Anda di halaman 1dari 13

Laporan Kegiatan

F5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular

URETRITIS GONORE

Disusun Oleh:
dr. Fitri Prawitasari
Puskesmas Mangunsari
Periode November 2015-Maret 2016
Internsip Dokter Indonesia Kota Salatiga
Periode November 2015-Maret 2016
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kegiatan
F5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
Topik :
Uretritis Gonore
Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter internsip
sekaligus sebagai bagian dari persyaratan menyelesaikan program internsip dokter
Indonesia di Puskesmas Kota Salatiga

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal

Dokter Internship,

dr. Fitri Prawitasari

Maret 2016
Mengetahui,
Dokter Pendamping

dr. Galuh Ajeng Hendrasti


NIP. 19821014 201001 2 017

A. LATAR BELAKANG
Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim,
rektum dan tenggorokan atau bagian putih mata (konjungtiva) dan bagian
tubuh yang lain. Prevalensi Gonore: The US Centers for Disease Control
memperkirakan bahwa lebih dari 700.000 orang di AS gonorrheal
mendapatkan infeksi baru setiap tahun. Hanya sekitar separuh dari infeksi ini
dilaporkan. Walaupun beberapa kasus mungkin asimtomatik, ketika gejala
muncul, mereka sering ringan dan biasanya muncul dalam waktu 2-10 hari
setelah terpapar. Gejala-gejala meliputi discharge dari penis, vagina, atau
dubur dan membakar atau gatal saat buang air kecil. Pada wanita, gonore
dapat menyebabkan menstruasi tidak teratur.
WHO memperkirakan setiap tahun terdapat 350 juta penderita baru
PMS (penyakit menular seksual) di negara berkembang seperti di Afrika, Asia,
Asia Tenggara, dan Amerika Latin. Di negara industri prevalensinya sudah
dapat diturunkan, namun di negara berkembang prevalensi gonore menempati
tempat teratas dari semua jenis PMS. Dalam kaitannya dengan infeksi
HIV/AIDS, United States Bureau of Census pada 1995 mengemukakan bahwa
di daerah yang tinggi prevalensi PMS-nya, ternyata tinggi pula prevalensi
HIV/AIDS dan banyak ditemukan perilaku seksual berisiko tinggi. Kelompok
seksual berperilaku berisiko tinggi antara lain pekerja seks komersial (PSK).
Berdasarkan jenis kelaminnya, PSK digolongkan menjadi PSK wanita atau
1

biasa yang disebut wanita penjaja seks (WPS) dan pekerja seks komersial
pria.
Gonorrhea, jenis PMS klasik, keberadaannya sudah diketahui sejak
zaman Hipocrates, namun sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan
yang belum dapat diatasi secara tuntas. Penyakit ini banyak ditemukan hampir
di semua bagian dunia. Di Amerika Serikat pada tahun 2004 terdapat 330.132
kasus penyakit infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae, dengan ratarata 113,5
kasus per 100.000 penduduk. Di Jepang terdapat peningkatan kasus infeksi
oleh

bakteri

Neisseria

gonorrhoeae

yang

sudah

resisten

terhadap

ciprofloxacin, dari 6,6% kasus pada tahun 1993-1994 menjadi 24,4% kasus
pada tahun 1997-1998. Di Indonesia, data dari Departemen Kesehatan RI pada
tahun 1988, angka insidensi gonorrhea adalah 316 kasus per 100.000
penduduk. Beberapa penelitian di Surabaya, Jakarta, dan Bandung terhadap
PSK wanita menunjukkan bahwa prevalensi gonorrhea berkisar antara 7,4
50%. Di wilayah kerja Puskesmas Mangunsari sendiri pun juga banyak. Pada
tahun 2015, terdapat 126 kasus IMS, tetapi sasaran pengobatannya dapat
mencapai 100%. Keberadaan gonorrhea di masyarakat ibarat gunung es, hanya
diketahui sebagian kecil di permukaan saja namun sesungguhnya lebih banyak
kasus yang tidak terungkap datanya. Penentuan diagnosis penyakit Gonorrhea
dengan pemeriksaan mikrobiologis, mencari mikroorganisme penyebab
penyakit Gonorrhea yaitu bakteri Neisseria gonorrhoeae.
B. PERMASALAHAN
Jumlah pasien infeksi menular seksual semakin meningkat setiap
tahunnya, tak terkecuali di wilayah kerja Puskesmas Mangunsari. Hal ini
disebabkan karena gaya hidup masyarakat yang cenderung mengarah ke
pergaulan bebas. Kurangnya pendidikan, pengetahuan, dan pemahaman agama
menjadi faktor yang dapat menyebabkan perilaku gaya hidup yang mengarah
ke pergaulan bebas.
Banyak pasien yang masih belum mengetahui mengenai infeksi
menular seksual dan dampak yang ditimbulkan. Namun, terdapat juga
sebagian besar pasien yang sudah mengetahui mengenai infeksi menular

