Anda di halaman 1dari 17

TUTORIAL

PENYAKIT-PENYAKIT OBSTRUKSI
SALURAN CERNA

Oleh :
Hatfina Izzati

(2012730050)

Nia Nurhayati Z (2012730067)


Putri Lathifa A

(2012730076)

Pembimbing :
Dr. Hj. Mariana H. Yunisaf, Sp.THT

KEPANITERAAN KLINIK STASE THT


PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Penyakit-penyakit Obstruksi Saluran Cerna
tepat pada waktunya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam pembuatan laporan ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
dari semua pihak yang membaca ini, agar penulis dapat mengkoreksi diri dan dapat membuat
laporan kasus ini yang lebih baik di lain kesempatan.
Demikianlah laporan kasus ini dibuat sebagai tugas dari kegiatan klinis stase THT-KL
serta untuk menambah pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada
umumnya.

Jakarta, September 2016

Penulis

PEMBAHASAN
Kelainan Kongenital
1. Atresia Esofagus dan Fistula Trakeo-esofagus
Esofagus atau fore gut dapat diidentifikasi sebagai tabung pendek yang sempit
pada minggu ketiga kehidupan mudigah. Dipertengahan minggu ketiga, lung bud
mulai berkembang sebagai penebalan epitel pada bagian ventral pertengahan fore gut.
Pemisahan lung bud dengan fore gut terjadi pada akhir minggu ketiga dan
pemisahan sempurna terjadi pada minggu keempat. Penyatuan seluruh segmen fore
gut ke dalam lung bud akan menyebabkan terjadinya atresia esophagus.
Kegagalan pemisahan salura napas dan saluran cerna pada minggu keempat
akan menyebabkan terjadinya fistula trakeoesofagus tanpa disertai atresia esophagus.
Kelainan ini terjadi karena adanya gangguan perkembangan jaringan pemisah antara
trakea dan esofagus yang dibentuk selama minggu keempat sampai keenam
kehidupan janin.
Karena cairan yang ditelan oleh janin tidak dapat masuk saluran cerna, tidak
terjadi absorpsi cairan amnion di dalam uterus sehingga ibu biasanya menderita
hidramnion. Ada banyak klasifikasi atresia esofagus; yang paling sering digunakan
adalah klasifikasi Gross of Boston.

Insiden pada atresia esophagus sekitar delapan puluh lima persen anak dan
32% anak dengan atresia esophagus yang disertai fistula trakeoesofagus ditemukan
pada kehamilan dengan hidramnion. Kelainan ini ditemukan 1 diantara 3000-5000
kelahiran hidup.
Etiologi kelainan ini sampai saat ini belum diketahui, tetapi dari beberapa
laporan kelainan ini dapat ditemukan dalam satu keluarga.
Atresia esofagus perlu dicurigai bila timbul napas mengorok atau terlihat
gelembung udara bercampur lendir putih pada lubang hidung dan mulut beberapa jam
setelah bayi lahir. Atau ditemukannya pengumpulan sekret di mulut dan dapat terjadi
aspirasi berulang. Keadaan ini terjadi karena regurgitasi air ludah atau minuman
pertama. Diagnosis harus dibuat sebelum bayi diberi minum karena bila telah diberi
minum, dapat timbul kegawatan akibat aspirasi susu ke dalam paru. Bayi akan batukbatuk dan timbul sianosis.
Diagnosis untuk kasus ini pada bayi baru lahir biasanya dimasukkan kateter
yang lembut ukuran 8-10 French melalui hidung sampai ke lambung. Jika kateter
tidak dapat masuk dan cairan lambung yang diaspirasi jumlahnya lebih dari 30 ml,
kita harus curiga akan adanya kelainan. Pada atresia esophagus yang terisolasi
biasanya kateter tidak dapat masuk dan kateter tersebut akan melingkar kembali ke
hipofaring.
Pada fistula trakeoesofagus yang terisolasi diagnosis ditegakkan dengan
melakukan pemeriksaan esofagoskopi. Bila fistel besar pada esofagoskopi kadangkadang fistel tersebut dapat ditemukan. Bila fistel kecil untuk melihat adanya fistel
digunakan zat warna biru metilen yang disemprotkan melalui pipa endotrakea ke

