Anda di halaman 1dari 83

BAB I

PENDAHULUAN
I.1.Latar Belakang.
Pada Geologi masa kini atau disebut juga geolgi modern lahir pada akhir
abad ke -18, James Hutton merupakan bapak geologi modern. Pada tahun 1795,
James Hutton menerbitkan bukunya yang berjudul: Theory of the Earth dimana ia
mencetuskan doktrin yang sangat akrab di kalangan Geologist. Doktrin itu disebut
dengan hukum Uniformitarianism (The present is the key to thepast, artinya
gaya atau proses yang membentuk permukaan bumi seperti yang kita amati
sekarang ini, telah berlangsung sejak terbentuknya bumi). Hal ini dikarenakan kita
tidak mungkin untuk kembali ke masa lalu untuk mengetahui apa-apa saja yang
terjadi pada waktu itu.Namun kita hanya dapat melihat sisa-sisanya, hingga kita
harus menggunakan logika untuk menerjemahkannya.
Teori ini juga diperkirakan terjadi di antara pulau Sulawesi dan pulau
Kalimantan. Kedua pulau ini memiliki ciri khas tumbuhan yang hampir sama.
Dan juga keidentikan-keidentikan yang lain.
Tahun 1912, Alfred Wegener mencetuskan teori pengapungan benua, yang
menduga bahwa pada mulanya benua Amerika Selatan dan Afrika bersatu, dan
kemudian berpisah menjadi seperti saat sekarang yang terpisah oleh samudra
Atlantik. Hal ini diidentifikasikan dengan adanya kesamaan vegetasi di antar sisi
pulau tersebut.
Sejak tahun 1960 berkembanglah Teori Pengapungan Benua (Continental
Drift) yang sekarang di kenal dengan Teori Tektonik Lempeng. Teori ini dapat
menjelaskan dan menyederhanakan banyak hal mengenai gejala-gejala alam yang
semula di anggap misterius. Seperti gempa bumi yang datangnya secara tiba-tiba
dan gunung api yang tiba-tiba meletus. Teori tektonik Lempeng menyebutkan
bahwa daratan terdiri dari lempeng-lempeng yang terapung pada mantel atau
magma.Hingga saat ini, lempeng-lempeng tersebut selalu bergerak untuk mencari
keseimbangan.

Bertabrakannya

dua

lempeng

atau

lebih

inilah

yang

mengakibatkan getaran di permukaan bumi atau yang lebih karab disebut sebagai
gempa.

Selain itu hal lain yang penting adalah berubahnya paradigma keberadaan
hidrokarbon dan juga berkembangnya metoda eksplorasi bahan tambang dan
hidokarbon. Ilmu geologi merupakan ilmu yang sangat nyata (practical science),
karena ilmu geologi berdasarkan hasil observasi dan dapat dibuktikan (tested).
Pengetahuan tentang ilmu kimia, fisika, matematika dan biologi yang memadai
akan sangat menunjang dalam mempelajari geologi.
Ilmu geologi terus berkembang dan terbagi lagi menjadi ilmu-ilmu yang
menjadi dasar geologi. Cabang-cabang ilmu geologi tersebut diantaranya :
Mineralogi, Petrologi, stratigrafi, Paleontologi, Geologi Struktur, Geomorfologi,
Geofisika, Geokimia, dan lain sebagainya.
Untuk masuk ke dalam ilmu geologi yang lebih kompleks diperlukan bekal
pengetahuan mengenai keadaan alam bumi seperti yang kita lihat dalam
kehidupan sehari-hari kita. Gempa bumi, tsunami, tanah longsor, badai angin
topan, dan banyak lagi jenisnya merupakan hasil atau produk dari proses yang
dapat dipelajari pada ilmu geologi yang lebih spesifik lagi.
Aplikasi ilmu Geologi di bidang ilmu lain juga cukup banyak. Khususnya
yang sberhubungan dengan Teknik.Geologi sangat dibutuhkan sekali dalam teknik
sipil, teknik jembatan, dalam pemilihan kondisi tanah yang cocok untuk
digunakan atau tidak.Selain itu sangat penting dalam bidang pertanian, khususnya
untuk mengetahui kondisi tanah yang cocok untuk kebutuhan pertanaian atau
tidak. Tidak bisa dibayangkan, tanpa adanya geologi seorang ahli pertanian tidak
akan tahu tentang kualitas tanah pada suatu wilayah.

Gambar 1. Penampang Lapisan Bumi


Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet dalam Tata Surya.
Diperkirakan usianya mencapai 4,6 milyar tahun. Jarak antara Bumi dengan
matahari adalah 149.6 juta kilometer atau 1 AU (ing: astronomical unit). Bumi
mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut
(magnetosfer) yang melindung permukaan Bumi dari angin matahari, sinar ultra
ungu, dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti bumi hingga
ketinggian sekitar 700 kilometer.Lapisan udara ini dibagi menjadi Troposfer,
Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, dan Eksosfer.
Lapisan ozon, setinggi 50 kilometer, berada di lapisan stratosfer dan
mesosfer dan melindungi bumi dari sinar ultra violet.Perbedaan suhu permukaan
bumi adalah antara -70C hingga 55C bergantung pada iklim setempat. Sehari di
dibagi menjadi 24 jam dan setahun di bumi sama dengan 365,2425 hari. Bumi
mempunyai massa seberat 59.760 milyar ton, dengan luas permukaan 510 juta
kilometer persegi. Berat jenis Bumi (sekitar 5.500 kilogram per meter kubik)
digunakan sebagai unit perbandingan berat jenis planet yang lain, dengan berat
jenis Bumi dipatok sebagai 1.
Bumi mempunyai diameter sepanjang 12.756 kilometer. Gravitasi Bumi
diukur sebagai 10 N kg-1 dijadikan unit ukuran gravitasi planet lain, dengan
gravitasi Bumi dipatok sebagai 1. Bumi mempunyai 1 satelit alami yaitu
Bulan.70,8% permukaan bumi diseliputi air. Udara Bumi terdiri dari 78%
nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbondioksida, dan gas lain.

Bumi diperkirakan tersusun atas inti dalam bumi yang terdiri dari besi nikel
beku setebal 1.370 kilometer dengan suhu 4.500C, diselimuti pula oleh inti luar
yang bersifat cair setebal 2.100 kilometer, lalu diselimuti pula oleh mantel silika
setebal 2.800 kilometer membentuk 83% isi bumi, dan akhirnya sekali diselimuti
oleh kerak bumi setebal kurang lebih 85 kilometer.
Kerak bumi lebih tipis di dasar laut yaitu sekitar 5 kilometer.Kerak bumi
terbagi kepada beberapa bagian dan bergerak melalui pergerakan tektonik
lempeng (teori Continental Drift) yang menghasilkan gempa bumi.
Titik tertinggi di permukaan bumi adalah gunung Everest setinggi 8.848
meter, dan titik terdalam adalah palung Mariana di samudra Pasifik dengan
kedalaman 10.924 meter. Danau terdalam adalah Titicaca, dan danau terbesar
adalah Laut Kaspia.
1.1.1 Lapisan bumi
Menurut komposisi (jenis dari material) -nya, bumi dapat dibagi menjadi lapisanlapisan sebagai berikut :
1.

Kerak Bumi

2.

Mantel Bumi

3.

Inti Bumi

a. Kerak Bumi
Kerak Benua (SiAl / granitik) 30 50 km ~ 45 km, 2.7
Kerak Samudra (SiMg-Sima / basaltik) 7 km, 3.0 gr/cm3
Sedangkan menurut sifat mekanik (sifat dari material) -nya, bumi dapat dibagi
menjadi lapisan-lapisan sebagai berikut :
1.

Litosfir

2.

Astenosfir

3.

Mesosfir

4.

Inti Bumi bagian luar

5.

Inti Bumi bagian dalam

1.1.2 Batuan

Gambar 2. Siklus Batuan


Berdasarkan gambar siklus batuan diatas maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa pembentukan batuan, dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
Batuan Beku-terbentuk dari magma yang mendingin dan membeku.
Batuan Sedimen-terbentuk dari sedimen rombakan batuan yang telah ada
diendapkan (air/darat) dan telah mengalami proses geologi
Batuan Malihan (metamorfosa)- batuan telah mengalami perubahan akibat
tekanan dan/atau suhu yang tinggi tanpa pelelehan.
Magma yang membeku dapat membentuk batuan beku.Batuan beku yang
mengalami pelapukan, transportasi material, dan pengendapan dapat menjadi
batuan sedimen (melalui proses litifikasi terlebih dahulu). Batuan beku maupun
batuan sedimen yang mendapat tekanan dan suhu tertentu akan mengalami proses
metamorfisme dan akhirnya membentuk batuan metamorf.
Batuan metamorf yang melebur akan kembali menjadi magma, dan setelah
membeku akan menjadi batuan beku. Begitu seterusnya siklus batuan di alam.

1.1.3 Mineral
Ion-ion dalam magma yang mendingin, mengatur diri menurut pola tertentu
dan membentuk kristal dinamakan mineral. Contoh : kwarsa SiO2.

Mineraloid, yaitu senyawa anorganik terbentuk secara alamiah, padat serta


mempunyai komposisi kimia tetapi tidak mempunyai struktur dalam tertentu atau
amorf (obsidian, opal).
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari pennyususnan laporan praktikum geologi dasar ini tidak lain
untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan mahasiswa/mahasiswi tentang
mata kuliah geologi dasar yang didapatkan di kelas atau dilapangan. Selain
itu,pennyusunan laporan ini tidak lain untuk bertujuan mengingat kembali materimateri yang sudah diberikan oleh Dosen maupun Asisten dosen praktikum.Dalam
hal ini mahasiswa/i Berdasarkan hal tersebut diatas, maka laporan praktikum ini
disusun.
Sedangkan tujuan yang secara khusus dari pelaksanaan praktikum
lapangan ini, antara lain :

Agar mahasiswaterlatih dalam melakukan pendeskripsian batuan.

Agar mahasiswa lebih memahami bentuk dan wujud nyata dari


jenis batuan-batuan tertentu..

Untuk melatih mahasiswa, agar mampu bekerjasama dalam sebuah


kelompok atau tim, yang nantinya sangat berguna ketika berada di
lingkungan kerja.

1.3 Waktu dan Tempat


Praktikum Geologi Dasar ini dilaksanakan di Laboratorium Geologi Dasar
FakultasTeknik

Universitas

Kutai

Kartanegara.

Sedangakan

waktunya

dilaksanakan setiap hari Jum`at jam 15.00 sampai dengan selesai.Sedangkan


untuk peraktikum lapangan geologi dasar dilaksanakan pada hari kamis pukul
09.00 selesai bertempat di tenggarong seberang daerah km 5 dan Jongkang, kec.
Tenggarong, Kutai kartanegara.
BAB II
DASAR TEORI

II.1. Unsur-Unsur Peta Geologi


II.1.1. Landasan Umum
Peta geologi adalah merupakan salah satu peta yang penting di dalam
dunia pertambangan, sipil, minyak dan gas. Dalam peta ini dicakup berbagai
aspek yang mampu dipakai sebagai aplikasi untuk kepentingan keilmuan dan
dalam kegiatan eksplorasi pertambangan.
Secara

umum

peta

geologi

didefinisikan

sebagai

peta

yang

menggambarkan penyebaran dan batas satuan batuan atau litologi serta


menggambarkan struktur geologi suatu daerah.Peta ini dibuat dari hasil survey
atau pemetaan geologi baik geologi permukaan ataupun geologi bawah
permukaan.Dasar dari peta geologi adalah peta topografi dalam skala kecil.
Data dari hasil survey geologi dilapangan di plot diatas peta topografi
disesuaikan dengan posisi, lokasi, titik titik pengamatan. Untuk selanjutnya
setelah dilakukan pengolahan data dan interpretasi, rekontruksi lebih lanjut, maka
akan diperoleh informasi geologi dari suatu daerah yang dipetakan, informasi
tersebut berupa peta geologi.
Selain unsur unsur utama dalam peta geologi yang berupa jenis dan batas
litologi, stratigrafi serta struktur yang ada pada peta geologi dicantumkan unsur
unsur penyerta yang selalu ada dalam peta geologi.
Unsur unsur penyerta peta tersebut :
1. Judul dan nama daerah
2. Orientasi peta
3. Arah utara
4. Skala Numerik

( 1 : 1000)

a. Grafis
5. Legenda
6. Keterangan
7. Nama pemeta dan tahun pembuatan
8. Nama instansi dan logo
9. Indeks peta

10.