seksual ini, tetapi karena alasan ekonomi dan alasan lainnya, mereka tetap
melakukan hal tersebut sehingga angka kesakitan belum dapat dikurangi.
.
C. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
1. Kegiatan
Strategi atau pendekatan yang ditempuh yaitu melalui konseling, informasi
serta edukasi (KIE).
2. Menentukan Sasaran
Sasaran adalah pasien infeksi menular seksual (IMS), khususnya gonore
pada kasus ini.
3. Menetapkan Tujuan
Tujuan umum adalah terciptanya perilaku hidup sehat pada masyarakat,
baik remaja maupun dewasa pria-wanita dan dapat mengurangi angka
kesakitan IMS. Tujuan khusus adalah memberikan penjelasan yang lebih rinci
mengenai masalah infeksi menular seksual, khususnya gonore, rencana
pengobatan, pencegahan penularan, serta dampak yang dapat ditimbulkan
karena infeksi tersebut.
4. Penanggung Jawab
Penanggung jawab dari kegiatan ini terdiri dari dokter internsip dan
pemegang program IMS.
D. PELAKSANAAN
1. Waktu Pelaksanaan
Hari
: Selasa, 1 Maret 2016
Jam
: 08.00 WIB
Tempat: Puskesmas Mangunsari, Salatiga
2. Metode Intervensi
a. Melakukan anamnesis.
b. Melengkapi pemeriksaan vital sign dan fisik terhadap pasien, serta
pemeriksaan penunjang lab.
c. Edukasi pasien mengenai penyakit gonore dan infeksi menular seksual
lainnya, pengobatannya, serta dampak yang ditimbulkan dari segala
aspek.
3. Data Dasar Pasien
Nama
: Sdr. RR
3

Usia
Alamat
Pekerjaan

: 18 tahun
: Klaseman RT 8/ RW 3 Salatiga
: Serabutan

4. Anamnesis
Pasien datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri saat kencing.
Keluhan dirasakan sudah sejak seminggu sebelum datang ke puskesmas.
Keluhan ini dirasakan memberat 2 hari terakhir. Selain itu, pasien juga
mengeluh keluar nanah dari saluran kencingnya. Pasien tidak mengeluh
adanya demam, nyeri perut bagian bawah, gatal disangkal. Pasien
mengaku berhubungan seksual dengan pacarnya. Menurut pasien, terakhir
ia berhubungan seksual tiga hari sebelum ke puskesmas. Pasien juga
mengaku bahwa ia mempunyai beberapa pasangan seksual.
5. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat serupa
: disangkal
Riwayat HT
: disangkal
Riwayat DM
: disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat konsumsi obat rutin : disangkal
Riwayat konsumsi NAPZA : disangkal
6. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan antropometri
Berat badan 60 kg
Tinggi badan 169 cm
BMI 21,0
Pemeriksaan Fisik
Vital sign
Tekanan darah
Respiration rate
Heart rate
Kepala
Mata
Hidung
Mulut
Leher
Thorax

: 110/70 mmHg
: 18x/menit
: 84x/menit

: SI (-/-) , CA (-/-)
: discharge (-)
: sianosis (-)
: JVP dbn, limfonodi (-)

Inspeksi : simetris, ketinggalan gerak (-), retraksi (-), jejas (-)


