Anda di halaman 1dari 4

Jalur Glikolisis dan Glukoneogenesis

Glikolisis
Glikolisis didefinisikan sebagai jalur metabolik awal di mana glukosa dipecah. Setiap
molekul glukosa dipecah menjadi dua molekul piruvat, serta dua molekul ATP, dan dua
molekul koenzim NAD. Molekul-molekul piruvat selanjutnya dipecah selama seri lain dari
reaksi metabolisme dikenal sebagai siklus Krebs.
Glikoneogenesis
Glukoneogenesis didefinisikan sebagai proses sintesis glukosa dan karbohidrat lainnya dari
tiga atau empat prekursor karbon dalam sel-sel hidup. Biasanya, prekursor ini berupa piruvat.
Glukoneogenesis terjadi terutama pada hati dan ginjal. Ia pada dasarnya merupakan kebalikan
dari glikolisis, yang melibatkan sintesis glukosa dari dua molekul piruvat. Tujuh reaksi
pertama di jalur glukoneogenesis terjadi dengan pembalikan sederhana dari reaksi yang
sesuai dalam jalur glikolisis. Namun, tidak semua reaksi reversibel dalam jalur glikolisis.
Perbedaan Glikolisis dan Glukoneogenesis
Glikolisis

Glikoneogenesis

Jalur Reaksi

Katabolik
(penguraian/pemecahan)

Anabolik (pembentukan)

Energi

Menghasilkan ATP

Membutuhkan ATP

Posisi umum terjadi reaksi

Otak dan jaringan tubuh lain

Terutama hati dan ginjal

Produk

Piruvat dan monosakarida

Gula dan polisakarida

Waktu Reaksi

Cenderung lebih cepat

Cenderung lebih lambat

2.
Enzim yang terdapat pada Glikolisis
1.

Heksokinase

Tahap pertama pada proses glikolisis adalah pengubahan glukosa menjadi glukosa 6-fosfat
dengan reaksi fosforilasi. Gugus fosfat diterima dari ATP dalam reaksi. Enzim heksokinase
merupakan katalis dalam reaksi tersebut dibantu oleh ion Mg ++sebagai kofaktor.
heksesokinase yang berasal dari ragi dapt merupakan katalis pada reaksi pemindahan gugus
fosfat dari ATP tidak hanya kepada glukosa tetapi juga kepada fruktosa, manosa,
glukosamina. Dalam otak, otot, dan hati terdapat enzim heksesokinase yang multi substrat ini.
Disamping itu ada pula enzim-enzim yang khas tetapi juga kepada fruktosa, manosa, dan
glukosamin. Dalam kinase. Hati juga memproduksi fruktokinase yang menghasilkan
fruktosa-1-fosfat.

Enzim heksesokinase dari hati dapat dihambat oleh hasil reaksi sendiri. Jadi apabila glukosa6-fosfat terbentuk dalam jumlah banyak, mak senyawa ini akan menjadi inhibitor bagi enzim
heksesokinase tadi. Selanjutnya enzim akan aktif kembali apabila konsentrasi glukosa-6fosfat menurun pada tingkat tertentu.

2.

Fosfoheksoisomerase

Reaksi berikutnya ialah isomerasi, yaitu pengubahan glukosa-6-fosfat menjadi fruktosa-6fosfat, dengan enzim fosfoglukoisomerase. Enzim ini tidak memerlukan kofaktor dan telah
diperoleh dari ragi dengan cara kristalisasi. Enzim fosfuheksoisomerase terdapat jaringan otot
dan mempunyai beraat molekul 130.000.
3.

Fosfofruktokinase

Frukrosa-6-fosfat diubah menjagi fruktosa-1,6-difosfat oleh enzim fosfofruktokinase dibantu


oleh ion Mg++ sebagai kofaktor. Dalam reaksi ini gugus fosfat dipindahkan dariATP kepada
fruktosa-6-fosfat dari ATP sendiri akan berubah menjadi ADP.
Fosfofruktokinase dapat dihambat atau dirangsang oleh beberapa metabolit, yaitu senyawa
yang terlibat dalam proses metabolism ini. Sebagai contoh, ATP yang berlebih dan asam
sitrat dapat menghambat,dilain pihak adanya AMP, ADP, dan fruktosa-6-fosfat dapat menjadi
efektor positif yang merangsang enzim fosfofruktokinase. Enzim ini merupakan suatu enzim
alosterik dan mempunyai berat molekul kira-kira 360.000.
4.

