D di bawah.

17

1) Dari 6 pelamar pria dan 5 pelamar wanita akan diterima hanya 4 orang
pelamar. Dengan berapa cara penerimaan pelamar dapat dilakukan, jika
sekurang-kurangnya ada seorang wanita dari keempat pelamar.
2) P(x) adalah FPB dari barisan (an). Carilah barisan (an).
P (x) = 2x + e x .
3) Tulis barisan ( an), jika FPE adalah sebagai berikut.
P (x) = 5 + 5x + 5x2 + 5x3.
4) Ada berapa cara untuk menentukan 50 koin yang sama kedalam 5 kotak
yang berbeda sedemikian sehingga tidak ada kotak yang kosong.
5) Tentukan banyaknya barisan biner n angka yang memuat angka 0
sebanyak ganjil dan 1 sebanyak genap.

6) Selesaikan relasi rekursi berikut dengan metode akar karakteristik.


a1 = 2 , a2 = 6
an 4 an-1 + 4 an-2 = 0 , n 3.

D. Lembar Kegiatan
Kerjakan soal pada butir soal C dengan menggunakan Lembar Kegiatan berikut.
No.
1.

Soal

Pengerjaan

Dari 6 pelamar pria dan 5

.......................................

pelamar wanita akan diterima

.......................................

hanya 4 orang pelamar. Dengan

.......................................

berapa cara penerimaan pelamar


dapat dilakukan, jika sekurangkurangnya ada seorang wanita
dari keempat pelamar.
2.

Dst.

3.
4.
5.

Tandatangan dosen pengampu

18

E. Rangkuman

1) Deret Kuasa adalah deret tak hingga berbentuk

a
n 0

xn .

2) Deret Kuasa yang hanya menekankan kepada koefisien-koefisien dari xn,


dikenal sebagai Deret Kuasa Formal.
3) Pandang (an) = (a0 , a1 , a2,...) suatu barisan.
Fungsi Pembangkit Biasa (FPB) dari barisan (an) didefinisikan sebagai:
= a0 + a1 x + a2 x2 + a3 x3 + a4 x4 +

Fungsi pembangkit eksponensial (FPE) dari barisan ( an) didefinisikan


sebagai:

= a0 + a1

+ a2

+ a3

a4

+ ...

4) Bentuk umum Relasi Rekursif Linear Homogen dengan Koefisien Konstanta


Bentuk umum
an + c1 an-1 + c2 an-2 + ... + ck an-k = 0 ; ck 0
dengan k kondisi awal, dan untuk 1 i k , ci = konstanta,

F. Tes Formatif
Kerjakan dengan cermat dan benar!
1)

n 5! ...
n 3!

2) Tentukan banyaknya barisan biner n angka yang memuat angka 0 sebanyak


ganjil dan 1 sebanyak genap.
19

3) Selesaikan relasi rekursi berikut dengan metode akar karakteristik.


a0 = 0, a1 = 1, a2 = 2
an = 9 an-1 15 an-2 + 7 an-3 , n 3

20

BAB III
KEGIATAN BELAJAR 2

A. Kompetensi dan Indikator


Kompetensi:
1. Menjelaskan Teori Graph yang meliputi konsep dan teorema dalam graph,
graph bagian, graph isomorfik, jalan, jejak, dan lintasan, graph bipartisi,
derajat titik, penyajian graph dalam komputer, graph Euler dan Hamilton,
pohon, graph planar dan bidang, pewarnaan, algoritma Dijkstra, algoritma
Prim, algoritma Kruskal, serta pemakaian graph dalam kehidupan sehari-hari.
2. Memecahkan permasalahan yang terkait dengan Teori Graph..

Indikator:
1. Dapat menjelaskan Teori Graph yang meliputi konsep dan teorema dalam
graph, graph bagian, graph isomorfik, jalan, jejak, dan lintasan, graph
bipartisi, derajat titik, penyajian graph dalam komputer, graph Euler dan
Hamilton, pohon, graph planar dan bidang, pewarnaan, algoritma Dijkstra,
algoritma Prim, algoritma Kruskal, serta pemakaian graph dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Dapat memecahkan permasalahan yang terkait dengan Teori Graph..

B. Uraian Materi

TEORI GRAPH
Definisi dan Terminologi
Sebuah Graph G adalah pasangan (V(G), E(G)) di mana
V(G) : Himpunan titik (berhingga, tak kosong) dan
E(G) : Himpunan sisi (mungkin kosong) sedemikian sehingga setiap sisi e di
dalam E(G) adalah pasangan tak berurutan dari titik-titik di V(G).
Jika u dan v adalah titik-titik di G dan e = {u,v}; (sering ditulis e = uv) adalah sisi
dari G, kita katakan:

Sisi e menghubungkan titik-titik u dan v;

u dan v berhubungan langsung (adjacent);

u dan v titik-titik akhir dari sisi e;


21

sisi e terkait (incident) dengan titik u dan v.