Koordinat
11. Penampang geologi

II.1.2. Simbol litologi


Simbol litologi ada dua macam, yaitu warna dan tanda gambar. Simbol
simbol yang terdapat pada peta dan penampang geologi harus dibuat harus sama.
Simbol simbol yang berupa warna pada peta geologi adalah sebagai
berikut :
1. Aluvial

: abu abu

2. Batugamping

: biru

3. Batupasir

: kuning

4. Batubara

: hitam

5. Tuffa

: coklat muda

6. Batu beku basa

: merah tua

7. Konglomerat

: jingga

8. Batulempung

: hijau

9. Breksi

: coklat tua

10. Napal / serpih

: hijau tua

11. Batuan metamorf

: ungu

12. Batuan beku asam

: merah muda

Gambar 3. Simbol-simbol litologi warna


Simbol simbol yang berupa gambar pada peta geologi adalah sebagai
berikut :
1. Aluvial

: abu abu

2. Batugamping

: biru

3. Batupasir

: kuning

4. Batubara

: hitam

5. Konglomerat

: Jingga

6. Breksi

: coklat tua

7. Lanau

: hijau muda

8. Shalecoal

: abu -abu

9. Coalyshale

: abu abu hitam

10

10. Tuf

: coklat muda

11. Batulempung

: hujau
Gambar 4. Simbol-simbol litologi gambar

II.1.3. Simbol Struktur Geologi


Struktur geologi dapat diamati dilapangan, dan haruslah digambarkan
selengkapnya pada peta geologi.
II.1.4. Simbol Geografi
Yang dimasud dengan simbol - simbol geografi adalah kota, desa, jalan
raya jalan setapak, atau jalan kereta api, sedangkan simbol simbol geodesi
adalah tanda titik ketinggian / Trianggulasi, KM pada jalan raya dan kontur.
II.1.5. Simbol Struktur Sedimen
Simbol struktur sedimen biasanya digambarkan didalam penampang
stratigrafi.
II.1.6. Simbol Simbol Lain
Simbol simbol geologi ini digambarkan sesuai dengan kepentingan dari
geologi tersebut. Misalnya untuk kepentingan teknik sipil, geologi perminyakan,
geohidrologi, dan lain lain.

11

Gambar 5. Contoh Peta Geologi

12

Gambar 6. Contoh Peta Geografis

II.2. MINERAL

13

II.2.1 Penjelasan Mineral


Kulit bumi bagian luar atau kerak bumi disusun oleh zat padat yang sehari
hari yang kita sebut batuan. Sedangkan batuan meliputi segala macam materi
yang menyusun kerak bumi, baik padat maupun lepas seperti pasir dan debu.
Umumnya batuan merupakan ramuan beberapa jenis mineral.
Mineral adalah suatu zat padat yang homogen yang terjadi di alam secara
alamiah dengan komposisi kimia tertentu dan memiliki susunan atom yang teratur.
Atau, Mineral dibentuk oleh proses proses anorganik, dan mempunyai susunan
kimiawi tertentu dan suatu penempatan atom atom secara beraturan di
dalamnya, atau dikenal sebagai struktur kristal, dan ilmu yang mempelajari
tentang mineral disebut Mineralogi.
II.2.2. Lima Fase Pembentukan Mineral
a. magmatik cair
magmatik cair adalah mineral yang terbentuk langsung dari
magma.
b. pekmatitil
pekmatitil adalah proses terbentuknya mineral dari hasil injeksi
magma dan keristalnya terlihat jelas
c. fase preunomalitik
fase preunomalitik adalah fase pembentukan mineral dari hasil
reaksi kimia (gas)
d. fase hidrotermal
fase hidrotermal adalah proses pembentukan mineral yang
terbentuk dari hasil air panas alami (1000 o c)
e. fase vulkanik
fase vulkanik adalah fase terbentuknya mineral yang berhubungan
dengan gunung api.

II.2.3.Deskripsi Mineral
A. Sifat Sifat Fisik Mineral

14

Ciri sifat fisik mineral seperti sistem kristal, warna, sistem


perawakan kristal, kilap, gores, kekerasan, belahan, pecahan, tenacity,
berat jenis, kemagnetan, nama mineral, kegunaan, genesa. Dan untuk lebih
jelas diperlukan pengamatan secara optik, untuk hal ini memerlukan waktu
yang lebih lama.
a) Warna
Warna adalah warna mineral yang dapat di tangkap dan dilihat oleh
mata tanpa menggunakan alat bantu. Atau, warna mineral adalah warna
bila suatu permukaan mineral dikenai suatu cahaya, maka cahaya yang
mengenai permukaan mineral tersebut sebagian akan diserap dan
dipantulkan (refleksi). Warna penting untuk membedakan mineral akibat
pengotor atau warna asli (tetap) yang berasal dari elemen utama pada
mineral tersebut. Warna mineral yang tetap dan tertentu karena elemen
elemen utama mineral disebut Idiochromatic.
Contoh : sulfur warnanya kuning.
Warna mineral akibat adanya campuran atau pengotor dengan
unsur lain. Sehingga memberikan warna yang berubah ubah tergantung
dari pengotornya disebut Allochromatic
Contoh:Halite: warnanya dapat berubah ubah, Abu abu, Kuning,
Merah muda, Biru bervariasi.
Kehadiran kelompok asing yang dapat memberikan warna tertentu
pada mineral disebut Chormophores. Misalnya ion, Cu yang terkena
proses hidrasi merupakan Chromophores dalam mineral Cu sekunder,
maka akan memberikan warna hijau dan biru.
Factor yang mempengaruhi warna mineral adalah :

Komposisi mineral.
Struktur kristal.
Pengotor dari mineral.

b) Bentuk kristal / sistem perawakan mineral


a. Sistem sumbu kubik

15

b.
c.
d.
e.
f.
g.

Sistem sumbu tetragonal


Sistem sumbu ortorombik
Sistem sumbu monoklin
Sistem sumbu triklin
Sistem sumbu heksagonal
Sistem sumbu rombohedral

c) Kilap
Gejala ini terjadi apabila pada mineral dijatuhkan cahaya refleksi dan
kilap suatu mineral sangat penting untuk diketahui. Beberapa kilap yang
biasa dipergunakan adalah sebagai berikut :
a. kilap logam (metallic), kilap yang dihasilkan dari mineral mineral
logam, seperti kalkopirit.
b. Kilap sub logam (sub metallic), kilap yang dihasilkan dari mineral
hasil altersi sebelumnya, seperti ilmenit.
c. Kilap intan (adamantine), kilap sangat cemerlang seperti pada intan
pertama. (Mineral Intan)
d. Kilap kaca (vitreous), kilap seperti damar, misalnya monasit. (Mineral
kwarsa, kalsit)
e. Kilap lemak (greasy), kilap seperti lemak, seakan akan terlapis oleh
lemak, misalnya nefelin. (Mineral opal)
f. Kilap mutiara (pearly), kilap seperti mutiara, biasanya terlihata pada
bidang bidang belah dasar mineral, misalnya brukit. (Mineral talk,
serpentin)
g. Kilap sutra (sikly), kilap seperti sutra, biasanya terlihat pada mineral
mineral yang menyerat, misalnya gipsum. (Mineral asbes)
h. Kilap tanah (earthy) atau kilap garam (dull), biasanya terlihat pada
mineral mineral yang kempal, misalnya bauksit. (Mineral bauksit)
d) Gores
Gores adalah warna yang didapat apabila suatu mineral digoreskan
pada permukaan porselen yang permukaannya kasar.

16

e) Kekerasan
Pada umumnya kekerasan mineral diartikan sebagai daya tahan
mineral terhadap goresan. Kekerasan adalah suatu sifat yang ditentukan
oleh susunan dalam dari atom atom. Kekerasan adalah ukuran daya
tahan suatu permukaan rata terhadap goresan. Jika mineral dapat digores
oleh mineral lain, maka yang belakangan ini dikatakan lebih keras dari
mineral yang dapat digores tadi. Kekerasan relatif telah dipergunakan
dalam penentuan mineral sejak masa permulaan adanya mineralogi
sistematik. Mohs (1822), telah mengadakan suatu penentuan mineral
secara kualitatif berdasarkan kekerasan mineral.
Ia menentukan suatu skala relatif sebagai berikut :
No
1

Paling lunak

Derajat

Jenis

Kekerasan
1

Mineral
Talk

2
3

2
3

Gipsum
Kalsit

Flourit

Apatit

Ortoklas

7
8

7
8

Kuarsa
Topas

Korondum

10

Intan

10

Paling keras

Tabel 1. Skala Kekerasan MOHS


Setiap skala mohs yang lebih tinggi dapat menggores mineral mineral
dengan skala mohs yang lebih rendah. Berdasarkan penentuan kualitatif dari dari
kekerasan ternyata interval interval pada skala mohs hampir bersamaan, kecuali
interval antara 9 dan 10.

17

Untuk pengukuran kekerasan ini dapat kita pergunakan alat alat yang
sederhana, seperti kuku tangan, pisau, baja dan lain lain. Untuk memperlihatkan
hubungan antara alat pengukuran kekerasan dengan derajat kekerasan dari mohs.

No
1
2
3
4
5

Alat penguji

Derajat

Kekerasan mohs
Kuku tangan manusia
2,5
Kawat tembaga
3
Pecahan kaca
5,5 6
Pisau baja
5,5 6
Kikir baja
6,5 7
Tabel 2. Alat Alat Penguji Kekerasan

f) Belahan Dan Pecahan


Apabila sebuah mineral mendapat suatu tekanan yang melampaui batas
batas elastis dan plastisitasnya, maka pada akhirnya mineral akan pecah. Cara
pecahnya ini ada yang beraturan dan ada pula yang tidak beraturan. Jika pecahnya
secara beraturan, maka akan memperlihatkan suatu pecahan, dan jika
pecahannya ,mengikuti permukaan yang sesuai dengan stuktur kristalnya akan
memperlihatkan suatu belahan.

Belahan dibagi berdasarkan bagus tidaknya permukaan bidang belahnya,


maka dapat di bagi manjadi:
a. Sempurna (perpect), bila bidang belahan sangat rata, bila pecah tidak
melalui bidang belahan agak sukar.
b. Baik (good), bidang belahan rata, tetapi tidak sebaik belahan yang
sempurna, masih dapat pecah dari arah lain.
c. Jelas (distinct), dimana bidang belahan jelas, tapi tidak begitu rata, dapat
pecah dari arah lain dengan mudah.
d. Tidak jelas, (indistinct), dimana kemungkinan untuk membentuk belahan
dan pecahan akibat adanya tekanan adalah sama besar.

18

e. Tidak sempurna (imperfect), dimana bidang belahan sangat tidak rata,


sehingga kemungkinan untuk membentuk belahan sangat kecil dari pada
untuk membentuk belahan
Pecahan Dibagi Menjadi :
a. Pecahan concoidal, dimana pacahan menyerupai seperti kulit bawang
misalnya mineral kuarsa.
b. Pecahan hackly, dimana pecahannya menyerupai besi dan tajam tajam
c. Unevon, dimana permukaan pecahannya kasar dan tidak beraturan seperti
kebanyakan mineral
d. Even, dimana bidang pecah agak kasar, tetapi kecil kecil, masih
mendekati bidang datar
e. Fibrous/splinteri : pecahan menunjukan bentuk seperti serat
g). Tenacity / Ketahanan Mineral Terhadap Pukulan
Tenacity adalah ketahanan suatu mineral terhadap pukulan,
pematahan, pembengkokkan, penggerusan, ataupengirisan.
Istilah istilah yang digunakan dalam menyatakan ketahanan
a. Britel

: Apabila mineral mudah pacah menjadi bubuk

b. Maleabel

: Apabila suatu mineral dapat di iris tipis

c. Sektil

: Apabila suatu mineral dapat dibentuk seperti kawat

d. Fleksibel

: Apabila suatu mineral dapat dibengkokkan

e. Elastis

: Apabila suatu mineral dibengkokkan dan dapat kembali


kebentuk semula

g) Berat Jenis Mineral


Berat jenis adalah angka perbandingan antara berat suatu mineral
dibandingkan dengan berat air pada volume sama, atau berat relatif dari suatu
mineral diukur terhadap berat dari air.

19

Berat mineral
Rumus berat jenis =

-------------------Volume mineral

h) Kemagnetan
Kemagnetan adalah sifat mineral terhadap gaya tarik magnet
a.

Fera magnetik adalah gaya tarik magnet terhadap benda

b.

Dia magnetik adalah gaya tidak menarik benda

B.

Nama Mineral
Untuk penamaan mineral bisa ditentukan dari hasil penelitina atau
pendiskripsian mineral itu sendiri dengan adanya literatur yang sesuai.
C. Kegunaan Mineral
Kegunaan

mineral bisa diketahui dari beberapa literatur dan informasi

lainnya.
D. Genesa
Genesa adalah peristiwa yang menyebabkan terbentuknya mineral tersebut.

