Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KEGIATAN

F 4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

MANAJEMEN GIZI PADA IBU HAMIL


DENGAN MALNUTRISI

Disusun Oleh:
dr. Fitri Prawitasari

Puskesmas Salatiga
Periode November 2015-Maret 2016
Internsip Dokter Indonesia Kota Salatiga
Periode November 2015-Oktober 2016

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Usaha Kesehatan Masysrakat

Laporan F4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat


Topik :
Manajemen Gizi pada Ibu Hamil dengan Malnutrisi

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter internsip


sekaligus sebagai bagian dari persyaratan menyelesaikan program internsip dokter
Indonesia di Puskesmas Kota Salatiga

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal

Maret 2016

Mengetahui,
Dokter Internship,

dr. Fitri Prawitasari

Dokter Pendamping

dr. Galuh Ajeng Hendrasti


NIP. 19821014 201001 2 017

A. LATAR BELAKANG
Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia,
kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan

perkembangan kecerdasan, menurunkan produktivitas kerja serta daya tahan


tubuh yang berakibat meningkatkan kesakitan dan kematian. Kecukupan gizi
sangat diperlukan oleh individu, sejak janin masih di dalam kandungan. Ibu
hamil menjadi kelompok yang rentan karena membutuhkan gizi yang cukup
sehingga harus dijaga status gizi dan kesehatannya agar dapat melahirkan
bayi yang sehat (Depkes RI, 2002). Sampai saat ini masih banyak ibu hamil
yang mengalami masalah gizi, khususnya gizi kurang seperti anemia maupun
kekurangan energi kronik (KEK) sehingga mempunyai kecenderungan
melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Kekurangan gizi pada ibu
hamil menyebabkan meningkatkan risiko dan komplikasi antara lain
perdarahan, kesulitan dalam persalinan sehingga terjadi persalinan lama,
prematuritas, perdarahan setelah persalinan, bahkan kematian ibu.
WHO melaporkan bahwa setengah ibu hamil mengalami anemia, secara
global 55% dimana secara bermakna trimester III lebih tinggi mengalami
anemia dibandingkan dengan trimester I dan II. Masalah ini disebabkan
kurangnya defesiensi zat besi dengan defisiensi zat gizi lainnya. Di negara
yang berkembang termasuk Indonesia masalah gizi masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang utama dan merupakan penyebab kematian wanita.
Tidak dapat dipungkiri lagi dari masa kehamilan menjadi saat yang paling
berbahaya bagi wanita dalam hidupnya. Di Indonesia prevalensi anemia tahun
1970-an, wanita hamil sekitar 46,5-70% pada Survey Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) tahun 1992 dengan angka anemia ibu hamil sebesar 63,5%
sedangkan data SKRT turun menjadi 50,9%. Pada tahun 1999 didapatkan
anemia gizi pada ibu hamil sebesar 39,5%, tahun 2001, didapatkan anemia zat
gizi pada ibu hamil mencapai 40,1%, banyak faktor yang terkait dengan status
anemia ibu hamil yaitu status sosial ekonomi, serta perolehan tablet zat besi
(Fe). Selain itu di daerah pedesaan banyak dijumpai ibu hamil dengan
malnutrisi atau kekurangan gizi sekitar 33%.
Di Salatiga, khususnya di Puskesmas Kalicacing masih banyak ibu hamil
yang kekurangan nutrisi yang juga sangat penting untuk pertumbuhan janin

di dalam kandungan. Data tahun 2015 menunjukkan banyak ibu hamil yang
mengalami anemia (terdapat 34 ibu hamil dengan anemia dan 11 ibu hamil
dengan KEK). Batasan untuk anemia pada kehamilan sendiri adalah di
bawah atau sama dengan 11 g% pada trimester pertama dan ketiga, serta 10,5
g% pada trimester kedua, sedangkan KEK diukur dari penghitungan lingkar
lengan atas (LILA) ibu hamil, yaitu di bawah 23,5 cm. Deteksi LILA di
bawah 23,5 cm mencerminkan kekurangan energi dan protein dalam intake
makanan sehari-hari, yang biasanya juga diiringi dengan kekurangan zat
energi yang lain. Selain itu terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa ibu
hamil yang menderita KEK berpeluang besar mengalami anemia (Darlina,
2003).

B. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
Di Puskesmas Kalicacing, sudah banyak ibu hamil yang melakukan
kunjungan antenatal care (ANC) secara rutin. Namun, meskipun demikian,
masih banyak ibu hamil yang berada dalam kondisi malnutrisi. Banyak di
antaranya yang mengalami anemia maupun kekurangan energi kronis
(KEK). Hal tersebut dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, antara lain
faktor pendidikan, sosial ekonomi, usia ibu saat mengandung, paritas, dan
lain sebagainya. Di Puskesmas Kalicacing sendiri juga banyak ibu hamil
dengan risiko tinggi yaitu usia di atas 35 tahun yang mengalami anemia.
Selain itu, terdapat juga pasien ibu hamil usia di bawah 20 tahun yang LILA
di bawah 23,5 cm.
Kurangnya pengetahuan masyarakat, khususnya ibu hamil itu sendiri,
akan pentingnya nutrisi pada ibu hamil menjadi salah satu faktor penting.
Tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah tersebut menyebabkan ibu
tidak mengerti cara pemenuhan nutrisi yang dibutuhkan ibu selama
kehamilannya. Mereka cenderung mengkonsumsi makanan yang tidak
memenuhi syarat gizi yang dianjurkan, padahal kebutuhan gizi ibu hamil

meningkat. Selain itu, karena rasa mual dan muntah yang dialami ibu hamil
menyebabkan nafsu makan menurun sehingga ibu malas makan dan nutrisi
yang dibutuhkan tidak tercukupi dengan baik.
C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
1. Kegiatan
Strategi atau pendekatan yang ditempuh yaitu melalui konseling, informasi
serta edukasi (KIE).
2. Menentukan Sasaran
Sasaran adalah pasien ibu hamil dengan malnutrisi
3. Menetapkan Tujuan
Tujuan umum adalah terciptanya perilaku hidup sehat pada ibu hamil
dengan keadaan status gizi yang baik. Tujuan khusus adalah memberikan
penjelasan yang lebih rinci tentang masalah anemia dan KEK, serta
penatalaksanaannya terutama dari segi asupan diet.
4. Penanggung Jawab
Penanggung jawab dari kegiatan ini terdiri dari dokter internsip dan
pemegang program gizi dan KIA di Puskesmas Kalicacing.
D. PELAKSANAAN
1. Waktu Pelaksanaan
Hari

: Rabu, 10 Februari 2016

Jam

: 08.00 WIB

Tempat: Puskesmas Kalicacing


2. Metode Intervensi
a. Melakukan anamnesis.
b. Melengkapi pemeriksaan vital sign dan fisik terhadap pasien.
c. Edukasi pasien mengenai gizi pada ibu hamil, serta dampak yang
ditimbulkan bila mengalami malnutrisi
3. Data Dasar Pasien
Nama

: Ny. E

Usia

: 44 tahun

Paritas

: G4P3A0

Alamat

: Dukuh RT 03/ RW 05

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Nama Suami : Tn. S


4. Anamnesis
Pasien datang ke puskesmas untuk melakukan ANC. Saat datang,
pasien hanya mengeluh tubuhnya lemas. Lemas dirasakan di seluruh
tubuh. Keluhan ini dirasakan terus menerus tetapi memberat 1 hari ini.
Pasien mengaku belum pernah mengalami sakit kronis, misalnya batuk
yang lama, penyakit keganasan, maupun sakit gula. Pasien juga belum
pernah mengalami perdarahan yang hebat. Selama ini pasien tidak
memperhatikan asupan nutrisinya. Pasien mengaku hanya makan makanan
seadanya saja. Pasien jarang memakan sumber protein maupun zat besi
seperti daging merah maupun ikan. Pasien lebih sering mengonsumsi tahu
tempe dan terkadang sayuran. Pasien merupakan seorang ibu rumah
tangga yang tinggal dengan suami dan ketiga anaknya.
5. Riwayat Obstetri
HPHT