Sebuah graph dapat dipresentasikan dalam bentuk diagram, di mana setiap titik
digambarkan dengan sebuah noktah dan setiap sisi yang menghubungkan dua
titik digambar dengan kurva sederhana (ruas garis) dengan titik-titk akhir di kedua
titik tersebut.
Contoh:
Sebuah graph G = (V(G), E(G)) dengan
V(G) = {u, v, w, x, y, z} dan E(G) = {e1, e2, e3, e4, e5, e6, e7}
di mana e1 = uv , e2 = uw , e3 = ux , e4 = vx , e5 = wx , e6 = xz , e7 = xy
dapat dipresentasikan dalam bentuk diagram seperti terlihat pada gambar
berikut.

Sebuah sisi di graph G yang menghubungkan sebuah titik v dengan dirinya sendiri
disebut gelung (loop).
Dalam sebuah graph, apabila terdapat lebih dari satu sisi yang menghubungkan
dua titik, maka sisi-sisi tersebut disebut sisi rangkap (multi edges)

Graph G dengan 5 titik dan 8 sisi;


Sisi e8 disebut gelung
Sisi-sisi e4, e5, e6 disebut sisi rangkap.
22

Sebuah graph yang tidak memiliki gelung dan tidak memiliki sisi rangkap disebut
graph sederhana.

Graph yang memiliki sisi rangkap tetapi tidak memiliki gelung disebut graph
rangkap (multi graph).

G : graph Sederhana

M : Graph Rangkap

Kn : graph komplit dengan n titik.


: graph sederhana di mana untuk setiap dua titik dihubungkan dengan sebuah
sisi.
K n : Graph kosong dengan n titik.

: graph dengan n titik yang tidak punya sisi.

K5
Sebuah graph G disebut Graph Bipartisi jika V(G) dapat dipartisi menjadi dua
himpunan A dan B sedemikian hingga setiap sisi dari G menghubungkan sebuah
titik di A dan sebuah titik di B. Kita sebut (A,B) bipartisi dari G.

Selanjutnya apabila G sederhana dan bipartisi dengan partisi (A,B)


sedemikian hingga setiap titik di A berhubungan langsung dengan setiap titik di B,
maka G disebut Graph Bipartisi Komplit, dilambangkan dengan Km,n , di mana
|A| = m dan |B| = n.

23

G : graph bipartisi tak komplit

K3,2 : graph bipartisi komplit

Dengan bipartisi (A,B)


A = { a1, a2, a3, a4 }
B = { b1, b2, b3 }
Grap H disebut graph bagian dari graph G, ditulis H G, jika V(H) V(G) dan
E(H) E(G).
Jika H G dan V(H) = V(G), maka H disebut Graph bagian rentang (Spanning
Subgraph) dari G.
Graph bagian dari G yang dibangun oleh V1 (V1 V(G)), ditulis G[V1], adalah
graph bagian dari G yang himpunan titiknya adalah V1 dan himpunan sisinya
beranggotakan semua sisi G yang mempunyai titik-titik akhir di V1.

H1

H2

H3

H1 graph bagian dari G


H2 graph bagian rentang dari G
H3 graph bagian G yang dibangun oleh {u, w, x, z} atau H3 = G [{u, w,x, z}]
Dua graph G dan H isomorfik, ditulis G H, apabila
( i ) terdapat korespondensi satu-satu antara V(G) dan V(H),
( ii ) banyaknya sisi yang menghubungkan dua titik u dan v di G, sama dengan
banyaknya sisi yang menghubungkan dua titik di H yang berkorespondensi
dengan titik u dan v.

24

G1

G2

G3

G1 G2 lewat korespondensi :
a t , d q
b s , e p
c r , f u

G1

G3

Sebuah jalan (walk) di graph G adalah sebuah barisan berhingga (tak kosong)
W = vo e1 v1 e2 v2

...

ek vk ,

yang suku-sukunya bergantian titik dan sisi, sedemikian hingga vi-1 dan vi adalah
titik-titik akhir dari e1, untuk 1 i k. W adalah jalan dari vo ke v k, atau jalan(v 0 ,v k).
Titik awal dari W: v 0
Titik akhir dari W: v k
Titik-titik Internal W: v1 , v 2 , ..., v k 1
Panjang W = k (banyak sisi di W).
Jika semua sisi e1 , e2 , ..., ek dalam jalan W berbeda, maka W disebut jejak (trail).
Jika semua titik v0 , v1 , v 2 , ..., v k di jalan W juga berbeda, maka W disebut lintasan
(path).
Jalan tertutup: jalan yang titik awal dan titik akhirnya sama (panjang jalan harus
> 0 ).
Sebuah jejak tertutup (closed trail) yang titik awal dan semua titik internalnya
berbeda disebut sikel (cycle).

25

Banyaknya sisi dalam suatu sikel disebut panjang dari sikel tersebut. Sikel dengan
panjang k disebut sikel-k.
Perhatikan graph berikut ini.

Jalan (walk) : a f b f c d e

Jalan tertutup : a b f c g c f e a

Jejak (trail)

Jejak tertutup : a f e d c f b a

Lintasan

: a e f c g

Sikel

: a e d c f a

: a f c d f b

Sebuah graph G disebut graph terhubung jika untuk setiap dua titik u dan v di
G, terdapat lintasan (path) di G yang menghubungkan kedua titik tersebut.
Sebaliknya, graph G disebut graph tak terhubung (terputus).
Sebuah Komponen dari graph G adalah sebuah graph bagian terhubung maksimal
(titik dan sisi) dari G.

sebuah graph terhubung

26

Sebuah graph terhubung, tanpa sikel disebut pohon (tree).

pohon (tree)

Misalkan G adalah graph sederhana.


