Anda di halaman 1dari 140

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar belakang


Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentang alam atau bentuk
roman muka bumi yang terjadi karena adanya kekuatan- kekuatan yang bekerja
dari luar dan dalam bumi. Uraian bentang alam dalam suatu daerah biasanya
berupa asal usul bentang alam, faktor yang mempengaruhi perkembangannnya,
pengaruh iklim terhadap perkembangan tersebut, proses eksogen yan bekerja dan
tingkat perkembangannya.
Dalam mempelajari geomorfologi baik diperlukan dasar pengetahuan yang
baik dalam bidang klimatologi, geografi, geologi serta sebagian ilmu fisika dan
kimia yang mana berkaitan erat dengan proses dan pembentukan muka bumi.
Secara garis besar proses pembentukan muka bumi menganut azas berkelanjutan
dalam bentuk daur geomorfik (geomorphic cycles), yang meliputi pembentukan
daratan oleh tenaga dari dalam bumi (endogen), proses penghancuran/pelapukan
karena pengaruh luar atau tenaga eksogen, proses pengendapan dari hasil
pengahncuran muka bumi (agradasi), dan kembali terangkat karena tenaga
endogen, demikian seterusnya merupakan siklus geomorfologi yang ada dalam
sekala waktu sangat lama.
Foto udara merupakan foto permukaan bumi (termasuk obyek yang berada
dipermukaannya), yang diperoleh dari pesawat udara, termasuk disini pesawat
terbang, balon dan satelit. Geologi citra penginderaan jauh (remote sensing

geology)

adalah

ilmu

pengetahuan

yang

mempelajari

geologi

dengan

menggunakan citra (image) hasil dari penginderaan jarak jauh (Remote sensing).
Termasuk dalam pengertian ini adalah mempelajari geologi dengan menggunakan
foto udara. Keuntungan menggunakan citra penginderaan jauh dalam bidang
pekerjaan geologi antara lain menghemat biaya, penggunaan waktu secara lebih
efisien, foto udara memberikan pandangan tiga dimensi secara langsung dari
permukaan bumi sehingga memberikan kenampakan yang lebih baik mengenai
kondisi

geologi,

yaitu

mengenai

struktur

geologi,

penyebarab

batuan,

geomorfologi serta tata guna lahan dari suatu daerah penelitian.

I.2.

Maksud dan tujuan


Maksud

Praktikan mempelajari dan melakukan pengukuran Arah

Praktikan mempelajari dan melakukan pengukuran Paralaks

Praktikan mempelajari dan melakukan pengukuran Beda tinggi

Praktikan mempelajari dan melakukan pengukuran jarak Horizontal

Praktikan mempelajari dan membuat Profil Topografi

Praktikan mempelajari dan melakukan pengukuran Dip- slope

Praktikan mempelajari dan melakukan pengukuran Luas

Praktikan mempelajari dan melakukan pengukuran Bukit/gunung

Tujuan

Praktikan mampu mempelajari dan melakukan pengukuran Arah

Praktikan mampu mempelajari dan melakukan pengukuran


Paralaks

Praktikan mampu mempelajari dan melakukan pengukuran Beda


tinggi

Praktikan mampu mempelajari dan melakukan pengukuran jarak


Horizontal

Praktikan mampu mempelajari dan membuat Profil Topografi

Praktikan mampu mempelajari dan melakukan pengukuran Dipslope

Praktikan mampu mempelajari dan melakukan pengukuran Luas

Praktikan mampu mempelajari dan melakukan pengukuran


Bukit/gunung

I.3. Metode Penulisan


Dalam praktikum ada dua metode penulisan yaitu secara Lapangan dan secara
Pustaka.
Secara Lapangan : praktikan melakukan pengamatan langsung di lapangan dan
melakukan analisa bentang lahan dan morfologi di daerah pengamatan.
Secara Pustaka : Praktikan melakukan studi di lab dengan bimbingan para asisten
dengan membahas tentang sebelum dan hasul dari pengamatan langsung di
lapangan.

I.4. Alat dan Bahan


Dalam praktikum di gunkan alat dan bahan berupa :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kompas
HCL
Lup
Palu Geologi
Alat tulis lengkap
Penggaris
Pensil warna

I.5. Waktu, Lokasi, Daerah, dan kesimpulan Daerah


Praktikum di laksanakan di Laboratorium Dinamik Teknik Geologi IST Akprind
Yogyakarta.
Waktu

: 13.00 15.00

Lokasi

: Jalan Inyoman

Daerah

: Kota Baru

Praktikum di laksanakan dalam durasi kurang lebih selama 2 jam di kampus 2 IST
Akprind Yogyakarta.

BAB II
DASAR TEORI

II.1 . Pengertian Geomorfologi


Geomorfologi adalah Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentang
alam atau bentuk roman muka bumi yang terjadi

karena adanya kekuatan-

kekuatan yang bekerja dari luar dan dalam bumi. Uraian bentang alam dalam
suatu daerah biasanya berupa asal usul bentang alam, faktor yang mempengaruhi
perkembangannnya, pengaruh iklim terhadap perkembangan tersebut, proses
eksogen yan bekerja dan tingkat perkembangannya.
Dalam mempelajari geomorfologi baik diperlukan dasar pengetahuan yang
baik dalam bidang klimatologi, geografi, geologi serta sebagian ilmu fisika dan
kimia yang mana berkaitan erat dengan proses dan pembentukan muka bumi.
Secara garis besar proses pembentukan muka bumi menganut azas berkelanjutan
dalam bentuk daur geomorfik (geomorphic cycles), yang meliputi pembentukan
daratan oleh tenaga dari dalam bumi (endogen), proses penghancuran/pelapukan
karena pengaruh luar atau tenaga eksogen, proses pengendapan dari hasil
pengahncuran muka bumi (agradasi), dan kembali terangkat karena tenaga
endogen, demikian seterusnya merupakan siklus geomorfologi yang ada dalam
sekala waktu sangat lama.
Foto udara merupakan foto permukaan bumi (termasuk obyek yang berada
dipermukaannya), yang diperoleh dari pesawat udara, termasuk disini pesawat
terbang, balon dan satelit. Geologi citra penginderaan jauh (remote sensing
geology)

adalah

ilmu

pengetahuan

yang

mempelajari

geologi

dengan

menggunakan citra (image) hasil dari penginderaan jarak jauh (Remote sensing).

Termasuk dalam pengertian ini adalah mempelajari geologi dengan menggunakan


foto udara. Keuntungan menggunakan citra penginderaan jauh dalam bidang
pekerjaan geologi antara lain menghemat biaya, penggunaan waktu secara lebih
efisien, foto udara memberikan pandangan tiga dimensi secara langsung dari
permukaan bumi sehingga memberikan kenampakan yang lebih baik mengenai
kondisi

geologi,

yaitu

mengenai

struktur

geologi,

penyebarab

batuan,

geomorfologi serta tata guna lahan dari suatu daerah penelitian.

II.1.1 Agen agen Geomorfologi


Proses geomorfik adalah semua perubahan baik fisik, kimia maupun
biologis atau juga merupakan gabungan dari ketiganya, sehingga mempengaruhi
bentuk permukaan bumi.
Proses geomorfik bias terjadi:
a.

Secara alamiah

b.

Aktivitas manusia

Agen alamiah yang bekerja:


a.

Air, akan membentuk bentang alam fluvialti

b.

Angin, akan membentuk bentang alam eolian

c.

Es, akan membentuk bentang alam glasiasi

Menurut Thornbury (1964) garis besar pengelompokan proses


geomorfik dapat dibagi menjadi :

a.

Asal dalam (endogenik): semua proses di alam yang asalnya


dari dalam bumi sendiri.

Diastropisme (epirogenetik dan orogenetik)

Vilkanisme,naik atau munculnya magma di permukaan


bumi.

b.

Asal luar (eksogenik): semua proses yang berlangsung dari


luar permukaan bumi seperti panas matahari, gerakan air di
permukaan bumi, hujan, bergeraknya salju, bertiupnya angin
dan proses lain yang ada dipermukaan bumi.

Degradasi: proses yang mempunyai kecendrungan


untuk menurunkan permukaan bumi.

Gradasi: proses yang mempunyai kecendrungan untuk


menaikan permukaan bumi.

Pelapukan: proses yang menyebabkan pecahnya atau


berubahnya komposisi batuan oleh kegiatan agen-agen
luar seperti angin, hujan, perubahan suhu, tumbuhan
dan bakteri. Jenis pelapukan ada dua yaitu :
1.

Pelapuka

fisik

(disintegrasi):

menyebabkan

perubahan volume atau ukuran bentuk dan jumlah


massa tanpa perubahan komposisi.
2.

Pelapukan kimia (dekomposisi): menyebabkan


perubahan komposisi batuan :

Hidrasi: proses penambahan unsur air


dalam unsur penyusun batuan.

Oksidasi: reaksi antara oksigen di udara


bebas dengan unsur logam dalam batuan.

3.

Gerkan tanah: adalah gerakan massa batuan,


termasuk didalamnya tanah dan rempah- rempah
batuan yang menuruni lereng karena gaya
grafitasi atau gaya berat. Penyebab gerakan tanah:
lereng terjal, gempa bumi, adanya beban, adanya
retakan batuan, jenis batuan, curah hujan.
Macam-macam gerakan tanah: rayapan (creep),
solifluction, jatuhan (fall), luncuran (slide),
amblesan (subsidence).

4.

Erosi: adalah terlepasnya material hasil pelapukan


dari permukaan batuan dengan agen air, angin
atau es.

II 1.2 Faktor-faktor Pembentuk Bentangalam


a. Proses Endogenik

Inti bumi yang mempunyai temperature tidak kurang dari 8000 0C secara
hipotetik diyakini sebagai sumber dari proses dalam bumi ini. Bloom (1978)
menyebutkan proses ini sebagai proses memnbangun (constructional process).
Disebutkan seperti itu karena hasil dari pross tersebut adalah bentang alam baru
yang sebelumbya tidak ada.
1. Tektonik
Pada skala dunia/global, pancaran panas dari inti bumu menimulkan aliran
panas geothermal (geothermal heat flow), dan konveksi pada lapisan matel bumi
(convection in the mantle). Arah gerakan aliran panas geothermal vertical dari inti
bumi menuju kerak bmi menimbulkan amblesan tektonik (tectonic subsidience),
dan pengangkatan tektonik (tectonic uplift) dan seismic. Gerak konveksi, aliran
energy panasya berputar menimbulkan gerak-gerak lempeng. Lempeng tersebut
bergerak relative satu sama lain.
Batas lempeng sibedakan menjadi 3 berdasarkan pergerakannya, yaitu :
1) Batas konvergen
Batas konvergen adalah batas antara lempeng yang saling bertumbukan. Batas
lempeng konvergen dapat berupa subduksi atau obduksi. Batas subduksi
adalah batas lempeng dimana salah satu lempeng meyusut kedalam perut bumi
dan lempeng yang lainnya terangkat kepermukaan. Sedangkan batas obduksi
adalah batas lempeng yang merupakan tumbukan lempeng benua dengan
lempeng benua lainnya yang membentuk suatu rangkaian pegunugan.

2) Batas Divergen
Batas divergen adalah batas antar lempeng yang saling menjauh satu dan
lainnya. Pemisahan ini disebabkan oleh adanya gaya tarik (tensional force)
yang mengakibatkan naiknya magma ke permukaan dan membentuk material
baru berupa lavayang kemudian berdampak pada lempeng yang saling
mejauh.
3) Batas Transform
Batas transform adalah batas antar lempeng yang saling berpapasan dan saling
bergeser satu dengan yang lainnya menghasilkan suatu sesar mendatar jenis
strike slip fault
2. Vulkanisme
Vulkanisme dapat didefinisikan sebagai tempat atau lubang diatas muka bumi
yang menjadi tempat keluarnya bahan atau bebatuan yang pijar (magma) atau gas
yang berasal dari bagian dalam bumi ke permukaan, yang kemudian produknya
akan disusun dan membentuk sebuah kerucut atau gunung.
Adapun sejumlah bahan-bahan yang dikeluarkan melalui lubang yang
kemudian dikenal sebagai pipa kepundan, terdiri dari pecahan-pecahan batuan
yang tua yang telah ada sebelumnya yang membentuk tubuh gunugapi, maupun
bebatuan yang baru sama sekali yang bersumber dari magma dibagian yang dalam
dari litosfer yang sebelumnya disemburkan oleh gas yang terbebas.

Sebab terjadinya vulkanisme adalah diawali dengan proses pembentukan


magma dalam litosfir akibat peleuran dari batuan yang sudah ada, kemudian
magma naik ke permukaan melalui rekahan atau patahan.
Proses endogenik diatas dapat mengakibatkan terjadinya gaya endogen yang
mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan di permukaan bumi. Gaya
endogen tersebut dianyaranya :
a) Epirogenesa (berasal dari bahasa latin, epiros : benua, genesis : pembentukan),
proses epirogenesa yang terjadi di daerah yang sangat luas maka akan
terbentuk suatu benua, dan pembentukan benua dikenal sebagai continent
building process.
b) Orogenesa (berasal dari bahasa latin oros : gunug, genesis : pembentukan),
proses orogenesa yang terjadi pada daerah yang luas akan membentuk suatu
pegunungan yang dikenal sebagai mountain building process.
Kedua

gaya

endogen

diatas

menyebabkan

terbentuknya

bentangalam yang membangun (constructional landform).

b. Proses Eksogenik

bentuk-bentuk

Sumber utama proses eksogenik berasal dari radiasi matahari (solar radiation).
Radiasi matahari dipantulkan kembali oleh atmosfer ke ruang angkasa sebanyak
30%, diserap oleh atmosfer 20%, dan diserap oleh permukaan bumi 49%
(Slaymaker & Spencer, 1998). Pancaran radiasi matahari pada permukaan bumi
menghasilkan energy yang berputar dan atraksi vertical. Dari kedua hal tersebut
berkembang berbagai proses eksogenik. Proses ini tidak akan pernah membentuk
bentangalam baru tanpa merusak bentangalam yang sudah ada sebelumnya.
Berikut adalah macam-macam proses eksogenik
1. Pelapukan
Pelapukan (weathering) dari perkataan weather dalam bahasa Inggris yang
berarti cuaca, sehingga pelapukan batuan adalah proses yang berhubungan dengan
perubahan sifat (fisis dan kimia) batuan di permukaan bumi oleh pengaruh cuaca.
Secara umum, pelapukan diartikan sebagai proses hancurnya massa batuan oleh
tenaga Eksogen, menurut Olliver(1963) pelapukan adalah proses penyesaian
kimia, mineral dan sifat fisik batuan terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.
Akibat dari proses ini pada batuan terjadi perubahan warna, misalnya kuningcoklat pada bagian luar dari suatu bongkah batuan. Meskipun proses pelapukan ini
berlangsung lambat, karena telah berjalan dalam jangka waktu yang sangat lama
maka di beberapa tempat telah terjadi pelapukan sangat tebal. Ada juga daerahdaerah yang hasil pelapukannya sangat tipis, bahkan tidak tampak sama sekali, hal
ini terjadi sebagai akibat dari pemindahan hasil pelapukan pada tempat yang

bersangkutan ke tempat lain. Tanah yang kita kenal ini adalah merupakan hasil
pelapukan batuan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan adalah:
1.

Jenis batuan (kandungan mineral, retakan, bidang pelapisan, patahan dan


retakan). Batuan yang resisten lebih lambat terkena proses eksternal sehingga
tidak mudah lapuk, sedangkan batuan yang tidak resisten sebaliknya.

2.

Iklim, terutama tenperatur dan curah hujan sangat mempengaruhi


pelapukan.Contoh :

- Iklim kering, jenis pelapukannya fisis


- Iklim basah, jenis pelapukannya kimia
- Iklim dingin, jenis pelapukannya mekanik
c. Vegetasi, atau tumbuh-tumbuhan mempunyai peran yang cukup besar terhadap
proses pelapukan batuan. Hal ini dapat terjadi karena:
- Secara mekanis akar tumbuh-tumbuhan itu menembus batuan, bertambah
panjang dan membesar menyebabkan batuan pecah.
- Secara kimiawi tumbuh-tumbuhan melalui akarnya mengeluarkan zat-zat kimia
yang dapat mempercepat proses pelapukan batuan. Akar, batang, daun yang
membusuk dapat pula membantu proses pelapukan, karena pada bagian
tumbuhan yang membusuk akan mengeluarkan zat kimia yang mungkin

dapat membantu menguraikan susunan kimia pada batuan. Oleh karena itu,
jenis dan jumlah tumbuhan yang ada di suatu daerah sangat besar
pengaruhnya terhadap pelapukan. Sebenarnya antara tumbuh-tumbuhan dan
proses pelapukan terdapat hubungan yang timbal balik.
d.Topografi
Topografi yang kemiringannya besar dan menghadap arah datangnya sinar
matahari atau arah hujan akan mempercepat proses pelapukan

2. Erosi
Erosi adalah suatu proses geomorfologi, yaitu proses pelepasan dan
terangkutnya material bumi oleh tenaga geomorfologis baik kekuatan air, angin,
gletser atau gravitasi. Faktor yang mempengaruhi erosi tanah antara lain sifat
hujan, kemiringan lereng dari jaringan aliran air, tanaman penutup tanah, dan
kemampuan tanah untuk menahan dispersi dan untuk menghisap kemudian
merembeskan air kelapisan yang lebih dalam.
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi erosi tanah adalah:

Iklim: Faktor iklim yang berpengaruh adalah curah hujan, angin,


temperatur, kelembapan, penyinaran matahari. Banyaknya curah hujan,
intensitas dan distribusi hujan menentukan dispersi hujan terhadap tanah,
jumlah dan kecepatan aliran permukaan, serta besarnya kerusakan erosi. Angin

selain sebagai agen transport dalam erosi beberapa kawasan juga bersamasama dengan temperatur, kelembaban dan penyinaran matahari terhadap
evapotranspirasi, sehingga mengurangi kandungan air dalam tanah yang
berarti memperbesar investasi tanah yang secara tidak langsung berpengaruh
terhadap kepekaan erosi tanah.

Topografi: kemiringan lereng, panjang lereng, konfigurasi, keseragaman,


dan arah lereng mempengaruhi erosi. Kemiringan lereng dinyatakan dalam
derajad atau persen. Kecuraman lereng memperbesar jumlah aliran
permukaan, dan memperbesar kecepatan aliran permukaan, sehingga dengan
demikian memperbesar daya angkut air. Semakin besar erosi terjadi dengan
makin curamnya lereng.

Vegetasi, berperan untuk mengurangi kecepatan erosi.

Tanah. Kepekaan tanah terhadap erosi tergantung pada sifat-sifat tanah


yang mempengaruhi laju infiltrasi, permeabilitas, kapasitas menahan air dan
struktur tanah.

Manusia. Manusia dapat mencegah dan mempercepat terjadinya erosi


tergantung bagaimana manusia mengelolanya.

3. Mass-wasting

Mass-wasting pada dasarnya adalah perpindahan masa baruan, regolith, dan


tanah kearah kaki lereng sebagai akibat dari pengaruh gaya gravitasi. Longsoran
merupakan salah satu contoh yang spektakuler dari mass wasting.
Faktor-faktor pengontrol mass wasting antara lain:
1.

Kemiringan lereng,
Makin besar sudut kemiringan lereng dari suatu bentuk lahan semakin besar
peluang terjadinya Mass Wasting, karena gaya berat semakin berat pula.

2.

Relief lokal,
Terutama yang mempunyai kemiringan lereng cukup besar, misal kubah,
perbukitan mempunyai peluang yang besar untuk terjadinya Mass Wasting.

3.

Ketebalan hancuran batuan(debris) diatas batuan dasar,


Ketebalan hancuran batuan atau Debris diatas batuan dasar makin tebal
hancuran batuan yang berada diatas batuan dasar, makin besar pula peluang
untuk terjadinya Mass Wasting, karena permukaan yang labil makin besar
pula.

4.

