Anda di halaman 1dari 166

BAB I

PENDAHULUAN
Dalam aktivitas hidupnya, sejumlah besar air dikeluarkan oleh tumbuhan dalam bentuk
uap air ke atmosfir. Pengeluaran air oleh tumbuhan dalam bentuk uap air prosesnya disebut
dengan transpirasi. Banyaknya air yang ditranspirasikan oleh tumbuhan merupakan kejadian
yang khas, meskipun perbedaan terjadi antara suatu species dan species yang lainnya. Transpirasi
dilakukan oleh tumbuhan melalui stomata, kutikula dan lentisel. Disamping mengeluarkan air
dalam bentuk uap, tumbuhan dapat pula mengeluarkan air dalam bentuk tetesan air yang
prosesnya disebut dengan gutasi dengan melalui alat yang disebut dengan hidatoda yaitu suatu
lubang yang terdapat pada ujung urat daun yang sering kita jumpai pada species tumbuhan
tertentu. Sehubungan dengan transpirasi, organ tumbuhan yang paling utama dalam
melaksanakan proses ini adalah daun, karena pada daunlah kita menjumpai stomata paling
banyak. Transpirasi penting bagi tumbuhan karena berperan dalam hal membantu meningkatkan
laju angkutan air dan garam mineral, mengatur suhu tubuh dan mengatur turgor optimum di
dalam sel. Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel-sel mesofil kerongga antar sel yang
ada dalam daun.
Dalam pengamatan ini, kita ngin mengetahui kecepatan transpirasi yang kebanyakan
terjadi pada permukaan daun sera menghitung kecepatan transpirasi yang terjadi pada daun
tersebut. Transpirasi dapat terjadi pada kutikula, stomata, dan lentisel. Jumlah air yang
dikeluarkan melalui transpirasi pada setiap tumbuhan tidak sama dan tergantung pada banyak
faktor. Transpirasi dipengaruhi baik oleh faktor luar maupun faktor dalam.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Air diserap ke dalam akar secara osmosis melalui rambut akar, sebagian besar bergerak
menurut gradien potensial air melalui xilem. Air dalam pembuluh xilem mengalami tekanan
besar karena molekul air polar menyatu dalam kolom berlanjut akibat dari penguapan yang
berlangsung di bagian atas. Sebagian besar ion bergerak melalui simplas dari epidermis akar ke
xilem, dan kemudian ke atas melalui arus transportasi.Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran
tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu, aliran udara, kelembaban, dan tersedianya air tanah. Faktor-

faktor ini mempengaruhi perilaku stoma yang membuka dan menutupnya dikontrol oleh
perubahan tekanan turgor sel penjaga yang berkorelasi dengan kadar ion kalium (K+) di
dalamnya. Selama stoma terbuka, terjadi pertukaran gas antara daun dengan atmosfer dan air
akan hilang ke dalam atmosfer. Untuk mengukur laju transpirasi tersebut dapat digunakan
potometer . Transpirasi pada tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika
berlebihan akan sangat merugikan karena tumbuhan akan menjadi layu bahkan mati.Sebagian
besar transpirasi berlangsung melalui stomata sedang melalui kutikula daun dalam jumlah yang
lebih sedikit. Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan membuka stomatanya untuk mengambil
karbon dioksida dari udara untuk berfotosintesis.Lebih dari 20 % air yang diambil oleh akar
dikeluarkan ke udara sebagai uap air. Sebagian besar uap air yang ditranspirasi oleh tumbuhan
tingkat tinggi berasal dari daun selain dari batang, bunga dan buah.Transpirasi menimbulkan arus
transpirasi yaitu translokasi air dan ion organik terlarut dari akar ke daun melalui xilem
( Siregar. 2003: 84).
Struktur anatomi daun memungkinkan penurunan jumlah difusi dengan menstabilkan
lapis pembatas tebal relatif. Misalnya rapatnya jumlah trikoma pada permukaan daun cenderung
meyebabkan lapisan pembatas udara yang reltif tidak bergerak. Stomata yang tersembunyi
menekan permukaan daun sehingga stomata membuka. Udara memiliki efek penting dalam
penjenuhan jumlah udara. Udara hangat membaewa lebih banyak air dari pada udara dingin.
Oleh karena itu, pada saat panan volume udara akan memberikan sedikit uapa air dengan
kelembaban relatif yang lebih rendah daripada saat dingin. Untuk alasan ini, tumbuhan
cenderung kehilangan air lebih cepat pada udara hangat dari pada udara dingin. Hilangnya uap
air dari ruang interseluler daun menurunkan kelembaban relatif pada ruang tersebut. Air yang
menguap dari daun (stomata) ini menimbulkan kekuatan kapiler yang menarik air dari daerah
yang berdekatan dalam daun.Beberapa penggantian air berasal dari dalam sel daun melalui
membran plasma. Ketika air meninggalkan daun, molekul air menjadi lebih kecil. Hal ini akan
mengurangi tekanan turgor. Jika banyak air yang dipindahkan, tekanan turgor akan menjadi nol
(Anonim. 2009).
Tumbuhan seperti pohon jati dan akasia mengurangi penguapan dengan cara
menggungurkan daunnya di musim panas.Pada tumbuhan padi-padian, liliacea dan jahe-jahean,
tumbuhan jenis ini mematikan daunnya pada musim kemarau. Pada musim hujan daun tersebut
tumbuh lagi.Tumbuhan yang hidup di gurun pasir atau lingkungan yang kekurangan air (daerah

panas) misalnya kaktus, mempunyai struktur adaptasi khusus untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Pada tumbuhan yang terdapat di daerah panas, jika memiliki daun maka daunnya
berbulu, bentuknya kecil-kecil dan kadang-kadang daun berubah menjadi duri (Sasmitamihardja.
1996: 49).
Ruang interseluler udara dalam daun mendekati keseimbangan dengan larutan dalam
fibrill sel pada dinding sel. Hal ini berarti sel-sel hampir jenuh dengan uap air, padahal
banyaknya udara di luar daun hampir kering. Difusi dapat terjadi jika ada jalur yang
memungkinkan adanya ketahanan yang rendah. Kebanyakan daun tertutup oleh epidermis yang
berkutikula yang memiliki resistansi (ketahanan) tinggi untuk terjadinya difusi air (Lakitan.
1993. 39).

BAB III
METODE KERJA
A. Waktu dan tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah :
Hari / tanggal : Selasa / 12 Mei 2009
Waktu

: 14.00 16.00 WITA

Tempat

: Laboratorium Biologi lantai III


Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Kampus II Samata- Gowa.

B.

Bahan dan Alat

1.

Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol, gunting, neraca analitik,
kertas HVS, kapas dan stopwatch.

2.

Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanaman segar yang berongga.

C.

Cara kerja

1.

Mengisi botol dengan air kurang lebih setengahnya.

2.

Memasukkan tanaman segar yang panjangnya sekitar 40 cm dalam botol tersebut.

3.

Memberi kapas pada mulut botol untuk mencegah penguapan selain melalui tanaman.

4.

Menimbang botol bersama tanamannya dan mencatat beratnya.

5.

Setiap 30 menit, kemudian menimbangnya kembali sebanyak 3 kali.

6.

Setelah penimbangan berakhir kemudian mengambil tanaman tersebut dan mengukur luas total
daunnya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.

Hasil Pengamatan
Berat botol + Tanaman awal = 225 gram
Berat botol + Tanaman (30 menit 1) = 225 gram
Berat botol

+ Tanaman (30 Menit 2) = 254 gram

Berat botol

+ Tanaman (30 menit 3) = 252 gram

Berat pola daun keseluruhan = 0,6858 gram


Berat potongan kertas = 0,0074 gram
B.

Analisis Data

Dik : Berat awal botol + Tanaman = 225 gram


Berat akhir botol + Tanaman = 3 gram
X = 0,6858 gram
Y = 0,0074 gram
Dit : a. LTD..............?
b. Kecepatan transpirasi...........?

Penyelesaian:
a.

LTD = X/Y
=

0,6858 gram
0,0074 gram
= 92,67 gram
b.

(a) = Berat akhir botol + Tanaman = 3 gram


(b) = LTD = 92, 67 cm2
Kecepatan transpirasi

= a/b
= 3 / 92,67
= 0,032 gr/cm2/jam.

C.

Pembahasan
Dari hasil pengamatan pada praktikum ini terjadi proses transpirasi yaitu hilangnya air
dari tubuh tumbuhan sebagian besar melalui permukaan daun yang dibuktikan dengan terjadinya
penurunan berat botol yang berisi tanaman. Dalam percobaan ini, berat botol ditambah dengan
tanaman awalnya 225 gram, setelah 30 menit pertama beratnya tetap dan pada pengamatan pada
30 menit kedua beratnya mengalami penurunan 1 gram yaitu 224 gram dan pada 30 menit ketiga
beratnya semakin berkurang 2 gram menjadi 252 gram. Hal ini terjadi karena adanya penguapan
pada tanaman. Sel-sel yang menguapkan airnya terjadi karena banyak faktor yaitu faktor luar
antara lain radiasi atau penyinaran, temperatur, kelembaban, tekanan udara, dan angin. Semakin
banyak penyinaran maka akan membantu terbukanya stomata pada daun karena percobaan ini
dilakukan pada siang hari sehingga temperatur juga akan semakin tinggi. Selain itu di dalam
laboratorium, tempat dilakukannya pengamatan terdapat udara bebas sehingga terjadi tekanan
udara dan angin yang dapat memicu terjadinya transpirasi pada tanaman.

Adapun faktor dalamnya antara lain ukuran daun, tebal tipisnya daun, keadaan
permukaan daun, serta jumlah dan letak stomata pada permukaan daun. Ukuran daun sangat
mempengaruhi transpirasi karena semakin luas permukaan daun maka kemungkinan terdapatnya
stomata juga akan semakin banyak, sehingga akan mempercepat laju transpirasi.
Transpirasi dimulai dengan penguapan oleh sel-sel mesofil ke rongga antar sel yang ada
dalam daun. Sel-sel yang menguapkan airnya tentu akan mengalami kekurangan air sehingga
potensial airnya menurun. Uap air yang terkumpul dalam rongga antar sel akan tetap berada
dalam tempat tersebut selama stomata pada epidermis daun tidak terbuka. Agar transpirasi dapat
berjalan maka stomata harus terbuka, sehingga uap air yang berada di dalam rongga antar sel
akan keluar ke atmosfir.
Transpirasi penting bagi tumbuhan karena berperan dalam hal membantu meningkatkan
laju angkutan air dan garam mineral, mengatur suhu tubuh dengan cara melepaskan kelebihan
panas dari tubuh dengan mengatur turgor optimum di dalam sel.

BAB V
KESIMPULAN
A.
1.

Kesimpulan
Kita dapat mengetahui kecepatan transpirasi yang terjadi pada tanaman yang sebagian besar
terjadi pada stomata dengan cara berat akhir botol ditambah tanaman dibagi dengan LTD dan
memperoleh hasil 0,032 gr/cm2/jam.

2.

Kita dapat mengetahui jumlah air yang di uapkan dalam waktu tertentu karena transpirasi dapat
berlangsung karena faktor luar antara lain radiasi, temperatur, kelembaban, tekanan udara, angin
dan kadar air dalam tanah. Sedangkan faktor dalam antara lain ukuran daun, tebal tipisnya daun,
keadaan permukaan daun, serta jumlah dan letak stomata pada permukaan daun.

B.

Saran
Adapun saran saya dari praktikum ini adalah meningkatkan tingkat ketelitian kerja di
dalam melakukan suatu percobaan agar hasil yang kita capai lebih maksimal, serta
memperhatikan setiap arahan dari asisten agar praktikum dapat berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSATAKA
Anonim. 2009. Kecepatan transpirasi. http://id.org.co.//wikipedia.transpirasi.html
Diakses tanggal 28 Mei, jam 16.00 Wita.
Benyamin, Lakitan. 1993. Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sasmitamihardja, Drajat. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Jakarta.
Siregar, Arbayah. 2003. Anatomi Tumbuhan. ITB. Bandung.

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM


TRANSPIRASI

Disusun oleh:
Namira Nur Arfa
XI-IPA 3
R-SMA-BI NEGERI 2 BOGOR
BOGOR
2012-2013
LAPORAN PRAKTIKUM TRANSPIRASI
BAB.1.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sel hidup tumbuhan berhubungan langsung dengan atmosfer melalui stomata dan lenti sel
sehingga transpirasi terjadi melalui kutikula pada daun tumbuh-tumbuhan. Sel-sel hidup itu
berada dalam keadaan turgid dan sedang dan sedang bertranspirasi dilapisi oleh lapisan tipis air
yang diperoleh dari dalam sel. Sebalikya, persediaan air ini diperoleh dengan cara translokasi air
dan unsur-unsur penghantar dari akar melalui xilem. Akar-akar pohon tersebut memperoleh air
dengan cara mengabsorpsi melalui permukaan yang berhubungan dengan air di dalam tanah.
Seluruh proses ini digerakkan oleh energi yang diberikan pada daun dan batang-batang pada
tanaman tersebut (Wanggai,Frans. 91: 2007).
Tumbuhan, seperti juga hewan memiliki adaptasi evolusioner dalam bentuk respons
fisiologis terhadap perubahan jangka pendek. Misalnya jika daun pada tumbuhan mengalami
kekurangan air, daun-daun akan menutup stomata, yang merupakan lubang kecil dipermukaan
daun tersebut. Respons darurat ini akan membantu tumbuhan menghemat air dengan cara
mengurangi transpirasi, yaitu hilangnya air dari daun melalui penguapan
( Campbell.N.A,292:2000)
Dalam kehidupan sehari- hari , kita tanpa sadar menyadari bahwa tumbuhan melakukan
proses transpirasi . Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan
hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan
lentisel .80% air yang ditranspirasikan berjalan melewati lubang stomata, paling besar
peranannya dalam transpirasi.Transpirasi berperan di dalam pengangkutan air ke daun dan difusi
air antar sel , penyerapan dan pengangkutan air dan zat hara, pengangkutan asimilat , membuang
kelebihan air, pengaturan bukaan stomata dan mempertahankan suhu daun. Transpirasi di
pengaruhi oleh beberapa faktor ,yaitu faktor internal dan eksternal .Oleh karena itu kami ingin
mengetahui faktor-faktor eksternal apa sajakah yang mempengaruhi transpirasi .
1.2. Identifikasi Masalah
1.
Apakah angin mempengaruhi laju transpirasi?
2.
Apakah jumlah daun mempengaruhi transpirasi?
3.
Apakah diameter batang tanaman mempengaruhi transpirasi?
4.
Apakah kelembaban mempengaruhi transpirasi?
5.
Apakah suhu mempengaruhi transpirasi?
6.
Apakah cahaya mempengaruhi transpirasi?
7.
Apakah ketersediaan air tanah mempengaruhi laju transpirasi?
1.3. Rumusan Masalah
1.
Apakah angin mempercepat laju transpirasi?
2.
Apakah cahaya mempengaruhi laju transpirasi?
3.
Apakah kelembaban mempengaruhi laju transpirasi?
1.4.Maksud dan tujuan
1.
Mengetahui proses transpirasi pada tumbuhan
2.
Mengetahui faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi transpirasi
BAB.2.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Transpirasi

Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan
tumbuhan melalui stomata, kutikula dan lentisel . Kemungkinan kehilangan air dari jaringan
tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangna tersebut
sangat kecil dibanding dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan
besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang
hilang melalui stomata. Transpirasi merupakan bagian dari siklus air, dan itu adalah hilangnya
uap air dari bagian tanaman (mirip dengan berkeringat), terutama pada daun tetapi juga di
batang, bunga dan akar. Permukaan daun yang dihiasi dengan bukaan yang secara kolektif
disebut stomata, dan dalam kebanyakan tanaman mereka lebih banyak pada sisi bawah
dedaunan. Transpirasi juga dapat mendinginkan tanaman dan memungkinkan aliran massa nutrisi
mineral dan air dari akar ke tunas. Aliran massa air dari akar ke daun disebabkan oleh penurunan
hidrostatik (air) tekanan di bagian atas dari tumbuhan karena difusi air dari stomata ke atmosfer.
Air diserap pada akar dengan osmosis, dan semua nutrisi mineral dilarutkan perjalanan dengan
melalui

xilem.

Tingkat transpirasi secara langsung berkaitan dengan partikel penguapan air dari permukaan
tanaman, terutama dari bukaan permukaan, atau stomates, pada daun. Stomata untuk sebagian
besar kehilangan air oleh tanaman, tetapi beberapa penguapan langsung juga terjadi melalui
permukaan sel-sel epidermis daun. Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui
stomata dapat melalui kutikula walaupun hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan di
daerah beriklim sedang. Air sebagian besar menguap melalui stomata,sehingga jumlah dan
bentuk stomata sangat mempengaruhi laju transpirasi.
Hanya 1-2% dari seluruh air yang ada dalam tubuh tumbuhan digunakan dalam fotosintesis atau
dalam kegiatan metabolic sel-sel daunnya. Sisanya menguap dari daun dalam proses transpirasi.
Bila stomata terbuka, uap air ke luar dari daun. Jika daun itu harus terus berfungsi dengan baik
maka air segar harus disediakan kepada daun untuk menggantikan yang hilang pada waktu
transpirasi.
Proses transpirasi akan menyebabkan potensial air lebih rendah dibandingkan batang
ataupun akar. Akibatnya, daun seolah-olah menghisap air dari akar.
Untuk menguapkan air, tumbuhan butuh energy baru atau berubah energy menjadi panas.
Dengan demikian, transpirasi menimbulkan pengaruh pendinginan pada daun. Kebutuhan panas
untuk menguapkan air berasal dari sinar matahari yang disalurkan melalui cahaya langsung,

radiasi dan konveksi. Air merupakan bagian terbesar dari jaringan tumbuhan, semua proses
tumbuh dan berkembang terjadi karena adanya air.
Ada tiga jenis transpirasi, yaitu :
1)

Transpirasi Kutikula.

Adalah evaporasi air yang tejadi secara langsung melalui kutikula epidermis. Kutikula daun
secara relatif tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya
sebesar 10%. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi melaui stomata.
2)

Transpirasi Stomata

Sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat ruang-ruang
udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh air. Air menguap dari
dinding-dinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan uap air kemudian berdifusi melalui
stomata dari ruang-ruang antar sel ke athmosfer di luar. Sehingga dalam kondisi normal
evaporasi membuat ruang-ruang itu selali jenuh uap air. Asalkan stomata terbuka, difusi uap air
ke athmosfer pasti terjadi kecuali bila atmosfer itu sendiri sama-sama lembap.
3)

Transpirasi Lentisel

Yaitu pada daerah kulit kayu yang berisi sel-sel. Uap air yang hilang melalui jaringan ini adalah
0,1%
Pengukuran Transpirasi
Pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu mudah dilakukan. Kesulitan utamanya adalah
karena semua cara pengukuran traspirasi mengharuskan penempatan suatu tumbuhan dalam
berbagai kondisi yang mempengaruhi laju transpirasi. Ada empat cara laboratorium untuk
menaksir laju transpirasi :
1.

Kertas korbal klorida

Pada dasarnya cara ini adalah pengukuran uap air yang hilang ke udara yang diganti dengan
pengukuran uap airyang hilang ke dalam kertas kobal klorida kering. Kertas ini berwarna biru
cerah dan tetapi menjadi biru pucat dan kemudian berubah menjadi merah jambu bila menyerap
air. Sehelai kecil kertas biru cerah ditempelkan pada permukaan daun dan ditutup dengan gelas
preparat. Demikian juga bagian bawah daun. Waktu yang diperlukan untuk mengubah warna biru
kertas menjadi merah jambu dijadikan ukuran laju kehilangan air dari bagian daun yang ditutup
kertas.

2.

Potometer

Alat ini mengukur pengambilan air oleh sebuah potongan pucuk, denga asumsi bahwa bila air
tersedia dengan bebas untuk tumbuhan, jumlah air yang diambil sama dengan jumlah air yang
dikeluarkan oleh transpirasi.
3.

Pengumpulan uap air yang ditranspirasi

Cara ini mengharuskan tumbuahn atau bagian tumbuhan dikurung dalam sebuah bejana tembus
cahaya sehingga uap air yang ditranspirasikan dapat dipisahkan.
4.

Penimbangan langsung

Pengukuran transpirasi yang paling memuaskan diperoleh dari tumbuhan yang tumbuh dalam pot
yang telah diatur sedemikan rupa sehingga evaporasi dari pot dan permukaan tanah dapat
dicegah. Kehilangan air dari tumbuhan ini dapat ditaksir untukjangka waktu tertentu dengan
penimbangan langsung.
C.

Faktor yang mempengaruhi transpirasi

Faktor dalam adalah:


1.

Penutupan stomata : Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula

secara relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup.
Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air tetapi peningkatan kehilangan
air ini lebih sedikit untuk mesing-mesing satuan penambahan lebar stomata Faktor utama yang
mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya
dan kelembapan.
2.

Jumlah dan ukuran stomata : Jumlah dan ukuran stomata, dipengaruhi oleh genotipe dan

lingkungan mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada
pembukaan dan penutupan stomata.
3.
4.

Jumlah daun : Makin luas daerah permukaan daun, makin besar transpirasi.
Penggulungan atau pelipatan daun : Banyak tanaman mempunyai mekanisme dalam daun

yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air terbatas.


5.

Kedalaman dan proliferasi akar : Ketersedian dan pengambilan kelembapan tanah oleh

tanaman budidaya sangat tergantung pada kedalaman dan proliferasi akar. Perakaran yang lebih
dalam meningkatkan ketersediaan air, dari proliferasi akar (akar per satuan volume tanah )

meningkatkan pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan
permanen.
Faktor luar adalah :
1.

Sinar matahari

Seperti yang telah dibicarakan didepan, maka sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap
menyebabkan tertutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi. Karena
sinar itu juga mengandung panas (terutama sinar infra-merah), maka banyak sinar berarti juga
menambah panas, dengan demikian menaikkan tempratur. Kenaikan tempratur sampai pada
suatu batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar
transpirasi .
2.

Temperatur

Merupakan faktor lingkungan yang terpenting yang mempengaruhi transpirasi daun yang ada
dalam keadaan turgor. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi
daun yang kena sinar matahari mempunyai suhu 10o -20o F lebih tinggi daripada suhu udara.
Pengaruh tempratur terhadap transpirasi daun dapat pula ditinjau dari sudut lain, yaitu didalam
hubungannya dengan tekanan uap air di dalam daun dan tekanan uap air di luar daun. Kenaikan
temperatur menambah tekanan uap di dalam daun. Kenaikan tempratur itu sudah barang tentu
juga menambah tekanan uap di luar daun, akan tetapi berhubung udara di luar daun itu tidak di
dalam ruang yang terbatas, maka tekanan uap tiada akan setinggi tekanan uap yang terkurung
didalam daun. Akibat dari pada perbedaan tekanan ini, maka uap air akan mudah berdifusi dari
dalam daun ke udara bebas
3.

Kebasahan udara (Kelembaban udara)

Pada hari cerah udara tidak banyak mengandung uap air. Di dalam keadaan yang demikian itu,
tekanan uap di dalam daun jauh lebih lebih tinggi dari pada tekanan uap di luar daun, atau
dengan kata lain, ruang di dalam daun itu lebih kenyang akan uap air daripada udara di luar
daun, jadi molekul-molekul air berdifusi dari konsentrasi tinggi (di dalam daun) ke konsentrasi
yang rendah (di luar daun. Kesimpulannya ialah, udara yang basah menghambat transpirasi,
sedang udara kering melancarkan transpirasi. Pada kondisi alamiah, udara selalu mengandung
uap air, biasanya dengan konsentrasi antara 1 sampai 3 persen. Sebagian dari molekul air tersebut

bergerak ke dalam daun melalui stomata dengan proses kebalikan transpirasi. Laju gerak
masuknya molekul uap air tersebut berbanding dengan konsentrasi uap air udara, yaitu
kelembaban. Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang
hilang. Dengan demikian, seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan
meningkatnya kelembaban udara
4.

Angin

Pada umumnya angin yang sedang, menambah kegiatan transpirasi. Karena angin membawa
pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat stoma. Dengan demikian, maka uap yang masih ada
di dalam daun kemudian mendapat kesempatan untuk difusi ke luar . Angin mempunyai
pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi. Secara singkat
dapat disimpulkan bahwa angin cenderung untuk meningkatkan laju transpirasi, baik di dalam
naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi, di bawah sinar matahari, pengaruh
angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap penurunan laju transpirasi,
cenderung lebih penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air.
Dalam udara yang sangat tenang suatu lapisan tipis udara jenuh terbentuk di sekitar permukaan
daun yang lebih aktif bertranspirasi. Jika udara secara keseluruhan tidak jenuh, maka akan
terdapat gradasi konsentrasi uap air dari lapisan udara jenuh tersebut ke udara yang semakin jauh
semakin tidak jenuh. Dalam kondisi seperti itu transpirasi terhenti karena lapisan udara jenuh
bertindak sebagai penghambat difusi uap air ke udara di sekitar permukaan daun. Oleh karena
itu, dalam udara yang tenang terdapat dua tahanan yang harus ditanggulangi uap air untuk
berdifusi dari ruang-ruang antar sel ke udara luar. Yang pertama adalah tahanan yang harus
dilalui pada lubang-lubang stomata, dan yang kedua adalah tahanan yang ada dalam lapisan
udara jenuh yang berdampingan dengan permukaan daun. Oleh karena itu dalam udara yang
bergerak, besarnya lubang stomata mempunyai pengaruh lebih besar terhadap transpirasi
daripada dalam udara tenang. Namun, pengaruh angin sebenarnya lebih kompleks daripada
uraian tadi karena kecendrungannya untuk meningkatkan laju transpirasi sampai tahap tertentu
dikacaukan oleh kecendrungan untuk mendinginkan daun-daun sehingga mengurangi laju
transpirasi. Tetapi efek angin secara keseluruhan adalah selalu meningkatkan transpirasi
5.

Keadaan air dalam tanah

Air di dalam tanah ialah satu-satunya suber yang pokok, dari mana akar-akar tanaman
mendapatkan air yang dibutuhkannya. Absorpsi air lewat bagian-bagian lain yang ada di atas

tanah seperti batang dan daun juga ada, akan tetapi pemasukan air lewat bagian-bagian itu tiada
seberapa kalau dibanding dengan penyerapan air melalui akar.
Tersedianya air dalam tanah adalah faktor lingkungan lain yang mempengaruhi laju transpirasi.
Bila kondisi air tanah sedemikian sehingga penyediaan air ke sel-sel mesofil terhambat,
penurunan laju transpirasi akan segera tampak
Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan laju absorbsi air dari akar. Pada
siang hari, biasanya air ditranspirasikan dengan laju yang lebih cepat daripada penyerapannya
dari tanah. Hal tersebut menimbulkan defisit air dalam daun. Pada malam hari akan terjadi
kondisi yang sebaliknya, karena suhu udara dan suhu daun lebih rendah. Jika kandungan air
tanah menurun, sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar
menjadi lebih lambat.
D.

Mekanisme transpirasi
Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel sel mesofil ke rongga antar sel yang

ada dalam daun. Dalam hal ini rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga yang
besar, sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah banyak. Penguapan air ke rongga antar
sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air.
Sel-sel yang menguapkan airnya kerongga antar sel, tentu akan mengalami kekurangan air
sehingga potensial airnya menurun. Kekurangan ini akan diisi oleh air yang berasal dari xilem
tulang daun, yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima
dari akar dan seterusnya. Uap air yang terkumpul dalam ronga antara sel akan tetap berada dalam
rongga antar sel tersebut, selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Aapabila stomata
membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer kalau tekanan
uap air di atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel maka uap air dari rongga antar sel akan
keluar ke atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi. Jadi syarat utama untuk berlangsungnya
transpirasi adalah adanya penguapan air didalam daun dan terbukanya stomata.
E.

Kegunaan dan kerugian transpirasi

1.

Kegunaan transpirasi

Pada tanaman, transpirasi itu pada hakekatnya suatu penguapan air yang baru yang membawa
garam-garam mineral dari dalam tanah. Transpirasi juga bermanfaat di dalam hubungan

penggunaan sinar (panas) matahari. Kenaikan temperatur yang membahayakan dapat dicegah
karena sebagia dari sinar matahari yang memancar itu digunakan untuk penguapan air.
Mempercepat laju pengangkutan unsur hara melalui pembulih xilem, membuang kelebihan air,
menjaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap pada kondisi optimal, mengatur bukaan stomata, dan
sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas suhu daun. pengangkutan unsur hara tetap dapat
berlangsung jika transpirasi tidak terjadi. Akan tetapi, laju pengangkutan terbukti akan
berlangsung lebih cepat jika transpirasi berlangsung secara optimum. Transpirasi jelas
merupakan suatu proses pendinginan, pada siang hari radiasi matahari yang diserap daun akan
meningkatkan suhu daun. Jika transpirasi berlangsung maka peningkatan suhu daun ini dapat
dihindari.
2.

Kerugian transpirasi

Transpirasi dapat membahayakan tanaman jika lengas tanah terbatas, penyerapanair tidak
mampu mengimbangi laju transpirasi, tanaman layu, layu permanent, mati, hasil tanaman
menurun. Sering terjadi di daerah kering, perlu irigasi.
F.

Evaporasi
Evaporasi merupakan proses fisis perubahan cairan menjadi uap, hal ini terjadi apabila air

cair berhubungan dengan atmosfer yang tidak jenuh, baik secara internal pada daun (transpirasi)
maupun secara eksternal pada permukaan-permukaan yang basah. Suatu tajuk hutan yang lebat
menaungi permukaan di bawahnya dari pengaruh radiasi matahari dan angin yang secara drastis
akan mengurangi evaporasi pada tingkat yang lebih rendah. Transpirasi pada dasarnya
merupakan salah satu proses evaporasi yang dikendalikan oleh proses fotosintesis pada
permukaan daun.
Perbedaan transpirasi dan evaporasi yaitu :

Transpirasi
1.
2.
3.
4.

Proses fisiologis yang termodifikasi


Diatur bukaan stomata
Diatur beberapa macam tekanan
Terjadi di jaringan hidup

Evaporasi
1.
2.
3.
4.