4

Palpasi
P/ taktil fremitus kanan = kiri, nyeri tekan (-)
C/ictus cordis di SIC V LMCS
Perkusi
P/ Sonor
C/ Cardiomegali (-)
Auskultasi
P/ vesikular +/+, ST (-)
C/ S1-2 murni, irreguler, bising (-)

Abdomen

Inspeksi dinding perut sejajar dinding dada


Auskultasi BU (+) N
Perkusi timpani di seluruh lapang abdomen
Palpasi nyeri tekan (-), hepar lien tidak teraba

Genitalia
Inspeksi: sekret (+), inflamasi (-), massa (-)
Palpasi: tidak dilakukan
Ekstremitas
Udem --/- Akral dingin
7. Pemeriksaan Laboraturium
PMN Uretra (+)
Diplokokus Intrasel uretra (+)
8. Diagnosis
Uretritis gonore
9. Terapi
- Azitromisin 1g SD
- Cefixime 400 mg SD
10. Materi Edukasi
Pasien diberi penjelasan mengenai penyakit gonore dan infeksi
menular seksual lainnya. Selain itu pasien juga diberi penjelasan bahwa
IMS merupakan ko-faktor atau faktor risiko penularan HIV. Pasien juga
diberi penjelasan mengenai terapi yang diberikan, pemakaian obat dengan
dosis tunggal, serta terdapat kombinasi obat untuk mengobati dan
mencegah infeksi non-gonore, serta pasien harus kontrol 1 minggu
kemudian.

Pasien juga diberi penjelasan mengenai perilaku seksual yang aman,


yaitu dengan cara ABCD. A atau abstinence adalah tidak melakukan
hubungan seksual untuk sementara waktu. B yaitu be faithful, selalu setia
pada pasangan. C (condom) digunakan apabila pasien tidak mau
melaksanakan A maupun B, termasuk menggunakan kondom sebelum IMS
yang dideritanya sembuh. D adalah no Drugs, tidak menggunakan
psikotropika atau zat adiktif lainnya.
Penjelasan mengenai penggunaan kondom juga penting. Pasien
harus mengerti tentang cara pemakaian kondom dengan benar dan manfaat
pemakaiannya. Manfaat kondom yaitu mencegah penularan IMS termasuk
HIV, membantu mencegah kehamilan, memberikan rasa nyaman, wanita
tidak terlalu merasa basah di dalam vaginanya. Selain itu juga memberikan
rasa aman terhadap kemungkinan tertular atau hamil. Namun, ada
beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai kondom, yaitu pemakaian
dan pelepasan kondom yang aman, tanggal pembuatan dan kadaluarsa,
kondom hanya sekali pakai, serta kondom harus disimpan di tempat yang
sejuk, gelap, dan kering.
Pasien yang telah

terinfeksi

IMS

juga

didorong

untuk

memberitahukan semua pasangan seksualnya tentang infeksi tersebut,


kemudian ajak ke pusat pelayanan kesehatan untuk diperiksa dan
mendapatkan pengobatan.
E. MONITORING, EVALUASI DAN KESIMPULAN
Permasalahan pada pasien ini adalah perilaku seks bebas sehigga
menyebabkan terkena infeksi gonore. Dari riwayat kebiasaannya, pasien
mengaku banyak memiliki pacar dan sering berganti pasangan untuk
melakukan seks bebas. Tujuan utama dari edukasi pada pasien ini adalah
untuk mengobati pasien dan mencegah agar pasien tidak menularkan
infeksinya kepada pasangan sehingga angka kesakitan IMS tidak mengalami
peningkatan.

Monitoring dan evaluasi pada pasien dilakukan saat pasien kembali lagi
ke puskesmas untuk kontrol dan dilihat apakah terdapat kemajuan dari
penatalaksanaan awal yang diberikan.
F. TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Gonore merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Neisseria gonorrhea yang penularannya melalui hubungan kelamin
baik melalui genito-genital, oro-genital, ano-genital. Penyakit ini
menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan,
dan konjungtiva. Neisseria gonorrhea merupakan bakteri dipolokokus
gram negatif, merupakan sejenis bakteri yang hidup dan mudah
membak dengan cepat di dalam saluran genitalia seperti serviks uteri,
uterus, tuba falopi bagi wanita, serta saluran kencing bagi wanita
maupun pria. Bakteri ini juga dapat berkembang biak di dalam mulut,
mata, kerongkongan, dan anus.