Orientasi bidang lemah dalam batuan,


Pada umumnya Mass wasting akan mengikuti alur bidang lemah dalam
batuan, karena orientasi bidang lemah tersebut akan lapuk lebih dahulu
kemudian materi yang lapuk akan bergerak.

5.

Iklim,
Kondisi iklim disuatu daerah akan mempengaruhi cepat atau lambatnya Mass
wasting.

6.

Vegetasi,
Daerah yang tertutup oleh vegetasi atau tumbuh-tumbuhan peluang untuk
terjadinya Mass Wasting kecil, karena vegetasi dapat menahan laju gerakan
massa batuan di permukaan.

7.

Gempa bumi,
Daerah yang sering mngalami gempa bumi cenderung labil, sehingga peluang
terjadinya Mass wasting besar.

8.

Tambahan material pada bagian atas lereng


Di daerah gunung api aktif sering terjadi penambahan material di bagian atas
lereng akibat letusan sehingga akan memperbesar peluang terjadinya Mass
wasting.

II.2. Pola Aliran


II.2.1 Pengertian
Pola pengaliran adalah rangkaian bentuk aliran-aliran sungai pada daerah
lemah tempat erosi mengambil bagian secara aktif serta daerah rendah tempat air
permukaan

mengalir

dan

berkumpul

(A.D.

Howard,

1967).

Dalam interpretasi pola aliran dapat mudah dilakukan dengan pemanfaatan data
penginderaan jauh baik citra foto ataupun non foto sangat terlebih lagi apabila
data penginderaan jauh yang stereoskopis (foto udara) dengan menampakkan 3
dimensional, sehingga hasil yang didapatkan akan maksimal. Citra satelit yang
paling baik digunakan untuk mengetahui pola aliran adalah citra radar (ifsar) yang
menghasilkan kenampakan tiga dimensi yang paling baik. Pola aliran mempunyai
berbagai jenis pola, diantaranya ialah dendritic, paralel, radial, trelis, rectangular,
centripetal, angular dan multibasinal. .

Gambar 1. Pola Aliran Sungai


(http://geografi-geografi.blogspot.com/2012/03/pola-pengaliran-sungai.html )

Berdasarkan pemahaman di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pola pengaliran


merupakan fungsi dari:
1.

Topografi (kelerengan).

2.

Bentuklahan.

3.

Tingkat erosi (resistensi batuan).

4.

Litologi (ukuran butir-pelapukan).

5.

Struktur geologi (kekar, sesar, lipatan, dan perlapisan batuan).

6.

Iklim (curah hujan dan vegetasi) serta infiltrasi (peresapan).

Berbekal peta topografi, maka antara lain dapat dilakukan interpretasi:


1.

Pola pengaliran dasar dan berbagai ubahannya: mengungkap makna

2.

bentuklahan, lereng, litologi dan resistensinya, serta struktur geologi.


Penyimpangan aliran: mengungkap makna bentuklahan, lereng, litologi dan

3.
4.
5.

resistensinya, serta struktur geologi.


Tekstur pengaliran: mengungkap makna litologi dan resistensinya.
Bentuk lembah: mengungkap makna litologi dan resistensinya.
Tempat mengalirnya: mengungkap makna litologi dan resistensinya.

Dengan mengamati dan menganalisis pola pengaliran, maka dapat ditafsirkan


kondisi kelerengannya, bentuklahan, litologi dan resistensinya, serta struktur
geologi.

II. Macam - Macam Pola Aliran


1. Dendritik: seperti percabangan pohon, percabangan tidak teratur dengan
arah dan sudut yang beragam. Berkembang di batuan yang homogen dan
tidak terkontrol oleh struktur, umunya pada batuan sedimen dengan
perlapisan horisontal, atau pada batuan beku dan batuan kristalin yang
homogen.
2. Rectangular : Aliran rectangular merupakan pola aliran dari pertemuan
antara alirannya membentuk sudut siku-siku atau hampir siku-siku. Pola
aliran ini berkembang pada daerah rekahan dan patahan.
3. Paralel: anak sungai utama saling sejajar atau hampir sejajar, bermuara
pada sungai-sungai utama dengan sudut lancip atau langsung bermuara ke
laut. Berkembang di lereng yang terkontrol oleh struktur (lipatan
monoklinal, isoklinal, sesar yang saling sejajar dengan spasi yang pendek)
atau dekat pantai.
4. Trellis: percabangan anak sungai dan sungai utama hampir tegak lurus,
sungai-sungai utama sejajar atau hampir sejajar. Berkembang di batuan
sedimen terlipat atau terungkit dengan litologi yang berselang-seling
antara yang lunak dan resisten.
5. Deranged : pola aliran yang tidak teratur dengan sungai dengan sungai
pendek yang arahnya tidak menentu, payau dan pada daerah basah
mencirikan daerah glacial bagian bawah.

6. Radial Sentrifugal: sungai yang mengalir ke segala arah dari satu titik.
Berkembang pada vulkan atau dome.
7. Radial Centripetal: sungai yang mengalir memusat dari berbagai arah.
Berkembang di kaldera, karater, atau cekungan tertutup lainnya.
8. Annular: sungai utama melingkar dengan anak sungai yang membentuk
sudut hampir tegak lurus. Berkembang di dome dengan batuan yang
berseling antara lunak dan keras.
9. Pinnate : Pola Pinnate adalah aliran sungai yang mana muara anak sungai
membentuk sudut lancip dengan sungai induk. Sungai ini biasanya
terdapat pada bukit yang lerengnya terjal.
10. Memusat/Multibasinal: percabangan sungai tidak bermuara pada sungai
utama, melainkan hilang ke bawah permukaan. Berkembang pada
topografi

karst.

Tabel

1.

merupakan

pola

pengaliran

dengan

karaktersitiknya.
Morisawa (1985) menyebutkan pengaruh geologi terhadap bentuk sungai dan
jaringannya adalah dinamika struktur geologi, yaitu tektonik aktif dan pasif serta
lithologi

(batuan).

Kontrol

dinamika

struktur

diantaranya

pensesaran,

pengangkatan (perlipatan) dan kegiatan vulkanik yang dapat menyebabkan erosi


sungai. Kontrol struktur pasif mempengaruhi arah dari sistem sungai karena
kegiatan tektonik aktif. Sedangkan batuan dapat mempengaruhi morfologi sungai

dan jaringan topologi yang memudahkan terjadinya pelapukan dan ketahanan


batuan terhadap erosi.

Gambar. 2. Pola Pengaliran dan Karakteristiknya (van Zuidam, 1985)


( http://impact23.wordpress.com/2010/05/09/pola-aliran-sungai/ )

II.3. BENTANG ALAM STRUKTURAL


II.3.1. Pengertian
Bentang alam struktural adalah bentang alam yang pembentukannya
dikontrol oleh struktur geologi daerah yang bersangkutan. Struktur geologi yang
paling berpengaruh terhadap pembentukan morfologi adalah struktur geologi
sekunder, yaitu struktur yang terbentuk setelah batuan itu ada.
Struktur sekunder biasanya terbentuk oleh adanya proses endogen yang
bekerja adalah proses tektonik. Proses ini mengakibatkan adanya pengangkatan,
pengkekaran, patahan dan lipatan yang tercermin dalam bentuk topografi dan
relief yang khas. Bentuk relief ini akan berubah akibat proses eksternal yang
berlangsung kemudian. Macam-macam proses eksternal yang terjadi adalah
pelapukan (dekomposisi dan disintergrasi), erosi (air, angin atau glasial) serta
gerakan massa (longsoran, rayapan, aliran, rebahan atau jatuhan).

Gambar. 3 Bentang Alam Struktural


( http://alfaruka.wordpress.com/2012/03/26/bentang-alam-struktural / )

II.3.2 Faktor Faktor Pembentuk Bentang Alam Struktural


1. Tenaga endogen
Tenaga endogen merupakan tenaga yang berasal dari dalam bumi membentuk
relief yang sifatnya membangun. Yang termasuk ke dalam tenaga membangun
antara lain:
a. Gerak Tektonik (Tektogenesis)
Gerak tektonik atau disebut juga tektogenesis adalah gerak lapisan kulit
bumi, baik secara mendatar ataupun vertikal akibat adanya pengaruh dari gerakan
dan sirkulasi magma dalam dapur magma secara terus-menerus. Gerak tektonik
meliputi dua macam yaitu gerak epirogenesis dan gerak orogenesis.
1) Gerak Epirogenesis
Gerak Epirogenesis adalah gerak atau pergeseran lapisan kulit dengan arah
vertikal baik ke atas maupun ke bawah dengan gerakan yang relatif lambat,
berlangsung dalam waktu yang lama dan meliputi daerah yang luas. Berdasarkan
arah geraknya, gerak epirogenesis dibagi dalam 2 macam, yaitu:

Epirogenesis Positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga permukaan

laut kelihatan naik.


Epirogenetik Negatif, yaitu gerak naiknya daratan.

2) Gerak Orogenesis

Gerak Orogenesis adalah gerak atau pergeseran kulit bumi dengan arah
mendatar baik berupa tekanan maupun tarikan yang relatif lebih cepat dan
meliputi daerah yang sempit. Tekanan vertikal dan horizontal serta tarikan pada
kulit bumi menyebabkan terjadinya dislokasi atau berpindah-pindahnya lapisan
kulit bumi yang membentuk:

Pegunungan lipatan, seperti: pegunungan Bukit Barisan di Sumatra,

pegunungan Kendeng
Pegunungan patahan seperti Patahan Semangko di Bukit Barisan
Depresi kontinental (tanah turun/anjlokan), yaitu turunnya permukaan
bumi menjadi lebih rendah dari daerah sekitarnya.
Gerakan-gerakan kerak bumi tadi dalam prosesnya menghasilkan bentuk-

bentuk baru yang khas berstruktur diastropik yang disebut gejala diastropisme
yang meliputi pelipatan, retakan dan patahan.
1) Struktur Pelipatan (Folding)
Terjadi karena adanya tenaga endogen yang tekanannya lemah pada lapisan
batuan yang plastis dengan arah mendatar atau horizontal sehingga membentuk
muka bumi yang berstruktur lipatan. Bagian puncak lipatan disebut antiklinal dan
bagian lembah lipatan disebut sinklinal. Proses pelipatan tidak hanya sesaat tetapi
berlangsung terus-menerus dalam kurun waktu yang lama sehingga membentuk
beberapa macam lipatan.

Lipatan tegak/simetris
Lipatan miring
Lipatan menggantung
Lipatan isoklinal
Lipatan rebah

Sesar sungkup
Ada kalanya sebuah lipatan besar mengalami pelipatan lagi sehingga antiklinalnya bergelombang meliputi:
Sinklinorium ialah kumpulan sinklinal dalam sebuah lipatan
Antiklinorium ialah kumpulan antiklinal dalam sebuah lipatan
Skema

bentuk-bentuk

lipatan

(http://www.plengdut.com/2013/03/tenaga-

endogen.html)

3) Struktur kekar (Joint)


Terjadi akibat adanya tenaga endogen yang kuat menekan lapisan kulit bumi
yang memiliki ikatan lemah de.4ngan arah berlawanan sehingga membentuk
muka bumi yang berstruktur retakan.

Gambar. 4 Struktur Kekar


( http://hijau190611.blogspot.com/2012/08/stuktur-geologi.html )

4) Struktur Patahan (Fault)

Terjadi karena lapisan batuan mendapat tarikan yang kuat dari tenaga
endogen dengan arah simetris tegak, mendatar, miring dan memutar sehingga
jenis batuan yang sama mengalami putus hubungan, atau kedudukannya tidak
sejajar lagi dan salah satu jenis batuan hasil patahan berpindah tempat atau
bergeser.
Bidang tempat retak atau patahnya lapisan kulit bumi disebut bidang
patahan, sedangkan bidang patahan yang telah mengalami pergeseran disebut
sesar (fault).

Sesar turun atau sesar normal


Sesar naik
Sesar sungkup
Sesar mendatar
Sesar menjauh

Gambar 5. Struktur Patahan


( http://poetrafic.wordpress.com/2010/08/15/fault-patahan/ )

II.3.3. Macam- Macam Bentuk Lahan Asal Struktural ( Van Zuidam )


1. Morfologi Escarpments (Morfologi Gawir Sesar)
Morfologi Escarpment (Gawir Sesar) adalah bentang alam yang berbentuk
bukit dimana salah satu lerengnya merupakan bidang sesar. Morfologi gawir sesar

biasanya dicirikan oleh bukit yang memanjang dengan perbedaan tinggi yang
cukup ekstrim antara bagian yang datar dan bagian bukit. Pada umumnya bagian
lereng yang merupakan bidang sesar diendapkan material hasil erosi (talus)
membentuk morfologi kaki lereng dengan berelief landai. Pada sesar mendatar,
pergeseran memungkinkan salah satu bagian bergerak kearah atas terhadap bagian
lainnya yang kemudian membentuk gawir. Pada gambar 10. diperlihatkan
salah satu bentuk gawir sesar yang ada di wilayah Owen Valley dan sesar ini
terbentuk bersamaan dengan terjadinya gempa bumi pada tahun 1872. Tampak
pada gambar, bagian depan berupa dataran dan latar belakang berupa gawir
dengan endapan talus yang diendapkan didepan bidang sesar.

Gambar 6. Gawir Sesar


( http://ubkgeo77.blogspot.com/2012_07_01_archive.html )

2. Morfologi Pressure Ridge (Morfologi Bukit Tertekan)


Morfologi Pressure Ridge (Bentangalam Bukit Tertekan) adalah
bentangalam yang berbentuk bukit dan terjadi karena gaya yang bekerja pada
suatu sesar mendatar dan akibat tekanan tersebut mengakibatkan batuan yang

berada disepanjang patahan terpatahkan menjadi beberapa bagian yang kemudian


menekan batuan tersebut kearah atas.

3. Morfologi Sag Basin (Morfologi Cekungan Kantong)


Bentangalam Sag Basin adalah bentangalam yang terbentuk dari hasil
pergeseran sesar mendatar (strike slip fault), dengan bentuk relief yang lebih
rendah dibandingkan dengan pasangannya. Morfologi Sag Basin merupakan
pasangan dari morfologi Pressure Ridge dan morfologi ini hanya terbentuk
pada sesar mendatar saja.

4. Morfologi Shutter Ridge (Morfologi Bukit Terpotong)


Bentangalam shutter ridge landforms (bukit terpotong) umumnya juga
dijumpai pada sesarmendatar. Shutter ridges terjadi apabila salah satu sisi dari
bidang sesar merupakan bagianpermukaan tanah yang tinggi dan pada sisi lainnya
merupakan bagian permukaan yang lebihrendah dan akibat adanya pergeseran ini
dapat mengakibatkan tesrumbatnya aliran sungai.

Gambar.7. Morfologi Bukit terpotong


( http://dc312.4shared.com/doc/yS_zkK4X/preview.html )

Morfologi

bukit

terpotong

(http://id.scribd.com/doc/130486318/4-

Morfologi-Shutter-Ridge-Morfologi-Bukit-Terpotong)

5. Morfologi Stream Offset (Morfologi Sungai Sigsag)


Morfologi Stream Offset adalah bentangalam sungai yang arah alirannya
berbelok secaratiba-tiba mengikuti arah arah bidang patahan dan perubahan arah
aliran ini disebabkan olehpergeseran bukit disepanjang patahan mendatar. Bentuk
sungai yang membelok secarasigsag terjadi karena adanya pergeseran bukit
(shutter ridges) dari pergeseran lateral suatusesar mendatar seperti sesar yang
terdapat pada sesar San Andreas di Amerika Serikat.

6. Morfologi Folding Mountain ( Morfologi Perbukitan Lipatan)


Morfologi Perbukitan Lipatan adalah bentuk bentangalam yang tersusun
oleh batuan sedimenyang terlipat membentuk struktur antiklin dan sinklin.
Morfologi perbukitan lipatan dicirikanoleh susunan perbukitan dan lembahlembah yang berpola sejajar. Genesa pembentukanmorfologi perbukitan lipatan
adalah gaya tektonik yang terjadi pada suatu cekungan sedimen.

Gambar.8 Perbukitan terpotong


( http://geosains-smansaklaten.blogspot.com/2010_09_01_archive.html )

7. Morfologi Anticlinal ridges ( Morfologi Bukit Antiklin)


Morfologi Bukit Antiklin adalah bentangalam yang berbentuk bukit
dimana litologipenyusunnya telah mengalami perlipatan membentuk struktur
antiklin. Morfologi bukit antiklinumumnya dijumpai di daerah daerah cekungan
sedimen yang telah mengalamipengangkatan dan perlipatan. Morfologi bukit
antiklin merupakan bagian dari perbukitanlipatan yang bentuknya berupa bukit
dengan struktur antiklin. Jentera geomorfik BukitAntiklin diklasifikasikan
kedalam jentera geomorfik muda, artinya bahwa proses proseseksogenik
(pelapukan, erosi/denudasi) yang terjadi pada satuan morfologi ini belum
sampaimerubah bentuk awalnya yang berupa bukit.

Gambar.9. Bukit antiklin


( https://kelompoklimahmg09.wordpress.com/tag/tektonika/ )

8. Morfologi Anticlinal valleys (Morfologi Lembah Antiklin)


Bentangalam Lembah Antiklin adalah bentangalam yang berbentuk
lembah yang diapit oleh sepasang bukit tersusun dari batuan sedimen yang
berstruktur antiklin. Jenterageomorfik Lembah Antiklin dapat diklasifikasikan
kedalam jentera geomorfik dewasa,artinya bahwa proses proses eksogenik

(pelapukan, erosi dan denudasi) yang terjadi padasatuan ini telah merubah bentuk
aslinya yang semula berbentuk bukit berubahmenjadi lembah.

Gambar.10 Lembah antiklin


( http://smile-nd.blogspot.com/2012/05/bentuk-lahan-asal-struktural.html )

9. Morfologi Synclinal ridges (Morfologi Bukit Sinklin)


Morfologi Bukit Sinklin adalah bentangalam yang berbentuk bukit,
tersusun dari batuansedimen yang membentuk struktur sinklin. Jentera geomorfik
Bukit Sinklin diklasifikasikankedalam jentera geomorfik dewasa, artinya bahwa
proses proses eksogenik (pelapukan, erosidan denudasi) yang terjadi pada satuan
ini telah merubah bentuk aslinya yang semulaberbentuk lembah berubah
menjadi bukit. Morfologi Bukit Sinklin dalam geomorfologidikenal sebagai
reverse topographic (topografi terbalik).

10. Morfologi Synclinal valleys (Morfologi Lembah Sinklin )


Morfologi Lembah Sinklin adalah bentangalam yang berbentuk lembah
yang tersusun dari batuan sedimen dengan struktur sinklin. Jentera geomorfik
satuan geomorfologi LembahSinklin dapat digolongkan kedalam jentera
geomorfik muda, artinya bahwa proses proseseksogenik (pelapukan, erosi dan

denudasi) belum sampai merubah bentuk aslinya yangberupa lembah menjadi


berbentuk bukit.

11. Morfologi Plateau


Morfologi Plateau adalah bentangalam yang berbentuk dataran dengan
batuan penyusunnya relatif horisontal dan bentuknya menyerupai meja. Morfologi
plateau umumnya dijumpai didaerah yang kondisi geologinya relatif stabil atau
relatif kecil terhadap pengaruh tektonik,sehingga perlapisan batuannya relatif
horisontal. Adanya proses pengangkatan dengan tidakmengakibatkan perlipatan
batuan serta diikuti proses erosi / denudari yang intensif sehinggaterbentuk suatu
dataran

yang

tinggi

dibandingkan

dengan

bagian

lainnya

dengan

susunanbatuannya relatif horisonatal. Berdasarkan genetikanya, Plateau, Mesa dan


Bute adalahbentuk bentangalam yang proses pembentukannya sama dan
dibedakan berdasarkanukurannya (dimensinya), dimana plateau berukuran luas,
mesa dengan ukuran yang relatiflebih kecil sedangkan bute merupakan bagian
yang terkecil dan dikenal juga sebagai sisa-sisadari bentangalam mesa.