: 23 Juli 2015

HPL

: 30 April 2016

Usia Kehamilan

: 28 +6 minggu

6. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat serupa

: disangkal

Riwayat HT

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat penyakit jantung : disangkal


Riwayat konsumsi obat rutin : disangkal
7. Riwayat Haid

Menarche

: usia 12 tahun

Siklus haid

: 30 hari

Lama haid

: 6 hari

8. Pemeriksaan Fisik dan Status Gizi


Pemeriksaan antropometri
Berat badan 54
Tinggi badan 158 cm
BMI 21,6
LILA 25 cm
Pemeriksaan Fisik
Vital sign
Tekanan darah
: 110/70 mmHg
Respiration rate
: 18x/menit
Heart rate
: 84x/menit
Kepala
Mata
: SI (-/-) , CA (+/+)
Hidung
: discharge (-)
Mulut
: sianosis (-)
Leher
: JVP dbn, limfonodi (-)
Thorax
Inspeksi : simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi (-), jejas (-)
Palpasi
P/ taktil fremitus kanan = kiri, nyeri tekan (-)
C/ ictus cordis di SIC V LMCS
Perkusi
P/ Sonor
C/ Cardiomegali (-)
Auskultasi
P/ vesikular +/+, ST (-)
C/ S1-2 murni, irreguler, bising (-)

Status Obstetri
Abdomen

Inspeksi : cembung di bagian perut bawah/ di atas


sympisis pubis, striae gravidarum (-)

Palpasi : TFU = 29 cm , Ballotement = (-)

Auskultasi : DJJ (+)

Genitalia

Eksterna : air ketuban (-), Lendir darah (-),vulva oedem


(-), pus (-), ulcus (-)

Interna : tidak dilakukan

Ekstremitas
Udem --/- Akral dingin
9. Pemeriksaan Laboraturium
Hemoglobin = 9,8 gr%
10. Diagnosis
Wanita G4P3A0 uk 28 minggu dengan anemia
11. Terapi
-

Sulfas ferosus tab 2 x 200 mg

Vitamin C tab 2 x 100 mg

12. Materi Edukasi


Status gizi ibu hamil yang sangat mempengaruhi pertumbuhan janin
dalam kandungan, merupakan hal yang harus diperhatikan dan
pemantauan hal tersebut perlu dilakukan. Penataan gizi pada ibu hamil
bertujuan untuk menyiapkan cukup kalori, protein, vitamin, dan mineral.
Makanan padat kalori lebih banyak membentuk jaringan tubuh.
Perencanaan pertambahan gizi yang baik memungkinkan ibu hamil untuk
memenuhi dan mempertahankan status gizi optimal sehingga menjalani
kehamilan dengan aman dan berhasil yang berdampak baik bagi bayi.
Selain itu perawatan gizi dapat membantu pengobatan yang terjadi selama
kehamilan.
Anjuran jumlah tambahan kebutuhan gizi menurut organisasi
kesehatan dunia (WHO) sebesar 150 kkal sehari pada trimester pertama,
350 kkal pada trimester kedua dan ketiga. Pertambahan berat pada
trimester pertama sebaiknya 1-2

kg tiap minggu, sementara trimester

kedua dan ketiga sekitar 0, 34-0, 50 kg setiap minggu. Meskipun begitu,


pertambahan berat kumulatif wanita pendek sekitar 8, 8-13, 6 kg mereka
yang hamil kembar dibatasi sekitar 15, 4-20, 4 kg dan yang memiliki
berat badan berlebih pertambahan berat diperlambat
kg/minggu. Kebutuhan protein wanita hamil

sampai 0, 3

juga meningkat bahkan

mencapai 68% dari sebelum hamil. Jumlah protein yang harus tersedia
sampai akhir kehamilan diperkirakan sebanyak 925 g

yang tertimbun

dalam jaringan ibu, plasenta, serta janin. Bahan pangan yang dijadikan
sumber protein sebaiknya pangan yang bernilai biologi tinggi seperti
daging tak berlemak, ikan, telur, susu dan hasil olahannya.

