Anda di halaman 1dari 7

1.

2.
3.

1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.

E. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pemakaian TON (Tambak Organik Nusantara)
Dalam menjalankan budidaya rumput laut, pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan
lokasi budidaya. Sebaiknya lokasi budidaya diusahakan di perairan yang tidak mengalami
fluktuasi salinitas (kadar garam) yang besar dan bebas dari pencemaran industri maupun
rumah tangga. Selain itu pemilihan lokasi juga harus mempertimbangkan aspek ekonomis
dan tenaga kerja.Budidaya rumput laut dapat dilakukan di areal pantai lepas maupun di
tambak. Dalam pembahasan sekarang ini kita akan menekankan pada budidaya di tambak.
Hal ini mengingat peran TON yang tidak efektif jika diperairan lepas (pantai). Untuk
budidaya perairan lepas dibedakan dalam beberapa metode, yaitu :
1. Metode Lepas Dasar
Dimana cara ini dikerjakan dengan mengikatkan bibit rumput laut pada tali tali yang
dipatok secara berjajar jajar di daerah perairan laut dengan kedalaman antara 30 60 cm.
Rumput laut ditanam di dasar perairan.
2. Metode Rakit
Cara ini dikerjakan di perairan yang kedalamannya lebih dari 60 cm. Dikerjakan dengan
mengikat bibit rumput di tali tali yang diikatkan di patok patok dalam posisi seperti
melayang di tengah tengah kedalaman perairan.
3. Metode Tali Gantung
Jika dua metode di atas posisi bibit bibit rumput laut dalam posisi horizontal (mendatar),
maka metode tali gantung ini dilakukan dengan mengikatkan bibit bibit rumput laut dalam
posisi vertikal (tegak lurus) pada tali tali yang disusun berjajar.Pemakaian TON dengan 3
cara di atas hanya dapat dilakukan dengan sistem perendaman bibit. Karena
jika TON diaplikasikan di perairan akan tidak efektif dan akan banyak yang hilang oleh arus
laut. Metode perendaman bibit dilakukan dengan cara :
Larutkan TON dalam air laut yang ditempatkan dalam wadah.
Untuk 1 liter air laut diberikan seperempat sendok makan (5 10 gr) TON dan
tambahkan 1 2 ccHORMONIK.
Rendam selama 4 5 jam, dan bibit siap ditanam.
Pemakaian TON akan sangat efektif jika diaplikasikan dalam budidaya rumput laut di
tambak. Cara budidaya di tambak ini dapat dilakukan dengan metode tebar. Caranya adalah
sebagai berikut :
Tambak harus dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran.
Tambak dikeringkan dahulu.
Taburkan kapur agar pH-nya netral ( 0,5 2 ton per-hektar tergantung kondisi
keasaman lahan).
Diamkan selama 1 minggu.
Aplikasikan TON, dengan dosis 1 5 botol per-hektar (untuk daerah daerah yang
tingkat pencemarannya tinggi, dosisnya ditinggikan), dengan cara dilarutkan dengan air
dahulu, kemudian disebar secara merata di dasar tambak.
Diamkan 1 hari
Masukkan air sampai ketinggian 70 cm.
Tebarkan bibit rumput laut yang sudah direndam
dengan TON dan HORMONIK seperti cara perendaman di atas. Dengan kepadatan 80 100
gram/m2.

9.
10.