12. Morfologi Hogback (Morfologi Hogbag)


Morfologi Hogback adalah bentangalam yang berbentuk bukit yang
memanjang searah dengan jurus perlapisan batuan dan mempunyai kemiringan
lapisan yang lebih besar 45.Morfologi Hogbag terjadi kerena sesar atau patahan
yang memotong searah bidang perlapisan

13. Morfologi Mesa


Morfologi Mesa adalah bentangalam yang berbentuk dataran dan proses
kejadiannya dikontrol oleh struktur perlapisan mendatar dengan elevasi yang lebih
tinggi dari sekitarnya.Morfologi mesa juga dijumpai di daerah yang kondisi
geologinya relatif stabil atau pengaruhtektoniknya relatif kecil, sehingga pada saat
terjadi

pengangkatan

perlapisan

batuannya

tetap

horisontal.

Bentuk

bentangalamnya sama dengan bentangalam plateau dan dibedakanberdasarkan


ukurannya yang relatif lebih kecil.

14. Morfologi Monoclinal ridges (Morfologi Bukit Monoklin)


Morofologi Bukit Monoklin adalah bentangalam yang berbentuk bukit,
tersusun dari batuansedimen dengan arah kemiringan yang seragam. Morfologi
bukit monoklin dapat berupabagian sayap dari suatu lipatan antiklin atau sinklin.

15. Morfologi Block Faulting ridges (Morfologi Perbukitan Patahan)


Morfologi Bukit Patahan adalah bentuk bentangalam yang terdiri dari bukitbukit yang dibatasi oleh bidang-bidang patahan (gawir sesar). Genesa
pembentukan bukit patahan dikontrol oleh struktur patahan.

Gambar.11 Morfologi Block Faulting


(djauhari Noor, 2010)

16. Morfologi Graben (Amblesan) dan Horst (Tonjolan)


Morfologi Graben (Amblesan) adalah bentangalam yang berbentuk
depresi dipisahkan dengan morfologi lainnya oleh bidang patahan. Morfologi
Hosrt (Tonjolan) adalah bentangalam yang berbentuk bukit, merupakan bagian
yang menonjol dibandingkan dengan sekitarnya dan dibatasi oleh bidang sesar.

17. Morfologi Intrusi (Morfologi Intrusive)


Morfologi Intrusi (Intrusive landforms) adalah bentangalam berbentuk
bukit terisolir yang tersusun oleh batuan beku dan genesanya dikontrol oleh
aktivitas magma. Bukit intrusi pada awalnya dapat berada dibawah permukaan
bumi, namun seiring dengan berjalannya waktu oleh proses endogenik (pelapukan
dan erosi) maka bagian tanah yang menutupi tubuh batuan intrusi akan tererosi
sedangkan tubuh batuan yang lebih resisten hanya mengalami erosi yang tidak
signifikan. Proses endogeniknya pada akhirnya akan menyisakan tubuh batuan
beku yang membentuk morfologi yang lebih menonjol dibandingkan dengan
daerah sekitarnya.

Gambar.12. morfologi Instrusive Landforms


(Djauhari Noor,2010)

penamaan bentang lahan struktural,(Van Zuidam)


SUB SATUAN

KETERANGAN

WARNA

S1

BLOK SESAR

UNGU

S2

GAWIR SESAR

UNGU

S3

GAWIR GARIS SESAR

UNGU

S4

PEGUNUNGAN

UNGU

ANTIKLINAL
Tabel 1. Penamaan bentang alam Struktural
Sumber: Buku Teknik Geologi UPN Yogyakarta

II.4. BENTANG ALAM FLUVIAL


I1.4.1. Pengertian
Bentang alam fluvial merupakan satuan geomorfologi yang erat
hubungannya dengan proses fluviatil. Proses fluviatil adalah semua proses yang
terjadi di alam, baik fisika maupun kimia yang mengakibatkan adanya perubahan
bentuk permukaan bumi, yang disebabkan oleh aksi air permukaan. Di sini yang

dominan adalah air yang mengalir secara terpadu atau terkonsentrasi (sungai) dan
air yang tidak terkonsentrasi (sheet water)
Tetapi alur-alur ada di lereng bukit atau gunung dan terisi air bila terjadi
hujan bukan termasuk bagian dari bentang alam fluviatil, karena alur-alur tersebut
berisi air sesaat setelah terjadinya hujan (ephemeral stream).
Sebagaimana dengan proses geomorfik yang lain, proses fluviatil akan
menghasilkan suatu bentang alam yang khas sebagai tingkah laku air yang
mengalir di permukaan. Bentang alam yang dibentuk dapat terjadi karena proses
erosi maupun karena proses sedimentasi yang dilakukan oleh air permukaan.
Sungai merupakan aliran air yang dibatasi suatu alur yang mengalir ke tempat
atau lembah yang lebih rendah karena pengaruh gravitasi. Sungai termasuk sungai
besar, sungai kecil maupun anak sungai.
II.4.2 Faktor Faktor Pembentuk Bentang AlamFluvial
1. Erosi
Menurut Sukmana, 1979, proses erosi adalah suatu proses atau peristiwa
hilangnya lapisan permukaan tanah yang disebabkan oleh pergerakan air atau
angin. Sedangkan Arsyad, 1982, mendefinisikan proses erosi sebagai peristiwa
pindahnya atau terangkutnya tanah atu bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke
tempat lain oleh media alami.
Menurut Holy,1980, berdasarkan agen penyebabnya, agen penyebab erosi
dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu erosi oleh air, erosi oleh angin, erosi
oleh gletser dan erosi oleh salju. Dalam bentang alam ini, agen penyebab erosi
yang paling dominan adalah air. Sungai dapat mengerosi batuan sediment yang

dilaluinya, memotong lembah, memperdalam dan memperlebar sungai dengan


cara-cara :
1. Quarrying, yaitu pendongkelan batu yang dilaluinya.
2. Abrasi, yaitu penggerusan terhadap batuan yang dilewatinya.
3. Scouring, yaitu penggerusan dasar sungai akibat adanya ulakan
sungai,misalnya pada daerah cut off slope.
4. Korosi, yaitu terjadinya reaksi terhadap batuan yang dilaluinya.
5. Hydraulic action, kemampuan air mengangkat dan memindahkan batuan
atau material-material sediment dengan gerakan memutar
6.

sehingga batuan pecah dan kehilangan fragmen.


Solution, solution dalam proses erosi berjalan lambat,
tetapiefektif dalam pelapukan dan erosi.
Erosi yang berlangsung terus hingga suatu saat akan mencapai batas dimana

air sungai sudah tidak lagi mampu mengerosi lagi (erotion base level).
Erotion base level ini dapat dibagi menjadi ultimate base level
yang base level-nya berupa laut dan temporary base level yang base level-nya
lokal seperti danau, rawa, dll.
Intensitas erosi pada suatu sungai berbanding lurus dengan
kecepatan aliran sungai tersebut. Erosi akan lebih efektif bila media yang
bersangkutan mengangkut bermacam-macam material. Erosi memiliki
tujuan akhir meratakan sehingga mendekati ultimate base level.
Sifat-sifat erosi
1) Intensitasnya sebanding dengan aliran sungai.
2) Makin banyak bercampur dengan material lain maka erosi makin efektif.
3) Selalu menuju ke ultimate base level.
2. Transportasi
Proses transportasi adalah proses perpindahan atau pengangkutan material
yang diakibatkan oleh tenaga kinetis yang ada pada sungai sebagai efek dari gaya
gravitasi. Sungai mengangkut material hasil erosinya dengan berbagai cara, yaitu:

a.Traksi, yaitu material yang diangkut akan terseret pada dasar sungai
b. Rolling, yaitu material akan terangkut dengan cara menggelinding di dasar
sungai.
c. Saltationi, yaitu material terangkut dengan cara menggelinding pada
dasar sungai.
d. Suspension, yaitu proses pengangkutan material secara mengambang dan
bercampur dengan air sehingga menyebabkan air sungai menjadi keruh
e. Solution, yaitu pengangkutan material larut dalam air dan memben-tuk
larutan kimia.
Dalam membahas transportasi sungai dikenal terminologi stream capacity
yaitu jumlah beban maksimum yang mampu diangkut oleh aliran sungai, dan
stream competence yaitu ukuran maksimum beban yang mampu diangkut oleh
aliran sungai.
3. Sedimentasi
Adalah proses pengendapan material karena aliran sungai tidak mampu lagi
mengangkut material yang di bawanya. Apabila tenaga angkut semakin berkurang,
maka material yang berukuran besar dan lebih berat akan terendapkan terlebih
dahulu, baru kemudian material yang lebih halus dan ringan.
Bagian sungai yang paling efektif untuk proses pengendapan ini adalah bagian
hilir atau pada bagian slip of slope pada kelokan sungai, karena biasanya pada
bagian kelokan ini terjadi pengurangan energi yang cukup besar.Ukuran material
yang diendapkan berbanding lurus dengan besarnya energi pengangkut, sehingga
semakin ke arah hilir, energi semakin kecil, material yang diendapkan pun
semakin halus.

II.4.3 Macam- Macam Bentuk Lahan Asal Fluvial


1.

Dataran aluvial
Dataran alluvial merupakan dataran yang terbentuk akibat proses-proses

geomorfologi yang lebih didominasi oleh tenaga eksogen antara lain iklim, curah
hujan, angin, jenis batuan, topografi, suhu, yang semuanya akan mempercepat
proses pelapukan dan erosi. Hasil erosi diendapkan oleh air ke tempat yang lebih
rendah atau mengikuti aliran sungai.
Dataran alluvial menempati daerah pantai, daerah antar gunung, dan dataran
lembah sungai. daerah alluvial ini tertutup oleh bahan hasil rombakan dari daerah
sekitarnya, daerah hulu ataupun dari daerah yang lebih tinggi letaknya. Potensi air
tanah daerah ini ditentukan oleh jenis dan tekstur batuan.
2. Dataran banjir (Flood Plain)
Dataran banjir berupa dataran yang luas yang berada pada kiri kanan sungai
yang terbentuk oleh sedimen akibat limpasan banjir sungai tersebut. Umumnya
berupa pasir, lanau, dan lumpur.

Gambar.13. Ilustrasi Flood Plan


(www. filipinofreethinkers.org )

3. Tanggul alam sungai (natural levee)

Tanggul yang terbentuk akibat banjir sungai di wilayah dataran rendah yang
berperan menahan air hasil limpasan banjir sehingga terbentuk genangan yang
dapat kembali lagi ke sungai. Seiring dengan proses yang berlangsung kontinyu
akan terbentuk akumulasi sedimen yang tebal sehingga akhirnya membentuk
tanggul alam.
4. Rawa belakang (backswamps)
Backswamp atau Rawa belakang adalah bagian dari dataran banjir dimana
simpanan tanah liat menetap setelah banjir. Backswamps biasanya terletak di
belakang sungai alam sebuah tanggul. Kemudian kembali rawa-rawa yang terletak
agak jauh dari saluran sungai di dataran banjir tersebut. Ketika air tumpah ke
dataran banjir, material terberat tetes keluar pertama dan materi terbaik dilakukan
jarak yang lebih besar.
5.

Kipas aluvial (Alluvial fan)


Bila suatu sungai dengan muatan sedimen yang besar mengalir dari bukit

atau pegunungan, dan masuk ke dataran rendah, maka akan terjadi perubahan
gradien kecepatan yang drastis, sehingga terjadi pengendapan material yang cepat,
yang dikenal sebagai kipas aluvial, berupa suatu onggokan material lepas,
berbentuk seperti kipas, biasanya terdapat pada suatu dataran di depan suatu
gawir. Biasanya pada daerah kipas aluvial terdapat air tanah yang melimpah. Hal
ini dikarenakan umumnya kipas aluvial terdiri dari perselingan pasir dan lempung
sehingga merupakan lapisan pembawa air yang baik.

Gambar.14. Alluvial van


(www.pvc.maricopa.edu)

5. Teras sungai (River terrace)


teras sungai dapat dimanfaatkan untuk mengetahuiproses-proses yang telah
terjadi di masa lalu. teras sungaimerupakan satu morfologi yang sering dijumpai
pada sungai. Proses deposisi,proses migrasi saluran, proses erosi sungai meander
dan aliran overbank sangatberperan dalam pembentukan dan perkembangan
dataran banjir. Faktor yangmempengaruhi proses pembentukan dan perkembangan
teras sungai adalahperubahan base level of erosion dan perubahan iklim
6. Gosong sungai (point bar)
Point Bar adalah endapan sungai yang terdapat pada tepi alur sungai.

Gambar.15 Point bar


(www.nhdfl.org)

7.

Sungai teranyam (braided stream)


Terbentuk pada bagian hilir sungai yang memiliki slope hampir datar

datar, alurnya luas dan dangkal. terbentuk karena adanya erosi yang berlebihan
pada bagian hulu sungai sehingga terjadi pengendapan pada bagian alurnya dan
membentuk endapan gosong tengah. Karena adanya endapan gosong tengah yang
banyak, maka alirannya memberikan kesan teranyam. Keadaan ini disebut juga
anastomosis( Fairbridge, 1968).
8.

Sungai meander dan enteranched meander


Bentukan pada dataran banjir sungai yang berbentuk kelokan karena

pengikisan tebing sungai, daerah alirannya disebut sebagai Meander Belt.


Meander ini terbentuk apabila pada suatu sungai yang berstadia dewasa/tua
mempunyai dataran banjir yang cukup luas, aliran sungai melintasinya dengan
tidak teratur sebab adanya pembelokan aliran Pembelokan ini terjadi karena ada
batuan yang menghalangi sehingga alirannya membelok dan terus melakukan
penggerusan ke batuan yang lebih lemah.

Gambar.16 Kenampakan meander dari foto udara


(http://geoenviron.blogspot.com/2011/12/danau-tapal-kuda-oxbow-lake.html)

9. Danau Tapal Kuda (Oxbow Lake)


Oxbow lake atau danau tapal kuda merupakan danau yang terbentuk bila
sungai yang berkelok-kelok atau sungai meander melintasi daratan mengambil
jalan pintas dan meninggalkan potongan-potongan yang akhirnya membentuk
danau tapal kuda. Oxbow lake terbentuk dari waktu ke waktu sebagai akibat dari
erosi dan sedimentasi dari tanah disekitar sungai meander.
10.

Delta dan macamnya


Delta adalah bentang alam hasil sedimentasi sungai pada bagian hilir setelah

masuk pada daerah base level. Pada saat aliran air mendekati muara, seperti danau
atau laut maka kecepatan aliranya menjadi lambat. Akibatnya, terjadi
pengendapan sedimen oleh air sungai. Pasir akan diendapkan sedangkan tanah liat
dan lumpur akan tetap terangkut oleh aliran air. Setelah sekian lama , akan
terbentuk lapisan - lapisan sedimen. Akhirnya lapian-lapisan sedimen membentuk
dataran yang luas pada bagian sungai yang mendekati muaranya dan membentuk
delta. Pembetukan delta memenuhi beberapa syarat. Pertama, sedimen yang
dibawa oleh sungai harus banyak ketika akan masuk laut atau danau. Kedua, arus
panjang di sepanjang pantai tidak terlalu kuat. Ketiga , pantai harus dangkal.
Tabel 2 . Pewarnaan & Penamaan Satuan Bentuklahan asal Fluvial

F1

Dataran aluvial

F2

Dasar sungai

F3

Danau

F4

Rawa

F5

Rawa belakang

F6

Saluran/sungai mati

F7

Dataran banjir

F8

Tanggul alam

F9

Ledok Fluvial

(Verstappen,1983)

F10

Bekas dasar danau

F11

Hamparan celah/tonjolan fluvial/crevasse splays

F12

Gosong lengkung dalam

F13

Gosong sungai

F14

Teras fluvial

F15

Kipas aluvial aktif

F16

Kipas aluvial tidak aktif

F17

Delta

F18

igir delta

F19

Ledok delta

F20

Pantai delta

F21

Rataan delta

II.5. Bentang Alam Vulkanik


11.5.1. Pengertian
Bentang alam vulkanik adalah bentang alam yang proses pembentukannya
dikontrol oleh proses vulkanisme, yaitu proses keluarnya magma dari dalam bumi.
Bentang alam vulkanik selalu dihubungkan dengan gerak-gerak tektonik.
Gunung-gunung api biasanya dijumpai di depan zona penunjaman (subduction
zone).
Proses Vulkanisme dalam kaitannya dengan bentang alam, gunungapi
mempunyai beberapa pengertian antara lain :
a. Merupakan bentuk timbulan di permukaan bumi yang dibangun oleh
timbunan material/rempah gunungapi.

b. Merupakan tempat munculnya material vulkanik lepas sebagai hasil


aktivitas magma di dalam bumi (vulkanisme).
Berdasarkan proses terjadinya ada tiga macam vulkanisme,yaitu :
1. Vulkanisme Letusan, dikontrol oleh magma yang bersifat asam yang kaya
akan gas, bersifat kental dan ledakan kuat. Vulkanisme ini biasanya
menghasilkan material piroklastik dan membentuk gunungapi yang tinggi dan
terjal.
2. Vulkanisme Lelehan, dikontrol oleh magma yang bersifat basa, sedikit
mengandung gas, magma encer dan ledakan lemah. Vulkanisme ini biasanya
menghasilkan gunungapi yang rendah dan berbentuk perisai, misalnya Dieng,
Hawai.
3. Vulkanisme Campuran, dipengaruhi oleh magma intermediet yang agak
kental. Vulkanisme ini menghasilkan gunungapi strato, misalnya Gunung
Merapi dan Merbabu.
II.5.2. Faktor Faktor Pembentuk Bentang AlamVulkanik
Faktor utama adalah Vulkanisme
Vulkanisme adalah Aktifitas alamiah berupa keluarnya magma dari dalam
bumi, atau semua gejaladi dalam bumi sebagai akibat adanya aktivitasmagma.
Tenaga tektonik dapat mengakibatkan gejala vulaknisme. Gejala vulkanisme
berhubungan dengan aktivtas keluarnya magma di gunungapi. Proses keluarnya
magma ke permukaan bumi disebut erupsi gunungapi. Proses vulkanisme terjadi
karena adanya magma yang keluar dari zona tumbukan antarlampang. Beberapa
gunugapi ditemukan berada di tengah lempeng yang disebsbkan oleh
tersumbatnya panas di kerak bumi gejala ini disebut titik panas (hotspot).Para

ilmuan menduga aliaran magma mendesak keluar membakar kerak bumi dan
melutus di permukaan.
Berdasarkan bentuk letusanya, gunung api dapat dibedakan menjadi tiga
bentuk yang berbeda yaitu :
1. Gunungapi Prisai
Gunungapi perisai berbentuk seperti perisai (shields) terbentuk oleh letusan
yang sangat cair (efusief), yaitu berupa lelehan lava yang sangat luas dan landai.
Ciri gunungapi perisai adalah lerengnya sangat landai bahkan hampir datar,
Contohnya, Gunung Mauna Loa dan Gunung Mauna Kea di Hawai.