Proses fisiologis murni


Tidak diatur bukaan stomata
Tidak diatur oleh tekanan
Tidak terbatas pada jaringan hidup

5.

Permukaan sel basah

5.

Permukaan yang menjalankannya

menjadi kering.
G.

Evapotranspirasi
Evapotranspirasi adalah kombinasi proses kehilangan air dari suatu lahan bertanaman

melalui evaporasi dan transpirasi. Evaporasi adalah proses dimana air diubah menjadi uap air
(vaporasi, vaporization) dan selanjutnya uap air tersebut dipindahkan dari permukaan bidang
penguapan ke atmosfer (vapor removal). Evaporasi terjadi pada berbagai jenis permukaan seperti
danau, sungai lahan pertanian, tanah, maupun dari vegetasi yang basah. Transpirasi adalah
vaporisasi di dalam jaringan tanaman dan selanjutnya uap air tersebut dipindahkan dari
permukaan tanaman ke atmosfer (vapor removal). Pada transpirasi, vaporisasi terjadi terutama di
ruang antar sel daun dan selanjutnya melalui stomata uap air akan lepas ke atmosfer. Hampir
semua air yang diambil tanaman dari media tanam (tanah) akan ditranspirasikan, dan hanya
sebagian kecil yang dimanfaatkan tanaman.

H.

Gutasi
Gutasi adalah proses pelepasan air dalam bentuk cair dari jaringan daun . Istilah gutasi

pertama kali dipakai oleh Burgerstein. Gutasi terjadi saat kondisi tanah sesuai sehingga
penyerapan air tinggi namun laju penguapan/ transpirasi rendah maupun ketika penguapan air
sulit terjadi karena tingginya kelembaban udara. Proses gutasi terjadi pada struktur daun mirip
stomata yang bernama hidatoda. Gutasi dapat diamati dengan munculnya tetes-tetes air di tepi
daun yang tersusun teratur. Tingkat terjadinya gutasi sangat rendah dibandingkan dengan
transpirasi. Gutasi juga lebih jarang diobservasi daripada transpirasi. Titik-titik air di tepi daun
yang terjadi akibat gutasi di pagi hari sering disalahartikan sebagai embun.
Beberapa perbedaan utama gutasi dan transpirasi adalah:
Faktor

Gutasi

Transpirasi

Pembeda
Bentuk air yang Pelepasan air dari jaringan Pelepasan air dari jaringan
dilepaskan

tumbuhan

dalam

bentuk tumbuhan dalam bentuk

titik-titik air (cair)


Kualitas

uap air

air Air mengandung senyawa-

yang dilepaskan

Air murni

senyawa terlarut dan garam


mineral

Mekanisme

Air

dilepaskan

melalui Air

dilepaskan

struktur hidatoda menuju stomata,

melalui
kutikula,

ujung pembuluh daun

dan/atau lentisel

Regulasi

Pembukaan hidatoda tidak

aktivitas

dapat diregulasi

Waktu terjadi

Pada malam atau pagi hari

Transpirasi melalui
stomata diatur oleh sel
penjaga
Pada saat ada sinar
matahari (melalui
stomata) dan sepanjang
hari (melalui kutikula atau
lentisel

2.2. Hipotesis
Hipotesis Positif:
1. Angin mempengaruhi proses transpirasi dengan cara mempercepat laju transpirasi
2. Cahaya mempengaruhi proses transpirasi dengan cara mempercepat laju transpirasi
3. Kelembaban mempengaruhi proses transpirasi dengan cara memperlambat laju
transpirasi
Hipotesis negatif:
1. Angin tidak mempengaruhi proses transpirasi
2. Cahaya tidak mempengaruhi proses transpirasi
3. Kelembaban tidak mempengaruhi proses transpirasis
BAB.3.METEDOLOGI PRAKTIKUM
3.1.Waktu dan tempat
Pada hari Senin,05 November 2012 bertempat di Laboratorium SMA Negeri 2 Bogor.
3.2.Alat dan Fungsi
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Cutter berfungsi untuk memotong batang tumbuhan dan melubangi tutup botol
Penggaris berfungsi untuk mengukur jumlah air pada botol
Gelas ukur berfungsi untuk mengukur banyaknya air yang akan dimasukkan ke dalam botol
Ember berfungsi di dalam pemotongan batang tumbuhan
Kipas angin berfungsi untuk memberikan angin yang besar terhadap tumbuhan

6. Botol aqua sebagai media tumbuhan


7. Alat tulis untuk menulis hasil pengamatan
3.3.Bahan dan Fungsi
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :

3 buah tanaman bayam sebagai bahan pengamatan

Air untuk mencuci alat alat yang kotor.

3.4.Cara Kerja
Berikut ini cara kerja dari praktikum adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan


Melubangi tutup botol sesuai dengan diameter batang
Menyiapkan 400 ml air pada setiap botol
Memasukkan sejumlah air pada ember
Memotong tanaman menjadi tiga bagian di dalam air yang terdapat pada ember.
Memasukkan batang tanaman ke dalam botol
Memberi identitas pada setiap tanaman
Meletakkan setiap tanaman pada ketiga tempat yang berbeda, yaitu pada tempat terang , tempat
dengan kelembaban tinggi serta tempat yang memiliki angin yang tinggi
9. Mengukur perubahan volume air setelah 20 menit
10. Mengulangi kerja ke 9) sampai tiga kali
11. Mencatat hasil pengamatan

BAB.4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.HASIL
Tabel Hasil Pengamatan :
No
Perlakuan
20 menit kesatu

Waktu
20 menit keDua

Jumlah
20 menit ketiga

1.
2.
3.

Kelembaban
Cahaya matahari
Angin

12 cm (400 ml)
12 cm(400 ml)
12 cm(400 ml)

11,9 cm
11,8 cm
11, 7 cm

11,8 cm
11,5 cm
11,6 cm

398ml
396ml
397ml

4.2.PEMBAHASAN
Dapat diketahui dari data tersebut bahwa pada tanaman bayam yang diletakkan pada tempat yang
memiliki cahaya matahari mengalami pengurangan volume air yang menandakan terjadinya
transpirasi , karena sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan tertutupnya
stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung
panas (terutama sinar infra-merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan
demikian menaikkan tempratur. Kenaikan temperatur sampai pada suatu batas yang tertentu
menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi .Panjang awal
air adalah 12cm atau 400ml , pada 20 menit kedua , panjang air berkurang menjadi 11,8 cm dan
pada 20 menit ketiga panjang air menjadi 11,5 cm .Transpirasi terjadi pada tumbuhan tersebut ,
sehingga air berkurang dari yang awalnya 400 ml menjadi 398 ml setelah 60 menit.
Pada daerah yang berangin panjang awal air 12 cm atau 400 ml, pada 20 menit pertama
panjang air adalah 12 cm, pada 20 menit kedua, air bekurang 3 cm menjadi 11,7 cm dan pada 20
menit ketiga panjang air menjadi hanya 11,6 cm . Volume pada daerah berangin awalnya 400 ml
setelah 60 menit, menjadi 397 ml . Hal ini disebabkan karena angin yang sedang, menambah
kegiatan transpirasi. Karena angin membawa pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat
stoma. Dengan demikian, maka uap yang masih ada di dalam daun kemudian mendapat
kesempatan untuk difusi ke luar .
Pada daerah yang agak lembab panjang awal air adalah 12cm atau 400ml , pada 20 menit
kedua , panjang air berkurang menjadi 11,9 cm dan pada 20 menit ketiga panjang air menjadi
11,8 cm .Transpirasi terjadi pada tumbuhan tersebut , sehingga air berkurang dari yang awalnya

BIMBING

400 ml menjadi 398 ml setelah 60 menit.Namun , laju transpirasi pada daerah yang agak lembab
lebih lambat dibandingkan pada daerah berangin atau bercahaya.
Jadi , Cahaya/suhu , kelembaban dan angin mempengaruhi laju transpirasi.

1.
2.
3.
1.
2.

KESIMPULAN
Transpirasi adalah proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui
stomata, kutikula dan lentisel. Transpirasi dipengaruhi oleh beberapa faktor .
Faktor eksternal yang mempengaruhi laju transpirasi adalah :
Cahaya matahari/suhu
Angin
Kelembaban
SARAN
Sebaiknya pemotongan batang dilakukan di dalam air
Sebaiknya penelitian dilakukan secara teliti

DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro, D. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia
Lakitan, B. 1993. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Loveless, A.R. 1991. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 1. Jakarta: Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Tjitrosomo, S.S. 1990. Botani Umum 2. Bandung: Penerbit Angkasa

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN


TRANSPIRASI
: Dr. Sri Amnah, M.Si

DISUSUN OLEH :
: HAJRI YANI

: 126510795
: 5.C-BIOLOGI
:6
: 20 DESEMBER 2014

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2014

LAPORAN PRAKTIKUM
TRANSPIRASI
I.

II.

TUJUAN

Mengetahui proses transpirasi pada tumbuhan.

Mengetahui pengaruh luas permukaan daun terhadap kecepatan

Menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peristiwa transpirasi pada tanaman.

transpirasi

LANDASAN TEORI
Tumbuhan untuk hidupnya memerlukan cahaya, suhu, kelembaban, mineral, dan air. Air
digunakan untuk reaksi biokimia dalam sel. Kebutuhan air secukupnya, jika kelebihan air akan
di uapkan atau ditranspirasikan. Jika kelebihan air tidak di buah, justri akan menghambat
metabolisme yang akhirnya akan merusak tanaman itu sendiri.

Pengeluaran air pada tanaman dapat melalui peristiwa transpirasi atau gutasi. Transpirasi
adalah lepasnya air dalam bentuk uap air dari tubuh tumbuhan ke atmosfer. Penguapan dapat
melalui stomata, lenti sel, dan kutikula. Sedangkan, gutasi adalah proses penheluaran air berupa
tetes air pada ujung daun yang merupakan ujung dari xylem yang disebut hudatoda atau
emisarium.
Proses transpirasi sebenarnya merupakan proses fisika, yaitu penguapan air dari daun ke
atmosfer. Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan penguapan, yaitu photometer dan
transpirometer atau evaporometer. Transpirasi diperlukan tumbuhan untuk membantu
penyerapan unsur hara, mengatur suhu tubuh tanaman, dan membuang sisa air yang berlebihan.
Pada alat transpirometer, air dalam tabung akan berkurang karena diserap tanaman dan ruang
bekas air akan diisi udara, dengan mengukur jarak tempuh pada pipa kapiler, kita akan tahu
jumlah air yang diuapkan oleh daun tanaman.
Hanya 1-2% dari seluruh air yang ada dalam tubuh tumbuhan digunakan dalam
fotosintesis atau dalam kegiatan metabolic sel-sel daunnya. Sisanya menguap dari daun dalam
proses transpirasi. Bila stomata terbuka, uap air ke luar dari daun. Jika daun itu harus terus
berfungsi dengan baik maka air segar harus disediakan kepada daun untuk menggantikan yang
hilang pada waktu transpirasi.
Proses transpirasi akan menyebabkan potensial air lebih rendah dibandingkan batang
ataupun akar. Akibatnya, daun seolah-olah menghisap air dari akar.
Untuk menguapkan air, tumbuhan butuh energy baru atau berubah energy menjadi panas.
Dengan demikian, transpirasi menimbulkan pengaruh pendinginan pada daun. Kebutuhan panas
untuk menguapkan air berasal dari sinar matahari yang disalurkan melalui cahaya langsung,
radiasi dan konveksi. Air merupakan bagian terbesar dari jaringan tumbuhan, semua proses
tumbuh dan berkembang terjadi karena adanya air.
Ada tiga jenis transpirasi, yaitu :
1)

Transpirasi Kutikula.
Adalah evaporasi air yang tejadi secara langsung melalui kutikula epidermis. Kutikula

daun secara relatif tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula
hanya sebesar 10%. Oleh karena itu, sebagian besar air yang hilang terjadi melaui stomata.
2)

Transpirasi Stomata

Sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat ruangruang udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh air. Air menguap dari
dinding-dinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan uap air kemudian berdifusi melalui
stomata dari ruang-ruang antar sel ke athmosfer di luar. Sehingga dalam kondisi normal
evaporasi membuat ruang-ruang itu selali jenuh uap air. Asalkan stomata terbuka, difusi uap air
ke athmosfer pasti terjadi kecuali bila atmosfer itu sendiri sama-sama lembap.
3)

Transpirasi Lentisel

Yaitu pada daerah kulit kayu yang berisi sel-sel. Uap air yang hilang melalui jaringan ini adalah
0,1%
Pengukuran Transpirasi.
Pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu mudah dilakukan. Kesulitan utamanya adalah
karena semua cara pengukuran traspirasi mengharuskan penempatan suatu tumbuhan dalam
berbagai kondisi yang mempengaruhi laju transpirasi. Ada empat cara laboratorium untuk
menaksir laju transpirasi :
1.

Kertas korbal klorida


Pada dasarnya cara ini adalah pengukuran uap air yang hilang ke udara yang diganti

dengan pengukuran uap airyang hilang ke dalam kertas kobal klorida kering. Kertas ini berwarna
biru cerah dan tetapi menjadi biru pucat dan kemudian berubah menjadi merah jambu bila
menyerap air. Sehelai kecil kertas biru cerah ditempelkan pada permukaan daun dan ditutup
dengan gelas preparat. Demikian juga bagian bawah daun. Waktu yang diperlukan untuk
mengubah warna biru kertas menjadi merah jambu dijadikan ukuran laju kehilangan air dari
bagian daun yang ditutup kertas.
2.

Potometer
Alat ini mengukur pengambilan air oleh sebuah potongan pucuk, denga asumsi bahwa

bila air tersedia dengan bebas untuk tumbuhan, jumlah air yang diambil sama dengan jumlah air
yang dikeluarkan oleh transpirasi.
3.

Pengumpulan uap air yang ditranspirasi

Cara ini mengharuskan tumbuahn atau bagian tumbuhan dikurung dalam sebuah bejana tembus
cahaya sehingga uap air yang ditranspirasikan dapat dipisahkan.

4.

Penimbangan langsung
Pengukuran transpirasi yang paling memuaskan diperoleh dari tumbuhan yang tumbuh

dalam pot yang telah diatur sedemikan rupa sehingga evaporasi dari pot dan permukaan tanah
dapat dicegah. Kehilangan air dari tumbuhan ini dapat ditaksir untukjangka waktu tertentu
dengan penimbangan langsung.
Faktor yang mempengaruhi transpirasi.
Faktor dalam adalah:
1.

Penutupan stomata : Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula

secara relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup.
Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air tetapi peningkatan kehilangan
air ini lebih sedikit untuk mesing-mesing satuan penambahan lebar stomata Faktor utama yang
mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya
dan kelembapan.
2.

Jumlah dan ukuran stomata : Jumlah dan ukuran stomata, dipengaruhi oleh genotipe dan

lingkungan mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada
pembukaan dan penutupan stomata.
3.

Jumlah daun : Makin luas daerah permukaan daun, makin besar transpirasi.

4.

Penggulungan atau pelipatan daun : Banyak tanaman mempunyai mekanisme dalam daun

yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air terbatas.


5.

Kedalaman dan proliferasi akar : Ketersedian dan pengambilan kelembapan tanah oleh

tanaman budidaya sangat tergantung pada kedalaman dan proliferasi akar. Perakaran yang lebih
dalam meningkatkan ketersediaan air, dari proliferasi akar (akar per satuan volume tanah )
meningkatkan pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan
permanen.
Faktor luar adalah :
1.

Sinar matahari
Seperti yang telah dibicarakan didepan, maka sinar menyebabkan membukanya stoma

dan gelap menyebabkan tertutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi.
Karena sinar itu juga mengandung panas (terutama sinar infra-merah), maka banyak sinar berarti
juga menambah panas, dengan demikian menaikkan tempratur. Kenaikan tempratur sampai pada

suatu batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar
transpirasi .
2.

Temperatur
Merupakan faktor lingkungan yang terpenting yang mempengaruhi transpirasi daun yang

ada dalam keadaan turgor. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu udara,
tetapi daun yang kena sinar matahari mempunyai suhu 10o -20o F lebih tinggi daripada suhu
udara. Pengaruh tempratur terhadap transpirasi daun dapat pula ditinjau dari sudut lain, yaitu
didalam hubungannya dengan tekanan uap air di dalam daun dan tekanan uap air di luar daun.
Kenaikan temperatur menambah tekanan uap di dalam daun.
Kenaikan tempratur itu sudah barang tentu juga menambah tekanan uap di luar daun,
akan tetapi berhubung udara di luar daun itu tidak di dalam ruang yang terbatas, maka tekanan
uap tiada akan setinggi tekanan uap yang terkurung didalam daun. Akibat dari pada perbedaan
tekanan ini, maka uap air akan mudah berdifusi dari dalam daun ke udara bebas .
3.

Kebasahan udara (Kelembaban udara)


Pada hari cerah udara tidak banyak mengandung uap air. Di dalam keadaan yang

demikian itu, tekanan uap di dalam daun jauh lebih lebih tinggi dari pada tekanan uap di luar
daun, atau dengan kata lain, ruang di dalam daun itu lebih kenyang akan uap air daripada udara
di luar daun, jadi molekul-molekul air berdifusi dari konsentrasi tinggi (di dalam daun) ke
konsentrasi yang rendah (di luar daun.
Kesimpulannya ialah, udara yang basah menghambat transpirasi, sedang udara kering
melancarkan transpirasi. Pada kondisi alamiah, udara selalu mengandung uap air, biasanya
dengan konsentrasi antara 1 sampai 3 persen. Sebagian dari molekul air tersebut bergerak ke
dalam daun melalui stomata dengan proses kebalikan transpirasi.
Laju gerak masuknya molekul uap air tersebut berbanding dengan konsentrasi uap air
udara, yaitu kelembaban. Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto
dari air yang hilang. Dengan demikian, seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun
dengan meningkatnya kelembaban udara
4.

Angin
Pada umumnya angin yang sedang, menambah kegiatan transpirasi. Karena angin

membawa pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat stoma. Dengan demikian, maka uap yang
masih ada di dalam daun kemudian mendapat kesempatan untuk difusi ke luar . Angin

mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa angin cenderung untuk meningkatkan laju transpirasi,
baik di dalam naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air.
Akan tetapi, di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun,
dengan demikian terhadap penurunan laju transpirasi, cenderung lebih penting daripada
pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air.
Dalam udara yang sangat tenang suatu lapisan tipis udara jenuh terbentuk di sekitar permukaan
daun yang lebih aktif bertranspirasi. Jika udara secara keseluruhan tidak jenuh, maka akan
terdapat gradasi konsentrasi uap air dari lapisan udara jenuh tersebut ke udara yang semakin jauh
semakin tidak jenuh.
Dalam kondisi seperti itu transpirasi terhenti karena lapisan udara jenuh bertindak
sebagai penghambat difusi uap air ke udara di sekitar permukaan daun. Oleh karena itu, dalam
udara yang tenang terdapat dua tahanan yang harus ditanggulangi uap air untuk berdifusi dari
ruang-ruang antar sel ke udara luar. Yang pertama adalah tahanan yang harus dilalui pada lubanglubang stomata, dan yang kedua adalah tahanan yang ada dalam lapisan udara jenuh yang
berdampingan dengan permukaan daun.
Oleh karena itu dalam udara yang bergerak, besarnya lubang stomata mempunyai
pengaruh lebih besar terhadap transpirasi daripada dalam udara tenang. Namun, pengaruh angin
sebenarnya lebih kompleks daripada uraian tadi karena kecendrungannya untuk meningkatkan
laju transpirasi sampai tahap tertentu dikacaukan oleh kecendrungan untuk mendinginkan daundaun sehingga mengurangi laju transpirasi. Tetapi efek angin secara keseluruhan adalah selalu
meningkatkan transpirasi
5.

Keadaan air dalam tanah

Air di dalam tanah ialah satu-satunya suber yang pokok, dari mana akar-akar tanaman
mendapatkan air yang dibutuhkannya. Absorpsi air lewat bagian-bagian lain yang ada di atas
tanah seperti batang dan daun juga ada, akan tetapi pemasukan air lewat bagian-bagian itu tiada
seberapa kalau dibanding dengan penyerapan air melalui akar.
Tersedianya air dalam tanah adalah faktor lingkungan lain yang mempengaruhi laju
transpirasi. Bila kondisi air tanah sedemikian sehingga penyediaan air ke sel-sel mesofil
terhambat, penurunan laju transpirasi akan segera tampak.

Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan laju absorbsi air dari
akar. Pada siang hari, biasanya air ditranspirasikan dengan laju yang lebih cepat daripada
penyerapannya dari tanah. Hal tersebut menimbulkan defisit air dalam daun. Pada malam hari
akan terjadi kondisi yang sebaliknya, karena suhu udara dan suhu daun lebih rendah. Jika
kandungan air tanah menurun, sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke
dalam akar menjadi lebih lambat.
D.

Mekanisme transpirasi
Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel sel mesofil ke rongga antar sel yang

ada dalam daun. Dalam hal ini rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga yang
besar, sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah banyak. Penguapan air ke rongga antar
sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air.
Sel-sel yang menguapkan airnya kerongga antar sel, tentu akan mengalami kekurangan
air sehingga potensial airnya menurun. Kekurangan ini akan diisi oleh air yang berasal dari xilem
tulang daun, yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima
dari akar dan seterusnya. Uap air yang terkumpul dalam ronga antara sel akan tetap berada dalam
rongga antar sel tersebut, selama stomata pada epidermis daun tidak membuka.
Apabila stomata membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan
atmosfer kalau tekanan uap air di atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel maka uap air dari
rongga antar sel akan keluar ke atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi. Jadi syarat utama
untuk berlangsungnya transpirasi adalah adanya penguapan air didalam daun dan terbukanya
stomata.
E.

Kegunaan dan kerugian transpirasi

1.

Kegunaan transpirasi

Pada tanaman, transpirasi itu pada hakekatnya suatu penguapan air yang baru yang membawa
garam-garam mineral dari dalam tanah. Transpirasi juga bermanfaat di dalam hubungan
penggunaan sinar (panas) matahari. Kenaikan temperatur yang membahayakan dapat dicegah
karena sebagia dari sinar matahari yang memancar itu digunakan untuk penguapan air.
Mempercepat laju pengangkutan unsur hara melalui pembulih xilem, membuang
kelebihan air, menjaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap pada kondisi optimal, mengatur bukaan
stomata, dan sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas suhu daun. pengangkutan unsur
hara tetap dapat berlangsung jika transpirasi tidak terjadi.

Akan tetapi, laju pengangkutan terbukti akan berlangsung lebih cepat jika transpirasi
berlangsung secara optimum. Transpirasi jelas merupakan suatu proses pendinginan, pada siang
hari radiasi matahari yang diserap daun akan meningkatkan suhu daun. Jika transpirasi
berlangsung maka peningkatan suhu daun ini dapat dihindari.
2.

Kerugian transpirasi

Transpirasi dapat membahayakan tanaman jika lengas tanah terbatas, penyerapanair tidak
mampu mengimbangi laju transpirasi, tanaman layu, layu permanent, mati, hasil tanaman
menurun. Sering terjadi di daerah kering, perlu irigasi.
III.

RUMUSAN MASALAH

Apakah ada pengaruh cahaya terhadap transpirasi pada tempat terang dan ditempat yang gelap
atau teduh?

IV.

V.

HIPOTESIS
Ha = Ada pengaruh cahaya terhadap laju trasnspirasi ditempat yang gelap atau teduh.

ALAT DAN BAHAN


TRANSPIROMETER

STOPWAT

KAMERA

PISAU CUTTER

KERTAS KALKIR

VASELIN

RANTING

AIR

TIMBANGAN

RAMBUTAN

ANALITIK

VI.

LANGKAH KERJA

1.

Merangkai alat dengan benar, kemudian memasukkan cabang tanaman yang ada daunnya ke

2.

dalam alat transpirometer.


Merapatkan bagian yang diduga bocor dengan vaselin (tanda bocor) air mengalir ke luar karena

ada tekanan udara.


3.
Meletakkan alat transpirometer pertama di tempat terang.
4.
Melakukan seperti nomor (3), yaitu meletakkannya ditempat yang teduh.
5.
Melepas sumbat alat, buang airnya, kemudian ambil daunnya tanpa tangkai dan ditimbang.
6.

Mencatat hasil penimbangannya.


Mengambil beberapa daun minimal 5 buah daun yang telah diuji tadi. Memotong dengan luas
total berat dibagi dengan berat daun yang dicetak dikertas kalkir tersebut, kemudian menimbang

7.
8.
VI.

dan mencari rata-ratanya.


Menghitung dengan cara terlampir.
Dokumentsilah hasilnya untuk hasil pengamatan
HASIL PENGAMATAN
Tabel Laju Pengamatan Transpirasi Ditempat yang Teduh/ gelap
Menit

Laju (ml)

Kecepatan
(ml/menit)
0,005

1
2
3
4
5
6
7

0,005
0,005
0,006
0,006
0,008
0,010
0,015

0,015

0,019

0,004

10

0,019

11

0,020

0,001

12

0,020

13

0,021

0,001

14

0,021

0
0,001
0
0,002
0,002
0,005

15

0,022

0,001

16

0,022

17

0,023

0,001

18

0,023

19

0,023

20

0,023

0
0,023

Cara Mencari kecepatan:


= 0,005
Luas permukaan daun = = 0,2
Laju transpirasi = = = 173,91304

Gambar hasil pengamatan


Laju transpirasi menit ke-1 0,005.
Laju transpirasi menit ke-2 masih
tetap sama..
Laju transpirasi menit ke-3
bertambah menjadi 0,006.

Laju transpirasi menit ke-4 masih


sama dengan menit ke-3
Laju transpirasi menit ke-5 naik
menjadi 0,008

Laju transpirasi pd menit ke-6


naik 0,01
Laju transpirasi menit ke-7 naik
menjadi 0,015.
Laju transpirasi menit ke-8 sama
dengan menit ke-7.
Laju transpirasi menit ke-9 laju
menjadi 0,019
Laju transpirasi menit ke-10 masih
sama dg menit ke-9
Laju transpirasi menit ke-11 laju
menjadi naik 0,02
Laju transpirasi menit ke-12 masih
sama pd menit ke-11
Laju transpirasi menit ke-13 laju
naik menjadi 0,021
Laju transpirasi menit ke-14 masih
sama dengan menit ke-13
Laju transpirasi menit ke-15 laju
naik menjadi 0,02
Laju transpirasi menit ke-16 masih
sama pada menit ke-15
laju transpira menit ke-17 sampai
pada menit ke-20, tetap 0,023

VII.

GAMBAR HASIL PRATIKUM TRANSPIRASI DITEMPAT


YANG TERANG , MENUNJUKKAN GAGAL KARENA DISEBABKAN OLEH
BEBERAPA FAKTOR.

Untuk tabel transpirasi yang ditempat yang terang.


Pada tempat terang, transpirasi tidak ada tabel, karena keterangannya tidak ditemui hasil
transpirasi pada tempat yang terang,( tidak berhasil) yang disebabkan oleh beberapa faktor.
Faktornya akan dijelaskan dalam pembahasan.

VIII. PEMBAHASAN
Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel-sel mesofil ke rongga antar sel yang
ada dalam daun. Dalam hal ini rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga yang
besar, sehingga dapat menampung uap air dalam jumlah yang banyak. Penguapan air ke rongga
antar sel akan terus berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air. Sel-sel
yang menguapkan airnya kerongga antar sel tentu akan mengalami kekurangan air sehingga
potensial airnya menurun. Kekurangan air ini akan diisi oleh air yang berasal dari xylem tulang
daun yang selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima dari
akar.
Uap air yang terkumpul dalam rongga antar sel akan tetap berada dalam rongga antar sel
tersebut selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Kalaupun ada uap air yang keluar
menembus epidermis dan kutikula, jumlahnya hanya sedikit dan dapat diabaikan. Agar

transpirasi dapat berjalan, maka stomata pada epidermis tadi harus membuka. Apabila stomata
membuka, maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer.
Dari pengamatan transpirasi detempat terang dan gelap yang kami lakukan pada tumbuhan,
maka disini dapat kami bahaskan Masalah yang ditemui pada transpirasi yaitu:

Pada transpirasi ditempat yang gelap ini kami mendapatkan hasil pengamatan
yang mana laju transpirasi ditempat gelap ini lambat pada menit ke- 20 laju transpirasi baru
mencapai 0,023, kenapa hal demikian ..? dan apa yang menyebabkan laju transpirasi pada
ditempat gelap ini lambat, karena salah satu yang memperlambat transpirasi ini adalah sinar
matahari yang mana pada ditempat gelap ini sinar matahari tidak ada sehingga itulah faktor yang
pertama yang menyebabkan lambatnya transpirasi nditempat yang gelap ini lambat. sedangkan
faktor yang bisa membuat transpirasi itu bisa laju salah satunya adalah sinar matahari, yang
mana sinar menyebabkan membukanya stomata dan gelap menyebabkan menutupnya stomata,

ketika stomata terbuka akan mempercepat transpirasi.


Pada transpirasi yang dilakukan ditempat yang terang ini, yang mana
beberapa kelompok telah melakukan pratikum tapi mereka tidak mendapatkan hasil sama sekali
itulah masalah yang kami jumpai pada pratikum transpirasi ditempat yang gelap ini seharusnya
pada tempat yang terang ini laju transpirasi akan cepat dibandingkan transpirasi ditempat yang

gelap , karna adanya sinar matahari yang bisa mempercepat transpirasi.


Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara pertama cahaya akan
mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan yang kedua
dapat mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata. Stomata
merupakan bagian dari jaringan epidermis pada daun yang berfungsi sebagai organ transpirasi dan
fotosintesis. Daun yang mempunyai stomata di kedua permukaan disebut daun amfistomatik,
sedangkan apabila memiliki stomata yang hanya terdapat di permukaan atas saja disebut daun
epistomatik, dan sebaliknya apabila mempunyai stomata yang hanya terdapat pada permukaan
bawah saja disebut daun hipostomatik. Adapun

letak stomata paling banyak terdapat di

permukaan bawah daun, karena untuk mengurangi proses penguapan air


Jadi disini dapat kami beri alasan kenapa pada transpirasi ditempat yang
terang ini satupun teman tidak berhasil mngkin faktornya bisa saja yaitu: mungkin
transpirometernya ada kerusakan, dan mungkin bisa ug kinerja yang pratikum tidak baik
sehingga tidak mendapatkan hasilnya.

