Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keperawatan merupakan profesi yang membantu dan memberikan pelayanan yang
berkontribusi pada kesehatan dan kesejahteraan individu. Keperawatan juga diartikan sebagai
konsekuensi penting bagi individu yang menerima pelayanan, profesi ini memenuhi
kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh seseorang, keluarga atau kelompok di komunitas.
(Committee on Education American Nurses Association (ANA), 1965).
WHO Expert Committee on Nursing dalam Aditama (2000) mengatakan bahwa,
pelayanan keperawatan adalah gabungan dari ilmu kesehatan dan seni melayani/memberi
asuhan (care), suatu gabungan humanistik dari ilmu pengetahuan, filosofi keperawatan,
kegiatan klinik, komunikasi dan ilmu sosial.
Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian
integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk
pelayanan biopsikososial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu,
keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh aspek kehidupan
manusia. (Lokakarya Nasional, 1983).
Profesi berasal dari kata profession yang berarti suatu pekerjaan yang membutuhkan
dukungan body of knowledge sebagai dasar bagi perkembangan teori yang sistematis
menghadapi banyak tantangan baru, dan karena itu membutuhkan pendidikan dan pelatihan
yang cukup lama, memiliki kode etik orientasi utamanya adalah melayani (alturism).
Profesi adalah suatu pekerjaan yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat dan bukan
untuk kepentingan golongan atau kelompok tertentu. Profesi sangat mementingkan
kesejahteraan orang lain, dalam konteks bahasan ini konsumen sebagai penerima jasa
pelayanan keperawatan profesional. Menurut Webster, profesi adalah pekerjaan yang
memerlukan pendidikan yang lama dan menyangkut keterampilan intelektual.
Kelly dan Joel (1995) menjelaskan, Profesional sebagai suatu karakter, spirit atau
metode profesional yang mencakup pendidikan dan kegiatan di berbagai kelompok okupasi
yang anggotanya berkeinginan menjadi profesional. Profesional merupakan suatu proses
yang dinamis untuk memenuhi atau mengubah karakteristik kearah suatu profesi.
Sejak abad yang lalu keperawatan telah megalami perubahan yang drastis, selain itu juga
telah mengikuti perundang-undangan dan mendapatkan penghargaan sebagai profesi penuh.
Hugnes E.C (1963) mengatakan bahwa, Profesi adalah seorang ahli, mereka mengetahui
1

lebih baik tentang sesuatu hal dari orang lain, serta mengetahui lebih baik daripada kliennya
tentang apa yang terjadi pada klien. Dalam konsep profesi ada tiga nilai penting yang perlu
dipahami yakni:
1. Pengetahuan yang mendalam dan sistimatik.
2. Keterampilan teknis dan kiat yang diperoleh melalui latihan yang lama.
3. Pelayanan asuhan kepada yang memerlukan berdasarkan ilmu pengetahuan, keterampilan
teknis dan pedoman serta falsafah moral yang diyakini (etika profesi).
Menurut Hood L. J dan Leddy S.K (2006), Perawat profesional akan menggunakan
pendekatan holistik dalam menemukan kebutuhan kesehatan bagi klien yang dirawatnya, hal
ini sesuai dengan pernyataan kebijakan yang disampaikan oleh American Nurses
Association (1995), ada empat ciri praktik profesional yang harus dilakukan oleh perawat,
yaitu:
1. Perawat menggunakan fokus orientasi pada masalah dengan memperhatikan rangkaian
seluruh respon manusia terhadap kesehatan dan penyakitnya.
2. Perawat terintegrasi dalam tenaga kesehatan yang menggunakan pengetahuannya untuk
membantu mencapai tujuan pasien dengan mengumpulkan data subjektif maupun objektif
pasien dan memahaminya baik secara individual atau secara berkelompok.
3. Perawat mengaplikasikan ilmu pengetahuannya untuk menentukan diagnosa dan
melakukan treatment respon manusia.
4. Perawat melakukan asuhan keperawatan dengan melakukan hubungan terapeutik dengan
pasien untuk memfasilitasi kesehatan dan penyembuhan.
Ada tiga istilah penting yang berhubungan dengan profesi, yaitu profesionalisme,
profesionalisasi, dan profesi.
1. Profesionalisme
Merujuk pada karakter profesional, semangat atau metode. Merupakan suatu sifat resmi,
cara hidup yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Profesionalisme keperawatan
telah ada sejak zaman Florence Nightingale (1820-1910).
2. Profesionalisasi
Profesionalisasi adalah suatu proses untuk menjadikan profesional dengan cara
memenuhi beberapa kriteria yang telah ditentukan/disepakati.
3. Profesi
Jika dilihat di dalam kamus, sama dengan pekerjaan yang menghendaki pendidikan yang
lebih luas atau memiliki ilmu pengetahuan yang spesial, keterampilan serta dipersiapkan
dengan cara yang baik.
2

Dunia profesi keperawatan terus bergerak. Hampir dua dekade profesi ini menyerukan
perubahan paradigma. Perawat yang semula tugasnya hanyalah semata-mata menjalankan
perintah dokter kini berupaya meningkatkan perannya sebagai mitra kerja dokter seperti yang
sudah dilakukan di negara-negara maju.
Sebagai sebuah profesi yang masih berusaha menunjukkan jati diri, profesi keperawatan
dihadapkan pada banyak tantangan. Tantangan ini bukan hanya dari eksternal tapi juga dari
internal profesi ini sendiri.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan keperawatan sebagai profesi ?
2. Apa saja ciri-ciri profesi ?
3. Bagaimana implikasi ciri-ciri profesi dalam keperawatan ?
4. Manfaat ciri-ciri profesi dalam keperawatan?
C. Tujuan
a. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum penyusunan tugas ini yaitu untuk mengetahui, memahami dan
berpikir kritis tentang konsep mata kuliah aspek legal dan etik keperawatan.
b. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui dan memahami tentang keperawatan sebagai profesi, ciri-ciri profesi,
serta mengetahui implikasi dan ciri-ciri profesi dalam keperawatan.