Komplemen G, ditulis G , adalah graph sederhana yang himpunan titiknya sama
dengan himpunan titik G, dan dua titik u dan v di G berhubungan langsung jika
dan hanya jika u dan v tidak berhubungan langsung di G.

G
Misal G adalah sebuah graph. Apabila G G , G disebut graph komplemen-diri
(self-Complementary graph).

G
Perhatikan bahwa G G
Catatan.
Jika G graph sederhana dengan n titik, maka G G = Kn

Soal latihan
1. Perhatikan graph G di bawah ini.
27

a. Cari sebuah jalan tertutup denagn panjang 9.


b. Cari sebuah jejak terbuka dengan panjang 9.
c. Cari sebuah jejak tertutup dengan panjang 7.
d. Cari sebuah lintasan dari a ke n
e. Cari panjang sikel terpanjang dalam G
f. Berapakah panjang lintasan terpanjang?
g. Cari sebuah graph bagian bukan rentang dari G.
h. Cari sebuah graph bagian rentang dari G
i. Tulis graph bagian yang dibangun oleh {a, b, d, f, j, k, l}
2. Gambar sebuah graph yang:
a. mempunyai lima titik, tanpa sikel, terhubung;
b. mempunyai enam titik, dua komponen;
c. sederhana sedemikian hingga G dan G mempunyai banyak sisi yang sama.
3. Manakah graph berikut yang bipartisi?

.
G1

G2

G3

G4

4. Perhatikan graph-graph berikut ini

28

a. Apakah G isomorfik dengan H?


b. Apakah H isomorfik dengan K?
c. Apakah G isomorfik dengan K?

Derajat Titik
Misalkan v adalah sebuah titik di graph G.
Banyaknya sisi G yang terkait di titik v (loop dihitungkan dua kali) disebut derajat
titik v, dilambangkan dengan dG(v) atau d(v).
Derajat minimum dari G dinotasikan (G), didefinisikan sebagai (G) =
minimum { d(v) : v V(G) }.
Derajat maksimum dari G dinotasikan (G), didefinisikan sebagai (G) =
maksimum { d(v) : v V(G) }.
Graph G disebut beraturan-k apabila setiap titik G berderajat k.
Lemma Jabat Tangan: Untuk setiap graph G berlaku

d ( V ) 2 E (G ) .

vV ( G )

Banyaknya titik yang berderajat ganjil adalah genap.


Barisan derajat dari graph G adalah barisan monoton turun dari derajat titik-titk G.
Sedangkan barisan derajat dari sebuah graph sederhana disebut graphik.
Barisan bilangan bulat non negatif ( d1, d2, d3, ,dn) adalah barisan derajat dari
sebuah graph jika dan hanya jika

d genap.
i 1

Misalkan d1 , d 2 , d 3 ,, d n adalah barisan bilangan bulat non negatif yang


monoton turun, graphik jika dan hanya jika barisan:

1, d 3 1, d 4 1,, d d1 1 1, d d1 2 , d d1 3 ,, d n merupakan graphik.

Soal latihan
1. Apakah barisan-barisan berikut merupakan barisan derajat dari suatu graph?
Mengapa? Jika graph, gambarkan graphnya!
a) 6, 5, 4, 3, 3, 2, 2, 2
b) 5, 4, 4, 3, 3, 2, 1, 0
c) 3, 3, 3, 3, 3, 3
d) 5, 4, 3, 2, 1, 0
2. Yang manakah dari barisan-barisan berikut merupakan grafik?

29

a) 5, 4, 3, 3, 3, 3
b) 5, 5, 3, 3, 2, 2, 2

Penyajian Graph dalam Komputer


Ada beberapa cara untuk menyajikan sebuah graph di dalam komputer. Matriks
adalah cara yang sering digunakan. Ada dua matriks yang akan digunakan, yaitu:

matriks berhubungan langsung (adjacency matrix)

matris keterkaitan (incidence matrix)

Misalkan G sebuah graph dengan V(G) = {v1, v2, v3,, vn}. Matriks berhubungan
langsung dari G adalah matriks bujur sangkar berordo n, A(G) =(ai j) di mana
elemen ai j menyatakan banyaknya sisi yang menghubungkan titik vi dan titik vj
Contoh :

v1 v2 v3 v4 v5

v1 0
v2 1
v3 0

v4 0
v5 3

1
0
1
0
0

0
1
0
1
1

0
0
1
1
0

3
0
1

0
0

A(G)

G
Misalkan graph G mempunyai n buah titik : v1, v2, v3,, vn dan s sisi : e1, e2, e3, .
. . , en.
Matriks keterkaitan (incidence matrix) dari G adalah matriks M(G) = (m i j)
berordo n x s, di mana
0, jika sisi e j tidak terkait dengan titik v i .
mi j =

1, jika ej terkait dengan vi dan ej bukan gelung.


2, jika ej terkait dengan vi dan ej adalah gelung.

