Anda di halaman 1dari 12

1.

ORGANISASI KERJA SOSIAL


Menurut Karl Marx: Pekerjaan adalah tindakan manusia yang paling dasar,

dalam pekerjaan manusia membuat dirinya menjadi nyata, pekerjaan merupakan


sarana obyektivisasi diri manusia. Pekerjaan sebagai objek menjadi sarana untuk
mengungkapkan kemampuan dan bakatnya. Manusia bisa mengaktualisasikan dirinya
dalam pekerjaan. Sehingga ketika seorang tidak menghargai atau melecehkan hasil
pekerjaan orang lain maka ia akan merasa dirinya dilecehkan atau direndahkan.
Dalam pandangan Marx apa yang terjadi dalam masyarakat dan sejarah adalah orangorang yang bekerja dengan alat-alat kerja untuk mengolah alam. Di dalam masyarakat
alat-alat kerja, para pekerja dan pengalaman kerja merupakan kekuatan-kekuatan
produksi masyarakat, sedangkan hubungan-hubungan antar pekerja dalam proses
produksi itu merupakan proses-proses produksi. Jika kekuatan-kekuatan produksi
berkembang, maka hubungan-hubungan produksi juga berubah.
Sesuai dengan pemikiran Marx yang khas secara keseluruhan yang berpusat
pada kesenjangan, konflik dan semacamnya, Marx melihat distribusi kekuasan yang
tidak seimbang sebagai akar munculnya konflik kepentingan, marx melihat
kesejajaran anatara keduanya, dimana konflik akan semakin berpeluang terjadi antara
dua kelompok yaitu kelompok mereka yang dominan dan kelompok yang
tersubordinasi.
Dalam menyusun model analisanya, Marx mendasarkan pada premis bahwa
organisasi produksi pada hakekatnya mempengaruhi struktur sosial masyarakat. Marx
menekankan bahwa hal ini bukan sesuatu yang rumit, namun dapat dilihat secara
langsung. Marx secara luas membahas persoalan ini pada berbagai bukunya. Dimana
sifat organsiasi sosial merupakan pokok perhatiannya. Marx menguraikan pola-pola
bagaimana organisasi sosial lahir, bertahan dan berubbah dalam perjalanan waktu,
serta mendapatkan bahwa hal itu berjalan dalam sejara manusia. Marx juga melihat
adanya hubungan antara tingkat teknologi, produktivitas, diferensiasi sosial, ukuran
populasi, tingkat diferensiasi, pemutusan kekuasaan, serta kepercayaan dan norma.
Selanjutnya, dengan semakin tingginya produktivitas dan stratifikasi sosial,
maka semakin kuat kemampuan sistem tersbut untuk mendukung kehidupan populasi
penduduk yang semakin besar. Pada gilirannya, populasi yang besar lalu menekan
kepada kebutuhan untuk semakin meningkatkan produktivitas, serta juga semakin
tegas dan meluasnya stratifikasi sosial. Populasi yang lebih besar dengan derajat
stratifikasi yang juga besar, menyebabkan tercapainya integrasi sosial yang kuat,
setidaknya dalam jangka pendek,. Hal ini terjadi melalui diferensiasi dan konsentrasi

