Anda di halaman 1dari 28

GIZI IBU HAMIL

1. KONSEP KEHAMILAN
Hamil didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan
dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi
atau implantasi. Implantasi adalah tahap yang sangat awal
kehamilan selama embrio melekat pada dinding rahim.
Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan
janin intra uteri mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai
permulaan persalinan.
Proses

kehamilan

merupakan

mata

rantai

yang

berkesinambungan dan terdiri dari:


Ovulasi
Migrasi spermatozoa dan ovum
Konsepsi dan pertumbuhan zigot
Nidasi (implantasi) pada uterus
Pembentukan plasenta
Tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm
2. Fisiologi Kehamilan
Kehamilan

akan

memicu

perubahan

baik

secara

anatomis, fisiologis, maupun biokimia. Adanya perubahan


tersebut akan sangat mempengaruhi kebutuhan gizi ibu
hamil yang bertujuan untuk memaksimalkan pertumbuhan
dan perkembangan janin. Berikut ini beberapa perubahan
yang terjadi pada ibu hamil yang secara langsung ataupun
tidak langsung akan mempengaruhi kebutuhan gizi ibu :
a. Sistem Endrokin
Plasenta menghasilkan berbagai hormon yang sangat
penting untuk kesinambungan kehamilan itu sendiri.
Hormon yang dihasilkan terdiri dari human chorionic
gonadotropin (hCG), human plasental lactogen (hPL),
human chorionic thyroptropin, estrogen, progesteron.
Peningkatan produksi estrogen akan mempengaruhi
pembesaran uterus, buah dada, dan organ genital,
retensi
natrium,

cairan

yang

perubahan

persendian,

penurunan

menyebabkan
deposisi
produksi

pertambahan

lemak,
HCl

relaksasi

dan

pepsin

lambung serta berpengaruh pada fungsi kelenjar tiroid

serta mengganggu metabolisme asam folat. Hormon


progesteron

akan

memacu

endometrium,

penumpukan

pertumbuhan

sel

lemak,

retensi

natrium, menurunkan motilitas saluran cerna dan


tonus otot dan menurunkan kontraksi rahim. Kelenjar
endokrin seperti halnya kelenjar hipofise dan tiroid
membesar

sedikit,

basal

metabolism

meningkat.

Paratiroid membesar sehingga akan meningkatkan


kebutuhan kalsium dan vitamin D.
b. Saluran pencernaan
Penambahan hormon estrogen menyebabkan sekresi
air ludah bertambah dan sifatnya menjadi lebih asam.
Hal ini relatif sering menimbulkan kerusakan gigi
(berlubang) sewaktu hamil. Ibu hamil juga mengalami
perubahan metabolisme glukosa

untuk

menjamin

kebutuhan glukosa bagi janin. Keadaan ini berpotensi


mengakibatkan
Human

terjadinya

plasental

lactogen

diabetes
(hPL)

kehamilan.
menyebabkan

terjadinya lipolisis serta meningkatkan kadar asam


lemak bebas di dalam plasma untuk penyiapan
sumber energi pengganti bagi ibu. Hormon ini juga
mengganggu kerja insulin, sehingga kebutuhan insulin
akan

meningkat.

Ibu

hamil

yang

tidak

mampu

memenuhi kebutuhan insulin yang meningkat tersebut


akan

menyebabkan

kehamilan.

ibu

Peningkatan

mengalami
hormon

diabetes

progesteron

mengakibatkan motilitas saluran cerna berkurang dan


transit makanan menjadi lebih panjang sehingga lebih
banyak air terserap sehingga terjadi sembelit atau
konstipasi.
c. Ginjal dan saluran kemih
Terdapat perubahan fungsi ginjal yang diakibatkan
oleh Adreno cortico tropic hormon (ACTH), Anti
diuretic hormon (ADH), kortisol, dan aldosteron. Piala
ginjal melebar sampai 60 cc, sedangkan bila tidak
hamil 10 cc. Panjang dan berat ginjal bertambah 1-1,5

cm. Glomerular filtration rate (GFR) meningkat sampai


50%. Aliran plasma ginjal meningkat sampai 25- 50%.
Peningkatan GFR terkadang tidak dibarengi dengan
kemampuan tubulus menyerap glukosa yang tersaring
sehingga mengakibatkan glukosuria. Hal ini harus
dipantau untuk mendeteksi adanya tanda awal dari
diabetes kehamilan.
d. Sistem kardiovaskular
Pembesaran uterus akan menekan pembuluh darah
panggul dan paha sehingga aliran darah balik akan
terganggu dan darah akan mengumpul pada tungkai
bawah, pada posisi tidur uterus akan menekan vena
cava sehingga akan mengurangi suplai darah ke
atrium.

Dampaknya

adalah

terjadi

hipotensi.

Perubahan yang nampak mencolok adalah kenaikan


volume plasma sampai dengan 50% dengan diikuti
peningkatan hemoglobin sampai dengan 20% yang
meningkat pada trimester II dan mencapai puncaknya
pada pertengahan trimester ke II. Kadar hemoglobin
dan besi menurun oleh karena adanya hemodilusi.
e. Hati
Alkaline fosfatase serum meningkat dua kali lipat hal
ini diduga akibat penambahan isoenzim alkaline
fosfotase plasenta. Kadar albumin menurun lebih
banyak dari pada globulin. Sehingga rasio albumin
globulin juga menurun tajam. Waktu pengosongan
cairan empedu lebih pendek, cairan lebih kental dan
terkadang terjadi statis sehingga berisiko terjadi batu
empedu.
3. Pengaruh Gizi pada Kehamilan
Keadaan

gizi

ibu

sebelum

dan

selama

hamil

mempengaruhi status gizi ibu dan bayi. Pertumbuhan dan


perkembangan janin sangat dipengaruhi oleh asupan gizi
ibu, karena kebutuhan gizi janin berasal dari ibu. Berbagai

resiko

dapat

terjadi

jika

ibu

mengalami

kurang

gizi,

diantaranya adalah:

Perdarahan
Abortus
bayi lahir mati,
bayi lahir dengan berat rendah,
kelainan kongenital,
retardasi mental,
dan lain sebagainya.