2. Epidemiologi Gonore
Di dunia, gonore merupakan IMS yang paling sering terjadi
sepanjang abad ke 20, dengan perkiraan 200 juta kasus baru yang
terjadi tiap tahunnya (Behrman, 2009). Sejak tahun 2008, jumlah
penderita wanita dan pria sudah hampir sama yaitu sekitar 1,34 tiap
100.000 penduduk untuk wanita dan 1,03 tiap 100.000 penduduk untuk
pria (CDC, 2009). Sedangkan di Indonesia, dari data rumah sakit yang
beragam seperti RSU Mataram pada tahun 1989 dilaporkan gonore
yang sangat tinggi yaitu sebesar 52,87% dari seluruh penderita IMS.
Sedangkan pada RS Dr.Pirngadi Medan ditemukan 16% dari sebanyak
326 penderita IMS (Hakim, 2009).
3. Etiologi dan Morfologi
Gonore disebabkan oleh gonokokus yang ditemukan oleh Neisser
pada tahun 1879. Kuman ini masuk dalam kelompok Neisseria sebagai

N.gonorrhoeae

bersama

dengan

spesies

lainnya

yaitu,

N.meningitidis, N.catarrhalis dan N.pharyngis sicca. Gonokok


termasuk golongan diplokokus berbentuk biji kopi dengan lebar 0,8 u
dan pajang 1,6 u. Kuman ini bersifat tahan asam, gram negatif, dan
dapat ditemui baik di dalam maupun di luar leukosit. Kuman ini tidak
dapat bertahan hidup pada suhu 39 derajat Celcius, pada keadaan
kering dan tidak tahan terhadap zat disinfektan. Gonokok terdiri atas 4
tipe yaitu tipe 1, tipe 2, tipe 3 dan tipe 4. Namun, hanya gonokok tipe 1
dan tipe 2 yang bersifat virulen karena memiliki pili yang
membantunya untuk melekat pada mukosa epitel terutama yang bertipe
kuboidal atau lapis gepeng yang belum matur dan menimbulkan
peradangan (Daili, 2009).
4. Patogenesis
Gonokokkus memiliki protein pili yang membantu perlekatan
bakteri ini ke sel epitel yang melapisi selaput lendir, terutama epitel
yang melapisi kanalis endoserviks dan uretra. Pertama-tama,
mikroorganisme melekat ke membran plasma (dinding sel), lalu
menginvasi ke dalam sel dan merusak mukosa sehingga memunculkan
respon inflamasi dan eksudasi.
Gonokokus akan menghasilkan

berbagai

macam

produk

ekstraseluler yang dapat mengakibatkan kerusakan sel, termasuk


diantaranya enzim seperti fosfolipase, peptidase, dan lainnya.
Kerusakan jaringan ini tampaknya disebabkan oleh dua komponen
permukaan

sel

yaitu

LOS

(lipooligosakarida)

yang

berperan

menginvasi sel epitel dengan cara menginduksi produksi endotoksin


yang mengakibatkan kematian sel mukosa dan peptidoglikan.
Mobilisasi leukosit PMN menyebabkan terbentuknya mikroabses
subepitelial yang pada akhirnya akan pecah dan melepaskan PMN dan
gonokokus.
5. Gejala dan Tanda Klinis Gonore
Masa tunas gonore sangat singkat yaitu sekitar 2 hingga 5 hari
pada pria. Sedangkan pada wanita, masa tunas sulit ditentukan akibat

adanya kecenderungan untuk bersifat asimptomatis pada wanita.