trakea. Pada esofagoskopi akan tampak mukosa esophagus bagian anterior berwarna
biru, tetapi kadang-kadang tempat fistelnya tidak terlihat.
Pada bayi yang dicurigai menderita atresia esophagus terisolasi dimasukkan
kateter ukuran 8-10 French yang dibasahi dengan kontras lipidol melalui hidung
sampai ke esophagus. Kemudian dibuat foto rontgen antero-posterior mulai dari
kepala, leher dan abdomen. Pada atresia esophagus yang terisolasi akan tampak
kateter tersebut melingkar didaerah atresia, dan tidak tampak adanya udara di
kambung.
Fistula trakeoesofagus yang terisolasi jika fistelnya besar dapat dilihat dengan
esofagogram (menggunakan kontras lipidol). Pada foto rontgen antero-posterior akan
terlihat lambung berisi udara dan kadang-kadang ditemukan gambar aspirasi pada
paru.
Penatalaksanaan yaitu dengan operasi. Sebelum operasi, dilakukan foto
thoraks untuk melihat adakah anomali jantung atau arkus aorta yang terletak disebelah
kanan. Jika tidak ada, dilakukan operasi torakotomi lateral dari sebelah kanan. Pada
atresia esophagus dilakukan anastomosis, sedangkan pada fistula esophagus dilakukan
penutupan fistel dan anastomosis.

Atresia Esofagus dengan Kontras


2. Divertikel Esofagus

Divertikel esophagus adalah penonjolan dinding esophagus atau merupakan


kantong yang terdapat di lumen esofagus, baik seluruh bagian dindingnya maupun
hanya mukosanya, kearah luar lumen membentuk struktur seperti kantong.
Klasifikasi
Menurut lokasinya diverticulum esophagus dibagi menjadi tiga bagian yaitu
diverticulum faringoesofagus (Divertikulum Zenker), diverticulum parabronkial dan
diverticulum epifrenik.
Divertikulum faringoesofagus terletak didaerah perbatasan faring dengan
esophagus, diverticulum parabronkial terletak disekitar bifurkasi trakea dan
diverticulum epifrenik terletak di daerah sepertiga bawah esophagus biasanya diatas
diafragma.
Divertikulum esophagus mungkin merupakan diverticulum asli atau
divertikkulum palsu. Pada diverticulum asli, seluruh lapisan dinding esophagus yang
normal ditemukan sedangkan pada diverticulum esophagus palsu hanya lapisan
mukosa dan submucosa esophagus yang ditemukan.
Selain itu, diverticulum esophagus menurut cara terbentuknya dapat
digolongkan menjadi tiga bagian yaitu diverticulum desakan (pulsion diverticulum),
diverticulum tarikan (traction diverticulum), dan diverticulum kongenital.
Patogenesis
Divertikulum desakan merupakan diverticulum palsu yang terjadi akibat cacat
atau defek otot antara serat oblik dari otot konstriktor inferior faring dengan serat
transversal dari otot krikofaring. Akibat desakan, pada saat menelan mukosa
terdorong keluar membentuk kantong yang makin lama makin membesar, sehingga
membentuk diverticulum yang terletak diantara esophagus dan tulang belakang.
Divertikulum tarikan merupakan diverticulum asli yang biasanya berasal dari
proses peradangan yang berdekatan dengan esophagus, ditempat terbentuk kontraktur
jaringan ikat pada dinding esophagus yang kemudian menarik dinding esophagus
kearah luar.