Penelitian yang dilakukan terhadap 216 wanita hamil


di sebuah klinik di Boston menunjukkan bahwa ibu hamil
dengan gizi kurang dan buruk dapat melahirkan bayi
dengan kondisi fisik kurang, beberapa bayi lahir mati,
meninggal setelah beberapa hari lahir, dan sebagian besar
lahir dengan cacat bawaan.
Perempuan yang mengalami kekurangan gizi sebelum
hamil atau selama minggu pertama kehamilan memiliki
resiko

lebih

tinggi

melahirkan

bayi

yang

mengalami

kerusakan otak dan sumsum tulang karena pembentukan


sistem saraf sangat peka pada 2-5 minggu pertama. Ketika
seorang

perempuan

mengalami

kekurangan

gizi

pada

trimester terlahir maka cenderung melahirkan bayi dengan


berat badan lebih rendah (kurang dari 2500 gram), hal ini
disebabkan pada masa ini janin akan tumbuh dengan
sangat cepat dan terjadi penimbunan jaringan lemak.
4. Pemantauan Status Gizi Ibu Selama Hamil
Pemantauan status gizi ibu hamil dapat dilakukan
dengan

melihat

penambahan

berat

badan

selama

kehamilan. Kenaikan berat badan bisa dijadikan indikator


kesehatan ibu dan juga janinnya. Laju pertambahan berat
badan selama kehamilan merupakan petunjuk yang sama
pentingnya dengan pertambahan berat itu sendiri. Oleh
karena

itu

sebaiknya

ditentukan

patokan

besaran

pertambahan berat badan sampai kehamilan berakhir.


Sekaligus serta mematau prosesnya dan dituliskan dalam
KMS ibu hamil.

Pemantauan yang sering dilakukan adalah dengan


pemeriksaan

antropometri

yaitu

dengan

melakukan

penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, dan


penentuan berat badan ideal serta pola pertambahan berat.
Upaya pemantauan statis gizi ibu selama hamil memerlukan
data berat badan sebelum hamil serta berat badan pada
kunjungan pertama. Berat badan sekarang diperlukan untuk
penentuan pola pertambahan berat badan ibu hamil. Hal ini
sangat diperlukan sebagai perimbangan prognosis serta
perlu tidaknya intervensi gizi.
Selama kehamilan, ibu akan mengalami penambahan
berat badan sekitar 10-12 kg, sedangkan ibu hamil dengan
tinggi badan kurang dari 150 cm cukup sekitar 8,8-13,6 kg.
Selama trimester I pertambahan berat badan sebaiknya
sekitar 1-2 kg (350-400 gram/minggu), sementara trimester
II dan III sekitar 0,34-0,5 kg tiap minggu. Ibu yang sebelum
hamil memiliki berat normal kemungkinan tidak memiliki
masalah

dalam

konsumsi

makan

setiap

hari,

namun

penambahan berat.
5. Kebutuhan Gizi Ibu Hamil
Status gizi merupakan hal yang penting diperhatikan
selama

masa

berpengaruh

kehamilan
terhadap

karena

status

faktor

kesehatan

gizi
ibu

sangat
guna

pertumbuhan dan perkembangan janin. Gizi pada saat


kehamilan adalah zat makanan atau menu yang takaran
semua zat gizinya dibutuhkan oleh ibu hamil setiap hari dan
mengandung zat gizi seimbang dengan jumlah sesuai
kebutuhan dan tidak berlebihan. Kondisi kesehatan ibu
sebelum dan sesudah hamil sangat menentukan kesehatan
ibu hamil. Sehingga demi suksesnya kehamilan, keadaan
gizi ibu pada waktu konsepsi harus dalam keadaan baik, dan
selama hamil harus mendapat tambahan energi, protein,
vitamin, dan mineral.
Perubahan kebutuhan gizi ibu hamil tergantung dari
kondisi kesehatan si ibu. Dasar pengaturan gizi ibu hamil

adalah adanya penyesuaian faali selama kehamilan, yaitu


sebagai berikut :
1. Peningkatan basal metabolisme dan kebutuhan kalori.
Metabolisme

basal

pada

masa

bulan

pertama

mengalami peningkatanan kemudian menurun 20-25%


pada 20 minggu terakhir.
2. Perubahan fungsi alat pencernaan karena perubahan
hormonal,

peningkatan

HCG,

estrogen,

progesteron

menimbulkan berbagai perubahan seperti mual muntah,


motilitas lambung sehingga penyerapan makanan lebih
lama, peningkatan absorbsi nutrien, dan motilitas usus
sehingga timbul asalah obstipasi.
3. Peningkatan fungsi ginjal sehingga banyak cairan yang
dieksresi pada pertengahan kehamilan dan sedikit cairan
dieksresi pada bulan-bulan terakhir kehamilan.
4. Peningkatan volume dan plasma darah hingga 50%,
jumlah erytrosit 20-30% sehingga terjadi penurunan
hemodilusi dan konsentrasi hemoglobin. Ibu hamil harus
mendapatkan gizi yang adekuat baik jumlah maupun
susunan

menu

kesehatan

serta

tentang

mendapat

gizi.

akses

Malnutrisi

pendidikan

kehamilan

akan

menyebabkan volume darah menjadi berkurang, aliran


darah ke uterus dan plasenta berkurang dan transfer
nutrien

melalui

plasenta

berkurang

sehingga

janin

pertumbuhan janin menjadi terganggu.


Adapun faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam
meningkatkan kebutuhan gizi pada ibu hamil adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Buruknya status gizi ibu


Usia ibu yang masih sangat muda
Kehamilan kembar
Jarak kehamilan yang rapat
Tingkat aktivitas fisik yang tinggi
Penyakit-penyakit tertentu yang

menyebabkan

malabsorbsi
7. Konsumsi rokok dan alkohol
8. Konsumsi obat legal (antibiotik dan phenytoin)
maupun obat ilegal (narkoba).
Peningkatan

berat

badan

sangat

menentukan

kelangsungan hasil akhir kehamilan. Bila ibu hamil sangat

kurus makan akan melahirkan bayi dengan berat badan


rendah (BBLR) dan bayi prematur. Sebab-sebab terjadinya
penurunan atau peningkatan berat badan pada ibu hamil
yaitu

edema,

hipertensi

kehamilan,

dan

makan

yang

banyak/berlebihan. Proporsi kenaikan berat badan selama


hamil adalah sebagai berikut :

Pada trimester I kenaikan berat badan ibu lebih


kurang 1 kg yang hampir seluruhnya merupaka

kenaikan berat badan ibu.