II.3.BATUAN BEKU

II.3.1. Definisi Batuan Beku

20

Batuan beku adalah batuan yang terbentuk secara langsung dari proses
pembekuan magma, baik didalam bumi maupun diatas permukaan bumi.
Ciri khas batuan beku adalah kenampakannya yang kristalin, yaitu
kenampakan suatu massa dari unit unit kristal yang saling mengunci kecuali
yang non kristalin.
Proses pembekuan magma akan menghasilkan kristal kristal primer
ataupun gelasan, yang mana apabila saat itu terdapat cukup energi pembentukan
kristal maka akan terbentuk kristal kristal mineral ukuran besar. Sedangkan bila
energi pembentukannya rendah akan terbentuk kristal yang ukurannya sangat
halus. Bila pendinginan berlangsung sangat cepat maka kristal tidak akan
terbentuk dan cairan magma yang membeku akan menjadi gelas.
Setiap mineral memiliki kondisi tertentu pada saat mengkeristal. Mineral
mineral mafic pada umumnya mengkeristal pada suhu yang relative tinggi,
sebaliknya mineral mineral felsic pada umumnya mengkeristal pada suhu yang
relative rendah.
Batuan beku merupakan kumpulan mineral mineral silika yang
mengkeristal. Selama kristalisasi berlangsung selalu ada kecendrungan untuk
mempertahankan keseimbangan antara fase padat dan fase cair. Dalam hal ini
kristal yang mula mula terbentuk akan bereaksi dengan cairan, sehingga berubah
komposisinya. Reaksi ini terjadi secara terus menerus pada kristalisasi mineral
mineral plagioklas (mulai mineral basa sampai mineral asam). Reaksi ini disebut
continuous reation series dipihak lain terjadi secara tiba tiba pada temperature
tertentu, dalam kristalisasi mineral mineral ferromagnesium (mafic mineral)
disebut discontinuous reaction series

21

Gambar 7. Diagram Bown Reaction Series


II.3.2. Sifat Sifat Mineral Penyusun Batuan Beku
Berdasarkan sifat sifat mineral penyusun batuan dapat dibedakan
menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Mineral Utama
Mineral utama adalah mineral mineral primer yang selalu terdapat dalam
satu batuan tertentu dan merupakan yang dominan untuk batuan tersebut.
2. Mineral Sekuder
Mineral sekunder adalah mineral yang terdapat cukup banyak dalam satu
batuan beku tetapi tidak selalu seperti halnya mineral primer (utama).Mineral
sekunder ini sering juga disebut mineral pelengkap (accessory mineral).
3. Mineral Tambahan (Minor Accesory Mineral)
mineral tambahan adalah merupakan mineral yang terdapat dalam suatu
batuan beku yang jumlahnya tidak begitu banyak, kira kira lebih kecil dari 5
% dari volume batuan. Contoh : apatitie, magnetite, zircon dan lain lain.
II.3.3. Deskripsi Batuan Beku
1. Warna

22

Warna adalah warna mineral yang dapat di tangkap dan dilihat oleh mata
tanpa menggunakan alat bantu.
2. Jenis Batuan
a.

Klasifikasi berdasarkan sifat kimia dan komposisi mineralnya, meliputi :


1. Batuan Beku Asam
Batuan beku yang mengandung unsur silika lebih dari 66 %, umunya
berwarna terang. Contoh : granite, apatite, dan lain lain.
2. Batuan Beku Intermediet.
Batuan ini mengandung mineral silika antara 52 % - 66 % batuan biasanya
berwarna terang hingga agak gelap. Contoh : diorite, andesit dan lain
lain.
3. Batuan Beku Basa.
Adalah batuan beku yang komposisi silikanya anatar 45 % - 52 % kaya
akan mineral kalsit plagioklas dan mafik mineral. Warnanya gelap / buram
sampai kehitaman. Contoh : gabro, basalt dan lain lain.
4. Batuan beku ultra basa
Jenis batuan beku ini mengandung unsur silika kurang dari 45 %, biasanya
berwarna hitam sampai hijau.
3. Struktur Batuan Beku
Struktur batuan beku adalah merupakan kenampakkan atau bentuk dan
Susunan dari batuan beku.
Struktur batuan beku meliputi :
a. Struktur masif / kompak
Struktur masif adalah susunan mineral yang kompak, tidak menunjukkan
adanya pori pori, penjajaran mineral / bentuk aliran dan bersifat pejal.

b.

Struktur jointing
yaitu struktur batuan yang memperlihatkan retakan retakan.

c. Vesikuler

23

Yaitu struktur yang memperlihatkan adanya lubang lubang akibat


pelepasan gelembung gelembung gas dari magma. Vesikuler ini terbagi
dalam beberapa bagian yaitu :

Vesicle yaitu struktur yang memperlihatkan lubang lubang yang


menyudut.

Scorian yaitu struktur yang sangat berpori dan tidak teratur dalam
masa dasar gelas.

Pumis yaitu struktur buih dengan lubang lubang memanjang yang


menunjukkan arah aliran buih.

d. Flow
yaitu struktur yang orientasinya sejajar dengan baik oleh kristal maupun
oleh lubang lubang gas.
e. Amigdaloidal
yaitu struktur yang menampakan adanya lubang lubang gas pada batuan
yang terisi oleh mineral - mineral sekunder yang terbentuk setelah
pembentukkan magma.
4. Tekstur Batuan Beku
Tekstur batuan beku adalah hubungan antara mineral mineral yang satu
dengan yang lainnya dalam suatu batuan yang meliputi hubungan antara
kristalisasi, granulitas dan fabric (kemas).
a. Derajat Kristalitas
Derajat kristalitas atau derajat kristalisasi adalah tingkat kristalisasi
mineral dalam suatu batuan. Tingkat kristalisasi pada batuan beku
tergantung pada proses pembekuan magma itu sendiri.
Tingkat tingkat kristalisasi antara lain :
1

Holokristalin
Holokristalin adalah bila seluruh batuan tersusun oleh kristal kristal
mineral.

Hipokristalin

24

Hipokristalin adalah bila batuan beku terdiri dari sebagian kristal dan
sebagian yang lain adalah gelas.
3

Holohialin

Holohialin adalah bila seluruh batuan beku tersusun oleh mineral gelas.
4

Granulitas (Ukuran Butir Mineral)


Granulitas adalah derajat besar butir mineral penyusun batuan.
Granulitas meliputi :
a. Fanerik
Fanerik adalah kristal dari mineral penysunya tampak jelas dan

dapat dibedakan dengan mata dapat juga dengan bantuan luve.


Fanerik dibedakan menjadi :

Butiran kasar (> 5 mm).

Butiran sedang (1 5 mm).

Butiran halus (< 5 mm).


b. Afanitik
Afanitik adalah kristal kristal dari mineral penyusunnya sangat
halus sehingga tidak dapat dibedakan dengan mata secara langsung jadi
harus menggunakan alat bantu luve atau mikroskop.
Mikrokristalin yaitu bila butiran sangat kecil (analisa menggunakan
mikroskop).
Kriptokristalin yaitu bila ukuran butirnya labih halus dari mikrokristalin
(analisa menggunakan scanning , sinar x).
Amorfus / nonkristalin yaitu bila mineral disusun oleh gelas secara
keseluruhan.
5. Kemas (Fabrik)
Kemas adalah hubungan antar kristal kristal atau susunan antar
kristal kristal yang satu dengan lainnya. Fabric meliputi :
a.

Bentuk kristal

Euhedral yaitu bentuk kristal sempurna dan dibatasi


oleh bidang bidang kristal yang jelas.

25

Subhedral yaitu apabila bentuk tidak sempurna dan


hanya sebagian saja yang dibatasi oleh bidang- bidang kristal yang jelas
atau kombinasi dari bentuk baik dengan bentuk tidak teratur.

Anhedral yaitu apabila bentuk bidang batas dari kristal


tidak teratur atau tidak jelas

Gambar 8. Euhedral

Gambar 9. Subhedral

Gambar 10. Anhedral

26

6. Relasi
Relasi yaitu hubungan antar butir kristal kristal yang satu dengan
yang lainya, relasi meliputi :

Equigranular yaitu ukuran butir kristal yang menyusun


batuan hampir sama besar atau relatif seragam.

Inequigranular adalah ukuran butir kristal penyusun


batuan tidak sama besar.

7. Komposisi Mineral
Mineral Mineral Pembentuk / Penyusun Batuan
Pada batuan beku ada delapan mineral yang umum dijumpai sebagai
penyusun batuan beku, biasanya disebut sebagai mineral batuan beku
(igneous mineral) dan dapat dibedakan menjadi kelompok, yaitu :
A. Mineral yang tersusun dari unsur silika dan alumina, umunya berwarna
cerah (felsik).
contoh mineral :

Kwarsa
mineral kwarsa mempunyai rumus kimia sio2, berwarna jernih,
putih buram dan lain lainnya. Mengkristal pada system hexagonal,
kekerasan 7, umumnya bentuk kristal tidak baik (anhedral), dan
mempunyai kilap seperti kaca.

Feldspar
dibagi dua bagian, yaitu :

Potash feldspar
Terdiri dari mineral orthoklas, mikrolin, sanidin, adularia, dan
anorthoklas, berwarna merah pucat, putih merah daging, dan abu
abu.Belahannya baik 2 arah kekerasan 6.

Plagioklas
Berwarna putih, abu abu dan lain lain. Belahan baik 2 arah,
kekerasan 6. Mineral ini terdiri dari kalsit plagioklas (anorit,

27

bitownite, labradorit, andesine) dan sedikit plagioklas (albite,


oligoklas dan andesine).

Feldspartoid (foida)
pengganti mineral feldspar, karena terbentuk pada kondisi dimana

Si O2 kurang. Mineral ini terdiri dari leukosit, nefelin, sodolite dan


nosolite serta hauynite.Berwarna putih atau abu abu kebiruan,
kekerasan 6.

Mika (glimmer)
terdiri dari muscovite (putih jernih), plagotit, (coklat), kekerasan 1
2, belahan 1 arah.
B. Mineral yang tersusun dari unsur besi, magnesium, dan kalsium,
berwarna cerah (mafic).
Olivin
Berwarna hijau, kuning kecoklatan, kristal berbutir seperti gula
pasir, kekerasan 6 7.

Amphibole
Merupakan mineral terbentuk prismatik panjang bersisi enam,
warna hijau kehitaman, belahan 2 arah, kekerasan 5 6 dan yang
terpenting dari golongan ini adal;ah hornblende.

Pyroxene
Warna coklat hingga hitam, kekerasan 5 - 6 terdiri dari mineral
enstatite, hypersten, diopsite dan augit, belahan 2 arah.

Biotite
berwarna hitam, dan tampak seperti lembaran.Untuk mengetahui
kekerasan suatu mineral maka dipakai mineral mineral standart pada
skala mohs sebagai berikut :
1) Talk
2)

Gypsum

3)

Kalsit

28

4)

Fluorite

5)

Apatite

6)

Arthoklas

7)

Kwarsa

8)

Topas

9)

Korundum

10) Diamond atau intan.

Genesa
Genesa adalah peristiwa yang menyebabkan terbentuknya batuan
beku tersebut.

29

II.4.BATUAN SEDIMEN

II.4.1. Pengertian Batuan Sedimen


Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material
maupun

biologi

yang

kemudian

diendapkan

lapis

demi

lapis

pada

beku

yang

permukaan bumi yang kemudian mengalami pembatuan.


Proses-proses terbentuknya batuan sedimen antara lain :
a. Proses Pelapukan
Batuan

beku, batuan

metamorf

maupun

batuan

dipengaruhi oleh suhu dan tekanan terus menerus, maka tidak luput
dari yang namanya pelapukan. Dalam prosesnya terdapat bermacammacam pelapukan, diantaranya yaitu pelapukan mekanis atau fisik
dan pelapikan kimia.
b. Proses Pengangkutan
Setelah batuan tidak mengalami pelapikan yang oleh adanya
garfiatasi maka akan terlepas atau terkikis dari batuan asalnya yang
kemudian diangkut oleh media pengangkut yaitu air, angin, es dan
lain lain.
b. Proses Pengendapan
Material-material yang diangkut oleh air, angin atau es tadi akan
diendapkan di cekungan, daerah cekungan dapat berupa danau, rawarawa, laut dan sebagainya.
II.4.2. Struktur Batuan Sedimen
Struktur batuan sedimen dibedakan menjadi 3 macam, yitu :
a. Struktur Mekanis (Fisika)
Terbentuknya karena proses fisika diantaranya :

30

(1). Berlapis
Terlihat

sebagai

susunan

berlapis-lapis. Contoh; Batu

pasir

berlapis. Bila ketebalan 1 cm disebut lapisan. Bila ketebalan


1 cm disebut Laminasi.

Lapisan

Laminasi

Gambar 11. Struktur Berlapis


(2). Bergradasi
Bila butiran-butian batuan dari bawah ke atas semakin
halus. Contoh : Konglomerat.

Gambar 12.Struktur Bergradasi


(3)

Silang Siur
Satu seri perlapisan yang saling bepotongan dalam tubuh
batuan sedimen. Contoh; Batupasir silang siur.