Etiologi

Divertikulum

faringoesofagus

disebabkan

karena

gangguan

motilitas

esophagus, kelainan kongenital atau kelemahan yang didapat pada dinding otot
hipofaring atau esophagus.
Divertikulum parabronkial disebabkan oleh kelainan kongenital atau
tuberculosis kelenjar limfa mediastinum.
Divertikulum epifrenik penyebab yang pasti belum dapat ditentukan, tetapi
kemungkinan diduga akibat kelemahan dinding otot secara kongenital.
Gejala
Gejala yang ditimbulkan diverticulum faringoesofagus tergantung dari tingkat
pembentukan diverticulum. Pada tingkat pertama, mungkin tanpa gejala atau terdapat
retensi makanan yang bersifat sementara.
Pada tingkat kedua, kantong sudah berbentuk globul (globular shape) dan
telah meluas ke daerah inferior-posterior akan terjadi pengumpulan makanan, cairan
serta mucus didalam divertikel yang tidak berhubungan dengan obstruksi esophagus.
Jika terjadi spasme esophagus akan ditemukan gejala disfagia, Kadang-kadang
ditemukan gejala regurgitasi setelah minum atau makan pada malam hari.
Pada tingkat ketiga karena pengaruh gaya berat isis diverticulum,
menyebabkan kantong dapat meluas sampai ke daerah mediastinum. Gejala yang
ditimbulkannya berupa disfagia yang hebat. Regurgitasi dapat terjadi setelah makan
atau minum. Gejala yang menonjol adalah aspirasi atau regurgitasi pada malam hari
saat pasien tidur.
Pada diverticulum parabronkial jinak, tidak terdapat komplikasi, tidak
menimbulkan gejala karena diverticulum dapat kosong dengan mudah. Jika terdapat
komplikasi, gejala yang ditimbulkannya berupa rasa nyeri didaerah substernal dan
disfagia.
Divertikulum epifrenik biasanya menimbulkan gejala disfagia, nyeri
epigastrium, regurgitasi, anoreksia, perasaan terbakar di dada (heartburn) serta
penurunan berat badan.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan radiologic dan esofagoskopik.
Pemeriksaan Radiologik
Dengan menggunakan kontras barium, jika diverticulum berukuran besar akan tampak
kontras barium mengisi divertikumlum tersebut. Divertikulum tampak lebih jelas pada
foto rontgen lateral. Selain itu, perlu dibuat foto thoraks postero-anterior untuk
melihat tanda-tanda pneumonia aspirasi.
Pemeriksaan Esofagoskopi
Pada esofagoskopi akan tampak dua buah lumen. Selain lumen esophagus yang
normal terdapat lumen lain yang buntu (yaitu diverticulum).
Penatalaksanaan
Jika diverticulum tidak menimbulkan gejala, terapi biasanya bersifat
konservatif. Kantong harus dibersihkan setiap habis makan dengan cara pasien
diminta minum air dalam posisi telentang atau miring tanpa bantal tergantung letak
divertikulumnya, sehingga makanan akan masuk ke lumen esophagus. Jika terdapat
keluhan obstruksi atau aspirasi harus dilakukan operasi divertikolektomi.

3. Akalasia Esofagus
Akalasia adalah ketidakmampuan bagian distal esophagus untuk relaksasi dan
peristaltk esophagus berkurang, karena diduga terjadi inkoordinasi neuromuskuler
atau merupakan gangguan motilitas berupa hilangnya peristaltis esophagus dan
gagalnya sfingter esofagokardia berelaksasi sehingga makanan tertahan di esophagus.
Akibatnya, terjadi hambatan masuknya makanan ke dalam lambung sehingga
esophagus berdilatasi membentuk megaesofagus.
Kegagalan sfingter berelaksasi dihubungkan dengan hilangnya sel-sel
ganglion si pleksus myenteric Auerbach dengan sebab yang belum diketahui. Secara
histologik, ditemukan kelainan berupa degenerasi sel ganglion pleksus Auerbach
sepanjang torakal esophagus. Gangguan emosi dan trauma psikis dapat menyebabkan
bagian distal esophagus dalam keadaan kontraksi.

Pada akalasia terdapat gangguan peristaltic pada daerah 2/3 bagian bawah
esophagus. Tegangan sfringter bagian bawah lebih tinggi dari normal dan proses
relaksasi pada gerak menelan tidak sempurna. Akibatnya esophagus bagian bawah
mengalami dilatasi hebat dan makanan tertimbun di bagian bawah.