Jadi dasar teori yang didapatkan terjawablah permasalahan diatas yaitu


pengaruh adanya sinar matahari terhadap transpirasi yaitu dapat mempercepatkan laju transpirasi
karena dibawah sinar matahari stomata bisa membuka dan digelap stomata menutup.

XI.

KESIMPULAN
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan
tumbuhan melalui stomata. Proses proses transpirasi terjadi melalui 2 tahapan, yaitu :
1.

Evaporasi air dari dinding sel ke ruang antar sel yang ada dalam daun. Proses ini akan terus
berlangsung sampai rongga antar sel jenuh dengan uap air. Sel-sel yang menguapkan air ke
rongga antar sel akan kekurangan air sehingga potensial airnya menurun. Pada tahap inilah air

2.

yang diserap oleh akar akan dibawa naik melalui pembuluh xylem sampai bagian daun.
Difusi air dari ruang antar sel ke atmosfer melalui stomata, kutikula ataupun lentisel.
Kecepatann proses transpirasi disebabkan karena faktor internal dan ksternal. Adapun faktor
eksternal yang mempengaruhi kecepatan transpirasi antara lain adalah suhu, kelembaban, dan
cahaya yang menyebabkan membuka dan menutupnya stomata. Sedangkan faktor internal antara
lain adalah penutupan stomata, jumlah dan ukuran stomata, tebal atau tipisnya daun, Ada
tidaknya lapisan lilin pada permukaan daun dan penggulungan atau pelipatan daun. Faktor
eksternal sangat berpengaruh pada proses transpirasi, jika keadaan suhu di luar sel lebih rendah
dari pada di dlama sel dan jika kelembapan di dalam sel lebih lembab dari pada diluar sel maka
proses transpirasi akan terhambat.
Bagi tumbuhan, transpirasi yang berlangsung memberikan beberapa manfaat, antara lain :

1.

Menyebabkan terjadinya daya isap daun sehingga terjadi transport air di batang.

2.

Membantu penyerapan air dan zat hara oleh akar.

3.

Mengurangi air yang terserap secara berlebihan.

4.

Mempertahankan temperature yang sesuai untuk daun.

5.

Mengatur fotosintesis dengan menbuka dan meututupnya stomata.


Jadi dari hasil pratikum ini Hipotesis terjawab yaitu Ha diterima karena adanya pengaruh
transpirasi yang dilakukan di tempat yang gelap yaitu menyebabkan transpirasi berjalan lambat
jadi Ho ditolak.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Sistem Transportasi dan Transpirasi dalam Tanaman.
Campbell, Recce-Mitchell, 2004. Biologi, Edisi ke lima, Erlangga; Jakarta
Dwijoseputro.1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Gramedia.
Dwidjoseputro. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Gardner, F.P.R. 1991. Fisiologi Tanamanan Budidaya. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
http://www.indoforum.org/showthread.php?t=34436. Diakses tanggal 23 desember 2014)
http://wahabhadada.blogspot.com/2013/05/laporan-transpirasi.html
(Diakses tanggal 23 desember 2014)
Ign. Khristiyono, PS. SPd. M.M., 2006. Biologi Esis, Jakarta

Jayamiharja, Joni B. Ahmad. 1977. Diktat Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Purwokerto: Fakultas
Pertanian UNSOED.
Loveless, A. R. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Soedirokoesoemo, Wibisono. 1993. Materi Pokok Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penguapan adalah suatu proses pergerakan molekul-molekul zat cair dari permukaan zat
cair tersebut ke udara bebas. Hilangnya air dari tubuh tumbuhan sebagian besar melalui
permukaan daun disebut sebagai transpirasi.
Transpirasi ini terjadi melalui daun akan tetapi dapat juga melalui permukaan tubuh yang
lainnya seperti batang. Oleh karena itu dikenal 3 jenis transpirasi, yaitu transpirasi melalui
stomata, melalui kutikula, dan melalui lentisel.
Transpirasi ini biasanya bibatasi pada masalah-masalah transpirasi melalui daun, karena
sebagian besar hilangnya molekul-molekul air ini lewat permukaan daun tumbuhan. Mengingat
akan pentingnya pemahaman tentang proses transpirasi, maka diadakanlah praktikum ini dengan
tujuan untuk mengetahui kecepatan transpirasi dan untuk mengetahui jumlah air yang yang
diuapkan / satuan luas daun dalam waktu tertentu.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah berdasarkan latar belakang diatas adalah:
-

Bagaimana cara mengetahui hilangnya uap air dari kedua permukaan daun?
1.3 Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui hilangnya uap air dari kedua
permukaan daun.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Transpirasi adalah hilangnya air dari tubuh-tumbuhan dalam bentuk uap melalui
stomata, kutikula atau lentisel. Ada dua tipe transpirasi, yaitu (1) transpirasi kutikula adalah
evaporasi air yang terjadi secara langsung melalui kutikula epidermis; dan (2) transpirasi
stomata, yang dalam hal ini kehilangan air berlangsung melalui stomata. Kutikula daun secara
relatif tidak tembus air, dan pada sebagian besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya
sebesar 10 persen atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Oleh karena itu,
sebagian besar air yang hilang melalui daun-daun (Wilkins, 1989).
Kecepatan transpirasi berbeda-beda tergantung kepada jenis tumbuhannya. Bermacam
cara untuk mengukur besarnya transpirasi, misalnya dengan menggunakan metode penimbangan.
Sehelai daun segar atau bahkan seluruh tumbuhan beserta potnya ditimbang. Setelah beberapa
waktu yang ditentukan, ditimbang lagi. Selisih berat antara kedua penimbangan merupakan
angka penunjuk besarnya transpirasi.

Metode penimbangan dapat pula ditujukan kepada air

yang terlepas, yaitu dengan cara menangkap uap air yang terlepas dengan dengan zat higroskopik
yang telah diketahui beratnya. Penambahan berat merupakan angka penunjuk besarnya
transpirasi (Tjitrosoepomo, 1998).
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi,
juga dapat mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari. Mereka
tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui proses
transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman.
Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup
untuk melakukan fotosintesis agar kelangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin (Sitompul,
1995).
Transpirasi juga merupakan proses yang membahayakan kehidupan tumbuhan, karena
kalau transpirasi melampaui penyerapan oleh akar, tumbuhan dapat kekurangan air. Bila

kandungan air melampaui batas minimum dapat menyebabkan kematian. Transpirasi yang besar
juga memaksa tumbuhan mengedakan penyerapan banyak, untuk itu diperlukan energi yang
tidak sedikit. Kegiatan transpirasi dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor dalam maupun
faktor luar. Yang terhitung sebagaio faktor dalam adalah besar kecilnya daun, tebal tipisnya
daun, berlapis lilin atau tidaknya stomata. Hala-hal ini semua mempengaruhi kegiatan trasnpirasi
pada tumbuhan (Salisbury, 1992).
Kegiatan transpirasi secara langsung oleh tanaman dipandang lansung sebagai pertukan
karbon dan dalam hal ini transpirasi sangat penting untuk pertumbuhan tanaman yang sedaang
tumbuh menentukan banyak air jauh lebih banyak daripada jumlah terhadap tanaman itu sendiri
kecepatan hilangnya air tergantung sebagian besar pada suhu kelembapan relatif dengan
gerakan udara. Pengangkutan garam-garam mineral dari akar ke daun terutama oleh xylem dan
secepatnya mempengaruhi oleh kegiatan transpirasi. Transpirasi pada hakikatnya sama dengan
penguapan, akan tetapi istilah penguapan tidak digunakan pada makhluk hidup. Sebenarnya
seluruh bagian tanaman mengadakan transpirasi karena dengan adanya transpirasi terjadi
hilangnya molekul sebagian besar adalah lewat daun hal ini disebabkan luasnya permukaan
daun dan karena daun-daun itu lebih terkena udara dari pada bagian lain dari suatu tanaman
(Lakitan, 2007).
Stomata akan membuka jika tekanan turgor kedua sel penjaga meningkat (Dartius, 1991).
Peningkatan tekanan turgor oleh sel penjaga disebabkan oleh masuknya air kedalam sel penjaga
tersebut. Pergerakan air antar sel akan selalu dari sel yang mempunyai potensi air lebih tinggike
sel engan potensi lebih rendah. Tinggi rendahnya potensi air sel tergantung pada jumlah bahan
yang terlarut dari cairan tesebut, semakin banyak bahan yang terlarut maka potensi yang terjadi
pada sel semakin rendah (Heddy, 1990).
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi antara lain:
1.

Faktor-faktor internal yang mempengaruhi mekanisme membuka dan menutupnya stomata


2.

Kelembaban udara sekitar

3.

Suhu udara

4.

Suhu daun tanaman

(Guritno, 1995).

Angin dapat pula mempengaruhi laju transpirasi jika udara yang bergerak melewati
permukaan daun tersebut lebih kering (kelembaban nisbihnya rendah) dari udara sekitar
tumbuhan tersebut. Kerapatan uap air diudara tergantung dengan resisitensi stomata dan
kelembaban nisbih dan juga suku udara tersebut, untuk perhitungan laju transpirasi. Kelembaban
nisbih didalam rongga substomata dianggap 100%. Jika kerapatan uap air didalam rongga
substomata sepenuhnya tergantung pada suhu (Filter, 1991).
Daya hantar secara langsung dipengaruhi oleh besarnya bukaan stomata. Semakin besar
bukaan stomata maka daya hantarnya akan semakin tinggi. Pada beberapa tulisan digunakan
beberap istilah resistensi stomata. Dalam hubungan ini daya hantar stomata berbanding dengan
resistensi stomata (Dwijoseputro, 1983).

Pembahasan
Pada percobaan kali ini, proses transpirasi tumbuhan diketahui dengan cara penimbangan.
Tumbuhan yang menjadi sampel yaitu tumbuhan Citrus aurantifolia. Dari sini dapat diketahui
bahwa ternyata tanaman tersebut melakukan proses transpirasi, hal ini dibuktikan dari hasil
pengamatan yang diperoleh. Pada hasil pengamatan didapatkan hasil yang berbeda-beda pada
setiap penimbangan botol yang berisi air dan tanaman. Pada penimbangan awal didapatkan berat
sebesar 245,5gr, sedangkan pada penimbangan 20 menit ke I, 20 menit ke II, dan 20 menit ke III
didapatkan hasil yang besarnya lebih kecil dibandingkan pada saat penimbangan awal.
Seperti yang kita ketahui bahwa proses transpirasi merupakan proses hilangnya air dari tubuh

tumbuhan dalam bentuk uap melalui stomata, kutikula dan lentisel. Berkurangnya berat botol dan
tanaman pada proses penimbangan merupakan bukti terjadinya proses transpirasi pada tanaman
Citrus aurantifolia tersebut. Transpirasi yang terjadi dipengaruhi oleh Luas Total Daun (LTD)
tanaman tersebut. Semakin besar LTD tanaman, maka semakin cepat proses transpirasi yang
terjadi, begitu pula sebaliknya, semakin kecil LTD tanaman, maka semakin lambat pula proses
transpirasinya. Dengan menggunakan perbandingan antara berat akhir penimbangan botol dan
tanaman dengan LTD tanaman, maka dapat diketahui besarnya kecepatan transpirasi tanaman.
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan
tumbuhan melalui stomata (Lakitan, 1993). Kemungkinan kehilangan air dari jaringan lain dapat
saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang
melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari
jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata (Loveless,1991).
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian satu lubang dengan ukuran 2x2 cm,
menghasilkan volume air yang diuapkan sebanyak 5 ml. Perlakuan ke -2 dengan 2 lubang ukuran
2x1 cm dengan volume air yang diuapkan sebanyak 7ml dan empat lubang dengan ukuran 1x1
cm dapat menguapkan air sebanyak 7,5 ml. Hilangnya air dari tanaman dalam hal ini transpirasi
berhubungan dengan stomata. Lubang stomata yang berbentuk oval mempunyai kaitan dengan
intensitas pengeluaran air. Percobaan fisika membuktikan bahwa penguapan air yang tidak
ditutup sama sekali lebih lambat daripada penguapan air melalui lubang-lubang selaput yang
halus. Dalam batasan terentu, semakin banyak pori, maka penguapan juga semakin cepat
( Tjitrosomo, 1985). Posisi lubang yang berdekatan menyebabkan penguapan melalui lubang
yang satu terhambat oleh penguapan lubang yang berdekatan, karena jalan yang ditempuh oleh
molekul air yang melewati lubang tidak lurus tetapi membelok karena pengaruh sel penutup.
Bentuk stomata yang oval juga memudahkan pengeluaran air daripada bentuk stomata yang
bundar. Deretan molekul-molekul air yang kuat lebih banyak jika keliling dari stomata lebih
panjang. Pengeluaran air yang maksimal terjadi jika jarak antara stomata 20 kali diameternya
(Dwidjoseputro, 1989). Hasil pengamatan menunjukkan penguapan air yang paling besar yaitu
7,5 ml untuk perlakuan 4 lubang 1x1 cm dan yang paling sedikit menguap pada 1 lubang 2x2 cm
yaitu 5ml. Hasil pengamatan tersebut berarti sesuai dengan pendapat di atas.
Transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui stomata dapat melalui kutikula
walaupun hanya 5-10% dari jumlah air yang ditranspirasikan di daerah beriklim sedang. Air

sebagian besar menguap melalui stomata,sehingga jumlah dan bentuk stomata sangat
mempengaruhi laju transpirasi (Tjitrosomo, 1985).
Dwidjoseputro (1989), menyatakan bahwa transpirasi mempunyai arti penting bagi
tanaman. Transpirasi pada dasarnya suatu penguapan air yang membawa garam-garam mineral
dari dalam tanah. Transpirasi jiga bermanfaat di dalam hubungan penggunaan sinar matahari,
kenaikan temperatur yang diterima tanaman digunakan untuk penguapan air.
Transpirasi dibedakan menjadi tiga macam berdasarkan tempatnya, yaitu transpirasi kutikula,
transpirasi lentikuler, transpirasi stomata. Hampir 97% air dari tanaman hilang melalui
transpirasi stomata. (Heddy,1990).
Proses transpirasi pada dasarnya sama dengan proses fisika yang terlibat dalam
penguapan air dari permukaan bebas. Dinding mesofil basah yang dibatasi dengan ruang antar
sel daun merupakan permukaan penguapan. Konsentrasi uap air dalam ruang antar sel biasanya
lebih besar daripada udara luar. Manakala stomata terbuka, lebih banyak molekul air yang akan
keluar dari daun melalui stomata dibandingkan dngan jumlah yang masuk per satuan waktu,
dengan demikian tumbuhan tersebut akan kehilangan air.
Kegiatan transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor dalam
antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun,
banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak
stomata (Salisbury&Ross.1992) dan faktor luar antara lain:
1. Kelembaban
Bila daun mempunyai kandungan air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju
transpirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air di dalam rongga antar sel
di daun dengan konsentrasi mulekul uap air di udara.
2. Suhu
Kenaikan suhu dari 180 sampai 200 F cenderung untuk meningkatkan penguapan air
sebesar dua kali. Dalam hal ini akan sangat mempengaruhi tekanan turgor daun dan secara
otomatis mempengaruhi pembukaan stomata.
3. Cahaya

Cahaya memepengaruhi laju transpirasi melalui dua cara pertama cahaya akan
mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan yang kedua
dapat mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata.
4. Angin
Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju
transpirasi. Angin menyapu uap air hasil transpirasi sehingga angin menurunkan kelembanan
udara diatas stomata, sehingga meningkatkan kehilangan neto air. Namun jika angin menyapu
daun, maka akan mempengaruhi suhu daun. Suhu daun akan menurun dan hal ini dapat
menurunkan tingkat transpirasi.
5. Kandungan air tanah
Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan alju absorbsi air di
akar. Pada siang hari biasanya air ditranspirasikan lebih cepat dari pada penyerapan dari tanah.
Hal tersebut menyebabkan devisit air dalam daun sehingga terjadi penyerapan yang besar, pada
malam hari terjadi sebaliknya. Jika kandungan air tanah menurun sebagai akibat penyerapan oleh
akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lambat. Hal ini cenderung untuk
meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut (Loveless,1991).
Unsur kalium sangat memegang peranan dalam proses mermbuka dan menutupnya
stomata (stomata movement) serta transportasi lain dalam hara lainnya, baik dari jaringan batang
maupun lasngsung dari udara bebas. Dengan adanya defisiensi kalium maka secara langsung
akan memperlambat proses fisiologi, baik yang melibatkan klorofil dalam jaringan daun maupun
yang behubungan dengan fungsi stomata sebagai faktor yang sangat penting dalam produksi
bahan kering secara umum. Semakin lama defisiensi kalium maka akan semakin berdampak
buruk terhadap laju proses fisiologi dalam jaringan daun. Semakin berat defisiensi kalium pada
gilirannya akan berdampak semakin parah terhadap rusaknya pertumbuhan daun (Masdar, 2003)
Transpirasi yang terjadi memang dapat merugikan tanaman, namun juga bermanfaat
bagi tanaman antara lain
1. Meningkatkan daya isap daun pada penyerapan air
2. Mengurangi jumlah air dalam tumbuhan jika terjadi penyerapan yang berlebihan.

Laju transpirasi tertinggi dari perlakuan cahaya adalah pada perlakuan kontrol yaitu sebesar 5,55
x 10-4 gr/dtk. Ini karena tidak adanya faktor penghalang cahaya yang dapat menghambat radiasi
surya (matahari) dimana cahaya matahari sangat mempengaruhi laju transpirasi, hal ini sesuai
dengan literatur Salisbury dan Ross (1992) yang menyatakan bahwa cahaya yang banyak dapat
menyebabkan membuka dan menutupnya stomata sehingga akan memepercepat laju transpirasi
dan sebaliknya. Adapun lapisan lilin dapat menghambat laju transpirasi.
Laju transpirasi pada perlakuan cahaya adalah perlakuan dilapisi vaseline dan tanpa daun yaitu
1,66 x 10 -4 gr/dtk. Hal ini disebabkan fungsi vaseline sebagai lapisan yang dapat memperlambat
proses transpirasi, karena semakin menebalnya permukaan uap air akan sulit keluar. Hal ini
sesuai dengan literatur Salisbury dan Ross (1992) yang menyatakan bahwa adapun lapisan lilin
akan memperlambat laju transpirasi akibat tebalnya permukaan sehingga uap air akan sulit
berdifusi untuk keluar.
Laju transpirasi pada perlakuan angin adalah pada perlakuan kontrol yaitu sebesar 3,33x 10 -4
gr/dtk, hal ini disebabkan adanya faktor penghalang angin yang dapat mempengaruhi laju
transpirasi dimana dimana angin sangat mempengaruhi laju transpirasi. Hal ini sesuai dengan
literatur Lakitan (2007) yang menyatakan bahwa kegiatan transpirasi dipengaruhi oleh faktor
luar dan faktor dalam yang termasuk faktor dalam diantaranya besar kecilnya daun dan jumlah
stomata bentuk dan lokasi stomata serta ada tidaknya lapisan lilin pada permukaan daun. Faktor
luar yaitu sinar matahari, temperatur kelembapan udara dan angin.
Laju transpirasi terendah pada perlakuan angin adalah pada pada perlauan dipotong daun dan
tanpa daun yaitu sebesar 1,66 x 10 -4 gr/dtk. Ini karena uap air berdifusi melalui stomata,
sehingga dengan pemotongan daun dan tanpa daun akan mempengaruhi jumlah stomata
akibatnya laju transpirasi semakin lambat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Salisbury dan Ross (
1992 ) myang menyatakan bahwa stomata terletak dimana epidermis memungkinkan terjadinya
pertukaran gas antara mesofil dan udara luar. Kebanyakan air yang hilang secara uap air dari
suatu daun dari dinding epidemis karena dalam yang besar dan mesofil yang berdekatan dengan
rongga-rongga dibawah stomatab dan hilang ke udara melalui stomata.
Pada siang hari tumbuhan menerima radiasi matahari maka cahaya merupakn proses yang
mempengaruhi penguapan. Penguapan yang banyak meningkatkan laju transpirasi. Hal ini sesuai

dengan literatur Lakitan (2007) yang menyatakan peningkatan suhu yang berlebihan sangat
mengganggu proses metabolisme tubuh. Transpirasi merupakan proses yang membutuhkan
banyak energi dalam tahap penguapan dari molekul-molekul air.
Angin dapat memacu laju transpirasi jika udara bergerak melewati petrmukaan daun yang
kering . Hal ini sesui dengan literatur Lakitan (2007) yang menyatakan bahwa angin dapat pula
mmepengaruhi laju transpirasi. Angin dapat memacu laju transp[irasi bila pada permukaan daun
tersebut kering dalam kelembapan nisbih yang rendah dari udara sekitar tumbuhan tersebut.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Laju transpirasi tertinggi pada perlakuan cahaya adalah pada perlakuan kontrol yaitu 5,55
x 10-4 gr/dtk
2. Laju transpirasi terendah pada perlakuan cahaya adalah pada perlakuan dilapisi vaseine
dan tanpa daun yaitu 1,66 x 10-4 gr/dtk
3. Laju transpirasi tertinggi pada perlakuan angin adalah pada perlakuan kontrol yaitu 3,33
x 10-4 gr/dtk
4. Laju transpirasi terendah pada perlakuan angin adalah pada perlakuan dipotong daun
dan tanpa daun yaitu 1,66 x 10-4 gr/dtk
5. Dari perlakuan cahaya dan angin laju teranspirasi yang tertinggi adalah perlakuan cahaya.
Saran
Sebaiknya pada saat percobaan laju tarnspirasi, digunakan tanaman pacar air ( Balsamina
Imaptient ) yang masih muda dan berbatang hijau.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.

Kesimpulan

Adapun
1.

kesimpulan

Kecepatan

transpirasi

pada
tanaman

praktikum

ini

Citrus

aurantifolia

adalah
adalah

sebagai
0,0038

berikut:
gr/cm2/jam.

2. Jumlah air yang diuapkan/satuan luas daun dalam waktu tertentu pada tanaman Citrus
aurantifolia adalah 263,08 cm2.
B.

Saran

Adapun saran yang dapat diajukan pada praktikum ini yaitu sebaiknya praktikan teliti pada saat
melakukan penimbangan agar didapatkan hasil yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Dartius. 1991. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. USU-Press. Medan.
Dwijoseputro, D. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.
Filter, A. H. dan R. K. M. Hay. 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.
Guritno, B. dan Sitompul, S. M. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman.UGM Press. Yogyakarta.
Heddy, S. 1990. Biologi Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.
Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Salisbury, dan Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.
Sitompul, S. M. dan Guritno. B. 1995. Pertumbuhan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, H.S. 1998. Botani Umum. UGM Press. Yogyakarta.
Wilkins, M. B. 1989. Fisologi Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.
PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Dalam aktivitas hidupnya, sejumlah besar air dikeluarkan
oleh tumbuhan dalam bentuk uap air ke atmosfir. Pengeluaran air oleh tumbuhan dalam bentuk
uap air prosesnya disebut dengan transpirasi. Banyaknya air yang ditranspirasikan oleh
tumbuhan merupakan kejadian yang khas, meskipun perbedaan terjadi antara suatu species dan
species yang lainnya. Transpirasi dilakukan oleh tumbuhan melalui stomata, kutikula dan
lentisel. Disamping mengeluarkan air dalam bentuk uap, tumbuhan dapat pula mengeluarkan air
dalam bentuk tetesan air yang prosesnya disebut dengan gutasi dengan melalui alat yang disebut

dengan hidatoda yaitu suatu lubang yang terdapat pada ujung urat daun yang sering kita jumpai
pada species tumbuhan tertentu. Sehubungan dengan transpirasi, organ tumbuhan yang paling
utama dalam melaksanakan proses ini adalah daun, karena pada daunlah kita menjumpai stomata
paling banyak. Transpirasi penting bagi tumbuhan karena berperan dalam hal membantu
meningkatkan laju angkutan air dan garam mineral, mengatur suhu tubuh dan mengatur turgor
optimum di dalam sel. Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel-sel mesofil kerongga
antar sel yang ada dalam daun. Dalam pengamatan ini, kita ngin mengetahui kecepatan
transpirasi yang kebanyakan terjadi pada permukaan daun sera menghitung kecepatan transpirasi
yang terjadi pada daun tersebut. Transpirasi dapat terjadi pada kutikula, stomata, dan lentisel.
Jumlah air yang dikeluarkan melalui transpirasi pada setiap tumbuhan tidak sama dan tergantung
pada banyak faktor. Transpirasi dipengaruhi baik oleh faktor luar maupun faktor dalam. 1.2.
Maksud dan Tujuan .. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Transpirasi
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan
tumbuhan melalui stomata, kutikula dan lentisel . Kemungkinan kehilangan air dari jaringan
tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangna tersebut
sangat kecil dibanding dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan
besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang
hilang melalui stomata. Transpirasi merupakan bagian dari siklus air, dan itu adalah hilangnya
uap air dari bagian tanaman (mirip dengan berkeringat), terutama pada daun tetapi juga di
batang, bunga dan akar. Permukaan daun yang dihiasi dengan bukaan yang secara kolektif
disebut stomata, dan dalam kebanyakan tanaman mereka lebih banyak pada sisi bawah
dedaunan. Transpirasi juga dapat mendinginkan tanaman dan memungkinkan aliran massa nutrisi
mineral dan air dari akar ke tunas. Aliran massa air dari akar ke daun disebabkan oleh penurunan
hidrostatik (air) tekanan di bagian atas dari tumbuhan karena difusi air dari stomata ke atmosfer.
Air diserap pada akar dengan osmosis, dan semua nutrisi mineral dilarutkan perjalanan dengan
melalui xilem. Lebih dari 20 % air yang diambil oleh akar dikeluarkan ke udara sebagai uap air.
Sebagian besar uap air yang ditranspirasi oleh tumbuhan tingkat tinggi berasal dari daun selain
dari batang, bunga dan buah.Transpirasi menimbulkan arus transpirasi yaitu translokasi air dan
ion organik terlarut dari akar ke daun melalui xilem ( Siregar. 2003: 84). Struktur anatomi daun
memungkinkan penurunan jumlah difusi dengan menstabilkan lapis pembatas tebal relatif.
Misalnya rapatnya jumlah trikoma pada permukaan daun cenderung meyebabkan lapisan
pembatas udara yang reltif tidak bergerak. Stomata yang tersembunyi menekan permukaan daun
sehingga stomata membuka. Udara memiliki efek penting dalam penjenuhan jumlah udara.
Udara hangat membaewa lebih banyak air dari pada udara dingin. Oleh karena itu, pada saat
panan volume udara akan memberikan sedikit uapa air dengan kelembaban relatif yang lebih
rendah daripada saat dingin. Untuk alasan ini, tumbuhan cenderung kehilangan air lebih cepat
pada udara hangat dari pada udara dingin. Hilangnya uap air dari ruang interseluler daun
menurunkan kelembaban relatif pada ruang tersebut. Air yang menguap dari daun (stomata) ini
menimbulkan kekuatan kapiler yang menarik air dari daerah yang berdekatan dalam
daun.Beberapa penggantian air berasal dari dalam sel daun melalui membran plasma. Ketika air
meninggalkan daun, molekul air menjadi lebih kecil. Hal ini akan mengurangi tekanan turgor.
Jika banyak air yang dipindahkan, tekanan turgor akan menjadi nol (Anonim. 2009). Tumbuhan
seperti pohon jati dan akasia mengurangi penguapan dengan cara menggungurkan daunnya di
musim panas.Pada tumbuhan padi-padian, liliacea dan jahe-jahean, tumbuhan jenis ini
mematikan daunnya pada musim kemarau. Pada musim hujan daun tersebut tumbuh
lagi.Tumbuhan yang hidup di gurun pasir atau lingkungan yang kekurangan air (daerah panas)

misalnya kaktus, mempunyai struktur adaptasi khusus untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Pada tumbuhan yang terdapat di daerah panas, jika memiliki daun maka daunnya
berbulu, bentuknya kecil-kecil dan kadang-kadang daun berubah menjadi duri (Sasmitamihardja.
1996: 49). Ruang interseluler udara dalam daun mendekati keseimbangan dengan larutan dalam
fibrill sel pada dinding sel. Hal ini berarti sel-sel hampir jenuh dengan uap air, padahal
banyaknya udara di luar daun hampir kering. Difusi dapat terjadi jika ada jalur yang
memungkinkan adanya ketahanan yang rendah. Kebanyakan daun tertutup oleh epidermis yang
berkutikula yang memiliki resistansi (ketahanan) tinggi untuk terjadinya difusi air (Lakitan.
1993. 39). BAB III METODOLOGI 3.1. Waktu dan tempat Adapun waktu dan tempat
pelaksanaan praktikum ini adalah : Hari / tanggal : Selasa / 12 Mei 2009 Waktu : 14.00 16.00
WITA Tempat : Laboratorium Biologi lantai III Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam
Negeri Alauddin Makassar. Kampus II Samata- Gowa. 3.2. Bahan dan Alat 1. Alat Adapun alat
yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol, gunting, neraca analitik, kertas HVS, kapas
dan stopwatch. 2. Bahan Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanaman
segar yang berongga. 3.3. Prosodur Kerja 1. Mengisi botol dengan air kurang lebih setengahnya.
2. Memasukkan tanaman segar yang panjangnya sekitar 40 cm dalam botol tersebut. 3. Memberi
kapas pada mulut botol untuk mencegah penguapan selain melalui tanaman. 4. Menimbang botol
bersama tanamannya dan mencatat beratnya. 5. Setiap 30 menit, kemudian menimbangnya
kembali sebanyak 3 kali. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengamatan Berat
4.2. Pembahasan 4.2.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Transpirasi A. Faktor dalam adalah: 1.
Penutupan stomata : Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara
relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Jika
stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air tetapi peningkatan kehilangan air
ini lebih sedikit untuk mesing-mesing satuan penambahan lebar stomata Faktor utama yang
mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya
dan kelembapan. 2. Jumlah dan ukuran stomata : Jumlah dan ukuran stomata, dipengaruhi oleh
genotipe dan lingkungan mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total
daripada pembukaan dan penutupan stomata. 3. Jumlah daun : Makin luas daerah permukaan
daun, makin besar transpirasi. 4. Penggulungan atau pelipatan daun : Banyak tanaman
mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila
persediaan air terbatas. 5. Kedalaman dan proliferasi akar : Ketersedian dan pengambilan
kelembapan tanah oleh tanaman budidaya sangat tergantung pada kedalaman dan proliferasi
akar. Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air, dari proliferasi akar (akar per
satuan volume tanah ) meningkatkan pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum
terjadi pelayuan permanen. B. Faktor luar adalah : 1. Sinar matahari Seperti yang telah
dibicarakan didepan, maka sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan
tertutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi. Karena sinar itu juga
mengandung panas (terutama sinar infra-merah), maka banyak sinar berarti juga menambah
panas, dengan demikian menaikkan tempratur. Kenaikan tempratur sampai pada suatu batas yang
tertentu menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi . 2.
Temperatur Merupakan faktor lingkungan yang terpenting yang mempengaruhi transpirasi daun
yang ada dalam keadaan turgor. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu
udara, tetapi daun yang kena sinar matahari mempunyai suhu 10o -20o F lebih tinggi daripada
suhu udara. Pengaruh tempratur terhadap transpirasi daun dapat pula ditinjau dari sudut lain,
yaitu didalam hubungannya dengan tekanan uap air di dalam daun dan tekanan uap air di luar
daun. Kenaikan temperatur menambah tekanan uap di dalam daun. Kenaikan tempratur itu sudah