31

Gambar.13. Struktur Silang Siur


(4). Masif
Bila dalam tubuh batuan sedimen tidak terlihat struktur
sedimen
Dilihat dari kenampakkan permukaan lapisannya dibedakan
atas :
1). Ripple Mark
Bentuk permukaan yang bergelombang karena adanya
arus.
2). Flute Cast
Bentuk gerusan pada permukaan akibat aktivitas arus.
3). Mud Crack
Bentuk retakan pada lapisan lumpur, biasanya berbentuk
polodial
4). Rain Mark
Kenampakan pada permukaan sedimen akibat tetesan
hujan.
Struktur terjadi karena deformasi, dapat diklasifikasikan
menjadi :
1). Load Cast

32

Lekukan pada permukaan lapisan akibat gaya dari


beban diatasnya.
2). Convolute Struktur
Lekukan pada batuan sedimen akibat proses deformasi
(gerusan).
3). Sandstone Dike and Sill
Karena deformasi pasir dapat terinjeksi pada lapisan
sedimen diatasnya.
b. Struktur Kimia
Struktur yang terbentuk dari aktifitas kimia, dapat dibedakan
menjadi 2 bentuk, yaitu :
1). Koneksi

: Bila berbentuk bulat

2). Nodul

: Bila berbentuk tidak teratur

c. Struktur Organik
Struktur yang terbentuk dari aktifitas organisme, dibedakan
atas :
1). Jejak
- Track

: Jejak berupa tapak organisme

- Trail

: Jejak berupa seretan bagian tubuh organisme.

2). Galian ( Burrow )


Lubang atau galian hasil aktivitas organisme.
3). Cetakan
- Mold

: Cetakan bagian tubuh organisme.

- Cast

: Cetakan dari mold.

II.4.3. Tekstur Batuan Sedimen


Dalam

batuan

sedimen

dapat

dijumpai

fragmen

batuan

maupun

mineral-mineral yang umumnya banyak dijimpai dalam batuan sedimen yaitu


antara lain :
-

Kwarsa

33

Mika

Dolomit

Feldspar

Kalsit

Mineral lempung, dan lain-lain.


Berdasarkan kejadiannya, batuan sedimen dibedakan menjadi

batuan sedimen klastik dan batuan sedimen non klastik.


Batuan sedimen klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk
dari material-material hasil rombakan batuan yang telah ada
sebelumnya.
Sedangkan batuaan sedimen ninklastik adalah batuan sedimen
yang

terbentuk

dari

material-material

hasil

aktivitas

kimia

( termasuk biokimia ).
Dari dua macam batuan sedimen tersebut dikenal tekstur batuan
sedimen yaitu tekstur Klastik Nonklastik :
a). Tekstur Klastik
Yang perlu diperhatikan pada batuan sedimen klastik adalah
ukuran

butir

dan

bentuk

butir. Untuk

ukuran

butir

dipakai

klasifikasi dari Wenworth.

Nama

Ukuran Butir (mm)

Boulder ( Bongkah )

256

Cabble ( Berangkal )

64 - 256

Pebble ( Kerakal )

4 - 64

Granule ( Kerikil )

2 - 4

Pasir Sangat Kasar

1 - 2

Pasir Kasar

Tabel. 3. Klasifikasi Tekstur Klastik

- 1

34

Nama

Ukuran Butir (mm)

Pasir Sedang

/4 - 1/2

Pasir Halus

Pasir Sangat Halus

/8 - 1/4

/16 - 1/8

/256 - 1/16

Silt ( Lanau)

1/256

Clay ( Lempung )

Tabel 4. Klasifikasi Ukuran Butir ( Wenworth )


b. Tekstur Non Klastik
tekstur non klastik mempunyai ciri khas adanya kristal-kristal
yang saling menjari dan tidak ada ruang pori-pori antar butir dan
umumnya

Monomineralik. Kristal-kristal

umumnya

berbentuk

serabut, lembaran atau butiran kristal.


Berikut Klasifikasi Non Klastik :
Klasifikasi
Berbutir Kasar
Berbutir Sedang
Berbutir Halus

Ukuran (mm)
5
1 - 5
5

Tabel 5. Klasifikasi Ukuran Butir Tekstur Nonklastik


Beberapa tekstur Nonklastik yang terpenting yaitu :
(1). Amorf
Yaitu bila partikel-partikel yang berukuran lempung
Contoh : Rijang Masif.
(2) Oolitik

( koloid ).

35

Yaitu tersusun oleh

kristal kecil berbentuk bulat ( elipsoid )

terkumpul seperti telur ikan, butiran berukuran 0,25 mm - 2,0


mm. contoh : Batu gamping Ooloitik.
(3). Piolistik
Seperti

Oolitik

tetapi

butiran

berukuran

lebuh

besar

2mm.

contoh : Batu gamping Pisolitik.


(4). Sakaroidal
Partikel-partikel berbutir halus, sama besar ( equigranular ). Contoh
: Batu gamping Sakaroidal.
(5). Kristalin
Bila tersusun oleh kristal-kristal besar.
Hal-hal ini yang perlu diperhatikan yang menyangkut tekstur
batuan sedimen adalah, antara lain :

Bentuk Butir
a. Membundar Sempurna
b. Membundar ( Rounded )
c. Mebundar Tnaggung ( Sub Rounded )
d. Menyudut Tanggung ( Sub Angular )]
e. Menyudut ( Angular )
f. Menyudut Sempurna ( Well Angular )

(a)

(b)

(c)

(d)

(e)

Gambar 14. Tingkat Ukuran Butir

(f)

36

Ukuran
Butir Secara

Bentuk Klasifikasi Penyusunannya

Kualitatif
Bongkah
Berangkal
Kerakal
Kerikil

Membulat
Tak
Terlitifikasi
Gravel

Menyudut

Terlitifikasi

Tak
Terlitifikasi
Rabel

Konglomerat

Terlitifikasi
Breksi

Tabel 6. Klasifikasi Rudit Berdasrkan Ukuran Partikel serat Bentuknya.

Pemilahan ( Sortasi )
- Baik ( Weel Sorted )

Jika

tingkat

kesergaman

bitirannya sama
- Buruk ( Poorly Sorted) : Bila besar butir tidak merata,
terdapat matrik dan fragmen.

Kemas ( labric )
- Kemas terbuka

: Bila

butiran

tidak

langsung

saling bersentuhan
- Kemas tertutup

: Bila butiran saling besentuhan


atau sama lainnya.

Fragmen : Butiran yang berukuran lebih besar daripada


pasir
Matrik

: Butiran

yang

berukuran lebih

kecil dari fragmen dan dan terdapat di sela-sela


fragmen.
Semen

: Material

yang sangat halus

(hanya dapat dilihat dengan mikroskop) yang


berfungsi sebagai pengikat. Semen umumnya
terdiri dari silika, karbonat dan oksida besi. Semen
jarang dijumpai pada batuan sedimen yang

37

Argiloccous (batuan sedimen yang matriknya


lempungan) sebab tidak mempunyai rongga
II.4.4. Komposisi Batuan Sedimen
Berdasarkan komposisinya batuan sedimen dapat dibedakan
menjadi beberapa kelompok, yaitu :
1. Batuan sedimen detritis, dapat dibedakan menjadi :
- Detritus halus

: Batu Lempung, Batu Lanau

- Detritus sedang : Batu Pasir


- Detritus Kasar

: Breksi dan Konlomerat.

2. Batuan sedimen evaporit, yaitu batuan sedimen yang terbentuk dari


proses evaporasi.
3. Batuan sedimen batubara, yaitu batuan sedimen yang terbentuk dari
mineral organik yang berasal dari tumbuhan.
4. Batuan sedimen silika, yaitu batuan sedimen yang terbentuk dari
proses organik dan kimia.
5. Batuan sedimen karbonat, yaitu batuan yang terbentuk baik dari
proses mekanis, kimia maupun organik.

38

II.5.BATUAN METAMORF

II.5.1. Pengertian Batuan Metamorf


Batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk dari perubahanperubahan oleh proses metamorfosa dari batuan yang telah ada sebelumnya, yang
mengalami perubahan komposisi mineral, struktur, tekstur tanpa mengubah
komposisi kimia dan tanpa melalui fase cair atau gas atau tidak mengalami
perubahan.
II.5.2. Tipe-Tipe Metamorfosa
Menurut Sukardi ( 1993 ) tipe-tipe metamorfosa dikelompokkan menjadi
a. Metamoefosa Lokal
Terbagi atas :
1). Metamorfosa Kontak/ Termal, terjadi akibat kenaikan temperatur
pada zoan-zona intrusi magma atau plutonik dan ekstrusi lava.
2). Metamorfosa

Kataklastik atau Dislokal atau Kinematik atau

Dinamik, terjadi pada daerah yang mengalami dislokasi atau


deformasi atau pengaruh tekanan . Misalnya akibat sesar (fault).
3.) Metamorfosa Kaustik atau Optalik atau Pirometamorfosa, karena
temperatur pada daerah batuan vulkanik khususnya basalt
4). Metamorfosa Hidrotermal atau Metasomatisme, disebabkan oleh
adanya fluida dan confining pressure.
5) Metamorfosa Retrograde atau Diaptoresis, akibat penurunan
temperatur sehingga kumpulan mineral metamorfosa tingkat tinggi
berubah menjadi kumpulan mineral stabil pada temperatur yang
lebih rendah
b. Metamorfosa Regional

39

Adalah proses metamorfosa yang meliputi daerah yang sangat luas


dan disebabkan oleh efek tekanan dan panas pada batuan yang terkubur
sangat dalam. Metamorfosa ini terbagi atas :
1) Metamorfosa Dinemotermafosa
Disebabkan oleh kenaikan temperatur dan pressure pada daerah yang
luas sebagai akibat pembentukan penggunaan atau orogenesa.
2). Metamorfosa regional Burial
Disebabkan oleh kenaikan temperatur dan pressure pada daerah
geosinklin yang mengalami sedimentasi intensuif, kemudian terlipat.
II.5.3. Klasifikasi Batuan Metamorf
a. Berdasarkan komposisi kimianya, ditinjau dari unsur yang dikandung
oleh batuan metamorf, yang dibedakan menjadi :
1). Calcie Metamorf Rock
Berasal dari batuan sedimen yang kaya kuarsa dan feldspar, misalnya
batu lempung menjadi Phillite, Slate.
2). Quartz Feldspartic Metamorf Rock
Berasal dari batuan sedimen yang

kaya kuarsa dan feldspar,

misalnya Quartizite.
3) Basic Metamorf Rock
Berasal dari batuan beku intermediet menjadi batuan beku basa,
misalnya Amphibole.
4). Calcareaus Metamorf Rock
Berasal dari batuan yang kaya Mg, misalnya Serpentine, Schist,
Clorit.
b. Berdasrkan Komposisi Mineralnya
Dibedakan atas :
1). Mineral Stress
Seperti : Muksovite, Biotit, Horblende
2). Mineral Anti Stress
Seperti : Kuarsa, Kalsit, Plagioklas

40

II.5.4. Struktur Batuan Metamorf


a. Struktur Foliasi
Adalah struktur paralel yang diberikan oleh adanya penjajaran
mineral-mineral penyusun batuan atau hasil metamorfosa regional.
Struktur Foliasi terbagi atas :
1). Slaty Cleavage
Suatu peralihan sedimen yang berubah ke metamorf, derajat
metamorfosa rendah dari lempung. Batuan ini berbutir sangat halus
dan keras, memperlihatkan belahan-belahan yang rapat dan sejajar
dimana mulai terdapat daun-daun mika halus memberi warna/kilap.
Seterusnya mineral klorit dan kuuarsa mulai ada. Bataunya disebut
Slate (batusabak).
2) Phylitic
Hampir sama dengan slaty cleavage, tetapi derajat metamorfosa
lebih

tinggi daripada sabak, dimana daun-daun mika dan klorit

sudah cukup besar dan memberikan belahan phylite yang khas,


berkilap sutera pada pecahan-pecahan bias merupakan akibat
kandungan mika yang sangat halus, mulai terdapat mineral lain
seperti turmalin. Sudah mulai terjadi pemisahan mineral pipih dan
mineral

granular

tetapi belum sempurna. Batuannya disebuat

Phillite.
3). Schistositc
Struktur ini akibat penjajaran mineral pipih berseling dengan
mineral granular, bidang belahnnya lebih jelas daripada phyllite.
Mineral pipih memiliki orientasi menerus dan tidak terputus
oleh mineral glanular. Kepingan - kepingannya sangat jelas dari
mineral-mineral pelat, seperti mika, talk, klorit, hematite dan
mineral-mineral yang bersifat serabut.. terkadang mengandung

41

mineral feldspar, hornblende, granet. Tergantung dari batuan asal


(lepung, basal, gamping) dan berbagai macam sekis terjadi dan
dinamakan tergantung mineral terjadinya. Contoh sekis horblende
dari batuan asal basal dan gabro.
4). Gneissic
Struktur ini terjadi akibat penjajaran mineral granular berseling
dengan mineral pipih. Mineral pipih memiliki orientasi tidak
menerus

karena

terputus

oleh

mineral

granular. Trdiri dari

mineral-mineral yang mengigatkan kepada batuan beku seperti


feldspar dan mafik, jalur dengan mineral-mineral pelat atau serabut
seperti klorit, mika grafit, hornblende. Batuan ini dapat berasal dari
batuanbekku seperti granit, gabr, atau diorit, atau batuan sedimen
seperti serpih, dan napal. Batuannya disebut Gneis.
b. Non Foliasi
1). Hornflsic
Batuan ini terbentuk dalam bagian dalam daerah kontak sekitar tubuh
batuan beku. Pada umumnya merupakan rekristalisasi batuan
asalnya, tidak ada foliasi tetapi batuan halus dan padat. Pada struktur
ini butiran-butiran mineral berukuran relatif seragam dan tidak
menunjukkan

penjajaran mineral. Batuannya disebut Hornfels

(batutanduk).
2). Cataclastic
Pada struktur ini terjadi karena proses metamorfosa catallastic,
misalnya sesar. Struktur ini tersusun dari pecahan batuan atau
mineral berukuran kasar. Batuannya disebut Cataclastic.
3). Mylonitic
Hampir sama dengan cataclastic tetapi karena proses sesar yang
terjadi sangat kuat maka pecahan batuan mineral berukuran
kasar. Batuannya disebut Milonit.