Zat gizi
Kalori
(energy)

Wanita tidak
hamil

Kecukupan gizi yang dianjurkan


Wanita
Alasan peningkatan kebutuhan zat gizi dalam
hamil

Kerja
Ringan : 1900

+285

Sedang : 2100

+285

Berat : 2400

+285

kehamilan
1. Peningkatan rata-rata metabolic basal
(BMR)
2. Pertambahan kebutuhan
3. Sparing protein (simpanan protein)

Mineral
Protein

44 kg

+12 g

1. Bagi pertumbuhan janin, plasenta cairan


amnion, jaringan, uterus mamma, volume
darah bertambah : hemoglobin dan
plasma darah
2. Cadangan maternal untuk vartus dan

Kalsium

500g

+400 g

laktasi
Pembentukan tulang dan gigi, janin serta

Fosfor

450mg

+200mg

peningkatan metabolisme kalsium ibu


Pembentukan tulang, gigi, janin serta

Besi (Fe)

26mg

+20mg

peningkatan metabolism fosfor ibu


1. Peningkatan sirkulasi, darah ibu
bertambah, hemoglobin bertambah
2. Cadangan besi untuk janin
8

Yodium

150g

+25g

3. Cadangan vartus dan menyusui


1. Metabolic basal meningkat

magnesium

300mg

+150mg

2. Produksi tiroksin meningkat


1. Koenzim untuk metabolisme energy dan
protein
2. Activator enzyme
3. Pertumbuhan jaringan dan metabolisme sel

Zn (seng)