D. Manfaat
Mendapatkan pengetahuan tentang profesi keperawatan dan mahasiswa akan dapat
menggunakan logika dalam berfikir dam memiliki kemampuan merumuskan pemikiran
dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS/PUSTAKA
A. Ciri-ciri Profesi
Menurut Leddy dan Pepper (1993), ciri-ciri profesi terdiri dari :
1. Memiliki Body of Knowledge
Memperoleh badan pengetahuan dari institusi pendidikan merupakan salah satu
gambaran tentang suatu profesi, keperawatan sebagai profesi meruapakan salah satu
pekerjaan dimana dalam menentukan tindakan didasarkan pada ilmu pengetahuan, etika,
serta memiliki keterampilan yang jelas dalam keahliannya. Perawat bekerja dalam
kelompok dan dilandasi dengan teori yang spesifik dan sistematis yang dikembangkan
4

melalui penelitian. Penelitian keperawatan yang dilakukan pada tahun 1940, merupakan
titik awal perkembangan keperawatan. Pada tahun 1950 dengan semakin berkembangnya
penelitian yang dilakukan mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam dunia
pendidikan keperawatan dan pada tahun 1960 penelitian lebih banyak di lakukan pada
praktik keperawatan. Sejak tahun 1970, peneliti keperawatan lebih banyak di lakukan
dengan memfokuskan diri pada praktik yang di hubungkan dengan isu isu yang ada
pada saat itu.
Menurut Potter dan Perry (1997) perawat telah memperlihatkan diri sebagai profesi
dan dapat dilihat adanya pengetahuan keperawatan telah di kembangkan melalui teori
teori keperawatan seperti yang di kembangkan oleh penemu teori-teori dalam pendidikan
keperawatan sebagai berikut :
a. Nightingale (1860) : memfasilitasi :proses perbaikan tubuh dengan memanipulasi
lingkungan klien
b. Peplau (1952) : mengembangkan interaksi antara perawat dengan klien (komunikasi
terapeutiknya)
c. Henderson (1955) : kolaborasi dengan para medis lainnya
d. Abdellah (1960) : perawat menyediakan kebutuhan sesuai dengan kebuthan pasien,
dengan didasari prilaku yang baik, dan kompeten serta pandai memilih fasilitas yang
dibutuhkan pasien
e. Rogers (1970) :
rehabilitatif)
f. Orem (1971)

proses pelayanan kesehatan

(promosi, prenventif, kuratif,

: self care (perawat menolong pasien sampai pasien melakukan

aktifitasnya dengan mandiri)


g. King (1971) : perawat membantu pasien untuk bias beradaptasi dengan lingkungan
h. Neuman (1971) : pemilihan intervensi keperawatan untuk membantu klien, keluarga,
kelompok
i. Leininger (1978 ) : pelayanan urgent dan emergency
j. Roy (1979) : memilih tempat yang tepat untuk pasien supaya lebih mudah
beradaptasi
k. Watson (1979) : promosi, prefentif, kuratif, rehabilitative
l. Brennerdan brubel (1989) : focus pada kebutuhan klien, pelayanan sebagai adaptasi
dengan tekanan penyakit
Model teori memberikan kerangka kerja bagi kurikulum dan praktis klinis keperawatan,
teori keperawatan mendorong kearah penelitian yang meningkatkan dasar ilmiah untuk
praktik keperawatan (Potter & Perry, 2010).

2. Altruistik
Islam memandang bahwa perilaku menolong adalah merupakan fitrah manusia yang
dibawah sejak lahir, artinya manusia sudah mempunyai sifat-sifat itu dan merupakan sifat
dasar dalam membangun relasi social nantinya. Dalam masyarakat Muslim pun, sangat
mengajurkan perilaku ini, bahkan pada satu hadist disebutkan tidak akan masuk syurga
orang yang membiarkan tetangganya mati kelaparan.
Perilaku menolong adalah salah satu perilaku prososial yang lahir karena adanya
proses pembelajaran dilingkungan. Proses ini dimulai sejak anak mulai mengenal
lingkungan. Menurut Cialdini (1982) anak adalah individu yang berusia antara 10-12
tahun, yang merupakan masa peralihan antara tahapan presosialization (tahap dimana
anak tidak peduli pada orang lain, mereka hanya akan menolong apabila diminta atau
ditawari sesuatu agar mau melakukannya, tapi menolong itu tidak membawa dampak
positif bagi mereka), tahap awareness (tahap dimana anak belajar bahwa anggota
masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka saling membantu, mengakibatkan
mereka menjadi lebih sensitif terhadap norma sosial dan tingkah laku prososial), dan
tahap internalization (15-16 tahun). Pada tahap ini perilaku menolong bisa memberikan
kepuasan secara intrinsik dan membuat orang merasa nyaman. Norma eksternal yang
memotivasi menolong selama tahap kedua sudah diinternalisasi. Lingkungan yang tidak
mendukung akan timbulnya perilaku altruism ini, kemungkinan besar hubungan antar
anggota masyarakat lebih bersifat individual. Pada dasarnya, menurut pandangan Islam,
perilaku menolong dan perilaku hidup prososial adalah merupakan fitrah manusia, artinya
kecenderungan untuk melakukan perilaku menolong sudah ada dalam diri manusia,
tinggal lingkungan memberikan support, apakah akan memunculkannya atau tidak.
Ada 4 teori utama yang mencoba menjelaskan penyebab tingkah laku menolong:
1. Hipotesis empati-altruisme (emphaty-altruism hypothesis): sebuah dugaan bahwa
tingkah laku prososial hanya dimotivasi oleh keinginan untuk menolong seseorang
yang membutuhkan pertolongan.
2. Hipotesis mengurangi afek negatif (negative-state relief hypothesis): penjelasan yang

menyatakan bahwa perilaku prososial dimotivasi oleh keinginan bystander untuk


mengurangi emosional negatifnya sendiri. Orang-orang kadang menolong karena
mereka berada pada suasana hati yang jelek dan ingin membuat diri sendiri meresa
lebih baik.