barang tentu juga menambah tekanan uap di luar daun, akan tetapi berhubung udara di luar daun
itu tidak di dalam ruang yang terbatas, maka tekanan uap tiada akan setinggi tekanan uap yang
terkurung didalam daun. Akibat dari pada perbedaan tekanan ini, maka uap air akan mudah
berdifusi dari dalam daun ke udara bebas 3. Kebasahan udara (Kelembaban udara) Pada hari
cerah udara tidak banyak mengandung uap air. Di dalam keadaan yang demikian itu, tekanan uap
di dalam daun jauh lebih lebih tinggi dari pada tekanan uap di luar daun, atau dengan kata lain,
ruang di dalam daun itu lebih kenyang akan uap air daripada udara di luar daun, jadi molekulmolekul air berdifusi dari konsentrasi tinggi (di dalam daun) ke konsentrasi yang rendah (di luar
daun. Kesimpulannya ialah, udara yang basah menghambat transpirasi, sedang udara kering
melancarkan transpirasi. Pada kondisi alamiah, udara selalu mengandung uap air, biasanya
dengan konsentrasi antara 1 sampai 3 persen. Sebagian dari molekul air tersebut bergerak ke
dalam daun melalui stomata dengan proses kebalikan transpirasi. Laju gerak masuknya molekul
uap air tersebut berbanding dengan konsentrasi uap air udara, yaitu kelembaban. Gerakan uap air
dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang. Dengan demikian,
seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan meningkatnya kelembaban
udara 4. Angin Pada umumnya angin yang sedang, menambah kegiatan transpirasi. Karena angin
membawa pindah uap air yang bertimbun-timbun dekat stoma. Dengan demikian, maka uap yang
masih ada di dalam daun kemudian mendapat kesempatan untuk difusi ke luar . Angin
mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa angin cenderung untuk meningkatkan laju transpirasi,
baik di dalam naungan atau cahaya, melalui penyapuan uap air. Akan tetapi, di bawah sinar
matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap penurunan
laju transpirasi, cenderung lebih penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air.
Dalam udara yang sangat tenang suatu lapisan tipis udara jenuh terbentuk di sekitar permukaan
daun yang lebih aktif bertranspirasi. Jika udara secara keseluruhan tidak jenuh, maka akan
terdapat gradasi konsentrasi uap air dari lapisan udara jenuh tersebut ke udara yang semakin jauh
semakin tidak jenuh. Dalam kondisi seperti itu transpirasi terhenti karena lapisan udara jenuh
bertindak sebagai penghambat difusi uap air ke udara di sekitar permukaan daun. Oleh karena
itu, dalam udara yang tenang terdapat dua tahanan yang harus ditanggulangi uap air untuk
berdifusi dari ruang-ruang antar sel ke udara luar. Yang pertama adalah tahanan yang harus
dilalui pada lubang-lubang stomata, dan yang kedua adalah tahanan yang ada dalam lapisan
udara jenuh yang berdampingan dengan permukaan daun. Oleh karena itu dalam udara yang
bergerak, besarnya lubang stomata mempunyai pengaruh lebih besar terhadap transpirasi
daripada dalam udara tenang. Namun, pengaruh angin sebenarnya lebih kompleks daripada
uraian tadi karena kecendrungannya untuk meningkatkan laju transpirasi sampai tahap tertentu
dikacaukan oleh kecendrungan untuk mendinginkan daun-daun sehingga mengurangi laju
transpirasi. Tetapi efek angin secara keseluruhan adalah selalu meningkatkan transpirasi 5.
Keadaan air dalam tanah Air di dalam tanah ialah satu-satunya suber yang pokok, dari mana
akar-akar tanaman mendapatkan air yang dibutuhkannya. Absorpsi air lewat bagian-bagian lain
yang ada di atas tanah seperti batang dan daun juga ada, akan tetapi pemasukan air lewat bagianbagian itu tiada seberapa kalau dibanding dengan penyerapan air melalui akar. Tersedianya air
dalam tanah adalah faktor lingkungan lain yang mempengaruhi laju transpirasi. Bila kondisi air
tanah sedemikian sehingga penyediaan air ke sel-sel mesofil terhambat, penurunan laju
transpirasi akan segera tampak Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan
laju absorbsi air dari akar. Pada siang hari, biasanya air ditranspirasikan dengan laju yang lebih
cepat daripada penyerapannya dari tanah. Hal tersebut menimbulkan defisit air dalam daun. Pada

malam hari akan terjadi kondisi yang sebaliknya, karena suhu udara dan suhu daun lebih rendah.
Jika kandungan air tanah menurun, sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui
tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat. 4.2.2. Mekanisme Transpirasi Transpirasi dimulai
dengan penguapan air oleh sel sel mesofil ke rongga antar sel yang ada dalam daun. Dalam hal
ini rongga antar sel jaringan bunga karang merupakan rongga yang besar, sehingga dapat
menampung uap air dalam jumlah banyak. Penguapan air ke rongga antar sel akan terus
berlangsung selama rongga antar sel belum jenuh dengan uap air. Sel-sel yang menguapkan
airnya kerongga antar sel, tentu akan mengalami kekurangan air sehingga potensial airnya
menurun. Kekurangan ini akan diisi oleh air yang berasal dari xilem tulang daun, yang
selanjutnya tulang daun akan menerima air dari batang dan batang menerima dari akar dan
seterusnya. Uap air yang terkumpul dalam ronga antara sel akan tetap berada dalam rongga antar
sel tersebut, selama stomata pada epidermis daun tidak membuka. Aapabila stomata membuka,
maka akan ada penghubung antara rongga antar sel dengan atmosfer kalau tekanan uap air di
atmosfer lebih rendah dari rongga antar sel maka uap air dari rongga antar sel akan keluar ke
atmosfer dan prosesnya disebut transpirasi. Jadi syarat utama untuk berlangsungnya transpirasi
adalah adanya penguapan air didalam daun dan terbukanya stomata. BAB V PENUTUP 5.1.
Kesimpulan 1. Kita dapat mengetahui kecepatan transpirasi yang terjadi pada tanaman yang
sebagian besar terjadi pada stomata dengan cara berat akhir botol ditambah tanaman dibagi
dengan LTD dan memperoleh hasil 0,032 gr/cm2/jam. 2. Kita dapat mengetahui jumlah air yang
di uapkan dalam waktu tertentu karena transpirasi dapat berlangsung karena faktor luar antara
lain radiasi, temperatur, kelembaban, tekanan udara, angin dan kadar air dalam tanah. Sedangkan
faktor dalam antara lain ukuran daun, tebal tipisnya daun, keadaan permukaan daun, serta jumlah
dan letak stomata pada permukaan daun. 5.2. Saran Adapun saran saya dari praktikum ini adalah
meningkatkan tingkat ketelitian kerja di dalam melakukan suatu percobaan agar hasil yang kita
capai lebih maksimal, serta memperhatikan setiap arahan dari asisten agar praktikum dapat
berjalan dengan lancar. DAFTAR PUSATAKA Anonim. 2009. Kecepatan transpirasi.
http://id.org.co.//wikipedia.transpirasi.html Diakses tanggal 28 Mei, jam 16.00 Wita. Benyamin,
Lakitan. 1993. Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Dwijoseputro, D. 1980.
Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Lakitan, B. 1993. Dasar-dasar
Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Loveless, A.R. 1991. Prinsip-prinsip
Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik 1. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Tjitrosomo, S.S. 1990. Botani Umum 2. Bandung: Penerbit Angkasa Sasmitamihardja, Drajat.
1996. Fisiologi Tumbuhan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. Siregar, Arbayah.
2003. Anatomi Tumbuhan. ITB. Bandung.
Sumber: http://forester-untad.blogspot.co.id/2013/11/laporan-praktikum-biologi-transpirasi.html
Konten adalah milik dan hak cipta forester untad blog

1.1

Latar Belakang
Air merupakan salah satu faktor penentu bagi berlangsungnya kehidupan tumbuhan.
Banyaknya air yang ada didalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktuasi tergantung pada

kecepatan proses masuknya air kedalam tumbuhan kecepatan proses penggunaan air oleh
tumbuhan dan kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan. Hilangnya air dari tubuh
tumbuhan dapat berbentuk gas keudara disekitar tumbuhan dinamakan transpirasi. Transpirasi
dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui
stomata (Tjitrosomo, S.S. 2004).
Transpirasi pada dasarnya sama dengan penguapan. Traspirasi bisa terjadi melalui
kutikula, stomata dan lentisel. Sebenarnya seluruh bagian tanaman ini mengadakan transpirasi,
akan tetapi biasanya yang kita bicarakan hanya transpirasi melalui daun karena menghilangnya
molekul-molekul air dari tubuh tanaman itu sebagian besar adalah lewan daun. Hal ini
disebabakan karena luasnya permukaan daun dan juga karena daun-daun itu lebih terkena udara
dari pada bagian lain tanaman.
Transpirasi merupakan sutu akibat yang tidak dapat dielakkan luasnya permukaan daundaun yang ada di udara merupakan suatu kondisi yang menyebabkan penguapan mesti terjadi
dan tidak mungkin dapat dicegah. Transpirasi pada tanaman hakikatnya adalah suatu penguapan
baru yang membawa garam-garam mineral dari dalam tanah. Transpirasi juga bermanfaat di
dalam hubungannya dengan penggunaan sinar matahari. Kenaikan temperatur yang
membahayakan dapat dicegah karena sebagian sinar matahari yang memancar itu digunakan
untuk penguapan air (Miller, E. C., 2005).
Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di
atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan lentisel, 80% air yang
ditranspirasikan berjalan melewati lubang stomata, paling besar peranannya dalam transpirasi
(Lakitan, B. 2005).

Pada umumnya transpirasi ini terjadi melalui daun akan tetapi dapat juga melalui
permukaan tubuh yang lainnya seperti batang. Oleh karena itu dikenal 3 jenis transpirasi, yaitu
transpirasi melalui stomata, melalui kutikula, dan melalui lentisel. Walaupun demikian, bahasan
transpirasi ini biasanya dibatasi pada masalah-masalah transpirasi melalui daun, karena sebagian
besar hilangnya molekul-molekul air ini lewat permukaan daun tumbuhan (Lakitan, B. 2005).
Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu, aliran
udara, kelembaban dan tersedianya air tanah. Faktor-faktor ini mempengaruhi perilaku stomata
yang membuka dan menutupnya dikontrol oleh perubahan tekanan turgor sel penjaga yang
berkorelasi dengan kadar ion kalium (K+) di dalamnya (Loveless, A. R., 2009).
1.2

Tujuan dan Kegunaan


Tujuan dari Praktikum Fisiologi Tumbuhan tentang Megukur Laju Transpirasi Dengan

Penimbangan yaitu untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan pada laju transpirasi
tumbuhan. Kegunaan dari praktikum ini yaitu agar praktikan dapat mengetahui pengaruh faktor
lingkungan pada laju.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Botani Tomat
Tomat (Solanum lycopersicum syn. Lycopersicum esculentum) adalah tumbuhan dari

keluarga Solanaceae, tumbuhan asli Amerika Tengah dan Selatan, dari Meksiko sampai Peru.
Tomat merupakan tumbuhan siklus hidup singkat, dapat tumbuh setinggi 1 sampai 3 meter.
Tomat merupakan keluarga dekat dari kentang ( N and B. K. Sinha., 2000).
Daun tomat berbentuk oval dengan panjang 20-30 cm. Tepi daun bergerigi dan
membentuk celah-celah yang menyirip. Diantara daun-daun yang menyirip besar terdapat sirip

kecil dan ada pula yan bersirip besar lagi (bipinnatus). Tanaman tomat dibiarkan melata dan
cukup rimbun menutupi tanah. Bercabang banyak sehingga secara keseluruhan berbentuk perdu
(KanpurWilkins, M. B. 2008). Tepi daun bergerigi dan membentuk celah-celah yang menyirip.
Diantara daun-daun yang menyirip besar terdapat sirip kecil dan ada pula yan bersirip besar lagi
(bipinnatus). Umumnya, daun tomat tumbuh di dekat ujung dahan atau cabang, memiliki warna
hijau, Bunga tanaman tomat berwarna kuning dan tersusun dalam dompolan dengan jumlah 5-10
bunga per dompolan atau tergantung dari varietasnya. Kuntum bunganya terdiri dari lima helai
daun kelopak dan lima helai mahkota. Bunga tomat dapat melakukan penyerbukan sendiri
karena tipe bunganya berumah satu. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan terjadi
penyerbukan silang (KanpurWilkins, M. B. 2008).
Buah tomat adalah buah buni, selagi masih muda berwarna hijau dan berbulu serta relatif
keras, setelah tua berwarna merah muda, merah, atau kuning, cerah dan mengkilat, serta relatif
lunak. Bentuk buah tomat beragam lonjong, oval, pipih, meruncing, dan bulat. Diameter buah
tomat antara 2-15 cm, tergantung varietasnya. Jumlah ruang di dalam buah juga bervariasi, ada
yang hanya dua seperti pada buah tomat cherry dan tomat roma atau lebih dari dua seperti tomat
marmade yang beruang delapan. Pada buah masih terdapat tangkai.
Bunga yang berubah fungsi menjadi sebagai tangkai buah serta kelopak bunga yang
beralih fungsi menjadi kelopak bunga. Biji tomat berbentuk pipih, berbulu, dan berwarna putih,
putih kekuningan atau coklat muda. Panjangnya 3-5 mm dan lebar 2-4 mm. Biji saling melekat,
diselimuti daging buah, dan tersusun berkelompok dengan dibatasi daging buah. Jumlah biji
setiap buahnya bervariasi, tergantung pada varietas dan lingkungan, maksimum 200 biji per
buah. Umumnya biji bahan perbanyakan tanaman Biji mulai tumbuh setelah ditanam 5-10 hari
(Miller, E. C., 2005).

2.2

Mengukur Laju Transpirasi


Pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu mudah di lakukan. Pengukuran laju

treanspirasi dengan penimbangan adalah salah satu pengykuran yang tidak terlalu sulit di
lakukan, cara pengukuran laju transpirasi dengan penimbangan adalah dengan menempatkan 2
buah jenis tanaman yang sama pada temperatur berbeda , dan kemudin di ukur berat awal dan
berat akhirnya, kemudian hitung (Tjitrosomo, S.S. 2004).
Transpirasi (penguapan) merupakan pelepasan air dalam bentuk uap air melalui stomata
Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di atas
permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan lentisel 80% air yang ditranspirasikan
berjalan melewati lubang stomata, paling besar peranannya dalam transpirasi (Lakitan B.2005).
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi yaitu dipengaruhi oleh keadaan
lingkungan, sebagai berikut Kelembaban Jika kelembaban udara lingkungan di sekitar tumbuhan
tinggi, maka difusi air dari dalam ruang udara pada tumbuhan akan berlangsung lambat, dan
sebaliknya. Kenaikan suhu lingkungan akan diikuti dengan naiknya suhu sel-sel daun. Keadaan
ini mempercepat penguapan air dari dalam sel-sel mesofil daun ke rongga-rongga sel yang
mengakibatkan peningkatan laju transpirasi. Jika intensitas cahaya meningkat, maka transpirasi
tumbuhan meningkat. Pada umumnya angin cenderung meningkatkan laju transpirasi karena
angin menyapu uap air yang terkumpul di dekat permukaan.
Jika kandungan air dalam tanah cukup banyak sehingga potensial air tanah lebih tinggi
dari pada di dalam sel-sel tumbuhan, maka aliran air di dalam pembuluh kayu (xylem) dan laju
transpirasi akan meningkat.
Faktor-faktor yang menentukan laju transpirasi yaitu Jumlah daun dan banyaknya stomata. Jika
daunnya banyak, daya isapnya juga besar dan banyaknya air yang diuapkan pun banyak. Selain

itu banyaknya penguapan juga tergantuk pada banyaknya stomata (mulut daun) (Tjitrosomo,
2004).
III. METODE PRAKTEK
3.1

Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Oktober 2011, pada pukul 14.00 Wita -

sampai selesai. Bertempat Di Labolatorium Hortikultura, Fakultas Pertanian Universitas


Tadulako, Palu.
3.2

Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan yaitu 2 buah botol plastik dan alat timbang. Bahan-bahan yang
digunakan yaitu: 2 buah gabus penutup atau kapas, alummunium foil dan dua spesies tumbuhan
yang masih kecil (tomat).

3.3

Cara Kerja
Pada pengamatan laju Transpirasi yang kami lakukan yaitu pertama-tama menyiapkan
dua pucuk tanaman (40 cm) pilihlah pucuk tanpa bunga. Kemudian menyiapkan dua botol yang
telah berisi air (1/2 tinggi botol), setelah itu menutupnya dengan penutup yang telah dilubangi
kemudian masukan spesimen melalui lubang pada penutup. Mencegah terjadinya penguapan
selain melalui tanaman percobaan.
Timbang botol berikut tanamannya, kemudian catat beratnya. Kemudian letakkan satu
botol dalam ruang dan satu lagi di luar ruang. Setelah itu ukur beratnya setiap 30 menit
sebanyak 3 kali, kembalikan ke tempat semula setelah penimbangan. Setelah penimbangan

terakhir, ambil tanaman dan ukur luas total daunnya dengan metode penimbangan dan yang
terakhir menghitung.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Table 1. Data pengamatan perubahan massa botol yang berisi tanaman cabai selama 90 menit.
No

Perlakuan

Berat Awal

Di Luar

(gram)
200

Ruangan
Di Dalam

200

30

Berat Akhir (graam)


60
90

Rata-rata

10

3,3

Ruangan

4.2

Pembahasan
Pada pengamatan laju transpirasi pada tanaman tomat yang berada dalam ruangan, hasil

yang diperoleh pada penimbangan awal botol dalam ruangan selama 30 menit pertama sebesar
200 gram dan pada penimbangan ke dua hasil yang diperoleh yaitu 200 gram dan yang ke tiga
yaitu 200 gram. Begitu pula dengan hasil penimbangan di luar ruangan selama 30 menit pertama
sebesar 200 gram dan pada penimbangan ke dua hasil penimbangan yang diperoleh yaitu 200
gram dan yang ketiga ada perubahan berat ,turun 10 grammenjadi 190 gram.
Terlihat perubahan sekala berat pada tanaman yang di luar ruangan, yaitu bobot dari
tanaman yang disimpan dalam botol berisi air, bobotnya berkurang berkurang 10 gram pada
waktu 90 menit transpirasi dan rata-rata laju transpirasi pada tanaman yang di simpan pada luar
ruangan adalah 3,3. Hal ini terjadi karena tanaman yang di simpan di luar ruangan banyak di
pengaruhi oleh faktor-faktor yang mempercepat berlangsungnya transpirasi, seperti cahaya, suhu

angin dan lain-lain. Sedangkan tanaman yang di simpan dalam ruangan dengan sebanyak 3 kali
penimbangan dan dengan waktu 90 menit tidak ada menunjukan perubahan berat yang
signifikan, itu di sebabkan karena di dalam ruangan faktor-faktor yang mempercepat transpirasi
tidak sebanyak di luar ruangan.
Praktikum transpirasi ini bertujuan untuk mengukur laju transpirasi melalui daun tanaman
dengan metode penimbangan. Metode tersebut digunakan karena dianggap paling efektif dan
memungkinkan dilakukan untuk tanaman yang kecil dan cukup menggunakan botol air mineral,
sehingga pengukuran laju transpirasi dapat dilakukan pada skala laboratorium.
Proses keluarnya atau hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berbentuk gas keudara
disekitar tumbuhan dinamakan transpirasi.

Transpirasi dapat diartikan sebagai proses

kehilangan air dalam bentuk uap tumbuhan melalui stomata, kemungkunan kehilangan air dari
jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan
tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata (Tjitrosomo, 2004).
Walaupun beberapa jenis tumbuhan dapat hidup tanpa melakukan transpirasi, tetapi jika
transpirasi berlangsung pada tumbuhan agaknya dapat memberikan beberapa keuntunga bagi
tumbuhan tersebut misalnya dalam mempercepat laju pengangkutan unsur hara melalui
pembukuh xylem, menjaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap pada ko, sebagai salah satu cara
untuk menjaga stabilitas suhu (Kimball, J. W., 2003).
Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu, aliran
udara, kelembaban, dan tersedianya air tanah. Faktor-faktor ini mempengaruhi perilaku stoma
yang membuka dan menutupnya dikontrol oleh perubahan tekanan turgor sel penjaga yang
berkorelasi dengan kadar ion kalium (K+) di dalamnya. Selama stoma terbuka, terjadi pertukaran
gas antara daun dengan atmosfer dan air akan hilang ke dalam atmosfer. Untuk mengukur laju

transpirasi tersebut dapat digunakan potometer. Sebagian besar transpirasi berlangsung melalui
stomata sedang melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih sedikit. Transpirasi terjadi pada
saat tumbuhan membuka stomatanya untuk mengambi karbon dioksida dari udara untuk
berfotosintesis (Gardner, F. P ; R. B. Perace dan R. L. Mitchell., 2007).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

1.

Kesimpulan

Hasil praktikum menunjukan Berkurangnya bobot pada tanaman yang di simpan di luar
ruangan di sebabkan oleh banyak faktor seperti ukuran tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu,
aliran udara, dan kelembaban.

2.

Tidak berubahnya bobot pada tanaman yang di simpan di dalam ruangan di karenakan
tanaman tidak di pengaruhi oleh faktor-faktor transpirasi seperti cahaya, angin dan lain-lain.

3.

Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di atas
permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan lentisel 80% air yang ditranspirasikan
berjalan melewati lubang stomata.

5.2

Saran
Saran saya selaku praktikan fisiologi tumbuhan yaitu agar praktikum fisiologi tumbuhan
selanjutnya lebih baik dari praktek yang sekarang dan alat yang dibutuhkan dalam praktikum ini
lebih lengkap agar tidak menghambat berlangsungnya praktiku
DAFTAR PUSTAKA
Budidaya. Terjemahan H. Susilo. UI Press, Jakarta.
Gardner, F. P ; R. B. Perace dan R. L. Mitchell., 2007. Fisiologi Tanaman

Kimball, J. W., 2003. Biologi. PT Erlangga, Jakarta.


KanpurWilkins, M. B. 2008. Fisiologi Tanaman I. Terjemahan M. M Sutedjo dan A. G. Kartasapotra.
Bumi Aksara, Jakarta.
Lakitan, B. 2005. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.
Loveless, A. R., 2009. Prinsip prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik. PT. Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Miller, E. C., 2005. Plant Physiology. Mc Graw Hill Company. Inc, New YorPandey, S.
N and B. K. Sinha., 2000. Plant Phisiology.
Tjitrosomo, S.S. 2004. Botani Umum 2. Penerbit Angkasa : Bandung

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN


PENGUAPAN AIR MELALUI PROSES TRANSPIRASI

Oleh:
Zakyah
120210153086
A-International

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014

I.
II.

Judul
Penguapan Air Melalui Proses Transpirasi
Tujuan
Untuk mengetahui proses dan kecepatan penguapan air tumbuhan melalui proses transpirasi serta
faktor-faktor lain yang mempengaruhinya

III.

Tinjaun Pustaka
Air merupakan salah satu faktor penentu bagi keberlangsungan kehidupan
tumbuhan. Banyaknya air yang ada didalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktuasi
tergantung pada kecepatan proses masuknya air ke dalam tubuh tumbuhan, kecepatan proses
penggunaan air oleh tumbuhan, dan kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan.
Hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berupa cairan dan uap atau gas. Proses keluarnya atau
hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berbentuk uap atau gas ke udara di sekitar tubuh
tumbuhan dinamakan transpirasi. Transpirasi terjadi pada tumbuhan dan memegang peranan
penting dalam proses metabolisme serta memberikan manfaat bagi tumbuhan. Transpirasi
berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara luar, yaitu jaringan
epidermis pada daun, batang, cabang, ranting, bunga, buah, dan bahkan akar. Sebenarnya seluruh
bagian tanaman itu mengadakan transpirasi, akan tetapi biasanya yang dibicarakan adalah hanya
transpirasi yang melalui daun, karena hilangnya molekul-molekul air dari tubuh tanaman itu
sebagian besar adalah lewat daun. Hal ini disebabkan karena luasnya permukaan daun, dan juga
karena daun-daun itu lebih terkena udara dibandingkan dengan bagian tanaman yang lain
(Dwidjoseputro, 1994).
Transpirasi ialah satu proses kehilangan air dari tumbuh-tumbuhan ke atmosfer
dalam bentuk uap air. Air diserap dari bulu akar tumbuhan, kemudian diangkut melalui xilem ke
semua bagian tumbuhan khususnya daun. Tidak semua air yang diserap digunakan dalam proses
fotosintesis. Air yang berlebihan akan disingkirkan melalui proses transpirasi. Jika kadar
kehilangan air melalui transpirasi melebihi kadar pengambilan air tumbuhan tersebut,
pertumbuhan pokok akan terhalang. Akibat itu, mereka yang mengusahakan pernanaman secara
besar besaran mungkin mengalami kerugian yang tinggi sekira mengabaikan faktor kadar
transpirasi tumbuh tumbuhan (Devlin, 1983).

Transpirasi itu suatu akibat yang tidak dapat dielakkan. Luasnya permukaan daundaun yang ada di uadara itu suatu kondisi yang menyebabkan penguapan mesti terjadi;
penguapan tak mungkin dicegahnya. Transpirasi pada tanaman itu lain daripada transpirasi pada
manusia. Pada manusia transpirasi dilakukan oleh kelenjar-kelenjar kulit, dimana bukan saja air,
melainkan juga zat-zat sampah turut serta dikeluarkan dari badan (Dwijoseputro, 1994).
Pada musim panas, transpirasi meningkat dengan cepat pada pagi hari, puncak laju
transpirasi terjadi pada siang hari. Semakin sore laju transpirasi semakin menurun. Pada malam
hari laju transpirasi dapat dikatakan nol (Fried, 2005). Oleh karenanya menurut Justice dan Bass
(1990) bahwa semakin tinggi suhu udara dan semakin besar perbedaan suhu, maka laju
pengeringan akan semakin cepat (Putra, 2013)
It is widely accepted that plants regulate stomatal aperture both to minimize water
loss for a given amount of carbon assimilated and to minimize xylem cavitation .C3 and C4
plants fix carbon during the day and lose water from leaves as an unavoidable cost of getting
CO2 to the site of carboxylation. Although these plants are generally expected to close their
stomata at night to conserve water when carbon gain is not occurring, significant nighttime leaf
conductance (gnight) and transpiration (Enight) have been observed in many C3 species across a
wide range of habitats (Howard, 2007).
Pada tanaman, transpirasi itu pada hakekatnya suatu penguapan air yang baru yang
membawa garam-garam mineral dari dalam tanah. Pula, transpirasi juga bermanfaat di dalam
hubungan penggunaan sinar (panas) matahari. Kenaikan temperatur yang membahayakan dapat
dicegah karena sebagia dari sinar matahari yang memancar itu digunakan untuk penguapan air
(Dwijoseputro, 1994).
Sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan menutupnya stoma, jadi
banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung panas
(terutama sinar infra merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian
menaikkan temperatur. Kenaikan temperatur sampai pada suatu batas yang tertentu
menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi (Dwidjoseputro,
1994).
Daun juga sering kali terbuka terhadap tingkat penyinaran tinggi, yang melalui
peningkatan suhu daun meningkatkan laju potensial kekurangan air. Kebanyakan air yang hilang
sebagai uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis bagian dalam yang basah

dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga dibawah stomata, dan hilang ke udara
melalui pori stomata (tranpirasi stomata).
Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air kedalam daun
dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan
dari tanah ke akar. Ada banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang
mempengaruhi pergerakannya.
Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak
diatas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula dan lentisel. Transpirasi pada
tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat
merugikan karena tumbuhan akan layu bahkan mati (Devlin, 1983).
Uap air berdifusi dari ruangan udara yang lembap pada daun ke udara yang lebih kering
melalui stomata. Penguapan dari lapisan tipis air yang melapisi sel-sel mesofil mempertahankan
kelembapan tinggi ruangan udara itu. Kehilangan air ini menyebabkan lapisan tipis air itu
membentuk meniskus, yang semakin lama semakin cekung ketika laju transpirasi meningkat.
Terbentuknya meniskus ini terjadi karena kombinasi kedua gaya yang bekerja pada air. Dalam
artian, air itu ditarik oleh gaya adhesi dan kohesi. Kohesi air akibat ikatan hydrogen
memungkinkan transpirasi mampu menarik air ke atas melewati pembuluh xylem dan trakeid
yang sempit yang tanpa kolom air ini menjadi pecah. Pada kenyataannya, daya tarik transpirasi
itu dengan bantuan kohesi air dihantarkan dari akar ke seluruh daun. Aliran massal air ke puncak
suatu pohon digerakkan tenaga surya, karena penyerapan cahaya matahari oleh daun yang
menyebabkan penguapan yang bertanggung jawab atas daya tarik transpirasional. ( Campbell,
2003 ) .
Transpirasi ditentukan oleh membuka dan menutupnya stomata. Membuka menutupnya
stoma ditentukan oleh turgor pada sel penutup. Stomata akan membuka apabila turgor sel
penutup tinggi dan akan menutup apabila turgor sel rendah. Pada saat turgor tinggi maka dinding
sel penutup yang berhadapan pada celah stomata akan tertarik kebelakang sehingga celah
menjadi terbuka. Naiknya turgor sel penutup ini disebabkan oleh adanya air yang masuk dari sel
tetangga. Akibatnya sel tetangga mengalami kekurangan air dan selnya sedikit mengkerut dan
menarik sel penutup ke belakang. Sebaliknya, pada saat turgor sel penutup turun yang
disenbabkan oleh kembalinya air dari sel punutup ke sel tetangga, lalu sel tetangga akan
mengembang lagi dan mendorong sel penutup ke depan, sehingga akhirnya stomata menutup.