Pada trimester II sekitar 3 kg atau 0,3 kg/minggu.
Sebesar

60%

dari

kenaikan

berat

badan

ini

disebabkan pertumbuhan jaringan ibu.


Pada Trimester III sekitar 6 kg atau 0,3-0,5 kg/minggu.
Sebesar 60% dari kenaikan berat badan ini karena
pertumbuhan jaringan janin.

Energi
Seorang
kebutuhan

wanita

energi

selama

kehamilan

memiliki

yang meningkat. Energi ini digunakan

untuk pertumbuhan janin, pembentukan plasenta, pembuluh


darah, dan jaringan yang baru. Selain itu, tambahan kalori
dibutuhkan sebagai cadangan lemak serta untuk proses
metabolisme jaringan baru. Ibu hamil memerlukan sekitar
80.000

tambahan

kalori

pada

kehamilan.

Widyakarya

Nasional Pangan dan Gizi 2004 menganjurkan penambahan


sebesar 300 kkal/hari untuk ibu hamil trimester ketiga.
Dengan demikian dalam satu hari asupan energi ibu hamil
trimester ketiga dapat mencapai 2300 kkal/hari.
Kebutuhan energi yang tinggi paling banyak diperoleh
dari bahan makanan sumber lemak, seperti lemak dan
minyak, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Setelah itu bahan
makanan sumber karbohidrat seperti padi-padian, umbiumbian, dan gula murni.
Protein

Pada saat hamil terjadi peningkatan kebutuhan protein


yang disebabkan oleh peningkatan volume darah dan
pertumbuhan jaringan baru. Jumlah protein yang harus
tersedia sampai akhir kehamilan adalah sebanyak 925 gr
yang tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta, serta janin.
Widyakarya Pangan dan Gizi VIII 2004 menganjurkan
penambahan sebanyak 17 gram untuk kehamilan pada
trimester ketiga atau sekitar 1,3 g/kg/hr. Dengan demikian,
dalam satu hari asupan protein dapat mencapai 67-100 gr.
Perkiraan

faktorial

protein

terhadap

komponen-

komponen pertambahan pada kehamilan normal cukup


bulan dapat dilihat dalam tabel 1.
Tabel 1. Perkiraan Faktorial Protein Terhadap
Komponen-Komponen Pertambahan Pada
Kehamilan Normal Cukup Bulan
Komponen
Pertambahan
Janin
Plasenta
Cairan amnion
Rahim
Darah
Cairan Ekstrasellular
Total

Berat (gr)
3400
650
800
970
1250
1680
8750

Protein (gr)
440
100
3
166
81
135
925

Sumber : Kebutuhan Gizi Ibu Hamil, Aritonang 2010


Bahan makanan hewani merupakan sumber protein
yang baik dalam hal jumlah maupun mutu, seperti telur,
susu, daging, unggas, dan kerang. Selain sumber hewani,
ada juga yang berasal dari nabati seperti tempe, tahu, serta
kacang-kacangan
Vitamin dan Mineral
Bagi

pertumbuhan

janin

yang

baik

dibutuhkan

berbagai vitamin dan mineral seperti vitamin C, asam folat,


zat besi, kalsium, dan zink. Angka kecukupan gizi yang
dianjurkan oleh Widyakarya Pangan dan Gizi 2004 untuk

tambahan gizi ibu hamil pada trimester ketiga adalah


vitamin A +300 RE, vitamin C +10 mg, tiamin +0,3 mg,
riboflavin +0,3 mg, niasin +4 mg, asam folat +200 g,
vitamin B12 +0,2 g, kalsium +150 mg, magnesium +40
mg, zat besi +13 mg, zink +10,2 mg,serta iodium +50 g.
Zat Besi
Selama hamil, zat besi banyak dibutuhkan untuk
mensuplai

pertumbuhan

janin

dan

plasenta

serta

meningkatkan jumlah sel darah merah ibu. Zat besi


merupakan senyawa yang digunakan untuk memproduksi
hemoglobin yang berfungsi untuk :
1. Mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh
tubuh
2. Sintesis enzim yang terkait besi
3. Penggunaan oksigen untuk produksi energi sel.
Total besi yang diperlukan selama hamil adalah 1040
mg. Dari jumlah ini, 200 mg Fe tertahan oleh tubuh ketika
melahirkan dan 840 mg sisanya hilang. Sebanyak 300 mg
ditransfer

ke

janin

dengan

rincian

50-75

mg

untuk

pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah


sel darah merah, dan 200 mg lenyap ketika melahirkan.
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi 2004 menganjurkan
penambahan sebanyak 13 mg untuk kehamilan pada
trimester ketiga. Dengan demikian, angka kecukupan gizi
yang dianjurkan bagi ibu hamil trimester ketiga adalah 39
mg/hari.
Ada dua bentuk besi yang terdapat dalam pangan,
yaitu besi heme yang terdapat dalam produk-produk hewani
dan besi nonheme yang terdapat dalam produk-produk
nabati. Makanan dari produk hewani seperti hati, ikan dan
daging yang harganya relatif mahal dan belum sepenuhnya
terjangkau oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Selain
sumber hewani, ada juga makanan nabati yang kaya akan
zat besi seperti singkong, kangkung, dan sayuran berwarna
hijau lainnya. Namun, zat besi dalam makanan tersebut

lebih sulit penyerapannya. Dibutuhkan porsi besar sumber


nabati untuk mencukupi kebutuhan besi sehari.
Makanan-makanan yang dapat meningkatkan absorpsi
besi selama hamil diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Konsumsi

makanan

yang

dapat

meningkatkan

absorpsi besi, yaitu daging, sayur, dan buah yang


kaya vitamin C.
2. Menghindari penghambat (inhibitor) absorpsi besi
seperti teh dan kopi.
Kebutuhan akan zat besi yang besar terutama pada
kehamilan yang menginjak usia trimester ketiga tidak akan
mungkin tercukupi hanya melalui diet. Oleh karena itu,
suplementasi zat besi sangat penting sekali, bahkan kepada
ibu hamil status gizinya sudah baik.
Asam Folat
Asam folat berperan dalam berbagai proses metabolik
seperti metabolisme beberapa asam amino, sintesis purin,
dan timidilat sebagai senyawa penting dalam sintesis asam
nukleat. Asam folat juga dibutuhkan untuk pembentukan sel
darah merah dan sel darah putih dalam sum-sum tulang
belakang dan untuk pendewasaannya.
Sekitar 24-60% wanita, baik di negara berkembang
maupun yang telah maju, mengalami kekurangan asam
folat karena kandungan asam folat di dalam makanan
mereka sehari-hari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
mereka disaat hamil. Kekurangan asam folat berkaitan
dengan tingginya insiden komplikasi kehamilan seperti
aborsi

spontan,

toxemia,

prematur,

pendeknya

usia

kehamilan dan hemorrhage (pendarahan).