15mg

+5mg

4. Funsi otot optimal


1. Mencegah kelainan konginetal
2. Bagi perkembangan otak normal

Vit. A

500 RE

200 RE

3. Mencegah retardasi pertumbuhan janin


1. Essensial untuk tumbuh, sel
2. Pertumbuhan tulang dan gigi

Vit D
Vit C

200-400 IU
30 mg

+200 IU

3. Mencegah kelainan bawaan


1. Perbaikan absorbsi kalsium dan fosfor

+10mg

2. Proses mineralisasi tulang dan gigi


1. Pembentukan dan integrasi jaringan
2. Zat semen dalam jaringan ikat dan
vaskuler

Asam folat

150g

+150 g

3. Peningkatan penyerapan besi


1. Peningkatan kebutuhan metabolic
2. Mencegah anemia megaloblastik
3. Produksi heme untuk hemoglobin

Niasin
Riboflavin

9,3mg
1,0mg

+1,3mg

4. Produksi materi sel inti (RNA-DNA)


Koenzim untuk metabolisme energy dan

+0,2 mg

protein
Ko-enzim untuk metabolism energy dan

Thiamin

0,9 mg

+0,2 mg

protein
Ko-enzim untuk metabolism energi dan

Pyiridoksin

2,0 mg

+0,6 mg

protein
1. Ko-enzim untuk metabolism protein

Vit B12

1,0 mg

+0,3 mg

2. Pertumbuhan janin
1. Ko-enzim untuk metabolism asam nuklet
dan protein
2. Pembentukan sel darah merah
9

Pada kehamilan trimester I biasanya nafsu makan kurang dan sering timbul
rasa mual dan ingin muntah, namun makanan ibu hamil harus tetap diberikan
makanan dengan porsi kecil teteapi sering dan yang segar-segar seperti susu, telur,
buah, atau makanan ringan lainnya misalnya biskuit, crackers dan sebaginya
sesuai dengan selera ibu.
Pada kehamilan trimester II nafsu makan biasanya sudah meningkat.
Kebutuhan akan zat gizi tenaga seperti nasi, roti, singkong, gula, minyak, santan
dan lain-lain lebih banyak disbandingkan kebutuhan saat tidak hamil. Dengan
demikian kebutuhan zat pembangun dan pengatur juga ikut meningkat seperti
lauk-pauk, sayur-mayur dan buah-buahan.
Konseling yang diberikan:
Makan makanan yang bervariasi
Mengkonsumsi suplemen harian yang sudah diberikan oleh tenaga
medis di puskesmas
Hindari diet untuk menurunkan berat badan, substansi berbahaya
(alkohol, rokok, obat-obatan), konsumsi lemak, garam, kafein, gula
dan pemanis buatan secara berlebihan
Makan makanan yang matang dan perhatikan higienitas makanan
Asupan cairan/air lebih banyak dan hindari minuman bersoda serta
soft drinks
Makanan dapat diberikan porsi kecil tapi sering
Susunan makanan sehari hari diusahakan selalu seimbang, makanan
terdiri dari:
o Sumber zat tenaga : nasi, kentang, roti
o Sumber zat pembangun : daging, ikan, susu, telur, tahu tempe
o Sumber zat pengatur : sayuran dan buah- buahan
Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah :
o Cabe
o Makanan berlemak
o Makanan mengandung gas ( durian, nanas, nangka )
o Makanan mengandung alcohol ( tape )
Disamping makanan seimbang perlu gerak badan dan udara segar
Memeriksakan kesehatan ibu secara teratur
10

Jaga kenaikan berat badan ibu, jangan sampai berlebihan


o Normal
: 12 17 Kg
o Underweight
: 10 12 Kg
o Overweight/obese : 17 22 Kg
o Kembar
: 17 22 Kg
Selama hamil, sebaiknya ibu tidak melakukan pekerjaan yang berat
Selain itu juga diberikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT)

E. HASI
L
DAN

KESIMPULAN
Permasalahan gizi yang ada pasien ini adalah bahwa pasien mengalami
anemia (Hb 9,8 gr%) dalam kehamilan keempat ini. Dari riwayat asupan

11

gizinya, dinilai sangat mungkin untuk menyebabkan anemia yang dapat


berakibat pada pertumbuhan janin. Tujuan utama dari diet gizi pada pasien ini
adalah untuk memenuhi zat gizi agar tidak terjadi anemia maupun malnutrisi.
Evaluasi pada pasien dapat dilakukan saat pasien kembali lagi ke
puskesmas untuk melakukan ANC dan dilihat apakah terdapat kemajuan dari
penatalaksanaan awal yang diberikan. Pemantauan LILA, pertambahan berat
badan ibu, kadar Hb pada ibu hamil dilakukan pada saat setiap kunjungan.
F. TINJAUAN PUSTAKA
Definisi anemia dalam kehamilan
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin
di bawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar hemoglobin < 10,5 gr%
pada trimester II ( Depkes RI, 2009 ). Anemia adalah kondisi dimana sel
darah merah

menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas

daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin
menjadi berkurang. Selama

kehamilan, indikasi anemia adalah jika

konsentrasi hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl


(Varney, 2006).
Anemia Defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan
zat besi dalam darah, artinya konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang
karena terganggunya pembentukan sel-sel darah merah akibat kurangnya
kadar zat besi dalam darah. Jika simpanan zat besi dalam tubuh seseorang
sudah sangat rendah

berarti orang tersebut mendekati anemia walaupun

belum ditemukan gejala-gejala fisiologis. Simpanan zat besi yang sangat


rendah lambat laun tidak akan cukup untuk membentuk sel-sel darah merah
di dalam sumsum tulang sehingga kadar

hemoglobin terus menurun di

bawah batas normal, keadaan inilah yang disebut

anemia gizi besi

( Masrizal, 2007). Menurut Evatt dalam Masrizal ( 2007) anemia defisiensi


besi adalah

anemia yang disebabkan oleh berkurangnya cadangan besi

tubuh. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya saturasi transferin,

12

berkurangnya kadar feritin serum atau hemosiderin sumsum tulang. Secara


morfologis keadaan ini diklasifikasikan sebagai anemia mikrositik hipokrom
disertai penurunan kuantitatif pada sintesis hemoglobin. Defisiensi besi
merupakan penyebab utama anemia. Wanita usia subur sering mengalami
anemia, karena kehilangan darah

sewaktu menstruasi dan peningkatan

kebutuhan besi sewaktu hamil.