Hal ini dapat terjadi karena dinding sel penutup yang berhadapan di bagian celah (stomata)
memiliki dinding sel yang elastic , sehingga mudah membuka dan menutup ( Reddy et al,. 2004).
Ada dua faktor yang mempengaruhi transpirasi, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor
eksternal transpirasi, antara lain:
1.

Cahaya mempengaruhi transpirasi dalam dua cara, yaitu peningkatan tanspiration dengan
meningkatnya suhu daun, dan hubungan erat antara pembukaan stomata dengan intensitas
cahaya. Semakin meningkat intensitas cahaya sampai batas optimal, semakin lebar stomata
membuka sehingga tranpirasi semakin cepat.

2.

Kelembaban udara. Semakin lembab udaranya, maka laju transpirasi akan semakin lambat.

3.

Temperatur udara. Semakin tinggi temperatur udara, maka semakin cepat laju transpirasinya.
Faktor internal transpirasi yang paling mempengaruhi adalah keadaan stomata; jumlah stomata,
distribusi, fitur struktural dan bagaimana stomata membuka (Roberts et al,. 2000).
Transpirasi dapat membahayakan tanaman jika lengas tanah terbatas, penyerapanair
tidak mampu mengimbangi laju transpirasi, w sel turun, p menurun, tanaman layu,layu
permanent, mati, hasil tanaman menurun. Sering terjadi di daerah kering, perlu irigasi,
meningkatkan lengas tanah, pada kisaran layu tetap kapasitas lapangan (Salisburi,1992).
The extent to which biomass production is limited by transpiration may vary with
genetic background, depending on how profligately water is used by the plant and on the
importance of factors other than transpiration that may also limit growth when water is readily
available. Although ABA may reduce assimilation by limiting gs, it may also improve growth by
increasing water status and cell turgor, or may influence growth and development through direct
effects on signaling pathways and cross talk with other hormones. High transpiration rates are
also important for leaf cooling in hot environments, and breeding for high yields in such
environments has led to selection of cotton (Gossypium hirsutum) and wheat varieties with
progressively higher transpiration rates (Thompson, 2007).

IV.

Metodologi Penelitian
4.1 Alat dan bahan
Alat
Gunting tanaman
Ember
Gelas ukur 10 ml
Timbangan
Gelas object dan penutup
Rak tabung
Mikroskop
Bahan
Batang/ranting Impatiens balsamina (Pacar Air)
Batang/ranting Bauhinia sp.
Minyak kelapa
Kuteks bening (cat kuku)
Timbangan
Kertas kuarto
Kertas grafik
4.2 Cara kerja
Perngaruh faktor dalam

4.3 Hasil Pengamatan


Ke
l.

3.

Tumbuh
an

Perlakuan

Wakt
u
Pacar air
5
10
15
20
25

Teran Gela Kontr


g
p
ol
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0

Laju
Transpirasi
(ml/menit)
Teran Gela
g
p
0.08

stomata stomata/ lebar


(mikroskop
daun
)
Ata Baw Atas Bawah
s
ah
Gelap
Gelap
3

34

Terang
23

4.

5
10
15
20
25

0.2
0
0.1
0
0

0.1
0
0
0
0

0
0
0
0
0

Bauhini
a sp.

5
10
15
20
25

0.1
0.1
0
0.05
0.1

0
0.1
0
0
0.1

0
0
0
0
0

0.024

0.00
8

22

5
10
15
20
25

0
0
0.1
0
2

0
0
0
0
0

0
0
0
0
0

Terang
146.
5

1250

46

Gelap
140.
1

Terang
49

129.9
Terang

146.
5

1250

Gelap
0.002
8

0.00
16

21

Terang
5

2.

49

75.79

Gelap

21
1.

26.7
51

22

Gelap
61.1
4

624.03
Terang

178.
34

Gelap
0.084

Terang
1

14267.5
15
Gelap

71.3
0
3
Terang
43.3
1

V.

Pembahasan
Pada percobaan tentang penguapan air melalui proses transpirasi yang bertujuan
untuk mengetahui proses dan kecepatan penguapan air tumbuhan melalui proses transpirasi serta
faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Kita tahu bahwa proses transpirasi merupakan satu
proses kehilangan air dari tumbuh-tumbuhan ke atmosfer dalam bentuk uap air.
Proses transpirasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor dalam maupun
faktor luar. Faktor dalam meliputi besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin tidaknya
daun, banyak sedikitnya bulu dan banyak sedikitnya stomata. Sedangkan yang termasuk faktor
luar yaitu meliputi radiasi, temperatur, kelembaban udara, tekanan udara dan keadaan air dalam
tanah.
Kehilangan air transpirasi terjadi diseluruh bagian tumbuhan yang langsung bersentuhan
dengan atmosfir luar, terutama adalah dari daun dan hampir seluruh transpirasi terjadi melalui
pori-pori stomata. Kutikula hanya melepaskan sejumlah uap air air, karena kutikula dari banyak
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

macam daun sangat tidak permiabel terhadap air. Fungsi transpirasi pada tumbuhan, antara lain :
Meningkatkan daya isap daun pada proses penyerapan air
Mengurangi jumlah air dalam tumbuhan jika terjadi penyerapan yang berlebihan
Dapat menumbuhkan tanaman penghisapan dan pengangkutan serta meningkatkan hormon
Mempengaruhi tanaman difusi secara langsung tidak langsung memperlancar difusi sel
Mempengaruhi absorbsi air dan mineral oleh akar
Mempengaruhi evaporasi dalam sejumlah air
Mempertahankan kestabilan suhu daun
Mempengaruhi proses membuka dan menutupnya stomata yang secara tidak langsung tidak
mempengaruhi transpirasi dan respirasi
Percobaan tersebut dilakukan dengan beberapa tahap diantaranya yang pertama ialah
memotong batang atau ranting tumbuhan Impatiens balsamina (Pacar air) dan Bauhinia sp. di
bawah permukaan air. Mengusahakan memotong batang tumbuhan selalu berada di dalam air,
demikian juga sewaktu memasukkan potongan atau ranting tumbuhan ke dalam gelas ukur
(usahakan selalu terendam) hal ini bertujuan agar bekas potongan tidak tersumbat dengan udara
yang akan menghalangi penyerapan air. Kedua yang dilakukan yaitu mengisi 3 gelas ukur 10 ml
dengan air sebanyak 8 ml (1 set). Kemudian yaitu memasukkan potongan ranting tumbuhan ke
dalam 2 gelas ukur yang telah disiapkan, sedangkan 1 gelas ukur lainnya dibiarkan tanpa
tumbuhan (sebagai control. Setelah itu, yaitu menetesi ketiga tabung (1 set) dengan minyak
kelapa sampai seluruh permukaan tertutup. Tujuannya yaitu agar air tidak menguap (mengalami
evaporasi). Lalu, langkah selanjutnya yaitu mencatat waktu pada saat memasukkan daun dalam

gelas. Setelah itu, meletakkan 1 gelas ukur di luar laboraturium (terkena terik matahari),
kemudian mencatat hasil pengamatan pada table data pengamatan setiap 5 menit selama 30
menit dengan membaca skala yang ada pada gelas ukur. Langkah ke delapan yaitu mencatat
jumlah air yang diuapkan setiap periode tersebut dan menghitung rata ratanya. Langkah
selanjutnya yang dilakukan ialah mengukur luas daun yang digunakan pada percobaan dengan
salah satu cara (metode penimbangan/metode dengan bantuan kertas grafik). Pada langkah ini,
kelompok kami menggunaka cara / metode dengan bantuan kertas grafik. Dimana metode ini
dilakukan dengan cara menjiplak daun pada kertas grafik kemudian menghitung luas daun pada
hasil jiplakan yang ada pada kertas grafik. Setelah pengukuran luas daun, langkah selanjutnya
adalah mengoleskan kuteks bening pada sisi atas dan bawah daun dan biarkan beberapa menit
hingga mongering. Setelah mongering, menarik kuteks dengan bantuan pinset dan kemudian
meletakkan diatas gelas obyek, memberi sedikit air dan menutup dengan gelas penutup. Lalu,
Mengamati dibawah mikroskop pada perbesaran 10 x 40 dan menghitung jumlah stomata/mm2.
Hasil yang diperoleh dari percobaan tentang kecepatan transpirasi pada tumbuhan
pacar air (Impatiens balsamina) dan Bauhinia sp. yang diletakkan pada tempat yang teduh dan
tempat yang terik adalah sebagai berikut;
Pacar air (Impatiens balsamina) kelompok 3 yang diletakkan pada tempat yang
teduh didapatkan hasil pada pengamatan menit ke-0 volume air yang ada pada gelas ukur adalah
8 ml, pada 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit, dan 30 menit berikutnya, volume air
tersebut tidak mengalami perubahan volume yaitu tetap 8 ml. Diperoleh data rata-rata air
menguap 0,1 ml. Laju transpirasi tumbuhan tersebut adalah 0 ml/s. Berdasarkan percobaan
tersebut setelah dihitung jumlah stomata yang ada pada daun tumbuhan tersebut yaitu pada
epidermis daun atas diperoleh jumlah stomata sebanyak 3 stomata dan pada epidermis bawah
daun diperoleh stomata dengan jumlah 34 stomata.
Pacar air (Impatiens balsamina) kelompok 3 yang diletakkan pada tempat yang terik
didapatkan hasil pada pengamatan menit ke-0 volume air yang ada pada gelas ukur adalah 8 ml,
pada 5 menit berikutnya volume air dalam gelas ukur tersebut tetap 8 ml, pada 10 menit
berikutnya volume air pada gelas ukur tersebut menjadi 7,9 ml, pada 15 menit berikutnya volume
air pada gelas ukur tersebut tetap menjadi 7,9 ml, pada 20 menit berikutnya volume air pada
gelas ukur tersebut juga tetap 7,9 ml, pada 25 menit selanjutnya volume air tersebut mengalami

perubahan yaitu menjadi 7,8 ml dan pada 30 menit terakhir, volume air tersebut tidak mengalami
perubahan volume yaitu tetap 7,8 ml. Laju transpirasi tumbuhan tersebut adalah 0,08 ml/menit.
Berdasarkan percobaan tersebut setelah dihitung jumlah stomata yang ada pada daun tumbuhan
tersebut yaitu pada epidermis daun atas diperoleh jumlah stomata sebanyak 23 stomata dan pada
epidermis bawah daun diperoleh stomata dengan jumlah 49 stomata.
Pacar air (Impatiens balsamina) kelompok 4 yang diletakkan pada tempat yang teduh
didapatkan hasil pada pengamatan menit ke-0 volume air yang ada pada gelas ukur adalah 8 ml,
pada 5 menit selanjutnya volume air tersebut menjadi 7,9 ml. Pada 10 menit, 15 menit, 20 menit,
25 menit, dan 30 menit berikutnya, volume air tersebut tidak mengalami perubahan volume yaitu
tetap 7,9 ml. Laju transpirasi tumbuhan tersebut adalah 0,008 ml/s. Berdasarkan percobaan
tersebut setelah dihitung jumlah stomata yang ada pada daun tumbuhan tersebut yaitu pada
epidermis daun atas diperoleh jumlah stomata sebanyak 22 stomata dan pada epidermis bawah
daun diperoleh stomata dengan jumlah 46 stomata.
Pacar air (Impatiens balsamina) kelompok 4 yang diletakkan pada tempat yang terik
didapatkan hasil pada pengamatan menit ke-0 volume air yang ada pada gelas ukur adalah 8 ml,
pada 5 menit berikutnya volume air dalam gelas ukur tersebut 7,8 ml, pada 10 menit berikutnya
volume air pada gelas ukur tersebut tetap menjadi 7,8 ml, pada 15 menit berikutnya volume air
pada gelas ukur tersebut tetap menjadi 7,7 ml, pada 20 menit berikutnya volume air pada gelas
ukur tersebut juga tetap 7,7 ml, pada 25 menit selanjutnya volume air tersebut mengalami
perubahan yaitu menjadi 7,7 ml dan pada 30 menit terakhir, volume air tersebut tidak mengalami
perubahan volume yaitu tetap 7,7 ml. Laju transpirasi tumbuhan tersebut adalah 0,024 ml/menit.
Berdasarkan percobaan tersebut setelah dihitung jumlah stomata yang ada pada daun tumbuhan
tersebut yaitu pada epidermis daun atas diperoleh jumlah stomata sebanyak 21 stomata dan pada
epidermis bawah daun diperoleh stomata dengan jumlah 49 stomata.
Pada tumbuhan Bauhinia sp. kelompok 1 yang diletakkan pada tempat yang teduh
didapatkan hasil pada pengamatan menit ke-0 volume air yang ada pada gelas ukur adalah 8 ml,
pada 5 menit berikutnya volume air dalam gelas ukur tersebut tetap menjadi 8 ml, pada 10 menit
berikutnya volume air pada gelas ukur tersebut tetap menjadi 7,9 ml, pada 15 menit berikutnya
volume air pada gelas ukur tersebut tetap menjadi 7,9 ml, pada 20 menit berikutnya volume air
pada gelas ukur tersebut tetap menjadi 7,9 ml, pada 25 menit selanjutnya volume air tersebut
mengalami perubahan yaitu menjadi 7,8 ml dan pada 30 menit terakhir, volume air tersebut tetap

menjadi 7,9 ml. Laju transpirasi tumbuhan tersebut adalah 0,0016 ml/s. Berdasarkan percobaan
tersebut setelah dihitung jumlah stomata yang ada pada daun tumbuhan tersebut yaitu pada
epidermis daun atas diperoleh jumlah stomata sebanyak 2 stomata dan pada epidermis bawah
daun diperoleh stomata dengan jumlah 21 stomata.
Pada tumbuhan Bauhinia sp. kelompok 1 yang diletakkan pada tempat yang terik
didapatkan hasil pada pengamatan menit ke-0 volume air yang ada pada gelas ukur adalah 8 ml,
pada 5 menit berikutnya volume air dalam gelas ukur tersebut menjadi 7,9 ml, pada 10 menit
berikutnya volume air pada gelas ukur tersebut menjadi 7,8 ml, pada 15 menit berikutnya volume
air pada gelas ukur tersebut tetap menjadi 7,8 ml, pada 20 menit berikutnya volume air pada
gelas ukur tersebut menjadi 7,75 ml, pada 25 menit selanjutnya volume air tersebut mengalami
perubahan yaitu menjadi 7,65 ml dan pada 30 menit terakhir, volume air tersebut tetap menjadi
7,65 ml. Laju transpirasi tumbuhan tersebut adalah 0,0028 ml/s. Berdasarkan percobaan tersebut
setelah dihitung jumlah stomata yang ada pada daun tumbuhan tersebut yaitu pada epidermis
daun atas diperoleh jumlah stomata sebanyak 5 stomata dan pada epidermis bawah daun
diperoleh stomata dengan jumlah 22 stomata.
Pada tumbuhan Bauhinia sp. kelompok 2 yang diletakkan pada tempat yang teduh
didapatkan hasil pada pengamatan menit ke-0 volume air yang ada pada gelas ukur adalah 8 ml,
pada 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit dan 30 menit terakhir, volume air tersebut
tetap menjadi 8 ml. Laju transpirasi tumbuhan tersebut adalah 0 ml/s. Berdasarkan percobaan
tersebut setelah dihitung jumlah stomata yang ada pada daun tumbuhan tersebut yaitu pada
epidermis daun atas diperoleh jumlah stomata sebanyak 2 stomata dan pada epidermis bawah
daun diperoleh stomata dengan jumlah 0 stomata.
Pada tumbuhan Bauhinia sp. kelompok 2 yang diletakkan pada tempat yang terik
didapatkan hasil pada pengamatan menit ke-0 volume air yang ada pada gelas ukur adalah 8 ml,
pada 5 menit dan 10 menit berikutnya volume air dalam gelas ukur tersebut tetap menjadi 8 ml,
pada 15 menit berikutnya volume air pada gelas ukur tersebut menjadi 7,9 ml, pada 20 menit
berikutnya volume air pada gelas ukur tersebut tetap menjadi 7,9 ml, pada 25 menit selanjutnya
volume air tersebut mengalami perubahan yaitu menjadi 7,7 ml dan pada 30 menit terakhir,
volume air tersebut tetap menjadi 7,7 ml. Laju transpirasi tumbuhan tersebut adalah 0,084 ml/s.
Berdasarkan percobaan tersebut setelah dihitung jumlah stomata yang ada pada daun tumbuhan

tersebut yaitu pada epidermis daun atas diperoleh jumlah stomata sebanyak 1 stomata dan pada
epidermis bawah daun diperoleh stomata dengan jumlah 0 stomata.
Pada masing-masing tanaman jika dibandingkan hasil laju transpirasinya
berdasarkan perlakuan pada tempat yang teduh dan tempat yang terik diperoleh hasil bahwa laju
transpirasi tanaman yang diletakkan pada tempat yang terik lebih cepat dari pada di tempat yang
teduh. Pada pacar air (Impatiens balsamina) laju transpirasi pada tempat terik sebesar 0,08 dan
0,024 ml/s sedangkan pada tempat yang teduh laju transpirasinya adalah 0 dan 0,008 ml/s.
Sedangkan pada Bauhinia sp. lajut ranspirasi pada tempat terik lebih kecil dari pada tempat
teduh, yaitu sebesar 0,0028 dan 0,084 ml/s sedangkan pada tempat yang teduh laju transpirasinya
adalah 0,0016 dan 0 ml/s.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, jika dibandingkan hasilnya maka laju
transpirasi antara pacar air (Impatiens balsamina) dengan Bauhinia sp. berdasarkan luas
permukaan daunnya Bauhinia sp. lebih cepat mengalami transpirasi dan laju trasnpirasinya lebih
besar daripada pacar air (Impatiens balsamina) karena luas permukaan daunnya lebih besar. Jika
kita tinjau dari struktur batang kedua jenis tumbuhan ini jelas berbeda. Batang tumbuhan pacar
air (Impatiens balsamina) adalah batang basah (herbaceous), yaitu batang lunak dan berair.
Sedangkan batang tumbuhan kupu-kupu (Bauhinia sp.) adalah batang berkayu, yaitu batang yang
biasanya keras dan kuat karena sebagian besar jaringannya terdiri atas kayu. Dari jenis batang,
kita bisa menganalisis bahwa laju transpirasi tumbuhan pacar air akan cenderung lebih lambat
atau sedikit, karena karakteristik tumbuhan berbatang basah adalah akan meminimalisir
kehilangan air untuk cadangan air dalam batang itu sendiri. Batang herbaceous akan tetap
melakukan proses transpirasi tetapi tidak dalam jumlah atau skala yang berlebihan, proses
kehilangan airnya sampai keadaan air dalam tumbuhan itu seimbang. Berbeda dengan tumbuhan
berkayu, yang jika kita tinjau dari krakteristiknya struktur sudah berbeda. Tumbuhan berkayu
memiliki susunan yang lebih kompleks, selain itu proses pengangkutan air tidak akan banyak
disimpan di dalam batang karena jenis batang berkayu adalah kering, tidak basah seperti pada
pacar air. Jadi proses transpirasi akan cenderung lebih besar karena tidak perlu menyimpan
cadangan air dalam batang dengan jumlah yang besar.
Hal ini menandakan bahwa pada tempat terik (dibawah cahaya matahari) terjadi
proses transpirasi , karena sinar menyebabkan membukanya stomata dan pada tempat gelap
menyebabkan tertutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga transpirasi sangat aktif. Karena

sinar mengandung panas (terutama sinar infra-merah), maka banyak sinar berarti juga menambah
panas, dengan demikian menaikkan temperatur. Kenaikan temperatur sampai pada suatu batas
yang tertentu.
Faktor dalam yang juga mempengaruhi proses transpirasi adalah luas permukaan
daun. Semakin luas permukaan daun suatu tumbuhan maka proses transpirasinya akan semakin
besar, demikian pula sebaliknya, jika semakin kecil luas permukaan daun suatu tumbuhan maka
laju transpirasinya akan semakin rendah. Karena semakin luas permukaan daun maka proses
penyerapan air akan lebih luas dan kemungkinan kehilangan air permukaan akan semakin besar,
selain itu semakin luas suatu daun maka jumlah stomata yang dimiliki akan semakin banyak
pula.
Jumlah stomata pada daun tumbuha akan mempengaruhi suatu laju transpirasi
pada tumbuhan itu sendiri, karena semakin banyak jumlah stomata maka kecenderungan air akan
keluar (kehilangan air) melalui stomata akan semakin besar.

VI. Penutup
6.1 Kesimpulan
Transpirasi merupakan proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui
stomata. Kemungkinan kehilangan air dari jaringan lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan
-

tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata


Proses transpirasi dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam meliputi besar
kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin tidaknya daun, banyak sedikitnya bulu dan
banyak sedikitnya stomata. Sedangkan yang termasuk faktor luar yaitu meliputi radiasi,

temperatur, kelembaban udara, tekanan udara dan keadaan air dalam tanah
Untuk tumbuhan yang berada di daerah terik matahari mempunyai laju transpirasi yang lebih
besar daripada tumbuhan di tempat teduh. Karena cahaya matahari akan memacu proses
transpirasi lebih besar akibat kenaikan suhu pada daun dan membukanya stomata karena

rangsang cahaya
6.2 Saran
Sebaiknya praktikan lebih teliti lagi dalam melakukan percobaan dan harus disesuaikan dengan
langkah kerjanya sehingga hasil yang diperoleh sesuai

Daftar Pustaka

Devlin, R.M and K.H.Withan. 1983. Plant Phisiology. Boston: Williard grant press.
Dwijoseputro, D. 1988. Pengantar Fisioogi Tumbuhan. Jakarta : PT. Gramedia.
Howard , Ava R. and Lisa A. Donovan. Helianthus Nighttime Conductance and Transpiration Respond to
Soil Water But Not Nutrient Availability. Vol. 143, pp. 145155. Department of Plant Biology,
University of Georgia, Athens, Georgia 306027271
Putra, Gustiansyah Perdhana. Charloq, Jasmani Ginting. Respons Morfologi Benih Karet (Hevea
Brasiliensis Muell Arg.) Tanpa Cangkang Terhadap Pemberianpeg 6000 Dalam Penyimpanan
Pada Dua Masa Pengeringan. Jurnal Online Agroekoteknologi ISSN No. 2337- 6597 Vol.2, No.1:
145-152, Desember 2013
Reddy, S.M, M.M. Rao, A.S. Reddy, M.M. Reddy, and S.J. Chavy. 2004. University Botany-3. New Age
International. New Delhi.
Roberts, M., Michael. R, and Brace, M. 2000. Advanced Biology. Nelson. United Kingdom.
Salisbury, F.B. and C.W.Ross. 1992. Plant Physiology. Third Edition. California: Wadsworth Publishing
Co. Belmount.
Thompson Andrew J., John Andrews. Plant Physiol. Overproduction of Abscisic Acid in Tomato
Increases Transpiration Efficiency and Root Hydraulic Conductivity and Influences Leaf
Expansion. Vol. 143, 2007.

b.
Tabel laju transpirasi pada
Pistia stratiotes
Waktu Laju (g/mm
2
)(menit) Gelap Terang0 - 15 0 0,00115 - 30 0 0,00130 - 45 0 0,00145 - 60 0 0,001
c.
Tabel laju transpirasi pada
Andropogon
sp.
Waktu Laju (g/mm
2

)(menit) Gelap Terang0 - 15 0 0,00115 - 30 0 030 - 45 0 045 - 60 0 0,001


6.
Grafika.
Grafik laju transpirasi pada
Rhoeo discolor
b.
Grafik laju transpirasi pada
Pistia stratiotes
c.
Grafik laju transpirasi pada
Andropogon
sp.
00.0020.0040 - 1 5 3 0 - 4 5 teranggelap00.00050.0010.0015
0 1
5
1
5 3
0
3
6
0
gelapterang00.00050.0010.0015gelapterang

LAMPIRAN
Rhoeo dicolor
yang dimasukkan ke dalam gelasberisi air
aluminium foil
yang digunakan untuk menutupgelasvaselin yang digunakan untuk menutup lubangpada gelas

Andropogun
sp.bersama air dalam gelas ditimbangberatnya
Pistia statiotes
bersama air dalam gelasditimbang beratnya
Rhoeo discolor
bersama airdalam gelas ditimbangberatnyaBotol diolesi vaselin,agar lubang bekas
Rhoeod i s c o l o r t e r t u t u i Tanaman di sinari lampu (tempat terang)Tanaman di loker (tempat
gelap)

DISKUSI1.
Terangkan mengapa transpirasi terjadi!
Karena transpirasi berperan dalam penyerapan mineral dari tanah dan pengangkutannya
dalamtumbuhan, serta untuk pertukaran energi antara daun dan lingkungannya.
2.
Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi transpirasi!
Proses transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor dalam
antaralain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun,
banyaksedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak
stomata.Sedangkan faktor luar antara lain : suhu, cahaya, kelembaban, ketersediaan air tanah dan
angin
3.
Terangkan mengapa transpirasi di dua tempat tersebut berbeda kecepatannya!
Perbedaan laju transpirasi pada tempat terang dan tempat gelap dipengaruhi oleh beberapa factor,
salah satunya adalah cahaya. C
ahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara pertamacahaya akan mempengaruhi suhu
daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan yangkedua dapat mempengaruhi
transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata. Cahayamatahari dapat
menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan menutupnya stoma, jadibanyak sinar
berarti juga mempergiat transpirasi. Karena cahay matahari juga mengandung panas(terutama
siar infra-merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikianmenaikkan
temperatur. Kenaikan temperatur sampai pada suatu batas yang tertentu
menyebabkanmelebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi.
Similar to Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan Transpirasi

b.
Tabel laju transpirasi pada
Pistia stratiotes
Waktu Laju (g/mm
2
)(menit) Gelap Terang0 - 15 0 0,00115 - 30 0 0,00130 - 45 0 0,00145 - 60 0 0,001
c.
Tabel laju transpirasi pada
Andropogon
sp.