Gambar 17. Gunungapi Perisai


( http://rezaadipratama.blogspot.com/2012/04/gunung.html )

2. Gunung api Maar


Gunungapi maar terbentuk dari letusan berupa ledakan (eksplosif) yang
dahsyat yang terjadi sekali, dengan mengeluarkan bahan-bahan berupa eflata.
Gunung maar biasanya punya dapur magma yang dangkal dan magma yang terdiri
dari bahan-bahan padat dan gas yang padat. Contoh gunung maar adalah : Gunung
Lamongan (Jawa Timur), Gunung Pinakate (Meksiko), Gunung Monte Muovo
(Italia),

Gambar. 18 Gunung api Maar


( http://pratiwisipraa.blogspot.com/2013/05/gunung-api-maar.html )

3. Gunung api Starto


Gunung api starto terbentuk akibat letusan yang berulang-ulang dan
berseling-seling antara bahan padat dan lelahan lava. Sebagian besar gunung di
Indonesia adalah gunung starto seperti :Gunung Semeru, Gunung Merapi, Gunung
Agung, Gunung Kerinci,

Gambar. 19 . Gunungapi Strato


( http://jendelaips.wordpress.com/category/materi-ips/ )

11.5.3. Macam- Macam Bentuk Lahan Asal Vulkanik ( Van Zuidam )


1. Volcanic Landforms (Morfologi Gunungapi)

Morfologi Gunungapi adalah bentangalam gunungapi dimana proses


pembentukannya dikontrol oleh aktivitas volkanisme. Adapan morfologi
gunungapi diklasifikasikan berdasarkanpada tipe magma dan jenis material yang
dikeluarkannya. Morfologi Gunungapi Stratoadalah bentangalam gunungapi yang
berbentuk kerucut dan disusun oleh perulangan meterial batuan antara lava dan
piroklastik. Jenis magma yang membentuk gunungapi stratoumumnya magma
yang berkompisi intermedier. Morfologi Gunungapi Perisai adalahbentangalam
gunungapi yang bentuknya menyerupai perisai dan biasanya disusun oleh
lavayang berkomposisi basaltis. Karena sifat magmanya yang encer maka ketika
magma keluar melalui pusat erupsinya akan tersebar kesegala arah membentuk
bentuk menyerupai perisai.
2. Volcanic Footslope Landforms (Morfologi Kaki Gunungapi)
Morfologi Kaki Gunungapi adalah bentangalam gunungapi yang merupakan
bagian kaki darisuatu tubuh gunungapi. Pada umumnya suatu tubuh gunungapi
dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kepundan gunungapi, badan/kerucut gunungapi,
dan kaki gunungapi.
3. Crater Landforms (Kawah Gunungapi)
Morfologi Kawah adalah bentangalam gunungapi yang merupakan lubang
tempat keluarnya material gunungapi ketika terjadi erupsi.

Gambar 20. Kawah gunungapi


( http://adamputrapratama-geoi.blogspot.com/2013/04/jika-tangkubanparahumeletus.html )

4. Caldera Landforms (Morfologi Kaldera Gunungapi)


Morfologi Kaldera adalah bentangalam yang terbentuk sebagai hasil erupsi
gunungapi tipe explosive yang mengakibatkan bagian kepundannya runtuh
sehingga membentuk bentuk kawah yang sangat luas. Kadangkala bagian dalam
kaldera terisi air membentuk danau. Contoh yang paling klasik dari kaldera di
Indonesia adalah Danau Toba di Sumatra Utara.

5. Volcanic-neck Landforms (Morfologi Jenjang Gunungapi)


Morfologi Jenjang Gunungapi adalah bentangalam yang berbentuk seperti
leher atau tiang merupakan sisa dari proses denudasi gunungapi.

6. Parasitic Cone Landforms (Morfologi Gunungapi Parasit)


Morfologi Gunungapi Parasit (Parasitic Cones) adalah bentangalam yang
berbentuk kerucut yang keberadaannya menumpang pada badan dari induk
gunungapi, sering juga disebut sebagai anak gunungapi.

Gambar 21. Gunungapi Parasit


( http://geograph88.blogspot.com/2013/06/bentang-alam-gunung-apivolcanic.html )

7. Lava Plug Landforms (Morfologi Sumbat Lava)


Sumbat lava (lava plug) adalah bentangalam yang berbentuk pipa atau bantal
berupa lava yang membeku pada lubang kepundan.

8. Morfologi Maar
Morfologi Maar adalah bentangalam berelief rendah dan luas dari suatu
kawah gunungapi hasil erupsi preatomagmatik, letusannya disebabkan oleh air
bawah tanah yang kontak dengan magma. Ciri dari morfologi Maar umumnya
diisi oleh air membentuk suatu danau kawah yang dangkal.

9. Volcanic Remnant Landforms (Morfologi Sisa Gunungapi)


Sisa Gunungapi (volcanic remnant) adalah sisa-sisa dari suatu gunungapi
yang telahmengalami proses denudasi.

.
Gambar. 22 Sisa gunungapi
( http://chezpiere53.wordpress.com/ )

Tabel 3. Penamaan bentang alam volkanik (Van Zuidam)

SUB SATUAN

KETERANGAN

WARNA

V1

KEPUNDAN

MERAH

V2

KERUCUT GUNUNG API

MERAH

V3

LERENG GUNUNG API ATAS

MERAH

V4

LERENG GUNUNG API TENGAH

MERAH

V5

LERENG GUNUNG API BAWAH

MERAH

V6

KAKI GUNUNG API

MERAH

II.6. Bentang Alam Karst


II.6.1. Pengertian
Karst adalah bentangalam yang sangat spesifik secara morfologi, geologi,
maupun hidrogeologi. Dapat menghasilkan bentuklahan yang berkembang di
permukaan (eksokars) dan di bawah permukaan (endokars):
1.

Eksokars adalah semua fenomena yang dijumpai di atas permukaan


tanah kawasan kars, yaitu bentuk negatif atau cekungan seperti doline,
uvala, polje, dan bentuk positif atau bukit seperti conical hill (Gambar
1).

2.

Endokars adalah semua fenomena yang dijumpai di bawah permukaan tanah


kawasan kars, yang paling sering dijumpai adalah gua, sungai bawah tanah,
saluran, dan terowongan.

Gambar 23. Kenampakan topografi karst pada peta topografi yang memperlihatkan
bentukan positif (garis kontur konsentris yang mencirikan bukit) dan negatif (garis kontur
bergerigi yang menunjukkan lembah).
( Dikutip dari : Teknik Geologi UPN Yogyakarta )

Karst adalah istilah dalam bahasa Jerman yang diambil dari istilah
Slovenian kuno yang berarti topografi hasil pelarutan (solution topography)
(Blomm,1979). Menurut Jenning (1971, dalam Blomm 1971), topografi karst
didefinisikan sebagai lahan dengan relief dan pola penyaluran yang aneh,
berkembang pada batuan yang mudah larut (memiliki derajat kelarutan yang
tinggi) pada air alam dan dijumpai pada semua tempat pada lahan tersebut. Flint
dan Skinner (1977) mendefinisikan topography karst sebagai daerah yang
berbatuan yang mudah larut dengan surupan (sink) dan gua yang berkombinasi
membentukk topografi yang aneh (peculiar topography) dan dicirikan oleh
adanya lembah kecil, penyaluran tidak teratur, aliran sungai secara tiba-tiba masuk
kedalam tanah meninggalkan lembah kering dan muncul sebagai mata air yang
besar.

Berdasarkan beberapa definisi diatas maka dapat ditetapkan suatu


pengertian tentang topografi karst yaitu : Suatu topografi yang terbentuk pada
daerah dengan litologi berupa batuan yang mudah larut, menunjukkan relief yang
khas, penyaluran yang tidak teratur, aliran sungainya secara tiba-tiba masuk
kedalam tanah dan meninggalkan lembah kering untuk kemudian keluar ditempat
lain sebagai mata air yang besar.

Gambar.24 Bentang Alam Karst


( http://desawisatasamangki.blogspot.com/2013/04/potensi-geowisata-rammangrammang-maros.html )

Berikut ini adalah syarat-syarat terbentuknya karst:


1.

Tebal lapisan batugamping >200 m, agar memungkinkan terbentuknya


bentuklahan kars yang sempurna.

2.

Harus terdapat batuan mudah larut (batugamping) di permukaan atau sedikit


di bawah permukaan.

3.

Batuan ini harus kompak, banyak memiliki rekahan-rekahan dan berlapis dan
sebaiknya berlapis tipis.

4.

Terdapatnya lembah-lembah utama pada ketinggian lebih rendah dari batuan


yang mudah larut ini.

5.

Memiliki iklim basah dan hangat, agar memungkinkan terjadinya proses


pelarutan dan pembentukan kars.

6.

Harus terdapat sekurangnya curah hujan yang sedang.

7.

Adanya proses tektonik (pengangkatan) yang perlahan dan merata di


kawasan batugamping.

Ukuran bentukan bentuklahan kars dipengaruhi oleh:


1.

Karakteristik mekanik (strenght), fisik (porositas dan permeabilitas),


kemurnian mineral atau kimianya.

2.

Perekahan (fracturation) adalah proses mekanis yang menimbulkan rekahan


dan celahan pada batugamping. Faktor lain adalah sesar, lipatan, bukaan pada
bidang batas perlapisan, peringanan beban akibat erosi dan pelapukan.

3.

Melalui rekahan / celahan inilah air hujan dan air permukaan akan masuk,
kemudian mengakibatkan terjadinya proses pelarutan pada batugamping.

II.6.2. Faktor Faktor Pembentuk Bentang Alam Karst


Faktor yang mempengaruhi pembentukan bentang alam kars yaitu:
1. Faktor Fisik
Faktor fisik yang mempengaruhi pembentukan topografi karst meliputi
ketebalan batugamping, porositas dan permeabilitas batugamping serta intensitas
struktur (kekar) yang mengenai batuan tersebut.

A. Ketebalan batugamping, yang baik untuk perkembangan karst adalah batu


gamping yang tebal, dapat masif atau yang terdiri dari beberapa lapisan dan
membentuk unit batuan yang tebal, sehingga mampu menampilkan topografi
karst sebelum habis terlarutkan. Namun yang paling baik adalah batuan yang
masif, karena pada batugamping berlapis biasanya terdapat lempung yang
terkonsentrasi pada bidang perlapisan, sehingga mengurangi kebebasan
sirkulasi air untuk menembus seluruh lapisan.
B. Porositas dan permeabilitas, berpengaruh dalam sirkulari air dalam batuan.
Semakin besar porositas sirkulasi air akan semakin lancar sehingga proses
karstifikasi akan semakin intensif.
C. Intensitas struktur (kekar), zona kekar adlah zona lemah yang mudah
mengalami pelarutan dan erosi sehingga dengan adanya kekar dalam batuan,
proses pelarutan berlangsung intensif. Kekar yang baik untuk proses
karstifikasi adalah kekar berpasangan (kekar gerus), karena kekar
tersebutberpasangan

sehingga

mempertinggi

porositas

dan

permeabilitas.Namun apabila intensitas kekar sangat tinggi batuan akan


mudah tererosi atau hancur sehingga proses karstifikasi terhambat.
2. Faktor Kimiawi
Faktor kimiawi yang berpengaruh dalam proses karstifikasi adalah kondisi
kimia batuan dan kondisi kimia media pelarut.
A. Kondisi kimia batuan, dalam pembentukan topografi kars diperlukan
sedikitnya 60% kalsit dalam batuan dan yang paling baik diperlukan 90%
kalsit.

B. Kondisi kimia media pelarut, dalam proses karstifikasi media pelarutnya


adalah air, kondisi kimia air ini sangat berpengaruh terhadap proses
karstifikasi
Kalsit sulit larut dalam air murni, tetapi mudah larut dalam air yang
mengandung asam. Air hujan mengikat CO2 di udara dan dari tanah membentuk
larutan yang bersifat asam yaitu asam karbonat (H2CO3). Larutan inilah yang
sangat baik untuk melarutkan batugamping.
3. Faktor Biologis
Aktivitas tumbuhan dan mikrobiologi dapat menghasilkan humus yang
menutup batuan dasar, mengakibatkan kondisi anaerobic sehingga air permukaan
masuk ke zona anaerobic, tekanan parsial CO2 akan meninggkat sehingga
kemampuan melarutkannya juga meningkat.

4.

Faktor Iklim dan Lingkungan


Kondisi lingkungan yang mendukung adalah adanya lembah besar yang

mengelilingi tempat yang tinggi yang terdiri dari batuan yang mudah larut
(batugamping) yang terkekarkan intensif. Kondisi lingkungan di sekitar
batugamping harus lebih rendah sehingga sirkulasi air berjalan dengan baik,
sehingga proses karstifikasi berjalan dengan intensif.

II.6.3. Macam- Macam Bentuk Lahan Asal Karst ( Van Zuidam )

1. Bentang Alam Hasil Proses Karstifikasi


Bentuk morfologi yang menyusun suatu bentang alam karst dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu bentuk-bentuk konstruksional dan bentuk-bentuk sisa pelarutan
1. Bentuk-bentuk Konstruksional
Bentuk-bentuk konstriksional adalah topografi yang dibentuk oleh proses
pelarutan batugamping atau pengendapan mineral karbonat yang dibawa oleh air.
Berdasarkan ukurannya dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

Bentuk-bentuk minor
Bentang alam karst minor adalah bentang alam yang tidak dapat diamati
pada peta topografi atau foto udara.

Bentuk-bentuk mayor
Sedangkan bentang alam mayor adalah yang dapat diamati dari peta
topografi atau foto udara.

Bentuk-bentuk topgrafi karst mayor antara lain :


1) Surupan (doline)
Adalah depresi tertutup hasil pelarutan dengan diameter mulai dari beberapa
meter sampai beberapa kilometer, kedalaman bisa sampai ratusan meter dan
mempunyai bentuk bundar atau lonjong.

Gambar. 25 Doline di Rumania


(http://lawalataipb.org/eksotisme-di-tengah-ancaman-kawasan-karst-maros-pangkep/)

2) Uvala
Uvala adalah depresi berukuran besar dan memanjang (uvala dari kata oval
yang berarti lonjong), merupakan gabungan dari beberapa doline akibat proses
pelarutan bahwa daerah tersebut berada pada stadium dewasa.

Gambar.26 Uvala
( http://uvala-strunac.com/gallery.html )

3) Polje
Depresi tertutup dengan ukuran sangat besar melebihi ukuran uvala. Polye
terjadi dari perluasan uvala atas proses solusi dan runtuhnya dinding yang telah

lapuk. Bentuk polye memanjang dengan dasar relatif datar dan ditutupi oleh
endapan aluvial, sumbu panjang searah jurus perlapisan atau struktur geologi.
Polje bertebing curam dengan pelarutan secara lateral relatif lebih besar, dan
mempunyai pengaliran di bawah permukaan.

Gambar. 27 Polje
( http://de.wikipedia.org/wiki/Polje )

4) Jendela karst
adalah lubang pada atap gua yang menghubungkan dengan udara luar,
terbentuk karena atap gua runtuh.

Gambar. 28 Jendela Karst


( http://sk.wikipedia.org/wiki/Tatry )

5) Lembah karst
adalah lembah atau alur yang besar, terbentuk oleh aliran permukaan yang
mengerosi batuan yang dilaluinya. Ada 4 macam lembah karst, yaitu :

Gambar. 29 Lembah Karst


( http://kangope.wordpress.com/tag/karst/ )

a. Allogenic valley, lembah karst dengan hulu pada batuan kedap air (bukan
batugamping) yang kemudian masuk ke dalam daerah karst.
b. Blind valley, lembah karst yang alirannya tiba-tiba hilang karena masuk ke
dalam batuan.
c. Pocket valley, yaitu lembah yang berasosiasi dengan mata air yang besar
dan keluar dari batuan kedap air (bukan batugamping) yang berada di
bawah lapisan batugamping.
d. Dry valley, lembah yang mirip dengan lembah fluviatil tetapi bukan
sebagai penyaluran air permukaan karena air yang masuk langsung
meresap ke batuan dasarnya (karena banyak rekahan)

6) Gua
adalah ruang bawah tanah yang dapat dicapai dari permukaan dan cukup
besar bila dilalui oleh manusia.

Gambar.30 Gua
(http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/08/08/goa-mampu-legenda-dankeindahannya-483613.html)

7) Terowongan dan jembatan alam


adalah lorong di bawah permukaan yang terbentuk oleh pelarutan dan
penggerusan air tanah.

2. Bentuk-bentuk Sisa Pelarutan


Yang dimaksud dengan sisa pelarutan adalah morfologi yang terbentuk
karena pelarutan dan erosi sudah berjalan sangat lanjut sehingga meninggalkan
sisa erosi yang khas pada daerah karst.
Macam-macam morfologi sisa antara lain :
1) Kerucut karst
adalah bukit karst yang berbentuk kerucut, berlereng terjal dan dikelilingi
oleh depresi.

Gambar. 31 Kerucut Karst


( http://toba-geoscience.blogspot.com/2011/04/morfologi-karst.html )

2) Menara karst
adalah bukit sisa pelarutan dan erosi yang berbentuk menara dengan lereng
yang terjal tegak atau menggantung, terpisah satu dengan yang lainnya dan
dikelilingi dataran aluvial.

Gambar. 32 Menara Karst


( http://desawisatasamangki.blogspot.com/2013/04/potensi-geowisata-rammangrammang-maros.html )

3) Mogote
adalah bukit terjal yang merupakan sisa pelarutan dan erosi, umumnya
dikelilingi oleh dataran alluvial yang hampir rata (flat). Bentuknya kadang-kadang
tidak simetri antara sisi yang mengarah kearah datangnya angin dengan sisi
sebaliknya (Ritter, 1978). Mogote dan menara kars dibedakan dari bentuk dan
keterjalan lereng sisi-sisinya

II.7. Bentang Alam Denudasional


II.7.1. Pengertian
Denudasional (penelanjangan) adalah jumlah dari keseluruhan dari hasil
proses pengurangan permukaan lahan. Proses pengurangan permukaan lahan
dapat berupa pelapukan batuan, pengikisan, gerakan tanah dan lain sebagainya.
Hal ini juga dipahami bahwa proses denudasi merupakan kesatuan dari proses
pelapukan, gerakan massa, erosi kemudian diakhiri oleh proses pengendapan.
Bentuk asal denudasional antara lain perbukitan terkikis, pegunungan terkikis,
bukit sisa, bukit terisolasi, dataran nyaris dan lain sebagainya.

Gambar. 33 contoh bentang alam denudasional (Anonim, 2009)

Ciri-ciri Bentuk Lahan Asal Denudasional

1. Relief sangat jelas: lembah, lereng, pola aliran sungai.


2. Tidak ada gejala struktural, batuan massif, dep/strike tertutup.
3. Dapat dibedakan dengan jelas terhadap bentuk lain
4. Relief lokal, pola aliran dan kerapatan aliran menjadi dasar utama untuk
merinci satuan bentuk lahan
5. Litologi menjadi dasar pembeda kedua untuk merinci satuan bentuk lahan.
Litologi terasosiasi dengan bukit, kerapatan aliran,dan tipe proses.
II.7.2 Faktor-faktor Pembentuk Bentang alam Denudasional
Denudasi meliputi proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass
wating) dan proses pengendapan/sedimentasi.
1. Pelapukan (weathering) dari perkataan weather dalam bahasa Inggris
yang berarti cuaca, sehingga pelapukan batuan adalah proses yang berhubungan
dengan perubahan sifat (fisis dan kimia) batuan di permukaan bumi oleh pengaruh
cuaca.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan adalah:
a. Iklim: Faktor iklim yang berpengaruh adalah curah hujan, angin, temperatur,
kelembapan, penyinaran matahari. Banyaknya curah hujan, intensitas dan
distribusi hujan menentukan dispersi hujan terhadap tanah, jumlah dan kecepatan
aliran permukaan, serta besarnya kerusakan erosi. Angin selain sebagai agen
transport dalam erosi beberapa kawasan juga bersama-sama dengan temperatur,
kelembaban dan penyinaran matahari terhadap evapotranspirasi, sehingga

mengurangi kandungan air dalam tanah yang berarti memperbesar investasi tanah
yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepekaan erosi tanah.
b. Topografi: kemiringan lereng, panjang lereng, konfigurasi, keseragaman, dan arah
lereng mempengaruhi erosi. Kemiringan lereng dinyatakan dalam derajad atau
persen. Kecuraman lereng memperbesar jumlah aliran permukaan, dan
memperbesar

kecepatan

aliran

permukaan,

sehingga

dengan

demikian

memperbesar daya angkut air. Semakin besar erosi terjadi dengan makin
curamnya lereng.
c. Vegetasi, berperan untuk mengurangi kecepatan erosi. Kaitannya jenis tumbuhan,
aliran permukaan dan jumlah erosi.
d. Kepekaan tanah terhadap erosi tergantung pada sifat-sifat tanah yang
mempengaruhi laju infiltrasi, permeabilitas, kapasitas menahan air dan struktur
tanah.
e.

Manusia dapat mencegah dan mempercepat terjadinya erosi tergantung


bagaimana manusia mengelolanya.