Bila dasar tambak cukup keras, bibit dapat ditancapkan seperti penanaman padi.
Tidak perlu ditambah pupuk makro.
F. Pemeliharaan dan aplikasi TON (Tambak Organik Nusantara) susulan.
Selama budidaya, harus dilakukan pengawasan secara kontinyu. Khusus untuk budidaya di
tambak harus dilakukaan minimal 1 2 minggu setelah penebaran bibit, hal ini untuk
mengontrol posisi rumput laut yang ditebar. Biasanya karena pengaruh angin, bibit akan
mengumpul di areal tertentu, jika demikian harus dipisahkan dan ditebar merata lagi di areal
tambak.Kotoran dalam bentuk debu air (lumpur terlarut/ suspended solid) sering melekat
pada tanaman, apalagi pada perairan yang tenang seperti tambak. Pada saat itu, maka
tanaman harus digoyang goyangkan di dalam air agar tanaman selalu bersih dari kotoran
yang melekat. Kotoran ini akan mengganggu metabolisme rumput laut. Beberapa tumbuhan
laut seperti Ulva, Hypea, Chaetomorpha, dan Enteromorpha sering membelit tanaman.
Tumbuhan tumbuhan tersebut harus segera disingkirkan dan dipisahkan dari rumput laut
agar tidak menurunkan kualitas hasil. Caranya dengan mengumpulkannya di darat. Bulu babi,
ikan dan penyu merupakan hewan herbivora yang harus dicegah agar tidak memangsa rumput
laut. Untuk menghindari itu biasanya dipasang jaring disekeliling daerah budidaya. Untuk
budidaya di tambak di lakukan dengan memasang jaring di saluran pemasukan dan
pengeluaran.
G. Pemanenan
Pada tahap pemanenan ini harus diperhatikan cara dan waktu yang tepat agar diperoleh hasil
yang sesuai dengan permintaan pasar secara kualitas dan kuantitas.Tanaman dapat dipanen
setelah umur 6 8 minggu setelah tanam. Cara memanen adalah dengan mengangkat seluruh
tanaman rumput laut ke darat. Rumput laut yang dibudidayakan di tambak dipanen dengan
cara rumpun tanaman diangkat dan disisakan sedikit untuk dikembangbiakkan lebih lanjut.
Atau bisa juga dilakukan dengan cara petik dengan memisahkan cabang cabang dari
tanaman induknya, tetapi cara ini akan berakibat didapatkannya sedikit keraginan dan
pertumbuhan tanaman induk untuk budidaya selanjutnya akan menurun.Jika rumput laut
dipanen pada usia sekitar satu bulan, biasanya akan diperoleh perbandingan berat basah dan
berat kering 8 : 1, dan jika dipanen pada usia dua bulan biasanya akan didapat perbandingan
6 : 1. Untuk jenis gracilaria biasanya diperoleh hasil panen sekitar 1500 2000 kg rumput
laut kering per- hektarnya. Diharapkan dengan penggunaan TON (Tambak Organik
Nusantara) akan meningkat sekitar 30 100 %.

Metode budidaya rumput laut di lautan ada 3 cara yaitu lepas dasar, rakit apung dan metode
long line. Industri rumput laut yang semakin dicari pengelola produk rumput laut, menjadi
nilai ekonomis rumput laut, cukup mengiurkan. Rumput laut seperti Ucheuma cottoni
merupakan salah satu jenis rumput laut merah dan berubah nama menjadi Kappaphycus

alvarezii karena keraginan yang dihasilkan termasuk fraksi kappa-karaginan. Umumnya


Eucheuma tumbuh dengan baik di daerah pantai terumbu. Habitat khasnya adalah daerah
yang memperoleh aliran air laut yang tetap, variasi suhu harian yang kecil dan substrat batu
karang mati.
Rumput laut Eucheuma mempunyai peranan penting dalam dunia perdagangan internasional
sebagai penghasil ekstrak keraginan, sehingga memiliki nilai ekspor yang sangat baik. Kadar
keraginan dalam setiap spesies Eucheuma berkisar antara 54 - 73 % tergantung pada jenis dan
lokasi tempat tumbuhnya.

Persyaratan Budidaya
Lingkungan yang cocok untuk budidaya Eucheuma adalah :
Substrat stabil, terlindung dari ombak yang kuat dan umumnya di daerah terumbu
karang. Kedalaman air pada surut terendah 1 - 30 cm. Perairan dilalui arus tetap dari laut
lepas sepanjang pantai. Kecepatan arus antara 20 - 40 m/menit.Jauh dari muara sungai, tidak
mengandung lumpur dan airnya jernih.Suhu air berkisar 27 - 28oC, salinitas berkisar 30 - 37
ppt dan pH 6,5 - 8,5.
Metode Budidaya
Beberapa metode budidaya rumput laut jenis ini adalah sebagai berikut:
Metode Lepas Dasar digunakan pada dasar perairan berpasir atau berlumpur pasir,
sehingga memudahkan menancapkan patok/tiang pancang.