Segmen esofagus bagian bawah yang panjangnya berkisar antara 2-8 cm menyempit
dan tidak mampu berelaksasi. Esofagus bagian proksimal dari penyempitan tersebut
mengalami dilatasi dan pemanjangan sehingga akhirnya menjadi megaesofagus yang
berkelok-kelok. Mukosa mungkin mengalami peradangan akibat rangsangan retensi
makanan.
Gejala utama adalah disfagia, regurgitasi, rasa nyeri atau tidak enak di belakang
sternum, dan berat badan menurun. Lama timbul gejala sangat bervariasi, dari
beberapa hari sampai bertahun-tahun, dan gejala lambat laun semakin berat.
Diagnosis
Ditegakkan berdasarkan gejala klinis, gambaran radiologik, esofagoskopi dan
pemeriksaan manometrik.
Pada gambaran radiologic memperlihatkan gelombang peristaltic yang normal hanya
terlihat pada daerah sepertiga proksimal esophagus, tampak dilatasi pada daerah dua
pertiga distal esophagus dengan gambaran peristaltic yang abnormal atau hilang sama
sekali serta gambaran penyempitan dibagian distal esophagus menyerupai ekor tikus
(mouse tail appearance).
Pada pemeriksaan esofagoskopi tampak pelebaran lumen esophagus dengan bagian
distal yang menyempit, terdapat sisa-sisa makanan dan cairan di bagian proksimal
daerah penyempitan. Mukosa esophagus berwarna pucat, edema dan kadang-kadang
terdapat tanda-tanda esophagitis akibat retensi makanan.
Selanjutnya pada pemeriksaan manometrik didapatkan gambaran manometrik yang
khas yaitu tekanan istirahat badan esophagus meningkat, tidak terdapat gerak
peristaltic sepanjang esophagus sebagai reaksi proses menelan. Tekanan sfringter
esophagus bagian bawah normal atau meninggi dan tidak terjadi relaksasi sfringter
pada waktu menelan.
Penatalaksanaan dapat berupa medikamentosa (preparat nitrit, antikolinergik,
penghambat adrenergic, nifedipine), atau dapat juga dilakukan dilatasi dan operasi
ang bertujuan untuk menghilangkan gejala sumbatan dengan cara melemahkan
sfringter esophagus bawah.

4. Spasme Difus Esofagus


Spasme difus esofagus terdiri atas kontraksi hipertonik berkala dari dua pertiga bagian
bawah esofagus yang mengakibatkan hipertrofi dan hyperplasia dinding esofagus.
Fungsi sfingter esofagus kardia tetap normal. Keadaan ini menyebabkan motilitas
esofagus meningkat.
Kondisi spasme difus ditandai oleh hipertrofi otot sirkular dan gambaran esofagus
corkscrew pada pemeriksaan barium.

Gejala utama spasme difus adalah rasa sakit dan disfagia yang terasa di epigastrik
atau retrosternal yang dapat menjalar ke belakang, leher, telinga, atau lengan, dan
biasanya disertai regurgitasi gastroesofagus.

Perbandingan Akalasia dan Spasme Difus

5. Benda Asing
Benda asing di esofagus umumnya terjadi pada anak dan penderita yang
terbelakang perkembangan mentalnya akibat ketidaktahuannya.
Benda asing umumnya terhenti di tempat yang secara anatomis relatif sempit,
yaitu di hipofaring, tempat setinggi arkus aorta, percabangan bronkus utama, dan di
atas batas esofagokardia.
Dengan anamnesis yang jelas, diagnosis mudah ditegakkan. Keluhan yang
menonjol adalah nyeri di daerah leher atau retrosternal, terutama bila benda asing
yang tertelan cukup besar dan telah menimbulkan infeksi di sekitarnya (setelah 24
jam).
Keluhan disfagia bervariasi, mulai dari yang ringan sampai berat akibat
obstruksi total. Apabila disertai penekanan cabang bronkus utama atau trakea, akan
timbul kesulitan bernapas sampai sesak napas yang berat.