kekuasan, lalu hal ini, menjadikan norma dakam sistem yang dikontrol dan dikuasasi
oleh mereka yang memiliki kekuasaan besar. Mereka menggunakan ini untuk
melegitimasi ketimpangan distribusi sumber daya yang langka.
Frederick Winslow Taylor sering ditetapkan sebagai Bapak Teknik Industri
meskipun seluruh gagasannya sebenarnya tidak asli. Beberapa gagasan terdahulu yang
mempengaruhi lahirnya Teknik Industri adalah The Wealth of Nations karya Adam
Smith, yang dipublikasikan tahun 1776. Aalasan Frederick Taylor dikenal sebagai
bapak teknik industri adalah karena Beliau yang menggagas ide tentang penggunaan
metode ilmiah dalam manajemen untuk meningkatkan keefisiensian dalam bekerja.
Sedangkan Frank Gilberth lah yang mengembangkan dasar dasar dari penelitian
Frederick Taylor. Frank Gilbreth bersama istirnya mengembangkan teknik untuk
menyederhanakan pekerjaan serta psikologi industri berdasarkan teori Frederick
Taylor.
Ilmu Manajemen (Scientific Management) merupakan peninggalan taylor yang
paling terkenal. Ilmu Manajemen adalah ide tentang penggunaan metode ilmiah
dalam manajemen. Ide ini muncul ketika taylor merasa kurang puas dengan
ketidakefisienan pekerja di perusahaannya. Ketidakefisienan itu muncul karena para
pekerjanya menggunakan cara kerja yang berbeda untuk pekerjaan yang sama.
Sehingga bisa dikatakan bahwa tidak ada standar kerja ataupun SOP disana. Selain
alasan tersebut, para pekerjanya cenderung menyepelekan pekerjaan yang
dikerjakannya. Taylor memperkirakan bahwa hasil yang dicapai oleh pekerjanya
hanya sepertiga dari yang seharusnya bisa mereka capai. Kemudian, selama 20 tahun
Taylor berusaha keras meneliti, dan mempelajari keadaan tersebut. setelah meneliti
dan mempelajari keadaan yang terjadi, Taylor mulai mengoreksi keadaan tersebut
dengan menerapkan metode-metode ilmiah dan diharapkan akan diperoleh sebuah
teknik terbaik dalam menyelesaikan tiap-tiap pekerjaan.
Berdasarkan pengalamannya, Taylor membuat sebuah pedoman yang jelas
tentang bagaimana cara meningkatkan efisiensi produksi dari suatu perusahaan. yaitu:
Mengganti metode kerja yang bersifat untung-untungan dengan metode yang
berdasarkan studi ilmiah terhadap sebuah pekerjaan, Secara ilmiah, pilihlah kemudian
latihlah, dan kembangkan kemampuan pekerja tersebut. Berikan instruksi secara
detail dan pandangan mengenai pekerjaan tersebut kepada setiap pekerja, sehingga
diperoleh hasil pekerjaan yang sesuai dengan yang diinginkan dan sesuai dengan
ilmu-ilmu yang telah dikembangkan. Bagilah pekerjaan dan tanggung jawab secara
merata antara manajemen dan pekerja agar para pekerja dapat menjalankan rencana

kerja sesuai dengan prinsip ilmu manajemen yang telah ditetapkan. Pedoman ini
mengubah drastis pola pikir manajemen pada saat itu. Jika sebelumnya pekerja
memilih sendiri pekerjaan mereka dan melatih diri semampu mereka, Taylor
mengusulkan seorang manajer lah yang seharusnya memilihkan pekerjaan dan
melatih pekerjanya. Manajer juga disarankan untuk mengambil alih pekerjaan yang
tidak sesuai dengan pekerja, terutama bagian perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, dan pengontrolan. Hal ini berbeda dengan pemikiran sebelumnya di
mana pekerjalah yang memilih sendiri pekerjaannya.
Alasan Rule of thumb method digantikan oleh Scientific Method adalah
dibutuhkannya metode yang lebih efisien dalam mengelola suatu industri. Hal ini
disebabkan oleh revolusi industri pada awal abad ke-19 yang menuntut peningkatan
produktivitas dan efisiensi dari suatu industri. Rule of thumb dianggap kurang akurat
untuk digunakan sebagai prinsip dasar dalam mengelola industri di masa depan
karena tidak mencakup seluruh bidang dalam industri secara mendetail. Sedangkan
Scientific Method mampu menyediakan pengaplikasian mengenai manajemen waktu,
perancangan, pengukuran, perencanaan, pengendalian kerja, organisasi, dan
manajemen sumber daya serta pekerja.
Prinsip manajemen ilmiah diciptakan taylor berdasarkan hasil riset terapan
dari kegiatan jasa konsultan manajemen yang dilakukannya di beberapa pabrik.
Prinsip kerja mekanistis dan system birokrasi ini dikecam karena menghasilkan pola
kerja yang lamban, mirip sistem kerja paksa atau perbudakan dengan pengawasan
ketat terhadap pola spesialisasi. Hal ini mungkin disebabkan oleh perubahan social
dan mingkatnya kesadaran hak-hak buruh dan demokratisasi. Penerapan manajemen
ilmiah ini perlu dikaji secara teoritik, dan hal ini merupakan solusi untuk
memecahkan masalah dari kapitalisme menuju komunisme, kritik atas prinsip ini
dating dari para pemikiran marxisme karena bermunculan pemikiranmanajemen
dengan menekannkan aspek manusia seperti aspek psikologis dan budaya.
Kapitalisme monopoli dalam satu hal berarti pengendalian terhadap satu atau
sedikit kapitalis terhadap sektor ekonomi tertentu. Jelas dalam kapitalisme monopoli
kompetisi jauh lebih sedikit ketimbang dalam kapitalisme kompetitif. Dalam
kapitalisme kompetitif organisasi bersaing atas dasar harga, artinya kapitalis berusaha
untuk menjual barang lebih banyak dengan menawarkan harga lebih rendah. Dalam
kapitalis monopolis perusahaan tidak lagi bersaing dengan cara seperti itu karean satu
atau beberapa perusahaan mengendalikan pasar. Untuk mengembangkan analisis
Marx, Braverman menyatakan bahwa konsep kelas buruh tidak mendeskripsikan