2. Sedimentasi atau Pengendapan


Sedimentasi adalah proses penimbunan tempat-tempat yang lekuk dengan
bahan-bahan hasil erosi yang terbawa oleh aliran air, angin, maupun gletser
(Suhadi Purwantara, 2005:74). Sedimentasi tidak hanya terjadi dari pengendapan
material hasil erosi saja, tetapi juga dari proses mass wasting. Namun kebanyakan
terjadi dari proses erosi. Sedimentasi terjadi karena kecepatan tenaga media
pengangkutnya

berkurang

(melambat).

Berdasarkan

tenaga

alam

yang

mengangkutnya sedimentasi dibagi atas : Sedimentasi air sungai (floodplain dan


delta), air laut, angin, dan geltsyer.

Satuan Bentuk Lahan Asal Denudasioal


1. Pegunungan Denudasional
Karakteristik umum unit mempunyai topografi bergunung dengan lereng
sangat curam (55>140%), perbedaan tinggi antara tempat terendah dan tertinggi
(relief) > 500 m.Mempunyai lembah yang dalam, berdinding terjal berbentuk V
karena proses yng dominan adalah proses pendalaman lembah (valley deepening).

Gambar 34. Pegunungan Denudasional


( http://geoenviron.blogspot.com/2011/12/geomorfologi-bentuklahan-denudasional.html )

2. Perbukitan Denudasional
Mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan lereng berkisar
antara 15 > 55%, perbedaan tinggi (relief lokal) antara 50 -> 500 m.Terkikis
sedang hingga kecil tergantung pada kondisi litologi, iklim, vegetasi penutup daik
alami maupun tata guna lahan. Salah satu contoh adalah pulau Berhala, hamper
72,54 persen pulau tersebut merupakan perbukitan dengan luas 38,19 ha.

Perbukitan yang berada di pulau tersebut adalah perbukitan denudasional terkikis


sedang yang disebabkan oleh gelombang air laut serta erosi sehingga terbentuk
lereng-lereng yang sangat curam.

Gambar 36. Perbukitan Denudasional


( http://ceritapgz.blogspot.com/2012/11/analisis-bentuk-lahan-yang-ada-di.html )

3. Dataran Nyaris (Peneplain)


Akibat proses denudasional yang bekerja pada pegunungan secara terus
menerus, maka permukaan lahan pada daerah tersebut menurun ketinggiannya dan
membentuk permukaan yang hamper datar yang disebut dataran nyaris
(peneplain). Dataran nyaris dikontrol oleh batuan penyusunan yang mempunyai
struktur berlapis (layer). Apabila batuan penyusun tersebut masih dan mempunyai
permukaan yang datar akibat erosi, maka disebut permukaan planasi.

Gambar. 37. Dataran Nyaris


( http://dc405.4shared.com/doc/Hhb4ExyR/preview.html )

4. Perbukitan Sisa Terpisah (inselberg)


Apabila bagian depan (dinding) pegunungan/perbukitan mundur akibat
proses denudasi dan lereng kaki bertambah lebar secara terus menerus akan
meninggalkan bentuk sisa dengan lereng dinding yang curam. Bukit sisah terpisah
atau inselberg tersebut berbatu tanpa penutup lahan (barerock) dan banyak
singkapan batuan (outcrop). Kenampakan ini dapat terjadi pada
pegunungan/perbukitan terpisah maupun pada sekelompok
pegunungan/perbukitan, dan mempunyai bentuk membulat. Apabila bentuknya
relative memanjang dengan dinding curam tersebut monadnock.

5. Kerucut Talus (Talus cones) atau kipas koluvial (coluvial van)


Mempunyai topografi berbentuk kerucut/kipas dengan lereng curam (350).
Secara individu fragmen batuan bervariasi dari ukuran pasir hingga blok,
tergantung pada besarnya cliff dan batuan yang hancur. Fragmen berukuran kecil
terendapkan pada bagian atas kerucut (apex) sedangkan fragmen yang kasar
meluncur ke bawah dan terendapkan di bagian bawah kerucut talus.

Gambar. 38 Kerucut Talus


( http://andigeografi.blogspot.com/2013/12/geomorfologi.html )

6. Lereng Kaki (Foot slope)

Mempunyai daerah memanjang dan relatif sermpit terletak di suatu


pegunungan/perbukitan dengan topografi landai hingga sedikit terkikis. Lereng
kaki terjadi pada kaki pegunungan dan lembah atau dasar cekungan (basin).
Permukaan lereng kaki langsung berada pada batuan induk (bed rok).
Dipermukaan lereng kaki terdapat fragmen batuan hasil pelapukan daerah di
atasnya yang diangkut oleh tenaga air ke daerah yang lebih rendah.

7. Lahan Rusak (Bad land)


Merupakan daerah yang mempunyai topografi dengan lereng curam
hingga sangat curam dan terkikis sangat kuat sehingga mempunyai bentuk
lembah-lembah yang dalam dan berdinding curam serta berigir tajam (knife-like)
dan membulat. Proses erosi parit (gully erosion) sangat aktif sehingga banyak
singkapan batuan muncul ke permukaan (rock outcrops).

II.7.3 Macam-Macam Bentuk Lahan Asal Denudasional


Beberapa bentuklahan degradasi
a. Footslopes
b. BInselberg/ pemandangan
Beberapa Bentuklahan Agradasi
a. Kipas
b. Lembah infilled

II.8. Bentang Alam Aeolion


11.8.1. Pengertian
Bentang alam eolian merupakan bentang alam yang dibentuk karena
aktivitas angin. Bentang alam ini banyak dijumpai pada daerah gurun pasir. Gurun
pasir sendiri lebih diakibatkan adanya pengaruh iklim. Gurun pasir diartikan
sebagai daerah yang mempunyai curah hujan rata-rata kurang dari 26 cm/tahun.
daerah yang mempunyai tekanan udara tinggi dengan udara sangat panas dan
kering. Gurun pasir lintang rendah terdapat di tengah-tengah benua yang terletak
jauh dari laut atau terlindung oleh gunung-gunung dari tiupan angin laut yang
lembab sehingga udar yang melewati gunung dan sampai pada daerah tersebut
adalah udara yang kering.

Gambar.39 Bentang Alam Aeolion


( http://thekoist.wordpress.com/2012/10/01/sistem-eolian/ )

Syarat-syarat terbentuknya bentang alam aeolian:


1. Tersedianya material berukuran pasir halus-kasar dalam jumlah yang banyak

2. Adannya periode kering yang panjang


3. Adanya angin yang mampu mengangkut dan mengendapkan bahan pasir
tersebut
4. Adanya barrier atau penghalang (vegetasi/litologi)

II.8.2. Faktor Faktor Pembentuk Bentang Alam Aeolian


1.

Angin
Angin, meskipun bukan sebagai agen geomorfik yang sangat penting

(topografi yang dibentuk oleh angin tidak banyak dijumpai ), namun tetap tidak
dapat diabaikan. Proses-proses yang disebabkan oleh angin meliputi erosi,
transportasi dan deposisi.
Erosi oleh angin dibedakan menjadi dua macam, yaitu deflasi dan abrasi
atau korasi. Deflasi adalah proses lepasnya tanah dan partikel-partikel kecil dari
batuan yang diangkut dan dibawa oleh angin. Sedangkan abrasi merupakan proses
penggerusan batuan dan permukaan lain oleh partikel-partikel yang terbawa oleh
aliran angin.
Transportasi oleh Angin, Cara transportasi oleh angin pada dasarnya sama
dengan cara transportasi oleh air, yaitu secara melayang (suspesion) dan
menggeser di permukaan (traction).

Secara umum partikel halus (debu) dibawa secara melayang dan yang
berukuran pasir dibawa secara menggeser di permukaan (traction). Pengangkutan
secara traction ini meliputi meloncat (saltation) dan menggelinding (rolling).
Pengendapan oleh Angin, Jika kekuatan angin yang membawa material
berkurang atau jika turun hujan, maka material-material (pasir dan debu) tersebut
akan diendapkan.

II.8.3. Macam- Macam Bentuk Lahan Asal Aeolian ( Van Zuidam )


Dilihat dari proses pembentukannya, bentang alam eolian dapat
dikelompokkan menjadi 2, yaitu bentang alam akibat proses erosi oleh angin dan
bentang alam akibat proses pengendapan oleh angin.
A. Bentang alam eolian akibat proses erosi
Proses erosi oleh angin dibedakan menjadi 2, yaitu deflasi dan abrasi.
Bentang alam yang disebabkan oleh proses erosi ini juga dibedakan menjadi 2
yaitu bentang alam hasil proses deflasi dan bentang alam hasil proses abrasi.
1. Bentang alam hasil proses deflasi
Bentang alam hasil proses deflasi dibedakan menjadi 3 macam:
1) Cekungan Deflasi (Deflation basin)
Cekungan deflasi merupakan cekungan yang diakibatkan oleh angin pada
daerah yang lunak dan tidak terkonsolidasi atau material-material yang tersemen
jelek. Cekungan tersebut akibat material yang ada dipindahkan oleh angin ke
tempat lain. Contoh cekungan ini terdapat di Gurun Gobi yang terbentuk karena
batuan telah diurai oleh adanya pelapukan. Cekungan ini mempunyai ukuran
antara 300 m sampai lebih dari 45 km panjangnya dan dari 15m sampai 150 m
dalamnya.

2) Lag Gravel
Deflasi terhadap debu dan pasir yang ditinggalkan merupakan material yang
kasar (gravel, bongkah dan fragmen yang besar), disebut lagstone. Akumulasi
seperti itu dalam waktu yang lama bisa menjadi banyak dan menjadi lag gravel
atau bahkan sebagai desert pavement, dimana sisa-sisa fragmennya berhubungan
satu sama lain saling berdekatan.
3) Desert varnish
Beberapa lagstone yang tipis, megkilat, berwarna hitam atau coklat dan
permukaannya tertutup oleh oksida besi dikenal desert varnish.
2. Bentang Alam Hasil Proses Abrasi
Bentang alam hasil proses abrasi atau korasi antara lain:
1) Ventifact
Beberapa sisa batuan berukuran bongkah berangkal yang dihasilkan oleh
abrasi angin yang mengandung pasir akan membentuk einkanter (single edge)
atau dreikanter (three edge). Einkanter terbentuk dari perpotongan antara pebble
yang mempunyai kedudukan tetap dengan arah angin yang tetap atau konstan.
Dreikanter terbentuk dari perpotongan antara pebble yang posisinya overturned
akibat pengrusakan pada bagian bawah dengan arah angin yang tetap atau dapat
juga disebabkan oleh arah angin yang berganti-ganti terhadap pebble yang
mempunyai kedudukan tetap, sehingga membentuk bidang permukaan yang
banyak.
2) Polish
Polish ini terbentuk pada batuan yang mempunyai ukuran butir halus,
digosok oleh angin yang mengandung pasir (sand blast) atau yang mengandung
silt (silt blast)yang mempunyai kekuatan lemah, sehingga hasilnya akan lebih
mengkilat, misalnya pada kwarsit akibat erosi secara abrasi akan lebih mengkilat.
3) Grooves

Angin yang mengadung pasir dapat juga menggosok dan menyapu


permukaan batuan membentuk suatu alur yang dikenal sebagai grooves. Pada
daerah kering, alur yang demikian itu sangat jelas. Alur-alur tersebut
memperlihatkan kenampakan yang sejajar dengan sisi sangat jelas.
4) Sculpturing (Penghiasan)
Batu jamur (mushroom rock) yaitu batu yang tererosi oleh angin yang
mengandung pasir sehingga bentuknya menyerupai jamur (mushroom).
5) Yardang
Pada batuan yang halus, abrasi oleh angin secara efektif memotong
sepanjang alur rekahan membentuk bentukan sisa yang berdiri memanjang yang
disebut yardang. Kehadiran rekahan-rekahan mempunyai pengaruh penting pada
orientasi beberapa yardang. Material yang halus tertransport sedangkan lapisan
yang resisten membentuk perlapisan dengan material lain yang kurang kompak.
B. Bentang alam hasil pengendapan angin
Jika kekuatan angin yang membawa material berkurang atau jika turun
hujan, maka material-material yang terbawa oleh angin akan diendapkan. Bentang
alam hasil proses pengendapan oleh angin ini dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Dune
Dune adalah suatu timbunan pasir yang dapat bergerak atau berpindah,
bentuknya tidak dipengaruhi oleh bentuk permukaan ataupun rintangan.
Berdasarkan ukurannya, hasil proses pengendapan material pasir, yaitu ripples,
dunes dan megadunes.
Ripples lebar berukuran 5 cm - 2m dan tinggi 0,1 5 cm
Dunes lebar 3 600 m dan tinggi 0,1 15 m
Megadunes lebar 300 3 km dan tinggi 20 400 m
Tipe-tipe dune ini menurut Hace (1941, dalam Thornbury, 1964) digolongkan
menjadi 3, yaitu:
a. Transversal Dune

Transversal dune merupakan punggungan-punggungan pasir yang


berbentuk memanjang tegak lurus dengan arah angin yang dominan. Bentuk ini
tidak dipengaruhi oleh tumbuh-tumbuhan.

Gambar.40 Transversal Dune


( http://geohazard009.wordpress.com/2009/12/11/geomorfologi/ )

b. Parabolic Dune
Parabolic dune merupakan dune yang berbentuk sekop/sendok atau
berbentuk parabola. Bentuk ini dipengaruhi oleh adanya tumbuh-tumbuhan.
c. Longitudinal Dune
Longitudinal dune merupakan punggungan-pungungan pasir yang
terbentuk memanjang sejajar dengan arah angin yang dominan. Material pasir
diangkut secara cepat oleh angin yang relatif tetap.

Gambar.41 Longitudinal Dune

(http://www.handsontheland.org/grsa/resources/curriculum/mid/dunes/photo_files/longitu
dinal.htm )

Klasifikasi

menurut

Emmons (1960)

bentuk-bentuk

dune dapat

bermacam-macam, tergantung pada banyaknya pertambahan pasir, pengendapan


di tanah, tumbuh-tumbuhan yang menghalangi dan juga arah angin yang tetap.
Berdasrkan hal-hal tersebut, maka tipe-tipe dune digolongkan menjadi :
a. Lee dune (Sand Drift)
Lee dune/sand drift adalah dune yang berkembang memanjang,
merupakan punggungan pasir yang sempit, berada di belakang batuan atau
tumbuh-tumbuhan. Dune ini mempunyai kedudukan tetap, tetapi dengan adanya
penambahan jumlah pasir yang banyak maka dapat juga menjadi jenis dune yang
bergerak dari ujung sand drft.
b. Longitudinal dune
Longitudinal dune mempunyai arah memanjang searah dengan arah angin
yang efektif dan dominan. Terbentuk karena angin tertahan oleh rumput atau
pohon-pohon kecil. Kadang-kadang berbentuk seperti lereng dari suatu lembah.
c. Barchan
Barchan terbentuk pada daerah yang terbuka, tak dibatasi oleh
topografi/tumbuh-tumbuhan dimana arah angin selalu tetap dan penambahan pasir
terbatas dan berada di atas batuan dasar yang padat. Barchan ini berbentuk koma
dengan lereng yang landai pada bagian luar, serta mempunyai puncak dan sayap.

Gambar.42. Barchan dune


( http://en.wikipedia.org/wiki/Barchan )

d. Seif
Seif adalah longitudinal dune yang berbentuk barchan dengan salah satu
lengannya jauh lebih panjang akibat kecepatan angin yang lebih kuat pada lengan
yang panjang. Misalnya di Arabian Sword, seif berasosiasi dengan barchan dan
berkebalikan antara barchan menjadi seif. Perubahan yang lain misalnya dari seif
menjadi lee dune.
e. Transversal dune
Transversal dune terbentuk pada daerah dengan penambahan pasir yang
banyak dan kering, angin bertiup secara tetap misalnya pada sepanjang pantai.
Pasir yang banyak itu akan menjadi suatu timbunan pasir yang berupa
punggungan atau deretan punggungan yang melintang terhadap arah angin.
f. Complex dune
Complex dune terbentuk pada daerah dengan air berubah-ubah, pasir dan
vegetasi agak banyak. Barchan, seif dan transversal dune yang berada setempattempat akan berkembang sehingga menjadi penuh dan akan terjadi saling overlap
sehingga akan kehilangan bentuk-bentuk aslinya dan akan mempunyai lereng
yang bermacan-macam. Keadaan ini disebut sebagai complex dune. Menurut
Emmons (1960, dalam Thornbury, 1969), dune ini biasanya mempunyai

ketinggian antara 6 20 m, tetapi beberapa dune dapat mencapai ketinggian


beberapa puluh meter. Sedangkan kecepatan bergerak atau berpindahnya berbedabeda tergantung pada kondisi daerahnya. Biasanya tidak lebih dari beberapa meter
per tahun, tetapi ada juga yang sampai 30 m per tahun.

Gambar.43 Complex Dune


( http://www.cssforum.com.pk/css-optional-subjects/group-d/geography/36906-diagramsrelated-physical-geography-5.html )

2. Loess
Daerah yang luas tertutup material-material halus dan lepas disebut Loess.
Beberapa endapan loess menutupi daerah yang sangat subur. Penyelidikan secara
mikroskopis memperlihatkan bahwa loess berkomposisi partikel-partikel angular
dengan diameter kurang dari 0,5 mm terdiri dari kuarsa, feldspar, hornblende dan
mika. Kebanyakan butiran-butiran tersebut dalam keadaan segar atau baru terkena
pelapukan sedikit. Kenampakan itu menunjukkan bahwa loess tersebut merupakan
hasil endapan dari debu dan lanau yang diangkut dan diendapkan oleh angin.

II.9. Bentang Alam Marine


II.9.1. Pengertian
Bentang Alam marine merupakan bentuk lahan yang terdapat di sepanjang
pantai. Proses perkembangan daerah pantai itu sendiri sangat dipengaruhi oleh
kedalaman laut. Semakin dangkal laut maka akan semakin mempermudah
terjadinya bentang alam daerah pantai, dan semakin dalam laut maka akan
memperlambat proses terjadinya bentang alam di daerah pantai. Selain
dipengaruhi oleh kedalaman laut, perkembangan bentang lahan daerah pantai juga
dipengaruhi oleh:
1. Struktur, tekstur, dan komposisi batuan.
2. Keadaan bentang alam atau relief dari daerah pantai atau daerah di daerah
sekitar pantai tersebut.
3. Proses geomorfologi yang terjadi di daerah pantai tersebut yang disebabkan
oleh tenaga dari luar, misalnya yang disebabkan oleh angin, air, es,
gelombang, dan arus laut.
4. Proses geologi yang berasal dari dalam bumi yang mempengaruhi keadaan
bentang alam di permukaan bumi daerah pantai, misalnya tenaga
vulkanisme, diastrofisme, pelipatan, patahan, dan sebagainya.
5. Kegiatan gelombang, arus laut, pasang naik dan pasang surut, serta kegiatan
organisme yang ada di laut.

Gambar.44 Bentang Alam Marine


( http://enenkq.blogspot.com/2012/06/bentuk-lahan-marine.html )

II.9.2. Faktor Faktor Pembentuk Bentang AlamMarine


Tenaga yang mempengaruhi proses pembentukan pantai, baik secara langsung
maupun tidak langsung ada beberapa macam, yaitu gelombang laut, arus litoral,
pasang naik dan pasang surut, tenaga es, dan kegiatan organisme laut.
1.

Gelombang Air Laut


Gelombang dapat terjadi dengan beberapa cara, misalnya longsoran tanah

laut, batu yang jatuh dari pantai curam, perahu atau kapal yang sedang lewat,
gempa bumi di dasar laut, dan lain sebagainya. Diantaranya adalah gelombang
yang disebabkan oleh angin. Angin akan berhembus dengan kencang apabila
terjadi ketidakseimbangan tekanan udara. Karena tekanan yang tidak sama di
permukaan air itulah yang menyebabkan permukaan air berombak. Adanya
gelombang ini sangat penting dalam perkembangan garis pantai.