Penyebab anemia pada ibu hamil
Penyebab anemia umunya adalah kurang gizi, kurang zat besi,
kehilangan darah saat persalinan yang lalu, dan penyakit penyakit kronik
(Mochtar, 2004).

Dalam kehamilan penurunan

dijumpai selama

kehamilan

keperluan zat makanan

kadar hemoglobin yang

disebabkan oleh karena dalam kehamilan

bertambah dan terjadinya perubahan-perubahan

dalam darah : penambahan volume plasma yang relatif lebih besar daripada
penambahan massa hemoglobin

dan volume sel darah merah. Darah

bertambah banyak dalam kehamilan yang

lazim disebut hidremia atau

hipervolemia. Namun bertambahnya sel-sel darah

adalah kurang jika

dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran


darah. Di mana pertambahan tersebut adalah sebagai berikut : plasma 30%,
sel darah 18%, dan hemoglobin 19%. Pengenceran darah dianggap sebagai
penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi
wanita hamil tersebut. Pengenceran ini meringankan beban jantung yang
harus

bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat

hipervolemia tersebut, keluaran jantung (cardiac output) juga meningkat.


Kerja jantung ini lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi
perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik (Wiknjosastro,
2005 ).
Selama hamil volume darah meningkat 50 % dari 4 ke 6 L, volume
plasma meningkat sedikit menyebabkan penurunan konsentrasi Hb dan nilai
hematokrit. Penurunan ini lebih kecil pada ibu hamil yang mengkonsumsi zat
besi. Kenaikan volume darah berfungsi untuk memenuhi kebutuhan perfusi

13

dari uteroplasenta. Ketidakseimbangan antara kecepatan penambahan plasma


dan penambahan eritrosit ke dalam sirkulasi ibu biasanya memuncak pada
trimester

kedua. Seringnya ibu hamil mengkonsumsi makanan yang

mengandung zat yang menghambat penyerapan zat besi seperti teh, kopi,
kalsium. Wanita hamil cenderung terkena anemia pada triwulan III karena
pada masa ini janin

menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri

sebagai persediaan bulan

pertama setelah lahir (Sin sin, 2008).

Pada

penelitian Djamilus dan Herlina (2008) menunjukkan adanya kecenderungan


bahwa semakin kurang baik pola makan, maka akan semakin tinggi angka
kejadian anemia.
Faktor umur merupakan faktor risiko kejadian anemia pada ibu hamil.
Umur seorang ibu berkaitan dengan alat alat reproduksi wanita. Umur
reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20 35 tahun. Kehamilan
diusia < 20 tahun dan diatas 35 tahun dapat menyebabkan anemia karena
pada kehamilan di usia < 20 tahun secara biologis belum optimal emosinya
cenderung labil, mentalnya belum matang sehingga mudah mengalami
keguncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pemenuhan
kebutuhan zat zat gizi selama kehamilannya. Sedangkan pada usia > 35
tahun terkait dengan kemunduran dan penurunan daya tahan tubuh serta
berbagai penyakit yang sering menimpa diusia ini. Hasil penelitian
didapatkan bahwa umur ibu pada saat hamil sangat berpengaruh terhadap
kajadian anemia (Amirrudin dan Wahyuddin, 2004).

Gejala Anemia pada Ibu Hamil


Ibu hamil dengan keluhan lemah, pucat, mudah pingsan, dengan tekanan
darah dalam batas normal, perlu dicurigai anemia defisiensi besi. Dan secara
klinis dapat dilihat tubuh yang pucat dan tampak lemah (malnutrisi). Guna
memastikan seorang ibu menderita anemia atau tidak, maka dikerjakan
pemeriksaan kadar Hemoglobin dan pemeriksaan darah tepi. Pemeriksaan