orang atau kelompok pekerja tertentu, tetapi lebih merupakan sebuah pernyataan
tentang proses pembelian dan penjualan tenaga kerja. Dilihat dari hal itu, Braverman
menyatakan bahwa dalam kapitalisme modern sebenarnya tidak seorang pun di antara
tenaga kerja itu memiliki alat produksi , karena itu segolongan besar orang, termasuk
pekerja kantoran dan pelayan terpaksa menjual tenaga mereka kepada segolongan
kecil yang memiliki produksi.
Braverman mengakui adanya eksploitasi ekonomi yang menjadi sasaran
perhatian Marx, tetapi ia menekankan perhatian pada masa pengendalian. Cara
kapitalis mengendalikan tenaga kerja yang mereka kerjakan yakni dengan melalui
manajer. Braverman mendefinisikan manajemen merupakan proses memimpin tenaga
kerja yang bertujuan mengendalikannya di dalam perusahaan. Braverman
memusatkan perhatian pada cara-cara yang lebih bersifat impersonal yang digunakan
manajer untuk mengndalikan tenaga kerja. Braverman bahas karya Taylor mengenai
manajemen ilmiah merupakan cara terbaik untuk mengendalikan tenaga kerja yang
teralienasi. Manajemen menggunakan monopolinya terhadap pekerjaan yang
berkenaan dengan pengetahuan untuk mengontrol setiap langkah proses pekerjaan.
Akhirnya, pekerja itu sendiri dibiarkan tanpa keterampilan isi atau pengetahuan yang
bermakna; keterampilan dan keahlian dihancurkan sama sekali.Braverman pun
melihat mesin sebagai alat kontrol terhadap pekerja. Mesin modern tercipta ketika
peralatan dan atau pekerjaan cenderung diatur gerakannya oleh struktur mesin itu
sendiri
Pemanfaatan spesialisasi untuk mengendalikan tenaga kerja. Spesialisasi di
tempat kerja meliputi pembagian tugas atau operasi menjadi bagian-bagian kecil dan
sangat terspesialisasi, yang tiap bagian diserahkan kepada pekerja yang berlainan.
Spesialisasi bukanlah alat kontrol memadai yang dapat digunakan kapitalis dan
manajer. Alat kontrol penting lainnya adalah teknik ilmiah, termasuk upaya seperti
manajemen ilmiah. Manajemen ilmiah ditemukan dalam sederetan tahapan yang
bertujuan mengendalikan tenaga kerja sebagai berikut: mengumpulkan sejumlah
pekerja dalam satu ruangan kerja, menetapkan lamanya hari kerja dan jam kerja,
mengawasi pekerjaan mereka, melakasanakan peraturan terhadap peraturan dan
menetapkan produksi minimal yang dapat dierima.
Dalam kapitalisme kompetitif abad 19 digunakan kontrol sederhana di mana
para atasan menggunakan kekuasan secara pribadi, ikut campur tangan dalam proses

kerja sering dengan cara yang memaksa pekerja, menggeretak dan mengancam
pekerja, memberi hadiah atas pelaksanaan pekerja yang baik, mengangkat dan
memecat dengna segera, menyayangi pekerja yang setia dan lainnya. Pekerja modern
dapat di kontrol dengan teknologi yang digunakan ditempat kerja. Selain itu pekerja
modern juga di kontrol dengan birokrasi yang lebih bersifat impersonal ketimbang di
kontrol secara personal oleh pengawas. Kapitalisme terus berubah dan bersamaan
dengan itu mengubah cara pengotrolan pekerja.
2.

