Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

TEKNOLOGI PANGAN FUNGSIONAL


LEMBAR KERJA 1: Konsep Pangan Fungsional

Disusun oleh:
Kelompok I THP-C
Eka Wulandari

(131710101027)

Syayyidah Faizatul Isnaini

(141710101069)

Umi Lutfiani Masithah

(141710101102)

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

A.Rumusan Pengertian Pangan Fungsional


Pangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan
komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan,
diluar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung
di dalamnya. Menurut American Dietetic Association (ADA), yang
termasuk pangan fungsional tidak hanya pangan alamiah tetapi
juga

pangan

yang

telah

difortifikasi

atau

diperkaya

dan

memberikan efek potensial yang bermanfaat untuk kesehatan


jika

dikonsumsi

sebagai

bagian

dari

menu

pangan

yang

bervariasi secara teratur pada dosis yang efektif.


Untuk dapat disebut sebagai pangan fungsional, paling tidak
harus ada tiga faktor yang harus dipenuhi, yaitu:
1) Produk tersebut harus berupa produk pangan, bukan kapsul,
tablet atau bubuk dan berasal dari bahan yang terdapat
secara alami
2) Produk tersebut dapat dan layak dikonsumsi sebagai bagian
dari diet atau menu sehari-hari, dan
3) Produk tersebut mempunyai fungsi tertentu pada waktu
dicerna, memberikan peran dalam proses tubuh tertentu,
seperti

memperkuat

mencegah

penyakit

memulihkan
tertentu,

kondisi

menjaga

mekanisme
tertentu,

pertahanan

membantu

tubuh

setelah

kondisi

fisik

tubuh

terserang
dan

tubuh,
untuk

penyakit

mental,

dan

memperlambat proses penuaan.


Sifat fungsional dalam makanan fungsional disebabkan oleh
adanya komponen bioaktif yang terdapat dalam bahan nabati
(misalnya serat pangan, inulin, FOS dan antioksidan) ataupun
bahan hewani (EPA, DHA dan CLA). Sifat fungsional juga bisa
disebabkan oleh adanya mikroorganime yang memiliki sifat
menguntungkan

di

dalam

probiotik (Marsono, 2007).

sistem

pencernakan,

misalnya

B.Persamaan
Suplemen

dan

Perbedaan

Pangan,

Obat

Pangan

herbal,

fungsional,

Nutraceuticals,

Medical food
1. Pengertian Istilah
1.1 Suplemen Pangan
Suplemen makanan merupakan produk yang dibuat dengan
maksud untuk melengkapi kebutuhan zat gizi makanan atau
menambah

nutrisi

dalam

tubuh,

dimana

produk

tersebut

mengandung salah satu atau kombinasi dari bahan berupa


vitamin, mineral, asam amino atau bahan lain (berasal dari
tumbuhan atau bukan tumbuhan) yang mempunyai nilai gizi dan
efek fisiologis dalam jumlah terkonsentrasi (BPOM, 2004)
Menurut Geoffrey P.Webb (2006) definisi suplemen makanan
secara umum yaitu:
a. Sesuatu yang dikonsumsi secara oral dalam dosis tertentu
dalam bentuk pil, kapsul, bubuk atau cairan
b. Sesuatu yang diharapkan dapat ditambahkan ke dalam
pola makan yang normal
c. Sesuatu yang telah dinyatakan dapat mempengaruhi
kesehatan pada label kemasan maupun media promosi
(brosur atau katalog) dan sesuatu yang termasuk dalam
tiga

kategori

yaitu

mengandung

zat

gizi

penting,

mengandung metabolit, dan beberapa tambahan yang


berasal dari ekstrak tumbuhan atau hewan yang dapat
memberikan efek kesehatan.
Suplemen makanan biasanya dibuat atau di formulasikan
menggunakan bahan-bahan yang alami maupun sintesis dan
diolah menggunakan teknologi ataupun peralatan tradisional.
Secara fisik suplemen memang sama seperti sebuah obat, tetapi
fungsi keduanya

berbeda. Jika obat digolongkan sebagai

pharmaceutical yang dikonsumsi dengan klaim kesehatan untuk


menyembuhkan sebuah penyakit, sedangkan suplemen makanan
digolongkan sebagai nutraceutical yang memiliki fungsi sebagai

pelengkap

bagi

tubuh

seseorang

untuk

meningkatkan

keseimbangan gizi, vitalitas dan kesejahteraan tubuh.