Waktu Laju (g/mm


2
)(menit) Gelap Terang0 - 15 0 0,00115 - 30 0 030 - 45 0 045 - 60 0 0,001
6.
Grafika.
Grafik laju transpirasi pada
Rhoeo discolor
b.
Grafik laju transpirasi pada
Pistia stratiotes
c.
Grafik laju transpirasi pada
Andropogon
sp.
00.0020.0040 - 1 5 3 0 - 4 5 teranggelap00.00050.0010.0015
0 1
5
1
5 3
0
3
6
0
gelapterang00.00050.0010.0015gelapterang

LAMPIRAN
Rhoeo dicolor
yang dimasukkan ke dalam gelasberisi air
aluminium foil
yang digunakan untuk menutupgelasvaselin yang digunakan untuk menutup lubangpada gelas

Andropogun
sp.bersama air dalam gelas ditimbangberatnya
Pistia statiotes
bersama air dalam gelasditimbang beratnya
Rhoeo discolor
bersama airdalam gelas ditimbangberatnyaBotol diolesi vaselin,agar lubang bekas
Rhoeod i s c o l o r t e r t u t u i Tanaman di sinari lampu (tempat terang)Tanaman di loker (tempat
gelap)

DISKUSI1.
Terangkan mengapa transpirasi terjadi!
Karena transpirasi berperan dalam penyerapan mineral dari tanah dan pengangkutannya
dalamtumbuhan, serta untuk pertukaran energi antara daun dan lingkungannya.
2.
Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi transpirasi!
Proses transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor dalam
antaralain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun,
banyaksedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak
stomata.Sedangkan faktor luar antara lain : suhu, cahaya, kelembaban, ketersediaan air tanah dan
angin
3.
Terangkan mengapa transpirasi di dua tempat tersebut berbeda kecepatannya!
Perbedaan laju transpirasi pada tempat terang dan tempat gelap dipengaruhi oleh beberapa factor,
salah satunya adalah cahaya. C
ahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara pertamacahaya akan mempengaruhi suhu
daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan yangkedua dapat mempengaruhi
transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata. Cahayamatahari dapat
menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan menutupnya stoma, jadibanyak sinar
berarti juga mempergiat transpirasi. Karena cahay matahari juga mengandung panas(terutama
siar infra-merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikianmenaikkan
temperatur. Kenaikan temperatur sampai pada suatu batas yang tertentu
menyebabkanmelebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi.
Similar to Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan Transpirasi
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Transpirasi adalah hilangnya uap air dari permukaan tumbuhan. Tumbuhan merupakan mahluk
hidup yang tidak bergerak secara aktif melainkan gerakannya bersifat pasif. Tumbuhan memang
tidak memiliki alat gerak seperti kaki dan tangan yang terdapat pada hewan dan manusia, tetapi
organ-organ mereka sangatlah kompleks untuk dipelajari. Ada beberapa tumbuhan yang sudah
sepenuhnya berkembang menjadi tumbuhan lengkap yang memiliki daun, akar, batang, bunga
dan buah. Ada juga tumbuh-tumbuhan yang tidak memiliki beberapa organ-organ tersebut.
Namun, di setiap tumbuhan tersebut pasti ada jaringan pengangkutan terpenting yang terdiri dari
xylem dan floem. Kedua jaringan tersebut berperan sangat penting bagi proses kehidupan sebuah

tanaman dan berperan untuk mengambil air dari dalam tanah dan kemudian menyebarkannya ke
seluruh bagian tanaman agar semua organ tanaman dapat berkembang secara maksimal. Proses
ini yang dinamakan dengan transportasi pada tumbuhan.
Tumbuhan juga melakukan transpirasi, yaitu pelepasan dalam bentuk uap melalui stomata.
Transpirasi ini merupakan salah satu mekanisme pengaturan fisiologi pada tumbuhan yang
terkait dengan berbagai kondisi yang ada di tubuhnya dan lingkungan sekitarnya. Adanya
transpirasi ini menyebabkan terjadinya aliran air yang berlangsung secara imbas dari akar,
batang, dan daun. Aliran air tersebut akan ikut membantu proses penyerapan dan transportasi air
tanah di dalam tubuh tumbuhan.
2. Rumusan masalah
3. Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN
ACARA I
TRANSPIRASI
1. Pelaksanaan Praktikum
Hari/tanggal

: Jumat,06 April 2012

Tempat

: Lab. IPA Biologi

Tujuan

: Untuk mengetahui transpirasi pada tumbuhan

2. Landasan teori
Tumbuhan, seperti juga hewan memiliki adaptasi evolusioner dalam bentuk respons fisiologis
terhadap perubahan jangka pendek. Misalnya jika daun pada tumbuhan mengalami kekurangan
air, daun-daun akan menutup stomata, yang merupakan lubang kecil dipermukaan daun tersebut.
Respons darurat ini akan membantu tumbuhan menghemat air dengan cara mengurangi
transpirasi, yaitu hilangnya air dari daun melalui penguapan ( Campbell.N.A,292:2000)
Sel hidup tumbuhan berhubungan langsung dengan atmosfer melalui stomata dan lenti sel
sehingga transpirasi terjadi melalui kutikula pada daun tumbuh-tumbuhan. Sel-sel hidup itu
berada dalam keadaan turgid dan sedang dan sedang bertranspirasi dilapisi oleh lapisan tipis air
yang diperoleh dari dalam sel. Sebalikya, persediaan air ini diperoleh dengan cara translokasi air
dan unsur-unsur penghantar dari akar melalui xilem. Akar-akar pohon tersebut memperoleh air

dengan cara mengabsorpsi melalui permukaan yang berhubungan dengan air di dalam tanah.
Seluruh proses ini digerakkan oleh energi yang diberikan pada daun dan batang-batang pada
tanaman tersebut (Wanggai,Frans. 91: 2007).
Pengurangan ukuran daun dihubungkan dengan pengurangan kecepatan transpirasi. Tumbuhan
dengan daun kecil biasanya mempunyai habitat kering, pengurangan ukuran daun sering kali
diikuti dengan peningkatan jumlah total daun pada tumbuhan (Mulyani. Sri. 251: 2006).
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga
dapat mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari. Mereka tidak
akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui proses transpirasi,
terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman. Selain itu,
melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup untuk
melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin
(http://www.forumsains.com/artikel/sistem-transportasi-dan-transpirasi-dalam-tanaman/).
Beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap laju transpirasi antara lain:

Cahaya. Tumbuhan jauh lebih cepat bertranspirasi bilamana terbuka terhadap cahaya
dibandingkan dalam gelap.

Suhu. Tumbuhan bertranspirasi lebih cepat pada suhu lebih tinggi.

Kelembaban. Laju transpirasi juga dipengaruhi oleh kelembaban nisbi udara sekitar
tumbuha.

Angin. Adanya angin lembut juga meningkatkan laju transpirasi.

Air tanah. Tumbuhan tidak dapat terus bertranspirasi dengan cepat jika kelembaban yang
hilang tidak digantikan oleh air segar dari tanah (Kimball. John W,493:1990).
3. Alat dan Bahan

Alat
1. 2 botol bermulut besar kapasitas 150 ml
2. Penggaris
3. Timbangan

Bahan
1. Vaselin
2. Suatu spesies tanaman yang masih kecil atau 1 potong tanaman sepanjang 40 cm

3. Kertas HVS
4. Aquades
5. Aluminium foil
6. Mengambil 1 spesies tanaman percobaan atau 1 potong tanaman yang panjangnya 40
cm
7. Menyediakan botol tersebut di atas, diisi air sebanyak setengahnya
8. Memasukkan tanaman atau potongan tanaman ke dalam botol yang telah didisi air tadi
dengan melalui lubang aluminium foil yang merupakan tutup botol tersebut
9. Menimbang tanaman terlebih dahulu untuk mengetahui berat awal tanaman
10. Mencegah terjadinya penguapan air selain melalui tanaman percobaan
11. Setelah tanaman ditimbang, kemudian diletakkan di bawah sinar matahari selama 40
menit
12. Menimbang kembali botol tersebut dan mencatat pengurangan beratnya
13. Setelah menimbang yang ke-2, mengambil tanaman dan mengukur luas total daun dari
tanaman tersebut
14. Menghitung kadar kecepatan transpirasi yang dilakukan oleh tanaman tadi
4. Cara kerja
5. Hasil pengamatan
Keterangan :
1. Menyiapkan tumbuhan Ixora paludosa yang panjangnya 40 cm
2. Tumbuhan Ixora paludosa dimasukkan ke dalam botol yang sudah ditutup dengan
aluminium foil dan dioleskan vaselin pada bagian lubang botol
3. Tanaman kemudian ditimbang
4. Tanaman kemudian dipanaskan selama 40 menit
5. Tanaman ditimbang kembali untuk memastikan proses transpirasi
Deskripsi

Tarnspirasi merupakan proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman
yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan lenti sel. Dalam
proses transpirasi ini, kita melakukan pengamatan pada tumbuhan Ixora paludosa yang
panjangnya 40 cm. tumbuhan tersebut dimasukkan ke dalam botol yang sudah dilubangi dan
ditutup dengan aluminium foil. Dan pada lubang botol tersebut diolesi oleh vaselin untuk
mencegah masuknya udara. Kemudian tumbuhan tersebut ditimbang, dan berat awalnya 223,5
gr, setelah ditimbang kemudian dijemur selama 40 menit, setelah dijemur ditimbang kembali.
Ternyata beratnya berkurang menjadi 217,9 gr. Hasil ini menunjukkan bahwa telah terjadi proses
transpirasi pada tumbuhan tersebut. Adapun peranan dari transpirasi bagi tumbuhan adalah:

Pengangkutan air ke daun dan difusi antar sel

Penyerapan dan pengangkutan air dan hara

Membuang kelebihan air

Pengaturan bukaan stomata

Mempertahankan suhu daun

Di samping itu, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi adalah sebagai berikut:

Kelembaban udara

Suhu

Kecepatan angin

Cahaya

Tekanan udara

Ketersediaan air tanah dan debu

Analisis data
1. 1.

Analisis data

Mencari kadar air yang hilang

Diket.
Berat awal (w0) = 223,5 gr
Berat akhir (wa) = 217,9 gr

Ditanya.
Kadar air yang hilang (w) =..?
Jawab :
w

= w0 wa

= 223, 5 217,9
= 5,6 gr

Mencari luas total daun

1. Diket.
l=3cm

P=6,5 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =6,5 x 3= 19,5 cm2
Y= ax + b = 0,439.19,5 + 0,376
= 8,91505 cm2
1. Diket.
l=3cm

P=6,5 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =6,5 x 3= 19,5 cm2
Y= ax + b = 0,439.19,5 + 0,376
= 8,91505 cm2
1. Diket.
l=3,5 cm

P=8 cm
b=0,376

a=0,439

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =8 x 3,5= 24 cm2
Y= ax + b = 0,439.24 + 0,376
= 10,912 cm2
1. Diket.
l=3,5cm

P=7,5 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =7,5 x 3,5= 28,5m2
Y= ax + b = 0,439. 28,5 + 0,376
= 12,8875 cm2
1. Diket.
l=3,5m

P=8,3 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =6,5 x 3= 29,5 m2
Y= ax + b = 0,439.29,5 + 0,376
= 13,3265 cm2
1. Diket.
l=3,5 cm

P=8 cm
b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?

a=0,439

Jawab. L= P x l =8 x 3,5= 28 cm2


Y= ax + b = 0,439.28 + 0,376
= 12,668 cm2
1. Diket.
l=3 cm

P=7,5 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =7,5 x 3= 22,5 cm2
Y= ax + b = 0,439.22,5 + 0,376
= 10,2535 cm2
1. Diket.
l=3 cm

P=7 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =7 x 3= 21 cm2
Y= ax + b = 0,439.21 + 0,376
= 9,595 cm2
1. Diket.
l=3 cm

P=5,5 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =5,5 x 3 = 16,5 cm2
Y= ax + b = 0,439.16,5 + 0,376

= 7,6195 cm2
1. Diket. P=4,7 cm
l=2,5 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =4,7 x 2,5= 11,75 cm2
Y= ax + b = 0,439.11,75 + 0,376
= 5,53425 cm2

1. Diket. P=5,2 cm
l=2,9 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =5,2 x 2,9= 13 cm2
Y= ax + b = 0,439.13 + 0,376
= 6,083 cm2
1. Diket. P=4,9 cm
l=2,3 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =4,9 x 2,3= 11,27 cm2
Y= ax + b = 0,439.11,27 + 0,376
= 5,32353 cm2

1. Diket. P=5 cm
l=2,8 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =5 x 2,8= 13,5 cm2
Y= ax + b = 0,439.13,5 + 0,376
= 6,3025 cm2

1. Diket. P=5,4 cm
l=2,5 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =8 x 3,5= 28 cm2
Y= ax + b = 0,439.28 + 0,376
= 12,668 cm2
1. Diket. P=2,5 cm
l=1,3 cm

a=0,439

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =2,5 x 1,3= 3,25 cm2
Y= ax + b = 0,439.3,25 + 0,376
= 1,80275 cm2
1. Diket. P=2,5 cm

a=0,439

l=1,2 cm

b=0,376

Ditanya. L=?
Y=.?
Jawab. L= P x l =8 x 3,5= 28 cm2
Y= ax + b = 0,439.28 + 0,376
= 12,668 cm2
Luas total daun =Y1+Y2+Y3+..+Y16
=8,91505 + 8,91505 + 10,912 +.+ 1,693
= 128,13363 cm2

Mencari kecapatan transpirasi

Kecepatan transpirasi =
=
= 0,0437044/0,044 gr/cm2
6. Pembahasan
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan
tumbuhan melalui stomata. Kemungkinan kehilangan air dari jaringan lain dapat saja terjadi,
tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata.
Oleh sebab itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman
umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata.
Untuk membuktikan adanya proses transpirasi pada suatu tumbuhan,kita melakukan pengamatan
pada tanaman Ixora paludosa. Sebelum melakukan pengamatan tanaman tersebut terlebih
dahulu dipotong sepanjang 40 cm,perlu diketahui tanaman yang dipotong tersebut memiliki
ukuran daun yang bervariasi,ada yang kecil,sedang dan besar. Karena kita akan melakukan
perbandingan luas pada masing-masing daun. Setelah itu potongan Ixora paludosa td
dimasukkan kedalam botol yang sudah terisi air dan ditutup pada bagian leher botol dengan
aluminium foil,setelah itu lubang tempat memasukkan tanaman tersebut diolesi dengan vaselin
supaya tidak ada celah udara masuk.

Tanaman Ixora paludosa tersebut kemudian ditimbang untuk mengetahui berat awal. Berat
awalnya adalah 223,5 gr. Setelah penimbangan yang pertama tanaman kemudian dijemur
dibawah terik matahari selama 40 menit. Seteleh mencapai 40 menit lamanya dijemur,
tanaman kemudian dibawa ke dalam Lab lagi untuk ditimbang kembali, ternyata setelah
ditimbang berat tanaman berkurang menjadi 217,9 gr. Berkurangnya berat setelah penimbangan
yang kedua menunjukkanbahwa telah terjadi proses transpirasi pada tumbuhan tersebut.
Dalam hal ini transpirasi mempunyai arti penting bagi tanaman. Transpirasi pada dasarnya suatu
penguapan air yang membawa garam-garam mineral dari dalam tanah. Transpirasi jiga
bermanfaat di dalam hubungan penggunaan sinar matahari, kenaikan temperatur yang diterima
tanaman digunakan untuk penguapan air.
Transpirasi dibedakan menjadi tiga macam berdasarkan tempatnya, yaitu transpirasi kutikula,
transpirasi lentikuler, transpirasi stomata. Hampir 97% air dari tanaman hilang melalui
transpirasi stomata.
Proses transpirasi pada dasarnya sama dengan proses fisika yang terlibat dalam penguapan air
dari permukaan bebas. Dinding mesofil basah yang dibatasi dengan ruang antar sel daun
merupakan permukaan penguapan. Konsentrasi uap air dalam ruang antar sel biasanya lebih
besar daripada udara luar. Manakala stomata terbuka, lebih banyak molekul air yang akan keluar
dari daun melalui stomata dibandingkan dngan jumlah yang masuk per satuan waktu, dengan
demikian tumbuhan tersebut akan kehilangan air.
Kegiatan transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor dalam
antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun,
banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak
stomata. Dan faktor luar antara lain:
1. Kelembaban
Bila daun mempunyai kandungan air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju transpirasi
bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air di dalam rongga antar sel di daun
dengan konsentrasi mulekul uap air di udara.
1. Suhu
Kenaikan suhu dari 180 sampai 200 F cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua
kali. Dalam hal ini akan sangat mempengaruhi tekanan turgor daun dan secara otomatis
mempengaruhi pembukaan stomata.
1. Cahaya
Cahaya memepengaruhi laju transpirasi melalui dua cara pertama cahaya akan mempengaruhi
suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan yang kedua dapat
mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata.

1. Angin
Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi.
Angin menyapu uap air hasil transpirasi sehingga angin menurunkan kelembanan udara diatas
stomata, sehingga meningkatkan kehilangan neto air. Namun jika angin menyapu daun, maka
akan mempengaruhi suhu daun. Suhu daun akan menurun dan hal ini dapat menurunkan tingkat
transpirasi.
1. Kandungan air tanah
Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan alju absorbsi air di akar. Pada
siang hari biasanya air ditranspirasikan lebih cepat dari pada penyerapan dari tanah. Hal tersebut
menyebabkan devisit air dalam daun sehingga terjadi penyerapan yang besar, pada malam hari
terjadi sebaliknya. Jika kandungan air tanah menurun sebagai akibat penyerapan oleh akar,
gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan
defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut.
Unsur kalium sangat memegang peranan dalam proses mermbuka dan menutupnya stomata
(stomata movement) serta transportasi lain dalam hara lainnya, baik dari jaringan batang maupun
lasngsung dari udara bebas. Dengan adanya defisiensi kalium maka secara langsung akan
memperlambat proses fisiologi, baik yang melibatkan klorofil dalam jaringan daun maupun yang
behubungan dengan fungsi stomata sebagai faktor yang sangat penting dalam produksi bahan
kering secara umum. Semakin lama defisiensi kalium maka akan semakin berdampak buruk
terhadap laju proses fisiologi dalam jaringan daun. Semakin berat defisiensi kalium pada
gilirannya akan berdampak semakin parah terhadap rusaknya pertumbuhan daun.
Transpirasi yang terjadi memang dapat merugikan tanaman, namun juga bermanfaat bagi
tanaman antara lain.
1. Meningkatkan daya isap daun pada penyerapan air
2. Mengurangi jumlah air dalam tumbuhan jika terjadi penyerapan yang berlebihan.
7. Simpulan
Jadi tarnspirasi dapat disimpulkan bahwa proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan
hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan
lenti sel
LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI DAN FISIOLOGI TUMBUHAN
TRANSPIRASI
Disusun Oleh: Nama : Mega Sintia NIM : F05112084 Kelompok : 6

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA


DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2014

TRANSPIRASI
ABSTRAK
Transpirasi ialah suatu proses kehilangan air dari tumbuh-tumbuhan ke atmosfer dalam bentuk
uap air. Hal ini dapat terjadi pada semua bagian tumbuhan, terutama pada permukaan daun.
Transpirasi dari permukaan daun terutama sekali berlangsung melalui stomata disebut juga
transpirasi stomata, tetapi ada pula yang melalui kutikula ( transpirasi kutikula ). Transpirasi
dapat dipengaruhi oleh faktor dalam dan lingkungan. Faktor dalam mempengaruhi transpirasi
adalah jumlah dan letak stomata, tebal dan tipis permukaaan daun, tebal dan tipisnya kutikula.
Sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi transpirasi adalah cahaya, suhu, kelembaban
uadara, angin dan kandungan air tanah. Oleh sebab itu, dengan melakukan pengamatan pada
tanaman
Coleus
sp. dapat diketahui kecepatan transpirasi daun dengan mengukur kecepatan absorpsi airnya
menggunakan metode fotometer. Pengamatan ini menggunakan bahan

bahan seperti tumbuhan


Coeleus
sp., air, dan vaselin. Selain itu digunakan pula peralatan laboratorium yang mendukung
praktikum ini antara lain fotometer, sumbat karet, silet, ember, dan kipas angin. Pengamatan ini
dilakukan dengan tiga perlakuan yaitu diletakkan pada meja praktikum, diletakkan di depan
kipas angin, dan diletakkan di bawah matahari terang benderang (luar ruangan). Bagian basal
tanaman
Coleus
sp. Dipotong dan secepatnya diletakkan didalam air, kemudian fotometer diisi dengan air hingga
penuh. Kemudian tanaman
Coleus
sp. yang telah dipotong tadi dimasukkan kedalam lubang sumbat karet kemudian dimasukkan
kedalam fotometer. Lalu olesi vaselin di bagian antara tanaman dengan sumbat. Berdasarkan
hasil pengamatan yang menunjukkan kecepatan transpirasi yang paling cepat adalah pada

perlakuan yang diletakkan dibawah cahaya matahari terang benderang (luar ruangan) dan pada
perlakuan diletakkan didepan kipas angin. Hal ini disebabkan karena baik cahaya matahari dan
angin merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan transpirasi. Kata kunci :
Coleus sp., Fotometer
,
Transpirasi
.
PENDAHULUAN
Sel hidup tumbuhan berhubungan langsung dengan atmosfer melalui stomata dan lenti sel
sehingga transpirasi terjadi melalui kutikula pada daun tumbuh-tumbuhan. Sel-sel hidup itu
berada dalam keadaan turgid dan sedang dan sedang bertranspirasi dilapisi oleh lapisan tipis air
yang diperoleh dari dalam sel. Sebalikya, persediaan air ini diperoleh dengan cara translokasi air
dan unsur-unsur penghantar dari akar melalui xilem. Akar-akar pohon tersebut memperoleh air
dengan cara mengabsorpsi melalui permukaan yang berhubungan dengan air di dalam tanah.
Seluruh proses ini digerakkan oleh energi yang diberikan pada daun dan batang-batang pada
tanaman tersebut. Tumbuhan, seperti juga hewan memiliki adaptasi evolusioner dalam bentuk
respons fisiologis terhadap perubahan jangka pendek. Misalnya jika daun pada tumbuhan
mengalami kekurangan air, daun-daun akan menutup stomata, yang merupakan lubang kecil
dipermukaan daun tersebut. Respons darurat ini akan membantu tumbuhan menghemat air
dengan cara mengurangi transpirasi, yaitu hilangnya air dari daun melalui penguapan
(Campbell,2000). Dalam kehidupan sehari- hari, kita tanpa sadar menyadari bahwa tumbuhan
melakukan proses transpirasi. Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari
jaringan hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati stomata, lubang
kutikula, dan lentisel .80% air yang ditranspirasikan berjalan melewati lubang stomata, paling
besar peranannya dalam transpirasi.Transpirasi berperan di dalam pengangkutan air ke daun dan
difusi air antar sel , penyerapan dan pengangkutan air dan zat hara, pengangkutan asimilat ,
membuang kelebihan air, pengaturan bukaan stomata dan mempertahankan suhu daun.
Transpirasi di pengaruhi oleh beberapa faktor ,yaitu faktor internal dan eksternal. Oleh karena
itu, pengamatan ini dilakukan untuk mengukur kecepatan transpirasi daun secara tidak langsung
dengan mengukur kecepatan absorpsi airnya dengan faktor-faktor yang mempengaruhi
transpirasi tersebut. Tujuan diadakan praktikum Transpirasi ini yaitu untuk mengukur kecepatan
transpirasi daun secara tidak langsung dengan mengukur kecepatan absorpsi airnya. Adapun
permasalahan yang diambil pada penulisan laporan ini adalah bagaimana pengaruh factor-faktor
yang mempengaruhi transpirasi terhadap kecepatan transpirasi daun secara tidak langsung
dengan mengukur kecepatan absorpsi airnya. Transpirasi adalah proses hilangnya air dalam
bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di atas permukaan tanah melewati
stomata, lubang kutikula, dan lentisel. Transpirasi merupakan pengeluaran berupa uap H2O dan
CO2, terjadi siang hari saat panas, melaui stomata (mulut daun) dan lentisel (celah batang).
Transpirasi berlangsung melalui bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara luar, yaitu
melalui pori-pori daun seperti stomata, lubang kutikula, dan lentisel oleh proses fisiologi
tanaman (Eka, 2012).
1. Besar kecilnya daun 2. Tebal tipisnya daun 3. Berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun 4.
Banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun 5. Banyak sedikitnya stomata 6. Bentuk dan letak
stomata (Salisbury. 1992). Faktor


faktor luar yang mempengaruhi kecepatan transpirasi, antara lain : 1.
Kelembaban Bila daun mempunyai kandungan air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju
transpirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air di dalam rongga antar sel
di daun dengan konsentrasi mulekul uap air di udara. 2.
Suhu Kenaikan suhu dari 18
0
sampai 20
0
F cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Dalam hal ini akan sangat
mempengaruhi tekanan turgor daun dan secara otomatis mempengaruhi pembukaan stomata. 3.
Cahaya Cahaya mempengaruhi laju transpirasi melalui dua cara pertama cahaya akan
mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan yang kedua
dapat mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata. 4.
Angin Angin mempunyai pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju
transpirasi. Angin menyapu uap air hasil transpirasi sehingga angin menurunkan kelembanan
udara diatas stomata, sehingga meningkatkan kehilangan neto air. Namun jika angin menyapu
daun, maka akan mempengaruhi suhu daun. Suhu daun akan menurun dan hal ini dapat
menurunkan tingkat transpirasi. 5.
Kandungan air tanah Laju transpirasi dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan alju
absorbsi air di akar. Pada siang hari biasanya air ditranspirasikan lebih cepat dari pada
penyerapan dari tanah. Hal tersebut menyebabkan devisit air dalam daun sehingga terjadi
penyerapan yang besar, pada malam hari terjadi sebaliknya. Jika kandungan air tanah menurun
sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lambat.
Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi
lebih lanjut (Loveless. 1991). Faktor-faktor tanaman yang mempengaruhi evapotranspirasi : 1.)
Penutupan stomata. Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara
relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Jika
stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air tetapi peningkatan kehilangan air
ini lebih sedikit untuk masing-masing satuan penambahan lebar stomata. Faktor utama yang
mempengaruhi
pembukaan dan penutupan stomata dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya dan
kelembapan. 2.) Jumlah dan ukuran stomata. Dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan
mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada pembukaan dan
penutupan stomata 3.) Jumlah daun. Makin luas daerah permukaan daun, makin besar
evapotranspirasi. 4.) Penggulungan atau pelipatan daun. Banyak tanaman mempunyai
mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air
terbatas. 5.) Kedalaman dan proliferasi akar. Ketersedian dan pengambilan kelembapan tanah
oleh tanaman budidaya sangat tergantung pada kedalaman dan proliferasi akar. Perakaran yang
lebih dalam meningkatkan ketersediaan air, dari proliferasi akar (akar per satuan volume tanah )

meningkatkan pengambilan air dari suatu satuan volume tanah sebelum terjadi pelayuan
permanen (Gardner,1991). Ruang interseluler udara dalam daun mendekati keseimbangan
dengan larutan dalam fibrill sel pada dinding sel. Hal ini berarti sel-sel hampir jenuh dengan uap
air, padahal banyaknya udara di luar daun hampir kering. Difusi dapat terjadi jika ada jalur yang
memungkinkan adanya ketahanan yang rendah. Kebanyakan daun tertutup oleh epidermis yang
berkutikula yang memiliki resistansi (ketahanan) tinggi untuk terjadinya difusi air. Namun
stomata memiliki resistansi rendah ketika membuka dan uap air berdifusi ke luar melalui stomata
(Kimball, 1990). Jumlah difusi keluarnya uap air dari stomata tergantung pada tingkat
kecuraman gradien konsentrasi uap air. Lapisan pembatas yang tebal memiliki gradien yang
lebih rendah, dan lapisan pembatas yang tipis memiliki gradien yang lebih curam. Oleh karena
itu, transpirasi melalui lapis pembatas yang tebal lebih lambat dari pada yang tipis. Angin
membawa udara dekat ke daun dan membuta pembatas lebih tipis. Hal ini menunjukkan
mengapa laju transpirasi pada tumbuhan lebih tinggi pada udara yang banyak hembusan angin
(Khairunnisa, 2000). Transpirasi dapat membahayakan tanaman jika lengas tanah terbatas,
penyerapan air tidak mampu mengimbangi laju transpirasi, w sel turun, p
menurun, tanaman layu, layu permanent, mati, hasil tanaman menurun. Sering terjadi di daerah
kering, perlu irigasi, meningkatkan lengas tanah, pada kisaran layu tetap

kapasitas lapangan. Cekaman kekeringan merupakan kondisi dimana kadar air tanah berada
pada kondisi yang minimum untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. Pengaruh cekaman
kekeringan pada stadi vegetatif dapat mengurangi laju pelebaran daun dan LAI pada tingkat
perkembangan berikutnya. Cekaman air yang parah dapat menyebabkan penutupan stomata,
yang mengurangi pengambilan karbondioksida dan produksi berat kering. Selama terjadi
cekaman kekeringan terjadi penurunan laju fotosintesis yang disebabkan oleh penutupan stomata
dan terjadinya penurunan transport elektron dan kapasitas fosforilasi didalam kloroplas daun
(Purwanto, 2010).
Transpirasi efisiensi (TE) didefinisikan sebagai produksi biomassa per unit air terjadi, dan indeks
panen. sebagai perbaikan TE berarti memaksimalkan produksi tanaman per unit penggunaan air,
itu adalah salah satu komponen penting bagi meningkatkan ketahanan kekeringan. Meskipun TE
telah diakui sebagai sangat relevan sifat, sejauh ini usaha yang sangat sedikit penelitian yang
telah dibuat terhadap skrining lapangan untuk itu, terutama karena kesulitan dalam mengukur TE
dalam metode skrining. Metode ini dikembangkan oleh (Farquhar, 1982) untuk memperkirakan
TE melalui pengukuran diskriminasi terhadap 13
o
C dengan daun selama fotosintesis, dan pembentukan hubungan yang erat antara karbon isotop
diskriminasi dan TE di banyak kacang-kacangan tanaman seperti kacang, kacang tunggak,
kacang tanah, dan kacang kedelai memiliki memberikan metode yang berguna skrining
(Kashiwagi, 2006).
METODOLOGI
Praktikum mengenai Transpirasi, dilaksanak
temperature permukaan daun menjadi tinggi dan uap air di permukaan daun mengering, karena
konsentrasi di luar tubuh lebih rendah dari pada di dalam, sehingga air berdifusi dari dalam ke
luar.
KESIMPULAN DAN SARAN

Transpirasi ialah suatu proses kehilangan air dari tumbuh-tumbuhan ke atmosfer dalam bentuk
uap air. Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak di
atas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula, dan lentisel 80% air yang
ditranspirasikan berjalan melewati lubang stomata, paling besar peranannya dalam transpirasi.
Perlakuan dengan tiga kondisi yang berbeda yaitu di meja praktikum, di depan kipas angin, dan
di bawah cahaya matahri. Adanya perbedaan berupa kecepatan transpirasi di akibatkan oleh
faktor lingkungan yaitu angin dan cahaya matahari. Angin dapat mempengaruhi laju transpirasi.
Angin dapat memacu laju transpirasi jika udara yang bergerak melewati permukaan daun
tersebut lebih kering (kelembaban nisbinya lebih rendah ) dari udara disekitar tumbuhan tersebut.
Kecepatan transpirasi paling tinggi
terjadi jika ada pengaruh dari cahaya matahari yang merupakan salah satu faktor yang dapat
menyebabkan transpirasi berlangsung dengan cepat. Karena sinar matahari akan menyebabkan
temperature permukaan daun menjadi tinggi dan uap air di permukaan daun mengering, karena
konsentrasi di luar tubuh lebih rendah dari pada di dalam, sehingga air berdifusi dari dalam ke
luar. Sebaiknya pihak yang bertanggung jawab segera memperbaharui alat-alat lab yang sering
digunakan oleh praktikan, sehingga kegiatan praktikum berjalan lebih efektif dan mendapatkan
hasil yang lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell. 2003.
Biologi jilid 2
. Jakarta: Erlangga. Devlin. 1983.
Plant Phisiology
. Boston: Williard grant press. Eka. 2012.
Transpirasi pada Tumbuhan.
(Online) (http://ekaratnawati2492. wordpress.com/2012/11/14/transpirasi-pada-tumbuhan-2/)
diakses tanggal 23 April 2014.
Firman. 2011.
Makalah Transpirasi
. (Online) (http://firmandepartment.blogspot. com/ 2011/12/makalah-transpirasi.html) diakses
tanggal 23 April 2014. Gardner. 1991.
Fisiologi Tanamanan Budidaya
. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Insaniyah, S.A. 2010.
Transpirasi pada Tanaman.
(Online)(http://vansaka. blogspot.com/2010/03/transpirasi-pada-tanaman.html) diakses tanggal
23 April 2014. Kashiwagi. 2006.
Relationships between Transpiration Efficiency and Carbon Isotope Discrimination in Chickpea
(
C. arietinum
L). SAT eJournal ejournal.icrisat.org. Vol.2, hal.1 Khairunnisa. 2000.
Tanggapan Tanaman Terhadap Kekurangan Air
. Medan: Fakultas Pertanian USU. Kimball, J.W. 1990.
Biologi

. Jakarta : Erlangga Lakitan. 2007


. Dasar-dasar fisiologi tumbuhan
. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Loveless. 1991.
Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik 1
. Jakarta: PT Gramedia. Purwanto. 2010.
Kajian Fisiologi Tanaman Kedelai Pada Kondisi Cekaman Kekeringan Dan Berbagai
Kepadatan Gulma Teki.
Journal Staf Pengajar Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto. Korespondensi :
purwanto_msc@yahoo.com. Agrosains ( Vol 12). Salisbury. 1992.
Fisiologi Tumbuhan Jilid III
. Bandung: ITB.

peptidoglikan dan bakteri gram-positif


1.