Metode Rakit Apung dilakukan pada perairan berkarang, karena pergerakan air
didominasi ombak, sehingga penanamannya dengan menggunakan rakit bambu/kayu.

Metode Long Line menggunakan tali panjang 50 - 100 m yang dibentangkan, dan
pada kedua ujungnya diberi jangkar serta pelampung besar. Setiap 25 m diberi pelampung
utama terbuat dari drum plastik.
Baca Juga : Cara Pembenihan Budidaya Ikan Bandeng

Proses Pengikatan dan Peletakkan Rumput Laut


Pilih bibit rumput laut yang baik dengan ciri-ciri sebagai berikut:

Bercabang banyak dan rimbun

Tidak terdapat bercak

Tidak terkelupas

Warna cerah

Umur 25 - 35 hari

Sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai sekitar lokasi dan jumlahnya sesuai
dengan kebutuhan.

Perawatan Tempat rumput laut


Perawatan Tempat rumput laut sebagai berikut :
1.

Pada saat pengangkutan bibit tetap terendam didalam air laut dengan menggunakan
kotak styrofoam atau karton berlapis plastik.lalu Bibit disusun berlapis dan berselangseling antara pangkal tallus dan ujung tallus dan antara lapisan dibatasi dengan kain yang
sudah dibasahi air laut.

2.

Hindari bibit agar tidak terkena minyak, kehujanan maupun kekeringan.

3.

selanjutnya Bibit diikat dengan tali raffia pada tali penggantung.

4.

Penanaman bisa langsung dikerjakan dengan cara merentangkan tali Ris yang telah
berisi ikatan tanaman. Pada tali Ris utama, posisi tanaman sekitar 30 cm didasar perairan.

5.

Patok dari kayu berdiameter sekitar 5 cm panjang 1 m dan runcing pada ujung
bawahnya. Jarak antara patok untuk merentangkan tali Ris sekitar 2,5 m.

6.

Setiap patok yang berjajar dihubungkan dengan tali Ris Polyethylen (PE) berdiameter
8 mm. Adapun jarak ideal antara tali rentang sekitar 20 - 25 cm.

Perawatan dan Pemeliharaan


Perawatan dan Pemeliharaan rumput laut adalah sebagai berikut :

Bersihkan tallus dari tumbuhan liar dan lumpur yang menempel, sehingga tidak
menghalangi tanaman dari sinar matahari.
Bersihkan tali penggantung dari sampah atau tumbuhan liar.
Periksa keutuhan tali gantungan, perbaiki jika ada yang putus atau kencangkan jika
tali agak kendor atau ganti dengan tali yang baru.
Periksa tanaman dari gangguan penyakit.
Hama lain rumput lain yang harus diwaspadai antara lain larva bulu babi, teripang,
ikan-ikan herbivora seperti baronang.

Baca Juga : Teknik Penyuntikan Tiram Mutiara

Pemanenan dan Pengeringan


Pemanenan dan Pengeringan rumput laut sebagai berikut :

Waktu pemanenan tergantung dari tujuannya. Untuk mendapatkan bibit, pemanenan


dilakukan pada umur 25 - 35 hari, dan untuk produksi dengan kualitas tinggi yang
kandungan keraginannya banyak, panen dilakukan pada umur 45 hari.

Pemanenan dilakukan dengan mengangkat seluruh tanaman beserta tali


penggantungnya. Pelepasan tanaman dari tali dilakukan di darat dengan cara memotong
tali.

Setelah panen dilakukan, segera dikeringkan langsung dengan menjemur.

Rumput laut dijemur dengan menggantungkan atau diletakkan pada para-para


sehingga tidak tercampur pasir, tanah dan benda lainnya.

Sambil penjemuran dilakukan pembersihan dari kotoran dengan mengambil bendabenda asing seperti batu, sampah dan lainnya.

Jika cuaca cerah, penjemuran cukup 3 - 4 hari yang ditandai dengan warna ungu
keputihan dilapisi kristal garam.