14

Hemoglobin dengan spektrofotometri merupakan standar ( Wiknjosastro,


2005).
Proses kekurangan zat besi sampai menjadi anemia melalui beberapa
tahap: awalnya terjadi penurunan simpanan cadangan zat besi dalam bentuk
fertin di hati, saat konsumsi zat besi dari makanan tidak cukup, fertin inilah
yang diambil. Daya serap zat besi dari makanan sangat rendah, Zat besi pada
pangan hewan lebih tinggi penyerapannya yaitu 20 30 % sedangkan dari
sumber nabati 1-6 %. Bila terjadi anemia, kerja jantung akan dipacu lebih
cepat untuk memenuhi kebutuhan O2 ke semua organ tubuh, akibatnya
penderita sering berdebar dan jantung cepat lelah. Gejala lain adalah lemas,
cepat lelah, letih, mata berkunang kunang, mengantuk, selaput lendir ,
kelopak mata, dan kuku pucat (Sin sin, 2008).
Pengaruh anemia terhadap kehamilan
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik
dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulitpenyulit yang dapat timbul akibat anemia adalah : keguguran (abortus),
kelahiran prematur, persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di
dalam berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca melahirkan karena tidak
adanya kontraksi otot rahim (atonia uteri), syok, infeksi baik saat bersalin
maupun pasca bersalin, serta anemia yang berat (<4 gr%) dapat menyebabkan
dekompensasi kordis. Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan
kematian ibu pada persalinan (Wiknjosastro, 2005; Saifudin, 2006).
Pengaruh anemia pada kehamilan. Risiko pada masa antenatal: berat
badan kurang, plasenta previa, eklamsia, ketuban pecah dini, anemia pada
masa intranatal dapat terjadi tenaga untuk mengedan lemah, perdarahan
intranatal, shock, dan masa pascanatal dapat terjadi subinvolusi. Sedangkan
komplikasi yang dapat terjadi pada neonatus : premature, apgar scor rendah,
gawat janin. Bahaya pada Trimester II dan trimester III, anemia dapat
menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan ante partum, gangguan
pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai kematian,

15

gestosis dan mudah terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga


kematian ibu (Mansjoer dkk., 2008 ).
Bahaya anemia pada ibu hamil saat persalinan, dapat menyebabkan
gangguan his primer, sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan
tindakan-tindakan tinggi karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan
persalinan perlu tindakan operatif (Mansjoer dkk., 2008). Anemia kehamilan
dapat menyebabkan kelemahan dan kelelahan sehingga akan mempengaruhi
ibu saat mengedan untuk melahirkan bayi.
Bahaya anemia pada ibu hamil saat persalinan: gangguan his-kekuatan
mengejan, Kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar, Kala II
berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan
operasi kebidanan, Kala III dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan
post partum akibat atonia uteri, Kala IV dapat terjadi perdarahan post partum
sekunder dan atonia uteri. Pada kala nifas : Terjadi subinvolusi uteri yang
menimbulkan perdarahan post partum, memudahkan infeksi puerperium,
pengeluaran ASI berkurang, dekompensasi kordis mendadak setelah
persalinan, anemia kala nifas, mudah terjadi infeksi mammae

(Saifudin,

2006).
Budwiningtjastuti dkk. ( 2005) melakukan penelitian anemia pada ibu
hamil tri wulan III dan pengaruhnya terhadap kejadian rendahnya
Apgar, didapatkan hasil bahwa ibu hamil dengan anemia

Scor

< 11 gr %

meningkatkan risiko rendahnya scor Apgar. Hasil penelitian Karafsahin et al.