2. Arus Litoral
Selain gelombang air laut, arus litoral juga merupakan tenaga air yang
sangat penting pengaruhnya dalam pembentuka garis pantai. Pengaruh arus litoral
terhadap perkembangan garis pantai dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
tekanan atau kekuatan angin, kekuatan gelombang laut, kedalaman air, dan bentuk
pantainya. Apabila bentuk pantainya landai dan proses pengendapannya cukup
besar, maka arus litoral mempunyai pengaruh yang sangat penting sebagai tenaga
pengangkut. Pada daerah pantai yang tersusun dari batuan yang tidak kompak,
proses erosi akan bekerja sangat intensif. Jika hasil pengendapan terangkut dari
permukaan air yang dangkal menuju permukaan air yang lebih dalam, maka arus
litoral merupakan tenaga yang sangat efektif dalam proses pengendapan di pantai.
3.

Pasang Naik dan Pasang Surut


Pengaruh pasang-surut yang terpenting terhadap pembentukan pantai adalah

naik-turunnya permukaan air laut dan kekuatan gelombangnya. Apabila


gelombang besar terjadi pada saat pasang naik akan merupakan tenaga perusak
yang sangat hebat di pantai. Arus air yang ditimbulkan oleh pasang naik dan
pasang surut akan bergerak melalui permukaan terbuka dan sempit serta
merupakan tenaga pengangkut endapan daratan yang sangat intensif.
4. Tenaga Es
Pengaruh tenaga es yang terpenting yaitu adanya pengkerutan es dan
pemecahan atau pencairan es. Air yang berasal dari bawah akan naik dan mengisi

celah-celah dan akhirnya akan membeku. Apabila terjadi perubahan iklim, maka
es akan mencair sehingga permukaan airnya akan bertambah besar.
5.

Organisme
Jenis binatang laut yang sangat penting dalam proses pembentukan garis

pantai beserta perubahannya salah satunya yaitu binatang karang. Binatang karang
yang paling banyak membentuk batuan karang ialah golongan polyps. Polyps
merupakan jenis binatang karang yang sangat kecil yang hidup dengan subur pada
air laut yang memiliki kedalaman antara 35-45 meter.
Jenis makhluk hidup lain yang berpengaruh pada perkembangan pantai ialah
tumbuh-tumbuhan ganggang (algae). Ganggang merupakan jenis mikro flora yang
dapat membantu pengendapan dari larutan yang mengandung kalsium karbonat
menjadi endapan kapur

II.9.3. Macam- Macam Bentuk Lahan Asal Marine ( Van Zuidam )


1. Delta
Lingkungan delta, yaitu suatu lingkungan dimana konsep keseimbangan
dikendalikan oleh gaya-gaya yang berada dalam suatu sistem yang komplek. Delta
berasal dari endapan sedimen sungai, tetapi ke ke arah bagian laut lebih banyak
sediment yang di endapkan. Delta terbentuk ketika sungai mencapai ketinggian
dasar air (base level), yaitu suatu ketinggian dimana air tidak lagi meng-erosi.
Ketinggian dasar air menandai akhir dari suatu sistem sungai dan biasanya terletak
di danau atau lautan. Sedimen yang diangkut dalam saluran sungai akan
diendapkan di lokasi tersebut dan akhirnya membentuk suatu delta yang tersusun

dari akumulasi lumpur dan pasir yang tebal. Bagian permukaan delta disebut
sebagai dataran delta (delta plain) dengan bentuk morfologi dataran, terdiri dari
rawa-rawa dan payau dengan drainase yang buruk dan di dalamnya sungai
mengalir yang akhirnya mencapai lautan. Pada bagian delta plain, saluran-saluran
sungai merupakan suatu sistem saluran air yang dikenal dengan distributaries,
yaitu saluran-saluran kecil yang mengangkut sedimen dari saluran sungai yang
besar dan didistribusikan melalui saluran-saluran yang berada di delta.
Berdasarkan bentuk dan morfologinya, delta dapat dibedakan menjadi 3 (tiga)
jenis yaitu delta yang terbentuk akibat pengaruh pasang surut, gelombang, dan
sungai:
a. Delta yang didominasi sungai(A River-dominated delta)
adalah delta yang terbentuk oleh pengaruh sungai. Aliran dari saluran
sungai utama akan terpisah ke dalam saluran-saluran distributary yang
komplek dan pengisi secara langsung ke dalam laut (danau) material yang
diangkutnya.
b. Delta yang didominasi pasang surut (Tide-dominated deltas)
adalah delta yang terbentuk sebagai akibat perubahan pasang surut
yang ekstrim. Ketika surut terendah, sejumlah saluran pada delta mengalami
insision dari gabungan antara arus pasang surut dan aliran sungai, sedangkan
ketika pasang tertinggi, saluran- saluran terisi air laut, sedimen di pasok ke
delta oleh sistem fluviatil yang berasal dari bagian hulu sungai,disini saluran
pasang surut disebarkan oleh arus pasang surut bukan oleh aliran sungai.
Pada saat pasang tertinggi, delta akan digenangi oleh air laut dan menjadi
rangkaian pulau-pulau berbentuk lonjong yang dibatasi oleh saluran-saluran
c. Delta yang didominasi gelombang(Wave-dominated deltas)

Adalah delta yang dicirikan oleh bentuknya yang berukuran kecil.


Tidak tergantung pada seberapa banyak sedimen dipasok oleh sungai, coastal
delta didominasi sedikit banyak oleh gelombang karena gelombang sangat
efektif mendistribusikan sedimen di sepanjang pantai. Delta menjadi tempat
pengendapan sementara ketika gelombang bertiup dan berperan di dalam
penyebaran pengendapan. Contoh delta Bangladesh.

Gambar. 45 Delta
( http://mavensnotebook.com/tag/delta-watermaster/ )

2. Tanjung
adalah bentangalam yang daratannya menjorok ke arah laut sedangkan
bagian kiri dan kanannya relatif sejajar dengan garis pantai.

Gambar. 46 Tanjung
( http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/10/tanjung.html )

3. Teluk

adalah bentangalam yang daratannya menjorok ke arah daratan


sedangkan bagian kiri dan kanan nya relatif sejajar dengan garis pantai.

Gambar. 47 Teluk
( http://en.wikipedia.org/wiki/Teluk_Cempedak )

4. Stack dan Arches


adalah bentuk-bentuk bentangalam pantai yang berada di sekitar garis pantai
merupakan sisa-sisa daratan akibat kikisan / abrasi gelombang air laut dan
mengakibatkan garis pantai mundur ke arah daratan. Arches adalah sisa-sisa
daratan akibat erosi (abrasi) dengan bentuk yang tidak teratur karena batuannya
resisten terhadap hantaman gelombang.

Gambar. 48 Stack and Arches


( http://www.bbc.co.uk/schools/gcsebitesize/geography/coasts/erosional_landforms
_rev3.shtml )

5. Wave-cut platform
adalah bentangalam pantai yang terbentuk sebagai hasil erosi gelombang
air laut yang tersusun dari lapisan batuan horisontal serta terletak pada zona muka

air laut, sedangkan garis pantai mundur ke arah darat sebagai akibat erosi
gelombang dan wave-cut platform tertinggal di bagian depan garis pantai.
6. Barrier (Tanggul)
adalah bentangalam yang berbentuk memanjang sejajar dengan garis
pantai dan terbentuk sebagai hasil pengendapan partikel partikel pasir dibagian
muka pantai oleh abrasi gelombang air laut. Topografi barrier island umumnya
lebih rendah dibandingkan dengan topografi pantai.
7. Lagoon
adalah bentuk bentangalam yang terletak diantara barrier (tanggul) dan
daratan, dengan kedalaman air yang dangkal dan dipengaruhi oleh air laut dan air
tawar yang berasal dari darat.
8. Pantai submergent
adalah bentangalam yang terbentuk dari pengaruh gabungan antara
naiknya muka air laut (transgresi) dan penurunan cekungan.

Gambar.49 Pantai Submergent


( http://en.wikipedia.org/wiki/Submergent_coastline )

9. Pantai emergent
adalah bentangalam yang terbentuk sebagai akibat dari penurunan muka
air laut (regresi) atau naiknya permukaan daratan. Umumnya bentuk pantai
emergent ditandai oleh teras-teras pantai.
10. Tombolo

Tombolo adalah tanggul pasir alami yang menghubungkan daratan


dengan pulau yang berada dekat pantai. Tombolo dapat terbentuk pada laut
dangkal yang tidak terganggu oleh arus laut.

Gambar.50 Tombolo
( http://en.wikipedia.org/wiki/Tombolo

II.10. Bentang Alam Glasial


II.10.1 Pengertian
Bentang alam glasial adalah bentang alam yang berhubungan dengan
proses glasial, dimana proses glasial itu tenaga yang berpengaruhnya adalah
Gletser.
Menurut flint (1957) gletser adalah massa es dan tubuh es yang terbentuk
karena rekristalisasi dari salju dan lelehan air yang secara keseluruhan atau
sebagian teletak dalam suatu lahan dan memberikan kenampakan tersendiri, yaitu
suatu bentukan gerakan. Beberapa hal yang penting dalam gletser diantaranya
adalah:

Keadaan daerah
Proses
Dan endapan yang terbentuk di tepi perbatasan gletser (moraine)

Gambar. 51. Bentang Alam Glassier


( http://fausiramdani.blogspot.com/2014/04/bentang-alam-glasial.html )

Ada dua tipe bentang alam glasial, diantaranya yaitu:


a.
Alpine Glaciationyaitu terbentuk pada daerah pegunungan.
b.
Continental Glaciation yaitu bila suatu wilayah yang luas tertutup gletser.
Tipe- tipe gletser diantaranya:
1. Valley Glasier
Merupakan gletser pada suatu lembah dan dapat mengalir dari tempat yang
tinggi ke tempat yang rendah. Pada valley glacier juga terdapat ankak-anak
sungai. Valley Glacier terdapat pada alpine glaciation.

Gambar.52 Valley Glasier


( http://www.usgs.gov/features/glaciers2.html )

2. Ice Sheet
Merupakan massa es yang tidak mengalir pada valley glacier tetapi
menutup dataran yang luas biasanya > 50.000 kilometer persegi. Ice sheet terdapat
pada continental glaciation yaitu pada Greenland dan Antartika

Gambar. 53 Ice sheet


( http://www.treehugger.com/natural-sciences/melting-polar-ice-sheets-overtake-glaciersas-main-cause-of-sea-level-rise-one-foot-by-2050-possible.html )

3. Ice cap
Merupakan ice sheet yang lebih kecil, terdapat pada daerah pegunungan
seperti valley glacier contohnya di Laut Arktik, Canada, Rusia dan Siberia. Ice
sheet dan ice cap mengalir ke bawah dan keluar dari pusat (titik tertinggi)

Gambar.54 Ice cap


( http://thewaywelive.wordpress.com/2008/03/05/ice-cap-goodbye/ )

4. Ice berg
Ice shet yang bergerak kebawah karena pengaruh gravitasi dan akhirnya
hilang atau terbuang dalam jumlah besar, bila mengenai tubuh air maka balokbalok es tersebut akan pecah dan mengapung bebas di permukaan air, hal ini
disebut ice berg.

Gambar. 55 Ice Berg


( http://www.icebergwatereurope.com/home/ )

XI.2. Faktor Faktor Pembentuk Bentang Alam Glasial


Faktor-Faktor Pendukung terjadinya lahan Glasial adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Tingginya tingkat presipitasi


Suhu lingkungan yang rendah
Pada musim dingin es terakumulasi dalam jumlah besar
Tingkat peleburan yang rendah

II.10.3 Macam- Macam Bentuk Lahan Asal Glasial ( Van Zuidam )


1. Bentang alam karena proses erosi
Bentang alam karena prose erosi yang berasosiasi dengan alpine
glaciations yaitu yang terbentuk pada daerah pegunungan.
Glacier valleyberbentuk U karena proses glasial dan berbentuk V karena erosi
sungai.
Lembah terbentuk karena sungai mengalami pelurusan oleh aliran air
akibat hantaman massa es yang tidak fleksibel. Bentang alam akibat erosi yang
terbentuk pada alpine glaciation antara lain :
1. Hanging valley

Ketika gletser tidak terlihat lagi, anak sungai yang tersisa menyisakan
hanging valley yang tinggi diatas lembah utama. Meskipun proses glasial
membentuk lembah menjadi lurus dan memperhalus dinding lembah, es
meyebabkan permukaan batuan dibawahnya terpotong menjadi beberapa bagian,
tergantung resistensinya terhadap erosi glasial.

Gambar.56 Hanging Valley


http://www.johnharveyphoto.com/MidCoast/CascadeInlet/HangingValley.html )

2. Truncated Spurs
Merupakan bagian bawah tepi lembah yang terpotong triangular faced
karena erosi glasial. Makin tebal gletser makin besar erosi pada bagian bawah
lantai lembah. Makin besar erosi maka mengakibatkan pendalaman lembah dan
anak sungainya sedikit.

Gambar. 57 Truncated Spur


( http://www.landforms.eu/cairngorms/truncated%20spur.htm )

3. Cirques

Merupakan sisi bagian dalam yang dilingkari glacier valley, berisi gletser
dari glacier valley yang tumpah ke bawah. Terbenruk karena proses glasial,
pelapukan dan erosi dinding lembah.

Gambar. 58 Cirques
( http://wallpaperstock.net/cirques_wallpapers_14799_2560x1600_1.html )

4. Rock basin lake


Air meresap pada celah batuan, membeku dan memecah batuan sehingga
lapisan batuan kehilangan bagiannya, digantikan es dan ketika melelh kembali
terbentuk rock basinlake.

Gambar. 59 Rock Basin Lake


( http://soer.justice.tas.gov.au/2009/image/808/index.php )

5. Bergschrund

Merupakan batuan yang telah pecah, berguling-guling dan jatuh ke valley


glacier lalu jatuh ke crevasse.
6. Aretes
Merupakan sisi dinding lembah yang mengalami pemotongan dan
pendalaman sehingga bagian tepinya menjadi tajam, karena proses frost wedging.
7. Horn
Merupakan puncak yang tajam karena cirques yang terpotong / ada bagian
yang hilang karena erosi ke arah hulu pada beberapa sisinya.
8. Crevasses
Merupakan celah yang lebar (terbuka). Bila celah tertutup (sempit) disebut
closed crevasses.

2. Bentang alam karena proses pengendapan gletser


1. Moraines
Merupakan till yang terbawa jauh glacier dan tertinggal atau mengendap
setelah glacier menyusut. Material-material lepas yang jatuh dari lereng yang
terjal sepanjang valley glacierterakumulasi pada sepanjang sisi es.
Lateral Morainesmerupakan Moraines yang tertimbun sepanjang sisi
gletser, Medial Moraines merupakan gabungan anak-anak sungai yang dekat
Lateral Moraines membawa gletser turun sepanjang sisi till, dari atas tampak
seperti multilane highway (lintasan-lintasan pada daerah tinggi).

Gambar.60 Lateral Moraines


( http://aubreydavidson.wordpress.com/2012/09/09/disappearing-glaciersmoraines/ )

End Moraines merupakan tepi till yang tertimbun sepanjang sisi es,
merupakan terminus yang tersisa yang tetap selama beberapa tahun, mudah
dilihat. Valley glacier membentuk end moraines yang berbentuk seperti bulan
sabit.
Bentuk-bentuk End Moraines:
Terminal Moraines adalahEnd Moraines yang terbentuk karena terminus

bergerak maju jauh dari es.

Gambar. 61 Terminal Moraines


( http://dictionary.reference.com/browse/terminal+moraine )

Recessional MorainesadalahEnd Moraines yang terbentuk karena terminus

tidak mengalami perubahan (tetap).


Ground Moraines adalahTill yang tipis, seperti lapisan-lapisan karena
batuan yang terseret aleh gletser lalu mengendap.

Gambar. 62 Ground Moraines


( http://www.landforms.eu/cairngorms/moraine%20lateral.htm )

2. Till
Merupakan batuan yang hancur dari dinding lembah yang terendapkan
mengisi valley glacier, berasal dari ice sheet membawa fragmen batuan yang
terkikis (fragmennya lancip) karena bertabrakan dan saling bergesek dengan
batuan lain. Berukuran clay-boulder, unsorted.
3. Drumlin
Merupakan ground moraines yang terbentuk kembali seperti alur-alur
sungai lembah till, bentuknya seperti sendok terbalik. Porosnya sejajar dengan
arah gerakan es. Dihasilkan oleh ice sheet yang tertransport jauh dan terbentuk
kembali menjadi endapan till setelah melalui lereng yang dangkal.

Gambar.63 Drumlin
( http://en.wikipedia.org/wiki/Drumlin )

4. Erratic
Merupakan es yang berukuran boulder yang kemudian tertransport oleh es
yang berasal dari lapisan batuan yang jauh letaknya.

BAB III
PEMETAAN GEOMORFOLOGI

III.1. Pengertian
Pemetaan adalah kegiatan pemrosesan data survey sampai menyajikannya
menjadi geoinformasi. Jadi pemetaan dapat dilakukan dilapangan atau distudio.
Pemetaan geomorfologi adalah usaha pembuatan peta geomorfologi
dengan tujuna untuk mengenal, memeri, melokalisir dan menggambarkan setiap
aspek bentuk lahan pada peta berdasarkan kesamaan sifat dan perwatakan yang
dicermninkan oleh struktur geologi dan kesan topografi. Caranya dapat lansung
survey

dilapangan

(pengukuran

dan

pengamatan)

dan

tidakmlangsung

( interpretasi peta topografi/rupa bumi dan indera jauh).


Jadi, peta geomorfologi adalah peta tematik yang menggambarkan
permukaan bumi dalam satuan satuan bentuk lahan dengan selalu
mempertimbangkan faktor jenis litologi penyusun, proses endogen dan proses
eksogen dalam berbagai skala.

Senarai :
1. Survei adalah kegiatan mengumpulkan, mencari atau mendapatkan data.
2. Interpretasi adalah mengungkap sesuatu dibalik fakta, jadi interpretasi itu
ilmiah.
3. Gaya endogen (endogenous force) adalah tenaga berasal dari dari dalam
bumi yang menyebabkab terjadinya pergerakan, pensesaran, perlipatan dan
vulkanisme dipermukaan bumi.
4. Gaya eksogen (exogenous force) adalah tenaga yang berasal dari luarb
bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan dipermukaan atau dekat
dengan permukaan bumi, seperti pelapukan, erosi, abrasi dan denudasi.

III.2. PETA TOPOGRAFI


III.2.1 . Pengertian
Peta merupakan gambaran dua dimensi dari suatu obyek yang dilihat
dari atas yang ukurannya direduksi. Hakekat dari interpretasi peta topografi adalah
sebagai pelengkap ilmu geologi dengan latihan teknik penafsiran geologi melalui
peta topografi.
Pengertian dari peta topografi adalah peta yang menggambarkan bentuk
penyebaran dan ukuran dari roman muka bumi yang kurang lebih sesuai dengan
daerah yang sebenarnya.
Unsur-unsur yang penting terdapat dalam suatu peta topografi meliputi :
1. Relief
Adalah beda tinggi suatu tempat atau gambaran kenampakan tinggi rendah
suatu daerah serta curam landainya sisi-sisi perbukitan. Jadi menunjukkan
perbedaan tinggi rendahnya permukaan bumi.
Sebagai contoh :

bukit

lembah

daratan

lereng

pegunungan

Tabel . 4 KLASIFIKASI RELIEF MENURUT VAN ZUIDAM, 1983


SUDUT LERENG (%)

BEDA TINGGI (M)

Datar/ hampir datar

02

<5

Bergelombang/ miring landai

37

5 50

Bergelombang/ miring

8 - 13

50 75

Berbukit bergelombang/ mirng

14 - 20

75 200

Berbukit tersayat tajam/ terjal

21 - 55

200 500

Pegunungan tersayat tajam/


sangat tajam

56 - 140

500 1000

Pegunungan/ sangat curam

> 140

> 1000

SATUAN RELIEF

Tabel. 5 KLASIFIKASI BENTANG ALAM BERDASARKAN PERSENTASE


KEMIRINGAN LERENG DAN BEDA TINGGI (SAMPURNO, 1984)

RELIEF

SUDUT LERENG
(%)

BEDA TINGGI
(M)

Datar/ hampir datar

02

<5

Bergelombang/ miring landai

37

5 50

Bergelombang/ miring

8 13

50 75

Berbukit-bukit/ miring
sedang

14 20

75 200

Berbukit-bukit/ miring terjal

21 55

200 500

Pegunungan berlembahlembah/ mirng sangat terjal

56 140

500 1000

Pegunungan miring sangat


terjal

> 140

> 1000

Tabel 6. KLASIFIKASI ITC, 1986

SATUAN

WARNA

Struktural

Ungu

Vulkanik

Merah

Denudasional Coklat
Marine

Hijau

Fluvial

Biru tua

Glasial

Biru muda

Kras

Orange

Eolian

Kuning

Relief terjadi antara lain karena perbedaan resistensi antara batuan terhadap
proses erosi dan pelapukan (eksogen) juga dipengaruhi gejala-gejala asal dalam
(endogen) perlipatan, patahan, kegiatan gunung api dan sebagainya. Dalam peta
topografi penggambaran relief dengan :

Garis hachures
Yaitu garis-garis lurus yang ditarik dari titik tertinggi ke arah titik yang

lebih rendah disekitarnya dan ditarik searah dengan lereng. Semakin curam
lerengnya maka semakin rapat pula garisnya sebaliknya garis akan renggang jika
reliefnya landai.

