Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN KALA II

A. Anatomi dan Fisiologi

Perubahan Fisiologi Wanita Hamil


Segala perubahan fisik dialami wanita selama hamil berhubungan dengan
beberapa sistem yang disebabkan oleh efek khusus dari hormon. Perubahan
ini terjadi dalam rangka persiapan perkembangan janin, menyiapkan tubuh

ibu untuk bersalin, perkembangan payudara untuk pembentukan/produksi air


susu selama masa nifas. (Salmah dkk, 2006, hal.47)
1. Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh
estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada
dasarnya disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus.Pada bulan-bulan
pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah advokat, agak gepeng.Pada
kehamilan 4 bulan uterus berbentuk bulat dan pada akhir kehamilan
kembali seperti semula, lonjong seperti telur. (Wiknjosastro, H, 2006, hal.
89)
Perkiraan umur kehamilan berdasarkan tinggi fundus uteri :
a. Pada kehamilan 4 minggu fundus uteri blum teraba
b. Pada kehamilan 8 minggu, uterus membesar seperti telur bebek fundus
uteri berada di belakang simfisis.
c. Pada kehamilan 12 minggu kira-kira sebesar telur angsa, fundus uteri
1-2 jari di atas simfisis pubis.
d. Pada kehamilan 16 minggu fundus uteri kira-kira pertengahan simfisis
e.
f.
g.
h.

dengan pusat.
Kehamilan 20 minggu, fundus uteri 2-3 jari di bawah pusat.
Kehamilan 24 minggu, fundus uteri kira-kira setinggi pusat.
Kehamilan 28 minggu, fundus uteri 2-3 jari di atas pusat.
Kehamilan 32 minggu, fundus uteri pertengahan umbilicus dan

prosessus xypoideus.
i. Kehamilan 36-38 minggu, fundus uteri kira-kira 1 jari di bawah
prosessus xypoideus.
j. Kehamilan 40 minggu, fundus uteri turun kembali kira-kira 3 jari di
bawah prosessus xypoideus. (Wiknjosastro, H, 2006. Hal. 90-91 dan
Mandriwati, G. A. 2008. Hal. 90).
2. Vagina
Vagina dan vulva juga mengalami perubahan akibat hormon estrogen
sehingga tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide).Tanda ini disebut
tanda Chadwick. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 95)
3. Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis
sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu.Namun
akan mengecil setelah plasenta terbentuk, korpus luteum ini mengeluarkan
hormon estrogen dan progesteron. Lambat laun fungsi ini akan diambil
alih oleh plasenta. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal .95)
4. Payudara
Payudara akan mengalami perubahan, yaitu mebesar dan tegang akibat
hormon somatomammotropin, estrogen, dan progesteron, akan tetapi

belum mengeluarkan air susu. Areola mammapun tampak lebih hitam


karena hiperpigmentasi. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 95)
5. Sistem Sirkulasi
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke
plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang
membesar pula.Volume darah ibu dalam kehamilan bertambah secara
fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia. Volume
darah akan bertambah kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan 32
minggu, diikuti dengan cardiac output yang meninggi kira-kira 30%.
(Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 96).
6. Sistem Respirasi
Wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh rasa
sesak nafas.Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas karena
usus tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diafragma sehingga
diafragma kurang leluasa bergerak. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 96)
7. Traktus Digestivus
Pada bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nausea) karena
hormon estrogen yang meningkat.Tonus otot traktus digestivus juga
menurun.Pada bulan-bulan pertama kehamilan tidak jarang dijumpai gejala
muntah pada pagi hari yang dikenal sebagai moorning sickness dan bila
terlampau sering dan banyak dikeluarkan disebut hiperemesis gravidarum.
(Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
8. Traktus Urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus
yang membesar sehingga ibu lebih sering kencing dan ini akan hilang
dengan makin tuanya kehamilan, namun akan timbul lagi pada akhir
kehamilan karena bagian terendah janin mulai turun memasuki Pintu Atas
Panggul. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
9. Kulit, Metabolisme dalam Kehamilan dan Kenaikan Berat Badan
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena
pengaruh hormon Melanophore Stimulating Hormone (MSH) yang
dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit
pigmen pada dahi, pipi, dan hidung, dikenal sebagai kloasma gravidarum.
Namun Pada kulit perut dijumpai perubahan kulit menjadi kebiru-biruan
yang disebut striae livide. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97).
Pada wanita hamil Basal Metabolik Rate (BMR) meningkat hingga 15-20
%.Kelenjar gondok juga tampak lebih jelas, hal ini ditemukan pada
kehamilan trimester akhir.Protein yang diperlukan sebanyak 1 gr/kg BB