Aldose

Reaksi tahap keempat dalam rangkaian reaksi glikolisis adalah penguraian molekul fruktosa1,6-difosfat membentuk dua molekul triosa fosfat, yaitu dihidroksi aseton fosfat dan Dgliseraldehida-3-fosfat. Dalam tahap ini enzim aldolase yang menjadi katalis telah
dimurnukan dan ditemukan oleh Warburg. Enzim ini terdapat dalam jaringan tertentu dan
dapat bekerja sebagai kaalis dalam reaksi penguraian beberapa ketosa dan monofosfat,
misalnya fruktosa-1,6-difosfat, sedoheptulose-1,7- difosfat, fruktosa-1-fosfat, eritulosa-1fosfat. Hasil reaksi penguraian tiap senyawa tersebut yang sama adalah dihidroksi aseton
fosfat.
5.

Triosafosfat Isomerase

Dalam reaksi penguraian oleh enzim aldolase terbentuk dua macam senyawa, yaitu Dgliseraldehida-3-fosfat dan dihidroksi-aseton fosfat. Yang mengalami reaksi lebih lanjut
dalam proses glikolisis adalah D-gliseraldehida-3-fosfat. Andaikata sel tidak mampu
mengubah
dihidroksiasotonfosfat
menjadi
D-gliseraldehida-3-fosfat,
tentulah
dihidrosiasetonfosfat akan bertimbun didalam sel. Hal ini tidak berllangsung karena dalam sel
terdapat enzim triofosfat isomerase yang dapat mengubah dihidrokasetonfosfat menjadi Dgliseraldehida-3-fosfat. Adanya keseimbangan antara kedua senyawa tersebut dikemukakan
oleh Mayerhof dan dalam keadaan keseimbangan dihidroksiaseton fosfat terdapat dalam
jumlah dari 90%.
6.

Gliseraldehida-3-fosfat Dihidrogenase

Enzim ini bekerja sebagai katalis pada reaksi gliseraldehida-3-fosfat menjadi 1,3
difosfogliserat. Dalam reaksi ini digunakan koenzim NAD+. Sedangkan gugus fosfat
diperoleh dari asam fosfat. Reaksi oksidasi ini mengubah aldehida menjadi asam karboksilat.

Gliseraldehida-3-fosfat dehidrogenase telah dapat diperoleh dalam bentuk Kristal dari ragi
dan mempunyai berat molekul 145.000. Enzim ini adalah suatu tetramer yang terdiri atas
empat subunit yang masing-masing mengikat suatu molekul NAD +, jadi pada tiap molekul
enzim terikat empat molekul NAD+.
7.

Fosfogliseril Kinase

Reaksi yang menggunakan enzim ini ialah reaksi pengubahan asam 1,3-difosfogliserat
menjadi asam 3-fosfogliserat. Dalam reaksi ini terbentuk datu molekul ATP dari ADP dan ion
Mg2+diperlukan sebagai kofaktor. Oleh karena ATP adalah senyawa fosfat berenergi tinggi,
maka reaksi ini mempunyai fungsi untuk menyimpan energy yang dihasilkan oleh proses
glikolisis dalam bentuk ATP.
8.

Fosfogliseril Mutase

Fosfogliseril mutase bekerja sebagai katalis pada reaksipengubahan asam 3-fosfogliserat


menjadi asam 2-fosfogliserat.Enzim ini berfungsi memindahkan gugus fosfat dari suatu atom
C kepada atom C lain dalam suatu molekul. Berat molekul enzim ini yang diperoleh dari ragi
ialah 112.000.
9.