3. Hipotesis

kesenangan empatik (emphatic joy hypothesis): penjelasan yang

menyatakan bahwa perilaku prososial dimotivasi oleh emosi positif yang diantisipasi
penolong untuk dimiliki sebagai hasil dari memiliki pengaruh menguntungkan pada
hidup seseorang yang membutuhkan. Penolong berespons pada kebutuhan korban
karena dia ingin merasa enak karena berhasil mencapai sesuatu.
4. Hipotesis determinisme genetis (genetic determinism hypothesis): penjelasan yang

menyatakan bahwa tingkah laku didorong oleh atribut genetis yang berevolusi karena
atribut tersebut meningkatkan kemungkinan untuk mewariskan gen seeorang pada
generasi berikutnya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Menolong
Menurut Wortman dkk. ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam
memberikan pertolongan kepada orang lain
a. Suasana hati.
Jika suasana hati sedang enak, orang juga akan terdorong untuk memberikan
pertolongan lebih banyak. Itu mengapa pada masa puasa, Idul Fitri atau menjelang
Natal orang cenderung memberikan derma lebih banyak. Merasakan suasana yang
enak itu orang cenderung ingin memperpanjangnya dengan perilaku yang positif.
Riset menunjukkan bahwa menolong orang lain akan lebih disukai jika ganjarannya
jelas. Semakin nyata ganjarannya, semakin mau orang menolong (Forgas & Bower).
Bagaimana dengan suasana hati yang buruk? Menurut penelitian Carlson & Miller,
asalkan lingkungannya baik, keinginan untuk menolong meningkat pada orang yang
tidak bahagia. Pada dasarnya orang yang tidak bahagia mencari cara untuk keluar dari
keadaan itu, dan menolong orang lain merupakan pilihannya. Tapi pakar psikologi
lain tidak meyakini peran suasana hati yang negatif itu dalam altruisme.
b. Empati.
Menolong orang lain membuat kita merasa enak. Tapi bisakah kita menolong orang
lain tanpa dilatarbelakangi motivasi yang mementingkan diri sendiri (selfish)?
Menurut Daniel Batson bisa, yaitu dengan empati (pengalaman menempatkan diri
pada keadaan emosi orang lain seolah-olah mengalaminya sendiri). Empati inilah
yang menurut Batson akan mendorong orang untuk melakukan pertolongan altruistis.
c. Meyakini Keadilan Dunia.
Faktor lain yang mendorong terjadinya altruisme adalah keyakinan akan adanya
keadilan di dunia (just world), yaitu keyakinan bahwa dalam jangka panjang yang

salah akan dihukum dan yang baik akan dapat ganjaran. Menurut teori Melvin Lerner,
orang yang keyakinannya kuat terhadap keadilan dunia akan termotivasi untuk
mencoba memperbaiki keadaan ketika mereka melihat orang yang tidak bersalah
menderita. Maka tanpa pikir panjang mereka segera bertindak memberi pertolongan
jika ada orang yang kemalangan.
d. Faktor Sosiobiologis.
Secara sepintas perilaku altruistis memberi kesan kontraproduktif, mengandung risiko
tinggi termasuk terluka dan bahkan mati. Ketika orang yang ditolong bisa selamat,
yang menolong mungkin malah tidak selamat. Perilaku seperti itu antara lain muncul
karena ada proses adaptasi dengan lingkungan terdekat, dalam hal ini orangtua. Selain
itu, meskipun minimal, ada pula peran kontribusi unsur genetik.
e. Faktor Situasional.
Apakah ada karakter tertentu yang membuat seseorang menjadi altruistis? Belum ada
penelitian yang membuktikannya. Yang lebih diyakini adalah bahwa seseorang
menjadi penolong lebih sebagai produk lingkungan daripada faktor yang ada pada
dirinya.
f. Faktor Penghayatan Terhadap Agama
Agama manapun didunia ini semuanya menganjurkan perilaku menolong. Sehingga
semakin tinggi tingkat penghayatan keagamaan seseorang, maka semakin tinggi pula
perilaku menolongnya. Perilaku menolong didasari karena sikap berbakti kepada
manusia sebagai wujud ketaatannya kepada Tuhan. Sebagai orang yang beriman pada
Tuhan, tentu saja spiritualitas ini dikembangkan melalui persatuan dengan Tuhan,
juga dengan sesama umat manusia dan alam semesta ciptaan-Nya. Dengan itu,
prososial akan menjadi ciri khas yang melekat dalam diri seseorang karena orang lain
disadari sebagai bagian dari hidupnya. Prososial bukan lagi berupa tindakan temporer
yang disertai pamrih pribadi.
3. Wadah Organisasi
Organisasi keperawatan profesional berhadapan dengan masalah praktik dalam
profesinya. Di Amerika bagian utara terdapat organisasi keperawatan professional seperti
ANA dan National for NURSING (NLN). NLN memajukan pendidikan keperawatan
untukmenyiapkan perawat dalam memenuhi kebutuhan berbagai populasi pada
lingkungan pelayanan kesehatan yang terus berunbah. NLN (2007) membuat standar
untuk kendalaan dan inovasi dalam pendidikan keperawatan.
8

Tujuan ANA adalah memperbaiki standar kesehatan dan pelayanan, mewujudkan


standar keperawatan yang tinggi, mendukung pengembangan professional srta
kesejahteraan ekonomi danumum dari perawatan. ANA merupakan bagian dari
international Counsil of Nurse (ICN). ICN memiliki tujuan yang sama dengan ANA
yaitu mendukung asosiasi keperawatan nasional, meningkatkan standar praktik
keperawatan. Mencapai status yang lebih tinggi untuk para perawat, dan menyediakan
basis internasional bagi perawat.
ANA berperan aktif dalam hal politik, professional dan hal financial yang
mempengaruhi pelayanan kesehatan dan profesi keperawatan. ANA memiliki kekuatan
lobi yang lebih tinggi dalam masalah praktik keperawatan, sebagai contoh ANA secara
ekstensif melobi pejabat Negara bagian untuk membatasi waktu lembur perawat. Jika
waktu kerja perawat melebihi 12 sampai 16 jam, keselamatan klien dan perawat berada
dalam resiko. Terdapat peningkatan kesalahan pemberian terapi dan cedera perawat saat
waktu kerja perawat ditambah.
Yang membedakan antara profesi dan pekerjaan adalah pengelolaan dibawah payung
suatu organisasi profesi. Pengelolaan adalah penerapan dan pemiliharaan ketentuan
social, politik, dan ekonomi yang di manfaatkan oleh praktisiuntuk mengatur praktik
mereka, disiplindiri mereka, kondisi seputar pekerjaan mereka, dan urusan profesi
mereka. Oleh karena itu, perawat perlu bekerja dalam organisasi profesi mereka (Kozier,
2011).
4. Standar
a. Standar praktik
Keenam standar praktik menggambarkan tingkat kompetensi dari pelayanan
keperawatan. Tingkat pelayanan ditunjukan melalui model berfikir kritis yang dikenal
sebagai

proses

keperawatan:

pengkajian,

diagnose,

identifikasi

hasil

dan

perencanaan, implementasi serta evaluasi (ANA 2004). Proses keperawatan


merupakan

dasar

dari

pengambilan

keputusanklinis

dan

meliputi

seluruh

tindakanyang diambil perawat saat menyediakan pelayanan terhadap klien.