PROSES KERJA DAN PENGALAMAN AKUNTAN


Perspektif interaksionis mencakup berbagai cara untuk memahami dunia sosial

sebaliknya dapat dikatakan dari perspektif proses kerja. Marx dan Braverman
berkomitmen untuk tugas radikal membentuk kembali kerja dan masyarakat. Ini yang
mereka percaya mungkin di bangun dari transformasi sebuah perintah sosialis
alternatif. Diantara pengetahuan yang perspektif proses kerja yang dituntut pada
akuntansi keuangan adalah menyoroti bagaimana berkontribusi untuk subordinasi
kelembagaan tenaga kerja, bagaimana bahasa yang melayani dan melegitimasi
kepentingan sectional, dan cara-cara yang seperti bentuk lain dari kontrol manajemen
itu telah dibentuk terutama untuk memenuhi kepentingan modal (Hopper et al., 1987:
446). Taylorisme mengandalkan pada kombinasi dari ketiganya, perjalanan waktu
telah melihat munculnya dominasi kontrol akuntansi dan para akuntan yang
mempekerjakan mereka (terhadap kepentingan kelas pekerja). Baru-baru ini Wardell
& Weisenfeld (1988) telah memberikan bukti dalam kasus AS bahwa kemunculan dan
praktek akuntansi manajemen harus dilihat sebagai terkait erat dengan perjuangan
kelas.
Diantara tema yang Hopper et. al. di tahun 1986, proses kerja informasi
mereka menginterpretasi kemballi kasus NCB adalah pentingnya hubungan kelas
untuk memahami akuntansi dan pengendalian keuangan dalam proses kerja. Dalam
kata-kata sendiri kontrol dari kontroler yang bermasalah. Setelah sebelumnya
menunjukkan adanya divisi utama dalam apa yang biasanya disebut manajemen NCB
dan mekanisme lose coupling kontrol manajemen, Hopper et. al. kembali ke data
untuk melihat bagaimana manajemen atas NCB kita gunakan pengaturan ini untuk
mengelola eselon rendah manajemen. Perhatian tertarik pada kompleksitas dari sistem
kontrol yang telah dibangun dan cara di mana informasi keuangan juga berfungsi
untuk mengelola proses kerja manajerial. Hal ini menyebabkan mereka untuk

menyimpulkan bahwa jelas ada kebutuhan mendesak untuk melakukan penelitian


lebih lanjut tentang posisi profesional akuntansi dalam struktur kelas kontemporer.
Mengadopsi perspektif proses kerja adalah pendekatan berpotensi subur
(bermanfaat) terutama ketika diartikulasikan dengan metodologi studi kasus. Konsep
proses padat memberikan 'teori' yang bahan kasus dan analisis yang berfungsi untuk
memberikan informasi. Teori ini tidak berkembang dari studi seperti dalam
interaksionisme karena sudah berada di tempatnya. Ini juga merupakan masalah
utama dari perspektif proses kerja. Di tangan para pendukungnya lebih berkomitmen
itu adalah perspektif tanpa malu-malu parsial pada pekerjaan dan organisasi.
Perspektif proses kerja berangkat dari pemikiran bahwa dalam sebuah karya
masyarakat kapitalis dan pekerjaan, hubungan organisasi dan industri semua
berbentuk dan terstruktur untuk melayani kepentingan kelas kapitalis.
3.