Matriks keterkaitan dari graph G di bawah adalah:

30

e1 e2 e3 e4 e5 e6 e7

v1 2
v 2 0
M (G )
v 3 0

v 4 0

1
1
0
0

1
0
1
0

1
0
1
0

0
1
1
0

0
2
0
0

0
1
0

Soal latihan
1. Gambar graph G yang matriks berhubungan langsungnya sebagai berikut.

0
0

a. 1

0
1

0
0
1
1
0

1
1
0
1
1

0
1
1
0
1

1
0
1

1
0

0
2
b.
3

2
0
3
2

3
3
1
1

4
2
1

2. Tulis matriks berhubungan langsung dan matriks keterkaitan dari graph berikut.

a.

b.

Lintasan Terpendek
Bila sisi e dalam graph G dikaitkan/dipetakan dengan sebuah bilangan real
W(e), maka W(e) disebut bobot (weight) dari e.
Graph bobot adalah sebuah graph yang setiap sisinya dikaitkan dengan bilangan real.
Sedangkan bobot dari sebuah graph G, dilambangkan dengan W(G), adalah jumlah
bobot semua sisi G.

31

Algoritma Dijkstra
Untuk mencari panjang lintasan terpendek dari sebuah titik s ke sebuah titik t di graph
bobot G, dapat diterapkan Algoritma Dijkstra, sebagai berikut.
Input : Graph-bobot G dengan s, t V(G)
Step 1 : Label titik s dengan (s) = 0 dan untuk setiap v di G selain s, label v dengan
(s) = (dalam praktek diganti dengan bilangan yang sangat besar).
Tulis T = V(G). (T : himpunan titik yang berlabel sementara)
Step 2 : Misalkan u T dengan (u) minimum
Step 3 : Jika u = t, Stop; dan beri pesan : panjang lintasan terpendek dari s ke t adalah
(t).
Step 4 : sisi e = uv, v T ; ganti label v dengan (v) = minimum {(v), (u) +
w(e)}
Step 5 : Tulis T = T {u } dan selanjutnya pergi ke step 2.
Perhatiakn graph bobot G dengan bobot W(G) = 50 di bawah ini .

d(v1 v5) = 7 (panjang lintasan terpendek dari v1 ke v5)


W(v1 v2) = 3 (bobot sisi v1 v2)
Terapkanlah Algoritma Dijkstra untuk mencari panjang lintasan terpendek dari titik v1
ke titik v11 dalam graph bobot G tersebut.
---000---

32

GRAPH EULER
Persoalan

Jembatan Konisberg pada sungai Pregel.

Teka-teki:
Adakah perjalanan yang melalui suatu
jembatan hanya satu kali dan kembali ke
tempat semula berangkat?

Leonhard Euler dalam Solutio problematis ad geometriam situs pertinentis (1736)


mengatakan tidak ada jenis perjalanan tersebut.
Dalam bahasa graph, mencari jejak tertutup yang melalui
setiap sisi graph G hanya satu kali saja.

Definisi
Graph terhubung G = ( V,E ) yang mempunyai jejak tertutup yang memuat setiap sisi
graph G disebut graph Euler.
Jejaknya disebut jejak Euler.
Jika jalurnya tidak tertutup, maka G disebut graph semi Euler.

Graph Euler

Graph Semi Euler

ABCDEF

CBAED

BGECGFA

CFEBFD

33

Bukan graph Euler

Teorema pada Graph Euler.


1. Graph terhubung G adalah graph Euler jhj derajat setiap titiknya merupakan
bilangan genap.
2. Graph terhubung G adalah graph Euler jhj graph G dapat dipecah menjadi sikelsikel yang sisi-sisinya saling lepas.
3. Graph terhubung G adalah semi Euler jhj G mempunyai 2 titik yang berderajat
ganjil.

Soal latihan
1.
Susunlah jejak Eulernya.

2 Perhatikan denah bangunan berikut.

a) Gambarlah graph yang mewakili denah bangunan tersebut.


b) Susunlah jejak Eulernya.

34

GRAPH HAMILTON
Definisi:
Graph terhubung G disebut graph Hamilton kalau ada sikel yang memuat semua titik
pada graph G.
Jika hanya ada lintasan terbuka yang memuat semua titik pada graph G maka graph G
disebut semi hamilton.

Teorema:
Jika G merupakan graph sederhana dengan n titik dan d (v)

n
2

untuk setiap titik v

maka G merupakan graph Hamilton.


Contoh
V(G)= 6, d (V) = 3
Salah satu sirkuit Hamilton
uv zw x yu

PEWARNAAN
Persoalan. Perhatian gambar benua Australia berikut ini.

Western Australia (WA)

II

Northern Territory (NT)

III Queensland (Q)


IV

South Australia (SA)

Victoria (V)

VI New South Wales (NSW)


VII Tasmania (T)
VIII Lautan (L)

35

Bagaimana mewarnai dengan warna berbeda di setiap wilayah dan banyaknya warna
adalah minimum? atau Bagaimana menentukan minimum banyaknya warna agar
titik-titik yang berhubungan langsung mempuyai warna yang berlainan?
Banyaknya warna yang minimum ini disebut bilangan kromatik graph tersebut.

Contoh 1

Penyelesaian
Cara I : Intuitif
Bilangan kromatik pada
graph G ada 4.