b. Standar pelayanan professional
Kesembilan standar pelayanan profesional ANA menggambarkan tingkat kompetensi
tingkah laku dalam profesi (ANA 2004). Standar ini menyediakan petunjuk bagi
perawat untuk bertanggung jawab terhadap tindakannya, klien, dankelompoknya.
Standar ini berusaha menjamin klien untuk menerima pelayanan berkualitas tinggi,
9

sehingga perawat mengetahui dengan pasti hal-hal yang dibutuhkan untuk pelayanan
keperawatan, dan mengukur apakah pelayanan telah memenuhi standar (Potter &
Perry, 2009).
5. Etika Profesi
Di masa lampau, perawat memandang pembuatan keputusan etik sebagai tanggung
jawab dokter. Namun, tidak ada satu profesi pun yang bertanggung jawab atas keputusan
etik, dan tidak ada keahlian dalam sebuah bidang misalnya kedokteran atau keperawatan
yang menjadikan seseorang ahli dalam hal etika. Seiring perkembangan situasi yang
semakin rumit, masukan dari semua pemberi asuhan menjadi semakin penting (Kozier,
2011).
Standar etik yang disusun Joint Commission on Accreditation of Healthcare
Organization (JCAHO) mewajibkan semua institusi perawatan kesehatan memiliki
komite etik atau struktur sejenis untuk membuat panduan dan kebijakan serta
memberikan pendidikan, konseling dan dukungan mengenai isu etik (JCAHO, 1996).
Komite multidisipliner ini mencakup perawat an dapat diminta untuk mengkaji kasus dan
memberikan panduan bagi klien yang kompeten, keluarga klien yang tidak kompeten,
atau penyedia layanan kesehatan. Komite ini memastikan bahwa fakta relevan dari suatu
kasus diungkap, membentuk forum yang dapat mengungkap pandangan berbeda,
memberikan dukungan bagi pemberi asuhan, dan dapat mengurangi resiko

hukum

terhadap institusi. Di beberapa tatanan dilakukan pertemuan etik. Dalam pertemuan ini,
dilemma etik baik pada kasus nyata maupun kasus simulasi ditampilkan dari perspektif
yang lebih teoritis, dengan mengenalkan isu dan proses yang digunakan dalam
menganalisis dilemma tersebut (Kozier, 2011).
Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perilaku
seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan oleh
seseorang dan merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab moral.
1. Pengertian Etik
Etik atau ethics berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethos yang artinya adat, kebiasaan,
perilaku, atau karakter. Sedangkan menurut kamus Webster, etik adalah suatu ilmu
yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral. Dari pengertian
diatas, etik adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sepatutnya
manusia hidup di dalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip10

prinsip yang menentukan tingkah laku yang benar, yaitu : (a) baik dan buruk; dan (b)
kewajiban dan tanggung jawab.
Moral, istilah ini berasal dari bahasa Latin yang berarti adat dan kebiasaan.
Pengertian moral adalah perilaku yang diharapkan oleh masyarakat yang merupakan
standar perilaku dan nilai-nilai yang harus diperhatikan bila seseorang menjadi
anggota masyarakat dimana ia tinggal.
Etiket atau adat merupakan sesuatu yang dikenal, diketahui, diulang, serta menjadi
suatu kebiasaan di dalam suatu masyarakat, baik berupa kata-kata atau suatu bentuk
perbuatan yang nyata.
Ketiga istilah diatas etika, moral dan etiket sulit untuk dibedakan, hanya dapat dilihat
bahwa etika lebih menitikberatkan pada aturan-aturan, prinsip-prinsip yang melandasi
perilaku yang mendasar dan mendekati aturan-aturan, hukum dan undang-undang
yang membedakan benar atau salah secara moralitas (Ismani Nila, 2001).
2. Kode Etik Keperawatan
Kode etik adalah pernyataan formal ideal dan nilai kelompok. Kode etik adalah
serangkaian prinsip etik yang (a) dianut oleh anggota kelompok, (b) merefleksikan
penilaian moral anggota kelompok, dan (c) digunakan sebagai standar untuk tindakan
professional mereka. Kode etik biasanya mempunyai persyaratan yang lebih tinggi
daripada standar hukum, dan tidak lebih rendah dari standar hukum profesi tersebut.
Perawat bertanggung jawab membiasakan diri dengan kode yang mengatur praktik
mereka (Kozier, 2011).
Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan
nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat.
Kode etik adalah suatu pernyataan formal mengenai suatu standar kesempurnaan
dan nilai kelompok. Kode etik adalah prinsip etik yang digunakan oleh semua
anggota kelompok, mencerminkan penilaian moral mereka sepanjang waktu, dan
berfungsi sebagai standar untuk tindakan profesional mereka. Kode etik disusun dan
disahkan oleh organisasi atau wadah yang membina profesi tertentu baik secara
nasional maupun internasional.
Asosiasi keperawatan internasional, nasional, dan negara bagian memiliki kode etik
yang ajeg. International Councilfor Nurses (ICN) pertama kali mengadopsi kode etik
pada tahun 1953 dan revisi yang terbaru pada tahun 2001. Code for Nurses pertama
kali diadopsi oleh ANA pada tahun 1950. Versi terbaru mencerminkan beberapa
11

perubahan besar dalam kode tersebut (kini disebut dengan Code of Ethics for
Nurses). Pernyataan yang menunjukkan kepedulian telah ditambahkan dan tanggung
jawab untuk melindungi pasien telah diperluas hingga mencakup semua hakp pasien.
Beberapa ketentuan sebelumnya dihapus dan ketetapan mengenai delegasi kini
semakin ditingkatkan untuk merefleksikan peningkatan peran serta staf bantu yang
belum memiliki izin. Kode etik keperawatan memiliki tujuan, sebagai berikut :
1. Menginformasikan kepada masyarakat mengenai standar minimum profesi dan
2.
3.
4.
5.
6.

membantu mereka memahami tindakan keperawatan professional


Memberikan tanda bukti komitmen profesi kepada masyarakat yang dilayaninya
Menguraikan pertimbangan etik utama profesi
Member standar etik untuk tindakan profesional
Memberikan panduan pada profesi mengenai regulasi secara mandiri
Mengingatkan perawat mengenai tanggung jawab khusus yang mereka miliki saat

merawat orang sakit (Kozier, 2011).