TEKNOLOGI INFORMASI YANG MENJANJIKAN


Sejauh ini hanya sedikit yang telah mengatakan tentang efek-efek bahwa

teknologi informasi telah memiliki dan menjanjikan untuk memiliki pada pekerjaan
akuntan profesional. Mengingat kurangnya literatur saat ini tersedia pada
pengalaman- pengalaman kerja akuntan ini tidak mengejutkan. Namun (Brandenberg,
1987) menyatakan bahwa bahwa munculnya komputer memiliki pengaruh positif
pada orang-orang yang secara profesional memenuhi syarat. ACCA antusias mengenai
konsekuensi/akibat-akibat umum dari adanya teknologi informasi untuk akuntanakuntan profesional dalam penelitian lebih jauh telah membawa hubungan pada
departemen perindustrian (Carr,1985). CIMA pada bagiannya telah mendesak
anggota-anggota untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi infomasi
dimanapun, dan mempercayainya sebagai sebuah pembangunan yang hanya dapat
memperluas kontribusi dari akuntansi manajemen di tahun 1990-an. sosiologi industri
memiliki literatur yang banyak terhadap konsekuensi dari kemajuan teknologi untuk
peningkatan pengalaman kerja. Sebagian besar menyimpulkan bahwa semua pihak
harus berhati-hati tentang manfaat yang bisa diperoleh dari teknologi baru dan harus
mempertimbangkan perubahan yang lebih besar.
Dalam seminal monografi Robert Blauner Alienation and Freedom yang
asal/asli dan perkembangan dari seminal monografi Robert Blauner Alienation and
Freedom (1964). Pada saat itu para sosiolog industri sedang dalam proses
mengintegrasikan pemikiran-pemikiran dari sosiolog klasik, termasuk Marx, Weber

dan Durkheim, dengan penelitian empiris dan sejarah mereka sendiri. Blauner tertarik
pada catatan Marx tentang tenaga kerja terasing dan gagasan bahwa organisasi kerja
kapital sosial telah menghasilkan situasi umum pekerja 'Unfreedom'(tidak bebas).
Dalam hal ini Blauner percaya bahwa perkembangan teknologi seiring zaman akan
menjanjikan tren yang berbanding terbalik pada peningkatan keterasingan dan untuk
pekerjabebas/'free'workersdari pengalaman kerja negatif mereka. Pandangan yang
dibentuk dari hasil studi di industri kimia AS yang pada saat itu telah membawa
transformasi arus berbasis komputer atau proses sistem teknologi yang menyebar
cepat. Bentuk-bentuk ekstrim keterasingan terkait pada jalur teknologi perakitan yang
secara sederhana tidak terbukti pengaturan- pengaturan teknologi baru. Pekerja
ditantang oleh permintaan menuntut mereka sesuai perkembangan-perkembangan itu.
Mereka

sekarang

dipanggil

untuk

belajar

keterampilan

baru,

menerapkan

kebijaksanaan, bertanggung jawab, dll. Sebagai hasilnya keterasingan mereka yang


pada meningkat dengan bentuk teknologi sekarang menjadi menurun. Pada masa
depan Blauner menyatakan bahwa para pekerja dapat melihat lebih jauh dalam
mengurangi keterasingan dan lebih bebas. Bukan kapitalisme yang memperbudak
mereka begitu banyak seperti teknologi yang telah dikembangkan di abad
sebelumnya. Semua ini adalah sekarang untuk mengubah tanpa perlu langkah-langkah
ekstrim yang sebelumnya dianjurkan oleh Marx.
Pada masa yang sama Joan Woodward (1965) kedatangan teknologi baru
mengisyaratkan perlunya manajemen untuk memikirkan kembali pandangan mereka
tentang pengawasan. Hal ini diperlukan untuk merancang pekerjaan dengan konsepsi
terpadu dan pelaksanaan, pekerjaan yang mendorong pekerja lebih produktif dalam
proses produksi daripada umumnya terjadi. Joan Woodward berpendapat bahwa lebih
banyak perusahaan yang berhasil menggunakan teknologi baru ini adalah mereka
yang telah mengadopsi struktur organisasi yang konsisten dan strategi manajemen,
Penelitian ini kemudian menginformasikan perkembangan perspektif kontingensi
organisasi dan teori manajemen. Dalam konteks mengenai efek teknologi baru pada
pengalaman kerja pandangan Woodward dan pandangan Blauner memiliki perbedaan
yaitu adalah bahwa pada akhirnya tidak mengakui manajemen sebagai kekuatan
intervensi penting.
Penelitian industri kimia Wedderburn & Crompton (1972) menyimpulkan
bahwa teknologi baru yang semakin jelas pasti tidak menawarkan kesempatan
kepuasan kerja yang lebih besar dan peningkatan pengalaman kerja. Tapi ini tidak