Cara II : Algoritma pertama terbesar


1. Urutkan derajat titik- titik secara menurun.
2. Tandai titik yang berderajat terbesar dengan angka 1.
3. Tanda 1 ini secara berurutan digunakan untuk menandai setiap titik lainnya yang
tidak berhubungan langsung dengan titik yang berderajat terbesar.
4. Ulangilah langkah ini dengan warna ke 2, ke 3, dan seterusnya sampai semua titik
bertanda.
5. Nomor tanda terakhir menyatakan minimum banyak warna yang harus disediakan.

d(L)

=7

d(SA)

=6

d(NSW) = 4
d(Q)

=4

d(NT)

=4

d(WA) = 3

36

d(V)

=3

d(T)

=1

Warna
Titik

Pemberian

Pemberian

Pemberian

Pemberian

Warna Tahap 1 Warna Tahap 2 Warna Tahap 3 Warna Tahap 4


L

SA

NSW

NT

WA

Jadi , bilangan kromatik pada graph G ada 4.


Soal Latihan
1. Jelaskan berapa bilangan kromatik pada graph berikut.

2. Perhatikan gambar berikut.

a.

Modelkan gambar tersebut


dalam graph;

37

b. tentukan bilangan kromatiknya.

3. UNNES merencanakan seminar Pendidikan Matematika bagi guru-guru SMA.


Ada pembicara yang masing masing akan tampil selama satu jam. Jika setiap
pembicara tampil dalam kesempatan yang berbeda, kegiatan tersebut akan
memakan waktu lama. Akan tetapi, juga tidak diharapakan pembicara-pembicara
tertentu tampil pada saat yang bersamaan. Panitia seminar menghendaki agar
seminar ini berlangsung tidak lebih dari 4 babak. Bagaimanakah kegiatan
dijadwalkan jika pembicara-pembicara yang sebaiknya tidak tampil pada saat
yang bersamaaan ditandai dengan * pada tabel berikut.
Nama Pembicara
A
B

*
*

D
E

4. Warnailah peta pada gambar berikut berdasarkan algoritma pertama terbesar.


a)

38

b)

---000---

39

Istilah-Istilah Lain dalam Graph


(diambil dari buku Andi Hakim Nasution Graph di SMU)
1. Lemma Jabat Tangan = Lemma Persalaman.
2. Matriks berhubungan langsung (Adjacence matrix) = matriks ikatan.
3. Matrik keterkaitan (Incidence matrix) = matriks kehadiran.
4. Graph kosong = graph nol.
5. Graph komplit = graph lengkap.
6. Graph teratur : graph yang setiap titiknya/simpulnya berderajat sama.
Graph teratur berderajat r jika setiap titiknya berderajat r.
Graph sirkuit : graph teratur berderajat 2.

Graph kubik: graph teratur berderajat 3.


Graph nol : graph teratur berderajat 0.
Graph lengkap (Kn) : graph teratur
berderajat n-1.
Komplemen graph teratur juga graph
teratur.

7. Graph bipartisi = garph bipartit.


8. Graph berbobot = grap setiap sisinya diberi bobot.

Graph bidang = suatu graph yang setiap pasangan sisinya saling berpotongan
hanya pada titik ujungnya.

40

Contoh :

Graph (b) dan (c) adalah graph bidang.


Graph planar adalah suatu graph yang isomorfik dengan suatu graph
bidang ( lihat gb. (1)).
Graph planar adalah suatu graph yang dapat digambar pada bidang datar
sedemikian hingga sisi-sisinya tidak ada yang saling berpotongan kecuali
mungkin pada titik titik akhir dari sisi tersebut.
Graph bidang pasti graph planar , sebaliknya tidak berlaku.
9. Graph subdivisi
Graph H disebut graph subdivisi dari G, jika graph H dibentuk dari G dengan cara
menambah beberapa titik (bisa nol) pada beberapa sisi G.

H1 dan H2 disebut homeomorfik dengan G jika graph H1 dan H2 merupakan


graph subdivisi dari G.

10.

H1 dan H2 juga homeomorfik.

Sebuah graph homeomorfik dengan dirinya sendiri.

Graph G planar jhj subdivisi G planar.

Daerah yang dibatasi oleh sisi-sisi suatu graph


disebut muka / face (F).

Graph di samping ada 4 muka/face.


41

Rumus : V(G)-E(G)+F(G)= 2
Disebut Teorema/Rumus Euler, berlaku pada graph bidang.

11. Rumus Euler tak berlaku pada graph bidang tak berhubung.
Contoh:
V(G)= 3,E(G)=1,F(G)=1

V(G)-E(G)+ F(G)= 3 2
12. Graph Petersen

Yulius Peterson (1839 1910)


Matematikawan Denmark

13. Jalan = trayek


Lintasan/path = lintasan
Jejak = jalur
Jejak tertutup = sirkuit ( = jejak/jalur tertutup)
Barisan sisi-sisi = sekuens sisi- sisi.
Sirkuit dengan panjang 3 disebut segitiga.
14. Graph terhubung lawannya Graph terputus
Teorema 1
Graph G = (V,E) adalah terputus jhj himpunan titik V dapat disekat jadi 2
himpunan saling menyisihkan dan tak kosong, X dan Y, sedemikian hingga tidak
ada sisi yang satu titik ujung anggota X dan titik ujung yang lain anggota Y.