3. Tujuan Kode Etik Keperawatan
Pada dasarnya, tujuan kode etik keperawatan adalah upaya agar perawat, dalam
menjalankan setiap tugas dan fungsinya, dapat menghargai dan menghormati
martabat manusia. Tujuan kode etik keperawatan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Merupakan dasar dalam mengatur hubungan antar perawat, klien atau pasien,
teman sebaya, masyarakat, dan unsur profesi, baik dalam profesi keperawatan
maupun dengan profesi lain di luar profesi keperawatan.
2. Untuk mempertahankan bila praktisi yang dalam menjalankan tugasnya
diperlakukan secara tidak adil oleh institusi maupun masyarakat.
3. Merupakan dasar dalam menyusun kurikulum pendidikan keperawatan agar dapat
menghasilkan lulusan yang berorientasi pada sikap profesional keperawatan.
4. Memberikan pemahaman kepada masyarakat pemakai/pengguna tenaga
keperawatan akan pentingnya sikap profesional dalam melaksanakan tugas
praktek keperawatan.
4. Fungsi Kode Etik Perawat
Kode etik perawat yang berlaku saat ini berfungsi sebagai landasan bagi status
profesional dengan cara sebagai berikut:
1. Kode etik perawat menunjukkan kepada masyarakat bahwa perawat diharuskan
memahami dan menerima kepercayaan dan tanggungjawab yang diberikan kepada
perawat oleh masyarakat.

12

2. Kode etik menjadi pedoman bagi perawat untuk berperilaku dan menjalin
hubungan keprofesian sebagai landasan dalam penerapan praktek etika.
3. Kode etik perawat menetapkan hubungan-hubungan profesional yang harus
dipatuhi yaitu hubungan perawat dengan pasien/klien sebagai advokator, perawat
dengan tenaga profesional kesehatan lain sebagai teman sejawat, dengan profesi
keperawatan sebagai seorang kontributor dan dengan masyarakat sebagai
perwakilan dari asuhan kesehatan.
4. Kode etik perawat memberikan sarana pengaturan diri sebagai profesi.
Kode etik keperawatan di Indonesia telah disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia melalui Musyawarah Nasional

PPNI di

Jakarta pada tanggal 29 November 1989.


Kode etik keperawatan di Indonesia tersebut terdiri dari 4 bab dan 16 pasal. Bab
1, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap
individu, keluarga dan masyarakat. Bab 2 terdiri dari lima pasal, menjelaskan tentang
tanggung jawab perawat terhadap tugasnya. Bab 3, terdiri dari dua pasal menjelaskan
tentang tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain.
Bab 4, terdiri dari empat pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat
terhadap profesi keperawatan. Bab 5, terdiri dari dua pasal, menjelaskan tentang
tanggung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa dan tanah air.
Dengan penjabarannya sebagai berikut:
1. Tanggung jawab Perawat terhadap klien.
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan masyarakat, diperlukan
peraturan tentang hubungan antara perawat dengan masyarakat, yaitu sebagai
berikut:
1) Perawat, dalam melaksanakan pengabdiannya, senantiasa berpedoman pada
tanggung jawab yang bersumber pada adanya kebutuhan terhadap
keperawatan individu, keluarga, dan masyarakat.
2) Perawat, dalam melaksanakan pengabdian dibidang keperawatan, memelihara
suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan
kelangsungan hidup beragama dari individu, keluarga dan masyarakat.
3) Perawat, dalam melaksanakan kewajibannya terhadap individu, keluarga, dan
masyarakat, senantiasa dilandasi rasa tulus ikhlas sesuai dengan martabat dan
tradisi luhur keperawatan.

13

4) Perawat, menjalin hubungan kerjasama dengan individu, keluarga dan


masyarakat, khususnya dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya
kesehatan, serta upaya kesejahteraan pada umumnya sebagai bagian dari tugas
dan kewajiban bagi kepentingan masyarakat
2. Tanggung jawab Perawat terhadap tugas
1) Perawat, memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai
kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan
keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat.
2) Perawat, wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan
dengan tugas yang dipercayakan kepadanya, kecuali diperlukan oleh pihak
yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3) Perawat, tidak akan menggunakan pengetahuan dan keterampilan keperawatan
yang dimilikinya dengan tujuan yang bertentangan dengan norma-norma
kemanusiaan.
4) Perawat, dalam menunaikan tugas dan kewajibannya, senantiasa berusaha
dengan penuh kesadaran agar tidak terpengaruh oleh pertimbangan
kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, agama
yang dianut, dan kedudukan sosial.
5) Perawat, mengutamakan perlindungan dan keselamatan pasien/klien dalam
melaksanakan tugas keperawatannya, serta matang dalam mempertimbangkan
kemampuan jika menerima atau mengalih-tugaskan tanggung jawab yang ada
hubungannya dengan keperawatan
3. Tanggung jawab Perawat terhadap Sejawat
Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain
sebagai berikut:
1) Perawat, memelihara hubungan baik antara sesama perawat dan tenaga
kesehatan lainnya, baik dalam memelihara keserasiaan suasana lingkungan
kerja maupun

dalam mencapai

tujuan

pelayanan

kesehatan

secara

menyeluruh.
2) Perawat, menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya
kepada sesama perawat, serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari
profesi dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam bidang keperawata
4. Tanggung jawab Perawat terhadap Profesi

14

1) Perawat, berupaya meningkatkan kemampuan profesionalnya secara sendirisendiri dan atau bersama-sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman yang bermanfaat bagi perkembangan
keperawatan.
2) Perawat, menjunjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan
menunjukkan perilaku dan sifat-sifat pribadi yang luhur.
3) Perawat, berperan dalam menentukan pembakuan pendidikan dan pelayanan
keperawatan, serta menerapkannya dalam kagiatan pelayanan dan pendidikan
keperawatan.
4) Perawat, secara bersama-sama membina dan memelihara mutu organisasi
profesi keperawatan sebagai sarana pengabdiannya.
5. Tanggung jawab Perawat terhadap Negara
1) Perawat, melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai kebijaksanaan yang telah
digariskan oleh pemerintah dalam bidang kesehatan dan keperawatan.
2) Perawat, berperan secara aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada
pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan keperawatan
kepada masyarakat.