dimiliki oleh semua orang di pabrik, hanyamereka yang mengooperasikan teknologi


dan biasanya berada di minoritas. Seiring berjalannya waktu kemungkinan melihat
aplikasi yang lebih luas tetapi untuk saat ini hal yang menjanjikan dari teknologi ini
kurang universal dan konsekuensi manfaatnya menguntungkan terbatas padaminoritas
karyawan. Dalam sebuah studi tentang pengenalan teknologi ekstrusi baru di sebuah
serat tanaman buatan manusia, Cotgrove dan rekan-rekannya melaporkan bahwa
tenaga kerja yang awalnya lebih puas dengan peran pekerjaan diperkaya dengan
konten pengambilan keputusan yang lebih besar dan peningkatan kontrol (Cotgrove,
Dunham & Vamplew, 1971).
Penelitian Nichols dan Beynon dalam Hidup Dengan Kapitalisme (1977).
Penelitian mereka yang lagi dalam industri kimia dan melibatkan mereka dalam
pengamatan intensif selama beberapa tahun. Ini memungkinkan mereka untuk hidup
dengan tenaga kerja yang dalam kata-kata mereka hidup dengan kapitalisme.
Kesimpulan umum dari penelitian ini adalah bahwa penyusunan pekerjaan baru
sangat diakui oleh perusahaan itu sedikit atau tidak untuk memperbaiki kondisi tenaga
kerja dan dalam sejumlah hal lebih lanjut telah mengakibatkan kemerosotan yang
parah. Di antara fitur negatif baru diidentifikasi adalah konsekuensi fisiologis dalam
bekerja yang disebut sistem shift kontinental, sejauh mana individu diharuskan untuk
bekerja di isolasi dari sesama pekerja dan pernah terjadi bencana takut hadir di mana
dalam prakteknya hanya ada sedikit kontrol. Nichols dan Beynon juga membahas sifat
anti-sosial praktek kerja tersebut dan cara perusahaan yang menggunakan insentif
keuangan untuk lebih menurunkan karyawan mereka (lNichols & Armstrong, 1976).
Referensi sebelumnya dibuat untuk kritik Cooley dari penyebaran dibantu
komputer teknologi desain. Dia tidak akan pernah menyangkal bahwa banyak
insinyur telah ditemukan bekerja dengan teknologi ini menarik dan dalam banyak hal
ia melihat mereka berpotensi bermanfaat bagi masyarakat. Dia lebih menekankan cara
di mana dalam banyak kasus mereka telah menggunakan insinyur desain dengan
keterampilan kurang , untuk mengendalikan mereka atau untuk menggantinya dengan
staf teknisi yang agak mahal (Cooley, 1976, 1981). Hal ini sepenuhnya konsisten
dengan lihat Woodward bahwa manajemen memainkan peran utama dalam
menentukan bagaimana teknologi digunakan. Beberapa lebih jauh dan mengatakan
bahwa tidak hanya manajemen dalam posisi untuk menentukan cara tertentu di mana
teknologi tertentu dipekerjakan, mereka benar-benar dalam situasi untuk dapat
merancang teknologi yang sesuai dengan minat dan tujuan mereka sendiri (Mackenzie

& Wajcman, 1985). Catatan Jones & Crompton (1984) pengenalan komputerisasi
dalam pekerjaan klerikal juga menunjukkan bahwa banyak dalam manajemen telah
cepat untuk mengakui keunggulan itu bisa untuk mereka. komputer telah digunakan
untuk mengurangi keahlian dan mengontrol banyak jenis pekerjaan klerikal. Misalnya
sistem pengumpulan komputerisasi telah diperkenalkan ke dalam penggajian dan
rekening departemen dengan hasil yang banyak tenaga kerja ulama sekarang terdiri
dari hanya mempersiapkan informasi untuk di masukan ke komputer, hal ini dapat
meningkatka permintaan sehingga mengurangi permintaan dan meningkatkan kontrol
manajemen saja pada usaha kerja. Dengan cari ini gender dan technologi disajikan
sebagai dua proses kerja yang saling berhubungan.
Cara lain untuk mendekati masalah ini adalah untuk mempertimbangkan
mekanisme untuk memperkenalkan teknologi informasi ke dalam pekerjaan akuntansi
profesional. Bagi mereka yang terlibat dalam operasi skala kecil mungkin akan ada
kesempatan untuk berpartisipasi dalam memilih sistem dan paket untuk diadopsi.
Dalam beberapa kasus akuntan akan menjadi satu-satunya anggota dari tim
manajemen yang memiliki pengetahuan rinci tentang teknologi tersedia. Akibatnya
mereka berada dalam posisi yang kuat untuk menentukan kebijakan informasi
teknologi dan lebih umum. Situasi ini tidak, bagaimanapun, khas kontemporer profesi
yang melihat mayoritas akuntan profesional yang berkualitas dipekerjakan di
perusahaan besar. Berikut kebijakan teknologi ditentukan oleh manajemen senior dan
kemudian diteruskan ke seluruh angkatan kerja. Hanya staf akuntansi senior yangakan
berpartisipasi dalam proses kebijakan secara teratur. Pada kesempatan mereka dapat
berkonsultasi dengan bawahan mereka dan sementara dalam teori yang terakhir
mungkin latihan beberapa pengaruh, diakhirnya mereka tidak akan membuat
keputusan apapun. Hasilnya adalah bahwa dalam kebanyakan kasus informasi
Teknologi dikenakan pada mereka yang akan mengalami dampaknya. Lewat sini tidak
ada perbedaan yang signifikan antara memperkenalkan informasi atau memang baru
teknologi ke dalam proses kerja manual atau satu profesional. Yang berlaku sosial
organisasi kerja memastikan ini.
4.