Widyakarya Pangan dan Gizi 2004 menganjurkan
penambahan sebanyak 200 g untuk ibu hamil, yang dapat
dipenuhi dengan mengkonsumsi suplemen. Suplementasi
sebaiknya diberikan sekitar 28 hari setelah ovulasi atau
pada 28 hari pertama kehamilan. Besarnya suplementasi
adalah 280, 660, dan 470 g per hari, masing-masing pada

trimester

I,

II,

dan

III.

Jenis

makanan

yang

banyak

mengandung asam folat antara lain ragi, hati, brokoli,


sayuran hijau, kacang-kacangan, ikan, daging, jeruk, dan
telur.
Kalsium

Ibu hamil dan bayi membutuhkan kalsium untuk


menunjang perrtumbuhan tulang dan gigi serta persendian
janin. Selain itu kalsium juga digunakan untuk membantu
pembuluh darah berkontrkasi dan berdilatasi. Jika kebutuhan
kalsium

tidak

dibutuhkan

tercukupi

bayi

mengakibatkan

akan
tulang

dari

makanan,

diambil
ibu

dari

kalsium

tulang

menjadi

yang

ibu

yang

keropos

atau

osteoporosis.
Widya Karya Pangan dan Gizi 2004 menganjurkan
penambahan sebesar 150 mg kalsium untuk ibu hamil
trimester ketiga. Dengan demikian kebutuhan kalsium yang
harus dipenuhi oleh ibu hamil adalah 950 mg/hari. Makanan
yang menjadi sumber kalsium diantaranya ikan teri, udang,
sayuran hijau, dan berbagai produk olahan susu seperti keju
dan yoghurt. Kekurangan kalsium selama hamil akan
menyebabkan tekanan darah ibu menjadi meningkat.
6. Pola Makan Ibu Hamil
Keadaan kesehatan ibu hamil tergantung dari pola
makannya sehari-hari yang dapat ditentukan oleh kualitas
dan kuantitas hidangan.
Pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam
pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan maksud
tertentu seperti mempertahankan kesehatan, status nutrisi,
mencegah atau membantu kesembuhan penyakit. Pola
makan (food patern) diartikan sebagai cara seseorang
memanfaatkan

pangan

yang

tersedia

sebagai

reaksi

terhadap tekanan sosio-ekonomi yang dialaminya dan


dikaitkan dengan kebiasaan makan.
Pengertian pola makan pada dasarnya mendekati
definisi pengertian diet dalam ilmu gizi. Diet diartikan

sebagai

pengaturan

jumlah

dan

jenis

makanan

yang

dimakan agar seseorang tetap sehat. Untuk mencapai pola


makan sehat tersebut tidak terlepas dari masukan gizi yang
merupakan proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi melalui proses digesti, absorbsi, transportasi,
penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang
tidak

digunakan

untuk

mempertahankan

kehidupan,

pertumbuhan dan fungsi normal organ serta menghasilkan


energi.
Di dalam susunan pola makan seseorang ada satu
bahan makanan yang dianggap penting, dimana satu
hidangan dianggap tidak lengkap apabila bahan makanan
tersebut tidak ada, bahan makanan tersebut adalah bahan
makanan pokok. Di Indonesia bahan makanan pokok adalah
beras dan di beberapa daerah menggunakan jagung, sagu,
dan ubi jalar.
Pola makan di suatu daerah berubah-ubah sesuai
dengan

perubahan

beberapa

faktor

ataupun

kondisi

setempat yang dapat dibagi dalam dua bagian :


1. Faktor yang berhubungan dengan persediaan atau pengadaan
bahan pangan. Dalam kelompok ini termasuk geografi, iklim,
kesuburan tanah yang dapat mempengaruhi jenis tanaman dan
jumlah produksinya di suatu daerah.
2. Faktor adat istiadat yang berhubungan dengan konsumen. Taraf
sosio-kultural setempat memegang peranan penting dalam
konsumsi pangan penduduk. Fungsi makanan menurut aspek
sosio-kultural adalah sebagai fungsi kenikmatan (gastronomik),
untuk menyatakan jati diri, fungsi religi (magis), fungsi
komunikasi, dan status ekonomi. Jumlah penduduk adalah
kunci utama yang menentukan tinggi rendahnya jumlah
konsumsi bahan pangan di suatu daerah. Demikian juga dalam
hal keluarga, jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi pola
konsumsi anggota keluarga. Apalagi dengan pengetahuan,
pendapatan yang rendah dan jumlah anak yang

banyak cenderung pola konsumsi berkurang


pula.
Adapun aspek-aspek yang dapat mempengaruhi pola makan seseorang
yaitu :

1. Jumlah makanan, yaitu banyaknya makanan


yang dimakan atau diminum yang dihitung
untuk

mendapatkan

gambaran

secara

kuantitatif mengenai asupan zat gizi tertentu.


2. Jenis makanan, yaitu bahan makanan yang
diolah, disusun, dan dihidangkan yang dibagi
kedalam kelompok makanan pokok, kelompok
lauk-pauk, kelompok sayur, dan kelompok buah
cuci mulut.
3. Frekuensi makanan, yaitu tingkat keseringan
mengkonsumsi

sejumlah

bahan

makanan

tertentu atau makanan jadi selama periode


tertentu seperti hari, minggu, bulan, dan tahun.
Frekuensi

makanan

menggambarkan

pola

konsumsi makanan secara kualitatif.