Shading (bayangan)
Bayangan matahari terhadap earth feature dan biasanya dikombinasi

dengan peta kontur. Pada daerah yang curam akan memberikan bayangan gelap
sebaliknya daerah yang lancai berwarna cerah.

Tinting (pewarnaan)

Warna-warna tertentu. Semakin tinggi reliefnya warna akan semakin gelap.

Kontur

Yaitu dengan cara menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian


sama. Peta ini paling penting untuk geologi karena sifatnya kualitatif dan
kuantitatif.
Kualitatif : hanya menunjukkan pola dan penyebarannya bentuk-bentuk roman
muka bumi.
Kuantitatif : selain menunjukkan pola dan penyebaran bisa juga mengetahui
ukuran baik secara horisontal maupun vertikal sehingga jelas gambaran tida
dimensinya.
2. Drainage
Drainage pattern/pola pengaliran atau pola penyaluran adalah segala
macam bentuk-bentuk yang hubungannya dengan penyaluran air baik di
permukaan maupun di bawah permukaan bumi. Sebagai contoh sungai-sungai,
danau atau laut dan sebagainya. Sungai-sungai itu sendiri dipermukaan bumi ada
yang terpolakan dan tidak terpolakan. Hal ini tergantung dari batuan dasar yang
dilaluinya.
Dalam hal ini pola/pattern didefinisikan sebagai suatu keseragaman di dalam :

bentuk (shape)

ukuran (size)

penyebarannya/distrubusi

Hubungan antar relief, batuan, struktur geologi dan drainage dalam macammacam pola penyaluran :

a. Dendritik
Mencerminkan sedimen yang horisontal atau miring, resistensi batuan
seragam, kemiringan lereng secara regional kecil. Bentuk pola penyaluran seperti
pohon. Contohnya pada daerah dengan sedimen lepas, daratan banjir, delta, rawa,
pasang surut, kipas-kipas alluvial, dll.
b. Parallel
Umumnya mencirikan kemiringan lereng yang sedang-curam tetapi juga
didapatkan pada daerah-daerah dengan morfologi yang parallel dan memanjang.
Contohnya pada lereng-lereng gunung api. Biasanya akan berkembang menjadi
pola dendritik atau trellis.
c.

Trellis
Terdapat pada daerah dengan batuan sedimen yang terlipat, gunung api,

daerah dengan rekahan parallel. Contohnya pada perlipatan menujam, patahan


parallel, homoklin dan sebagainya.
d.

Rectangular

Mengikuti kekar-kekar dan patahan.


e.

Radial
Mencerminkan gunung api kubah (dome). Terdapat pula pola yang sentripetal

(kebalikan dari radial).


f.

Annular

Mencerminkan struktur kubah yang telah mengalami erosi bagian puncaknya.


Dari contoh-contoh pola pengaliran tersebut merupakan pola dasar penyaluran
yang sangat membantu untuk penafsiran suatu struktur geologi.
3. Culture
Yaitu segala bentuk hasil budi daya manusia. Misalnya perkampungan, jalan,
persawahan dan sebagainya. Culture membantu geologi dalam penentuan lokasi.
Pada umumnya pada peta topografi, relief akan digambarkan dengan warna
coklat, drainage dengan warna biru dan culture dengan warna hitam.
III.2.2 Bagian - Bagian Peta Topografi
Dalam menggunakan peta topografi harus diperhatikan kelengkapan
petanya, yaitu:
1. Judul Peta
Adalah identitas yang tergambar pada peta, ditulis nama daerah atau identitas
lain yang menonjol.
2. Keterangan Pembuatan
Merupakan informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat.
Dicantumkan di bagian kiri bawah dari peta.
3. Nomor Peta (Indeks Peta)

Adalah angka yang menunjukkan nomor peta. Dicantumkan di bagian kanan atas.
4. Pembagian Lembar Peta
Adalah penjelasan nomor-nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang
digunakan, bertujuan untuk memudahkan penggolongan peta bila memerlukan
interpretasi suatu daerah yang lebih luas.
5. Sistem Koordinat
Adalah perpotongan antara dua garis sumbu koordinat. Macam koordinat
adalah:
a. Koordinat Geografis
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dan BT), yang berpotongan
dengan garis lintang (LU dan LS) atau koordinat yang penyebutannya
menggunakan garis lintang dan bujur. Koordinatnya menggunakan derajat,
menit dan detik. Misal Co 120 32 12 BT 5 17 14 LS.
b. Koordinat Grid
Perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinal (y) pada koordinat grid.
Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter), sebelah selatan
ke utara dan barat ke timur dari titik acuan.
c. Koordinat Lokal

Untuk memudahkan membaca koordinat pada peta yang tidak ada gridnya,
dapat dibuat garis-garis faring seperti grid pada peta. Skala bilangan dari
sistem koordinat geografis dan grid terletak pada tepi peta. Kedua sistern
koordinat ini adalah sistem yang berlaku secara internasional. Namun dalam
pembacaan sering membingungkan, karenanya pembacaan koordinat dibuat
sederhana atau tidak dibaca seluruhnya.
6. Skala Peta
Adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak horisontal sebenarnya di
medan atau lapangan. Rumus jarak datar dipeta dapat di tuliskan
JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI MEDAN
Penulisan skala peta biasanya ditulis dengan angka non garis (grafis).
Misalnya Skala 1:25.000, berarti 1 cm di peta sama dengan 25 m di medan yang
sebenarnya.
7. Orientasi Arah Utara
Pada peta topografi terdapat tiga arah utara yang harus diperhatikan sebelum
menggunakan peta dan kompas, karena tiga arah utara tersebut tidak berada pada
satu garis.
Tiga arah utara tersebut adalah:

a. Utara Sebenarnya (True North/US/TN) diberi simbol * (bintang), yaitu


utara yang melalui Kutub Utara di Selatan Bumi.
b. Utara Peta (Grid Nortb/UP/GN) diberi simbol GN, yaitu Utara yang
sejajar dengan garis jala vertikal atau sumbu Y. Hanya ada di peta.
e. Utara Magnetis (Magnetic North/UM) diberi simbol T (anak pariah
separuh), yaitu Utara yang ditunjukkan oleh jarum kompas. Utara
magnetis selalu mengalami perubahan tiap tahunnya (ke Barat atau ke
Timur) dikarenakan oleh pengaruh rotasi bumi. Hanya ada di medan.
Karena ketiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis, maka akan terjadi
penyimpangan-penyimpangan sudut, antara lain:
a. Penyimpangan sudut antara US UP balk ke Barat maupun ke Timur, disebut
Ikhtilaf Peta (IP) atau Konvergensi Merimion. Yang menjadi patokan adalah
Utara Sebenarnya (US).
b. Penyimpangan sudut antara US UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut
Ikhtilaf Magnetis (IM) atau Deklinasi. Yanmg menjadi patokan adalah l Utara
sebenarnya ((IS).
c. Penyirnpangan sudut antara UP UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut
Ikhtilaf Utara Peta-Utara Magnetis atau Deviasi. Yang menjadi patokan adalah
Utara Pela f71).
8. Garis Kontur atau Garis Ketinggian

Garis kontur adalah garis khayal dilapangan yang menghubungkan titik dengan
ketinggian yang sama atau garis kontur adalah garis kontinyu diatas peta yang
memperlihatkan titik-titik diatas peta dengan ketinggian yang sama. Nama lain
garis kontur adalah garis tranches, garis tinggi dan garis tinggi horizontal. Garis
kontur + 25m, artinya garis kontur ini menghubung kantitik-titik yang mempunyai
ketinggian sama +25 m terhadap tinggi tertentu. Garis kontur disajikan di atas
peta untuk memperlihatkan naik turunnya keadaan permukaan tanah. Aplikasi
lebih lanjut dari garis kontur adalah untuk memberikan informasi slope
(kemiringan tanah rata-rata), irisan profil memanjang atau melintang permukaan
tanah terhadap jalur proyek (bangunan) dan perhitungan galian serta timbunan
(cut and fill) permukaan tanah asli terhadap ketinggian vertikal garis atau
bangunan. Garis kontur dapat dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garisgaris perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi ke bidang mendatar
peta. Karena peta umumnya dibuat dengan skala tertentu, maka untuk garis kontur
ini juga akan mengalami pengecilan sesuai skala peta
Sifat-sifat garis kontur, yaitu :
a. Garis kontur merupakan kurva tertutup sejajar yang tidak akan memotong satu
sama lain dan tidak akan bercabang.
b. Garis kontur yang di dalam selalu lebih tinggi dari yang di luar.
c. Interval kontur selalu merupakan kelipatan yang sama
d. Indek kontur dinyatakan dengan garis tebal.

e. Semakin rapat jarak antara garis kontur, berarti semakin terjal Jika garis kontur
bergerigi (seperti sisir) maka kemiringannya hampir atau sama dengan 90.
f. Pelana (sadel) terletak antara dua garis kontur yang sama tingginya tetapi
terpisah satu sama lain. Pelana yang terdapat diantara dua gunung besar
dinamakan PASS.
g. Garis kontur berharga lebih rendah mengelilingi garis kontur yang lebih
tinggi.
h. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf U menandakan punggungan
gunung.
i. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf V menandakan suatu
lembah/jurang

9. Titik Triangulasi
Selain dari garis-garis kontur dapat pula diketahui tinggi suatu tempat dengan
pertolongan titik ketinggian, yang dinamakan titik triangulasi Titik Triangulasi
adalah suatu titik atau benda yang merupakan pilar atau tonggak yang menyatakan
tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Macam-macam titik triangulasi

a. Titik Primer, I. 14 , titik ketinggian gol.l, No. 14, tinggi 3120 mdpl. 3120
b. Titik Sekunder, S.45 , titik ketinggian gol.II, No.45, tinggi 2340 rndpl. 2340
c. Titik Tersier, 7: 15 , titik ketinggian gol.III No. 15, tinggi 975 mdpl 975
d. Titik Kuarter, Q.20 , titik ketinggian gol.IV, No.20, tinggi 875 mdpl. 875
e. Titik Antara, TP.23 , titik ketinggian Antara, No.23, tinggi 670 mdpl. 670
f. Titik Kedaster, K.131 , titik ketinggian Kedaster, No.l 31, tg 1202 mdpl. 7202
g. Titik Kedaster Kuarter, K.Q 1212, titik ketinggian Kedaster Kuarter, No. 1212,
tinggi 1993 mdpl. 1993
10. Legenda Peta
Adalah informasi tambahan untuk memudahkan interpretasi peta, berupa
unsur yang dibuat oleh manusia maupun oleh alam. Legenda peta yang penting
untuk dipahami antara lain:

a. Titik ketinggian
b. Jalan setapak
c. Garis batas wilayah
d. Jalan raya

e. Pemukiman
f. Air
g. Kuburan
h. Dan Lain-Lain

III.2.3 KONTUR
Garis kontur adalah garis khayal di lapangan yang menghubungkan titik
dengan ketinggian yang sama atau garis kontur adalah garis kontinyu di atas peta
yang memperlihatkan titik-titik di atas peta dengan ketinggian yang sama. Nama
lain garis kontur adalah garis tranches, garis tinggi dan garis tinggi horizontal.
Garis kontur + 25 m, artinya garis kontur ini menghubungkan titik-titik yang
mempunyai

ketinggian

sama

+ 25

terhadap

tinggi

tertentu.

Garis

kontur disajikan di atas peta untuk memperlihatkan naik turunnya keadaan


permukaan tanah. Aplikasi lebih lanjut dari garis kontur adalah untuk memberikan
informasi slope (kemiringan tanah rata-rata), irisan profil memanjang atau
melintang permukaan tanah terhadap jalur proyek (bangunan) dan perhitungan
galian serta timbunan (cut and fill) permukaan tanah asli terhadap ketinggian
vertikal garis atau bangunan. Garis kontur dapat dibentuk dengan membuat
proyeksi tegak garis-garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi
ke bidang mendatar peta. Karena peta umumnya dibuat dengan skala tertentu,
maka untuk garis kontur ini juga akan mengalami pengecilan sesuai skala peta.

Gambar 64. Garis Kontur


( Anonym )

Garis-garis kontur merupakan cara yang banyak dilakukan untuk melukiskan


bentuk permukaan tanah dan ketinggian pada peta, karena memberikan ketelitian
yang lebih baik. Cara lain untuk melukiskan bentuk permukaan tanah yaitu
dengan cara hachures dan shading. Bentuk garis kontur dalam 3 dimensi

Gambar. 65. Penggambaran Kontur


( www. Adlikontur.com )

Sifat garis kontur


Garis-garis kontur merupakan cara yang banyak dilakukan untuk melukiskan
bentuk permukaan tanah dan ketinggian pada peta, karena memberikan ketelitian
yang lebih baik. Cara lain untuk melukiskan bentuk permukaan tanah yaitu
dengan cara hachures dan shading.
Penggambaran kontur Garis kontur memiliki sifat sebagai berikut :
a. Berbentuk kurva tertutup.
b. Tidak bercabang.
c. Tidak berpotongan.
d. Menjorok ke arah hulu jika melewati sungai.
e. Menjorok ke arah jalan menurun jika melewati permukaan jalan.
f. Tidak tergambar jika melewati bangunan.
g. Garis kontur yang rapat menunjukan keadaan permukaan tanah yang terjal.
h. Garis kontur yang jarang menunjukan keadaan permukaan yang landai
Kegunaan garis kontur
Selain menunjukan bentuk ketinggian permukaan tanah, garis kontur juga
dapat digunakan untuk:
a. Menentukan profil tanah (profil memanjang, longitudinal sections) antara dua
tempat.
b. Menghitung luas daerah genangan dan volume suatu bendungan
c. Menentukan route/trace suatu jalan atau saluran yang mempunyai kemiringan.
d. Menentukan kemungkinan dua titik di lahan sama tinggi dan saling terlihat

Gambar 66. Rute Garis Kontur


( www. Blackdown/.kontur.com )

Penentuan dan pengukuran titik detail untuk pembuatan garis kontur

Semakin rapat titik detil yang diamati, maka semakin teliti informasi
yang tersajikan dalam peta.

Dalam batas ketelitian teknis tertentu, kerapatan titik detil ditentukan


oleh skala peta dan ketelitian (interval) kontur yang diinginkan.

Pengukuran titik-titik detail untuk penarikan garis kontur suatu peta


dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.

Gambar .67 Garis Kontur Dan Ketinggian


http : ( Anonym)

A. Pengukuran tidak langsung


Titik-titik detail yang tidak harus sama tinggi, dipilih mengikuti pola tertentu
yaitu: pola kotak-kotak (spot level) dan profil (grid) dan pola radial. Dengan polapola tersebut garis kontur dapat dibuat dengan cara interpolasi dan pengukuran
titik-titik detailnya dapat dilakukan dengan cara tachymetry pada semua medan
dan dapat pula menggunakan sipat datar memanjang ataupun sipat datar profil
pada daerah yang relatif datar. Pola radial digunakan untuk pemetaan topografi
pada daerah yang luas dan permukaan tanahnya tidak beraturan.

Gambar. 68. Pengukuran kontur pola radial


( anonym )

b. Pengukuran langsung
Titik detail dicari yang mempunyai ketinggian yang sama dan
ditentukan posisinya dalam peta dan diukur pada ketinggian tertentu. cara
pengukurannya bisa menggunakan cara tachymetry, atau kombinasi antara sipat
datar memanjang dan pengukuran polygon.
Cara

pengukuran

langsung

lebih

sulit dibanding

dengan

cara

tidak

langsung, namun ada jenis kebutuhan tertentu yang harus menggunakan cara
pengukuran kontur cara langsung, misalnya pengukuran dan pemasanngan tanda
batas daerah genangan.

Gambar. 69 Garis kontur lembah


( anonym)

III.2.4 Plotting ( GPS dan Kompas )


Plotting adalah menggambar atau membuat titik, membuat garis dan
tanda-tanda tertentu di peta. Plotting berguna bagi kita dalam membaca peta.
Misalnya Tim Camp berada pada koordinat titik A (3989 : 6360) + 1400 m dpl.
Basecamp memerintahkan tim Camp agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268)
+ 1301 mdpl.

III.2.5 . Langkah Kerja

Misalnya Tim Camp berada pada koordinat titik A (3989 : 6360) + 1400
m dpl. Basecamp memerintahkan tim Camp agar menuju koordinat titik T (4020 :
6268) + 1301 m dpl. Maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

- Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan konektor. Pembacaan dimulai


dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y).
Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tarik garis dari A ke T, kemudian
dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A - T dari titik A ke arah
garis AT. Pembacaan sudut menggunakan sistem Azimuth (0" - 360) searah
putaran jarum jam. Sudut ini berguna untuk mengorientasikan arah dari A ke T.
Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T.
Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok-kelok mengikuti jalan
setapak, sungai ataupun punggungan. Harus dipahami betul bentuk garis-garis
kontur. Plotting lintasan dan memperkirakan waktu tempuhnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tempuh:
- Kemiringan lereng dan Panjang lintasan
- Keadaan dan kondisi medan (misalnya hutan lebat, semak berduri atau pasir)
- Keadaan cuaca rata-rata
- Waktu pelaksanaan (pagi, siang atau malam)
- Kondisi fisik dan mental serta perlengkapan yang dibawa.

* MEMBACA KOORDINAT
Cara menyatakan koordinat ada dua cara, yaitu

1. Cara koordinat peta


Menentukan koordinat ini dilakukan diatas peta dan bukan dilapangan.
Penunjukan koordinat ini meggunakan:
Sistem Enam Angka, misalnya: koordinat titik A (374:622), titik B (377:461)
Cara Delapan Angka, misalnya: koordinat titik A (3740:6225), titik B (3376:4614)
2. Cara Koordinat Geografis
Untuk Indonesia sebagai patokan perhitungan adalah Jakarta yang dianggap 0
atau 106 44' 27,79". Sehingga di wilayah Indonesia awal perhitungan adalah kota
Jakarta. Bila di sebelah barat Jakarta akan berlaku pengurangan dan sebaliknya.
Sebagai patokan letak lintang adalah garis ekuator (sebagai 0). Untuk koordinat
geografis yang perlu diperhatikan adalah petunjuk letak peta.
* SUDUT PETA
Sudut peta dihitung dari utara peta ke arah garis sasaran searah jarum jam.
Sistem pembacaan sudut dipakai Sistem azimuth (0 - 360). Sistem Azimuth
adalah sistem yang menggunakan sudut-sudut mendatar yang besarnya dihitung
atau diukur sesuai dengan arah jarum jam dari suatu garis yang tetap (arah utara).
Bertujuan untuk menentukan arah-arah di medan atau di peta serta untuk
melakukan pengecekan arah perjalanan, karena garis yang membentuk sudut
kompas tersebut adalah arah lintasan yang menghubungkan titik awal dan akhir
perjalanan. Sistem perhitungan sudut dibagi menjadi dua berdasarkan sudut
kompasnya.