Teorema 2
Jika suatu graph mempunyai tepat 2 titik berderajat ganjil, maka ada lintasan yang
melalui kedua titik tesebut.

42

Penghapusan sisi dan titik Graph.


(1) Jika e suatu sisi pada grap G = (V,E), maka G e adalah graph bagian G yang
diperoleh dengan menghapus sisi e dari G.
(2) ]ika v suatu titik pada graph G = (V,E), maka G v adalah graph bagian G yang
diperoleh dengan menghapus v dan semua sisi yang mencakup v sebagai suatu
titik ujungnya.
Himpunan Pemutus dan Himpunan Pemisah
Misal G = (V,E) adalah graph terhubung.
(1) Himpunan E1 yang merupakan himpunan bagian E, disebut himpunan pemutus
graph G jhj graph bagian G1 = (V,E E1) merupakan graph terputus (tak
terhubung).
(2) Himpuanan pemutus yang tidak mempunyai himpunan bagian yang merupakan
himpuanan pemutus disebut himpunan pemisah
Jadi :
Himpunan Pemutus : Himpunan sisi- sisi Graph G yang dapat dihapus sehingga G
menjadi graph terputus.
Contoh :
Diketahui graph G terhubung
E1 = { e1, e2, e5 }
E2 = { e3, e6, e7, e8 )
E3 = { e1, e2 } E3 E1

(1) E2 himpunan pemutus G.


Graph terputus diperoleh dengan cara menghapus semua sisi yang ada pada
himpunan E2.

Graph terputus

43

(2) E1 bukan himpunan pemisah , sebab ada himpunan bgaian E1 yaitu E3 yang juga
merupakan himpunan pemutus G.
(3) Periksalah, ternyata E2 adalah himpunan pemisah G.

Catatan:
Jika himpunan pemisah hanya memiliki satu sisi, maka sisi ini disebut jembatan.

Sisi e = {v, w}adalah jembatan.

{e}

Soal
1. Periksalah apakah himpunan berikut merupakan himpunan pemutus ataukah
himpunan pemisah.

a) {su, sv, uv}


b) {ux, uw, wx, xz}
c) {yt, yz}
d) {xz, xw, uw}
e) {wy, wx, yz}
f) {su, uv, wx, yz, vx}
2. Gambar graph Peterson.
Tentukan himpunan pemisah yang mempunyai 3 dan 5 sisi.
---000---

44

POHON
Definisi
Pohon (tree) adalah graph terhubung tanpa sikel.
Contoh:

Graph tak terhubung yang setiap komponennya merupakan pohon, disebut hutan
(forest).
Contoh:
G adalah forest.
G
Sifat-sifat
Misalkan T = (V, E) suatu graph dengan n titik. Enam pernyataan berikut ini
ekuivalen.
1. T adalah pohon.
2. T mempunyai n 1 sisi tanpa sikel.
3. T adalah graph terhubung dan mempunyai n 1 sisi.
4. T adalah graph terhubung dan setiap sisi merupakan jembatan.
5. Ada satu dan hanya satu lintasan yang menghubungkan dua titik pada graph T.
6. T tidak mempunyai sikel dan penambahan satu sisi menghasilkan satu sikel.

Penjelasan:
Misal T adalah pohon. Maka T adalah graph terhubung tanpa sikel.
Pandang, T adalah pohon dengan satu titik, maka dapat dibangun sembarang
pohon dengan cara menambahkan sebuah sisi dan sebuah titik. Pada setiap tahap, jelas
bahwa banyaknya titik, satu lebih banyak daripada banyaknya sisi.
Jadi, setiap pohon dengan n titik mempunyai tepat (n-1) sisi.

45

Selain itu, pada setiap tahap tidak akan terbentuk suatu sikel, karena setiap sisi
baru digunakan untuk menghubungkan sebuah titik lama dengan sebuah titik yang
baru. Akibatnya, setiap 2 titik sembarang pada pohon dihubungkan dengan satu dan
hanya satu lintasan.
Dengan demikian, dua titik sembarang pada pohon dihubungkan oleh satu
lintasan, yaitu sebuah sisi dengan kedua titik tadi sebagai titik ujungnya. Jika sisi ini
dihapus maka tidak ada lintasan yang menghubungkan kedua titik tadi. Dengan
demikian, setiap sisi pohon adalah jembatan.
Akibat selanjutnya adalah penambahan sebuah sisi yang menghubungkan 2
titik sembarang pada pohon menghasilkan sebuah sikel karena 2 titik sembarang
(misal u dan v) terhubungkan hanya oleh sebuah lintasan dan penambahan sebuah sisi
(u, v) menghasilkan sebuah sikel yang terbentuk dari lintasan sebelumnya digabung
dengan sisi (u, v).

Sebagai akibat sifat-sifat di atas adalah titik awal dan titik akhir lintasan terpanjang
pada sebuah pohon selalu berderajat satu.

Teorema:
Setiap pohon dengan lebih dari satu titik mempunyai paling sedikit 2 titik yang
berderajat satu (titik terminal).