42

4). Marmer (pualam)


Terdiri dari mineral kalsit, terjadi proses metamorfosa regional atau
rekristalisasi dari batugamping. Batuan ini padat, kompak tanpa
foliasi, terbentuk karena kontak.
5). Kuarsit
Batuan ini adalah terdiri dari kuarsa yang terpadatkan atau
disementasi oleh silika kristalin, sehinggga merupakn batuan yang
kompak,

membelah

melalui

butiran

kuarsa

tanpa

foliasi.

Terjadikarena metamorfosa regional dari batupasir kuarsa pada


semua derajat metamorfosa..
II.5.5. Tekstur Batuan Metamorf
a. Berdasarkan ketahanan terhadap proses metamorfosa, batuan metamorf
dibagi atas :
1). Relict

(Palimpset)

yaitu

tekstur

batuan

metamorf

yang

menunjukan tekstur batuan berasal.


Relict terbagi atas :
Blastoprofiritik

Tekstur

porfiritik

asal mineralnya masih terlihat


Blastopsipite
batuan

: Tekstur sisa dari

sedimen

yang

ukuran

butirannya lebih besar dari pasir.


Blastopsemite

Sama

seperti

Blastosipite tetapi ukuran butirannya


sama dengan pasir.
Blastopellite
batuan

sedimen

: Tekstur sisa dari


yang

ukuran butiran lempung.

mempunyai

43

2). Kristoblastik yaitu tekstur khas hasil proses metamorfosa dimana


tekstur batuan asal sudah tidak tampak, karena mineral-mineral
batuan asal sudah mengalami kristalisasi.
3). Superimposed yaitu tekstur yang terbentuk karena proses alter yang
merupakan proses lanjutan dari proses metamorfosa yang biasa
terjadi.
b. Berdasarkan bentuk mineralnya, tekstur batuan metamorf terbagi
atas:
1). Lapidoblastik yang terdiri dari mineral yang berbentuk tabular
atau mimbidangnya mineral pipih
2). Nematoblastik yang terdiri dari mineral berukuran seragam,
granular, anhedral

dengan

batas-batas

tidak

teratur dan

membidangnya mineral prismatik .


3). Granuloblastik yang terdiri dari mineral berukuran seragam,
granular, anhedral dengan batas-batas unsutured.
4). Forpiroblastik yang terdiri dari mineral berukuran tidak seragam,
beberapa mineral ditemukan berukuran lebih besar dari yang
lain.
5). Idioblastik yang terdiri dari dari mineral berbentuk euhedral.
6). Xenoblatstik yang terdiri dari mineral berbentuk anhedral.

44

Non Foliaso

Komposisi

Nama

Sangat halus

Slate

(fanerik)
Halus

(batusabak)

Kasar

Sekis
Piroksin

Ampibol

Filit
Feldspar

Kuarsa

Kasar

Mika

(afanitik)

Klorit

Kuat (scistosic)

Tekstur

(fanerik)
Lemah

Foliasi

Struktur

Gneiss

(fanerik)
Kasar (fanerik)

Fragmen seberang batuan yang

Meta

Kasa sedang
Halus-sedang
Halus (afanitik)

mengalami metamorfisme
Kuarts
Dolommit atau kalsit
Kuarts, mika kadang-kadang

konglomerat
Kuarsa
Marmer
Horblende

feldspar, piroksin
Tabel 7. Klasifikasi Batuan Metamorf

II.6.STRUKTUR GEOLOGI
II.6.1. Definisi

45

Struktur Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bangu, bentuk,


susunan batuan penyusun kulit bumi yang dihasilkan oleh gerak-gerak tersebut
antara lain : struktur kekar (joint), lipatan

(flod), patahan/sesar (fault), dan

ketidak larasan (unconform).


Perlapisan miring (bidang miring)
II.6.2. Perlapisan miring (bidang miring)
Kedudukan suatu garis dinyatakan dengan bearing dan plung (pununjaman
= iklinasi). Bearing adalah sudut horizontal antara suatu garis dengan koordinat
tertentu, biasanya utara-selatan. Plung adalah sudut vertical yang diukur ke arah
bawah pada bidang vertical antara horizontal dan garis.
Kedudukan suatu bidang dinyatakan dengan strike (jurus) dan dip
(kemiringan). Juru adalah bearing dari suatu garis horizontal pada bidang miring
atau arah garis yang dibentuk oleh perpotongan bidang miring dengan bidang
horizontal. Kemiringan adalah masimum dari bidang miring atau sudut antara
bidag horizontal dan bidang miring yang diukur vertikal pada arah tegak lurus
terhadap jurus.P
Kemiringan semu adalah kemiringan bidang miring yang diukur tidak
tegak lurus terhadap jurus.

Strike

Strike

46

Sudut kemiringan (Dip) sebenarnya

sudut kemiringan (Dip)

kemiringan semu
Gambar 15. Arah strike dan Dip
1. Kekar (Joint)
Kekar adalah suatu retakan pada batuan yang sisi-sisinya tidak mengalami
pergerakan. Kekar dapat berbentuk seperti berikut :
1. Kekar pengkerutan (Shrinkage joint)
Kekar ini disebabkan oleh gaya pengkerPtan yang timbul karena
pendinginan (pada batuan beku : kekar tiang) atau pengeringan (pada
batuan sedimen). Biasanya berbentuk poligon yang memanjang.
2. Kekar lembaran (sheet joint)
Kekar yang merupakan sekumpulan klekar batuan beku. Terbentuk
karena penghilangan beban batuan karena erosi.
3. Kekar tektonik (tectonic joint )
Kekar ini terbentuk karena tektonik, berupa garis yang relatif lurus.
Secara geometris kekar in dibedakan menjadi :

Dip joint
Kekar yang jurusnya sejajar dengan arah kemiringan
lapisan batuan

47

Strike joint
Kekar yang jurusnya sejajar dengan arah jurus lapisan
batuan

Bedding joint
Kekar yang bidangnya sejajar dengan bidang perlapisan
batuan

Diagonal joint
Kekar yanf jurusnya memotong miring terhadap jurus perlapisan
ABCD
GHI
CBFE
MNO
JKL =

Bedding joint

PQR
STU

Gambar 16. Macam-macam kekar


2. Hukum V
Pola penyebaran singkapan batuan dipengaruhi oleh kemiringan lapisan
batuan topografi daerah. Hubungan antara kemiringan lapisan batuan dan
topografi daerah dirumuskan dengan Hukum V. Ada beberapa macam pola
penyebaran singkapan :

Bidang horizontal
Pola penyebaran singkapan seluruhnya mengikuti pola garis

kontur. Pola singkapan membentuk V dengan ujung ke arah hulu.

Bidang miring ke arah hulu

48

Pola penyebaran singkapan membentuk V dengan ujung ke arah


hulu. Makin besar kemiringan bidang, pola V makin membuka.

Bidang vertikal
Pola penyebaran singkapan tidak membentuk V melainkan garis

lurus yang sejajar dengan jurus lapisan memotong lembah.


Bidang miring ke arah hilir
1. Kemiringan bidang lebih besar dari pada gradien lembah
Pola penyebnaran singkapan membentuk V dengan ujung
ke arah hilir
2. Kemiringan bidang sama dengan gradien lembah
Pola penyebaran singkpan tidak memotong lembah dan tidak
membentuk V
3. Kemiringan bidang lebih kecil dari pada gradien lembah
Pola penyebaran singkapan membentuk V dengan ujung ke
arah hul

49

Lapisan horizontal

Lapisan miring ke hulu

Lapisan vertikal

Lapisan miring ke hilir

Kemiringan lapisan dan dasar


dengan lembah sama

Lapisan miring ke hilir


sudut lebih kecil dari pada
gradien lembah

Gambar 17. Pola singkapan dalam hukum V

II.6.3. Lipatan (Fold)

50

Liptan adalah penekukan pada batuan baik dalam batuan beku, sedimen,
maupun metamorf. Bila penentuan membentuk busur, lipatan disebut antiklin
(aniform). Lipatan yang membentuk palung disebut sinklin (synform). Beberapa
terminologi pada lipatan
Hinge, yaitu pelengkungan maksimum dari suatu lipatan
Crest, bagian paling tinggi suatu lipatan
Trough, bagian paling rendah dari suatu lipatan
Hinge line, garis yang menghubungkan hinge beberapa lapisan. Axis
sinonim dengan hinge jadi axial line sama dengan hinge line
Axial plane, bidang yang menghubungkan semua hinge
Crestal line, garis yang menghubungkan puncak / crest beberapa lapisan.
Crestal plane, bidang yang melalui semua crest
Trough line, garis yang menghubungakan bagian yang paling rendah dari
beberapa lapisan
Trough plane, bidang yang melalui semua trough

c dan c : crest

ab dan bc : sayap

a dan a : hinge

de : axis : hinge line

AP : axial plane (bidang tegak)

def : axial plane ( lurus gambar)

t dan t : trough
Gambar 18. Bagian pada lipatan
Macam-macam lipatan yaitu sebagai berikut :
Lipatan simetri

Lipatan asimetri

51

Overturned fold

Box fold

Recumben fold

Fan fold

Vertical isoclinal fooold

Kink banda

Inclined fold

Monocline

Recumbent isoclinalfold

Terrac

Chevron fold

Lipatan

folds)

simetri

(symmetrical

Lipatan asimetri (Asymetricalolds)

Fan folds

Vertical isoclinal

Overtuned fold

Recumbent fold

Chevron folds

52

Gambar 19. Macam-macam lipatan

Sinklin (Synform)

Antiklin (Antiform)

Gambar 20. Bentuk lipatan

3. Sesar/Patahan (Fault)
Sesar adalah retakan pada batuan yang melaluinya telah

terjadi sejumlah gerakan. Maca-macam sesar :


1.

Berdasarkan gerak relatif hanging wall dan foot wall :

Sesar turun/ normal, bila hanging wall turun


Sesar naik, bila hanging wall naik
2.

Berdasarkan ada tidaknya gerakan rotasi:

Sesar translasi, bila tidak ada gerak rotasi dari masing-masing blok,
garis-garis sejajar dari blok yang berlawanan tetap sejajar
Sesar rotasi, bila ada gerak rotasi dari blok yang satu terhadap yang
lain, garis-garis dari blok yang berlawanan menjadi tidak sejajar.
3.

Berdasarkan arah jarum jam:

Sesar kanan (righ lateral), bila bagian pada sebelah kanan


pergeserannya searah jarum jam
Sesar kiri (left lateral), bila bagian pada sebelah kanan pergeserannya
berlawanan arah jarum jam.

53

Sesa

r naik

Sesar mendatar

Sesar normal

54

Gambar 21. Macam-macam sesar

4. Ketidakselarasan (Unconformity)
Ketidakselarasan

adalah

suatu

bidang

erosi

yang

memisahkan batuan yang lebih muda dari batuan yang lebih tua. Macam-macam
ketidakselarasan :
1.

ketidakselarasan bersudut (Anguler unconformaty), kedudukan

lapisan batuan yang lebih tua menyudut terhadap yang lebih tua/ batuan bawahnya
membentuk sudut dengan batuan yang berada diatasnya.
2.

Disconformitv (Paraunconformity), kedudukan lapisan batuan yang

lebih tua sejajar dengan yang lebih muda, tetapi jelas nampak suatu bidang erosi.
3.

Nonconformity, merupakan bidang pemisah/erosi antara batuan

sedimen yang berada diatas dengan batuan kristalin (beku atau metamorf)
dibawahnya. Dimana sedimen aslinya mengalami metamorfosa dulu kemudian
pengangkatan dan pengerosian yang cukup lama sebelum sedimen diatasnya
diendapkan.