1.2

Obat Herbal
Obat herbal atau herbal medicine didefinisikan sebagai bahan baku atau

sediaan yang berasal dari tumbuhan yang memiliki efek terapi atau efek lain yang
bermanfaat bagi kesehatan manusia; komposisinya dapat berupa bahan mentah
atau bahan yang telah mengalami proses lebih lanjut yang berasal dari satu jenis
tumbuhan atau lebih. (WHO, 2005; 2000).
Obat herbal yang memiliki bentuk sediaan seperti obat konvensional
(bentuk sediaan farmasi) seperti tablet, kapsul, pil, larutan, suspensi dan lain
sebagainya. Suatu produk dikatakan obat herbal, jika sudah memenuhi syarat uji
efikasi atau khasiat dari suatu produk. Acuan standar untuk menguji efikasi suatu
jenis terapi atau pengobatan adalah uji klinik acak (RCT = randomized clinical
trial). Demikian halnya dengan obat herbal. Sebelum memanfaatkan atau
menggunakan suatu obat herbal, hendaknya pasien, dokter atau apoteker
mengecek tingkat pembuktikan/klaim efikasi (khasiat) suatu obat herbal atau
tumbuhan obat. (BPOM, 2005).
1.3

Nutraceutical
Sthephen DeFelice (1989) menyatakan nutraceutical berasal

dari kata nutra = nutrisi, dan ceutical = fungsi obat. Shahidi


(2012) dalam Journal of Food and Drug Analysis mendefinisikan
bahwa nutraceutical merupakan pangan (atau bagian dari
pangan) yang digunakan dalam dunia medis berupa pil, kapsul
atau cairan serta mampu memberikan manfaat fisiologis. Fungsi
utama dari nutraceutical adalah untuk meningkatkan kesehatan
dan mengurangi resiko penyakit melalui pencegahan.
Produk nutraceutical dibuat dari bahan alami tanpa adanya
bahan sintesis. Nutraceutical dapat digunakan sebagai bahan
fortifikasi (menambahkan zat gizi/nutrisi pada pangan) pada
produk susu maupun jus. Misalnya penambahan Lactobacillus
dan

Bifidobacteria

pada

susu

probiotics

yang

dapat

meningkatkan penyerapan mineral esensial oleh usus dan


melindungi usus dari penyakit tertentu. Selain itu, contoh

nutraceutical yang terkandung dalam makanan secara alami


antara lain vitamin E, vitamin D, soya protein pada kacang
kedelai, flavonoid pada teh hijau dan likopen pada tomat.
Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa Nutraceutical
merupakan produk pangan berasal dari bahan alami yang
mengandung senyawa bioaktif dan dikonsumsi dalam bentuk pil,
tablet, kapsul ataupun cairan sehingga dapat memberikan efek
kesehatan serta mencegah penyakit. Produk nutraceutical dibuat
melalui beberapa tahapan mulai dari uji pra klinis, uji klinis serta
uji pasca pemasaran untuk membuktikan keefektifitasannya.
1.4 Medical Food
Medical

food

merupakan

makanan

yang

diformulasikan

dengan

menyediakan tambahan gizi untuk individu yang tidak dapat mengkonsumsi


makanan dalam jumlah yang cukup dan/atau bentuk biasa, atau dengan
menyediakan tambahan gizi khusus bagi pasien yang perlu kebutuhan fisiologis
dan gizi khusus (Godberg, 1994). Salah satu contoh medical food adalah cairan
steril yang dikonsumsi menggunakan nasogastric atau pipa tabung usus. Pada
beberapa kasus pasien mengkonsumsi medical food melalui tabung dikarenakan
setelah operasi saluran pencernaan tidak mampu menyerap nutrisi ataupun
istirahat. Selain itu medical food dapat dikonsumsi secara intravena untuk pasien
yang tidak bisa makan cukup atau tidak sama sekali baik melalui mulut atau
tabung.
Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa Medical food merupakan pangan
terbuat dari bahan alami atau sintesis yang tidak mengadung senyawa bioaktif
dan dikonsumsi dalam bentuk pil, tablet, kapsul ataupun cairan
yang diformulasikan secara khusus untuk seseorang yang sakit
serta

berfungsi

sebagai

terapi

penyembuhan

dibawah

pengawasan medis atau dokter. Medical food dapat digunakan


untuk program diet khusus.
2. Persamaan

Pangan

Fungsional,

Suplemen

Obat herbal, Nutraceuticals, Medical food

Pangan,

Berdasarkan

beberapa

pemaparan

istilah

pada

point

sebelumnya, terdapat persamaan antara pangan fungsional,


suplemen makanan, obat herbal, nutraceutical, dan medical
food, dimana semuanya dapat memberikan efek kesehatan yang
baik bagi tubuh manusia karena komponen zat bioaktifnya.
3. Perbedaan Pangan Fungsional, Suplemen Pangan, Obat
herbal, Nutraceuticals, Medical food
Ada beberapa perbedaan antara keempat istilah tersebut
dan untuk mempermudah, maka akan disajikan dalam suatu
tabel.