AKUNTAN DAN MANAJEMEN


Perdebatan saat ini adalah mempertanyakan apakah akuntan adalah bagian dari

manajemen, dari paragraf sebelumnya, pada paragraf sebelumnya keterkaitan yang


jelas adalah bahwa akuntan tidak dianggap sebagai manajemen karna perubahan

teknologi yang berdampak pada mereka. Disisi lain senior akuntansi yang
berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang benar, ini dipandang sebagai
manajemen. Dimana ada gagasan bahwa ada bagian yang signifikan antara akuntan
dan akuntan mengelola secara tersirat. Akuntan terlibat dalam tugas mengatur dan
mengelola hasil dari rekan bawahanya seperti halnya manajer kantor mengatur dan
mengelola rekan pekerjaan pekerja kantor atau manajer produksi mengatur dan
mengelola pekerja bawahanya di pabrik.
Ini adalah hal mendasar yang nyata dari organisasi sosial kerja yang ada pada
saat ini. Walaupun berbeda secara analisis antara tugas organisasi dan manajemen,
tapi dalam prakteknya keduanya saling melengkapi. Hal ini dijelaskan oleh (Fayol,
1949)

mengidentifikasi

lima

unsur

pekerjaan

manajerial:

perencanaan,

pengorganisasian, memimpin, mengkoordinasikan dan kontrol. Dalam rangka untuk


mulai menyelesaikan pertanyaan apakah akuntan benar dikategorikan sebagai
manajemen perlu untuk memahami hubungan yang ada antara unsur-unsur kerja
manajerial atau fungsi dari manajer dan apa yang biasanya disebut fungsi manajemen.
Dalam bab akuntansi sebelumnya dan keuangan digambarkan sebagai salah satu
fungsi manajemen kontemporer, bersama dengan orang lain termasuk penelitian,
desain dan pengembangan, pemasaran, personalia, dll.
Pada saat ini berbagai fungsi manajemen dalam organisasi yang cukup besar
dilakukan oleh pasukan karyawan. Ketika skala operasi jauh lebih kecil adalah
mungkin bagi pemilik untuk melaksanakan pekerjaan semacam ini dengan bantuan
dari beberapa pegawai. Sebagai skala operasi dan kebutuhan untuk mencurahkan
lebih banyak perhatian pada keberhasilan kinerja dari karya ini meningkat, angka
yang terlibat di dalamnya tumbuh. Seiring waktu ada juga telah munculnya fungsi
khusus, yang dalam beberapa bagian telah memberikan kontribusi terhadap
pertumbuhan skala fungsi manajemen. Kebijaksanaan yang diterima dari organisasi
dan manajemen kontemporer adalah bahwa perlu untuk mempekerjakan sejumlah
besar karyawan di fungsi-fungsi ini.
Tenaga kerja terdiri dari unsur-unsur profesional dan non-profesional dan
biasanya termasuk akuntan dalam jumlah yang, bersama-sama dengan pegawai,
teknisi dan berbagai kelompok profesional lainnya. Ini juga mencakup berbagai staf
pengawas yang terlibat untuk mengawasi operasi: misalnya, menggeser mandor dan
pengawas produksi di industri manufaktur, atau dalam kasus perusahaan komersial,
manajer kantor. Goldthorpe & Lockwood (1963) menyatakan bahwa secara teknis