* AZIMUTH SUDUT KOMPAS

Back azimuth: bila sudut kompas > 180 maka sudut kompas dikurangi 180.
Bila sudut kompas < 1080 =" 37,1km" km =" 3.710.000" 1km =" 3.710.000" 000
=" 74,2" 1 =" 1.855.000cm">
Peta topografi adalah peta yang memiliki informasi tentang ketinggian permukaan
tanah pada suatu tempat terhadap permukaan laut, yang digambarkan dengan
garis-garis kontur. Informasi topografi yang terdapat pada peta topografi dapat
digunakan untuk membuat model tiga dimensi dari permukaan tanah pada peta
tersebut. Dengan model tiga dimensi maka objek pada peta dilihat lebih hidup
seperti pada keadaan sesungguhnya di alam, sehingga untuk menganalisa suatu
peta topografi dapat lebih mudah dilakukan.
Sebagai bagian dari komunitas ahli ilmu kebumian, kita pasti sudah tidak asing
lagi dengan peta topografi. Peta topografi ini penting, karena sebagai peta dasar,
nantinya dapat digunakan sebagaidasar bagi pengembangan sebagai peta-peta
tematik lainnya.
III.3 . KEMIRINGAN LERENG
III.3.1. Pengertian
Lereng adalah kenampakan permukan alam disebabkan adanya beda
tinggi apabila beda tinggi dua tempat tesebut di bandingkan dengan jarak lurus
mendatar sehingga akan diperoleh besarnya kelerengan.
Bentuk lereng bergantung pada proses erosi juga gerakan tanah dan pelapukan.
Leeng merupakan parameter topografi yang terbagi dalam dua bagian yaitu
kemiringan lereng dan beda tinggi relatif, dimana kedua bagian tersebut besar
pengaruhnya terhadap penilaian suatu bahan kritis. Bila dimana suatu lahan yang

lahan dapat merusak lahan secara fisik, kimia dan biologi, sehingga akan
membahayakan hidrologi produksi pertanian dan pemukiman.

III.3.2 Langkah kerja


Bentuk lereng bergantung pada proses erosi juga gerakan tanah dan
pelapukan. Leeng merupakan parameter topografi yang terbagi dalam dua bagian
yaitu kemiringan lereng dan beda tinggi relatif, dimana kedua bagian tersebut
besar pengaruhnya terhadap penilaian suatu bahan kritis. Bila dimana suatu lahan
yang lahan dapat merusak lahan secara fisik, kimia dan biologi, sehingga akan
membahayakan hidrologi produksi pertanian dan pemukiman. Salah satunya
dengan menbuat Peta Kemiringan Lereng (Peta Kelas Lereng). Dengan
pendekatan rumus Went-Worth yaitu pada peta topografi yang menjaadi dasar
pembuatan peta kemiringan lereng dengan dibuat grid atau jaring-jaring
berukuran 1 cm kemudian masing-masing bujur sangkar dibuat garis horizontal.
Dengan mengetahui jumlah konturnya dan perbedaan tinggi kontur yang
memotong garis horizontal tersebut, dapat ditentukan :
A. kemiringan atau sudut lereng dengan menggunakan rumus
S (%)=[((n-1)Ci)/(D Ps)]
B. Mencari Kontur Interval dengan menggunakan rumus
Ci=1/2000Ps
C. Mencari Panjang Diagonal dengan menggunakan rumus
D = (a^2+b^2 )

D. Dalam mengukur kemiringan lereng dapat dilakukan dengan cara: Metode


Blong (1972), Metode wentworth, Metode Lingkaran, Menggunakan
Kompas Geologi

Kelas Kemiringan Lereng antara lain:


a.
b.
c.
d.
e.

Kelas I
Kelas II
Kelas III
Kelas IV
Kelas V

=<8%
= 8 15 %
= > 15 25 %
= > 25 45 %
= > 45 %

Kemiringan lereng
Menghitung tinggi tempat A-B
Pada tahap ini kami menghitung tingi tempat dari A ke B, ini di lakukan
untuk mengetahui jarak atau tinngi tempat dari A ke B berapa. Untuk menentukan
tinggi tempat A-B terseebut caranya mudah, yaitu hanya mengetahui tinggi antara
ke dua tempat tersebut maka akan di ketahui perbedaan tingginya. Tinggi tempat
A yaitu 155 cm dan tinggi tempat B yaitu 205. Jadi perbedaan tinngi dari tempat A
B adalah 50 cm. Hasil ini di dapatkan dengan cara mengurangi tinnggi tempat A
dengan tinggi tempat B yaitu 205 - 155 = 50 cm. sehingga dapat di ketahui bahwa
beda tinggi antara tempat A-B adalah 50 cm.
Menghitung beda tinggi
Untuk menghitung beda tinggi ada dua prosedur yang kami lakukan yaitu
dengan mencari beda tinggi Dalam Persen (%) dan menghitung beda tinggi Dalam
Derajat ().
Untuk menghitung beda tinggi dalam persen kami menggunakan rumus
Beda tinggi : jarak di medan. Sehingga hasilnya dapat di dapat dengan
memasukan data terhadap rumus tersebut yaitu beda tinggi adalah 50 dan jarak di

medan adalah 200. Beda tinggi di dapatkan dari hasil mencari tinggi tempat antara
A dan B, sedangkan jarak di medan di dapatkan dari hasil menentukan jarak di
medan tempat A-B. karena ini menghitung beda tinggi dalam persen, maka dari
hasil tersebut di kali dengan seratus persen. Sehingga hasilnya adalah 25 %.
Langkah menghitung beda tinggi dalam derajat sama dengan menghitung
beda tinggi dalam persen, yaitu beda tinggi di bagi dengan jarak di medan
kemudian dari hasil bagi tersebut di kali dengan 1. Sehingga hasilnya dapat di
tuliskan adalah 0.25.

III.4. PENAMPANG
III.4.1. Pengertian
Penampang bawah permukaan merupakan gambaran dari suatu
kenampakan dibawah permukaan baik litologi, struktur atau segala sesuatu yang
ada di bawah permukaan bumi.
III.4.2. Langkah Kerja
1.

Penampang Geologi Bawah Permukaan


Penampang geologi merupakan gambaran dari suatu sayatan vertical pada

bumi yang berguna untuk menginterpretasikan suatu hubungan keadaan geologi


baik dengan menggunakan peta ataupun tidak. Dapat juga digunakan untuk
pengembangan minyak bumi, penampang bawah permukaan dapat berguna untuk
menggambarkan keadaan geologi dalam bentuk visual, dengan itu suatu reservoir
dapat dengan mudah di interpretasikan. Sebagai contoh, suatu pengertian

mengenai hubungan antara struktur dengan stratigrafi regional mungkin


dihasilkan dari karateristik suatu reservoir.

Gambar. 70 Penampang Geologi Bawah Tanah

Dari keterangan penampang stratigrafi tersebut didapat bahwa :


A.
B.
C.
D.
E.

Menunjukan reef
Menunjukan barrier bar sand
Menunjukan channel sand
Menunjukan onlap sand pinchout trap
Menunjukan truncation trap

Terdapat dua jenis penampang bawah permukaan yang digunakan dalam


interpretasi reservoir minyak bumi.
1. Structural cross sections, menunjukan keadaan geometri struktur geologi pada
suatu area.
2. Stratigraphie cross sections, menunjukkan hubungan suatu geometri dengan
menyesuaikan kedalaman dari suatu unit geologi dengan horizon geologi.

Tipe ketiga dari penampang bawah permukaan disebut balanced cross


section, merupakan suatu kombinasi dari kedua jenis penampang bawah
permukaan diatas. Jenis ini menggambarkan bentuk dari suatu unit geologi
menjadi beberapa bagian yang mengalami perubahan. Hal tersebut dapat dijadikan
suatu kesimpulan tentang hubungan struktur geologi sekarang dengan stratigrafi
masa lampau.
Kegunaan dari penampang bawah permukaan adalah :
1. Dapat menggambarkan suatu formasi bawah permukaan yang ditunjukkan secara
vertikal
2. Berguna dalam bidang hidrokarbon
3. Dapat membantu menganalisis bawah permukaan dalam penentuan suatu
reservoir hidrokarbon
4. Dapat mengetahui keadaan struktur dan stratigrafi
II.2 Penampang Stratigrafi
Penampang stratigrafi menunjukan karateristik dari hasil penghubungan unit
stratigrafi, seperti reservoir batupasir atau caprock dari serpih. Penampang juga
sangat penting dalam mengetahui waktu dari suatu deformasi dengan menunjukan
sedimen yang penutup setelah pembentukan lipatan atau penyempitan suatu
lapisan setelah terbentuk patahan. Bagian dari penampang sayatan berikut akan
terbentuk jika berada pada suatu sequence.
II.3 Penampang Struktur
Penampang struktur bawah permukaan dapat menunjukan bentuk dari suatu
struktur geologi juga dapat dijadikan dasar analisis tentang hubungan antara

kontak fluida dan ruangan pada struktur geologi. Bentuk dari struktur geologi juga
dapat dijadikan suatu informasi yang penting mengenai sejarah pembentukan
reservoir formasi dan migrasi minyak.

III.5. Lapangan Geomorfologi

III.5.1 Latar belakang


Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentang alam atau bentuk
roman muka bumi yang terjadi karena adanya kekuatan- kekuatan yang bekerja
dari luar dan dalam bumi. Uraian bentang alam dalam suatu daerah biasanya
berupa asal usul bentang alam, faktor yang mempengaruhi perkembangannnya,
pengaruh iklim terhadap perkembangan tersebut, proses eksogen yan bekerja dan
tingkat perkembangannya.
Dalam mempelajari geomorfologi baik diperlukan dasar pengetahuan
yang baik dalam bidang klimatologi, geografi, geologi serta sebagian ilmu fisika

dan kimia yang mana berkaitan erat dengan proses dan pembentukan muka bumi.
Secara garis besar proses pembentukan muka bumi menganut azas berkelanjutan
dalam bentuk daur geomorfik (geomorphic cycles), yang meliputi pembentukan
daratan oleh tenaga dari dalam bumi (endogen), proses penghancuran/pelapukan
karena pengaruh luar atau tenaga eksogen, proses pengendapan dari hasil
pengahncuran muka bumi (agradasi), dan kembali terangkat karena tenaga
endogen, demikian seterusnya merupakan siklus geomorfologi yang ada dalam
sekala waktu sangat lama.
Foto udara merupakan foto permukaan bumi (termasuk obyek yang
berada dipermukaannya), yang diperoleh dari pesawat udara, termasuk disini
pesawat terbang, balon dan satelit. Geologi citra penginderaan jauh (remote
sensing geology) adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari geologi dengan
menggunakan citra (image) hasil dari penginderaan jarak jauh (Remote sensing).
Termasuk dalam pengertian ini adalah mempelajari geologi dengan menggunakan
foto udara. Keuntungan menggunakan citra penginderaan jauh dalam bidang
pekerjaan geologi antara lain menghemat biaya, penggunaan waktu secara lebih
efisien, foto udara memberikan pandangan tiga dimensi secara langsung dari
permukaan bumi sehingga memberikan kenampakan yang lebih baik mengenai
kondisi

geologi,

yaitu

mengenai

struktur

geologi,

penyebarab

batuan,

geomorfologi serta tata guna lahan dari suatu daerah penelitian.


III.5.2 Maksud dan tujuan
Maksud

Praktikan mempelajari dan melakukan pengukuran di lapangan

Praktikan mempelajari dan mengetahui keadaan di lapangan

Praktikan mempelajari dan mendeskripsi tentang bentang alam apa


yang ada di lapangan

Praktikan mempelajari dan melakukan titik ketinggian

Tujuan

Praktikan mampu mempelajari litologi dan morfologi daerah


tersebut

Praktikan mampu mempelajari dan melakukan pengukuran titik


ketinggian

III.5.3 Alat Dan bahan :


1. Palu Sedimen
2. Palu Beku
3. Kompas
4. Peta Topografi
5. Pensil Warna
6. Obat obatan dan bekal

III.5.4. Waktu, lokasi dan kesampaian daerah


Waktu kumpul pratikum lapangan : Kumpul di kampus 1 IST AKPRIND
jam 07.00 wib. Pada hari Minggu.

Pemberangkatan pratikum Lapangan : Pukul 07.30 wib menggunakan


Bus. Pariwisata.
Lokasi di : Pantai parangtritis, Bantul, Yogyakarta
Waktu Tempuh : 1 jam
Tiba : Pukul 08.30
Terdapat banyak bentang alam seperti : Karst , Denudasional, Struktural,
Marine dan Aeolion.

III.5.6. Deskripsi setiap LP


LP 1 :
Koordinat: 07 derajat. 5938 LS / 110 derajat.19.39BT
Waktu : 10.10 wib
Morfologi : Gunung Karst dan Bentang Alam Denudasional
Litologi : Cerah Berawan
Vegetasi : Sedang ( Pohon jati, semak belukar )
Slope : 330
Lokasi : Desa Surocolo

N : 240 derajat / E 60 derajat


Deskripsi :
Warna segar

: Abu abu keputihan

Warna Lapuk

: Hitam kekuningan

Struktur

: Oolitis

Tekstur

: Kristalin Karbonat ( CACO3 )

Komposisi Batuan

: Fragmen : - ,

Petrogenesa

Matrik : Pasir,

Semen : Karbonat

: Terbentuk dari hasil sedimentasi fosil dan terjadi pengangkatan

Nama Batuan

: Batugamping

LP 2 :
Koordinat: 08 derajat. 0020 LS / 110 derajat.20 24 BT
Waktu : 13.40 wib
Morfologi : Pegunungan Karst ( Sedimen )
Litologi : Cerah Berawan
Vegetasi : Sedang ( Pohon jati, semak belukar )
Slope : 330
Lokasi : Desa Giri jati

Elevasi : 281 mdpl

Deskripsi :
Warna segar

: Hitam keputihan

Warna Lapuk

: Coklat Keputihan

Struktur

: Kristalin

Tekstur

: Non Klastik

Komposisi Batuan

: Fragmen : - ,

Petrogenesa

Semen : Karbonat

: Terbentuk dari sisa organisme laut dangkal yangmengalami


sedimentasi

Nama Batuan

Matrik : -

: Batugamping

LP 3 :
Koordinat: 08 derajat. 0113 LS / 110 derajat.19 30 BT
Waktu : 15.10 wib

Hari / Tgl : 18 05 - 2014

Morfologi : Bentang alam Eolion ( Batuan beku )


Litologi : Cerah Berawan
Vegetasi : Jarang
Slope : 330
Lokasi : Parang Kusumo

Elevasi : 41 mdpl

Deskripsi :
Warna segar

: Coklat

Warna Lapuk

: Hitam Kecoklatan

Struktur

: Masif

Tekstur

: D. Kristalisasi : Hipokristalin , Granularitas : Fanerik


Bentuk Kristal : Sub Anhedral , Relasi : Equigranural

Komposisi Batuan

: Fragmen : - ,

Matrik : -

Semen : Karbonat

Petrogenesa

: Batuan yan terbentuk di dalam permukaan bumi

Nama Batuan

: Basalt

LP 3 :
Koordinat: 08 derajat. 0104 LS / 110 derajat.19 03 BT
Waktu : 16.35 wib

Hari / Tgl : 18 05 - 2014

Morfologi : Bentang alam Eolion


Litologi : Cerah Berawan
Vegetasi : Sangat Jarang
Slope : 330
Lokasi : Parang Kusumo: Gurun Pasir

Elevasi : 27 mdpl

BAB IV
PENUTUP

XI.1.Kesimpulan
Geomorfologi adalah ilmu yang mendeskripsikan, mendefinisikan, serta
menjabarkan bentuk lahan dan proses-proses yang mengakibatkan terbentuknya
lahan tersebut, serta mencari hubungan antara proses-proses dalam susunan
keruangan.
A. Proses geomorfologi
Proses geomorfik adalah perubahan fisika dan kimia yang memberikan
efek bervariasi pada bentuk roman muka bumi. Proses geomorfik dibedakan
menjadi :
1. Proses eksogenik, prsoses yang bekerja pada permukaan bumi dan
mempengaruhi bentuk bentang alam yang terjadi. Proses ini didedakan
menjadi :
a. Agradasi, proses pembetukan bentuk-bentuk positif atau pngendapan
b. Degradasi, proses pembentukan bentuk negative atau merendahkan
permukaan tanah.
2. Proses endogenik, proses dari dalam bumi meliputi :
a. Diastropisme, proses deformasi besar-besaran dari dalam bumi. Proses ini
dibedakan menjadi:
1) Epigonetik, yaitu pengangkatan dan penurunan kontinen atau
subkontinen,
2) Orogenik, yaitu proses pembentukan pegungungan.

b. Volkanisme, proses naik dan munculnya magma di permukaan bumi.


Bentang alam yang dapat terbentuk oleh proses-proses endogenik antara
lain :

1) Pegunungan lipatan, yaitu pegunungan yang terbentuk karena struktur


lipatan,
2) Pegunungan blok atau patahan, yaitu pegunungan yang terbentuk
karena sesar turun yang banyak,
3) Gunung api, merupakan gunung yang terbentuk karena aktivitas
volkanisme.
3. Proses eksternal, proses yang berasal dari luar angasa
Pelapukan adalah proses yang menyebabkan batuan pecah dan mengalami
perubahan komposisi oleh kegiatan agen-agen asal luar seperti angin, hujan,
perubahan suhu, tumbuhan, dan bakteri. Pelapukan secara garis besar dibedakan
menjadi :
1.

Pelapukan fisik atau mekanik, yaitu perubahan pada batuan yang

menyebabkan perubahan volume atau ukuran tanpa merubah komposisinya,


2. Pelapukan kimia, yaitu perubahan pada batuan yang menyebabkan perubahan
komposisi kimia batuan. Penyebab yang utama adalah air hujan.
Jenis-jenis bentang alam berdasarkan prose-proses yang bekerja di permukaan
bumi baik berasal dari luar maupun dalam bumi,

terdapat beberapa jenis bentang alam, antara lain :


1. Bentang alam Vulkanik, bentang alam yang terbentuk dan dikontrol Oleh
aktivitas gunug api,
2. Bentang alam Struktural, bentang alam terbentuk dan dikontrol yang
diakibatkan adanya proses tektonik,
3. Bentang alam Karst, bentang alam yang terbentuk dan dikontrol

karena

adanya proses pelarutan air,


4. Bentang alam Glasial, bentang alam yang terbentuk dan dikontrol di
daerah salju

5. Bentang alam Marine, bentang alam yang terdapat di daerah pantai,


6. Bentang alam Denudasional, bentang alam yang disebabkan oleh proses
kimiawi dan silica.
XI.2. Saran
Saran dari penulis untuk laboratorium agar lebih meperbanyak buku panduan
praktikum, Dan melengkapi dan memperbanyak alat yang digunakan untuk
praktikum .
-

Kenyamanan Laboratorium Harap dijaga

Sebelum mengajar kepada praktikan, harap antar asisten saling


berkoordinasi, sehinggan memiliki satu pendapat yang sama

DAFTAR PUSTAKA
rafil-petatopografi.blogspot.com/
geoenviron.blogspot.com/2012/04/garis-kontur.html
www.gpsvisualizer.com
pinterdw.blogspot.com/2012/03/klasifikasi-kemiringan-lereng.html
aryadhani.blogspot.com/2009/05/bentang-alam-struktural.html
aryadhani.blogspot.com/2009/05/bentang-alam-vulkanik.html
alam-kars.blogspot.com/
aryadhani.blogspot.com/2009/05/bentang-alam-denudasional.html
ayobelajargeologi.blogspot.com/2013/04/bentang-alam-fluvial.html

enenkq.blogspot.com/2012/06/bentuk-lahan-marine.html
cs426ah.blogspot.com/2011/09/bentang-alam-proses-glasial.html
adityamulawardhani.blogspot.com/2009/02/bentang-alam-eolian.html