6. Akuntabilitas (tanggung gugat)


Akuntabilitas (tanggung gugat) dapat menjawab segala hal yang berhubungan
dengan tindakan seseorang. Perawat bertanggung gugat terhadap dirinya sendiri, klien,
profesi, sesama karyawan
dan masyarakat. Jika seorang perawat memberikan dosis obat yang salah kepada pasien,
maka ia dapat digugat oleh klien yang menerima obat tersebut, dokter yang memberikan
instruksi, pembuat standar kinerja, dan masyarakat yang menuntut kesempurnaan
professional. Agar dapat bertanggung gugat, perawat harus bertindak berdasarkan kode
etik profesinya. Dengan demikian, jika terjadi suatu kesalahan atau penyimpangan,
perawat dapat melaporkannya dan melakukan perawatan untuk mencegah cedera lebih
lanjut. Akuntabilitas dilakukan untuk mengevaluasi efektivitasi perawat dalam
melakukan praktik. Akuntabilitas professional bertujuan untuk :
1) Mengevaluasi praktisi-praktisi professional baru dan mengkaji ulang praktisi-praktisi
yang sudah ada
2) Mempertahankan standar perawatan kesehatan

15

3) Memberikan fasilitas refleksi professional, pemikiran etis, dan pertumbuhan pribadi


sebagai bagian dari professional perawatan kesehatan
4) Memberi dasar untuk keputusan etis
Agar dapat bertanggung gugat, perawat harus melakukan praktiknya berdasarkan
kode etik profesi. Akuntabilitas membutuhkan suatu evaluasi kinerja terhadap kinerja
perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. The Joint Commision on Accreditation
of Healthcare Organizations (JCHO) telah merekomendasikan pembentukan standar
untuk asuhan keperawatan persalinan. Standar tersebut, dibuat oleh perawat klinis yang
ahli, memberi struktur dasar agar asuhan keperawatan dapat diukur secara objektif.
Standar-standar tersebut tidak menghilangkan kebutuhan rencana asuhan keperawatan
masing-masing, bahkan perawat diperbolehkan memasukkan standar-standar tersebut
dalam asuhan rencana asuhan yang dirancang khusus untuk setiap pasien. Akuntabilitas
dapat diukur dan dijamin dengan lebih baik jika kualitas perawatan telah berhasil
didefinisikan (Ismani Nila, 2001).

7. Otonomi (Autonomy)
Suatu profesi disebut memiliki otonomi apabila profesi ini mampu mengelola diri dan
menerapkan standar bagi para anggotanya. Menerapkan otonomi salah satu tujuan
perhimpunan profesi, jika memiliki status profesional, keperawatan harus mampu
membentuk kebijakan dan mengendalikan tindakannya secara otonom. Untuk dapat
memiliki otonomi, kelompok profesi harus memiliki jaminan kewenangan hukum guna
membatasi lingkup praktiknya, menguraikan fungsi dan peran khususnya, dan
menentukan tujuan dan tanggung jawabnya dalam memberikan layanan.
Bagi para praktisi keperawatan, otonomi berarti indepedensi dalam kerja, memiliki
tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap tindakan yang dilakukan. Otonomi akan
lebih mudah dicapai dan dipertahankan dari posisi yang berwenang. Dengan demikian,
beberapa perawat mencari posisi administrasi, bukan memperluas kompetensi klinis
mereka sebagai perawat untuk menjamin otonomi mereka di tempat kerjanya (Kozier,
2011).
Prinsip otonomy didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berfikir logis
dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki

16

kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang
harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap
seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara
rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut
pembelaan diri. Praktik profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai
hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.
Perawat harus menghargai harkat dan martabat manusia sebagai individu yang dapat
memutuskan hal yang terbaik bagi dirinya, harus melibatkan klien untuk berpartisipasi
dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan asuhan keperawatan. Perawatan
menghargai manusia dalam penerapan otonomi, termasuk menghargai profesi lain dalam
lingkup tugas perawat misalnya ; dokter, ahli farmasi, ahli gizi dan lain lain (Ermawati
Dalami, 2010).

8. Kesejawatan
Sebagai anggota profesi keperawatan, perawat harus dapat bekerja sama dengan
teman sesama perawat demi meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terhadap
pasien/klien. Perawat, dalam menjalankan tugasnya, harus dapat membina hubungan baik
dengan semua perawat yang ada dilingkungan kerjanya. Dalam membina hubungan
tersebut, sesama perawat harus terdapat rasa saling menghargai dan tenggang rasa yang
tinggi agar tidak terjebak dalam sikap saling curiga dan benci.
Tunjukan selalu sikap memupuk rasa persaudaraan dengan silih asuh, silih asih, dan
silih asah.
1) Silih asuh dimaksudkan bahwa sesama perawat dapat saling membimbing,
menasehati, menghormati, dan meningkatkan bila sejawat melakukan kesalahan atau
kekeliruan, sehingga terbina hubungan kerja yang serasi.
2) Silih asih dimaksudkan bahwa setiap perawat dalam menjalankan tugasnya dapat
saling menghargai satu sama lain, saling kasih mengasihi sebagai sesama anggota
profesi, saling bertenggang rasa dan berteloransi yang tinggi sehingga tidak
terpengaruh oleh hasutan yang dapat membuat sikap saling curiga dan benci.
3) Silih asah dimaksudkan bahwa perawat yang merasa lebih pandai/tahu dalam hal
ilmu pengetahuan, dapat membagi ilmu yang dimilikinya kepada rekan sesama
perawat tanpa pamrih. (Ermawati dalami, 2010)

17

Tanggung Jawab Perawat Terhadap Sejawat


Tanggung Jawab Perawat Terhadap Sesama perawat dan profesi kesehatan lain adalah :
1. Perawat memelihara hubungan baik antar sesama perawat dan tenaga kesehatan
lainnya, baik dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam
mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara menyeluruh
2. Perawat menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya kepada
sesama perawat, serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari profesi dalam
rangka meningkatkan kemampuan dalam bidang keperawatan.
Kode Etik Perawat Dengan Teman Sejawat
1. Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun
dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana
lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara
keseluruhan.
2. Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan
pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan ilegal (Ismani Nila, 2001).

