Anda di halaman 1dari 5

Nama : Ainiy Izzah

NIM : (14620084)
Kelas : Biologi D
FOTORESPIRASI
Fotorespirasi adalah sejenis respirasi pada tumbuhan yang dibangkitkan oleh penerimaan
cahaya yang diterima oleh daun. Diketahui pula bahwa kebutuhan energi dan ketersediaan
oksigen dalam sel juga mempengaruhi fotorespirasi. Walaupun menyerupai respirasi (pernafasan)
biasa, yaitu proses oksidasi yang melibatkan oksigen, mekanisme respirasi karena rangsangan
cahaya ini agak berbeda dan dianggap sebagai proses fisiologi tersendiri (Garnerd, 1991).
Secara biokimia, proses fotorespirasi merupakan cabang dari jalur glikolat. Enzim utama
yang terlibat adalah enzim yang sama dalam proses reaksi gelap fotosintesis, Rubisco (ribulosabifosfat karboksilase-oksigenase). Rubisco memiliki dua sisi aktif: sisi karboksilase yang aktif
pada fotosintesis dan sisi oksigenase yang aktif pada fotorespirasi. Kedua proses yang terjadi
pada stroma ini juga memerlukan substrat yang sama, ribulosa bifosfat (RuBP), dan juga
dipengaruhi secara positif oleh konsentrasi ion Magnesium dan derajat keasaman (pH) sel.
Dengan demikian fotorespirasi menjadi pesaing bagi fotosintesis, suatu kondisi yang tidak
disukai kalangan pertanian, karena mengurangi akumulasi energi. Jika kadar CO2 dalam sel
rendah (misalnya karena meningkatnya penyinaran dan suhu sehingga laju produksi oksigen
sangat tinggi dan stomata menutup), RuBP akan dipecah oleh Rubisco menjadi P-glikolat dan Pgliserat (dengan melibatkan satu molekul air menjadi glikolat dan P-OH). P-gliserat (P dibaca
"fosfo") akan didefosforilasi oleh ADP sehingga membentuk ATP. P-glikolat memasuki proses
agak rumit menuju peroksisoma, lalu mitokondria, lalu kembali ke peroksisoma untuk diubah
menjadi serin, lalu gliserat. Gliserat masuk kembali ke kloroplas untuk diproses secara normal
oleh siklus Calvin menjadi gliseraldehid-3-fosfat (G3P) (Salisbury dan Ross, 1992).
Proses yang disebut juga "asimilasi cahaya oksidatif" ini terjadi pada sel-sel mesofil daun
dan diketahui merupakan gejala umum pada tumbuhan C3, seperti kedelai dan padi. Lebih jauh,
proses ini hanya terjadi pada stroma dari kloroplas, dan didukung oleh peroksisom dan
mitokondria (Salisbury, 1995).
FOTOFOSFORILASI SIKLIK DAN NON SIKLIK

Merupakan reaksi yang bertujuan untuk menghasilkan energy berupa ATP melalui transfer
electron. Fotofosforilasi non siklik terjadi sesaat setelah reaksi terang berlangsung, tepatnya
ketika cahaya matahri telah dikonversi hingga menjadi electron yang dapat diterima oleh
akseptor electron fotosistem II. Sedangkan fotofosforilasi siklik terjadi jika kloroplas kekurangan
ATP. Kekurangan ATP terjadi karena ATP telah banyak digunakan pada saat berlangsungnya
siklus Calvin, sehingga NADPH terakumulasi. NADPH yang terakumulasi mengakibatkan
peralihan sementara aliran electron dari non siklik ke siklik hingga pasokan ATP sesuai dengan
kebutuhan (Campbell,2000).

Fotofosforilasi Non Siklik

Fotofosforilasi Siklik
Pada Tumbuhan C3

Reaksi Fotorespirasi pada tumbuhan C3 sangat dimungkinkan terjadi karena pada tumbuhan C3
fungsi ganda Rubisco yakni untuk mengikat CO2 dan pengaktifan oksigenase untuk fotorespirasi.
Pemanfaatan CO2 hanya sebesar 50 % karena adanya fotorespirasi. Reaksi pertama dalam jalur
reduksi pentosa pospat adalah pembentukan produk beratom karbon 3 yaitu asam 3 fosfogliserat.
Kebanyakan tanaman yang mengikat karbon dengan jalur ini disebut tanaman C3. Meskipun
demikian fiksasi CO2 tanaman C3 dihambat proses fotorespirasi. Proses ini bergantung dari
kemampuan enzim rubisco yang juga berfungsi sebagai oksigenase. Dalam hal ini oksigen
didikat oleh enzim dan bereaksi dengan 1,5 difosforibulose untuk membentuk 2 fosfoglikosidik
dan asam 3 fosfogliserat. 2 Fosfoglikolat tidak bisa digunakan dalam jalur reduksi fosfat tetapi 2
molekul dari substrat akan bereaksi kemudian sepanjang jalur siklik. Melibatkan glisin, serin,
dan gliserat untuk menghasilkan 1 molekul 3 fosfogliserat, 1 molekul CO2, dan 1 molekul
anorganik fosfat (Heddy, 1990).