Sepandai - pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga, Sepandai - pandainya seseorang
sekali waktu ada salahnya pula.
Semoga Bermanfaat

Ice-ice adalah penyakit yang banyak menyerang tanaman rumput laut jenis Kappaphycus
alvarezii. Pertama kali dilaporkan pada tahun 1974 di Philipina, ditandai dengan timbulnya
bintik atau bercak-bercak pada sebagian tallus yang lama-kelamaan kehilangan warna dan
berangsur-angsur menjadi putih dan mudah terputus. Penyakit ice-ice timbul karena adanya
mikroba yang menyerang tanaman rumput laut yang lemah (Sudjiharno 2001). Lebih lanjut
Anonim (2001), menyatakan bahwa keberadaan orthophosphate (P2O5) yang dibutuhkan
dalam proses asimilasi tanaman rumput laut yang tidak mencukupi diduga sebagai salah
satu penyebab atas timbulnya penyakit ice-ice. Largo et al. (1999) menyatakan bahwa
penyakit ice-ice pada rumput laut disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. dimana sel-sel yang
terinfeksi oleh bakteri ini mampu berkembang hanya dalam waktu 1-2 jam pada tallus
yang sudah terinfeksi dan memerlukan waktu 24 jam bagi thallus yang masih sehat.
Penyakit ice-ice biasanya terjadi pada bulan April atau Mei di daerah-daerah dengan
kecerahan perairan tinggi. Pada kondisi ini tingkat kelarutan unsur Nitrat tidak tercukupi
untuk keperluan fotosintesis sehingga berakibat terjadinya perubahan warna secara nyata.
Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan cara menurunkan posisi tanaman lebih dalam dari
posisi semula untuk mengurangi penetrasi sinar matahari (Kurniastuty et al. 2001).
Di teluk Lewoleba, Kelurahan Lewoleba Utara sampai pantai Wangatoa, Kelurahan Lewoleba
Timur, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, penyakit ice-ice menyerang rumput
laut rutin setiap tahun setelah musim hujan. Tanda-tandanya, batang rumput laut berwarna
kuning, lemas kemudian jatuh ke dasar laut. Masa budidaya yang baik hanya pada waktu
musim hujan. Ketika itu rumput laut sangat subur dengan batang ukuran sebesar ibu jari
tangan orang dewasa. Jika rumput laut yang terserang ice-ice berwarna kuning dan hampir
patah batangnya, rumput laut yang sehat berwarna kecoklatan.
Pada rumput laut yang terkena ice-ice banyak ditemukan jenis bakteri, tetapi hal tersebut
adalah masalah kedua (Neish 2005). Doty (1987) mencatat bahwa penyakit ice-ice bersifat
musiman dan berhubungan dengan perubahan pada musim hujan. Largo et al. (1995)
menunjukkan bahwa terdapat bakteri tertentu yang dapat merangsang terbentuknya ice-ice
pada tallus yang stress dan tercatat bahwa beberapa faktor abiotik (suhu, salinitas, kecepatan
arus, dll) tersebut dapat menimbulkan gejala
Penyakit ice-ice sering kali terjadi di daerah-daerah dengan kecerahan tinggi, dengan gejala
timbulnya bintik-bintik/bercak-bercak pada sebagian tallus, namun lama-kelamaan akan
menyebabkan kehilangan warna sampai menjadi putih dan mudah terputus. Penyakit ini
menyerang Eucheuma spp. terutama disebabkan oleh adanya perubahan lingkungan (arus,
suhu, kecerahan, dan lain lain.) di lokasi budidaya dan berjalan dalam waktu yang cukup
lama. Cara pencegahan dari penyakit ini adalah dengan memonitor adanya perubahan-

perubahan lingkungan, terutama pada saat terjadinya perubahan lingkungan. Disamping itu
dilakukan penurunan posisi tanaman lebih dalam untuk mengurangi penetrasi cahaya sinar
matahari (Anonim 2006).
Kerusakan tanaman akibat ice-ice dapat mencapai 90% sampai 100% bila kondisi serangan
berlangsung lama. Kondisi ini akan diperparah karena adanya serangan sekunder
dariPeryhphyton yang merupakan mikroorganisme akuatik yang umumnya berukuran
planktonik, fitoplankton, maupun zooplankton. Serangan sekunder sebagai lanjutan dari
kondisi seranganice-ice dapat pula dilakukan oleh bakteri patogen
seperti Pseudomonas dan Staphylococus(Anggadiredja et. al. 2006).

Beri Nilai