Pohon Pembangkit
Pada suatu graph terhubung G, jika ada, kita pilih sebuah sikel dan menghapus
salah satu sisinya sedemikian hingga masih diperoleh graph terhubung. Ulangilah
langkah tersebut sampai diperoleh graph terhubung tanpa sikel. Jelas bahwa graph
terhubung yang dihasilkan dengan proses ini merupakan pohon yang menghubungkan
semua titik di graph G. Pohon ini disebut Pohon Pembangkit graph G. Beberapa
pohon pembangkit bagi graph G, diperlihatkan pada gambar di bawah ini. Tampak
pula bahwa banyaknya sisi yang dihapus pada graph G dengan n titik dan m sisi ada
sebanyak: m n + 1.

46

Pohon pembangkit dari graph G adalah


sebagai berikut.

Pada praktiknya, setiap sisi graph pada umumnya memiliki bobot. Dan, kita
berusaha mencari pohon pembangkit dengan jumlah bobot minimum dan disingkat
dengan Pohon Pembangkit Minimum.
Mencari pohon pembangkit minimum:
1. Dengan Algoritma Kruskal (Joseph B. Kruskal, 1956).
2. Dengan Algoritma Prim (Robert C. Prim, 1957).

Algoritma Kruskal
Misal, bobot sisi e dilambangkan dengan w(e).
Input: G = (V, E) graph terhubung dan berbobot dengan n titik dan m sisi. Sisi-sisi
graph G kita nomori sedemikian hingga bobot sisi-sisinya membentuk barisan
tidak turun, yaitu w(e1 ) w(e2 ) ... w(en ) .
Output: Pohon pembangkit minimum dengan n titik dan n 1 sisi. T = (V, E), E
E, dan jumlah bobot sisi pada T adalah w(T) =

w(e) min .

eE '

Langkah-langkah untuk menghasilkan T = (V, E).


A. Pemberian nilai awal: (pada awalnya pohon pembangkit T mempunyai n titik dan
tanpa sisi).
1. E (pada mulanya himpunan sisi pohon pembangkit minimum berupa ).
2. k 0 (pada mulanya banyaknya sisi di E = 0).
3. w(T) 0 (bobot awal pohon pembangkit = 0).
4. V(T) V(G) (himpunan titik di T identik dengan himpunan titik di G).

47

B. Pemilihan sisi-sisi untuk E sebanyak n 1.


Ulangi
1. Pilih sisi e E dengan w(e) terkecil.
2 E E {e} (sisihkan sisi e dari himpunan E).
3. Jika penambahan e pada graph T tidak menghasilkan sikel, maka: mulai
kerjakan
E E {e}; (tambahkan sisi e ke himpunan E).
k k + 1; (banyaknya sisi di E bertambah 1).
w(T) w(T) + w(e); (bobot terakhir pohon T).
selesai proses dengan jika sampai k = n 1.

Contoh:
Diketahui graph sebagai berikut.

A
6

2
8
4
6

5
D

Graph G.

Tentukan pohon pembangkit minimum graph G di atas.


Penyelesaian:
Graph G memiliki 5 titik dan 10 sisi. Dibentuk barisan tidak turun sisi-sisi
berdasarkan bobotnya, AE, AC, EC, BC, BA, BE, DE, AD, DB, DC.
Kita buat tabel sebagai berikut.

48

Iterasi
ke

Himpunan E

Bobot
sisi
terpilih

Bobot
pohon

Himpunan
E

Keterangan

AE,AC,EC,BC,BA,BE,DE,AD,DB,DC

AC,EC,BC,BA,BE,DE,AD,DB,DC

w(AE)=2

AE

EC,BC,BA,BE,DE,AD,DB,DC

w(AC)=4

AE,AC

BC,BA,BE,DE,AD,DB,DC

w(EC)=4

AE,AC

BA,BE,DE,AD,DB,DC

w(BC)=5

11

AE,AC,BC

ACEA

BE,DE,AD,DB,DC

w(BA)=6

11

AE,AC,BC

BA disisihkan, ada

DE,AD,DB,DC

w(BE)=6

11

AE,AC,BC

ACBA

EC disisihkan, ada
sikel

sikel

BE disisihkan, ada
sikel
AEBC
7

AD,DB,DC

w(DE)=7

18

AE,AC,BC,DE

Dalam hal ini, pohon pembangkit minimumnya mempunyai himpunan sisi E = {AE,
AC, BC, DE}, dengan jumlah bobot minimumnya sebesar:
w(T) = w(AE) + w(AC) + w(BC) + w(DE) = 2 + 4 + 5 + 7 = 18.

Algoritma Prim
Misal, bobot sisi e dilambangkan dengan w(e).
Input: G = (V, E) graph terhubung dan berbobot dengan n titik dan m sisi.
Output: Pohon pembangkit minimum dengan n titik dan n 1 sisi. T = (V, E), V =
V, E E, dan jumlah bobot sisi pada T adalah w(T) =

w(e) min .

eE '

Langkah-langkah untuk menghasilkan T = (V, E).