Banyak perkiraan tentang fakta bahwa enzim rubisco juga mendukung suatu proses yang
bertentangan dengan fungsi utamanya. Tidak ada deskripsi yang jelas mengenai hal ini, tetapi
sebuah usulan menyatakan bahwa proses untuk melindungi kloroplas pada tumbuhan dari
kerusakan oleh cahaya matahari yang kuat pada kondisi kering, ketika CO2 dihalangi untuk

masuk ke daun karena stomata menutup dengan tujuan untuk menghindari kehilangan air.
Oksigen dapat masuk dengan difusi melewati kutikula daun, dan dengan demikian fotorespirasi
dapat dilakukan dan ATP dan NADPH yang dihasilkan oleh proses fotosintesis dapat digunakan.
Sebaliknya, akumulasi dari senyawa kaya energi ini di mana tidak dapat digunakan untuk
fotosintesis normal karena kekurangan CO2 bisa mempengaruhi kloroplas. Hal itu secara
aktual telah ditunjukkan dimana tumbuhan terkondisikan untuk memperkuat penyinaran di
bawah kondisi dimana oksigen dicegah untuk masuk ke daun, tidak dapat memfotosintesis pada
kecepatan normalnya ketika hal itu kembali pada kondisi normal. Ini mengindikasikan bahwa
kerusakan permanen pada alat fotosintesis terjadi (Lakitan, 2007).
Pada Tumbuhan C4
Reaksi Fotorespirasi pada tumbuhan C4 sangat rendah terjadi karena pada tumbuha C4
memiliki enzim pengikat CO2 (PEP) sehingga tidak terjadi kompetisi antara CO2 dan O2 (karena
PEP hanya mengikat CO2). PEP akan langsung membawa CO2 ke RuBP sehingga menekan
terikatnya O2 pada RuBP. Rendahnya fotorespirasi pada tanaman C4, menyebabkan tanaman C4
lebih produktif dibanding tanaman C3 dan CAM.
Pada Tumbuhan CAM
Tingkat terjadinya fotorespirasinya sama dengan tumbuhan C4, namun kemungkinan
pengikatan molekul O2 terjadi pada malam hari. Sejumlah tumbuhan mengembangkan
mekanisme untuk mencegah fotorespirasi. Untuk menekan fotorespirasi, tumbuhan C4
mengembangkan strategi ruang dengan memisahkan jaringan yang melakukan reaksi terang (sel
mesofil) dan reaksi gelap (sel selubung pembuluh, atau bundle sheath). Sel-sel mesofil tumbuhan
C4 tidak memiliki Rubisco. Strategi yang diambil tumbuhan CAM bersifat waktu (temporal),
yaitu memisahkan waktu untuk reaksi terang (pada saat penyinaran penuh) dan reaksi gelap (di
malam hari) (Dartius, 1991).

Peran fotorespirasi diperdebatkan namun semua kalangan sepakat bahwa fotorespirasi


merupakan penyia-nyiaan energi. Dari sisi evolusi, proses ini dianggap sebagai sisa-sisa ciri
masa lampau (relik). Atmosfer pada masa lampau mengandung oksigen pada kadar yang rendah,
sehingga fotorespirasi tidak terjadi seintensif seperti masa kini. Fotorespirasi dianggap
bermanfaat karena menyediakan CO2 dan NH3 bebas untuk diasimilasi ulang, sehingga
dianggap sebagai mekanisme daur ulang (efisiensi). Pendapat lain menyatakan bahwa
fotorespirasi tidak memiliki fungsi fisiologis apa pun, baik sebagai penyedia asam amino tertentu
(serin

dan

glisin)

maupun

sebagai

pelindung

klorofil

dari

fotooksidasi (Dwijoseputro, 1983).

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Reece dkk.2000.Biologi Jilid 1 Edisi 5.Hal 192 Jakarta: Erlangga.
Dartius. 1991. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. USU-Press. Medan.
Dwijoseputro, D. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.
Garnerd F.P, et all.1991.Fisiologi Tanaman Budidaya.UI Press: Bandung.
Heddy, S. 1990. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.
Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Salisbury, F. B.1995.Fisiologi Tumbuhan Jilid 1 & 2. ITB:Bandung.
Salisbury, dan Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.
Sitompul, S. M. dan Guritno. B. 1995. Pertumbuhan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta

perombakan

karena