semua karyawan adalah semua yang ditunjuk oleh manajemen. Disini menraik
perhatian dari pandangan lama yang jelas bahwa mereka bukan dari manajemen,
tetapi mereka bagian mereka sendiri para pekerja manual Bagi jajaran mereka tumbuh
dari 'pekerja makmur' menjadi semakin tidak bisa dibedakan dari mayoritas pekerja
administrasi pada berbagai indikator. Hari ini sangat sedikit orang akan serius
berpendapat bahwa ada perbedaan yang signifikan antara massa pekerja manual dan
klerikal namun sebagian besar masih akan menolak gagasan bahwa banyak dari
akuntan profesional yang berkualitas bekerja di organisasi besar tidak harus
dikategorikan sebagai manajemen.
Sementara manajemen operasi tentunya merupakan salah satu fungsi
manajemen bersama dengan akuntansi dan keuangan atau pemasaran, sangat berbeda
dengan orang lain dengan cara yang sangat penting. Perbedaan ini ditangkap dalam
literatur ilmu manajemen oleh perbedaan antara staf dan fungsi lini (Stewart, 1967).
Mereka mandor produksi, pengawas dan manajer yang bekerja untuk mengatur dan
mengelola produksi manajer lini seperti rekan-rekan mereka di perusahaan asuransi
atau departemen pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengatur dan mengelola
sehari-hari bekerja dari usaha mereka. Mereka terlibat langsung dalam mencapai
tujuan utama masing-masing organisasi. Sebaliknya para akuntan yang dapat
digunakan dalam fungsi akuntansi dan keuangan, mungkin di situs yang sama, terlibat
dalam staf fungsi yang tujuan utamanya adalah untuk menyediakan berbagai layanan
untuk mereka yang bertanggung jawab untuk manajemen lini cara ini adalah mungkin
untuk berbicara dalam hal ada menjadi fungsi manajemen lini di mana penekanannya
adalah pada kinerja fungsi manajemen benar dipahami. Hal ini sangat berbeda dengan
kasus fungsi staf manajemen di mana penekanannya adalah pada kinerja beberapa
bagian tertentu dari tugas nonoperational organisasi. Pada dasarnya keduanya
memiliki fungsi yang berbeda, Kedua jenis fungsi melibatkan kegiatan sepenuhnya
melengkapi dan kinerja yang efektif dari kedua merupakan prasyarat untuk operasi
yang sukses. Ini adalah salah satu tantangan dari manajemen eksekutif yang mampu
menyatukan garis dan staf manajemen fungsi dalam berhasil mencapai tujuan yang
telah ditetapkan untuk organisasi. . Dalam fungsi manajemen lini adanya rantai
komando adalah secara nyata diketahui, ini adalah pengaturan ini yang menimbulkan
istilah itu sendiri garis komando.
Puxty (1986) menarik perhatian pada hubungan fungsional yang ada antara
dua departemen dalam suatu organisasi dimana anggota satu memiliki kewenangan

fungsional terhadap anggota yang lain. Dia menawarkan sebagai contoh kasus
akuntan manajemen di perusahaan manufaktur yang meminta bahwa manajer lini
menyimpan catatan biaya untuk keperluan analisis biaya. Walaupun produksi adalah
tujuan utama organisasi, manajemen lini biasanya akan menerima permintaan tersebut
untuk kepentingan lebih efektif dalam mencapai tujuan organisasi.
Akuntan menjalankan kewenanganfungsional sebagai petugas dalam fungsi
produksi, tidak bertindak seperti manager, tetapi sebagai karyawan yang diberikan
hak dengan otoritas ini berdasarkan fakta menjadi bagian dari fungsi akuntansi dan
keuangan. Permintaan tersebut dibuat atas nama orang-orang yang mengelola fungsi
akuntansi dan keuangan. adanya pembagian kerja sosial dan tetap menghormati
manajemen, akuntan tidak memiliki kebebasan dalam melakukan permintaan,
sehingga akuntan tidak harus dibedakan sebagai kelompok kerja dipandang dari
asumsi peran yang sangat penting dalam pengelolaan oragnisasi besar. Sehingga dapat
disimpukan bahwa akuntan adalah bagian dari manajemen.