Menurut

hasil

penelitian

yang

dilakukan

oleh

Krisnawati pada tahun 2010, terdapat hubungan yang


signifikan

antara

pola

makan

ibu

dengan

kejadian

Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil. Hasil


Riskesdas tahun 2010 menunjukkan persentase ibu hamil
yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal
adalah sebesar 44,4%, sedangkan untuk persentase ibu
hamil yang mengkonsumsi protein dibawah kebutuhan
minimal sebesar 49,5%.
Pola makan merupakan hal yang penting diperhatikan
pada masa kehamilan, sebab apa yang dikonsumsi oleh ibu
akan mempengaruhi janin di dalam kandungan. Oleh karena
itu ibu hamil harus memiliki pola makan yang baik
diantaranya harus memenuhi sumber karbohidrat, protein,
lemak,

serta

vitamin

dan

mineral

demi

tercapainya

kesehatan ibu dan bayi. Senada dengan hal itu, Husada

(2009) juga menyatakan bahwa salah satu pedoman pola


makan sehat adalah makanan triguna, yaitu:
1. Mengandung zat tenaga seperti beras, jagung,
gandum, ubi kayu, ubi jalar, roti, dan mie yang
mengandung karbohidrat serta minyak dan lemak
yang mengandung lemak.
2. Mengandung zat pembangun yang berguna untuk
pertumbuhan dan mengganti jaringan yang rusak.
Bahan makanan sumber zat pembangun yang
berasal dari hewan mengandung protein hewani
adalah telur, ikan, ayam, daging, kerang, udang,
kepiting, susu, serta hasil olahannya. Sedangkan
jenis makanan yang mengandung protein nabati
berasal

dari

tumbuh-tumbuhan

adalah

kacang

tanah, kacang merah, kacang ijo, kacang kedelai


dan hasil olahannya seperti tempe, tahu, dan lain
sebagainya.
3. Mengandung zat pengatur yang berguna untuk mengatur
semua fungsi tubuh dan melindungi tubuh dari penyakit.
Bahan makanan sumber zat pengatur adalah semua jenis
sayur-sayuran

dan

buah-buahan.

Bahan

makanan

ini

mengandung berbagai macam vitamin dan mineral.


Cara termudah untuk menjamin pola makan yang
sehat adalah dengan memilih berbagai makanan segar
secara keseluruhan, karena makanan yang telah mengalami
pemrosesan tinggi akan kehilangan banyak zat gizi yang
dibutuhkan

oleh

tubuh.

Makanan

ibu

selama

hamil

diharapkan dapat memenuhi kebutuhan zat gizi karena


dengan diet yang tepat saat hamil, akan dapat mengurangi
resiko pembentukan janin abnormal dan membantu menjamin bayi tumbuh
dengan baik.

Untuk memperoleh pengaruh yang lebih baik dari pola


makan ibu hamil, perlu diperhatikan prinsip ibu hamil, yaitu
jumlah lebih banyak, mutu lebih baik, selain itu susunan

menu juga harus seimbang. Ibu hamil harus mengkonsumsi


makanan yang bervariasi setiap hari, minimal mengandung
5 porsi buah dan sayur, 5 porsi karbohidrat kompleks, 5
porsi protein dan lemak, dan dilengkapi dengan kombinasi
makanan produk susu.
Ada beberapa syarat makanan sehat bagi ibu hamil
yaitu :
1. Menyediakan energi yang cukup (kalori) untuk kebutuhan
kesehatan tubuh ibu dan pertumbuhan bayi.
2. Menyediakan semua kebutuhan ibu

dan

bayi

(meliputi protein, lemak, vitamin, mineral).


3. Dapat menghindarkan pengaruh negatif bagi bayi.
4. Mendukung
metabolisme
tubuh
ibu
dalam
memelihara berat badan sehat, kadar gula darah,
dan tekanan darah.
Kebutuhan makanan bagi ibu hamil lebih banyak
daripada

kebutuhan

untuk

wanita

yang

tidak

hamil,

kegunaan makanan tersebut adalah :


1. Untuk pertumbuhan janin dalam kandungan
2. Untuk mempertahankan kesehatan dan kekuatan
ibu sendiri
3. Agar luka-luka akibat persalinan cepat sembuh
dalam masa nifas

4. Sebagai cadangan untuk masa laktasi.

7. Faktor-faktor

Yang

Mempengaruhi

Kekurangan

Asupan Zat Gizi Pada Ibu Hamil


Masalah gizi pada masyarakat Indonesia sangat
berkaitan erat dengan pangan, karena gizi seseorang
sangat

terpengaruh

pada

kondisi

pangan

yang

dikonsumsinya. Masalah pangan antara lain menyangkut


ketersediaan pangan dan kerawanan konsumsi pangan
yang disebabkan kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan
adat kepercayaan yang terkait dengan tabu makanan.
1. Tabu Makanan (Pantangan). Pantangan atau tabu
adalah suatu larangan untuk mengkonsumsi jenis
makanan

tertentu

bahaya

terhadap

karena

terdapat

barang

ancaman

siapa

yang

melanggarnya.
Beberapa alasan tabu diantaranya khawatir terjadi
keracunan, tidak biasa, takut mandul, kebiasaan
yang

bersifat

pribadi,

khawatir

menimbulkan

penyakit, larangan agama, pembatasan makanan


hewani

karena

Kepercayaan

disucikan

berpantang

oleh

adat/budaya.

makanan

tertentu

memiliki kontribusi terhadap kejadian anemia pada


ibu hamil.
Diantara makanan

yang

menjadi

pantangan

adalah makanan yang kaya akan zat besi baik


golongan hewani, nabati, dan gabungan dari
keduanya.

Golongan

makanan

hewani

seperti

cumi-cumi, udang, kepiting, gurita, telor bebek,


dan beberapa jenis ikan. Golongan nabati meliputi
daun kelor, rebung, tebu, nenas, durian, terong,
serta beberapa jenis buah-buahan.
Di beberapa negara berkembang umumnya masih
ditemukan larangan, pantangan atau tabu tertentu

bagi makanan ibu hamil, tidak terkecuali di


Indonesia. Walaupun demikian, harus diakui bahwa
tidak semua tabu itu berakibat negatif terhadap
kondisi gizi dan kesehatan. Tabu yang tidak jelas
pengaruhnya

bagi

kesehatan

dibiarkan

saja,

sambil terus dipelajari pengaruhnya untuk jangka


panjang.
2. Rendahnya

Penghasilan

dan

Pendidikan.

Pendidikan kurang merupakan salah satu faktor


yang mendasari penyebab gizi kurang. Pendidikan
yang

rendah

akan

menyebabkan

seseorang

kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan yang


layak.