Uang Logam pada Esofagus

6. Tumor Esofagus
a. Tumor Jinak
Tumor jinak esofagus relatif jarang. Tumor jinak dapat berasal dari epitel
seperti polip, atau jaringan lunak seperti kista. Yang paling sering ditemukan
adalah leimioma dan kista. Kebanyakan tumor jinak esofagus kecil dan tidak
memiliki gejala.
Tumor jinak esophagus dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu tomor
yang berasal dari epitel dan tumor yang berasal bukan dari epitel (non epitel).
Tumor yang berasal dari epitel : papilloma, polip, adenoma, kista.
Sedangkan

tumor

non-epitel

leiomyoma,

fibromioma,

lipoma,

fibroma,

hemangioma, limfaangioma, lipoma, mixofibroma dan neurofibroma.


Gejala ada tumor jinak tidak khas dapat bergantung besar kecilnya tumor.
Kadang-kadang dapat ditemukan disfagia, rasa tidak enak di epigastrium dan
substrenal, rasa penuh dan sakit yang menjalar ke punggung dan bahu, muntah,
mual serta regurgitasi.
Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorik tidak banyak membantu
dalam menegakkan diagnosis. Untuk itu diperlukan pemeriksaan radiologic dan
esofagoskopi. Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan biopsy dan sitologi.
b. Tumor Ganas
Keganasan esofagus dilaporkan merupakan keganasan nomor enam
tersering di dunia. Pada umumnya muncul pada usia lanjut. Keganasan yang
paling sering menyerang esofagus adalah jenis karsinoma epidermoid. Namun
demikian, di banyak tempat, kasus-kasus adenokarsinoma meningkat jumlahnya.
Keganasan di bagian distal esofagus, terutama di batas esofagus-lambung,
sering berupa adenokarsinoma. Esofagitis Barret merupakan faktor risiko utama
karsinoma esofagus. Beberapa tumor tumbuh ke dalam lumen esofagus sehingga
menyebabkan sumbatan, dan jenis lain menimbulkan tukak yang mudah menyebar
tanpa sumbatan saluran cerna. Invasi tumor sering sampai ke dalam dinding
esofagus sehingga menimbulkan fibrosis dan akhirnya menyempitkan lumen.

Gejala utama karsinoma esofagus adalah disfagia progresif yang


berangsur-angsur menjadi berat. Mula-mula disfagia timbul bila makan makanan
padat, dan akhirnya makanan cair, atau air liurpun sangat mengganggu. Semua ini
menyebabkan keadaan gizi yang buruk pada penderita. Mungkin juga penderita
mengalami regurgitasi atau muntah, dan kadang terjadi aspirasi ke dalam paru.
Pada pemeriksaan fisik biasanya tidak menunjukkan kelainan kecuali
akibat sumbatan esofagus atau infiltrasi ke nervus rekuren yang menyebabkan
suara serak dan metastasis ke kelenjar limfe leher. Diagnosis ditegakkan dengan
esofagogastrografi, yang memperlihatkan gambaran mukosa yang tidak teratur
dengan permukaan kasar dan ulseratif atau polipoid serta penyempitan lumen di
daerah tumor.
Golden standard Karsinoma Esofagus dengan biopsi, sebelum dilakukan
biopsi dilakukan esofagoskopi. Tujuan esofagoskopi adalah untuk melihat
langsung isi lumen esofagus dan keadaan mukosanya. Diperlukan alat
esofagoskop yang kaku (rigid oesophagoscope) atau yang lentur (flexible
fibreoptic oesophagoscope). Bersifat invasif, perlu dilakukan persiapan yang baik.

Penataksanaan dapat berupa :


Tindakan operatif
Radioterapi
Kemoterapi
Operasi dan radioterapi
Operasi dan kemoterapi serta operasi
Radioterapi dan kemoterapi

DAFTAR PUSTAKA
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala & Leher; Edisi
Ketujuh. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2012.