18

BAB III
PEMBAHASAN
1. Kasus
Tn. A umur 55 tahun datang di UGD salah satu RS di Jakarta dengan keluhan nyeri di
bagian eksremitas bawah 1/3 distal dekstra. Kemudian setelah dilakukan pengkajian awal
terdapat ulkus diabetikum grade 4, dengan hasil TD: 160/100mmHg, Nadi 92x/menit, Suhu
390C, Pernapasan 23x/menit, hasil lab didaptkan GDS 550mg/dl. Pada kondisi saat itu dokter
menyarankan kepada perawat untuk memasang infuse set dengan cairan glukosa 5%, seorang
perawat A pun memasang infuse dan memberikan cairan tersebut sesuai indikasi dokter, serta
tidak menggunakan torniquet dan tidak menjelaskan maksud dan tujuan dari tindakan
tersebut kepada pasien. Pada saat perawat A melakukan tindakan pemasangan infuse perawat
A menanyakan kepada Tn.A apakah Tn.A menggunakan BPJS atau umum dalam pembayaran
administrasi RS, kemudian Tn.A menjawab menggunakan BPJS, disitu perawat A langsung
seolah-olah tidak ikhlas melakukan tindakan dan menjawab pertanyaan dengan judes ketika
pasien menanyakan apakah akan terasa sangat sakit ketika infuse dipasang. Dengan adanya
insiden tersebut kemudian perawat B menegur perawat A yang bersikap kurang baik terhadap
pasien dengan cara menegur langsung didepan pasien dan keluarga dengan kata-kata yang
kurang sopan dan intonasi nada yang cukup tinggi, serta perawat B menyampaikan dengan
kalimat perawat A, yang kamu lakukan terhadap pasien bisa mencoreng nama organisasi
profesi! kemudian perawat A mengacuhkan teguran dari perawat B.
19

Setelah diberikan tindakan keperawatan awal, prognosis sementara dokter menyarankan


untuk diamputasi pada kaki Tn.A yang mengalami ulkus diabetikum. Dokter dan perawat A
menyampaikan indikasi mengapa kaki pasien harus diamputasi dan menjelaskan efek
samping jika tidak dilakukan amputasi. Namun cara penyampaian dari dokter dan perawat
tersebut kurang tepat karena disampaikan dengan marah-marah karena pasien dan keluarga
menolak untuk dilakukan amputasi. Pasien dan keluarga pun merasa tersinggung dan kesal
terhadap tanggapan dari dokter dan perawat tersebut. Pasien dan keluarga berencana
mengajukan gugatan kepada dokter dan perawat tersebut.
2. PEMBAHASAN KASUS
Pada kasus diatas merupakan salah satu bentuk kasus dimana perawat A tidak memiliki ciriciri profesi yang harus dimiliki oleh seorang perawat professional. ciri-ciri profesi yang harus
dimiliki oleh seorang perawat professional yaitu :
1. Body of knowledge
Seorang perawat dalam melakukan asuhan keperawatan harus didasarkan pada ilmu
pengetahuan dalam keperawatan serta memiliki keterampilan yang diperoleh dari disiplin
ilmu. Perawat bekerja harus dilandasi dengan teori yang spesifik dan sistematis.
Pemberian tindakan keperawatan harus di dasarkan pada teori teori dalam keperawatan,
namun dalam kasus ini dalam diri perawat A tidak tercermin ciri profesi yakni body of
knowledge dalam dirinya karena perawat A melakukan tindakan kolaborasi pemasangan
infuse dan cairan dekstrosa 5% tanpa mengklarifikasi dan mengkritisi instruksi dari
dokter bila dilihat dari hasil lab pasien yaitu 550mg/dl. Karena berdasarkan kasus,
diagnosa medis pasien yaitu diabetes mellitus, dan bila pasien diberikan infuse dekstrosa
5% maka kadar glukosa dalam darahnya akan semakin meningkat. Pengetahuan inilah
yang tidak dimiliki oleh perawat A.
2. Altruistic
Dalam diri seorang perawat harus memiliki sifat altruistic yaitu perilaku menolong yang
didasari dengan rasa empati, tulus dan ikhlas tanpa memandang latar belakang pasien.
Dalam kasus diatas perawat A menunjukkan kurangnya sifat altruistik dilihat dari cara
memasang infuse yang seolah-olah tidak ikhlas ketika mengetahui pasien Tn.A
menggunakan BPJS dalam pembayaran administrasi Rs. Perawat A mungkin saja tidak
ikhlas memberikan tindakan keperawatan karena merasa bahwa pembayaran jasa yang

20

akan diterima perawat A dengan menggunakan BPJS lebih sedikit dibandingkan


pembayaran jasa dengan administrasi system umum.
3. Wadah Organisasi
Wadah organisasi profesi keperawatan dibentuk bertujuan untuk memperbaiki standar
kesehatan dan pelayanan, mewujudkan standar keperawatan yang tinggi, mendukung
pengembangan professional serta kesejahteraan ekonomi dan umum dari perawatan.
Dalam kasus diatas kita membandingkan kesenjangan antara teori dan kasus. Kasus
diatas perawat A, tidak memberikan pelayanan keperawatan yang sesuai dengan standar
profesi yaitu melakukan tindakan dan menjawab pertanyaan dengan judes ketika
ditanyakan oleh pasien sehingga ditegur oleh perawat yang berusaha untuk memperbaiki
sikap perawat A tehadap pasien dengan mengingatkan bahwa tindakan perawat dapat
mencoreng nama baik organisasi profesi.
4. Standar
Standar dalam ciri profesi terbagi menjadi 2 yaitu standar praktik dan standar pelayanan
professional. Standar praktek menggambarkan tingkat kompetensi dari tingkat pelayanan
keperawatan. Tingkat pelayanan di tunjukkan melalui model berfikir kritis yang dikenal
sebagai proses keperawatan, sedangkan standar praktek professional menggambarkan
tingkat kompetensi tingkah laku dalam profesi. Standar ini menyediakan petunjuk bagi
perawat untuk bertanggung jawab terhadap tindakannya, klien, dan kelompoknya.
Standar ini berusaha menjamin klien untuk menerima pelayanan berkualitas tinggi
sehingga perawat mengetahui dengan pasti hal-hal yang dibutuhkan untuk pelayanan
keperawatan dan mengukur apakah pelayanan telah memenuhi standar.
Dalam kasus diatas perawat A tidak mencerminkan ciri profesi dari standar pelayanan
professional yaitu melakukan tindakan pemasangan infuse yang tidak sesuai dengan SOP.
Dilihat dari tidak menggunakan tourniquet dan tidak menjelaskan maksud dan tujuan dari
tindakan tersebut kepada pasien.
5. Etik profesi
Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai
etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat. Kode etik
keperawatan di indonesia telah disusun oleh dewan pimpinan pusast indonesia melalui
musyawarah nasional PPNI di jakarta.
Kode etik keperawatan indonesia tersebut terdiri dari 5 Bab dan 17 pasal.
1) Bab I terdiri dari 4 Pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap
individu, keluarga, masyarakat.
21