A. Pemberian nilai awal: (pada awalnya pohon pembangkit T mempunyai 1 titik v dan
tanpa sisi). Kemudian kita lakukan:
1. E (pada mulanya himpunan sisi pohon pembangkit minimum berupa ).
2. k 0 (pada mulanya banyaknya sisi di E = 0).
3. w(T) 0 (bobot awal pohon pembangkit = 0).
49

4. Ambil v V dan tempatkan di V, dicatat sebagai V {v} (v merupakan titik


awal pada pohon pembangkit).
5. V V {v}; (sisihkan v dari himpunan V).
B. Pemilihan titik-titik dan sisi-sisi sebanyak n 1.
Ulangi
1. Pilih sisi e E sedemikian hingga w(e) minimum di antara bobot semua sisi
berbentuk {p, q} dengan p V dan q V; titik ujung e yang terletak di V
dicatat sebagai w.
2 E E {e}; (tambahkan sisi e ke E).
3. V V {w}; (tambahkan titik w ke V).
4. V V {w}; (sisihkan titik w dari V).
5. k k + 1;

(banyaknya sisi di E bertambah 1).

6. w(T) w(T) + w(e);

(bobot akhir pohon pembangkit).

Sampai k = n 1.

C. Latihan
1. Pada Graph Bidang Terhubung, buktikan berlaku rumus Euler:
V(G)-E(G)+F(G)= 2
2. Perhatikan graph berikut.

Tunjukkan contoh:
a. Jalan (walk)
b. Jejak tertutup
c. Jejak
d. Lintasan
e. Sikel

50

7. Gambarlah graph Peterson.


Tentukan himpunan pemisah yang mempunyai 3 dan 5 sisi.

D. Lembar Kegiatan
Diketahui graph sebagai berikut.

A
6

2
8
4
6

5
D

Graph G.

Tentukan pohon pembangkit minimum graph G di atas dengan menggunakan Lembar


Kegiatan berikut. Kerjakan dengan Algoritma Prim.
Penyelesaian:
Buatlah Lembar Kegiatan berikut dari kertas manila.
Paparkan temuan saudara di papan tulis.
Jejak algoritma ini dengan memilih titik B sebagai titik awal.
Iterasi
ke
1
2
3
4

Alat

Himpunan E

Himpunan V

Himpunan V

0
1
2
3
4

O
BC
..........
..........
..........

..........
..........
..........
..........

..........
..........
..........
..........
..........

: Gunting, Penggaris, Spedol

Bahan : Kertas Manila.

E. Rangkuman
1. Sebuah Graph G adalah pasangan (V(G), E(G)) di mana:
51

Bobot sisi
terpilih
w(BC)=5
..........
..........
..........

Bobot
pohon
0
5
..........
..........
..........

V(G) : Himpunan titik (berhingga, tak kosong) dan


E(G) : Himpunan sisi (mungkin kosong) sedemikian sehingga setiap sisi e di
dalam E(G) adalah pasangan tak berurutan dari titik-titik di V(G).
2. Pohon (tree) adalah graph terhubung tanpa sikel.
3. Misalkan T = (V, E) suatu graph dengan n titik. Enam pernyataan berikut ini
ekuivalen.
1) T adalah pohon.
2) T mempunyai n 1 sisi tanpa sikel.
3) T adalah graph terhubung dan mempunyai n 1 sisi.
4) T adalah graph terhubung dan setiap sisi merupakan jembatan.
5) Ada satu dan hanya satu lintasan yang menghubungkan dua titik pada graph
T.
6) T tidak mempunyai sikel dan penambahan satu sisi menghasilkan satu sikel.

F. Tes Formatif
1.

Diketahui Graph G:

a. Cari sebuah lintasan dari a ke n


b. Cari panjang sikel terpanjang dalam G
c. Berapakah panjang lintasan terpanjang?
d. Cari sebuah graph bagian bukan rentang dari G.
e. Cari sebuah graph bagian rentang dari G

2. Pada Graph Bidang Terhubung, buktikan berlaku rumus Euler:


V(G)-E(G)+F(G)= 2

===000===

52

Bacaan Perkuliahan
Heri Sutarno, dkk. 2003. Matematika Diskrit. Bandung: Jurusan Pend. Matematika
FMIPA UPI JICA.
I Ketut Budayasa. 1997. Matematika Diskrit. Surabaya: University Press IKIP
Surabaya
John Clark dan Derek Allan Holton. 1991. A First Look at Graph Theory. Singapore:
World Scientific Publishing Co.
Liu, CL. 1988. Elements of Discrete Mathematics. Singapore: Mc-Graw Hill Book
Co.
Michael Townsend. 1987. Discrete Mathematics: Applied Combinatorics and Graph
Theory. Amsterdam: The Benjamin Publishing Company.
Suyitno, Amin. 2003. Hand-out Matematika Diskrit I, Semarang. FMPIA UNNES.
Victor Bryant. 1995. Aspects of Combinatories a wide-ranging introduction.
Cambrid-ge: Cambridge University Press.

53

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
Kantor: Gedung H lt 4 Kampus, Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Rektor: (024)8508081 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 8508001 Website:
www.unnes.ac.id - E-mail: unnes@unnes.ac.id

FORMULIR

FORMAT BAHAN AJAR


No. Dokumen
FM-02-AKD-07

No. Revisi
00

Hal
1 dari 1

Tanggal Terbit
1 September 2012

BAHAN AJAR
MATA KULIAH
SEMESTER

: MATEMATIKA DISKRIT
: GENAP 2014/2015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
TAHUN 2014/2015

54

Anda mungkin juga menyukai