Peptidoglikan merupakan suatu bahan yang terkandung...

TRANSPIRASI PADA TUMBUHAN


Transpirasi Pada Tanaman Begonia sp. dan Dieffenbachia sp. I. PENDAHULUAN
A . Latar Belakang Tumbuhan dalam metabol...

PERCOBAAN - 1 TEKANAN OSMOSIS CAIRAN SEL PADA DAUN Rhoeo discolor


PERCOBAAN - 1 TEKANAN OSMOSIS CAIRAN SEL PADA DAUN Rhoeo discolor I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Tumbuhan dalam m...

Kamis, 07 Maret 2013

TRANSPIRASI PADA TUMBUHAN

Transpirasi Pada Tanaman Begonia sp.


dan Dieffenbachia sp.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Tumbuhan dalam metabolismenya memerlukan air dan unsur hara anorganik


dari lingkungan. Air berperan penting dalam kehidupan tumbuhan. Air yang diserap
oleh tumbuhan tidak semuanya digunakan, tetapi hanya 10% saja yang
digunakannya sedangkan sisanya sebanyak 90% dikeluarkan ke lingkungan luar.
Ada beberapa cara kehilangan air dari tubuh tumbuhan, yaitu transpirasi, gutasi,
sekresi, dan bleeding.
Transpirasi memiliki arti penting bagi tumbuhan karena berperan dalam hal
membantu meningkatkan laju angkutan air dan garam mineral, mengatur suhu
tubuh dengan cara melepaskan kelebihan panas dari tubuh, dan mengatur turgor
optimum di dalam sel. Transpirasi sendiri di pengaruhi oleh banyak faktor, baik
faktor luar maupun faktor dari dalam tumbuhan itu sendiri.
B. Permasalahan
Pada percobaan ini menggunakan Begonia sp. dan Dieffenbachia sp. untuk
diukur kecepatan relative kehilangan uap airnya. Berapakah kecepatan transpirasi
dari kedua tanaman tersebut? Apakah faktor yang mempengaruhi kecepatan
transpirasi?
C. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengukur kecepatan relatif kehilangan uap air
dari daun berbagai tumbuhan dengan metode kertas kobalt klorid.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Transpirasi ialah satu proses kehilangan air dari tumbuh-tumbuhan ke
atmosfer dalam bentuk uap air. Air diserap dari bulu akar

tumbuhan, kemudian

diangkut melalui xilem ke semua bagian tumbuhan khususnya daun. Tidak semua
air yang diserap digunakan dalam proses fotosintesis. Air yang berlebihan akan
disingkirkan melalui proses transpirasi. Jika kadar kehilangan air melalui transpirasi
melebihi kadar pengambilan air tumbuhan tersebut, pertumbuhan pokok akan
terhalang. Akibat itu, mereka yang mengusahakan pernanaman secara besar
besaran mungkin mengalami kerugian yang tinggi sekira mengabaikan faktor kadar
transpirasi tumbuh tumbuhan (Devlin, 1983).

Transpirasi ditentukan oleh membuka dan menutupnya stomata. Membuka


menutupnya stoma ditentukan oleh turgor pada sel penutup. Stomata akan
membuka apabila turgor sel penutup tinggi dan akan menutup apabila turgor sel
rendah. Pada saat turgor tinggi maka dinding sel penutup yang berhadapan pada
celah stomata akan tertarik kebelakang sehingga celah menjadi terbuka. Naiknya
turgor sel penutup ini disebabkan oleh adanya air yang masuk dari sel tetangga.
Akibatnya sel tetangga mengalami kekurangan air dan selnya sedikit mengkerut
dan menarik sel penutup ke belakang. Sebaliknya, pada saat turgor sel penutup
turun yang disenbabkan oleh kembalinya air dari sel punutup ke sel tetangga, lalu
sel tetangga akan mengembang lagi dan mendorong sel penutup ke depan,
sehingga akhirnya stomata menutup. Hal ini dapat terjadi karena dinding sel
penutup yang berhadapan di bagian celah (stomata) memiliki dinding sel yang
elastic , sehingga mudah membuka dan menutup ( Reddy et al,. 2004).
Ada dua faktor yang mempengaruhi transpirasi, yaitu faktor eksternal dan
internal. Faktor eksternal transpirasi, antara lain:
1. Cahaya mempengaruhi transpirasi dalam dua cara, yaitu peningkatan
tanspiration dengan meningkatnya suhu daun, dan hubungan erat antara
pembukaan stomata dengan intensitas cahaya (Rastogi, 1992). Semakin
meningkat intensitas cahaya sampai batas optimal, semakin lebar stomata
membuka sehingga tranpirasi semakin cepat.
2. Kelembaban udara. Semakin lembab udaranya, maka laju transpirasi akan
semakin lambat.
3. Temperatur udara. Semakin tinggi temperatur udara, maka semakin cepat
laju transpirasinya.
Faktor internal transpirasi yang paling mempengaruhi adalah keadaan stomata;
jumlah stomata, distribusi, fitur struktural dan bagaimana stomata membuka
(Roberts et al,. 2000).
Tanaman Begonia sp. merupakan tanaman yang hidup di lingkungan mesofit,
yaitu beradaptasi pada lingkungan yang tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering,
dengan suhu dan kebasahan yang sedang. Tanaman mesofit pada daun dorsiventral

umumnya stomata banyak terdapat pada bagian epidermis bawah daun, sedangkan
pada bagian atas hanya sedikit atau tidak ada sama sekali (Setjo, 2004). Stomata
pada Begonia sp. tedapat banyak di permukaan bawah dan sedikit di permukaan
atas, sehingga termasuk daun yang amfistomatik karena stomata terletak di kedua
permukaan daun.
Kobalt (II) klorida adalah zat pada, kristal berwarna merah, sangat mudah
menyerap air, bahkan mengikat uap air dalam udara. Zat padatnya yang kering
atau dipanaskan sehingga kering, berwarna biru, tetapi segera berubah menjadi
merah jika kena air atau uap air. Karena sifatnya itu ia dapat digunakan untuk
menguji kelembaban udara.
Kertas

kobalt

(II)

klorida

digunakan

untuk

menguji

apakah

suatu

cairan

mengandung air atau tidak. Perubahan terjadi dari biru menjadi merah. Kobalt (II)
klorida berwarna merah karena kehadiran ion Co(HO))
bila ditambahkan HCl,
)
larutan berubah menjadi biru, akibat pembentukan ion kompleks CoCl. Reaksinya
sebagai berikut :
Co(aq) + 4Cl(aq)

CoCl (aq)
(Chang, 2005)

III. METODE
A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain kertas kobalt
klorid, penjepit, kipas angin, alat pencatat waktu. Bahan yang digunakan antara lain
tanaman Begonia sp. dan Dieffenbachia sp.

DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 2. Erlangga.
Devlin, R.M and K.H.Withan. 1983. Plant Phisiology. Williard grant press: Boston.
Rastogi, V.B. 1992. Modern Biologi Vol. II. Pitambar Publishing Company. New Delhi.
Reddy, S.M, M.M. Rao, A.S. Reddy, M.M. Reddy, and S.J. Chavy. 2004. University Botany-3.
New Age International. New Delhi.
Roberts, M., Michael. R, and Brace, M. 2000. Advanced Biology. Nelson. United Kingdom.
Setjo, Susetyoadi.d

Transpirasi Pada Tumbuhan


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Transpirasi merupakan prosos hilangnya air dari jaringan hidup dalam bentuk
uap air melalui stomata dan kutikula. Proses kehilangan air terbesar maluli stomata.
Transpirasi pada tumbuhan yang memiliki daun sedikit terjadi di kutikula. Transpirasi
umumnya terjadi ketika stomata terbuka saat proses fotosintesis. Transpirasi sangat
dipengaruhi oleh bebrapa factor internal dan eksternal pada tumbuahan seperti
kadar karbondioksida, ukuran tumbuhan, suhu, cahaya, aliran udara, kelembaban,
serta ketersediaan air. Pembukaan dan penutupan stomata dipengaruhi oleh
beberapa factor tersebut,

terbuak dan

tertutupnya stomata dikontrol oleh

perubahan tekanan turgor sel yang berkorelasi dengan kadar ion kalium. Saat
stomata terbuka, terjadi pertukaran gas pada daun dengan udara sekitar(atmosfer)
dan air akan menguap atau hialang ke udara. Trasnpirasi tidak dapat dihentikan

atau dihindari oleh tumbuhan dan jika berlebihan akan merugikan karena akan
membuat layu tumbuhan bahkan mati.
Air yang diambil oleh akar lebih dari 20%-nya dikeluarkan kembali ke udara
dalam bentuk uap air. Uap air yang berasal dari transpirasi oleh tumbuhan tingkat
tinggi berasal dari daun selain dari bunga, batang dan buah. Arus transpirasi air
dan ion organic terlarut dari akar ke daun melalui xylem merupakan efek terjadinya
traspirasi. Transpirasi diaggap penting karena mengatur daya angkut air ke atas
pada tanaman dan mengatur suhu pada tanaman . pada kondisi transpirasi yang
tinggi

akan

menyebabkan

tingginya

konsumsi

air

oleh

tumbuahan

dan

mengakibatkan akar tanaman bekerja lebih keras dengan cara memperluas


jangkauan serapannya.
Setiap tumbuhan memiliki mekanismenya sendiri dalam mengatur laju
transpirasi untuk keberlangsungan kehidupannya seperti pada kaktus, jati, akasia,
bahkan

padi

pun

memiliki

mekanisme

tersendiri

dalam

mengatur

laju

transpirasinya. Pada jati dan akasia pengaturan transpirasi saat musim kemarau
denagn menggugurkan daunnya atau sering disebut meranggas. Pada kaktus
pengaturan laju transpirasinya adalah tidak menumbuhan sehelaipun daun serta
menggantinya dengan duri dan membungkus tubuhnya dengan lapisain lilin tipis
yang diproduksi oleh tubuhnya sendiri untuk mengurangi penguapan dan gangguan
dari OPT.

1.2 Tujuan
Praktikan dapat mengetahui pristiwa transport air pada batang tanaman.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Transpirasi adalah kehilangan air karena penguapan melalui bagian dalam


tubuh tanaman, yaitu air yang diserap oleh akar-akar tanaman, dipergunakan untuk
membentuk jaringan tanam-an dan kemudian dilepaskan melalui daun ke atmosfir
(Purba, 2011). Sebagian air mengguap melalui batang, tetapi kehilangan air

umunya berlangsung melalu daun. Dikenal dua jenis transpirasi, transpirasi stomata
dan transpirasi kutikula (Tjitrosomo, 1987). Factor factor yang mempengaruhi
tranpirasi terdapat pada tanaman itu sendiri dan lingkungan. Factor-faktor
lingkungan yang mempengaruhi seperti radiasi matahari, tempratur, kelembaban
relative, dan angin. Factor- factor pada tumbuhan seperti penutupan stomata,
jumlah dan ukuran stomata, jumlah daun, dan pelipatan daun (Gardner, 1991 ) ;
(Dwidjoseputro, 1992)
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan naungan
dan ketersediaan air tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan pada indeks
stomata. Indeks stomata tertinggi yaitu 10,67 terdapat pada interaksi perlakuan
tanpa naungan dan ketersediaan air 100% kapasitas lapang, sedangkan indeks
stomata terendah yaitu 6,02 terdapat pada kombinasi perlakuan naungan 75% dan
ketersediaan air 40% kapasitas lapang. Ada kecenderungan semakin meningkat
cahaya yang diterima tumbuhan, maka indeks stomatanya semakin tinggi
(Anggarwulan, 2008).
Translokasi melalui xylem berupa unsur hara yang dimulai dari akar terus ke
organ-organ,seperti daun untuk diproses dengan kegiatan fotosintesis. Stressair
memperlihatkan

pengaruhnya

melalui

terhambatnya

proses

translokasi.

Pengaruhnya tidak langsung terhadap produksi adalah berkurangnya penyerapan


hara dari tanah. Berkurangnya penyerapan unsur hara akan menghasilkan laju
sintesis bahan kering (antara lain protein) yang rendah pula. Cahaya dan air
memegang peranan penting dalam proses fotosintesis. Laju fotosintesis akan
berpengaruh pada kadar N daun (Anggarwulan, 2008) .
Peran transpirasi pada tumbuhan sangatbanyak namun yang terpenting adalah
untukmelepas energi yang diterima dari radiasimatahari. Energi matahari yang
digunakan untukfotosintesis hanya 2% atau kurang, sehinggaselebihnya harus
dilepaskan ke lingkungan, baikdengan pancaran, hantaran secara fisik dansebagian
besar untuk menguapkan air (Santosa,1990). Ion K sangat berpengaruhterhadap
kemungkinan keluar masuknya bahanterlarut ke sel penutup, sehingga terjadi
perubahan permeabilitas pada membrannya (Haryati, 2009) .
Respons yang pertama kali dapat diamati pada tanaman yang kekurangan air
ialah penurunan conductance yang disebabkan oleh berkurangnya tekanan turgor.

Hal

ini

mengakibatkan

laju

transpirasi

berkurang,

dehidrasi

jaringan

dan

pertumbuhan organ menjadi lambat, sehingga luas daun yang terbentuk saat
kekeringan lebih kecil. Kekeringan pada tanaman dapat menyebabkan menutupnya
stomata,sehingga mengurangi pengambilan CO2dan menurunkan berat kering ( Ai
et al, 2010 dalam Lawlor, 1993; Samaatmadja et al., 1985).
Terjadinya

peningkatan

susut

berat

pada

cabai

rawit

putih

selama

penyimpanan disebabkan juga oleh proses fisiologis, adanya mikroba patogen dan
luka mekanis. Susut berat karena proses fisiologis adalah akibat dari terjadinya
proses transpirasi, respirasi yang ditimbulkan oleh suhu tinggi (suhu kamar) dan
suhu rendah. Selain dapat menghambat respirasi, pendinginan juga dapat
menyebabkan warna kulit luar menjadi coklat kehitaman. Warna kulit luar yang
menjadi coklat kehitaman ini disebabkan karena adanya proses transpirasi pada
cabai. Sedangkanpada suhu 20C dan 29C (suhu kamar) hari ke 15 terjadi pula
perubahan lain selain warna, yaitu tekstur buah cabai menjadi lunak dan keriput.
Hal ini disebabkan oleh oksidasi pektin dimana pada saat pematangan pektin tidak
mampu lagi mengikat air pada buah cabai sehingga air yang keluar semakin besar
dan mengakibatkan tekstur buah cabai menjadi lunak dan keriput (Rachmawati,
2009).
Menurut Salisbury dan Ross (1995) tidak semua spesias stomatanya peka
terdadap kelembaban atmosfer. Stomata akan menutup bila selisih kandungan uap
air diudara dan ruang antar sel melebihi tiitk kritis. Hal ini disebabkan oleh gradien
uap yang tajam mendorong penutupan stomata, respon paling cepat terhadap
kelembaban yang rendah terjadi pada saat tingkat cahaya rendah. Hasil penelitian
menunjukkan adanya beda nyata lebar porus stomata siang hari dengan pagi dan
sore hari. Hal ini diduga suhu tinggi 30-35 0 C biasanya stomata menutup/menutup
sedikit sebagai respon tidak langsung terhadap keadaan rawan air dan laju
respirasi, sehingga CO2 dalam daun juga naik. Disamping itu juga tanaman
berusaha memperkecil transpirasi untuk mencegah kekeringan. Adanya faktor
dalam tumbuhan maka penyerapan air hampir setara denga transpirasi bila
penyediaan air cukup (Haryati 2009).
BAB 3. BAHAN DAN METODE

3. 1 Tempat dan Waktu


Praktikum ini dilakukan di laboratorium Fisiologi Tanaman lantai 2 Fakultas
Pertanian Universitas Jember pada tanggal 30 Maret 2013 pukul 07.00 WIB sampai
dengan selesai.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Timbangan Analitik ketelitian 0,01 g
2. Botol kaca
3. Pisau
4. Penggaris
3.2.2 Bahan
1. Tanaman pacar air
2. Eosin
3. Air
4. Parafin padat
3.3 Cara kerja
1. Menyiapkan batang tumbuhan pacar air sepanjang 20 cm dan batang tumbuhan
pacar air sepanjang 20cm dengan membiarkan organ-organ daun bunga
2. memotong miring pangkal pucuk batang tanaman pacar air di dalam air dengan
pisau yang tajam dan segera memasukkan potongan tanaman tersebut pada botol
yang telah berisi air dan eosin. Beri jarak lebih kurang 2 cm dari pangkal bawah
batang dari dasar botol.
3. memberikan paraffin padat pada mulut botol untuk menghindari kemungkinan
terjadinya penguapan. Pengamatan dilakukan setiap 45 menit sekali, dengan cara
menimbang botol besrta perlengkapannya dan mencatatnya serta mengamati
perubahan warna pada batang tanaman akibat pemberian eosin. Mengulangi
pengukuran sebanyak 2 kali.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
NO

PERLAKUAN

BERAT AWAL

BERAT AKHIR

DIKUPIR

554 GRAM

550,8 GRAM

TIDAK DIKUPIR

543 GRAM

542,0 GRAM

DIKUPIR

538 GRAM

537,3 GRAM

TIDAK DIKUPIR

593 GRAM

592,5 GRAM

4.2 Pembahasan
Air merupakan unsur pokok yang menyusun tumbuhan, sekitar 75-80% tubuh
tumbuhan adalah air. Untuk melanjutkan siklus hidupnya tanaman memerlukan air,
untuk fotosintesis maupun respirasi. Namun setiap jenis tumbuhanmemiliki
spesifikasinya sendiri terhadap kebutuhan akan air, bila kandungan air di
lingkungannya kurang atau berlebihan sama-sama tidak baik untuk tumbuhan,
tumbuhan akan layu bahkan mati. Beberapa peran air pada tanaman seperti
penyusun protoplasma, molekul makro dalam protoplasma seperti karbohidrat,
protein, pektin dan lain-lain membentuk struktur yang unik bersosialisasi dengan
molekul air. Air juga berfungsi sebagai zat pelarut. Sebagai alat transport pemindah
hara, bahan yang diangkut berupa mineral dalam tanah, dan juga jasil fotosintsis
serta olahan lainnya. Menjadi medium dan bahan dasar berlangsungnya reaksi
biokimia. Serta sistem pengatur suhu.
Transpirasi merupakan prosos hilangnya air dari jaringan hidup dalam bentuk
uap air melalui stomata dan kutikula. Proses kehilangan air terbesar maluli stomata.
Transpirasi pada tumbuhan yang memiliki daun sedikit terjadi di kutikula. Transpirasi
umumnya terjadi ketika stomata terbuka saat proses fotosintesis. Transpirasi
berkaitan dengan transpor air, semakin tinggi laji transpirasi semakin tinggi pula
transport air menuju jaringan-jaringan tumbuhan ini disebabkan karena transpirasi
pada dasarnya menguapkan air dengan maksud menjaga kesetabilan suhu di dalam
jarinagn tanaman.
Transpirasi sangat dipengaruhi oleh bebrapa factor internal dan eksternal pada
tumbuahan seperti kadar karbondioksida, ukuran tumbuhan, suhu, cahaya, aliran
udara, kelembaban, serta ketersediaan air. Factor factor yang mempengaruhi
tranpirasi terdapat pada tanaman itu sendiri dan lingkungan. Factor-faktor
lingkungan yang mempengaruhi seperti radiasi matahari, tempratur, kelembaban
relative, dan angin. Factor- factor pada tumbuhan seperti penutupan stomata,
jumlah dan ukuran stomata, jumlah daun, dan pelipatan daun (Gardner, 1991 ) ;
(Dwidjoseputro, 1992)
Xilem dan floem merupakan suatu jaringan pengangkut yang terdapat pada
tanaman. Xilem memiliki peran sebagai pengangkut air dan larutan mineral dan

hara dan di distribusikan ke seluruh jaringan tanaman yang membutuhkan. Floem


berfungsi sebagai jaringan pengangkut hasil fotosintesis untuk di sebarkan ke
suluruh jaringan tanaman.
Pada data pengamatan praktikum didapatkan hasil yang berbeda pada
literatur. Menurut Gardner (1991) dan Dwidjoseputro (1992) penutupan stomata,
jumlah daun dan ukuran daun, serta jumlah stomata mempengaruhi laju transpirasi.
Laju transpirasi berkaita terhadap transport air pada tanaman. Terlihat pada data
bahwa tumbuhan pacar air yang dikupir daunnya (no.1) memberikan hasil
transpirasi terbesar dengan pengurang bobot hingga 4 gram, dan pada tanaman
yang tidak dikupir daunnya rata-rata hanya mengalami pengurangan bobot sebesar
1 gram saja. Ini

membuktikan kebiasan dari data yang diperoleh. Data yang

seharusnya diperoleh adalah dengan tumbuhan pacar air yang ada daunnya
menghasilkan transpirasi lebih banyak dari pada transpirasi pada tumbuhan pacar
air yang dikupir daunnya, karena beberapa faktor seperti jumlah dan luas daun
serta jumlah stomata berpengaruh terhadap laju transpirasi.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Tanaman pacar air yang dikupir daunnya memiliki tingkat laju transpirasi
terbesar denga pengurang bobot tanaman rata-rata 2,25 gram, sedangkan pada
tnaman yang tidak dikupir daunnya memberikan hasil pengurangan bobot hanya
rata-rata kurang dari 1 gram.

5.2 Saran
Praktikan harus lebih teliti lagi dalam menimbang bobot tanaman di awal dan
akhir pengamatan agar tidak menghasilkan data yang bias. Waktu yang dibutuhkan
untuk pengamatan juga masih kurang, ini menyebabkan hasil transpirasi kurang
teliti

DAFTAR PUSTAKA

Ai, Nio Song, dkk. 2010. Evaluasi indikator Toleransi Cekaman Kekeringan Pada Fase
Perkecambahan Padi (Oryza sativa L.). Biologi 14(1): 50-54.
Anggarwulan, et al. 2008. Karakter Fisiologi Kimpul Pada Variasi Naungan
Ketersediaan Air. Biodiversitas 9 (4): 264-268

dan

Dwidjoseputro. 1992. Pengantar fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


Gardner P, et al. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: Universitas Indonesia.
Haryanti, Sri. 2009. Optimalisasi Pembukaan Porus Stomata Daun Kedelai (Glycine max (L)
merril) Pada Pagi Hari dan Sore. Bioma 11(1): 18-23.
Purba H J. 2011. Kebutuhan dan Cara Pemberian Air Irigasi untuk Tanaman Padi Sawah.
Sains dan Teknologi 10(3):145-150
Salisbury. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB Press.
Suhartono, dkk. 2008. Pengaruh Interval Pemberian Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil
Tanaman Kedelai (Glicine Max (L) merril) Pada Berbagai Jenis Tanah. Embryo 5(1):
98-112.
Tjitrosomo, Siti S. 1987. Botani Umum 2. Bandung: Angkasa.
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Dalam aktivitas hidupnya, sejumlah besar air dikeluarkan oleh tumbuhan
dalam bentuk uap air ke atmosfir. Pengeluaran air oleh tumbuhan dalam bentuk uap
air prosesnya disebut dengan transpirasi. Banyaknya air yang ditranspirasikan oleh
tumbuhan merupakan kejadian yang khas, meskipun perbedaan terjadi antara
suatu species dan species yang lainnya. Transpirasi dilakukan oleh tumbuhan
melalui stomata, kutikula dan lentisel. Disamping mengeluarkan air dalam bentuk
uap, tumbuhan dapat pula mengeluarkan air dalam bentuk tetesan air yang
prosesnya disebut dengan gutasi dengan melalui alat yang disebut dengan
hidatoda yaitu suatu lubang yang terdapat pada ujung urat daun yang sering kita

jumpai pada species tumbuhan tertentu. Sehubungan dengan transpirasi, organ


tumbuhan yang paling utama dalam melaksanakan proses ini adalah daun, karena
pada daunlah kita menjumpai stomata paling banyak. Transpirasi penting bagi
tumbuhan karena berperan dalam hal membantu meningkatkan laju angkutan air
dan garam mineral, mengatur suhu tubuh dan mengatur turgor optimum di dalam
sel. Transpirasi dimulai dengan penguapan air oleh sel-sel mesofil kerongga antar
sel yang ada dalam daun (Wahab, 2013).
Tumbuhan, seperti juga hewan memiliki adaptasi evolusioner dalam bentuk
respons fisiologis terhadap perubahan jangka pendek. Misalnya jika daun pada
tumbuhan mengalami kekurangan air, daun-daun akan menutup stomata, yang
merupakan lubang kecil dipermukaan daun tersebut. Respons darurat ini akan
membantu tumbuhan menghemat air dengan cara mengurangi transpirasi, yaitu
hilangnya air dari daun melalui penguapan ( Campbell, dkk., 2010).
Hal-hal di ataslah yang melatar belakangi dilakukannya praktikum ini
sehingga laporan ini dapat dikerjakan.
I.2. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.

Mengukur laju transpirasi pada dua jenis tumbuhan yaitu Acalypha sp. Dan
Bauhinia purpurea.
Membandingkan laju transpirasi pada dua jenis tanaman.
Mengamati jumlah stomata bagian atas dan bagian bawah daun.
I.3. Waktu dan Tempat
Percobaan transpirasi tumbuhan dilaksanakan pada hari jumat, tanggal 9 mei
2014, pukul 14.00-17.00 WITA, bertempat di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi,

Fakultas

Matematika

dan

Ilmu

Pengetahuan

Alam,

Universitas

Hasanuddin,

Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sebatang tumbuhan yang tumbuh di tanah dapat dibayangkan sebagai dua


buah sistem percabangan, satu di bawah dan satu di atas permukaan tanah. Kedua
sistem ini dihubungkan oleh sebuah sumbu utama yang sebagian besar terdapat di
atas tanah. Sistem yang berada di dalam tanah terdiri atas akar yang bercabangcabang menempati hemisfer tanah yang besar. Akar-akar terkecil terutama yang
menempati bagian luar hemisfer tersebut. Sistem yang terdapat di atas permukaan
tanah mencakup suatu hemisfer serupa, dengan permukaan yang ditempati oleh
cabang-cabang kecil berdaun lebat. Secara kolektif akar-akar kecil membentuk
permukaan luas yang berhubungan dengan tanah, dan sama halnya dengan daundaun yang juga membentuk permukaan luas yang berhubungan dengan udara.
Dalam keadaan normal, sel-sel bergbagai akar dikelilingi oleh larutan tanah yang
mempunyai tekanan osmosis umumnya di bawah 2 bar (atmosfer), dan sering kali
hampir nol, sedangkan sel-sel daun dan bagian-bagian lain yang berada di atas
tanah dikelilingi oleh udara tak jenuh yang kemampuan menyerap airnya beberapa
bar. Karena sumbu yang menghubungkan akar dan daun memungkinkan air
mengalir dengan tahanan yang wajar, maka tidak dapat dielakkan lagi bahwa air
akan mengalir sepanjang gradasi tekanan air yang membentang dari tanah ke
udara

dalam

tubuh

tumbuhan.

Oleh

karena

itu

seluruh

tumbuhan

dapat

dibandingkan dengan sebuah sumbu lampu, yang menyerap air dari tanah malalui

akar, mengalirkannya melalui batang dan kemudian menguapkannya ke udara dari


daun-daun (Loveless, 1991).
Air diserap ke dalam akar secara osmosis melalui rambut akar, sebagian
besar bergerak menurut gradien potensial air melalui xilem. Air dalam pembuluh
xilem mengalami tekanan besar karena molekul air polar menyatu dalam kolom
berlanjut akibat dari penguapan yang berlangsung di bagian atas. Sebagian
besar ion bergerak melalui simplas dari epidermis akar ke xilem, dan kemudian ke
atas melalui arus transportasi.Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan,
kadar CO2, cahaya, suhu, aliran udara, kelembaban, dan tersedianya air tanah.
Faktor-faktor ini mempengaruhi perilaku stoma yang membuka dan menutupnya
dikontrol oleh perubahan tekanan turgor sel penjaga yang berkorelasi dengan kadar
ion kalium (K+) di dalamnya. Selama stoma terbuka, terjadi pertukaran gas antara
daun dengan atmosfer dan air akan hilang ke dalam atmosfer. Untuk mengukur laju
transpirasi tersebut dapat digunakanpotometer . Transpirasi pada tumbuhan yang
sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat merugikan
karena tumbuhan akan menjadi layu bahkan mati.Sebagian besar transpirasi
berlangsung melalui stomata sedang melalui kutikula daun dalam jumlah yang lebih
sedikit. Transpirasi terjadi pada saat tumbuhan membuka stomatanya untuk
mengambilkarbon dioksida dari udara untuk berfotosintesis.Lebih dari 20 % air yang
diambil oleh akardikeluarkan ke udara sebagai uap air. Sebagian besar uap air yang
ditranspirasi

oleh tumbuhan

dari batang, bunga dan buah.

tingkat
Transpirasi

tinggi

berasal

menimbulkan

dari daun selain


arus

transpirasi

yaitu translokasi air dan ion organik terlarut dari akar ke daun melalui xilem
(Siregar, 2003).