perhari untuk perkembangan badan, alat kandungan, mammae, dan untuk


janin, serta disimpan pula untuk laktasi nanti.Janin membutuhkan 30-40 gr
kalsium untuk pembentukan tulang terutama pada trimester ketiga.Dengan
demikian makanan ibu hamil harus mengandung kalsium, paling tidak 1,52,5 gr perharinya sehingga dapat diperkirakan 0,2-0,7 gr kalsium yang
tertahan untuk keperluan janin sehingga janin tidak akan mengganggu
kalsium ibu. Wanita hamil juga memerlukan tambahan zat besi sebanyak
800 mg untuk pembentukan haemoglobin dalam darah sebagai persiapan
agar tidak terjadi perdarahan pada waktu persalinan. (Wiknjosastro, H.
2006. Hal. 98)
Peningkatan berat badan ibu selama kehamilan menandakan adaptasi ibu
terhadap pertumbuhan janin. Perkiraan peningkatan berat badan adalah 4
kg dalam kehamilan 20 minggu, dan 8,5 kg dalam 20 minggu kedua (0,4
kg/minggu dalam trimester akhir) jadi totalnya 12,5 kg. (Salmah,
Hajjah.2006. Hal.60-61)
B. Definisi
Persalinan kala II merupakan salah satu dari serangkaian tahap persalinan,
dimana pada tahap ini dimulai saat pembukaan serviks lengkap dan berakhir
dengan lahirnya seluruh tubuh janin. lamanya kala dua adalah 50 menit untuk
primigravida dan 30 menit untuk multigravida.
C. Tanda dan Gejala
1. Ibu merasa ingin meneran (dorongan meneran/doran)
2. Perineum menonjol (Perjol)
3. Vulva vagina membuka (Vulka)
4. Adanya Tekanan pada spincter Anus (Teknus)
5. Jumlah pengeluaran air ketuban meningkat
6. Meningkatnya Pengeluaran darah dan lendir
7. Kepala telah turun ke dasar panggul
8. Ibu merasa ingin buang air besar
D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan dalam:
1. Pembukaan Serviks telah lengkap, atau
2. Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina.
E. Penatalaksanaan

1. Mulai Mengejan
Jika sudah didapatkan tanda pasti kala dua tunggu ibu sampai merasakan
adanya dorongan spontan untuk meneran. Meneruskan pemantauan ibu
dan bayi.
2. Memantau selama penataksanaan kala dua persalinan
Melanjutkan penilaian kondisi ibu dan janin serta kemajuan persalinan
selama kala dua persalinan secara berkala. Memeriksa dan mencatat nadi
ibu setiap 30 menit, frekuensi dan lama kontraksi selama 30 menit, denyut
jantung janin setiap selesai meneran, penurunan kepala bayi melalui
pemeriksaan abdomen, warna cairan ketuban, apakah ada presentasi
majemuk, putaran paksi luar, adanya kehamilan kembar dan semua
pemeriksaan dan intervensi yang dilakukan pada catatan persalinan.
3. Posisi Ibu saat Meneran
Membantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman baginya. Ibu
dapat berganti posisi secara teratur selama kala dua persalinan karena hal
ini sering kali mempercepat kemajuan persalinan.
a. Posisi Duduk atau Setengah Duduk

b. Posisi Jongkok atau Berdiri

c. Merangkak atau Berbaring miring kekiri

4. Melahirkan kepala
Bimbing ibu u/ meneran. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan
diameter 5 6 cm, memasang handuk bersih untuk mengeringkan janin
pada perut ibu. Saat sub occiput tampak dibawah simfisis, tangan kanan
melindungi perineum dengan dialas lipatan kain dibawah bokong ibu,

sementara tangan kiri menahan puncat kepala agar tidak terjadi defleksi
yang terlalu cepat saat kepala lahir, Mengusapkan kasa/kain bersih untuk
membersihkan muka janin dari lendir dan darah.