Anguler unconformity

Disconformity

55

Nonconformity

Gambar 22. Macam-macam ketidakselarasan

Kompas Azimut

Kompas Quadran
Gambar 23. Besaran sudut kompos Azimut dan Quadran

56

57

II.7.GEOMORFOLOGI

Gambarl 24. Geomorfologi Indonesia

II.7.1.Penjelasan Mineral
Dasar dari pembagian satuan geomorfologi adalah konsep bahwa
geomorfologi suatu daerah merupakan hasil dari suatu proses geologi
tersebut. Beberapa factor yang mengontrol perkembangan geomorfologi
suatu daerah adalah bentuk lahan (landform), kemiringan lereng (relief)
dan aspek struktur geologi, baik proses maupun tingkatannya ( Thomburry
, 1962)
Selain faktor-faktor diatas, batuan yang menyusun suatu daerah juga akan
memberikan bentuk geomorfologi yang berbeda, seperti factor kekerasan
dan ketahanan batuan terhadap erosi. Pada setiap satuan geomorfologi
dilakukan pengamatan yang meliputi bentuk bentang alam, litologi,
kemiringan lereng, elevasi, penggunaan lahan, pola pengaliran dan laonlain.

58

Selain itu analisa geomorfologi dilakukan dengan mengelompokan daerah


pemetaan berdasarkan kemiringan lereng, dengan menarik garis tegak
lurus kontur dan dihitung kemiringan lerengnya dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut:

S=

K
E
L
A
S
1
2
3
4
5
6
7

( n1 ) . lc
X 100
d
SLOPE (%/)

KLASIFIKASI

0-2%, /0-2
2-7%, /2-4
8-13%, /4-8
14-20%, /8-16

Pedataran
Perbukitan Landai
Perbukitan Bergelombang
Perbukitan Bergelombang
Curam
Perbukitan Curam
Perbukitan sangat Curam
Perbukitan Tegak/Terjal

21-55%, /16-35
55-140%,/ 35-55
>140%, /55

Tabel 8. Klasifikasi lereng menurut Van Zuidam (1983)

Keterangan:
S: Kemiringan lereng (%)
n : Jumlah kontur yang terpotong
lc: Interval kontur
d: Jarak mendatar sebenarnya (meter)

59

Berdasarkan

kemiringan

lereng

yang

didapat

kemudian

diklasifikasikan menurut klasifikasi kemiringan lereng dari Van Zuidam


(1983), sehingga didapat penamaan satuan geomorfologinya.

Sifat-sifat proses dan kondisi


Warna
Alamiah

KelasLereng ( Van
Zuidam,1985)

0-2 (0-2%)

2-4 (2-7%)

4-8 (7-15%)

8-16 (15-30%)

16-35(30-70%)

35-55(70-140%)

60

Datar hamper datar.


Tak ada
proses
denudasi yang berarti ( Hijau )

Agak miring.Gerakan tanah


kecepatan rendah, erosi lembar,
dan erosi alur.Rawan Erosi. (
Hijau Muda )
Miring. Sama
dengan di
atas tapi
Dengan besaran lebih tinggi.
Sangat
rawan erosi
( Kuning )
Agak curam . Banyak terjadi
gerakan
tanah(umumnya nendatan/slide
dan
erosi intensif (Jingga )
Curam, proses denudasional
intensif,
erosi dan gerakan tanah sering
terjadi (Merah Muda)
Sangat Curam, batuan dasar
mulai
tersingkap, denudasional sangat
intensif, terjadi koluviasi. (
Merah)

Curam ekstrim, batuan dasar


terseingkap, rawan jatuhan
batu, tidak ada runtuhan.

>55 (>140%)

(Ungu )

61

II.7.2.Morfologi Makro

Dibawah ini adalah beberapa bentuk morfologi permukaan karst

dalam ukuran meter sampai kilometer:

Swallow hole : Lokasi dimana aliran permukaan seluruhnya atau

sebagian mulai menjadi aliran bawah permukaan yang terdapat pada


batugamping. Swallow hole yang terdapat pada polje sering disebut ponor.
(Marjorie M. Sweeting, 1972). Pengertian ini dipergunakan untuk menandai
tempat dimana aliran air menghilang menuju bawah tanah.

Sink hole : disebut juga doline, yaitu bentukan negatif yang dengan

bentuk depresi atau mangkuk dengan diameter kecil sampai 1000 m lebih.

Vertical shaft : pada bentuk ideal, merupakan silinder dengan

dinding vertikal merombak perlapisan melawan inclinasi perlapisan.

Collapse : runtuhan

Cockpit : bentuk lembah yang ada di dalam cone karst daerah

tropik yang lembap. Kontur cockpit tidak melingkar seperti pada doline tetapi
seperti bentuk bintang dengan sisi-sisi yang identik, yang menunjukkan bahwa
formasi cone merupakan faktor penentunya.

Polje : depresi aksentip daerah karst, tertutup semua sisi, sebagian

terdiri dari lantai yang rata, dengan batas-batas terjal di beberapa bagian dan
dengan sudut yang nyata antara dasar/ lantai dengan tepi yang landai atau terjal
itu.

Uvala : cekungan karst yang luas, dasarnya lebar tidak rata :

lembah yang memanjang kadang-kadang berkelak-kelok, tetapi pada umumnya


dengan dasar yang menyerupai cawan.

Dry valley: terlihat seperti halnya lembah yang lainnya namun

tidak ada aliran kecuali kadang-kadang setelah adanya es yang hebat diikuti oleh
pencairan es yang cepat.

62

Pulau Jawa memiliki kawasan karst yang cukup spesifik yaitu karst

Gunung Sewu, dimana bentukan bukit-bukit seperti cawan terbalik (cone hill) dan
kerucut (conical hill) begitu sempurna dengan lembah-lembahnya. Bukit
merupakan residu erosi dan lembahnya adalah merupakan daerah diaman terjadi
erosi aktif dari dulu sampai sekarang. Bagian-bagian depresi atau cekungan
merupakan titik terendah dan menghilangnya air permukaan ke bawah
permukaan. Erosi memperlebar struktur (lihat geologi gua dan teori terbentuknya
gua), kekar, sesar, dan bidang lapisan, dan membentuk gua-gua, baik vertikal
maupun horisontal. Gua-gua juga dapat terbentuk karena adanya mata air karst.
Mata air (spring) karst ini ada beberapa jenis:

Bedding spring, mata air yang terbentuk pada tempat dimana

terjadi pelebaran bidang lapisan,

Fracture spring, mata air yang terbentuk pada tempat dimana

terjadi pelebaran bidang rekahan,

Contact spring, mata air yang terbentuk karena adanya kontak

antara batu gamping dan batu lain yang impermiabel.

Disamping itu secara khusus ada jenis mata air yang berada di

bawah permukaan air laut disebut dengan vrulja.


II.7.3.Morfologi mikro

Ada kawasan karst dengan sudut dip yang kecil dan permukaannya

licin. Area ini dipisah-pisahkan dalam bentuk blok-blok oleh joint terbuka, disebut
dengan grike-Bhs. Inggris, atau Kluftkarren-Bhs. Jerman. Bentukan-bentukan
minor ini dalam bahasa Jerman memiliki akhiran karren (lapies-Bhs Perancis).
Sering permukaan blok itu terpotong menjadi sebuah pola dendritic dari runnel
dengan deretan dasar (round) dipisahkan oleh deretan punggungan (ridge) yang
mengeringkannya kedalam grike terlebih dahulu. Juga terkadang mereka memiliki
profil panjang yang hampir mulus. Bentukan ini disebut Rundkarren. Tipe lain
adalah Rillenkarren yang memiliki saluran yang tajam, ujung punggungan dibatasi
oleh deretan saluran berbentuk V. Biasanya nampak pada permukaan yag lebih
63

curam daripada rundkarren, dengan saluran sub-paralel dan beberapa cabang.


Microrillenkarren merupakan bentuk gabungan tetapi hanya memiliki panjang
beberapa centimeter dan lebarnya 10-20 mm. Pseudo karren, memiliki bentuk
sama dengan rundkarren dan rinnenkarren. Tetapi hanya terjadi pada granit di
daerah tropik yang lembap.

64

II.8STRATIGRAFI

II.8.1.Pengertian Stratigrafi
Stratigrafi berasal dari kata strata (stratum) yang berarti

lapisan (tersebar) yang berhubungan dengan batuan, dan grafi (graphic) yang
berarti pemerian/ gambaran atau urut-urutan lapisan. komposisi dan umur relatif
serta distribusi peralapisan tanan dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk
menjelaskan sejarah bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antarlapisan
yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi
(litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun
absolutnya (kronostratigrafi). Jadi stratigrafi adalah ilmu yang mempelajari
pemerian perlapisan batuan pada kulit bumi. Secara luas stratigrafi merupakan
salah satu cabang ilmu geologi yang membahas tentang urut-urutan, hubungan
dan kejadian batuan di alam (sejarahnya) dalam ruang dan waktu geologi

65

Gambar 25. struktur Stratigrafi

II.8.2.Sejarah Stratigrafi

Ilmu stratigrafi muncul di Britania Raya pada abad ke-19.

Perintisnya adalah William Smith. Kala itu diamati bahwa beberapa lapisan tanah
muncul pada urutan yang sama (superposisi). Kemudian ditarik kesimpulan
bahwa lapisan tanah yang terendah merupakan lapisan yang tertua, dengan
beberapa pengecualian.

Karena banyak lapisan tanah merupakan kesinambungan yang utuh

ke tempat yang berbeda-beda maka, bisa dibuat perbandingan pada sebuah daerah
66

yang luas. Setelah beberapa waktu, dimiliki sebuah sistem umum periode-periode
geologi meski belum ada penamaan waktunya.
Stratigrafi adalah ilmu mengenai strata. Stratum adalah suatu layer

batuan yang dibedakan dari strata lain yang terletak di atas atau dibawahnya.
William Smith, Bapak stratigrafi, adalah orang yang pertama-tama menyadari
kebenaan fosil yang terkandung dalam sedimen. Sejak masa Smith, stratigrafi
terutama membahas tentang penggolongan strata berdasarkan fosil yang ada
didalamnya. Penekanan penelitian stratigrafi waktu itu diletakkan pada konsep
waktu sehingga pemelajaran litologi pada waktu itu dipandang hanya sebagai ilmu
pelengkap dalam rangka mencapai suatu tujuan yang dipandang lebih penting,
yakni untuk menggolongan dan menentukan umur batuan.
Pada tahun-tahun berikutnya, pemelajaran minyakbumi secara

khusus telah memberikan konsep yang sedikit berbeda terhadap istilah stratigrafi.
Konsep yang baru itu tidak hanya menekankan masalah penggolongan dan umur,
namun

juga

litologi.

Berikut

akan

disajikan

beberapa

contoh

yang

menggambarkan konsep-konsep tersebut di atas.

Moore (1941, h. 179) menyatakan bahwa stratigrafi adalah cabang

ilmu geologi yang membahas tentang definisi dan pemerian kelompok-kelompok


batuan, terutama batuan sedimen, serta penafsiran kebenaannya dalam sejarah
geologi.

Menurut

Schindewolf

(1954,h.24),

stratigrafi

bukan

Schichtbeschreibung, melainkan sebuah cabang geologi sejarah yang membahas


tentang susunan batuan menurut umurnya serta tentang skala waktu dari berbagai
peristiwa geologi (Schindewolf, 1960, h. 8). Teichert (1958, h. 99) menyajikan
sebuah ungkapan yang lebih kurang sama dalam mendefinisikan stratigrafi
sebagai cabang ilmu geologi yang membahas tentang strata batuan untuk
menetapkan urut-urutan kronologinya serta penyebaran geografisnya. Sebagian
besar ahli stratigrafi Perancis juga tidak terlalu menekankan komposisi batuan
sebagai sebuah domain dari stratigrafi (Sigal, 1961, h. 3).

Definisi

istilah

stratigrafi

telah

dibahas

pada

pertemuan

International Geological Congress di Copenhagen pada 1960. Salah satu


kelompok, yang sebagian besar merupakan ahli-ahli geologi perminyakan, tidak
67

menyetujui adanya pembatasan pengertian dan tujuan stratigrafi seperti yang telah
dicontohkan di atas. Bagi para ahli geologi itu, stratigrafi adalah ilmu yang
mempelajari strata dan berbagai hubungan strata (bukan hanya hubungan umur)
serta tujuannya adalah bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan mengenai
sejarah geologi yang terkandung didalamnya, melainkan juga untuk memperoleh
jenis-jenis pengetahuan lain, termasuk didalamnya pengetahuan mengenai nilai
ekonomisnya (International Subcommission on Stratigraphy and Terminology,
1961, h. 9). Konsep stratigrafi yang luas itu dipertahankan oleh subkomisi tersebut
yang, sewaktu memberikan komentar terhadap berbagai definisi stratigrafi yang
ada saat itu, menyatakan bahwa stratigrafi mencakup asal-usul, komposisi, umur,
sejarah, hubungannya dengan evolusi organik, dan fenomena strata batuan lainnya
(International Subcommission on Stratigraphy and Terminology, 1961, h. 18).