Struktur anatomi daun memungkinkan penurunan jumlah difusi dengan


menstabilkan lapis pembatas tebal relatif. Misalnya rapatnya jumlah trikoma pada
permukaan daun cenderung meyebabkan lapisan pembatas udara yang reltif tidak
bergerak. Stomata yang tersembunyi menekan permukaan daun sehingga stomata
membuka. Udara memiliki efek penting dalam penjenuhan jumlah udara. Udara
hangat membaewa lebih banyak air dari pada udara dingin. Oleh karena itu, pada
saat panan volume udara akan memberikan sedikit uapa air dengan kelembaban
relatif yang lebih rendah daripada saat dingin. Untuk alasan ini, tumbuhan
cenderung kehilangan air lebih cepat pada udara hangat dari pada udara dingin.
Hilangnya uap air dari ruang interseluler daun menurunkan kelembaban relatif pada
ruang tersebut. Air yang menguap dari daun (stomata) ini menimbulkan kekuatan
kapiler yang menarik air dari daerah yang berdekatan dalam daun.Beberapa
penggantian air berasal dari dalam sel daun melalui membran plasma. Ketika air
meninggalkan daun, molekul air menjadi lebih kecil. Hal ini akan mengurangi
tekanan turgor. Jika banyak air yang dipindahkan, tekanan turgor akan menjadi nol
(Wahab, 2013).
Tumbuhan seperti pohon jati dan akasia mengurangi penguapan dengan cara
menggungurkan

daunnya

di musim panas.

Pada

tumbuhan padi-

padian, liliacea dan jahe-jahean, tumbuhan jenis ini mematikan daunnya pada
musim kemarau. Pada musim hujan daun tersebut tumbuh lagi. Tumbuhan yang
hidup

di gurun

pasir atau

lingkungan

yang

kekurangan

air

(daerah

panas)

misalnya kaktus, mempunyai struktur adaptasi khusus untuk menyesuaikan diri


dengan lingkungannya. Pada tumbuhan yang terdapat di daerah panas, jika
memiliki daun maka daunnya berbulu, bentuknya kecil-kecil dan kadang-kadang
daun berubah menjadi duri (Sasmitamihardja, 1996).

Ruang interseluler udara dalam daun mendekati keseimbangan dengan


larutan dalam fibrill sel pada dinding sel. Hal ini berarti sel-sel hampir jenuh dengan
uap air, padahal banyaknya udara di luar daun hampir kering. Difusi dapat terjadi
jika ada jalur yang memungkinkan adanya ketahanan yang rendah. Kebanyakan
daun tertutup oleh epidermis yang berkutikula yang memiliki resistansi (ketahanan)
tinggi untuk terjadinya difusi air (Lakitan, 2007).
Kegiatan Transpirasi dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor dalam maupun
faktor luar. Yang terhitung sebagai faktor dalam adalah besar kecilnya daun, tebal
tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya stomata. Hal-hal ini semua mempengaruhi
kegiatan trasnpirasi pada tumbuhan (Gardner, dkk., 1991).
Kegiatan Transpirasi secara langsung oleh tanaman dipandang lansung
sebagai pertukan karbon dan dalam hal ini transpirasi sangat penting untuk
pertumbuhan tanaman yang sedaang tumbuh menentukan banyak air jauh lebih
banyak daripada jumlah terhadap tanaman itu sendiri kecepatan hilangnya air
tergantung sebagian besar

pada

suhu kelembapan relatif

dengan gerakan

udara (Ashari, 1995).


Kecepatan transpirasi berbeda-beda tergantung kepada jenis tumbuhannya.
Bermacam

cara

untuk

mengukur

besarnya

transpirasi,

misalnya

dengan

menggunakan metode penimbangan. Sehelai daun segar atau bahkan seluruh


tumbuhan beserta potnya ditimbang. Setelah beberapa waktu yang ditentukan,
ditimbang lagi. Selisih berat antara kedua penimbangan merupakan angka
penunjuk besarnya transpirasi. Metode penimbangan dapat pula ditujukan kepada
air yang terlepas, yaitu dengan cara menangkap uap air yang terlepas dengan

dengan zat higroskopik yang telah diketahui beratnya. Penambahan berat


merupakan angka penunjuk besarnya transpirasi (Soedirokoesoemo, 1993).
Pengangkutan garam-garam mineral dari akar ke daun terutama oleh Xylem
dan

secepatnya

hakikatnya

sama

mempengaruhi
dengan

oleh

penguapan,

kegiatan
akan

Transpirasi.

tetapi

istilah

Transpirasi

pada

penguapan

tidak

digunakan pada makhluk hidup. Sebenarnya seluruh bagian tanaman mengadakan


transpirasi karena dengan adanya transpirasi terjadi hilangnya molekul sebagian
besar adalah lewat daun hal ini disebabkan luasnya permukaan daun dan karena
daun-daun itu lebih terkena udara dari pada bagian lain dari suatu tanaman
(Darmawan dan Barasjah, 1982).
Stomata akan membuka jika tekanan turgor kedua sel penjaga meningkat.
Peningkatan tekanan turgor oleh sel penjaga disebabkan oleh masuknya air
kedalam sel penjaga tersebut. Pergerakan air antar sel akan selalu dari sel yang
mempunyai potensi air lebih tinggike sel engan potensi lebih rendah. Tinggi
rendahnya potensi air sel tergantung pada jumlah bahan yang terlarut dari cairan
tesebut, semakin banyak bahan yang terlarut maka potensi yang terjadi pada sel
semakin rendah (Soedirokoesoemo, 1993).
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju Transpirasi antara lain: Faktor-faktor
internal yang mempengaruhi mekanisme membuka dan menutupnya stomata yaitu
Kelembaban udara sekitar, Suhu udara, dan Suhu daun tanaman (Lakitan, 2007).
Angin dapat pula mempengaruhi laju transpirasi jika udara yang bergerak
melewati permukaan daun tersebut lebih kering (kelembaban nisbihnya rendah)
dari udara sekitar tumbuhan tersebut (Gardner, dkk., 1991).

Kerapatan uap air diudara tergantung dengan resisitensi

stomata dan

kelembaban nisbih dan juga suku udara tersebut, untuk perhitungan laju
transpirasi. Kelembaban nisbih didalam rongga substomata dianggap 100%. Jika
kerapatan uap air didalam rongga substomata sepenuhnya tergantung pada suhu
(Tjitrosoepomo, 1998).
Menurut Dwijoseputra (l989) pada pagi hari masih kedapatan amilum di dalam
sel-sel penutup stomata. Penaruh sinar matahari ini membangkitkan klorofil-klorofil
untuk mengadak fotosintesis dalam kloroplas jaringa palisade dan spon parenkim.
Dengan adanya fotosintesis ini, maka kadar CO 2 dalam sel-sel tersebutt menurun,
ini karena sebagian dari CO 2 mengalami reduksi menjadi CH 2O. Karena peristiwa
reduksi ini, maka berkuranglah ion-ion H, sehingga pH lingkungan jadi lingkungan
menuju basa. Kenaikan pH ini sangat baik bagi kegiatan enzim posporilase guna
mengubah amilum dalam sel penutup menjadi glukosa-l pospat. Naiknya osmosis isi
sel penutup menyebabkan masuknya air dari sel tetangga, sehingga menaikkan
turgor dan memgembanglah dinding sel tetangga yang tipis tersebut (Haryanti dan
Meirina, 2009).
Meskipun air merupakan penyusun utama tubuh tumbuhan namun sebagian
besar air yang diserap akan dilepaskan kembali ke atmosfer dan hanya sebagian
kecil yang digunakan untuk proses metabolisme dan mengatur turgor sel.Hilangnya
air

dari

tubuh

tumbuhan

terjadi

melalui

proses

transpirasi

dan

gutasi

(Soedirokoesoemo, 1993).
Daya hantar secara langsung dipengaruhi oleh besarnya bukaan stomata.
Semakin besar bukaan stomata maka daya hantarnya akan semakin tinggi. Pada

beberapa tulisan digunakan beberap istilah resistensi stomata. Dalam hubungan ini
daya hantar stomata berbanding dengan resistensi stomata (Campbell, dkk., 2010).
Transpirasi

juga

merupakan

proses

yang

membahayakan

kehidupan

tumbuhan, karena kalau transpirasi melampaui penyerapan oleh akar, tumbuhan


dapat kekurangan air. Bila kandungan air melampaui batas minimum dapat
menyebabkan

kematian.

Transpirasi

yang

besar

juga

memaksa

tumbuhan

mengedakan penyerapan banyak, untuk itu diperlukan energi yang tidak sedikit
(Soedirokoesoemo, 1993).
DAFTAR PUSTAKA

Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI Press, Jakarta.

Campbell, N. A., J. B., Reece, dan L. G., Mitchel, 2010. Biologi, edisi kedelapan, Jilid 2.
Erlangga, Jakarta.

Darmawan, J dan Bharsjah, J. 1982. Dasar-Dasar Ilmu Fisiologi Tanaman. Erlangga, Jakarta.

Gardner, F. P., R. B., Pearce dan R. L. Mitchell., 1991. Fisiologi Tanamaman Budidaya.
Erlangga, Jakarta.

Haryanti, S., dan Meirina T., 2009. Optimalisasi Pembukaan Porus Stomata Daun Kedelai
(Glycine max (L) merril) Pada Pagi Hari dan Sore. Jurnal Bioma. Jurusan Biologi
FMIPA Universitas Dipinegoro, Vol. 11 (18-23).
Loveless, A. R., 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. PT. Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.

Sasmitamihardja, Drajat. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Erlangga, Jakarta.

Soedirokoesoemo, Wibisono. 1993. Materi Pokok Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan.


Erlangga, Jakarta.
Siregar, Arbayah, 2003. Anatomi Tumbuhan. ITB, Bandung.
Sudrajad,
E.,
2014.
Laporan
Praktikum
Transpirasi
pada
Tumbuhan.
http://web.ipb.ac.id/~tpb/files/materi/bio100/Materi/trnaspirasi_tumb.html, diakses
pada hari sabtu 10 mei 2014 pukul 21.58 WITA.
Tjitrosoepomo H.S., 1998. Botani Umum. UGM Press, Yogyakarta.

Wahab,
2013.
Lapiran
Praktikum
Tranpirasi
Tumbuhan
http://wahabhadada.blogspot.com/laporan-transpirasi.html. diakses pada hari sabtu
10 mei 2014, pukul 20.55 WITA.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Absorpsi adalah proses penyerapan air dan unsur hara oleh tanaman berupa ion-ion dari
tanah ke dalam sel-sel akar, yang selanjutnya ditranslokasikan melalui jaringan xylem ke seluruh
bagian

tumbuhan

(Supraptono

Djajadirana,

2000).

Pada pokoknya air berdifusi dari suatu larutan yang encer ke suatu larutan yang lebih
pekat, atau dengan kata lain, air berdifusi dari daerah yang defisiy tekanan difusinya besar
(Dwidjoseputro, 1989).
Proses masuknya ion-ion kedalam sel-sel akar, sebagai pengganti dari ion-ion yang
keluar dari sel akar disebut dengan pertukaran ion. Masuknya ion-ion yang keluar deri sel akar
disebut dengan pertukaran ion. Masuknya ion-ion ini dipengaruhi oleh antagonism ion, yang
berarti bahwa pemasukan ion yang satu mempengaruhi, bahkan kadang-kadang menentang
pemasukan ion jenis lain (Dwidjoseputro, 11980).

Udara diperlukan untuk sel-sel akar untuk pernafasan, dan hasil pernafasan adalah energi.
Energi ini digunakan diantaranya untuk memasukkan ion-ion yang harus mengatasi tingkat
konsentrasi yang lebih tinggi. Jelas bahwa factor hidup berperan penting dalam melakukan
absorpsi air (Dwidjoseputro, 1980).
Air mempunyai beberapa fungsi penting dalam tanah. Air penting dalam pelapukan
mineral dan bahan organik,yaitu reaksi yang menyiapkan hara larut bagi pertumbuhan tanaman.
Air berfungsi sebagai media gerak hara ke akar-akar tanaman. Akan tetapi bila air yang terlalu
banyak hara-hara yang mobil dapat hilang tecuci dari lingkungan perakaran atau bila evapotrasi
tinggi, garam-garam terlarut mungkin terangkut dalam jumlah yang dapat merusak tanaman. Air
yang berlebihan juga membatasi pergerakan udara di dalam tanah, dan merintangi akar tanaman
memperoleh O2. Kkarena itu air dapat merugikan dan dapat berguna bagi pertumbuhan tanaman,
tergantung pada jumlah air yang ada dalam tanah(Tim penusun, 1986).
Transpirasi adalah suatu proses yang mengakibatkan pembuangan energi dan dikatakan
transpirasi mengakibatkan kehilangan air serta pembuangan tenaga yang diterima tumbuhan dari
matahari. Daun-daun menyerap sejumlah energi dari matahari dan hanya sebagiannya dipakai
oleh tumbuhan. Kurang dari satu per sen dari energi yang diterima dari matahari untuk
digunakan dalam berfotosintesis (Pandey and Sinha, 1972).
Transpirasi adalah suatu istilah yang berlaku untuk hilangnya air berupa suatu uap air dari
jaringan tumbuhan. Transpirasi pada prinsipnya merupakan salah satu dari difusi dan penguapan,
tetapi bukan penguapan dengan sempurna yang terbuka dengan bebas. Erlier ahli tumbuhan
mengatakan bahwa transpirasi benar mengakibatkan tingkat kerugian air dari suatu jaringan yang
hidup akan jelas berbeda dengan jaringan yang mati (Curtis and Clark, 1950).

Telah diketahui bahwa transpirasi melalui kutikula, melalui stomata dan melalui lentisel.
Sebenarnya seluruh bagian tanaman itu mengadakan transpirasi, akan tetapi biasanya yang
dibicarakan adalah hanya transpirasi yang melalui daun, karena hilangnya molekul-molekul air
dari tubuh tanaman itu sebagian besar adalah lewat daun. Hal ini disebabkan karena luasnya
permukaan daun, dan juga karena daun-daun itu lebih terkena udara dibandingkan dengan bagian
tanaman yang lain (Dwidjoseputro, 1994).
Energi radiasi matahari masuk menembus lapisan udara tipis dan mengisi rongga stomata
yang membuat rongga-rongga dan sel-sel stomata panas dan akhirnya menguap, lalu
mengeluarkan air hingga pada suatu saat uap air di stomata menjadi jenuh. Dengan kejenuhan itu
menyebabkan water potensial () di stomata lebih tinggi daripada di atmosfer menyebabkan air
yang ada pada daun keluar dari stomata keatmosfer. Kejenuhan pada stomata tadi sampai
mendekati kejenuhan uap air (RH) hingga 98% dengan water potensial () 25 bars.
Proses penyerapan air dari tanah ke tanaman atau biasa disebut absorpsi air. Sedangkan
pada gambar 1 merupakan bagian dari proses transpirasi (penguapan). Pada gambar 2 akibat dari
transpirasi tadi maka water potensial pada daun menjadi lebih rendah daripada di batang, akar
dan tanah. Sehingga water potensial pada daun diteruskan ke batang, akar, dan tanah sehingga
water potensial pada akar juga menjadi rendah dan dengan lebih rendahnya water potensial pada
tanah menyebabkan air akan masuk ke akar (Bahan kuliah Fistum, 2005).
Dalam tumbuhan air bergerak dengan 2 sistem, yaitu :
1. Bulk flow (saluran besar)
2. Diffusion (saluran kecil)

Sampai saat ini orang belum dapat mengukur besar kecilnya energi bebas di alam, tetapi
dapat di ukur dengan perbedaan free energi (energi bebas) yaitu water potensial (). Water
potensial () adalah jumlah energi yang diperlukan untuk memindahkan sejumlah air tertentu
dari suatu tempat ke tempat lainnya, dibandingkan dengan jumlah energi yang diperlukan untuk
memindahkan air murni dengan jumlah dan jarak yang sama ( bahan kuliah fistum, 2005).
Pegerakan uap air dari rongga-rongga daun ke atmosfer atau proses transfirasi mempunyai
beberapa faktor hambatan, yaitu :
1. Still air (lapisan udara) (rs)
Yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh lapisan udara tipis yang selalu ada dipermukaan aun. Still
air tergantung pada bentuk daun, ukuran daun, persatuan luas daun, bulu-bulu daun, dan
kecepatan angin.
2. Stomata resistance (rs)
Yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh liang stomata. Ini tergantung pada jumlah liang stomata,
intensitas membuka dan menutupnya stomata, dan besar kecilnya liang stomata.
3. Sub stomata resistanse (rss)
Yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh udara yang berada di bawah stomata. Hambatan ini
tergantung pada anatomi dari daun itu sendiri.
Dalam proses transfirasi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor luar dan dalam, yaitu sebagai
berikut :
1. Faktor luar

a.

Sinar matahari
Sinar matahari menyebabkan membukanya stomata dan gelap menyebabkan menutupnya
stomata pada tanaman umumnya. Jadi banyak sinar membuat transpirasi semakin giat.

b. Temperatur
Kenaikan temperatur sampai pada batas tertentu menyebabkan melebarnya stomata dan dengan
demikian memperbesar laju transpirasi. Kenaikan temperatur juga dapat menambah tekanan uap
air di dalam daun.
c.

Kebasahan udara

d.

Udara yang dapat menghambat transpirassi, sedangkan udara yang kering dapat melancarkan
transpirasi. Ini berhubungan dengan tekanan uap air di dalam dan di luar daun.

e.

Angin
Angin yang sedang dapat menambah kegiatan transpirasi.

f.

Keadaan air dalam tanah


Air dalam tanah merupakan satu-satunya sumber yang pokok dari penyerapan akar-akar
tanaman.

g. Tekanan udara
2. Faktor dalam
a.

Besar kecilnya daun stomata


Semakin besar daun maka semakin besar transpirasi yang terjadi.

b. Tebal tipisnya daun


Semakin tebal daun maka semakin banyak menyimpan air.
c.

Berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun

d. Lapisan udara tipis dipermukaan stomata


e.

Banyak sedikitnya bulu-bulu pada permukaan daun

f.

Banyak sedikitnya jumlah stomata

g. Bentuk serta distribusi stomata


Bentuk stomata yang oval dan letaknya yang antara satu dan lainnya diperantai oleh jarak
tertentu berkaitan dengan intensitas pengeluaran air.
h. Substtomata
Disebabkan oleh stomata itu sendiri.
Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mengamati terjadinya transpirasi
pada tanaman muda yang telah ditumbuhkan di media percobaan(polybag).TINJAUAN
PUSTAKA

Transpirasi sebenarnya menguntungkan tumbuhan. Hasil sampingan yang tidak


terhindarkan dari suatu kepentingan telah berubah menjadi keuntungan. Pada umumnya,
tumbuhan mampu hidup tanpa transpirasi, namun bila dilakukan juga, tampaknya transpirasi
memberikan manfaat. Barangkali sambil mengangkut mineral, mempertahankan turgiditas
optimum, dan tentu saja menghilangkan sejumlah besar bahang dari daun (Salisburry dan Ross,
1996).
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi,
juga dapat mendinginkan tanaman yang terus-menerus berada dibawah sinar matahari. Mereka
tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari, karena melalui proses
transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman.
Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup
untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapaty terus terjamin
(Brittlate, 2007).
Tumbuhan yang hidup di gurun pasir atau lingkungan yang kurang air (daerah panas)
mislnya kaktus, mempunyai struktur adaptasi yang khusus untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Pada tumbuhan yang terdapat didaerah panas, jika memiliki daun maka daunnya
berbulu, bentuknya kecil-kecil, kulit luar daunnya tebal, mempunyai lapisan lilin yang tebal, dan
mempunyai sedikit stomata untuk mengurangi penguapan (Anonimous a, 2007).

Daun juga sering kali terbuka terhadap tingkat penyinaran tinggi, yang melalui
peningkatan suhu daun meningkatkan laju potensial kekurangan air. Kebanyakan air yang hilang
sebagai uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis bagian dalam yang basah
dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga dibawah stomata, dan hilang ke udara
melalui pori stomata (tranpirasi stomata) (Lubis, 2000).
Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air kedalam daun
dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan
dari tanah ke akar. Ada banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang
mempengaruhi pergerakannya.
Sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan menutupnya stoma, jadi
banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung panas
(terutama sinar infra merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian
menaikkan temperatur. Kenaikan temperatur sampai pada suatu batas yang tertentu
menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi (Dwidjoseputro,
1994).
Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak
diatas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula dan lentisel. Transpirasi pada
tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat
merugikan karena tumbuhan akan layu bahkan mati (Witham and Devlin, 1983).
BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum adalah sebagai berikut :
Alat
Polybag sebagai tempat media tanah.
Gabus berbentuk lingkaran ditengah diberi lubang sebagai penopang tanaman agar tidak
miring.
Botol aqua yang dipotong atasnya sebagai tempat air.
Neraca analitik sebagai alat untuk menimbang.
Gelas ukur sebagai alat untuk mengukur volume air.
Bahan
Media tanah sebagai tempat tumbuh tanaman.
Benih Kacang Hijau. sebagai tanaman yang diamati.
Benih Kacang Kedelai. sebagai tanaman yang diamati.
Air 200 ml. sebagai media rendam tanaman.

Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 22 April 2010, pada pukul 14.25-16.05
WITA. Bertempat di Laboratorium Fisiologi Fakultas Pertanian- Universitas Lambung
Mangkurat.
Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada praktikum adalah sebagai berikut :
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Ambil tanaman kedelai dan kacang hijau sebanyak 1 batang.
3. Timbang di neraca analitik untuk mengetahui berat awalnya.
4. Ukur volume air sebanyak 200 ml (volume awal) masukkan ke dalam gelas aqua.
5. Masukkan masing-masing tanaman tadi ke dalam gelas aqua yang berisi air. Agar
tanaman tegak, masukkan tanaman kedelai dan kacang hijau kedalam gabus masingmasing yaitu bagian batangnya pada lubang bagian tengahnya. Hal ini juga agar air dalam
gelas aqua tidak menguap secara berlebihan.
6. Biarkan selama 3 hari, setelah itu ukur berat basah tanaman dan volume akhir air dalam
gelas aqua.
7. Catat hasil pengamatan.
8. Bersihkan alat dan bahan setelah praktikum.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Hasil dari pengamatan praktikum adalah sebagai berikut :
A. Pengamatan sebelum direndam
Tabel 1. Pengamatan sebelum direndam
No
.
1.
2.

Tanaman

Berat awal (gr)

Keterangan

Kacang kedelai
Kacang Hijau

2,65
15,5

Daunnya layu sementara


Daunnya menutup karena layu

B. Pengamatan sesudah direndam


Tabel 2. Pengamatan berat awal dan berat akhir tanaman
No
.
1.
2.

Tanaman

Berat
awal (gr)

Berat
akhir (gr)

selisih

Keterangan

2,65

3,00

0,35

Daunnya menguning
layu

1,55

1,90

0,35

Daunnya segar

Kacang
kedelai
Kacang
Hijau

Tabel 3. Pengamatan volume air rendaman


No
.
1.
2.

Tanaman

volume awal (ml)

Volume akhir (ml)

Kacang kedelai
Kacang Hijau

200
200

199
199
Pembahasan

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada praktikum absorpsi air dan transpirasi,
maka dipeperoleh berat akhir lebih tinggi dari berat awal dan volume akhir lebih rendah dari
volume awal, kemudian tanaman yang diamati mengalami perubahan secara fisik, yaitu menjadi
lebih segar dari sebelum pengamatan dan ditemukan akar-akar baru pada tanaman.

Absorpsi terjadi karena sel-sel tumbuhan kehilangan air, akibat adanya proses transpirasi
yang mana bias terjadi secara dengan jumlah yang besar atau kecil. Sel-sel yang kehilangan air
mengakibatkan suatu deficit tekanan difusi menarik air dari unsure-unsur xylem. Oleh karena
unsure-unsur xylem membentuk tabung yang berhubungan dari akar sampai ke daun, teganggan
ini ditularkan ke sel-sel akar yang kemudian air akan diserap oleh sel-sel akar tanaman masuk
memenuhi rongga-rongga sel dan kemudian air diteruskan keseluruh tuuh tumbuhan. Penyebab
terjadinya absorpsi air adalah sebagai berikut :
a. Potensial gravitasi. Dimana air dalam tanah akan bergerak ke atas oleh serapan akar
tanaman disebabkan potensial gravitasi bertambah.
b. Potensial matriks (kapiler). Tanaman dapat dengan mudah mengambil air pada potensial
matriks tinggi pada keadaan kapasitas lapang.
c. Potensial osmotic. Dimana berpengaruh penting dalam pengalihan air melalui dinding sel
jasad hidup seperti akar tanaman.
d. Adanya transpirasi. Proses ini menyebabkan water potensial pada daun menjadi rendah
dibandingkan dengan potensial air pada batang, akar dan tanah, sehingga terjadinya
penyerapan dari akar tanaman.
e. Gaya edhesi dan kohesi lebih besar daripada gaya gravitasi.
f. Sinar matahari. Semakin tinggi intensitas radiasi matahari yang diterima oleh tumbuhan
maka tanaman akan lebih banyak kehilangan air dan tegangan tugor pada tanaman
meningkat sehingga air akan merembes melalui sel-sel akar untuk mengatasi kekurangan

air dan mengoptimalkan atau menyeimbangkan penguapan dengan penyerapan air.


(ketersediaan air pada tubuh tanaman).
Untuk mengetasi kebutuhan tanaman terhadap air tergantung kepada kebutuhan tanaman itu
sendiri, yaitu ada yang memerlukan air sedikit, bayak dan jenuh (tergenang). Sebagaimana telah
diketahui bahwa air merupakan suatu komponen yang sangat peenting bagi pertumbuhan
tanaman. Air bagi tanaman merupakan komponen yang berada dalam suatu keadaan aliran yang
sinambung

(kontinu),

kehilangan

air

dapat

menyebabkan

terjadinya

penghentian

pertumbuhan,dan definisi air yang terus enerus menyebabkan perubahan-perubahan dalam


tanaman yang irreversible. Kebutuhan air akan tanaman, dinyatakan sebagai jumlah satuan yang
diisap persatuan berat kering yang dibentuk. Untuk mengatasi kebutuhan tanaman terhadap air
agar tidak mengalami kekurangan adalah dengan selalu menjaga ketersediaan air dalam tanah,
yaitu yang tergantung pada tipe dan kedalaman perakaran tanaman, laju kehilangan air oleh
penguapan dan transpirasi, suhu dan laju penambahan air tambahan, makin sedikit air dalam
tanah makin kuat dipegang. Kecepatan ektraksi air dari suatu tanah merupakan fungsi dari
konsentrasi akar. Sekitar 40 % dari jumlah air yang diekstraksi berasal dari bagian teratas akar,
30% dari kedua, 20% dari ketiga dan 10% dari terbawah. Ketersediaan air pada tanah
agar kebutuhan tanaman akan air selalu terpenuhi adalah tergantung dari teksture tanah yang
menjadi media pertumbuhannya semakin halus butiran tanahnya maka akan semakin kuat dan
banyak dalam menyimpan air.
Transpirasi terjadi karena cahaya matahari yang menembus lapisan udara tipis sehingga
membuat rongga-rongga pada stomatajenuh air dan potensial airnya lebih tinggi dibandingkan
dengan di udara sehingga air akan keluar dari potensial air yang tinggi ke yang rendah melalui
proses penguapan, transpirasi dapat di atasi atau dikurangi dengan selalu menjaga keseimbangan

penyerapan air oleh akar, membuat tanaman pelindung sehingga matahari tidak langsung kena
tanaman yang dibudidayakan.
Transpirasi dan absorpsi mempunyai hubungan yang sangat erat dimana terjadinya hubungan
timbale balik yaitu absopsi terjadi karena transpirasi dan sebaliknya. Gerakan ke atas dari air dan
zat-zat yang terlarut dalam tanamna tinggi, diduga hal ini berhubungan dengan transpirasi, yaitu
hilangnya uap air secara penguapan dari daun melalui banyak stomata yang terbuka. Karena selsel kehilangan air dari unsur-unsur xylem. Oleh Karena unsure-unsur xylem membentuk tabung
yang berhubungan dari akar sampai daun, tegangan ini ditularkan ke sel-sel akar, ini
mengakibatkan terjadinya penambahan pengisapan air (absorpsi) oleh tanaman.

GAMBAR PROSES ABSORPSI AIR DAN TRANSPIRASI

Gambar 1. Kacang Hijau Dan Kacang Kedelai


Gambar 1.1 Kacang Hijau ditimbang berat awalnya

Gambar 1.2 Kacang Kedelai ditimbang berat awalnya


Gambar 1.3 Kacang Hijau dan Kacang Kedelai yang sudah ditimbang dimasukkan kedalam gelas
aqua
Gambar 1.4 Air Rendaman Kacang yang sudah didiamkan selama 2-3 hari diukur dengan gelas
ukur
Gambar 1.5 Kacang Hijau dan Kacang Tanah Yang sudah didiamkan 2-3 har

PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Absorpsi adalah proses penyerapan air dan unsure hara oleh tanaman berupa ion-ion dari
tanah ke dalam sel-sel akar, yang selanjutnya ditranslokasikan melalui jaringan xylem ke
seluruh bagian tumbuhan.
2. Transpirasi adalah suatu proses yang mengakibatkan pembuangan energi dan dikatakan
transpirasi mengakibatkan kehilangan air serta pembuangan tenaga yang diterima
tumbuhan dari matahari.
3. Faktor yang mempengaruhi hasil akhir adalah penyerapan oleh tanaman, penguapan air
ke udara, temperature, keadaan air, dan sinar matahari.
4. Transpirasi dan absorpsi mempunyai hubungan yang sangat erat dalam siklus perputaran
dan pergerakan air pada tanaman.
Saran
Sebaiknya pada waktu praktikum dapat lebih memperhatikan benih kacang yang ditanam
agar hasilnya dapat sesuai yang diharapkan, tanamannya tumbuh dengan baik dan tidak layu
ataupun mati. Tanaman pun juga memerlukan air yang cukup untuk menyerap akar.

DAFTAR PUSTAKA

Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Loveless, A. R. 1991. Prinsip-Prinsip Fisioloogi Tumbuhan Untuk daerah Tropis. Gramedia Jakarta.
Salisbury dan Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.
Sitompul, S. M. dan Guritno. B. 1995. Pertumbuhan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.
Tjitrosoepomo. H.S. 1998. Botani Umum. UGM Press. Yogyakarta.
Wilkins, M. B. 1989. Fisologi Tanaman. Bumi Aksara. Jakar

Anda mungkin juga menyukai