Tabel 1. Perbedaan pangan fungsional, suplemen pangan, obat herbal, nutraceutical, dan medical
food
Karakteris
tik
Bahan

Pangan

Suplemen

Obat herbal

fungsional
pangan
Berasal
dari Berasal
dari Berasal
bahan

pangan bahan

alami

alami bahan

dan sintetis

Nutraceutical

dari Bahan

yang Berasal

alami digunakan

bahan

(nabati,

merupakan

hewani,

bahan

mineral

Medical food
dari
pangan

alami dan bahan

pangan sintesis

atau alami

gabungan dari
Cara

Dikonsumsi

Dikonsumsi

mengonsu

setiap hari untuk dalam

msi

mendapatkan

atau

efek sehat

(dosis)

jumlah untuk
takaran yang

kapsul Kapsul,

dalam

bentuk lunak,

tablet, (tablet),

maupun tablet

powder,

olahan,

Dikonsumsi

orang mengkonsumsi

berdasarkan

dalam perlu

pengawasan

sehat

Produk makanan Kapsul,


segar

Cara

yang keadaan tidak ditambahkan

sesuai
Bentuk

ketiganya)
Dikonsumsi

bukan effervescent,

ekstrak

pada

dokter

pangan orang

pada
yang

fungsional
sedang sakit
pil Kapsul, tablet, pil Kapsul,
tablet,
ataupun cairan
atau

cairan
ekstrak

atau

kapsul,

tablet serbuk

atau serbuk

effervescent,
bubuk

atau

cairan
Komponen

Mengandung

Vitamin,

Tidak

zat aktif

komponen

mineral,

jamu mengandung

senyawa bioaktif atau

berbagai

Tidak
jenis mengandung

senyawa bioaktif

senyawa bioaktif

Fungsinya

Fungsinya

Memberikan efek

efek kesehatan, atau

memberikan

memberikan efek pengobatan

pencegahan

efek

kesehatan,

kesehatan,

pencegahan

(misalnya

serat obat,

pangan,

tanaman senyawa

Mengandung

asam bioaktif

amino

antioksidan,
Fungsi

dsb)
Memberikan

Melengkapi
menambah

penyakit namun kebutuhan


tidak

sebagai nutrisi tertentu pencegahan

pengobatan

Pengujian

untuk tubuh

penyakit

namun

dan

tidak

pengobatan

pengobatan

penyakit
Sifat Fungsional Perlu dilakukan Perlu

Sifat

sebagai

Fungsional Sifat

Fungsional

dan

efek pengujian klinis

dilakukan

perlu

fungsionalnya

pengujian

pengujian namun fungsionalnya

perlu

klinis

efek

perlu

pengujian

fungsionalnya

pengujian secara

secara klinis

tidak

dilakukan

dilakukan dan

dilakukan
pengujian

wajib klinis

efek
dilakukan

DAFTAR PUSTAKA
Badan POM, 2005. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI
No.HK.00.05.4.1380 tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang
Baik
Geoffey, P Webb. 2006. Dietary Suplements and Functional Foods. Blackwell
Publishing, Oxford.
Goldberg, I. 1994. Functional Foods (Designer
Foods, Pharmafoods,
Nutraceuticals) (dalam bahasa English). Maryland: Aspen Publishers.
Marsono, Y. 2007. Prospek Pengembangan Pangan Fungsional.
Seminar Nasional dalam rangka National Food Technology
Competition (NFTC) 2007, 25 April 2007. Surabaya: Program
Studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian Unika Widya
Mandala.
Shahidi, Fereidoon. 2012. Nutraceutical, Funcional Food and Dietary
Supplements in Health and Disease. Journal of Food and Drugs
Analysis : 20(1), 226-230.
Stephen L, De Felice. 2002. FIM Rationale and Proposed Guidelines for the
Nutraceutical Research and Education Act-NREA.
WHO, 2000. General Guidelines for Methodologies on Research and Evaluation of
Traditional Medicine (Document WHO/EDM/TRM/2000.1). Geneva.
WHO, 2001. Legal Status of Traditional Medicine and Complementary/ Alternative
Medicine : A Worldwide Review. Geneva.
WHO, 2005. National Policy on Traditional Medicine and Regulation of Herbal
Medicines : Report of a WHO global survey. Geneva.