(2007) menunjukkan bahwa ibu hamil dengan anemia , empat kali lebih
berisiko

melahirkan bayi premature dan 1.9 kali berisiko melahirkan bayi

berat lahir rendah (BBLR) dari pada ibu hamil yang tidak anemia.
Pencegahan dan Penanganan Anemia dalam Kehamilan
Pencegahan anemia pada ibu hamil dapat dilakukan antara lain dengan
cara: meningkatkan konsumsi zat besi dari makanan, mengkonsumsi pangan
hewani dalam jumlah cukup, namun karena harganya cukup tinggi sehingga
masyarakat sulit menjangkaunya. Untuk itu diperlukan alternatif yang lain

16

untuk mencegah anemia gizi besi, memakan beraneka ragam makanan yang
memiliki zat gizi saling melengkapi termasuk vitamin yang dapat
meningkatkan penyerapan zat besi, seperti vitamin C. Peningkatan konsumsi
vitamin C sebanyak 25, 50, 100 dan 250 mg dapat meningkatkan penyerapan
zat besi sebesar 2, 3, 4 dan 5 kali. Buah-buahan segar dan sayuran sumber
vitamin C, namun dalam proses pemasakan 50 - 80 % vitamin C akan rusak.
Mengurangi konsumsi makanan yang bisa menghambat penyerapan zat besi
seperti : fitat, fosfat, tannin (Wiknjosastro,2005 ; Masrizal, 2007).
Penanganan anemia defisiensi besi adalah dengan preparat besi yang
diminum (oral) atau dapat secara suntikan (parenteral). Terapi oral adalah
dengan pemberian preparat besi : fero sulfat, fero gluconat, atau Na-fero
bisitrat. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1
gr% per bulan. Sedangkan pemberian preparat parenteral adalah dengan ferum
dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 210 ml secara
intramuskulus, dapat meningkatkan hemoglobin relatif cepat yaitu 2gr%.
Pemberian secara parenteral ini hanya berdasarkan indikasi, di mana terdapat
intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan
kepatuhan pasien yang buruk. Pada daerah-daerah dengan frekuensi kehamilan
yang tinggi dan dengan tingkat pemenuhan nutrisi yang minim, seperti di
Indonesia, setiap wanita hamil haruslah diberikan sulfas ferosus atau glukonas
ferosus sebanyak satu tablet sehari selama masa kehamilannya. Selain itu
perlu juga dinasehatkan untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran
yang mengandung banyak mineral serta vitamin (Sasparyana, 2010;
Wiknjosastro 2005).
Kenaikan volume darah

selama kehamilan akan meningkatkan

kebutuhan Fe atau Zat Besi. Jumlah Fe pada bayi baru lahir kira-kira 300 mg
dan jumlah yang diperlukan ibu untuk mencegah anemia akibat meningkatnya
volume darah adalah 500 mg.

Selama kehamilan seorang ibu hamil

menyimpan zat besi kurang lebih 1.000 mg termasuk untuk keperluan janin,
plasenta dan hemoglobin ibu sendiri. Kebijakan nasional yang diterapkan di
seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat adalah pemberian satu tablet besi sehari

17

sesegera mungkin setelah rasa mual hilang pada awal kehamilan. Tiap tablet
mengandung FeSO(zat besi 60 mg) dan asam folat 500 g, minimal masingmasing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi,
karena akan mengganggu penyarapannya (Depkes RI, 2009). Menurut Shafa
(2010) kebutuhan Fe selama 320 mg ibu hamil dapat diperhitungkan untuk
peningkatan jumlah darah ibu 500 mgr, pembentukan plasenta 300 mgr,
pertumbuhan darah janin 100 mgr.

18

DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin R & Wahyuddin, (2004). Studi Kasus Kontrol Faktor Biomedis
terhadap Kejadian Anemia Ibu Hamil di Puskesmas Bantimurung.
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20954/2/Reference.pdf
Ilyas S (2002). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Masrizal (2007).Studi Literatur Anemia Defisiensi Besi.Edisi ke-2:Jurnal ...
(2007).Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta : Rineka Cipta.
Rahmah N (2015). Kekurangan energi kronis pada ibu hamil.
https://www.academia.edu/11762949/Makalah_Pencegahan_KEK_Kekurangan_E
nergi_Kronis_pada_ibu_hamil. Diakses pada 21 Februari 2016.
Sinsin, I (2008). Seri Kesehatan Ibu dan Anak, Masa Kehamilan dan Persalinan.
Jakarta: PT.Gramedia.
Varney, H (2006). Buku ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta: EGC.
Wiknjosastro, H (2005). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

19