Karena berbagai metoda petrologi, fisika, dan kimia makin lama

makin banyak digunakan untuk mempelajari strata dan makin lama makin
menjadi bagian integral dari penelitian stratigrafi,

maka kelihatannya cukup

beralasan bagi kita untuk mengadopsi konsep stratigrafi yang luas sebagaimana
yang diyakini oleh subkomisi tersebut.

II.8.3. Prinsip Stratigrafi

Ada beberapa prinsip dasar yang berlaku didalam pembahasan mengenai


stratigrafi,yaitu:
1. Hukum atau prinsip yang dikemukakan oleh Steno (1669), terdiri dari:

Prinsip Superposisi (Superposition Of Strata)

68

Didalam suatu urutan perlapisan batuan maka lapisan paling

bawah relatif lebih tua umurnya daripada lapisan yang berada diatasnya selama
belum mengalami deformasi. Konsep ini berlaku untuk perlapisan berurutan.

Prinsip Kesinambungan Lateral (Lateral Continuity)


Lapisan yang diendapkan oleh air terbentuk terus-menerus

secara lateral dan hanya membaji pada tepian pengendapan pada masa cekungan
itu terbentuk.

Prinsip Akumulasi Vertikal (Original Horizontality)


Lapisan sedimen pada mulanya diendapkan dalam keadaan

mendatar (horizontal), sedangkan akumulasi pengendapannya terjadi secara


vertikal (principle of vertical accumulation).

2. Hukum yang dikemukakan oleh James Hutton (1785)

Hukum atau prinsip ini lebih dikenal dengan azasnya yaitu

uniformitarisme
yaitu proses-proses yang terjadi pada masa lampau

mengikuti hukum yang berlaku pada proses-proses yang terjadi sekarang, atau
dengan kata lain masa kini merupakan kunci dari masa lampau (the present is
the key to the past). Maksudnya adalah bahwa proses-proses geologi alam yang
terlihat sekarang ini dipergunakan sebagai dasar pembahasan proses geologi masa
lampau.

3. Hukum Intrusi/Penerobosan (Cross Cutting Relationship) oleh

AWR Potter dan H. Robinson.


Suatu intrusi (penerobosan) adalah lebih muda daripada

batuan yang diterobosnya

4. Hukum Urutan Fauna (Law of Fauna Succession) oleh De

Soulovie (1777)

Dalam urut-urutan batuan sedimen sekelompok lapisan dapat

mengandung kumpulan fosil tertentu dengan sekelompok lapisan di atas maupun


di bawahnya.

5. Prinsip William Smith (1816)

69

Urutan lapisan sedimen dapat dilacak (secara lateral) dengan

mengenali kumpulan fosilnya yang didiagnostik jika kriteria litologinya tidak


menentu.
6. Prinsip Kepunahan Organik oleh George Cuvier (1769-1832)

Dalam suatu urutan stratigrafi, lapisan batuan yang lebih

muda mengandung fosil yang mirip dengan makhluk yang hidup sekarang
dibandingkan

dengan

lapisan

batuan

yang

umurnya

lebih

tua.

Didalam penyelidikan stritigrafi ada dua unsur penting pembentuk stratigrafi


yang

perlu

di

ketahui,

yaitu:

1.Unsurbatuan
Suatu hal yang penting didalam unsur batuan adalah pengenalan dan
pemerian litologi. Seperti diketahui bahwa volume bumi diisi oleh batuan sedimen
5% dan batuan non-sedimen 95%. Tetapi dalam penyebaran batuan, batuan
sedimen mencapai 75% dan batuan non-sedimen 25%. Unsur batuan terpenting
pembentuk stratigrafi yaitu sedimen dimana sifat batuan sedimen yang berlapislapis memberi arti kronologis dari lapisan yang ada tentang urut-urutan perlapisan
ditinjau dari kejadian dan waktu pengendapannya maupun umur setiap lapisan.
Dengan adanya ciri batuan yang menyusun lapisan batuan sedimen, maka dapat
dipermudah pemeriannya, pengaturannya, hubungan lapisan batuan yang satu
dengan yang lainnya, yang dibatasi oleh penyebaran ciri satuan stratigrafi yang
saling

berhimpit,

bahkan

dapat

berpotongan

dengan

yang

lainnya.

2.UnsurPerlapisan
Unsur perlapisan merupakan sifat utama dari batuan sedimen yang
memperlihatkan bidang-bidang sejajar yang diakibatkan oleh proses-proses
sedimetasi. Mengingat bahwa perlapisan batuan sedimen dibentuk oleh suatu
proses pengendapan pada suatu lingkungan pengendapan tertentu, maka Weimer
berpendapat bahwa prinsip penyebaran batuan sedimen tergantung pada proses
pertumbuhaan

lateral

yang

didasarkan

pada

kenyataan,

yaitu

bahwa:

Akumulasi batuan pada umumnya searah dengan aliran media transport,


sehingga kemiringan endapan mengakibatkan terjadinya perlapisan selang tindih
(overlap) yang dibentuk karena tidak seragamnya massa yang diendapkannya.
70

Endapan di atas suatu sedimen pada umumnya cenderung membentuk sudut


terhadap lapisan sedimentasi di bawahnya.

II.8.4.Stratigrafi Regional

Cekungan Kutai adalah salah satu cekungan di Indonesia yang berpotensi


endapan batubara. Formasi-formasi pembawa batubara yang dijumpai di
wilayah pesisir Kalimantan Timur berada pada stratigrafi bagian atas
Cekungan Kutai ini, yakni Fm. Kampungbaru, Fm. Balikpapan dan Fm.
Pulaubalang.

Banyaknya singkapan batubara di daerah mengindikasi bahwa

endapan batubara di wilayah pesisir Kalimantan Timur memiliki potensi yang


cukup baik. Data kualitas batubara dari Kanwil Kaltim, tahun 1994 adalah
sebagai berikut: kadar air 4,4-22,1%, zat terbang 38,1-42,1%, karbon padat 34,752,0%, belerang 0,1-1,8%, abu 1,2-8,0% dan kalori 4,910-7,125 kkal/kg.

Cekungan Kutai terbentuk karena proses pemekaran pada kala

Eosen Tengah yang diikuti oleh fase pelenturan dasar cekungan yang berakhir
pada Oligosen Akhir. Peningkatan tekanan karena tumbukan lempeng
mengakibatkan

pengangkatan

dasar

cekungan

ke

arah

baratlaut

yang

menghasilkan siklus regresif utama sedimentasi klastik di Cekungan Kutai, dan


tidak terganggu sejak Oligosen Akhir hingga sekarang (Ferguson dan McClay,
1997).

Pada kala Miosen Tengah pengangkatan dasar cekungan dimulai

dari bagian barat Cekungan Kutai yang bergerak secara progresif ke arah timur
sepanjang waktu dan bertindak sebagai pusat pengendapan (Tanean, drr, 1996).
Selain itu juga terjadi susut laut yang berlangsung terus menerus sampai Miosen
Akhir. Bahan yang terendapkan berasal dari bagian selatan, barat dan utara
cekungan menyusun Formasi Warukin, Formasi Pulaubalang dan Formasi
Balikpapan.

71

Struktur utama di daerah kajian berupa antiklinorium yang berarah

utara-timur laut yang dicirikan oleh antiklin asimetris yang dipisahkan oleh
sinklin lebar yang berisi siliklastik berumur Miosen dimana jejak sumbunya
mencapai 20-50km sepanjang jurus berbentuk lurus hingga melengkung.Struktur
antiklinorium berubah secara gradual dari timur ke barat sedikit hingga tanpa
pengangkatan

sampai

pada

lipatan

kompleks/jalur

sesar

naik

dengan

pengangkatan dan erosi di bagian barat (Ferguson dan McClay, 1997).

Sedimen Tersier yang diendapkan di Cekungan Kutai di bagian

timur sangat tebal dengan fasies pengendapan yang berbeda dan memperlihatkan
siklus genang-susut laut. Urutan transgresif ditemukan sepanjang daerah tepi
cekungan berupa lapisan klastik yang berbutir kasar, juga di pantai hingga marin
dangkal.

Pengendapan pada lingkungan laut terus berlangsung hingga

Oligosen dan menandakan perioda genang laut maksimum.Secara umum dijumpai


lapisan turbidit berselingan dengan serpih laut dalam, sedangkan batugamping
terumbu ditemukan secara lokal dalam Fm. Antan. Sedangkan urutan regresif di
Cekungan Kutai mencakup lapisan klastik delta hingga paralik yang banyak
mengandung lapisan-lapisan batubara dan lignit. Siklus delta yang berumur
Miosen Tengah berkembang secara cepat ke arah timur dan tenggara. Progradasi
ke arah timur dan tumbuhnya delta berlangsung terus sepanjang waktu diselingi
oleh tahapan-tahapan genang laut secara lokal.

Pada Peta Geologi Lembar Balikpapan (Hidayat dan Umar, 1994),

endapan-endapan delta yang mengandung batubara tersebut dikenali sebagai Fm.


Tanjung, Fm. Kuaro, Fm. Warukin, Fm. Pulaubalang, Fm. Balikpapan dan Fm.
Kampung baru. Formasi-formasi yang tersebar di daerah kajian berada pada
stratigrafi bagian atas dari Cekungan Kutai yang mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:

Formasi Kampungbaru (Tpkb)

Batulempung pasiran, batupasir kuarsa, batulanau sisipan batubara,

napal, batugamping dan lignit. Ketebalannya 700-800 m, berumur Miosen Akhir

72

hingga Pliosen dan diendapkan dalam lingkungan delta dan laut dangkal. Formasi
ini terletak tidak selaras di atas Fm. Balikpapan.

Formasi Balikpapan (Tmbp)

Peselingan batupasir kuarsa, batulempung lanauan dan serpih

dengan sisipan napal, batugamping dan batubara. Tebal formasi 800 m,


berumur Miosen Tengah Atas dan diendapkan dalam lingkungan litoral-laut
dangkal. Formasi menindih selaras di atas Formasi Pulaubalang.

Formasi Pulaubalang (Tmpb)

Peselingan batupasir kuarsa, batupasir dan batulempung dengan

sisipan batubara.Tebal formasi 900 m, berumur Miosen Tengah dan


diendapkan dalam lingkungan sublitoral dangkal.

Kerangka Tektonik Regional Kalimantan Timur

Kerangka tektonik di Kalimantan Timur dipengaruhi oleh

perkembangan tektonik regional yang melibatkan interaksi antara Lempeng


Samudera Philipina, Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasian yang terjadi
sejak Jaman Kapur sehingga menghasilkan kumpulan cekungan samudera dan
blok mikro kontinen yang dibatasi oleh adanya zona subduksi, pergerakan
menjauh antar lempeng, dan sesar-sesar mayor.

73

Cekungan Kutai terbentuk karena proses pemekaran pada Kala

Eosen Tengah yang diikuti oleh fase pelenturan dasar cekungan yang berakhir
pada Oligosen Akhir. Peningkatan tekanan karena tumbukan lempeng
mengakibatkan pengangkatan dasar cekungan ke arah Barat Laut yang
menghasilkan siklus regresif utama sedimentasi klastik di Cekungan Kutai, dan
tidak terganggu sejak Oligosen Akhir hingga sekarang. Pada Kala Miosen Tengah
pengangkatan dasar cekungan dimulai dari bagian barat Cekungan Kutai yang
bergerak secara progresif ke arah Timur sepanjang waktu dan bertindak sebagai
pusat pengendapan. Selain itu juga terjadi susut laut yang berlangsung terus
menerus sampai Miosen Akhir. Bahan yang terendapkan berasal dari bagian
Selatan, Barat dan Utara cekungan menyusun FStratigrafi Regional Cekungan
Kutai

Pada Kala Miosen Tengah di Cekungan Kutai

terbentuk Formasi Warukin (Tmw) dan Formasi Kelinjau (Tmk) yang keduanya
berhubungan saling menjari dan menindih secara tidak selaras Formasi Berai
(Tomb), Montalat (Tomm), Jangkan (Tomj), Keramuan (Tomk), Purukcahu
(Tomc), Penuut (Toml) dan Gunung api Malasan (Tom).

Pada kala yang sama yakni Miosen Tengah, di

Cekungan Mahakam terbentuk Formasi Pulau Balang (Tmpb) yang disertai


kegiatan gunungapi Meragoh. Beberapa satuan batuan anggota kedua formasi ini,
secara setempat berhubungan saling menjari. Selanjutnya terbentuk lagi Formasi
Balikpapan (Tmbp) yang secara tidak selaras menindih Formasi Pulau Balang
(Tmpb) dan Formasi Batuan Gunungapi Meragoh (Tmm).

Pada Kala Miosen Akhir hingga Plistosen (Kuarter),

dalam Cekugan Kutai terjadi lagi kegiatan gunungapi Mentulang dan Bandang
(TmQm), yang menindih secara tidak selaras Formasi Warukin (Tmw) dan
Formasi Kelinjau (Tmk).