Hal

ini

akan

menyebabkan

rendahnya

penghasilan seseorang yang akan berakibat pula


terhadap rendahnya seseorang dalam menyiapkan
makanan

baik

kuantitasnya.

secara

Studi

kualitas

tentang

maupun

perilaku

makan

menemukan bahwa jumlah uang belanja untuk


makan

erat

karakteristik

kaitannya

dengan

masyarakat

daripada

serentetan
dengan

pendapatan keluarga. Pendapatan bukan sebagai


faktor penentu dalam perilaku konsumen, tetapi
faktor-faktor gabungan antara pendapatan dan
gaya hidup dapat memberikan andil bagi perilaku
kelompok

yang

kebudayaannya

cenderung

berubah.
8. Konsumsi Tablet Besi Pada Ibu Hamil
Tablet zat besi adalah zat besi-folat yang berbentuk
tablet, tiap tablet berisi 60 mg besi elemental dan 500 g
asam folat. Tablet besi diberikan oleh pemerintah kepada
ibu hamil untuk mengatasi masalah anemia gizi besi
terutama pada kehamilan yang menginjak trimester ketiga.
Konsumsi tablet besi diperlukan karena kebutuhan zat besi
yang tinggi pada masa kehamilan tidak akan bisa terpenuhi
hanya dari asupan makanan sehari-hari.

Penambahan

asupan

besi

baik

lewat

makanan

ataupun suplemen terbukti mampu mencegah penurunan


Hb akibat hemodilusi. Kadar hemoglobin berkaitan erat
dengan konsumsi tablet besi ibu selama kehamilannya.
Tanpa suplementasi cadangan besi dalam tubuh ibu akan
mengalami penurunan yang tajam dan akan habis pada
akhir kehamilan. Oleh karena itu tablet besi sebesar 30-60
mg yang dimulai pada minggu ke-12 kehamilan yang
diteruskan sampai tiga bulan pascapartum perlu diberikan
setiap hari.
9. Berat Bayi Lahir
Ukuran dan besarnya bayi lahir menggambarkan dua
faktor, yaitu lama kehamilan dan rata-rata pertumbuhan
fetus.

Umur

kehamilan

menjadi

hal

yang

harus

dipertimbangkan, sebaliknya peningkatan dalam ukuran


yang

terjadi

terhadap

umur

sangat

didominasi

dan

dipengaruhi oleh faktor confounding pertumbuhan dan


kematangan.
Pada umumnya bayi yang lebih besar adalah yang
lebih matang dan diketahui bahwa bayi yang tidak matang
(terutama sekali secara eksterm pada bayi yang tidak
cukup bulan seperti kelahiran kurang dari 32 minggu)
mempunyai risiko lebih tinggi untuk meninggal, sakit dan
kegagalan perkembangan.
Kegagalan

dalam

mempertimbangkan/memperhitungkan

umur

gestasional

menjadi dominan dan problem utama dalam interpretasi,


yang

pada

keputusan

akhirnya
pada

klinik

dapat
serta

mempengaruhi
pada

tingkat

pembuat
kesehatan

masyarakat
Golongan berat lahir menurut WHO (2003):

Bayi dengan berat lahir < 2500 gram, berat bayi

lahir rendah
Bayi dengan berat lahir >2500 gram, berat bayi
lahir normal

Bayi berat lahir 2500-2999 gram masih menunjukkan


risiko yang tinggi untuk kematian dan morbiditas seperti
ISPA,

diare,

keterlambatan

pertumbuhan

dan

perkembangan. Dalam kelompok ini masih terdapat bayi


dengan ukuran kecil untuk masa kehamilan (IUGR). Sedang
bayi berat lahir baik ( 3000 gram), merupakan kelompok
yang menunjukkan angka kematian dan kesakitan yang
paling rendah.
10. Pertambahan berat badan
Pertambahan berat selama kehamilan adalah salah
satu indikator ekspansi volume plasma dan keseimbangan
positif kalori dan menggambarkan secara kasar kecukupan
diet (Brown, 2005). Rekomendasi untuk pertambahan berat
badan

selama

kehamilan

terutama

didasarkan

pada

pertambahan dihubungkan dengan ukuran bayi sehat baru


lahir, kira-kira 3500 4500 gram.
1.Kenaikan Berat Badan
Kenaikan berat badan ibu hamil yang normal berkisar
antara 10-12,5 kg. Secara umum, kenaikan berat badan
selama kehamilan berkaitan dengan hal sebagai berikut:
Tabel 2. Kenaikan Berat Badan pada Masa
Kehamilan
(dalam gram)

Umur
Kehamilan

Macam
10
minggu

20
minggu

30
minggu

40 minggu

Fetus

300

1500

3300

Plasenta

20

170

430

65

Umur
Kehamilan

Macam
10
minggu

20
minggu

30
minggu

40 minggu

Uterus

135

585

810

900

Kelenjar
mammae

34

180

360

405

Darah ibu

100

600

1300

1250

Lain-lain

326

1915

3500

5795

Total

650

4000

8500

12500

Protein
deposite

35

210

535

910

Fat deposite

367

1930

3613

4464

Dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan mutu


kehamilan dan menyusui laktasi) diperlukan: (a) pengaturan
gizi

sebelum,

selama,

dan

sesudah

kehamilan;

(b)

pemeriksaan kesehatan yang teratur selama kehamilan


dapat mencegah terjadinya komplikasi; (c) pentingnya
tambahan zat gizi, karena ibu hamil tidak hanya makan
untuk dirinya, tetapi untuk bayi yang dikandungnya dan
ketika menyusui.
2. Pertambahan berat badan yang dianjurkan
Sebelum dekade tujuh puluhan, banyak paramedis
(termasuk dokter) yang menganut semi kelaparan, yaitu
pembatasan pertambahan berat badan untuk membantu
mencegah

toksemia.

