Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN EVALUASI KEPATUHAN TERHADAP CLINICAL PATHWAY

OKTOBER 2016

Bab I
Pendahuluan
Clinical Pathway mulai diterapkan di RSUD dr.R.soetijono pada bulan Oktober 2016
yang disusun berdasarkan PPK dan telah mendapatkan kesepakatan dokter
spesialis yang bersangkutan.

Melalui
Surat
Keputusan
Direktur
RSUD
dr.R.Soetijono
Blora
,
No...../....../....../2016tentang penetapan Clinical Pathway di RSUD Dr.R. Soetijono
Blora meliputi kasus penyakit sebagai berikut
1. Prosedur tindakan sectio cesarean
2. Apendiktomy
3. Demam berdarah dengue grade I
4. Acute Miocard Infark
5. Stroke

BAB II
Pelaksanaan

Dilakukan oleh Ketua Panitia PMKP, Wakil Ketua Komite Medik dan dilakukan
setiap bulan.
Dengan cara audit berkas RM, membandingkan catatan perawatan pasien
dengan Clinical Pathway.
Perhitungan sampel yang digunakan adalah 10 % dari populasi.
Apabila terdapat variabilitas dalam perjalanan penyakit atau komplikasi tidak
digunakan sebagai populasi pengambilan data.
Kriteria yang dinilai adalah :
o Operasi : Asesmen klinis (diagnosa), Penunjang (Lab/Radiologi/PA),
Tindakan (Konsultasi dokter, Asesmen anestesi dan bedah,
kelengkapan informed consent, penandaan), Obat dan lama rawat.
o Non operasi : Asesmen klinis, Penunjang (lab/radiologi), obat dan lama
rawat.

BAB III
Hasil
Hasil evaluasi Bulan Januari 2015:
1 Demam thypoid
Tabel kesesuaian

Persentase kepatuhan thd CP Demam Thypoid


120
100
80

Persentase kepatuhan thd CP Demam Thypoid

60
40
20
0
Lama Rawat

Asesmen klinis

Penunjang

Obat

Hasil :
Ketidaksesuaian CP terdapat pada Pemeriksaan Penunjang dan Obat.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa demam
thypoid adalah Widal dan Tubek TF. Widal dilakukan pada akhir minggu pertama
sementara Tubek pada hari ke 3 - 5. Dari 6 pasien, hanya 1 (17 %) pasien yang
diperiksa dengan menggunakan Tubek dan dilakukan sesuai dengan Clinical
Pathway. Sementara 5 pasien (83 %) menggunakan Widal dan dilakukan pada awal
minggu pertama (tidak sesuai dengan Clinical Pathway) .
Obat untuk Demam Thypoid dalam Clinical Pathway adalah Ceftriaxone. Hanya 4
pasien (67 %) yang menggunakan obat sesuai dengan Clinical Pathway
Ketidaksesuaian pemeriksaan penunjang disebabkan kebutuhan asuransi. 5 pasien
yang diperiksa adalah pasien asuransi, dimana syarat untuk dapat dirawat inap
dengan diagnosa Demam Thypoid adalah pemeriksaan widal +. Karena itu
pemeriksaan dilakukan pada awal minggu pertama.

2 Sectio Secaria
Tabel kesesuaian

Hasil:
Ketidaksesuaian CP terdapat pada lama rawat dan asesmen klinis.
Lama rawat untuk Sectio cesaria adalah 3 hari. Dari 11 pasien hanya 1 (10 % )tanpa
komplikasi dengan waktu lama rawat > 3 hari. Hal
Asesmen klinis atau pemeriksaan awal tidak ditemukan pada catatan RM 1 (10 %)
pasien. Hal ini disebabkan tidak lengkapnya dokter mengisi catatan RM pasien .
3 Hernia
Tabel kesesuaian

Persentase kepatuhan thd CP Hernia


120
100
80
60

Persentase kepatuhan
thd CP Hernia

40
20
0

Hasil:
Dari 5 pasien, seluruhnya (100 %)sesuai dengan Clinical Pathway.

4 Appendiktomi
Tabel kesesuaian

Persentase kepatuhan thd CP Appendiktomi


120
100
80
60
40
20
0

Persentase kepatuhan
thd CP Appendiktomi

Hasil:
Ketidaksesuaian terhadap Clinical Pathway terdapat pada lama rawat.

Lama rawat untuk appendiktomi adalah 3 hari. Dari 4 pasien, terdaoat 2 (50 %)
pasien yang lama rawatnya > 3 hari. 2 pasien tersebut diagnosanya adalah
appendisitis kronis. Pada
appendisitis kronis perlu dilakukan pemeriksaan
penunjang (apendicogram) yang membutuhkan waktu untuk persiapan. Sebenarnya
pemeriksaan dapat dilakukan pada rawat jalan, namun karena pasien merupakan
pasien asuransi maka harus dilakukan di rawat inap agar ditanggung sehingga lama
rawat bertambah 1 hari untuk pemeriksaan apendicogram.
5 FAM
Tabel ketidaksesuaian

Persentase kepatuhan thd CP FAM


120
100
80
60
40
20
0

Persentase kepatuhan
thd CP FAM

Dari 3 pasien, seluruhnya (100 %) sesuai Clinical Pathway.

BAB IV
Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan

Dari evaluasi Clinical Pathway yang telah dilakukan , sebagian besar dokter
spesialis telah mengikuti CP yang berlaku.
Ketidaksesuaian terhadap Clinical Pathway sebagian besar disebabkan
karena kebutuhan asuransi untuk pemeriksaan penunjang.
Ketidaksesuaian obat dikarenakan Clinical Pathway belum disesuaikan
dengan formularium nasional dan PPK terbaru.

Rekomendasi

Melakukan Sosialisasi lebih lanjut dengan DPJP agar melakukan perawatan


medis sesuai dengan Clincal Pathway.
Memaparkan hasil evaluasi Clinical Pathway dalam rapat Komite Medik.
Merevisi Clinical Pathway agar obat-obatan yang digunakan sesuai dengan
formularium nasional dan PPK terbaru.
Melaksanakan audit medis dengan rutin.
Kepatuhan CP dijadikan sebagai salah satu penilaian kinerja tenaga medis