74

Pada Kala Pliosen hingga Plistosen (Kuarter), di

dalam Cekungan Mahakam terbentuk Formasi Kampungbaru (Tpkb) yang


menindih secara tidak selaras Formasi Balikpapan (Tmbp).

Pada Kala Holosen (Kuarter), di dalam Cekungan

Mahakam dan Kutai, terbentuk endapan material hasil desintegrasi, transportasi


serta denudasi berbagai macam batuan yang membentuk endapan kuarter.

Endapan kuarter tersebut adalah Aluvium Sungai

(Qa), Aluvium Rawa (Q1) serta Aluvium Pantai (Qs). Litologi batuan yang
menyusun endapan kuarter tersebut umumnya mempunyai sifat belum
terkonsolidasi, mudah lepas ikatan antar butirannya, bentuk membulat dan
kegiatannya masih terus berlangsung hingga kini.

Menurut peneliti yang lain, secara regional di daerah

Kalimantan, litologi penyusun Zona Cekungan Mahakam dan Kutai yang


tersingkap sekarang antara lain didominasi oleh Endapan Kuarter dan batuanbatuan Sedimen berumur Paleosen (Tersier Awal) hingga Plistosen atau Kuarter
Awal (W. Hamilton, 1978; Halien, 1969 dan Pupiluli, 1973 dalam Rienno Ismail,
2008).

W. Hamilton (1978) dalam Rienno Ismail (2008),

juga menyatakan bahwa secara regional, di daerah Kalimantan batuan dasarnya


yang tersingkap antara lain terdiri dari batuan sedimen, beku dan malihan serta
kombinasi dari ketiganya, yang diduga berumur Pra-Trias (Perem) pada Masa
Paleozoikum hingga Masa Mesozoikum yang berumur Kapur Akhir.

Cekungan Kutai berada di Kabupaten Kutai Kertanegara, Provinsi

Kalimantan Timur, secara geografis daerah tersebut terletak antara ( 0 o - 6 o) LU,


( 0o - 9 o) LS dan 116o30 - 116o45

Cekungan Kutai yang luasnya + 50.000 km2,

cekungan ini mulai diisi sedimen pada permulaan Tersier sampai Kuarter. Dataran
cekungan ini terus melebar ke arah Timur. Pengisisan cekungan ini dimulai dari
lingkungan laut sampai fluvial, pada pengendapan lingkungan paralik banyak
diendapkan batubara yang diselingi endapan sedimen. Pada Miosen Bawah terjadi
siklus regresi, lingkungan daratan mulai melebar ke arah TimurLaut. Di atas
75

endapan tersier diendapakan aluvium yang terdiri dari lempung, lanau dan
gambut, endapan ini mengisi bagian yang rendah.

Stratigrafi daerah Cekungan Kutai merupakan endapan-endapan

sedimen Tersier sebagai hasil dari siklus transgresi dan regresi laut dan memiliki
kesebandingan dengan cekungan Barito serta Cekungan Tarakan (Satyana et al.,
1999 dalam Rienno Ismail, 2008). Urutan transgresif dapat ditemukan dengan
baik di sepanjang daerah pinggiran cekungan tanpa endapan klastik yang berbutir
kasar dan serpih yang diendapkan pada lingkungan paralis hingga laut dangkal

Urutan regresif Cekungan Kutai mengandung endapan klastik delta

hingga paralis yang banyak mengandung lapisan batubara dan lignit.Sistem delta
yang berumur Miosen Tengah berkembang secara cepat ke arah timur dan ke arah
tenggara. Progradasi ke arah timur dan tumbuhnya delta yang terus menerus
sepanjang

waktu

diselang-selingi

oleh

fasa

transgresif

secara

lokal

(Koesoemadinata, 1978 op cit Satyana et al., 1999 dalam Rienno Ismail, 2008).
Batupasir yang terbentuk di delta plain dan delta front yang regresif berumur
Miosen Tengah merupakan reservoir di sejumlah lapangan minyak dan gas bumi
di Cekungan Kutai.

Batuan tertua yang ada di Cekungan Kutai berupa batuan metamorf

yang menjadi pembentuk batuan dasar dan berumur Paleozoikum dan


Mesozoikum (Satyana et al., 1999 dalam Rienno Ismail, 2008).Di atas batuan
dasar ini secara tidak selaras diendapkan Formasi Kiham Haloq berupa alluvial
berumur Paleosen yang terletak dekat dengan batas cekungan bagian barat (Moss
dan Chambers, 2000 dalam Rienno Ismail, 2008).Pada kala Eosen cekungan terus
mengalami pendalaman akibat pemekaran batuan dasar, sehingga terjadi peristiwa
transgresi yang mengendapkan Formasi Mangkupa berupa serpih yang
diendapkan pada lingkungan laut terbuka hingga marginal marine (Satyana et al.,
1999 dalam Rienno Ismail, 2008).

Sedimen siliklastik kasar kemudian diendapkan di atas Formasi

Mangkupa, yaitu Formasi Beriun yang berasosiasi dengan serpih pada beberapa
tempat, hal ini mengindikasikan terjadinya pengangkatan secara lokal. Setelah
pengendapan Formasi
76

Beriun, transgresi terjadi kembali dan diendapkan Formasi Atan

berupa serpih laut dalam, serta Formasi Kedango berupa batuan karbonat (Satyana
et al., 1999 dalam Rienno Ismail, 2008).

Di atas Formasi Atan dan Kedango, diendapkan Formasi Pamaluan

yang tersusun atas batulempung, serpih dengan sisipan napal, batupasir, dan
batugamping.Formasi ini terbentuk pada kala Oligosen Akhir hingga Miosen Awal
dengan lingkungan pengendapan berupa laut dalam.Formasi Pamaluan adalah fase
regresif yang berkembang di Cekungan Kutai dan mengalami progradasi secara
cepat ke arah timur (Satyana et al,. 1999 dalam Rienno Ismail, 2008).

Formasi Bebulu diendapakan di atas formasi Pamaluan secara

selaras , tersusun atas batugamping dengan sisipan lanau dan napal yang
merupakan endapan karbonat fasa regresif (Satyana et al,. 1999 dalam Rienno
Ismail, 2008). Formasi ini berumur Miosen Awal-akhir Miosen Awal dengan
lingkungan pengendapan laut dangkal (Satyana et al,. 1999 dalam Rienno Ismail,
2008).

Formasi Pulubalang diendapkan secara selaras di atas Formasi

Bebulu.Formasi ini tersusun atas perselingan graywacke dan batupasir kuarsa


dengan sisipan batugamping, batulempung, batubara, dan tuff dasit.Umur Formasi
Pulubalang adalah Miosen Tengah dengann lingkungan pengendapan darat hingga
laut dangkal (Satyana et al,. 1999 dalam Rienno Ismail, 2008).

Formasi Balikpapan terbentuk dalam lingkungan peng-endapan

delta atau litoral hingga laut dangkal terbuka, dengan kisaran umur Miosen
Tengah hingga Miosen Akhir, diduga mempunyai ketebalan formasi 1.800 m,
terdapat secara tidak selaras di bawah Formasi Kampungbaru. Terdiri dari
batupasir kuarsa, batulempung dengan sisipan batulanau, serpih, batugamping dan
batubara.Lapisan batupasir kuarsa berbutir halus sampai sedang, terpilah cukup
baik dengan kandungan mineral kuarsa sekitar 70 %, bersifat kurang padat,
bersisipan oksida besi setebal 30 cm, lignit setebal 50 cm-150 cm, dan serpih
setebal 30 cm, serta lensa-lensa batugamping setebal 10 cm - 50 cm yang bersifat
keras, pejal dan pasiran.

77

Formasi Kampung Baru diendapkan secara tidak selaras di atas

Formasi Balikpapan.Terdiri dari lapisan batupasir kuarsa bersisipan dengan


batulempung, batulanau, konglomerat aneka bahan, lignit, gambut dan oksida
besi.Lapisan batupasir kuarsa, sedikit mengandung feldspar dan karbon, berbutir
halus

sampai

menengah,

terpilah

baik,

mudah

lepas

ikatan

antar

butirannya.Lapisan batulempung tufan, berlapis tipis, terdapat alur nodul lempung


setebal 1 cm dengan inti kuarsa.Lapisan batulanau, berwarna kehijauan, setempat
berselingan dengan gambut setebal 1 cm.Konglomerat aneka bahan, bagian bawah
terdiri atas komponen basal dan kuarsa berukuran butir 0,5 cm sampai 2 cm serta
setempat mencapai 5 cm, matriks batupasir kuarsa, berstruktur perlapisan silangsiur, berlapisan; bagian atas komponen makin mengecil dan batupasir makin
menyolok serta berstruktur silang-siur.Lapisan lignit dan gambut tersebar tidak
merata dengan ketebalan mencapai 1,5 m. Oksida besi sebagai sisipan dengan
ketebalan 2 cm sampai 3 cm, dan nodul bergaris tengah 1 cm sampai 5
cm.Formasi Kampungbaru terbentuk dalam lingkungan pengendapan delta hingga
laut dangkal, dengan kisaran umur Kala Miosen Akhir sampai Plio-Pleistosen,
diduga mempunyai ketebalan formasi berkisar antara 250 m sampai 800 m.

Endapan kuarter Delta Mahakam tersusun dari pasir, lumpur,

kerikil dan endapan pantai yang terbentuk pada lingkungan sungai, rawa, pantai,
dan delta dengan hubungan yang bersifat tidak selaras terhadap batuan di
bawahnya.Endapan ini memiliki penyebaran sepanjang pantai timur dan
merupakan produk dari Delta Mahakam modern yang masih berkembang terus
hingga sekarang.

78

79

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Secara umum peta geologi didefinisikan sebagai peta yang


menggambarkan penyebaran dan batas satuan batuan atau litologi
serta menggambarkan struktur geologi suatu daerah. Dasar dari peta
geologi adalah peta topografi dalam skala kecil.
Mineral adalah suatu zat padat yang homogen yang terjadi di alam
secara alamiah dengan komposisi kimia tertentu dan memiliki
susunan atom yang teratur. Atau, Mineral dibentuk oleh proses
proses anorganik, dan mempunyai susunan kimiawi tertentu dan
suatu penempatan atom atom secara beraturan di dalamnya, atau
dikenal sebagai struktur kristal, dan ilmu yang mempelajari tentang
mineral disebut Mineralogi.
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk secara langsung dari
proses pembekuan magma, baik didalam bumi maupun diatas
permukaan bumi.Ciri khas batuan beku adalah kenampakannya yang
kristalin, yaitu kenampakan suatu massa dari unit unit kristal yang
saling mengunci kecuali yang non kristalin.
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi
material maupun biologi yang kemudian diendapkan lapis demi
lapis

pada

permukaan

bumi

pembatuan.

80

yang

kemudian

mengalami

Batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk dari perubahanperubahan oleh proses metamorfosa dari batuan yang telah ada
sebelumnya, yang mengalami perubahan komposisi

mineral,

struktur, tekstur tanpa mengubah komposisi kimia dan tanpa


melalui fase cair atau gas atau tidak mengalami perubahan.
Geomorfologi merupakan hasil dari suatu proses geologi tersebut.
Beberapa factor yang mengontrol perkembangan geomorfologi
suatu daerah adalah bentuk lahan (landform), kemiringan lereng
(relief) dan aspek struktur geologi, baik proses maupun tingkatannya
( Thomburry , 1962)
stratigrafi adalah ilmu yang mempelajari pemerian perlapisan batuan
pada kulit bumi. Secara luas stratigrafi merupakan salah satu cabang
ilmu geologi yang membahas tentang urut-urutan, hubungan dan
kejadian batuan di alam (sejarahnya) dalam ruang dan waktu
geologi

Jadi, pada dasarnya segala ilmu geologi dan ilmu-ilmu yang lain

sangat erat hubungannya karena satu dengan yang lain saling membutuhkan
didalam ilmu geologi mempelajari tentang segala seluk-beluk dari bumi juga
dengan ilmu geolo yang berkaitan dengan geologi dasar seperti: statigrafi,
geomorfologi, mineralogi, kristalografi dan Petrologi.

81

DAFTAR PUSTAKA

Fakultas Teknik,2015 .Modul Geologi Dasar,Universitas Kutai

Kartanegara

Sune,Nawir.2011.Struktur Sedimen. Gorontalo. Ung

Http://Geologiterapan.Blogspot.Com/P/Geologi.Html Http://Info

Pertambangan.Blogspot.Com/2012/10/Struktur-Geologi.Html

Http://Geologiunpad2010kel3.Blogspot.Com/2011/10/Geologi-

Struktur_7232.Html

Http://Sandrasaputra1.Blogspot.Co.Id/2012/12/Tugas-Makalah-

Geologi-Struktur.Html
Umichan, Chirigaku. 2011. Geologi Lingkungan Dan

Sumberdaya. <Http//:Umichan-Chirigaku.Blogspot.Com>

Www. Http://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Geologi Lingkungan Dan

Sumberdaya

82