2) Bab 2 terdiri dar 5 pasal, menjelaskan tentang tanggung jawab perawat terhadap
tugasnya.
3) Bab 3 terdiri dari 2 pasal, menjelaskan tanggung jawab perawat terhadap sesama
perawat dan profesi keperawatan lain.
4) Bab 4 terdiri dari 4 pasal, menjelaskan tanggung jawab perawat terhadap profesi.
5) Bab 5 terdiri dari 2 pasal, menjelaskan tanggung jawab perawat terhadap pemerintah,
bangsa dan tanah air.
Dari kasus diatas perawat A, tidak mengaplikasikan kode etik profesi antara tanggung
jawab perawat terhadap klien dipasal 2 dan 3 berdasarkan kode etik keperawatan
Indonesia yang disusun oleh Dewan Pimpinan Pusat

Persatuan

Perawat Nasional

Indonesia pada 29 November 1989 yaitu perawat tidak memelihara suasana lingkungan
yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat, dan kelangsungan hidup beragama
dari individu, keluarga dan masyarakat serta tidak melaksanakan kewajibannya dan
bekerja tidak dilandasi oleh rasa tulus dan ikhlas (perawat A bekerja seolah tidak ikhlas
dalam melakukan tindakan dan menjawab pertanyaan pasien dengan judes).
Sedangkan tanggung jawab perawat terhadap sejawat tidak sesuai dengan kode etik
keperawatan PPNI pasal 1 yaitu tidak memilihara hubungan baik antara sesama perawat
(perawat A mengacuhkan teguran dari perawat B serta perawat B menegur perawat A
dengan cara menegur langsung di depan pasien dan keluarga dengan kata-kata yang
kuran sopan dan intonasi yang cukup tinggi).
6. Akuntabilitas (tanggung gugat)
Akuntabilitas dapat menjawab segala sesuatu yang berhubungan dengan tindakan
seseorang. Perawat bertanggung gugat terhadap dirinya sendiri, klien, profesi, sesama
karyawan dan masyarakat. Agar dapat bertanggung gugat, perawat harus bertindak
berdasarkan kode etik profesi.
Dari kasus diatas pasien dan keluarga berencana menggugat perawat dikarenakan pasien
dan keluarga merasa tersinggung dan kesal terhadap tanggapan dari perawat tersebut.
Dalam hal ini perawat harus bersedia digugat oleh pasien atas kekurangan dalam
pemberian pelayanan dan harus menerima dengan lapang dada karena merupakan ciri
dari profesi
7. Otonomi
Suatu profesi disebut memiliki otonomi apabila profesi ini mampu mengelola diri dan
menerapkan standar bagi para anggotanya. Menerapkan otonomi salah satu tujuan
profesi, jika memiliki status professional, keperawatan harus mampu membentuk

22

kebijakan dan mengendalikan tindakannya secara otonom. Otonomi merupakan hak


kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembelaan diri. Praktik professional
merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam membuat
keputusan tentang perawatan dirinya. Dalam kasus diatas perawat telah menerima alasan
pasien dan keluarga menolak untuk dilakukan amputasi tapi cara penyampaian perawat
mengenai indikasi dan efek samping kurang tepat karna disampaikan dengan marahmarah.
8. Kesejawatan
Sebagai anggota profesi keperawatan, perawat harus dapat bekerja sama dengan teman
sesama perawat demi meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terhadap pasien atau
klien. Perawat, dalam menjalakn tugasnya, harus dapat membina hubungan baik, dengan
semua perawat, yang ada dilingkungan kerjanya. Dalam membina hubungan tersebut,
sesama perawat harus saling menghargai dan tenggang rasa yang tinggi agar tidak
terjebak dalam sikap saling curiga dan benci. Berkaitan juga dengan kode etik perawat
dengan teman sejawat.
Dalam kasus diatas serupa dengan ciri profesi pada kode etik perawat yaitu tanggung
jawab perawat dengan teman sejawat (perawat A mengacuhkan teguran dari perawat B
serta perawat B menegur perawat A dengan cara menegur langsung di depan pasien dan
keluarga dengan kata-kata yang kurang sopan dan intonasi yang cukup tinggi).

23

BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Ciri profesi dalam keperawatan mempunyai peranan yang sangat penting, karena ketika kita
sebagai seorang perawat harus berpatokan pada ciri profesi serta mengetahui implikasi dan
ciri-ciri profesi dalam keperawatan tersebut sebagai pundamental buat kita.
2. Saran
a. Dalam menjalankan tugas kita sebagai seorang perawat diharapkan perawat memahami
body of knowledge.
b. Sebagai seorang perawat harus memiliki jiwa aulturistik.
c. Dalam dunia profesi keperawatan harus memiliki wadah organisasi sebagai payung buat
kita.
d. Demi menunjang profesi maka kita harus mengerjakan sesuai dengan standar operasional
prosedur.
e. Sebagai seorang perawat baik yang bekerja di dunia pendidikan maupun pelayanan harus
memiliki etika dalam menjalankan tugasnya.
f. Sebagai seorang perawat harus akuntabilitas (bertanggung jawab) terhadap pasien dan
profesinya
g. Sebagai seorang perawat harus memahami otonomi pasien dan perawat.
h. Sebagai seorang perawat maka kita harus memiliki jiwa kesejawatan.

DAFTAR PUSTAKA

24

Kozier. 2011. Fundamentals of Nursing : Concept Theory and Practices. Philadelphia;


Addison Wesley.
Nila, Ismani. 2001. Etika Keperawatan. Jakarta; Widya Medika
Potter perry. 2010 Fundamental Of Nursing. Jakarta; Salemba Medika
Dalami, Ermawati. 2010. Etika Keperawatan. Jakarta; Trans Info Media.
Craven & Hirnle. (2000). Fundamentals of nursing. Philadelphia; Lippincott

25