Mereka

menganjurkan

agar

pertambahan berat badan hingga kehamilan berakhir tidak


lebih dari 8,2 kg dan menganjurkan pertambahan berat
sekitar 9 11,3 kg.
Pada tahun 1983 usulan ini diubah menjadi 10 12,2 kg,
dan pada tahun 1990 bersama Institute of Medical angka
tersebut diperbaiki menjadi 11,3 15,9 kg untuk wanita
yang berat terhadap tingginya normal.
3. Kehamilan pada Usia Dewasa
Selama trimester I kisaran pertambahan berat badan
sebaiknya 1-2 kg (350-400 g/mg), sementara trimester II
dan III sekitar 0,34-0,5 kg tiap minggu. Berat badan ibu
hamil akan bertambah sampai 12,5 kg, bergantung berat
badan sebelum hamil. Sesuai dengan angka kecukupan gizi
bagi orang Indonesia pada tahun 2004, maka didapat
kebutuhan energi wanita dewasa usia 30-39 tahun adalah
1900 kkal.
Kebutuhan energi tambahan bila dalam keadaan hamil
pada trimester I sebesar 180 kkal, trimester II dan trimester

III sebesar 300 kkal (antara 2080 kkal sampai 2200 kkal).
Laju

pertambahan

merupakan

berat

petunjuk

badan

yang

sama

selama

kehamilan

pentingnya

dengan

pertambahan berat itu sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya


ditentukan patokan besaran pertambahan berat sampai
kehamilan berakhir, sekaligus memantau prosesnya dan
dituliskan dalam KMS ibu hamil

Tabel 3. Rekomendasi Peningkatan Pertambahan BB


bagi Ibu Hamil

BMI

American College-of obgyn

Spears

19.8

12.7 21.8 kg

12.5 18.0 kg

19.8 26.0

11.5 16.0 kg

26.1 29

0 6.8 11.3 kg

> 29.0

6.8 kg

7.0 11.5 kg

4. Kehamilan pada Remaja


Pada prinsipnya kehamilan remaja tidak berbeda dengan
kehamilan

pada

usia

dewasa

dengan

beberapa

pengecualian. Penambahan berat badan dan protein yang


direkomendasikan tidak berbeda akan tetapi kehamilan
pada remaja membutuhkan lebih banyak kalori untuk
mendukung pertumbuhan bayi yang dikandungnya serta
kebutuhan kalsium 1300 mg/hari.

Kehamilan

remaja

lebih

beresiko

dengan

anemia,

kelahiran prematur, dan pendarahan post partum.


11. Pertumbuhan dan Perkembangan Janin
Defisiensi diet ibu lebih cenderung mempengaruhi berat
badan

dan

keadaan

umum

bayi

manusia

ketimbang

menimbulkan cacat anatomik spesifik seperti yang terjadi


pada

binatang

tertentu.

Malnutrisi

pada

ibu

hamil

menimbulkan tingginya insiden lahir mati atau berat badan


lahir rendah, dan defisiensi kalsium di dalam diet ibu mungkin
berhubungan dengan struktur tulang neonatus.
Kekurangan

gizi

ibu

yang

belangsung

lama,

yang

memanjang sampai masa hamil, mungkin mempunyai efek


yang lebih serius pada bayi ketimbang gangguan gizi akut
selama kehamilan seorang ibu yang sebelumnya mempunyai
gizi baik.
Efek jangka panjang pada seorang anak lebih berat dan
mungkin sangat merusak jika malnutrisi intauterus diikuti oleh
malnutrisi dalam bulan-bulan pertama kehidupan. Janin yang
dilahirkan secara prematur mulai mempunyai perubahan
survival yang besar pada umur kehamilan sekitar 26-28
minggu, pada berat sekitar 800 - 1000 gram, dan panjang
sekitar 33-35 cm.
Bayi permatur mengalami kesulitan karena kegagalan
maturasi yang memadai dari mekanisme enzimatik, ginjal,
metabolik, hematologik, dan imunologik. Ciri-ciri tingkah laku
bayi prematur berbeda beda menurut umur kahamilan
Kepala bayi yang berat badannya 1000-1500 gram
cenderung bulat dan besar jika dibandingkan dengan ukuran
tubuhnya;

kulitnya

kelihatan

tembus

pandang.

Mereka

cenderung terutama atonik dan bebaring dalam sikap leher


tonik, sering dengan sedikit gerakan pada ekstremitasnya.

Suaranya

lemah,

demikian

pula

dengan

respons

memegang. Respons mengisap mungkin pula lemah, dan bayibayi ini mungkin memperlihatkan sedikit tanda-tanda lapar
bila tidak diberikan makanan. Sulit untuk mengetahui kapan
mereka bangun kapan mereka tidur, meskipun mereka dapat
dirangsang ke tingkat kewaspadaan yang lebih besar.
12.

Pertambahan

Berat

Badan

Selama

Kehamilan

dengan Berat Lahir Bayi


Beberapa

penelitian

pada

umumnya

menunjukkan

bahwa jumlah pertambahan berat badan selama kehamilan


terutama untuk perempuan yang memulai kehamilannya
dalam

keadaan

status

gizi

yang

tidak

menguntungkan.

Kombinasi antara berat badan pra-hamil yang rendah dan


pertambahan berat badan selama kehamilan yang rendah
menjadikan perempuan mempunyai risiko terbesar untuk
melahirkan BBLR. Di negara-negara yang sedang berkembang,
dimana umumnya ibu dalam keadaan status gizi yang tidak
menguntungkan, pertambahan berat badan ibu selama hamil
merupakan determinan penting untuk outcome kehamilan.
Pertambahan berat badan menjadi ukuran yang paling
umum untuk menilai status gizi wanita hamil dan janin selama
kehamilan.

Berat

badan

ibu

sangat

sensitif

terhadap

kekurangan gizi akut selama kehamilan, dan merupakan


indikator yang mudah dilihat untuk menilai pertumbuhan janin
dibandingkan dengan pengukuran antropometri lainnya.
Selain melihat penambahan berat badan selama hamil,
status gizi ibu hamil dapat juga dilihat dari ukuran Lingkar
Lengan Atas (LILA) dan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah.
Ukuran LILA yang normal adalah 23,5 cm, ibu dengan ukuran
LILA dibawah ini menunjukkan adanya kekurangan energi

kronis. Hasil penelitian Edwi Saraswati, dkk di Jawa Barat


(2003) menunjukkan bahwa ibu hamil dengan Kurang Energi
Kronis (KEK) dengan batas LILA 23 cm mempunyai resiko
2,0087 kali untuk melahirkan bayi dengan berat bayi lahir
rendah (kurang dari 2500 gram).
13.

Kadar Hb menunjukkan status anemia.