Enolase

Reaksi berikutnya ialah pembentukan asam fosfofenol piruvat dari asaam 2-fosfogliserar
dengan katalis enzim enolase dan ion Mg 2+ sebagai kofaktor. Reaksi pembentukkan asam
fosfofenol piruvat ini ialah pembentukan asam fosfofenol piruvat dari asaam 2-fosfogliserar
dengan katalis enzim enolase dan ion Mg 2+ sebagai kofaktor. Reaksi pembentukkan asam
fosfofenol piruvat ini ialah reaksi dehidrasi. Adanya ion F - dapat menghambat kerja enzim
enolase, sebab ion F- dengan ion Mg2+dan fosfat dapat membentuk kompleks magnesium
fluoro fosfat. Dengan terbentuknya kompleks ini akan mengurangi jumlah ion Mg 2+ dalam
campuran reaksi dan akibat berkurangnya ion Mg2+maka efektivitas reaksi berkurang.
Enzim ini menggunakan enzim laktat dehidrogenase ini ialah reaksi tahap akhir glikolisis,
yaitu pembentukan asam laktat dengan cara reduksi asam piruvat. Dalam reaksi ini digunakan
NAD sebagai koenzim (Anna Poedjiadi, 1994)
Enzim yang terdapat pada Glukoneogenesis
Enzim yang terdapat pada proses Glukoneogenesis disebut Enzim glikolitik
yang terdiri dari glukokinase, fosfofruktokinase, dan piruvat kinase yang
berfungsi untuk mengkatalisis reaksi yang ireversibel sehingga tidak
dapat digunakan untuk sintesis glukosa.
-

Glukokinase
Glukosa + ATP Glukosa-6-fosfat + ADP

Fosfofruktokinase
Fruktosa-6-fosfat + ATP Fruktosa-1,6-difosfat + ADP

Piruvatkinase
Fosfenol piruvat + ADP Asam piruvat + ATP

Dengan adanya tiga tahap reaksi yang tidak reversibel tersebut, maka
proses glukoneogenesis berlangsung melalui tahap reaksi lain.
Reaksi tahap pertama glukoneogenesis merupakan suatu reaksi kompleks
yang melibatkan beberapa enzim dan organel sel (mitokondrion), yang
diperlukan untuk mengubah piruvat menjadi malat sebelum terbentuk
fosfoenolpiruvat.
Tiga

reaksi

pengganti

yang

pertama

mengubah

piruvat

menjadi

fosfoenolpiruvat (PEP), jadi membalik reaksi yang dikatalisis oleh piruvat


kinase. Perubahan ini dilakukan dalam 4 langkah:
1.

Piruvat

oksaloasetat.

mitokondria
Reaksi

ini

mengalami
memerlukan

dekarboksilasi
ATP

(adenosin

membentuk
trifosfat)

dan

dikatalisis oleh piruvat karboksilase. Seperti banyak enzim lainnya yang


melakukan reaksi fiksasi CO2, pada reaksi ini memerlukan biotin untuk
aktivitasnya.
2. Oksaloasetat direduksi menjadi malat oleh malat dehidrogenase
mitokondria. Pada reaksi ini, glukoneogenesis secara singkat mengalami
overlap (tumpang tindih) dengan siklus asam sitrat.
3. Malat meninggalkan mitokondria dan dalam sitoplasma dioksidasi
membentuk kembali oksaloasetat.
4. Oksaloasetat sitoplasma mengalami dekarboksilasi membentuk PEP
pada reaksi yang tidak memerlukan GTP (guanosin trifosfat) yang
dikatalisis oleh PEP karboksikinase.
Reaksi pengganti kedua dan ketiga dikatalisis oleh fosfatase. Fruktosa-1,6bisfosfatase mengubah fruktosa-1,6-bisfosfat menjadi fruktosa-6-fosfat,
jadi membalik reaksi yang dikatalisis oleh fosfofruktokinase. Glukosa-6fosfatase

yang

ditemukan

pada

permulaan

metabolisme

glikogen,

mengkatalisis reaksi terakhir glukoneogenesis dan mengubah glukosa-6fosfat menjadi glukosa bebas.