5. Memeriksa Tali Pusat


Setelah kepala bayi lahir, minta ibu untuk berhenti meneran dan bernapas
cepat. Raba leher bayi, apakah ada leletan tali pusat. Jika ada lilitan
longgar lepaskan melewati kepala bayi.

6. Melahirkan Bahu
Setelah menyeka mulut dan hidung bayi hingga bersih dan memeriksa tali
pusat, tunggu hingga terjadi kontraksi berikutnya dan awasi rotasi spontan
kepala bayi. Setelah rotasi eksternal, letakan satu tangan pada setiap sisi
kepala bayi dan beritahukan pada ibu untuk meneran pada kontraksi
berikutnya. Lakukan tarikan perlahan kearah bawah dan luar secara lembut
(Kearah tulang punggung ibu hingga bahu bawah tampak dibawah arkus

pubis. Angkat kepala bayi kearah atas dan luar (mengarah ke langit-langit)
untuk melahirkan bahu posterior bayi.

7. Melahirkan Sisa Tubuh Bayi


Setelah bahu lahir, tangan kanan menyangga kepala, leher dan bahu janin
bagian posterior dengan ibu jari pada leher (bagian bawah kepala) dan
keempat jari pada bahu dan dada/punggung janin, sementara tangan kiri
memegang lengan dan bahu janin bagian anterior saat badan dan lengan
lahir
Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah
bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah
(selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin)
Setelah seluruh badan bayi lahir pegang bayi bertumpu pada lengan kanan
sedemikian rupa hingga bayi menghadap kearah penolong. Nilai bayi,
kemudian letakan bayi diatas perut ibu dengan posisi kepala lebih rendah
dari badan (bila tali pusat terlalu pendek, letakan bayi di tempat yang
memungkinkan.

8. Memotong tali pusat


Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali
tali pusat. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari
umbilikus bayi. Melakukan urutan pada tali pusat kearah ibu dan
memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama. Memegang tali pusat
diantara 2 klem menggunakan tangan kiri, dengan perlindungan jari tangan
kiri, memotong tali pusat diantara kedua klem.

F. Komplikasi
1. Kala 2 Lama atau Memanjang
2. Distosia
3. Pendarahan

G. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan


H.
K.

DIAGNOSA

KEPERAWATAN
Nyeri akut b/d tekanan

mekanis pada bagian presentasi


L.

I.
M.

NOC

Setelah dilakukan asuhan

keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan


nyeri terkontrol dengan kriteria hasil:
a. TTV dalam rentang normal
b. Pasien dapat mendemostrasikan nafas
dalam dan teknik mengejan.
N.

O.

Perubahan curah jantung

b/d fluktasi aliran balik vena


P.

R.

Risiko tinggi terhadap

kerusakan integritas kulit b/d


pada interaksi hipertonik
S.

Q.

Setelah dilakukan asuhan

keperawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan


kondisi cardiovaskuler pasien membaik
dengan kriteria hasil:
a. TD dan nadi dbn
b. Suplay O2 tersedia
T.
Setelah asuhan keperawatan selama
3 x 24 jam, diharapkan integritas kulit
terkontrol dengan kriteria hasil:
a. Luka perineum tertutup (epiostomi).
U.

J.

NIC

a. Identifikasi derajat ketidaknyamanan.


b. Berikan tanda/ tindakan kenyamanan seperti
perawatan kulit, mulut, perineal dan alatalat tahun yang kering.
c. Bantu pasien memilih posisi yang nyaman
untuk mengedan.
d. Pantau tanda vital ibu dan DJJ.
e. Kolaborasi pemasangan kateter dan
anastesi.
a. Pantau tekanan darah dan nadi tiap 5 15
menit.
b. Anjurkan pasien untuk inhalasi dan ekhalasi
selama upaya mengedan.
c. Anjurkan klien/ pasangan memilih posisi
persalinan yang mengoptimalkan sirkulasi.
a. Bantu klien dan pasangan pada posisi tepat.
b. Bantu klien sesuai kebutuhan.
c. Kolaborasi epiostomi garis tengah atau
medic lateral.
d. Kolaborasi terhadap pemantauan kandung

V.
W.
X.

kemih dan kateterisasi.