Gangguan kesehatan yang seringkali menganggu ibu

hamil adalah anemia. Anemia pada ibu hamil terjadi karena


adanya peningkatan jumlah plasma dan eritrosit. Peningkatan
plasma

sebanyak

menyebabkan
hematokrit

tiga

kali

penurunan

sehingga

akan

pada

jumlah

eritrosit

perbandingan
meningkatkan

akan

hemoglobinrisiko

anemia

fisiologis pada saat hamil. Meskipun pada saat hamil anemia


fisiologis termasuk dalam keadaan yang normal.
Ibu

hamil

dideteksi

mengalami

anemia

apabila

ditemukan kadar Hb kurang dari 11 gr/dl pada trimester


pertama dan ketiga kehamilan. Selain itu pada trimester kedua
kadar Hb kurang dari 10,5 gr/dl. Sedangkan pada ibu hamil
yang mengalami anemia karena penyebabnya adalah produksi
hemoglobin dimana ditemukan adanya defisiensi nutrisi atau
produksi rantai hemoglobin.
Ibu hamil adalah golongan terbesar yang mengalami
anemia. Ditemukan 56% mengalami anemia pada saat hamil.
Penyebab anemia pada ibu hamil diantaranya adalah produksi
rantai hemoglobin karena adanya penyakit tertentu atau
mengalami gangguan produksi hemoglobin karena kurangnya
zat besi, asam folat ataupun vitamin B12.
Pada kondisi tertentu ibu hamil dapat mengalami
anemia

karena

terjadinya

pendarahan,

infeksi

parasit,

kegagalan sumsum tulang atau penyakit tertentu lainnya.


Dengan demikian penyebab anemia pada ibu hamil berbedabeda sehingga apabila ditarik kesimpulan dari faktor penyebab
anemia pada ibu hamil. Anemia dibedakan menjadi anemia
defisiensi besi, anemia hipoplastik, anemia megaloblastik dan
anemia hemolitik. Untuk mengetahui anemia yang dialami ibu
hail diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui
jumlah eritrosit, eletroforesa Hb, jumlah retikulosit dan kadar
besi seru
14.

Hubungan Usia Ibu Hamil dengan Berat Bayi Lahir


Semakin muda seorang ibu, semakin besar risiko bagi

ibu dan bayinya. Bagi remaja putri di bawah usia 15 tahun,


risiko kematian meningkat dengan tajam. Remaja putri yang
melahirkan sebelum usia 15 tahun memiliki risiko kematian
lima kali lipat dibandingkan dengan ibu usia 20 tahunan.
Setelah usia 35 tahun, risiko yang terkait dengan kehamilan
dan persalinan bagi perempuan meningkat lagi. Risiko tersebut
termasuk tekanan darah tinggi, perdarahan, keguguran dan
diabetes selama kehamilan serta cacat bawaan pada bayi.
Perlu diketahui oleh pasangan usia subur (PUS), bahwa
usia terlalu muda (kurang dari 20 tahun) dan terlalu tua (lebih
dari 35 tahun) beresiko dengan kehamilan. Wanita yang
dinikahkan pada usia terlalu muda umur 13-15 tahun maka
perkembangan

rongga

panggul

belum

maksimal.

Perkembangan rongga panggul baru maksimal setelah titik


pertumbuhan tinggi badan telah berhenti (antara 18-22
tahun). Akibatnya kehamilan pada usia muda akan lebih
beresiko dengan penyulit pada waktu persalinan, bayi yang
akan lahir nantinya relatif lebih sulit melewati diameter rongga
panggul ibu yang belum maksimal. Usia terlalu tua pada

kehamilan juga beresiko dengan penyulit pada persalinan


seperti perdarahan
Menurut Depkes RI (2004) umur ibu yang beresiko tinggi
melahirkan bayi kecil adalah kurang dari 20 tahun dan lebih
dari 35 tahun. Umur merupakan salah satu faktor penting
dalam

kehamilan.

Wanita

hamil

di

negara

berkembang

menikah pada usia muda, sekitar usia menarche dimana resiko


melahirkan BBLR 2 kali lebih rendah dalam 2 tahun setelah
menarche. Di samping itu beresiko terjadinya keguguran dan
lahir mati. Hal ini terjadi karena adanya kompetisi makanan
antara janin dan ibunya yang masih dalam pertumbuhan, serta
adanaya perubahan hormonal selama kehamilan sehingga
wanita tersebut mempunyai kebutuhan tubuh terhadap zat gizi
yang lebih besar dari pada wanita dewasa lainnya.
Tambahan kebutuhan akan zat gizi yang disebabkan
oleh kehamilan menyesuaikan diri dengan pertumbuhan yang
diperlukan akan meningkatkan resiko bagi kehamilannya.
Selain itu umur yang terlalu muda mempunyai resiko karena
secara biologis dan psikologis belum matang.
Umur ibu yang terlalu tua sudah tidak baik lagi bagi
pertumbuhan janin. Untuk ibu yang berumur lebih dari 35
tahun kemungkinan penyebabnya adalah karena memang
adanya gangguan pertumbuhan intrauterin (Kramer, 2007).
Resiko melahirkan bayi dengan berat lahir tidak normal (<
2500 gram) pada ibu yang berusia < 20 tahun sebesar 4,3 kali
dibandingkan ibu hamil yang berusia 20 - 35 tahun dan berusia
> 35 tahun sebesar 2,5 kali dibandingkan yang berusia 20 - 35
tahun. Bagi remaja putri yang hamil dibawah 15 tahun, risiko
ini meningkat dengan sangat bermakna.
Melahirkan

begi

seorang

remaja

putri

akan

lebih

berbahaya dan lebih sulit dibandingkan dengan perempuan

dewasa. Bayi yang lahir dari seorang ibu yang masih sangat
muda cenderung meninggal pada tahun pertama kehidupan
bayi. Remaja putri umumnya belum memiliki pinggul yang
berkembang sempurna. Dengan demikian kehamilan bagi
kelompok ini akan memberikan konsekuensi yang serius
seperti keracunan kehamilan, kelahiran prematur, kelahiran
lewat waktu, kelahiran dengan penyulit, anemia (kurang
darah) bahkan kematian ibu dan bayi. badannya harus tetap
dipantau agar selama hamil tidak mengalami kekurangan atau
sebaliknya kelebihan. Ibu hamil dengan berat badan kurang
harus mengatur asupan gizinya sehingga bisa mencapai berat
badan normal, sedangkan ibu dengan berat badan berlebih
tetap dianjurkan makanan yang seimbang dengan bahan
makanan bervariasi, dengan mengurangi bahan makanan
berkalori tinggi serta lemak