Keluhan subjektif yang paling sering timbul adalah rasa gatal, disuria,
polakisuria, keluar duh tubuh mukopurulen dari ujung uretra yang
kadang-kadang dapat disertai darah dan rasa nyeri pada saat ereksi.
Pada pemeriksaan orifisium uretra eksternum tampak kemerahan,
edema, ekstropion dan pasien merasa panas. Pada beberapa kasus
didapati pula pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral
maupun bilateral. Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada
wanita berbeda dari pria. Pada wanita, gejala subjektif jarang
ditemukan dan hampir tidak pernah didapati kelainan objektif. Adapun
gejala yang mungkin dikeluhkan oleh penderita wanita adalah rasa
nyeri pada panggul bawah, dan dapat ditemukan serviks yang
memerah dengan erosi dan sekret mukopurulen (Daili, 2009).
6. Pemeriksaan
Pemeriksaan Gram dengan menggunakan sediaan langsung dari
duh uretra memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi terutama
pada duh uretra pria, sedangkan duh endoserviks memiliki sensitivitas
yang tidak begitu tinggi. Pemeriksaan ini akan menunjukkan
N.gonorrhoeae yang merupakan bakteri gram negatif dan dapat
ditemukan baik di dalam maupun luar sel leukosit.
Kultur untuk bakteri N.gonorrhoeae umumnya dilakukan pada
media pertumbuhan Thayer-Martin yang mengandung vankomisin
untuk menekan pertumbuhan kuman gram positif dan kolimestat untuk
menekan pertumbuhan bakteri negatif-gram dan nistatin untuk
menekan pertumbuhan jamur. Pemeriksaan kultur ini merupakan
pemeriksaan dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, sehingga
sangat dianjurkan dilakukan terutama pada pasien wanita.
Tes defenitif: dimana pada tes oksidasi akan ditemukan semua
Neisseria akan mengoksidasi dan mengubah warna koloni yang semula
bening menjadi merah muda hingga merah lembayung. Sedangkan
dengan tes fermentasi dapat dibedakan N.gonorrhoeae yang hanya
dapat meragikan glukosa saja.
9

Tes beta-laktamase: tes ini menggunakan cefinase TM disc dan


akan tampak perubahan warna koloni dari kuning menjadi merah.
Tes Thomson: tes ini dilakukan dengan menampung urine setelah
bangun pagi ke dalam 2 gelas dan tidak boleh menahan kencing dari
gelas pertama ke gelas kedua. Hasil dinyatakan positif jika gelas
pertama tampak keruh sedangkan gelas kedua tampak jernih (Daili,
2009).
7. Komplikasi
Komplikasi gonore sangat erat hubungannya dengan susunan
anatomi dan faal genitalia (Daili, 2009). Komplikasi lokal pada pria
dapat berupa tisonitis, parauretritis, littritis, dan cowperitis. Selain itu
dapat pula terjadi prostatitis, vesikulitis, funikulitis, epididimitis yang
dapat menimbulkan infertilitas. Sementara pada wanita dapat terjadi
servisitis gonore yang dapat menimbulkan komplikasi salpingitis
ataupun penyakit radang panggul dan radang tuba yang dapat
mengakibatkan infertilitas atau kehamilan ektopik. Dapat pula terjadi
komplikasi diseminata seperti artritis, miokarditis, endokarditis,
perikarditis,

10

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, A.J. & Shoff, W.H., 2009. Gonorrhea, University of Pennsylvania.


Available from: http://emedicine.medscape.com/article/782913-overview.
Centers for Disease Control and Prevention (2008). Sexually Transmitted Disease
Surveillance. Atlanta: Centers for Disease Control and Prevention. Available
from: http://www.cdc.gov/std/statsdefault.htm.
Daili, S.F., Makes, W.I., Zubier, F. (2009). Infeksi Menular Seksual. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
Depkes (2011). Pedoman nasional penanganan infeksi menular seksual. Jakarta:
Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Hakim, L., 2009. Epidemiologi Infeksi Menular Seksual. Dalam: Daili, S.F.,
Makes, W.I., Zubier, F., 2009. Infeksi Menular Seksual. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI, 3-16.
Smith., et al, 2000. HIV and Sexual Health Education in Primary and Secondary
Schools: Findings from Selected Asia-Pacific Countries. Diperoleh dari:
http://nchsr.arts.unsw.edu.au/pdf_reports.php?asian_pacific.pdf.

11

LAMPIRAN

Hasil Pemeriksaan Lab Pasien

12